Kamis, 21 November 2013

Menghidupkan Nurani (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Darwin tidak percaya jawaban itu, karena sangat tak masuk akal. Ia tahu, dan yakin, bahwa motivasi orang itu menfitnahnya karena iri. Kedengkian dan iri hati telah membutakan mata dan menggelapkan hatinya, hingga tega melakukan perbuatan keji semacam itu.

Kisah ini berakhir sampai di situ. Darwin bukan tipe orang yang suka ribut-ribut, jadi dia pun menganggap masalahnya telah selesai, dan tak ingin memperpanjang. Yang jelas, dia telah mengetahui bahwa orang yang dikenalnya ternyata tak sebaik yang ia bayangkan sebelumnya, bahwa kesuksesan yang diraihnya telah membuahkan iri hati sesama blogger yang mungkin tidak seberuntung dia.

Kisah itu memberi pelajaran pada saya, bahwa iri hati dan kedengkian adalah penyakit yang bisa menimpa siapa saja, dan kita bisa menjadi penyebabnya. Orang yang kita kenal, yang tampaknya baik, bisa jadi menyimpan iri hati kepada kita, karena mungkin kita dianggap memiliki prestasi atau sesuatu yang tak dimilikinya. Sebaliknya, kita sendiri pun bisa menyimpan kedengkian yang sama terhadap orang lain—yang kita kenal atau pun tidak—dengan alasan tak jauh beda.

Prestasi atau kelebihan seseorang tidak jarang menimbulkan iri hati dan dengki bagi orang lainnya. Itu penyakit umum manusia—yang kita kenal, maupun yang tidak. Padahal, jika dipikir dengan akal sehat dan nurani yang bening, apa untungnya menyimpan iri hati dan kedengkian? Kita sakit hati atas kelebihan orang lain, dan berharap orang lain merasakan sakit yang sama. Itu seperti menyalakan api di tubuh kita sendiri, dan berharap orang lain yang terbakar. Konyol, dan tak masuk akal.

Orang yang memfitnah Darwin mungkin iri pada kesuksesan Darwin karena bisa mendapatkan penghasilan dari Adsense. Karena dorongan iri hati pula, dia sampai tega melakukan perbuatan jahat pada Darwin. Kenyataannya memang upayanya berhasil—Darwin dipecat dari Google Adsense. Tapi apa yang kemudian diperoleh orang itu? Dia tak mendapatkan apa-apa, selain mungkin kepuasan sesaat yang kemudian berbuntut perasaan bersalah sepanjang hayat.

Iri dan dengki adalah perasaan manusia yang tersembunyi. Ia seperti kanker—bersemayam di tubuh kita, dan diam-diam menggerogoti nurani kita perlahan-lahan. Apa pun bentuknya, kanker adalah penyakit berbahaya. Begitu pun iri hati.

Sebagai manusia biasa, saya juga kadang menyimpan perasaan semacam itu—iri atau dengki melihat kelebihan orang lain. Tetapi, demi Tuhan dan demi para malaikat yang suci, saya berani bersumpah tidak ada setitik keuntungan pun yang bisa saya peroleh dari perasaan itu. Saya tidak menjadi manusia yang lebih baik karena perasaan iri. Saya pun tidak menjadi lebih hebat karena menyimpan dengki. Sebaliknya, saya merasa sakit. Atau tersakiti.

Bertahun-tahun lalu, ketika saya masih bocah miskin dan dekil, saya sering merasa iri ketika melihat bocah-bocah lain yang bisa hidup enak, mengendarai motor mahal, dan keluyuran saban malam, lalu pulang ke rumah dan tidur di kasur empuk dengan nyaman. Saya tidak bisa seperti mereka, dan saya dengki. Oh, well, saya dengki pada mereka, karena saya tidak bisa seperti mereka!

Dan apa yang kemudian saya peroleh dari perasaan itu? Tidak ada! Sebaliknya, saya merasa sakit. Semakin besar rasa dengki di hati, saya semakin merasa tersakiti.

Ketika menyadari kenyataan itu, saya pun sampai pada kesimpulan bahwa menyimpan iri hati sama saja menyimpan penyakit. Itu konyol. Sejak itu pula, saya berusaha menjauhkan perasaan itu, dan menggantinya dengan perasaan positif. Alih-alih iri dan dengki melihat kelebihan orang lain, saya mulai menjadikan hal itu sebagai bara yang membakar motivasi saya untuk memperbaiki diri. Hasilnya, hidup saya berubah, nasib saya berubah, diri saya berubah.

Iri hati dan dengki atas kelebihan orang lain tak mengubah apa pun—ia hanya menjadi penyakit. Tapi motivasi positif karena melihat kelebihan orang lain bisa mengubah kita—itu semacam jamu yang kita minum, pahit tapi menyembuhkan. Sejak itu, setiap kali melihat orang berprestasi, saya tidak berpikir untuk dengki kepadanya, tapi justru menjadikannya penyemangat bahwa saya pun bisa seperti dirinya.

Ehmm....

Belum lama, seorang teman mengenalkan buku barunya di Facebook. Sebut saja namanya Farhan. Ia mengunggah sampul bukunya, menuliskan sinopsisnya, dan mengabarkan pada teman-teman di Facebook bahwa buku barunya telah terbit. Tidak lama setelah itu, beberapa orang telah membeli dan membaca buku tersebut, dan menuliskan komentar mereka.

Namanya manusia, tentu memiliki selera berbeda. Dalam kolom komentar, ada yang memberi komentar positif, ada pula yang negatif. Farhan tidak mempermasalahkan hal itu, karena baginya itu feedback yang akan membuatnya terus belajar agar bisa menghasilkan karya yang lebih baik. Rata-rata penulis—setidaknya yang saya kenal—tidak mempersoalkan kritik dari pembaca, karena itu hal biasa.

Sampai kemudian, ada seseorang yang bikin masalah. Akun Facebook Farhan dibuka secara umum. Artinya, siapa pun bisa menulis komentar di dindingnya, meski tidak masuk dalam lingkaran pertemanannya. Nah, orang itu menulis komentar yang isinya menjelek-jelekkan buku Farhan, tapi keluar dari konteks isi bukunya. Komentarnya ada di antara tumpukan komentar orang lain.

Farhan menanggapi, dan menyatakan pada orang itu agar kritiknya diarahkan pada konteks atau isi bukunya saja, agar dia tahu dimana kelemahannya. Tapi orang itu dengan jumawa menjawab bahwa dia tidak suka buku semacam itu, dan dia belum membaca buku Farhan. Pengakuan itu pun memunculkan kejengkelan bagi Farhan dan bagi orang-orang lainnya.

Kalau kita membaca sebuah buku, dan merasa kecewa, lalu menyampaikan kritik yang santun, maka iblis di neraka pun akan memaklumi. Setiap pembaca berhak menyampaikan feedback kepada penulis buku yang ia baca. Tetapi, jika kita tidak membaca suatu buku, kemudian merasa sok tahu dan melemparkan kritik busuk yang menyakitkan, maka orang-orang suci pun akan kecewa. Hanya keparat tolol sok pintar yang mengkritik sesuatu yang tidak diketahuinya.

Itulah yang terjadi pada buku Farhan. Begitu mengetahui orang itu hanya mengkritik sok tahu, orang-orang pun marah dan mencercanya habis-habisan. Mungkin, karena malu akibat di-bully tanpa henti, orang itu pun kemudian menjawab dengan dalih yang sangat klise, “Ah, komentar saya kemarin itu cuma untuk bercanda dan ngerjain Farhan saja, kok. Tidak usah dimasukin ke hati.”

Farhan tidak percaya pernyataan itu. Orang-orang lain juga tidak percaya. Membaca kritikan dan cercaannya yang serius (dan tidak ada tanda bercanda sedikit pun), orang itu sama sekali tidak bermaksud ngerjain atau sekadar bercanda—ia memang ingin mencerca dan menjelek-jelekkan. Tak perlu jadi cenayang yang bisa membaca pikiran orang, semua orang tahu bahwa kritikan dan cercaan itu muncul karena dorongan iri hati.

Berkaca pada hal itu, sekali lagi saya bertanya-tanya, apa yang didapatkan orang itu dari kritikan dan cercaannya yang lahir akibat iri hati? Tidak ada! Kedengkian karena melihat prestasi orang lain telah menjadikannya seorang pecundang. Iri hati karena menyaksikan kesuksesan orang lain telah menjadikannya pesakitan. Api yang semula ia harapkan dapat membakar orang lain justru menghanguskan dirinya sendiri.

Sekali lagi, iri hati dan kedengkian adalah kanker yang bersemayam di dalam diri kita. Jika kita memanjakannya, kanker itu akan membesar dan menggerogoti tubuh kita, perlahan-lahan, hingga kita sekarat dan mati. Satu-satunya cara sehat dan bijak menghadapi kanker adalah menghilangkannya. Semakin cepat kanker itu terdeteksi, semakin kita mampu menjinakkannya. Memelihara kanker adalah cara tolol untuk mati—begitu pula memelihara iri hati.

