Kamis, 15 April 2010

Kumbang dan Pohon Besar



Bagaimanapun juga, kue donat selalu berlubang di tengahnya. Dan satu-satunya cara menikmati kue donat adalah dengan memakan kuenya, dan tidak menghiraukan lubang di tengahnya.

Ada perilaku yang ‘aneh’ dari manusia namun seringkali kita tidak menyadarinya, yakni kebiasaan merisaukan hal-hal kecil. Seorang kawan saya pernah bermuram durja selama seharian hanya karena dia berpapasan dengan seseorang yang dikenalnya, kemudian dia menyapanya, tapi orang yang ia sapa itu tidak membalas sapaannya. Hanya karena hal ‘kecil’ itu, kawan saya ini tak bisa tersenyum selama sehari penuh. Apakah ini masuk akal? Ataukah tak masuk akal? Ataukah mungkin kau juga pernah mengalaminya?

Memang, manusia seringkali kalah bukan ketika menghadapi petaka atau tragedi-tragedi besar, manusia justru seringkali kalah ketika berhadapan dengan hal-hal yang kecil dan sepele. Kita seringkali bisa tabah ketika orang terdekat kita meninggal dunia. Kita selalu mampu berbesar hati ketika menghadapi ujian hidup yang begitu besar seperti tertimpa kecelakaan atau bencana alam—banjir dan kebakaran. Tetapi ketika berhadapan dengan hal-hal kecil dan sepele, kita seringkali kalah dan hancur.

Ada orang yang sampai menangis berhari-hari hanya karena ucapan yang sedikit tidak enak yang diucapkan orang kepadanya. Ada pula yang sampai bersedih selama berminggu-minggu karena seseorang tidak memberi ucapan selamat pada hari ulang tahunnya. Sekali lagi, apakah ini masuk akal? Ataukah tidak masuk akal?

Kita selalu bisa menganggap sesuatu sebagai hal yang besar, dan kita menjadi hancur karenanya, namun kita juga selalu bisa menganggap sesuatu sebagai hal yang kecil dan kita bisa tegar menghadapinya. Tetapi, jika kita menginginkan kehidupan yang tenteram dan bahagia, sudah saatnya untuk menempatkan setiap masalah dan persoalan pada porsinya yang sepantasnya. Jangan besar-besarkan masalah kecil, dan lupakan saja persoalan-persoalan sepele jika itu hanya akan mengganggu ketenteraman hati kita.

Ada analogi yang bagus sekali untuk mengilustrasikan hal ini.

Di hutan Colorado Amerika, ada sebuah pohon yang mulai tumbuh ketika Columbus mendarat di sana. Selama empat ratus tahun, pohon itu terus bertumbuh dan hidup, menjadi sosok yang begitu besar, bahkan amat besar. Selama masa hidupnya yang panjang itu, pohon raksasa tersebut telah disambar petir belasan kali dan diserang badai serta salju longsor beribu-ribu kali. Hal itu terjadi selama empat abad, tetapi pohon itu tetap hidup dan berdiri dengan megah.

Akan tetapi akhirnya pohon raksasa itu roboh dan tumbang menggeletak rata dengan tanah setelah diserbu oleh serombongan kumbang, sosok makhluk yang badannya begitu kecil, apalagi jika dibandingkan dengan pohon raksasa tersebut. Serangga-serangga kecil itu melubangi batangnya sedikit demi sedikit sampai akhirnya pohon raksasa itu kehilangan kekuatannya. Pohon yang begitu perkasa, yang tidak mempan disambar petir, tidak goyah diserang badai, tidak lapuk dimakan usia, akhirnya roboh dan hancur hanya karena diserang kumbang-kumbang yang kecil.

Bukankah sebagian besar dari kita juga tak berbeda dengan pohon raksasa di tengah hutan itu? Kita begitu teguh ketika dihantam badai yang besar. Kita begitu tabah ketika ditinggal mati orang-orang terdekat. Kita masih kuat ketika harus berpisah dengan orang-orang yang kita cintai. Namun seringkali kita menjadi stres sampai berhari-hari hanya karena persoalan kecil dan sepele yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa kita harus kalah oleh kumbang-kumbang kecil...??? Hidup kita ini terlalu besar untuk dirobohkan oleh persoalan-persoalan kecil, remeh dan sepele...!


 
;