<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890</id><updated>2012-02-25T14:43:16.486+07:00</updated><category term='Soliloquy'/><category term='Tentang Menulis'/><category term='Tentang Buku'/><category term='Cinta dan Lainnya'/><category term='Studitainment'/><category term='Kontemplasi'/><category term='Pembelajaran'/><category term='About this Blog'/><category term='Celoteh'/><title type='text'>Catatan Hoeda Manis</title><subtitle type='html'>Khre gar eu mala polloon historas philosophous andras einai.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hoedamanis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>703</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4262402349396696038</id><published>2012-02-25T14:27:00.001+07:00</published><updated>2012-02-25T14:30:54.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Tidak Ada Judul</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya berkawan karib dengan Livia. Ternyata, nyokap saya juga berkawan karib dengan nyokap Livia. Saya tidak menemukan judul yang pas untuk catatan ini, jadi post kali ini tidak ada judul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, saya ulangi. Saya berkawan karib dengan Livia. Ternyata, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/12/hobi-aneh-nyokap-saya.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;nyokap saya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; juga berkawan karib dengan nyokap Livia. Saya maupun Livia sama-sama tidak tahu hubungan nyokap kami, dan nyokap kami juga tidak tahu hubungan anak-anak mereka. Ini catatan tidak jelas tentang kisah tidak jelas dari hidup saya yang tidak jelas. Bahkan judulnya pun tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini dimulai tiga tahun yang lalu, di suatu tempat yang cukup jauh. Saya menghadiri suatu acara di sana, dan bertemu Livia untuk pertama kali. Ketika kami tahu sama-sama berasal dari kota yang sama, kami segera merasa dekat. Jadi, kami pun berteman. Pertemanan itu terus berlangsung hingga kami pulang, dan perjalanan pertemanan itu kini telah mencapai waktu tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata saya, Livia mirip Claire Danes, namun dalam versi Asia. Dia selalu tertawa kalau saya ngomong begitu. Faktanya, Livia memang seorang Chinese yang cantik. Dia seusia saya, dan saya merasa cocok bersahabat dengannya. Saya tidak pernah bosan ngobrol dengannya, dan kami memang banyak menghabiskan waktu bersama. Sebagai teman. Atau sahabat. Kami sama-sama merasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sama-sama lajang, kami menghadapi masalah yang sama, khususnya kalau mendapatkan undangan pernikahan. Dalam hukum tak tertulis, menghadiri acara pernikahan sepertinya harus bersama pasangan. Karena itu, saya sering meminta Livia menemani jika saya kondangan, dan dia pun tidak jarang minta ditemani kalau mendapatkan undangan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sejauh itu, kami sama-sama tidak tahu bahwa ternyata nyokap kami juga saling berhubungan, sebagaimana nyokap kami sama-sama tidak tahu kalau anak-anak mereka akrab berteman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, saya dolan ke rumah ortu, lalu nyokap minta diantar belanja. Sebenarnya itu hal biasa. Nyokap punya toko langganan—kita sebut saja Toko SA—tempat nyokap membeli berbagai kebutuhan sembako. Meski sangat &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/12/hobi-aneh-nyokap-saya.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;suka belanja di Hypermart&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, nyokap telah berlangganan di Toko SA sejak bertahun-tahun lalu, sampai-sampai dia akrab dengan pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, hari itu, nyokap minta diantar ke sana, dan saya pun menyanggupi. Biasanya, kalau mengantar nyokap belanja seperti itu, saya tidak ikut masuk ke toko, tapi menunggu di tempat parkir. Soalnya, nyokap sering ngobrol-ngobrol dulu dengan pemilik toko, jadi saya akan merasa dicuekin. Siang itu, saya merasa kehausan, jadi saya pun masuk ke toko, dan mengambil minuman botol. Pada waktu itulah saya melihat Livia ada di toko itu, sedang melakukan sesuatu di kalkulator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang apa cewek itu di sini, pikir saya dengan heran. Saya pun mendekatinya, dan menyapa, “Liv, kamu ngapain di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Livia menatap saya kaget, dan balik bertanya, “Lhoh, kamu yang ngapain di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku nganter nyokap belanja. Nah, kamu lagi ngapain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Livia cekikikan. “Ya nggak ngapa-ngapain. Ini kan toko punya ortuku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah saya tahu bahwa Toko SA langganan nyokap adalah milik orangtua Livia. Hari itu, ketika menjumpai Livia pertama kali di toko tersebut, kami pun lalu asyik ngobrol. Sementara itu, seperti yang sudah saya duga, nyokap saya juga terlihat asyik ngerumpi dengan nyokap Livia setelah acara belanja selesai. Ketika mereka sama-sama sadar anak-anak mereka juga sedang ngobrol asyik, kedua nyokap itu terlihat sama-sama bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, hubungan saya dengan Livia jadi semakin dekat, karena kadang kami saling menyampaikan pesan nyokap kami masing-masing. Tidak jarang, kalau saya pas bertandang ke rumah Livia, nyokapnya akan menyapa saya dengan ramah dan mengajak ngobrol. Begitu pula kalau Livia dolan ke rumah saya—dan kebetulan sedang ada nyokap—Livia pun akan tampak ngobrol asyik dengan nyokap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, well, kisah ini mungkin terdengar seperti novel-novel ala Mira W atau &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/03/freddy-s-dan-novel-novelnya.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fredy S&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Tapi jangan salah sangka. Baik saya maupun Livia sama sekali tidak punya “perasaan” apa pun, selain kenyamanan dalam berteman—setidaknya begitulah yang sama-sama kami akui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Livia bekerja sebagai staf peneliti untuk sebuah lembaga, dan baginya ruang laboratorium adalah tempat terindah yang tidak dapat digantikan apa pun. Meneliti spesimen baru, bagi Livia, jauh lebih mengasyikkan daripada berkencan dengan cowok. Jadi, kami memiliki basic tak jauh beda, karena saya pun lebih suka bercumbu dengan buku daripada SMS-an dengan cewek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kami merasa benar-benar cocok. Kadang-kadang, obrolan kami memang tidak nyambung. Tetapi saya selalu suka mendengarkannya berbicara, sebagaimana Livia adalah pendengar terbaik yang pernah saya temukan. Kau boleh menyebut ini &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/finding-soulmate.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;soulmate&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Atau, lebih tepat lagi, soulmate yang platonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, saya datang ke rumah Livia, karena kami sama-sama akan menghadiri undangan pernikahan. Sambil menunggu ia berdandan, saya ditemani nyokap Livia. Di sela-sela percakapan itu, nyokap Livia berkata, “Da’, Tante tuh prihatin dengan Livia. Dia tuh seperti keasyikan dengan kerjanya, sampai-sampai lupa untuk nikah. Sekali-sekali itu Livia dinasihati, biar cepet nikah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertawa, “Uh, bagaimana saya bisa menasihati Livia agar cepet nikah, wong saya sendiri juga belum nikah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, seminggu setelah itu terjadi peristiwa yang sama. Nyokap saya berbelanja ke Toko SA, dan di sana ketemu Livia. Karena sudah saling kenal, mereka pun lalu bercakap-cakap. Kata Livia, nyokap saya berkata kepadanya, “Vi, mbok sekali-sekali Hoeda diingetin agar cepet-cepet cari pacar, biar bisa segera nikah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Livia cuma cekikikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Minggu, Livia membangunkan tidur saya ketika ia menelepon dan mengabarkan berita duka. Bu Sumirah—pembantu di keluarga Livia—meninggal dunia. Bu Sumirah telah mengabdi pada keluarga Livia hingga puluhan tahun, bahkan sejak Livia belum lahir. Karenanya, keluarga Livia pun telah menganggap Bu Sumirah sebagai bagian keluarga mereka, apalagi Bu Sumirah memang tidak memiliki keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari sebelumnya, saya memang mendengar Bu Sumirah masuk rumah sakit, dan keluarga Livia pun mengurusnya dengan baik. Beberapa hari dirawat di rumah sakit, Bu Sumirah kembali sehat, lalu pulang kembali ke keluarga Livia. Namun, baru empat hari di rumah, Bu Sumirah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi masalah, keluarga Livia tidak tahu bagaimana cara memakamkan Bu Sumirah secara muslim. Mereka umat kristiani, sementara Bu Sumirah seorang muslim. Keluarga Livia menyadari Bu Sumirah tentu ingin dimakamkan secara muslim, dan karena itulah Livia lalu menelepon saya untuk minta bantuan dalam hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai muslim, saya cukup tahu bagaimana mengurus hal itu. Jadi, saya pun menghubungi petugas pemakaman, mengundang seseorang yang biasa memandikan jenazah, juga seorang ustadz untuk mengantarkan kepergian terakhir Bu Sumirah dengan doa-doa. Setelah semuanya siap, Bu Sumirah pun lalu diantarkan ke pemakaman dengan ambulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah. Acara pemakaman itu berlangsung dalam kesunyian. Yang ada hanya dua orang penggali kubur, seorang ustadz yang membacakan doa-doa, lalu saya dan seorang teman. Keluarga Livia ikut mengantarkan jenazah Bu Sumirah, dan mereka berdiri tak jauh dari acara pemakaman berlangsung, dengan mata berkaca-kaca. Dua batu nisan kemudian tertancap di atas gundukan makam Bu Sumirah, dan kami lalu beranjak pergi meninggalkan makam yang lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya melangkah meninggalkan makam itu, entah mengapa, saya merasa baru saja menguburkan diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4262402349396696038?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4262402349396696038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4262402349396696038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/tidak-ada-judul.html' title='Tidak Ada Judul'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4139660868895399180</id><published>2012-02-25T14:26:00.000+07:00</published><updated>2012-02-25T14:27:42.828+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>For If</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hayoooo, kamu baca blog aku, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Dekap guling, sembunyikan senyum malu*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4139660868895399180?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4139660868895399180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4139660868895399180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/for-if.html' title='For If'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2510577267080569304</id><published>2012-02-17T18:05:00.001+07:00</published><updated>2012-02-17T18:09:36.996+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Beautiful Butterfly</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dalam film Captain America, kita menyaksikan seorang bocah kurus kering berubah menjadi sosok perkasa dalam waktu singkat. Dengan sebuah mesin aneh dan formula ajaib, bocah tak dikenal itu bisa berubah menjadi pahlawan dalam waktu semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyaksikan film itu, saya teringat pada tetangga saya, Mursidi. Sekarang Mursidi sudah punya anak-istri dan hidup di daerah lain, sehingga kami jarang ketemu. Tetapi dulu, sewaktu saya masih kuliah, kami sangat akrab dan sering menghabiskan waktu bersama. Pada waktu itu, kami memiliki kesamaan—sama-sama kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Mursidi mengajukan ide untuk ikut program fitnes di sebuah gim yang baru dibuka. Gim itu tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, sehingga Mursidi pun tertarik ingin gabung ke sana. “Biar badan kita jadi gede,” ujar Mursidi waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, saya tidak terlalu tertarik. Membayangkan tubuh kami yang kurus bisa berubah menjadi besar, terdengar mustahil bagi saya waktu itu. Jadi, ketika Mursidi memutuskan untuk gabung di gim itu, saya hanya bilang, “Ntar deh, aku lihat-lihat dulu. Kalau kamu sukses, ntar aku ikut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan program itu pun dimulai. Setiap sore, Mursidi berangkat ke gim untuk berlatih, di bawah pengawasan seorang instruktur. Satu bulan semenjak ia berlatih di gim itu, saya menemuinya, dan melihat tubuhnya masih biasa-biasa saja—maksudnya tetap kurus seperti semula. Bahkan, waktu itu, Mursidi sempat mengeluh badannya capek dan pegal-pegal karena latihan yang harus dijalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan kenyataan itu, saya makin yakin kalau mengubah tubuh kurus kering menjadi besar dan kekar memang mustahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Mursidi percaya dengan tujuannya. Ia percaya latihan-latihan yang dijalaninya akan mengubah tubuhnya. Ia percaya pada instrukturnya, ia percaya pada kemungkinan impiannya. Maka ia pun terus berlatih, berlatih, dan berlatih, meski tiap malam harus merasakan capek dan pegal-pegal. Ia bahkan rela mencampakkan rokok yang biasa diisapnya setiap hari, demi terwujudnya tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan itu, kami mulai jarang ketemu. Jam-jam latihan Mursidi semakin panjang, dan saya pun makin sibuk karena banyaknya tugas kuliah. Ketika Mursidi sedang mengangkat barbel di gim, saya sedang mengerjakan makalah di depan komputer. Ketika Mursidi sedang push up, saya sedang merokok. Ketika Mursidi sedang diteriaki instrukturnya, saya sedang pacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar sepuluh bulan kemudian, saya ketemu Mursidi di sebuah resepsi pernikahan. Dan… well, saya nyaris tak mengenalnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya yang dulu kurus kering itu, sekarang benar-benar telah mencapai impiannya—tubuhnya terlihat besar, kekar, dan berisi. Hampir dapat dikatakan kalau ukuran tubuhnya sekarang lebih besar tiga kali lipat dari ukuran tubuhnya dulu. Bayangkanlah Doyok atau Aming berubah menjadi Arnold Schwarzenegger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, hebat!” puji saya padanya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mursidi cengengesan. Faktanya, dia memang tampak hebat. Kalau saja saya bukan temannya sejak dulu, saya pasti tidak percaya kalau cowok yang besar dan kekar itu dulunya kurus kering. Tapi itulah yang terjadi—yang benar-benar terjadi. Dengan latihan yang gigih, dia berhasil mengubah dirinya yang kecil dan kurus menjadi besar dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu masih latihan kayak dulu?” tanya saya tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih,” jawab Mursidi. “Tapi udah nggak seberat dulu. Sekarang cuma latihan untuk menjaga kebugaran aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih terasa capek dan pegal-pegal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tertawa. “Nggak lagi. Capek dan pegal-pegal itu hanya terasa sekitar sebulan. Setelah itu, karena udah biasa, capek dan pegalnya hilang sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita-ceritanya, saya jadi benar-benar tertarik. Saya ingin mengikuti jejak Mursidi, biar saya juga memiliki tubuh yang besar dan kekar. Maka kami pun kemudian mulai membicarakan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, di kampus, saya membicarakan rencana itu dengan pacar. Waktu itu, saya pacaran dengan &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/03/perempuan-memang-pencemburu.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;perempuan ini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Saya bilang padanya kalau saya akan ikut fitnes, biar badan saya tidak kurus lagi. Saya juga menceritakan perubahan yang terjadi pada Mursidi, serta keinginan saya untuk memiliki tubuh besar seperti dirinya. Di luar dugaan, pacar saya melarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan!” ujarnya waktu itu. “Kamu jangan ikut fitnes kayak gitu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kenapa?” tanya saya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti kamu nggak keren lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hohoho, ternyata, bagi pacar, saya terlihat &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/04/kerempeng-itu-keren.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;keren justru karena kurus&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Mungkin itu terdengar aneh, tapi pacar saya benar-benar melarang—pokoknya saya tidak boleh membesarkan tubuh, karena dia lebih suka diri saya yang kurus seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, demi membahagiakan pacar, saya pun tidak jadi ikut program fitnes di gim tempat Mursidi berlatih. Namun, meski begitu, saya mendapat pelajaran besar dari teman saya itu, bahwa tidak ada apa pun di dunia ini yang sanggup mengalahkan kegigihan dan ketekunan. Kalau seorang yang kurus kering bisa berubah menjadi besar dan kekar karena ketekunan dan latihan tak kenal lelah, begitu pun semua yang terjadi pada lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebodoh apa pun, orang bisa mengubah dirinya menjadi cerdas dan pintar. Semiskin apa pun, orang bisa mengubah dirinya menjadi kaya dan berkelimpahan. Segelap apa pun, kita selalu bisa menyalakan cahaya dan melahirkan terang. Seperti kepompong yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu, takdir masing-masing manusia ada di tangannya sendiri. Dan… dalam ketekunan dan kegigihan, tidak ada kemustahilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang di bulan Mei, bertahun-tahun lalu, saya mendapatkan kiriman paket dari pos. Ketika saya buka, isinya t-shirt dari Tabloid Gaul—salah satu bacaan remaja paling terkenal di Indonesia. T-shirt itu berwarna merah, dan di bagian dada tertera logo “&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/04/isaac-newton-kurang-gaul.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gaul&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;”. Besoknya saya pakai t-shirt itu ke kampus, dengan kemeja lengan panjang yang tidak dikancingkan—itu style saya waktu masih kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman di kampus melongo melihat saya—maksudnya melihat t-shirt yang saya pakai—karena mungkin mereka pikir cuma para artis dan model iklan yang bisa memiliki t-shirt Gaul. Dan, yang tak bisa saya lupakan, pacar saya terlihat sumringah ketika kami bertemu hari itu. Dia berkata, “Nah, coba bayangkan kalau kamu berbadan besar kayak Arnold, pasti kamu nggak akan bisa sekeren ini lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ingatan saya, itu senyum paling bersinar yang pernah saya saksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2510577267080569304?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2510577267080569304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2510577267080569304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/beautiful-butterfly.html' title='Beautiful Butterfly'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-8282299755519526314</id><published>2012-02-17T18:03:00.001+07:00</published><updated>2012-02-17T18:05:47.517+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Visi ke Depan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kehidupan yang besar selalu dimulai dengan impian yang besar. Tetapi impian itu tidak berhenti dalam impian, namun direalisasikan dengan tindakan, diwujudkan dengan gairah yang berkobar-kobar sampai impian itu terwujud menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang-orang yang mengeluh bahwa mereka tak mungkin berani memiliki impian apa-apa &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/06/kurnia-kemiskinan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;karena kemiskinannya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, atau karena kurangnya pendidikan, karena kesehatan yang tak sempurna, dan beberapa alasan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, orang-orang sukses tidak melihat kepada kemiskinannya sekarang, atau pekerjaannya sekarang, juga tidak melihat dirinya apa adanya sekarang. Mereka melompat ke depan dan melakukan satu hal yang sederhana namun sangat besar; mereka melihat dirinya pada kehidupan sebagaimana yang ia inginkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, jangan pernah berkecil hati jika kita sekarang berada dalam keadaan yang jauh dari apa yang kita inginkan. Yang penting bagi sebuah kesuksesan bukanlah apa adanya kita sekarang, tetapi diri kita mendatang sebagaimana yang kita pikirkan. Tetapi jangan berhenti di situ. Mulailah bergerak mewujudkan apa yang kita bayangkan, yang kita cita-citakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-8282299755519526314?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8282299755519526314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8282299755519526314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/visi-ke-depan.html' title='Visi ke Depan'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2930009539237549024</id><published>2012-02-17T18:00:00.001+07:00</published><updated>2012-02-17T18:03:20.162+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Tak Perlu Risaukan Bakat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ada banyak kambing hitam yang dimiliki orang-orang gagal, satu di antaranya yang terkenal adalah mengkambinghitamkan bakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Usaha saya bangkrut karena saya tidak berbakat jadi pedagang,” &lt;/span&gt;atau, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dia bisa menjadi penyanyi hebat, karena dia memang berbakat!”&lt;/span&gt; atau, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bagaimana saya bisa jadi penulis terkenal? Saya tidak mempunyai bakat menjadi penulis!”&lt;/span&gt; atau, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kalau saja saya punya bakat memimpin, saya pasti bisa menjadi pemimpin yang sukses,”&lt;/span&gt; atau, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saya ini orang yang tak berbakat, jadi mustahil bisa seperti itu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/07/apakah-menulis-memerlukan-bakat.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bakat memang penting, tapi bukan yang terpenting. &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Bakat memang berguna, tapi bukan segalanya. Kalau sebuah kesuksesan mau dikalkulasi, maka bakat hanya menentukan satu persen, atau paling tidak sepuluh persen, sementara selebihnya adalah belajar tak kenal lelah, dan kerja keras yang pantang menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakat itu seperti pisau. Sebesar apa pun bakat yang dimiliki seseorang, bakat itu akan tumpul kalau tidak terus-menerus diasah. Sebaliknya, pisau yang tumpul pun akan bisa menjadi tajam kalau setiap hari, setiap saat, terus diasah dan diasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Christine Hakim memang berbakat jadi pemain film. Mungkin Iwan Fals memang berbakat jadi penyanyi. Mungkin Arswendo Atmowiloto memang berbakat jadi penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mereka tak akan mencapai kesuksesannya masing-masing tanpa sikap yang positif, proses pembelajaran tanpa henti, dan kerja keras yang terus-menerus. Ikuti sejarah dan perjalanan karier mereka, dan kita akan tahu bagaimana mereka harus jatuh bangun terlebih dulu sebelum meraih kesuksesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2930009539237549024?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2930009539237549024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2930009539237549024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/tak-perlu-risaukan-bakat.html' title='Tak Perlu Risaukan Bakat'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-827941477267459168</id><published>2012-02-17T17:57:00.002+07:00</published><updated>2012-02-17T18:00:42.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Dewi Fortuna Hanya Datang Sesekali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pada umumnya, orang bukan berusaha mengubah dunia untuk memenuhi impian mereka, melainkan justru membatasi impian mereka sesuai ‘kesusahan’ dunia. Banyak orang mengatakan bahwa mencapai kesuksesan pada masa sekarang sudah sangat sulit, bahwa mencari uang pada masa sekarang lebih susah dibanding masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bahkan meyakini hal itu dengan mengajukan sederet fakta-fakta. Dan kemudian mereka pun memilih diam, menjadi pasif, dan sangat yakin bahwa usaha apa pun yang akan mereka lakukan hanya akan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lalu menunggu keajaiban. Mereka menanti datangnya dewi fortuna. Mereka menjadi pemimpi apatis, yang bila impian tak tercapai, mereka akan semakin yakin bahwa hidup memang susah. Dan apabila impian berhasil tercapai, mereka pun masih meyakini bahwa keberhasilan itu karena keberuntungan dari dewi fortuna semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali keajaiban atau &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/04/hukum-keberuntungan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;hoki dan dewi fortuna&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; itu memang sekali-kali datang mengunjungi. Tetapi apakah kemudian kita harus menjalani hidup hanya dengan menantikan dan mengandalkan semua yang tak pasti itu...? Alangkah malangnya kehidupan bila hanya diisi dengan hal-hal semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-827941477267459168?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/827941477267459168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/827941477267459168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/dewi-fortuna-hanya-datang-sesekali.html' title='Dewi Fortuna Hanya Datang Sesekali'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-1580454949366315666</id><published>2012-02-11T18:17:00.005+07:00</published><updated>2012-02-12T01:06:50.647+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Buku'/><title type='text'>Dua Buku Baru</title><content type='html'>Baca-baca email di inbox, saya mendapati banyak pertanyaan yang isinya nyaris serupa, “Hei, Hoeda, kamu nulis teenlit juga, ya?”&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua bulan ini, memang ada dua buku terbaru saya yang terbit, berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Something Stupid&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keajaiban Sebuah Ciuman&lt;/span&gt;. Dua buku fiksi itu diterbitkan oleh Diva Press, dan saat ini sudah terdisplai di toko-toko buku di seluruh Indonesia. Dan, mungkin, teman-teman yang bertanya via email itu sedikit heran karena melihat sampul buku-buku itu yang mirip &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/01/teenlit-lilin-kecil-literasi-1.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;teenlit&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Something Stupid &lt;/span&gt;maupun &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keajaiban Sebuah Ciuman&lt;/span&gt; bukan teenlit. Biar kalian punya sedikit bayangan, berikut ini saya jelaskan saja. Yeah, biar kalian lebih mantap untuk membelinya, hehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keajaiban Sebuah Ciuman&lt;/span&gt; adalah kumpulan kisah fantasi kontemporer, yang saya tulis dengan menggabungkan fantasi dan kenyataan. Ada lima kisah yang terkumpul dalam buku ini, yang semuanya ber-genre fantasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan buku ini dilatarbelakangi kegelisahan serta keinginan untuk mengeksplorasi imajinasi saya seliar-liarnya. Seperti yang pernah saya tuliskan &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/10/suluk.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, saya sering iri kalau membaca novel atau menonton film-film Hollywood, karena mereka sepertinya sangat leluasa dalam mengeksplorasi imajinasi untuk memperkaya cerita—sesuatu yang sepertinya belum banyak digunakan para kreator di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin bisa memuntahkan imajinasi seperti itu, dan—akhirnya—fiksi-fantasi menjadi pilihan yang saya pikir dapat mewadahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keajaiban Sebuah Ciuman&lt;/span&gt; benar-benar menyenangkan. Karena ber-genre fantasi, saya sangat leluasa dalam memilih tokoh, jalan cerita, serta pemilihan setting untuk lokasi cerita, dan saya benar-benar “menggila” ketika melakukannya. Meski tetap menggunakan setting lokasi yang benar-benar ada, namun saya mencampurnya dengan setting lokasi yang benar-benar khayali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu kisah yang terdapat dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keajaiban Sebuah Ciuman&lt;/span&gt;, misalnya, saya menciptakan lokasi khayali yang saya sebut “Semarang Bawah”. Kota khayalan itu ada di bawah kota Semarang yang kita kenal sekarang. Dalam kisah yang saya tulis, Semarang yang kita lihat itu bernama “Semarang Atas”, yang dihuni manusia, sedang “Semarang Bawah”, yang dihuni para kurcaci, adalah kota yang ada di bawah “Semarang Atas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, seorang tokoh yang saya ciptakan dalam kisah itu terperosok ke “Semarang Bawah”, karena kecebur got yang terbuka di trotoar dekat Simpang Lima, dan menjalani petualangan mendebarkan di sana. Sedang kisah-kisah lainnya meliputi petualangan di negeri peri, kisah patung yang berubah jadi manusia di Yogyakarta, malaikat yang turun ke bumi, dan… silakan baca bukunya. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-mM8W35wzMFc/TzZQ85JBJ4I/AAAAAAAAAeY/cdoNy406sAE/s1600/someting%2BA1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 174px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-mM8W35wzMFc/TzZQ85JBJ4I/AAAAAAAAAeY/cdoNy406sAE/s320/someting%2BA1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707838584799700866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-hkSMmrSP7N8/TzZROtKmDHI/AAAAAAAAAek/GWj-_f-RmUU/s1600/something%2BB1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-hkSMmrSP7N8/TzZROtKmDHI/AAAAAAAAAek/GWj-_f-RmUU/s320/something%2BB1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707838890822732914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, buku kedua, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Something Stupid&lt;/span&gt;, adalah novel roman. Proses penulisan novel ini dulu pernah saya ceritakan &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/03/curhat-novel-1.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Agar kalian juga punya gambaran mengenai novel tersebut, berikut ini saya tuliskan sedikit sinopsisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra dan Ferry—dua tokoh dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Something Stupid&lt;/span&gt;—adalah saudara kembar identik yang benar-benar mirip. Sebegitu miripnya, sampai-sampai orang sulit membedakan keduanya. Hal itu sering dimanfaatkan Indra dan Ferry untuk bermain “tukar tempat”, dan mereka tak pernah ketahuan meski berkali-kali melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beranjak dewasa, keduanya tetap mirip, namun memiliki jalan hidup yang berbeda. Indra kuliah di sebuah universitas di Jakarta, sementara Ferry kuliah di kotanya sendiri, Semarang. Dua saudara kembar itu pun mulai berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, Indra menjadi artis sinetron, menikmati hidup glamour, serta dikelilingi perempuan cantik. Wajahnya muncul di televisi, beritanya ada di koran, dan kehadirannya selalu mengundang perhatian. Sementara di Semarang, Ferry menjadi mahasiswa sederhana, kuliah di sebuah kampus tak terkenal, dan berpacaran dengan Anisa, mahasiswi sekampusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika libur semester tiba, Indra pulang ke Semarang, dan dua saudara kembar itu pun kembali bertemu. Dalam pertemuan itulah mereka kemudian merencanakan bertukar tempat, seperti yang dulu sering mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferry ingin merasakan kehidupan glamour seperti yang biasa dinikmati Indra, sementara Indra ingin ‘beristirahat’ dengan menjadi orang biasa yang tak dikenal. Maka rencana itu pun dimatangkan, dan mereka akan bertukar tempat selama sebulan. Itu permainan berbahaya yang telah mereka pikirkan dengan sangat matang dan hati-hati—sebuah rencana yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferry berangkat ke Jakarta dengan membawa semua identitas Indra, sementara Indra menggantikan tempat Ferry di Semarang. Dua saudara kembar itu pun menikmati permainan mereka. Ferry menjalani kehidupan sebagai artis, bergaul dengan orang-orang terkenal, sementara Indra menjalani kehidupan sebagai mahasiswa yang pacaran dengan seorang perempuan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kemudian... sesuatu yang tak disangka terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mereka sempat mengakhiri permainan itu, Ferry tewas dalam kecelakaan saat pulang dari sebuah pesta selebriti di Puncak, Bogor. Mobil yang ia tumpangi terperosok ke jurang, dan menewaskan semua orang di dalamnya, termasuk Ferry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra yang ada di Semarang shock dan kebingungan. Seluruh dunia tidak ada yang tahu bahwa orang yang tewas dalam kecelakaan itu adalah Ferry, bahkan Anisa juga tidak tahu bahwa pacarnyalah yang tewas dalam tragedi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Indra harus menjelaskan pada dunia bahwa dirinya masih hidup? Bagaimana ia harus menjelaskan pada Anisa bahwa kekasih yang amat dicintainya telah meninggal dalam permainan itu...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehmm... meski novel roman, namun &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Something Stupid&lt;/span&gt; saya tulis dengan multi-plot dan alur kisah yang berjalan cepat, sehingga—saya berharap—pembaca akan dapat menikmatinya dengan asyik karena plot dan alurnya terus berganti secara simultan, sekaligus saling membelit, dan terus menghadirkan kejutan tak terduga. Novel setebal 440 halaman ini adalah roman paling panjang yang pernah saya tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk novel ini, editor Penerbit Diva Press berkomentar, “Ini kisah cerdas nan romantis, yang ditulis dengan alur penuh kejutan, dan sangat menarik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-1580454949366315666?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1580454949366315666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1580454949366315666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/dua-buku-baru.html' title='Dua Buku Baru'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-mM8W35wzMFc/TzZQ85JBJ4I/AAAAAAAAAeY/cdoNy406sAE/s72-c/someting%2BA1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-1667165469453428125</id><published>2012-02-11T18:16:00.000+07:00</published><updated>2012-02-11T18:17:32.053+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Wisdom of Esopus</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Esopus, penyair besar Yunani, menyatakan bahwa nasihat yang baik sering kali ditolak karena diberikan secara tidak bijaksana. Berikut ini adalah petikan nasihat yang diambil dari lembaran-lembaran papirus karya Esopus, yang berisi nasihat-nasihat bijaksana dalam menjalani kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Saya telah mendapatkan banyak manfaat dari petikan-petikan ucapannya berikut ini, dan saya harap begitu pula untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Ucapan yang keluar dari mulut yang tidak berakal akan menjadi pertanda agar menjauhkan diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan menyombongkan diri, karena selain tidak bermanfaat, juga menimbulkan perasaan tidak senang bagi siapa pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menolong diri sendiri adalah pertolongan terbaik yang dapat diberikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan membuang-buang waktu dan tenaga untuk hal-hal tidak penting, masih banyak hal lebih penting yang harus diselesaikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan selalu meributkan kesalahan orang lain, apabila tidak mengetahui kesalahan diri sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengkritik sesuatu yang tidak kita ketahui hanya menjadikan kita tampak sombong, arogan, sekaligus tolol.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan pernah menilai sesuatu, jika kita tidak tahu apa yang sedang kita nilai itu. Karena penilaian itu—tak peduli baik atau buruk—hanya menyesatkan orang lain yang tak tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau tidak suka dicerca dan direndahkan orang lain, jangan pernah lakukan hal itu pada orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap kali ingin mengkritik seseorang atau sesuatu, tanyakanlah dulu pada kejujuran hatimu sendiri—apakah kau mengkritiknya karena itu memang layak dikritik, ataukah karena kau iri kepadanya sehingga membuatmu ingin mengkritik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nilai seseorang ada pada kejujuran hatinya. Tak peduli kita menebarkan senyum kemana pun, bau busuk akan menguar jika kita menyimpan bangkai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyalahkan orang lain hanya karena dia berbeda pendapat dengan kita adalah perilaku paling tolol yang dapat ditunjukkan manusia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak perlu repot memvonis manusia lainnya sebagai benar atau salah—itu urusan Tuhan, bukan tugas manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, sambil terus merasa dirinya paling benar sendiri, adalah bibit kerusakan bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidup hanya sebentar. Jangan pernah menganggap dirimu Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelajarilah kesalahan orang lain, dan jadikan itu sebagai pelajaran agar lebih baik di kemudian hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-1667165469453428125?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1667165469453428125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1667165469453428125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/wisdom-of-esopus.html' title='Wisdom of Esopus'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2539253313714750987</id><published>2012-02-08T02:06:00.003+07:00</published><updated>2012-02-08T02:11:26.029+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Kalau Hanya Senyum yang Engkau Berikan, Westerling pun Tersenyum (2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Post ini adalah lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/kalau-hanya-senyum-yang-engkau-berikan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;post sebelumnya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Nah, Westerling melanggar aturan kode etik itu. Ketika dia memerangi rakyat Sulawesi Selatan, dia menggunakan caranya sendiri yang jelas-jelas jauh berbeda dari buku pedoman yang seharusnya ia gunakan. Langkah awal ini saja sudah cukup untuk melemparkan Westerling ke Pengadilan Militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut. Setelah menyusun strateginya, Westerling bersama pasukannya mulai melakukan operasi mereka pada tengah malam, 11 Desember 1946. Sasaran mereka waktu itu adalah desa Batua serta beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar, seperti desa Borong dan Patunorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pada pukul 4 pagi itu, wilayah desa-desa tersebut telah dikepung, dan kemudian Westerling bersama pasukannya melakukan penggeledahan ke rumah-rumah penduduk. Semua orang digiring ke desa Batua. Pada waktu itu, 9 orang yang berusaha melarikan diri langsung ditembak mati. Sekitar pukul 8.45, seluruh penduduk dari desa-desa lain telah dikumpulkan di desa Batua. Tidak jelas berapa jumlah pastinya. (Kelak, Westerling menyatakan bahwa jumlah orang yang ia kumpulkan waktu itu antara 3.000 sampai 4.000 orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua orang desa itu berkumpul, Westerling mulai mencari “kaum ekstremis, perampok, penjahat, dan pembunuh”. Westerling sendiri yang memimpin aksi itu, dan ia berbicara kepada penduduk di sana dengan bahasa Belanda, yang diterjemahkan ke bahasa Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, 35 orang yang dituduh langsung dibunuh di tempat. Metode yang digunakan Westerling itu disebut “Standrecht”, yang secara harfiah berarti pengadilan dan eksekusi di tempat. Dalam laporannya sendiri, Westerling menyebutkan jumlah yang ia bunuh waktu itu adalah 11 ekstremis, 23 perampok, dan 1 orang pembunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Westerling dan pasukannya melanjutkan pola yang sama di tempat-tempat lain di seluruh Sulawesi Selatan. Di desa Tanjung Bunga, pada malam tanggal 12 menjelang 13 Desember 1946, mereka membunuh 61 orang. Selain itu beberapa kampung kecil di sekitar desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga korban tewas seluruhnya mencapai 81 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, pada malam tanggal 14 menjelang 15 Desember, mereka melakukan sweeping di desa Kalukuang yang terletak di pinggiran kota Makassar, dan sebanyak 23 orang ditembak mati. Di tempat inilah Wolter Monginsidi dan Ali Malakka disiksa, hingga kemudian tewas terbunuh. Selanjutnya, pada malam tanggal 16 menjelang tanggal 17 Desember, desa Jongaya yang terletak di sebelah tenggara Makassar menjadi sasaran, dan memakan korban tewas sebanyak 33 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembantaian itu belum berhenti. Pada 19 Desember 1946, Westerling dan pasukannya memasuki desa Polobangkeng yang terletak di selatan Makassar, juga ke desa Renaja dan Ko’mara. Di sana mereka membantai 330 orang. Setelah itu, pada 26 Desember 1946 sampai 3 Januari 1947, wilayah Gowa di-sweeping, dan korban yang tewas sebanyak 257 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki pertengahan Januari 1947, Westerling melakukan pembantaian di Parepare, Madello, Abbokongeng, Padakkalawa, Suppa, Enrekang, Talabangi, Soppeng, Barru, Malimpung, dan sebuah desa yang tak dikenal. Memasuki Februari, giliran pesisir Tanete yang di-sweeping, termasuk desa Taraweang dan Bornong-Bornong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu mereka masuk ke desa Mandar, membunuh 364 orang, lalu pindah ke desa Kulo, Amparita, dan Maroangin, dan kembali membunuh 171 penduduk—semua pembunuhan ini tanpa bukti atau dasar kejahatan apa pun. Setelah itu, Westerling dan pasukannya semakin haus darah. Mereka membunuh dan membantai siapa pun yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bagi Westerling dan konco-konconya, acara pembantaian ini seperti permainan gundu. Mereka mengumpulkan sejumlah orang di lapangan, lalu Westerling menyeringai senyuman iblis sambil menembakkan pistolnya ke kepala orang-orang tak berdosa itu, dan pasukannya akan mengikuti dengan memberondongkan senapan mesin mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa pembantaian paling mengerikan terjadi pada 2 Februari 1947, di Galung Lombok. Di tempat ini, jumlah korban kebiadaban Westerling dan pasukannya jauh lebih banyak dibanding di tempat-tempat sebelumnya. Pada peristiwa itu, orang-orang berpengaruh di Galung Lombok dibaringkan di lapangan, kemudian ditembak serentak dengan disaksikan para penduduk lainnya. Kemudian, Westerling juga menangkap orang-orang lainnya—lelaki dan perempuan—untuk ditahan dan disiksa, digantung dan dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 21 Februari 1947, keadaan di Sulawesi Selatan dianggap “telah aman dan terkendali”, dan pasukan Westerling pun kembali ke markas mereka di Jakarta sebagai pahlawan. Koran mingguan Belanda, Het Militair Weekblad, menyanjung mereka sebagai “Pasukan Turki yang Kembali”. Dan, berkat “prestasinya”, Westerling pun naik pangkat dan memegang komando pasukan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang, berapa jumlah total orang yang menjadi korban kebiadaban Westerling? Masih simpang siur, tidak jelas. Pada tahun 1947, delegasi Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, bahwa korban pembantaian terhadap penduduk yang dilakukan Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Belanda “tidak terima” dengan jumlah itu. Pada tahun 1969, pemerintah Belanda melakukan “pemeriksaan”, yang pada akhirnya menghasilkan kesimpulan bahwa korban yang tewas selama aksi Westerling di Sulawesi hanya sebanyak 3.000 orang. Westerling sendiri, dengan gebleknya mengaku kalau dia “cuma” membunuh 600 orang. Dan, yang paling penting diperhatikan di sini, pemerintah Belanda tidak pernah menjatuhkan sanksi apa pun atas tindak indisipliner Westerling selama menjalankan operasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data-data otentik yang dapat diambil dari sejarah, pembantaian Westerling dan pasukannya di Sulawesi Selatan dapat digolongkan sebagai kejahatan kemanusiaan (crimes against humanity). Artinya, kasus kejahatan ini sampai sekarang tetap dapat diajukan ke pengadilan internasional, karena kejahatan kemanusiaan—termasuk pembantaian etnis (genocide)—tidak memiliki masa kadaluwarsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu adakah upaya pemerintah Indonesia atas hal itu? Jangan mimpi! Pemerintah kita sepertinya sudah terlalu sibuk mengurusi dirinya sendiri, juga terlalu asyik mengurusi persoalan-persoalan tidak jelas yang membelit seperti gurita yang sepertinya tidak ada habisnya, hingga mungkin bagi mereka ribuan nyawa tak berdosa di Sulawesi Selatan hanyalah bagian dari sejarah nina bobo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan untuk korban di Sulawesi Selatan yang terjadi pada masa lampau, bahkan korban-korban lain yang terjadi di era sekarang pun sepertinya pemerintah kita tak terlalu peduli atau pura-pura lupa. Dan, setiap kali diingatkan, mereka biasanya akan menjanjikan, menjanjikan, menjanjikan, dan tersenyum. Padahal, kata Iwan Fals, kalau hanya senyum yang engkau berikan, Westerling pun tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Semua data historis dalam catatan ini dapat diverifikasi ke semua sumber yang valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2539253313714750987?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2539253313714750987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2539253313714750987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/kalau-hanya-senyum-yang-engkau-berikan_08.html' title='Kalau Hanya Senyum yang Engkau Berikan, Westerling pun Tersenyum (2)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3430188231101202709</id><published>2012-02-08T02:04:00.002+07:00</published><updated>2012-02-08T02:09:05.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Kalau Hanya Senyum yang Engkau Berikan, Westerling pun Tersenyum (1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Judul post ini saya pinjam dari salah satu kalimat dalam lagu “Pesawat Tempurku” yang dinyanyikan Iwan Fals. Saya tiba-tiba teringat pada kalimat lagu itu, karena membayangkan betapa cerdiknya Iwan Fals “mengkonfrontasikan” senyum dengan Westerling dalam lirik lagunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Westerling…? Raymond Pierre Paul Westerling adalah bajingan Belanda yang membantai ribuan rakyat Sulawesi Selatan pada era perang kemerdekaan Indonesia, sejak Desember 1946 sampai Februari 1947, selama operasi militer yang ia namakan Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan). Jika kita membuka buku sejarah, kisah kekejaman itu dikenal sebagai “Pembantaian Westerling”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asbabun nuzul kisah ini berawal dari Insiden Bendera yang terjadi di Hotel Yamato, Surabaya. Insiden itu kemudian melahirkan peristiwa pertempuran besar-besaran yang kelak disebut “Serangan Umum 11 Maret”, yang menewaskan seorang tokoh terkenal bernama Bung Tomo. (Kisah selengkapnya silakan baca buku sejarah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pertempuran besar di Surabaya pada 11 Maret itu kemudian merembet ke daerah-daerah lain, bahkan sampai ke luar pulau. Setelah Bandung menjadi lautan api karena dua ratus ribu warganya membakar kota sebagai bentuk perlawanan, giliran luar Jawa yang mengangkat senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu, pemerintah Indonesia sedang berunding dengan pihak Belanda, dengan mediator dari Inggris. Perundingan itu, oleh sejarah, disebut Perundingan Linggarjati—yang intinya adalah kesepakatan kedua pihak untuk tidak lagi saling serang. Namun, seiring Perjanjian Linggarjati sedang berlangsung, rakyat di daerah-daerah luar Jawa dan Sumatera terus mengadakan perlawanan. Hampir setiap malam terjadi serangan dan penembakan terhadap pos-pos pertahanan tentara Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pejabat Belanda sudah sangat kewalahan menghadapi serangan-serangan itu. Karenanya, mereka pun lalu meminta pimpinan militer Belanda di Jakarta, agar segera “mengurus” Sulawesi Selatan. Dan dari situlah kemudian kisah pembantaian paling berdarah terjadi di bumi Nusantara, dengan aktor utama si Westerling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 9 November 1946, Letnan Jenderal Simon H. Spoor dan Kepala Stafnya, Mayor Jenderal Dirk Cornelis Buurman van Vreeden, memanggil seluruh pimpinan pemerintahan Belanda di Sulawesi Selatan ke markas besar tentara di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Obrolan” mereka lalu memutuskan untuk mengirim pasukan khusus di bawah pimpinan Raymond Westerling untuk menghancurkan kekuatan bersenjata di Sulawesi Selatan, serta mematahkan semangat rakyat yang mendukung Republik Indonesia. Untuk hal itu, Westerling diberi kekuasaan penuh untuk melaksanakan tugasnya dan mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Westerling tiba di Makassar pada 5 Desember 1946, memimpin 120 orang Pasukan Khusus, yang bernama Depot Speciale Troepen. Dia mendirikan markasnya di desa Mattoangin, dan mulai menyusun strategi untuk Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan) dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, di dalam aksi militer ada kode etik yang telah tertulis dalam sebuah buku pedoman, yang dalam istilah Belanda disebut “Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger” atau VPTL, yang artinya “Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di Bidang Politik dan Polisional”. Kode etik itu memiliki ketentuan mengenai tugas intelijen serta perlakuan terhadap penduduk dan tahanan, dan itu merupakan buku pedoman resmi untuk Counter Insurgency.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/kalau-hanya-senyum-yang-engkau-berikan_08.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ke sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3430188231101202709?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3430188231101202709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3430188231101202709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/kalau-hanya-senyum-yang-engkau-berikan.html' title='Kalau Hanya Senyum yang Engkau Berikan, Westerling pun Tersenyum (1)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-437266574337691265</id><published>2012-02-03T00:52:00.002+07:00</published><updated>2012-02-03T00:54:27.127+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Obrolan di Bawah Hujan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;L’enfer, c’est les autres.&lt;br /&gt;—&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/kata-sartre-buku-lebih-hebat-dibanding.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sartre&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hujan turun deras, seperti dicurahkan dari langit. Saya berlari melintasi jalanan, menuju sebuah halte yang memiliki atap cukup luas, untuk berteduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki tua tampak sedang duduk nyaman di bawah halte itu, dan saya pun segera duduk di bangku halte yang sama. Wajah laki-laki itu mengingatkan saya pada Magneto dalam film X-Men—tampak kukuh, meski gurat keriput di wajahnya tak bisa menyembunyikan usia yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu hanya diam ketika saya duduk di dekatnya. Ia mengisap pipa dengan nikmat, dan membuat saya ingin melakukan hal yang sama. Maka saya pun merogoh saku celana dan mengeluarkan bungkus rokok. Saya ambil sebatang, menyelipkannya di bibir, lalu menyiapkan korek gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korek gas itu tak mau menyala—sepertinya air hujan telah membasahi sumbunya ketika saya berlari tadi. Maka saya pun meminjam korek api pada si lelaki tua di sebelah saya. Dia mengambil korek api dari saku jaket panjangnya, lalu memberikannya pada saya dengan wajah datar. Waktu itu saya membayangkan diri saya John Pyro, yang menerima zippo melayang dari tangan Magneto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyalakan rokok, mengisap asapnya sesaat, kemudian mengembalikan korek api pada si Magneto—well, saya tidak tahu siapa namanya, jadi kita sebut saja dia Magneto. (Sekadar catatan, Magneto adalah salah satu tokoh idola saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magneto menerima korek apinya dengan muka datar. Saya mengucapkan terima kasih. Dia hanya mengangguk sekilas, dan memasukkan korek apinya ke dalam saku. Lalu kami duduk dalam diam. Saya mengisap rokok sambil memandangi hujan, Magneto juga tampak tenggelam dalam dunianya sendiri sambil mengisap pipanya. Hujan masih turun cukup lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengisap rokok, saya menyaksikan air got meluber ke jalanan, bercampur dengan air hujan yang membanjir, menjadikan sampah seperti ditebarkan di mana-mana. Bekas-bekas bungkus makanan dan minuman berserakan di sana-sini, menodai jalanan yang tadinya bersih, dan saya pun tanpa sadar menggumam, “Well… sampah di mana-mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magneto menoleh ke arah saya, dan menyahut, “Sampah di mana-mana itu masih bisa dimaklumi, Nak. Yang tidak bisa dimaklumi adalah nyampah di mana-mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak paham dengan maksudnya. “Maaf?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatap saya, dan berbicara tanpa nada humor—khas Magneto, “Kau tahu perbedaan antara sampah dan nyampah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba tersenyum, “Anda tidak keberatan menjelaskannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dia pun menjelaskannya. “Sampah,” katanya, “adalah materi yang memang mau tak mau harus ada sebagai sisa atau hasil pembuangan. Kita tidak bisa melepaskan diri dari sampah, karena itu memang bagian dari kehidupan, khususnya kehidupan manusia. Bahkan tubuh manusia pun memproduksi sampah—kotoran—sebagai hasil sisa pencernaan dari semua yang telah kita makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengisap pipanya sejenak, dia melanjutkan, “So, keberadaan sampah dapat dimaklumi, bahkan dapat diterima sebagai bagian kehidupan. Tetapi nyampah adalah sesuatu yang tidak dapat—setidaknya sulit—untuk diterima dan dimaafkan, karena itu benar-benar sangat mengganggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menunggu respon saya. Maka saya pun merespon dengan sopan, “Apa yang dimaksud nyampah, Sir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyampah,” katanya, “adalah perilaku membuat sesuatu yang tidak memiliki manfaat apa pun. Materi yang dibuat itu bukan sampah, tetapi memiliki sifat sampah, sehingga perilakunya disebut nyampah. Bahkan, sampah jauh lebih baik daripada kotoran hasil nyampah. Kau tahu, sampah dapat diolah menjadi kompos atau didaur ulang. Tapi nyampah…? Apa yang dihasilkan dari itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengisap asap rokok dan menatapnya dengan muka bingung. “Uh, saya belum dapat mencerna yang Anda maksud, Sir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatap saya dengan muka datar, lalu berkata tanpa nada humor—khas Magneto. “Sepertinya kau perlu lebih banyak belajar, Nak.” Setelah terdiam sesaat, dia melanjutkan, “Kau mau mendengarkan ceritaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengangguk. “Dengan senang hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magneto bercerita tentang tempat tinggalnya. Ia tinggal di sebuah komplek perumahan yang tenang dan asri. Meski kadang tidak saling mengenal, namun orang-orang yang tinggal di komplek perumahan itu saling menyapa ramah atau setidaknya tersenyum ketika berpapasan dengan tetangganya. Magneto senang tinggal di komplek itu, sebagaimana para tetangganya juga senang tinggal di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu hari, muncul tetangga baru, seorang wanita. Kehadiran tetangga baru tidak menjadi masalah di komplek itu, karena rata-rata orang di komplek itu pun sama-sama pendatang. Tetapi ada yang tidak beres dengan si tetangga baru ini. Untuk memudahkan cerita, kita sebut saja si tetangga baru itu dengan nama Mystique.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film X-Men, Magneto dan Mystique bersahabat. Tapi tidak di dunia nyata, setidaknya di komplek tempat tinggal Magneto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, menurut cerita Magneto, tetangga baru bernama Mystique itu selalu berkeliling ke sana ke mari untuk nyampah di halaman rumah orang-orang. Jadi, Mystique akan mengambili batu-batu, atau lumpur, atau rumput, atau apa saja yang ada di sekitar rumah tetangganya, kemudian melempar-lemparkannya ke halaman rumah si tetangga. Akibatnya, halaman yang tadinya bersih dan rapi segera kotor dan mengganggu pemandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, itulah yang kumaksud &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/05/pap-smeap.