Iri hati dan kedengkian adalah energi negatif. Menggunakan hukum fisika, ajaran agama, atau pun teori psikologi, sesuatu yang negatif akan menarik hal lain yang sama negatif. Isaac Newton percaya hal itu. Mahatma Gandhi percaya hal itu. Saya pun percaya hal itu. Kita dengki pada orang lain, kita sedang menarik hal negatif pada diri sendiri. Apa manfaatnya?

Iri hati pada orang hebat tidak menjadikan kita hebat. Dengki pada orang berprestasi tidak menjadikan kita berprestasi. Energi negatif akan menarik hal lain yang sama negatif.

Daripada menjadi pribadi negatif yang iri pada orang lain, saya pikir lebih baik menjadi pribadi positif yang termotivasi orang lain. Daripada dengki melihat prestasi atau kesuksesan orang lain, sepertinya jauh lebih baik jika kita terinspirasi olehnya, dan berusaha untuk bisa sebaik mereka. Daripada berusaha menyerang orang lain karena perasaan negatif kita, saya lebih memilih untuk belajar kepada mereka.

Orang-orang hebat bukan ancaman yang harus dikalahkan, mereka adalah tantangan yang seharusnya melecut semangat kita agar bisa sehebat mereka. Orang-orang berprestasi bukan saingan apalagi musuh yang harus dihancurkan, mereka adalah pelajaran yang seharusnya membuka mata bahwa kita pun bisa seperti mereka. Dan untuk hal itu, kita tidak memerlukan iri hati dan dengki, melainkan kesadaran untuk mau belajar, sekaligus upaya menghidupkan nurani.

Menghidupkan Nurani (1)

Menyimpan kedengkian dan iri hati itu seperti
menyilet urat nadi sendiri, dan berharap orang lain
yang mati. Pedih, juga konyol.
@noffret


Ini kisah lama yang masih relevan untuk dikisahkan kembali. Bukan untuk membuka luka lama, tetapi untuk belajar kembali tentang manusia. Karena pelajaran tentang manusia adalah pelajaran yang tak pernah berakhir, karena mempelajari manusia lain adalah mempelajari diri sendiri, dan mempelajari diri sendiri adalah pelajaran tertinggi.

Manusia baru disebut manusia sejati jika telah mengenal dirinya sendiri. Dan, bagi kebanyakan kita, kemampuan mengenali diri sendiri sering kali harus menggunakan sarana manusia lain. Untuk berkaca, untuk bercermin, untuk introspeksi, untuk memperbaiki diri. Mempelajari diri sendiri adalah pelajaran yang tak pernah berhenti. Itu pelajaran yang akan terus kita tempuh sampai mati.

Ini kisah lama yang masih relevan untuk dikisahkan kembali. Ini kisah tentang seorang blogger bernama Darwin (bukan nama sebenarnya). Seperti umumnya blogger lain, Darwin punya blog yang ia isi dengan artikel, gambar, dan lain-lain. Ia juga sesekali blogwalking jika kebetulan ada waktu luang, menjalin pertemanan, atau setidaknya komunikasi dengan sesama blogger.

Karena blognya menarik, blog milik Darwin dikunjungi banyak orang. Itu hukum alam—ada gula, ada semut. Berikan sesuatu yang menarik dan bermanfaat bagi orang lain, maka—tanpa diundang—orang-orang akan berdatangan. Blog Darwin menyuguhkan hal itu. Ia memposting hal-hal yang menarik dan bermanfaat bagi orang lain. Dan para pengunjung menyukai blognya, makin hari makin banyak.

Sampai suatu hari, Darwin terpikir untuk mendaftar Google Adsense, agar ia bisa mendapat penghasilan dari blognya. Tentu saja tidak masalah—setiap orang berhak memanfaatkan blognya untuk mendapatkan penghasilan. Singkat cerita, pengajuan Adsense Darwin diterima oleh Google.

Kita tahu bahwa Google tidak sembarangan menerima pengajuan atau pendaftaran Adsense, karena Google harus memastikan blog yang didaftarkan untuk Adsense benar-benar layak, sesuai standar dan persyaratan mereka. Fakta bahwa blog Darwin diterima untuk Adsense menjadi salah satu bukti bahwa blog milik Darwin memang layak baca.

Maka, sejak itu, iklan Adsense pun mulai muncul di blog Darwin, dan ia mulai mendapatkan penghasilan dari Adsense. Mula-mula sedikit. Tetapi, seiring berjalannya waktu, penghasilan Adsense yang diperoleh Darwin semakin banyak, dan itu menjadikannya semakin giat membuat post untuk blognya.

Sampai di sini, sebenarnya tidak ada masalah. Darwin senang, karena bisa mendapatkan penghasilan dari blognya. Pengunjung senang, karena bisa mendapatkan artikel yang diinginkan. Google senang, karena afiliasi Adsense mereka bertambah. Advertiser pun senang, karena produknya makin dikenal. Sekali lagi, sampai di sini tidak ada masalah.

Tetapi, rupanya, ada orang yang iri pada kesuksesan Darwin.

Suatu hari, Darwin mendapatkan e-mail dari Google yang isinya adalah pemutusan Adsense ke blognya, dengan alasan banyaknya klik palsu (click fraud) atas iklan Adsense yang ada di blog Darwin. Berdasarkan laporan Google pula, klik palsu itu jumlahnya mencapai 400-an klik dalam satu waktu. Bagi Google, itu kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Sejak itu pula, Adsense dicabut dari blog Darwin, dan ia kehilangan penghasilan yang semula rutin diperolehnya.

Darwin marah, sedih, dan kecewa, tapi ia tak bisa apa-apa. Ia tahu, ada seseorang yang telah sengaja meluangkan waktu untuk meng-klik iklan Adsense di blognya hingga ratusan kali, dengan tujuan agar Google menganggap itu klik palsu. Dan upaya orang itu berhasil. Ia telah berhasil memfitnah Darwin!

Yang jadi masalah, Google tidak peduli apakah klik palsu itu fitnah atau bukan. Dalam Adsense, Google benar-benar keras dan tak bisa ditawar. Kau melakukan kecurangan, saat itu juga kau akan dilempar. Tak peduli kecurangan itu dilakukan sendiri atau orang lain, tidak ada tawar menawar.

Jadi, Darwin tak bisa apa-apa, selain menerima kenyataan pahit itu. Tapi ia menyadari telah menjadi korban kedengkian orang lain. Didorong rasa frustrasi dan penasaran ingin menemukan bajingan yang telah memfitnahnya, Darwin menggunakan keahliannya—investigasi.

Bagi sebagian orang, internet atau dunia maya mungkin dianggap dunia tidak jelas. Padahal, sebaliknya, internet adalah dunia yang sangat jelas, karena apa pun bisa dilacak, ditelusuri, sampai ke ujungnya. Artinya, melacak sesuatu di dunia maya jauh lebih mudah dibanding melacak sesuatu di dunia nyata. Di dunia nyata, penjahat bisa menghapus jejak atau barang bukti hingga tak terendus. Di dunia maya, jejak yang telah dihapus sekali pun tetap dapat dilacak.

Menggunakan keahliannya dalam investigasi, Darwin menelusuri jejak si bajingan. Dan dalam hal itu, dia tak pernah gagal. Singkat cerita, Darwin menemukan orang yang telah memfitnahnya—pelaku yang sengaja melakukan klik palsu atas iklan Adsense di blognya. Yang jadi masalah, Darwin mengenal orang itu—meski hanya kenal sepintas. Mereka saling kenal di dunia maya, karena sama-sama blogger.

Setelah menimbang dan memikirkan kenyataan itu cukup lama, Darwin menempuh cara yang dipikirnya cukup bijak. Dia menghubungi orang itu secara baik-baik, dan menanyakan kenapa sampai tega memfitnahnya hingga ia kehilangan penghasilan dari Adsense.

Setelah mencoba berkelit namun gagal, orang itu akhirnya mengakui perbuatannya. Dia menyatakan dengan jujur kalau dia memang pelaku klik palsu itu. Ketika ditanya apa motivasinya, orang itu terus berkelit, dan menyatakan bahwa komputernya atau mouse-nya eror, hingga tak sengaja meng-klik berkali-kali.

Lanjut ke sini.

Doa yang Terlupa

Tuhan,

Jauhkanlah aku dari para pendengki—orang-orang yang menampakkan senyum yang tampak ramah, tapi menyembunyikan kebusukan di hatinya. Orang-orang yang tampak baik di depan manusia lain, tapi menikam di belakang. Orang-orang yang melemparkan pujian palsu, sambil diam-diam merasa iri pada orang yang dipujinya.

Jauhkanlah aku dari para pendengki—orang-orang yang meluangkan waktunya bukan untuk memperbaiki diri, tapi malah sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Orang-orang yang menggunakan energinya bukan untuk menyembuhkan, tapi malah melukai. Yang menggunakan pikirannya bukan untuk memberi manfaat bagi sesamanya, tapi justru untuk menyombongkan diri.

Jauhkanlah aku dari para pendengki—orang-orang yang merasa dirinya hebat, lalu sakit hati ketika menemukan orang lain lebih hebat darinya. Orang-orang yang menganggap dirinya pintar, lalu mendendam ketika melihat orang lain lebih pintar darinya. Orang-orang yang merasa dirinya tinggi, lalu iri dan dengki ketika melihat orang lain lebih tinggi darinya.

