Kamis, 26 Desember 2013

Seringai Iblis di Wajah Malaikat

Di dunia yang dihuni banyak munafik,
aku lebih menghormati kesombongan yang jujur,
daripada rendah hati yang palsu.
@noffret


—Ini kisah tentang Joko Sutarto, pemilik blog Diptara.Com, sosok yang tampak baik dan terlihat seperti kawan, tapi diam-diam menusuk dari belakang.

Setiap kali membaca berita mengenai korupsi, pembunuhan, atau kejahatan lain, saya selalu berusaha mendapatkan foto pelaku kejahatan tersebut untuk melihat wajahnya. Jadi, umpama hari ini saya membaca si X ditangkap KPK karena korupsi sekian milyar, dan dalam berita itu tidak dimuat foto pelakunya, saya akan mencarinya sendiri, dan itu tidak sulit.

Ketertarikan saya pada wajah orang dilatarbelakangi dua hal. Satu, saya kadang sulit menghafal atau mengingat wajah orang (kadang juga namanya). Dengan sering mengamati wajah, saya berharap daya ingat saya dalam hal itu bisa lebih baik. Dua, karena saya sering terkejut ketika mendapati pelaku berbagai kejahatan ternyata memiliki wajah yang biasa-biasa saja, dalam arti tidak menunjukkan wajah seorang penjahat.

Berkali-kali saya mendapati hal semacam itu. Suatu waktu, saya membaca berita seorang bajingan yang melakukan pembunuhan kejam, kemudian saya “takjub” karena bajingan itu memiliki wajah yang “biasa-biasa saja”—sama sekali tidak menunjukkan dirinya menyimpan watak kejam.

Di lain waktu, saya membaca berita mengenai seseorang yang korupsi sekian milyar, dan kemudian mendapati pelakunya ternyata tampak alim, dengan senyum yang teduh, dan wajah yang bahkan tampak bijaksana. Oh, well, itu seperti seringai iblis di wajah malaikat. Tampak baik di depan manusia lain, tapi menyimpan sesuatu yang jahat.

Setelah mendapati kenyataan semacam itu ratusan kali, saya seperti diberitahu bahwa orang yang tampaknya baik dan berwajah ramah belum tentu begitu pula wataknya. Sebaliknya, orang yang wajahnya tampak menakutkan juga belum tentu seperti itu pula kepribadiannya. Wajah manusia seperti sampul buku, dan orang sering mengingatkan, “Jangan menilai buku dari sampulnya.”

Meski kita sering diingatkan agar tidak menilai orang lain dari wajah atau penampilannya, tapi kita justru sering bertindak sebaliknya. Ketika bertemu orang asing, hal pertama yang akan kita lihat adalah wajah atau penampilannya. Tentu saja wajar, karena tidak setiap kita bisa mengetahui watak atau kepribadian orang hanya dengan sekilas lihat. Karena itu pula, kebanyakan kita pun sering menyimpulkan seseorang dari wajah atau penampilannya.

Sayangnya, dalam hal ini, wajah dan penampilan kerap menipu. Sering kali, kita mudah tertarik pada orang-orang yang tampak cakep atau terlihat ramah, dan cenderung menjauh dari orang yang penampilannya tampak buruk atau berwajah murung.

Padahal, jika kita mau bertanya pada psikiater mana pun, atau membaca makalah-makalah yang membahas kejahatan psikopati, kita akan diberitahu bahwa sebagian besar psikopat paling mengerikan adalah orang yang wajahnya tampak menyenangkan, bahkan terkesan ramah, atau relatif tidak berbahaya.

Agatha Christie, pengarang novel-novel kriminal terkenal, menciptakan seorang tokoh bernama Miss Marple, yang muncul dalam banyak novel pembunuhan. Wanita ini digambarkan memiliki kemampuan membaca atau memahami wajah orang. Ketika bertemu seseorang, Miss Marple biasanya akan teringat pada wajah orang lain yang pernah dikenalnya, beserta perbuatan yang dilakukannya.

Umpama, bertahun-tahun sebelumnya ada orang yang melakukan pembunuhan terhadap tetangganya sendiri, Miss Marple akan mengingat hal itu. Bertahun-tahun kemudian, Miss Marple kadang mendapati ada orang lain yang memiliki wajah mirip pembunuh itu, dan dia biasanya akan berkata atau bergumam, “Wajahnya mengingatkanku pada wajah orang jahat itu.”

Ajaibnya, orang yang dinilai “mirip wajah orang jahat itu” terbukti melakukan pembunuhan yang tak jauh beda! Artinya, pola wajah bisa menyiratkan pola kepribadian pemiliknya.

Sampai di sini, mungkin kita bisa menyatakan, “Ah, itu kan novel! Kebetulan-kebetulan semacam itu sangat umum di dunia fiksi. Tapi sepertinya sangat berlebihan kalau kita menerapkannya di dunia nyata!”

Sejujurnya, saya sangat segan mengatakan ini, namun sekarang harus saya katakan, karena sangat berkaitan dengan catatan ini. Saya menghabiskan waktu sebelas tahun untuk belajar psikologi, hingga bisa dibilang pengetahuan terbesar yang ada di kepala saya adalah psikologi.

Selama sebelas tahun mempelajari psikologi, saya bertemu orang-orang yang memiliki kemampuan yang bisa dibilang tak masuk akal. Ada orang yang bisa mendeteksi apakah seseorang berkata bohong atau jujur, hanya dengan mendengarkan suaranya. Ada lagi yang bisa mengetahui seseorang menyimpan watak jahat atau tidak, hanya dengan melihat wajahnya.

Yang menakjubkan, sekian banyak eksperimen yang dilakukan untuk menguji hipotesis mereka menunjukkan kebenaran! Perkiraan dan penilaian yang mereka berikan dalam serangkaian uji coba terbukti akurat. Seseorang yang mereka nyatakan bohong akhirnya terbukti memang bohong, dan seseorang yang mereka vonis “berwatak jahat” akhirnya juga terbukti melakukan kejahatan. Mereka tidak kenal orang-orang tersebut, mereka hanya mendengar suara atau ucapannya, atau melihat wajahnya.

Bagaimana hal semacam itu bisa terjadi? Orang yang bertahun-tahun mempelajari psikologi tidak akan asing dengan kenyataan semacam itu, karena tumpukan makalah yang mereka baca bisa menjelaskannya secara ilmiah. Itu bukan jenis pengetahuan yang mengunakan jampi-jampi supranatural, semuanya murni menggunakan ilmu pengetahuan.

Karena itu, ketika membaca novel-novel Agatha Christie, saya tidak menilai kisah dalam novel itu mengada-ada, karena hal-hal semacam itu memang sering terjadi. Faktanya, Agatha Christie juga bukan sekadar novelis, ia juga pakar psikologi. Penjelasan-penjelasan yang diberikan dalam novelnya—yang umumnya dituturkan tokoh-tokoh ciptaannya—sesuai dengan yang diajarkan psikologi. Artinya, dia tidak asal tulis.

Well, saya menulis catatan ini, karena teringat pada kejadian dua tahun lalu. Suatu malam, dua tahun lalu, saya bercakap-cakap dengan seseorang di ruang belajarnya. Dia salah satu master dalam keahlian membaca wajah orang, dan saya pun mengakui kehebatannya dalam hal itu.

Malam itu, di ruang belajarnya, kami bermain-main dengan setumpuk wajah orang yang kami kumpulkan di layar monitor. Menggunakan mouse, saya menggerakkan dan memilih wajah tertentu, dan meminta dia untuk memberikan penilaiannya. Sebagian besar wajah yang kami kumpulkan adalah wajah-wajah orang yang saya kenal, hingga apa pun penilaian yang ia berikan dapat saya konfrontasi langsung—jika penilaiannya ternyata keliru.

Nah, saya menggerakkan dan memilih wajah satu per satu dengan mouse. Komputer memperbesar wajah itu di layar monitor. Kemudian dia akan menjelaskan kepribadian orang itu dengan suara perlahan-lahan, dengan kefasihan seorang profesional. Ajaibnya, dia bisa mendeskripsikan kepribadian orang-orang itu dengan ketepatan yang nyaris sempurna, padahal dia sama sekali tidak mengenal orang-orang itu.

Saya tahu penilaiannya memang benar, karena saya mengenal orang-orang yang wajahnya saya tunjukkan kepadanya. Jadi, ketika dia menyatakan, “Orang ini gampang marah, tapi juga mudah memaafkan—dia bukan tipe pendendam—dan bla-bla-bla,” maka saya akan mengingat karakter orang itu yang saya kenali, dan kenyataannya memang begitu. Deskripsi yang diberikannya tepat sebagaimana yang saya kenali dari orang tersebut.

Malam itu, saya menguji hingga 20-an wajah, yang semuanya bisa dideskripsikan olehnya secara akurat. Di bagian akhir, saya menampilkan sebuah wajah yang saya kenal sekilas. Saya tidak mengenal orang dalam foto itu secara langsung—saya tahu dia, dan dia tahu saya, hanya sebatas itu. Karenanya, saya juga tidak yakin bagaimana karakter atau kepribadian orang itu. Yang jelas, saya jaga jarak dengan orang tersebut, karena gayanya yang sok, dan sikapnya membuat tidak nyaman.

Ketika foto itu saya tunjukkan kepadanya, dia menatap ke layar monitor, memandangi foto yang telah diperbesar. Di layar monitor, foto orang itu tampak sedang tersenyum, dengan wajah yang seperti umumnya orang baik. Saya tidak memberi komentar atau sugesti apa pun, karena saya ingin mendengar penilaian murni darinya tanpa intervensi.

Setelah menatap wajah di monitor beberapa saat, dia menjelaskan deskripsi kepribadian orang itu, dan diam-diam saya mengingatnya. Di akhir penjelasan, dia berkata, “Di sekeliling kita, ada orang yang mengenakan topeng untuk menutupi kelebihannya, tapi ada pula yang mengenakan topeng untuk menutupi kekurangannya—atau kebusukannya.”

Dua tahun berlalu.

Selama dua tahun itu, tidak ada kejadian apa-apa. Orang itu—yang fotonya dibahas di atas—kadang saya lihat di beberapa tempat. Selama waktu-waktu itu, saya pun mulai mengenali kepribadiannya, meski kami tidak aktif berkomunikasi. Dia suka unjuk diri—muncul di mana-mana, bergaya rendah hati tapi palsu—dan saya terus mengamatinya.

Selama waktu-waktu itu pula, saya mendapati cirinya yang paling menonjol—pendengki dan munafik. Dia tipe orang bisa tersenyum di depanmu, tapi diam-diam menusuk dari belakang.

Mungkin dia tidak menyadari telah memperlihatkan sifatnya tersebut, dan orang-orang lain juga luput memperhatikan hal itu. Tapi saya telah menghabiskan waktu sebelas tahun untuk mempelajari psikologi manusia, dan cukup mudah bagi saya untuk memetakan mana kejujurannya dan mana kebohongannya, mana ketulusannya dan mana kemunafikannya. Dan dalam hal ini, saya lebih suka berteman dengan bajingan yang jujur, daripada berkawan dengan orang jahat yang tampak baik.

Sampai kemudian, sesuatu terjadi—dan membuktikan watak jahatnya. Belum lama, orang itu benar-benar menunjukkan aslinya—sosok jahat yang disembunyikan di balik wajahnya yang tampak baik. Dia melakukan suatu kejahatan yang ia pikir tidak akan diketahui orang lain, termasuk korbannya. Sebenarnya, saya pun mungkin tidak akan tahu kejahatan yang dilakukannya. Yang membuat saya tahu, kejahatan itu dilakukannya kepada saya!

Untuk memahami lebih lanjut soal ini, dan siapa orang yang saya maksud, silakan baca catatan-catatan berikut:
Yang ingin saya sampaikan melalui catatan ini, Kawan-kawan, berhati-hatilah dengan orang-orang yang tidak yakin kita kenal di sekeliling kita—khususnya di dunia maya.

Jangan terlalu berbaik sangka, pun jangan terlalu berburuk sangka. Yang tampak baik belum tentu baik pula isinya, yang tampak jahat juga belum tentu jahat pula dalamnya. Bisa jadi, seseorang yang baik tampak jahat karena sedang murung memikirkan sesuatu. Bisa jadi pula seseorang yang jahat tampak tersenyum ramah, padahal sedang menyunggingkan seringai iblis.

Baca lanjutannya: Iblis Dunia Maya

Yang Menjemput Lalap Api

Ada orang yang terlalu lama akrab dengan pujian palsu, hingga lupa caranya menyampaikan pujian tulus kepada sesamanya. Ada.

Ada orang yang terlalu lama menjadi munafik, hingga saat bersikap rendah hati pun sangat tampak kemunafikannya. Ada.

Ada orang yang terlalu bodoh hingga menganggap dirinya paling hebat, lalu sakit hati ketika mendapati orang lain lebih hebat darinya. Ada.

Ada orang yang terlalu tolol hingga menganggap dirinya paling pintar, lalu mendendam ketika melihat orang lain lebih pintar darinya. Ada.

