Senin, 12 Maret 2012

Iseng

Kita tak pernah tahu sebesar apa dampak yang terjadi
akibat perbuatan kita yang mungkin kecil.


Jadi, malam itu saya lagi malas makan. Seperti biasa, kalau sedang malas makan, capcay adalah alternatif terbaik. So, saya pun keluar rumah dan pergi ke warung capcay Mister X yang dulu pernah saya ceritakan itu.

Seperti sudah saya duga, warung Mister X sedang ramai-ramainya. Demi segala demi, saya benar-benar heran melihat kenyataan ini. Setiap tahun Mister X menaikkan harga capcay-nya, tapi setiap tahun pula pelanggannya makin bertambah. Sehabis lebaran kemarin—seperti sudah saya duga—Mister X kembali menaikkan harga capcay-nya. Tapi sialnya, orang-orang—termasuk saya—tetap saja mau beli capcay ke tempatnya.

Saya mendekati pelayan di sana, dan berkata, “Mbak, capcay satu porsi, ya.”

Si pelayan sudah hafal wajah saya, jadi dia pun menyahut sambil tersenyum manis, “Nggak pedas seperti biasa, Mas?”

“Ya,” saya mengangguk. “Betewe, ini masih lama, ya?”

Si pelayan menengok deretan orang yang sedang ngantri dengan wajah-wajah kelaparan. “Uh, kayaknya sih masih lama, Mas. Kira-kira dua belas orang lagi. Nggak apa-apa, ya.”

Dua belas orang lagi? Dalam hati saya memaki-maki. Mau makan capcay aja kok susah amat, ya?

Akhirnya, meski agak dongkol, saya pun mencari tempat duduk. Hampir bisa dipastikan saya akan duduk di sana setidaknya setengah jam lagi, dan saya mulai tengak-tengok sambil berharap nemu cewek manis, sehingga bisa sedikit cuci mata, hehe….

Karena bosan duduk bengong, akhirnya saya pun iseng. Saya menyulut rokok, lalu mengeluarkan ponsel, dan mulai mengetik apa saja yang terlintas dalam pikiran. Yeah, namanya juga iseng.

….
….

Nikmah—bukan nama sebenarnya—adalah seorang anak SMA yang cantik sekaligus centil. Seperti jutaan cewek remaja zaman sekarang, Nikmah agak-agak alay tapi sangat eksis, baik di dunia nyata apalagi di dunia maya. Dia tidak punya blog, tapi punya setumpuk akun di situs jejaring sosial—Facebook, Twitter, Google+, Hi5, Menggalau, Warsawa, Blablabla—sebut yang lainnya.

Sore itu, dia menghadiri acara ultah temannya yang diadakan di kafe. Menurut undangan, acara itu diadakan jam 4 sore, dan selesai jam 10 malam—entah apa yang dilakukan remaja-remaja zaman sekarang.

Jadi, sore itu Nikmah keluar dari rumahnya, lengkap dengan aksesoris dan gadget wajibnya. Dia dijemput seorang cowok funky bermobil mewah—yang pasti milik bokapnya—dan Nikmah melenggang manja dari pintu rumahnya dengan gaya Cinderella.

Si cowok tentu saja pacar si Nikmah. Sebagai cewek abad 21, Nikmah akan merasa sebagai bocah paling norak sedunia kalau hari gini belum punya pacar. Jadi, menurut Nikmah, punya pacar adalah target yang lebih penting daripada lulus ujian nasional. So, ketika si Bobi—bukan nama sebenarnya—menyatakan cinta kepadanya, Nikmah pun segera menerima. Dan mereka jadian. Semudah itu. Kadang-kadang saya agak bingung memahami ABG zaman sekarang.

Sesampai di kafe, acara ultah itu pun dimulai. Anak muda zaman sekarang, kau tahu, akan merasa kampungan kalau tidak merayakan ultah di kafe. Jadi itulah yang dilakukan kawan si Nikmah—merayakan ultah di kafe, dan kemudian acaranya dibuat semirip mungkin seperti yang ada di sinetron-sinetron unyu. Tidak apa-apa, namanya juga masih remaja. Untung yang ditiru sinetron. Coba kalau mereka meniru film bokep, kan berabe.

Singkat cerita, acara ultah itu pun selesai—tepat jam sepuluh malam. Sebelumnya, ada beberapa orang yang pulang duluan, dengan berbagai alasan. Tadi Bobi—pacar si Nikmah—juga pulang duluan karena mobilnya akan dipakai bokapnya. Si Nikmah tetap tinggal di acara ultah, karena masih asyik dengan teman-temannya. So, ketika Bobi pergi, Nikmah enjoy saja.

Tapi dia benar-benar tidak enjoy ketika acara ultah itu berakhir. Pasalnya, semua temannya telah pulang sendiri-sendiri, dengan berbagai cara. Ada yang dijemput keluarganya, ada yang diantar pacarnya, ada yang naik taksi, dan lain-lain. Pelan namun pasti, teman-temannya pulang satu per satu. Orang terakhir yang masih tinggal cuma Nikmah dan si pemilik hajat yang tadi merayakan ultah. Yang jadi masalah, tempat tinggal mereka tidak satu jurusan, jadi Nikmah tidak bisa nebeng.

It’s okay, pikir Nikmah mencoba tenang. Dia bisa minta orang rumah untuk menjemputnya.