Jauhkanlah aku dari para pendengki—orang-orang yang lebih suka mencela, daripada menghargai. Orang-orang yang justru tersenyum ketika melihat orang lain jatuh. Orang-orang yang lebih fasih membicarakan keburukan orang lain daripada kebaikan sesamanya, sambil diam-diam menganggap dirinya manusia paling suci dan terberkati.

Jauhkanlah aku dari para pendengki—orang-orang yang menyaksikan kehebatan orang lain tidak dengan kekaguman, tapi dengan dendam. Orang-orang yang bukannya belajar pada kelebihan orang lain, tapi malah sibuk mencari alasan untuk merendahkannya. Orang-orang yang menyuguhkan senyum munafik, sambil diam-diam menjadi iblis.

Jauhkanlah aku dari para pendengki.

Lebih penting dari itu, jauhkanlah dengki dan iri hati dari diriku sendiri.

Noffret’s Note: Rayuan Jujur yang Tak Ingin Didengar

Satu jam bersamamu, bagiku terasa... yeah, satu jam bersamamu.
—Twitter, 19 Januari 2013

Sering kali aku kangen kamu. Benar. Tapi, sering kali juga tidak.
—Twitter, 19 Januari 2013

Kamu cantik. Bohong kalau aku bilang tidak.
Tapi bukan berarti tidak ada yang lebih cantik dari kamu.
—Twitter, 19 Januari 2013

Kamu membuat hidupku menjadi lebih indah.
Tapi tak jarang juga membuatku pusing.
—Twitter, 19 Januari 2013

Kamu yang terbesar dalam hidupku, dalam hatiku,
dalam pikiranku. Tapi hidup bukan hanya tentang kamu.
—Twitter, 19 Januari 2013

Sebagai perempuan, kamu bidadari yang sangat cantik.
Tapi, juga sebagai perempuan, kamu iblis yang egois.
—Twitter, 19 Januari 2013

Ada saat ketika aku sangat sayang sama kamu. Sayangnya,
juga ada saat ketika aku merasa ingin membencimu.
—Twitter, 19 Januari 2013

Aku senang membaca SMS darimu. Kadang-kadang, aku juga
ingin membanting hape karena capek ngurusin SMS-mu.
—Twitter, 19 Januari 2013

Kamu cantik, indah, sempurna, tak punya kekurangan apa pun.
Tapi kita sama-sama tahu, aku sedang berbohong.
—Twitter, 19 Januari 2013

Hidup adalah soal pilihan, dan aku memilih mencintaimu.
Yang jadi masalah, pilihan kadang bisa berubah.
—Twitter, 19 Januari 2013

Dicintai olehmu adalah kebahagiaan. Tapi kebahagiaan manakah,
dan kebahagiaan siapakah, yang abadi?
—Twitter, 19 Januari 2013

Ya, ya, aku tahu, hei Perempuanku. Kamu tidak ingin
mendengar “tapi” dalam rayuanku. Kamu suka dibohongi.
—Twitter, 19 Januari 2013

Masalah dalam hubungan kita, kamu ingin terus dibohongi.
Tapi begitu ketahuan aku berbohong, kamu marah.
—Twitter, 19 Januari 2013


*) Ditranskrip dari timeline @noffret

Senin, 18 November 2013

Suatu Siang di Ruang Tamu

Kalau hidup kita tidak bahagia, ada dua
kemungkinan. Kita tidak tahu arti bahagia,
atau kita berpikir hidup kita tidak bahagia.
@noffret


—Salam untuk Naula

Saya baru selesai cuci muka pagi itu, ketika ponsel berdering. Waktu saya lihat, nama Thoriq tertera di layar. Dia teman sejak masa SMA. Saya pun segera menerimanya.

“Aku baca blogmu tadi malam,” ujar Thoriq di telepon. “Kayaknya kamu lagi sakit?”

“Yeah, lumayan,” saya menjawab, “tapi sekarang udah mendingan.”

“Kamu di rumah?”

“Ya.”

“Bagus. Siang nanti aku ke tempatmu. Kamu ingin dibawain sesuatu?”

“Nggak. Aku senang kalau kamu datang. Ada teman ngobrol.”

Siangnya, sekitar pukul 11, Thoriq benar-benar datang. Saya kira dia akan datang sendirian, tapi rupanya bersama seorang cewek. Semula, saya pikir itu pacar Thoriq yang baru—dulu saya kenal pacarnya, dan seingat saya bukan cewek ini. Tapi, ketika memperkenalkan kami, Thoriq menyebut cewek itu temannya.

“Namanya Naula,” ujar Thoriq saat memperkenalkan kami. Lalu menambahkan, “Dia penggemar berat blogmu.”

Saya tersenyum malu-malu, sebagaimana mestinya seorang anak manis. (Yeah!)

Naula mungkin berumur 24 atau sekitar itu—tampak anggun dan dewasa, juga sangat cantik. Tapi di atas semua itu, ia ramah dan teman ngobrol yang menyenangkan. Jadi, meski kami baru kenal, dia bisa ikut nimbrung percakapan saya bersama Thoriq dengan asyik.

Selepas dhuhur, Thoriq menawari kami keluar untuk mencari makan, karena dia sudah kelaparan. Tapi saya tak berselera keluar rumah. Selain badan agak lemas, waktu itu siang sangat panas. Jadi, Thoriq pun mengusulkan, “Gimana kalau aku keluar sebentar buat nyari makan? Yeah, biar kita nggak ikut-ikutan sakit kayak kamu.”

Naula setuju, dan saya nitip pesan, “Carikan nasi yang keras, Riq.”

“Sip!” Lalu dia pun pergi.

Sepeninggal Thoriq, saya melanjutkan percakapan dengan Naula di ruang tamu. Bagaimana pun, kami baru kenal. Jadi, selancar apa pun percakapan kami, akhirnya muncul jeda cukup panjang, karena kehabisan bahan percakapan. Mengisi jeda itu, saya mengambil rokok dan menyulutnya. Dan menyadari Naula memperhatikan saya dengan ekspresi serius.

Dengan suara seringan mungkin, saya berkata, “Kenapa kamu mandangin aku begitu?”

Dia tersenyum. “Rasanya aku masih belum percaya, saat ini sedang menjenguk seseorang yang selama ini hanya aku kenal lewat tulisan-tulisannya.”

“Kamu pasti kecewa,” saya menyahut. Setelah mengisap asap rokok, saya melanjutkan, “Kamu pasti kecewa melihatku sekarang, karena mungkin selama ini membayangkan aku terlalu tinggi.”

Senyumnya tidak hilang. “Sebaliknya,” dia berujar, “aku sangat senang bisa melihatmu sekarang—melihatmu dalam wujud asli—karena ternyata kamu sangat manusiawi.”

Waktu itu saya memakai t-shirt dan celana boxer—pakaian yang biasa saya kenakan sehari-hari. Karena semula saya mengira Thoriq akan datang sendirian, saya pun tidak berganti pakaian yang “lebih pantas”. Jadi begitulah sekarang saya tampak di hadapan Naula—seorang bocah lelaki dengan kaus dan celana boxer, dan sebatang rokok di tangan, dengan sikap yang mungkin agak kikuk karena berduaan dengan cewek cantik.

Tiba-tiba saya tertawa.

“Kenapa kamu malah ketawa?” tanya Naula dengan heran.

“Yeah, aku sama sekali nggak ngira akan mendengar komentar seperti itu,” saya menjawab jujur. “Menurutmu, aku sangat manusiawi, ya?”

“Ya, maksudku, jauh lebih manusiawi dari yang kubayangin selama ini.”

Saya pun penasaran. “Jadi, apa yang kamu bayangin selama ini?”

Dia menatap saya, dan tersenyum. “Mau jawaban jujur?”

“Ya.” Saya berdebar-debar.

“Hampir tiap hari aku masukin namamu di Google, untuk mengunjungi blogmu. Selama membaca tulisan-tulisanmu, aku tuh sering bayangin kamu nggak seperti manusia lainnya.”

Setelah terdiam sesaat, Naula melanjutkan, “Mungkin, banyak orang lain yang membaca tulisan-tulisanmu di blog juga berpikir gitu. Dulu, waktu Thoriq bilang kenal kamu—karena kalian berteman sejak SMA—aku langsung kaget dan nggak percaya, karena selama ini kupikir kamu udah... yah, udah dewasa banget, gitu.”

Saya tersenyum. “Itu cara lain untuk menyatakan ‘udah tua’.”

“Ya gitu, deh.” Dia tertawa. “Makanya, aku masih ngerasa belum percaya kalau sekarang sedang berhadapan dengan kamu—dalam wujud asli—dan mendapati kamu sangat manusiawi. Yah, maksudku, kamu nggak beda dengan Thoriq atau cowok-cowok lainnya.” 

“Aku senang mendengarnya, Naula.”

Dan saya benar-benar senang mendengar komentar itu. Saya bersyukur mendengar seseorang dengan jujur menyatakan bahwa dia senang mendapati saya tak jauh beda dengan cowok-cowok lain—dengan bocah-bocah lain—meski dia mungkin telah membayangkan saya jauh lebih hebat dari kenyataannya.