Ada orang yang terlalu idiot hingga menganggap dirinya paling unggul, lalu berusaha menyerang orang lain yang lebih unggul darinya. Ada.

Dan itulah iblis berwujud manusia.

Sama seperti iblis yang menolak untuk rendah hati di hadapan Adam di surga, iblis berwujud manusia di sekeliling kita juga asing dengan rendah hati karena terlalu lama memuja diri sendiri.

Dan pemujaan paling rendah di muka bumi, kau tahu, adalah pemujaan terhadap diri sendiri.

Iblis semacam itu akan segera terlalap api.

Jumat, 20 Desember 2013

10 Buku Terbaik yang Saya Baca Sepanjang 2013

Apakah di surga ada toko buku? Kalau tidak ada,
aku jadi mikir-mikir kalau mau pergi ke sana.
@noffret


Buku adalah berkat bagi umat manusia. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana suramnya kehidupan yang harus dijalani manusia di planet ini kalau tidak ada buku. Benda itu tidak hanya menjadi teman di kala sendirian, tapi juga menjadi obor menyala yang menerangi kegelapan akal, guru dalam keheningan, penasihat yang tak pernah ribut-ribut, serta hiburan paling beradab.

Sejak Plato menulis di lembar papirus ribuan tahun lalu, hingga Google mendirikan perpustakaan digital abad ini, buku tetap menjadi teman paling setia bagi manusia beradab, makhluk yang mau menggunakan pikirannya. Dan hingga akhir zaman kelak, saya yakin buku akan tetap memegang peran penting dalam mengantarkan manusia menuju cahaya kesadaran.

Well, banyak buku bagus yang saya baca tahun ini. Kalau dihitung-hitung, totalnya ada 104 judul. Sebagian fiksi, sebagian nonfiksi. Sebagian buku Indonesia, sebagian buku luar negeri. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun saya ingin kembali berbagi pengalaman mengenai buku-buku yang saya anggap terbaik dari semua buku yang baca sepanjang tahun ini.

Daftar berikut tidak saya maksudkan sebagai rekomendasi, namun sebagai apresiasi saya—yang tentu bisa subjektif—atas buku-buku yang saya anggap bagus. Bagi kalian yang mungkin sudah menunggu-nunggu, berikut ini—saya tulis secara alfabetis berdasarkan nama penulisnya—10 buku yang saya anggap terbaik dari 104 buku yang saya baca sepanjang 2013. Silakan disimak.


Alexander George: Apa Kata Socrates?

Saya jatuh cinta pada buku ini, bahkan sebelum membacanya. Rasanya, mungkin, seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Merupakan terjemahan What Would Socrates Say?, buku ini merangkum tanya jawab yang sebelumnya ada di situs AskPhilosophers.org.

Bagi yang mungkin belum tahu, AskPhilosophers.org adalah situs filsafat populer. Situs itu menerima pertanyaan-pertanyaan dari para pembaca, dan akan menjawab setiap pertanyaan dengan perspektif filsafat. Berbeda dari yang mungkin kita bayangkan, jawaban-jawabannya mudah dipahami, bahkan oleh orang awam atau yang tidak kenal filsafat. Situs itu mengubah kesan rumit filsafat menjadi obrolan santai yang menyenangkan.

Nah, buku ini adalah kompilasi tanya jawab yang sebelumnya telah diposting di situs itu. Isinya macam-macam—tidak hanya menambah wawasan dan pengetahuan, tapi juga menghibur.

Beberapa pertanyaan yang menggelitik, di antaranya, “Jika tidak ada yang mencintai saya seumur hidup, dan jika saya tidak pernah menjalin hubungan cinta dengan seorang pun, apakah saya akan bisa menjalani kehidupan bahagia?”, “Dari mana kata-kata mendapatkan maknanya?”, hingga, “Apakah secara moral saya berkewajiban memberitahu pasangan, bahwa saya membayangkan orang lain saat sedang bersamanya?”

Membaca buku ini seperti menyelami isi kepala filsuf. Dari percikan pertanyaan yang kadang terdengar remeh, kita akan mendapat jawaban yang membuat takjub dan tercenung. Saya berharap AskPhilosophers.org kembali membukukan tanya jawab lain di situsnya, agar lebih luas menjangkau pembaca.


Andrew C. Hitchcock: The Synagogue of Satan


Ada 30-an buku teori konspirasi—semuanya membahas Yahudi—yang saya baca tahun ini, termasuk Illuminati: The Cult that Hijacked the World karya Henry Makow, The Holocaust Industry karya Norman Finkelstein, hingga New World Order karya Ralph Epperson. Dari 30-an buku itu, The Synagogue of Satan karya Andrew Hitchcock saya anggap yang terbaik.

Bertahun-tahun lalu, seorang bijak berkata pada para mahasiswanya, “Setiap kali kalian membaca buku teori konspirasi, selalu ingatlah untuk memetakan mana yang fakta, dan mana yang interpretasi penulisnya.”

Nasihat itu benar-benar saya ingat. Setiap kali membaca buku teori konspirasi, saya akan terus waspada untuk memilah mana yang benar-benar fakta, dan mana yang mungkin hanya interpretasi penulisnya. Teori konspirasi adalah wilayah abu-abu—antara fakta dan maya—dan di antara celah keduanya selalu ada kemungkinan bagi si penulis untuk memasukkan interpretasinya. Itu pula yang kemudian menjadi kekurangan klasik buku-buku teori konspirasi.

Setiap membaca buku teori konspirasi, saya selalu mendapati ciri khas yang sama. Si penulis menyodorkan fakta, memasukkan interpretasinya, kemudian menggiring pembaca untuk sampai pada kesimpulan yang diinginkannya. Akibatnya, teori konspirasi diam-diam menjadi teori indoktrinasi. Itu telah menjadi kesalahan klasik buku-buku teori konspirasi. Itu pula yang menjadikan teori konspirasi terkesan konyol bagi sebagian orang, meski sebagian lain mati-matian mempercayainya.

Nah, Andrew Hitchcock memperbarui teknik penulisan buku teori konspirasi. Dalam The Synagogue of Satan, dia tidak mengulang kesalahan para penulis lain, tapi murni hanya menyodorkan fakta yang ia tulis dengan runtut, sistematis, dan membiarkan pembaca untuk sampai pada kesimpulannya sendiri.

Sejujurnya, saya takjub membaca buku ini. The Synagogue of Satan adalah “album” perjalanan sekelompok Yahudi, yang dimulai pada 740 Masehi, hingga kemudian—perlahan namun pasti—membentuk sebuah imperium raksasa pada tahun 2000-an sekarang ini.

Sekali lagi, Andrew Hitchcock tidak memasukkan interpretasi atau menggiring pembaca untuk masuk pada kesimpulannya. Dia hanya menyodorkan fakta demi fakta, mirip kaleidoskop dari waktu ke waktu, sampai kemudian... bum! Pembaca akan menghadapi kenyataan yang amat mengerikan begitu selesai membaca tumpukan fakta yang ia sodorkan. Itulah kesimpulannya—sebentuk kesimpulan yang membuat saya tercengang dan terdiam lama setelah mengkhatamkan buku ini.

Jika kalian bertanya pada saya, maka inilah kesimpulannya: Ada sekelompok keparat Yahudi yang sedang berusaha menguasai dunia, dan memperbudak umat manusia. Mereka telah memulai perjuangan terkutuk itu sejak ratusan tahun lalu, dan sekarang mereka telah sekuat raksasa. Kalian boleh percaya juga boleh tertawa, tetapi—oh, sialan—itulah faktanya!


A. Zulvan Kurniawan: Tipuan Bloomberg

Michael Bloomberg adalah walikota New York yang menjabat tiga kali berturut-turut, berkat dukungan “tangan-tangan kuat” di Amerika. Tapi yang menjadikan namanya dikenal banyak orang, khususnya di Indonesia, bukan prestasinya sebagai walikota, melainkan karena uangnya. Oh, well, Michael Bloomberg telah menjadi semacam “orang suci” bagi sebagian orang.

Bloomberg mengalirkan banyak uangnya ke berbagai lembaga di banyak negara, demi “cita-cita luhur” membebaskan masyarakat dunia dari rokok dan tembakau. Sekadar ilustrasi, organisasi Muhammadiyah menerima sumbangan Bloomberg sebesar 3,6 miliar pada 2010 demi mengeluarkan fatwa haram merokok. Sementara LSM antikorupsi Indonesian Corruption Watch (ICW) menerima kucuran dana Bloomberg sebesar 427,418 juta rupiah, demi “mengonsolidasikan kampanye antitembakau untuk memulai perubahan fundamental pada aturan soal tembakau di Indonesia”.

Karena aliran uangnya, juga karena aktivitasnya dalam kampanye antirokok, Bloomberg pun segera dikenal sebagai filantropi yang dihormati. Tetapi bagaimana jika kesan filantropis itu hanya topeng yang digunakannya, untuk menutupi sosok kapitalis yang menjadi jati dirinya?

Buku ini mengungkapkan bagaimana hubungan Bloomberg dengan beberapa kapitalis berpengaruh dunia, seperti Rockefeller, Ford, Carnegie, Morgan, dan lainnya. Paparan dalam buku ini akan menunjukkan kepada kita bahwa Michael Bloomberg bukanlah sosok yang bebas-kepentingan, tetapi sarat-kepentingan.

Sebagaimana para kapitalis lain, aktivitas “filantropis” Bloomberg hanyalah topeng untuk menutupi tujuan aslinya, yakni mengeruk uang dan keuntungan sebanyak-banyaknya. Karenanya, subjudul buku ini adalah Mengungkap Sosok Agen Industri Farmasi di Balik Filantropi Kampanye Anti Rokok.

Umpama permainan catur, aliran uang yang sangat banyak dari Bloomberg hanyalah gerakan pion menuju arena perang. Kampanye antirokok yang ia gembar-gemborkan sebenarnya mengincar sesuatu yang lebih besar, yang mungkin tidak kita sadari. Setelah pion-pion bertumbangan, dan kita kehilangan waspada, ia akan maju menggerakkan bidak yang telah disembunyikannya... mengejutkan kita dengan skak-mat!


Dan Brown: Inferno

Setelah Sidney Sheldon meninggal dunia, saya sudah pesimis untuk bisa menikmati novel suspense yang benar-benar memuaskan. Sheldon adalah pencerita kelas satu yang mampu membuat pembaca duduk diam tak bergerak, dan terus tenggelam dalam kisah yang dituturkannya—tegang, memukau, membuat penasaran, tokoh-tokoh dengan karakter unik, alur rumit yang saling membelit, dengan akhir kisah tak terduga. Dia benar-benar tahu cara membuat pembaca mengalami ledakan orgasme di kepala.

Sampai kemudian muncul Dan Brown. Ia seperti pengganti sempurna setelah wafatnya Sidney Sheldon, dan saya pun langsung jatuh cinta pada karya-karyanya. Dalam biografinya, Dan Brown mengakui bahwa ide penulisan novel-novelnya memang terilhami oleh novel Shidney Sheldon.

Meski kebanyakan pembaca di Indonesia mungkin baru mengenal Dan Brown setelah gegernya DaVinci Code, tapi dua novel Brown sebelum itu tak kalah mengasyikkan—Digital Fortress dan Deception Point—meski keduanya tidak bercerita tentang Robert Langdon.

Dua novel itu benar-benar membakar adrenalin pembaca, dengan alur kisah sangat cepat, dan plot yang terus mengejutkan—tak jauh beda dengan kisah-kisah ala Sidney Sheldon. Sewaktu membaca dua novel tebal itu, saya benar-benar tidak melakukan apa pun, karena sangat “terikat” dengan kisah di dalamnya. Tapi “keberuntungan” Dan Brown memang pada DaVinci Code, yang membuat namanya dikenal lebih luas, akibat kontroversi kisah di dalamnya.

Tahun ini, Dan Brown kembali menghadirkan Robert Langdon dalam petualangan terbarunya, Inferno. Sama seperti kisah-kisah sebelumnya, Dan Brown kembali melemparkan Robert Langdon dalam petualangan penuh ketegangan, memecahkan teka teki kode rumit, sambil terus berkejaran dengan waktu. Seperti novelnya yang lain, novel ini pun membuat saya jatuh cinta.

Karena beberapa kelemahan di dalamnya, para kritikus sempat membantai Inferno dengan celoteh mereka yang tajam. Jake Kerridge dari Telegraph, misalnya, menyebut Inferno sebagai karya yang “terburuk dan menyedihkan, akibat ambisi penulisnya melebihi kemampuannya.”

Di koran Daily Mail, AN. Wilson menyatakan kisah dalam Inferno “datar-datar saja”, karena “sama dengan The DaVinci Code, hanya berkisar tentang pencarian panjang.” Sementara koran Metro terbitan London berkomentar dengan sinis, “Pemahaman Brown mengenai kata sifat tidak akan membuatnya meraih Pulitzer.”

