Jumat, 29 Maret 2013

Soal Raffi, dan Mahalnya Harga Kesalahan (2)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Hal semacam itu pula yang terjadi pada kasus Raffi Ahmad akhir-akhir ini. Berbagai web dan portal memberitakan kasus itu, tetapi nyaris semuanya sepotong-sepotong. Mengenai permintaan oknum BNN yang katanya meminta agar Hotma Sitompul dipecat sebagai kuasa hukum Raffi, berbagai berita yang saya baca hanya sepotong-sepotong, sehingga saya tidak bisa menyimpulkan, apalagi memastikan.

Satu hal yang saya ingat dari berbagai berita itu adalah pernyataan pengacara kondang Hotman Paris Hutapea, yang menyatakan bahwa kasus Raffi penuh rekayasa. Ada berbagai pihak yang “bermain” dalam kasus ini.

Saya bukan pengacara, dan saya juga awam soal hukum. Namun, jika seorang pengacara sekaliber Hotman Paris Hutapea—yang tentunya tahu seluk beluk dunia hukum—berani menyatakan bahwa suatu kasus penuh rekayasa, maka tentu dia tidak asal ngomong. Setiap pakar, termasuk pakar hukum (atau pengacara) tentu menyadari bahwa ucapannya sangat berpengaruh pada reputasinya. Hotman Paris tentu tidak mau dianggap “asal bunyi”, dia menyatakan apa yang memang dia yakini.

Sekarang, yang membuat saya berpikir dan bertanya-tanya, permainan apa yang sedang dilakukan terhadap Raffi Ahmad? Kalau memang ada “permainan” atau “rekayasa” dalam kasus ini, seperti yang dinyatakan Hotman Paris Hutapea, siapakah yang bermain?

Raffi Ahmad, kita tahu, bukan politisi, bukan aparat pemerintah, bukan pejabat negara. Dia artis. Dan kasus yang menyeretnya sehingga berurusan dengan polisi serta dunia hukum, bukan karena dia korupsi atau melakukan kejahatan menyangkut urusan negara, melainkan karena dituduh mengonsumsi narkoba. Jika ada “permainan” atau “rekayasa” dalam kasusnya, tentunya rekayasa itu tidak dilakukan dengan tujuan “menjaga stabilitas negara”. So...?

Kasus Raffi ini mengingatkan saya pada sebuah kisah yang terjadi di suatu tempat, yang menimpa seorang bocah. Ceritanya, bocah itu mengalami kecelakaan. Motornya menabrak seseorang, dan korban yang ditabraknya meninggal dunia. Bocah itu pun ditangkap polisi, dan ditahan.

Itu, sebenarnya, hal biasa—suatu kejadian yang mungkin terjadi setiap hari. Yang mungkin tidak biasa adalah, bocah yang mengalami kecelakaan itu anak orang miskin, bahkan motor yang dipakai bocah itu pun motor pinjaman. Ketika penyelidikan dilakukan, terbukti bahwa bocah itu berkendara dengan baik, tidak sedang mengantuk atau mabuk, dan kecelakaan itu terjadi bukan karena kesalahannya.

Sementara itu, keluarga korban telah menyatakan tidak akan menuntut bocah itu. Mereka menyadari bahwa nasib malang atau apes bisa menimpa siapa saja, dan mereka telah legawa menghadapi musibah yang menimpa mereka. Toh itu murni kecelakaan yang tidak disengaja. Dan mereka pun menyadari si bocah pasti merasa sangat bersalah dan menyesal akibat kecelakaan itu.

Sampai di sini, tentu kita bisa melihat, bahwa sebenarnya kasus ini sudah selesai. Tapi polisi menganggap kasus itu belum selesai, dan si bocah tetap ditahan. Mereka baru akan melepaskan si bocah dari tahanan jika keluarganya telah memberikan uang tebusan sebesar yang mereka tetapkan. (Saya tidak ingat pasti berapa jumlah tebusan yang diminta).

Maka keluarga si bocah pun pontang-panting mencari uang demi bisa menebus anaknya yang ditahan polisi. Mereka menjual apa saja, menggadaikan apa saja, berutang kesana kemari, dan hasilnya dikumpulkan untuk diserahkan pada polisi. Tapi jumlahnya belum cukup. Uang yang telah berhasil dikumpulkan dengan susah payah itu telah diserahkan pada polisi, tapi si bocah tetap mendekam dalam tahanan, dan baru akan dilepaskan setelah jumlah uang tebusan sesuai yang mereka tetapkan.

Keluarga si bocah kebingungan. Tidak ada lagi yang bisa mereka jual. Tidak ada lagi yang bisa mereka gadaikan. Tidak ada lagi orang yang bisa dimintai tolong untuk memberikan utang. Semuanya sudah habis. Dan anak mereka masih ditahan polisi.

Kisah memilukan itu kemudian terdengar seorang jurnalis. Merasa tersentuh oleh kemalangan keluarga miskin itu, si jurnalis mencoba membantu dengan mendatangi kantor polisi tempat bocah itu ditahan, meminta agar si bocah dilepaskan. Tapi hasilnya nihil. Si jurnalis tidak mau berhenti di tengah jalan. Merasa bahwa kasus itu sudah selayaknya dituntaskan, ia pun menghubungi sahabatnya yang bekerja di BIN (Badan Intelijen Nasional), untuk membantunya.

Si jurnalis menceritakan kronologi kasus itu pada sahabatnya. Si orang BIN—yang memang memiliki integritas tinggi—merasa terketuk hatinya. Maka dia pun terbang dari Jakarta, menuju tempat kasus itu berada. Si orang BIN mendatangi kantor polisi tempat bocah tadi ditahan, dan mengamuk, meminta agar bocah itu dibebaskan dari tahanan.

Kisah selanjutnya berjalan dengan cepat. Hari itu juga si bocah malang dibebaskan. Uang yang telah diserahkan keluarga si bocah juga dikembalikan oleh polisi. Dan kasus pun selesai.

Saya tidak perlu memperpanjang kisah ini dengan penjelasan lain yang lebih detil. Intinya, kita tidak bisa menyalahkan seratus persen pihak kepolisian yang terlibat dalam kasus di atas, karena—betapa pun juga—mereka terjebak dalam sistem. Jika kita masuk ke dalam sistem yang buruk, dan kita menjadi bagian di dalamnya, mau tak mau kita akan dituntut untuk mengikuti aturan main dalam sistem.

Sekarang, apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari kasus Raffi Ahmad, dan kasus bocah malang yang saya ceritakan tadi?

Pelajarannya adalah ini; bahwa harga kesalahan itu luar biasa besar. Setiap kali kita melakukan kesalahan, setiap kali pula kita akan dituntut untuk membayar—disadari atau tidak.

Kadang-kadang kita harus membayar kesalahan itu dalam bentuk uang, namun lebih sering kita dituntut membayar dalam bentuk yang jauh lebih mahal dibanding uang. Bisa penyesalan yang sangat dalam, luka hati dan kekecewaan yang tak kunjung tersembuhkan, kerisauan dan rasa bersalah yang tak pernah hilang, ataupun pengalaman traumatis yang tak bisa dilupakan.

Kesalahan selalu menuntut pembayaran. Dan, yang mengerikan, harga yang harus kita bayar sering kali sangat mahal. Untuk kesalahan yang melibatkan hukum secara langsung, mungkin bayarannya cukup uang—terlepas uang itu dibayarkan secara legal atau tidak. Karena kesalahan mengonsumsi narkoba, misalnya, Raffi Ahmad harus mengeluarkan uang yang jauh lebih mahal dari harga narkoba yang dikonsumsinya—dari bayaran untuk pengacara sampai “bayaran” untuk hal-hal lainnya.

Dalam hidup, kita kadang melakukan kesalahan, yang disengaja maupun tidak. Kesalahan yang menyeret kita ke muka hukum, bayarannya mungkin terlihat. Tapi untuk kesalahan yang tidak membawa kita ke muka hukum, bayarannya sering tak terlihat... tapi jauh lebih besar.

Mungkin sebagian orang ada yang merasa telah melakukan banyak kesalahan, dan tidak pernah membayar harganya. Kedengarannya bagus. Tetapi, berita buruknya, kesalahan itu seperti rentenir yang kejam. Jika ia tidak menuntut pembayaran sekarang, ia akan menagih di masa depan. Dan bunga di atas bunga akan menjadikan pembayaran semakin mahal.

Kehidupan menawarkan aturan sederhana untuk keselamatan dan kedamaian siapa pun, “Lakukanlah hal-hal baik. Jika tidak bisa, jangan lakukan hal buruk. Kerjakan hal-hal yang benar. Jika tidak bisa, jangan sengaja—apalagi bangga—melakukan kesalahan.”

Orang-orang sering menyatakan bahwa pengalaman adalah guru paling baik. Benar, tapi pengalaman juga sering menjadi guru yang mahal. Karenanya, orang paling tolol dan paling sial di dunia adalah orang yang tak mau belajar dari pengalaman.

Soal Raffi, dan Mahalnya Harga Kesalahan (1)

Raffi Ahmad tuh seleranya agak gue banget.
Tyas Mirasih, Velove Vexia, Laudya Chintya Bella,
Ratna Galih, Yuni Shara, Wanda Hamidah....
@noffret 


Raffi Ahmad kembali menjadi berita nasional akhir-akhir ini. Setelah beberapa waktu yang lalu membuat kehebohan akibat hubungannya dengan Yuni Shara, sekarang bocah itu bikin geger lagi dengan kasus narkoba. Ceritanya, seperti yang juga kalian tahu, Raffi digerebek BNN (Badan Narkotika Nasional) di rumahnya karena dicurigai mengadakan pesta narkoba, dan dari sana kemudian beritanya membahana.

Sebenarnya, kasus seperti yang dialami Raffi bukan hal istimewa. Selain Raffi, di negeri ini telah cukup banyak orang yang pernah digerebek di rumahnya gara-gara kasus sama. Yang menjadikannya istimewa karena Raffi Ahmad artis terkenal. Dan, ditambah lagi, dalam penggerebekan itu juga terjaring beberapa artis lain, yang salah satunya—kalau tak keliru—Wanda Hamidah, yang sekarang digosipkan dekat dengan Raffi.

Maka penggerebekan dan penangkapan itu segera menjadi berita nasional beberapa waktu lalu. Di waktu-waktu itu, nyaris semua media memberitakan hal yang sama, sementara timeline di Twitter dibanjiri aneka macam komentar tentang mereka. Dari yang bersimpati, sampai yang sinis. Dari yang membela Raffi, sampai yang mencurigai adanya “permainan” polisi.

Lalu antiklimaks terjadi. Wanda Hamidah, salah satu orang yang semula dicurigai terlibat dalam pesta narkoba, dinyatakan tak bersalah (terbukti tidak mengonsumsi narkoba), bahkan kemudian diangkat atau ditunjuk menjadi duta BNN. Berita itu sekali lagi menimbulkan banjir komentar di mana-mana. Dari yang simpati sampai yang sinis.

Selama mengikuti kasus Raffi menyangkut narkoba itu, saya merasa seperti sedang menyaksikan drama yang naskah skenarionya benar-benar buruk. Dari berita-berita yang saya baca, kasus ini makin hari bukannya menjadi jelas, tapi justru menjadi buram dan melahirkan banyak tanda tanya.

Semula, diberitakan bahwa Raffi dan kawan-kawannya positif mengonsumsi narkoba. Bahkan disebutkan kalau BNN dan kepolisian sudah lama mengawasi mereka. Lalu berita itu berubah, dan dinyatakan bahwa pihak BNN hanya menemukan “dua linting ganja” di rumah Raffi. Lalu ada berita lain lagi yang menyatakan bahwa Raffi tidak mengonsumsi narkoba, tapi obat baru yang belum dikenal. Tidak jelas, berubah-ubah.

