Rabu, 11 Mei 2011

Rahasia Kecil Alam Semesta (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Selain Disney, tak terhitung banyaknya orang-orang lain yang juga mengalami kenyataan yang sama. Mereka berawal dari kemiskinan, kemudian sukses ketika masih muda, lalu hancur ketika berusia 30 tahun. Sebagian dari mereka berhasil bangkit lagi dan membangun kesuksesan yang jauh lebih besar, sedang sebagian yang lain benar-benar hancur dan karam.

Pertanyaannya, sekali lagi, mengapa…? Mungkin hal ini masih akan menjadi rahasia kecil alam semesta di antara rahasia-rahasia besar lain yang masih disimpannya.

Nah, jika saya mengamati dan mempelajari kenyataan ini, ternyata yang tersandung pada angka tiga bukan hanya terbatas pada kesuksesan sebagaimana yang terjadi pada kasus-kasus di atas. Dalam banyak hal lain, dalam hidup ini, ada berbagai macam hal yang (sepertinya) juga tersandung pada angka tiga. Perkawinan, misalnya.

Saya belum pernah menikah, jadi saya tidak tahu seperti apa dan bagaimana romantika orang yang sudah menikah dan berumahtangga. Tetapi, saya terus-menerus melihat kenyataan aneh ini. Orang-orang yang menikah (berdasarkan yang saya dengar, amati, dan pelajari) akan mencapai “ujian” pertamanya pada waktu tiga hari setelah menikah.

Jika “ujian pertama” ini beres, dan kedua orang yang menikah itu masih “asyik-asyik saja” setelah tiga hari, maka mereka akan menemui ujian berikutnya, yakni setelah waktu pernikahan mencapai tiga minggu. Jika dalam waktu tiga minggu masih beres, ujian berikutnya setelah tiga bulan. Jika dalam waktu tiga bulan ini pun tetap masih beres, maka ujian terbesar yang akan dialami adalah ketika mencapai tiga tahun usia pernikahan.

“Waktu berumahtangga yang paling sulit kurasakan,” kata banyak teman saya yang sudah menikah, “adalah ketika mencapai waktu tiga tahun.”

Menurut mereka, tiga tahun setelah hari pernikahan adalah waktu yang benar-benar tepat untuk disebut sebagai “badai ujian”. Di waktu-waktu inilah, katanya, segala hal yang buruk sepertinya terjadi secara bersamaan—dari yang remeh dan sepele seperti urusan ekonomi, sampai masalah yang cukup serius seperti tingkat kesetiaan pasangan. Semuanya seperti terjadi pada masa-masa tiga tahun ini.

Lalu bagaimana jika “waktu ujian” setelah tiga tahun itu berhasil terlewati? Para psikolog yang mengkhususkan diri pada bidang perkawinan memiliki sebuah rumus yang disebut “7-year-itch-effect”—atau tujuh tahun masa perkawinan. Angka 7 yang ada di dalam rumus itu diambil dari perhitungan 3 + 3 + 1. Tiga tahun, plus tiga tahun lagi, plus satu tahun berikutnya.

Lawrence A. Kurdek, seorang psikolog dari Department of Psychology of Wisconsin University, menyatakan bahwa pada masa-masa inilah sering kali timbul perselisihan yang tajam antara suami dengan istri, yang tidak jarang berakhir dengan perceraian—atau setidaknya hubungan yang tidak lagi harmonis.

Ini aneh—apa sebenarnya yang telah terjadi…?

Mungkin (sekali lagi, mungkin!) waktu tiga tahun dalam perkawinan adalah masa transisi dari mimpi-mimpi indah pra-perkawinan kepada realitas pasca-perkawinan. Karenanya, mereka yang berhasil melewati masa transisi ini biasanya akan stabil dalam kehidupan mereka setelahnya, sedangkan mereka yang tidak berhasil biasanya akan memilih bercerai karena tidak tahan “menanggung ujian”. Mungkin karena itu pulalah kemudian usia lima tahun dalam perkawinan dirayakan sebagai ulang tahun yang istimewa.

Yang saya paparkan di sini, sebagaimana yang sudah kaubaca di atas, baru dua hal—kesuksesan pribadi, dan keberhasilan melanggengkan perkawinan. Tetapi, sesungguhnya, masih banyak hal lain yang selalu, selalu, dan selalu saja, tersandung pada angka tiga. Saya sengaja menyebutnya “tersandung”, karena orang bisa bangkit lagi dari ketersandungan itu, atau tetap jatuh dan tak bisa (atau tak mau) bangkit lagi setelah tersandung.

Saya bisa menyebutkan tujuh hal lain yang selalu tersandung pada angka tiga—selain hal di atas—tetapi biarlah kau menemukannya sendiri, agar ia benar-benar milikmu. Kalau kau berhasil menemukannya, ambillah sebagai pelajaran. Kalau kau tidak berhasil menemukannya, yeah, anggap saja ini permainan kecil di antara kita.

 
;