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;nyampah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;,” ujar Magneto kepada saya. “Kau lihat, sesuatu yang pada mulanya bukan sampah, diubah menjadi sampah yang benar-benar sangat menganggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nyampah di satu halaman rumah orang, Mystique akan pindah ke rumah tetangga yang lain, kemudian melakukan hal yang sama. Ia akan mengambili apa saja yang dapat ia pungut, lalu melempar-lemparkannya ke halaman rumah orang. Dan begitu terus-menerus. Setiap hari ia melakukan kegiatan aneh itu, dan hampir semua halaman rumah orang di komplek itu telah pernah disampahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana reaksi para tetangga, Sir?” tanya saya penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja kami marah!” sahut Magneto dengan muka berkerut. “Tetapi, orang-orang di komplek kami lebih memilih diam daripada ribut dengan tetangga. Jadi, kami pun lalu memasang pintu gerbang di depan rumah, agar dia tidak nyampah lagi di halaman rumah kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan itu efektif?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hell, sayangnya tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski rumah-rumah di komplek itu telah dipasangi pintu gerbang, Mystique tetap melanjutkan aksi nyampahnya. Magneto menceritakan bagaimana Mystique rela memanjat pintu gerbang demi tetap bisa melempar-lemparkan sampah ke halaman rumah para tetangga. Akibatnya, meski telah dihalang-halangi pintu gerbang sekali pun, halaman-halaman rumah tetap saja kotor akibat perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mystique tidak sadar bahwa keberadaan pintu gerbang itu ditujukan agar dia tidak lagi nyampah. Maka, untuk menyadarkan Mystique, orang-orang di komplek itu pun lalu bersepakat untuk memasang tanda besar di depan gerbangnya, berbunyi “DILARANG NYAMPAH DI SINI”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di depan gerbang itu memang menyadarkan Mystique. Sejak itu dia tidak lagi nyampah. Tetapi dia lalu marah-marah pada para tetangganya. Setiap berpapasan dengan tetangga, Mystique akan mengeluarkan ocehan yang tidak enak didengar, ataupun sindiran-sindiran menjengkelkan karena dia dilarang nyampah. Puncaknya, Mystique menyiapkan setumpuk sampah di depan rumahnya sendiri, lalu melempar-lemparkannya pada setiap tetangga yang kebetulan lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kisah itu, saya geleng-geleng kepala tak percaya. “Bagaimana ada orang yang seperti itu, Sir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu, Nak,” jawab Magneto dengan gusar. “Seperti yang kukatakan tadi, kita masih bisa memaklumi keberadaan sampah. Tapi kita sulit memaklumi perilaku nyampah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, dia masih melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang dia telah pergi dari komplek kami. Para tetangga pun merasa lega dengan kepergiannya, dan kehidupan kami normal kembali—bersih dan tertib seperti dulu—tanpa sampah-sampah menjengkelkan yang tak berguna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi penasaran, “Anda tahu kemana dia pergi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu! Tetapi, kata para tetangga, dia pindah ke komplek lain, dan kembali nyampah seperti ketika tinggal di komplek kami. Sepertinya, nyampah telah menjadi salah satu hal penting dalam hidupnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magneto mengisap pipanya dengan muka berkerut, sementara saya menatap hujan yang belum juga reda. Oh, well, rasanya saya ingin sekali bertemu Charles Xavier untuk mendengarkan kebijaksanaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-437266574337691265?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/437266574337691265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/437266574337691265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/obrolan-di-bawah-hujan.html' title='Obrolan di Bawah Hujan'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-7596199441153411264</id><published>2012-02-03T00:51:00.001+07:00</published><updated>2012-02-03T00:51:47.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Hidup itu Lucu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Karena, kalau kita tidak mau menerima apa pun, kecuali yang terbaik, kita justru akan sering menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam semesta, kadang-kadang, juga bermain petak umpet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-7596199441153411264?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7596199441153411264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7596199441153411264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/02/hidup-itu-lucu.html' title='Hidup itu Lucu'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-5501282879325025761</id><published>2012-01-31T23:39:00.003+07:00</published><updated>2012-02-03T00:45:54.970+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Menulis'/><title type='text'>Maaf, Saya Bukan Artis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Akhirnya, kutempuh jalan yang sunyi&lt;br /&gt;Mendendangkan lagu bisu&lt;br /&gt;Sendiri di lubuk hati&lt;br /&gt;Puisi yang kusembunyikan dari kata-kata&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Emha Ainun Nadjib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, saya dihubungi Mbak Febriana, editor Penerbit Titan Press, yang mengabarkan kemungkinan novel saya, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/02/lacrymossa.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lacrymossa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, akan difilmkan. Saya masih ingat ketika dia menelepon pukul sembilan malam, dan kemudian kami berbincang cukup lama menyangkut novel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/02/lacrymossa.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lacrymossa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; adalah novel memoar—satu-satunya novel memoar yang pernah saya tulis. Meski novel itu tidak secara langsung menyatakan bahwa tokoh dalam kisahnya adalah diri saya, namun sebagian besar pembaca telah mengira-ngira—bahkan meyakini—kalau sayalah tokoh dalam novel itu. Dan saya tidak keberatan jika ada yang berasumsi seperti itu, karena kenyataannya saya memang mengambil banyak kisah hidup saya sendiri dalam membangun jalan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menelepon saya, Mbak Febriana juga sempat menyinggung hal itu. “Da’, tokoh dalam novel itu kan kamu banget, tuh,” ujarnya. Kemudian, sambil bercanda, dia bilang, “Gimana kalau umpama—ini umpama lho ya—produser atau sutradaranya meminta kamu yang memerankan filmnya nanti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski saya tahu itu pertanyaan gurauan, namun saya menjawabnya dengan serius, “Tentu saja saya akan menolak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh…?” Dia seperti salah dengar. “Kamu menolak tawaran jadi artis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa lebih serius lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, well, saya tidak ingin, tidak mau, dan tidak berminat jadi artis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh, kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena saya bukan artis!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tertawa sumbang. “Kayaknya baru dengar nih, ada orang yang nolak jadi artis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Febri, tidak semua orang ingin jadi artis. Salah satunya saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami pun ngobrol-ngobrol hal lain, meski masih berhubungan dengan novel tersebut. Di akhir obrolan, Mbak Febri bertanya, “Nah, kira-kira siapa ya, aktor yang sekiranya pas memerankan tokoh dalam novel itu? Kayaknya harus yang mirip kamu, deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kalau itu sih gampang,” ujar saya, “Mbak Febri kan udah pernah ketemu dan lihat saya. So, kalau memang tokohnya harus bener-bener mirip saya, kayaknya nggak sulit nyarinya, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm... siapa, ya?” Setelah terdiam beberapa saat, tiba-tiba dia berujar, “Oh iya, Bertrand Antolin!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh…???” Saya merasa salah dengar. “Bertrand Antolin…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tuh cowok kan mirip banget sama kamu—kurus-kurusnya, face-nya—iya, kayaknya dia deh yang paling tepat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat para pembaca blog ini, tolong kalian jangan terpengaruh. Tentu saja saya tidak mirip Bertrand Antolin! Dan, lebih penting lagi, Bertrand Antolin tidak mirip saya! Namun, meski begitu, saya tidak keberatan jika Bertrand memang mau memerankan diri saya dalam film! :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehmm, saya telah memilih jalan hidup saya, dan jalan hidup saya bukan di dunia selebritas yang glamour dan gemerlap. Saya telah memilih jalan hidup saya, dan jalan hidup yang saya pilih adalah jalan sunyi—tempat saya dapat belajar dan berkarya tanpa diganggu hiruk-pikuk publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis adalah jalan sunyi, dan saya telah memilih jalan itu. Jika tulisan saya harus naik ke panggung publik, biarlah hanya tulisan itu yang dikenal, dan biarlah saya tetap menjadi sosok tak dikenal. Menjadi terkenal bukan obsesi saya, dan menjadi artis tak pernah terpikir sedikit pun dalam pikiran. Saya sudah bahagia dengan jalan hidup yang sekarang saya miliki—dan jalan hidup saya ada dalam sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memutuskan untuk menjadi penulis, bertahun-tahun lalu, salah satu alasan yang mendasari saya adalah karena pekerjaan ini tidak membutuhkan tampilan glamour. Menjadi penulis hanya membutuhkan ketekunan menulis—tidak membutuhkan penampilan rupawan ataupun gelar tinggi dan tetek-bengek-tidak-penting-lainnya—dan karena itulah saya memilih menjadi penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, menulis adalah pekerjaan yang dapat dilakukan dalam keheningan, dalam kesendirian, dan saya menyukai kondisi semacam itu. Mengeluarkan saya dari keheningan sama artinya mengeluarkan ikan dari air—itu akan membunuh saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, well, tidak semua orang ingin menjadi artis! Tidak semua orang ingin masuk televisi. Tidak semua orang ingin main sinetron atau main film. Pendeknya, tidak semua orang ingin terkenal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keinginan untuk tidak terkenal itu pulalah yang mendasari saya untuk mengundurkan diri dari publik pada tahun 2006. Dulu, di awal-awal menjadi penulis, saya sering diundang menjadi pembicara di kampus-kampus dan di berbagai forum, untuk bedah buku atau hal lainnya—dan saya mau menghadirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemudian saya menyadari bahwa kehadiran saya secara langsung dalam acara-acara semacam itu hanya menjadikan saya mudah dikenal, dan saya tidak nyaman menjalaninya. Akhirnya, pada 2006, saya pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari publik. Sejak itu, saya tidak mau lagi menerima undangan berbicara di mana pun, dengan alasan apa pun. Sebagai gantinya, saya membuat blog di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui blog—juga melalui buku-buku, dan artikel-artikel di media massa—saya bisa menulis dan menyuarakan pikiran-pikiran saya tanpa harus tampil di depan publik. Dan saya merasa nyaman seperti itu. Biarlah orang mengenal tulisan saya, atau mengenal nama saya. Tapi biarlah pula diri saya tetap menjadi “bukan siapa-siapa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah bahagia jika orang membaca buku saya dan menyukai tulisan-tulisan saya. Biarlah buku-buku itu menjadi milik mereka, dan biarlah diri saya tetap menjadi milik saya sendiri. Setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri-sendiri, dan jalan hidup saya ada dalam keheningan, tanpa hiruk-pikuk selebritas, tanpa gemerlap yang menyilaukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menulis catatan ini, saya baru pulang dari pertemuan dengan beberapa teman wartawan. Rencananya, rekan-rekan wartawan tersebut ingin melahirkan tabloid baru, dan saya diajak untuk ikut mengkonsepnya. Saya menganggap tawaran mereka menjanjikan kreativitas baru, maka saya pun menerima tawaran itu, dan mematangkan konsepnya. Jika tidak ada aral melintang, dalam waktu dekat tabloid baru itu akan segera terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak, jika tabloid yang kami impikan itu akhirnya terbit dan beredar di masyarakat, saya sudah bahagia jika masyarakat luas membaca serta menyukainya, tanpa mereka harus tahu bahwa saya ada di belakang penerbitannya. Kau tahu, rasanya senang sekali menyaksikan orang-orang membaca tulisan-tulisan kita, tanpa mereka tahu bahwa kitalah penulisnya. Itu seperti menyerahkan sekeranjang bunga dengan tangan kananmu, dan membiarkan tangan kiri tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencintai menulis, karena dalam menulislah saya menyentuh keheningan, menyetubuhi kesunyian. Dalam hening dan sunyi, saya tidak menginginkan apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-5501282879325025761?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5501282879325025761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5501282879325025761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/maaf-saya-bukan-artis.html' title='Maaf, Saya Bukan Artis'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4143694944673269939</id><published>2012-01-31T23:35:00.001+07:00</published><updated>2012-02-01T02:09:48.909+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Pelajaran Penting Seumur Hidup</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Jangan menghakimi.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yesus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita menudingkan jari telunjuk ke muka orang lain,&lt;br /&gt;tiga jari lainnya menunjuk ke muka kita sendiri.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Plato&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sepuluh pagi itu saya mengetuk pintu rumahnya. Cukup lama saya berdiri di depan pintunya, mengetuk-ngetuk dan memanggilnya, sampai kemudian ia muncul membukakan pintu dengan muka mengantuk. Jelas sekali ia terbangun dari tidur karena mendengar ketukan di pintu rumahnya. Dan, dengan pongah, saya berkata, “Jam segini baru bangun tidur??? Dasar pemalas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuklah,” sahutnya, tanpa menghiraukan ucapan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya duduk di ruang tamu rumahnya, dia berkata perlahan-lahan, “Jam berapa tadi malam kau tidur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jam sebelas,” saya menjawab jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jam berapa kau bangun tidur tadi pagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jam enam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kau tidur dari jam sebelas malam sampai jam enam pagi. Itu berarti kau sudah tidur selama tujuh jam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah.” Saya menatapnya dengan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melanjutkan, “Nah, sekarang biarkan aku menjelaskan. Setiap malam aku tidak pernah tidur karena banyak pekerjaan dan insomnia. Tadi aku tidur jam delapan pagi. Dan aku terbangun dari tidur jam sepuluh, karena kau mengetuk pintu rumahku. Artinya, aku baru tidur dua jam—dan kau dengan pongah menuduhku pemalas karena melihatku bangun tidur jam sepuluh. Seharusnya, kalau boleh menyarankan, tanyalah dulu kapan aku tidur sebelum menghakimiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan itu, tiba-tiba saya merasa diri sayalah yang pemalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4143694944673269939?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4143694944673269939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4143694944673269939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/pelajaran-penting-seumur-hidup.html' title='Pelajaran Penting Seumur Hidup'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3186017930246941762</id><published>2012-01-22T02:48:00.005+07:00</published><updated>2012-01-22T06:16:55.721+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta dan Lainnya'/><title type='text'>Finding Soulmate</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang terbaik akan datang. Jadilah tua bersamaku!&lt;br /&gt;Yang terbaik akan datang menyambut, akhir hayat,&lt;br /&gt;yang untuknya awal dicipta, hidup kita ada di tangannya.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Robert Browning&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kau percaya soulmate…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ungkapan terkenal yang menyatakan bahwa setiap orang pasti akan menemukan &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/07/jodoh.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;jodoh&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang tepat, bahwa setiap kita pasti akan menemukan seseorang yang akan menjadi belahan jiwa atau soulmate kita. Apakah kau percaya…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan belahan jiwa atau ‘soulmate’ memang masih jadi perdebatan di sebagian kalangan. Sebagian orang mempercayai soulmate itu ada, sementara sebagian yang lain meragukannya. Tetapi, apa sih sebenarnya soulmate itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman kita atas definisi soulmate akan membantu membentuk pikiran kita untuk mempercayai atau tidak mempercayai keberadaan soulmate. Pandangan umum menyatakan bahwa soulmate adalah seseorang yang mampu menghadirkan beberapa perasaan tertentu yang bersifat kedamaian, ketenteraman, dan kebahagiaan. Secara mudah, kau telah menemukan seseorang yang dapat disebut soulmate, apabila:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kau dan dia bisa saling membantu dalam urusan apa pun, baik yang besar ataupun yang kecil, yang sepele ataupun yang penting, dan kalian tidak merasa perlu melibatkan orang lain karena sudah senang mengerjakannya berdua saja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dia dapat bersikap santai terhadapmu, sebagaimana kau pun dapat bersikap jujur dan terbuka kepadanya. Kalian berdua bisa saling menghargai perbedaan masing-masing; dia tidak meributkan penampilan ataupun hal-hal lain menyangkut dirimu, dan kau pun dapat menerima dia apa adanya. Kalian berdua tidak mencoba saling mengesankan, karena kalian menyukai keberadaan masing-masing secara jujur, spontan, dan tidak palsu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kau dan dia dianugerahi semacam telepati pribadi, suatu kontak batin yang dapat membuatmu memahami apa yang tengah dipikirkannya, sebagaimana dia pun seperti selalu dapat mengerti apa yang tengah kaurasakan. Kalian berdua dapat saling memahami perasaan masing-masing, meski perasaan itu tak saling diungkapkan secara langsung.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kalian berdua saling memberikan rasa nyaman, sehingga kalian bisa menghabiskan banyak waktu bersama tanpa menimbulkan rasa bosan. Kau selalu suka berdekatan dengannya, sebagaimana dia pun selalu merindukan jika tak melihatmu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kau dan dia merasa saling memerlukan, saling membutuhkan, dan kalian berdua saling menguatkan. Ketika kau dalam kesulitan, dia menjadi orang pertama yang datang. Ketika dia dalam kesusahan, kau pun yang paling awal mengulurkan tangan. Lebih dari itu, kau dan dia bisa berterus-terang tentang semua hal yang mungkin tidak bisa kalian ungkapkan kepada orang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kalian bisa saling mencintai dan menyayangi bukan karena hal lain, tetapi karena kau adalah kau, dan dia adalah dia. Kau maupun dia dapat saling mengatakan, “Aku mencintaimu karena kau adalah kau. Kau tidak perlu menjadi orang lain untuk membuatku jatuh cinta kepadamu atau untuk menerima cintaku.”&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Nah, berdasarkan gambaran-gambaran sekilas di atas, sekarang kita mulai memiliki bayangan yang lebih riil mengenai apa sebenarnya yang disebut soulmate. Dan, seperti yang telah dinyatakan di atas, kita berhak untuk mempercayai atau tidak mempercayai keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kalau kita mau memperhatikan gambaran-gambaran di atas lebih jauh, maka orang yang dapat disebut soulmate sesungguhnya adalah orang yang memiliki kepribadian yang cocok dengan diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soulmate tidak sekadar wajah rupawan atau penampilan yang mengesankan. Soulmate lebih dari itu—ia adalah sosok dengan kepribadian yang dapat menyatu dengan kepribadian kita secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ZUPpGuT1xUQ/TxsXXKV1l6I/AAAAAAAAAeM/niuBCOkiB60/s1600/Copy%2Bof%2Blove%2Bbook%2Bfix.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZUPpGuT1xUQ/TxsXXKV1l6I/AAAAAAAAAeM/niuBCOkiB60/s320/Copy%2Bof%2Blove%2Bbook%2Bfix.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700175440047871906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan lagi gambaran-gambaran mengenai soulmate di atas—semuanya adalah perpaduan dari dua kepribadian yang menyatu, berpadu, dan saling melengkapi. Psikolog Carl Gustav Jung menyatakannya dengan baik, “Bertemunya dua kepribadian mirip bercampurnya dua zat kimia; ada reaksi dan ada transformasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ketika dua kepribadian bertemu, maka akan muncul reaksi dan transformasi sebagai hasil pertemuan antarkepribadian itu. Jika hasil pertemuan antarkepribadian itu menciptakan reaksi yang negatif, maka orang akan cenderung saling menjauhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ketika hasil pertemuan kepribadian itu menciptakan reaksi yang positif, maka orang pun akan cenderung saling mendekati—dan itulah yang disebut soulmate. Ringkasnya, soulmate tidak sekadar “seseorang”, melainkan “seseorang dengan kepribadian tertentu yang dapat menyatu dengan kepribadian kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya pula, kata kunci untuk dapat menemukan soulmate adalah mencari dan menemukan kepribadian yang sekiranya akan cocok dan dapat menyatu dengan kepribadian kita. Setiap orang memiliki sifat, karakter, dan kepribadian yang berbeda, dan tidak setiap orang dapat menyatu secara baik dengan kepribadian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pertanyaannya, bagaimana cara menemukan orang dengan kepribadian yang sekiranya akan cocok dengan kepribadian kita…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama tentu dengan mengenali kepribadian kita sendiri. Kita tidak mungkin menemukan soulmate atau sosok yang tepat jika kita belum dapat mengenali diri sendiri. Soulmate hanya milik orang-orang yang telah mengenali dirinya sendiri. Mendapatkan soulmate—jika kita memang percaya keberadaannya—tak jauh beda dengan meletakkan keping puzzle pada tempat yang tepat. Kita tidak akan bisa meletakkan potongan puzzle sebelum melihat gambaran dasarnya. Nah, “gambaran dasarnya” itulah kepribadian kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita menemukan orang yang (kita anggap) tepat, sehingga kita mau menjalin hubungan dengannya, kita akan merasa nyaman dalam kebersamaan atau bahkan kedekatan itu. Dalam hubungan semacam itu, rupa fisik tidak lagi memiliki peran penting—meski mungkin masih memiliki peran—karena yang lebih penting adalah faktor kepribadian. Dalam hubungan yang nyaman, kita merasakan kepribadian kita menyatu dengan kepribadian pasangan kita—dan itulah soulmate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, ketika kemudian hubungan itu melangkah ke jenjang yang lebih serius di altar perkawinan, dan orang-orang kemudian mengucapkan, “Selamat menempuh hidup baru,” maka ucapan itu sebenarnya berbunyi, “Selamat, karena telah mengenali dirimu sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam cinta,” kata &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/kata-sartre-buku-lebih-hebat-dibanding.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jean-Paul Sartre&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, “satu ditambah satu sama dengan satu.” Karena di situlah dua kepribadian benar-benar menyatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3186017930246941762?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3186017930246941762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3186017930246941762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/finding-soulmate.html' title='Finding Soulmate'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ZUPpGuT1xUQ/TxsXXKV1l6I/AAAAAAAAAeM/niuBCOkiB60/s72-c/Copy%2Bof%2Blove%2Bbook%2Bfix.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3049907113206404582</id><published>2012-01-22T02:44:00.000+07:00</published><updated>2012-01-22T02:47:56.013+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Bila Saya Sampai di Surga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya akan bertanya, “Tuhan, di mana ruang belajarnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3049907113206404582?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3049907113206404582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3049907113206404582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/bila-saya-sampai-di-surga.html' title='Bila Saya Sampai di Surga'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3346643402534165379</id><published>2012-01-14T23:00:00.002+07:00</published><updated>2012-01-14T23:04:31.954+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta dan Lainnya'/><title type='text'>The History of Love (3)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagi cinta, keindahan dan kebenaran, tak ada kematian ataupun perubahan.&lt;br /&gt;Di manakah cinta, keindahan dan kebenaran yang kita cari?&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Percy Byshe Shelley&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Chapter 3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal mempertemukan dua hati anak manusia, alam semesta benar-benar memiliki selera humor yang aneh. Setelah perjumpaan di konter buku itu, mereka berdua jadi lebih akrab, dan mulai intens berkomunikasi. Mereka bertukar nomor ponsel, dan ada banyak malam yang mereka habiskan untuk mengobrolkan banyak hal. Pertemuan demi pertemuan menyenangkan pun mereka nikmati, dan bintang-bintang di langit masih menari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu,” ujar si laki-laki suatu hari, “dulu aku percaya manusia diciptakan dari tanah liat. Tetapi, setelah bertemu denganmu, aku jadi meragukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanya si perempuan dengan tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, aku tidak percaya kau diciptakan dari tanah liat. Sepertinya, kau diciptakan dari lilin, atau dari keramik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si perempuan tertawa. Dan, entah mengapa, si laki-laki selalu merasakan debar kebahagiaan setiap kali melihat perempuan itu tertawa bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki merasa menemukan perempuan yang tepat, dan si perempuan merasa menemukan laki-laki yang tepat. Orang-orang menyatakan itulah soulmate. Tetapi orang-orang bijaksana tahu, bahwa Adam dan Hawa belum waktunya menikmati surga. Akan ada apel terlarang—dan di situlah letak selera humor aneh alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Chapter 4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu si perempuan berulang tahun, dan mereka berjanji untuk merayakannya berdua. Malam harinya, si laki-laki datang memenuhi janji mereka, dan membawa sesuatu yang ia harapkan dapat membahagiakan si perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ini?” tanya si perempuan saat menerima bungkusan yang dibawakan si laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki tersenyum. “Bukalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si perempuan membuka bungkusan itu, dan seketika matanya berbinar. Dua buah buku tergeletak di hadapannya. “Ya Tuhan,” pekiknya lirih. “Sudah lama aku mencari-cari dua buku ini. Bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat waktu kita bertemu di konter buku dulu?” sahut si laki-laki. “Aku melihatmu membeli buku-buku yang ditulis orang itu. Jadi kupikir, kau akan suka dengan dua buku ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku suka sekali!” ucap si perempuan dengan sorot kebahagiaan yang sulit disembunyikan. “Aku sudah mencari-cari &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/07/ziarah-hening.html"&gt;dua&lt;/a&gt; &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/06/esensi-sunyi.html"&gt;buku&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; ini kemana-mana, tapi tak pernah ketemu. Di mana kau bisa mendapatkannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya aku berbohong, pikir si laki-laki. Tetapi bibirnya sudah menjawab, “Aku… aku mendapatkan dari penerbitnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu mengangguk, kemudian dengan antusias mulai membuka buku itu. Sekali lagi ia terpekik, “Oh, Tuhan! Kau juga mendapatkan tanda tangan penulisnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah berbuat kesalahan, pikir si laki-laki. “Uh, yeah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana… Bagaimana kau bisa melakukannya…?!” si perempuan makin antusias—ia tak pernah membayangkan akan mendapatkan anugerah semacam itu. “Bagaimana kau bisa mendapatkan tanda tangannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki kebingungan. Seharusnya ini tak terjadi, pikirnya. “Aku… yeah, aku menandatanganinya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau…?” Detik itulah si perempuan baru menyadari kesalahannya. Potongan demi potongan adegan yang telah mereka lalui selama ini tiba-tiba berhamburan dari memorinya, seperti serombongan kupu-kupu yang beterbangan dari sebuah rumpun bunga. Dan potongan demi potongan adegan itu kini menyatu, mengkristal dalam benaknya, dan menghadirkan kesadaran baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seperti puzzle, kini semua potongan jatuh di tempatnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Tuhan!” pekik perempuan itu dengan lirih sambil menatap si laki-laki. “Jadi kaulah orangnya…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki tersenyum kikuk menyaksikan ekspresi si perempuan. “Hei, apa yang kaupikirkan sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si perempuan menjawab dengan spontan, “Oh, aku… rasanya aku ingin memelukmu!” Dan ia memang ingin melakukan itu—sejujurnya. Tetapi ketika bangkit dari duduknya, tiba-tiba ia pun teringat seseorang yang lain—seorang laki-laki yang kini jauh darinya, yang telah mengikat mereka berdua dengan sebuah cincin yang kini melekat di jari manisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/08/seseorang-berkata-lupakan-saja.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Chapter 5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut restoran yang hening, mereka duduk berhadapan, dipisahkan sebuah meja bundar dengan dua lilin redup di atasnya. Pelayan telah mengambil sisa-sisa makan, dan kini dua orang itu tengah saling menatap, mesra, dan si perempuan sedikit salah tingkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu,” kata si laki-laki dengan perlahan, “aku tahu tak layak menyatakan hal itu kepadamu. Aku hanya ingin kau tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si perempuan mengangguk. Tampak binar mata yang sulit disembunyikan di lingkar wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia pria yang beruntung,” sambung si laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu pun wanita yang kelak akan kautemukan,” sahut si perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki menggeleng perlahan, dan tersenyum. Ia menyesap sisa minuman di gelasnya, meletakkannya kembali di atas meja, kemudian menatap perempuan di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa perempuan ini telah membuatku jatuh cinta, pikir si laki-laki. Ia tak pernah tahu masih memiliki perasaan itu di hatinya, ia tak pernah yakin akan dapat jatuh cinta lagi. Dan perempuan ini telah membuktikan kepadanya, bahwa ia masih memiliki cinta—dan ia telah memberanikan diri untuk menyatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mereka bertemu pada waktu yang salah, kata si perempuan. Ya, mereka bertemu pada waktu yang keliru, waktu yang seharusnya tidak digunakan alam semesta untuk bermain-main dengan dua hati anak manusia. Si perempuan telah terikat dengan seseorang—dan si laki-laki tahu bahwa dia maupun si perempuan tidak ingin merusakkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, apa yang kaupikirkan?” ucap si perempuan sambil menyentuh tangan si laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki mencoba tersenyum. “Tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya, aku telah banyak bercerita tentang hidupku. Sekarang aku ingin mendengar ceritamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak ingin mendengarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ayolah, aku ingin sekali mendengarnya. Ceritakan tentang dirimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki mendesah tertahan, dan bibirnya bergetar. Ia tahu, cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Jadi ia pun mulai bercerita, dan si perempuan mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, di sudut restoran yang hening itu, si laki-laki merasa terbang ke masa lalu, membongkar kenangan demi kenangan yang telah terkubur debu, dan menuturkannya dengan lancar seolah semuanya tertulis dalam buku. Cerita tentang luka, tentang cinta, tentang kisah kelam dan sejarah panjang… Kisah yang ingin ia kuburkan selamanya, kisah yang sekarang ia bangkitkan dari kuburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, bintang-bintang di langit berhenti menari, dan alam semesta berputar ke masa sebelumnya. Si perempuan duduk terpekur di kursinya, bersama nyala lilin yang makin redup di dekatnya, bersama suara si laki-laki yang terdengar makin sayup—mengisahkan sejarah panjang penuh luka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...sejarah panjang tentang cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3346643402534165379?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3346643402534165379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3346643402534165379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/history-of-love-3.html' title='The History of Love (3)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-6182409573303147069</id><published>2012-01-14T22:59:00.000+07:00</published><updated>2012-01-14T23:00:04.395+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta dan Lainnya'/><title type='text'>The History of Love (2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tak ada sesuatu pun yang membuat kita&lt;br /&gt;begitu kesepian melebihi rahasia-rahasia kita.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oaul Tournier&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Chapter 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertemu pertama kali di sebuah resepsi perkawinan—begitulah kisah ini dimulai. Convention hall itu penuh sesak oleh tamu undangan, sementara musik orkestra Yanni terdengar lembut melalui loudspeaker, mengiringi seremoni dan acara resepsi. Seharusnya kisah ini tidak terjadi, tetapi seorang perempuan di salah satu sudut ruangan yang terang-benderang itu merasa harus keluar untuk mendapatkan udara segar. Sesuatu sedang berkecamuk di dalam pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu melangkah keluar dari ruangan, kemudian berdiri sendirian di teras sambil menikmati hembusan udara malam yang sejuk. Bintang-bintang menari di langit, dan perempuan itu seperti menikmati tarian mereka. Ketika itulah seorang lelaki muncul dari dalam, sambil membawa segelas es krim yang sepertinya ia ambil dari meja prasmanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu melangkah santai sambil asyik menyendok es krim di tangannya, ketika melihat perempuan itu sedang berdiri sendirian. Sendok es krimnya terangkat ke mulutnya, tetapi ia menghentikan suapannya. Lelaki itu seperti tak menyadari ketika es krimnya mulai meleleh, ia bahkan seperti tak sadar ketika mulutnya terbuka, “Hei, di mana sayapmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menoleh ke arah si laki-laki, dan melihat sesosok wajah yang asing—seseorang yang sedang berdiri menatapnya, dengan tangan memegangi es krim seperti anak kecil. Perempuan itu menyadari pertanyaan tadi ditujukan kepadanya, tetapi dia tidak memahami maksudnya. Jadi ia pun bertanya dengan bingung, “Maaf…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu tersenyum kikuk. “Aku sejak tadi melihatmu di dalam sana,” ujarnya kemudian. “Kupikir, kau pasti turun dari langit untuk menyaksikan acara perkawinan manusia. Jadi, di mana sayapmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tersenyum. Ia belum pernah mendengar yang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya mereka saling berkenalan, dan kemudian duduk berdua di teras depan malam itu, keduanya sama sekali tak menyadari bahwa sesuatu yang amat besar tak lama lagi akan terjadi. Jadi mereka pun bercakap-cakap di sana, sementara dari ruang resepsi terdengar orkestra Yanni sedang memainkan Santorini. Di langit, bintang-bintang masih menari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Chapter 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perjumpaan di malam resepsi perkawinan itu, keduanya tak pernah lagi bertemu atau pun berkomunikasi. Si laki-laki kembali ke dunianya, si perempuan juga kembali ke dunianya. Mungkin mereka bahkan sudah saling melupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki berpikir, “Perempuan seperti dia pasti sudah punya pacar.” Dan si perempuan pun berpikir sama. Jadi mereka kembali menjalani hidupnya sendiri-sendiri, dan pertemuan di malam resepsi itu perlahan mengabur menjadi butir pasir bayang-bayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi orang memang tidak bisa menolak kehendak alam semesta. Dua bulan setelah pertemuan itu, mereka bertemu kembali—dan kali ini di sebuah konter buku di swalayan. Tempat yang sangat tidak tepat, pikir si laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki baru melangkah dari elevator ketika tanpa sengaja melihat perempuan itu sedang berdiri sendirian di depan sebuah rak. Kedua kakinya seperti melangkah tanpa sadar ketika ia mendekati si perempuan, dan mereka pun saling menyapa dengan hangat. Kau tahu, alam semesta selalu punya selera humor yang aneh dalam hal-hal seperti ini. Kau akan melihatnya sesaat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka melangkah perlahan-lahan, menyusuri rak demi rak, sambil bercakap dengan akrab seperti sepasang sahabat yang lama tak berjumpa. Si laki-laki menyadari kesendirian si perempuan, tetapi dia tak menanyakannya. Si perempuan menyadari si laki-laki juga sendiri, tetapi ia pun tak menanyakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kau juga suka baca buku?” tanya si perempuan sambil terus melangkah menuju rak yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, lumayan,” sahut si laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa penulis favoritmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya aku berbohong, pikir si laki-laki. Tapi dia tak sempat melakukannya. Jadi dengan jujur ia menjawab, “Goenawan Mohamad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, berat!” ujar si perempuan dengan muka lucu. “Kalau penulis fiksi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sheldon. Sidney Sheldon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berhenti di depan salah satu rak buku di sana, dan si perempuan mulai sibuk mencari-cari buku yang diinginkannya. Si laki-laki sedang berencana untuk menanyakan siapa penulis favorit si perempuan, tetapi seketika bibirnya terkunci dan jantungnya berdebar-debar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu mengambil empat buku dari rak—empat buah buku dengan judul yang berbeda, tetapi ditulis oleh orang yang sama. Dan si laki-laki tahu, nama yang tertera di sampul-sampul buku itu adalah namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-6182409573303147069?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6182409573303147069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6182409573303147069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/history-of-love-2.html' title='The History of Love (2)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-835697026301733951</id><published>2012-01-14T22:57:00.000+07:00</published><updated>2012-01-14T22:58:22.017+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta dan Lainnya'/><title type='text'>The History of Love (1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Aku berkabung untuk keabadian, aku berkabung untuk ia&lt;br /&gt;yang dalam dirinya kutanam dan kupupuk keabadian.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hèlène Cixous&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prelude&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya adalah cara untuk mati, pikir bocah laki-laki itu dengan tekad membulat. Dia sudah menimbangnya berkali-kali, ribuan kali, dalam jaga maupun dalam mimpi, dan pilihannya sudah selesai. Kematian akan mengakhiri segalanya. Tak ada lagi hidup, tak ada lagi depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi intinya adalah cara untuk mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak tahu cara terbaik untuk mati—karena waktu itu metode bunuh diri belum diunggah ke internet, bahkan internet masih ada dalam dunia fantasi. Jadi dia mencari-cari cara yang ia pikir akan membawanya ke alam kematian, tanpa ribut-ribut, tanpa menunggu waktu lama, dan tentunya juga tanpa rasa sakit. Begitu ini selesai, pikirnya, maka segala yang ia rasakan juga akan selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, siang itu, saat guru di kelasnya masih mengajar, bocah lelaki itu keluar dari kelas dan menuju halaman belakang sekolah, untuk menemui seorang kawan yang akan memberinya “resep kematian”—suatu istilah yang kelak akan ia tertawakan, bertahun-tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman belakang sekolah, tepatnya di belakang sebuah kelas, bocah lelaki itu duduk sendirian sambil menyulut rokok yang telah ia sembunyikan di saku celananya. Bocah-bocah di sekolahnya biasa merokok di situ, begitu pula dirinya. Jadi dia pun duduk, dan merokok, dan menunggu kawannya, dan merasa tak sabar untuk segera meninggalkan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sebenarnya yang terjadi dengan diriku...?” pikirnya sendirian sambil mengisap asap rokoknya. Otak bocahnya berpikir dengan naif, membayangkan semua yang telah terjadi—yang telah ia alami, dari hari ke hari, malam ke malam, serangkaian mimpi-mimpi buruk yang seolah hinggap di kepalanya, bayangan mengerikan yang seolah menari dalam hidupnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan segera mati, pikirnya. Tidak, aku memang ingin mati. Dan itu tak akan lama lagi. Sesaat lagi seseorang akan datang kepadanya dengan membawakan resep kematian yang akan digunakannya untuk mengakhiri hidup—mengakhiri semua mimpi buruk ini. Tak ada lagi depresi, kegelapan, bayang hitam yang beriak dalam kolam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara langkah datang terdengar, dan bocah laki-laki itu bersiap menyambut kawannya. Yang datang adalah bocah laki-laki satu sekolahnya, seorang kawan karib yang bersimpati atas nasibnya. Bocah itulah yang akan memberikan cara terbaik untuk mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada guru BP, buang rokokmu!” bisik bocah lain itu—suatu kode yang telah dipahami oleh semua bocah nakal yang biasa merokok di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah lelaki itu pun membuang rokoknya ke lorong di depannya. Rokok yang masih panjang dan menyala itu terbang sesaat di udara, kemudian jatuh ke tanah, beberapa meter jauhnya dari tempat si bocah laki-laki. Tapi nyala apinya tidak mati, dan asap masih mengepul dari ujungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celaka, pikir si bocah. Maka dia pun melangkah mendekati rokok yang telah dibuangnya itu, dengan tujuan untuk mematikan apinya, dan melenyapkan asapnya. Tapi dia melakukan kesalahan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja, bocah lelaki itu menoleh ke jendela kaca di dekatnya, dan mendapati sebuah kelas yang hening. Murid-murid di kelas itu sedang khusyuk mendengarkan guru di depan kelas, dan bocah lelaki itu tiba-tiba berdiri mematung di sana—tak bergerak, tak bernapas, terlupa segalanya. Sementara rokok yang dibuangnya masih menyala, dan asap masih mengepul di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik jendela kaca yang buram itu, si bocah lelaki menyaksikan keindahan paling menakjubkan yang belum pernah disaksikannya. Sesosok perempuan sedang menatap ke depan, mendengarkan gurunya—seraut wajah yang membuat si bocah laki-laki terlupa pada hidupnya sendiri—sebalut kelembutan yang tiba-tiba menyingkirkan semua bayang mimpi buruk dalam kehidupannya. Dan, detik itu, tiba-tiba ia terlupa pada keinginannya untuk mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa perempuan ini, batinnya dengan galau. Dia tidak tahu, dia baru melihatnya hari itu. Tetapi, bocah lelaki itu tahu, bahwa dia ingin melihatnya lagi, melihatnya lagi, melihatnya lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kau...!” teriakan itu terdengar dari arah belakangnya, suara serak lelaki guru BP yang telah ia hafal karena begitu terbiasa. Bocah lelaki itu menoleh ke arah datangnya suara, dan menyaksikan wajah menyeramkan yang telah sangat ia hafal. Ia tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya. Tapi ia tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si guru BP berteriak, “Ambil dan bawa rokokmu itu, bocah nakal! Datang ke ruang BP sekarang juga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ke neraka pun aku akan datang, pikir si bocah lelaki, selama aku masih bisa melihat perempuan itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-835697026301733951?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/835697026301733951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/835697026301733951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/history-of-love-1.html' title='The History of Love (1)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-6523679811597754949</id><published>2012-01-14T22:56:00.001+07:00</published><updated>2012-01-14T22:56:55.423+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Opposite Attract</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jatuh cinta kepadamu adalah kesalahan&lt;br /&gt;Mencintaimu adalah kesalahan besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi,&lt;br /&gt;aku tahu,&lt;br /&gt;itu kesalahan terbaik yang pernah kulakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-6523679811597754949?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6523679811597754949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6523679811597754949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/opposite-attract.html' title='Opposite Attract'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-1415521229425074937</id><published>2012-01-06T22:10:00.006+07:00</published><updated>2012-01-06T23:33:47.757+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Pil: Sebuah Pengakuan Horor</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sang tabib dengan sangat hati-hati akan menyiapkan suatu ramuan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dari kotoran buaya, daging kadal, darah kelelawar, dan ludah unta.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dari sebuah papirus yang mencatat 811 resep obat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;yang dipakai bangsa Mesir, 1550 SM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pil adalah horor bagi saya. Pertama, saya tidak suka pil. Kedua, saya tidak suka rasa pil yang selalu pahit. Dan ketiga—jangan tertawa—saya tidak bisa menelan pil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi masalah, mau tak mau saya harus terus menelan pil—setiap hari. Selama bertahun-tahun, saya mencoba menahan kesabaran untuk memendam dan menyimpan &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/05/obrolan-ibu-ibu-horor.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kisah horor&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ini hanya untuk diri sendiri. Tapi sekarang saya tidak kuat lagi. Jadi sekarang saya menulis catatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari kecil, saya tidak pernah bisa menelan pil. Dan “cacat” itu terus terbawa sampai saya dewasa, sampai sekarang. Mungkin ini terdengar lucu, tapi itu sungguh merupakan horor bagi saya. Sebegitu horornya, sampai-sampai saya pernah berpikir lebih baik ditembak daripada harus menelan pil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika SMA, saya mulai menyadari “cacat” itu, dan saya benar-benar iri ketika melihat teman-teman saya bisa dengan mudah menelan pil ketika demam, meriang, atau sakit kepala. Ketika butuh mengkonsumsi pil, saya melihat mereka bisa begitu enjoy. Mereka masukkan pil itu ke dalam mulut, kemudian meminum segelas air, dan selesai. Pil itu sudah masuk kerongkongan, lalu segera tenggelam di dalam perut untuk melaksanakan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha saya…???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya perlu mengkonsumi pil, saya harus mengunyahnya. Saya ulangi, mengunyahnya! Setelah pil itu hancur dalam mulut, saya baru bisa menelannya. Itu pekerjaan yang amat berat, apalagi kalau pil itu sangat-sangat pahit, dan saya ragu kalau &lt;a href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/02/huruf-s-di-dada-superman.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Superman&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sekalipun mampu melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya harus mengunyah pil yang perlu saya konsumsi? Ya itu tadi, karena saya tidak bisa menelan pil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan atau bahkan ratusan orang sudah pernah mengajari saya tentang cara menelan pil dalam berbagai versi—mungkin karena mereka tidak tega menyaksikan saya harus tersiksa dan menderita setiap kali mengkonsumsi pil. Tetapi, tak peduli sebanyak apa pun resep yang diberikan, saya tetap belum pernah bisa menelan pil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga saya pernah menyarankan, “Coba kamu makan pisang, kemudian letakkan pil itu di lidahmu ketika pisang yang kamu kunyah sudah halus. Nanti pil itu akan masuk sendiri waktu kamu menelan pisangnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu resep paling umum dalam hal “pelajaran menelan pil yang baik dan efektif”. Tapi saya menghadapi masalah besar di sini. &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/06/yeah-ini-saya.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saya tidak doyan pisang!&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya nyatakan hal itu pada si tetangga, dia tertawa. “Oh iya, aku lupa. Kamu doyannya roti kan, ya? Nah, coba kamu makan roti sampai halus, kemudian letakkan pil itu di lidahmu sewaktu akan menelan roti dalam mulut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, saya makan roti seperti yang disarankan. Setelah roti yang saya kunyah terasa halus, saya masukkan pil ke mulut, dan mencoba menelannya bersama roti. Untuk memudahkan prosesnya, saya pun meminum segelas air. Si roti sukses masuk kerongkongan. Sementara si pil asyik berenang! Begitu roti dan air sudah hilang, pil sialan itu masih ada di mulut. Usaha ini gagal total!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai resep, tip, dan kiat-kiat lain seputar “cara menelan pil” sudah saya coba, tapi tidak ada satu pun yang berhasil. Akhirnya, karena putus asa, saya pun nekat. Ketika perlu mengkonsumsi pil, saya tidak lagi berharap dapat menelannya. Jadi saya pun langsung mengunyahnya. Pertama kali melakukan hal itu, saya muntah-muntah campur guling-guling campur maki-maki. Mengunyah pil adalah hal terakhir yang ingin kaulakukan di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sangat menyiksa, karena ketika pil pecah dalam mulutmu, rasa pahitnya segera menyebar di lidah, kerongkongan, dan langit-langit mulutmu. Jika kadar kepahitan pil itu tergolong tinggi, perutmu akan terasa diaduk-aduk, dan—entah bagaimana caranya—isi perutmu tiba-tiba naik ke atas, dan kau muntah tanpa terkendali. Percayalah, itu bukan pengalaman atau pemandangan yang seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang jadi masalah dalam hal ini, mau tak mau saya harus mengkonsumsi pil. Karena kondisi yang saya alami, setiap hari saya harus mengkonsumsi dua sampai delapan butir pil—tergantung kebutuhan setiap hari. Secara rata-rata, saya harus mengkonsumsi empat butir pil per hari. Itu telah dimulai bertahun-tahun lalu, sejak saya awal kuliah, dan sepertinya juga harus saya lakukan hingga bertahun-tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, setiap hari saya harus menghadapi horor yang sama, dan berulang-ulang—mengunyah pil yang sama, dan merasakan pahit yang benar-benar menyiksa. Karena “tidak tahan” dengan siksaan semacam itu, saya pun memikirkan berbagai upaya untuk dapat menetralisir atau setidaknya mengurangi kadar kepahitan yang harus saya rasakan—dari cara-cara ilmiah sampai cara-cara yang nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan perspektif biokimia, kita tahu bahwa manusia dapat “memanipulasi” indranya. Ketika kita mengunyah apel, misalnya, yang paling berperan dalam merasakan buah apel sesungguhnya bukan lidah (indra pengecap), melainkan hidung (indra penciuman). Kita merasakan rasa apel dalam mulut, karena sebelumnya hidung telah memberitahu otak bahwa itu adalah apel (berdasarkan indra penciumannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin membuktikan pemaparan di atas, cobalah ambil buah pir dan buah apel, kemudian irislah keduanya. Letakkan irisan buah pir di dekat hidung sampai kita membaui aroma pir, kemudian makanlah irisan buah apel. Hampir dapat dipastikan kita akan merasakan buah pir di dalam mulut kita, meski jelas-jelas kita mengunyah apel. So, manusia bisa memanipulasi indranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal itu, saya memikirkan benda lain yang mirip pil, namun memiliki aroma yang segar atau menyenangkan. Saya ingin memanipulasi indra saya, sehingga saya bisa mengunyah pil tapi tidak merasakan pahit. Setelah cukup lama mencari-cari yang dapat dianggap tepat, akhirnya saya menemukan kue citrun. Kue kecil ini memiliki aroma yang enak karena rasanya kecut-segar—biasanya dijual dalam bentuk kecil-kecil dan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat membara, saya mencoba eksperimen itu. Saya letakkan citrun di depan hidung, menikmati aromanya yang segar, kemudian memasukkan pil ke dalam mulut, mengunyahnya, dan… anjrit! Pil itu tetap terasa pahit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ini bisa terjadi? Berdasarkan yang saya pelajari, seharusnya saya tidak merasakan pahit pil sialan itu karena indra penciuman saya sudah mengirimkan pesan ke otak bahwa itu bau citrun. Seharusnya pula, otak saya memerintahkan lidah sebagai indra perasa agar merasakan kue citrun. Tapi mengapa saya gagal? Mengapa rasa pahit pil itu tetap terasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kebingungan dan merasa buntu, saya menanyakan hal tersebut pada orang yang ahli. Kata si ahli yang saya hubungi, “Kamu bisa memanipulasi indramu, jika memorimu belum hafal pada rasa suatu benda. Dalam kasus apel, misalnya, eksperimen itu akan berhasil jika kita hanya sesekali memakan apel. Tapi orang yang setiap hari makan apel mungkin akan gagal melakukan eksperimen itu. Artinya, meski indra penciumannya mengenali aroma pir, tapi lidahnya—memori kecapnya—sudah hafal rasa apel, sehingga tidak bisa dibohongi. Dalam kasusmu, memori kecapmu sudah hafal rasa pil itu, karena kamu mengkonsumsinya setiap hari. Akibatnya, meski hidungmu mencium aroma citrun yang segar, lidahmu tetap merasakan pahit pil itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, saya mencari cara lain untuk menetralisir rasa pahit dalam pil. Kali ini ide nakal. Bagaimana kalau pil sialan itu dihancurkan sampai lembut, kemudian ditaburkan atau disusupkan ke dalam es krim? Okelah, kalau es krim mungkin terdengar “revolusioner”, bagaimana kalau pil itu dicampurkan ke dalam makanan yang enak, semisal disatukan bersama &lt;a href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/07/harga-capcay-naik-tiap-tahun-1.