Satu hal yang sekarang sudah jelas. Bahwa Raffi Ahmad sudah ditahan akibat kasus itu, dan sedang dalam urusan dengan pengadilan. Tetapi hal yang sudah jelas itu pun kembali melahirkan ketidakjelasan dan tanda tanya. Menghadapi kasusnya, Raffi Ahmad menyewa pengacara Hotma Sitompul sebagai kuasa hukumnya. Itu tentu saja hak Raffi sebagai pihak yang berurusan dengan hukum, dan siapa pun tentu tak bisa menggugat haknya.

Tetapi, baru-baru ini saya membaca berita yang menyatakan bahwa urusan pengacara ini pun jadi masalah. Berdasarkan berita yang dirilis di berbagai web, ada oknum BNN yang meminta agar keluarga Raffi memecat Hotma Sitompul sebagai pengacaranya. Jika tidak, masih menurut berita itu, maka kasusnya akan dipersulit.

Hotman Paris Hutapea, yang diwawancarai KapanLagi, menyatakan, “Dalam sebulan terakhir semenjak Hotma masuk, ada oknum dari BNN menemui pamannya Raffi di Bandung, dan meminta Hotma dipecat.”

Salah satu kelemahan berita di dunia cyber adalah ketidaklengkapannya. Aneka macam situs dan portal berita memang sangat aktif memuat berita dari waktu ke waktu, yang tingkat kecepatannya sulit ditandingi media konvensional yang menggunakan kertas cetakan. Tetapi berita-berita di internet sering kali dirilis sepotong-sepotong, singkat-singkat, tidak lengkap, bahkan kadang tidak kronologis, sehingga sering membingungkan pembaca yang ingin mengetahui berita selengkapnya.

Lanjut ke sini.

Hukum Semesta

Akan tiba waktunya, ketika kita harus membayar utang kita—sebesar atau sekecil apa pun, dalam bentuk apa pun.

Akan tiba waktunya, ketika kita harus mengembalikan semua yang telah kita ambil dengan cara tidak benar—disadari atau pun tidak, diingat atau pun terlupa.

Akan tiba waktunya, ketika kita harus melepaskan semua yang telah kita rampas dari orang lain—hingga kehidupan hanya menyisakan kulit pembungkus tulang di tubuh kita, dan nyawa yang tinggal segaris.

Untuk setiap pohon yang ditumbangkan dengan kerakusan, untuk setiap oksigen yang dirampas dari kehidupan orang lain, untuk setiap darah dan air mata yang diteteskan tanpa kerelaan, untuk setiap duka dan tangis yang memecah langit, alam semesta akan menuntut keadilan... kapan pun waktunya.

Akan tiba waktunya, ketika bunga tumbuh mekar dan daun-daun luruh. Akan tiba waktunya ketika awan menghimpun air dan tetes hujan turun. Akan tiba waktunya ketika tanah yang murka bangkit dari kematiannya, dan langit penuh amarah mengguncangkan badai bersama halilintar membelah gunung.

Untuk setiap tangan yang terulur, untuk setiap jari yang merampas, untuk setiap senyum yang terkulum, untuk setiap kerakusan yang mencekik napas... selalu ada waktunya untuk memperoleh hasil, seperti biji di tanah yang menumbuhkan pohon. Dan bumi adalah tanah yang adil, karena ia hanya menumbuhkan pohon sesuai bijinya, memekarkan bunga dan meluruhkan daun tepat pada waktunya.

Akan tiba masanya, ketika kita harus membayar utang kita—sebesar atau sekecil apa pun, dalam bentuk apa pun.

Akan tiba masanya, ketika kita harus mengembalikan semua yang telah kita ambil dengan cara tidak benar—disadari atau pun tidak, diingat atau pun terlupa.

Akan tiba masanya, ketika kita harus melepaskan semua yang telah kita rampas dari orang lain—hingga kehidupan hanya menyisakan kulit pembungkus tulang di tubuh kita, dan nyawa yang tinggal segaris.

Dan... ketika saat itu tiba, kita pun tahu bahwa utang selalu menuntut bunga. Sedikit yang telah kita rampas menuntut pembayaran yang jauh lebih besar. Pada waktunya, setiap kita akan menyadari bahwa merampas hak orang lain adalah kebodohan di atas kebodohan di atas kebodohan....

Sabtu, 23 Maret 2013

Idealisme Nasi Keras

Peradaban umat manusia pasti akan jauh lebih baik,
kalau saja semua orang menyukai nasi keras.
@noffret


Salah satu hal yang sangat saya benci di muka bumi ini adalah nasi lembek. Sebegitu bencinya, saya bisa marah dan mengamuk jika harus berhadapan dengan nasi lembek. Selapar apa pun, saya lebih memilih menahan lapar daripada harus memakan nasi lembek. Nasi lembek yang saya maksud adalah nasi yang menggumpal, yang butiran nasinya saling lengket dan sulit dipisahkan. Intinya, nasi yang tidak enak.

Suatu hari, dalam sebuah perjalanan, saya bersama seorang teman masuk ke rumah makan. Kami memesan nasi dan pecel lele. Pecel lelenya enak, digoreng sampai garing, tapi nasinya lembek. Saya hanya memakan pecel lelenya, dan tidak mau menyentuh nasi itu sedikit pun. Ketika keluar dari rumah makan itu, saya misuh-misuh. Rumah makan macam apa yang menyediakan nasi selembek itu?

Lalu teman saya bertanya, “Segitu antinya kamu sama nasi lembek?”

“Memang!” sahut saya dengan jutek. “Jika kamu menyodorkan nasi lembek ke depanku, dan menodongkan pistol di kepalaku, maka aku lebih memilih ditembak mati daripada harus memakan nasi lembek.”

Sampai di sini, mungkin orang bertanya-tanya, kenapa saya sampai segitunya? Kenapa saya sampai memilih mati daripada harus makan nasi lembek?

Ini berhubungan dengan trauma masa kecil saya. Trauma yang dilahirkan dari kemiskinan, sebentuk trauma yang kelak akan menunjukkan kepada saya, sebuah pelajaran penting tentang hidup.

....
....

Meski tinggal di Indonesia, dan menjadi bagian masyarakat Jawa, namun sampai sekarang saya belum menganggap nasi sebagai makanan pokok. Dalam sehari, biasanya saya hanya makan nasi satu kali, selebihnya saya makan roti atau makanan lain. Dan setiap kali makan nasi, saya akan memastikan nasi yang saya makan adalah nasi keras. Jika ternyata nasi yang harus saya makan hari itu lembek, maka saya tidak makan nasi sama sekali, dan terus makan roti.

Kebiasaan makan roti itu telah tertanam pada diri saya sejak kecil. Sebenarnya, keluarga saya menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Nyokap saya membuat nasi setiap hari. Tetapi, nasi yang dibuat nyokap selalu lembek. Dulu, waktu saya masih kecil sekali, saya tidak tahu bahwa ada nasi lain yang tidak lembek. Jadi, waktu itu, saya pun makan nasi buatan nyokap setiap hari. Hal itu saya jalani sampai kelas dua SD.

Hingga suatu hari, keluarga kami berkunjung ke rumah nenek di Jakarta. (Kakek dan nenek saya—dari pihak ibu—tinggal di Jakarta). Selama tinggal di rumah nenek, saya mendapati nasi buatan nenek jauh berbeda dengan nasi buatan nyokap. Nasi buatan nenek tidak lembek, butiran nasinya keras dan saling terlepas, tapi empuk—pokoknya jauh lebih enak dibanding nasi buatan nyokap. Waktu itulah saya baru menyadari bahwa di dunia ini ternyata ada nasi yang enak, yaitu nasi yang tidak lembek.

Ketika kami pulang, saya harus kembali menghadapi nasi buatan nyokap, dan harus kembali memakan nasi lembek. Karena penasaran, saya bertanya pada nyokap, kenapa nasi buatan nenek bisa keras dan enak, sementara nasi buatan nyokap selalu lembek? Nyokap menjelaskan, bahwa nasi buatan nenek dihasilkan dari beras berkualitas baik yang harganya mahal, sementara nasi buatan nyokap dibuat dari beras murah yang tidak berkualitas.

Jadi itulah inti masalahnya, pikir saya baru paham. Waktu itu saya masih kelas dua SD, tapi saya telah memahami bahwa keluarga kami hidup dalam kemiskinan. Sebegitu miskinnya, sampai nyokap harus terpaksa membeli beras yang murah, dan saya harus terpaksa memakan nasi lembek yang dihasilkan dari beras tak berkualitas.

Sejak itu, saya mulai tidak mau memakan nasi, dan minta roti saja. Semurah-murahnya roti, saya lebih bisa menikmatinya daripada harus makan nasi lembek. Nyokap tidak keberatan. Jadi, sejak itu pula, saya lebih sering makan roti setiap hari, dan baru mau makan nasi jika nyokap kebetulan bisa membeli beras yang baik dan nasi yang dihasilkannya tidak lembek.

Makan roti setiap hari berlangsung bertahun-tahun, sampai kemudian menjadi kebiasaan hingga saya besar. Ketika kelas lima SD, saya terpengaruh pergaulan, dan hidup di jalanan. Di jalanan pula, bersama anak-anak miskin lainnya, saya mulai berusaha mencari uang dengan menjadi tukang parkir liar. Hasilnya tidak banyak, namanya juga hasil malak orang. Namun dari uang yang saya peroleh di jalanan itulah, saya bisa membeli nasi yang keras di warung makan.

Sejak itu, makan nasi keras—yang biasanya saya peroleh di warung makan—menjadi kebiasaan saya. Sejak itu pula, saya hanya mau makan nasi keras, dan tidak pernah mau—apa pun alasannya—memakan nasi lembek. Makan nasi lembek mengingatkan saya pada nasi buatan nyokap, mengingatkan saya pada beras murahan yang tak berkualitas, mengingatkan saya pada pahitnya kemiskinan.

Suatu malam yang cukup larut, sehabis makan di warung, saya duduk sendirian di bawah pohon beringin, dan merokok. (Saya sudah kenal rokok sejak SD, sejak mulai hidup di jalanan). Dalam duduk sendirian itulah, saya mulai berpikir pertama kalinya, bahwa di dunia ini ada orang-orang yang terpaksa menerima hidup apa adanya karena kemiskinan. Bahwa di dunia ini ada orang-orang yang terpaksa memakan nasi lembek tidak enak yang dihasilkan dari beras tak berkualitas, karena kemiskinan.

Selama berteman dan akrab dengan sesama bocah lain di jalanan, saya tahu bocah-bocah itu juga produk kemiskinan seperti saya, dan mereka terpaksa mencari uang di jalanan karena himpitan kemelaratan. Dan, mungkin, orang tua mereka di rumah juga membuat nasi lembek seperti orang tua saya, karena tak bisa membeli beras yang baik untuk dimakan.

Karena kemiskinan, orang-orang terpaksa memakan nasi lembek yang tidak enak. Karena kemiskinan, orang-orang mau menerima sesuatu yang tidak layak. Karena kemiskinan, orang-orang terpaksa menjalani hidup yang tidak mereka inginkan.

Oh, well, semua orang ingin menikmati makanan yang enak. Semua orang ingin mendapatkan sesuatu yang layak. Semua orang ingin menjalani hidup yang sesuai mereka inginkan. Tetapi tidak semua orang mampu meraihnya, tidak setiap orang bisa memilikinya. Kemiskinan selalu menjadi alasan, karena kemiskinan itulah yang menjerat dan melemparkan siapa pun untuk menjalani hidup buruk yang tidak mereka inginkan.