Oh, well, Tuan-tuan Kritikus. Kalian boleh ngoceh apa saja tentang Inferno, dan saya akan mendengarkan. Tapi saya cinta novel Dan Brown... dan persetan dengan kalian.


Elza Syarief: Menuntaskan Sengketa Tanah

Kalian mungkin heran, mendapati buku teks bisa masuk daftar ini. So, biar saya jelaskan latar belakangnya.

Satu tahun terakhir, untuk suatu keperluan, saya melakukan riset seputar masalah pertanahan. Untuk tujuan itu, saya harus mengumpulkan berbagai literatur yang mendukung, dan saya menghadapi masalah yang sebelumnya tak terbayangkan. Ketika mencari buku-buku yang membahas masalah tanah, sulitnya luar biasa. Kebanyakan buku yang saya dapatkan adalah buku teks yang umumnya hanya beredar di lingkungan kampus.

Langkanya buku yang membahas masalah tanah—khususnya dalam bahasa populer—adalah ironi, karena konflik dan sengketa tanah di Indonesia bisa dibilang terus meningkat dari tahun ke tahun, menimpa banyak masyarakat di berbagai lapisan, sementara literatur penunjangnya sangat tidak memadai. Akibatnya, masyarakat sering kesulitan ketika menghadapi masalah ini, sekaligus sulit mengakses informasi yang mungkin mereka butuhkan untuk lebih bisa memahami masalah yang mereka hadapi.

Buku karya Elza Syarief ini bisa dibilang satu di antara sedikit buku yang membahas persoalan tanah, yang bisa ditemukan di toko buku. Buku ini merupakan disertasi penulisnya, sehingga gaya penulisannya tidak bisa dibilang populer. Meski begitu, isi buku ini cukup mudah dipahami masyarakat awam, karena disertai contoh atau ilustrasi kasus dalam banyak penjelasannya.

Selain membahas berbagai persoalan seputar konflik tanah, buku ini juga membahas perjalanan panjang hukum pertanahan (agraria) sejak zaman prakemerdekaan sampai masa kini—dengan segala carut-marutnya—serta menawarkan solusi untuk berbagai kasus yang terjadi.

Di antara buku-buku lain yang membahas persoalan tanah yang bisa saya temukan, buku ini bisa dibilang paling komprehensif. Bagi masyarakat luas yang mungkin masih awam mengenai masalah tanah, dan ingin memahami serta mendalami, buku ini bisa dijadikan pilihan.


Hyphatia Cneajna: Dracula

Apa perbedaan Rambo dan Dracula? Rambo adalah sosok fiktif yang dibuat seolah-olah ada, sedang Dracula adalah sosok yang benar-benar ada tapi dibuat seolah fiktif. Barat, dalam hal ini Amerika, perlu menciptakan sosok Rambo untuk menutupi rasa malu mereka akibat kekalahan dalam perang Vietnam. Barat pula, karena tendensi sejarah, yang sengaja mengaburkan sosok Dracula hingga keberadaannya dianggap fiktif. Atau mitos.

Dracula bukan hanya sekadar tokoh rekaan yang dipopulerkan Bram Stoker lewat novelnya. Ia sosok yang benar-benar ada, tapi sengaja dikaburkan agar orang-orang menganggapnya bagian dari fiksi. Fakta bahwa sebagian kita sekarang menganggap Dracula hanya ada di dunia fiktif adalah bukti betapa sebagian pihak bisa mengendalikan—bahkan memanipulasi—pengetahuan bagi pihak lainnya. Itulah yang disebut rezim pengetahuan.

Buku ini mengungkapkan siapa sebenarnya sosok yang disebut Dracula, sejak kelahiran sampai kematiannya, serta peran yang ia mainkan dalam sejarah. Pemaparan mengenai sepak terjang Dracula dalam buku ini membuat pembaca bergidik ngeri akibat kekejaman dan kebuasannya yang sulit dinalar akal sehat. Kegilaan Dracula mungkin hanya bisa disamai Caligula, yang sama-sama “tidak waras”.

Buku ini tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga menjadi salah satu bukti bahwa pengetahuan yang kita miliki dan percayai sekarang tidak terjamin “bebas polusi”. Ketika suatu pihak bisa melakukan distorsi bahkan memanipulasi suatu pengetahuan, saat itu pula ilmu pengetahuan tidak lagi murni. Dan, omong-omong, itulah yang sekarang terjadi.


Malcolm Gladwell: Blink

Malcolm Gladwell dijuluki “Pemikir Paling Berpengaruh di Dunia”, dan julukan itu diperolehnya berkat kecermatan serta kejeliannya dalam menarik pelajaran-pelajaran penting dari berbagai peristiwa yang mungkin terlewat dari pandangan orang lain.

Gladwell, dalam bayangan saya, tak jauh beda dengan bocah di tengah-tengah kerumunan yang mengelilingi sebuah gunung tepung. Orang-orang terfokus memandangi gunung tepung di tengah-tengah mereka, sementara Gladwell justru memperhatikan sehelai rambut yang menyembul dari dalam gunung tepung. Kemudian, dengan ketelitian yang cermat, ia menarik sehelai rambut itu dengan halus—sebegitu halus dan hati-hati, hingga tak merusak gunung tepung.

Gunung tepung adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan besar kita, sementara helai rambut adalah pelajaran-pelajaran yang tersimpan di dalamnya. Orang-orang berfokus memperhatikan peristiwa yang terjadi, Malcolm Gladwell berfokus menemukan pelajaran yang tersimpan di dalamnya. Dan, karena itu, ia dijuluki Pemikir Paling Berpengaruh di Dunia.

Dalam Blink, seperti dalam buku-buku sebelumnya, Gladwell sekali lagi mendemonstrasikan kemampuannya yang istimewa dalam menarik pelajaran-pelajaran tak terbayangkan yang ia ambil dari berbagai peristiwa. Seperti menarik sehelai rambut dari gunung tepung, Gladwell memaparkan berbagai pelajaran tak terbayangkan dari aneka macam kisah, kemudian menyodorkan kesimpulan mengejutkan untuk pembacanya.

Meski sebagian akademisi menganggap teori-teori Gladwell tidak bisa dibilang akurat, khususnya jika ditinjau dari sudut pandang eksakta, tapi Gladwell telah menyampaikan hal-hal penting yang sebelumnya tidak kita sadari. Ia seorang genius dengan caranya sendiri.


Okta Pinanjaya & Waskito Giri S.: 
Muslihat Kapitalis Global

Judul selengkapnya, Muslihat Kapitalis Global: Selingkuh Industri Farmasi dengan Perusahaan Rokok AS. Meski judulnya mungkin terdengar tendensius, tapi buku ini ditulis dengan objektif, dengan setumpuk sumber data yang bisa diverifikasi validitasnya.

Di internet—di blog maupun di Twitter—kadang ada orang ngoceh, “Industri farmasi tidak punya kepentingan apa-apa dengan kampanye antirokok. Semakin banyak orang sehat karena tak merokok, industri farmasi semakin tidak dibutuhkan. Jadi sangat aneh kalau ada yang menuduh kampanye antirokok didanai industri farmasi.”

Itu ocehan yang sangat naif, karena hanya menilai suatu masalah dari satu sudut pandang yang dangkal. Persoalan kampanye antirokok tidak sesederhana tampaknya. Ia melibatkan banyak kepentingan, khususnya kepentingan para kapitalis, dan kita—khususnya yang suka ribut-ribut dengan sok tahu—hanyalah pion-pion kecil yang dikorbankan untuk berperang dalam aneka polemik.

Persoalan kampanye antirokok, yang akhir-akhir ini memanas, harus dicermati secara komprehensif, utuh dan menyeluruh, agar kita dapat melihat gambar besarnya—dan itulah yang dilakukan oleh buku ini.

Kapitalisme tidak hanya berhubungan dengan dunia bisnis seperti yang mungkin selama ini kita pikirkan. Mereka juga berkaitan erat dengan “doktrinasi” pengetahuan—dari pengetahuan sehari-hari sampai teknik kedokteran modern—demi tujuan keuntungan finansial. Buku ini memaparkan bagaimana berkuasanya para kapitalis membangun “rezim pengetahuan” yang sekarang kita yakini, hingga bagaimana liciknya mereka menggunakan kampanye antirokok demi tujuan sebenarnya yang mereka incar.

Mereka, para kapitalis, menggunakan pola pikir para juara—“biarkan orang bersikap sebagaimana yang mereka pikir mereka inginkan, dan kita ambil keuntungan dari kondisi itu”. Yang jadi masalah, kebanyakan masyarakat kita menggunakan pola pikir para pecundang—ngotot, merasa serbatahu, sulit diingatkan, dan sering merasa paling benar.

Buku ini akan membuka mata kita tentang apa sebenarnya yang terjadi menyangkut ribut-ribut kampanye antirokok. Bukan agar kita menentang kampanye antirokok, melainkan agar kita melihat kebusukan apa yang disembunyikan di balik kampanye itu.


Rhonda Byrne: The Magic

Ini buku ketiga Rhonda Byrne setelah The Secret dan The Power. Di antara ketiganya, saya paling suka The Magic, karena buku ini menjawab pertanyaan di kepala saya selama bertahun-tahun.

Salah satu misteri besar yang mengundang pertanyaan banyak pemikir di berbagai belahan dunia adalah ayat yang terdapat dalam Alkitab, Matius 13:12. Ayat itu berbunyi, “Siapa yang memiliki akan diberi lebih banyak, dan ia akan memiliki kelimpahan. Siapa yang tidak memiliki, maka bahkan apa yang dimilikinya akan diambil darinya.”

Ayat itu terkesan absurd, misterius, dan tidak jelas maksud serta maknanya. Karena “absurditas”nya pula, banyak pemikir dan akademisi telah mencoba memahami dan mengartikan ayat tersebut dengan berbagai perspektif. Salah satu yang populer adalah perspektif yang dikenalkan ahli sosiologi Robert Merton pada 1968, yang teorinya disebut “Efek Matius”.

Efek Matius atau keunggulan kumulatif, menurut Robert Merton, adalah sebuah fenomena sosial ketika yang kaya semakin kaya, sedang yang miskin semakin miskin. Teori itu sangat terkenal, dan diamini banyak orang, yang salah satunya Robert Kiyosaki. Dalam serial bukunya, Rich Dad Poor Dad, Kiyosaki mengutip ayat Matius tersebut—dan mengartikannya sebagaimana teori Robert Merton—untuk mendukung teorinya sendiri.

Meski upaya pemaknaan atas ayat itu telah berlangsung lama, dan telah ditulis dalam banyak buku yang pernah terbit, namun baru The Magic-nya Rhonda Byrne yang bisa menjelaskannya secara gamblang dan masuk akal. Setidaknya, inilah buku pertama yang saya baca, yang bisa menjelaskan misteri ayat tersebut hingga makna rahasianya terbuka.

Rahasianya adalah “syukur”, kata Rhonda Byrne. Jika kita memasukkan kata “syukur” ke dalam ayat Matius tersebut, maka arti tersembunyi ayat itu pun akan tampak sangat jelas. “Siapa yang memiliki (syukur) akan diberi lebih banyak, dan ia akan memiliki kelimpahan. Siapa yang tidak memiliki (syukur), maka bahkan apa yang dimilikinya akan diambil darinya.” 

Match! Makna tersembunyi ayat itu pun terbuka, dan sesuai aturan universal lainnya. Jika kita bertanya pada orang bijak mana pun di planet ini, mereka semua akan sepakat bahwa syukur adalah kekuatan tersembunyi. Yang memilikinya akan mendatangkan kelimpahan lebih banyak, yang tidak memilikinya akan kehilangan miliknya. Alkitab tentu sengaja “menyembunyikan” frasa syukur dalam ayatnya, sebagai penegasan bahwa syukur adalah kekuatan tersembunyi.

The Magic ditulis berdasarkan ayat itu, dan menguraikan bagaimana kekuatan syukur dapat mengubah kehidupan orang per orang. Buku ini tidak hanya mudah dipahami, tapi juga menghangatkan hati. Tidak sekadar inspiratif, tapi juga mengajarkan sesuatu yang sangat terpuji.


Scott Smith: Summer in Hell

Scott Smith mungkin terlalu lama membaca novel-novel Stephen King, hingga gaya sang raja horor itu sangat melekat dalam novel karyanya. Sama seperti Stephen King, Scott Smith juga menulis dengan alur yang datar, perlahan menuju klimaks, kadang melantur, kemudian melemparkan pembaca dalam akhir penuh kegelapan.

Summer in Hell menceritakan sekelompok anak muda yang berpetualang melintasi hutan, menuju sebuah situs reruntuhan kuno peninggalan suku Maya, untuk menyusul seorang arkeolog kawan mereka. Di tempat itulah horor yang menakutkan dimulai—tapi tidak seperti yang kita pikirkan. Tidak ada roh gentayangan, tidak ada hantu, tidak ada setan, tidak ada zombie, tidak ada alien, tetapi... sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Seperti yang disebutkan tadi, gaya bercerita novel ini sangat dipengaruhi gaya Stephen King. Kalian yang kebetulan penggemar King kemungkinan besar juga akan menyukai novel ini, meski kadar kengeriannya mungkin lebih mencekam dan lebih gelap. Walaupun tidak ada hantu atau aktivitas paranormal atau semacamnya, novel ini mampu membuat pembaca bergidik ngeri.