Kalau kau membayangkan seseorang terlalu tinggi, kemudian mendapati ternyata dia tak setinggi yang kaubayangkan, atau dia terlihat biasa-biasa saja, selalu ada kemungkinan kau akan kecewa. Itu fitrah manusia—ketika kenyataan tak sesuai dengan bayangan, atau tak lebih hebat dari yang dibayangkan, maka yang biasa muncul adalah kekecewaan.

Tetapi, ketika kau membayangkan seseorang terlalu tinggi, kemudian mendapati ternyata dia tak setinggi yang kaubayangkan, atau dia terlihat biasa-biasa saja, dan kau justru bersyukur karenanya, maka kau pasti manusia bijaksana. Hanya orang bijaksana yang bisa bahagia ketika mendapati sesuatu yang “biasa-biasa saja”. Hanya orang bijaksana yang justru akan bersyukur ketika mendapati kenyataan yang ternyata tak setinggi bayangannya.

Itu pula yang secara jujur saya katakan pada Naula, “Kamu pasti wanita yang bijaksana.”

Dia tersenyum malu-malu.

Sesaat, keheningan mengambang di ruang tamu.

Kemudian, dengan suara perlahan dia berkata, “Sekarang aku tahu, kenapa kamu mengagumi Batman dan Spiderman. Karena kamu juga merahasiakan identitas seperti mereka—demi tangan kirimu tak mengetahui yang dilakukan tangan kanan—agar orang-orang hanya mengetahui kebaikanmu tanpa mengenalmu.”

Tiba-tiba saya merasa telah mengenalnya bertahun-tahun. Meski baru dua jam kami berkenalan, tapi dia bisa merangkum sesuatu yang telah saya pikirkan selama bertahun-tahun. Itu pula yang saya katakan kepadanya, “Kamu memang bijaksana, Mary Jane Watson.”

“Hahahaaa... bukan Rachel Dawes?”

Saya tersenyum. “Apa pun yang kamu inginkan.”

....
....

Thoriq datang membawakan nasi bungkus dengan lauk istimewa—ikan bakar dengan sambal yang luar biasa nikmat. Siang itu, di ruang tamu, kami bertiga menikmati makan siang sambil bercakap dan bercanda, seperti orang-orang lainnya, seperti bocah-bocah lainnya, dan... entah mengapa, saya merasa bahagia.

Mengetahui orang lain senang karena kau “biasa-biasa saja”, adalah satu alasan untuk bahagia.

Puncak Kejernihan

Ada dalam tiada.

Bocah yang Jarang Nge-tweet

Wanita ini bertanya pada bocah ini, “Kenapa sekarang kamu jarang bikin tweet bagus kayak dulu?”

Si bocah menjawab, “Karena sekarang, setiap aku nge-tweet, selalu banyak yang me-retweet.”

Si wanita heran, “Lhoh, memangnya kenapa kalau banyak yang me-retweet? Bukannya itu bagus?”

“Itu sangat buruk bagiku! Karena semakin banyak yang me-retweet, orang-orang jadi tertarik mem-follow akunku.”

“Lhoh, bukannya bagus kalau makin banyak follower?”

“Itu sangat menakutkan! Karena lama-lama aku khawatir jadi terkenal.”

“Uhm, memangnya kenapa kalau kamu terkenal?”

“Aku sangat khawatir! Karena, jika itu terjadi, aku takut tidak lagi menjadi aku.”

Kamis, 07 November 2013

Rehat

Kapan terakhir kali aku bisa santai?
Rasanya sudah lama sekali, sebegitu lamanya
sampai aku lupa cara bersantai.
@noffret 


Dua bulan yang lalu, saya jatuh sakit karena kelelahan, seperti yang saya tuliskan sekilas di sini. Ketika sudah mulai sehat, tumpukan pekerjaan membuat saya segera sibuk lagi, dan lupa kemarin sakit. Sekarang, saya kembali terkapar karena sebab yang sama. Kelelahan. Tampaknya saya belum belajar.

Hidup orang per orang adalah sekolah tak terlihat. Dalam sekolah itu, kita masing-masing mendapatkan pelajaran yang secara khusus ditujukan untuk kita. Jika sebuah pelajaran diberikan dan kita memahaminya, maka nilai kita bertambah, dan kita pun diberi pelajaran yang lain. Namun, jika suatu pelajaran diberikan, dan kita tidak juga paham, maka pelajaran yang sama akan terus diberikan, berulang-ulang, dengan beragam cara, dalam berbagai bentuk, sampai kita benar-benar paham.

Saya telah diberi pelajaran dalam bentuk sakit, karena tidak menjaga kesehatan, karena terlalu memforsir diri. Tapi rupanya saya belum memahami pelajaran itu. Maka sekali lagi saya diberi pelajaran yang sama, namun dalam kadar yang lebih berat, agar mungkin kali ini saya benar-benar paham, agar tidak mengulangi kesalahan sebelumnya. 

Seminggu yang lalu, saya terbangun dari tidur dan merasakan tubuh yang seolah remuk. Badan rasanya sakit semua. Tetapi, yang terasa paling parah di bagian punggung dan dada sebelah kanan. Saya mencoba mengoleskan balsem di bagian yang sakit, berharap rasa sakit itu berkurang. Tapi sakitnya tetap terasa.

Sakit di bagian punggung dan dada itu masih juga terasa keesokan harinya, bahkan rasanya makin parah. Untuk bergerak sedikit saja, rasanya sakit sekali. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di bagian dada dan punggung. Ketika saya terbatuk atau bersin, rasanya sakit. Lama-lama, bahkan untuk menarik napas pun rasanya sakit. Apa yang terjadi, pikir saya dengan panik.

Kondisi itu seharusnya membawa saya ke dokter untuk memeriksakan diri. Tapi saya mikir-mikir untuk melakukannya. Jika ke dokter, pikir saya, maka dokter tidak hanya akan memeriksa kondisi saya, tapi juga akan meresepkan obat atau pil yang harus saya minum. Itu yang paling saya khawatirkan. Pertama, saya tidak bisa menelan pil. Kedua, setiap hari, saya sudah mengonsumsi 4 sampai 8 butir pil untuk meredakan sakit kepala yang sering saya alami. Saya tidak mau menambah konsumsi pil lagi. Timbunan bahan kimia di tubuh saya sudah terlalu banyak.

Akhirnya, sambil menahan rasa sakit yang makin parah, saya memutuskan untuk pijat saja. Saya punya tukang pijat langganan, yang rumahnya tidak jauh dari rumah nyokap. Setiap kali habis dipijat orang itu, saya selalu merasa badan sangat enak, persis seperti kendaraan yang baru diservis.

Hari itu, sambil memijat badan saya yang terasa tak karuan, si tukang pijat memberitahu bahwa saya mengalami “salah urat”. Oh, well, salah urat mungkin terdengar tidak akademis. Tapi dia tukang pijat jempolan. Sebelum saya memberitahu apa yang saya rasakan, dia sudah tahu hanya dengan menyentuh sekilas punggung saya yang sakit. Dia juga memberitahu kenapa saya sampai bisa mengalami salah urat semacam itu. Dan sepertinya dia benar.

Biasanya, seusai dipijat, badan saya sudah terasa enak. Tapi hari itu tak terjadi. Bagian dada dan punggung yang sakit masih terasa sakit. “Ini memang agak berat, Mas,” ujar si tukang pijat. “Dibutuhkan beberapa hari untuk benar-benar sembuh dari sakitnya.”

Jadi begitulah. Sampai hari ini, sakit di dada dan punggung itu masih terasa, meski sudah tidak separah sebelumnya. Si tukang pijat, yang telah mengenal saya sejak kecil—karena dulu kami bertetangga—berpesan, “Kalau bisa, beberapa hari mendatang banyak istirahat dulu, biar badan punya kesempatan memperbaiki diri.”

Itulah yang sekarang saya lakukan—beristirahat, memberi waktu bagi tubuh untuk memperbaiki diri. Tubuh manusia, sebenarnya, jauh lebih hebat dari mesin apa pun yang bisa diciptakan manusia. Tetapi, sehebat apa pun, tubuh tetap butuh istirahat, butuh waktu memperbarui diri, dan terkadang juga perlu kesempatan memperbaiki diri jika ada yang tidak beres. Istirahat, meski mungkin terdengar remeh, sesungguhnya sangat dibutuhkan.

Sepertinya saya harus mulai akrab dengan istilah itu—istirahat.

Sekarang, sambil menulis catatan ini, saya teringat ucapan Jonah, sohib saya, beberapa bulan yang lalu, “Da’, kamu ngerasa nggak sih, mukamu sekarang lebih sering kelihatan tegang. Kayaknya kamu kurang tersenyum.”

Waktu itu saya tidak terlalu menghiraukan ucapan itu. Tetapi, sekarang, saya pikir Jonah benar—saya memang telah lama kurang tersenyum. Jika diingat-ingat, rasanya sudah lama sekali saya bisa tersenyum dan tertawa lepas. Tahun-tahun terakhir ini lebih banyak diisi stres, deadline, tuntutan pekerjaan, dan berbagai masalah yang menguras pikiran. Sudah lama saya tak tersenyum. Sudah lama saya tak bersantai.

“Cobalah cari pacar,” ujar Jonah waktu itu. “Kayaknya kamu butuh seseorang yang bisa membuatmu tersenyum.”

