Kamis, 26 Desember 2013

Seringai Iblis di Wajah Malaikat

Di dunia yang dihuni banyak munafik,
aku lebih menghormati kesombongan yang jujur,
daripada rendah hati yang palsu.
@noffret


—Ini kisah tentang Joko Sutarto, pemilik blog Diptara.Com, sosok yang tampak baik dan terlihat seperti kawan, tapi diam-diam menusuk dari belakang.

Setiap kali membaca berita mengenai korupsi, pembunuhan, atau kejahatan lain, saya selalu berusaha mendapatkan foto pelaku kejahatan tersebut untuk melihat wajahnya. Jadi, umpama hari ini saya membaca si X ditangkap KPK karena korupsi sekian milyar, dan dalam berita itu tidak dimuat foto pelakunya, saya akan mencarinya sendiri, dan itu tidak sulit.

Ketertarikan saya pada wajah orang dilatarbelakangi dua hal. Satu, saya kadang sulit menghafal atau mengingat wajah orang (kadang juga namanya). Dengan sering mengamati wajah, saya berharap daya ingat saya dalam hal itu bisa lebih baik. Dua, karena saya sering terkejut ketika mendapati pelaku berbagai kejahatan ternyata memiliki wajah yang biasa-biasa saja, dalam arti tidak menunjukkan wajah seorang penjahat.

Berkali-kali saya mendapati hal semacam itu. Suatu waktu, saya membaca berita seorang bajingan yang melakukan pembunuhan kejam, kemudian saya “takjub” karena bajingan itu memiliki wajah yang “biasa-biasa saja”—sama sekali tidak menunjukkan dirinya menyimpan watak kejam.

Di lain waktu, saya membaca berita mengenai seseorang yang korupsi sekian milyar, dan kemudian mendapati pelakunya ternyata tampak alim, dengan senyum yang teduh, dan wajah yang bahkan tampak bijaksana. Oh, well, itu seperti seringai iblis di wajah malaikat. Tampak baik di depan manusia lain, tapi menyimpan sesuatu yang jahat.

Setelah mendapati kenyataan semacam itu ratusan kali, saya seperti diberitahu bahwa orang yang tampaknya baik dan berwajah ramah belum tentu begitu pula wataknya. Sebaliknya, orang yang wajahnya tampak menakutkan juga belum tentu seperti itu pula kepribadiannya. Wajah manusia seperti sampul buku, dan orang sering mengingatkan, “Jangan menilai buku dari sampulnya.”

Meski kita sering diingatkan agar tidak menilai orang lain dari wajah atau penampilannya, tapi kita justru sering bertindak sebaliknya. Ketika bertemu orang asing, hal pertama yang akan kita lihat adalah wajah atau penampilannya. Tentu saja wajar, karena tidak setiap kita bisa mengetahui watak atau kepribadian orang hanya dengan sekilas lihat. Karena itu pula, kebanyakan kita pun sering menyimpulkan seseorang dari wajah atau penampilannya.

Sayangnya, dalam hal ini, wajah dan penampilan kerap menipu. Sering kali, kita mudah tertarik pada orang-orang yang tampak cakep atau terlihat ramah, dan cenderung menjauh dari orang yang penampilannya tampak buruk atau berwajah murung.

Padahal, jika kita mau bertanya pada psikiater mana pun, atau membaca makalah-makalah yang membahas kejahatan psikopati, kita akan diberitahu bahwa sebagian besar psikopat paling mengerikan adalah orang yang wajahnya tampak menyenangkan, bahkan terkesan ramah, atau relatif tidak berbahaya.

Agatha Christie, pengarang novel-novel kriminal terkenal, menciptakan seorang tokoh bernama Miss Marple, yang muncul dalam banyak novel pembunuhan. Wanita ini digambarkan memiliki kemampuan membaca atau memahami wajah orang. Ketika bertemu seseorang, Miss Marple biasanya akan teringat pada wajah orang lain yang pernah dikenalnya, beserta perbuatan yang dilakukannya.

Umpama, bertahun-tahun sebelumnya ada orang yang melakukan pembunuhan terhadap tetangganya sendiri, Miss Marple akan mengingat hal itu. Bertahun-tahun kemudian, Miss Marple kadang mendapati ada orang lain yang memiliki wajah mirip pembunuh itu, dan dia biasanya akan berkata atau bergumam, “Wajahnya mengingatkanku pada wajah orang jahat itu.”

