Rabu, 12 Oktober 2011

Telkomsel SimPATI Benar-benar Bosok

Para raksasa itu hanya tampaknya saja yang besar dan hebat,
tapi sesungguhnya bodoh, curang, dan jahat.
J.R.R. Tolkien

Teman-teman, kalian pasti masih ingat tentang catatan saya yang mengeluhkan perihal internet SimPATI beberapa waktu yang lalu. (Silakan lihat di sini). Di dalam catatan itu saya mengeluhkan internet SimPATI yang terus-menerus putus di tengah jalan, sehingga aktivitas berinternet jadi sangat tidak nyaman. Nah, sekarang layanan internet SimPATI kembali mengulangi hal semacam itu, bahkan kali ini jauh lebih parah sekaligus sangat merugikan konsumennya.

Agar catatan ini runtut dan tidak menimbulkan kesalahpahaman, saya akan menceritakan terlebih dulu kasus terdahulu, dan kenapa saya harus kembali menulis keluhan ini di sini.

Dulu, ketika saya menulis keluhan untuk SimPATI, saya sudah memberi kesempatan pada pihak Telkomsel SimPATI untuk memberikan hak jawab jika mereka memang merasa perlu menanggapi tulisan saya. Tapi mereka sama sekali tidak memberikan respon positif.

Karena SimPATI tidak merespon keluhan saya, maka keluhan itu lalu ditindaklanjuti sohib blogger saya, Pak Joko Sutarto, yang kemudian mengirimkan DM (direct message) ke official Twitter Telkomsel. Direct message dari Pak Joko dicuekin oleh Telkomsel, maka Pak Joko pun menuliskan kritiknya secara langsung di blognya, untuk menindaklanjuti keluhan saya tadi. Posting Pak Joko mengenai hal itu bisa dilihat di sini.

Pak Joko merasa perlu menindaklanjuti keluhan saya, karena dulu pernah menulis post iklan dari Telkomsel. Meski keluhan saya sama sekali bukan tanggung jawabnya, tetapi Pak Joko merasa punya tanggung jawab moral, sehingga mau “cawe-cawe” menyampaikan keluhan saya ke pihak Telkomsel.

Nah, posting yang ditulis Pak Joko itu tetap tidak mendapat respon positif dari Telkomsel. Karenanya, Pak Joko kembali menulis post kedua, yang kali ini dengan jelas menunjukkan kecurangan Telkomsel. Post itu dilengkapi data-data valid menggunakan Bitmeter, yang dengan jelas membuktikan kalau Telkomsel memang telah berlaku curang pada para pelanggannya. Post tersebut bisa dilihat di sini.

Setelah post kedua itu, Telkomsel baru memberikan respon. Berdasarkan respon yang diberikan Telkomsel kepada Pak Joko, dinyatakan bahwa paket internetan yang jadi masalah itu sebenarnya ditujukan untuk ponsel, bukan untuk komputer, sehingga setelah mencapai kuota 5 MB, maka sinyal akan diputus. Penjelasan selengkapnya bisa dilihat di sini.

Ketika membaca penjelasan Telkomsel yang diposting di blog Pak Joko tersebut, saya menyatakan (dalam kolom komentar) bahwa jawaban dan penjelasan Telkomsel itu sangat apologies dan tidak bertanggung jawab, bahkan terkesan akal-akalan, karena dulu dalam iklannya tidak ada penjelasan menyangkut hal itu. Tetapi kasus itu selesai sampai di situ, dan saya—sebagai konsumen—tidak bisa apa-apa lagi.

Nah, sekarang Telkomsel melakukan hal serupa seperti itu, bahkan kali ini jauh lebih parah, bahkan amat sangat merugikan konsumennya.

Telkomsel SimPATI memiliki paket khusus download bernama Paket FUN Night atau Midnight Flash Unlimited. Berikut ini adalah penjelasan mengenai paket tersebut, saya kutip langsung dari web resmi Telkomsel:

Paket FUN Night atau Midnight Flash Unlimited adalah paket Internet Unlimited dengan bonus kuota (fair use) yang hanya dapat digunakan pada tengah malam (00:01 - 05:59) dengan masa aktif paket 30 hari (Paket Rp. 25.000 dan Rp. 50.000) serta paket harian Rp. 1.000. Paket ini sangat cocok untuk mereka yang gemar download, streaming atau mereka yang suka aktivitas Internet di malam hari.

Sejak pertengahan September lalu, saya tidak pernah online, karena sangat sibuk. Pada 5 Oktober 2011, saya perlu men-donwload sejumlah data dari internet, maka saya pun online dan mengaktifkan paket FUN Night yang Rp. 50.000, sehingga mendapatkan jatah kuota sebesar 8 GB. See, jatah 8 GB itu saya peroleh dengan membayar, dan bukan gratisan. Artinya, untuk setiap kilobite yang saya peroleh, saya peroleh dengan membayar.