Lalu saya melihat diri sendiri. Saya juga lahir dalam keluarga yang miskin, saya tumbuh besar bersama segala macam kekurangan dan nasi lembek setiap hari yang harus saya terima. Tapi saya tidak mau menerimanya. Saya tidak mau memakan nasi itu, dan mencari cara agar tidak kelaparan karenanya.

Tiba-tiba, dalam pikiran saya yang waktu itu masih kecil, saya seperti mendapatkan kesadaran baru. Bahwa jika saya tidak mau menerima apa pun, kecuali yang saya inginkan, maka saya akan memperolehnya. Meski untuk itu saya harus bekerja mencari uang—seperti yang waktu itu saya lakukan di jalanan. Intinya, saya tidak mau menerima nasi lembek, dan hanya mau menerima nasi keras. Karena saya bekerja keras untuk mendapatkannya, maka saya pun mendapatkannya.

Itu aturan yang sederhana, pikir saya. Sederhana, tapi penting. Dan kelak, ketika saya tumbuh semakin besar dan dewasa, aturan sederhana itu pula yang menjadi prinsip hidup saya. Bahwa saya hanya mau menerima yang terbaik, sesuai yang saya inginkan. Dan jika kita bekerja keras untuk mencapai apa pun yang kita inginkan, bahkan kita rela mati untuknya, maka alam semesta akan menjadi saksi bahwa kita pasti mendapatkannya.

Tak perlu banyak teori. Itulah yang kemudian saya lakukan. Itulah yang sekarang saya dapatkan. Saya hanya menginginkan yang terbaik—makanan yang terbaik, kehidupan yang terbaik—dan itulah yang sekarang saya peroleh. Saya tidak mau menerima kemiskinan, maka kemiskinan pun pergi meninggalkan saya.

Jadi, inilah pelajaran pentingnya. Kalau kita mau menerima apa pun yang disodorkan kehidupan kepada kita, kalau kita mau menjalani apa pun yang diberikan kehidupan kepada kita, maka itulah yang akan kita terima, yang akan kita jalani—meski mungkin dengan terpaksa. Kalau kita mau menerima kemiskinan dan kekurangan, maka kemiskinan dan kekurangan itulah yang akan menjadi milik kita.

Sebaliknya, jika kita hanya mau menerima yang terbaik, dan kita bekerja keras untuk mencapainya, bahkan kita rela mati untuknya, maka yang terbaik itulah yang akan menjadi milik kita. Segala hal yang terbaik di dunia ini memiliki harga, dan kita baru bisa memilikinya jika mau membayar harganya. Harganya adalah kerja keras, ketekunan, kegigihan belajar, sikap pantang menyerah, dan keyakinan penuh bahwa kita akan mendapatkan yang kita inginkan.

Hidup adalah soal pilihan. Sebagian orang memilih terpaksa hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Sebagian lagi memilih keluar dari kemiskinan, dan bekerja keras untuk mendapatkan yang terbaik, dan hidup dalam keberlimpahan.

Hidup adalah soal pilihan. Sebagian orang menjalani hidup dengan keterpaksaan, sebagian lagi menjalani hidup dengan kebahagiaan. Bukan kehidupan yang menentukan siapa kita, tapi diri kitalah yang menentukan seperti apa hidup kita.

Hidup adalah soal pilihan. Dan saya memilih untuk makan nasi keras yang dihasilkan dari beras berkualitas. Itu setara dengan idealisme dan nilai-nilai hidup yang saya yakini, yang untuknya saya rela mati.

Bukan Masalahku

Kalau kau menemukannya, kau menemukanku. Tapi kau tidak mengakui, cuma itu masalahnya.

….
….

Tapi itu bukan masalahku.

Minggu, 17 Maret 2013

Percakapan Paling Absurd Sedunia (2)

“Kita putus!” jerit si cewek. | “Ya,” sahut cowoknya kalem.
| “Ya...? Gitu aja?!” | “Terus aku kudu piye?
Apa aku harus bilang ‘Wow’, gitu?”
@noffret


Akhir-akhir ini tulisan saya di blog sepertinya agak berat dan serius terus, ya? Well, catatan ini sengaja saya posting untuk lucu-lucuan.

Percakapan-percakapan tertentu kadang terus terngiang, meski kita tidak bermaksud mengingatnya. Percakapan itu terus teringat, bisa karena sangat bagus, sangat indah, atau bisa pula karena sangat lucu atau absurd. Berikut ini adalah percakapan-percakapan yang menurut saya sangat lucu dan absurd, yang saya dengar cukup lama sampai yang baru saya temui kemarin.

Percakapan-percakapan ini sangat sederhana, spontan, tapi entah kenapa saya terus tersenyum bahkan cekikikan setiap kali mengingatnya. Semoga kalian suka.

***

Seorang bocah lelaki bertanya pada tetangganya, “Mas, Mas, katanya disunat tuh nggak sakit, ya? Rasanya cuma kayak digigit semut, ya?”

Mas-mas tetangganya menyahut, “Ah, kamu dibohongin tuh, Dek. Yang bener, rasanya kayak digigit komodo!”

Untung saya sudah sunat!

….
….

“Kamu tahu cewek dalam film Transporter 3?” tanya seorang cowok pada teman-temannya. “Aku nggak mau pacaran dengan tipe cewek gitu.”

“Lho, kenapa?” tanya temannya dengan heran.

“Cewek itu bener-bener nggak akademis!”

Cowok itu mau pacaran atau mau seminar, sih?

….
….

Seorang profesor yang masih lajang diwawancarai reporter majalah. “Profesor,” ujar si reporter, “seperti apa sih kriteria wanita yang Anda inginkan jadi istri?”

“Dia harus cerdas!” jawab si profesor dengan yakin.

Si reporter tersenyum. “Sudah saya duga. Bagi orang seperti Anda, kecantikan pasti bukan nomor satu, ya?”

“Bagi saya, kecantikan bukan nomor satu. Tapi nomor wahid!”

Apalagi bagi saya!

….
….

Seorang cowok bertanya pada petugas di apotik, “Mbak, ada Pornstar?”

Petugas apotik mengerutkan kening. “Apa, Mas?”

“Pornstar,” ulang si cowok.

“PORNSTAR?”

Si cowok jadi salah tingkah. “Uh, itu lho, yang buat sakit gigi itu.”

“Oooh, Ponstan?”

Diam-diam saya berharap apotik itu menyediakan Maria Ozawa.

….
….

“Iya, rumahku tuh pas sebelah Alfamart,” ujar cewek ABG pada seseorang di ponsel. “Apa? Alfamart mana? Ya Alfamart yang sebelah rumahku, laaah.”

Mungkin cewek itu sedang bercakap-cakap dengan Socrates.

….
….

Di kafe yang tenang, seorang cowok berbicara dengan seseorang di ponselnya. “Lha Masnya penginnya yang gimana?” ujarnya serius. “Oh, macam-macam, Mas. Tergantung pilihan Masnya aja. Gimana…? Ooh, ada, Mas. Yang agak besar juga ada. Apa…? Ooh, yang siap dikawin? Yang siap dikawin juga ada, Mas. Cuma ya harganya agak mahal. Ooh, gitu. Jadi, pilih yang mana, Mas? Yang udah siap dikawin…? Oke kalau gitu. Ntar sore saya bawain burungnya.”

Jadi, orang itu mau kawin sama burung, atau gimana?

….
….

“Kamu tuh ngerokoooook mulu!” omel seorang cewek pada cowoknya. “Kamu pengin sehat apa pengin sakit, sih?”

“Ya pengin sehat, dong,” jawab si cowok. “Kalau sehat kan bisa ngerokoooook mulu.”

Cowok itu mungkin teman saya.

….
….

Seorang cowok keluar dari bilik ATM, dan disamperin seorang bocah yang dari tadi berdiri di dekat bilik itu.

“Hahaha!” ujar si bocah sambil cengengesan. “Saya tahu nomor PIN Abang!”

Si cowok kaget. “Haaah? Berapa, coba?”

“Gampil! Enam bintang, kan?”

Bocah itu pasti tahu PIN ATM orang se-Indonesia.

….
….

Dalam sebuah seminar, sang pemateri yang berjenis kelamin pria berkata, “Percaya deh sama saya. Pria jauh lebih mudah merayu pasangan wanita, daripada merayu pasangan sesama pria.”

Yang dikatakannya itu studi empiris atau curhat pribadi?

….
….

“Sudah, Bu,” ujar seorang lelaki pada pemilik warung tempatnya makan.

“Ya?” sahut si ibu pemilik warung. “Apa lagi, Mas?”

“Tadi nasi telur sama es teh.”

“Sepuluh ribu, Mas.”

“Tambah kerupuk satu.”

“Jadinya tiga puluh tiga ribu, Mas.”

Kerupuk keparat apa yang dimakan orang itu?

….
….

Percakapan di bulan puasa…

“Haduh! Ada polisi!” seru seorang cowok sambil berusaha menyembunyikan teh di gelasnya.

“Memangnya kenapa?” tanya temannya heran.

“Kita kan nggak puasa!”

Sejak kapan ya, polisi jadi malaikat?

….
….

Dua cowok—yang mungkin tidak pernah belajar bahasa Inggris—bercakap-cakap dengan serius. Cowok pertama berkata, “Eh, apa sih perbedaan anybody dan anyone?”

Cowok kedua menjawab dengan yakin, “Anybody tuh buat cewek, sedang anyone buat cowok.”

“Kenapa anybody buat cewek?”

“Soalnya cuma cewek yang punya body.”

Lha kalau cowok punya apa...???

….
….

“Uuh, panas banget!” keluh seorang cewek di halaman swalayan.

“Iya,” sahut cewek temannya. “Panasnya kayak di neraka.”

“Ah, ini sih lebih panas dari neraka!”

Sepertinya mereka sering keluyuran ke Jahanam.

….
….

“Aku lagi galau tingkat dewa, nih,” ujar seorang cowok pada teman cowoknya.

“Ah, kamu sih lumayan,” sahut temannya. “Aku dong, galau tingkat kangen band.”

Lha saya? Galau tingkat soneta group!

….
….

Seorang cewek berkata pada temannya, “Eh, kenapa ya, Legolas dalam film Lord of The Ring kelihatan paling bersih di antara tokoh lainnya?”

“Mungkin karena dia paling rajin pakai Biore,” jawab temannya dengan yakin.

Oh, well, Legolas juga pasti sering rebonding!

….
….

Percakapan-percakapan absurd lainnya bisa dibaca di sini.

SMS Unyu di Malam Minggu

Cewek:

Seru nih nonton bola. Menurut kamu, siapa yang menang? Indonesia atau Malaysia?


Cowok:

Sori, nggak tahu.


Cewek:

Kok nggak tahu, sih? Emang kamu nggak nonton?


Cowok:

Nggak, soalnya nggak suka sepak bola.


Cewek:

Wah, payah! Emang kamu sukanya apa?


Cowok:

Aku sukanya cewek yang nggak suka sepak bola.

….
….

….
….

Cewek:

Uhm, aku juga nggak suka sepak bola, kok. Tadi tuh cuma becanda aja.

….
….

Appppaaaaaaa cobaaa…???