Ajaibnya, orang yang dinilai “mirip wajah orang jahat itu” terbukti melakukan pembunuhan yang tak jauh beda! Artinya, pola wajah bisa menyiratkan pola kepribadian pemiliknya.

Sampai di sini, mungkin kita bisa menyatakan, “Ah, itu kan novel! Kebetulan-kebetulan semacam itu sangat umum di dunia fiksi. Tapi sepertinya sangat berlebihan kalau kita menerapkannya di dunia nyata!”

Sejujurnya, saya sangat segan mengatakan ini, namun sekarang harus saya katakan, karena sangat berkaitan dengan catatan ini. Saya menghabiskan waktu sebelas tahun untuk belajar psikologi, hingga bisa dibilang pengetahuan terbesar yang ada di kepala saya adalah psikologi.

Selama sebelas tahun mempelajari psikologi, saya bertemu orang-orang yang memiliki kemampuan yang bisa dibilang tak masuk akal. Ada orang yang bisa mendeteksi apakah seseorang berkata bohong atau jujur, hanya dengan mendengarkan suaranya. Ada lagi yang bisa mengetahui seseorang menyimpan watak jahat atau tidak, hanya dengan melihat wajahnya.

Yang menakjubkan, sekian banyak eksperimen yang dilakukan untuk menguji hipotesis mereka menunjukkan kebenaran! Perkiraan dan penilaian yang mereka berikan dalam serangkaian uji coba terbukti akurat. Seseorang yang mereka nyatakan bohong akhirnya terbukti memang bohong, dan seseorang yang mereka vonis “berwatak jahat” akhirnya juga terbukti melakukan kejahatan. Mereka tidak kenal orang-orang tersebut, mereka hanya mendengar suara atau ucapannya, atau melihat wajahnya.

Bagaimana hal semacam itu bisa terjadi? Orang yang bertahun-tahun mempelajari psikologi tidak akan asing dengan kenyataan semacam itu, karena tumpukan makalah yang mereka baca bisa menjelaskannya secara ilmiah. Itu bukan jenis pengetahuan yang mengunakan jampi-jampi supranatural, semuanya murni menggunakan ilmu pengetahuan.

Karena itu, ketika membaca novel-novel Agatha Christie, saya tidak menilai kisah dalam novel itu mengada-ada, karena hal-hal semacam itu memang sering terjadi. Faktanya, Agatha Christie juga bukan sekadar novelis, ia juga pakar psikologi. Penjelasan-penjelasan yang diberikan dalam novelnya—yang umumnya dituturkan tokoh-tokoh ciptaannya—sesuai dengan yang diajarkan psikologi. Artinya, dia tidak asal tulis.

Well, saya menulis catatan ini, karena teringat pada kejadian dua tahun lalu. Suatu malam, dua tahun lalu, saya bercakap-cakap dengan seseorang di ruang belajarnya. Dia salah satu master dalam keahlian membaca wajah orang, dan saya pun mengakui kehebatannya dalam hal itu.

Malam itu, di ruang belajarnya, kami bermain-main dengan setumpuk wajah orang yang kami kumpulkan di layar monitor. Menggunakan mouse, saya menggerakkan dan memilih wajah tertentu, dan meminta dia untuk memberikan penilaiannya. Sebagian besar wajah yang kami kumpulkan adalah wajah-wajah orang yang saya kenal, hingga apa pun penilaian yang ia berikan dapat saya konfrontasi langsung—jika penilaiannya ternyata keliru.

Nah, saya menggerakkan dan memilih wajah satu per satu dengan mouse. Komputer memperbesar wajah itu di layar monitor. Kemudian dia akan menjelaskan kepribadian orang itu dengan suara perlahan-lahan, dengan kefasihan seorang profesional. Ajaibnya, dia bisa mendeskripsikan kepribadian orang-orang itu dengan ketepatan yang nyaris sempurna, padahal dia sama sekali tidak mengenal orang-orang itu.