Dan di sinilah kecurangan Telkomsel SimPATI terjadi.

Ketika proses download sedang terjadi, tiba-tiba proses itu berhenti di tengah jalan, tepat ketika memasuki jumlah 70-an MB. Artinya, jika saya men-download data sejumlah 200 MB, misalnya, maka proses download itu gagal dan saya harus mengulanginya dari awal. Dan begitu terus-menerus.

Yang jadi masalah, sejumlah data yang ter-download (tapi gagal) tadi akan hilang, dan itu artinya jumlah kuota yang saya miliki akan terus berkurang—pelan namun pasti. Ketika hal ini terjadi satu-dua kali, saya berusaha untuk memaklumi. Tetapi ketika hal semacam itu terjadi terus-menerus, saya pun sampai pada kesimpulan bahwa putus atau gagalnya proses download itu memang disengaja oleh pihak Telkomsel.

Nah, masalah yang amat menjengkelkan sekaligus merugikan ini telah terjadi sejak tanggal 5 Oktober hingga hari ini (12 Oktober 2011). Artinya, sudah seminggu lamanya saya menghadapi proses download yang terus-menerus gagal di tengah jalan—tepat ketika jumlah yang ter-download mencapai 70-an MB. Tanpa harus belajar statistik, kita tahu bahwa kegagalan download itu pasti terjadi karena faktor kesengajaan, dan bukan semata kebetulan.

Ini sangat-sangat merugikan sekaligus menjengkelkan. Merugikan, karena jatah kuota yang telah saya bayar terus-menerus berkurang, tetapi saya tidak mendapatkan apa-apa. Menjengkelkan, karena ini benar-benar membuang waktu saya. Karenanya, meminjam istilah Mbelgedez, yang dilakukan Telkomsel SimPATI kali ini benar-benar sudah bosok! Bagaimana tidak bosok? Mereka merampas perlahan-lahan jatah kuota yang telah dibayar pelanggannya.

Tolong jangan ajari saya tentang menggunakan software download atau semacamnya. Yang jadi masalah di sini bukan apakah saya menggunakan software download atau tidak. Yang jadi masalah di sini adalah bahwa SimPATI telah dengan sengaja menghentikan proses download yang saya lakukan—entah apa alasannya.

Jika kita membaca penjelasan mengenai Paket FUN Night ini, dengan jelas Telkomsel menyatakan, bahwa “Paket ini sangat cocok untuk mereka yang gemar download”. Lalu kenapa proses download harus dihentikan ketika jumlahnya mencapai 70-an MB? Rata-rata jumlah data yang saya download 200-an MB. Dan selama berpuluh-puluh kali mencoba men-download selama seminggu ini, proses download saya terus-menerus gagal di tengah jalan, sementara jatah kuota saya terus-menerus berkurang.

Sebelum menulis catatan ini, saya menghubungi beberapa teman yang juga menggunakan paket Fun Night, agar saya lebih jelas mengetahui masalahnya—apakah hanya saya yang mengalaminya, ataukah orang lain juga sama. Ternyata teman-teman saya juga mengalaminya. Mereka bahkan menyatakan bahwa masalah ini telah terjadi sejak bulan September lalu—jauh-jauh hari sebelum saya mengalaminya sendiri.

Seorang teman bahkan menganjurkan, “Coba kamu lihat laman Telkomsel SimPATI di Facebook. Di sana juga banyak orang protes mengenai hal yang sama.”

Jadi, persoalan ini bukan hanya menimpa saya, tetapi juga pada para pelanggan Telkomsel SimPATI yang lain. Pertanyaannya sekarang, mengapa Telkomsel melakukan kecurangan yang amat sangat merugikan pelanggannya seperti ini?

Dulu, ketika saya protes dan mengeluh tentang sambungan internet yang putus-putus di tengah jalan, mereka menyatakan bahwa paket internet itu hanya ditujukan untuk ponsel. Meski dongkol, saya mencoba memaklumi penjelasan itu, karena bisa dibilang itu paket gratisan. Tetapi yang terjadi sekarang sama sekali bukan gratisan. Saya—dan pelanggan yang lain—telah membayar untuk setiap kuota yang kami dapatkan. Kenapa masih harus dicurangi seperti ini…???

Saya terpaksa menulis keluhan terbuka seperti ini, karena saya diberitahu banyak teman bahwa percuma saja menyampaikan keluhan via email atau hotline customer service Telkomsel. Jadi, kalau ada pihak dari Telkomsel yang kebetulan membaca catatan ini, dan merasa perlu memberikan jawaban, silakan hubungi email saya. Jika jawabannya bertanggung jawab dan bukan apologi, saya akan memuatnya di blog ini sebagai tanggung jawab atas catatan ini.

Aturan mainnya sederhana, fellas.
Kau kecewakan pelangganmu, maka pelanggan akan meneriakimu.
Peter F. Drucker

 
;