Kedengarannya indah, pikir saya. Tetapi, jika diingat-ingat, saya bukan lelaki yang bisa berpacaran dengan baik. Seumur-umur, saya cuma dua kali pacaran—itu pun sudah lama sekali—dan dua-duanya rusak karena pacar saya merasa “tidak dipedulikan”, dan mereka menuduh saya “lebih sibuk dengan pekerjaan”. Dua hubungan yang gagal itu telah memberi pelajaran bahwa saya mungkin tidak usah pacaran, karena hanya akan menyakiti perasaan pacar saya.

Meski mungkin terdengar aneh, tapi saya benar-benar sudah lupa rasanya punya pacar. Saya sudah lupa rasanya pacaran, sebagaimana saya lupa rasanya tertawa lepas, rasanya bersantai, rasanya hidup tanpa beban masalah.

Hidup yang aneh, pikir saya. Rasanya baru kemarin saya menjalani masa kanak-kanak, rasanya baru kemarin saya menikmati hari-hari bebas sebagai bocah yang bisa tertawa lepas, dan sekarang, tiba-tiba, saya telah menjadi manusia dewasa dengan segala masalah hidup, tuntutan stres, tumpukan kerja, dan lingkaran kesibukan yang melemparkan saya dalam keterasingan.

Tiba-tiba saya menyadari betapa banyaknya hal biasa yang kini telah menjadi asing bagi saya—seperti istirahat, bersantai, tersenyum, tertawa, atau punya pacar.

Mungkin memang ada yang salah dengan hidup saya. Entahlah. Yang jelas, kini saya memang harus beristirahat, untuk memulihkan kondisi tubuh yang sedang sakit, untuk kembali menjernihkan pikiran, untuk kembali menata hari-hari yang akan datang. Dan, siapa tahu, juga untuk menemukan seorang pacar. Untuk belajar kembali menjadi manusia normal.

Noffret’s Note: Yahudi

Sekarang, duit 50 ribu cuma dapat 3 bungkus rokok.
Sepuluh tahun mendatang, duit segitu
mungkin cuma dapat tusuk gigi.
—Twitter, 19 Juli 2013

Inflasi terjadi karena konspirasi Yahudi. Ini serius.
—Twitter, 19 Juli 2013

Inflasi terjadi karena bank membuat uang dari kehampaan,
sehingga jumlah uang melebihi barang yang tersedia.
Maka logis jika harga naik.
—Twitter, 19 Juli 2013

Bank-bank di negara mana pun mengikuti aturan
bank dunia. Bank dunia dimiliki, bahkan diciptakan,
oleh sekelompok Yahudi.
—Twitter, 19 Juli 2013

Kebanyakan orang mengira, uang dibuat oleh negara.
Tidak, uang dibuat oleh bank, yang terlepas dari negara.
—Twitter, 19 Juli 2013

Kenapa bank-bank menciptakan uang lebih banyak?
Karena itu menguntungkan mereka, sebagai pengendali uang,
meski akibatnya inflasi terjadi.
—Twitter, 19 Juli 2013

Inflasi sengaja diciptakan, agar negara di mana pun kolaps,
kemudian bergantung pada Bank Dunia dan IMF.
Keduanya dikendalikan Yahudi.
—Twitter, 19 Juli 2013

Untuk setiap negara yang butuh bantuan karena inflasi,
Bank Dunia dan IMF mau membantu, tapi tidak gratis.
Mereka menentukan sejumlah syarat.
—Twitter, 19 Juli 2013

Semakin besar bantuan (utang) yang diberikan,
persyaratan IMF dan Bank Dunia semakin rumit.
Dan syaratnya dibuat oleh sekelompok Yahudi.
—Twitter, 19 Juli 2013

Begitulah cara pengaruh Yahudi masuk
ke negara mana pun, melalui jalan jerat utang akibat inflasi
yang mereka ciptakan. Termasuk Indonesia.
—Twitter, 19 Juli 2013

Sekarang, setiap anak Indonesia yang baru lahir
ikut menanggung utang negara. Mungkin kita tidak sadar,
tapi utang selalu menuntut bayar.
—Twitter, 19 Juli 2013

Dan utang-utang itu kian membesar, karena bertambah,
juga karena inflasi. Artinya, semakin tahun, utang kita
pada Yahudi semakin besar.
—Twitter, 19 Juli 2013

Di sinilah ironisnya. Kita mengutuk Yahudi,
meneriakkan konspirasi mereka, tapi kita hidup
di bawah bayang-bayang uang dan kuasa mereka.
—Twitter, 19 Juli 2013

Yahudi terlalu cerdas untuk membalas kita dengan kekerasan.
Mereka membalas kebencian kita, tapi diam-diam,
dengan cara yang lebih mematikan.
—Twitter, 19 Juli 2013

Konspirasi Yahudi, atau zionis Israel, itu memang benar ada.
Dan konspirasi itu telah, sedang, juga terus bekerja.
Diam-diam, tanpa teriak.
—Twitter, 19 Juli 2013

Tanpa kita sadari, setiap hari kita sedang dijajah
dan diperas Yahudi. Dan penjajahan yang paling
mematikan ada di bank, ada pada uang kita.
—Twitter, 19 Juli 2013

Kita masukkan uang ke bank, dan kita menyebutnya
menabung. Kita senang, karena dapat bunga.
Kelihatannya kita untung, tapi sebenarnya rugi.
—Twitter, 19 Juli 2013

Semakin hari, uang kita mungkin tampak bertambah.
Itu hanya ada di atas kertas. Dalam realitas,
uang kita terus berkurang. Karena inflasi.
—Twitter, 19 Juli 2013

Jika dulu menabung membuat kita kaya, sekarang
menabung membuat kita miskin. Mungkin kita tidak sadar,
tapi begitulah yang terjadi.
—Twitter, 19 Juli 2013

Tak peduli sebesar apa pun bunga yang kita peroleh
dari bank atas pokok tabungan kita, inflasi
yang lebih besar terus menggerusnya.
—Twitter, 19 Juli 2013

Makin tahun, pergerakan inflasi semakin cepat,
dan terus membesar. Karena bank terus menciptakan
uang dari kehampaan. Kita makin miskin.
—Twitter, 19 Juli 2013

Kelak, akan tiba suatu masa ketika negara-negara kolaps,
dan Bank Dunia serta IMF berkuasa. Ketika itu terjadi,
dunia pun milik Yahudi.
—Twitter, 19 Juli 2013

Karena itulah, jika sekarang duit 50 ribu cuma bisa
dapat 3 bungkus rokok, sepuluh tahun mendatang
mungkin cuma bisa dapat tusuk gigi.
—Twitter, 19 Juli 2013

Omong-omong, Black Menthol ini keras sekali menthol-nya.
—Twitter, 19 Juli 2013


*) Ditranskrip dari timeline @noffret

Ayu Adine

“Belum tentu. Sering kali malah ayu mbakyune.”

“Tapi kata pantat truk...”

“Ilmiah sekali! Pantat truk dijadikan referensi!”

Jumat, 01 November 2013

Menemukan Gaya Menulis (5)

Topik yang dibahas dalam posting ini sangat berkaitan dengan post sebelumnya. Karenanya, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, bacalah rangkaian posting ini secara berurutan dari awal. Mulailah membaca rangkaian posting ini dari sini.

***

Sebagai introver, saya memang kadang kesulitan beramah-tamah dengan orang lain di acara-acara sosial yang penuh basa-basi. Tapi saya bisa berbicara di depan forum yang dihadiri ratusan orang, dan saya bisa berbicara berjam-jam, tanpa membuat audiens bosan. Buktinya, setiap kali sesi tanya-jawab dibuka, audiens nyaris tak pernah berhenti mengajukan pertanyaan, dan dialog itu bisa berlangsung lagi sampai berjam-jam, seolah kami semua tak ingin pulang.

Waktu itu, saya punya kebiasaan khas—menjelaskan topik-topik berat dengan cara yang mudah dipahami, dengan bahasa sederhana, bahkan dengan gaya nakal yang kadang mengundang tawa spontan. Dan mereka tak pernah bosan mendengarkan saya berbicara.

Bagaimana itu bisa terjadi? Karena saya berbicara tanpa teks. Ketika berbicara di hadapan audiens, saya benar-benar tidak membawa apa pun—selain rokok dan korek api. Semua materi yang akan saya sampaikan sudah terkumpul di kepala, dan saya tinggal memuncratkannya. Lalu semuanya mengalir tanpa basa-basi, dan saya “memuntahkan” apa pun yang ada di kepala dengan segenap ekspresi, penuh penghayatan, seperti aktor di atas panggung. Hasilnya, audiens terpukau—bukan hanya karena materi yang saya sampaikan, tetapi juga karena cara saya menyampaikannya.

Sampai kemudian, suatu hari, saya frustrasi melihat majalah kampus yang saya anggap mengecewakan. Kampus saya punya majalah yang diurusi para mahasiswa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Pers, sebagaimana umumnya kampus-kampus lain. Saya tidak puas dengan majalah itu. Tapi saya tidak bisa apa-apa, karena saya bukan anggota UKM Pers, dan saya juga malas mengirim tulisan ke majalah itu, selama isinya masih mengecewakan.