Ide cerita dalam novel ini orisinal, karena memasukkan objek yang sangat unik ke dalam genre horor. Itu pula yang membuat saya memutuskan untuk memasukkan Summer in Hell ke dalam daftar buku terbaik tahun ini.

Sampai jumpa di Daftar 10 Buku Terbaik tahun depan!

Undangan dari GagasMedia

Membaca buku tak ubahnya tindakan menulis ulang buku itu
bagi diri sendiri. Kau mengusung ke dalam sebuah novel—apa
pun novel yang kau baca—semua pengalaman hidupmu.
Kau mengusung sejarahmu, dan kau membacanya
dalam konteksmu sendiri.
Angela Carter


GagasMedia adalah biang kreativitas dalam industri perbukuan di Indonesia, khususnya di kalangan anak muda. Penerbit satu ini seperti tak pernah kehabisan ide melahirkan aneka macam kreativitas seputar penulisan dan genre penerbitan, yang biasanya mempengaruhi tren di dunia perbukuan.

Di akhir tahun ini, GagasMedia menyelenggarakan acara temu penulis-pembaca, yang akan diadakan pada 22 Desember 2013, di Galeri 678 Kemang, Jln. Kemang Selatan Raya 125 A, Jakarta Selatan. Rangkaian acara yang dimulai pukul 08.00 pagi sampai 21.00 malam ini melibatkan bocah-bocah keren yang sebagian pasti sudah kalian kenal—Adhitya Mulya, Alitt Susanto, Bernard Batubara, Sefryana Khairil, Windry Ramadhina, dan masih banyak lagi.

Saya mendapat undangannya kemarin, dan dengan sangat menyesal tidak bisa menghadirinya karena sedang mengerjakan tanggung jawab yang tidak bisa saya tinggal. Padahal, sejujurnya, saya ingin sekali datang, karena di sana ada seseorang yang sangat ingiiiiiiin saya temui. (Don’t ask!)

*Mimisan*


Well, meski saya tidak bisa datang, saya pikir info ini perlu saya bagikan di sini, siapa tahu teman-teman tertarik menghadirinya. Kalau saya baca-baca susunan acaranya, Kumpul Penulis-Pembaca ini tidak hanya sekadar kumpul-kumpul, tapi juga menjadi arena belajar bersama—khususnya seputar dunia kepenulisan—yang pasti menyenangkan. Untuk informasi selengkapnya, kalian bisa lihat di sini.

Buat GagasMedia, semoga sukses acaranya, makin kreatif, dan makin produktif berkarya! 

Jadi, Kabarnya Ariel Sekarang Jalan Sama Sophia Latjuba

Well, pada akhirnya, setiap lelaki akan tahu, bahwa yang paling dirindukannya adalah kasih seorang mbakyu.

Senin, 16 Desember 2013

Warga Taat Hukum

Betapa sesat dirimu! Aku mengajukan beberapa omong kosong
preseden hukum, dan kau langsung menerkamnya seperti pelacur kepanasan!
Kau membiarkan psikopat dan pembunuh kembali ke jalanan. Kau sibuk
menerapkan hukum seperti alur perakitan. Tahukah kau, seperti apa keadilan?
Ke mana perginya benar dan salah? Apa bedanya dengan mana benar
dan mana salah? Apa pun yang menimpa masyarakat, ke mana keadilan?
Aku yakin semuanya kaumasukkan ke dalam pantatmu! Pelacur!
—Clyde Shelton, dalam Law Abiding Citizen


Warga Taat Hukum adalah terjemahan untuk film berjudul Law Abiding Citizen, sebuah potret rusaknya sistem hukum, ketika cara keliru digunakan para ahli hukum demi memenangkan pengadilan, ketika hakim dan jaksa bersepakat dengan terdakwa agar tak kehilangan muka, ketika para bajingan keliru memilih korban, ketika korban ketidakadilan hukum menuntut balas dengan cara tak terbayangkan....

....
....

Clyde Alexander Shelton adalah warga Amerika yang taat hukum, seorang suami, dan ayah yang menyayangi putrinya. Dari luar, ia seperti lelaki biasa yang berprofesi sebagai insinyur. Dia memiliki paten untuk 20 temuannya, memiliki uang dan kekayaan untuk menikmati kehidupan layak, sampai suatu hari insiden tak terduga mengubah hidupnya.

Hari itu dia sedang bercengkerama dengan putrinya yang masih kecil, sementara istrinya sedang menyiapkan masakan untuk mereka. Tiba-tiba, pintu rumah diketuk dengan keras. Mengira ada tamu, Clyde Shelton segera beranjak untuk membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, seseorang menghantamkan pentungan ke tubuhnya, dan dia terjatuh.

Dua bajingan—Clarence Darby dan Rupert Ames—masuk ke dalam rumah. Clyde Shelton, yang belum sempat bangun dari jatuhnya, segera dilumpuhkan. Kedua kaki dan tangannya diikat, mulutnya dilakban. Istri Shelton yang mendengar ribut-ribut itu segera muncul dari dapur, dan berteriak. Kehadiran istri Shelton membuat Clarence Darby bergairah. Ia segera mendekati istri Shelton, menusuk perutnya, kemudian memperkosanya di depan Shelton.

Setelah memperkosa dan membunuh istri Shelton, Clarence Darby dan Rupert Ames segera mengambil barang-barang berharga di rumah—sebagaimana tujuan mereka semula. Tapi Clarence Darby belum puas. Sebelum pergi, ia membawa putri Shelton yang masih tampak shock menyaksikan kejadian itu. Ia memperkosa si gadis kecil, dan membunuhnya.

Dalam waktu singkat, kedua bajingan itu ditangkap. Kasus itu ditangani jaksa penuntut Nick Rice. Dalam penyelidikan, Rice kesulitan memperoleh bukti yang kuat untuk menjerat kedua pelaku. Semua bukti yang diidentifikasi dari kedua pelaku tidak cukup konklusif untuk bisa menjatuhkan hukuman mati, sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Hukum Amerika. Maka Nick Rice pun menggunakan cara yang selama ini biasa ia lakukan ketika menuntut kejahatan di pengadilan. Ia memisah berkas kedua terdakwa untuk mendapatkan saksi memberatkan.

Clarence Darby dan Rupert Ames disidangkan secara terpisah. Dalam kenyataan, Clarence Darby adalah pelaku utama kejahatan—ia yang membunuh dan memperkosa anak serta istri Clyde Shelton, serta otak perampokan. Sementara Rupert Ames hanya medepleger (istilah hukum untuk menyebut “turut serta”). Tetapi, ketika proses pemberkasan, Clarence Darby bersedia menjadi saksi memberatkan untuk Rupert Ames. Dalam dunia hukum, praktik semacam itu disebut “saksi mahkota”.

Jika ada dua orang ditangkap karena melakukan pembunuhan, tapi pihak pengadilan tidak cukup memiliki bukti konklusif bahwa mereka bersalah melakukan kejahatan tersebut, maka dua orang itu akan disidang secara terpisah, dan mereka akan diminta untuk bersaksi bahwa temannyalah yang melakukan semua kejahatan. Orang yang mau bersaksi memberatkan temannya itulah yang disebut saksi mahkota.

Praktik itu kemudian diikuti plea bargain, yaitu keringanan hukuman bagi saksi mahkota, karena telah “bekerjasama” dengan pengadilan. Praktik semacam itu sangat dikenal dalam sistem hukum kriminalitas Amerika Serikat. Praktik seperti itu sengaja digunakan untuk mempercepat proses hukum, menyelamatkan muka hakim dan jaksa, serta menunjukkan kepada masyarakat bahwa pengadilan telah menegakkan kebenaran. 

Ketika disidangkan, Clarence Darby bersedia memberikan penyaksian bahwa Rupert Ames yang merencanakan semua kejahatan itu, bahwa Rupert Ames pula yang membunuh dan memperkosa istri serta anak Clyde Shelton. Maka hakim di pengadilan pun menjatuhkan vonis—Clarence Darby hanya dihukum ringan, sementara Rupert Ames dihukum mati. Bagi pengadilan, keadilan telah ditegakkan. Tapi bagi Clyde Shelton, sang korban kejahatan, itu hanya pengadilan sandiwara.

Mendapati vonis yang sangat tidak adil, Clyde Shelton kecewa. Ia menyatakan kepada Nick Rice, bahwa dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri semua kejahatan itu. Bahwa Clarence Darby telah membunuh dan memperkosa istrinya. Kenapa keparat itu tidak dihukum mati seperti temannya? Ia juga sebelumnya telah mengingatkan Nick Rice agar tidak melakukan bargaining dengan terdakwa.

Tetapi, sebagai jaksa, Nick Rice hanya menjawab, “Beginilah sistem hukum dan peradilan kita bekerja.”

Dalam sistem hukum, kata Nick Rice, yang penting bukan apa yang kauketahui tentang kejahatan itu, melainkan apa yang bisa dibuktikan di pengadilan. Ia menekankan kepada Clyde Shelton, “This is not about what you know, this is what you can prove in court.”

Nick Rice berdalih, jika dia tidak melakukan bargaining dengan terdakwa, maka keduanya justru akan divonis bebas, karena kurangnya bukti. Bagaimana pun, dalam kasus ini, Nick Rice punya kepentingan—ia harus menyelamatkan mukanya sebagai jaksa, menyelamatkan citra pengadilan, agar masyarakat tetap percaya pada sistem hukum Amerika.

Jadi begitulah. Segalanya telah dianggap usai. Pengadilan telah menjalankan perannya dengan baik. Polisi telah menangkap si pembunuh, jaksa telah menuntut, hakim telah menjatuhkan vonis, dan para penjahat telah dihukum—keadilan telah ditegakkan. Warga yang taat hukum akan bersyukur.

Tapi tidak bagi Clyde Shelton. Ia menganggap dirinya telah menjadi korban ketidakadilan akibat bobroknya sistem hukum, akibat rusaknya praktik pengadilan, akibat pejabat hukum hanya mau menyelamatkan mukanya demi citra agung di hadapan masyarakat. Ia menganggap semua yang terjadi di pengadilan dan semua keputusannya cuma sandiwara, dan ia tidak puas, kecewa, terluka.

Dan ia merencanakan pembalasan dendam.

Bukan hanya kepada dua bangsat yang telah menghancurkan hidupnya, tetapi juga kepada bobroknya sistem hukum Amerika.

....
....

Dari luar, Clyde Alexander Shelton adalah warga Amerika biasa, yang berprofesi sebagai insinyur. Tetapi tanpa diketahui siapa pun—bahkan oleh keluarganya sendiri—ia seorang ahli strategi genius yang dipekerjakan pemerintah untuk mem-back up kinerja badan intelijen negaranya.

Secara sederhana, kerja badan intelijen bisa dibagi dalam empat bagian. Bagian pertama adalah para petugas lapangan—orang-orang yang melaksanakan pekerjaan langsung, kadang pembunuhan, dan merupakan tangan terakhir dari sistem intelijen. Contoh paling mudah adalah James Bond dan Jason Bourne.

Bagian kedua adalah para “pekerja kantoran”—mereka yang tiap hari berangkat kerja dan mengerjakan tugas-tugas administrasi ala orang kantor, yang memastikan semua hal dikerjakan dengan benar. Bagian ketiga adalah para penghubung—orang-orang yang memperantarai petugas kantor dan pekerja lapangan. Bagian ketiga ini diperlukan, sebagai mata rantai yang bisa memutus hubungan antara petugas lapangan dan orang kantor yang menugaskannya—jika keadaan mendesak.

Yang jarang diketahui orang adalah bagian keempat, yaitu otak yang ada di balik semua itu—orang-orang genius yang dipekerjakan untuk memikirkan berbagai teknik tingkat tinggi demi kepentingan intelijen. Orang-orang tak dikenal itulah yang memikirkan cara mengirimkan satelit mata-mata tanpa diketahui negara lain, memikirkan cara menyelundupkan seseorang ke suatu negara dengan aman, dan kadang juga memikirkan cara membunuh bajingan internasional dengan amat tersamar.

Karena pekerjaannya yang relatif berbahaya, orang-orang itu menutupi pekerjaan aslinya, dan melakukan kamuflase dengan menjalani profesi “umum” yang tampak biasa—menjadi insinyur, dosen, jurnalis, ilmuwan, atau bahkan artis. Apa pun wujud luarnya, mereka aset yang dihargai sangat mahal, dengan bayaran sangat besar. Dan otak cemerlang yang ditunjang uang tak terbatas adalah kombinasi paling berbahaya di dunia.

Clyde Shelton adalah orang yang menjalani pekerjaan tingkat tinggi semacam itu, dan ia menutupi pekerjaannya dengan menampilkan diri sebagai insinyur. Dan sekarang ada dua bajingan tolol yang mencari perkara dengan orang berbahaya semacam itu. Bajingan-bajingan itu akan membayar perbuatannya—oh, well, mereka akan membayar sangat mahal.