Selasa, 12 Maret 2013

Beberapa Hal yang Perlu Kita Bicarakan Menyangkut Twitter (4)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Ketika mendengar pernyataan terakhir itu, jujur saja saya tertawa. Orang bisa mudah menerbitkan buku kalau memiliki banyak follower…? Kedengarannya asyik sekali. Rupanya, di zaman ini, orang tidak membutuhkan proses belajar dan kecerdasan yang cukup untuk bisa menerbitkan buku. Hanya dengan jumlah follower banyak di Twitter, maka… sim salabim, penerbit akan dengan senang hati menerbitkan buku karyamu.

Benarkah memang seperti itu? Semula saya tidak percaya. Dengan logika yang waras, saya sulit menerima kenyataan bahwa ada orang bisa mudah menerbitkan buku kalau memiliki banyak follower. Menerbitkan buku tidak semudah kedengarannya. Tak peduli anak presiden sekalipun, orang tidak gampang menerbitkan buku kalau memang tidak punya kemampuan untuk itu. Apalagi hanya dengan modal banyak follower di Twitter.

Tetapi, beberapa orang kemudian menunjukkan bukti-buktinya. Mereka menyodorkan setumpuk nama yang saat ini telah menerbitkan buku, dan membandingkan jumlah follower mereka di Twitter. Beberapa nama yang mereka sodorkan itu memang “nama baru” dalam dunia penerbitan, dan sama sekali belum pernah menulis buku satu pun. Benarkah mereka sekarang menerbitkan buku karena banyaknya jumlah follower mereka di Twitter?

Dari buku-buku karya “selebtwit” yang pernah saya baca, beberapa di antaranya berisi kumpulan tweet mereka di Twitter, sementara beberapa lainnya murni karya penulisan—bisa novel, bisa pula catatan-catatan tertentu. Umumnya pula, di sampul buku-buku itu tertulis nama akun si penulis (yang biasanya diawali tanda @). Bagi saya itu lucu, karena kesannya “maksa banget” ingin mengenalkan akun Twitternya.

Sekali lagi, benarkah memang penerbit sekarang menjadikan jumlah follower seseorang sebagai pertimbangan mereka dalam menerbitkan buku?

Salah satu orang yang saya follow di Twitter adalah editor di sebuah penerbitan. Dalam salah satu tweet-nya, editor itu menjelaskan bahwa penerbitnya memang menerbitkan buku dari orang-orang yang disebut “selebtwit”. Tetapi, menurutnya, para “selebtwit” itu tidak serta-merta menerbitkan buku tanpa kualifikasi.

Artinya, meski orang-orang itu memiliki banyak follower di Twitter, tapi penerbit juga mempertimbangkan isi atau karya mereka. Dalam bahasa yang lugas, tak peduli kau memiliki jutaan follower sekalipun, kau tidak bisa serta merta menerbitkan buku kalau kenyataannya tidak bisa menulis dengan baik.

Nah, argumentasi dari editor itu pula yang saya gunakan ketika bercakap-cakap dengan beberapa orang yang sinis menyangkut topik ini. Orang-orang sinis itu menyatakan bahwa standar penerbitan sekarang benar-benar telah jeblok karena siapa pun bisa menerbitkan buku hanya dengan modal jumlah follower di Twitter. Saya katakan pada mereka, bahwa mereka telah keliru memahami, dan saya nyatakan argumentasi di atas.

Tetapi, mereka membalikkan argumentasi saya dengan mudah. Mereka bilang, “Sekarang begini saja. Mungkinkah penerbit mau repot-repot meminta si A (nama seorang selebtwit) untuk menerbitkan buku, jika si A tidak memiliki ratusan ribu follower? Memangnya dulu penerbit ke mana saja ketika si A baru memiliki sepuluh follower? Fakta bahwa ada penerbit mau repot-repot meminta si A agar menulis buku—meski kualitas tulisannya pas-pasan—dengan jelas menunjukkan kalau penerbit itu memandang penting jumlah follower si A.”

Argumentasi itu membuat saya bungkam.

Saya memang tahu, ada orang-orang yang diminta secara khusus oleh penerbit untuk menulis buku. Bukan karena orang itu terkenal pintar menulis (misalnya karena orang itu memiliki blog yang dibaca ribuan orang, atau aktif menulis di koran/majalah), tetapi karena orang itu memiliki banyak follower di Twitter. Itu fakta yang mungkin pahit, tapi memang ada, bahkan cukup banyak. Ketika menemukan fakta itu, mau tak mau saya juga berpikir bahwa penerbit memang mempertimbangkan jumlah follower seseorang ketika menerbitkan bukunya.

Di Twitter, beberapa orang yang sinis atas fenomena tersebut juga sering menyindir adanya penulis-penulis dadakan, yang menerbitkan buku karena jumlah follower mereka yang bejibun. Bahkan, beberapa yang sangat sinis pernah menulis tweet, “Lu belum bisa disebut selebtwit kalau belum nerbitin buku.”

Sepertinya, di zaman ini, Twitter memiliki pengaruh yang amat besar dalam kehidupan sebagian orang. Jika dulu seseorang hanya dicap “kurang gaul” kalau belum punya Twitter, sekarang situs yang disebut microblogging itu juga memainkan banyak peran dan kemungkinan, dari menjadi seleb dadakan, menghasilkan uang dengan menjadi buzzer, sampai menjadi penulis yang dapat menerbitkan buku.

Sebegitu pentingnya Twitter dan follower saat ini, sampai-sampai sebagian orang melakukan berbagai cara untuk mengiklankan akun Twitternya, meski dengan cara yang aneh, semisal dengan menggunakan nama akun Twitternya di sampul buku. Twitter, rupanya, bukan hanya sekadar tempat untuk sharing dan berkomunikasi atau menjalin pertemanan melalui internet, tapi juga telah berfungsi sebagai identitas yang amat penting.

Bahkan untuk orang yang tergolong sudah terkenal sekalipun, identitas Twitter rupanya masih diperlukan. Kenyataan itu saya ketahui ketika belum lama membaca sebuah majalah, dan di dalamnya terdapat wawancara dengan seseorang yang terkenal, yang memiliki jutaan follower di Twitter. Dalam wawancara di majalah itu, foto si orang terkenal dipampangkan, dan identitasnya di Twitter (username yang menggunakan tanda @) dicetak secara menonjol.

Kebetulan, saya mengenal redaktur majalah itu. Waktu kami bertemu dan bercakap-cakap, topik obrolan kami sampai pada wawancara tersebut. Dia menceritakan, bahwa penonjolan akun Twitter itu memang persyaratan yang diminta si orang terkenal. Jadi, orang terkenal wanna be itu mau diwawancarai, dengan syarat identitas atau akun Twitternya ditonjolkan.

Cerita itu membuat saya geleng-geleng kepala. Sebegitu pentingnyakah identitas Twitter?

Dan kalau seseorang yang telah memiliki jutaan follower saja masih repot-repot berusaha seperti itu, tampaknya tidak mengherankan jika orang yang follower-nya beberapa biji juga melakukan hal yang sama. Twitter, di zaman ini, sepertinya telah menjelma bagai udara yang dibutuhkan banyak orang. Fungsinya telah bergeser jauh, dari sekadar untuk berinteraksi di dunia maya, telah berubah menjadi kebutuhan yang nyaris primer.

Dan “pertunjukan” di Twitter memang bisa dibilang tak ada habisnya. Meski dibatasi 140 karakter, timeline selalu penuh fenomena baru, hal-hal baru, berita baru, bahkan kegilaan-kegilaan baru. Di Twitter, ada akun yang konon ditujukan untuk penyebaran fitnah. Ada akun yang—lagi-lagi konon—ditujukan untuk melakukan disinformasi, pembelokan informasi, membelokkan isu, atau hal lainnya.

Sedangkan yang lebih ringan, di Twitter juga muncul beragam karakter yang kadang-kadang aneh dan tak masuk akal. Hanya di Twitter ada orang yang ocehannya tidak jelas, tapi di-follow puluhan ribu orang, dan selalu dinantikan tweet-tweet-nya.

Hanya di Twitter pula ada cowok yang “nyepik” ribuan cewek dengan santai tanpa merasa malu atau risih. Dan, oh ya, di Twitter pun rupanya ada beberapa orang yang ingin menjadi “nabi” dengan cara menyerang keyakinan orang lain sambil memuja keyakinannya sendiri.

Twitter telah mengjungkirbalikkan logika, bahkan kewarasan sebagian orang. Jika dulu orang berpedoman bahwa ucapan baik perlu didengarkan tak peduli siapa yang menyatakannya, maka di zaman ini pedoman bijak semacam itu sudah tak relevan.

Sekarang, di zaman Twitter, yang perlu didengarkan bukan ucapannya, melainkan siapa yang mengatakan. Banyak tweet bagus tapi diabaikan orang karena penulisnya bukan selebtwit. Sebaliknya, banyak tweet tak berguna dan tak punya manfaat apa-apa tapi didengarkan dengan khusyuk—di-mention, di-retweet, dan difavoritkan—banyak orang, karena penulisnya tergolong selebtwit. Kearifan bukan hal penting di Twitter, dan para berhala telah menjadi sesembahan follower.

“Aku berpikir, maka aku ada,” kata Descartes. Sayangnya, para pemuja Twitter tidak sepaham dengannya.

Beberapa Hal yang Perlu Kita Bicarakan Menyangkut Twitter (3)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Di blog tersebut, dijelaskan secara panjang lebar mengenai cara memperbanyak follower, khususnya yang dilakukan oleh segelintir orang terkenal di Twitter. Ternyata, orang-orang yang memiliki jutaan follower di Twitter juga mendapatkan follower-nya dengan cara membeli. Dan, yang mengejutkan bagi saya, mereka membelinya secara resmi melalui Twitter!

Mungkin kedengarannya aneh. Konon, Twitter melarang jual-beli akun/follower. Tapi nyatanya mereka sendiri melakukan praktik jual beli follower.

Jadi, berdasarkan penjelasan di blog tersebut, seseorang bisa membeli follower melalui Twitter, setelah mengisi formulir yang disediakan oleh Twitter. Tinggal meng-klik tab “bussiness” di Twitter, pengguna akan diarahkan pada formulir tersebut, untuk kemudian diisi. Karena Twitter baru melayani pembeli di Amerika, maka pembeli yang ada di luar Amerika (misalnya di Indonesia) harus menggunakan alamat di Amerika.

Setelah formulir pembelian kita diterima, Twitter akan menindaklanjutinya. Setelah pembayaran dilakukan, maka Twitter akan memasang akun kita pada halaman awal pendaftaran, sehingga orang-orang yang baru membuat akun di Twitter akan mem-follow akun kita. Dengan cara seperti itu, jumlah follower kita pun akan meningkat pesat dalam waktu singkat, dan tidak ada orang yang curiga kalau sebenarnya kita membeli follower!

Hebat, pikir saya sambil geleng-geleng kepala, ketika membaca semua penjelasan itu.

Dulu, sewaktu mendaftar untuk membuat akun di Twitter, saya memang disodori setumpuk akun di Twitter, untuk saya follow. Twitter bahkan mempersyaratkan agar pendaftar baru mem-follow setidaknya 5 orang (akun) sebelum bisa mulai menggunakan Twitter. Dulu, saya pikir akun-akun yang disodorkan Twitter untuk saya follow itu karena akun-akun tersebut dianggap terkenal. Tapi rupanya itu akun-akun yang telah membayar Twitter untuk memperbanyak follower mereka!

Di blog itu juga dijelaskan siapa-siapa saja yang selama ini telah membeli follower melalui Twitter, sehingga jumlah follower mereka mencapai jutaan. Bukan hanya dari luar negeri, tetapi juga dari Indonesia. Di Indonesia, ada akun-akun yang (mungkin) terkenal, yang memiliki jutaan follower, dan nyaris semuanya hasil membeli melalui Twitter. Mereka terdiri dari artis, penulis, juga atlit. Saya tidak enak menyebutkan nama-namanya—silakan cari sendiri.

