Sabtu, 09 Januari 2010

Merayakan Kejujuran



Dalam suatu perjalanan menuju rumah seorang kawan, sepeda motor yang saya kendarai tiba-tiba mati dan saya tak bisa menghidupkannya kembali. Bensin di tangki masih ada, dan ketika busi saya cek, busi itu pun nampak bersih. Namun mesin motor tetap tak mau hidup kembali. Saya tak terlalu paham mesin motor, karenanya satu-satunya jalan yang paling mudah yang bisa saya lakukan adalah mencari bengkel terdekat dan memberikan motor saya untuk dibetulkan.

Maka saya pun menuntun sepeda motor saya, dan beberapa meter kemudian saya menemukan sebuah bengkel, dan saya pun memasukkan motor saya pada bengkel itu. Si petugas bengkel menerima motor saya, dan saya menjelaskan apa masalahnya. Dia seorang ahli. Dia segera tahu apa masalah motor itu, dan sambil saya duduk di bangku di bengkel tersebut, dia pun mulai membongkar motor saya. Hanya dalam waktu sesaat dia sudah bisa menyimpulkan apa masalahnya.

“CDI motornya sudah mati, Mas,” katanya pada saya, melaporkan masalah yang terjadi pada motor saya.

Jadi CDI-nya yang membuat masalah. Saya sedikit tahu bahwa jika CDI mati maka mesin pun akan mati. Dan memang tidak aneh kalau sekarang CDI-nya mati. Semenjak keluar dari dealernya, motor itu telah saya gunakan selama lebih dari lima tahun. Maka saya pun segera menyetujui untuk mengganti CDI motor saya dengan CDI yang baru.

Petugas bengkel itu berkata, “Kami nggak menyediakan CDI baru, Mas, situ bisa membelinya di toko onderdil motor.” Orang itu juga menyebutkan bagaimana cara memilih CDI yang baik, karena menurutnya ada banyak CDI palsu dengan mutu yang rendah yang dijual di pasaran, dan dia memberikan perincian ciri-ciri agar saya tidak salah pilih.

Nah, saya tahu bahwa di dekat tempat itu tak ada toko onderdil sepeda motor. Saya tak mungkin pergi jauh hanya untuk membeli sebuah CDI. Lebih dari itu, saya juga jadi ragu-ragu kalau nantinya saya salah pilih dan mendapatkan CDI yang palsu.

Si petugas bengkel seperti tahu apa yang saya pikirkan, lalu dia menyarankan, “Kalau situ mau meninggalkan motor di sini, nanti saya bisa membelikan. Besok situ bisa kesini lagi dan mungkin motornya sudah beres. Tapi kalau sekarang saya tidak bisa karena harus menyervis banyak motor.”

Saya melihat kalau di bengkel itu memang banyak motor yang menunggu untuk diservis. Akhirnya saya pun menyetujui sarannya. Saya meninggalkan motor saya di sana, kemudian saya menelepon seorang kawan untuk menjemput saya di bengkel itu.

Keesokan harinya, seperti yang ia janjikan, saya kembali datang ke bengkel itu, dan mendapati motor saya sudah beres seperti yang kemarin ia katakan. Apakah CDI-nya sudah diganti?

Petugas di bengkel itu menggeleng dan tersenyum. “Tadi malam saya mencoba memperbaiki, dan kelihatannya CDI-nya masih cukup bagus. Jadi nggak perlu diganti yang baru.”

Saya menanyakan, “Apakah bisa dipakai cukup lama?” Dia mengangguk dengan yakin.

Lalu saya pun menanyakan ongkosnya, dan dia menyebutkan sejumlah ongkos yang wajar. Saya pun membayarnya, mengucapkan terima kasih, kemudian pergi dari bengkel itu.

Ketika saya mengendarai motor saya meninggalkan bengkel itulah saya mulai menyadari ada yang telah berbeda dengan motor saya ini. Motor saya terasa lebih enak dan suaranya lebih halus, sama persis seperti jika saya baru menyervisnya. Apakah orang di bengkel itu juga telah menyervis motor saya? Dan ketika sampai di rumah, saya pun mendapati beberapa lubang sekrup di bodi motor yang tadinya kosong kini telah terisi. Orang di bengkel itu pasti telah mencarikan sekrup yang pas untuk mengisinya.