....
....

Sepuluh tahun kemudian, pada hari yang telah ditetapkan, Rupert Ames dibawa ke tempat ia akan menjalani hukuman mati dengan suntikan. Ada tiga cairan kimia yang disuntikkan untuk terdakwa hukuman mati, dan campuran tiga cairan kimia itu ditujukan agar proses kematian tidak menyakitkan. Tapi Clyde Shelton telah melakukan sabotase tanpa diketahui siapa pun, dan tiga cairan kimia itu telah ditukar zat kimia berbahaya, yang akan membuat si terdakwa kesakitan luar biasa.

Disaksikan para pejabat pengadilan, Rupert Ames pun disuntik mati. Bukan tanpa rasa sakit, tapi dengan sakit yang sangat mengerikan—sebegitu menyakitkan hingga semua orang bergidik menyaksikannya, hingga urat-urat di tubuh Rupert Ames nyaris keluar dari tempatnya.

Lalu bagaimana dengan Clarence Darby? Sementara temannya dihukum mati, Clarence Darby bisa hidup bebas—ia bahkan tertawa saat menyaksikan berita kematian temannya di televisi. Tetapi bajingan pembunuh dan pemerkosa itu akhirnya menjalani “hukuman” yang jauh lebih mengerikan dari yang diterima temannya. Jika Rupert Ames “cuma” mendapat suntikan maut yang menyakitkan, Clarence Darby dimutilasi hidup-hidup hingga menjadi 25 bagian.

Dengan rancangan jebakan yang telah dipikirkan bertahun-tahun, Clyde Shelton menggiring Clarence Darby untuk masuk perangkapnya. Darby terjebak. Ia dibawa ke tempat kosong milik Shelton, diikat di sebuah papan, lalu tubuhnya diiris sepotong demi sepotong. “Kau tahu,” ujar Shelton pada Darby yang ketakutan, “aku pernah merasakan seperti apa rasanya tak berdaya, saat aku menyaksikanmu membantai seluruh keluargaku.”

Lalu hukuman mengerikan itu pun dimulai. Menggunakan gergaji pemotong tulang, Shelton memutilasi tubuh Darby, sepotong demi sepotong. Darby merasakan semua siksaan itu, tak bisa bergerak, tak bisa berteriak, dan bagian-bagian tubuhnya terus dicincang bagian demi bagian, hingga akhirnya mati kehabisan darah.

Shelton membunuh Darby, tapi ia tidak meninggalkan jejak atau barang bukti secuil pun—sesuatu yang tak bisa digunakan pengadilan Amerika untuk menuntutnya.

Karena lokasi pembunuhan itu miliknya, Clyde Shelton ditangkap. Tapi pengadilan Amerika tidak berdaya, karena tidak ada barang bukti yang bisa digunakan untuk menjerat Shelton telah melakukan pembunuhan. Satu-satunya cara untuk bisa memvonis Shelton hanya jika ada pengakuan dari Shelton sendiri. Kepada Nick Rice, yang masih menjabat sebagai jaksa, Clyde Shelton berjanji akan memberi pengakuan bahwa dia telah membunuh Clarence Darby... tapi dengan beberapa syarat.

Dan permainan yang sesungguhnya dimulai.

Sekaranglah saatnya Clyde Shelton akan membalas dendam terhadap pengadilan Amerika yang busuk, yang telah menghancurkan hidupnya dengan ketidakadilan, agar masyarakat menyadari betapa bobroknya sistem yang telah mereka percaya mampu memberi keadilan. Semua yang terlibat dalam pengadilan busuk itu harus mati, dan ia akan membunuh mereka... semuanya.

Shelton dipenjara, sendirian, di tempat pengasingan. Dan dari dalam penjara itulah, dia membunuh orang-orang yang dulu terlibat dalam pengadilan busuk atas kejahatan yang menimpa keluarganya, satu demi satu—dengan teknik pembunuhan yang telah dipikirkannya bertahun-tahun, pembunuhan yang dijalankan otak seorang genius, pembunuhan yang tak pernah terbayangkan siapa pun....

....
....

Ketika pengadilan tak bisa lagi memberikan keadilan, maka keadilan akan menjelma iblis mengerikan.

Kun-kun Pergi ke Neraka

Semoga ia terbakar selamanya di sana.

Rabu, 11 Desember 2013

Pintu di Ujung Garasi

Ketika memikirkan betapa besarnya implikasi
dari hal-hal kecil, aku jadi tergoda untuk berpikir
bahwa sebenarnya tidak ada hal-hal kecil.
@noffret 


Seorang wanita menemui orang bijak di kampungnya, dan berkata, “Tuan, saya orang baru di sini. Saya perlu tahu, apakah orang-orang yang menjadi tetangga baru saya di sini baik atau jahat?”

Si orang bijak menjawab, “Sewaktu Anda masih tinggal di tempat semula, Nyonya, apakah para tetangga Anda tergolong baik atau jahat?”

“Mereka tetangga yang baik.”

“Kalau begitu, tetangga di sini pun baik,” ujar si orang bijak.

Saya lupa di mana membaca dialog itu, tapi arti yang terkandung dalam percakapan itu begitu membekas dalam benak, hingga saya tak bisa lupa. Percakapan itu mengandung arti kira-kira, “Baik atau buruknya tetanggamu, tergantung bagaimana sikap dan penilaianmu kepada mereka.”

Itu pelajaran penting tentang kehidupan bertetangga. Ketika saya masih tinggal bersama orang tua, pelajaran tentang hal itu terasa kurang penting, karena urusan pertetanggaan telah “diurus” orang tua. Namun, ketika saya mulai hidup mandiri—yang artinya saya menjadi kepala keluarga sendiri—arti bertetangga menjadi penting sekali. Sebegitu penting, hingga saya merasa perlu menceritakannya di sini.

Seperti yang pernah saya tulis sekilas di sini, saya telah keluar dari rumah orang tua ketika mulai kuliah. Waktu itu saya sudah punya penghasilan sendiri, dan dari penghasilan itu saya mengontrak sebuah rumah yang saya tinggali sendirian. Rumah itu terletak di daerah yang asri dan hening, tepat seperti yang saya inginkan. Maka saya pun menemui pemiliknya, yang kemudian saya panggil Bu Haji.

Singkat cerita, saya pun mulai menempati rumah itu—sendirian. Rumah yang semula kosong melompong itu kemudian saya isi perabot rumah tangga, dari sofa ruang tamu sampai meja kerja, televisi, player, komputer, peralatan masak, sampai springbed untuk tidur. Pendeknya, saya bisa nyaman tinggal di rumah itu, karena segala kebutuhan telah tersedia—kecuali untuk makan, saya harus keluar.

Rumah itu tergolong luas. Di samping kanan rumah, tepat di sebelah ruang tamu, ada garasi yang menyatu dengan taman dan kolam ikan, di ujung belakangnya. Taman dan kolam ikan itu bersebelahan tepat dengan ruang tengah, yang dibatasi pintu kaca. Dari ruang tengah pula ada pintu menuju garasi, dan pintu itulah yang setiap hari saya gunakan untuk keluar masuk rumah.

Dalam aktivitas sehari-hari—pergi dan pulang kuliah, atau keluar rumah untuk cari makan—saya selalu lewat pintu ruang tengah, lalu keluar lewat garasi. Itu lebih praktis, karena saya hanya perlu menggunakan satu kunci. Pintu depan rumah biasanya hanya dibuka kalau pas ada tamu, atau ketika teman-teman datang. Karena itu pula, saya menggabungkan kunci garasi dengan kunci pintu ruang tengah.

Garasi rumah itu—seperti umumnya garasi lain—menggunakan pintu-lipat besi, yang akan mengunci otomatis jika ditutup. Artinya, kunci hanya dibutuhkan untuk membuka, tapi tidak perlu digunakan untuk menutup atau mengunci pintu. Artinya pula, saya bisa membuka pintu garasi dari dalam tanpa kunci, tapi harus menggunakan kunci jika membuka dari luar. Oh, well, saya perlu menjelaskan hal ini cukup detail, karena inti cerita ini akan sangat berhubungan dengan kunci garasi tersebut.

Nah, suatu hari, Bu Haji pemilik rumah itu datang menemui saya. Setelah berbasa-basi sejenak, dia berkata, “Mas, dulu saya pikir situ mengontrak rumah ini untuk ditinggali sekeluarga. Tapi ternyata cuma sendirian, ya?”

Saya menyahut dengan sopan, “Saya harap Anda tidak keberatan, Bu Haji.”

“Tentu saja tidak,” ujarnya sambil tersenyum. Lalu ia melanjutkan dengan ragu-ragu, “Cuma, saya kok... anu, agak... yah, agak khawatir. Maksud saya, situ kan masih... masih muda sekali. Apa tidak takut tinggal sendirian di rumah yang luas seperti ini?”

“Sama sekali tidak, Bu Haji,” saya meyakinkannya. “Saya memang menginginkan hidup sendirian seperti ini. Tenang, hening, sepi.”

Dia mengangguk. Setelah terdiam sesaat, dia lalu masuk pokok persoalan, “Begini, Mas. Tembok di sebelah kolam ikan itu kan tidak tinggi, dan taman di situ terhubung langsung dengan garasi. Saya pikir, mungkin akan lebih baik kalau taman itu ditutup pintu, agar tidak terhubung dengan garasi. Soalnya saya mengkhawatirkan situ hidup sendirian, di komplek yang masih asing begini.”

Agar kalian lebih paham yang dimaksud Bu Haji, biar saya jelaskan. Seperti yang saya sebutkan tadi, tepat di samping ruang tengah ada kolam ikan dan taman, yang menyatu dengan garasi. Tembok taman itu tidak terlalu tinggi—hanya sekitar dua meter—dan berbatasan dengan halaman belakang tetangga.

Nah, Bu Haji menilai saya masih anak-anak (karena kenyataannya memang begitu—saya masih semester satu waktu itu), dan ia mengkhawatirkan kalau-kalau ada orang yang melompat dari balik tembok itu dengan niat tidak baik. Yang merisaukannya, jika benar-benar ada orang yang melompati tembok taman itu, maka orang itu akan bisa langsung masuk ke garasi. Dan—seperti yang saya jelaskan tadi—pintu garasi bisa dibuka tanpa kunci jika dari dalam.

Karena itulah kemudian Bu Haji terpikir untuk memasang pintu di sana, sebagai pembatas antara taman dan garasi. Itu akan menjadikan rumah lebih aman. Saya tidak punya alasan untuk menolak, karena usul itu memang baik dan masuk akal. Lebih dari itu, rumah akan lebih aman dengan adanya pintu pembatas tersebut.

Maka kemudian, sebuah pintu besi pun dipasang di sana—membatasi taman dan garasi. Keberadaan pintu besi itu sama sekali tidak menghalangi saya keluar masuk garasi atau menikmati taman serta kolam ikan, karena saya bisa menggunakan pintu yang tersedia dengan mudah, seperti biasa. Tetapi, keberadaan pintu besi itu perlahan-lahan mulai mempengaruhi pikiran saya.

Sejak adanya pintu besi itu, saya seperti diingatkan bahwa bisa jadi tetangga saya tidak baik, bisa jadi orang sebelah rumah punya niat jahat, bisa jadi ada orang yang punya maksud buruk. Apalagi saya tergolong orang asing di komplek ini. Pikiran-pikiran negatif semacam itu kadang menghinggapi ketika saya duduk sambil merokok di dekat kolam, kemudian memandang tembok taman yang tak terlalu tinggi. Ya, siapa pun bisa melompati tembok itu, dan masuk ke dalam rumah. Itu mengerikan jika benar terjadi, pikir saya.

Pikiran negatif semacam itu sempat berlangsung cukup lama, meski saya dan para tetangga masih saling sapa dan tersenyum ramah setiap kali bertemu muka. Sebenarnya, di hati kecil, saya menilai tetangga-tetangga baru saya tergolong orang-orang baik. Mereka ramah pada saya, meski saya orang asing di sana. Mereka juga tidak pernah mengganggu—anak-anak mudanya tampak sopan, sementara orang-orang tua memperlakukan saya dengan baik.

Tetapi keberadaan pintu besi yang baru dipasang di ujung garasi rumah saya seolah mengingatkan, bahwa hal-hal buruk bisa saja terjadi, bahwa tetangga yang tampaknya baik bisa saja buruk, bahwa orang yang tampak ramah bisa saja berhati jahat, bahwa saya harus selalu curiga pada tetangga.

Sampai suatu hari, kejadian yang sepele tapi penting terjadi. Sore itu saya memasak air untuk membuat teh. Panci berisi air sudah saya naikkan ke atas kompor, dan api sudah menyala. Sementara menunggu air mendidih, saya bermaksud membeli rokok ke warung yang ada di ujung komplek. Maka saya pun dengan santai masuk garasi, mengeluarkan motor, lalu menuju warung.

