Minggu, 01 Februari 2015

Hidup yang Khusyuk

Dunia adalah panggung sandiwara.
Kebodohan adalah tragedi. Dan manusia adalah ironi.
@noffret


Di Beirut, ada sebuah restoran bernama Bedivere Eatery and Tavern. Letaknya tidak jauh dari Hamra Street yang terkenal itu. Nama restoran Bedivere Eatery and Tavern menjadi buah bibir masyarakat, khususnya di Beirut, karena tawaran yang unik. Restoran itu memberikan diskon sebesar 10 persen bagi setiap pengunjung restoran yang tidak berponsel saat makan.

Jadi, saat kita masuk ke restoran tersebut, dan ingin memperoleh diskon yang ditawarkan, kita harus menitipkan ponsel kepada petugas khusus di sana. Hanya dengan cara mudah itu, kita bisa menikmati diskon 10 persen yang diberikan Bedivere Eatery and Tavern.

Seperti yang disebut tadi, tawaran itu menjadi buah bibir masyarakat di Beirut, karena dinilai unik. Umumnya, selama ini kita mendapati tawaran diskon karena adanya masa promosi, pengenalan produk baru, atau semacamnya. Namun restoran Bedivere Eatery and Tavern memberikan diskon untuk sesuatu yang aneh, yakni jika pengunjung restorannya mau meninggalkan ponsel selama makan.

Apa keuntungan yang diperoleh restoran tersebut dengan memberikan diskon semacam itu?

Pertanyaan sederhana itu akan membawa kita pada jawaban panjang tentang hidup. Tentang kekhusyukan. Tentang kembali menjadi manusia seutuhnya.

Disadari atau tidak, keberadaan ponsel telah menjauhkan kita dari kehidupan manusia seutuhnya. Kita masih mewujud dalam bentuk manusia, namun menjalani kehidupan yang tidak lagi seperti manusia. Ponsel telah mengubah kita menjadi sosok alien, yang terasing dan mengasingkan diri dari manusia lain. Ponsel telah menjadikan kita sebentuk robot, yang merasa harus selalu terhubung dengan peranti mesin, dan pelan-pelan kehilangan nurani.

Lihatlah kemana pun. Di bandara, di terminal, di alun-alun, di jalan-jalan, di restoran, atau bahkan di rumah-rumah. Manusia terasing satu sama lain—mereka menjalani hidup yang teralienasi. Masing-masingnya memegangi ponsel di tangannya sendiri-sendiri, asyik dengan kesibukannya sendiri. Mereka hidup berdekatan, atau kadang duduk berdampingan, tapi sibuk dengan kehidupannya masing-masing yang jauh, yang maya, yang tak kasatmata.

Di kafe atau di restoran, kita pasti sudah biasa menyaksikan sekelompok orang duduk di satu meja, tapi masing-masing sibuk dengan ponselnya sendiri. Tidak ada percakapan yang menyenangkan, tidak ada keramahan antarorang, tidak ada sentuhan kemanusiaan. Hanya ada keasingan, keterasingan, karena masing-masingnya saling mengasingkan diri. Dengan ponselnya.

Aktivitas bersama ponsel bahkan sering kali masih terjadi ketika piring-piring makanan telah disajikan, dan orang-orang telah mulai menyantap. Satu tangan memegang sendok, mulut mengunyah, sementara satu tangan yang lain terus memegangi ponsel. Kalau boleh ngomong kasar, bahkan binatang pun tidak melakukan perbuatan semacam itu. Binatang bahkan lebih khusyuk ketika makan. Sama khusyuknya ketika mereka bercengkerama dengan sesamanya, sama khusyuknya ketika mereka tidur, sama khusyuknya saat mereka terbangun untuk kembali melanjutkan hidup.

Manusia bukan hanya mulai menjauh dari kebersamaan dengan sesamanya, namun juga telah tercerabut dari akar kemanusiaannya. Kita telah asing dengan kekhusyukan. Kita sudah tidak bisa menjalani hidup dengan tenang, khusyuk, tanpa terganggu. Karena ponsel selalu berdering, atau bergetar, dan otomatis tangan beserta otak kita bergerak meraihnya—persis seperti robot. Bahkan ketika tidur pun manusia tak bisa jauh dari ponselnya.

Studi terbaru menyebutkan, rata-rata orang lebih panik ketinggalan ponselnya daripada ketinggalan dompetnya. Ponsel telah menjadi separuh nyawa, alat vital kehidupan, dan manusia tidak pernah bisa berjauhan dengannya. Peranti yang diciptakan dengan tujuan memudahkan kehidupan manusia, telah berbalik menjadi sarana yang memperbudak manusia. Bahkan, mungkin diam-diam manusia telah lebih dekat dengan ponselnya daripada dengan Tuhannya.

Sebagian orang telah mulai menyadari kenyataan ini, namun lebih banyak yang tidak atau belum sadar. Masih banyak orang yang terus bersetubuh dengan ponselnya di mana pun, di waktu kapan pun, bahkan di tempat beribadah atau di tempat pemakaman. Ponsel tidak hanya menjauhkan manusia dengan manusia lainnya, peranti itu bahkan telah mencerabut nurani manusia, hingga tidak lagi menjalani hidup sebagai manusia.