Jika penasaran dan ingin tahu siapa saja orang terkenal (dari Indonesia ataupun luar negeri) yang membeli follower melalui Twitter, lakukan saja cara mudah berikut ini.

Buatlah akun baru di Twitter. Pada waktu melakukan pendaftaran, secara otomatis Twitter akan menyodorkan setumpuk akun yang mereka minta/sarankan untuk di-follow. Nah, lihatlah siapa saja akun-akun yang disodorkan Twitter itu, dan kalian mungkin akan terkejut! Mereka itulah yang selama ini telah membayar Twitter untuk memperbanyak follower mereka dengan cara yang amat tersamar.

Ketika mengetahui kenyataan itu, saya juga benar-benar terkejut, karena tidak pernah mengira. Saya pikir mereka yang memiliki jutaan follower itu memang terkenal, atau memang tweet-nya disukai banyak orang. Ternyata hasil beli juga. Ketika sampai pada fakta ini, lagi-lagi saya ingin bertanya, reputasi macam apa yang bisa dinilai dari jumlah follower di Twitter?

Reputasi tidak bisa dibeli, follower bisa dibeli—bahkan secara resmi. Reputasi dibangun dari keahlian, kemampuan, bahkan bakat, juga kerja keras bertahun-tahun. Ia tak terbeli oleh uang, karena harganya tak ternilai. Ada perbedaan yang amat signifikan antara “reputasi” dan “popularitas”. Popularitas memang bisa dibeli, tapi reputasi tak terbeli. Popularitas bisa dimanipulasi, tapi tidak dengan reputasi. Menggunakan istilah kasar, kalau dasarnya tolol, orang tetap akan tahu kalau memang tolol.

Tetapi mungkin sekarang memang zaman Twitter. Sama seperti dulu zaman Friendster atau era Facebook, orang-orang sekarang sangat aktif di Twitter. Ketika kemudian jumlah follower ternyata bisa mendatangkan popularitas, bahkan uang, sebagian orang pun mati-matian memperbanyak follower dengan berbagai cara. Bahkan, yang paling aneh, konon katanya orang bisa mudah menerbitkan buku jika telah memiliki banyak follower.

Lanjut ke sini.

Beberapa Hal yang Perlu Kita Bicarakan Menyangkut Twitter (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Kembali ke Twitter. Seiring makin akrab dengan Twitter, saya pun makin tahu bagaimana cara menggunakan Twitter dengan baik dan benar. Oh, well, menulis dengan dibatasi 140 karakter itu cukup merepotkan jika tidak terbiasa. Apalagi bagi orang yang biasa menulis panjang-panjang seperti saya.

Di blog, misalnya, saya biasa menulis kalimat-kalimat panjang, dan saya anti singkatan. Kebiasaan itu harus bertabrakan dengan peraturan Twitter yang membatasi tulisan hanya 140 karakter. Hal itu tentu membutuhkan adaptasi yang tidak mudah.

Di Twitter pula, saya jadi tahu bahwa ternyata ada orang yang membeli follower, untuk memperbanyak jumlah follower-nya. Semula saya bingung, untuk apa orang membeli follower? Lalu ada yang menjelaskan, bahwa jumlah follower di Twitter membantu menaikkan reputasi atau setidaknya gengsi pemiliknya, sehingga mereka layak disebut “selebtwit” alias selebritas di Twitter. Jadi, semakin banyak follower seseorang, semakin tinggi pula nilai gengsi yang dimilikinya, serta semakin dipercaya reputasinya.

Saya belum paham. Bagaimana mungkin reputasi seseorang bisa dinilai dari jumlah follower-nya? Mungkin menaikkan gengsi bisa dipahami, karena jumlah follower yang banyak menunjukkan bahwa orang itu memiliki banyak pengikut, penyuka, penggemar, atau apa pun sebutannya. Tapi reputasi…? Reputasi macam apa yang bisa diukur dari jumlah follower di Twitter semata-mata?

Beberapa teman di Twitter mencoba menjelaskan, bahwa kebutuhan beberapa orang memiliki banyak follower karena jumlah follower yang banyak dapat mendatangkan uang bagi mereka. Misalnya, dengan memiliki banyak follower, maka ada kemungkinan orang itu diminta menjadi buzzer untuk mempromosikan atau mengkampanyekan produk-produk tertentu. Hanya bermodal follower banyak, uang bisa didapatkan.

Kedengarannya mudah, eh? Tapi tentu tidak mudah memiliki jumlah follower yang banyak. Bagi artis atau orang terkenal, mungkin memiliki follower banyak bukan hal sulit, karena popularitas mereka bisa mengundang adanya follower yang secara suka rela mem-follow akun mereka. Tapi bagi orang biasa—maksudnya bukan artis atau orang terkenal—memiliki jumlah follower yang banyak tentu butuh perjuangan, salah satunya mampu menulis tweet yang bagus dan disukai banyak orang.

Mungkin, karena usaha untuk memiliki banyak follower bukan hal mudah, beberapa orang pun kemudian memilih jalan pintas, yakni dengan membeli follower. Dengan cara praktis semacam itu, seseorang yang “bukan siapa-siapa” bisa memiliki puluhan ribu follower tanpa susah payah, bahkan dalam waktu relatif singkat.

Sampai di sini, saya terbentur pada pertanyaan tadi, bagaimana bisa reputasi seseorang dinilai dari berapa jumlah follower-nya? Maksud saya, jika seseorang bisa memperbanyak jumlah follower dengan cara membeli, reputasi macam apa yang kita harapkan?

Kemudian ada yang bilang, bahwa kebanyakan orang yang membeli follower biasanya bukan orang terkenal. Artinya, cara mudah untuk mengetahui apakah seseorang membeli follower atau tidak dengan membandingkan popularitas seseorang (khususnya di Twitter) dengan jumlah follower-nya. Maksudnya, jika orang itu tidak terkenal (di dalam atau di luar Twitter), tapi jumlah follower-nya sangat banyak dan cenderung tak masuk akal, maka kemungkinan besar follower-nya hasil membeli.

Konon, cara itu pula yang dijadikan “standar” umum bagi para produsen yang ingin menggunakan seseorang di Twitter untuk menjadi buzzer mereka. Tapi benarkah hanya orang-orang tak terkenal yang membeli follower di Twitter? Dan benarkah orang-orang (yang dianggap) terkenal mendapatkan follower secara murni, dalam arti tanpa membeli?

Sekitar tiga atau empat bulan yang lalu, saya menerima mention dari sebuah akun, yang isinya menjelaskan tentang cara yang digunakan beberapa orang terkenal di Twitter dalam memperbanyak jumlah follower mereka. Mention itu dilengkapi sebuah link yang mengarah pada penjelasan atas mention tersebut. Karena penasaran, saya meng-klik link itu, dan diarahkan ke sebuah blog yang dibuat secara khusus untuk “membongkar” cara memperbanyak follower yang dilakukan beberapa orang terkenal di Twitter.

Lanjut ke sini.

Beberapa Hal yang Perlu Kita Bicarakan Menyangkut Twitter (1)

Kalau Descartes punya Twitter, mungkin dia akan
menulis tweet, “Aku ngoceh, maka aku ada.”
@noffret


Saya termasuk “anak kemarin sore” di Twitter, karena belum lama menggunakannya. Nyatanya, saya juga masih bingung apa manfaat Twitter bagi saya, sehingga saya juga tidak terlalu “serius” bermain Twitter.

Ketika pertama kali membuat akun di Twitter, beberapa teman sempat heran. Mereka bertanya, “Jadi, kamu lagi kurang kerjaan, atau gimana?” Well, teman-teman gaul saya memang bisa dibilang tidak ada yang memiliki akun Twitter, karena mereka pikir bermain Twitter hanya buang-buang waktu, sementara mereka rata-rata sangat sibuk dengan pekerjaannya.

Tapi sekarang saya punya Twitter. Meski masih bingung untuk tujuan apa.

Pertama kali menggunakan Twitter, saya mengalami “gegar budaya”. Meski timeline hanya berbentuk tumpukan dan rangkaian kata-kata, entah kenapa saya merasa sedang berada di tengah-tengah pasar ayam. Di kota saya ada sebuah pasar ayam yang setiap hari selalu ramai. Meski disebut “pasar ayam”, di pasar itu bukan hanya ayam yang diperdagangkan, tetapi juga ada penjual burung, ember, makanan, baju, dan lain-lain.

Karena sebagian besar yang diperjualbelikan di pasar itu adalah ayam dan burung, maka suasana di pasar itu pun selalu ramai, penuh celoteh burung dan ayam yang berkotek-kotek. Sudah begitu, di pasar tersebut juga ada penjual VCD bajakan, yang biasa menyetel musik di VCD melalui loudspeaker. Maka suara di pasar ayam pun benar-benar ramai.

Kira-kira seperti itu bayangan saya ketika sedang membaca timeline di Twitter. Ramai, dengan suara macam-macam. Ada yang sedang mengeluh, ada yang menyemburkan nasihat bijak, ada yang menulis kata-kata romantis, ada yang jualan, ada yang menyebarkan informasi dan berita, ada yang menceritakan kesehariannya, ada pula yang memaki-maki atau marah-marah. Ramai, dan macam-macam.

Seperti yang dibilang tadi, saya sempat mengalami “gegar budaya” ketika pertama kali menggunakan Twitter, karena tidak menyangka Twitter “seramai” itu. Padahal saya cuma mem-follow sedikit akun, karena tidak mau terlalu lelah membaca timeline. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa ramainya timeline orang yang mem-follow ratusan atau sampai ribuan akun.

Selain kaget dengan ramainya Twitter, entah kenapa saya belum juga nyaman menggunakan Twitter. Ketidaknyamanan itu muncul karena saya menyadari bahwa siapa pun dapat melihat timeline saya, dan mengikuti percakapan saya dengan siapa pun di Twitter. Rasanya, bagi saya, itu seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang, dan orang lain mendengarkan atau nguping percakapan tersebut.

Saya tidak nyaman merasakan hal semacam itu. Karenanya, saya pun memproteksi akun Twitter saya, agar tidak setiap orang bisa nguping atau melihat percakapan saya dengan orang lain. Untungnya, Twitter menyediakan fitur proteksi, sehingga pengguna yang tidak nyaman dengan keterbukaan bisa memproteksi akun Twitternya, dan tetap memiliki privasi yang dibutuhkan.

Privasi—itu hal penting bagi saya. Mungkin saya memang tidak berbakat menjadi artis yang kehidupan pribadinya bisa diumbar secara bebas. Mungkin pula karena saya introver, dan tidak terbiasa dengan hal-hal yang “ngablak”. Dalam keseharian pun, saya lebih suka ngobrol di ruangan yang tenang, hening, sehingga bisa bercakap-cakap dengan tenang, tanpa berteriak sebagaimana ketika berada di tempat yang bising.

Lanjut ke sini.

Pusing!

Cuma nulis tweet, “Pusing!” gitu aja, di-retweet 672 kali, dan difavoritkan 541 orang.

Kenyataan yang membuat saya benar-benar pusing!

Kamis, 07 Maret 2013

Berkunjung ke Rumah Nenek

Tempe keripik ini enak sekali.
Pembuatnya pasti seorang empu.
@noffret


Sejak kecil, saya senang setiap berkunjung ke rumah nenek. Saya suka sambutannya yang selalu ramah, saya suka perlakuannya yang sangat manis, juga saya suka tempe keripik yang selalu disuguhkan nenek setiap kali saya datang mengunjunginya. Nenek yang akan saya ceritakan ini bukan nenek saya secara langsung, tapi adik nenek saya.