Dan saya lupa membawa kunci!

Ketika pulang dari warung dan akan membuka pintu garasi, barulah saya sadar kesalahan fatal yang telah saya lakukan. Tadi, waktu menutup pintu saat akan pergi, saya tidak butuh kunci, karena pintu akan mengunci otomatis. Tetapi, untuk membuka pintu garasi itu, saya butuh kunci. Sementara kuncinya sekarang tergantung di pintu ruang tengah, lupa saya bawa!

Dengan tampang idiot karena kebingungan, saya mondar mandir di depan garasi, tak bisa masuk rumah! Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Yang paling merisaukan saya waktu itu adalah panci di atas kompor! Kompor di dapur masih menyala, memanaskan panci serta air di dalamnya. Seharusnya sekarang saya sudah masuk rumah, dan memadamkan api kompor, karena air di atasnya pasti sudah mendidih.

Sambil panik, saya berpikir, cepat atau lambat air di dalam panci akan terus berkurang akibat mendidih dan terus dipanaskan. Jika air dalam panci akhirnya habis, maka panci akan kehilangan berat, sementara tekanan api kompor akan melemparkannya. Itu sangat berbahaya, karena bisa menimbulkan ledakan dan kebakaran.

Demi Tuhan, apa yang harus saya lakukan...???

Sebenarnya, saya bisa saja menelepon Bu Haji pemilik rumah itu, dan menanyakan apakah dia menyimpan kunci cadangan untuk membuka garasi. Yang jadi masalah, ponsel saya tertinggal di dalam rumah, dan saya tidak hafal nomor telepon Bu Haji, sementara rumahnya tergolong jauh. Dan saya bukan Mac Gyver! Juga bukan Sherlock Holmes! Oh, sialan, saya hanyalah anak-anak yang kebetulan menghadapi hari sial karena lupa membawa kunci!

Ketika saya sedang mondar-mandir dengan tampang panik di depan pintu garasi, seorang tetangga lewat. Ia tetangga sebelah rumah saya tepat. Mungkin karena heran, ia menyapa, “Kenapa, Mas? Kok tampaknya lagi bingung?”

“Uhmm... ini, Mas, saya tidak bisa masuk!” jawab saya lugu.

Dia makin keheranan. “Lhoh, kok bisa?”

Lalu saya pun menjelaskan persoalan yang saya hadapi, tentang kunci yang lupa saya bawa, juga tentang kompor yang sedang menyala di dapur. Ia memahami masalah itu dengan baik. Setelah berpikir sesaat, ia menyarankan, “Begini saja. Izinkan saya masuk lewat dinding samping rumah, nanti saya masuk ke garasi, biar pintunya bisa saya bukakan dari dalam.”

Itu ide yang cemerlang, pikir saya. Jadi, tetangga saya kemudian mengambil tangga, lalu naik ke dinding yang ada di dekat kolam ikan rumah saya, yang cuma setinggi 2 meter, lalu melompat masuk. Seharusnya, dari sana dia bisa langsung masuk ke garasi untuk membukakan pintu, agar saya bisa masuk. Sialnya, saya lupa, di ujung garasi itu sekarang telah dipasang pintu besi!

Jadi, meski sudah masuk ke lokasi rumah, tetangga saya tidak bisa ke mana-mana. Ia tidak bisa masuk ke garasi karena terhalang pintu besi, ia juga tidak bisa masuk ke dalam rumah, karena tertutup pintu kaca. Karena kebingungan, dia berteriak memberitahukan keadaannya pada saya yang ada di balik dinding. Saya mendengarkannya, dan tambah bingung. Dan diam-diam mengutuk pintu besi sialan itu.

“Kayaknya pintu besi ini bisa dibuka paksa, Mas,” ujarnya kemudian dari balik dinding. “Tidak apa-apa kalau saya bongkar?”

“Tidak apa-apa, Mas!” sahut saya langsung. “Bongkar saja!”

“Kalau begitu, tolong ambilkan palu di rumah saya.”

Akhirnya, setelah bekerja cukup lama, tetangga saya bisa membuka pintu besi dengan bantuan palu. Setelah pintu besi itu dapat dibuka, dia pun masuk ke garasi, dan membukakan pintu dari dalam. Saya pun masuk, dan segera berlari ke dapur untuk mengangkat panci yang ternyata memang sudah kering kehabisan air.

“Uhm, Mas,” ujar saya saat kami duduk di ruang tamu, “seharusnya saya bisa menyajikan teh, tapi barusan airnya habis waktu direbus.”

Dia tertawa. “Tidak apa-apa, Mas. Nyantai saja.”

Lalu kami bercakap-cakap sambil merokok. Itu pertama kalinya saya bercakap-cakap dengan tetangga, padahal dia tetangga sebelah rumah saya tepat. Dia lelaki berusia 35-an, sudah beristri, dan punya seorang anak. Diam-diam saya merasa bersalah. Saya orang baru di komplek itu, dan—meski telah cukup lama tinggal di sana—saya belum pernah meluangkan waktu untuk beramah-tamah dengan tetangga, meski rumah kami bersebelahan.

Di akhir percakapan, dia berkata, “Mas, saya tahu situ tinggal sendirian di sini. Sewaktu-waktu, kalau perlu apa-apa, jangan segan mengetuk pintu rumah saya.”

Itu kalimat terbaik yang bisa diucapkan seseorang kepada tetangganya. Dan saya tak punya jawaban apa pun selain mengucapkan terima kasih. Saat dia akan pamit pulang, dia mengingatkan pintu besi di ujung garasi yang sekarang agak rusak karena tadi ia bongkar. Saya bilang, “Tidak apa-apa, Mas, biar saja tetap seperti itu.”

Sejak itu, pintu di ujung garasi itu tetap rusak, tak pernah saya betulkan. Jika sebelumnya posisi pintu menutup rapat, sekarang pintu besi itu tersandar di dinding, hingga garasi dan taman tidak punya pembatas lagi. Tetapi sejak itu, entah mengapa, saya tak pernah khawatir lagi.

Sejak itu pula, hubungan saya dengan tetangga sebelah rumah semakin akrab, gara-gara insiden di atas. Jika sebelumnya kami hanya saling sapa sekadarnya kalau ketemu, sekarang kami juga kadang ngobrol bareng di depan rumah. Melalui dia pula saya kemudian akrab dengan tetangga-tetangga yang lain, dan... selama saya tinggal di sana, saya bisa menyimpulkan satu hal; saya memiliki tetangga-tetangga yang baik.

Tiga tahun saya tinggal di rumah kontrakan itu, sampai kemudian saya bisa punya rumah sendiri yang lokasinya cukup jauh dari sana. Saat saya pindah dari sana untuk mulai menempati rumah yang baru, para tetangga melepas kepergian saya dengan sedih, seolah saya memang asli warga tempat itu.

Ketika akhirnya saya mulai tinggal di rumah yang baru, saya kembali menjadi orang asing. Tetapi, kali ini, saya punya modal penting dalam hidup bertetangga. Seperti yang dinyatakan secara tersirat oleh orang bijak di awal catatan ini, “Kalau kau menganggap tetanggamu yang dulu adalah tetangga yang baik, maka tetanggamu yang baru pun tetangga yang baik.”

Kini, saya telah tinggal di rumah ini bertahun-tahun, dan saya pun bisa menyimpulkan satu hal. Saya memiliki tetangga-tetangga yang baik.

Aku Sayaaaaaaaang Mbakyuku

Tapi aku tidak punya mbakyu.

Fu... fu... fu...

Minggu, 08 Desember 2013

Detail dan Pesan Tersembunyi

“What doesn’t kill you, makes you stranger.” —Joker.
Hanya dengan mengubah “o” menjadi “a”,
Nolan membuktikan dirinya memang genius.
@noffret


Ini catatan acak yang saya tulis sebagai pendahuluan catatan-catatan mendatang, yang akan membahas cukup banyak aspek menyangkut film trilogi Batman (Batman Begins, The Dark Knight, dan The Dark Knight Rises).

Meski telah menulis dua catatan khusus tentang Batman (Batman Sang Manusia dan Surat Rachel kepada Batman), namun saya masih merasa perlu menulis catatan-catatan lain yang juga berhubungan dengan superhero itu, sekaligus berbagi rahasia mengasyikkan dengan para penggemar Batman.

....
....

Well, cara mudah mengenali seorang genius adalah dengan melihat kemampuannya menyusupkan rahasia-rahasia tertentu ke dalam karyanya, atau dengan memperhatikan kejeliannya terhadap detail. Hampir semua genius memiliki sifat itu, dan dua ciri itu pula yang paling mudah kita kenali.

J.K. Rowling, penulis serial Harry Potter, bisa dijadikan contoh. Ketika menulis kisah kolosal Harry Potter, Rowling menyusupkan banyak rahasia menakjubkan dalam perjalanan cerita Harry Potter, dan rahasia-rahasia itu tertanam di sana tanpa menarik perhatian atau mengganggu pembaca. Para kutubuku bisa cukup mudah menemukan rahasia-rahasia itu, dan biasanya mereka akan senyum-senyum sambil kagum, sementara para pembaca pemula harus berjuang keras jika ingin menemukan rahasia-rahasia yang disusupkan Rowling.

Harry Potter adalah kisah hebat. Lebih dari itu, begitu kita tahu sesuatu yang disembunyikan Rowling dalam rangkaian kisahnya, kita akan menyadari bahwa Harry Potter—khususnya Rowling, sang penulisnya—jauh lebih hebat dari yang kita kira. Tak bisa disangkal lagi, J.K. Rowling seorang genius. Sama geniusnya dengan Shakespeare yang begitu halus ketika menyusupkan banyak rahasia dalam karya-karyanya—jika memang karya-karya itu benar ditulis Shakespeare.

Di Indonesia, Ahmad Dhani juga bisa dijadikan contoh untuk kasus serupa. Kasusnya sudah terkuak, dan kita sekarang tahu bagaimana cerdiknya Ahmad Dhani menyusupkan simbol, kode, dan rahasia tertentu dalam karya-karyanya—mulai sampul kaset DEWA dari album pertama sampai terakhir, hingga pada lirik-lirik lagu ciptaannya. Terlepas dari kontroversi dan tuduhan agen Yahudi yang ditimbulkannya, kita harus mengakui Ahmad Dhani seorang genius—dengan catatan semua karya itu murni kreasi Dhani.

Di dunia film, Christopher Nolan menjadi orang paling menonjol dalam ciri yang disebutkan di atas. Dia sangat cerdas dalam menyusupkan pesan yang ingin disampaikannya dalam film, serta sangat perhatian terhadap detail-detail film yang dibuatnya. Dari beberapa film karyanya, trilogi Batman adalah film yang paling mudah dipahami—setidaknya kita tidak perlu mikir berat seperti ketika menyaksikan The Prestige atau Inception.

Meski para kritikus film menunjukkan beberapa kekeliruan adegan yang terjadi dalam trilogi Batman, namun mau tak mau kita harus mengakui kegeniusan Nolan dalam menggarap film superhero itu. Di tangan Nolan, Batman tampak manusiawi, tidak terkesan komikal seperti film-film Batman sebelumnya. Bahkan, melalui tangan Nolan pula, trilogi Batman menjadi film superhero yang tidak hanya menghasilkan pendapatan terbesar, tetapi juga menjadi film terbaik sepanjang masa.

Coba kita lihat bagaimana ketelitian Christopher Nolan ketika memperhatikan detail-detail dalam filmnya, khususnya ketika menggarap film Batman.

Dalam kebanyakan film, hubungan antara orangtua dan anak biasanya hanya didasarkan pada usia—ayah atau ibu lebih tua dari anaknya. Biasanya mereka juga dicari yang berwajah mirip. Sepanjang dua syarat itu terpenuhi, penonton umumnya tidak akan mempersoalkan, dan menerima saja bahwa mereka memang orangtua dan anak. Tapi Nolan tidak puas hanya sebatas itu. Dia juga menuntut agar Bruce Wayne dan orangtuanya—khususnya ayahnya—memiliki ciri dan perilaku yang mirip!

Dalam Batman Begins, kita menyaksikan seperti apa rupa ayah Bruce Wayne. Jika kita jeli, kita akan menyaksikan betapa mereka bahkan memiliki kemiripan dalam gaya bicara, hingga ciri tertentu. Thomas Wayne, ayah Bruce, memiliki gaya bicara yang terkesan angkuh, namun elegan. Selain itu, dia juga punya ciri melengkungkan bibir secara khas. Kelak, ketika Bruce tumbuh dewasa, dia mewarisi ciri unik itu, seolah dia benar-benar anaknya di dunia nyata!

Cobalah tonton kembali Batman Begins, dan perhatikan sungguh-sungguh. Kalau perlu jangan berkedip. Dalam adegan Bruce bersama orangtuanya di kereta api untuk pergi menonton teater, Bruce kecil bercakap-cakap dengan ayahnya. Perhatikan bagaimana cara Thomas Wayne berbicara, dan perhatikan pula bagaimana dia melengkungkan bibirnya dengan cara yang sangat khas. Sekali lagi, kalau perlu jangan berkedip.