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;bumbu capcay&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mengkonsultasikan hal ini pada yang ahli, dia menjelaskan, “Mungkin memang rasa pahit pil itu tidak akan terasa lagi kalau kamu memakannya bersama es krim atau capcay. Tapi khasiatnya juga akan hilang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok bisa?” tanya saya dengan idiot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iyalah, karena bahan-bahan dalam pil itu kemungkinan besar telah dinetralkan oleh bahan-bahan lain yang ada dalam es krim atau capcay. Artinya, meski secara materi pil itu masuk ke dalam tubuhmu, tetapi khasiatnya sudah hilang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehmm… bisa kasih rekomendasi makanan apa yang sekiranya bisa digunakan untuk tujuan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menggeleng dengan sedih. “Tidak ada. Mau tak mau kamu harus menelannya. Dan karena kamu tidak bisa, yeah… mungkin kamu memang harus mengunyahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong itu mudah, batin saya. Tapi mengunyah pil tidak semudah kedengarannya. Karena itu, seiring hari-hari penuh kegilaan karena harus terus mengunyah pil, saya pun terus mencari-cari cara lain untuk dapat mengatasi rasa pahitnya. Hingga suatu hari…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh, sori. Ternyata catatan ini sudah sangat panjang. Jadi saya cukupkan dulu di sini, nanti disambung di post lain—kalau saya tidak lupa. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-1415521229425074937?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1415521229425074937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1415521229425074937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/pil-sebuah-pengakuan-horor.html' title='Pil: Sebuah Pengakuan Horor'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2041564206249381910</id><published>2012-01-06T22:08:00.001+07:00</published><updated>2012-01-06T22:09:47.570+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Seperti Apa sih Wanita yang Hebat?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Wanita hebat adalah wanita yang sadar—sesadar-sadarnya—bahwa jalan raya bukan milik neneknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2041564206249381910?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2041564206249381910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2041564206249381910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/seperti-apa-sih-wanita-yang-hebat.html' title='Seperti Apa sih Wanita yang Hebat?'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4281204777506067351</id><published>2012-01-02T16:13:00.001+07:00</published><updated>2012-01-02T16:15:50.096+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Cowok-cowok Idiot (2)</title><content type='html'>Akhirnya saya menyadari, kalau belakangan ini tulisan-tulisan saya terkesan berat terus—seperti yang diproteskan sebagian kalian. So, posting kali ini sengaja saya tulis untuk hiburan. Semoga kalian suka. :D&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di ujung komplek yang ditinggali Jonah, ada tetangga baru—keluarga Pak Usman. Jonah tidak bermasalah dengan keluarga Pak Usman yang baru tersebut. Cuma, yang jadi masalah, Pak Usman punya seekor burung kakatua yang diletakkan di teras rumah. Nah, setiap pagi, kalau Jonah sedang berjalan ke luar kompleknya saat akan kuliah, si kakatua itu akan menyapa Jonah dengan kata-kata yang sungguh biadab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Cowok...” begitu sapa kakatua itu. Kemudian, si kakatua akan melanjutkan, “Kamu bener-bener jelek! Nggak gaul! Nggak funky! Aneh, dan pasti sinting...!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali mendengar celoteh yang tak beradab itu, Jonah cuma kaget. Kedua kalinya, Jonah nyengir. Ketiga kalinya, Jonah ketawa. Keempat kalinya, Jonah mencoba memaklumi kalau itu burung. Kelima kalinya, Jonah mencoba berbesar hati. Keenam kalinya, Jonah mencoba bersabar. Ketujuh kalinya, Jonah mencoba mengikhlaskan. Tetapi kesejuta kalinya, Jonah merasa tidak tahan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling membuat Jonah dongkol, burung kakatua itu hanya menyapa seperti itu kepadanya. Pada orang-orang lain yang lewat, kakatua itu hanya diam, atau berceloteh sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dongkol dan merasa diejek terus-menerus setiap hari, Jonah kemudian mendatangi Pak Usman, pemilik burung itu, dan memintanya untuk mengajari si burung agar tahu sopan-santun dan sedikit tata krama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Usman, yang merasa orang baru di komplek itu, menerima Jonah dengan senyum ramah, dan menjanjikan untuk ‘menasihati’ si burung agar lebih bisa menjaga ucapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, saat akan kuliah, Jonah kembali berjalan melewati depan rumah Pak Usman, dan burung kakatua itu juga telah nangkring di sana seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, si kakatua menyapa Jonah dengan manis, “Hei, Cowok...” Setelah diam sejenak, kakatua itu melanjutkan, “Ah, kamu udah tahu kata-kata selanjutnya, kan...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dosen yang mengajar di kelas pagi itu benar-benar marah ketika melihat Abigail terlambat lagi. Itu keterlambatan Abigail yang keempat kali. Karenanya, begitu melihat jasad Abigail memasuki kelas dengan tampang tak berdosa, sang dosen pun tak sanggup lagi menahan hawa nafsu amarahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya menghitung sudah empat kali kamu terlambat masuk mata kuliah saya!” sembur si dosen. “Kamu kan tahu kontrak belajar kita—setiap mahasiswa dilarang terlambat masuk kelas! Tapi kamu sudah melakukannya sampai empat kali. Dulu kamu bilang mobilmu mogok, jadi kamu terlambat. Lalu beralasan tak mendapat bus hingga terlambat lagi. Kemarin kamu bilang jalanan macet, dan terlambat lagi! Sekarang mau pakai alasan apa lagi...???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm... begini, Pak,” sahut Abigail dengan tampang innocent. “Saya tuh tadi nggak bawa mobil, karena takut mogok lagi. Saya juga takut ketinggalan bus lagi, jadi saya nggak naik bus. Dan... hmm... saya juga takut jalan yang biasa saya lewati macet lagi. Makanya saya lalu jalan kaki, dan mengambil arah jalan yang lain. Nggak tahunya saya malah nyasar sampai jauh...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di kelas, sang dosen tengah asyik membicarakan perkembangan teknologi dewasa ini dengan gaya berapi-api, sementara para mahasiswa tampak terkantuk-kantuk di kursinya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merasakan suasana kelas terlalu hening, sang dosen kemudian mencoba bertanya pada salah satu mahasiswa untuk membuat suasana kelas agar tak terlalu sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Valent,” katanya menunjuk salah satu mahasiswa yang terlihat hampir lelap di kursinya, “coba berikan contoh kasus yang bisa digunakan untuk menjelaskan apa yang disebut loncatan atau lompatan teknologi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaannya saja, Valentino merasa ingin pingsan. Tapi ia harus menjawab. Karenanya, ia mencoba mencari sesuatu yang bisa dikatakannya. “Hmm... mesin ketik, komputer, dan internet!” jawabnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat sekali!” puji sang dosen sambil mengangguk-angguk senang. “Nah, sekarang terangkan alasannya, biar teman-temanmu mengetahui mengapa ketiga hal yang kamu sebutkan itu bisa dianggap lompatan teknologi di zaman ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valentino menggaruk-garuk kepalanya, kemudian berkata dengan gugup, “Itulah masalahnya, Pak. Saya juga bingung. Bagaimana mungkin mesin ketik kok bisa melompat? Memangnya kodok...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jarang ada mahasiswa yang suka Pak Bono, salah satu dosen di kampus mereka yang terkenal killer dan berkepala botak depan-belakang. Karenanya, setiap kali Pak Bono mengajar, lebih banyak mahasiswa yang mendiskusikan botaknya itu daripada mendengarkan ceramah kuliahnya. Seperti hari itu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut orang-orang,” bisik Abigail pada Jonah di depannya, “botak di depan itu artinya tukang mikir. Kalau botak di belakang, artinya orang pintar. Nah, Pak Bono kan botak depan-belakang. Menurutmu, apa artinya itu, Jo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya dia pikir dia pintar!” sahut Jonah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, kalau Pak Bono belum masuk ruangan, kelas ramainya seperti kandang bebek dicampur pasar ayam. Tapi begitu si dosen killer itu masuk, kelas pun jadi sepi seperti kuburan angker digabung makam pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melihat Pak Bono mulai masuk kelas dan duduk di kursinya, Jonah dan kawan-kawan sekelasnya pun buru-buru menduduki kursinya masing-masing, dan berusaha diam. Tapi seperti biasa, beberapa mahasiswa terlihat kasak-kusuk dengan teman-teman di samping dan di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ssst, dosen kita hari ini tampangnya kayak onta, ya?” bisik Jonah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valentino yang dibisiki itu langsung senyum-senyum, dan menyahut, “Kalau menurutku sih kayak kuda nil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah belakang, Abigail menyahut, “Kalau menurutku nih, hari ini tuh dosen kayak badak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba si dosen killer bangkit dari duduknya, dan menatap para mahasiswa dengan tampang seangker kuburan paling angker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merasa bersalah, dan karena yakin si dosen telah mendengar kasak-kusuk mereka, Jonah segera saja menyatakan, “Bukan saya, Pak. Sungguh! Palatino tadi yang bilang...!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan, Pak!” sahut Valentino. “Jonah dulu yang mulai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan percaya, Pak!” timpal Jonah. “Palatino sama Abigail duluan yang mulai, terus saya terpengaruh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si dosen killer menatap mereka tanpa berkedip, kemudian berteriak, “Saya tidak mau tahu! Saya cuma mau tanya, siapa yang telah menaruh permen karet di kursi saya...???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketika acara kuliah tengah berlangsung, Jonah terlihat asyik bermain-main sendiri dengan sesuatu di jari-jarinya. Valentino yang duduk di sebelahnya jadi tertarik, dan berbisik pada Jonah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jo, apa sih yang kamu pilin-pilin itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak tahu nih, Pal,” sahut Jonah. “Kalau dilihat bentuknya sih kayak plastik, tapi kalau dipegang kok rasanya seperti karet.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba lihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jonah pun memberikan benda aneh itu, dan Valentino memperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti plastik, kan?” tanya Jonah. “Coba dipilin...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Jo, bener,” ujar Valentino sambil memain-mainkan benda itu di jarinya. “Kok aneh sekali ya, Jo? Benda apa ini sebenarnya...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisik-bisik dua bocah itu terdengar oleh dosen yang tengah mengajar di depan kelas. Sang dosen segera saja menghentikan kuliahnya, dan menatap ke arah Jonah dan Valentino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang sedang kalian lakukan...?!” tanya sang dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ng... ini, Pak,” sahut Valentino. “Jonah menemukan sesuatu yang aneh...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesuatu yang aneh apa?” Sang dosen jadi tertarik. Ia lalu melangkah menuju tempat duduk Jonah dan Valentino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba lihat nih,” kata Valentino sambil memperlihatkan sesuatu di tangannya pada sang dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu, Val?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya itulah, Pak,” sahut Valentino. “Sejak tadi kami sedang mempelajari benda apakah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba lihat,” pinta sang dosen. Valentino pun memberikan benda di tangannya, dan kini sang dosen tampak mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau dilihat, bentuknya seperti plastik, Pak,” kata Valentino menerangkan. “Tapi kalau dipilin, rasanya kok seperti karet. Coba dipilin, Pak...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang dosen pun melakukannya. “Benar, ya...” ucapnya kemudian dengan heran. “Siapa tadi yang menemukannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jonah, Pak,” sahut Valentino dengan nada membanggakan kawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang dosen pun berpaling ke arah Jonah dan bertanya, “Jo, dari mana kamu bisa mendapatkan benda yang aneh seperti ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngg... dari hidung, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah lain tentang mereka bisa dibaca &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/cowok-cowok-idiot.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4281204777506067351?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4281204777506067351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4281204777506067351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/cowok-cowok-idiot-2.html' title='Cowok-cowok Idiot (2)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-885799258894975216</id><published>2012-01-02T16:07:00.000+07:00</published><updated>2012-01-02T16:12:14.704+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Satu-satunya Hal yang Kuinginkan Saat Ini</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, satu lagi. Makan batagor!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya sekarang, bagaimana caranya bisa tidur sambil makan batagor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-885799258894975216?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/885799258894975216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/885799258894975216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2012/01/satu-satunya-hal-yang-kuinginkan-saat.html' title='Satu-satunya Hal yang Kuinginkan Saat Ini'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-690150849812398602</id><published>2011-12-25T23:25:00.001+07:00</published><updated>2011-12-25T23:27:49.633+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Satu Wanita, Tiga Lelaki</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mungkin misi mereka yang mencintai umat manusia adalah untuk membuat&lt;br /&gt;orang menertawakan kebenaran, untuk membuat kebenaran tertawa,&lt;br /&gt;sebab satu-satunya kebenaran terletak dalam belajar membebaskan diri kita&lt;br /&gt;dari kegandrungan gila-gilaan kepada kebenaran.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Umberto Eco&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga orang lelaki memiliki impian yang sama—menemukan seorang wanita yang namanya telah lama mereka dengar sejak masa kanak-kanak. Hanya saja, ketiganya memiliki definisi berbeda tentang nama wanita itu, berdasarkan yang mereka dengar dan pahami dari leluhurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki pertama berasal dari Utara, dan sejak kecil mendengar leluhurnya menyatakan, “Nak, hidupmu akan lebih berarti setelah kau menemukan seorang wanita bernama Naja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki kedua lahir di daerah Barat, dan dia sudah hafal dengan pesan serta wasiat para leluhurnya yang cerdas, yang menyatakan pentingnya menemukan seorang wanita bernama Najia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara lelaki ketiga tinggal di daerah Timur, dan dia selalu mengingat-ingat salah satu misi hidupnya, yakni menemukan seorang wanita yang selalu didengungkan para leluhurnya, bernama Najana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing lelaki dari tiga belahan bumi itu mendengar tentang wanita yang sama, tetapi mereka mendengar nama yang berbeda. Hanya satu hal yang sama mereka ketahui, yakni bahwa wanita bernama Naja atau Najia atau Najana itu ada di daerah Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ketiga lelaki yang tidak saling tahu dan tidak saling kenal itu pun pergi meninggalkan tanah kelahirannya, dan menuju ke Selatan demi misi hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring perjalanan waktu, ketiga lelaki yang asing satu sama lain itu pun berjumpa di perbatasan daerah Selatan. Mereka saling berkenalan, dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama setelah mengetahui misi mereka sama. Hanya saja, sesuatu yang masih mengganjal dalam benak dan hati mereka adalah nama si wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kau juga ingin menemukan Naja?” sapa lelaki dari Utara pada dua teman asingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naja? Bukankah namanya Najia?” sahut lelaki dari Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki dari Timur menyatakan, “Setahuku namanya bukan Naja ataupun Najia, tetapi Najana. Itulah yang dikatakan leluhurku sejak zaman dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan itu berhenti sampai di situ, tetapi ketiganya masih menyimpan rasa penasaran dan ketidakpuasan di hatinya masing-masing. Bertiga mereka melangkah pergi, mencari wanita misterius itu, dan jarak mereka pun semakin dekat dengan tempat yang telah disebutkan leluhur mereka atas keberadaan wanita yang mereka cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba lelaki dari Utara nyeletuk, “Uh, mungkin leluhur kalian keliru menyebut namanya. Setahuku, yang benar, nama wanita itu Naja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana bisa?” sahut lelaki dari Barat. “Leluhurku adalah orang-orang cerdas—mereka tidak mungkin keliru. Validitas sebuah nama bagi kami setara dengan validitas sebuah takaran timbangan. Tak ada selisih lebih dan kurang. Jadi leluhurku tak mungkin salah. Nama wanita itu pastilah Najia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu dulu,” ujar lelaki dari Timur sambil menatap lelaki dari Barat. “Kau boleh mengklaim kecerdasan leluhurmu. Tapi kalian hanyalah rumah tanpa isi jika tanpa leluhurku. Di tempat kamilah kearifan dan kebijaksanaan ditaburkan dan dituai. Jika validitas sebuah nama bagi kalian setara dengan takaran timbangan, maka bagi kami validitas sebuah nama setara dengan ukuran atom dalam molekul. Karenanya, leluhurku pasti tidak salah menyebut nama wanita itu, bahwa dia benar-benar bernama Najana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat percakapan itu sepertinya akan mengarah pada perdebatan, lelaki dari Utara menengahi. “Maaf, ini salahku—akulah yang pertama kali meragukan kesahihan pesan leluhur kalian. Sekarang, kupikir, jangan-jangan wanita yang kita cari ini mungkin bukan wanita yang sama? Maksudku, mungkin memang ada tiga wanita yang memiliki tiga nama berbeda…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!” tukas lelaki dari Barat dengan tegas. “Jika merujuk pada ciri-ciri yang kita miliki—sebagaimana yang dipesankan leluhur kita—wanita yang kita cari memang wanita yang sama. Maksudku, hanya ada satu wanita yang sama-sama kita tuju. Tetapi, well, aku tidak tahu mengapa kita bisa berbeda dalam penyebutan namanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sepakat denganmu,” ucap lelaki dari Timur. “Wanita yang kita cari dan kita tuju memang wanita yang sama—berdasarkan semua ciri yang telah kita ketahui. Tetapi aku juga tidak paham mengapa nama yang kita miliki berbeda-beda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki dari Utara terdiam, dan menimbang-nimbang. Hanya ada dua kemungkinan, pikirnya. Kemungkinan pertama, wanita yang mereka cari adalah wanita yang berbeda—atau kemungkinan kedua, nama-nama yang dibawa lelaki dari Barat dan Timur itu keliru. Lelaki dari Utara yakin seyakin-yakinnya kalau nama wanita itu Naja, sebagaimana yang disebutkan leluhurnya, dan ia tahu leluhurnya tidak akan salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kebingungan ketiga lelaki itu, tiba-tiba mereka melihat sesosok wanita melangkah dengan anggun, seorang diri, ke arah mereka. Ketiga lelaki itu menyaksikan senyumnya yang merekah—dan, mereka sama-sama tahu bahwa itulah wanita yang mereka cari, bahwa itulah wanita yang telah membuat mereka rela menempuh perjalanan jauh demi untuk melihat dan menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita itulah si Naja,” kata lelaki dari Utara dengan penuh takzim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” sahut lelaki dari Barat, “itulah wanita bernama Najia yang dikatakan leluhurku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki dari Timur berkata, “Tak peduli apa pun kata kalian, bagiku dialah Najana, wanita yang telah membuatku sampai di tempat ini. Dia bukan Naja atau Najia, dia Najana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga lelaki itu masih akan terus berdebat mempersoalkan nama si wanita, tetapi ketiganya segera bungkam begitu si wanita sampai di hadapan mereka. Biarlah wanita itu sendiri yang akan menyebutkan namanya, pikir ketiga lelaki itu, dan setelah itu akan terlihat siapa yang benar dan siapa yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu kalian mencari-cariku,” sapa wanita itu dengan senyumnya yang cemerlang. “Selamat datang di Tempatku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan antusias, lelaki dari Barat berkata, “Jadi, benarkah namamu Najia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pasti Naja,” ujar lelaki dari Utara pada si wanita, “benar, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lelaki dari Timur segera menyatakan pendapatnya, “Apa pun yang dikatakan dua temanku ini, kita tahu mereka keliru. Kau pasti Najana, wanita yang selama ini dipesankan oleh leluhurku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan senyum penuh kasih. “Tidak, tidak. Kalian sama-sama benar. Ada orang yang menyebut namaku Naja, Najia, juga Najana. Akulah yang selama ini kalian cari, dan kalian telah menemukanku—tak peduli dengan apa pun namaku dikenal oleh kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, kenyataan itu patut disyukuri oleh ketiga lelaki itu—karena mereka telah menemukan sesuatu yang mereka cari selama ini. Wanita inilah yang telah membuat mereka menempuh perjalanan jauh, demi untuk menemukannya—dan sekarang mereka telah menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, ketiga lelaki itu justru tidak puas. Ada yang salah di sini, pikir mereka. Tidak mungkin satu wanita memiliki tiga nama yang berbeda. Lebih dari itu, mereka sama-sama lebih mempercayai apa yang dikatakan leluhur mereka dibanding apa yang dikatakan wanita asing itu. Jika wanita itu memang memiliki tiga nama yang berbeda, maka mestinya leluhur mereka telah menyatakan fakta itu. Jadi wanita ini pasti penipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian… entah bagaimana awalnya, ketiga lelaki itu mencabut pedangnya, dan membunuh wanita itu. Mayat wanita itu pun terkapar di tanah, sementara darahnya berceceran di atas bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ketiga lelaki tadi melanjutkan perjalanannya, demi tujuan menemukan wanita yang dipesankan leluhur mereka. Dan, tanpa mereka tahu, wanita yang mereka cari-cari itu kini telah terbujur kaku dengan darah berceceran di belakang langkah-langkah mereka....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-690150849812398602?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/690150849812398602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/690150849812398602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/satu-wanita-tiga-lelaki.html' title='Satu Wanita, Tiga Lelaki'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4595432115623635110</id><published>2011-12-25T23:22:00.000+07:00</published><updated>2011-12-25T23:24:50.564+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Akulah Sang Kebenaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tak ada manusia yang paling kutakutkan selain mereka yang&lt;br /&gt;mereguk kebenaran dengan tergesa-gesa. Kebenaran yang tak ditimbang-&lt;br /&gt;timbang. Kebenaran beku. Kebenaran yang hanya rindu bentuk rindu rupa,&lt;br /&gt;dan karena itu sangat mengerikan. Aku takut dengan itu.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalaluddin Rumi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala itu tertebas dari tubuhnya, dan darah memuncrat ke udara. Tetapi, sebelum jatuh ke tanah, kepala itu tertawa, menertawakan orang-orang yang telah menebas lehernya hingga terpisah dengan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemah Abang dipancung karena menganggap dirinya representasi Tuhan, bahwa Tuhan ada di dalam dirinya, bahwa dirinya adalah Tuhan. Namun dia bukanlah satu-satunya orang yang mengalami tragedi semacam itu. Al-Hallaj juga dipancung karena menyatakan dirinya Sang Kebenaran, ketika dia berteriak, “Ana al-Khaq…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sama seperti Syeh Lemah Abang, kepala Al-Hallaj pun berputar di udara, kemudian menertawakan para pemancungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebenaran” yang dinyatakan Al-Hallaj maupun Syeh Lemah Abang bukanlah kebenaran personal yang menggunakan huruf ‘k’, melainkan kebenaran mutlak (absolut truth) yang menggunakan huruf ‘K’. Dan karena klaim atas kebenaran mutlak itulah kepala mereka dipenggal dari tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kalau kebenaran yang diklaim Al-Hallaj maupun Syeh Lemah Abang dianggap sebagai kesalahan, lalu kebenaran siapakah yang bisa dianggap sebagai benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah para pemancung kepala mereka bisa dianggap benar dan mewakili kebenaran mutlak sehingga merasa punya hak untuk menyatakan bahwa itu benar dan ini salah? Apakah orang-orang yang menyatakan bahwa orang lain salah mewakili atas kebenaran yang dibenarkan? Dan di atas semuanya itu, kebenaran siapakah yang berhak menyatakan bahwa kebenarannya adalah benar, sementara kebenaran orang lain adalah salah...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari perspektif teologi ataupun logika teosofi, saya lebih memilih untuk memahami apa yang dilakukan Al-Hallaj ataupun Syeh Lemah Abang dengan perspektif psikologi, bahwa apa yang mereka lakukan sesungguhnya adalah bentuk sindiran keras terhadap ego manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kepala mereka berputar dan tertawa, sementara darah memuncrat ke udara, sesungguhnya mereka tengah menertawakan ulah kita, bahwa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kalau kau memenggal kepalaku karena aku menyatakan kebenaran yang menurutku benar, maka kau pun tak jauh beda denganku&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hallaj ataupun Syeh Lemah Abang adalah martir bagi besarnya ego manusia atas klaim kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita begitu rapuh dalam meyakini kebenaran, dan kemudian menghancurkan siapa pun yang mencoba menggoyang keyakinan kita atas kebenaran yang kita yakini. Kita tak yakin atas kebenaran kita sendiri, sehingga begitu ketakutan ketika ada orang lain yang menyatakan kebenarannya. Kita mengklaim bahwa kitalah satu-satunya pemilik sah atas kebenaran yang mutlak, sehingga mudah menudingkan jari kepada orang lain dan menganggap siapa pun yang tak sama dengan kita adalah salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita begitu meyakini bahwa surga hanya milik kita, sehingga siapa pun yang berbeda dengan kita beralamat di neraka. Kita terlalu tinggi hati sehingga tak bisa menerima kebenaran lain tanpa sempat menyangsikan apakah kebenaran yang kita yakini sudah benar. Kita mudah memenggal leher orang lain hanya karena mereka meyakini kebenarannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa bedanya kita dengan Al-Hallaj dan Syeh Lemah Abang...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita memenggal kepala mereka dengan alasan karena mereka menganggap dirinya sebagai kebenaran dan kita tersinggung dan marah karenanya, sekali lagi, apa bedanya kita dengan mereka...??? Bukankah kita juga menganggap diri sebagai kebenaran, bahkan kebenaran yang mutlak, sehingga merasa punya hak untuk memenggal kepala mereka...???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sering kali naif ketika berhadapan dengan kebenaran, dan kenaifan itu sudah menunjukkan bahwa sesungguhnya kita belum tentu benar. Kesombongan apakah yang lebih sombong selain ketika meyakini diri sendiri sebagai benar dan yang lainnya adalah salah? Keangkuhan apakah yang lebih angkuh selain menganggap kebenaran hanya miliknya, dan orang lain salah semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Tuhan berteriak bahwa siapa pun yang masih menyimpan kesombongan sebesar biji sawi diharamkan masuk surga, pantaskah mengharapkan surga hanya dengan berbekal kebenaran yang angkuh ini...? Masih layakkah menganggap diri patuh kepada Tuhan dengan memikul kebenaran yang sombong ini...???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akulah Sang Kebenaran! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita meneriakkan mantra itu berulang-ulang ketika menghadapi sesuatu yang berbeda, dan kita takut karenanya. Dan untuk menutupi rasa ketakutan atau bahkan kepengecutan itu, kita pun menggunakan topeng pengakuan kebenaran sebagai tameng atas ulah kita untuk memenggal kepala siapa pun yang kita anggap berbeda dan tak sama dengan kebenaran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akulah Sang Kebenaran! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menyanyikan lagu indah namun palsu itu, ketika ingin menutupi rasa rendah diri atas kepercayaan kepada kebenaran yang kita yakini sendiri, dan kemudian memilih untuk menebas batang leher siapa pun yang mencoba bersaing dengan diri kita, daripada mencoba berusaha dan belajar untuk bertoleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akulah Sang Kebenaran! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita begitu kukuh bahkan angkuh saat meneriakkannya, namun kemudian di balik kegelapan yang paling gelap di dalam jiwa kita, ada sesuatu yang mengusik-usik yang membuat kita terus-menerus bertanya-tanya kepada diri kita sendiri tentang kebenaran yang kita yakini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan... sementara kita masih juga meragukan kebenaran yang kita pegang dengan teguh, kukuh, bahkan angkuh itu, kita pun terus bergerak memenggal leher siapa pun yang berbeda dengan kebenaran yang kita ragukan sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah malangnya kebenaran...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4595432115623635110?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4595432115623635110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4595432115623635110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/akulah-sang-kebenaran.html' title='Akulah Sang Kebenaran'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-8799400643323087842</id><published>2011-12-20T22:35:00.007+07:00</published><updated>2011-12-20T23:42:10.698+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Buku'/><title type='text'>10 Buku Terbaik yang Saya Baca Sepanjang 2011</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Buku seharusnya menjadi sebilah kapak es&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang sanggup memecahkan kebekuan di dalam diri kita.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Franz Kafka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini saya tidak banyak membaca—kalau dihitung-hitung, hanya ada 92 judul buku yang saya khatamkan sepanjang 2011. Itu jauh lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya yang biasanya sampai dua kali lipat dari jumlah itu. Banyaknya pekerjaan yang harus saya lakukan sepanjang tahun ini telah menyita waktu membaca saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, meski begitu, saya ingin berbagi pengalaman atas buku-buku terbaik yang saya baca sepanjang tahun ini, siapa tahu berguna bagi teman-teman yang kebetulan masih bingung menentukan buku apa yang ingin dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini—saya tulis secara alfabetis berdasarkan nama penulisnya—adalah 10 buku yang saya anggap terbaik dari 92 buku yang saya baca sepanjang 2011. Daftar berikut ini tidak saya maksudkan sebagai rekomendasi, namun sebagai apresiasi saya—yang tentunya bisa subjektif—atas buku-buku yang saya anggap bagus. Silakan disimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dietmar Rothermund: Great Depression&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, saya hanya tahu bahwa Amerika pernah dilanda depresi besar pada tahun 1929, ketika bursa efek mereka runtuh, yang kemudian mengakibatkan dampak ke seluruh dunia. Masa itu, dalam sejarah, disebut zaman malaise. Namun pengetahuan saya baru sebatas itu. Karenanya, saya pun mencari buku yang sekiranya bisa menjelaskan hal tersebut secara detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku inilah yang kemudian saya temukan. Dalam buku ini, semua rasa penasaran saya terobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku ini, kisah depresi besar itu diungkap dengan runtut, yang—menurut penulisnya—merupakan awal mula bangkitnya Fasisme Mussolini di Italia dan Nazi-Hitler di Jerman. Lebih dari itu, buku ini juga menjelaskan cukup detail persamaan antara depresi besar 1929 dengan masa resesi abad ini, yang sama-sama dimulai oleh kehancuran bursa saham Amerika. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Great Depression&lt;/span&gt; adalah bacaan yang penuh wawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Emile Durkheim: The Ele&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mentary Forms of The Religious Life&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ini adalah karya terbesar Emile Durkheim, sekaligus paling menggelisahkan pikiran. Dalam buku ini, Durkheim memuntahkan pemikiran-pemikirannya yang “asoy-geboy” tentang sejarah pembangunan agama-agama dan kepercayaan umat manusia. Dengan wawasannya yang menakjubkan sebagai pemikir ulung, Durkheim memetakan kerangka historis agama-agama dasar beserta implikasi-implikasi sosiologisnya, yang kemudian menjadi sandaran kepercayaan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia ini, para pemikir atas objek ini tidak hanya Durkheim. Tetapi dunia seperti telah bersepakat bahwa Emile Durkheim menempati peringkat paling atas dalam bidang ini karena teori-teorinya yang cemerlang, dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Elementary Forms of The Religious Life &lt;/span&gt;adalah sebuah magnum opus dalam bidang studi agama yang diyakini akan terus dikaji dalam setiap generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini tidak ditujukan untuk orang-orang “fanatik” yang terbiasa menganggap diri paling benar dan yang lain salah semua. Ini adalah buku yang menantang pikiran kita untuk mempertanyakan kebenaran-kebenaran yang telah kita kenal dan yakini, untuk mencari dan menemukan Yang Sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Irish Chang: The Rape of Nanking&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini buku sejarah kelam yang mendokumentasikan penjajahan dan kekejaman Jepang terhadap bangsa Cina, yang dimulai pada 13 Desember 1937—sejarah paling berdarah yang anehnya jarang diungkap para sejarawan lain. Kisah dalam buku ini sangat runtut, karena dibangun di atas investigasi bertahun-tahun dan pengumpulan data tak terhitung banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Irish Chang menulis buku ini adalah untuk membuka mata dunia bahwa Jepang juga telah melakukan dosa besar atas kemanusiaan, sebagaimana Nazi-Jerman melakukan hal sama dalam Perang Dunia II. Jika Jerman dikutuk karena telah melakukan pembantaian terhadap bangsa Yahudi, mengapa Jepang tidak mengalami hal sama padahal mereka juga melakukan pembantaian (dalam taraf yang sama) terhadap bangsa Cina?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif sejarah, Jerman telah menjadi bangsa yang (lebih) baik karena mereka menanggung dosa sejarah masa lalunya, sehingga mereka pun terus berusaha memperbaiki diri. Hal ini tidak terjadi dengan Jepang, sehingga mereka terus menjadi bangsa yang—menurut Irish Chang—arogan dan sok suci, padahal sejarah mereka telah meninggalkan luka yang amat dalam sekaligus memalukan dan memilukan terhadap bangsa Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;John L. Esposito: Unholy War&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ini buku lama yang juga telah lama ngendon di perpustakaan saya, namun baru sekarang dapat saya baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang mungkin belum tahu, John L. Esposito adalah cendekiawan yang sangat disegani, baik di dunia Barat maupun Islam, dan dia adalah Profesor Agama dan Hubungan Internasional, serta Direktur Perintis Center for Moslem-Christian Understanding di Universitas Georgetown. Karenanya, ketika ia menulis buku ini, pemikiran-pemikirannya pun dibaca serta dipelajari—baik oleh pihak Barat maupun pihak Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Unholy War&lt;/span&gt; membahas polemik paska peristiwa serangan teroris di Amerika pada 11 September 2001. Dengan kejernihan dan kehati-hatian seorang cendekiawan sejati, John Esposito memaparkan ajaran-ajaran Islam—al-Qur’an, keteladanan Nabi, hukum Islam, hingga tentang jihad—dan kemampuannya dalam hal itu benar-benar mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bicara tentang agama, namun tidak dengan emosi atau fanatisme yang membuta, melainkan dengan kejernihan akal, fakta-fakta akurat, serta pendalaman yang menakjubkan. Meski topik inti yang dibahas dalam buku ini mungkin sudah berlalu, tapi otentisitasnya tetap berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kolaborasi Penulis: Cinta Tak Pernah Mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini buku yang sangat istimewa, karena bocah-bocah legendaris dalam dunia kepenulisan berkumpul di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku kumpulan cerpen ini, kita akan menikmati kisah-kisah yang ditulis para pengarang kelas dunia, dari Ryunosuke Akutagawa, Anton Chekov, Fyodor Dostoevsky, James Joyce, Rudyard Kipling, Edgar Allan Poe, W. Somerset Maugham, Guy de Maupassant, Rabindranath Tagore, Mark Twain, hingga Leo Tolstoy, dan beberapa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat deretan nama-nama besar itu, sepertinya saya tidak perlu menjelaskan kehebatan buku ini. Yang jelas, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cinta Tak Pernah Mati&lt;/span&gt; telah membuat saya jatuh cinta setengah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pledoi Omar Dani:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omar Dani adalah salah satu korban Orde Baru yang dituduh terlibat dalam peristiwa Pemberontakan PKI (G 30 S/PKI), yang kemudian dipenjara selama hampir 30 tahun. Kini, melalui buku ini, Omar Dani mengungkapkan “apa yang sesungguhnya terjadi” pada masa-masa itu, dan bagaimana rezim Soeharto memanipulasi sejarah hingga jutaan orang tertipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang diterbitkan ISAI (Institut Studi Arus Informasi) ini ditulis oleh Benedicta A. Surodjo dan JMV. Soeparno, berdasarkan kisah dan dokumen-dokumen otentik dari sejarah serta penuturan Omar Dani—yang didukung oleh saksi sejarah lainnya. Ditulis dengan gaya memoar, buku ini dapat dijadikan rujukan penting jika ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi menyangkut ribut-ribut pemberontakan PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman awal, sejarawan Asvi Warman Adam memberikan “pengantar panas” sebagai pembuka, dan buku ini merupakan literatur layak baca bagi yang ingin kembali belajar sejarah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-VLNfW83gyXE/TvCsigUMYRI/AAAAAAAAAcI/ppG38ZL0Y-I/s1600/buku%2B3.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 285px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-VLNfW83gyXE/TvCsigUMYRI/AAAAAAAAAcI/ppG38ZL0Y-I/s320/buku%2B3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688236038159098130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Robert Matthews: 25 Gagasan Besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul asli buku ini adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;25 Big Ideas: The Science that’s Changing Our World&lt;/span&gt;. Ini bacaan berat yang dikemas dengan cara ringan, meski mungkin masih tetap membuat pembacanya mengerutkan kening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berisi 25 ide besar yang pernah lahir dalam peradaban manusia, buku ini menjelaskan tentang Kesadaran (Consciousness), Teori Dunia Kecil (Small World Theory), Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence), Teori Segalanya (Theory of Everything), hingga Teorema Bayes (Bayes’s Theorem), dan Ledakan Besar (Big Bang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini adalah berkelana ke lembah-lembah pemikiran besar yang mempesona—gelap dan membingungkan, tetapi membuat penasaran sekaligus menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Stephen Hawking: The Grand Design&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang saya syukuri karena hidup di zaman ini adalah karena dapat menyaksikan ilmuwan terbesar abad 21. Stephen Hawking—saya yakini—akan tetap dikenang orang hingga berpuluh-puluh tahun mendatang, sama seperti kita di zaman ini mengenang Einstein, Newton, ataupun Galileo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, Hawking menjelaskan teori awal mula alam semesta dan hal-hal lain tentang penciptaan dunia. Meski buku ini—menurut saya—tidak sebagus buku terdahulunya (A Brief History of Time), namun &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Grand Design&lt;/span&gt; tetap mengasyikkan untuk dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Susan Wise Bauer: Sejarah Dunia Kuno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini luar biasa tebal, juga luar biasa mengasyikkan. Ini buku sejarah yang “tak seperti biasanya”. Dalam buku ini, Susan Wise Bauer mengisahkan kebangunan dan keruntuhan banyak kekaisaran dari masa lampau—Sumeria, Mesir, Akadia, Babilonia, Mesopotamia, Asia Kecil, Yunani, Romawi, Assiria, Cina, Athena, India, hingga Persia—dengan cara yang sangat mengasyikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau J.K. Rowling mampu menyihir kita melalui kisah-kisah Harry Potter yang diciptakannya, maka Susan Wise Bauer akan menyihir kita dengan kisah-kisah nyata yang digalinya dari puing-puing sejarah masa lalu dan peradaban kuno. Ini buku sejarah paling menakjubkan yang pernah saya baca, dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejarah Dunia Kuno&lt;/span&gt; benar-benar meledakkan orgasme di kepala saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Windy Ariestanty: Life Traveler&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, kalau membaca buku kisah perjalanan, saya hanya menjadikannya sebagai semacam “guide book”, karena—tentu saja—saya tidak bisa berharap menemukan kebijaksanaan Sulaiman dalam sebuah buku perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun buku ini berbeda. Selain menceritakan kisah-kisah perjalanan penulisnya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Life Traveler&lt;/span&gt; juga sebuah bacaan yang cukup dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, buku ini adalah kumpulan kisah perjalanan penulisnya dalam melanglang sebagian lekuk bumi—Ha Noi, Frankfurt, Paris, Amsterdam, dan lainnya. Namun, di sela-sela kisah perjalanan itu, Windy Ariestanty mampu memasukkan hal-hal yang “dalam” sehingga menjadikan pengalaman membaca jadi lebih menyenangkan. Ini tidak sekadar tentang “jadi di sana ada monumen”, tetapi juga tentang “jadi itulah yang kurasakan dan kupikirkan”—sebuah perjalanan hati yang diantar sepasang kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang paling saya sukai dalam buku ini adalah “Not Foreigners”. Itu kisah paling sederhana dalam buku ini, namun paling menghangatkan hati saya. Secara keseluruhan, buku ini hangat dan dalam. Dan saya menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-8799400643323087842?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8799400643323087842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8799400643323087842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/10-buku-terbaik-yang-saya-baca.html' title='10 Buku Terbaik yang Saya Baca Sepanjang 2011'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-VLNfW83gyXE/TvCsigUMYRI/AAAAAAAAAcI/ppG38ZL0Y-I/s72-c/buku%2B3.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2969711321700818067</id><published>2011-12-20T22:33:00.000+07:00</published><updated>2011-12-20T22:35:00.496+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Mengapa Tuhan Menciptakan Nyamuk</title><content type='html'>Sebagai manusia yang daif, kadang-kadang kita mempertanyakan alasan penciptaan yang kesannya tidak bermanfaat. Nyamuk, misalnya. Apa kira-kira alasan Tuhan menciptakan nyamuk? Makhluk kecil ini sangat mengganggu, membuat gatal, bahkan tidak jarang membawa penyakit. Di sisi lain, nyamuk—sepertinya—tidak memberikan manfaat apa pun.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Konon, nyamuk yang menggigit kulit kita adalah nyamuk betina, karena nyamuk jantan tidak pernah menggigit. Tapi tak peduli digigit nyamuk jantan atau betina, gigitan nyamuk sangat mengganggu sekaligus menjengkelkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu ceramahnya, Ustadz Zainuddin MZ (almarhum) pernah menjelaskan alasan Tuhan menciptakan nyamuk. “Dengan adanya nyamuk,” kata Ustadz Zainuddin waktu itu, “maka orang pun mencari cara untuk menghindari gangguan nyamuk. Lalu obat antinyamuk ditemukan. Setelah itu, pabrik obat antinyamuk berdiri, sehingga orang-orang pun mendapatkan lapangan kerja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih SD ketika mendengar ceramah itu, dan saya pun menyetujui ulasan tersebut. Sepertinya masuk akal, pikir saya waktu itu. Tetapi, seiring perjalanan waktu, saya mulai mempertanyakan kebenarannya. Apa iya Tuhan menciptakan nyamuk dengan tujuan agar orang bisa membangun pabrik? Jika benar begitu, sepertinya Tuhan juga punya sifat kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau memang bukan itu alasan Tuhan menciptakan nyamuk, lalu apa latar belakang penciptaannya? Sampai bertahun-tahun lamanya saya tetap tidak menemukan jawaban yang sekiranya masuk akal dan dapat saya percaya. Bahkan, ketika menulis catatan ini pun, saya tetap masih ragu pada jawaban pastinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, ketika sedang membaca buku, seekor nyamuk menempel ke kulit lengan saya. Karena sedang khusyuk membaca, saya tidak menyadari keberadaan nyamuk tersebut. Sampai akhirnya, ketika mulai sadar pada gigitannya, lengan saya sudah ditumbuhi bentol merah yang cukup besar. Dan gatal. Dan menjengkelkan. Dan tiba-tiba saya mulai melihat alasan kenapa Tuhan menciptakan nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski saya tidak bertubuh besar seperti Ade Rai, tetapi ukuran tubuh saya ribuan kali lipat lebih besar dibanding ukuran seekor nyamuk. Dan nyamuk yang amat kecil itu mampu menciptakan perubahan (bentol besar) pada diri saya yang ukurannya ribuan kali lipat lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, well, sekarang saya tahu kenapa Tuhan menciptakan nyamuk. Dan setiap kali saya merasa terlalu kecil untuk menciptakan perubahan, saya akan belajar kepada nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seratus enam puluh tahun yang lalu, ada seorang lelaki bernama William Lloyd Garrison, yang meneriakkan tuntutan agar perbudakan umat manusia dihentikan, karena menurutnya perbudakan adalah pelecehan terhadap penciptaan Tuhan, serta merendahkan harkat martabat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, perbudakan adalah hal lazim di Amerika dan Eropa, sehingga ketika Garrison meneriakkan tuntutannya, ia dicibir, ditertawakan, bahkan ditentang habis-habisan oleh semua institusi di negaranya. Pemerintah Amerika menentang perjuangannya, masyarakat menertawakannya, sementara para ahli agama mengeluarkan fatwa bahwa perbudakan adalah bagian dari kehendak Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Garrison tak peduli. Sebagai jurnalis, ia terus menulis, meneriakkan protesnya tanpa henti, dan menyuarakan bahwa perbudakan adalah kejahatan, dan sudah saatnya manusia dibebaskan dari kebodohan, keterbelakangan, serta pengebirian dari sesama manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang menentangnya menyatakan bahwa perbudakan telah berjalan sekian ratus tahun, bahkan sekian ribu tahun sebelumnya, maka tak ada satu kekuasaan pun yang bisa menghapuskannya. Sementara Garrison berkeyakinan bahwa apa pun yang telah dilakukan sekian ratus atau bahkan sekian ribu tahun bukan berarti sesuatu itu benar dan bisa terus dibenarkan. Karena itu kemudian Garrison membulatkan tekadnya, dan memulai perjuangan yang telah dimustahilkan oleh jutaan orang di negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti bola salju, tulisan-tulisan dan teriakan Garrison perlahan-lahan mulai memperoleh tanggapan positif dan dukungan dari masyarakat, dan gerakan yang pada mulanya diawali satu orang itu kemudian berubah menjadi kekuatan jutaan orang. Pada akhirnya, ketika Garrison meninggal dunia karena dimakan usia, perjuangannya diteruskan orang-orang lainnya, termasuk oleh Martin Luther King. Hari ini, perbudakan manusia dinyatakan sebagai kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, saya pikir, William Lloyd Garrison telah belajar kepada nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2969711321700818067?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2969711321700818067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2969711321700818067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/mengapa-tuhan-menciptakan-nyamuk.html' title='Mengapa Tuhan Menciptakan Nyamuk'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2784783875220180825</id><published>2011-12-15T01:32:00.002+07:00</published><updated>2011-12-15T01:41:55.190+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Rembulan Luka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di makam Shirley Ardell Mason&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini sungai mengalir, langit membisu, dan gunung memuntahkan amarahnya. Di sini hati berdetak, rahasia tersingkap, dan kegelapan adalah leret cahaya. Pada kesunyian hidup, luka dan duka tak terkatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersimpuh di makammu sekarang, membayangkanmu, merenungkan perjalanan hidup yang harus kautempuh, hari-hari yang kaulewati, malam-malam penuh tangis dan kebingungan, hingga ajal menjemputmu, melepaskanmu dari semua derita, derita, derita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali mendengar kisah tentangmu, bertahun-tahun lalu, aku tahu kapan pun waktunya akan menziarahi makammu. Dan kini aku di sini, menatap tempat peristirahatan terakhirmu yang dilupakan, dengan setangkai anyelir, dengan hati yang berduka, dengan catatan kesedihan yang membayang di cakrawala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah angin di antara rahang dan taring serigala, itu yang selalu kubayangkan. Seseorang menarikmu dari kesunyian yang nyaman, dan kau kemudian dilahirkan. Tanpa kauminta, tanpa kauinginkan. Kau lahir ke dunia asing yang tak kaupahami, tempat tangan-tangan lembut seharusnya menyentuhmu dengan kasih. Tapi kadang tangan-tangan lembut itu tidak kautemukan, dan kau justru menemukan tangan-tangan penuh api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi-bayi yang menangis karena dipaksa keluar dari kehidupan mereka yang lembut dan nyaman, untuk kemudian disakiti, dilukai, di sebuah dunia asing penuh amarah dan kemurkaan, tempat luka dan darah menjadi bagian dari peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keramaian dan kebisingan dunia asing itu, kau tercampakkan, dilupakan, hingga terasing seperti rembulan di langit, sendirian menangisi hidup, menanggung luka yang tidak kaupahami. Dunia yang tidak kauinginkan telah mencampakkanmu, kehidupan yang tidak kauharapkan telah menyakitimu. Dan luka-luka itu begitu dalam, menggoreskan darah yang membutuhkan tahun-tahun panjang untuk mengering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada luka, pada kerinduan, kau terasing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang memahamimu, bahkan orang yang telah menarikmu dari &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/07/ziarah-hening.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;rahim keheningan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, untuk kemudian melemparkanmu dalam dunia penuh kemurkaan. Bagi peradaban manusia kasatmata ini, kau adalah kutukan, dan mereka tak pernah sekali pun merenungkan bahwa merekalah yang menyebabkanmu lahir dalam keberadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kau tumbuh, besar, untuk kemudian menjadi manusia seutuhnya. Tetapi alam semesta tahu, kau tidak utuh. Ada bagian dalam dirimu yang terluka, berdarah dan bernanah, menjadi bukti yang terpahat abadi atas kejahatan dan kegelapan yang dapat terjadi dalam dunia manusia. Lalu dunia berteriak dengan angkuh, “&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Jadilah dirimu sendiri!&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kau menjawabnya dengan tangis, “Diriku yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, well, dirimu yang mana, karena kau memiliki enam belas diri yang terpecah menjadi serpihan-serpihan luka. Kata-kata itu menjadi kutukan bagimu, tetapi dunia tak pernah dapat memahamimu. Kau meradang, terasing, menangis sendirian di kegelapan langit, sebuah rembulan yang luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa panjangnya tahun. Kau merasakan panjang tahun di antara kebingungan, jeritan-jeritan dalam sunyi, dan kau berganti. Alam semesta menangisimu, tetapi peradaban manusia mencampakkanmu, dan menganggapmu kutukan, tanpa pernah menyadari bahwa mereka sendirilah yang melahirkan kutukan itu. Hidup adalah angin di antara rahang dan taring serigala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, hidup adalah jalan panjang menyatukan rahasia untuk menjemput takdir. Bagimu, hidup adalah jeritan panjang menyatukan dirimu yang terpecah dalam kemarahan. Selalu ada dasar neraka di balik kegelapan yang bisu, api membara yang terkunci dalam ketertindasan. Dan api itu menyala dalam dirimu, tanpa seorang pun tahu, dan api itu kemudian menciptakan badai siksa tak terkatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau yang pertama, tetapi bukan yang terakhir. Bertahun-tahun setelah kematianmu, dunia yang tua ini masih terus melahirkan bayi-bayi lain untuk disakiti, untuk dilukai, untuk dicampakkan dan dilupakan. Mereka menangisi semua yang kautangisi, mereka merindukan semua yang kaurindukan. Bayi-bayi yang sama, anak-anak yang sama, luka-luka dan derita yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyatakan ini tidak untuk mengganggu istirahatmu, aku menyatakannya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa peradaban umat manusia belum juga belajar dari sejarahnya sendiri. Mereka masih menilai dirinya paling benar, paling tinggi, paling mulia, sehingga merasa dapat melakukan apa pun, termasuk merusak kemurniannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku menapaktilasi langkahmu, saat kau masih hidup, tempat kau menatap dunia yang tak kaupahami. Di bawah langit yang sama, aku membayangkan kau pernah melangkah di sana, mengunjungi sahabat terbaikmu, untuk kemudian menyatukan serpihan-serpihan yang terserak di dalam dirimu. Lalu kau mengutuh, seutuh ketika pertama kali lahir, dan kau hidup, sehidup seharusnya kelahiranmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kau telah pergi, kembali pada &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/05/menyentuh-keabadian.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kesunyian dan keabadian&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; tempatmu dulu berasal, namun nama dan kisahmu telah menjadi bagian sejarah peradaban manusia, meski mereka berusaha menghapusnya, menyangkalnya, melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam semesta tidak akan pernah melupakanmu, dan dia akan menjadi saksi tentang kapan dunia sampai pada titik kesadaran untuk mulai belajar, untuk tidak lagi merenggut bayi-bayi tak berdosa dari tanah kedamaian mereka, hanya untuk dilukai dan dicampakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat beristirahat, Shirley. Kau layak mendapatkan waktu istirahatmu, setelah perjuangan panjang penuh luka yang telah kaujalani, dan pertempuran dalam sunyi yang telah kaumenangkan. Semoga waktu istirahat itu cukup untuk menghapus semua luka pada rembulan di hatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2784783875220180825?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2784783875220180825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2784783875220180825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/rembulan-luka.html' title='Rembulan Luka'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-7460865578694451283</id><published>2011-12-15T00:19:00.006+07:00</published><updated>2011-12-15T16:01:28.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Muhasabah: Self Potrait</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Seorang teman bertanya pada saya, “Hei, pal, kenapa kau menyebut dirimu ‘&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lajang, Pembelajar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;’?