Padahal, syarat menjalani hidup sebagai manusia, sebagai makhluk, tidak sulit. Ribuan tahun lalu, ketika manusia masih punya kerendahan hati untuk merasa bodoh dan tidak malu bertanya, mereka datang menemui para filsuf agung, dan bertanya, “Bagaimanakah cara menjalani kehidupan sebagai manusia?”

Dan para filsuf memberikan jawaban sederhana, “Saat kau makan, nikmatilah makananmu. Saat kau tidur, nikmatilah istirahatmu. Saat kau bersama orang lain, nikmatilah kebersamaanmu. Saat kau sendirian, nikmatilah keheninganmu.”

Sebuah cara hidup yang sederhana—yang dibutuhkan hanya kekhusyukan. Makan dengan khusyuk, istirahat dengan khusyuk, bersama orang lain dengan khusyuk, sendirian dengan khusyuk. Manusia disebut manusia seutuhnya jika bisa menjalani hidup dengan khusyuk, menghayati kemanusiaannya dengan khusyuk, memahami kehambaannya dengan khusyuk.

Makan dengan khusyuk artinya menikmati makanan dengan tenang, fokus pada makanan yang disantap, tidak terganggu oleh hal lain yang tak perlu. Hanya makan dengan cara itulah kita bisa benar-benar menikmati makanan yang kita kunyah, dengan segala cita rasanya, dengan segala kelezatannya. Karena kita makan dengan khusyuk, kita pun mengunyah makanan dengan baik, hingga makanan yang masuk ke tubuh tidak memberatkan organ pencernaan. Karena organ tubuh bekerja dengan baik, makanan yang disantap pun memberikan manfaat, salah satunya kesehatan.

Istirahat dengan khusyuk artinya tidur dan terlelap dengan tenang, tanpa khawatir terganggu suara ponsel yang bisa berdering sewaktu-waktu. Hanya dengan cara itulah kita bisa beristirahat secara sempurna, sehingga tubuh bisa kembali memperbarui dirinya, agar saat terbangun kita merasa lebih segar. Jika tubuh terasa lebih segar, kita dapat beraktivitas, bekerja, dan menjalani kehidupan dengan baik.

Bersama orang lain dengan khusyuk artinya menikmati—benar-benar menikmati—kebersamaan kita dengan orang lain. Bercakap-cakap, bercanda, saling tertawa, tanpa diganggu oleh ponsel. Tanpa disela oleh dering yang sewaktu-waktu memutus percakapan. Tidak ada yang lebih menjengkelkan di dunia ini selain percakapan yang diputus oleh panggilan dari ponsel, apalagi jika panggilan itu sama sekali tidak penting. Suasana yang semula hangat dan menyenangkan tiba-tiba seolah lenyap.

Sebagaimana ketika bersama orang lain, kita pun perlu khusyuk di saat sendirian, menikmati keheningan. Tanpa diganggu oleh ponsel. Tanpa diganggu oleh dering panggilan, SMS, atau tetek bengek notifikasi. Ketika kita menemui Tuhan dalam ibadah, saat kita ingin merenung dan bertafakur, saat ingin kembali menghayati kemanusiaan kita—semuanya membutuhkan kekhusyukan.

Hanya kekhusyukan, itulah cara hidup manusia. “Saat kau makan, nikmatilah makananmu. Saat kau tidur, nikmatilah istirahatmu. Saat kau bersama orang lain, nikmatilah kebersamaanmu. Saat kau sendirian, nikmatilah keheninganmu.”

Tetapi cara hidup semacam itu sudah sedemikian asing dalam kehidupan kita. Karena ponsel telah merenggut semuanya, dan mengubah kita menjadi robot-robot bernyawa. Masih memiliki otak namun tidak lagi berpikir, masih bersama orang lain namun terasing, masih memiliki hati namun mulai tak kenal diri sendiri. Ponsel yang semula ditujukan sebagai sarana untuk memudahkan, telah berubah menjadi tuan yang memperbudak dan tak bisa ditinggalkan.

Karena keprihatinan semacam itulah yang menjadikan restoran di Beirut sampai rela menawarkan diskon khusus bagi siapa pun yang mau makan di restorannya tanpa berponsel. Karena mereka rindu menyaksikan manusia kembali mengunjungi restorannya, mereka kangen melihat manusia menyantap masakannya, mereka ingin restorannya kembali dikunjungi manusia yang benar-benar manusia. Yang bisa makan dengan khusyuk, yang bisa bercengkerama dengan sesamanya sebagaimana manusia.

Kita tidak perlu pergi ke Beirut untuk melakukan hal itu, tak perlu pergi jauh sampai ke luar negeri untuk mendapat pelajaran penting itu. Cukup matikan ponsel di saat makan, di mana pun, dan nikmatilah makanan di depan kita. Dengan tenang. Dengan khusyuk. Jika kita bersama teman-teman atau orang lain, bercakap-cakaplah dengan mereka, bercanda dan tertawalah bersama mereka. Dengan tenang. Dengan khusyuk. Seperti seharusnya manusia.

 
;