Jadi, Nikmah kemudian mengeluarkan ponselnya, dan menelepon ke rumah, minta dijemput. Nyokapnya menerima telepon si Nikmah, dan menjanjikan akan mengirim kakak si Nikmah untuk menjemputnya. Nikmah pun menyebutkan tempat ia menunggu, dan si nyokap menyatakan, “Ya udah, kamu tunggu di situ, ntar kakakmu ke situ.”

Nikmah pun menunggu di sana—di depan kafe—sambil bermain-main ponselnya yang mahal. Remaja zaman sekarang, kau tahu, lebih akrab dengan ponsel daripada dengan kitab suci. Jari-jari mereka lebih lincah menggerakkan keypad daripada menggerakkan tasbih. Tidak apa-apa, namanya juga masih remaja. Orang menjalani hidup kan sesuai nilai-nilai luhur yang dianutnya. Dan nilai-nilai luhur yang dianut remaja zaman sekarang adalah sinetron. Tapi tidak apa-apa, namanya juga remaja.

Sampai setengah jam Nikmah menunggu kakaknya yang katanya akan menjemput, tapi si kakak tidak juga datang. Ia tahu, kakaknya pasti mampir ke tempat pizza langganannya dulu. Nikmah pun mulai bosan bermain ponselnya. Dia tengak-tengok kesana kemari, berharap mobil si kakak mulai terlihat, tapi yang diharapkannya tidak juga muncul.

Sesuai adab remaja zaman sekarang, Nikmah pun segera pasang status atas nasibnya. Di Facebook dia menulis, “Nunggu kakak sialan yang belum juga datang!” Di Twitter dia menggalau, “Uuuuh, mungkin kakakku baru datang setelah kiamat!” Di Google+ dia mencoba bijak, “Ada yang tahu di mana kakakku sekarang?”

Tentu saja tidak ada yang tahu—wong dia yang adiknya sendiri juga tidak tahu.

Ketika sedang dongkol campur bosan karena kelamaan menunggu itulah, tanpa sengaja Nikmah melihat selebaran yang tertempel di tiang listrik di dekatnya. Selebaran itu adalah promosi perusahaan taksi baru. Di situ tertulis, “Butuh taksi cepat? Hubungi 024-7563xxx.”

Membaca selebaran itu, seketika muncul ide brilian di otak Nikmah. Yeah, daripada boring mendingan iseng, pikirnya. Lalu Nikmah pun menggunakan ponselnya, menghubungi nomor yang tertera di selebaran itu. Rencananya dia mau ngerjain perusahaan taksi tersebut.

Ketika teleponnya diterima, dengan pede Nikmah menyatakan butuh taksi, dan dia memberikan alamat sekenanya. “Komplek Perum Paradise,” ujarnya dengan pede. Si resepsionis di ujung sana tidak tahu kalau dia sedang dikerjain cewek iseng, dan menjanjikan akan segera mengirimkan taksi ke alamat yang diberikan.

Setelah itu, entah kenapa, Nikmah jadi senang dan senyum-senyum sendiri. Kadang-kadang, kau tahu, ada semacam kesenangan kecil kalau kita bisa iseng ngerjain orang. Begitu pula yang dirasakan Nikmah waktu itu. Dia senang karena dapat membunuh waktu dengan ngerjain orang, dan dia lebih senang lagi ketika akhirnya si kakak sialan yang ditunggunya datang mendekat ke tempatnya menunggu.

“Sori kalau kelamaan, soalnya tadi ngantri di tempat pizza,” ujar si kakak tanpa dosa.

Tuh kan, pikir Nikmah dengan muka jutek, sambil bergegas masuk mobil. Saat mendudukkan pantatnya di jok, Nikmah lega sekali karena sesaat lagi akan sampai rumah, dan dia bisa segera bersih-bersih, lalu nonton acara teve favoritnya. Kau tahu, nonton teve adalah ibadah wajib kebanyakan manusia abad 21—khususnya bagi Nikmah. Rasanya akan berdosa kalau dalam sehari tidak nonton teve.

So, sesampai di rumah, Nikmah pun segera bersih-bersih dan cuci muka. Setelah itu ia duduk manis di sofa depan teve. Kebetulan, stasiun teve yang ditontonnya sedang menayangkan berita aktual. Kali ini berita tentang kecelakaan yang dialami seorang sopir taksi.

“Pak Winarno, si sopir taksi,” ujar pembawa berita, “sedang memacu taksinya dengan cepat menuju Komplek Perum Paradise, karena mendapatkan panggilan dari pelanggan di alamat tersebut. Di pertigaan jalan dekat perum tersebut, sebuah truk yang melaju cepat menghantam taksi Pak Winarno, dan sopir taksi itu tewas seketika bersama taksinya yang terguling menghantam trotoar. Pihak keluarganya telah dihubungi, dan…”

Dan Nikmah menggigil di sofanya ketika menyaksikan istri si sopir taksi datang ke rumah sakit bersama tiga anaknya yang masih kecil. Mereka tampak menangis histeris, sementara dokter dan beberapa orang di sana berusaha menenangkan. Nikmah membeku. Ia tidak menyangka perbuatan isengnya akan merenggut sebuah nyawa… sebuah nyawa yang menjadi tulang punggung seorang istri dan tiga anak kecil.

….
….

Oh, well, tidak usah tegang begitu—ini cuma kisah fiksi yang saya tulis di ponsel sambil iseng karena lama ngantri di tempat penjual capcay. Terpaksa ceritanya saya hentikan sampai di situ karena capcay pesanan saya sudah jadi. Dan, saya berharap, perbuatan iseng saya ini tidak merenggut nyawa siapa pun.

Sekarang, izinkan saya menikmati capcay.

 
;