Majalah itu terbit setengah tahun sekali, dan para mahasiswa diwajibkan membeli dengan harga Rp. 5.000,- Majalah itu berisi tulisan-tulisan membosankan ala mahasiswa idealis, yang sangat tidak menarik dibaca. Bahkan saya yang suka membaca pun tak punya minat membaca majalah itu. Judul-judul artikelnya bertipe, “Ketika Mahasiswa Kehilangan Idealisme dan Bla-bla-bla”.

Tetapi majalah itu harus dibeli semua mahasiswa, tidak bisa tidak. Setiap semester, pada waktu mahasiswa melakukan pembayaran semesteran, biaya majalah itu secara otomatis ikut dibebankan.

Jadi, ada dua hal yang mengusik perasaan saya waktu itu. Satu, majalah itu buruk, tidak menarik. Dua, semua mahasiswa dipaksa membeli majalah itu, tidak bisa tidak. Semula, pemaksaan pembelian majalah itu sudah didemo mahasiswa yang dipimpin bocah ini (dia teman sekampus saya dulu). Tetapi, demo itu tidak terlalu memberi efek yang besar—majalah itu tetap terbit, tetap saja buruk, dan mahasiswa tetap dipaksa membeli.  

Akhirnya, saya menemukan ide—yang mungkin—cemerlang, sekaligus elegan. Saya membuat majalah tandingan. Majalah itu saya buat sendiri, semua materinya saya tulis sendiri, dan dalam proses pembuatan majalah itulah—tanpa saya sadari—saya mulai menemukan gaya menulis yang khas, yang kemudian membentuk karakter tulisan saya di masa-masa selanjutnya.

Pada waktu mulai merumuskan materi yang akan ditulis dalam majalah itu, saya berpikir lama, mencari-cari bentuk tulisan yang sekiranya bisa disukai para pembaca. Karena majalah tandingan yang dibuat sendiri, saya jelas menghadapi tantangan yang tidak ringan. Majalah itu kelak akan saya cetak dengan biaya sendiri, dan akan saya jual sendiri. Jika majalah itu tidak laku, maka saya akan rugi, capek, sekaligus tambah frustrasi.

Akhirnya, setelah berpikir dan mencari-cari formula yang tepat, saya menemukan ide yang saya anggap menarik. Saya akan menulis seperti gaya saya berbicara.

Waktu itu, saya pikir, jika orang-orang menyukai gaya berbicara saya, tentunya mereka juga akan suka jika membaca tulisan yang sama dengan gaya saya berbicara. Itu seperti memindahkan “atraksi” di podium ke lembar-lembar kertas. Oh, well, pikir saya waktu itu, mereka akan tetap terpukau, jika saya benar-benar bisa melakukannya—menulis dengan penuh ekspresi dan penghayatan, seperti ketika saya berbicara.

Jadi itulah yang kemudian saya lakukan. Setelah menentukan topik-topik yang ingin saya masukkan ke dalam majalah, saya pun mulai menulisnya, dan saya berusaha agar tulisan itu mengalir tepat seperti gaya saya berbicara—diksi yang digunakan, intonasinya, istilah-istilah yang biasa muncul ketika saya “ngoceh”, sampai gaya nakal yang kadang mengundang tawa. Tidak ada basa-basi atau gaya bertele-tele dan membosankan ala tulisan mahasiswa idealis.

Setelah memuntahkan semua yang ada di kepala dalam bentuk tulisan, saya memformatnya menjadi majalah dengan tebal 20-an halaman. Majalah itu saya beri nama SHI. (Sori, saya tidak bisa menyebutkan kepanjangan nama majalah itu, karena di dalamnya ada nama kampus saya).

Semua materi majalah itu saya tulis sendiri di komputer, dan di-print di kertas HVS ukuran biasa. Lalu saya fotokopi, dan dibuat seperti buku tulis yang distaples di bagian tengah. Sampulnya menggunakan kertas cokelat agak tebal. Tampilannya sangat sederhana. Ongkos produksinya waktu itu hanya Rp. 2.000. Saya jual seharga Rp. 3.000. Di bagian belakang majalah itu saya beri tagline, “Jika kamu tidak puas dengan isi majalah ini, garansi pengembalian uang 100%.”

Ketika terbit, majalah itu segera laku keras, dan menjadi bahan pembicaraan semua orang—dari para mahasiswa sampai para dosen dan pegawai akademik. Melihat antusiasme pembaca, saya pun membuat majalah itu terbit sebulan sekali. Selama berbulan-bulan kemudian, ribuan orang membeli edisi demi edisi majalah yang saya buat, ribuan eksemplar terus terjual, dan distribusinya sampai mengalir ke kampus-kampus lain.

Setiap kali terbit, majalah itu bikin geger karena topik-topik yang saya bahas, dan mereka terus menunggu-nunggu edisi selanjutnya. Nailal Fahmi, bocah Bekasi yang sekarang juga menjadi penulis, adalah salah satu saksi hidup yang menyaksikan kegemparan yang ditimbulkan majalah SHI. Dia sekampus dengan saya waktu itu.

(Oh, well, kalian mungkin penasaran dan bertanya-tanya topik apa saya bahas dalam majalah, hingga efeknya bisa seperti itu. Kelak akan saya ceritakan di catatan lain, agar posting ini tidak keluar dari konteks pembahasan).

Sekarang, jika mengingat kembali saat-saat itu, saya menyadari bahwa majalah SHI tampil sangat sederhana, dan semua orang tahu itu majalah fotokopian. Tapi mengapa mereka mau mengeluarkan uang untuk membelinya, dan tak pernah bosan membacanya? Tentu saja bukan karena tampilan majalahnya, tapi karena isinya! Mereka menyukai tulisan-tulisan di dalamnya—tulisan-tulisan yang saya buat persis seperti gaya saya berbicara!

Ketika menyadari kenyataan itu, saya pun mulai melihat bahwa salah satu daya tarik tulisan saya adalah gaya yang saya gunakan. Materi yang hebat bisa membosankan jika gaya tulisannya buruk. Sebaliknya, materi yang sederhana bisa asyik dinikmati jika gaya tulisannya menarik. Dari situlah kemudian saya terus mengembangkan, memperbaiki, menyempurnakan, dan terus mengeksplorasi gaya menulis saya, hingga seperti yang kalian kenal sekarang.

Gaya tulisan yang sedang kalian baca ini, adalah hasil proses bertahun-tahun—pembelajaran tanpa henti, perbaikan tanpa henti, penyempurnaan tanpa henti. Jika kalian menilai tulisan saya enak dibaca dan asyik, setidaknya salah satu tujuan saya menulis telah tercapai. Mungkin gaya menulis saya belum sempurna—dan memang tak akan pernah sempurna—karena menulis adalah perjalanan proses, suatu proses yang tak pernah berhenti.

Sebagai penutup catatan panjang ini, mari kita simpulkan.

Untuk bisa memiliki gaya menulis yang khas, unik, dan berkarakter, kita membutuhkan tiga hal. Pertama, wawasan dan pengetahuan yang luas. Kedua, keterampilan menulis yang terus terasah. Ketiga, kemampuan memasukkan kepribadian kita ke dalam tulisan, atau menjadi diri sendiri. Poin terakhir itulah yang paling penting—menjadi diri sendiri. Menulis adalah proses untuk menjadi.

Dan proses itu tak pernah selesai.

Menemukan Gaya Menulis (4)

Topik yang dibahas dalam posting ini sangat berkaitan dengan post sebelum dan sesudahnya. Karenanya, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, bacalah rangkaian posting ini secara berurutan dari awal. Mulailah membaca rangkaian posting ini dari sini.

***

Kenyataan itu tak jauh beda dengan yang terjadi di dunia musik. Kalau kita tergila-gila pada gaya musik Dream Theatre, misalnya, maka mau tidak mau—tidak bisa tidak—gaya Dream Theatre akan ikut masuk ke dalam musik yang kita ciptakan. Karya seorang seniman akan dipengaruhi oleh seniman lainnya. Itu sunnatullah, hukum alam, yang terjadi di semua bidang. Semakin luas wawasan musik kita, semakin kaya pula gaya bermusik yang bisa kita ciptakan.

Apa artinya itu? Dalam konteks menulis, sekali lagi, penulis dibentuk oleh buku-buku yang dibacanya. Buku-buku yang kita baca tidak hanya memberi wawasan dan pengetahuan yang luas, tetapi juga ikut mempengaruhi gaya menulis kita. Semakin banyak buku yang kita baca, tidak hanya semakin luas wawasan yang kita dapatkan, tetapi semakin kaya pula teknik penulisan yang kita kenal. Pada akhirnya, jika kita tak berhenti belajar dan terus mengeksplorasi diri, semua itu akan membentuk karakter tulisan kita sendiri.

Jadi, sekali lagi, inilah syarat pertama untuk bisa memiliki gaya menulis yang khas dan berkarakter—wawasan yang luas dan dalam, yang ditunjang banyaknya buku yang kita baca. Itu pula, sebenarnya, syarat utama untuk bisa menulis dengan baik. Sebelum belajar teknik menulis dan lainnya, seseorang harus banyak membaca terlebih dulu jika ingin menjadi penulis.