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena aku memang lajang. Aku tidak—atau belum—punya istri. Jadi aku memang lajang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya mengangguk. “Oke, itu tak perlu dibahas lagi. Bagaimana dengan ‘Pembelajar’? Kenapa kau menyebut dirimu sendiri seperti itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak ingin mendengarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ayolah, sumpah mati aku ingin tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jawabannya panjang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mendengarkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mulai menjawab pertanyaan penting itu, saya menyulut rokok. Setelah menikmati asapnya beberapa saat, saya menatap teman saya tercinta, dan berkata perlahan-lahan, “Well... aku yang kaulihat ini, sebenarnya tidak seperti yang kaulihat. Aku ini iblis yang menyerupai manusia. Aku menyimpan kebusukan dan kejahatan di balik sosokku yang sekarang kaulihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berhati jahat dan busuk, tapi menutupinya dengan rapi di balik sikap yang elegan. Aku kotor dan keji, tapi mengaburkannya dalam senyum yang selalu kutebarkan. Aku penuh iri hati, dengki, dan kebencian, tapi menyembunyikan semuanya itu dalam ucapan yang kuusahakan terkesan baik dan lembut. Aku kasar, penuh amarah dan dendam, tapi semua itu terkamuflase di balik penampilanku yang tampak welas asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, well, kau tahu, aku ini tolol sekaligus bodoh dan dungu, tapi sok pintar dan &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/12/tahu-dan-sok-tahu-1.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sok tahu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Aku tidak tahu apa-apa, tetapi sok bicara macam-macam seolah tahu segalanya. Aku sangat suka menyalahkan, mengkritik, mencaci dan merendahkan orang lain, karena kupikir aku akan tampak hebat dengan melakukan semuanya itu. Setiap malam aku berpelukan dengan setan, tapi setiap hari berkoar-koar membawa nama Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap kali aku punya kesempatan merendahkan orang lain, aku akan merendahkannya. Setiap kali ada kesempatan menertawakan orang lain, aku akan menertawakannya. Kau tahu, rasanya nikmat sekali kalau bisa mencerca orang lain, menertawakan orang lain, merendahkan orang lain. Kupikir, dengan cara seperti itu, aku akan tampak lebih hebat dibanding orang yang kucerca dan kurendahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi itulah yang kemudian kulakukan. Kemana saja aku pergi, aku akan mencari kekurangan orang lain agar bisa mengkritiknya. Di mana saja aku berada, aku akan mencari kelemahan orang lain agar bisa merendahkannya. Jika tidak kutemukan, maka aku akan mencari-cari atau mengarang-ngarang apa saja agar punya alasan untuk dapat menertawakannya. Aku akan mengatakannya tidak ilmiah, tidak akademis, tidak agamis, ataupun tidak lainnya. Oh, well, aku sangat ahli dalam hal-hal semacam itu. Dalam hal mencerca orang lain, aku adalah pakarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/04/self.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku sangat iri melihat kelebihan orang lain, aku cemburu melihat kesuksesan orang lain. Karena itu, untuk menutupi rasa iri dan cemburuku, aku akan merendahkan mereka, mencerca mereka, agar dapat mengobati rasa iri dan cemburuku sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Aku terluka setiap kali mendapati ada orang lain yang lebih dariku. Karenanya, alih-alih mengagumi dan belajar pada kelebihannya, aku justru berusaha mencari cacat celanya. Dan untuk menutupi semua kebusukan serta kemunafikan itu, aku menutupinya dengan senyuman yang tampak tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi itu belum semuanya. Selain sok pintar dan sok tahu, aku juga sangat sok alim. Yeah, kau tahu, aku sangat mencintai kekayaan dan kemewahan dunia, tapi aku menutupinya dengan sikap sok tidak butuh, meski diam-diam aku membangun sikap pelit dan kikir kepada sesama. Jadi aku suka berkoar-koar tentang akhirat, surga dan neraka, tapi setiap hari aku menyimpan setiap keping uang yang kumiliki, dan membiarkan tetanggaku kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sangat suka bicara tentang agama, tapi aku hidup jauh dari ajarannya. Aku sangat suka menyebut-nyebut nama Tuhan, tapi hatiku menyimpan iri hati, kedengkian, dendam, dan kebencian. Aku sangat hobi menyitir ayat-ayat suci, tapi aku juga sangat hobi mencerca dan menyalahkan orang lain. Aku selalu berteriak agar orang lain belajar, tapi aku sendiri tidak pernah belajar. Aku sangat suka &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/02/lelaki-dan-setan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bersenggama dengan setan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, tapi sok alim dengan berteriak-teriak menyebut nama Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kaulihat sekarang...? Aku tidak seperti yang kaulihat. Aku ini iblis yang menyerupai manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya melongo dan berkata tergagap, “Bag-bagaimana... bagaimana kau tahu kalau kau sekotor dan sekeji itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghembuskan asap rokok dari mulut, dan menjawab, “Karena aku belajar. Itulah kenapa aku menyebut diriku ‘Pembelajar’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-7460865578694451283?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7460865578694451283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7460865578694451283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/muhasabah.html' title='Muhasabah: Self Potrait'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4041072108507541671</id><published>2011-12-15T00:08:00.001+07:00</published><updated>2011-12-15T16:02:39.759+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Aku Tidak Suka Dirantai, Apalagi Dibelenggu!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oh, well, kau suka. Lepaskan dulu &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/06/sebuah-catatan-luka.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;rantai-rantai dan belenggumu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, nanti ngomong lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4041072108507541671?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4041072108507541671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4041072108507541671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/aku-tidak-suka-dirantai-apalagi.html' title='Aku Tidak Suka Dirantai, Apalagi Dibelenggu!'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3624471189232840259</id><published>2011-12-11T23:51:00.001+07:00</published><updated>2011-12-19T02:29:06.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='About this Blog'/><title type='text'>Posting (Tidak) Penting</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ini post tidak penting yang hanya berisi curcol saya yang sama tidak penting. Tapi, meski begitu, saya ingin tetap menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian yang biasa berkunjung ke sini mungkin agak pangling melihat tampilan baru blog ini. Template blog ini memang telah saya ganti, dan saya berharap tampilannya lebih baik daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang, dan sering kali, kita baru melakukan sesuatu kalau sudah dipaksa oleh keadaan. Begitu pula saya. Sebenarnya, sudah cukup lama saya ingin mengganti template blog ini, sehingga lebih baik dan lebih mudah digunakan para pembacanya. Tetapi, keinginan yang “mulia” itu lama tak terealisasi karena berbagai alasan yang—sebenarnya—saya cari-cari sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, template blog ini sangat sederhana, dan saya menyukainya. Namun, meski saya menyukainya, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/11/satu-tahun-blog-ini.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sebagian pembaca blog ini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; merasa ada yang kurang. Yakni tidak adanya search engine yang dapat digunakan untuk mencari suatu artikel yang pernah diposting di sini. Akibatnya, beberapa pembaca yang ingin menemukan post terdahulu harus membuka-buka arsip dan memelototi deretan judul yang tak terhitung banyaknya. Itu tentu pekerjaan yang melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyadari pentingnya search engine di blog ini bagi para pembaca, saya sudah pernah mencoba memasangnya. Beberapa bulan yang lalu, saya mencoba memasang widget search engine yang disediakan Blogger, tapi entah mengapa search engine itu tidak berfungsi. Artinya, meski saya telah memasangnya di blog ini, search engine itu tak bisa digunakan. Setiap kali saya memasukkan kata kunci ke dalamnya, search engine tidak pernah bisa menemukannya. Akhirnya saya lepas kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya awam dalam hal-hal begituan, jadi saya pun menanyakan masalah itu pada beberapa teman. Menurut mereka yang cukup ahli dalam masalah seperti ini, tidak berfungsinya search engine di blog saya tersebut karena script-nya bentrok dengan script anti-copas yang saya pasang di blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun kemudian melepaskan script anti-copas yang ada di blog ini, dan kembali memasang widget search engine. Namun, entah mengapa, search engine itu tetap tidak berfungsi. Berkali-kali saya memasukkan kata kunci ke dalam search engine tersebut, namun mesin pintar buatan Google itu tetap tidak dapat menemukan satu pun kata kunci yang saya cari. Kesimpulannya, search engine itu tetap tidak bisa digunakan di blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tetap tidak tahu apa masalahnya, saya kembali bertanya pada teman-teman yang ahli. Kali ini, kata mereka, script search engine itu bentrok dengan script Google Analytics yang saya pasang di blog, sehingga tetap tidak dapat berfungsi. Karena yang mengatakan hal itu seorang ahli, saya pun percaya. Maka saya pun lalu melepaskan script Google Analytics dari blog, dan hasilnya adalah bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena saya keliru menghapus script atau karena hal lain, tiba-tiba tampilan blog ini rusak. Memang tidak rusak-rusak amat, tapi tampilannya tidak serapi sebelumnya, alias jadi berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, well, ini mengerikan, pikir saya. Bagaimana pun, tampilan blog yang berantakan itu tidak enak dipandang, sehingga saya pun jadi malas membaca-baca isinya. Ini tentu tidak bisa dibiarkan. Maka, akhirnya, saya pun dengan terpaksa mulai mencari template lain untuk menggantikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari template baru, bagi saya, adalah pekerjaan yang cukup melelahkan. Karena saya termasuk “rewel” dalam hal pemilihan template. Selain harus sesuai dengan keinginan dan kebutuhan saya, template pengganti itu harus memiliki loading yang ringan—atau bahkan kalau bisa sangat ringan. Tak peduli sebagus apa pun sebuah template, saya tidak tertarik jika loading-nya berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan rupanya saya berjodoh dengan template ini. Ya, template yang sekarang kalian lihat ini. Secara tampilan, template yang sekarang tentu jauh lebih bagus dibanding template terdahulu yang sangat sederhana. Template baru ini juga sangat fungsional, karena sesuai keinginan saya. Di atas semuanya itu, template baru ini juga telah memiliki widget search engine bawaan, sehingga saya tidak perlu memasangnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lagi-lagi search engine ini tetap menjadi masalah. Sama seperti dulu, search engine template ini pun tetap tidak mau berfungsi jika saya memasang script Google Analytics atau script anti-copas. Jika script-script itu saya pasang, maka saya bahkan tidak bisa memasukkan kata apa pun ke dalam search engine. Kesimpulannya, saya memang tidak boleh memasang script-script itu di blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begitulah. Saya pun akhirnya mengalah demi kenyamanan pembaca yang ingin mudah menemukan catatan-catatan lama saya di blog. Agar search engine di sini benar-benar dapat digunakan para pembaca, saya pun rela membuang script anti-copas maupun script Google Analytics. Saya berharap blog ini lebih nyaman sekaligus lebih mudah digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya pikir, script-script itu mungkin memang tidak terlalu saya butuhkan. Script anti-copas itu saya tanamkan dengan maksud agar tulisan saya tidak dibajak oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, akhirnya saya menyadari, bahwa pembajakan—dalam hal ini pembajakan tulisan—tidak bisa dibatasi dengan sebuah script, karena ada banyak cara untuk dapat menerobosnya. Pembajakan lebih berhubungan dengan moral pelakunya, karena ayam yang berkeliaran tanpa kandang pun tidak akan hilang di tengah masyarakat yang bermoral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun script Google Analytics. Sekarang saya pun menyadari bahwa sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkannya. Saya tidak menjadikan blog ini sebagai tempat berbisnis yang mengharuskan laporan pasti tentang berapa banyak orang yang “kesasar” ke sini dan berbagai laporan tentangnya. Saya menulis di blog ini sebagai sarana menuangkan pikiran, isi hati, kegelisahan, dan saya—sebenarnya—tak pernah peduli ada yang membacanya atau tidak. Jadi saya sama sekali tidak membutuhkan laporan dari Google Analytics.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kawan-kawan, kalau kalian kebetulan termasuk orang yang suka membaca-baca catatan saya di blog ini, saya berharap tampilan baru blog ini dapat membuat kalian lebih nyaman menggunakannya. Akhir kata, terima kasih karena telah menjadi teman dalam perjalanan kegelisahan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3624471189232840259?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3624471189232840259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3624471189232840259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/posting-tidak-penting.html' title='Posting (Tidak) Penting'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-1683618705547198120</id><published>2011-12-06T22:27:00.008+07:00</published><updated>2011-12-13T07:09:46.963+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Pusing Mikir Klitoris (2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Catatan ini berhubungan dengan catatan sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/pusing-mikir-klitoris-1.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;post sebelumnya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya pusing mikir klitoris, karena benda ini terus-menerus menciptakan keributan yang—anehnya—justru menjauhkan pemiliknya dari tujuan penciptaannya. Belum lama, kita mendengar ribut-ribut tentang “sunat wanita” yang dalam prosesnya adalah memotong klitoris, kulit penutupnya, atau bagian apa pun darinya. Orang yang agresif menganjurkan hal itu biasanya berdalih karena ajaran agama (meski sebenarnya sangat diragukan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak tahu apa motivasi orang-orang yang tiba-tiba kembali meributkan sunat klitoris itu, tetapi yang jelas anjuran atau bahkan ajaran tentang “sunat wanita” hanyalah bentuk penindasan terhadap wanita. Jika sunat terhadap laki-laki memiliki tujuan medis yang jelas dan pasti, sunat pada wanita tidak memiliki dasar dan tujuan medis yang dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan WHO dengan kasar menyebut “sunat wanita” sebagai “mutilasi” (Female Genital Mutilation—FGM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutilasi atas tubuh wanita, dalam hal ini klitoris, memang lebih didasarkan pada kultur atau budaya, atau bahkan agama, dan bukan karena indikasi medis. Karenanya, berdasarkan Konferensi Kaum Wanita Sedunia di Beijing, Cina, WHO telah memutuskan untuk melarang sunat pada perempuan. Pemerintah di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, juga telah membuat undang-undang larangan sunat perempuan. Di Belanda, pelaku sunat perempuan diancam hukuman 12 tahun penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Indonesia? Karena terikat dengan ketentuan WHO, maka tentu (semestinya) Indonesia juga harus melarang praktik itu. Karena selain membahayakan si wanita, karena tidak memiliki dasar medis, praktik itu juga melanggar hak asasi manusia. Tetapi, seperti biasa, negara kita adalah negara yang serba nanggung. Akibatnya, praktik yang jelas-jelas tidak bermanfaat itu pun tetap dihadapi dengan sikap nanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang 18 bulan—dari Oktober 2001 sampai Maret 2003—Population Council melakukan riset di enam provinsi yang ada di Indonesia, meliputi Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo. Hasilnya, berdasarkan riset mereka, praktik “sunat wanita” yang dilakukan di berbagai provinsi tersebut “menunjukkan adanya medikalisasi sunat wanita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah “medikalisasi” mungkin sengaja digunakan untuk menghaluskan istilah aslinya yang mungkin “komersialisasi medis”. Tetapi saya tidak berani menuduh bahwa ada upaya semacam itu, karena, menurut Ina Hernawati, Direktur Bina Kesehatan Ibu dari Kementerian Kesehatan, “Selama ada demand, kita sebagai supplayer harus menyediakan. Kalau tidak, nanti mereka pergi ke orang yang tidak punya kompetensi, hingga malah berakhir dengan komplikasi, tindakan kekerasan, pemotongan, dan tidak aman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak kedokteran Indonesia sendiri sebenarnya juga tidak menganjurkan sunat wanita, bahkan mengusulkan agar dilarang. Pengamat kesehatan dari Yayasan Kesehatan Perempuan, yang juga mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Kartono Muhammad, menyatakan agar sebaiknya praktik sunat wanita dilarang, untuk melindungi anak perempuan dari kekerasan, juga untuk melindungi dari kemungkinan infeksi, cacat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika kita melihat kasus ini lebih utuh, adanya orang-orang yang melakukan “sunat wanita” tersebut bukan karena adanya indikasi medis yang memang mengharuskan mereka melakukannya, tetapi karena terdorong oleh anjuran sebagian pihak, yang—mungkin—menyatakan bahwa hal itu (sunat wanita) adalah ajaran agama. Ironisnya, agama yang digunakan sebagai dalih untuk praktik itu adalah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi benarkah Islam memang mengajarkan praktik sunat pada wanita? Di Mesir, yang mayoritas penduduknya muslim, sekitar 90 persen wanitanya memang melakukan praktik sunat, dengan alasan “untuk kebaikan dan perlindungan terhadap perempuan”. Tetapi, yang perlu dicatat, mayoritas ulama di sana dengan tegas membantah bahwa itu bukan ajaran Islam. Sementara Lebanon dan Saudi Arabia—yang merupakan negara muslim—sama sekali tidak melakukan praktik sunat wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, praktik sunat pada wanita sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh kaum muslim. Di Ghana, misalnya, yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani, juga melakukan praktik sunat wanita. Artinya, orang yang berdalih menyatakan bahwa sunat wanita adalah ajaran Islam perlu mempelajari kembali dalilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, dari mana sebenarnya asal usul adanya praktik sunat wanita tersebut? Budaya itu telah dimulai sejak beribu-ribu tahun yang lalu, jauh sebelum lahirnya Kristen atau Islam, dan telah mulai dipraktikkan ketika manusia masih hidup dalam budaya pagan. Sumber literatur paling tua tentang objek ini menyebutkan bahwa “sunat wanita” dimulai di Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Afrika, ribuan tahun yang lalu, ketika manusia masih hidup di goa-goa, sebagian besar laki-laki menghabiskan waktu berhari-hari untuk berburu binatang, sementara kaum wanita bertugas menjaga anak dan tempat tinggal. Karena khawatir mereka berselingkuh selagi suaminya berburu, para laki-laki itu pun kemudian memutuskan untuk memotong klitoris istrinya, karena menganggap benda itu sebagai sumber gairah seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wanita pun, sejak itu, mulai mengalami siksaan yang harus ditanggung, yakni merelakan klitorisnya dipotong atau dilukai demi dipercaya oleh pasangannya. Kelak, dalam dunia medis, hal itu disebut “klitoridektomi”. Dan praktik itu kemudian diwariskan turun-temurun, dari abad ke abad, dari generasi ke generasi. Ketika agama samawi mulai diturunkan, budaya itu pun masuk (teradopsi) dalam proses akulturasi. Tetapi, yang jelas, klitoridektomi atau “sunat wanita” bukan ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan bahwa klitoris sebagai sumber rusaknya moral wanita didasarkan pada fakta bahwa klitoris memang sumber rangsangan. Benda itu menyimpan jutaan sel saraf yang amat peka, sehingga wanita dapat merasakan kenikmatan seksual atas rangsangan pada klitorisnya. Karena itu pula, selain mengenal orgasme vaginal, wanita juga mengenal orgasme klitoral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi menghilangkan atau melukai klitoris dengan alasan untuk “menjaga moral” sama artinya dengan menghilangkan tujuan penciptaan atas pemiliknya. Itu sama halnya dengan pengebirian. Para pakar seksualitas tahu betul bahwa tujuan penting kenapa wanita dianugerahi klitoris adalah karena tidak setiap mereka dapat merasakan orgasme vaginal bersama pasangannya, sehingga mereka diberi kemungkinan untuk tetap merasakan orgasme melalui klitorisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, klitoridektomi mengandung banyak implikasi—tidak hanya dalih moral semata, tetapi juga konsekuensi yang sama berbahayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angela Dewi—akrab disapa Dela—adalah wanita asal Sumatera Barat yang menjadi salah satu korban praktik klitoridektomi atau “sunat wanita”. Dia masih berusia 11 tahun ketika hal itu terjadi, dan dia masih ingat bagaimana seorang bidan melukai klitorisnya dengan silet, sementara bius yang disuntikkan ke tubuhnya ternyata tidak bekerja secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, sakit tak tertahankan pun dirasakan olehnya, dan dia berteriak, meraung-raung kesakitan. Rasa sakit itu, diakuinya sendiri, hilang dalam beberapa hari. Tetapi trauma akibat peristiwa itu tak pernah hilang hingga bertahun-tahun. Akibatnya, ketika telah dewasa, hubungan intim dengan suaminya pun jadi terganggu. Belakangan, Dela bersumpah, tidak akan membawa anak-anak perempuannya untuk mengikuti ajaran keliru yang disebut “sunat wanita” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angela Dewi hanyalah satu di antara sekian banyak wanita lain yang menjadi korban atas ajaran tidak jelas tentang klitoridektomi. Beratus-ratus tahun yang lalu, di era Victoria yang kolot, wanita-wanita yang memiliki minat dalam seks dianggap memiliki kelainan jiwa, dan biasanya akan segera dibawa ke rumah sakit. Dokter pada masa itu biasanya akan memeriksa klitorisnya, dan jika ukuran klitorisnya dianggap besar maka si wanita akan dikurung berhari-hari di ruang pengasingan sampai klitorisnya mengecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, berbagai cara digunakan untuk “menjaga moral” kaum wanita yang bersumber pada klitorisnya. Beberapa cara yang cukup “beradab” di antaranya adalah dengan memaksa muntah, bekam, memakaikan jaket pengaman, sampai menaruh lintah pada alat kelamin. Jika tindakan-tindakan pengobatan itu dirasa kurang memadai, maka klitoridektomi pun dilakukan, dan para wanita itu harus merelakan klitorisnya diambil melalui operasi yang primitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu pula, ada seorang dokter bedah dan ginekolog Inggris bernama Isaac Baker Brown (1812-1873). Ia berpendapat bahwa setiap perempuan yang bermasturbasi sebaiknya klitorisnya diangkat karena, menurutnya, masturbasi bisa menyebabkan penyakit mental, epilepsi, dan bahkan kematian. Untuk mengukuhkan tesisnya itu, dia menulis sebuah buku yang terbit pada 1886, berjudul “On the Curability of Certain Forms of Insanity, Epilepsy, Catalepsy, and Hysteria in Females”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku tersebut, Isaac Brown menyatakan bahwa semua masalah kesehatan dan kejiwaan—khususnya pada perempuan—dapat diatasi dengan cara pengangkatan klitoris. Bertahun-tahun kemudian, para pakar tahu bahwa semua yang ditulis dan dinyatakan Isaac Brown hanyalah bualan omong-kosong yang tak berdasar, dan sekarang kita tahu dari mana munculnya mitos menyesatkan yang menyatakan bahwa masturbasi dapat mengakibatkan kebutaan dan hal lain yang tak relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif umum, klitoris adalah anugerah yang secara spesial diberikan kepada perempuan, khususnya dalam merasakan kenikmatan seksual, tetapi tidak berarti bahwa klitoris selalu berhubungan atau bahkan sampai menentukan moral pemiliknya. Tanpa bermaksud sok ustadz, ada banyak hal yang berhubungan dengan moral perempuan, tak peduli apakah klitorisnya kecil atau besar—sama halnya kerusakan moral seorang lelaki tak bisa diukur dari ukuran penisnya semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehmm… salah satu klitoris paling terkenal di dunia adalah klitoris milik Kyoka Ishiguro. Dalam industri bokep Asia, nama Kyoka Ishiguro selevel dengan &lt;a href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/02/anri-suzuki-asia-carrera-maria-ozawa-2.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Maria Ozawa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Risa Kasumi, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/02/tesis-anri-suzuki-disertasi-asia.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anri Suzuki&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Yui Tatsumi, Meguru Kosaka, Nanako Mori, Ren Mukai, Yuki Kagami, Rei Minami, Yuria Satomi, Rio Hamasaki… ooouuh, stop it! :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadikan Kyoka Ishiguro sangat terkenal adalah ukuran klitorisnya yang tergolong besar. Karenanya, film-film yang dibintanginya hampir dapat dipastikan akan mengeskpos klitorisnya habis-habisan. Anehnya, film-film yang dibintangi Kyoka Ishiguro sebagian besar berkatagori hardcore, yang semakin menciptakan kesan kalau pemilik klitoris besar memang memiliki nafsu seks yang sama besarnya. Majalah Apple edisi bahasa Jepang bahkan menyebutnya sebagai nimfomaniak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, benarkah ukuran klitoris memang berpengaruh pada moral seseorang? Atau, lebih umum lagi, benarkah klitoris memang memiliki hubungan dengan moral seseorang? Mungkin ya, tetapi sungguh naif jika kita menilai moral seorang wanita hanya didasarkan pada klitorisnya, dan kemudian melakukan mutilasi atau pengebirian atas tubuh mereka dengan dalih moral atau agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kenapa saya pusing memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-1683618705547198120?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1683618705547198120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1683618705547198120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/pusing-mikir-klitoris-2.html' title='Pusing Mikir Klitoris (2)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2256696979649918793</id><published>2011-12-06T22:25:00.004+07:00</published><updated>2011-12-13T07:11:08.313+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Pusing Mikir Klitoris (1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ah, ya, bagian itu memang yang paling menggoda… dan menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/05/jilbab-maria-ozawa.html"&gt;Maria Ozawa&lt;/a&gt;, dalam majalah Apple (Japan Edition)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Satu dekade yang lalu, wacana seksualitas dunia dihebohkan oleh sesuatu yang disebut G-Spot, yang konon merupakan puncak kenikmatan dan penemuan paling dahsyat menyangkut seksualitas manusia, dan titik balik yang mengubah cara kita bercinta. G-Spot adalah sebuah zona di dalam vagina yang memiliki tingkat kepekaan seks luar biasa, sehingga seorang wanita dapat “terbang” ke tujuh lapis langit jika zona tersebut mendapat sentuhan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang pertama kali menemukan keberadaan zona tersebut adalah dokter sekaligus pakar seksualitas bernama Dr. Grafenberg, sehingga zona atau titik itu pun disebut G-Spot, yang merupakan singkatan atas namanya—Grafenberg Spot. Wacana G-Spot melengkapi wacana multi-orgasme, yang sebelumnya menjadi “wacana paling panas” seputar “gelinjang di ranjang cinta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas ribut-ribut soal G-Spot itu pula, tiga pakar seks dunia, Alice Kahn, Beverly Whipple, dan John D. Perry, mengupas tuntas soal G-Spot tersebut dalam buku karya mereka, berjudul “The G-Spot and Other Recent Discoveries about Human Sexuality”. (Kalau kepalamu tidak ingin pusing campur pening, sebaiknya jangan baca buku ini. :D)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ribut-ribut tentang G-Spot ataupun multi-orgasme, dalam pandangan saya, tidak lebih dari wacana ala mahasiswa idealis. Artinya, wacana itu hebat dalam konsep, tetapi tidak mudah diaplikasikan—bisa karena kurangnya pengetahuan, situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, ataupun karena hal lainnya. G-Spot ataupun multi-orgasme, mungkin hanya dapat dipraktikkan oleh orang-orang yang memang “punya banyak waktu” untuk urusan seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giacomo Casanova adalah playboy paling terkenal sepanjang sejarah, karena bisa mengencani 2.415 wanita. Sementara pemain basket Amerika, Wilt Chamberlain, mengakui sendiri telah “tidur” dengan 20.000 wanita. Bintang bokep terkenal, Ron Jeremy, telah berhubungan seks dengan 4.000-an wanita. Sementara Hugh Hefner, bos sekaligus pendiri perusahaan Playboy, telah—menggunakan istilahnya sendiri—“bercinta” dengan ratusan wanita dari berbagai usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh di atas dapat digolongkan sebagai “orang yang memiliki banyak waktu untuk urusan seks”, dan tidak menutup kemungkinan orang-orang semacam itu telah mampu mempraktikkan apa yang disebut multi-orgasme ataupun menemukan zona misterius dalam tubuh wanita yang disebut G-Spot. Tetapi mereka bukan kasus umum, dalam arti kebanyakan orang tidak memiliki waktu sebanyak mereka untuk urusan seks semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kultur umum, seks memiliki batasan-batasan tertentu, khususnya dalam batasan waktu dan tempat, pengetahuan dan pengalaman, bahkan batasan adab serta agama. Pada kasus tertentu, bahkan seks dibatasi dengan kemampuan melakukannya. Di dalam batasan-batasan itulah, wacana sekaligus pengetahuan seksualitas kebanyakan orang pun hanya “dari itu ke itu”. Mintalah seseorang untuk menyebutkan bagian apa saja yang menarik dalam seks, maka kita dapat meramalkan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi itu hal yang wajar, dan tidak masalah, karena hubungan seks (memang) tidak membutuhkan banyak intelektualitas atau pengetahuan—ia lebih membutuhkan banyak pengertian. Dan, tentu saja, kenikmatan serta kepuasan bersama. Tak peduli sehebat apa pun pengetahuan seseorang tentang G-Spot ataupun multi-orgasme, pengetahuan itu sia-sia jika hubungan seks hanya memberikan kenikmatan untuk satu pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain untuk tujuan berketurunan, kita tahu bahwa hubungan seks juga dilakukan untuk rekreasi, membangun keintiman, dan merasakan kenikmatan. Itulah kenapa hubungan seks dikonotasikan sebagai “bercinta” atau making love. Dalam konteks itu, benda kecil-mungil-misterius yang disebut klitoris memiliki peran penting—dan karena hal itu pula yang sekarang membuat saya pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/pusing-mikir-klitoris-2.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ke sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2256696979649918793?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2256696979649918793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2256696979649918793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/pusing-mikir-klitoris-1.html' title='Pusing Mikir Klitoris (1)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2544981387879096085</id><published>2011-12-02T21:07:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T07:12:21.594+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta dan Lainnya'/><title type='text'>Senandung Gerimis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;setiap titik gerimis&lt;br /&gt;bagai duri yang menikam&lt;br /&gt;namun ‘ku masih bertahan&lt;br /&gt;masih kugenggam janji kuberikan&lt;br /&gt;padamu perawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila malam ‘ku diusik kenangan&lt;br /&gt;bisikanmu mendera perasaan&lt;br /&gt;mataku pejam&lt;br /&gt;wajah ayu kubayangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senyummu, tawamu, riangmu&lt;br /&gt;jadi penawar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penyambung langkahku&lt;br /&gt;sedang dibalik sengsara&lt;br /&gt;seluruh hatiku digenggam derita&lt;br /&gt;kau tak kulepas…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/06/titiek-puspa-menciptakan-lagu-untuk.html"&gt;Search&lt;/a&gt;, Nantikan Gerimis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis turun di sini, ketika aku kembali mengenangmu—saat suara dan tawamu begitu dekat di hatiku. Kau, wujud terindah yang pernah kumiliki, menjadi jejak bayang-bayang setiap kali aku melewati tempat-tempat yang pernah kita datangi, lekuk-lekuk bumi yang pernah kita lewati. Menggenggam tanganmu, waktu itu, melangkah bersamamu, dan kini aku merasa kembali mendengar suaramu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pernah ada di sini, menatap langit Manhattan yang menurunkan gerimis, dan aku ingat kau menyatakan itu gerimis termanis yang pernah kaulewati, membuatku merasa setiap titik gerimis seperti kelembutan mawar dari langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saat aku melewati jalan ini, aku merasa sedang menapaki jejak bayang-bayangmu, merasakan percik gerimis yang turun dari langit, dan aku ingin kembali mendengar suaramu, merasakan genggamanmu, menikmati riang tawamu. Berapa tahunkah waktu telah berlalu? Rasanya baru kemarin di hatiku, hingga masih dapat kuingat setiap jengkalnya, setiap kata yang kita ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu kenapa gerimis ini tetap gerimis, dan tidak berubah menjadi hujan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kau bertanya penasaran, “Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu cara langit menyatakan restunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tertawa—aku selalu senang mendengar tawamu. Kemudian, saat aku mengeratkan genggamanku di tanganmu, kau berbisik, “Aku tak akan melupakan saat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun aku—bahkan hingga tahun-tahun berlalu. Sekarang, saat aku melangkah sendirian di sini, satu-satunya yang kuinginkan hanyalah dirimu, dan hanya dirimu. Kau melengkapi ruang kosong dalam hidupku, kau &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/05/my-hearts-diary-4.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bidadari yang selalu kuimpikan di masa kanak-kanakku&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Bersamamu, aku merasakan hidupku lengkap, dan impianku terwujud. Duniaku sempurna bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;“Setelah kita hidup bersama nanti, kau tidak akan sering pergi-pergi lagi, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku meyakinkanmu, “Tidak akan. Kelak, aku akan lebih banyak di rumah, karena aku pasti akan sangat sibuk mencintaimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kau tersenyum, dan memelukku erat, seolah meyakinkan diri bahwa aku memang tak akan pernah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kemudian kau pergi—selamanya, dan tak pernah kembali. Kau pergi setelah perjalanan panjang bersama yang telah kita lewati, kenangan demi kenangan… kau pergi bersama langit yang menurunkan hujan, menepikanku pada malam-malam panjang, bersama tangis dan kerinduan. Menyebut namamu setiap malam, berharap, entah bagaimana caranya, semua itu hanya mimpi buruk dan esok pagi kau akan datang kembali, menjadi milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kau tak pernah kembali, bahkan untuk setiap gerimis yang berubah menjadi hujan. Kau tak pernah kembali, bahkan untuk setiap tangis yang membungkus kerinduan, untuk setiap hari yang kulewati bersama &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/11/selembar-kertas-berisi-catatan-yang.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kenangan demi kenangan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari-hari berlalu, sementara bayangmu di hatiku tak pernah berlalu. Pada tahun-tahun yang panjang, mengobati sakit rinduku, aku telah kembali pada tempat-tempat yang pernah kita singgahi, setiap jejak, setiap jengkal, untuk kembali memeluk bayangmu, untuk kembali mendengar suaramu, untuk kembali merasakan kedekatan bersamamu. Dan sekarang aku di sini, di tempat kita pernah menikmati gerimis, dan langit seperti tahu kerinduanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis kembali turun sore ini—gerimis yang sama, di tempat yang sama. Aku tahu, ada gerimis lain yang luruh di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap titik gerimis&lt;br /&gt;bagai duri yang menikam&lt;br /&gt;namun ‘ku masih bertahan&lt;br /&gt;masih kugenggam janji kuberikan&lt;br /&gt;padamu perawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila malam ‘ku diusik kenangan&lt;br /&gt;bisikanmu mendera perasaan&lt;br /&gt;mataku pejam&lt;br /&gt;wajah ayu kubayangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senyummu, tawamu, riangmu&lt;br /&gt;jadi penawar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penyambung langkahku&lt;br /&gt;sedang dibalik sengsara&lt;br /&gt;seluruh hatiku digenggam derita&lt;br /&gt;kau tak kulepas…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2544981387879096085?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2544981387879096085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2544981387879096085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/senandung-gerimis.html' title='Senandung Gerimis'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-6516017559186197082</id><published>2011-12-01T21:27:00.003+07:00</published><updated>2011-12-13T07:21:29.860+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Doa Seorang Bocah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Seorang bocah berdoa dengan khusyuk, “Tuhan, tolong masukkan &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/02/huruf-s-di-dada-superman.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Superman&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/01/surat-rachel-kepada-batman.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Batman&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/11/spiderman-x-men-dan-buku.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Spiderman&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dan tokoh-tokoh X-Men ke surga, ya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar doa itu, dan diam-diam berbisik, “Amin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-6516017559186197082?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6516017559186197082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6516017559186197082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/12/doa-seorang-bocah.html' title='Doa Seorang Bocah'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4165075954732921425</id><published>2011-11-20T23:24:00.005+07:00</published><updated>2011-12-13T07:01:47.236+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Studitainment'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Gurat Natijah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dedicated to &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/11/hati-yang-memilih.html"&gt;Ayu Utami&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Dari saat aku jatuh ke lubang kelinci itu, aku diberi tahu harus melakukan apa dan harus menjadi siapa. Aku diperkecil, ditekan, dan disesakkan dalam poci teh. Aku dituduh jadi Alice dan tak jadi Alice, tapi ini mimpiku. Aku yang memutuskan apa yang terjadi selanjutnya... Aku yang menentukan takdirku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alice in Wonderland&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketika Alice dihadapkan pada pilihan penting dalam hidup, ia diselamatkan oleh bencana. Di tengah tatapan ratusan orang yang siap bertepuk tangan untuk penyerahan dirinya kepada sang pangeran, Alice memilih untuk menunda, kemudian pergi sejenak. “Kurasa aku perlu waktu untuk berpikir,” kata Alice. Dia perlu waktu untuk “berpikir”, bukan untuk “merasakan”, atau “membayangkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Alice berpikir, maka sang Pikiran pun menuntunnya. Kepada Sang Absolem, Sang Mutlak. Tetapi untuk menemui Sang Mutlak itu, Alice harus terperosok ke lubang kelinci terlebih dulu, ketika kemudian wujudnya diragukan, ketika orang-orang di Wonderland berbisik-bisik, “Dia bukan Alice yang dulu,” dan sebagian lain meyakini, “Dia pasti Alice yang dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu semua orang tahu hidup Alice Kingsleigh akan selesai ketika mereka berkumpul di taman, dan Pangeran Hamish akan meminangnya. Semua orang tahu—kecuali Alice. Sesaat lagi mereka akan bertepuk tangan ketika menyaksikan satu lagi di antara mereka menjadi bagian dari mereka. Hidup Alice telah ditentukan—oleh kultur, oleh orangtua, oleh keluarga, oleh takdir masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kakak perempuannya sendiri berkata, “Kau tak akan mendapatkan yang lebih baik dari bangsawan. Usiamu menjelang 20 tahun, Alice. Wajah cantik itu tak kan awet. Kau tak mau berakhir seperti Bibi Imogene. Dan kau tentu tak mau jadi beban Ibu, kan? Jadi, kau akan menikah dengan Hamish. Kau akan sebahagia aku dengan Lowell, dan hidupmu akan sempurna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Alice kemudian mendapati—di tengah keramaian itu—bahwa semua takdir yang telah dibangun untuknya adalah bangunan rapuh di atas fondasi fatamorgana. Ia tahu itu bukan takdirnya—itu adalah takdir masyarakatnya, takdir milik orang lain yang dipaksakan agar ia percaya bahwa itu juga takdirnya. Karena itu, ketika Hamish bersimpuh meminangnya, Alice pun berkata, “Aku perlu memikirkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia benar-benar memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran itu membawanya kepada seekor kelinci—sesosok kelinci putih yang hanya dilihat olehnya. “Apakah kau melihat seekor kelinci?” tanya Alice pada orang di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang melihat kelinci. Hanya Alice yang melihatnya, karena hanya ia yang memilih untuk melihatnya. Dan kelinci itulah yang kemudian menuntun Alice untuk sampai di Wonderland, negeri tak terbayangkan dalam dunia kasatmata manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Wonderland bukanlah surga, meski ia tempat menakjubkan di mana hewan dan tumbuhan bicara, sementara langit hanya ada di ujung tangan. Ketika Alice sampai di sana, wujudnya diragukan—bahkan oleh Sang Absolem sendiri. Sebagian orang berbisik, “Dia bukan Alice yang dulu.” Sementara yang lain menyatakan, “Coba kita beri dia kesempatan. Dia pasti Alice yang dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonderland menjadi tempat transisi hidup Alice untuk kembali kepada kemurnian kenangannya, dan ketidakjelasan mimpi-mimpinya. Di tengah-tengah transisi itu, ia dihadapkan pada kenyataan yang tak diinginkannya. Inilah dunia tempat Alice yang asli dan Alice yang palsu untuk menunjukkan jati dirinya—dan satu di antara mereka harus musnah. Karena yang sejati tidak bisa bersanding dengan yang palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara-suara yang tak didengar Alice berkata, “Kau mengira dia akan ingat semua ini dari saat pertama… Kau telah membawa Alice yang salah... Bukan, dia gadis yang benar—aku yakin… Dia Alice yang salah… Berikan dia kesempatan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kesempatan selalu ada, tak peduli di Wonderland atau bukan. Kesempatan selalu ada bagi yang percaya bahwa ia selalu diberi kesempatan—untuk berpikir, untuk memilih, untuk menemukan. Dan Alice menjalani proses itu. Ia berpikir sebelum pikirannya dipenjara oleh belenggu keadaan. Ia memilih sebelum pilihannya direnggut semua darinya. Ia pun menentukan selama ia masih bisa menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Wonderland, di tengah semua hal aneh yang menakjubkan di matanya, Alice semula menyangka segala yang disaksikannya hanya mimpi—bahkan ketika monster mengerikan siap melahapnya. Ia percaya akan terbangun dari mimpi itu, dan akan kembali ke dunianya. Tapi akhirnya ia tahu itu bukan mimpi, ketika cubitan di lengannya tetap tak mampu “membangunkannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, bersama “takdir yang dipilihnya sendiri”, Alice akhirnya menyadari bahwa Wonderland bukanlah “mimpinya”, melainkan “kenangannya”. Di bawah tuntunan Absolem, Alice kemudian ingat bahwa dulu… dulu sekali ketika masih kecil… ia pernah ada di sana, bahkan dirinyalah yang menyebut tempat itu “Wonderland”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada Wonderland, karena semua yang hidup di sana tidak pernah menyebut tempat itu sebagai Wonderland. Alice-lah yang menyebut tempat itu Wonderland, ketika ia datang ke sana pertama kali, ketika masih sangat kecil, ketika ia masih semurni malaikat. Wonderland, bagi Alice, adalah tempat ketika ia merasa merdeka untuk menikmati puncak hidup… ketika ia dapat tertawa riang karena menjadi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia telah besar dan kembali ke sana, Wonderland telah berubah, karena tempat itu kini dikuasai oleh Ratu Merah. Di bawah kekuasaannya, semua orang harus tunduk kepada Sang Ratu, dan untuk itu mereka harus menjadi sosok-sosok palsu yang memasang hidung palsu, janggut palsu, perut palsu, payudara palsu, rambut palsu, dan kehidupan yang palsu. Wonderland bukan lagi Wonderland—tempat itu kini tak ada bedanya dengan tempat Alice sekarang, yang ditinggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, di manakah Wonderland? Ia hanya ada di dalam pikiran Alice, sebentuk pemikiran murni ketika ia masih kecil dan semurni malaikat, ketika ia datang ke sana pertama kali dan Si Ratu Merah belum menjadi jahat, sehingga bersamanya ia dapat mewarnai bunga-bunga sambil bercanda penuh hikmat. Wonderland ada di setiap kedalaman kita semua, karena gambaran itu telah ditanamkan bersama kelahiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sebagaimana Alice, gambaran suci itu kemudian buram, dan mengabur, seiring makin dewasanya usia—ketika kehidupan mencengkeramkan setumpuk nilai untuk menghapuskan gambaran negeri indah yang semula menjadi keyakinan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau tahu mengapa gagak seperti meja tulis?” tanya Hatter kepada Alice dalam perjamuan di tengah hutan. Dan teman-teman Hatter menyahut, “Gempur Si Kepala Besar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Kepala Besar! Sang Ratu Merah memiliki kepala yang besar, namun tak sebanding dengan ukuran otak dan hatinya. Ia menginginkan semua orang sama seperti dirinya, meski untuk itu mereka harus memasang semua atribut kepalsuan. Dan, jika kehendaknya ditentang, Si Kepala Besar akan berteriak, “Penggal kepalanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka semua orang pun memilih untuk menuruti kehendak itu, meski harus meninggalkan kesejatiannya. Memilih sama, daripada harus kehilangan kepala. Inilah Wonderland yang dulu indah yang pernah dikenal Alice—sebuah Wonderland yang telah berubah. Dan, Alice mendatanginya kembali untuk mengembalikan Wonderland ke bentuk aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Hari Frabjous,” kata Hatter, “saat Ratu Putih kembali memakai Mahkota sekali lagi, di hari itu aku akan berdansa Futterwacken dengan semangat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alice melakukannya. Ia bertempur melawan “monster gagak hitam” dan mengembalikan mahkota ke kepala Ratu Putih. Ketika ia berhasil melakukannya, ia bukan hanya mengembalikan Wonderland ke bentuk murninya, tetapi juga mengembalikan dirinya sendiri kepada kemurniannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Alice kembali ke dunianya, dunia itu tak berubah—namun dirinya telah berubah. Segurat natijah paling murni kini menjadi miliknya, setelah ia terperosok ke lubang kelinci. Seperti yang dikatakannya sendiri, “Aku selalu suka kelinci—khususnya yang berwarna putih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terberkatilah Sang Alice yang meyakini pilihannya, terpujilah hati yang kembali pada kemurniannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selamat ulang tahun, Aunt Ayu Utami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semoga selalu dalam limpahan kasih Tuhan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semoga selalu diberkati ketetapan hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manhattan, 20 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hormat dan kasih,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427"&gt;Hoeda Manis&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4165075954732921425?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4165075954732921425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4165075954732921425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/11/gurat-natijah.html' title='Gurat Natijah'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-6880221187814495583</id><published>2011-11-20T23:22:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T07:03:04.953+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Hukum Huruf</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sebuah huruf akan menarik huruf lainnya, dan berdekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau setidaknya begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan ini melemparkanku pada kesimpulan lain yang jauh lebih mengerikan—&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/05/pergi-ke-sebuah-huruf.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ternyata aku belum juga belajar!&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-6880221187814495583?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6880221187814495583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6880221187814495583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/11/hukum-huruf.html' title='Hukum Huruf'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-9080569485326128052</id><published>2011-11-07T01:29:00.013+07:00</published><updated>2011-12-13T07:04:24.503+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Ternyata Telkomsel Memang Brengsek!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kami menyatakan peringkat teratas operator telekomunikasi se-Indonesia&lt;br /&gt;dengan jumlah keluhan konsumen terbanyak adalah Telkomsel.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketua Lisuma, dalam Media Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu minggu yang lalu, saya kira Telkomsel telah memperbaiki layanan internetnya, sehingga saya pun menulis posting yang menjelaskan hal itu, sebagai bentuk kejujuran saya pada para pembaca blog ini, juga kepada Telkomsel. (Silakan lihat &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/10/oke-ini-tentang-telkomsel.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;post ini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;). Tapi ternyata saya keliru. Telkomsel tetap saja bosok seperti sebelumnya! Bahkan sekarang kebosokan itu tambah parah, sehingga saya perlu menulis post ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini masih seputar layanan internet SimPATI Fun Night, yang iklannya terus digembar-gemborkan tapi ternyata kualitasnya amat sangat menjengkelkan sekaligus merugikan pelanggan. Seperti yang sudah saya janjikan pada posting sebelumnya, saya akan terus menulis keluhan terbuka di blog ini, selama Telkomsel belum membenahi layanannya, sehingga pelanggan terus-menerus dirugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak seminggu yang lalu, terhitung sejak saya menulis post &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/10/oke-ini-tentang-telkomsel.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oke, Ini Tentang Telkomsel&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, layanan internet SimPATI kembali bosok seperti semula. Setiap kali saya melakukan download, setiap kali pula proses download itu terputus di tengah jalan. Tingkat kegagalan download yang saya alami bahkan jauh lebih parah dibanding waktu-waktu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dulu proses download sering kali terhenti ketika memasuki 70-an MB, sekarang proses download itu terhenti secara acak. Kadang memasuki 120-an MB, kadang ketika sampai 200-an MB, kadang pula gagal ketika proses download itu seharusnya sudah selesai beberapa MB lagi. Jadi, tingkat kerugian yang saya alami gara-gara kebosokan layanan internet SimPATI kali ini jauh lebih besar dibanding sebelum-sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, coba lihat di bawah ini (klik untuk memperbesar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-14EmXJ5AsO0/TrbSQ85r3dI/AAAAAAAAAY4/aB8WKoD8nbM/s1600/down%2B1.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 191px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-14EmXJ5AsO0/TrbSQ85r3dI/AAAAAAAAAY4/aB8WKoD8nbM/s320/down%2B1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671951969387535826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pada ilustrasi di atas, saya men-download data sejumlah 251 MB. Ketika proses download itu mulai berlangsung, semula lancar-lancar saja. Tetapi tiba-tiba proses download itu berhenti ketika memasuki 94% (235,94 MB). Artinya, kuota sejumlah 235,94 MB hilang sia-sia karena proses download gagal di tengah jalan. Dan hal semacam itu terjadi berpuluh-puluh kali. Saya ulangi, BERPULUH-PULUH KALI.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kadang proses itu berhenti ketika memasuki 85%, kadang pula berhenti ketika mencapai 98%. Jadi sekarang kita bisa melihat sebanyak apa kerugian yang saya alami akibat bosoknya layanan internet SimPATI. Ini jelas-jelas layanan dengan tingkat kebrengsekan yang amat parah, sekaligus amat sangat merugikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tingkat kegagalannya satu banding sepuluh, atau setidaknya dua banding sepuluh, itu masih bisa dimaafkan, atau setidaknya dimaklumi. Tetapi yang terjadi pada SimPATI benar-benar di luar kewajaran semacam itu. Untuk setiap sepuluh upaya download yang saya lakukan, hanya satu yang berhasil, sementara sembilan lainnya gagal. Jika dirata-rata, untuk setiap kuota 1 GB yang telah saya bayar, hanya 0,1 GB (100 MB) yang dapat saya peroleh. Apa yang lebih brengsek dari ini…???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kebrengsekan Telkomsel SimPATI tidak berhenti di situ. Dalam tiga hari terakhir, tidak ada satu pun proses download yang saya lakukan bisa berhasil, alias SEMUANYA GAGAL. Dalam puluhan kali upaya download yang saya lakukan, tidak ada satu pun yang berhasil. Kesimpulannya, Telkomsel SimPATI telah sampai pada tingkat kebrengsekan yang tak termaafkan, yang jelas-jelas sangat merugikan pelanggan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-wGSoNeYBC48/TrbSwH_fl7I/AAAAAAAAAZE/7Sac9eBC_QQ/s1600/down%2B2.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 191px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-wGSoNeYBC48/TrbSwH_fl7I/AAAAAAAAAZE/7Sac9eBC_QQ/s320/down%2B2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671952504940631986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Proses download berhenti saat memasuki 73%.&lt;br /&gt;(Data yang di-download 251 MB)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-0UXomkcgn5o/TrbTApiQfnI/AAAAAAAAAZQ/PLgPemsAM_Y/s1600/down%2B3.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 191px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-0UXomkcgn5o/TrbTApiQfnI/AAAAAAAAAZQ/PLgPemsAM_Y/s320/down%2B3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671952788822720114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Proses download berhenti saat memasuki 88%.&lt;br /&gt;(Data yang di-download 251 MB)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menjengkelkan lagi, tingkat kecepatan download yang diberikan benar-benar jauh dari yang mereka iklankan. Di dalam iklan, mereka menjanjikan bahwa kecepatan download mencapai 2 Mbps. Dalam kenyataan, tingkat kecepatannya jauh dari itu. Kadang-kadang memang mencapai 2 Mbps, tetapi sering kali di bawah 1 Mbps. Sebagai pelanggan, saya tidak hanya merasa telah dirugikan, tetapi juga telah dibohongi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, mungkin ada pembaca yang berpikir, “Yeah, kalau memang SimPATI Telkomsel benar-benar brengsek semacam itu, bagaimana kalau pindah saja ke operator lain yang lebih baik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, itu memang terdengar praktis. Tinggalkan saja si Brengsek ini, dan ganti operator lain yang lebih baik dan lebih bertanggung jawab. Tetapi jika itu yang saya lakukan, maka saya benar-benar pecundang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya berhenti menggunakan layanan internet SimPATI sekarang, maka itu sama saja melepaskan mereka dari tanggung jawab yang seharusnya mereka berikan kepada pelanggannya. Sebagai pelanggan, saya telah merasa amat sangat dirugikan oleh layanan mereka. Jika saya berhenti sekarang, maka Telkomsel akan terus melenggang santai dalam merugikan pelanggan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, saya akan tetap menggunakan layanan internet SimPATI, agar saya memiliki alasan serta dasar hukum yang kuat dalam melancarkan protes terbuka seperti ini. Lebih dari itu, saya juga ingin membuktikan kepada Telkomsel SimPATI bahwa tidak semua pelanggan mereka dapat dirugikan dan dipecundangi secara mudah. Selama mereka masih merugikan pelanggannya, saya tidak akan berhenti menulis keluhan terbuka—sampai kapan pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keluhan saya di blog ini tidak juga mendapatkan tanggapan baik dalam bentuk perbaikan layanan mereka, maka saya akan melangkah lebih jauh, yakni mulai menuliskan persoalan ini di berbagai media massa—baik cetak maupun elektronik—agar semakin banyak yang membacanya. Menulis adalah makanan pokok saya, dan media massa adalah kandang tempat saya bermain sehari-hari. Karenanya, seperti yang dikatakan Hannibal Lecter, “Kau ingin menari dengan iblis? Ayo menari!