Kemudian, perhatikan bagaimana cara bicara Bruce Wayne setelah dia tumbuh dewasa. Perhatikan bagaimana gayanya ketika bercakap-cakap dengan orang lain, dan perhatikan pula bagaimana ia melengkungkan bibirnya dengan khas, yang benar-benar mirip ayahnya. Ketika menyaksikan hal itu, mau tak mau kita seperti dipaksa untuk percaya bahwa Bruce Wayne (Christian Bale) adalah asli anak Thomas Wayne (Linus Roache)!

Itulah detail. Oh, well, itulah kekuatan detail.

Christopher Nolan seorang genius. Dia sangat memperhatikan detail—sesuatu yang biasanya dilewatkan atau tak diperhatikan sineas lain.

Selain perhatiannya yang sangat besar terhadap detail, Nolan juga sangat tahu cara menyusupkan pesan-pesan tertentu ke dalam filmnya. Trilogi Batman bukan hanya film tentang superhero kekanak-kanakan yang membasmi kejahatan—ia lebih dari itu. (Kenyataannya, hampir semua film superhero ala Hollywood menyimpan dan menyusupkan pesan-pesan rahasia—dari Superman, Spiderman, X-Men, Green Lantern, hingga Batman).

Dalam trilogi Batman, perhatikanlah ucapan-ucapan para tokohnya, perhatikan jalinan ceritanya, kemudian temukan filosofinya. Setelah itu, mau tak mau kita akan geleng-geleng kepala. Saya tidak akan menjelaskannya di sini, karena pesan serta filosofi itu bisa sangat panjang jika dituliskan semua dalam satu posting. Karenanya, kelak akan saya tuliskan satu demi satu dalam catatan-catatan lain—kalau sedang ada waktu, dan kalau saya sedang mood.

Sebagai penutup catatan ini, sekarang kita beralih kepada Superman, dan lihat pesan yang terkandung dalam sosok tersebut—sebuah pesan yang mungkin terlewat dari perhatian kita. Berkaitan dengan konteks catatan ini, “pesan” semacam itulah yang dari tadi saya sebut-sebut dan saya maksudkan.

Dalam Superman Returns, awal film itu memperlihatkan Superman “jatuh dari langit” (tolong perhatikan tanda kutipnya). Di tengah film, ada adegan Superman mengambang di udara, kemudian terdengar suara ayahnya, “Walau kau dibesarkan sebagai manusia, kau bukan manusia. Mereka bisa menjadi bangsa besar—mereka ingin begitu. Mereka hanya tak punya teladan. Itulah sebab utama—karena mereka mampu menjadi baik—aku mengirimmu kepada mereka, anak tunggalku.”

Kalimat yang merupakan deskripsi itu sangat gamblang menjelaskan siapa sebenarnya Superman.

Kemudian, di akhir film, Superman berkata kepada Jason, anak biologisnya, dengan mengutip kata-kata ayahnya, “Kau akan berbeda, terkadang kau akan seperti buangan, tapi kau tidak akan kesepian. Kau akan memiliki kekuatanmu sendiri. Kau akan melihat kehidupanku melalui matamu, seperti halnya kehidupanmu akan terlihat melalui mataku. Anak akan menjadi ayah, dan ayah akan menjadi anak.”

Nah, sudah melihat siapakah sesungguhnya Superman?

Pelangi di Atas Kepala

Apa yang lebih membahagiakan dari kebahagiaan?
Ialah kemampuan menikmati kebahagiaan.
@noffret


Berkas-berkas itu datang tiga minggu yang lalu, dengan segel dan kop resmi seperti biasa, dengan kurir yang membisikkan batas deadline. Dan sejak itulah, saya terus mengurung diri dalam rumah, membaca dan mempelajari berkas-berkas itu, serta mencari jawaban yang harus saya temukan. Itu pekerjaan yang luar biasa berat—tanpa keringat terlihat, tapi sangat menguras energi. Dan waktu. Dan rasa frustrasi.

Selama tiga minggu berikutnya, saya nyaris tak keluar rumah, hanya berkutat dengan tumpukan buku, dan sebundel berkas yang mungkin telah saya baca sejuta kali. Bersama hari-hari yang berjalan, pekerjaan itu perlahan-lahan selesai, dan saya mulai ingat untuk bernapas. Untuk makan. Untuk tidur. Untuk membedakan kapan siang dan kapan malam.

Energi terbesar yang dihabiskan tubuh manusia ada pada otak. Sebagian besar asupan yang kita makan dihabiskan oleh otak. Semakin keras otak kita bekerja dan berpikir, semakin mudah tubuh kita untuk kurus. Dan memeras otak selama tiga minggu tanpa henti benar-benar terapi diet yang layak dicoba siapa pun yang ingin menguruskan badan. Di suatu pagi yang dingin, saya terbangun dari tidur dengan tubuh kurus kering.

Dan letih.

Dan kelaparan.

Meski lega, karena pekerjaan telah selesai. Saya bisa sedikit santai.

Jadi, pagi itu pun saya duduk-duduk di teras rumah, sambil membawa segelas minuman dan sebungkus rokok. Rasanya sudah berabad-abad tidak melihat lingkungan sekitar.

Pagi yang sejuk. Seharusnya matahari sudah bersinar, tapi langit mendung. Saya duduk santai sambil mengisap rokok. Dan menghirup teh hangat di gelas. Merasakan tubuh yang letih, pikiran yang letih.

Seorang tetangga melangkah untuk pergi bekerja seperti biasa—seperti hari-hari sebelumnya. Saya sering iri setiap kali melihatnya. Hidupnya benar-benar teratur. Pagi hari, dia berangkat kerja ke tempat yang tak terlalu jauh dari komplek kami. Siang hari ia pulang sejenak saat jam istirahat, menikmati makan siang yang telah disiapkan istrinya, lalu kembali ke tempat kerjanya untuk kemudian pulang ketika sore.

Sore menjelang maghrib, kadang-kadang saya melihatnya sedang asyik bermain dengan anaknya yang masih kecil. Lalu pergi ke mushala ketika adzan maghrib tiba. Juga saat isya’. Setelah itu mungkin dia dan keluarganya menikmati malam dengan menonton televisi, atau apa pun, tanpa pikiran yang ruwet. Hidup begitu mudah dijalani, tidak seperti saya yang menjalani hidup dengan tidak jelas, dengan tuntutan pekerjaan penuh stres.

Dia sampai di depan rumah saya, dan menyapa ramah, “Santai, Mas?”

“Iya, Pak,” sahut saya sambil membalas senyumnya. “Berangkat kerja?”

Dia mengangguk. Kemudian, dengan nada kelakar, dia berujar, “Memang paling enak tuh kayak situ, Mas. Banyak santai di rumah, kerja ringan, nggak capek-capek kayak saya.”

Saya tersenyum, sementara dia meneruskan langkah.

Saya mengisap rokok yang makin memendek. Dan menyadari, bahwa pelangi memang selalu tampak di atas kepala orang lain.

No Mention

Semula, kau berpikir mudah membacaku. Tetapi, dari hari ke hari, kau semakin terjerat dalam kebingungan yang menghantuimu.

Tidak semua buku tertutup menyimpan misteri. Tidak semua buku terbuka mudah dipahami.

Selasa, 03 Desember 2013

Cewek-cewek Suka Cowok Brengsek

Lhah, kamu kan emang hebat, Yu.
Bisa menundukkan master web dan juragan lele.
Kurang apa, coba? Heuheuheu...
@noffret

"̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ aku emang hebat mas.
Cuma mereka yg brengsek.:D
@ItikBali

Kayaknya kamu perlu pacaran sama aku, Yu.
Biar tahu bahwa di dunia ini ada cowok yang...
lebih brengsek dari mereka. Heuheuheu...
@noffret

haha... Bahaya kalo lbh brengsek,
ntar aku jd lbh cinta. Soalnya aku kesandung cinta
kok malah sama cowok yg trnyata brengsek
@ItikBali


Meski kadang sebagian orang masih meragukan kenyataan ini, tapi faktanya cewek-cewek memang suka cowok brengsek. Itu sudah jadi rahasia umum, bahkan sudah menjadi kenyataan yang sangat mencolok mata, meski kadang masih ada orang yang mencoba menyangkalnya.

Sedari SMA, saya memperhatikan teman-teman cowok saya yang mudah mendapat pacar justru mereka-mereka yang brengsek. Sementara cowok-cowok yang kalem, baik, alim, justru tampak kesulitan mendapat pacar—atau tidak ada cewek yang tertarik pada mereka. “Keanehan” itu terus terjadi ketika masa kuliah. Cowok-cowok yang brengsek justru mudah gonta-ganti pacar, sementara cowok-cowok yang “lurus” kesulitan cari pacar.

Apakah cewek-cewek pernah menyadari kenyataan aneh ini...?

Saya tidak tahu.

Yang saya tahu, cewek-cewek memang suka cowok brengsek!

Kalian mungkin pernah, atau malah sering, mendapati cewek yang curhat setelah putus dari pacarnya, dan menyatakan kalau cowoknya ternyata brengsek. Anehnya, kalau kita perhatikan, cowok yang baru putus dengan cewek itu memang brengsek. Bahkan, kalau kita mau lebih memperhatikan, sebenarnya ada banyak cowok lain yang lebih baik dari cowok itu. Tapi mengapa cewek teman kita justru jatuh pada cowok yang brengsek?

Sekarang, hei cewek-cewek, mari kita buat ilustrasi yang mudah, dan coba lihat seperti apa pilihanmu.

Ada dua cowok—kita sebut saja Cowok A dan Cowok B. Mereka memiliki penampilan yang sama—katakan saja sama-sama ganteng. Mereka memiliki latar belakang yang sama, punya tingkat kecerdasan yang sama, dan segala hal yang relatif sama. Bedanya, Cowok A tergolong “sangat lurus”, sedang Cowok B termasuk “brengsek”. Kira-kira, mana yang kalian pilih?

Secara teori, mungkin kalian bisa mudah menjawab, “Tentu saja gue pilih Cowok A, dong, yang hidupnya lurus!”

Sayangnya, dalam praktik, cewek-cewek akan lebih cenderung memilih Cowok B, yang relatif brengsek.

Mengapa...? Karena, dalam realitas, Cowok B—yang brengsek—tampak lebih asyik... dan lebih menantang!

Dalam kehidupan anak muda seperti kita, kepemilikan pacar sering kali bukan hanya untuk “mendamaikan hati” karena telah terlepas dari “kutukan jomblo”, tetapi juga untuk pamer dan bangga-banggaan. Oh, ayolah, tidak usah munafik. Karenanya, mendapatkan pacar yang “menantang” (dengan kata lain; brengsek) membuat kita—disadari atau tidak—bangga karena bisa dipamer-pamerkan. Hal itu sulit dilakukan jika pacar kita tergolong orang yang “lurus-lurus saja”, karena kesannya kurang menantang.

Selain itu, cowok brengsek juga sering ditaksir banyak cewek. Buktinya kau sendiri jatuh hati kepadanya. Karenanya, mendapatkan pacar yang tergolong brengsek membuat cewek bangga, karena merasa dapat “menundukkan” si brengsek. Sementara cowok lurus jarang ditaksir cewek-cewek. Karenanya pula, mendapatkan cowok yang lurus kurang mendatangkan kebanggaan.

Jadi, mengapa cewek-cewek suka cowok brengsek? Karena faktor tantangan. Dan karena alasan kebanggaan. Motivasi semacam itu biasanya sangat kuat pada cewek-cewek yang mencari cowok untuk hubungan pacaran. Biasanya pula, semakin mereka tumbuh dewasa, dan semakin terbuka matanya, mereka pun akan mulai menyadari bahwa faktor tantangan serta kebanggaan seperti itu mulai tak penting lagi. Khususnya jika motivasi mencari pasangan untuk hubungan yang lebih serius.

Nah, bagaimana dengan cowok-cowok? Apakah cowok juga lebih suka pada cewek brengsek daripada cewek yang lurus?


Hahahaaa. Sebenarnya, cowok juga
kayaknya (kayaknya lho!) lebih suka cewek yang
ada brengsek2nya dikit (dikit lho!). Heuheuheu...
@noffret

Aku kayaknya termasuk
yang baik sekali deh....#dziiiingggg..
@ItikBali

Coba kita tanya Master Web dan Juragan Lele.
Mereka pasti lebih tahu. Heuheuheu...
@noffret

Apa gak ada orang ganteng lain di dunia ini sih
kok musti nanyanya sama orang2 “semacam” itu?
@ItikBali

Lhah, jangan salahin aku dong, Yu.
Kan kamu sendiri yang milih mereka. Coba dari dulu
kamu milih aku. Kan beda ceritanya. Hahaha..
@noffret


Sebenarnya, cowok pun tak jauh beda. Sebagai manusia, mereka juga menyukai tantangan—dan cewek yang brengsek sering kali tampak lebih menantang. Saya tidak mau pukul rata, karena bisa jadi selera masing-masing cowok berbeda. Karenanya, saya akan mengurai diri saya sendiri dalam kecenderungan atau ketertarikan terhadap lawan jenis.