Syarat kedua, adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis dibutuhkan, agar kita tahu bagaimana merangkai kalimat yang baik, bagaimana memilih diksi yang tepat, bagaimana menghindari istilah atau kata-kata klise, bagaimana menjauhi gaya yang sudah usang, sehingga tulisan kita tidak membosankan. Untuk hal ini, kita bisa belajar dari buku-buku kepenulisan yang banyak beredar di toko-toko buku, atau ikut pelatihan menulis, atau semacamnya.

Dalam hal ini, kalau boleh memberi saran, bacalah buku-buku teori menulis yang ditulis orang yang benar-benar bisa menulis. Begitu pula jika ikut pelatihan atau sekolah menulis, ikutilah pelatihan yang diajar orang yang benar-benar bisa menulis. Kalau kita ingin belajar berenang dengan baik, kita harus memastikan guru renang kita benar-benar bisa berenang dengan baik. Karena, jika tidak, teori yang diberikannya bisa berbahaya. Alih-alih pintar berenang, kita justru bisa mati tenggelam. Begitu pun dengan belajar menulis.

Jika kita telah mengumpulkan banyak wawasan dari ratusan hingga ribuan buku yang kita baca, juga rajin belajar untuk terus mengasah keterampilan menulis kita, maka syarat ketiga untuk bisa memiliki gaya menulis yang khas adalah membungkus semua itu dengan karakter kita sendiri.

Nah, untuk bagian inilah saya kesulitan mengajarkannya, karena ini sangat berkaitan dengan pribadi masing-masing, orang per orang. Bahkan, pada akhirnya, gaya menulis seseorang akan sangat berkaitan dengan kepribadian orang bersangkutan, dan dari situlah karakter yang sangat khas dan unik mulai muncul dalam tulisan. Sebuah karakter yang sangat menonjol, unik, sulit ditiru, bahkan sulit ditandingi.

Dalam hal ini, mungkin saya hanya bisa menceritakan kisah saya sendiri, perjalanan yang saya tempuh hingga bisa memiliki gaya menulis seperti yang sekarang kalian kenali. Kisah saya mungkin berbeda dengan kisah kalian—dan tentu saja begitu. Karenanya, dengan kisah berikut ini, kalian mungkin bisa bercermin dan mulai mencari jalan kalian sendiri untuk menemukan gaya menulis yang benar-benar mencerminkan diri sendiri.

Kisah ini dimulai ketika saya masih kuliah, dan dari sanalah gaya menulis saya mulai terbentuk, perlahan-lahan, bahkan nyaris tanpa saya sadari.

Sebelum aktif menulis seperti sekarang, saya lebih banyak berbicara di hadapan publik, karena sering diundang di acara-acara kemahasiswaan—di kampus sendiri, atau di kampus-kampus lain. Saya belajar public speaking secara otodidak dari buku-buku Dale Carnagie yang mengajarkan topik itu, dan tampaknya saya benar-benar bisa menjiwainya. Setiap kali saya berbicara di hadapan para mahasiswa, mereka… well, seperti terhipnotis.

Pada waktu-waktu itu, saya memperhatikan diam-diam, setiap kali saya mulai berbicara, mereka yang semula bisik-bisik semrawut mulai diam. Menyimak. Mendengarkan. Khusyuk. Semakin “memukau” saya berbicara, mereka semakin terpaku di tempat duduknya. Dan itu bisa berlangsung berjam-jam.

Lanjut ke sini.

Menemukan Gaya Menulis (3)

Topik yang dibahas dalam posting ini sangat berkaitan dengan post sebelum dan sesudahnya. Karenanya, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, bacalah rangkaian posting ini secara berurutan dari awal. Mulailah membaca rangkaian posting ini dari sini.

***

Baiklah, sekarang kita urai satu per satu agar tampak lebih mudah. Pertama, syarat untuk bisa memiliki gaya menulis yang khas adalah wawasan yang luas dan dalam. Artinya, sebelum yang lain-lain, kita harus banyak membaca, banyak membaca, dan banyak membaca. Semua penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Tidak ada satu orang pun bisa menulis dengan baik jika malas membaca.

Membaca, banyak membaca, bukan hanya akan menambah wawasan serta pengetahuan kita, tetapi juga—secara tanpa sadar—akan menunjukkan kepada kita cara menulis yang baik. Kadang-kadang kita membaca suatu buku dengan asyik tanpa kenal lelah atau bosan, meski kita telah membacanya berjam-jam. Di waktu lain, kita sudah merasa bosan dan lelah padahal baru membaca beberapa halaman. Apa artinya itu? Kita mulai mengenali cara menulis yang baik, yang menyenangkan pembaca, dari buku-buku yang kita baca.

Selain itu, penulis adalah produk bacaannya. Dalam menulis, apa yang kita masukkan, itu pula yang akan kita keluarkan. Kita tidak bisa memasukkan sampah dan berharap bisa memunculkan emas, karena menulis bukan proses sulap. Jika kita ingin bisa menulis dengan pengetahuan yang luas dan wawasan mendalam, maka kita pun harus membaca buku-buku yang mendukung ke arah itu.

Luasnya bacaan adalah modal sangat penting—bahkan mutlak—jika ingin melahirkan tulisan yang bernas, berwawasan, sekaligus dalam. Selain itu, membaca secara luas artinya membaca dari berbagai sudut pandang, bukan hanya dari satu perspektif yang sempit. Kata Thomas Aquinas, “Hati-hatilah dengan orang yang hanya membaca satu buku.”

Orang yang hanya membaca buku dari satu perspektif, tak peduli berapa pun banyak buku yang dibacanya, tetap saja “membaca satu buku”. Orang-orang semacam itu biasanya menjadi penulis yang fanatik, picik, berpikiran sempit, merasa diri paling benar, paling suci, dan cenderung mudah menyalahkan orang lain yang tak sepaham dengannya. Hasilnya, tulisan mereka dangkal sekaligus mentah. Itu bukan ciri tulisan yang baik, dan—tentu saja—bukan gaya menulis yang baik.

Jadi, inilah syarat pertama dan terutama untuk bisa menulis dengan baik, sekaligus memiliki gaya menulis yang baik, yaitu berwawasan. Wawasan yang luas dan dalam ditunjang oleh buku-buku yang kita baca. Selain itu, luasnya bacaan yang diserap seseorang juga akan ikut membentuk pribadinya, yang kemudian akan mengalir ke dalam tulisannya.

Jika saya introspeksi, dan mempelajari tulisan-tulisan saya sendiri, saya mengakui bahwa tulisan-tulisan saya dipengaruhi oleh banyak penulis yang buku-bukunya pernah saya baca dengan rakus—di antaranya Dale Carnegie. Kalian yang biasa membaca buku-buku Dale Carnegie mungkin akan mengenali adanya pengaruh dari penulis tersebut dalam tulisan-tulisan saya.

Dale Carnegie memiliki gaya menulis yang sangat khas. Mula-mula, ia menyodorkan cerita yang ditulis sangat menarik, sambil diam-diam menggiring pembaca ke dalam alur yang diinginkannya, kemudian “menjebak” pembaca ke dalam pemikiran yang ia sampaikan dengan argumentasi yang sulit dibantah. Gaya itu sangat melekat dalam tulisan-tulisan saya, bahkan tanpa saya sadari sebelumnya. Artinya, penulis dipengaruhi oleh penulis lain yang karyanya sering dibaca.

Dale Carnegie tidak pernah mengajarkan gaya menulis kepada saya, ia bahkan tidak mengenal saya. Tetapi, karena saya sangat rakus membaca tulisan-tulisannya, pengaruh gaya menulisnya tanpa sadar teradopsi ke dalam tulisan-tulisan saya. Karena saya juga rakus membaca karya-karya penulis lain, maka masing-masing gaya penulis itu pun ikut memberikan pengaruh ke dalam tulisan saya—dari gaya Kahlil Gibran yang sastrawi, sampai gaya Sidney Sheldon yang kadang penuh caci-maki.

Lanjut ke sini.

Menemukan Gaya Menulis (2)

Topik yang dibahas dalam posting ini sangat berkaitan dengan post sebelum dan sesudahnya. Karenanya, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, bacalah rangkaian posting ini secara berurutan dari awal. Mulailah membaca rangkaian posting ini dari sini.

***

Tulisan-tulisan Goenawan Mohamad, Emha Ainun Nadjib, dan A.S. Laksana, adalah beberapa contoh gaya menulis yang khas, unik, berkarakter kuat, sekaligus sulit ditiru. Nah, bagaimana cara menulis seperti mereka? Sejujurnya saya tidak tahu! Gaya menulis mereka adalah rahasia masing-masing mereka, dan cuma mereka yang bisa menjelaskannya.

Menemukan dan memiliki gaya menulis yang khas dan berkarakter, bagi saya, adalah puncak ilmu menulis. Itu jenis ilmu yang sulit diajarkan, karena harus dicari sendiri oleh masing-masing penulis dengan segenap kesungguhan, dengan cara mati-matian. Seorang penulis kadang butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menemukan gaya menulisnya sendiri yang khas, unik, tak tertandingi. Karenanya, sekali lagi, memiliki gaya menulis khas adalah puncak ilmu menulis.

Nah, setelah saya menjelaskan panjang lebar seperti di atas, orang yang bertanya biasanya akan manggut-manggut, lalu kembali bertanya, “Kalau begitu, bagaimana caranya agar bisa menulis seperti kamu?”