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak memaksudkan catatan ini sebagai gerakan global atau universal, ini adalah bentuk protes seorang pelanggan yang terus-menerus dirugikan oleh perusahaan yang selama ini gembar-gembor sebagai yang terbaik dan terbesar di Indonesia. Saya ingin tetap percaya kepada Telkomsel, karena itu saya ingin tetap menjadi pelanggannya. Tetapi, Telkomsel juga harus membuktikan bahwa mereka memang “terbaik dan terbesar”, sekaligus layak dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama mereka masih melakukan penipuan dan kecurangan, maka saya juga tidak akan berhenti menulis protes dan keluhan. Semakin lama mereka merugikan pelanggannya,  semakin banyak pula iklan buruk yang akan saya tulis untuk mereka. Kalau mereka merasa bisa seenaknya sendiri pada pelanggan, maka saya juga akan membuktikan bahwa pelanggan juga bisa berlaku sama pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah TK pun tahu, kalau kau menjanjikan sesuatu tapi mengingkari janjimu, maka itu adalah penipuan. Kalau pelanggan sudah membayar tapi kau tidak memberikan sesuai dengan yang mereka bayar, maka itu adalah kecurangan. Dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Untuk setiap usaha yang dibangun dengan merugikan sesama manusia,&lt;br /&gt;sebuah tempat di neraka telah disiapkan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aristoteles&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-9080569485326128052?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/9080569485326128052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/9080569485326128052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/11/ternyata-telkomsel-memang-brengsek.html' title='Ternyata Telkomsel Memang Brengsek!'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-14EmXJ5AsO0/TrbSQ85r3dI/AAAAAAAAAY4/aB8WKoD8nbM/s72-c/down%2B1.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-1791955660577142277</id><published>2011-11-05T19:38:00.005+07:00</published><updated>2011-12-13T07:06:01.587+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Manfaat Kucing Bagi Manusia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Betapa pun banyaknya kucing berkelahi,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;selalu saja banyak anak kucing lahir.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abraham Lincoln&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat jengkel bukanlah suara berisik kucing ketika berkelahi. Yang&lt;br /&gt;membuat jengkel adalah tata bahasa yang dipakai kucing ketika berkelahi.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mark Twain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak pernah paham mengapa wanita bisa mencintai kucing. Kucing suka kebebasan, tidak suka mendengarkan, cuek jika dipanggil, suka keluar malam, dan kalaupun di rumah lebih suka sendirian atau tidur. Dengan kata lain, kucing memiliki semua kebiasaan laki-laki yang dibenci wanita, tapi wanita tetap mencintai kucing.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jay Leno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kalau saja saya bisa menulis semisterius kucing.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Edgar Allan Poe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Waktu itu sudah dini hari, ketika saya masuk ke kamar dan mulai membaringkan tubuh yang letih di atas tempat tidur. Sebelum terlelap, mata saya sempat menangkap jarum jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 01:01.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian, tidur saya terbangun karena suara ledakan. Suara ledakan itu sangat keras dan terdengar amat dekat, sehingga saya sampai terbangun meski sebenarnya tubuh sangat lelah. Yang membuat saya gelisah, suara ledakan itu terdengar berada di dalam rumah. Apa yang terjadi, pikir saya sambil keluar dari kamar dengan pikiran resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya segera menyalakan lampu-lampu rumah, dan seketika seisi rumah yang semula gelap gulita berubah terang benderang. Sambil mengantuk, saya memeriksa satu per satu sisi ruangan untuk mencari-cari sumber ledakan tadi. Kaca-kaca jendela tampak masih utuh, suasana dapur terlihat rapi seperti biasa, semua bagian atap tidak ada yang terlihat bocor atau berlubang. Jadi apa yang meledak tadi...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin suara ledakan tadi bukan mimpi. Jadi saya pun terus mencari kesana kemari di dalam rumah, untuk menemukan apa sebenarnya yang meledak, sehingga saya bisa tidur kembali dengan tenang. Semua pintu saya periksa, dan semuanya masih dalam keadaan terkunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memeriksa ruang tengah, jantung saya berdetak makin cepat. Di sana, di atas karpet, tampak hamburan pecahan kaca berwarna hitam. Saya langsung tahu itu pecahan kaca yang semula menempel pada rak televisi. Tapi mengapa kaca itu bisa pecah, dan apa yang menyebabkannya meledak...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang tengah rumah saya terdapat rak televisi seperti umumnya yang ada di rumah-rumah orang lain. Rak itu punya pintu kaca di bagian depannya, dan di bagian dalam terdapat susunan rak yang biasa digunakan untuk menyimpan CD dan lainnya. Nah, kaca rak itulah yang pecah berkeping-keping, yang tadi meledak sehingga suara ledakannya membangunkan saya dari tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati-hati saya mendekati serpihan kaca di atas karpet itu, dan dengan hati-hati pula memeriksa rak yang kini tak berkaca. Bagian dalam rak itu terlihat biasa-biasa saja, tak ada yang aneh. CD koleksi saya masih terjajar rapi di sana, dan sekali lagi tak ada yang aneh. Lalu mengapa kaca rak ini bisa pecah, dan meledak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menengok ke jam dinding. Jarumnya menunjukkan pukul 02:02. Tiba-tiba seluruh rasa lelah seperti menguap, dan adrenalin membakar tubuh saya. Harus ada jawaban yang masuk akal, pikir saya dengan gundah. Harus ada jawaban yang logis mengapa kaca ini bisa meledak dan pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya pun pergi ke dapur, membuat teh hangat, lalu duduk, dan menyulut rokok. Selama berjam-jam kemudian, saya mencari berbagai kemungkinan yang sekiranya dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan tadi. Tapi tak ada yang masuk akal. Sampai subuh terdengar, saya belum mampu menemukan jawaban apa pun. Ketika pagi menjelang, rasa kantuk yang tadi sempat pergi kini datang kembali, dan akhirnya saya pun tidur dengan rasa penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bangun tidur selepas dhuhur, dan sejak itu benar-benar mengawasi seluruh isi rumah. Saya sudah bertekad untuk menemukan jawaban atas pecahnya kaca rak di ruang tengah. Dari siang sampai malam, sampai larut malam, saya terus duduk dengan tenang, sambil terus mengawasi seisi rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul satu dini hari, mata saya terpaku ke arah rak televisi yang kemarin pecah kacanya, dan saya menyaksikan... seekor kucing keluar dari dalam rak itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka terjawablah sudah misteri sialan itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini memang ada seekor kucing berukuran cukup besar, yang kadang masuk dan berkeliaran di rumah. Selama ini saya membiarkan saja, karena saya pikir mungkin dia kesepian dan butuh kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi—dalam kerangka pikiran saya—kucing itu menggunakan ruangan di rak televisi untuk tidur atau beristirahat, tanpa sepengatahuan saya. Selama ini kelakuannya tidak saya ketahui sehingga dia bebas keluar masuk ke dalam rak itu tanpa terganggu—karena saya lupa menutup (mengunci) pintu kacanya. Nah, kemarin malam itu rupanya si kucing lagi apes. Ketika dia berada di dalam rak itu, saya menutup pintu kaca rak tersebut, tanpa mengetahui ada seekor kucing di dalamnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, mungkin kucing itu kaget dan panik ketika bangun tidur dan mendapati pintu kaca tempat beristirahatnya telah tertutup dengan rapat. Kedalaman rak itu hampir satu meter. Kemudian, dengan menggunakan energi gerak berdasarkan hukum fisika yang rumusnya pasti akan memusingkan jika ditulis di sini, kucing itu akhirnya berhasil memecahkan pintu kaca rak itu, demi untuk bisa keluar dari dalamnya. Dan ledakan pecahnya kaca itulah yang kemarin malam saya dengar hingga terbangun dari tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, itu kisah yang terjadi setahun lalu. Tapi gara-gara kisah itu, saya kemudian berpikir dan terus berpikir mengenai kucing. Saya bertanya-tanya, apa sebenarnya manfaat kucing bagi manusia. Saya percaya, semua penciptaan di muka bumi ini memiliki unsur manfaat—eksplisit maupun implisit. Jadi, apa manfaat kucing...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seseorang memelihara kucing persia atau kucing anggora di rumahnya, mungkin alasannya karena penampilan kucing itu memang indah dan rupawan. Artinya, kucing semacam itu dipelihara karena keindahannya. Tapi bagaimana dengan kucing kampung atau bahkan kucing garong? Apa manfaatnya...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih aneh lagi, selama ini ada semacam kepercayaan yang menyatakan bahwa kita tidak boleh membunuh kucing. Bahkan orang bisa panik kalau tanpa sengaja menabrak kucing di tengah jalan, dan biasanya dia akan mengurus pemakaman kucing itu dengan layak. Tapi apa sebenarnya kehebatan seekor kucing? Semakin lama memikirkan hal ini, semakin dalam rasa penasaran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tokoh terkenal dalam sejarah, ada yang sengaja menjauh dari kucing—bahkan sampai fobi terhadap kucing—karena tak ingin bermasalah dengannya. Napoleon Bonaparte, yang dikenal sebagai Singa Daratan Eropa, sangat berhati-hati, bahkan menjauh dari kucing. Dia berkata, “Aku lebih suka berhadapan dengan sekompi tentara musuh, daripada berurusan dengan seekor kucing!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julius Caesar, pahlawan legendaris yang gagah perkasa, juga sangat menghindari kucing karena tak ingin bermasalah dengan sosok hewan satu itu. Begitu pula Jengis Khan, Alexander the Great, dan Adolf Hitler. Mereka semua tidak ingin “berurusan” dengan kucing, karena sama-sama percaya bahwa hewan itu dapat mendatangkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronald Reagan, aktor film Hollywood yang menjadi presiden Amerika, mengawali karir politiknya sebagai gubernur di California. Ketika menjabat sebagai Gubernur California, Reagan pernah mengeluarkan Perda (Peraturan Daerah) yang isinya melarang warga California menendang kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/04/isaac-newton-kurang-gaul.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Isaac Newton&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, bocah jenius penemu teori gravitasi, secara khusus membuat sebuah pintu kecil di rumahnya, demi agar kucing-kucing di sekitar lingkungannya dapat mudah keluar-masuk di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, Florence Nightingale, wanita yang berperan penting dalam konsep pembangunan rumah sakit modern, memelihara lebih dari 60 kucing selama hidupnya. Abraham Lincoln, presiden paling berpengaruh dalam sejarah kepresidenan Amerika, sangat menyayangi kucing. Winston Churcill, Perdana Menteri Inggris paling terkenal, juga memelihara kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditarik ke abad-abad lampau, Mesir Kuno juga sangat dikenal sebagai pemuja kucing. Bagi bangsa Mesir Kuno, kucing adalah jelmaan dewa—karenanya mereka sangat menghormati kucing. Jika orang Mesir Kuno ditinggal mati kucing piaraannya, mereka akan mencukur rambut alis mereka sebagai bentuk duka cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa hebatnya seekor kucing, hingga orang-orang sampai “segitunya” sama kucing? Lebih spesifik lagi, apa sebenarnya manfaat kucing bagi manusia, sehingga manusia memeliharanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hubungan antara manusia dengan hewan, biasanya hewan dipelihara karena memberikan manfaat bagi manusia. Kita lihat, ayam dipelihara karena telurnya. Sapi dipelihara karena susunya. Anjing dipelihara karena kesetiaannya. Kerbau dipelihara karena tenaganya. Kambing dipelihara karena dagingnya. Bahkan burung pun dipelihara karena suara kicaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang diperoleh manusia dari seekor kucing yang dipeliharanya...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal kesetiaan, kucing sering kali tidak setia kepada tuannya. Kau bisa membuat kucingmu kenyang dengan makanan mahal. Tetapi, begitu kau lengah, kucingmu bisa saja naik ke maja makan atau masuk lemari tempatmu menyimpan ikan. Dia tidak setia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing juga tidak memberikan manfaat yang jelas—bahkan suaranya pun lebih sering terdengar mengganggu daripada menyenangkan. Lebih parah lagi, dia tidak ambil pusing kalau mau buang kotoran. Akibatnya, kalau kita memelihara kucing, bisa jadi seluruh ruangan rumah kita akan menjadi tempatnya buang hajat. Lebih dari itu, kucing juga memiliki potensi bahaya bagi manusia, sehingga ibu hamil disarankan untuk menjauh dari kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa&lt;a href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/11/manfaat-kucing-bagi-manusia.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt; manfaat kucing bagi manusia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;? Saya memikirkan pertanyaan itu hingga berbulan-bulan lamanya, namun tetap belum mampu menemukan jawabannya. Di antara banyak buku dan makalah-makalah ilmiah yang saya pelajari menyangkut objek ini, tidak satu pun yang menjelaskan manfaat kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, itulah manfaatnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saya tahu apa manfaat kucing bagi manusia. Yaitu menunjukkan kepada kita, bahwa kadang-kadang di dunia ini ada sesuatu yang tidak bermanfaat. Kesimpulan ini, bagi saya, menunjukkan betapa anehnya selera humor alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-1791955660577142277?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1791955660577142277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1791955660577142277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/11/manfaat-kucing-bagi-manusia.html' title='Manfaat Kucing Bagi Manusia'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-7078537964836363033</id><published>2011-10-31T18:57:00.005+07:00</published><updated>2011-12-13T06:53:06.518+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Saya Menulis Catatan ini Dalam Kondisi Stres Berat, jadi Sebaiknya Jangan Baca Catatan ini jika Tidak Ingin Ikut Stres Berat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;—ditulis di sebuah lobi, bersama empat batang rokok &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi pertama acara itu selesai tepat pukul 12.00 siang, dan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu segera menghambur ke deretan meja tempat es krim disediakan. Ada sebagian kalangan yang meyakini bahwa es krim adalah sarana ampuh untuk “terapi mendinginkan kepala”—silakan cari sendiri sumber ilmiahnya. Jadi, dalam acara-acara seperti siang itu, berkilo-kilo es krim pun dibawa ke sana, siap mendinginkan kepala-kepala yang panas setelah memikirkan hal-hal berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mengambil semangkuk es krim, lalu membawanya ke luar, untuk mencari tempat yang membebaskan saya merokok. Di sebuah lobi yang kosong, saya duduk, menghabiskan es krim, lalu menyulut rokok. Siang yang hebat, pikir saya sambil merasakan kepala yang berdenyut. Saya menyandarkan punggung dan kepala, lalu menikmati asap rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asap rokok itu hampir mencekik tenggorokan ketika seorang anak perempuan kecil tiba-tiba berdiri di hadapan saya. Bagaimana bocah ini bisa sampai di sini, pikir saya dengan bingung. Saya menegakkan duduk, dan menatap sesosok tubuh kecil, dengan pakaian dekil, menatap ke arah saya. Entah bagaimana caranya, bocah ini telah menerobos sepasukan sekuriti di depan, dan entah bagaimana caranya pula ia sekarang bisa berdiri di hadapan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan itu berkata takut-takut, “Om, kasih uangnya, Om…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat tempat saya berada waktu itu, saya masih belum yakin kalau sekarang sedang berhadapan dengan pengemis. “Ya…?” ujar saya dengan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minta uang, Om,” ulang anak kecil itu. “Udah dua hari saya belum makan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan orang yang welas asih. Tetapi melihat sesosok bocah perempuan kecil berpakaian dekil yang mengatakan belum makan dua hari membuat hati saya menangis. Saya pernah mengalami masa-masa kelaparan, dan saya pun tahu seperti apa perihnya menahan lapar. Jadi, saya pun segera merogoh dompet, dan memberikan uang untuknya—dan diam-diam berdoa semoga itu cukup untuk mengenyangkan perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan itu memandangi uang di tangannya dengan mata berbinar. Dan hati saya semakin menangis. Saya pernah mengalami masa-masa ketika sangat membutuhkan uang, ketika saya merasa sanggup membunuh demi untuk bisa mendapatkan uang agar bisa makan. Jadi, sebelum anak perempuan kecil itu berlalu, tanpa sadar saya segera menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau es krim?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah perempuan itu menatap saya dengan pandangan berharap. Di telinganya, mungkin tawaran es krim terdengar seperti tawaran dari surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mencoba tersenyum, dan berkata, “Duduk di sini. Akan kuambilkan es krim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu duduk. Saya segera masuk ke ruangan, mengambil satu mangkuk es krim, lalu menyerahkannya pada bocah perempuan tadi. Dia melahap es krimnya dengan rakus, seolah besok sudah kiamat dan tidak akan ada es krim lagi. Jadi rupanya dia benar-benar kelaparan, batin saya dengan ngilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menghabiskan es krim di mangkuknya hingga bersih, bocah perempuan itu berkata dengan bingung, “Makasih, Om.” Lalu pergi dengan langkah-langkah ringan, meninggalkan saya yang terduduk di lobi lengang, bersama sebatang rokok yang kian menipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu siapa bocah perempuan itu. Saya bahkan tidak tahu bagaimana cara bocah itu bisa menembus gedung yang dijaga sepasukan sekuriti di depan gerbang, hingga bisa masuk ke jantung ruangan. Lebih dari itu, saya tidak tahu di mana alamatnya, siapa orangtuanya, dan mengapa dia bisa sampai terlahirkan ke dunia. Yang saya tahu, batang rokok saya telah habis, dan saya harus menyulut sebatang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati kepulan asap rokok, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah bocah perempuan tadi meminta dilahirkan ke dunia? Tanpa harus membaca Immanuel Kant, saya yakin bocah kecil berpakaian dekil itu tidak pernah minta dilahirkan ke dunia. Lalu bagaimana ia bisa sampai terlahirkan ke dunia? Tentu saja karena ada sepasang manusia—lelaki dan perempuan—yang menginginkannya lahir ke dunia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali membayangkan bocah perempuan tadi. Usianya mungkin baru delapan, sembilan, atau sepuluh tahun. Wajahnya kotor, pakaiannya dekil, tubuhnya kurus, tatapan matanya kuyu. Saya juga masih ingat suaranya saat mengatakan dirinya belum makan dua hari. Saya membayangkan alangkah malangnya bocah perempuan itu. Ia tidak pernah minta dilahirkan ke dunia, tetapi dia kemudian dilahirkan ke dunia untuk menerima kesusahan dan penderitaan dan kelaparan dan kemalangan dan kesepian….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya bertanya-tanya lagi dalam hati, kenapa ada orang yang tega-teganya melahirkan seorang anak hanya untuk memberinya kepahitan hidup? Mengapa ada orang tua yang melahirkan anak, jika tidak bisa memberikan tangung jawab yang layak untuk anaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/malin-kundang-sebuah-catatan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Setiap anak yang terlahir ke dunia tidak pernah minta dilahirkan—mereka dilahirkan karena kehendak orangtuanya&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Karenanya, setiap orang tua memiliki tanggung jawab serta kewajiban untuk memberikan kehidupan yang layak kepada setiap anak yang dilahirkannya—meski “kelayakan” adalah hal relatif. Tetapi jika seorang anak dilahirkan hanya untuk merasakan kesusahan dan kelaparan serta penderitaan, itu adalah sebentuk kedhaliman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku L’existentialisme est un Humanisme, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/kata-sartre-buku-lebih-hebat-dibanding.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jean-Paul Sartre&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; menulis, “L’existence précède l’essence.” Keadaan mendahului keberadaan, eksistensi mendahului esensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sartre memang eksistensialis sejati, sehingga bisa melihat secara jernih bahwa eksistensi (memang) berasal dari esensi. Tanpa bermaksud menyederhanakan masalah, sebenarnya itulah inti masalahnya—tepat seperti yang dinyatakan Sartre, bahwa “Keadaan mendahului keberadaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah perempuan kecil tadi adalah “keberadaan”, sementara latar belakang kelahirannya adalah “keadaan”. Keberadaan diciptakan oleh keadaan—dan keadaan memaksa bocah perempuan kecil itu terlahirkan ke dunia. Eksistensi datang melalui esensi, manifestasi tercipta karena kondisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok saya habis. Saya ambil sebatang lagi, dan menyulutnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya membayangkan l’existence (keadaan) yang melahirkan bocah perempuan kecil tadi. Bersama asap rokok yang mengepul, saya bisa membayangkan sepasang lelaki dan perempuan yang pada mulanya lajang, kemudian memutuskan untuk menikah, karena (mungkin) mereka berpikir harus menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih lajang, mungkin mereka diolok-olok masyarakatnya, “Kapan kawin? Kawin kapan?”, sehingga memutuskan untuk cepat-cepat menikah. Setelah menikah, masyarakatnya kembali bertanya-tanya, “Kapan punya anak?” Maka sepasang lelaki dan perempuan itu pun kemudian memutuskan untuk segera punya anak. Dan setelah itu tuntutan masyarakat mereka tidak berhenti, dan mereka terus menuruti tuntutan itu, tak peduli jika tuntutan itu berakibat menelantarkan anak-anak tak berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap anak membawa rezekinya sendiri-sendiri,” kata masyarakat mereka. Tetapi fakta bahwa ada jutaan anak yang hidup kelaparan di dunia, dengan jelas membuktikan bahwa doktrin itu hanya omong kosong. Pembela doktrin itu bisa saja mengkambinghitamkan pemerintah yang korup, menyalahkan para kapitalis yang rakus, atau menunjuk sistem sosial yang bobrok. Tetapi, yang jelas, “L’existence précède l’essence.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan mendahului keberadaan, eksistensi mendahului esensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem masyarakat sendirilah yang sesungguhnya melahirkan anak-anak malang itu, sehingga anak-anak yang sebenarnya tidak minta dilahirkan terpaksa dilahirkan. Sistem masyarakatlah yang—tanpa sadar—telah memaksa seorang lelaki dan perempuan untuk menikah tanpa peduli bagaimana keadaan mereka, dan kemudian memaksa mereka untuk melahirkan anak-anak yang dilahirkan hanya untuk menanggung kepahitan hidup, kelaparan, kedinginan, dan kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu dalam hidup diciptakan untuk dipilih—bukan untuk dipaksakan. Tetapi sistem masyarakat telah menjadikan “pilihan” menjadi sebentuk “pemaksaan”. Ironisnya, salah satu hal yang dilahirkan dalam pemaksaan itu adalah anak-anak kelaparan, yang ditikam penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-7078537964836363033?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7078537964836363033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7078537964836363033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/10/saya-menulis-catatan-ini-dalam-kondisi.html' title='Saya Menulis Catatan ini Dalam Kondisi Stres Berat, jadi Sebaiknya Jangan Baca Catatan ini jika Tidak Ingin Ikut Stres Berat'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-8113218540341219826</id><published>2011-10-31T18:56:00.003+07:00</published><updated>2011-12-13T03:13:11.278+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>For You</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampeyan benar-benar bijaksana, Mbakyu…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;a href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/07/hey-you.html"&gt;love you&lt;/a&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-8113218540341219826?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8113218540341219826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8113218540341219826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/10/for-you.html' title='For You'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-5341512492297928351</id><published>2011-10-30T00:56:00.011+07:00</published><updated>2011-12-13T06:54:52.693+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Oke, Ini tentang Telkomsel</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Kesalahan terbesar yang sering kali dilakukan perusahaan adalah terlalu fokus pada keuntungan, tetapi mengabaikan keluhan pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peter F. Drucker,&lt;br /&gt;pakar bisnis dan manajemen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca blog ini mungkin sudah menunggu hasil perkembangan layanan internet SimPATI Telkomsel setelah sebelumnya saya dua kali menulis keluhan terbuka di blog ini. Dan saya juga sudah menjanjikan untuk menulis post ketiga yang akan memberitahukan apakah Telkomsel sudah memperbaiki layanannya, ataukah masih bosok seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, saya agak bingung menulis post ini. Dalam seminggu terakhir (sejak saya menulis post: &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/10/potret-bosok-telkomsel-simpati.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Potret Bosok Telkomsel SimPATI&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;), layanan internet SimPATI memang dapat dikatakan tidak ada perubahan—tetap menjengkelkan sekaligus merugikan, karena proses download yang saya lakukan terus-menerus gagal di tengah jalan. Lebih dari itu, jaringan yang mereka berikan juga terus-menerus EDGE, sehingga praktis layanan internet SimPATI tidak dapat digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam dua hari terakhir (tanggal 28 dan 29 Oktober 2011), sepertinya Telkomsel sudah berusaha memperbaiki layanan internetnya. Dalam seminggu terakhir saya terus-menerus mencoba menggunakan layanan paket FUN Night, dan dalam dua hari terakhir bisa dikatakan layanan internet mereka sudah membaik, dalam arti proses download yang saya lakukan cukup lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kata “cukup” di atas. Saya baru bisa menyatakan “cukup lancar”, karena tingkat kelancarannya tetap masih kurang baik—jika dibandingkan ketika saya baru menggunakan layanan ini berbulan-bulan lalu. Dalam dua hari terakhir, proses download yang saya lakukan tidak lagi terputus di tengah jalan, namun kecepatannya sering kali jauh dari kecepatan yang dijanjikan (2 Mbps).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, jaringan internet SimPATI saya baru mendapatkan sinyal 3G/HSDPA setelah pukul satu lebih. Sebelum pukul satu dini hari, saya hanya mendapatkan jaringan EDGE, sehingga jangankan bisa melakukan download, bahkan membuka Google atau inbox di Gmail saja susahnya minta ampun. Padahal, di dalam iklan FUN Night, dinyatakan dengan jelas dan gamblang bahwa paket tersebut dapat digunakan sejak pukul 00:01. Namun, dalam praktiknya, saya baru bisa menggunakan paket tersebut setelah pukul satu lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengacu pada pengalaman teman-teman saya yang menggunakan layanan internet SimPATI, diperoleh keterangan bahwa sinyal internet SimPATI terus-menerus EDGE sepanjang hari, sehingga praktis tidak bisa digunakan untuk berinternet. Namun fokus keluhan saya dalam rangkaian catatan di blog ini hanya pada paket FUN Night.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai layanan internet SimPATI di luar FUN Night, saya tidak tahu karena saya tidak lagi menggunakan internet SimPATI sejak mereka memberlakukan terminate session yang saya anggap sebagai kecurangan atau kebijakan yang “seenaknya sendiri” karena sebelumnya tidak ada keterangan mengenai hal itu. (Penjelasan mengenai adanya terminate session pada internet SimPATI tersebut bisa dibaca di blog Diptara, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.diptara.com/2011/07/tanggapan-telkomsel-terkait-complain.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di post ini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, saya berharap Telkomsel terus memperbaiki kekurangan di atas, sehingga saya—dan para pelanggan yang lain—dapat menikmati paket FUN Night sebagaimana yang dijanjikan dalam iklannya, juga agar proses download yang kami lakukan bisa terus lancar dan tidak terputus-putus di tengah jalan, sehingga kami tidak merasa dirugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap catatan ini cukup adil bagi semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca blog ini yang sudah menunggu saya “ngamuk-ngamuk” mungkin akan kecewa dengan catatan ini, tapi terus-terang saya tidak enak hati jika terus marah-marah pada Telkomsel, padahal mereka sedang berusaha memperbaiki diri. Fakta bahwa dua hari terakhir saya dapat menikmati layanan FUN Night dengan lebih baik (meski belum sesuai dengan iklannya) sudah cukup membuktikan bahwa Telkomsel sedang berusaha memperbaiki diri, dan sepertinya sangat tidak bijak jika kita masih marah-marah pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekali lagi, saya berharap Telkomsel terus memperbaiki layanannya agar pelanggan tidak merasa tertipu atau kecewa karena mendapatkan sesuatu yang jelas-jelas beda dari iklannya. Jika dalam iklan dengan jelas dinyatakan bahwa paket FUN Night dapat dinikmati sejak pukul 00:01 dan memiliki kecepatan download hingga 2 Mbps, maka &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tolong, tolong, tolong&lt;/span&gt; berikan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena iklan dibuat untuk menawarkan pelayanan… dan bukan sarana penipuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PS:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agar rangkaian catatan ini tidak terhenti di tengah jalan tanpa kesimpulan yang jelas, saya akan menunggu satu minggu lagi, terhitung sejak dipostingnya catatan ini. Intinya, selama Telkomsel belum memenuhi janjinya sebagaimana yang tertera dalam iklan, sehingga pelanggan merasa dirugikan, saya tidak akan berhenti menulis keluhan terbuka di blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-5341512492297928351?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5341512492297928351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5341512492297928351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/10/oke-ini-tentang-telkomsel.html' title='Oke, Ini tentang Telkomsel'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4453529183124565087</id><published>2011-10-21T02:29:00.006+07:00</published><updated>2011-12-13T06:56:34.219+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Potret Bosok Telkomsel SimPATI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Para raksasa, kau tahu, tidak punya simpati apalagi empati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mereka itu kanibal, jahat, sekaligus bodoh!&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;J.K. Rowling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyangka kalau perusahaan sebesar Telkomsel ternyata jauh lebih bosok dari yang saya bayangkan. Pada 12 Oktober kemarin, saya menulis post berjudul &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/10/telkomsel-simpati-benar-benar-bosok.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Telkomsel SimPATI Benar-benar Bosok&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, yang berisi keluhan terbuka atas bosoknya kualitas internet mereka, sehingga saya terus-menerus mengalami kerugian karena proses download terus-menerus gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah saya duga, keluhan terbuka itu tidak mendapat respon positif dari Telkomsel—mungkin karena mereka merasa dirinya terlalu besar, sehingga tak mau repot-repot untuk mengurusi keluhan dari seorang pelanggan. Karena itu pula, saya pun sudah menyiapkan post lain yang akan menindaklanjuti post pertama itu. Namun, untuk menunjukkan itikad baik, saya terlebih dulu mencoba menghubungi Telkomsel, melalui email customer service mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pada tanggal 16 Oktober 2011 (empat hari setelah post itu saya tulis), saya mengirim email ke cs@telkomsel.co.id. Berikut ini adalah isi email yang saya kirimkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dear Customer Service Telkomsel,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saya adalah pelanggan Telkomsel SimPATI yang sering menggunakan paket FUN Night untuk keperluan download. Dulu, sewaktu baru menggunakan paket tersebut, saya cukup puas, karena proses download yang saya lakukan dapat dibilang tak ada masalah. Namun akhir-akhir ini, proses download yang saya lakukan terus-menerus gagal di tengah jalan, bahkan makin hari intensitasnya semakin parah. Saya mulai mengalami masalah ini sejak awal Oktober 2011, sementara teman-teman saya yang juga menggunakan paket FUN Night telah mengalami masalah ini sejak September 2011.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karena proses download yang saya lakukan mengalami kegagalan terus-menerus, maka jatah kuota yang telah saya bayar dalam paket tersebut terus-menerus berkurang, namun saya tidak mendapatkan apa-apa. Ini tentu sangat mengesalkan sekaligus merugikan. Karenanya, saya telah menuliskan keluhan terbuka atas masalah ini di blog saya, dengan harapan pihak Telkomsel menindaklanjuti keluhan saya tersebut, sehingga dapat memperbaiki layanannya. Jika Anda atau pihak Telkomsel belum membaca keluhan tersebut, Anda bisa membacanya &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/10/telkomsel-simpati-benar-benar-bosok.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sudah tiga hari catatan itu saya posting di blog, namun layanan internet FUN Night tetap tidak ada perubahan, bahkan makin hari makin parah. Setiap kali saya melakukan download, setiap kali pula proses download itu gagal. Ini jelas bukan sesuatu yang dapat dimaklumi, mengingat kami telah membayarnya. Sebagai konsumen, terus terang saya merasa amat sangat dirugikan atas hal ini. Untuk itu, saya berencana untuk menulis keluhan terbuka lagi di blog saya, agar semakin banyak orang yang membacanya. Namun, sebagai itikad baik, saya sengaja menulis email ini terlebih dulu, sebelum saya menulis keluhan terbuka lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadi, inilah yang saya tawarkan; tolong perbaiki layanan internet FUN Night, agar saya dan pelanggan yang lain tidak terus-menerus dirugikan. Jika dalam waktu tiga hari mendatang Telkomsel telah memperbaiki layanan FUN Night (dengan bukti saya dan pelanggan lain bisa melakukan download tanpa terus-menerus gagal seperti sekarang), maka saya akan membatalkan niat saya untuk menulis keluhan terbuka di blog. Namun, jika dalam tiga hari mendatang Telkomsel tetap merugikan pelanggannya dengan bukti proses download dalam paket FUN Night terus-menerus gagal seperti sekarang, maka saya akan memposting keluhan terbuka lagi, yang kali ini jauh lebih keras dari isi posting pertama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perlu saya tegaskan di sini, bahwa saya tidak bermaksud meminta ganti rugi atau semacamnya. Yang saya inginkan hanyalah agar saya dan pelanggan lain mendapatkan hak kami tanpa harus dirugikan, agar paket kuota yang telah kami bayar dalam paket FUN Night tidak terbuang percuma karena terus-menerus gagal di tengah proses download. Selama Telkomsel masih merugikan pelanggannya (dengan bukti proses download yang saya lakukan terus-menerus gagal), maka saya tidak akan berhenti menulis keluhan saya secara terbuka di blog, sampai kapan pun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Demikian, saya berharap keluhan ini mendapatkan tanggapan baik sebagaimana mestinya. Atas perhatian dan kerjasamanya, saya mengucapkan terima kasih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saya mengirim email di atas, sampai hari ini belum ada perbaikan apa pun atas layanan internet mereka. Yang ada, makin hari kualitas internet mereka justru semakin parah! Di iklan mereka mengenai paket FUN Night, dengan jelas dan gamblang mereka menjanjikan kecepatan download mencapai 2 Mbps. Faktanya, jaringan yang mereka berikan sekarang hanya EDGE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, awal-awal ketika saya menggunakan paket FUN Night, sinyal Telkomsel memang stabil, begitu pula kecepatan download yang diberikannya. Tetapi sekarang, seperti yang sudah dibilang di atas, sinyal mereka benar-benar parah—bukannya HSDPA atau 3G, tapi EDGE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haloooowww...??? Dengan kualitas sinyal yang hanya EDGE, membuka inbox di Gmail saja susahnya minta ampun, apalagi untuk download hingga kecepatan 2 Mbps! Dan, omong-omong, hari gini masih menjual EDGE dengan harga mahal...??? Fakta bahwa saya hanya mendapatkan sinyal EDGE untuk berinternet, dengan jelas menunjukkan bahwa Telkomsel menjual barang murahan dengan harga yang amat mahal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya mengirim email di atas, mereka memang membalas email saya. Tetapi, seperti yang saya nyatakan di atas pula, sama sekali belum ada perbaikan apa pun atas kualitas layanan internet mereka, bahkan makin hari makin parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada email terakhir saya untuk mereka, saya menyatakan dengan jelas bahwa saya akan menunggu sampai satu minggu ke depan (terhitung sejak diterimanya email tersebut). Jika dalam satu minggu ke depan layanan internet SimPATI sudah diperbaiki (dengan bukti saya lancar menggunakannya tanpa masalah lagi), maka saya akan bertindak fair dengan menulis post di blog ini, bahwa Telkomsel telah memperbaiki layanan internetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika dalam satu minggu ke depan kualitas layanan internet SimPATI masih saja buruk seperti yang saya alami selama ini, maka saya akan menulis post ketiga yang juga berisi keluhan terbuka untuk Telkomsel, dan saya bisa menjanjikan bahwa post itu akan jauh lebih keras dari post sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kawan-kawan, kita akan menunggu sampai satu minggu ke depan. Jika Telkomsel memperbaiki kualitas layanannya, saya akan memberitahu kalian di sini atas hal itu, agar catatan saya mengenai Telkomsel benar-benar fair. Tetapi, jika dalam satu minggu ke depan mereka tetap saja bosok seperti ini, maka saya juga akan memberitahu kalian bahwa mereka memang bosok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam bisnis, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan.&lt;br /&gt;Yang pertama adalah pelanggan, yang kedua adalah pelanggan,&lt;br /&gt;dan yang ketiga adalah pelanggan.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenneth Blanchard, Konsultan Perusahaan AS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4453529183124565087?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4453529183124565087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4453529183124565087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/10/potret-bosok-telkomsel-simpati.html' title='Potret Bosok Telkomsel SimPATI'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3445416829400964633</id><published>2011-10-12T03:44:00.007+07:00</published><updated>2011-12-13T06:58:23.739+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Telkomsel SimPATI Benar-benar Bosok</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Para raksasa itu hanya tampaknya saja yang besar dan hebat,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tapi sesungguhnya bodoh, curang, dan jahat.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;J.R.R. Tolkien&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman, kalian pasti masih ingat tentang catatan saya yang mengeluhkan perihal internet SimPATI beberapa waktu yang lalu. (Silakan lihat &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/06/hei-simpati-sampai-kapan-kau-akan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;). Di dalam catatan itu saya mengeluhkan internet SimPATI yang terus-menerus putus di tengah jalan, sehingga aktivitas berinternet jadi sangat tidak nyaman. Nah, sekarang layanan internet SimPATI kembali mengulangi hal semacam itu, bahkan kali ini jauh lebih parah sekaligus sangat merugikan konsumennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar catatan ini runtut dan tidak menimbulkan kesalahpahaman, saya akan menceritakan terlebih dulu kasus terdahulu, dan kenapa saya harus kembali menulis keluhan ini di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika saya menulis keluhan untuk SimPATI, saya sudah memberi kesempatan pada pihak Telkomsel SimPATI untuk memberikan hak jawab jika mereka memang merasa perlu menanggapi tulisan saya. Tapi mereka sama sekali tidak memberikan respon positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena SimPATI tidak merespon keluhan saya, maka keluhan itu lalu ditindaklanjuti sohib blogger saya, Pak Joko Sutarto, yang kemudian mengirimkan DM (direct message) ke official Twitter Telkomsel. Direct message dari Pak Joko dicuekin oleh Telkomsel, maka Pak Joko pun menuliskan kritiknya secara langsung di blognya, untuk menindaklanjuti keluhan saya tadi. Posting Pak Joko mengenai hal itu bisa dilihat &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.diptara.com/2011/07/telkomsel-diam-diam-curang-dalam-paket.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Joko merasa perlu menindaklanjuti keluhan saya, karena dulu pernah menulis post iklan dari Telkomsel. Meski keluhan saya sama sekali bukan tanggung jawabnya, tetapi Pak Joko merasa punya tanggung jawab moral, sehingga mau “cawe-cawe” menyampaikan keluhan saya ke pihak Telkomsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, posting yang ditulis Pak Joko itu tetap tidak mendapat respon positif dari Telkomsel. Karenanya, Pak Joko kembali menulis post kedua, yang kali ini dengan jelas menunjukkan kecurangan Telkomsel. Post itu dilengkapi data-data valid menggunakan Bitmeter, yang dengan jelas membuktikan kalau Telkomsel memang telah berlaku curang pada para pelanggannya. Post tersebut bisa dilihat &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.diptara.com/2011/07/bukti-hasil-pengujian-simpati-gratis.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah post kedua itu, Telkomsel baru memberikan respon. Berdasarkan respon yang diberikan Telkomsel kepada Pak Joko, dinyatakan bahwa paket internetan yang jadi masalah itu sebenarnya ditujukan untuk ponsel, bukan untuk komputer, sehingga setelah mencapai kuota 5 MB, maka sinyal akan diputus. Penjelasan selengkapnya bisa dilihat &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.diptara.com/2011/07/tanggapan-telkomsel-terkait-complain.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca penjelasan Telkomsel yang diposting di blog Pak Joko tersebut, saya menyatakan (dalam kolom komentar) bahwa jawaban dan penjelasan Telkomsel itu sangat apologies dan tidak bertanggung jawab, bahkan terkesan akal-akalan, karena dulu dalam iklannya tidak ada penjelasan menyangkut hal itu. Tetapi kasus itu selesai sampai di situ, dan saya—sebagai konsumen—tidak bisa apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang Telkomsel melakukan hal serupa seperti itu, bahkan kali ini jauh lebih parah, bahkan amat sangat merugikan konsumennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telkomsel SimPATI memiliki paket khusus download bernama Paket FUN Night atau Midnight Flash Unlimited. Berikut ini adalah penjelasan mengenai paket tersebut, saya kutip langsung dari web resmi Telkomsel:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Paket FUN Night atau Midnight Flash Unlimited  adalah paket Internet Unlimited dengan bonus kuota (fair use) yang hanya dapat digunakan pada tengah malam (00:01 - 05:59) dengan masa aktif paket 30 hari (Paket Rp. 25.000 dan Rp. 50.000) serta paket harian Rp. 1.000. Paket ini sangat cocok untuk mereka yang gemar download, streaming atau mereka yang suka aktivitas Internet di malam hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertengahan September lalu, saya tidak pernah online, karena sangat sibuk. Pada 5 Oktober 2011, saya perlu men-donwload sejumlah data dari internet, maka saya pun online dan mengaktifkan paket FUN Night yang Rp. 50.000, sehingga mendapatkan jatah kuota sebesar 8 GB. See, jatah 8 GB itu saya peroleh dengan membayar, dan bukan gratisan. Artinya, untuk setiap kilobite yang saya peroleh, saya peroleh dengan membayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di sinilah kecurangan Telkomsel SimPATI terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika proses download sedang terjadi, tiba-tiba proses itu berhenti di tengah jalan, tepat ketika memasuki jumlah 70-an MB. Artinya, jika saya men-download data sejumlah 200 MB, misalnya, maka proses download itu gagal dan saya harus mengulanginya dari awal. Dan begitu terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi masalah, sejumlah data yang ter-download (tapi gagal) tadi akan hilang, dan itu artinya jumlah kuota yang saya miliki akan terus berkurang—pelan namun pasti. Ketika hal ini terjadi satu-dua kali, saya berusaha untuk memaklumi. Tetapi ketika hal semacam itu terjadi terus-menerus, saya pun sampai pada kesimpulan bahwa putus atau gagalnya proses download itu memang disengaja oleh pihak Telkomsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, masalah yang amat menjengkelkan sekaligus merugikan ini telah terjadi sejak tanggal 5 Oktober hingga hari ini (12 Oktober 2011). Artinya, sudah seminggu lamanya saya menghadapi proses download yang terus-menerus gagal di tengah jalan—tepat ketika jumlah yang ter-download mencapai 70-an MB. Tanpa harus belajar statistik, kita tahu bahwa kegagalan download itu pasti terjadi karena faktor kesengajaan, dan bukan semata kebetulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sangat-sangat merugikan sekaligus menjengkelkan. Merugikan, karena jatah kuota yang telah saya bayar terus-menerus berkurang, tetapi saya tidak mendapatkan apa-apa. Menjengkelkan, karena ini benar-benar membuang waktu saya. Karenanya, meminjam istilah &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://mbelgedez.com/2008/08/21/kartu-halo-telkomsel-brengsek/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mbelgedez&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, yang dilakukan Telkomsel SimPATI kali ini benar-benar sudah bosok! Bagaimana tidak bosok? Mereka merampas perlahan-lahan jatah kuota yang telah dibayar pelanggannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong jangan ajari saya tentang menggunakan software download atau semacamnya. Yang jadi masalah di sini bukan apakah saya menggunakan software download atau tidak. Yang jadi masalah di sini adalah bahwa SimPATI telah dengan sengaja menghentikan proses download yang saya lakukan—entah apa alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita membaca penjelasan mengenai Paket FUN Night ini, dengan jelas Telkomsel menyatakan, bahwa “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Paket ini sangat cocok untuk mereka yang gemar download&lt;/span&gt;”. Lalu kenapa proses download harus dihentikan ketika jumlahnya mencapai 70-an MB? Rata-rata jumlah data yang saya download 200-an MB. Dan selama berpuluh-puluh kali mencoba men-download selama seminggu ini, proses download saya terus-menerus gagal di tengah jalan, sementara jatah kuota saya terus-menerus berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menulis catatan ini, saya menghubungi beberapa teman yang juga menggunakan paket Fun Night, agar saya lebih jelas mengetahui masalahnya—apakah hanya saya yang mengalaminya, ataukah orang lain juga sama. Ternyata teman-teman saya juga mengalaminya. Mereka bahkan menyatakan bahwa masalah ini telah terjadi sejak bulan September lalu—jauh-jauh hari sebelum saya mengalaminya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman bahkan menganjurkan, “Coba kamu lihat laman Telkomsel SimPATI di Facebook. Di sana juga banyak orang protes mengenai hal yang sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, persoalan ini bukan hanya menimpa saya, tetapi juga pada para pelanggan Telkomsel SimPATI yang lain. Pertanyaannya sekarang, mengapa Telkomsel melakukan kecurangan yang amat sangat merugikan pelanggannya seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika saya protes dan mengeluh tentang sambungan internet yang putus-putus di tengah jalan, mereka menyatakan bahwa paket internet itu hanya ditujukan untuk ponsel. Meski dongkol, saya mencoba memaklumi penjelasan itu, karena bisa dibilang itu paket gratisan. Tetapi yang terjadi sekarang sama sekali bukan gratisan. Saya—dan pelanggan yang lain—telah membayar untuk setiap kuota yang kami dapatkan. Kenapa masih harus dicurangi seperti ini…???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terpaksa menulis keluhan terbuka seperti ini, karena saya diberitahu banyak teman bahwa percuma saja menyampaikan keluhan via email atau hotline customer service Telkomsel. Jadi, kalau ada pihak dari Telkomsel yang kebetulan membaca catatan ini, dan merasa perlu memberikan jawaban, silakan hubungi email saya. Jika jawabannya bertanggung jawab dan bukan apologi, saya akan memuatnya di blog ini sebagai tanggung jawab atas catatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Aturan mainnya sederhana, fellas.&lt;br /&gt;Kau kecewakan pelangganmu, maka pelanggan akan meneriakimu.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peter F. Drucker&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3445416829400964633?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3445416829400964633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3445416829400964633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/10/telkomsel-simpati-benar-benar-bosok.html' title='Telkomsel SimPATI Benar-benar Bosok'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-8126118645624917348</id><published>2011-10-01T01:13:00.008+07:00</published><updated>2011-10-01T01:17:59.903+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Fana</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-8126118645624917348?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8126118645624917348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8126118645624917348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/10/blog-post.html' title='Fana'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-699817306818165696</id><published>2011-09-19T17:28:00.009+07:00</published><updated>2011-12-13T06:51:30.403+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta dan Lainnya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Posting Terakhir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Teman-teman, post ini kemungkinan besar akan menjadi posting terakhir saya untuk saat ini. Seperti yang pernah saya ceritakan &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/06/mohon-doa-restu.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, saat ini saya sedang mengerjakan naskah yang sangat berat. Nah, naskah tersebut sekarang sudah masuk penerbit, dan tanggal deadline telah ditetapkan. Artinya, saya harus benar-benar mengkonsentrasikan seluruh energi, waktu, dan pikiran untuk menggarap naskah itu. Bahkan saat ini saya sudah mulai berkejaran dengan waktu deadline tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, saya juga sekarang tengah mengerjakan sesuatu yang tidak memungkinkan terhubung internet terus-menerus. So, ini adalah posting terakhir saat ini, karena mulai besok saya sudah mulai terputus dari peradaban, dan artinya juga sudah sulit terhubung dengan dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kapan saya akan kembali? Saya belum bisa memastikan atau menjanjikan. Mungkin saya akan mulai menulis lagi di blog ini jika semua urusan sudah selesai. Atau, jika sewaktu-waktu saya stres berat dan butuh menggalau, mungkin saya akan menulis kegalauan itu di sini—tetapi tidak janji. Doakan saja semoga saya bisa segera kembali ke blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekali lagi, post ini adalah salam terakhir dari saya untuk kalian. Buat teman-teman yang selama ini rutin mengunjungi blog ini, semoga kalian tidak kehilangan ya, hehe. Juga buat teman-teman sesama blogger, mulai besok saya tidak bisa lagi berkunjung dan keluyuran ke blog kalian untuk menyapa atau sekadar haha-hihi—oh, saya pasti akan merindukan kalian. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, karena ini adalah post terakhir, saya sengaja mencari topik paling spesial untuk saya persembahkan buat kalian. Dan kebetulan saya (merasa) memiliki topik spesial itu untuk saya tulis sekarang. Ini adalah kisah tentang seorang blogger wanita yang saya kenal di dunia maya… seorang wanita yang belum pernah saya lihat, namun telah membuat saya jatuh cinta….