Jadi begini. Nenek saya—dari pihak ayah—punya adik perempuan. Nenek saya sudah meninggal dunia ketika saya masih SD. Namun, adik perempuan nenek masih hidup lama sampai saya cukup dewasa, sehingga saya pun sangat mengenalnya. Bahkan, adik nenek itu pula yang kemudian saya anggap nenek saya. So, untuk sebutan “nenek” dalam catatan di bawah ini, yang saya maksud adalah “adik nenek” saya.

....
....

Sewaktu kecil, saya sangat dekat dengan ayah. Jadi, setiap kali ayah akan berkunjung ke rumah saudara atau famili, saya selalu diajak. Termasuk ketika berkunjung ke rumah nenek, yang tinggal cukup jauh dari tempat kami. Saya telah menyukai nenek sejak masih kecil sekali. Biasanya, saat ayah dan saya berkunjung ke rumah nenek, saya hanya diam, sementara ayah bercakap-cakap dengan nenek dan kakek. Saya diam saja, karena masih sangat kecil, belum tahu apa-apa. Tapi saya suka berada di tengah-tengah mereka.

Nenek punya usaha pembuatan tempe keripik. Meski punya beberapa karyawan, kakek dan nenek tak mau berpangku tangan. Jadi, saat ayah dan saya mengunjungi mereka, biasanya saya akan melihat nenek sedang mengiris tempe tipis-tipis, sementara kakek sedang sibuk mengurusi sesuatu menyangkut usaha mereka. Lalu keduanya akan menghentikan pekerjaan untuk menyambut kedatangan kami dengan senyum dan keramahan yang tak akan pernah saya lupakan hingga dewasa.

Biasanya, kami akan duduk di ruang tengah. Saya, ayah, kakek, dan nenek. Kakek akan menyuguhkan tempe keripik yang renyah buatan mereka, sementara nenek membuatkan teh buat kami. Setelah itu ayah asyik bercakap-cakap dengan mereka, sementara saya diam, menikmati saat-saat itu.

Yang tidak pernah saya lupakan adalah sikap nenek kepada saya. Meski waktu itu saya masih sangat kecil—masih duduk di bangku TK—nenek memperlakukan saya dengan hormat, seolah saya orang dewasa. Meski saya diam saja selama mereka mengobrol, nenek selalu menyempatkan untuk mengajak saya bercakap-cakap. Biasanya dia akan mengajukan pertanyaan sederhana, semisal bagaimana teman-teman di TK, dan saya akan menjawabnya sambil malu-malu.

Kelak, ketika dewasa, saya mengetahui sikap nenek selama waktu-waktu itu adalah wujud “memanusiakan manusia”. Ketika kecil dulu, dengan segala sikap saya yang kekanak-kanakan, saya pastilah bukan orang yang layak dianggap penting bagi nenek atau bagi orang dewasa lainnya. Tetapi nenek menunjukkan kepada saya, melalui sikapnya, bahwa dia menganggap saya penting. Di sela-sela keasyikan ngobrolnya dengan kakek dan ayah, dia masih menyempatkan diri untuk mengajak saya bercakap-cakap, meski saya menjawabnya dengan malu-malu.

Usaha percakapan yang dilakukan nenek kepada saya pastilah bukan hal penting. Bahkan objek percakapan kami pun tidak bisa dibilang penting, toh nyatanya kami hanya membicarakan hal-hal yang remeh-temeh semisal bagaimana sekolah saya, atau seperti apa guru dan teman-teman saya. Tetapi upaya nenek yang terkesan tidak penting itu memberikan kesan yang sangat kuat dalam diri saya. Saya sangat menyukai nenek!

Saya menyukai sikapnya yang menghormati keberadaan saya. Dalam ingatan yang samar-samar, bagi saya neneklah orang pertama yang menunjukkan kepada saya tentang pentingnya memanusiakan manusia, tak peduli sekecil apa pun manusianya. Waktu itu, nenek mungkin telah berusia 50-an tahun, sementara saya masih berusia 4 atau 5 tahun. Ada selisih puluhan tahun di antara kami. Tapi meski ada jarak usia yang amat jauh seperti itu, nenek tidak menganggap saya kecil. Dia memperlakukan saya dengan hormat.

Jadi, salah satu kenangan manis saya ketika masih kecil dulu adalah ketika sekolah libur, lalu saya akan merengek kepada ayah, “Ayah, ayo kita mengunjungi nenek!”

Ayah jarang menolak. Lalu kami pun berkunjung ke rumah nenek. Selama perjalanan menuju rumah nenek, saya selalu menikmati pemandangan yang kami lewati, bahkan setiap jengkal jalan yang kami lalui. Mungkin, di saat-saat itulah saya pertama kali mengenal arti kerinduan. Dan ketika menyaksikan nenek membukakan pintu rumahnya sambil tersenyum menyambut kami, kerinduan saya kepadanya rasanya terbayar lunas.

Mengunjungi nenek menjadi semacam ritual saya bersama ayah, dan ritual itu terus berlangsung sampai saya lulus SD. Kemudian, ketika saya cukup besar—mulai duduk di bangku SMP—kadang-kadang saya mengunjungi nenek bersama seorang teman sekolah. Biasanya karena saya sudah sangat kangen pada nenek. Dan nenek juga selalu menyambut kedatangan saya dengan ramah, dengan penuh hormat, seperti biasa.

Selama mengunjunginya waktu-waktu itu, sebenarnya saya lebih banyak diam. Bahkan saya tidak tahu apa yang akan saya katakan kepadanya. Karena saya masih kecil. Karena saya belum tahu apa-apa. Juga karena saya pemalu. Neneklah yang selalu aktif menanyakan sesuatu, dan kemudian saya menjawabnya. Itu, sebenarnya, tidak bisa dibilang percakapan yang menyenangkan. Tetapi nenek tidak pernah menunjukkan sikap bosan, dia selalu menunjukkan sikap menyenangkan yang membuat saya merasa nyaman di dekatnya.

Bagi saya, mengunjungi nenek tidak semata-mata karena ingin bercakap-cakap dengannya. Tapi juga karena ingin mendapatkan ketenteraman dan rasa nyaman ketika bersamanya. Maka saya pun tak pernah lupa mengunjunginya. Sewaktu SMA, kebetulan seorang teman sekolah saya tinggal tidak jauh dari rumah nenek. Jadi, setiap kali saya dolan ke rumahnya, saya selalu mampir ke rumah nenek.

Selama bertahun-tahun itu, tidak pernah satu kali pun nenek menunjukkan sikap tidak baik kepada saya. Dia selalu menyambut kedatangan saya dengan keramahan yang membuat saya senang. Selama waktu-waktu itu saya tidak menyadari bahwa itulah kekuatan terbesar yang dimiliki setiap manusia untuk menundukkan hati manusia lainnya. Keramahan, dan sikap hormat.

Nenek mengajarkannya kepada saya, dan terus mengajarkan, bahkan tanpa mengucapkannya. Dia mengajarkan pelajaran penting itu dalam diam, dalam sikap yang ditunjukkannya langsung kepada saya. Nenek tidak pernah kuliah, tidak pernah belajar psikologi, bahkan tidak lulus SD. Tetapi dia memahami pelajaran penting yang seharusnya dipahami setiap manusia beradab, yakni sikap ramah dan rasa hormat kepada manusia lainnya.

Meski waktu itu saya masih kecil, khususnya jika dibandingkan usia nenek yang jauh di atas saya, sikapnya kepada saya tidak pernah mengecilkan. Dia menunjukkan sikap menghargai yang sama, seperti yang ia tunjukkan kepada ayah atau kepada orang dewasa lainnya. Ia tahu cara memanusiakan manusia. Ia tahu pentingnya rasa hormat. Dan ia menunjukkannya dengan sikap yang tanpa cela—sebentuk sikap yang kelak akan saya ingat sebagai pelajaran penting dalam menghadapi manusia.

Tidak lama setelah saya lulus SMA, nenek meninggal dunia, menyusul kakek yang lebih dulu tiada. Tak perlu dikatakan, saya sangat sedih, dan merasa kehilangan. Bukan hanya kehilangan nenek yang sangat akrab dengan saya, tapi juga merasa kehilangan seorang panutan.

Di akhir masa hidupnya, saat memandanginya terbaring tak sadar karena sakit, saya tidak hanya merasa sedang menatap seorang nenek yang saya kasihi, tetapi juga sedang menatap saat-saat terakhir seseorang yang telah menanamkan pelajaran penting dalam hidup saya. Pelajaran tentang rasa hormat. Pelajaran tentang memanusiakan manusia.

Selama masa-masa kesedihan setelah nenek meninggal, bahkan hingga saat ini, sering kali saya membayangkan. Kelak, saat kami sampai di surga, saya akan kembali mengunjungi nenek di sana. Dan, kali ini, saya tahu apa yang akan saya katakan kepadanya. Saya sangat merindukannya.

Perbuatan Paling Tolol Sedunia

Menganggap orang lain tidak penting, dan berharap dengan itu dia bisa dianggap penting.

Is that you...?

Oh, well, persetan denganmu.

Sejarah Tiga Bocah

Οι άνθρωποι που έχουν αυξανόμενο ενδιαφέρον για τις καρδιές 
των άλλων θα πρέπει να έρθουν στο νερό, αντί να πάει.


Tiga bocah itu bersepakat untuk memotong-motong kertas dalam ukuran yang sama, kemudian menggunakannya sebagai alat pembayaran.

Tiga bocah itu mengambil apa saja yang dimilikinya, menggelar benda-benda itu di hadapan mereka, lalu mulai bertransaksi.

Bocah pertama membeli sesuatu dari bocah kedua, lalu bocah kedua membeli sesuatu dari bocah ketiga, dan begitu seterusnya. Transaksi pembelian itu menggunakan potongan kertas yang mereka sepakati sebagai alat pembayaran. Dan, entah bagaimana caranya, ketiga bocah itu sama-sama (tidak) menyadari kalau sebenarnya itu bukan uang.

Aku terkesima.

Aku terkesima.

Aku terkesima.

Karena tiga bocah itu kembali muncul dalam bentuk berbeda. Seperti bangkit dari kubur mereka, lalu hidup lagi di zaman tak disangka.

Jumat, 01 Maret 2013

Tiga Macam Pembaca Buku

Buku yang bagus serupa teman. Ia tahu membuatmu
tersenyum, dan seiring dengan itu membukakan pengetahuan
dan kesadaran. Pun kadang kearifan.
@noffret


Tidak bermaksud membeda-bedakan apalagi menggolong-golongkan, catatan ini saya tulis dilatarbelakangi pertanyaan, mengapa buku-buku yang saya anggap terbaik sering kali buku-buku yang tidak terkenal?

Setiap akhir Desember, saya memilih sepuluh buku yang saya anggap terbaik dari semua buku yang saya baca dalam setahun, kemudian mempostingnya di blog ini. Seringnya, buku-buku yang saya anggap terbaik bukan buku-buku terkenal atau yang dibicarakan banyak orang, tapi justru buku-buku yang bisa dibilang tak terkenal, khususnya bagi masyarakat awam. Karena itu, saya sengaja menulis catatan ini, untuk menjelaskan latar belakangnya.