Saya merasa terkejut namun senang dengan hal ini. Saya tidak membayar biaya servis, uang yang tadi saya bayarkan saya kira wajar untuk biaya reparasi sebuah CDI, namun rupanya orang itu juga telah menyervis mesin motor saya, dan mencarikan sekrup-sekrup yang hilang dari bodi motor saya. Lebih dari itu, saya kemudian berpikir; bukankah, kalau orang itu mau, dia bisa saja mengatakan bahwa dia telah mengganti CDI saya dengan yang baru dan saya tak akan pernah tahu?

Saya tersentuh oleh kejujuran orang di bengkel tadi, sekaligus senang dengan pelayanannya yang benar-benar menyenangkan hati. Selama bertahun-tahun memakai sepeda motor, saya telah menyervis mesin motor saya di banyak bengkel servis, namun baru kali ini saya memperoleh pelayanan yang begitu jujur dan menyenangkan seperti ini. Maka sejak itulah, saya pun menggunakan bengkel itu untuk menangani seluruh keperluan motor saya, dan saya selalu merasa tenang jika orang itu yang mengurusinya.

Di bengkelnya, setiap kali saya datang untuk servis motor, saya tak pernah mendapati bengkel itu sepi. Semenjak dibuka jam delapan pagi, selalu saja sudah ada orang yang antri menunggu untuk menyervis motor mereka. Dengan pelayanan yang begitu menyenangkan seperti yang telah saya peroleh, tak heran jika bengkelnya begitu ramai seperti ini. Dan ketika saya duduk-duduk dengan beberapa orang yang juga menunggu motornya diservis, saya terkadang bertanya kepada mereka, mengapa membawa motornya ke bengkel ini. Dan jawaban mereka ternyata sama seperti alasan saya menggunakan bengkel ini. Yakni karena kejujuran orangnya!

Bengkel ini tidak menetapkan tarif yang lebih murah; tarifnya sama dengan bengkel-bengkel lain. Cara kerja mereka juga sama, dengan alat-alat yang sama, dengan waktu servis yang tak jauh berbeda. Tetapi orang lebih memilih bengkel ini karena orang yang bekerja di bengkel ini menambahkan kejujuran pada pekerjaannya!

Jika ada bumbu penyedap untuk membuat sebuah hasil kerja menjadi lebih disukai, maka bumbu itu adalah kejujuran. Tidak ada orang yang tak menyukai kejujuran. Tidak ada orang yang membenci kejujuran. Semua orang menyukai orang yang jujur, dan kejujuran tak pernah membawakan kesusahan bagi pemiliknya. Saya tidak pernah mendengar ada orang yang jatuh miskin karena hidup jujur. Saya tidak pernah mendengar ada orang yang usahanya bangkrut karena sikap yang jujur. Saya pun tidak pernah mendengar ada toko yang sepi pembeli karena penjualnya jujur. Kejujuran selalu membawakan kebaikan bagi pemiliknya, dan kebalikannya akan membawa hasil yang sebaliknya.

Di bengkel motor yang sekarang menjadi langganan saya, kejujuran telah membawakan banyak pelanggan setia karena kejujuran si pemilik bengkel. Siapa yang tak suka berurusan dengan orang yang jujur, orang yang kita tahu tak akan merugikan kita? Saya suka berurusan dengan orang semacam itu, dan saya pun merasa tenang setiap kali berurusan dengannya. Di dunia ketika kejujuran sudah menjadi sesuatu yang asing dan orang lebih senang saling memanipulasi demi keuntungan pribadi, menemukan orang yang jujur adalah sebuah karunia.

Saat ini kita mungkin sudah tak asing lagi dengan slogan yang mengatakan, “Siapa yang jujur akan hancur”. Padahal kebalikannyalah yang benar. Kekuasaan yang dibangun di atas kejahatan membawa kehancuran bagi penguasanya. Kekayaan yang dibangun atas dasar korupsi menyeret pemiliknya ke penjara. Hubungan yang dijalin dengan manipulasi menyebabkan perpecahan dan permusuhan. Bisnis maupun usaha yang dijalankan dengan tidak jujur akan mengundang kebangkrutan. Bahkan mengerjakan soal ujian dengan cara yang tidak jujur pun akan meninggalkan rasa tidak nyaman bagi para pelakunya meski tidak ada orang yang tahu ketidakjujurannya!