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(0, 51, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/12/saat-terakhir.html"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pikiran Cinta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Di dalam kehidupan pribadi, saya tidak menjadikan pernikahan sebagai prioritas penting. Artinya, meski mungkin saya akan menikah, tetapi pernikahan tidak menempati peringkat atas dalam daftar prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hidup, saya memiliki setumpuk prioritas penting yang ingin saya kejar, dan pernikahan menempati peringkat yang tergolong “sunah”. Artinya, jika saya kebetulan bisa menikah ya syukur, kalau tidak ya tidak apa-apa—karena masih banyak hal lain yang (bagi saya) lebih penting dibanding “sekadar” pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para lajang—khususnya yang telah cukup umur—pertanyaan yang paling umum didengar adalah pertanyaan klise berbunyi, “Kapan kawin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun saya. Pertanyaan itu telah saya dengar jutaan kali, atau bahkan milyaran kali, saking seringnya pertanyaan itu saya dengar. Bagi kebanyakan masyarakat kita, seseorang akan dianggap “aneh” atau “kurang lengkap” jika belum memiliki pasangan hidup—khususnya jika kehidupannya telah cukup mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian besar masyarakat kita, pernikahan adalah hal penting (atau bahkan paling penting), sehingga mereka akan bertanya-tanya, “Apa lagi yang ditunggu?” jika seorang lajang tidak juga menikah padahal hidupnya telah cukup layak. Pasangan hidup dan anak-anak, sepertinya, telah menjadi semacam “tiket mutlak” untuk dianggap sebagai manusia normal dalam kultur sebagian besar masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kadang-kadang, saat sendirian, saya bertanya pada diri sendiri, “Hei, Hoeda, kapan kamu akan kawin?” Kemudian saya akan tersenyum sendiri. Jujur saja, bagi saya, ada banyak hal lain yang lebih mempesona dibanding “sekadar” pernikahan. Seperti yang telah saya nyatakan di atas, pernikahan bagi saya hanya berhukum sunah—jika bisa melakukannya ya syukur, jika tidak ya tidak apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menikah bukan karena faktor usia, bukan karena tuntutan masyarakat, bukan karena adat semata-mata, melainkan karena… cinta. Saya hanya akan menikah dengan orang yang benar-benar saya cintai. Jika menemukannya, saya akan menikah dengannya. Jika tidak, ya tidak apa-apa. Untuk kesejuta kalinya, masih ada banyak hal lain yang lebih menakjubkan bagi saya selain pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, well, mungkin ini kedengarannya idealis. Tetapi mengapa kita tidak percaya pada cinta? Mengapa kita harus terburu-buru menikah hanya karena berpikir tidak akan menemukan sosok terbaik dan paling tepat yang akan kita ajak menghabiskan hari-hari kita di dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya hidup adalah soal pilihan. Dan saya memilih untuk menunggu yang terbaik. Jika ia datang, saya akan mengulurkan tangan. Jika tidak datang, well… saya punya setumpuk kegiatan dan kesibukan yang sangat menyenangkan. Konstruksi hidup seseorang berada di atas landasan pilihan, dan setiap pilihan dibangun di atas fondasi keyakinan. Karena keyakinan manusia berbeda-beda, maka tentu berbeda pula pilihan dan keputusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan itu juga ada dalam pernikahan. Ada yang memilih untuk segera menikah dengan berbagai alasan, ada pula yang memilih santai dan tak terburu-buru dengan berbagai alasan pula. Bahkan, ada yang memutuskan untuk hidup melajang dan tak akan menikah, karena berbagai alasan yang diyakininya. Semuanya itu tentu sah—karena hidup adalah soal pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan… saya memilih untuk menikah karena cinta. Mengapa ini penting? Karena saya ingin kelak tidak mengeluh jika harus berbagi hidup dengan pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah, mau tak mau saya harus membagi diri, waktu, pikiran, energi, dan segala hal dalam hidup dengan pasangan. Jika saya tidak mencintainya, maka saya akan mengeluh saat melakukannya. Saya tidak ingin mengeluh. Saya ingin melakukan semuanya itu dengan rasa cinta. Saya ingin hidup bersama pasangan bukan berdasarkan kewajiban dan tanggung jawab semata, tetapi juga karena cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kapan saya akan jatuh cinta…? Saya tidak tahu. Tetapi, kalau boleh jujur, saya belum ingin jatuh cinta. Saya masih ingin asyik dengan kesendirian, dengan kegiatan dan kesibukan saya… dan rasanya belum siap untuk berbagi dengan seorang pasangan. Menjalin hubungan dengan seseorang itu membutukan banyak waktu, dan pikiran, dan energi, sekaligus komitmen, dan saya belum siap melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau pas berdoa menyangkut jodoh, biasanya saya akan berdoa, “Tuhan, tolong jangan dekatkan dulu jodoh saya ya, soalnya saya belum siap jatuh cinta…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, seperti yang dikatakan para filsuf, manusia berencana dan alam tertawa. Saya berharap agar tidak dulu jatuh cinta, tetapi cinta itu ternyata datang pada waktu yang tak terduga, di tempat yang tak disangka-sangka. Seperti loncatan bintang, perasaan cinta itu melesat tiba-tiba dari arah yang tak terlihat, dan menguasai pikiran saya. Ini adalah cinta paling aneh yang pernah saya rasakan… cinta pada seseorang yang bahkan belum pernah saya saksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran cinta itu bahkan membuat saya sempat berpikir ditakdirkan menikah. Ceritanya, suatu hari, tanpa sengaja saya menemukan sebuah blog milik seorang wanita. Itu sekitar dua tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal cerita, suatu malam saya “keluyuran” di internet, dan “kesasar” ke blog wanita itu. Saya sudah lupa bagaimana bisa kesasar ke sana, tetapi yang jelas saya kemudian datang lagi dan datang lagi ke blognya. (Sori, saya tidak bisa menyebutkan nama atau link blog tersebut, karena kemungkinan besar wanita yang saya ceritakan itu juga membaca catatan ini). :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog wanita itu menggunakan template sederhana seperti blog ini, dan foto profilnya pun hanya berupa siluet seperti foto profil saya. Jadi saya sama sekali tidak tahu seperti apa wanita itu. Yang jelas, semakin lama saya semakin menyukai tulisan-tulisannya. Jadi, saya pun kemudian selalu mengikuti posting-postingnya. Dan memberikan komentar di blognya, dan menyukai setiap balasan komentarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui komentar-komentar di blognya itulah kemudian kami saling kenal, dan akrab—bahkan kami menggunakan kolom komentar di blognya sebagai sarana untuk bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring bertambahnya hari, saya makin jatuh cinta pada tulisan-tulisannya. Dia menulis dengan sederhana, namun mendalam dan penuh kearifan, juga dengan selera humor yang menyenangkan. Dia tipe wanita yang tidak sok jaim, namun elegan—tipe wanita yang membuat saya jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menikmati tulisan-tulisannya, juga selama bercanda dengannya di kolom komentar blognya, saya sampai pada kesimpulan aneh, bahwa saya telah menemukan soulmate, sosok belahan jiwa. Dari mana kesimpulan itu datang? Karena, ketika  membaca tulisan-tulisannya, saya merasa sedang membaca pikiran saya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menulis banyak hal yang—anehnya—juga ada dalam pikiran dan hati saya. Membaca pemikiran-pemikirannya, saya seperti sedang berkaca! Lebih dari itu, dia bercanda seperti gaya bercanda saya—dengan selera humor yang terkadang aneh, tapi membuat tersenyum. Saya merasa, well… saya merasa wanita ini diciptakan dari tulang rusuk saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, wanita itu tidak menulis sampai cukup lama. Saya menunggu hari demi hari. Dia belum juga menulis. Saya mulai gelisah. Kemudian minggu demi minggu. Dia belum juga menulis. Setiap hari saya membuka blognya, dan tidak juga menemukan posting baru. Ketika empat bulan berjalan dan dia belum juga meng-update postingnya, kegelisahan saya mulai bercampur rasa rindu. Oh, well, saya merindukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring bertambahnya waktu, kerinduan saya semakin besar, sementara dia belum muncul juga di blognya. Saya merindukan tulisannya, saya merindukan sapaannya, saya merindukan cara bercandanya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat itu, saya belum tahu siapa sebenarnya wanita itu. Saya tidak tahu dimana dia tinggal, saya bahkan tidak tahu siapa nama lengkapnya. Saya hanya tahu siluet fotonya, dan tulisan-tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, karena penasaran, saya pun mulai melacak wanita itu. Dalam hal ini, beberapa search engine benar-benar membantu. Melalui pelacakan tersebut, saya akhirnya tahu wanita itu memiliki blog di Blogspot dan Wordpress, memiliki akun di beberapa social media, juga kerap mengunggah foto-foto karyanya di sebuah web fotografi. Saya benar-benar terpesona dan takjub saat menemukan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah blognya yang lama (yang sudah tidak aktif), saya menemukan banyak sekali tulisannya. Seperti di blognya yang sekarang, di sana pun dia menulis dengan sederhana, namun arif dan dengan selera humor. Dan sekali lagi saya terpesona ketika membacanya. Bermalam-malam lamanya saya membaca satu per satu tulisannya, menikmati kata-katanya, dan tiba-tiba… saya merasa jatuh cinta kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku telah jatuh cinta pada wanita ini,” batin saya suatu malam saat selesai mengkhatamkan semua tulisannya. Pada waktu itu, saya merasa bahwa wanita itulah yang selama ini saya cari-cari, untuk saya cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tak masuk akal, pikir saya waktu itu. Saya tidak tahu siapa wanita ini. Saya hanya mengenalnya lewat tulisannya, dan sekarang saya jatuh cinta kepadanya. Bahkan, diam-diam saya berkata pada diri sendiri, “Inilah wanita yang ingin kutemukan. Aku akan mencari wanita ini, dan akan mengajaknya menikah—kalau dia mau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, ini sinting dan tak masuk akal. Tetapi itulah yang saya lakukan. Berdasarkan pencarian yang saya lakukan, wanita itu tinggal di kota M. Melalui beberapa kawan di kota tersebut, saya meminta tolong untuk dicarikan identitas wanita itu selengkapnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…dan hasilnya adalah debaran jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup lama menunggu, suatu malam seorang teman di kota M menelepon, dan mengabarkan, “Da’, wanita yang kamu cari-cari itu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya…?” saya tidak sabar. “Kamu sudah menemukannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah. Aku sudah menemukan semua hal tentangnya—usianya, alamatnya, keluarganya, hobinya, apa pun. Tapi sebaiknya kamu lupakan saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke-kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena dia sudah menikah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan saya bergetar memegangi ponsel, dengan jantung bergemuruh. Itu fakta yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Belakangan saya tahu, bahwa alasan kenapa wanita itu cukup lama tidak meng-update posting di blognya adalah karena dia baru melahirkan anak pertamanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, well, sepertinya alam semesta sedang ingin bercanda dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-699817306818165696?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/699817306818165696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/699817306818165696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/posting-terakhir.html' title='Posting Terakhir'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4739199874331553955</id><published>2011-09-19T17:26:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:45:21.066+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta dan Lainnya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Ya, Mama, Aku akan Menikah dengan Wanita itu…</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;“Akhirnyaa… senang mendengarmu sekarang telah menemukan pasangan yang cocok. Boleh tahu kenapa kau ingin menikahinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena dia sempurna!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, jangan begitu. Kita tahu &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/03/beautiful-mind-tiada-yang-sempurna.html"&gt;tidak ada manusia yang sempurna&lt;/a&gt;. Ketika jatuh cinta, sering kali kita dibutakan oleh rasa cinta, namun sebaiknya tidak berekspektasi terlalu tinggi. Dia pasti juga memiliki kekurangan tertentu, dan kau harus siap menerimanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh, iya sih, dia juga memiliki kekurangan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya? Apa kekurangannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma satu. Dia terlalu sempurna!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4739199874331553955?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4739199874331553955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4739199874331553955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/ya-mama-aku-akan-menikah-dengan-wanita.html' title='Ya, Mama, Aku akan Menikah dengan Wanita itu…'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3302393224137440430</id><published>2011-09-19T17:25:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:44:29.721+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Keluar dari Kebutaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Berabad-abad yang lalu, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/04/isaac-newton-kurang-gaul.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Newton&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; menyatakan bahwa semua benda memiliki realitas yang tak berubah dan tetap. Tetapi kini, dalam fisika kuantum dan prinsip ketidakpastian Heisenberg, prinsipnya menjadi berbeda; sifat benda sesungguhnya berubah tergantung sudut pengamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tiga orang buta disuruh mengenal gajah, mungkin pendapat mereka akan berbeda-beda. Orang buta yang kebetulan memegang kaki gajah akan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Orang yang memegang telinganya akan mengatakan gajah seperti kipas yang tebal. Orang yang kebetulan memegang ekornya akan mengatakan gajah seperti cemeti. Padahal gajah bukanlah seperti itu, meski punya unsur-unsur seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa maksudnya? Kita tidak bisa menilai seseorang, suatu situasi atau keadaan secara bagian per bagian. Untuk bisa memahami sesuatu, kita harus mengenalinya secara menyeluruh sebelum menilai. Untuk objektif, pikiran tidak boleh terkotak-kotakkan oleh bagian-bagian tertentu saja yang kita kenal, karena sering kali “itu bukanlah seperti itu, meski itu memiliki unsur seperti itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3302393224137440430?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3302393224137440430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3302393224137440430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/keluar-dari-kebutaan.html' title='Keluar dari Kebutaan'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-5652221161905078357</id><published>2011-09-19T17:24:00.003+07:00</published><updated>2011-12-13T06:43:41.561+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Kekosongan yang Sombong</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Selembar kertas bersih seputih salju berbicara pada dirinya sendiri, “Aku tercipta dengan kemurnian, karena itu selamanya aku akan tetap murni. Lebih baik aku dibakar dan hangus menjadi abu daripada menderita karena tersentuh kegelapan atau didekati sesuatu yang kotor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinta dalam botol mendengar kata-kata itu, dan ia tertawa dalam hatinya yang hitam, namun tidak mendekatinya. Pensil-pensil beraneka warna pun mendengarnya, namun mereka pun tak pernah mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selembar kertas bersih seputih salju itu pun selamanya tetap putih murni, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/09/putih.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;putih dan murni&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, tetapi... kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-5652221161905078357?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5652221161905078357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5652221161905078357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/kekosongan-yang-sombong.html' title='Kekosongan yang Sombong'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-8555316917065828112</id><published>2011-09-19T17:23:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:42:45.538+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Cara Mudah untuk Sehat, Bahagia, dan Panjang Umur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dr. David J. Schwartz menyatakan dengan pasti bahwa pekerjaan yang kita nikmati merupakan jaminan paling baik yang bisa kita temukan untuk kehidupan yang lama, bahagia, dan sehat. Untuk menunjang tesisnya itu, ia mengemukakan sebuah survai yang telah dilakukan oleh majalah Nation’s Business menyangkut objek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Nation’s Business pernah melangsungkan survai dengan meminta pembacanya memilih sepuluh orang bisnis puncak yang dihasilkan Amerika dalam 200 tahun pertama. Mungkin orang akan menduga bahwa orang-orang top ini harus banyak menderita kekhawatiran kerja yang keras sekali, frustrasi, dan kesulitan lainnya, yang berhubungan dengan pekerjaan untuk menjadi salah satu pencapai prestasi yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Responden survai itu memberikan nominasi kepada orang-orang ternama seperti Thomas Edison, Graham Bell, dan juga Henry Ford. Masing-masing dari sepuluh orang puncak ini bertanggung jawab atas mata pencaharian puluhan ribu pekerja di perusahaannya. Mereka masing-masing terlibat dalam pengumpulan uang bermilyar-milyar dolar. Dan mereka masing-masing sibuk mengurus industri yang sangat kompetitif, yang sering kali dikutip dalam majalah kesehatan sebagai salah satu penyebab mati muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berapa umur rata-rata saat kematian bagi para pencapai prestasi besar ini? Delapan puluh tujuh tahun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa rahasianya...? Apa yang membuat mereka tetap sehat hingga hari-hari tua mereka? Apa yang tetap menjaga kesehatan dan vitalitas mereka? Jawabannya satu itu; mereka &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/pekerjaan-adalah-istri-kedua-saya.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mencintai pekerjaan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; mereka, mereka menyukai apa yang mereka lakukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-8555316917065828112?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8555316917065828112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8555316917065828112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/cara-mudah-untuk-sehat-bahagia-dan.html' title='Cara Mudah untuk Sehat, Bahagia, dan Panjang Umur'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4972163274981654083</id><published>2011-09-19T17:22:00.003+07:00</published><updated>2011-12-13T06:41:43.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Pekerjaan adalah Istri Kedua Saya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sebenarnya saya ingin menyatakan bahwa pekerjaan adalah istri saya yang pertama. Tetapi, kalau itu yang saya nyatakan, nanti tidak ada wanita yang mau menikah dengan saya!  :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para filsuf, juga para pakar pengembangan diri, menyatakan bahwa hanya ada dua jalan menuju kebahagiaan. Yang pertama adalah cinta, dan yang kedua adalah bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihatnya sekilas, alangkah sederhananya rumus untuk &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/01/hidup-ini-indah.html"&gt;menjadi bahagia&lt;/a&gt;. Hanya cinta dan bekerja. Yakni mencintai pekerjaan yang kita lakukan! Dan saya setuju dengan rumus sederhana itu. Jika hari ini saya ditanya apa yang paling membuat saya bahagia, maka jawabannya adalah ketika saya sedang bekerja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun yang mencintai pekerjaannya dengan sungguh-sungguh cinta, ia pasti akan hidup bahagia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak? Waktu rata-rata yang kita habiskan untuk bekerja dalam sehari adalah 8 jam. Itu adalah 1/3 dari seluruh waktu sehari kita yang 24 jam. Sementara 8 jam lainnya, (1/3 waktu yang lain) digunakan untuk tidur. Sisanya, 1/3 dari waktu yang tersisa yang juga sebanyak 8 jam, biasanya digunakan untuk kehidupan rumah, bercengkerama dengan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang mencintai pekerjaannya, maka 1/3 dari waktunya akan berisi lebih banyak kebahagiaan karena orang selalu bahagia mengerjakan sesuatu yang dicintainya. Ketika ia pulang ke rumah, dia membawa senyum karena diliputi kebahagiaan setelah seharian bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hati yang bahagia sepulang kerja, suasana rumah pun akan terasa menyenangkan. Saat tidur di malam hari, ia pun bisa tidur dengan perasaan bahagia yang sama, karena merasa puas dengan satu hari yang telah dilewatinya. Ia berharap bisa bangun di esok hari untuk kembali menikmati hari yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika seseorang tidak mencintai pekerjaannya, maka waktu kerja yang 1/3 hari itu akan menjadi waktu yang menyiksa dan menekan batinnya. Ia akan pulang dengan wajah murung, dan karena seharian telah ditekan oleh rasa tidak senang, maka suasana keluarga pun akan tampak menjengkelkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan pekerjaan yang dirasa menyiksa akan terus mempengaruhi suasana hatinya hingga ia kemudian tidur di malam hari, dengan tetap membawa perasaan tidak enak tentang hidupnya. Dan besok, mungkin dia akan kembali mengutuk kehidupannya karena telah menempatkan dirinya dalam suasana yang begitu tidak disukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ilustrasi ini terlalu ekstrim, tetapi gambaran kecil semacam itulah yang terjadi jika kita mencintai atau tidak mencintai pekerjaan kita. Jadi, jika kita mencintai pekerjaan yang kita miliki, bersyukurlah. Jika tidak, belajarlah untuk mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4972163274981654083?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4972163274981654083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4972163274981654083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/pekerjaan-adalah-istri-kedua-saya.html' title='Pekerjaan adalah Istri Kedua Saya'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-5805883978449779981</id><published>2011-09-19T17:20:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:38:50.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Lumpur yang Kita Lempar akan Kembali Menjadi Lumpur Kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Di bandar udara, seorang turis mengamati seorang lelaki berpakaian bagus yang tengah berteriak memaki-maki seorang kuli pembawa barang, karena cara si kuli menangani kopernya dinilainya tidak benar. Semakin senewen lelaki itu, tampaknya semakin tenang sikap si kuli. Setelah lelaki itu pergi, sang turis memuji kuli tersebut karena bisa menahan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, itu bukan apa-apa,” jawab si kuli sambil tersenyum. “Kalau Anda ingin tahu, orang itu akan pergi ke Bali, dan koper-kopernya… semua pergi ke Surabaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita&lt;a href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/02/maka-tersenyumlah.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;tersenyum kepada orang lain&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, lihatlah, orang lain pun membalas dan memberikan senyumnya untuk kita. Namun ketika kita mencaci-maki orang lain, barangkali dia tak membalas secara serupa... tetapi dia akan membalas dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-5805883978449779981?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5805883978449779981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5805883978449779981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/lumpur-yang-kita-lempar-akan-kembali.html' title='Lumpur yang Kita Lempar akan Kembali Menjadi Lumpur Kita'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-7915372605192684861</id><published>2011-09-19T17:19:00.004+07:00</published><updated>2011-12-13T04:26:53.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Pelajaran yang Terlupakan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ibda’ binafsik—mulailah dari dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad, Rasulullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Banyak orang yang terlalu gampang menyalahkan orang lain tanpa melihat terlebih dulu kesalahan-kesalahannya sendiri. Banyak orang yang terlalu gampang &lt;a href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/02/tiga-bab-tentang-orang-lain.html"&gt;mencela orang lain&lt;/a&gt;, tanpa pernah bercermin untuk melihat cacat celanya sendiri. Banyak orang yang bermimpi ingin mengubah dunia, tapi terkadang tak pernah terbetik di hati mereka untuk mengubah dirinya sendiri terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu persis sekali dengan sajak yang ditulis oleh seorang bijak Anglikan, lebih dari tiga ribu tahun yang lalu...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketika aku masih kecil dan bebas, dan imajinasiku tiada batas, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;aku mengimpikan untuk bisa mengubah dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketika semakin besar dan makin bijaksana, aku sadar bahwa dunia&lt;br /&gt;tak mungkin diubah. Dan aku putuskan untuk mengurangi&lt;br /&gt;impianku sedikit, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dan hanya mengubah negaraku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tetapi itu pun tampaknya tidak mungkin.&lt;br /&gt;Ketika aku memasuki usia senja, dalam suatu upaya terakhir,&lt;br /&gt;aku berusaha mengubah keluargaku sendiri;&lt;br /&gt;mereka yang paling dekat denganku—tetapi sayang, mereka&lt;br /&gt;tidak menghiraukanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dan sekarang menjelang ajal, aku menjadi sadar&lt;br /&gt;bahwa kalau saja aku mengubah diriku terlebih dulu, lalu dengan&lt;br /&gt;teladan mungkin aku bisa mempengaruhi keluargaku,&lt;br /&gt;dan dengan dorongan serta dukungan mereka&lt;br /&gt;mungkin aku bisa membuat negaraku menjadi lebih baik,&lt;br /&gt;dan… &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;siapa tahu, mungkin aku bisa mengubah dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-7915372605192684861?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7915372605192684861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7915372605192684861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/pelajaran-yang-terlupakan.html' title='Pelajaran yang Terlupakan'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2793879276092239865</id><published>2011-09-19T17:18:00.003+07:00</published><updated>2011-12-13T06:37:14.263+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Pilihlah dengan Bijak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pepatah lama Swedia menyatakan, “Kau harus segera memilih teman-temanmu selagi hari masih terang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peribahasa Cina kuno menyebutkan, “Hidup itu sebagian kita yang menentukan, dan sebagian lagi ditentukan oleh teman-teman dan sahabat-sahabat yang kita pilih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tumbuh menjadi gemuk atau kurus, sehat atau sakit, melalui pilihan makanan yang kita pilih untuk dimakan. Kita berkembang menjadi individu yang lebih mandiri dengan cara memilih buku-buku dan bahan-bahan bacaan yang kita pilih untuk dibaca. Kita membentuk kehidupan dan gaya hidup kita tidak hanya karena perilaku pribadi kita semata-mata, tetapi juga karena pengaruh dari orang-orang yang telah kita pilih sebagai &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/01/teman-yang-baik.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;teman-teman atau sahabat kita&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memiliki hak untuk memilih apa pun untuk hidup kita, sekaligus kita pun memiliki tanggung jawab untuk setiap pilihan yang kita ambil. George Eliot menegaskan, “Prinsip perkembangan yang paling kuat terletak dalam pilihan manusia itu sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, ambillah dan pilihlah dengan bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2793879276092239865?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2793879276092239865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2793879276092239865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/pilihlah-dengan-bijak.html' title='Pilihlah dengan Bijak'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-6500248188903016400</id><published>2011-09-19T17:17:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:36:19.495+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Seharusnya itu Telah Terjadi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Seratus lima puluh tahun yang lalu, John Greenleaf Whittier menulis kalimat yang mengusik pikiran berikut ini, “Untuk semua kata-kata sedih yang disampaikan oleh lidah dan pena, yang paling menyedihkan adalah, ‘Seharusnya itu telah terjadi’”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita paham maksud dari kata-kata itu? Benar, itu adalah kata-kata menyedihkan yang menggambarkan bagaimana akhir dari orang yang biasa menunda-nunda segala sesuatu dalam hidupnya, hingga ketika waktu mengantarkannya pada saat yang telah terlambat, orang itu pun hanya bisa memandang jauh ke masa lalu, dan menggumamkan kata-kata itu, “Seharusnya itu telah terjadi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita memiliki niat baik untuk hal-hal baik, lakukanlah sekarang juga. Jika kita memiliki rencana dan tujuan yang kita pikir akan membantu hidup kita atau orang lain, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/04/lakukanlah-sekarang.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;lakukanlah sekarang juga&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Jika kita punya impian untuk mengerjakan sesuatu yang besar, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/04/lakukanlah-sekarang.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mulailah sekarang juga&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu apa pun, dalam usia berapa pun, waktu sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk memulai mengerjakan sesuatu yang kita pikir untuk kita kerjakan. Lakukanlah sekarang, daripada harus menyesal saat kelak kita menengok ke masa lalu, dan menggumam lirih, “Seharusnya itu telah terjadi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-6500248188903016400?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6500248188903016400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6500248188903016400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/seharusnya-itu-telah-terjadi.html' title='Seharusnya itu Telah Terjadi'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-5149948778528578592</id><published>2011-09-19T17:16:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:35:06.308+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Jika Memang Harus Dilakukan, Lakukanlah Segera</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Theodore Roosevelt dicatat oleh sejarah sebagai salah satu orang besar di dunia. Salah satu ucapannya yang mengilhami adalah, “Tidak ada yang brilian atau hebat dalam tindakan saya, kecuali mungkin satu hal; saya melakukan hal-hal yang saya yakin harus dilakukan, dan ketika saya memutuskan untuk melakukan sesuatu, saya segera bertindak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah sering mendengar orang yang menunda-nunda mengerjakan segala sesuatu yang penting dalam hidupnya. Penundaan-penundaan itu sering kali terkesan wajar, tetapi itu sebenarnya membunuh potensi yang seharusnya sudah berkembang. Tragisnya, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/04/momentum-potensi.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;potensi besar yang seharusnya hadir di dunia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; itu pun kemudian tak berguna apa-apa, karena akhirnya ikut mati dan terkubur bersama pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mendengar orang yang mengatakan, “Besok akan kulakukan.” Apa artinya itu? Besok memiliki kesibukannya sendiri, maka mereka pun berkata, “Besoknya lagi, deh.” Dan besoknya lagi ada hal-hal lain yang ternyata lebih penting, maka mereka menunda lagi, “Mungkin lusa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari-hari pun berlalu, waktu berpacu. Saat ketika mereka kemudian menyadari bahwa ada begitu banyak hari yang telah hilang, mereka meninjau apa yang sudah dilaluinya, dan mereka pun kemudian menyesali waktu yang telah berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjakanlah segala sesuatunya hari ini, karena besok kita tak kan punya waktu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-5149948778528578592?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5149948778528578592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5149948778528578592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/jika-memang-harus-dilakukan-lakukanlah.html' title='Jika Memang Harus Dilakukan, Lakukanlah Segera'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-9121162839146058405</id><published>2011-09-19T17:15:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:34:20.856+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Cara Gampang untuk Gagal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sebagai seorang konsultan warna yang terkenal, Suzanne Caygill sering menangani dekorasi ruangan dan lemari pakaian para selebritis dunia. Dia selalu laris dan menjadi langganan banyak artis. Apa resep suksesnya? Untuk memenuhi permintaan-permintaan yang tercatat dalam jadwal kerjanya, ia mengikuti anjuran yang ia pelajari dari penjahit langganan neneknya. “Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, segera kerjakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak orang membuang-buang waktu ketika mereka akan memulai sebuah pekerjaan,” kata Caygill. “Mereka menghabiskan banyak waktu untuk ‘persiapan memulai’ suatu pekerjaan, sampai akhirnya mereka tak punya sisa waktu lagi untuk benar-benar melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/cara-menyingkirkan-kebiasaan-menunda.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menunda-nunda suatu pekerjaan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; adalah salah satu cara gampang untuk gagal. Jika kita langsung terjun mengerjakan apa yang ingin kita kerjakan, kita akan terkejut betapa kita ternyata bisa begitu mudah dan cepat menyelesaikan pekerjaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terbaik untuk menanam sebatang pohon kelapa adalah 20 tahun yang lalu, sedangkan waktu terbaik kedua untuk melakukannya adalah… sekarang juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-9121162839146058405?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/9121162839146058405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/9121162839146058405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/cara-gampang-untuk-gagal.html' title='Cara Gampang untuk Gagal'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4556555294786856323</id><published>2011-09-19T17:14:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:33:34.091+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Cara Menyingkirkan Kebiasaan Menunda-nunda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kemarin adalah cek yang dibatalkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Besok pagi adalah surat promes. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hari ini adalah tunai. Gunakanlah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;‘Penyakit jiwa’ yang terkadang (atau bahkan sering) menghinggapi diri kita adalah penyakit suka menunda-nunda. Inilah salah satu resep kegagalan yang paling manjur. Tundalah semuanya, dan kita akan menemui kegagalan. Sebaliknya, apabila kita mau mengerjakannya ‘sekarang juga’, maka kita boleh yakin bahwa kesuksesan tak akan lama lagi menjumpai kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara paling ampuh untuk menyingkirkan penyakit menunda-nunda adalah dengan memberlakukan deadline (batas waktu) pada diri kita sendiri, dan berusaha untuk mematuhinya. Penelitian membuktikan bahwa orang rata-rata cenderung membutuhkan semua waktu yang disediakan untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu, padahal kalau keadaannya mendesak mereka dapat menyelesaikannya dalam waktu yang jauh lebih pendek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis terkenal Prancis, Balzak, selalu memberikan deadline pada dirinya sendiri. Untuk membuat dirinya selalu terdorong menyelesaikan tugasnya, dan selalu berada dalam &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/pengetahuan-tertinggi.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kreativitas tertinggi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, ia selalu berjanji untuk menyerahkan naskahnya pada para editornya dalam waktu yang sangat pendek sehingga seakan-akan tak mungkin. Dengan cara itulah kemudian ia mampu menulis karya-karya besarnya yang berhalaman tebal hanya dalam waktu dua minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bagaimana cara menyingkirkan penyakit suka menunda-nunda? Bagi saya, caranya adalah dengan menetapkan deadline yang masuk akal... dan berusaha sekuat tenaga untuk mematuhinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4556555294786856323?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4556555294786856323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4556555294786856323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/cara-menyingkirkan-kebiasaan-menunda.html' title='Cara Menyingkirkan Kebiasaan Menunda-nunda'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-1068290826363734865</id><published>2011-09-19T17:13:00.001+07:00</published><updated>2011-12-13T05:18:09.384+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Kecil, Tak Terlihat, tapi Merusak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Salah satu kebiasaan negatif kebanyakan kita adalah &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/cara-menyingkirkan-kebiasaan-menunda.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kebiasaan menunda-nunda&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Sesungguhnya, itu bukan hanya kebiasaan negatif, tetapi juga destruktif. Semakin lama kita menunda-nunda sesuatu yang semestinya telah kita lakukan, maka sesuatu yang kita tunda itu pun akan tampak semakin tidak menyenangkan. Ini adalah kebiasaan yang terkesan kecil, tak terlihat, tapi merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita suka menunda mencuci piring, umpamanya, maka piring yang harus dicuci pun akan terus menumpuk, dan kita akan semakin malas mengerjakannya karena mencuci tumpukan piring kotor tentu sangat tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa yang menunda-nunda tugas pengerjaan skripsinya akan terus diburu waktu kelulusannya. Jika waktu kelulusan tidak memburunya, ia akan diburu usianya. Semakin lama ia menunda, tugas mengerjakan skripsi akan semakin terasa berat, dan semakin tampak tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kendaraan kita mengalami kerusakan kecil dan kita menunda-nunda menservisnya ke bengkel, maka kerusakan kecil itu pun akan menjalar ke komponen lain, dan akan membuat kendaraan kita semakin parah kerusakannya. Biaya yang dikeluarkan pun menjadi lebih mahal dibanding kalau kita tidak menunda-nunda reparasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar itu bisa diperpanjang dan diperpanjang terus. Sejauh yang saya tahu, tidak ada satu pun hal positif yang menjadi semakin baik jika kita menunda-nunda melakukannya. Sebuah iklan rokok dengan kreatif menyindir perilaku orang yang suka menunda-nunda dengan bahasanya yang unik, “Kalau bisa dikerjakan lusa, mengapa harus menunggu besok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya itu hanya plesetan dari nasihat lama, “Kalau bisa dikerjakan hari ini, mengapa harus menunggu besok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-1068290826363734865?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1068290826363734865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1068290826363734865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/kecil-tak-terlihat-tapi-merusak.html' title='Kecil, Tak Terlihat, tapi Merusak'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-5808652328287163617</id><published>2011-09-19T17:12:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T05:21:58.051+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Fokus pada Kelebihan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Berbicara tentang kesempurnaan adalah berbicara tentang spesies lain selain manusia, karena tidak ada manusia yang sempurna. Bahkan esensi pada manusia terletak pada ketidaksempurnaannya. Mengharapkan kesempurnaan dari sosok bernama manusia adalah seperti mengharapkan matahari terbit di waktu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula orang-orang yang saat ini kita kenal sebagai orang yang sukses. Mereka juga bukan makhluk-makhluk sempurna tanpa kekurangan. Mereka juga memiliki kekurangan dan keterbatasan. Hanya saja, mereka mampu menutupi kekurangan itu dengan kelebihan-kelebihan yang mereka punyai. Mereka &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/04/momentum-potensi.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;memaksimalkan potensi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang ada dalam diri mereka, dan terus mengolahnya hingga kelebihan yang ada kemudian benar-benar mampu menutupi segala kekurangan yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita hanya berfokus pada kekurangan yang kita miliki, kita tidak akan pernah bergerak. Kita hanya akan sukses jika seluruh pikiran dipusatkan pada kelebihan, pada potensi yang kita miliki, dan terus memacunya hingga sampai pada titik yang paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-5808652328287163617?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5808652328287163617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/5808652328287163617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/fokus-pada-kelebihan.html' title='Fokus pada Kelebihan'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4522493607936348859</id><published>2011-09-19T17:11:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T05:24:23.785+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Kabar Baik untuk Diri Sendiri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Setiap hari, televisi di rumah kita menyiarkan berita-berita yang menakutkan, bahkan mengerikan. Setiap pagi, loper koran di rumah kita mengantarkan bacaan langganan, dan kita pun bisa melihat ada sekian banyak berita buruk yang terpampang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari kita dibombardir aneka berita buruk, dan mau tak mau kita seolah dipaksa menelannya mentah-mentah. Bagi industri media massa seperti surat kabar dan televisi, berita buruk adalah berita baik, karena berita buruklah yang sering kali laku dijual. Tetapi bagi konsumennya, yakni kita, berita buruk tetap saja berita buruk, dan itu kita konsumsi ke dalam pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal saja yang perlu kita ingat, bahwa seburuk apa pun keadaan ‘di luar sana’, setiap pagi kita harus tetap menyiarkan dan memberikan kabar baik kepada diri kita sendiri, bahwa &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/01/hidup-ini-indah.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;hari ini begitu indah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, bahwa hari ini penuh dengan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4522493607936348859?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4522493607936348859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4522493607936348859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/kabar-baik-untuk-diri-sendiri.html' title='Kabar Baik untuk Diri Sendiri'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-1523116824185227348</id><published>2011-09-19T17:10:00.001+07:00</published><updated>2011-12-13T05:31:01.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Cara Mengusir Kebosanan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kehidupan yang rutin dan monoton banyak membuat orang menjadi bosan, stres, frustrasi, dan juga jenuh. Tetapi hal semacam itu tidak terjadi pada orang-orang yang aktif dan selalu berminat pada segala yang berlangsung di dunia ini. Tampak bahwa semakin orang berminat akan sesuatu, semakin besar pula semangatnya. Semakin aktif pikiran kita, semakin baik pikiran tersebut bekerja dan semakin lama pikiran tersebut akan terus bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melambatkan apalagi menghentikan pikiran dapat mengakibatkan kebosanan, tetapi tidak jika orang terus melatih pikiran dengan membaca, berpikir, dan berpartisipasi dalam urusan kehidupannya. Kita dapat menghindari kebosanan sepanjang hidup jika kita tetap bersemangat secara mental sepanjang hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/kemana-tujuan-kita.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;teruslah bergerak, teruslah berpikir&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, teruslah berpartisipasi. Itu adalah rahasia emas dari keberadaan yang mempesona terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-1523116824185227348?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1523116824185227348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1523116824185227348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/cara-mengusir-kebosanan.html' title='Cara Mengusir Kebosanan'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4833530635305367827</id><published>2011-09-12T22:11:00.004+07:00</published><updated>2011-12-13T05:40:04.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Agar Tidak Goblok Gara-gara Blog</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Hanya orang goblok yang mau punya blog.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pakar telematika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya orang goblok yang menganggap punya blog itu goblok.&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bukan pakar telematika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa blog milik teman, sedang ada sebuah trending topic menyangkut seseorang berinisial RJ. Sebagian bahkan mengulas sosok si RJ tersebut dengan serius dalam sebuah posting tersendiri. Sekarang, saya juga “gatal” ingin mengulas topik yang sama, meski saya akan menyamarkan identitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Catatan: Saya sengaja tidak mau menyebutkan nama aslinya, karena saya tidak ingin dituduh menulis topik ini sebagai upaya untuk mengundang trafik. Selain itu, saya juga punya etiket pribadi untuk menyamarkan nama atau identitas orang jika ingin membicarakan sisi negatifnya, karena saya percaya bahwa setiap manusia punya hak untuk dijaga perasaannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali mengenal nama RJ adalah ketika sebuah blog yang sering saya kunjungi membahas tentang orang tersebut. Berdasarkan postingnya, rupanya si RJ ini telah membuat “keributan” di blog-blog lain melalui kolom komentar. Dari posting itu pula kemudian saya menelusuri link-link yang diberikan, dan saya pun melihat langsung seperti apa “keributan” yang telah dilakukan oleh si RJ tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kolom komentar di beberapa blog yang saya baca, si RJ meninggalkan komentar-komentarnya yang memang “tidak sopan”—dengan menyatakan bahwa nge-blog adalah aktivitas yang tak berguna atau bodoh, atau mengkritik sesuatu yang keluar dari konteks posting, atau bahkan secara terang-terangan menyerang si empunya blog. Tentu saja, karena komentarnya yang tidak layak tersebut, si RJ pun diserang balik oleh banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah RJ yang kontroversial itu? Sebenarnya, RJ bukan nama asli, karena orang ini memiliki nama asli yang ia sebutkan di halaman profilnya. Oh ya, dia punya blog sendiri, hanya saja isi blognya hanya membahas bisnis online yang dilakukannya. Saya tidak tertarik dengan bisnis online-nya itu, tetapi saya tertarik membahas kepribadian si RJ sebagai manusia—khususnya dalam konteks dunia blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun lalu sebelum RJ mengeluarkan statemen-statemennya yang pasti membuat kuping para blogger memerah, di negeri ini telah ada seorang lelaki lain yang disebut (atau menyebut diri) sebagai “pakar telematika” yang juga mengeluarkan hal senada. Si “pakar telematika” itu dengan terang-terangan menyatakan, “Hanya orang goblok yang punya blog.” Selain cemoohannya yang terang-terangan itu, dia juga menunjukkan kebenciannya yang nyata pada para blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah dikatakan lagi, para blogger pun langsung membencinya. Pada waktu-waktu itu, ratusan blogger di negeri ini seperti kompak menyerang si “pakar telematika” melalui blog mereka, dan hampir bisa dipastikan setiap posting yang membahas tentang itu akan menuai banyak komentar dukungan. Puncaknya, beberapa blogger senior mengusahakan pertemuan langsung antara si “pakar telematika” dengan para blogger di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengirimkan undangan kepada si “pakar telematika” tersebut, agar mau bertemu langsung untuk berdiskusi. Karena si “pakar telematika” telah menganggap bahwa para blogger adalah kaum goblok, maka dia pun mungkin jadi khawatir dipukuli atau diculik. Jadi, waktu itu, dia menyatakan mau bertemu langsung, dengan syarat pertemuan itu dilaksanakan secara “akademis” dan di tempat yang “terhormat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan itu dituruti. Beberapa blogger menghubungi kampus-kampus yang memiliki ruang auditorium cukup luas, dan hasilnya sebuah kampus di Jakarta bersedia membantu menyediakan ruang auditoriumnya untuk pertemuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si “pakar telematika” pun diberitahu, dan tanggal pertemuan ditetapkan. Sekarang si “pakar telematika” tidak punya alasan lagi untuk menolak. Para blogger se-Indonesia waktu itu sudah harap-harap cemas, dan mungkin diam-diam bahkan berdoa semoga Tuhan tidak buru-buru mencabut nyawa si “pakar telematika” agar dia punya kesempatan mengunjungi pertemuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, tujuan para blogger ingin bertemu langsung dengan si “pakar telematika” waktu itu hanya ingin bertanya baik-baik, “Hei, Tuan Pakar, kenapa Anda kok selama ini sepertinya sangat membenci kami? Kenapa Anda terus-terusan menyerang eksistensi kami? Kenapa Anda secara terang-terangan menyebut kami goblok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, pada waktu-waktu itu, si “pakar telematika” sering berkoar-koar di media massa tentang “kegoblokan” para blogger, dan dia pun terus-menerus menunjukkan kebenciannya. Tapi dia tidak mau menjelaskan alasannya (secara akademis) mengapa dia membenci blogger hingga demikian antipatinya. So, si “pakar telematika” ini dinilai cuma omdo, besar mulut, tapi tidak mau menjelaskan latar belakang pemikirannya secara ilmiah dan akademis—mengingat dia seorang akademisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang dilakukan RJ sekarang ini tidak jauh beda dengan si “pakar telematika” di atas. Dia hanya berkoar-koar di kolom komentar blog orang, menyerang aktivitas blogging, atau bahkan menyerang si bloggernya secara tidak relevan, namun tidak mau menjelaskan latar belakang pemikirannya. Hasilnya tentu caci-maki balasan. Jika dia menuduh para blogger adalah sekumpulan orang goblok, maka sesungguhnya dia justru sedang menunjukkan kegoblokannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sesungguhnya, kasus semacam itu tidak semata dilakukan oleh RJ. Kita sendiri pun bisa jadi tergelincir melakukan apa yang dilakukan RJ, hanya saja dalam bentuk yang berbeda. RJ, dalam perspektif saya, hanya personifikasi atas ketidakmampuan melihat perbedaan dengan orang lain. RJ adalah ilustrasi mudah untuk menunjukkan betapa ternyata seseorang bisa memiliki pikiran yang amat sempit—sebegitu sempitnya hingga mudah menyalahkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia blog adalah dunia pribadi orang per orang. Artinya, setiap pemilik blog memiliki hak untuk menggunakan blognya dengan tujuan apa pun secara personal. Ia boleh menggunakannya untuk menulis kisah-kisah pribadinya, untuk menuangkan uneg-unegnya, untuk berbisnis dan mendapatkan uang, untuk menjalin persahabatan, untuk menuangkan pemikiran, untuk memajang foto-foto atau lukisan karyanya, dan untuk hal-hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya itu sah, selama tidak melanggar etika sosial dan aturan yang ditetapkan pihak penyedia platform yang digunakan. Karenanya, meminjam ilustrasi &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.itikbali.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Itik Bali&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, blog itu seperti restoran atau warung makan. Jika kita masuk warung Padang, maka bersiaplah untuk mendapatkan sajian masakan ala Padang. Sungguh konyol dan ironis jika kita masuk warung Padang dan meminta menu yang tak disediakan di sana, lalu marah-marah pada pemilik warungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap isi blog tergantung pada pemiliknya. Jika kita menyukai artikel-artikel bisnis, maka kunjungilah blog yang memang memuat materi itu. Jika kita mengunjungi blog pribadi dan kemudian merasa tidak cocok, itu bukan salah bloggernya, melainkan kita yang salah masuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun, kalau kita membaca sebuah blog dan kemudian merasa tidak cocok dengan postingnya, maka tidak perlu repot-repot menyalahkannya. Sekali lagi, blog adalah ruang pribadi masing-masing pemiliknya. Di dalam blog pribadi, ada orang yang menuangkan pengalaman sehari-harinya, ada pula yang menuangkan pemikiran-pemikirannya. Jika pengalaman sehari-hari setiap orang biasanya berbeda-beda, maka tentu sungguh wajar jika pemikiran orang pun bisa berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bayangkan ilustrasi yang konyol ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seorang cowok berusia 27 tahun, dengan kegiatan sehari-hari yang hanya berkutat di ruang kerja, perpustakaan, dan laboratorium. Teman saya sehari-hari cuma buku, komputer, rokok, makalah, dan kertas-kertas kerja. See, saya punya latar belakang pribadi yang unik. Karena latar belakang pribadi itulah yang kemudian menjadikan blog saya sekarang jadi seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bayangkan saya mengunjungi blog Itik Bali. (Sori, terpaksa contohnya menggunakan blog Itik Bali, karena saya telanjur memberikan link di atas, hehe). Ayu, pemilik blog Itik Bali, adalah seorang cewek sweet seventeen yang masih SMA, dengan umur yang tentu jauh di bawah saya. Jika dia menceritakan kisah pribadinya di blog, apakah mungkin kisahnya akan sama dengan saya? Kita semua tentu tahu jawabannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang bayangkan saya marah-marah ketika membaca kisah Ayu di blognya, karena saya merasa kisah keseharian Ayu berbeda dengan kisah keseharian saya. Apa yang akan terjadi? Saya akan menjadi orang paling idiot di muka bumi! Sungguh konyol sekaligus tolol jika saya berharap Ayu memiliki kisah keseharian yang sama dengan saya, padahal latar belakang kami jelas-jelas berbeda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih konyol lagi jika saya mencaci-maki Ayu di kolom komentar blognya, hanya gara-gara saya menganggap kisahnya berbeda dengan saya. Atau, yang tidak kalah konyolnya, saya membuat posting khusus di blog saya, hanya untuk mengkritik Ayu karena saya merasa dia berbeda dengan saya! Jika itu yang saya lakukan, maka benarlah yang dikatakan si “pakar telematika”, bahwa “Hanya orang goblok yang punya blog!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kita semua memiliki latar belakang berbeda. Karena latar belakang berbeda, maka kisah keseharian pun berbeda. Karena latar keseharian berbeda, maka pemikiran pun berbeda. Jika Tuhan menciptakan kita semua dalam bentuk yang berbeda, mengapa kita harus menyalahkan orang lain jika berbeda…???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran semacam itulah yang seyogyanya kita terapkan pada diri sendiri ketika mengunjungi blog milik orang lain, dan kemudian membaca tulisan-tulisannya. Setiap pribadi adalah unik—dengan ragam perbedaan latar belakang, pemikiran, cara memandang sesuatu, usia, bahkan jenis kelamin dan tempat tinggal yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, syarat mutlak untuk tidak goblok ketika membaca tulisan di blog adalah menyadari bahwa selalu ada kemungkinan kita akan berbeda dengan orang yang tulisannya kita baca. Jika kita tidak mau atau tidak siap menerima perbedaan, maka sebaiknya tinggal saja di goa, dan tidak usah membuka blog orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to topic, kita kembali pada si RJ di atas. Kemungkinan, orang semacam RJ adalah orang yang tidak memahami kenyataan tersebut, sehingga menganggap orang yang berbeda dengannya adalah salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang semacam inilah yang sering kali menjadikan hidup orang lain tak pernah tenteram. Bahkan, jika kita membaca sejarah, kita akan disuguhi kenyataan bahwa sebagian besar perang terjadi karena adanya orang-orang yang tidak bisa menerima perbedaan dengan orang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog diciptakan tidak untuk membuat perang atau permusuhan, melainkan untuk dijadikan sebagai sarana aktualisasi diri, berbagi, dan saling belajar. Akan lebih bagus jika melalui blog terjalin persahabatan sehingga menambah kawan. Namun, jika tidak, saya lebih suka menganggap blog sebagai sarana pembelajaran untuk memahami bahwa masing-masing kita memang berbeda, dan kita harus belajar berbesar hati untuk menerima perbedaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsuf besar Aristoteles adalah murid Plato. Pada waktu Plato sedang sekarat menjemput kematian, Aristoteles berkata dengan suara terisak, “Guru, tinggalkanlah satu pelajaran lagi untukku sebelum kau pergi selamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plato, sang guru, dengan suara lirih membisikkan &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/pelajaran-yang-terlupakan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pelajaran penting&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; terakhirnya untuk sang murid, “Terimalah perbedaan… Jangan salahkan orang lain jika ia berbeda denganmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terimalah perbedaan. Jangan salahkan orang lain jika ia berbeda denganmu.&lt;/span&gt; RJ mungkin perlu mendengar pelajaran Plato tersebut. Tetapi, pelajaran itu pun sama perlunya untuk kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-4833530635305367827?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4833530635305367827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/4833530635305367827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/agar-tidak-goblok-gara-gara-blog.html' title='Agar Tidak Goblok Gara-gara Blog'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2284143041726291992</id><published>2011-09-12T22:10:00.001+07:00</published><updated>2011-12-13T05:47:57.887+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Menurut Saya...