Dalam dunia buku, ada tiga macam pembaca—setidaknya menurut saya. Pertama adalah “bukan pembaca”, yang kedua adalah “pembaca pemula”, dan yang ketiga adalah “kutu buku”. Ketiga golongan itu memiliki kecenderungan sendiri-sendiri, berkaitan dengan buku. Dalam selera baca, maupun dalam pemilihan buku yang ingin dibeli dan dibaca. Berdasarkan perspektif saya, berikut ini perbedaan mereka.


Bukan Pembaca


Mereka bisa dibilang tidak kenal buku sama sekali, atau hanya sekadar kenal. Membaca buku bukan kebiasaan apalagi kebutuhan. Buku, bagi mereka, sama sekali bukan barang menarik. Biasanya, mereka baru tertarik pada sebuah buku—atau penulisnya—setelah masyarakat luas heboh dan membicarakannya dengan penuh puja-puji. Ketika masyarakat heboh, mereka terpengaruh, lalu mulai mencari buku yang dihebohkan.

Ketika golongan ini membaca sebuah buku, mereka tidak dapat menilai apakah buku itu bagus atau tidak—penilaian mereka hanya didasarkan pada penilaian masyarakat. Kalau masyarakat luas menyatakan buku itu bagus, mereka pun akan ikut menilainya bagus. Lebih dari itu, mereka juga tidak bisa memberikan penilaian objektif, karena memang tidak pernah kenal apalagi dekat dengan buku.

Jadi, bagi golongan ini, buku akan menarik kalau masyakarat meributkannya. Lalu mereka ikut-ikutan mencarinya, ikut-ikutan membelinya, ikut-ikutan membacanya, dan ikut-ikutan memberikan penilaian sebagaimana masyarakat menilainya. Hanya ikut-ikutan. Mungkin agar dibilang tidak ketinggalan tren. Mungkin pula agar bisa nyambung kalau diajak ngobrol soal buku yang heboh itu.

Karenanya pula, latar belakang pemilihan sebuah buku bagi golongan ini bukan semata-mata karena bukunya bagus atau memang layak dibaca, tapi apa kata masyarakatnya. Mereka membaca buku bukan karena apa pun, tetapi semata-mata tuntutan tren. Jika sebuah buku menjadi tren alias heboh di masyarakat, mereka akan membacanya. Jika tidak, mereka juga tidak akan repot-repot membacanya.


Pembaca Pemula

Dalam hal buku, golongan ini sebenarnya tidak jauh beda dengan golongan pertama, tapi agak lebih baik. Seperti golongan pertama, pembaca pemula juga lebih sering memilih dan membaca buku karena tuntutan tren. Jika masyarakat menghebohkannya, mereka akan mencari buku itu. Jika timeline di Twitter dibanjiri obrolan sebuah buku, mereka juga biasanya akan terpengaruh.

Pembaca pemula belum bisa sepenuhnya menentukan sebuah buku bagus atau tidak, karena dasar pemilihan mereka atas buku yang mereka baca masih dipengaruhi oleh faktor luar—kehebohan masyarakat, promosi yang gencar, atau karena terpengaruh orang lain. Selain itu, jumlah bacaan mereka juga belum bisa digunakan sebagai patokan objektif untuk memberikan penilaian.

Kalau pembaca pemula ditanya buku-buku apa saja yang telah dibacanya, mereka biasanya akan menyebutkan judul-judul buku mainstream. Buku “mainstream” yang saya maksud adalah buku-buku yang dikenal hampir semua orang, bahkan oleh orang yang sama sekali tidak pernah membaca buku.

Tapi mereka lebih bagus dibanding golongan pertama (bukan pembaca buku). Artinya, pembaca pemula tidak hanya mengandalkan kehebohan masyarakat dalam mencari buku, tetapi juga karena faktor ketertarikan tersendiri—misalnya karena tertarik pada judulnya, atau karena kebetulan ada pameran buku yang memberikan diskon besar dan kemudian tertarik membelanjakan sebagian uangnya untuk membeli buku.

Biasanya pula, daftar wajib buku yang mereka baca adalah buku-buku yang terkenal di kalangan masyarakat, atau ditulis artis, atau yang penulisnya telah menjadi semacam selebriti. Dari sana, jika memang kesukaan membaca itu berlanjut, selera mereka akan berkembang lebih jauh. Jika semula mereka hanya membaca karena tren atau karena penulisnya terkenal, lama-lama mereka akan membaca tanpa faktor-faktor itu.

Umumnya pula, pembaca pemula membatasi bacaannya pada satu genre. Misalnya hanya membaca novel remaja, atau buku-buku tertentu. Stagnasi semacam itu biasanya akan berjalan hingga lama, tergantung kemampuan mereka dalam mengkhatamkan buku yang bisa dibacanya. Jika kemampuan membaca mereka terbatas, biasanya pembatasan genre semacam itu akan berlangsung lama. Sebaliknya, jika mereka aktif membaca, sehingga buku yang dikhatamkan lebih banyak, mereka pun perlahan-lahan akan memperluas genre bacaannya.

Dari sana pula, seiring makin banyak buku yang dibaca, mereka akan semakin tahu seperti apa buku yang bagus—dalam arti sebenarnya. Dan jika kecintaan mereka terus berlanjut, mereka pun akan sampai pada tahap yang disebut “kutu buku”.


Kutu Buku


Pertanyaan: “Bagaimana kita tahu seseorang tergolong kutu buku atau bukan?”

Jawaban: “Tanyakan kepadanya seratus buku terakhir yang dibacanya. Jika seratus buku terakhir yang dibacanya tidak tergolong buku-buku mainstream, kita bisa yakin dia memang kutu buku.”

Para kutu buku tidak membaca puluhan atau belasan buku. Mereka membaca ratusan sampai ribuan buku. Karena itulah mereka disebut “kutu”, karena begitu dekatnya mereka dengan buku. Karena itu pula, para kutu buku biasanya bukan orang yang baru kemarin sore mengenal buku—mereka telah menyetubuhi buku selama bertahun-tahun, lintas genre bacaan, bahkan kadang lintas bahasa.

Karena lamanya mengenal buku, mereka pun tahu mana buku yang bagus dan mana yang tidak, terlepas bagaimana penilaian masyarakat. Mereka membaca buku tanpa terpengaruh oleh kehebohan di kalangan masyarakat, tetapi karena kesadaran sendiri untuk memilih dan membaca suatu buku. Artinya, buku yang tidak dikenal masyarakat bisa jadi merupakan buku yang bagus bagi mereka. Sebaliknya, mereka juga belum tentu membaca buku yang dihebohkan oleh masyarakat.

Bagi para kutu buku, yang disebut “buku bagus” semata-mata karena buku itu memang bagus, bukan karena buku itu dipromosikan dengan gencar atau karena masyarakat menghebohkannya. Dalam hal ini, penilaian antara kutu buku dan yang bukan kutu buku bisa jadi berbeda seratus delapan puluh derajat. Tentu saja wajar, karena yang satu hanya mengenal beberapa buku, sementara yang satu lagi telah mengenal ribuan buku.

….
….

Berdasarkan penjelasan atas tiga golongan tersebut, sekarang saya ingin menjawab pertanyaan yang mengawali catatan ini. Mengapa buku-buku yang saya anggap terbaik sering kali buku-buku yang tidak terkenal?

Saya menyusun daftar sepuluh buku terbaik itu bukan untuk masyarakat luas yang belum tentu mengenal buku, juga bukan untuk para pembaca pemula. Saya menyusun daftar buku terbaik itu untuk para kutu buku.

Nasihat yang Selalu Kuingat

Jangan bertaruh dengan anak kecil. Kecuali kalau kau juga anak kecil.

Obrolan Cowok tentang Cewek (3)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Ehmm... cewek tuh—sebagian kecil yang asyik dan sebagian besar yang brengsek—juga memiliki persamaan dalam hal lain.

Waktu masih tahap pedekate, dia biasanya akan jaim selangit, dan seolah nggak butuh-butuh amat sama kita. Tapi kalau udah jadi pacar, dia biasanya akan ngebeeeeeet banget, dan sepertinya nggak mau pisah sedetik pun sama kita. Nggak peduli hari biasa ataupun hari libur, maunya ketemuaaaaaan melulu. Atau setidaknya telepon dan kirim SMS.

Nah, soal telepon dan kirim SMS tuh, juga kadang-kadang keterlaluan banget. Pagi-pagi, waktu kita baru aja bangun tidur dan belum sempat bernapas, dia udah kirim SMS dan ngucapin, “Met pagi, Sayang.” Padahal waktu itu masih gelap banget, bahkan mungkin masih tengah malam!

Terus, baru aja kita melangkah ke kamar mandi, dia udah nelepon ke ponsel kita, dan tanya-tanya, “Udah sarapan belum?”

Boro-boro udah sarapan! Wong bernapas aja belum sempat!

Siang hari, ketemu di kampus, dia biasanya penginnya dekaaaaat terus. Begitu pula sepulang dari kampus. Maunya kencaaaaan mulu. Sore hari, waktu udah pisahan, biasanya dia akan kirim SMS ke ponsel kita, dan nanyain, “Udah nyampai rumah belum, Sayang?”

Ya iya sih, kadang kita suka juga kalau diperhatiin kayak gitu. Tapi kalau setiap saat digituin, maksudnya kalau setiap saat diproteksi kayak gitu, lama-lama kan kita jadi ngerasa kalau kita ini anggota panti asuhan. Atau lebih parah lagi, lama-lama kita akan ngerasa kalau kita ini salah satu tahanan kota! Wong udah nyampai rumah atau belum aja kok ditanya-tanya. Ceriwis amat, sih...?

Eeeeh, belum sempat kita balas tuh SMS, dia udah kirim SMS lagi, “Sayang, kasih tahu aku kalau udah nyampai rumah, ya.”

Dia pikir urusan hidup kita hanyalah soal apakah kita udah nyampai rumah atau belum! Padahal bisa saja di tengah jalan kita ketemu sahabat yang lama nggak berjumpa, atau ban kendaraan bocor dan kita terpaksa menggantinya sambil kepanasan, atau bisa pula kita kena tilang di perempatan jalan, atau bisa pula kita ketemu cewek yang cantik banget yang ngajak kenalan....

Habis maghrib, baru aja kita selesai mandi dan ingin menikmati kesendirian, cewek kita biasanya udah kirim SMS lagi, atau nelepon, dan dengan tanpa dosa mengatakan, “Sayang, malam ini aku kangeeeeeen banget. Bisa nggak kalau ntar malam main ke rumahku? Bisa ya, Sayang...?”

Lhoooh, memangnya seharian tadi itu ngapain...???

Kan udah ketemu??? Kan udah kencan??? Kan udah nge-date???

Dan kalau permintaannya nggak dituruti, cewek kita biasanya akan ngambek! Dia akan marah, dan parahnya lagi dia akan mengumbar kemarahannya dengan sangat konyol.

Kalau dia lagi banyak pulsa, mungkin dia akan nelepon dan marah-marah di ponsel. Kalau pulsanya lagi tipis, dia akan kirim SMS dengan kata-kata yang kira-kira berbunyi seperti ini, “Jadi kamu udah nggak cinta lagi sama aku??? Kamu nggak sayang lagi sama aku??? Kamu udah bosan sama aku??? Ya udah, sekarang kita bubaran aja! Lebih baik kita putus!!! Dan besok kamu akan ngedapetin aku udah jadi mayat karena aku akan bunuh diri!!!”

Ya ampuuuuuunnn...!!!

Wong masalah sepele kayak gitu aja dibesar-besarkan sampai besarnya nggak ketulungan. Masalahnya kan sangat sepele sekali. Cuma soal kita nggak bisa datang ke rumahnya. Karena capek. Karena lelah setelah seharian beraktivitas. Karena ada urusan lain yang lebih penting. Karena ada tetangga yang mati kecebur sumur. Atau karena hal-hal lain. Lagi pula kan tadi siang udah ketemu?