Jadi, bukankah yang tidak jujur itulah yang akan hancur? Ketika satu kali orang dibohongi, mungkin kebohongan itu tak terungkap. Dua kali, mungkin masih belum terungkap. Tapi jika kebohongan itu sudah dilakukan berkali-kali, mungkinkah ada kebohongan yang abadi? Orang selalu tahu jika dia dimanipulasi, dan ketika dia tahu, dia pun akan menjauhkan diri. Tidak ada yang menyukai orang yang tidak jujur. Semua orang hanya menyukai orang yang jujur.

Kau tentu sudah pernah mendengar cerita tentang anak gembala yang suka iseng membohongi orang-orang desa. Sambil menggembalakan kambing-kambingnya, si gembala ini iseng berteriak-teriak minta tolong. “Toloooong, ada serigala!”

Orang-orang desa pun berlarian menuju ke tempatnya untuk membantu si gembala mengusir serigala yang datang itu. Tapi ternyata tidak ada serigala. Di waktu lain, si gembala ini iseng lagi dan berteriak minta tolong lagi. Orang-orang desa kembali berdatangan dan dengan tulus ingin membantu si gembala mengusir serigala. Tapi sekali lagi serigala tidak ada. Di hari lain, serigala benar-benar datang, dan si gembala ini pun panik luar biasa dan berteriak-teriak minta tolong. Namun kali ini, tidak ada orang yang mau datang menolong. Sudah dua kali mereka dibohongi, dan rasanya sudah cukup. Mereka tak ingin dibohongi untuk ketiga kalinya. Maka serigala itu pun bisa dengan mudah memangsa kambing-kambing si gembala, sementara si gembala hanya bisa menyaksikannya sambil gemetaran dan ketakutan.

Bahkan untuk kebohongan yang ‘setaraf’ iseng pun, orang tak ingin terus dibohongi. Apalagi untuk kebohongan yang lebih serius, kebohongan yang lebih sungguh-sungguh yang jelas-jelas dapat merugikan. Tidak ada orang yang suka dibohongi, dan tidak ada yang senang ketika dimanipulasi. Seperti yang dikatakan oleh pepatah bijak, “Aku marah bukan karena kau telah membohongiku, tetapi karena mulai sekarang aku jadi tak bisa lagi mempercayaimu.”

Jadi, jika dibutuhkan satu formula yang pasti mengantarkan orang kepada kesuksesan, maka formula itu adalah kejujuran. Kesuksesan memang membutuhkan kerja keras, motivasi yang tak pernah mati, pembelajaran yang tanpa henti, ambisi yang menyala-nyala dan semangat yang tak pernah padam, namun di atas itu semua, kesuksesan membutuhkan kejujuran.

Kesuksesan pada usaha atau bisnis, kesuksesan dalam hubungan dengan orang lain, kesuksesan dalam kekuasaan atau pengaruh, bahkan kesuksesan dalam usaha bengkel servis motor, semuanya harus dibangun di atas dasar fondasi kejujuran. Tanpa itu, bangunan kesuksesan sekuat dan setinggi apapun hanyalah seperti istana di atas pasir. Hebat, megah, mewah, namun keropos. Sekali angin berhembus, sekali ombak berdebur, sekali gelombang menerjang, bangunan itu akan hancur seketika.

Kesuksesan dan segala pencapaian yang dibangun tidak di atas fondasi kejujuran hanya akan membawa petaka bagi pemiliknya. Hidup tanpa kejujuran adalah hidup yang hanya akan menyongsong kehancuran.

Jadi, marilah kita merayakan kejujuran. Marilah kita merayakan sesuatu yang telah dianggap asing di sebuah peradaban yang lebih mengagungkan manipulasi ini. Marilah kita merayakan kejujuran karena hanya dengan kejujuran inilah kita bisa membangun sebuah kehidupan yang lebih baik, hubungan yang lebih baik, kesuksesan yang lebih baik; sebuah dunia yang lebih baik. Marilah kita merayakan kejujuran...


 
;