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menurut saya, satu ditambah satu sama dengan dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu menurut saya, karena begitulah yang saya tahu, karena begitulah yang diajarkan pada saya sejak kecil. Jadi saya pun berpikir satu ditambah satu sama dengan dua. Kalau kau setuju, silakan saja. Tapi kalau kau tidak setuju ya tidak apa-apa, karena pikiran manusia memang kadang berbeda. Sekali lagi, itu tidak apa-apa, jadi nyantai saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, dua ditambah satu sama dengan tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu menurut saya, karena pengetahuan saya baru sebatas itu. Kalau mungkin kau lebih pintar dari saya dan menemukan jawaban lain, ya silakan saja. Kalau menurutmu dua tambah satu sama dengan tujuh puluh sembilan, ya silakan. Tapi kau tidak perlu marah-marah pada saya, apalagi sampai menuduh saya macam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini blog saya, dan tentunya saya bebas menulis apa saja sesuai kapasitas pikiran saya. Kalau tidak setuju dengan pikiran saya, tidak usah pusing! Cari dan baca saja blog lain yang sesuai dengan pikiranmu. Jadi, kalau saya pikir satu tambah dua sama dengan tiga, dan kau tidak setuju dengan saya, tidak perlu ngambek atau ngamuk-ngamuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, tiga tambah dua sama dengan lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu menurut saya. Kalau kau berpikir tiga tambah dua sama dengan empat puluh sembilan, itu urusanmu. Saya tidak akan buang-buang waktu untuk menyalahkanmu, jadi kau tidak perlu repot-repot menyalahkan saya. Kalau kau berpikir saya keliru, maka saya berpikir jangan-jangan kau yang keliru. Jadi yakini saja hitunganmu sebagaimana saya meyakini hitungan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, lima tambah satu sama dengan enam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu menurut saya. Kalau kau berpikir satu tambah lima sama dengan sembilan puluh empat, ya tidak apa-apa. Saya tidak akan berhenti hidup hanya karena berbeda denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kau tidak perlu menangis apalagi marah-marah. Begitu pun, kau tidak perlu buang-buang waktu untuk menunjukkan bahwa kau benar dan saya salah, karena yang benar menurutmu belum tentu benar menurut saya. Begitu pun, yang benar menurut saya belum tentu benar menurut orang lainnya. Jadi nyantai saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, empat ditambah satu sama dengan lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu menurut saya. Kalau menurutmu empat ditambah satu sama dengan tujuh ratus tiga puluh, ya silakan saja. Manusia diciptakan berbeda, jadi tidak perlu ngotot kita harus sama. Meminjam istilah &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/02/mengenang-gus-dur-dengan-senyum.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;almarhum Gus Dur&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, “Gitu aja kok repot!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2284143041726291992?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2284143041726291992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2284143041726291992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/menurut-saya.html' title='Menurut Saya...'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-8380094660120308829</id><published>2011-09-12T22:09:00.001+07:00</published><updated>2011-12-13T05:51:33.153+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Hukum Tak Terlihat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Di dalam diri kita, ada suatu dimensi psikis yang disebut pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar itu menampung begitu banyak pikiran yang pernah kita produksi, dari semenjak kita dilahirkan hingga waktu hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pikiran itu mengendap, bahkan mengendap sangat kuat, di pikiran bawah sadar tersebut. Yang mengerikan, semua memori yang berhasil mengendap di pikiran bawah sadar itu akan menghasilkan realitas yang sama dalam kehidupan kita. Di sinilah kemudian ada banyak orang yang hidup dengan terjebak pada kesalahan pola pikirnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita terlalu sering berpikir tentang kekurangan, maka kehidupan kita pun akan terus bergelut dengan segala macam kekurangan. Sebaliknya, jika kita lebih sering berpikir keberlimpahan, maka kehidupan kita pun akan menuju pada hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang berpikir negatif, ia mengaktifkan dunia di sekeliling dirinya secara negatif sehingga menarik hasil yang negatif pula kepada dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika seseorang berpikir positif, ia mengaktifkan dunianya secara positif dan menarik hasil yang positif pula kepada dirinya sendiri. Jadi, kalau mau dirumuskan, maka beginilah rumusannya; Pikiran negatif = Hasil Negatif; Pikiran Positif = Hasil Positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan kenyataan baru, karena sekian abad yang lampau, filsuf Plato sudah mengajarkan hal itu ketika dia meminta, “&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/02/kuasai-pikiranmu-kuasai-hidupmu.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kuasailah pikiranmu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Kau dapat melakukan apa pun yang kau kehendaki dengan pikiranmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-8380094660120308829?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8380094660120308829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8380094660120308829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/hukum-tak-terlihat.html' title='Hukum Tak Terlihat'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3077116202315441239</id><published>2011-09-12T22:06:00.001+07:00</published><updated>2011-12-13T05:54:58.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Semuanya Tergantung Kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Apa yang kita rasakan sesungguhnya bukanlah hasil dari apa yang terjadi dalam hidup kita, tetapi hasil dari bagaimana cara kita menafsirkan dan menghadapi apa yang terjadi. Kehidupan orang-orang yang berhasil telah menunjukkan kepada kita berkali-kali bahwa mutu kehidupan kita ditentukan bukan oleh apa yang terjadi pada kita, melainkan lebih dari apa yang kita lakukan pada apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu dapat menganggap kemiskinan sebagai batu penghalang menuju masa depan, kita pun selalu dapat menganggapnya sebagai &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/06/kurnia-kemiskinan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;batu loncatan yang akan membawa kepada keberhasilan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa menganggap kurangnya pendidikan sebagai batas kehidupan, kita pun bisa menganggapnya sebagai motivasi untuk terus dan tak pernah berhenti belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita terjatuh, kita dapat memilih untuk tetap berdiam diri, namun kita pun dapat memilih untuk bangkit lagi. Jika usaha yang kita lakukan mengalami kegagalan, kita bisa menganggapnya sebagai akhir dari segala-galanya, juga bisa menganggapnya sebagai awal dari segala-galanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, yang paling penting bukanlah apa yang terjadi dalam hidup kita. Yang paling penting adalah bagaimana sikap pikiran dan tindakan kita terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3077116202315441239?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3077116202315441239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3077116202315441239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/semuanya-tergantung-kita.html' title='Semuanya Tergantung Kita'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2247477581409470911</id><published>2011-09-12T22:00:00.003+07:00</published><updated>2011-12-13T05:57:47.047+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Keliru itu Penting</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pada tahun 1905, Albert Einstein menciptakan Teori Relativitas Umum. Lalu pada tahun 1916 ia menemukan Teori Relativitas Khusus yang kemudian disusul banyak penemuan fisika lain yang di antaranya menjadi landasan penemuan energi dan bom atom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Einstein, ahli fisika teori kelahiran Jerman ini, dianggap sebagai pemikir paling kreatif di dunia, dan mendapatkan Hadiah Nobel karena menemukan Teori Foton Cahaya. Selain sebagai ahli fisika, ilmuwan besar kelahiran Ulm ini juga seorang pengarang, pemain biola, dan seorang yang sering meneriakkan anti peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ancaman Nazi (pada &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/11/catatan-harian-itu.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;masa holocaust, 1933&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;) ia meninggalkan Jerman dan bekerja di Princeton University, AS. Sejarah mencatat bahwa Albert Einstein adalah seorang jenius. Tetapi dia sendiri menyangkal hal itu. Katanya, “Saya berpikir terus, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sembilan puluh sembilan kali kesimpulan saya keliru, tetapi yang keseratus, benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada beberapa orang yang dilahirkan dalam keadaan jenius. Tetapi banyak orang yang kita anggap jenius mengakui bahwa dia memperoleh kejeniusannya dari hasil kerja keras. Dan kalau Einstein yang dianggap jenius saja mengalami kesalahan sampai sembilan puluh sembilan kali dan baru menemukan kebenaran pada percobaan yang keseratus, apalagi kita…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu takut mengalami kekeliruan, karena kekeliruan demi kekeliruan itu akan mengantarkan kita kepada kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2247477581409470911?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2247477581409470911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2247477581409470911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/keliru-itu-penting.html' title='Keliru itu Penting'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-9075201190110877257</id><published>2011-09-07T13:28:00.004+07:00</published><updated>2011-12-13T06:01:42.143+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Kuasa Kelembutan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pada waktu SD, saya bersekolah di madrasah, jadi saya—dan murid-murid yang lain—memanggil guru-guru kami dengan sebutan Ustadz dan Ustadzah. Selama enam tahun bersekolah di madrasah tersebut, saya memiliki guru favorit bernama Ustadzah Anisah, sosok guru yang juga sangat dihormati sekaligus disayangi murid-murid yang lain. Dia guru terbaik yang pernah saya miliki, dan kepadanya pula saya berutang budi atas semua yang telah saya capai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kecil, saya sangat pemalu dan introver, jadi kurang bisa berkomunikasi dengan baik. Ustadzah Anisah tahu hal itu—tapi dia tak pernah mencela sedikit pun kekurangan saya. Dia mengajar pelajaran bahasa Indonesia. Setiap kali ada tanya-jawab di kelas, dan saya tergagap atau kesulitan saat menjawabnya, dia akan tersenyum sabar penuh pemakluman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ketika ada tugas mengarang, dan saya mengerjakannya dengan baik, dia akan memberikan pujian dan penghargaan yang membesarkan hati, yang membuat saya tersenyum. Sampai hari ini, saya masih ingat bagaimana ekspresinya yang tulus saat memuji tugas karangan saya, dan sedikit pun tidak pernah memberikan kritikan yang mungkin menyakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, bertahun-tahun yang lalu, dia menyerahkan tugas karangan saya di dalam kelas, dan berkata dengan tulus, “Karanganmu ini bagus sekali. Kamu memiliki bakat besar dalam menulis!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak, bertahun-tahun kemudian ketika saya telah dewasa, saya tahu betul bahwa tugas karangan yang saya tulis waktu itu BENAR-BENAR JELEK SEKALI. Tetapi di situlah kehebatan guru saya yang satu ini. Dia tidak pernah mencela, tidak pernah mengkritik atau mencemooh, sebaliknya dia selalu memberikan kata-kata yang membesarkan hati. Dan, untuk itu, saya benar-benar merasa berutang budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu saya percaya pada ucapan Ustadzah Anisah—bahwa saya berbakat menulis. Dan, karena kepercayaan itu, saya pun semakin rajin menulis—membuat sajak, cerpen, dan apa pun yang bisa ditulis. Waktu itu saya masih kelas lima SD. Dan ketika guru kami di kelas bertanya apa cita-cita kami, saya pun dengan yakin menjawab, “Ingin jadi penulis!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, waktu itu saya tidak tahu karir macam apa yang disebut “Penulis” itu. Tetapi, karena dorongan positif dari Ustadzah Anisah yang meyakinkan saya berbakat menulis, saya pun memiliki kepercayaan bahkan keyakinan. Sejak itu saya semakin rajin belajar, semakin banyak membaca, semakin giat mengasah kemampuan dalam menulis. Dan, setiap kali tugas mengarang datang, saya akan bersemangat mengerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun kemudian setelah saya lulus SD dan benar-benar menjadi seorang penulis yang telah menerbitkan lebih dari 20 buku, saya tahu bahwa pencapaian itu belum tentu saya peroleh jika saya tak pernah mengenal guru luar biasa saya semasa SD dulu. Tahun 2005, ketika Ustadzah Anisah meninggal dunia, saya menangisi kepergiannya hingga berhari-hari. Kedekatan kami selama saya di SD dulu telah menjadikan dia seperti ibu kedua bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran penting yang saya peroleh dari Ustadzah Anisah bukan hanya dalam proses menulis, tetapi juga dalam hal lain yang lebih besar. Tanpa dia mengucapkannya, saya mendapatkan pelajaran yang amat berharga tentang hidup, yakni kekuatan kelembutan. Selama bertahun-tahun menjadi muridnya, saya tidak pernah sekali pun mendengarnya mengkritik muridnya, atau mencemooh, apalagi sampai merendahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada murid yang berbuat kekeliruan, dia akan menegurnya dengan halus, dengan kelembutan seorang guru yang bijaksana, sehingga si murid tidak malu apalagi marah dan sakit hati. Sebaliknya, ketika ada murid yang berbuat baik atau mendapatkan prestasi sekecil apa pun—semisal mendapatkan nilai 10 untuk suatu tugas—dia akan memberikan pujian serta penghargaan yang sangat membesarkan hati. Dia adalah guru dalam arti yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah saya ceritakan di atas. Tulisan karya saya waktu itu sangat jelek sekali (jika saya nilai secara objektif hari ini). Tetapi, alih-alih mengkritik atau memberikan cemoohan, Ustadzah Anisah justru memberikan penghargaan dan kata-kata yang membesarkan hati. Sehingga, alih-alih saya merasa malu atau sakit hati, saya justru makin giat belajar dan semakin rajin memperbaiki diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kelembutannya, dia telah mengubah diri saya yang waktu itu bodoh dan introver menjadi sosok yang jauh lebih baik. Tuhan tahu betapa besarnya cinta kasih saya untuknya, besarnya utang budi saya kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, memasuki SMP, terjadi pengalaman yang sangat bertolak belakang. Waktu itu saya memiliki seorang guru olahraga yang luar biasa galak, dengan cara mengajar yang—menurut saya—tidak layak digunakan oleh seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang satu ini sangat hobi mengkritik muridnya, bahkan mencemooh serta merendahkan seorang murid di hadapan murid-murid lainnya. Jadi, kalau ada seorang murid yang tidak bisa melakukan suatu hal dalam pelajaran olahraga, guru satu itu bukannya memotivasi si murid agar semakin giat belajar, tetapi justru mengeluarkan setumpuk caci-maki, sindiran, dan ucapan yang merendahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, saya termasuk murid yang goblok dalam pelajaran olahraga. Akibatnya, saya sering menjadi korban “ocehannya” yang sangat tidak berpendidikan. Ketika saya dikritik, dicaci-maki dan disalahkan di depan kawan-kawan saya yang lain, apakah kemudian saya punya keinginan untuk memperbaiki diri? TIDAK! Saya justru menjadi benci pada pelajaran olahraga, juga kepada si guru tersebut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan itu juga dialami kawan-kawan saya yang lain, yang juga sering mendapatkan semburan si guru olahraga. Kami semua tidak menjadi lebih baik atau lebih benar gara-gara caci-maki itu, tetapi justru menjadi benci. Puncaknya, kami akan berusaha bolos setiap kali ada pelajaran olahraga. Ketika guru saya mengancam untuk tidak memberikan nilai untuk pelajaran olahraga, saya cuma diam, dan dalam hati berkata, “Peduli amat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini, meski bertahun-tahun telah berlalu, saya masih ingat bagaimana ekspresi guru saya yang jahat itu ketika merendahkan dan mencemooh murid-muridnya. Dan, saya malu mengakuinya, saya tetap merasa benci kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelembutan yang diberikan Ustadzah Anisah di masa SD dulu tetap membawa bekas hingga hari ini dalam hidup saya—tetapi bekas yang baik dan positif, bahkan mulia. Sebaliknya, kekerasan dan perilaku kebencian yang ditunjukkan guru olahraga saya di SMP juga membawa bekas dalam hidup saya—tetapi bekas yang buruk dan juga penuh kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru olahraga saya mungkin telah lupa pada apa yang dilakukannya terhadap saya dan murid-murid yang lain. Tetapi saya, dan murid-murid yang lain, tak pernah bisa melupakan tindakan buruknya. Hari ini, saya menyadari, bahwa jika saya berbuat buruk kepada seseorang, maka orang itu akan mengingatnya hingga bertahun-tahun, bahkan ketika saya sendiri telah melupakan perbuatan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelembutan memberikan bekas, begitu pula kekerasan. Dan jika ada bekas yang ingin saya tinggalkan pada orang lain, saya berdoa dan berharap kepada Tuhan yang Maha Baik, semoga bekas itu adalah bekas yang baik dan positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehmm, omong-omong soal bekas yang baik dan positif, saya teringat pada sohib blogger saya, Pak Joko Sutarto, pemilik blog &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.diptara.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diptara&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan yang lalu, Pak Joko menulis sebuah post berjudul &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.diptara.com/2011/05/apakah-anda-selalu-jujur-dalam-tulisan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah Anda Selalu Jujur Dalam Tulisan-tulisan Anda?&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Isi post itu membahas tentang kejujuran—khususnya dalam menulis—yang menggunakan sosok Mahatma Gandhi sebagai ilustrasi. Kebetulan, saya pernah menulis hal yang sama sebelumnya, dalam post berjudul &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/04/mahatma-ghandi-suka-gulali.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mahatma Ghandi Suka Gulali&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Karena kedua post itu memiliki benang merah, Pak Joko pun memberikan backlink ke posting saya tersebut, sebagai rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu saya tegaskan di sini, bahwa Pak Joko menulis post di blognya tersebut lebih ditujukan sebagai muhasabah (introspeksi diri), dan bukan bertujuan untuk mengkritik orang per orang. Nah, yang mengagumkan, backlink yang diberikannya untuk posting saya itu secara sekaligus memberikan teguran yang amat halus atas kesalahan yang saya lakukan dalam penulisan nama Mahatma Gandhi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kalian lebih memahami maksud saya, bacalah posting Pak Joko tersebut di blognya, kemudian bandingkan dengan posting saya di blog ini. Pak Joko menulis nama Mahatma Gandhi (dengan huruf ‘h’ di depan huruf ‘d’), sementara saya menulis Mahatma Ghandi (dengan huruf ‘h’ di depan huruf ‘g’). Mungkin itu terkesan sepele, tetapi sesungguhnya itu kesalahan yang amat fatal, karena ini menyangkut nama orang, khususnya lagi nama tokoh besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu manakah yang benar? Gandhi versi Pak Joko, ataukah Ghandi versi saya? Ketika pertama kali menyadari perbedaan letak huruf ‘h’ tersebut, saya langsung mengeceknya ke semua sumber yang valid—dari Wikipedia, sampai Ensiklopedia Britannica dan Oxford Ensiklopedia. Hasilnya, Pak Joko yang benar, dan saya yang salah! (Catatan: Sampai hari ini saya tetap tidak membetulkan kesalahan saya dalam posting mengenai Mahatma Gandhi di blog ini, sebagai bukti kalau saya memang salah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya membayangkan, ketika Pak Joko membaca posting saya tersebut, dan kemudian dia menulis postingnya sendiri, Pak Joko pasti tahu bahwa saya telah melakukan kekeliruan fatal dalam tulisan saya—karena salah dalam menulis nama Mahatma Gandhi. Tetapi, alih-alih menegur atau mengkritik secara terang-terangan, dia justru melakukan sesuatu yang sangat halus sekaligus elegan—memberikan backlink dan membiarkan saya menyadari kesalahan saya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ajaib, pikir saya waktu itu dengan takjub. Coba bayangkan kalau umpama—sekali lagi, umpama!—Pak Joko secara frontal mengkiritik saya di blognya, misalnya dengan menulis, “Eh, ternyata si Hoeda Manis itu benar-benar guoblok! Buktinya, dia tidak tahu cara penulisan nama Mahatma Gandhi yang benar. Kegoblokan apa yang lebih goblok dari itu, coba?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika itu yang dilakukannya, kemungkinan besar saya akan sakit hati. Finish-nya, bisa jadi hubungan baik kami retak dan rusak, dan persahabatan yang tadinya baik menjadi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya ceritakan di atas, Pak Joko tidak melakukan hal semacam itu. Alih-alih mengkritik atau bahkan mencemooh, dia justru memberikan backlink yang sekaligus memberikan teguran yang amat halus dan lembut—sebegitu lembutnya hingga saya tidak memiliki alasan untuk marah, bahkan sebaliknya merasa sangat berterima kasih atas teguran itu, dan menaruh hormat yang lebih tinggi untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena teguran yang halus itu pula, saya pun semakin berhati-hati dalam menulis, agar kesalahan seperti di atas tidak terjadi lagi. Setiap kali akan menulis nama seseorang—khususnya lagi nama tokoh terkenal—saya akan merujuknya terlebih dulu pada sumber-sumber yang valid, agar tulisan dan ejaan saya benar-benar tepat dan akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang diberikan Pak Joko dalam tegurannya yang amat halus itu, mengingatkan saya pada pelajaran mulia yang saya peroleh dari Ustadzah Anisah bertahun-tahun lalu, tentang kuasa kelembutan. Mau tak mau kita pasti akan menghormati orang-orang semacam itu—orang-orang yang mampu menunjukkan kekeliruan kita tanpa membuat kita sakit hati karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seribu lima ratus tahun yang lalu, seorang lelaki di Tanah Arabia ditanya para sahabatnya, “Ya Rasul, seperti apakah orang yang baik itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Muhammad, sang Rasul, menjawab, “Orang yang memiliki kasih sayang pada sesamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima ratus tahun sebelum Rasulullah Muhammad menyatakan kalimat mulia itu, seorang lelaki lain di Bukit Yudea ditanya murid-muridnya, “Guru, pelajaran apakah yang sebaiknya kami ingat selamanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Yesus, sang Guru, menjawab, “Perlakukanlah orang lain dengan lembut dan penuh kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh-jauh hari sebelum Yesus menyampaikan pelajaran penting itu, Aesop di Yunani menceritakan analogi indah tentang kisah Angin dan Matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin dan Matahari menyaksikan seorang lelaki yang memakai jubah tebal di tengah padang. Angin dan Matahari kemudian bertaruh untuk menentukan siapa yang lebih kuat, dan Angin berkata, “Aku akan membuktikan bahwa akulah yang terkuat. Aku akan memaksa lelaki itu melepaskan jubahnya yang tebal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Matahari pun pindah ke belakang awan, kemudian Angin berhembus menciptakan badai. Tetapi, semakin keras dia berhembus, semakin erat pula lelaki itu mencengkeram jubah ke tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Angin pun menyerah, dan Matahari muncul dari balik awan. Matahari tersenyum ramah pada lelaki berjubah itu dengan sinarnya. Kini, tanpa diminta, lelaki itu menanggalkan jubahnya, menyeka alisnya, dan mulai mengipasi diri dengan topinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari kemudian berbisik kepada Angin, “Kekerasan sering kali gagal, tapi kelembutan… selalu menang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-9075201190110877257?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/9075201190110877257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/9075201190110877257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/kuasa-kelembutan.html' title='Kuasa Kelembutan'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-6063802191410128941</id><published>2011-09-07T13:27:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:13:27.951+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Pilihan Midas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tuhan telah memberikan suatu kekuatan kepada kita, kekuatan yang begitu besar sehingga para malaikat pun tidak memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia diberi &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/05/hidupmu-adalah-pilihanmu.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kekuatan untuk memilih&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Inilah salah satu hal yang membuat manusia lebih istimewa dibandingkan makhluk lainnya. Tetapi anugerah keistimewaan ini juga mengandung risiko, mengandung konsekuensi, karena apabila tidak bijak menggunakannya, kita justru akan terperosok dalam pilihan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng Yunani Kuno mengisahkan tentang Raja Midas yang oleh Dewa Dionysus dianugerahi kebebasan untuk memilih hadiah apa pun yang diinginkannya. Tetapi dia hanya bisa meminta satu kali. Tanpa ragu sedikit pun, Raja Midas menjawab, “Aku ingin segala yang kusentuh menjadi emas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Dionysus pun mengabulkan keinginannya. Maka batu dan daun-daun yang dipungut Raja Midas pun menjadi emas. Tanah yang digenggamnya berubah menjadi emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sekarang menjadi orang terkaya dan paling bahagia di dunia ini!” Ia berseru kegirangan. Bahkan ia pun kemudian mengadakan pesta besar untuk merayakan kebahagiaannya itu. Tapi susahnya, makanan dan minuman yang disentuhnya berubah menjadi emas, bahkan putrinya sendiri yang ia sentuh juga menjadi patung emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masih diizinkan untuk kembali memilih, masih mungkinkah Raja Midas tetap memilih keinginannya semula...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya—dan sering kali—hidup menawarkan pilihan yang hanya sekali. Dan, ada kalanya pula, kita salah dalam memilih sehingga kebahagiaan yang kita cari ternyata berakhir dengan penyesalan tak kunjung usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita punya kekuatan untuk memilih tersenyum atau menangis, kita punya kekuatan untuk memilih tumbuh atau membusuk, untuk gigih atau menyerah, untuk memberi atau mencuri, untuk bertindak atau menunda, untuk menyembuhkan atau melukai, untuk hidup atau untuk mati. Kekuatan untuk memilih adalah kekuatan yang terbesar, dan pilihan selalu ada di tangan kita. Karena itu, marilah bijaksana dalam menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-6063802191410128941?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6063802191410128941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6063802191410128941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/pilihan-midas.html' title='Pilihan Midas'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-6578185151795829290</id><published>2011-09-07T13:25:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:16:32.008+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Makanan Sehat untuk Pikiran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Iklan-iklan di televisi begitu gencar menayangkan berbagai produk makanan dan minuman, bahkan berbagai suplemen untuk menunjang kesehatan tubuh. Masyarakat kita hari ini telah menjadi masyarakat modern yang telah ‘sadar gizi’, telah menyadari bahwa tubuh kita akan terbentuk sesuai dengan yang kita masukkan ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sayangnya, hanya sedikit orang yang telah memahami bahwa pikiran kita juga berlaku seperti itu. Pikiran kita akan terbentuk sesuai dengan apa yang kita masukkan ke dalamnya. Seperti halnya tubuh yang membutuhkan makanan sehat dan bergizi untuk menunjang kesehatan, begitu pula kita membutuhkan makanan mental untuk ‘diet sehat’ bagi pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran kita tak jauh beda dengan rekening di bank. Setiap hari kita memasukkan uang ke dalam rekening itu, dan uang pun berkembang serta berbunga. Itu sama halnya dengan pemikiran yang biasa kita masukkan ke dalam pikiran kita. Semua pemikiran itu akan berkumpul, menumpuk, bahkan berkembang, dan itu akan membentuk bagaimana cara kita menghadapi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita mulai berpikir karena menghadapi suatu masalah, sebenarnya kita mengatakan kepada bank ingatan kita, “Apa yang sudah saya ketahui mengenai hal ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank pikiran kita pun secara otomatis menjawab dan menyuplai kita dengan potongan informasi, yang berkaitan dengan situasi itu, yang biasa kita masukkan ke dalamnya sebelumnya. Jadi, ingatan kita adalah penyuplai dasar dari bahan mentah untuk pikiran kita yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal itulah, kita diingatkan untuk tidak membiasakan diri memasukkan pemikiran-pemikiran yang negatif, karena semua pemikiran itu akan muncul saat kita menghadapi suatu masalah yang membutuhkan pikiran. Memikirkan kekalahan akan terus membawa kita pada kekalahan, begitu pun memikirkan kemenangan akan terus membawa kita pada kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/04/taman-diri-kita.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kesehatan tubuh berguna untuk melakukan apa yang kita inginkan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, maka kesehatan pikiran kita akan menentukan apa yang kita inginkan. Kesehatan pikiran tanpa kesehatan tubuh mungkin masih bisa membawa kita pada tujuan meski tertatih-tatih, tapi kesehatan tubuh tanpa kesehatan pikiran tak akan pernah membawa kita kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan sehat untuk tubuh itu perlu, makanan sehat untuk pikiran jauh lebih perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-6578185151795829290?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6578185151795829290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6578185151795829290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/makanan-sehat-untuk-pikiran.html' title='Makanan Sehat untuk Pikiran'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-7963330344862273407</id><published>2011-09-07T13:23:00.003+07:00</published><updated>2011-12-13T06:19:44.155+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Hakikat Keyakinan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jika kita percaya bahwa sesuatu itu tidak mungkin, maka pikiran kita pun akan bekerja bagi kita untuk membuktikan mengapa hal itu tidak mungkin. Tetapi, jika kita percaya, benar-benar percaya, bahwa sesuatu dapat dilakukan, maka pikiran kita pun akan bekerja bagi kita dan membantu kita mencari jalan untuk melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika Wright Bersaudara sedang menyusun kerangka pesawat yang diharapkan bisa terbang di udara, bersamaan dengan itu ada sekelompok ilmuwan yang juga sedang serius dalam penelitian untuk membuktikan bahwa apa pun yang beratnya melebihi udara tak akan bisa terbang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa yang sama-sama mereka yakini itu pun kemudian sama-sama menjadi kenyataan. Wright bersaudara berhasil membuktikan keyakinannya bahwa pesawat mereka bisa terbang, sementara kelompok ilmuwan itu juga bisa membuktikan keyakinannya bahwa segala benda yang melebihi berat udara tak akan bisa terbang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wright bersaudara berkeyakinan pada kemungkinan; bahwa itu mungkin, maka mereka mendapatkan kemungkinan-kemungkinan, dan mereka mampu &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/11/ditolak-dua-belas-kali.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mewujudkan kemungkinan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; itu. Sementara ilmuwan yang lain berkeyakinan pada kemustahilan; bahwa itu tidak mungkin, dan mereka pun menghadapi segala ketidakmungkinan, membentur segala kemustahilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan adalah hakikat hal-hal yang diharapkan, bukti hal-hal yang tak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-7963330344862273407?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7963330344862273407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7963330344862273407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/hakikat-keyakinan.html' title='Hakikat Keyakinan'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-2392838452870089227</id><published>2011-09-01T00:37:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:24:37.225+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><title type='text'>Pengetahuan Tertinggi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Min huna nabda’ wa takhta dhilaali ‘arsyi arrahmaani naltaqi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dulu, saya berpikir bahwa diciptakannya bulan Ramadhan adalah bentuk kecemburuan Tuhan. Selama Ramadhan, Tuhan seolah ingin menjadi satu-satunya yang diingat manusia, setelah sebelas bulan lamanya manusia hanya mengingat Tuhan di waktu-waktu tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Ramadhan, umat Muslim sedunia akan menjalankan ibadah, dalam arti sesungguhnya, dimana sejak bangun tidur sampai tidur kembali—bahkan dalam tidur itu sendiri—semuanya dalam rangka ibadah. Berbeda dengan bentuk ibadah lain yang kasatmata, ibadah puasa selama Ramadhan adalah ibadah yang tak terlihat manusia lainnya, selain hanya untuk Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/08/teman-saya-tidak-puasa.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puasa dalam arti sesungguhnya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, yakni meninggalkan makan minum dan hawa nafsu, adalah bentuk ibadah murni yang secara langsung ditujukan untuk Tuhan. Di hadapan manusia, kita mungkin dapat menunjukkan bahwa kita tidak makan dan minum selama Ramadhan. Tetapi di hadapan Tuhan, tidak makan dan minum hanya hal kecil, karena pantangan yang jauh lebih besar tak pernah terlihat, yakni yang ada di hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Ramadhan, orang yang benar-benar berpuasa akan seratus persen mengingat Tuhan, dari hari ke hari, bahkan dari saat ke saat—dalam tidur maupun terjaga. Karena itulah kemudian saya sempat berpikir bahwa Tuhan sengaja menciptakan bulan Ramadhan karena kecemburuan. Ia ingin diingat selama satu bulan penuh oleh manusia, setelah sebelas bulan lamanya manusia begitu sibuk dengan kesibukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kemudian saya menyadari bahwa Tuhan tidak cemburu. Karena bahkan umpama manusia di seluruh dunia tidak menjalankan perintah-Nya pun, Tuhan tak kan terluka. Sekarang, saya menyadari bahwa Ramadhan diciptakan untuk manusia, dengan tujuan agar manusia memiliki waktu sesaat untuk mulai mengenali dirinya sendiri, untuk memahami eksistensinya di dunia, untuk memakrifati kefitriannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan adalah waktu yang diciptakan untuk memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mengenali diri sendiri. Setelah sebelas bulan lamanya kita disibukkan dengan segala urusan di luar kita, Ramadhan mengajak masing-masing manusia untuk rehat sejenak, meninggalkan hiruk-pikuk dunia, dan masuk ke dalam kesadaran kehambaannya, untuk mengingat Eksistensi Multak Alam Semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kisah Saur Sepuh yang legendaris, diceritakan bahwa Brama Kumbara yang sakti mandraguna akhirnya dapat dikalahkan oleh Biksu Kampala. Setelah malang-melintang di dunia persilatan tanpa ada satu pendekar pun yang dapat mengalahkannya, akhirnya Brama Kumbara yang tangguh dan perkasa tumbang, dan dipaksa bertekuk lutut di hadapan Biksu Kampala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Biksu Kampala? Merujuk pada kisah Saur Sepuh, Biksu Kampala adalah seorang biksu dari Tibet yang sedang mengembara. Pertemuannya dengan Brama Kumbara—hingga mereka kemudian bertarung unjuk kesaktian—adalah ketika sang Biksu sampai di kerajaan Madangkara. Dan, seperti yang telah dinyatakan di atas, Brama Kumbara kalah. Kekalahan itu adalah berita yang mengguncang alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin orang yang dianggap manusia bijak, sakti, hebat, dan raja yang sangat dihormati jutaan manusia lainnya itu bisa dikalahkan...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FYI, di dunia persilatan Saur Sepuh, Brama Kumbara adalah satu-satunya orang yang mampu menguasai Ajian Serat Jiwa Tingkat 10. Rata-rata pendekar di sana hanya mampu menguasai Serat Jiwa Tingkat 3, mentok-mentoknya Tingkat 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Brama Kumbara juga menguasai Ajian Tapak Sakti Tingkat Akhir, sehingga dia dapat menghantam batu karang di lautan sampai hancur menjadi pasir. Puncaknya, orang ini juga menguasai Ajian Bayu Bajra, sehingga dapat menciptakan badai berkekuatan skala Richter untuk mengguncangkan bagian bumi mana pun yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, meski memiliki kesaktian hebat semacam itu, Brama Kumbara kalah. Dan yang mengalahkannya adalah seorang biksu yang sama sekali tak terkenal. Karena itu, seperti yang dinyatakan di atas, berita kekalahan itu pun mengguncang jagad persilatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kekalahan itu, Brama Kumbara pun menemui gurunya, yang ia panggil dengan sebutan Eyang Astagina. Sang Guru memberikan petuahnya, “Kalau kau ingin menang, kau harus mempelajari Ilmu Lampah-Lumpuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Ilmu Lampah-Lumpuh itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Astagina menjelaskan, bahwa Lampah-Lumpuh adalah kemampuan mengosongkan segala kekotoran yang ada di dalam hati dan pikiran manusia. Lampah-Lumpuh adalah pengosongan segala hal—selain kesucian—dari dalam diri kita. Lampah-Lumpuh adalah kemampuan seseorang untuk kembali kepada fitrahnya, kepada hakikat kesuciannya. Ketika seseorang menguasai Lampah-Lumpuh, dia akan menjadi manusia yang benar-benar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lampah-Lumpuh adalah puncak segala ilmu kesaktian,” ujar Guru Astagina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brama Kumbara bertekad untuk dapat menguasai ilmu itu. Tetapi, karena ini adalah ilmu puncak, maka syaratnya pun sangat berat—yakni berpuasa selama 40 hari 40 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk kembali kepada fitrah, kepada kesucian,” kata Guru Astagina, “kau harus menjadi bayi kembali. Karena itulah, kau harus berpuasa selama 40 hari 40 malam, tanpa makan atau memasukkan apa pun ke dalam tubuh dan pikiranmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begitulah. Di suatu hari yang telah disepakati, Brama Kumbara menyepi ke Pesanggrahan Keramat—semacam villa-nya orang-orang istana Madangkara—dan di sana ia mulai menjalankan puasa sebagai persyaratan memperoleh Ilmu Lampah-Lumpuh. Selama 40 hari itu, komplek Pesanggarahan Keramat dijaga ratusan prajurit dan para pendekar, demi keselamatan raja mereka selama menjalani laku puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat puluh hari kemudian, Brama Kumbara berhasil selamat setelah tidak makan dan minum apa pun. Tentu saja waktu itu kondisinya benar-benar kritis. Energi fisiknya telah hilang, kekuatannya benar-benar sirna. Kalau mau menggunakan istilah Guru Astagina, “Dia (Brama) telah berhasil menjadi bayi kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana bayi pada umumnya, Brama pun waktu itu belum mampu mengunyah makanan apa pun selain air tajin. Jadi, setiap hari istrinya menyuapkan air tajin untuknya, dan dari hari ke hari kekuatan Brama mulai pulih kembali. Akhirnya, setelah energi dan kekuatan Brama telah benar-benar dipulihkan, Guru Astagina mulai memasukkan Ilmu Lampah-Lumpuh kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampah-Lumpuh adalah kembali kepada fitri, kepada titik awal eksistensi manusia di bumi. Ketika Brama Kumbara berhasil menguasai Lampah-Lumpuh—setelah mampu berpuasa 40 hari 40 malam—dia tidak lagi memiliki iri hati dan dengki, tidak lagi memiliki nafsu kotor, bahkan tidak lagi memiliki hasrat ingin mengalahkan. Dia telah benar-benar kembali menjadi bayi, kembali kepada fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ketika ia kembali bertemu dengan Biksu Kampala yang dulu mengalahkannya, Brama Kumbara tidak bertarung untuk balas dendam. Bahkan, melalui Lampah-Lumpuh, dia berhasil memenangkan pertarungan itu, tanpa mengalahkan. Yang dilakukan Brama waktu itu hanya menyentuh Biksu Kampala dengan lembut, dan si Biksu pun lumpuh. Pertarungan itu tanpa teriakan, tanpa kekuatan, bahkan tanpa hasrat mengalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menggunakan istilah Ronggowarsito, Brama Kumbara telah mampu “menang tanpo ngasorake”—menang tanpa mengalahkan. Dan kemampuan itu diperolehnya setelah dia mampu kembali kepada eksistensi murninya, yakni mengosongkan segala sesuatu selain fitrah suci di dalam dirinya. Seperti yang dikatakan Guru Astagina, “Lampah-Lumpuh adalah ilmu kesaktian paling puncak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Lampah-Lumpuh, Brama Kumbara telah mampu mengalahkan musuh terbesarnya, yakni dirinya sendiri, hawa nafsunya sendiri. Satu-satunya kemenangan yang dapat dicapai tanpa mengalahkan adalah kemenangan atas diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia berpuasa selama 40 hari 40 malam, segala nafsu manusiawinya lenyap. Kelaparan dan kehausan membunuh nafsu, dan matinya nafsu adalah hidupnya eksistensi sejati manusia. Ketika dia tidak lagi disibukkan untuk memikirkan hal-hal lain di luar dirinya, maka mau tak mau dia akan berpikir tentang dirinya. Dan, pengenalan diri, adalah Pengetahuan Tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saat Ramadhan menjelang dan kini menghilang, saya kembali teringat pada kisah Brama Kumbara yang menyepi di Pesanggrahan Keramat untuk berpuasa—untuk membersihkan segala hawa nafsunya, sekaligus untuk kembali kepada fitrahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kita bukan Brama Kumbara yang sedang mengharapkan ilmu kesaktian. Tetapi, secara esensi, kita juga melakukan apa yang dilakukannya, yakni berupaya “menjadi bayi kembali”. Setelah kita mampu menundukkan hasrat pada makan-minum dan hawa nafsu, maka kita pun akan kembali menghidupkan apa yang mungkin telah mati di dalam kemanusiaan kita, yang mungkin tidak kita sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan dimaksudkan untuk memberi waktu kepada kita untuk melakukan hal itu—mengenali diri sendiri, untuk kemudian menemukan eksistensi sejati keberadaan kita di dunia ini. “Kalau kau mengenal dirimu sendiri,” kata Sunan Kalijaga, “kau akan mengenal Tuhanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi itulah, saya pikir, tujuan Tuhan memberikan Ramadhan untuk manusia. Bukan karena kecemburuan, melainkan karena cinta kasih-Nya. Ramadhan adalah kesempatan agung yang diberikan-Nya kepada manusia untuk mengetahui eksistensi sejati, untuk mengenal &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/pengetahuan-tertinggi.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengetahuan Tertinggi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;... yakni menemukan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Taqabbalallaahu minna wa minkum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-2392838452870089227?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2392838452870089227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/2392838452870089227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/pengetahuan-tertinggi.html' title='Pengetahuan Tertinggi'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-6495356700527335476</id><published>2011-09-01T00:34:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:26:01.063+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Destination Unknown (3)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Mrs. Davis mengarahkan tatapannya ke layar monitor di hadapannya dengan penuh konsentrasi, dan seketika mengetahui maksud Jason. Ada sesuatu yang aneh namun nyaris tak terlihat menyangkut post itu, yang pasti dilakukan dengan sengaja oleh penulisnya—entah siapa pun dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini seperti olok-olok yang sangat cerdik,” gumam Mrs. Davis kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, dan olok-olok itu dilakukan dengan sangat halus, sehingga meski telah dilihat ribuan orang, namun mungkin tidak ada yang menyadari keanehannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecuali kau, tentu saja,” ujar Mrs. Davis dengan sayang. “Apa lagi yang telah kaudapatkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Blog ini benar-benar sinting,” sahut Jason. “Saya telah menyisihkan sekitar tiga puluhan post yang saya pikir akan saling berkaitan. Tapi saya belum yakin. Mungkin masih banyak post lain yang tertumpuk di sini—yang belum saya lihat—yang mungkin juga memiliki kaitan. Coba Anda lihat beberapa post ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mrs. Davis membuka-buka halaman post yang telah disisihkan Jason, dengan kening yang berkerut. Dengan kecepatan membaca karena kebiasaan bertahun-tahun, dia bisa segera menyelesaikan tulisan-tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak yakin ini saling berkaitan,” ujar Mrs. Davis kemudian. “Masing-masing post ini sepertinya memiliki maksud sendiri-sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jason tersenyum lebar. “Jika Anda juga terkecoh, Mrs. Davis, saya tidak akan heran kalau orang lain juga akan sama terkecoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba katakan bagaimana catatan-catatan yang tampak saling berdiri sendiri ini memiliki keterkaitan. Aku tidak yakin…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum Jason makin mengembang. “Seperti yang tadi saya bilang, blog ini benar-benar sinting—atau penulisnya yang sinting. Catatan-catatan yang saya sisihkan ini memang sekilas tampak terpisah atau saling berdiri sendiri dengan tema masing-masing. Pada mulanya saya pun berpikir begitu. Tapi rupanya penulis sinting ini cukup berbaik hati. Dia memberikan kuncinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kuncinya…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini,” sahut Jason sambil menggerakkan pointer untuk membuka satu halaman posting yang sejak tadi disembunyikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/05/sepuluh-pecahan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sepuluh Pecahan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.” Tanpa sadar Mrs. Davis membaca catatan dalam halaman posting itu. Lalu segera menangkap apa yang tersembunyi di dalamnya. Post itu sangat singkat, hanya berupa daftar tidak jelas, tidak menyatakan apa pun, bahkan tidak dapat dipahami. Tapi rupanya Jason telah melihat apa yang dimaksudkan penulisnya dalam catatan itu… dan dia pun kini sama melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, my God…” gumam Mrs. Davis tanpa sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-6495356700527335476?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6495356700527335476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6495356700527335476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/destination-unknown-3.html' title='Destination Unknown (3)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3220000189367085513</id><published>2011-09-01T00:31:00.003+07:00</published><updated>2011-12-13T06:29:00.494+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Destination Unknown (2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kekhusyukannya itu kemudian terhenti ketika terdengar suara Mrs. Davis, yang sepertinya baru kembali dari pekerjaan rutinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah menemukan sesuatu, Jason?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jason mengangkat mukanya dari depan komputer, dan menatap kosong pada wanita itu. “Saya tidak yakin,” ujarnya kemudian. “Kata kunci yang saya dapatkan dari buku itu sekarang malah membuat saya berputar-putar dalam kebingungan yang makin aneh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mrs. Davis tersenyum. “Mungkin sudah saatnya kau mengizinkan wanita tua ini untuk membantumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jason selalu senang pada Mrs. Davis. Wanita 50-an tahun itu selalu ringan tangan, dan pengetahuannya yang amat luas karena bertahun-tahun menjadi pustakawan memang menjadikannya seperti ensiklopedia berjalan. Jason tahu, ada banyak mahasiswa, bahkan dosen, di KSU yang menjadikan Mrs. Davis sebagai semacam “buku hidup”. Dan sekarang wanita luar biasa itu telah duduk di samping Jason, menatap ke arah layar monitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba lihat apa yang telah kaudapatkan,” ujar Mrs. Davis dengan ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jason membuka satu halaman posting. &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/02/fleur-lepac.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Flèur l’Epàc&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita mulai dari post ini, Mrs. Davis. Karena post inilah yang pertama kali saya temukan ketika menggunakan kata kunci yang saya peroleh dari buku ‘The Dark Island’. Seperti yang Anda lihat, ada sesuatu yang disembunyikan penulisnya dalam posting ini dengan amat cerdik. Tapi dia tidak mau membukakan semuanya dalam catatan ini. Artinya, saya pikir, dia memecah-mecah rahasianya dalam beberapa post lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm…” Mrs Davis menggumam sambil menatap ke barisan kalimat di hadapannya. Ia tahu, sebagaimana Jason tahu, tulisan dalam posting itu tidak seperti tampaknya. Sesuatu ditanamkan dalam rangkaian kata-kata itu—dengan sangat halus—sehingga orang-orang yang membaca tidak menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah,” lanjut Jason sambil membuka sebuah tab di monitor, “sekarang lihat post yang ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mrs. Davis membaca judul postingnya, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/10/akulah-sang-kebenaran.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mereka Pergi ke Bora Bora&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“See. Anda tentu tahu apa makna Bora Bora,” ujar Jason sambil tersenyum. “Kalau kita baca catatan di bawah judul tersebut, kita tahu Bora Bora yang dimaksudkan di situ bukan nama tempat, melainkan analogi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mrs. Davis memahami senyum itu. “Tentu saja. Itu kamuflase untuk penyebutan fatamorgana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Posting ini seperti dialog absurd,” lanjut Jason. “Well, istilah Bora Bora sendiri tidak terkenal, sehingga tidak menarik perhatian. Dengan judul aneh dan isi posting yang sama anehnya, orang pasti tidak menghiraukannya. Tapi posting yang singkat dan terkesan absurd ini memberikan jawaban yang saya inginkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Jason, nyatanya memang isi posting ini hanya dialog yang tidak jelas, kan? Eh, jujur, aku tidak menemukan apa pun yang disembunyikan di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang tidak,” sahut Jason sambil menahan senyum. “Kita tidak akan menemukan apa-apa jika hanya membaca judul dan isi postingnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, selain judul dan isi catatan di dalamnya, apa lagi yang harus kita lihat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Jason benar-benar tersenyum. “Coba perhatikan lebih saksama lagi, Mrs. Davis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/destination-unknown-3.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ke sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3220000189367085513?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3220000189367085513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3220000189367085513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/destination-unknown-2.html' title='Destination Unknown (2)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3470089204035470775</id><published>2011-09-01T00:28:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T06:32:13.214+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Destination Unknown (1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;—Lanjutan &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/05/note-from-biek-island.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Note from Biek Island&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jason termangu di depan layar monitor, menatapi rangkaian paragraf dalam posting di blog itu, sementara Mrs. Davis telah pergi meninggalkannya beberapa waktu yang lalu, karena perlu mencarikan beberapa buku untuk seorang profesor yang akan mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What the...?” dia tak menyelesaikan gumamannya ketika menyadari apa yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posting yang tak terlalu panjang itu benar-benar mengguncangkan pikirannya. Ia tahu, di balik rangkaian kata-kata yang terkesan puitis itu terdapat sesuatu yang disembunyikan penulisnya dengan sangat cerdik—dan pilihan judul ‘&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/02/fleur-lepac.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Flèur l’Epàc&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;’ benar-benar mengecoh, karena frasa aslinya ditutupi dengan amat tersamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Jason bergerak menyentuh mouse, dan dengan cepat membuka-buka halaman blog itu satu per satu. Ini memang blog sinting, pikirnya sambil terus membuka halaman demi halaman. Di antara ratusan posting yang ada di blog itu, Jason menyisihkan beberapa post yang ia pikir saling berkaitan. Dan tangannya terus sibuk, membuka satu per satu posting di sana, dengan pikiran yang semakin terguncang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian, Jason telah menyisihkan setumpuk posting yang ia yakini memiliki keterkaitan—meski belum terlalu yakin. Ia tahu akan menemukan apa yang dicarinya—sesuatu yang telah disembunyikan penulis-entah-siapa ini di dalam tumpukan catatan-catatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bangkit dari tempat duduknya, melangkah ke tempat dispenser, dan menuangkan kopi panas ke dalam gelas. Ia butuh suntikan kafein untuk membuka matanya setelah semalaman belum tidur. Einstein tidak tidur sebelum menemukan E=MC2, Edison tidak tidur sebelum menemukan filamen untuk bola lampu, Beethoven tidak tidur sebelum menemukan nada yang tepat untuk sonata kelima, dan ia pun tidak ingin tidur sebelum menemukan apa yang dicarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, setelah aliran kopi panas menghangatkan tenggorokannya, Jason kembali menekuri monitor di hadapannya. “Flèur l’Epàc,” gumamnya sambil menatap post itu lama-lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jason tahu, sesuatu disembunyikan di dalam catatan itu, tetapi hanya sebagian kecilnya. Artinya, ia menyimpulkan, keping-keping rahasia lain disembunyikan oleh si penulis dalam banyak catatan lainnya. Masalahnya sekarang, dia tidak tahu di catatan mana saja keping-keping rahasia itu ditanamkan. Ia sendiri menemukan frasa ‘Flèur l’Epàc’ dari buku tua yang ditemukannya di perpustakaan, hingga kemudian menemukan posting berjudul sama di sebuah blog-entah-milik-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang dia membuka satu per satu halaman posting yang telah disisihkannya, dan berharap—entah bagaimana caranya—salah satu halaman posting itu akan mengungkapkan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika perlu, aku akan membaca seluruh isi blog sialan ini,” pikirnya penuh tekad. Dan dia pun memulainya. Posting-posting yang tadi disisihkannya itu dibacanya dengan cermat, seperti pemanah yang membidik sasaran dengan harapan memperoleh tembakan yang akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jam demi jam pun berlalu. Jason masih duduk tanpa suara di depan layar komputer, dengan kening yang semakin berkerut, dengan bergelas-gelas kopi yang terus ia tuangkan dari dispenser perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/destination-unknown-2.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ke sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3470089204035470775?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3470089204035470775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3470089204035470775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/destination-unknown-1.html' title='Destination Unknown (1)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-1251773636920775364</id><published>2011-08-26T22:57:00.001+07:00</published><updated>2011-12-14T00:52:44.198+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Cowok-cowok Idiot</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ehm, saya lagi stres, jadi sedang malas mikir hal-hal yang agak berat. So, saya bikin posting ini hanya untuk bersenang-senang dan menghibur diri sendiri. Kalau kalian mau membacanya dan ikut terhibur, saya ikut senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posting ini juga saya tujukan buat “nyolek” dua sohib saya yang idiot tapi baik hati—&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/10/neighbourhood-abigail.