Wong masalah yang begitu sepele aja kok sampai nuduh udah nggak cinta, nggak sayang, udah bosan, dan lain-lain, lalu minta putus, minta bubaran, ngancam mau bunuh diri. Wong bunuh diri kok dianggap gaul. Mending nggak gaul daripada mati bunuh diri! 

Betewe, soal kangen-kangenan lewat SMS atau telepon, mungkin udah jadi adat cewek di belahan mana pun di planet ini. Kadang-kadang saya tuh nggak habis pikir kenapa cewek-cewek suka kena penyakit kangen kayak gitu. Kamu yang udah punya cewek, coba deh diingat-ingat lagi gimana kebiasaan cewekmu yang sangat khas itu.

Biasanya, cewek kita tuh suka banget kirim SMS yang isinya kurang lebih kayak gini, “Sayang, malam ini aku kangeeeen banget.”

Atau, “Met pagi Sayang, nanti kuliah, kan? Aku kangen...”

Atau, “Lagi apa, Yang? Nggak tahu nih, tiba-tiba malam ini kangen banget sama kamu.”

Atau, “I miss you.”

Atau, “Sayang, telepon aku, ya. Malam ini aku kangeeeen banget.”

Atau, “Sayang, kangen sama aku nggak, sih? Telepon aku, dong! Aku lagi kangen, nih.”

Dan SMS-SMS kayak gitu dikirim pada pagi, siang, sore, malam, tengah malam, menjelang pagi, menjelang siang, menjelang sore, menjelang malam.

Oh, Gustiiiiiiiiii...! Memang seneng sih ya, kalau dikangenin kayak gitu. Tapi kalau tiap menit kita dikirimi SMS yang isinya cuma kangen-kangen kayak gitu, rasanya lama-lama kepala ini bakalan pecah! Dan kalau kita mencoba membicarakan hal itu pada cewek kita, apa biasanya yang kemudian menjadi jawaban mereka?

Mereka akan berceramah, melotot sambil histeris dan berteriak, “Jadi kamu udah nggak sayang lagi sama aku? Jadi kamu udah nggak cinta lagi sama aku? Jadi kamu udah nggak kangen lagi sama aku? Jadi kamu... bla-bla-bla...?!”

Cewek tuh memang aneh! Tapi anehnya, kita selalu suka.

Obrolan Cowok tentang Cewek (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Eniwei, terlepas apakah cewek tergolong asyik atau brengsek, mereka punya satu kesamaan, yakni dalam bahasa. Jangan salah, cewek punya bahasa sendiri yang perlu kamus tersendiri untuk dapat menerjemahkannya. Mereka tidak bicara dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Mereka juga tidak bicara dengan bahasa Sansekerta atau bahasa Yunani. Semua cewek bicara dengan bahasa cewek!

Nah, omong-omong soal bahasa cewek, berikut ini sedikit kamus untuk memahami arti atau makna beberapa bahasa cewek. Kamu yang cowok bisa mengulik kamus yang secuil ini untuk memahami maksud bahasa cewekmu. Sementara kamu yang cewek, silakan ketawa-ketiwi.

Bahasa Cewek yang Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Kalau cewek bilang, “Nanti-nanti, deh.”
Maka maksudnya adalah, “Nggak akan pernah, deh.”

Kalau cewek bilang, “Kapan-kapan, ya.”
Maka maksudnya adalah, “Cuma kalau aku ingat dan mau, tapi nggak janji.”

Kalau cewek bilang, “Mungkin.”
Maka maksudnya adalah, “Nggak.”

Kalau cewek bilang, “Nggak ada apa-apa, tuh.”
Maka maksudnya adalah, “Ada, tapi aku nggak mau kamu tahu.”

Kalau cewek bilang, “Cuma gitu-gitu aja, tuh.”
Maka maksudnya adalah, “Kamu nggak perlu tahu, deh.”

Kalau cewek bilang, “Aku cuma pernah pacaran satu kali.”
Maka maksudnya adalah,  “Lebih dari satu.”

Kalau cewek bilang, “Aku cuma pernah pacaran dengan dua cowok.”
Maka maksudnya adalah, “Empat atau lebih.”

Kalau cewek bilang, “Belum pernah aku melakukan hal segila ini.”
Maka maksudnya adalah, “Dengan cowok sebelum kamu pun aku bilang begitu.”

Kalau cewek bilang, “Aku belum ingin menjalin hubungan pacaran lagi.”
Maka maksudnya adalah, “Kalau pun aku ingin, yang pasti bukan sama kamu.”

Kalau cewek bilang, “Kita berteman dulu aja.”
Maka maksudnya adalah, “Belum tentu aku tertarik sama kamu.”

Kalau cewek bilang, “Aku hanya ingin berteman dengan kamu.”
Maka maksudnya adalah, “Aku nggak tertarik sama kamu.”

Kalau cewek bilang, “Aku nggak ingin merusak persahabatan kita dengan berpacaran.”
Maka maksudnya adalah, “Dengan cowok lain yang kusukai, aku nggak keberatan merusak persahabatan untuk berpacaran dengannya.”

Kalau cewek bilang, “Kamu tuh teman terbaikku.”
Maka maksudnya adalah, “Sebaiknya kamu nggak usah berharap jadi pacarku, kita tetap berteman aja.”

Kalau cewek bilang, “Dia (cowok) sekadar teman biasa, kok.”
Maka maksudnya adalah, “Kalau aku nggak suka lagi sama kamu, mungkin dia cadangannya.”

Kalau cewek bilang, “Cewek itu cantik juga, ya.”
Maka maksudnya adalah, “Awas saja kalau kamu bilang iya!”

Kalau cewek bilang, “Setelah lulus kuliah, aku mau kerja sambilan dulu.”
Maka maksudnya adalah, “Sambil cari cowok yang bersedia membelikanku cincin berlian.”

Kalau cewek bilang, “Hobi aku? Makan-makan, jalan-jalan, shopping, dan nonton.”
Maka maksudnya adalah, “Asal nggak bayar sendiri.”

Kalau cewek bilang, “Kamu baik, deh.”
Maka maksudnya adalah, “Kalau nanti aku minta tolong lagi, kamu harus membantu.”

Kalau cewek bilang, “Terserah!”
Maka seluruh dunia belum tentu ada yang tahu apa maksudnya.

Lanjut ke sini.

Obrolan Cowok tentang Cewek (1)

Ngobrol sama cewek dikira nyepik.
Ngobrol sama cowok dituduh homo.
Aku kudu piye, tweeps?
@noffret


Cewek tuh kadang-kadang asyik, kadang-kadang brengsek. Hmm, maksud saya, cewek tuh ada yang asyik, ada pula yang brengsek. Cewek yang asyik tuh ya asyik-asyik aja kalau diajak gaul, diakrabi, dan diajak haha-hihi tanpa berpikir macam-macam. Maksudnya, tanpa berpikir kalau kita lagi pedekate sama dia. Cewek model gini selalu asyik dijadikan sohib, asyik dijadikan teman curhat, juga asyik untuk te-te-em.

Sementara cewek brengsek sebaliknya. Cewek model gini biasanya suka pede, plus suka ge-er. Wong kita ngajak gaul aja dikira naksir. Kita ingin akrab aja dikira mau pedekate. Mending kalau kemudian dianya open. Ada juga cewek yang buru-buru jaga jarak hanya karena dia mengira kita mau pedekate.

Nah, omong-omong soal pedekate nih, cewek tuh juga terbagi dua—cewek yang asyik, dan cewek yang brengsek. Cewek yang asyik tuh, ya asyik-asyik aja meski dia tahu kalau kita lagi pedekate. Dia nggak jaim-jaim amat, juga nggak norak-norak banget. Sementara  cewek yang brengsek, biasanya langsung jaim selangit kalau tahu kita lagi pedekate. Yeah, kamu tahu sendiri, deh.

Betewe, cewek tuh kalau ditembak, maksudnya kalau kita nyatain cinta, juga terbagi dua—cewek yang asyik, dan cewek yang brengsek.

Cewek yang asyik tuh, kalau menerima pernyataan cinta, sikapnya enjoy-enjoy aja. Kalau dia mau menerima (pernyataan cinta itu), dia akan kasih sikap menyenangkan. Dan kalau memang nggak bisa jawab waktu itu juga, dia hanya akan meminta waktu beberapa hari untuk memberikan jawabannya. Lamanya waktu yang dimintanya biasanya juga bisa diterima akal sehat, logis, wajar, dan masuk akal. Begitu pula kalau dia ingin menolak.

Beda banget sama cewek brengsek. Kalau kamu nyatain cinta sama cewek model gini, biasanya dia akan pasang sikap seolah-olah seorang ratu. Meskipun nantinya bakal menerima cintamu, dia akan jaim-jaim dulu seolah nggak butuh pernyataan cintamu.

Dan, biasanya, dia akan meminta waktu yang lamaaaaa banget untuk ngasih jawaban atas pernyataan cintamu. Itu sih masih lumayan kalau akhirnya cintamu diterima, dan cewek itu bisa jadi pacarmu. Tapi dasar cewek brengsek, meskipun akhirnya dia akan menolak cinta yang kamu nyatakan, dia tetap aja minta waktu yang luammaaaaaaaaa banget untuk memberikan jawaban.

Kadang-kadang waktu yang dimintanya tuh lamanya nggak ketulungan, nggak ilmiah, nggak logis, nggak masuk akal. Kalau minta waktunya tiga hari atau setidaknya seminggu sih wajar-wajar aja. Tapi kadang dia minta waktu sampai satu semester! Ada pula yang minta waktu sampai satu tahun hanya untuk memberikan jawaban. Dan kemudian jawabannya menolak. Brengsek nggak, sih?

Nah, cewek tuh, kalau udah jadi pacar kita, juga kembali dibagi dua—cewek yang asyik, dan cewek yang brengsek. Cewek yang asyik tuh, ya tetap asyik-asyik aja meski udah jadi pacar kita. Maksudnya, antara sebelum dan sesudah jadi pacar kita nggak terlalu banyak perubahannya. Mungkin perubahannya cuma dia semakin terbuka, baik psikis maupun fisiknya. Hehehe...

Cewek yang asyik tuh asyik buat dijadiin pacar, karena dia tetap menjadi dirinya sendiri—seperti sebelum dia menjadi pacar kita. Kalau sebelumnya dia mandiri, ya tetap aja mandiri, nggak kemudian jadi kolokan atau terlalu manja hanya karena merasa udah punya pacar. Iya sih, kadang-kadang manja juga perlu, karena cewek juga nggak asyik kalau nggak ada manja-manjanya. Tapi kalau manjaaaaaaa melulu, mending kita nggak usah punya pacar, tapi lebih baik beli hewan piaraan!

Sementara cewek yang brengsek tuh, biasanya jadi lebih brengsek kalau udah dijadiin pacar. Cewek model gini nih, biasanya akan ngebosenin abis kalau dijadiin pacar. Kalau dulunya suka jaim, dia akan sepuluh kali lipat jaimnya kalau udah punya pacar. Kalau dulunya suka manja, maka manjanya akan bertambah seribu kali lipat.

Pokoknya, cewek model gini bakal bikin hidup jadi amat sangat membosankan sekali! Kadang-kadang saya juga mikir kalau cewek-cewek model gini yang menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, serta gangguan kehamilan dan janin. Hehehe....

Lanjut ke sini.

Rayuan Vampir

Ah, gigi taringmu itu….

 
;