Saya tahu penilaiannya memang benar, karena saya mengenal orang-orang yang wajahnya saya tunjukkan kepadanya. Jadi, ketika dia menyatakan, “Orang ini gampang marah, tapi juga mudah memaafkan—dia bukan tipe pendendam—dan bla-bla-bla,” maka saya akan mengingat karakter orang itu yang saya kenali, dan kenyataannya memang begitu. Deskripsi yang diberikannya tepat sebagaimana yang saya kenali dari orang tersebut.

Malam itu, saya menguji hingga 20-an wajah, yang semuanya bisa dideskripsikan olehnya secara akurat. Di bagian akhir, saya menampilkan sebuah wajah yang saya kenal sekilas. Saya tidak mengenal orang dalam foto itu secara langsung—saya tahu dia, dan dia tahu saya, hanya sebatas itu. Karenanya, saya juga tidak yakin bagaimana karakter atau kepribadian orang itu. Yang jelas, saya jaga jarak dengan orang tersebut, karena gayanya yang sok, dan sikapnya membuat tidak nyaman.

Ketika foto itu saya tunjukkan kepadanya, dia menatap ke layar monitor, memandangi foto yang telah diperbesar. Di layar monitor, foto orang itu tampak sedang tersenyum, dengan wajah yang seperti umumnya orang baik. Saya tidak memberi komentar atau sugesti apa pun, karena saya ingin mendengar penilaian murni darinya tanpa intervensi.

Setelah menatap wajah di monitor beberapa saat, dia menjelaskan deskripsi kepribadian orang itu, dan diam-diam saya mengingatnya. Di akhir penjelasan, dia berkata, “Di sekeliling kita, ada orang yang mengenakan topeng untuk menutupi kelebihannya, tapi ada pula yang mengenakan topeng untuk menutupi kekurangannya—atau kebusukannya.”

Dua tahun berlalu.

Selama dua tahun itu, tidak ada kejadian apa-apa. Orang itu—yang fotonya dibahas di atas—kadang saya lihat di beberapa tempat. Selama waktu-waktu itu, saya pun mulai mengenali kepribadiannya, meski kami tidak aktif berkomunikasi. Dia suka unjuk diri—muncul di mana-mana, bergaya rendah hati tapi palsu—dan saya terus mengamatinya.

Selama waktu-waktu itu pula, saya mendapati cirinya yang paling menonjol—pendengki dan munafik. Dia tipe orang bisa tersenyum di depanmu, tapi diam-diam menusuk dari belakang.

Mungkin dia tidak menyadari telah memperlihatkan sifatnya tersebut, dan orang-orang lain juga luput memperhatikan hal itu. Tapi saya telah menghabiskan waktu sebelas tahun untuk mempelajari psikologi manusia, dan cukup mudah bagi saya untuk memetakan mana kejujurannya dan mana kebohongannya, mana ketulusannya dan mana kemunafikannya. Dan dalam hal ini, saya lebih suka berteman dengan bajingan yang jujur, daripada berkawan dengan orang jahat yang tampak baik.

Sampai kemudian, sesuatu terjadi—dan membuktikan watak jahatnya. Belum lama, orang itu benar-benar menunjukkan aslinya—sosok jahat yang disembunyikan di balik wajahnya yang tampak baik. Dia melakukan suatu kejahatan yang ia pikir tidak akan diketahui orang lain, termasuk korbannya. Sebenarnya, saya pun mungkin tidak akan tahu kejahatan yang dilakukannya. Yang membuat saya tahu, kejahatan itu dilakukannya kepada saya!

Untuk memahami lebih lanjut soal ini, dan siapa orang yang saya maksud, silakan baca catatan-catatan berikut:
Yang ingin saya sampaikan melalui catatan ini, Kawan-kawan, berhati-hatilah dengan orang-orang yang tidak yakin kita kenal di sekeliling kita—khususnya di dunia maya.

Jangan terlalu berbaik sangka, pun jangan terlalu berburuk sangka. Yang tampak baik belum tentu baik pula isinya, yang tampak jahat juga belum tentu jahat pula dalamnya. Bisa jadi, seseorang yang baik tampak jahat karena sedang murung memikirkan sesuatu. Bisa jadi pula seseorang yang jahat tampak tersenyum ramah, padahal sedang menyunggingkan seringai iblis.

Baca lanjutannya: Iblis Dunia Maya

 
;