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abigail&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan Jonah. Ayo kita menertawakan keidiotan diri sendiri! :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam, saat Valentino melangkah di depan rumah Abigail untuk membeli nasi, dia melihat Abigail sedang khusyuk membaca buku. Itu cukup aneh bagi Valentino. Lebih aneh lagi ketika dia tahu bahwa buku yang dibaca Abigail adalah buku fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, malam itu, ketika melangkah sambil menenteng nasi di depan rumah Abigail, Valentino pun kembali nyamperin, “Lagi belajar, folk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, iya nih, fel,” sahut Abigail. “Lagi belajar fisika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perasaan, dari kemarin kamu belajar fisika melulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, soalnya fisika adalah pelajaran yang akan mengantarku menuju cita-cita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, hebat. Jadi kamu ingin jadi pakar fisika, gitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh, bukan gitu, sih,” jawab Abigail. “Aku ingin jadi penjual buku fisika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jonah sangat suka nonton film, jadi dia pun menjadi member sebuah rental DVD. Siang itu dia pergi ke rental tersebut, karena ingin menyewa film terbaru. Meski siang itu panas sekali, dan jarak rental itu cukup jauh, Jonah tak peduli, yang penting dia bisa nonton film baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, film yang diinginkannya kebetulan sedang keluar semua (dipinjam oleh penyewa lain). Akhirnya, sambil menahan dongkol, Jonah pun memelototi rak-rak DVD di sana, siapa tahu ada film bagus yang belum ditontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung salah satu rak, Jonah menemukan satu judul yang cukup menarik minatnya. Maka diambilnya DVD itu untuk disewanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, Jonah kesal bukan main karena DVD itu tidak bisa disetel! Ini pasti bukan salah playernya, pikir Jonah. DVD player itu belum lama dia beli dan masih bergaransi. Ini pasti DVD-nya yang tidak beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan dongkol, Jonah segera menelepon rental DVD itu untuk komplain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, ini kok DVD-nya nggak bisa disetel!” komplainnya langsung. “Udah capek-capek kepanasan ke sana, tapi nggak ada manfaatnya neeh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak bisa disetel gimana, Mas?” tanya petugas di rental DVD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya nggak bisa disetel! Nggak keluar gambar filmnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak sih? Tadi pinjamnya yang judul apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jonah pun meraih casing DVD di dekatnya, kemudian membacakan judulnya, “Head Cleaner!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama Valentino menderita insomnia. Hampir tiap malam dia tak bisa tidur. Nah, beberapa hari terakhir dia bisa tidur di malam hari, dan dia pun sangat bersyukur. Tetapi, kemudian, Valentino curiga kalau dirinya telah berjalan selama tidur. Bahasa kerennya, “sleepwalker”, gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berbahaya, pikirnya kemudian. Kalau seseorang berjalan dalam tidur, bisa-bisa dia melakukan hal-hal yang berbahaya, dan Valentino khawatir. Maka, dengan gelisah, Valentino pun menemui Abigail untuk curhat, siapa tahu sohibnya itu punya solusi yang bagus untuk mengatasi kehawatirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar curhat Valentino, Abigail mengangguk-angguk tanda mengerti. Yeah, memang sungguh berbahaya kalau orang jalan-jalan tanpa sadar gitu. Maka, sebagai sohib yang baik, Abigail pun merasa perlu menolong Valentino. Ia lalu mengambil sebuah kotak kecil dari dalam lemari di kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kotak ini akan membantu menyelesaikan masalahmu, fel,” kata Abigail serius. “Setiap malam, saat kamu akan tidur, bukalah kotak ini dan taburkan isinya ke lantai kamarmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kotak apa ini, folk?” tanya Valentino penuh minat. “Apa ini sejenis serbuk penenang, gitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan,” jawab Abigail, “itu kotak paku payung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di ujung komplek perumahan tempat tinggal Abigail, ada seorang dokter tua yang berpraktek sebagai dokter gigi, bernama Dokter Suaidi. Beberapa minggu yang lalu, dokter ini libur karena sakit pikun, begitu kabarnya, dan sekarang mulai membuka praktek lagi setelah merasa sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kepada Dokter Suaidi itulah Abigail datang ketika merasakan giginya sakit tidak karuan selama dua hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki ruang praktek dokter itu, Abigail segera menjelaskan sakit giginya. Dokter Suaidi manggut-manggut, lalu meminta Abigail untuk melepas semua pakaiannya, dan menyuruhnya masuk ke dalam ruang periksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saya ini sakit gigi, Dok,” kata Abigail mencoba menjelaskan, “kenapa pakaian saya harus dilepas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dilepas saja pakaiannya, terus masuk ke ruang periksa!” titah Dokter Suaidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan terheran-heran, Abigail pun menuruti melepas pakaiannya dan memasuki ruang periksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, di dalam ruang periksa itu sudah ada cowok lain yang juga telah melepas pakaiannya dan sedang menunggu. Abigail curhat sama cowok itu di ruang periksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya heran,” kata Abigail pada cowok itu, “saya ke sini buat memeriksakan gigi, tapi saya kok disuruh lepas pakaian seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si cowok di ruang periksa itu menyahut, “Situ sih masih lumayan. Saya ke sini cuma mau ngantar koran!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jonah dan Abigail sangat suka memancing. Siang itu, di bawah pepohonan rindang, kedua cowok tersebut duduk di pinggir sungai, sambil memancing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pinggiran sungai itu, Jonah dan Abigail duduk diam sambil menatap aliran sungai yang tampak jernih mengalir...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tahu, Jo,” kata Abigail pada Jonah yang duduk di sebelahnya, “hidup ini seperti air yang mengalir...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana bisa hidup ini seperti air, Big?” tanya Jonah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya mana aku tahu! Aku kan bukan filsuf...!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketika Jonah dan Abigail sedang memancing, Valentino baru saja masuk ke sebuah rumah makan untuk makan siang. Dilihat dari tampangnya, cowok itu sepertinya sedang kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pesan apa, Mas?” sapa seorang pelayan saat melihat Valentino duduk di salah satu kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sedang kelaparan, Valentino pun segera bertanya penuh nafsu, “Bebek, ada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada, Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayam...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayam juga ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kambing?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada, Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Burung, ada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm... ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerbau, ada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada, Mas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suruh semuanya keluar dulu! Saya mau makan biar tenang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebuah museum membuka acara spesial, berupa pameran mumi-mumi tua dari Mesir. Karena penasaran dengan acara itu, Valentino pun mengajak Abigail untuk mengunjungi pameran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu bagian museum, Valentino dan Abigail berdiri di depan sebuah peti mumi tua. Mereka menyaksikan jasad sang mumi melalui kaca di atasnya. Di peti kaca itu terdapat sebuah kartu berukuran cukup besar, bertuliskan 2573 SM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Folk,” kata Valentino sambil memperhatikan kartu itu, “menurutmu, apa arti tulisan 2573 SM itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana aku tahu, fel,” sahut Abigail. “Mungkin itu nomor plat mobil yang menabraknya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jonah masuk ke sebuah tempat praktek dokter yang terkenal, untuk mengkonsultasikan masalahnya. Di ruang tunggu tampak banyak orang yang tengah menantikan giliran dipanggil. Dengan langkah gontai, Jonah menemui seorang resepsionis cantik yang bertugas di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa keluhan Anda?” tanya si resepsionis pada Jonah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan blak-blakan, Jonah menjawab, “Ada yang tidak beres dengan penis saya, Mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban blak-blakan yang cukup keras diucapkan itu membuat si resepsionis jadi risih dan malu dengan orang-orang yang ada di ruang tunggu. Karenanya, sambil berbisik ia berkata pada Jonah, “Anda tidak boleh mengucapkan hal semacam itu secara blak-blakan di depan banyak orang seperti ini...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, apa salahnya?” protes Jonah. “Anda kan menanyakan apa masalah saya, dan saya menjawab apa masalah saya. Kenapa kok saya salah...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si resepsionis mencoba tersenyum dan menjelaskan, “Ng... begini, kami biasanya tidak menggunakan kata-kata semacam itu di sini.” Setelah melihat Jonah sepertinya memahami maksudnya, si resepsionis melanjutkan, “Nah, sekarang Anda keluar dulu, nanti balik lagi. Dan kalau saya tanya apa keluhan Anda, jawab saja telinga Anda yang bermasalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ingin ribut, Jonah pun patuh. Ia keluar dari ruang itu beberapa saat, kemudian masuk lagi menemui si resepsionis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si resepsionis tersenyum, dan dengan sopan menanyakan kembali, “Apa keluhan Anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, dengan suara yang lebih keras biar terdengar oleh semua orang yang di sana, Jonah menjawab, “Ada yang tidak beres dengan telinga saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya? Kenapa telinga Anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telinga saya tidak bisa kencing!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-1251773636920775364?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1251773636920775364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1251773636920775364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/cowok-cowok-idiot.html' title='Cowok-cowok Idiot'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-8827571019673991240</id><published>2011-08-26T22:50:00.002+07:00</published><updated>2011-12-14T00:55:54.317+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Menjelang dan Hilang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;….&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempo hari, waktu aku lihat daftarnya, kok nggak ada ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak ada gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu, maksudku, nggak ada garis seperti yang dulu aku lihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yakin tuh, nggak ada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Udah aku lihat bolak-balik. Malah dulu sempat hafal, karena sering lihat. Makanya, aku tuh heran banget pas kemarin lihat di sono kok udah nggak ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, gimana ceritanya kok kamu sampai lihat daftar itu lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe, sebenarnya sih nggak sengaja. Iseng aja waktu itu—terus aku lihat-lihat, dan sadar kalau memang udah nggak ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu lihat ke sumbernya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan memang nggak ada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu memang nggak ada, dunk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya, aku kan heran, karena dulu aku yakin betul itu ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu punya copy-nya? Maksudku, waktu masih ada something yang kamu lihat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada. Kebetulan itu dulu tersimpan di memori. Aku kirim aja ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sip. Aku tunggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“See…? Yang kamu lihat itu versi dulu, ketika masih ada. Sekarang aku kirimkan yang udah nggak ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, nggak ada, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, bener. Nggak ada. Hei, tahu perbedaan ini kan sulit, tuh. Gimana kamu bisa membedakan yang dulu sama yang sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan udah kubilang tadi. Aku nemu itu tanpa sengaja, karena iseng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gitu ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So, menurutmu, kenapa bisa kayak gitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, bisa ada banyak kemungkinan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang paling logis aja deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin terbakar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, itu sangat logis—aku juga sempat berpikir begitu. Tapi kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau opsimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku nggak yakin. Bisa saja itu terbakar karena pengaruh objek lain yang bersinggungan dengannya, tapi… aku nggak yakin kalau bisa serentan itu buat terbakar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, kamu tahu sejak kapan perbedaan ini terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejujurnya, nggak. Aku sama sekali nggak tahu dan nggak yakin kapan hal itu berubah. Aku cuma tahu bahwa dulu itu ada dan sekarang udah nggak ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini mengingatkanku pada sebuah frasa tertentu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernah dengar frasa ‘&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/menjelang-dan-hilang.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjelang dan Hilang&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;’?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terdengar sinonim, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, maksudku, bisa saja kasus ini juga semacam itu—menjelang dan hilang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin ya, tapi kita kembali pada pertanyaan sederhana, ‘mengapa?’ Maksudku, mengapa itu bisa hilang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke, anggap saja kamu udah tahu jawabannya. Apa yang kemudian kamu lakukan untuk hal ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja aku melakukan tepat sama seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjelang dan hilang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, menjelang dan hilang. Dan itu sekarang udah kulakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Really…? Bisa kamu katakan lebih jelas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu nggak perlu mendengarku mengatakannya. Kamu bisa melihatnya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Ditranskrip untuk kesenangan pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-8827571019673991240?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8827571019673991240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8827571019673991240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/menjelang-dan-hilang.html' title='Menjelang dan Hilang'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-6435273494655283841</id><published>2011-08-24T00:27:00.002+07:00</published><updated>2011-12-14T01:01:03.335+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Cara Mudah untuk Efektif</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pernahkah mendengar eksperimen batu besar? Ambillah sebuah ember dan isilah separuhnya dengan kerikil, lalu cobalah masukkan batu-batu besar ke dalamnya, di atas kerikil-kerikil tadi. Apa yang kita lihat? Batu-batu besar itu tak bisa masuk semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kosongkan lagi embernya dan mulai lagi dari awal. Kali ini, masukkan dulu batu-batu besarnya, baru kerikilnya. Kita lihat, kerikil-kerikil itu bisa masuk semuanya, meski terkadang menyelip-nyelip di sela-sela batu yang besar. Tapi kali ini semuanya masuk. Apa bedanya? Perbedaannya ada pada urutan masuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyusun daftar jadwal harian atau mingguan, kita harus memprioritaskan pekerjaan-pekerjaan yang besar dan penting terlebih dulu sebelum mempertimbangkan pekerjaan lain yang kecil dan sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal kecil dan sepele semacam menonton teve, membaca koran, main game atau menerima telepon, bisa dilakukan di sela-sela pekerjaan kita yang penting, karena semua itu bisa menyelip-nyelip di tengah pekerjaan besar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode ini akan membantu kita dalam hal efektivitas waktu, dan tetap menjaga kita agar tidak menyimpang dari jalur yang akan mengantarkan kita pada &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/kemana-tujuan-kita.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tujuan yang kita impikan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-6435273494655283841?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6435273494655283841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/6435273494655283841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/cara-mudah-untuk-efektif.html' title='Cara Mudah untuk Efektif'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-8829803337259444036</id><published>2011-08-24T00:25:00.001+07:00</published><updated>2011-12-14T01:05:59.788+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Perubahan dan Pertumbuhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pertumbuhan selalu diawali dengan perubahan. Tidak ada yang pernah tumbuh tanpa adanya perubahan. Meski sering kali perubahan itu membuat kita merasa tidak nyaman, tapi itulah satu-satunya cara untuk terus tumbuh dan berkembang. Itulah satu-satunya jalan menuju kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Induk elang harus memaksa anaknya untuk meninggalkan sarang dan terbang. Anak elang biasanya lebih suka tinggal dalam sarang yang hangat dan diberi makan serta dirawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kalau anak elang tetap berada di sarang, maka dia tidak akan menggunakan sayapnya yang lebar atau menikmati ketinggian yang telah ditakdirkan untuknya sebagaimana dia diciptakan. Karena itulah kemudian induk elang harus menendangnya keluar dari sarang, menangkapnya dengan sayapnya yang besar kalau dia jatuh terlalu jauh, dan melakukan itu sampai anaknya bisa belajar terbang sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah sekali bagi kita untuk merasa nyaman di dalam sarang kita. Diperlukan keberanian untuk meninggalkan sarang kenyamanan yang selama ini kita diami untuk melakukan &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2009/12/pintu-menuju-pembaruan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;perubahan demi arah kemajuan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-8829803337259444036?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8829803337259444036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8829803337259444036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/perubahan-dan-pertumbuhan.html' title='Perubahan dan Pertumbuhan'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-7970811129825224119</id><published>2011-08-24T00:22:00.002+07:00</published><updated>2011-12-14T01:11:59.745+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Prinsip Energi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ambillah sekotak balok es bertemperatur 50 derajat Celsius di bawah nol, kemudian panaskan. Selama beberapa saat, tak terjadi apa-apa. Energi bertambah banyak walau wujudnya tidak tampak. Tiba-tiba pada suhu nol derajat, es pun mencair menjadi air. Panaskanlah lagi. Lagi-lagi, energi bertambah banyak. Pada suhu sekitar seratus derajat Celsius, terjadi gelombang dan uap. Air mendidih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsipnya? Energi dapat berpindah ke suatu benda (es, karir, hubungan, pekerjaan, dan lain-lain) meskipun sepertinya tidak ada yang terjadi. Tetapi kenyataannya, energi yang kita keluarkan selalu menghasilkan perubahan, walaupun &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/03/setahap-demi-setahap.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;perubahan itu tidak langsung tampak&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita menyelesaikan pekerjaan demi pekerjaan, hasilnya memang tidak langsung tampak. Ketika kita mempererat hubungan dengan orang lain, memang efeknya tidak akan langsung spontan. Tetapi teruskanlah memindahkan energi, dan kita akan mendapati perubahan, menghasilkan kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan menemukan betapa pekerjaan yang telah kita selesaikan begitu banyak dan karir cemerlang telah hadir di depan mata. Kita akan menemukan sebuah persahabatan yang baik, hubungan dengan orang lain yang erat, dan kehidupan pun akan terasa lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-7970811129825224119?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7970811129825224119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/7970811129825224119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/09/prinsip-energi.html' title='Prinsip Energi'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3237310524777495180</id><published>2011-08-24T00:20:00.001+07:00</published><updated>2011-12-14T01:15:38.707+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Jangan Takut pada Risiko</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Banyak potensi besar yang kandas tak pernah muncul karena ketakutan pemiliknya terhadap risiko. Banyak &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/12/walt-disney-sang-pemimpi-1.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;impian hebat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang tak pernah terwujud karena pemiliknya tak berani menghadapi risiko. Banyak rencana mulia yang tak pernah terealisasi karena tak ada keberanian menghadapi risiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat lama sudah sering kali mengatakan, no pain no gain. Tak ada usaha, tak ada hasil. Untuk mendapatkan hasil, kita harus berusaha. Dalam melakukan suatu usaha, kita harus menghadapi risiko. Risiko, kemungkinan menderita kegagalan atau kerugian, itu sama pentingnya bagi sukses sebagaimana udara bagi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan apa yang akan terjadi seandainya setiap orang memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa sampai ada jaminan hidup ini sudah bebas risiko. Kehidupan ini tidak akan ada apa-apa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani tak akan menanam padi karena hujan bisa saja turun terlalu banyak atau terlalu sedikit, dan hama sawah bisa saja menyerang tanamannya. Usahawan akan menutup pabriknya karena bisa saja resesi akan terjadi dan membangkrutkannya. Televisi akan berhenti memproduksi program siaran karena bisa saja penonton tak menontonnya, dan pemasang iklan tak memasang iklannya. Para seniman akan berhenti berkreasi karena bisa saja kreativitas mereka tak mendapatkan apresiasi. Yang paling mengerikan, ibu-ibu bisa saja tak mau hamil lagi karena bisa saja bayinya sungsang, susah dilahirkan, atau lahir prematur, atau bahkan keguguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ilustrasi itu terkesan konyol, tetapi keinginan memperoleh hasil tanpa ingin menghadapi risiko memang konyol. Karena risiko memang bukan untuk dihindari. Ia ada untuk dikelola dan disiasati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3237310524777495180?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3237310524777495180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3237310524777495180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/jangan-takut-pada-risiko.html' title='Jangan Takut pada Risiko'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-783525582250504739</id><published>2011-08-24T00:18:00.002+07:00</published><updated>2011-12-14T01:46:36.846+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Puzzle Hidup Kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kita tentu tahu permainan puzzle, suatu permainan menyusun gambar yang terpotong-potong untuk menjadi sebuah gambar yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkanlah seribu potongan gambar puzzle, dan kita diminta untuk menyusunnya secara utuh. Kira-kira, mungkinkah kita dapat menyusunnya? Mungkin saja, kalau kita telah melihat gambar utuhnya, sehingga pikiran kita memperoleh bayangan yang pasti mengenai bagaimana gambar yang harus dibentuk dengan potongan-potongan puzzle itu. Tetapi kita tentu saja akan kesulitan atau bahkan tak dapat menyusun potongan puzzle itu, jika kita tidak pernah melihat gambar utuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/kemana-tujuan-kita.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mari kita bayangkan kehidupan yang akan kita jalani&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Apakah kita sudah mempunyai bayangan, memiliki suatu gambaran tentang kehidupan seperti apa yang ingin kita miliki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari yang kita lalui ini adalah potongan-potongan puzzle yang harus kita rangkai, kita susun, agar mengutuh. Kita akan dapat merangkainya jika kita telah memiliki gambaran yang pasti tentang kehidupan macam apa yang kita inginkan. Tetapi kita akan menjalani hari demi hari dengan kacau dan tak terarah, jika kita sama sekali tak mempunyai gambaran apa pun tentang hidup yang ingin kita jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, memang kita bisa menyusun potongan puzzle tanpa ada gambar panduannya, dan mungkin saja kita berhasil menyusunnya. Tetapi itu akan membutuhkan waktu yang lebih lama, bahkan sangat lama, kan? Selain itu, tidak ada jaminan kalau kita akan bisa menyusunnya dengan benar, karena itu terlalu spekulatif. Dan apakah kita benar-benar rela mempertaruhkan kehidupan masa depan kita dengan cara spekulasi? Saya tidak. Bagaimana denganmu…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-783525582250504739?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/783525582250504739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/783525582250504739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/puzzle-hidup-kita.html' title='Puzzle Hidup Kita'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-3905819588675411253</id><published>2011-08-22T19:22:00.003+07:00</published><updated>2011-12-14T01:53:59.618+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Malin Kundang: Sebuah Catatan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Anak-anakmu bukanlah milikmu, mereka putra-putri kehidupan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang memiliki hidupnya sendiri. Lewat engkau mereka lahir,&lt;br /&gt;namun tidak darimu. Mereka ada padamu, tetapi bukan milikmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu.&lt;br /&gt;Sebab pada mereka ada alam pikiran sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bisa memberikan rumah untuk raganya, tetapi tidak untuk jiwanya.&lt;br /&gt;Sebab jiwa mereka adalah penghuni masa depan, yang tidak akan dapat&lt;br /&gt;kaukunjungi, meski dalam impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau boleh berusaha menyerupai mereka, tetapi jangan membuat&lt;br /&gt;mereka menyerupaimu. Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,&lt;br /&gt;pun tidak tenggelam di masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/07/gibran-sang-lajang.html"&gt;Kahlil Gibran&lt;/a&gt;, The Prophet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Malin Kundang dikutuk ibunya menjadi batu, karena dianggap anak durhaka. Seperti yang kita tahu, Malin Kundang tidak mau mengakui ibunya sendiri lantaran malu—si ibu miskin papa, sedang si Malin kaya raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tertarik untuk menanyakan kenapa Malin Kundang tidak mau mengakui ibunya—tumpukan literatur psikologi dapat dicari untuk menemukan jawabannya. Saya lebih tertarik untuk menanyakan mengapa si ibu mengutuk anaknya sendiri menjadi batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kenapa seorang ibu sampai mengutuk anaknya sendiri hingga menjadi batu…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti umumnya cerita rakyat, kisah Malin Kundang pun membawa muatan misi tertentu yang dimaksudkan sebagai pelajaran moral—khususnya untuk anak-anak. Dalam konteks cerita Malin Kundang, dia dikutuk oleh ibunya karena dianggap anak durhaka, dan si pembuat/penutur kisah itu tentunya bermaksud mengajarkan agar anak berbakti kepada orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada satu hal kecil yang membuat cerita Malin Kundang menjadi rancu—yakni, seperti yang telah saya tanyakan tadi, mengapa ibu si Malin Kundang mengutuk anaknya menjadi batu…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kita bisa mengajukan pelajaran moralnya. Si ibu mengutuk Malin Kundang karena dianggap durhaka. Tetapi mengapa dia harus sampai mengutuknya? Tidakkah fakta itu justru menunjukkan bahwa si ibu pun sosok yang “durhaka”? Jika misi cerita itu dimaksudkan sebagai pelajaran moral, fakta kutukan itu justru menjadikan si ibu cacat moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam konstruksi kisah konvensional, khususnya lagi cerita rakyat, bisa dikatakan selalu ada tokoh protagonis dan antagonis. Selalu ada si Baik dan si Jahat—dan kita pun diajarkan untuk meniru si tokoh baik dalam cerita tersebut. Nah, di dalam konteks cerita Malin Kundang, siapakah protagonis dan antagonisnya? Siapakah yang menjadi tokoh baik dan jahatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Malin Kundang si tokoh jahat? Mungkin ya. Tetapi si Ibu juga tidak bisa dibilang sebagai tokoh baik. Karena, jika si Ibu memang tokoh yang baik, tentunya dia tidak akan mengutuk anaknya sendiri, apalagi sampai mengutuknya menjadi batu. Jika dia dimaksudkan sebagai si Baik, maka masih banyak jalan lain yang dapat dilakukannya dalam menghadapi seorang anak yang durhaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata pepatah bijak, “Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan.” Jika mengacu pada pepatah tersebut, maka ibu si Malin Kundang tidak bisa dikatakan ibu yang baik, karena dia tidak memiliki “kasih sepanjang jalan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana umumnya cerita rakyat, kisah Malin Kundang pun hidup dari rahim kebudayaan masyarakat yang melahirkannya. Meski diakui kisah ini berasal dari Sumatera Barat, tetapi konteks cerita itu (selama ini) dapat diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri yang menganut kebudayaan Timur semacam Indonesia, kultur hubungan antara anak dengan orangtua memang memiliki batas yang pasti, sehingga cerita Malin Kundang pun dapat diadopsi oleh seluruh provinsi. Para orangtua bangga menceritakan kisah Malin Kundang kepada anak-anaknya, dengan harapan anak-anak mereka menjadi anak “yang tidak seperti Malin Kundang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bagaimana kalau ada seorang anak yang kemudian bertanya kepada ibunya, “Bu, kalau umpama aku durhaka kepada Ibu, apakah Ibu juga akan mengutukku menjadi batu…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kultur masyarakat kita—mungkin tanpa kita sadari—ada semacam doktrin diam-diam yang menyatakan bahwa “anak berutang kepada orangtuanya”. Karenanya, para orangtua pun berharap anak-anak mereka “membayar utang” itu, sebagaimana anak-anak (yang baik) pun selalu berupaya “membayar utang mereka” kepada orangtuanya. Doktrin inilah yang sesungguhnya tersembunyi di dalam kisah Malin Kundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Malin Kundang dikutuk ibunya menjadi batu, sesungguhnya si Ibu sedang berkata, “Nak, kau berutang kepadaku. Karena kau tidak mau membayar utangmu, maka aku mengutukmu menjadi batu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap anak memang dituntut—bahkan diwajibkan—berbakti kepada orangtuanya. Tetapi “berbakti” dan “membayar utang” adalah dua hal yang berbeda, bahkan berbeda jauh. Betapa pun juga, seorang anak tidak akan sanggup membayar kebaikan yang telah diterimanya dari orangtua—ayah dan ibunya. Karenanya, meski sampai titik darah penghabisan sekali pun, seorang anak tidak akan mampu “membayar utang” kepada orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakti seorang anak kepada orangtua ditunjukkan dengan kepatuhan atas hal-hal baik yang diminta orangtuanya. Tetapi jika ada orangtua yang menuntut anaknya untuk melakukan hal-hal buruk, atau meminta si anak untuk melakukan sesuatu yang jelas-jelas tidak diinginkan oleh si anak, maka orangtua sedang menagih utangnya. Sekali lagi, ada perbedaan esensial antara “berbakti” dengan “berutang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang sering menyatakan, “Tidak ada orangtua yang ingin menyengsarakan anaknya. Karenanya, apa pun yang diminta orangtua pada si anak pastilah baik untuk si anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Really…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan ibu yang menjual anaknya demi sejumlah uang? Bagaimana dengan orangtua yang memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang nyata-nyata tidak diinginkan si anak? Bagaimana dengan anak-anak yang hidup tertekan dan jauh dari kebahagiaan karena mengerjakan sesuatu berdasarkan paksaan orangtuanya? Tidakkah orangtua semacam itu sedang menuntut anak-anak mereka untuk membayar “utang”—sama seperti ibu Malin Kundang yang mengutuk anaknya menjadi batu…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kewajiban anak kepada orangtua adalah berbakti, dan bukan membayar utang. Bakti diberikan berdasarkan kesadaran dan ketulusan, sementara membayar utang diberikan karena keterpaksaan—langsung ataupun tak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang seorang anak memiliki “utang” di dunia ini, maka sesungguhnya utang mereka bukanlah kepada orangtuanya, tetapi kepada anak-anaknya kelak. Kita tidak memiliki utang kepada orangtua, tetapi kita berutang kepada anak-anak yang kelak kita lahirkan, yang kelak akan kita miliki. Karena, sekali lagi, jika anak dianggap “berutang” kepada orangtuanya, maka sampai napas terakhir pun seorang anak tidak akan mampu membayar utangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap anak tentu ingin membahagiakan orangtuanya, membuat mereka tersenyum, bahkan bangga. Tetapi, sekali lagi, itu adalah bagian dari bakti seorang anak, dan bukan tuntutan pembayaran utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, jika ternyata si anak tidak mampu melakukan hal itu, orangtua tidak layak mengutuknya. Karena, jika orangtua mengutuk anaknya gara-gara si anak tidak mampu memberikan apa yang diinginkannya, maka itu tak ada bedanya dengan bank atau rentenir yang menyita hak milik seorang debitur karena tak mampu membayar utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang lahir ke dunia ini tidak minta dilahirkan—mereka lahir karena keinginan si orangtua. Karenanya, jika harus ada urusan piutang di dalam hubungan tersebut, maka orangtualah yang berutang kepada si anak, dan si anak kelak akan berutang kepada anak yang akan mereka lahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua pasti ingin memberikan lebih banyak kepada anak-anak kita kelak—lebih banyak dari yang telah kita peroleh dari orangtua kita. Begitulah aturan mainnya, begitulah aturan “utang piutangnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, jika ibu si Malin Kundang hanya berharap anaknya berbakti dan bukannya meminta anaknya membayar utang, maka tentu dia akan berkata kepada anaknya, “Nak, sebagai ibumu, aku bahagia kau sekarang telah menjadi orang hebat. Meski kau tidak mau mengakui aku sebagai ibumu, aku akan tetap berdoa untuk kebaikanmu. Kau tidak punya utang apa-apa kepadaku. Dan menyaksikanmu seperti sekarang, aku bahagia pernah memilikimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja si Ibu mau menempatkan dirinya sebagai “Ibu yang Baik” seperti itu, bisa jadi Malin Kundang berubah menjadi “Anak Manis”… dan bukannya mati membeku menjadi batu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-3905819588675411253?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3905819588675411253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/3905819588675411253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/malin-kundang-sebuah-catatan.html' title='Malin Kundang: Sebuah Catatan'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-1659373370600548087</id><published>2011-08-22T19:21:00.001+07:00</published><updated>2011-12-19T00:58:00.427+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Where the River Flows</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Aku berkata pada diriku sendiri, “Ini yang terakhir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi nyatanya aku tak pernah bisa, tak pernah mampu memenuhi janjiku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain kali aku berkata lagi pada diriku, “&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/12/saat-terakhir.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ini yang terakhir&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemudian, lagi-lagi, itu hanya menjadi akhir dari sebuah permulaan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, aku berjanji pada diriku sendiri, “Ah, persetan! Biarlah sungai mengalir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-1659373370600548087?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1659373370600548087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/1659373370600548087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/where-river-flows.html' title='Where the River Flows'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-473212963838618040</id><published>2011-08-22T19:20:00.001+07:00</published><updated>2011-12-19T00:59:21.689+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta dan Lainnya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Tabir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Orang yang paling kaucintai tidak mencintaimu. Orang yang paling mencintaimu tidak pernah merupakan orang yang paling kaucintai. Dan orang yang kauhabiskan hidup bersamanya, tidak pernah merupakan orang yang paling kaucintai atau orang yang paling mencintaimu—ia hanya orang yang datang ke tempat yang tepat pada waktu yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/tabir.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tabir&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; kegelapan terangkat dan tirai keangkuhan disingkirkan, orang akan sampai di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-473212963838618040?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/473212963838618040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/473212963838618040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/tabir.html' title='Tabir'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-8345789142189559447</id><published>2011-08-17T08:44:00.003+07:00</published><updated>2011-12-19T01:01:44.521+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='About this Blog'/><title type='text'>Memiliki Blog itu Seperti Memiliki Anak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Blog, buat saya, adalah media untuk berlatih mencari ide, menulis, juga berbagi apa saja, termasuk ilmu. Seperti halnya hidup, blog merupakan tempat kita berlatih yang begitu luas, dalam kurun waktu yang tak kunjung putus.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://ndorokakung.com/"&gt;Ndoro Kakung&lt;/a&gt;, Ngeblog dengan Hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki blog itu seperti memiliki anak—setidaknya begitulah yang saya rasakan. Kita membuatnya dari nol, kemudian membesarkannya dengan memberinya makan dalam bentuk posting. Kadang setiap minggu, kadang setiap hari, kadang pula setiap beberapa jam. Akhirnya, blog yang pada mulanya masih bayi itu pun lama-lama tumbuh membesar… dan dewasa. Sesuatu yang pada mulanya tidak ada menjadi ada, dan dikenal orang-orang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti memiliki anak, ada orang yang lebih suka hanya memiliki satu anak—biasanya beralasan karena ingin memberikan seluruh perhatian pada si anak tunggal. Ada pula yang lebih suka memiliki dua, tiga, atau beberapa anak—biasanya berprinsip “banyak anak banyak rezeki”. Ada pula yang suka sekali membuat anak, tapi kemudian menelantarkannya—jenis terakhir ini hanya suka bikin tapi tak mau repot, hehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong soal anak, eh, omong-omong soal blog, saya jadi ingat saat-saat awal membuat blog ini. Dulu, saya membuat blog ini dengan template standar dari Blogger. Berbeda dengan template standar sekarang yang tampak cantik bahkan mewah, template Blogger zaman dulu bentuknya benar-benar unyu (baca: lugu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti melahirkan dan membesarkan anak, saya juga membangun blog ini dari nol, dengan perlahan-lahan, hari demi hari, hingga akhirnya jadi seperti ini. Sekarang, di blog ini terkumpul lebih dari 500 (lima ratus) posting—jumlah yang tentu tak bisa dibilang sedikit. Kadang, kalau pas lagi iseng, saya melihat-lihat blog ini sendirian di tengah malam, membuka-buka postingnya, kemudian bengong dan berpikir, “Oh, nggak nyangka aku udah nulis sebanyak ini…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, berbulan-bulan yang lalu, seorang teman mengirim SMS yang isinya seperti ini, “Edan! Blogmu sekarang udah dapet sitelink ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya belum tahu sitelink itu apa. Jadi dengan lugu saya membalas SMS itu, “Jangan maki-maki dulu! Sitelink itu apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu teman saya pun menjelaskan definisi sitelink dengan bahasa awam (karena saya memang awam dalam hal beginian). Menurutnya, sitelink adalah penghargaan khusus dari Google yang diberikan untuk blog-blog tertentu yang dianggap layak mendapatkannya. (Kalau kalian ingin tahu lebih jauh mengenai sitelink, silakan tanyakan pada orang lain yang lebih berkompeten, ya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, menurut teman saya, Google memberikan sitelink kepada blog-blog tertentu yang dianggap memuat kata kunci unik, memiliki posting-posting orisinal sekaligus banyak dicari, dan—tentu saja—memiliki trafik yang tinggi. Berbeda dengan PR atau ranking Alexa yang dapat diakali atau dicurangi, sitelink benar-benar murni—ia sesuatu yang diberikan untuk blog yang memang dibangun dengan kejujuran dan tumbuh secara alami. Sistem penilaian untuk sitelink ini, hanya Tuhan dan Google saja yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengar penjelasan itu, tiba-tiba saya merasa ingin mencium Google. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja saya ngeblog tidak untuk bertujuan mendapat sitelink. Wong tahu bahwa blog ini ada yang baca saja sudah membuat saya terkejut. Tetapi fakta bahwa Google memberikan apresiasi semacam itu, mau tak mau, membuat saya terharu. Ini seperti… well, ini seperti kalau kau membesarkan seorang anak yang kausayangi tanpa berharap macam-macam, dan tiba-tiba mendengar bahwa anakmu mendapatkan prestasi yang tak pernah kausangka-sangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira begitulah yang saya rasakan. Dan tiba-tiba saya merasa jadi orang tua yang telah menunaikan kewajiban dengan baik—yakni membesarkan anaknya dengan benar, hingga si anak benar-benar jadi orang. Halah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus-terang, banyak hal yang telah saya dapatkan dalam perjalanan ngeblog selama ini. Meski blog ini adalah &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/03/blog-yang-hening.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;blog yang hening&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dalam arti tidak menyediakan kolom komentar bagi pembaca atau pengunjungnya, tapi saya bersyukur ada cukup banyak pembaca blog ini yang mau meluangkan waktu untuk menyapa saya melalui email—dan dari sana saya mendapatkan banyak sahabat serta teman-teman baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, omong-omong soal komentar di blog, kadang-kadang saya juga merasa telah berlaku tidak adil kepada pembaca. Meski membuka atau menutup kolom komentar adalah hak setiap blogger, tetapi saya menyadari bahwa ada kalanya seseorang membaca tulisan kita, dan kemudian ingin menyatakan atau menyampaikan sesuatu—entah berupa sanggahan, koreksi, ataupun pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah selama beberapa bulan terakhir ini, saya memikirkan cara yang dapat dijadikan sebagai jalan tengah. Dan jalan tengah yang kemudian saya anggap paling baik adalah membuat blog baru yang dapat dikomentari secara bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kemudian saya bingung. Kalau mau membuat blog lain, mau diisi apa blog baru itu? Kalau isinya sama dengan blog ini, maka percuma saja membuat blog baru. Karenanya, jika saya harus membuat blog lain, maka isi dan materinya harus seratus persen berbeda dengan blog ini. Lebih dari itu, saya ingin pembaca saya kali ini benar-benar terlibat dalam setiap post di blog tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kalian membaca &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/kata-sartre-buku-lebih-hebat-dibanding.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;posting sebelumnya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, kalian pasti ingat kalau saat ini saya sedang memikirkan cara untuk dapat mengintegrasikan blog dengan Formspring. Saya menilai konsep Formspring itu sangat bagus, karena interaktif. Nah, pe-er saya selama ini adalah mencari cara memanfaatkan Formspring untuk blogging. Jika saya mampu memadukan kedua hal itu—blog dengan Formspring—saya yakin hasilnya pasti akan unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang blog baru yang saya bayangkan itu telah benar-benar lahir. Namanya &lt;a href="http://belajar-sampai-mati.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Belajar Sampai Mati&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya inginkan, blog baru itu benar-benar berbeda dengan blog ini. Jika blog ini lebih bersifat pemikiran, maka blog baru itu lebih bersifat pengetahuan praktis. Jika blog ini bersifat monologis, maka blog yang baru bersifat dialogis. Jika blog ini tak bisa dikomentari, maka blog yang baru bebas dikomentari. Yang lebih unik lagi, pembaca blog itu akan terlibat langsung dalam setiap tulisan yang diposting di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi beginilah konsep blog &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://belajar-sampai-mati.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajar Sampai Mati&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;—pengunjung/pembaca blog dapat memasukkan pertanyaan apa pun ke dalam kolom pertanyaan yang disediakan di sana, dan kemudian saya akan menjawabnya dalam bentuk posting, berdasarkan jawaban ilmiahnya. Dengan begitu, maka semua materi yang saya posting di blog tersebut adalah materi unik yang memang diinginkan dan dibutuhkan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, cara ini jauh lebih mudah dan lebih praktis dibanding mengirim email. Melalui blog baru tersebut, pengunjung/pembaca dapat memasukkan (mengetikkan) pertanyaan di kolom khusus yang disediakan di blog, lalu tinggal klik tombol send. Selesai. Jika ingin memasukkan pertanyaan lain, tinggal ketikkan pertanyaan lain, lalu klik tombol send lagi. Bahkan, nilai plusnya, orang dapat memasukkan pertanyaan melalui kolom khusus tersebut tanpa merasa malu atau segan, karena bersifat anonim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang seaneh, selucu dan sekonyol apa pun, akan dijawab dan dibahas secara ilmiah berdasarkan perspektif akademisi, kecuali kalau memang tidak ada jawaban ilmiahnya. Setelah itu saya akan mempostingnya di blog. Berbeda dengan tanya-jawab di Formspring yang tidak bisa dikomentari secara bebas, maka tanya-jawab di blog tersebut dapat dikomentari semua pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kolom komentar pula, pembaca dapat memberikan tambahan jika jawaban saya kurang lengkap, atau mengoreksi jika ternyata ada kekeliruan, atau bahkan menyanggah jika ternyata ada jawaban lain selain versi jawaban saya. Aktif, interaktif, sekaligus mencerdaskan—itulah visi blog &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://belajar-sampai-mati.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajar Sampai Mati&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah awal, saya telah memposting pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya ada di inbox email saya. Nantinya, sambil jalan, pertanyaan-pertanyaan yang saya posting di sana hanya pertanyaan-pertanyaan yang dimasukkan di kolom pertanyaan di blog tersebut. Bagi saya, ini adalah blog versi 101—penggabungan mengasyikkan antara Formspring dengan blogging!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, cukup cuap-cuapnya, sekarang &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://belajar-sampai-mati.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ayo kita kunjungi blog baru&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;… :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-8345789142189559447?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8345789142189559447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8345789142189559447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/memiliki-blog-itu-seperti-memiliki-anak.html' title='Memiliki Blog itu Seperti Memiliki Anak'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-8873722414965675718</id><published>2011-08-17T08:41:00.002+07:00</published><updated>2011-12-19T01:31:11.843+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Petuah Filsuf Gila (2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Posting ini lanjutan dari posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman lebih baik, bacalah &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/petuah-filsuf-gila-1.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;post sebelumnya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Si filsuf gila melanjutkan ucapannya, “Jadi itulah yang selama ini kaulakukan, Nak. Masyarakatmu melakukan sesuatu, dan kau mengikutinya. Masyarakatmu berdiri, duduk, nungging, dan kau pun ikut berdiri, duduk, nungging. Kau tidak mengikuti takdir agung yang diberikan Tuhan untukmu, Nak, kau justru mengikuti takdir yang diciptakan masyarakatmu. Jadi itulah kau sekarang—sosok yang datang kepadaku dengan penuh penderitaan, dan mengharapkan segumpal nasihat untuk mengobati penderitaanmu. Oh, alangkah malangnya nasibmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan filsuf, apakah Tuan bermaksud menyatakan bahwa seharusnya saya tidak mengikuti masyarakat saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, itulah yang kumaksudkan! Yang seharusnya kauikuti adalah takdirmu, dan bukan takdir orang lain! Tetapi kau tidak berbeda dengan kebanyakan orang lainnya, yang mati-matian mengejar takdir orang lain, tetapi justru meninggalkan dan melupakan takdirnya sendiri!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Tuan Filsuf, saya tentunya harus mengikuti kebiasaan masyarakat saya, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://hoedamanis.blogspot.com/2010/08/siapa-suruh.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harus? Harus? Harus…? Siapa yang mengharuskanmu?&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Demi langit beserta seluruh isinya, tidak ada yang menyuruhmu begitu, Nak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki sekarang berkata dengan marah, “Mungkin Anda tidak paham, Tuan. Saya hidup dalam lingkungan masyarakat, dan tentunya saya harus mengikuti kebiasaan masyarakat saya! Masyarakat saya menikah, dan saya pun menikah. Masyarakat saya punya anak-anak, dan saya pun punya anak-anak. Masyarakat saya melakukan sesuatu, dan saya pun melakukannya demi tidak berbeda dengan mereka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu.” Sang filsuf mengangguk-angguk. “Jadi, siapa sebenarnya yang memiliki hidupmu? Atau, biar kuperjelas, siapa sesungguhnya yang memiliki takdirmu? Dirimu sendiri? Atau masyarakatmu…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dengan nada mengejek, si filsuf gila berujar, “Jadi, kau menikah karena masyarakatmu. Kau punya anak-anak karena masyarakatmu. Kau melakukan segala hal dalam hidupmu dengan tujuan agar sama dengan masyarakatmu. Nah, sekarang kau menyatakan dunia sedang menghimpitmu, dan sekarang kau justru datang kepadaku. Kenapa kau tidak datang saja pada masyarakatmu untuk meminta pertanggungjawaban mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidup adalah soal pilihan, Nak. Seperti apa hidupmu, maka itulah yang sebenarnya telah kaupilih. Dan kau memilih untuk mengikuti masyarakatmu, demi tidak berbeda dengan mereka, maka terimalah takdir itu. Kau tidak perlu mengeluh, karena semua yang menimpamu sekarang adalah hasil pilihanmu. Manusia adalah pencipta takdirnya sendiri, Nak, dan masing-masing mereka akan menjalani takdir yang telah dipilihnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saya tidak menginginkan takdir seperti ini, Tuan! Saya tentunya tidak menginginkan keluarga saya kelaparan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih berusaha mencari kambing hitam untuk dipersalahkan! Tidakkah kau malu…? Kau melakukan segala hal dalam hidupmu karena kehendakmu, dan kemudian kau berusaha mencari kambing hitam untuk dipersalahkan ketika menghadapi konsekuensi atas kehendakmu sendiri. Lihatlah dirimu sendiri, Nak. Kau diberi kebebasan untuk memilih dalam hidupmu—dan kau memilih untuk meniru orang lain. Sekarang, pilihanmu telah menjerumuskanmu, dan kau berupaya mencari kambing hitam. Apa atau siapa yang ingin kausalahkan sekarang…? Tuhan? Takdir? Alam semesta…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu kini menunduk. Seperti berhadapan dengan film tentang dirinya sendiri, laki-laki itu kini menyadari betapa benarnya ucapan itu. Dia telah diberi kebebasan untuk memilih dalam hidupnya—tetapi dia menyalahgunakan pilihannya. Dan sekarang ia menyadari bahwa tidak ada satu pun kambing hitam yang dapat ia persalahkan atas kekeliruan pilihannya. Dia sendiri yang telah menciptakan takdirnya, berdasarkan pilihan-pilihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, Tuan Filsuf,” ujar laki-laki itu akhirnya. “Apa yang sebaiknya saya lakukan sekarang…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih juga menginginkan nasihat,” ujar si filsuf sambil geleng-geleng kepala. “Baiklah, kuturuti keinginanmu. Sekarang dengarkan ini. Mulai hari ini, berhentilah mengikuti takdir orang lain, dan hanya ikuti takdirmu sendiri. Dan agar kau tidak lupa, biar kuulangi sekali lagi. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berhentilah mengikuti takdir orang lain, dan hanya ikutilah takdirmu sendiri. &lt;/span&gt;Manusia ditakdirkan lebih mulia dari malaikat—karena manusia memiliki hak dan kebebasan untuk memilih, sementara malaikat tidak. Jadi gunakan pilihanmu dengan bijak—yakni memilih untuk mengikuti takdirmu sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kemudian laki-laki itu melangkah pergi, sang filsuf gila bergumam sendiri, “Ah, anak manusia. Hanya untuk sedikit nafsu, kau mempertaruhkan seluruh hidupmu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/596808122890826890-8873722414965675718?l=hoedamanis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8873722414965675718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/596808122890826890/posts/default/8873722414965675718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hoedamanis.blogspot.com/2011/08/petuah-filsuf-gila-2.html' title='Petuah Filsuf Gila (2)'/><author><name>Hoeda Manis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00379301492316332427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7CPBPC9G7co/TSWthv-iPHI/AAAAAAAAAP0/VcZgYffnHRo/S220/hoeda.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-596808122890826890.post-4441008309726197398</id><published>2011-08-17T08:37:00.004+07:00</published><updated>2011-12-19T01:25:32.951+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemplasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloquy'/><title type='text'>Petuah Filsuf Gila (1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perlihatkan lebih sedikit dari yang kaumiliki, tunjukkan lebih sedikit&lt;br /&gt;dari yang kausimpan, bicaralah lebih sedikit dari yang kau tahu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;—&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wasiat para filsuf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki berwajah kuyu menemui seorang filsuf dengan penuh keputusasaan. Di hatinya ada luka, di pikirannya ada bencana. Ia mendatangi filsuf itu dengan harapan memperoleh pencerahan—tetapi ia tidak tahu filsuf yang didatanginya seorang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