Jika saya dianggap memiliki gaya menulis yang khas, saya sangat bersyukur. Tetapi, tanpa bermaksud menyembunyikan ilmu, saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengajarkannya kepada orang lain. Gaya menulis yang saya gunakan sekarang—yang dikenali para pembaca—adalah hasil proses menulis bertahun-tahun. Tidak ada guru yang mengajarkan, tidak ada buku tutorial, dan benar-benar murni hasil eksplorasi, hingga kemudian membentuk suatu karakter tulisan yang unik dan dikenali secara khas.

Tentu saja saya belajar cara menulis yang baik dari para guru menulis, atau dari buku-buku kepenulisan yang saya baca. Tetapi untuk menemukan gaya menulis yang unik dan berkarakter, tidak ada satu buku dan tidak ada satu guru pun yang bisa mengajarkannya. Itu murni ilmu yang harus dicari dan ditemukan sendiri, melalui proses panjang yang kadang penuh frustrasi, hingga saya berani menyebut gaya menulis sebagai puncak ilmu kepenulisan.

Ehmm…

Jika kita mengamati tulisan-tulisan yang khas dan berkarakter, kita akan menemukan ciri yang sama—semua tulisan itu bernas, dalam, dan berwawasan. Tiga hal itu dibalut diksi yang tepat, kata-kata terpilih, kalimat yang cermat, dan tidak klise, sehingga enak dibaca. Itu ciri-ciri yang ada di hampir semua tulisan yang memiliki karakter kuat—tulisan yang selalu membuat kita tak ingin berhenti membacanya, yang bahkan kadang membuat kita kecanduan atau jatuh cinta diam-diam.

Mengapa saya jatuh cinta pada tulisan-tulisan Goenawan Mohamad, Emha Ainun Nadjib, dan A.S. Laksana? Karena tulisan mereka memiliki semua ciri di atas. Begitu pula latar kekaguman saya pada tulisan-tulisan Kahlil Gibran, Dale Carnegie, Napoleon Hill, atau Malcolm Gladwell. Di ranah fiksi, karya-karya Sidney Sheldon juga sangat berkarakter dan memiliki ciri khas yang sulit ditiru. Begitu pula karya-karya Christopher Buckley, J.K. Rowling (khususnya dalam serial Harry Potter), Dan Brown, Michael Chrichton—sebut lainnya.

Jadi, sekarang, kita telah melihat syarat penting untuk bisa memiliki gaya menulis yang khas dan berkarakter, yaitu ciri-ciri itu tadi. Dengan kata lain, ciri-ciri yang disebutkan di atas adalah prasyarat untuk bisa memiliki gaya menulis yang khas. Jika diringkas, gaya menulis yang khas dan berkarakter akan muncul setelah kita mampu memadukan wawasan yang luas dan dalam, dibalut keterampilan menulis, dan dibungkus karakter kita sendiri.

Kedengarannya sulit, eh?

Memang!

Itulah kenapa sejak awal saya sudah menyatakan dengan jujur bahwa saya tidak mampu mengajarkannya kepada orang lain, karena ini memang pelajaran yang harus ditempuh dan dilalui sendiri oleh masing-masing penulis.

Lanjut ke sini.

Menemukan Gaya Menulis (1)

Yang paling menyenangkan di dunia ini
adalah menjadi dirimu sendiri.
@noffret 


Pertanyaan yang paling sulit dijawab penulis, setidaknya bagi saya, adalah, “Bagaimana menemukan gaya menulis?” Kenyataannya, bagi saya pribadi, pelajaran paling sulit dalam menulis adalah menemukan gaya menulis. Karena itu pula, buku-buku kepenulisan dan sekolah-sekolah menulis jarang sekali—untuk tidak menyebut tidak pernah—mengajarkan cara menemukan gaya menulis.

Para penulis profesional mungkin bisa mengajarkan cara mencari dan mendapatkan ide menulis, cara menyusun kerangka karangan, cara menulis yang baik dan benar, dan lain-lain. Tapi jarang sekali saya menemukan pelajaran khusus tentang gaya menulis. Selama bertahun-tahun, saya membaca lebih dari seratus buku tentang teori menulis, dan nyaris tidak ada satu pun yang mengajarkan topik itu.

Kenyataannya hal ini memang sulit, dan mungkin memang sulit pula diuraikan dalam bentuk teori. Gaya menulis, sepertinya, adalah rahasia yang hanya ditemukan dan dimiliki orang-orang yang tidak pernah berhenti menulis, tidak berhenti mengeksplorasi dan memperbaiki diri, tidak pernah berhenti mencari gaya yang paling khas dalam menulis. Faktanya, hanya sedikit penulis yang memiliki gaya menulis dengan karakter sangat kuat.

Bagi saya sendiri, gaya menulis yang khas dan berkarakter adalah pencapaian puncak yang dapat dicapai seorang penulis. Karena sepertinya memang itulah hal paling sulit yang bisa diperoleh penulis. Bagi setiap penulis—yang benar-benar penulis—melahirkan buku bestseller mungkin bukan hal sulit, popularitas mudah didapat, dan produktivitas pun bisa dipacu. Tetapi gaya menulis… tidak setiap penulis mampu memilikinya.

Faktanya, sekali lagi, sangat sedikit penulis yang memiliki gaya menulis khas, sehingga pelajaran tentang gaya menulis pun sulit diajarkan—khususnya oleh mereka yang memang belum menemukan gaya menulisnya sendiri. Penulis yang tidak memiliki gaya menulis khas, tapi mengajarkan gaya menulis, tak jauh beda dengan orang yang tak bisa berenang tapi mengajarkan teknik gaya kupu-kupu. Hasilnya, si murid bisa mati tenggelam.

Karenanya, saya sering kebingungan setiap kali mendapat pertanyaan itu. Bagaimana cara menemukan gaya menulis? Bagaimana agar bisa memiliki gaya menulis yang khas? Bagaimana agar tulisan kita memiliki ciri dan karakter yang mudah dikenali? Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar mudah, tapi jawabannya sungguh susah, karena saya sendiri pun belum yakin telah memiliki gaya menulis yang khas.

Di Indonesia, hanya sedikit penulis yang memiliki gaya menulis khas dan berkarakter—setidaknya bagi saya. Dari yang sedikit itu, tiga orang yang sangat saya sukai gaya menulisnya adalah Goenawan Mohamad, A.S. Laksana, dan Emha Ainun Nadjib. Tiga orang itu memiliki gaya menulis sangat khas, dengan ciri dan karakter masing-masing yang unik, sekaligus sulit ditiru. Jika ingin tahu seperti apa yang disebut “gaya menulis yang berkarakter”, bacalah tulisan-tulisan ketiga orang itu.

Ketika menulis sesuatu, Goenawan Mohamad seperti koki yang sangat cerdik mencampurkan aneka bumbu rahasia, hingga hasil masakannya (tulisannya) benar-benar lezat saat dinikmati pembaca. Ia mencampurkan detail-detail fakta yang digali dari lapangan, direfleksikan dengan sejarah, dihiasi quote para tokoh, diperciki kata-kata sastrawi, dan ditulis dengan sentuhan seorang maestro. Hasilnya, saya dan ribuan orang lain benar-benar kecanduan tulisannya!

Emha Ainun Nadjib menggunakan cara tak jauh beda, dengan ciri khasnya yang unik. Dalam menulis, ia sering mengambil topik sosial budaya, merefleksikannya dengan ajaran agama tanpa menjadi dogmatis, kemudian menyampaikan pemikiran dan sudut pandangnya sendiri yang unik dan moderat, hingga pembaca—tanpa sadar—mengangguk-anggukkan kepala. Saya bersyukur Penerbit Kompas membukukan tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib yang terserak di mana-mana, hingga lebih mudah dinikmati.

A.S. Laksana juga memiliki cara yang khas dalam menyajikan tulisan—sebuah ramuan padat antara fakta, refleksi pikiran, kalimat bernas, sekaligus humor yang satir. Tulisannya pun selalu enak dibaca, karena mengalir lancar, seruwet apa pun topik yang dibahasnya. Saya tidak tahu apakah dia sengaja melucu atau tidak, tapi saya selalu cekikikan setiap kali membaca tulisannya. Itu sesuatu yang sulit ditiru—humor tersembunyi dalam tulisan yang serius.

Setiap Minggu, saya selalu membeli banyak koran, termasuk Jawa Pos, hanya untuk membaca tulisan A.S. Laksana yang muncul seminggu sekali. Jika suatu Minggu saya membuka koran Jawa Pos dan tidak menemukan tulisannya, saya pasti akan misuh-misuh!

Lanjut ke sini.

Bocah yang Menangisi Mbakyunya

Di sebuah stasiun kereta api, seorang bocah memeluk mbakyunya sambil berbisik parau, “Kenapa harus ke sana lagi, Mbak? Kenapa tidak di sini saja seterusnya? Jarak kita sekarang jauh lagi, dan aku merasa kehilangan. Aku sangat sedih...”

....
....

Tidak jauh dari tempat itu, saya ikut sedih. Bukan karena melepas kepergian seorang mbakyu, tapi karena menyadari tidak memiliki seorang mbakyu.

 
;