Sebagai cowok normal—yang suka lawan jenis—tentu saja saya punya kecenderungan terhadap cewek. Dan cewek yang “agak nakal” (tolong perhatikan tanda kutipnya), bagi saya jauh lebih menarik daripada cewek yang “terlalu lurus” (sekali lagi, tolong perhatikan tanda kutipnya).

Cewek “nakal” yang saya maksud adalah cewek yang asyik, tidak sok jaim apalagi sok alim, pendeknya tidak terlalu konservatif. Bisa saja cewek “nakal” itu tergolong salihah, tapi dia tidak sok menunjuk-nunjukkan salihahnya secara demonstratif. Biasanya, cewek semacam itu asyik dijadikan teman, asyik pula dijadikan pacar. Sebaliknya, cewek yang terlalu lurus—apalagi sok alim—sering kali membosankan!

Kadang-kadang saya membayangkan ilustrasi seperti ini.

Ada dua cewek—kita sebut saja Cewek A dan Cewek B. Mereka memiliki kualitas yang sama—cantiknya, pintarnya, segalanya. Bedanya, cewek A tergolong nakal, sedang cewek B sangat lurus.

Kalau saya kencan dengan cewek A, obrolan kami mengalir asyik dan nyambung. Kami bisa bercanda dan tertawa penuh kecocokan, tidak ada upaya untuk saling mengungguli atau berusaha membuat terkesan satu sama lain. Umpama kebetulan dia mendapati video bokep di ponsel saya, dia cuma tertawa. Dia tidak menampilkan kesan sok jaim atau sok alim.

Kemungkinan besar, saya akan melanjutkan kencan kami, karena merasa cocok. Saya tidak perlu menyembunyikan apa pun darinya, dan merasa nyaman.

Sekarang, kalau saya kencan dengan cewek B, yang terlalu lurus, saya membayangkan obrolan kami kurang nyambung, sekaligus tidak asyik.

Karena merasa dirinya lurus, dia berusaha membuat saya terkesan, dan upaya itu menjadikannya tidak jujur sekaligus tidak wajar. Umpama dia mendapati video bokep di ponsel saya, dia akan menunjukkan sikap sok jaim, lalu berceramah panjang lebar tentang siksa neraka, dan mengkhotbahi saya macam-macam. Bah! Kita mau kencan atau latihan kultum...???

Kira-kira, apakah saya akan melanjutkan kencan dengan cewek semacam itu? Jawabannya jelas; Tidak!

Apa intisari yang dapat kita ambil dari ilustrasi-ilustrasi di atas? Bagi saya, inilah pelajarannya: Jadilah menantang bagi lawan jenis, tapi tidak usah berusaha membuat mereka terkesan! Biarkan dia terkesan kepada kita, tanpa kita harus berusaha membuatnya terkesan. Dan, kau tahu, kita lebih sering terkesan pada orang yang apa adanya, daripada orang yang sok segalanya.

Itulah yang dilakukan cowok-cowok brengsek, dan cewek-cewek brengsek! Mereka tampil apa adanya, jujur, tidak dibuat-buat, tidak menutup-nutupi diri sendiri—tidak sok jaim, apalagi sok alim.

Karena mereka tampil apa adanya, nilai minus mereka justru tak terlihat, dan kita tertarik pada mereka! Cowok-cowok brengsek, dan cewek-cewek brengsek, memiliki satu hal positif yang sering kali tak dimiliki orang-orang sok alim, yaitu kejujuran! Mereka jujur pada diri sendiri, jujur pada orang lain—jujur bahwa dirinya brengsek.

Karena mereka jujur, kita pun tertarik, dan merasa nyaman bersamanya. Dan, bagi saya, merasa nyaman dengan seseorang adalah syarat pertama untuk melangsungkan suatu hubungan. Well, bagaimana denganmu...?

Percakapan yang Sangat Bodoh

Bocah itu berkata, “Kamu tuh aneh, laki-laki tapi tidak suka sepakbola.”

Saya tersenyum. “Sepakbola sudah bukan monopoli laki-laki. Wanita juga banyak yang menyukai.”

“Jadi, sebagai laki-laki, apa yang kamu suka?”

“Sebagai laki-laki, aku cuma suka wanita.”

....
....

*Goblok bener, gitu aja ditanyain*

Cara Menundukkan Siapa pun, Kapan pun, Dimana pun

Pertama-tama, hormati dirimu terlebih dulu. Kemudian, perlakukan orang lain dengan hormat sebagaimana kau menghormati dirimu sendiri.

Kau mampu melakukan itu, kau dapat menundukkan siapa pun.

Minggu, 01 Desember 2013

Percakapan di Bawah Bulan

Ada bagian yang hilang
Ada yang tak pernah kita kisahkan
Selalu, dalam masamu
Sesuatu ingin kausimpan,
hanya menjadi milikmu
Yang kaupeluk
—@noffret


—Terima kasih untuk S.A.

Mereka duduk berhadapan, dipisahkan meja dengan gelas dan poci teh di atasnya, beserta asbak dan bungkus rokok. Mereka menikmati malam di halaman belakang rumah tanpa atap, hingga rembulan seolah tepat di atas kepala. Mereka telah bercakap-cakap lama, dan sepertinya masih lama untuk berakhir.

....
....

Lelaki Pertama berkata perlahan, “Ketika kepalamu sakit seperti tadi, apa yang kaurasakan?”

“Amarah,” jawab Lelaki Kedua. “Amarah dan luka.”

“Dan kau merasakan sakit kepala seperti itu... setiap hari?”

“Ya, bahkan setiap saat. Karena itulah aku sering tersiksa. Oh, terpujilah paracetamol.” Setelah terdiam sesaat, Lelaki Kedua melanjutkan sambil tersenyum, “Kadang-kadang, aku membayangkan diriku menjadi Hulk akibat efek yang kurasakan. Mungkin begitulah yang dirasakan Bruce Banner—menyimpan amarah dan perasaan lukanya dalam diam, sampai kemudian tak mampu lagi menahannya hingga ia berubah menjadi Hulk.”

“Kuharap kau tidak menjadi Hulk di sini,” ujar Lelaki Pertama sambil membalas senyum temannya. “Rumahku bisa berantakan jika itu terjadi.”

Mereka menuangkan teh dari poci, kemudian menyeruput gelasnya masing-masing. Lelaki Pertama mengambil rokok dan menyalakannya, diikuti Lelaki Kedua. Setelah mengisap rokoknya sesaat, Lelaki Pertama berujar, “Kapan kau pertama kali menyadari ada yang tidak beres dengan kepalamu?”

“Sudah lama sekali,” sahut Lelaki Kedua. “Tapi aku benar-benar menyadarinya ketika SMA. Pada waktu itu aku mulai memahami apa yang terjadi, dan diam-diam aku merasa ngeri.”

Lelaki Pertama mengangguk. “Itu mengingatkanku pada percakapan kita dan teman-teman dulu, waktu kita membahas ingatanmu yang tidak wajar.”

“Susahnya,” sahut Lelaki Kedua, “memoriku semakin tidak wajar seiring aku bertambah dewasa. Kau tahu, sampai hari ini aku masih payah mengingat arah jalan. Tapi hal-hal lain selain itu bukannya mengabur kemudian terlupa perlahan-lahan, tapi justru semakin kuat tertanam dalam ingatanku. Itu menjadikanku sering depresi.”

Setelah mengisap rokoknya sesaat, Lelaki Pertama berkata, “Kalau aku menjadi dirimu, sepertinya aku tak punya alasan untuk merisaukan hal itu. Maksudku, kalau aku memiliki memori seperti yang kaumiliki, mungkin aku justru akan bersyukur karena bisa mengingat banyak hal dengan mudah. Itu karunia yang tak dimiliki setiap orang.”

“Karena kau tidak menjalani kehidupan yang kujalani,” sahut Lelaki Kedua. Kemudian, dengan suara perlahan, ia melanjutkan, “Kita telah berteman sejak lama sekali, dan kau tahu sebagian hidupku yang penuh kepahitan. Itulah gambaran yang terus terulang dalam memoriku, tak bisa kuhapuskan sedikit pun. Hampir tiap malam, selama bertahun-tahun, aku selalu terbangun ketakutan karena mimpi buruk, hingga aku tak berani tidur di kamar yang gelap.”

Lelaki Pertama mengangguk, memahami maksud temannya.

Lelaki Kedua melanjutkan, “Selama bertahun-tahun aku mengutuk hidupku, bahkan kadang di masa sekarang. Aku mengutuk diriku sendiri, mengutuk kelahiranku, mengutuk semua yang terjadi. Sering kali, saat sampai di puncak depresi, aku menangis sendirian, dan satu-satunya hal yang kuinginkan hanyalah kematian. Agar semuanya berakhir.”

“Itu alasanmu memilih hidup melajang?”

“Di antaranya, ya.” Lelaki Kedua mengisap rokoknya sesaat, kemudian melanjutkan, “Sebagai lelaki, kadang aku juga membayangkan ingin hidup dengan seorang wanita yang kucintai. Tetapi, yang paling kurisaukan, jika kemudian aku memiliki anak yang akan mengutuk hidupnya seperti aku mengutuk hidupku. Aku akan merasa menjadi manusia paling keparat kalau sampai mewariskan kutukan pada orang lain, apalagi pada anakku sendiri. Itu yang paling kutakutkan. Dan ketakutan itu pula yang selalu membuatku meredam perasaanku sendiri setiap kali merasa jatuh cinta pada seseorang. Setiap kali aku ingin menjalin hubungan dengan seseorang, saat itu pula aku menghentikan langkahku.”

Mereka menyesap minuman di gelasnya, lalu terdiam, sambil mengisap rokok masing-masing. Langit masih sunyi, dan bulan masih di atas kepala mereka.

Lelaki Pertama berkata hati-hati, “Amarah dan luka. Aku bisa membayangkan kerisauan yang kaurasakan.”

“Kuharap begitu,” sahut Lelaki Kedua.

“Tapi aku yakin kau lebih tegar dari yang kaurasakan. Aku mengenalmu sejak lama, dan telah melihatmu bisa melewati semuanya. Nyatanya kau masih hidup sampai sekarang, tetap menjadi dirimu yang tak tergantikan.”

“Karena aku tak punya pilihan.”

“Jangan begitu.” Lelaki Pertama tersenyum. “Kau sendiri yang selalu mengajarkan bahwa hidup adalah soal pilihan.”

“Ya, dan apa pilihanku? Aku tak punya pilihan, selain melanjutkan hidupku. Karena pilihan lain, mengakhiri hidup, tak mungkin kulakukan.”

Lelaki Pertama mengisap rokoknya, kemudian berkata dengan asap mengepul dari mulut, “Ada masanya ketika seseorang mengalami titik balik dalam hidup. Pernah membayangkan hal semacam itu? Kau sampai di suatu tempat, atau waktu, kemudian menyadari betapa beruntungnya dirimu karena masih hidup. Mungkin kau menemukan seorang wanita yang benar-benar bisa memahami, yang membuatmu tenteram bersamanya...”

“Ada terlalu banyak luka yang kurasakan,” potong Lelaki Kedua. “Sebegitu banyak, hingga aku terlalu sensitif untuk menerima luka lagi, sekecil apa pun.”

“Dan dia akan mengobati semua lukamu—siapa tahu?”

Lelaki Kedua tersenyum. “Kenapa kau tampak begitu yakin?”

Lelaki Pertama membalas senyum temannya. “Karena aku juga yakin kau masih menyimpan keyakinan semacam itu. Bahwa kau akan menemukan seseorang yang membuatmu jatuh cinta, yang membuatmu rela membagi hidupmu, karena menyadari bahwa dia bisa mengobati semua lukamu.”

“Entahlah...” Setelah mengisap rokoknya, Lelaki Kedua berkata lirih, “Kadang-kadang, aku merasa jatuh cinta pada seseorang. Tapi aku selalu ragu untuk melangkah lebih jauh—karena ketakutanku untuk terluka, lagi. Oh, kau tahu aku sangat peragu. Jadi aku lebih memilih memendam perasaanku diam-diam, dan membiarkan hidup terus mengalir seperti biasa. Hidupku sudah penuh luka, dan hubungan dengan seseorang hanya akan mendatangkan luka yang lain.”

“Dalam banyak hal, kau selalu berpikir positif. Kenapa dalam satu hal ini kau berpikir negatif?”

Lelaki Kedua tersenyum. “Sepertinya kau terlalu banyak membaca tulisanku.”

Lelaki Pertama membalas senyum temannya. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Selama aku hidup sendirian, aku memegang kendali,” ujar Lelaki Kedua. “Aku bisa menentukan bagaimana caraku menjalani hidup. Kau tahu, selama bertahun-tahun aku menyepi, menyisih dari keramaian masyarakat, menghindari publisitas sekecil apa pun, dan menjaga jarakku dari orang lain. Karena aku ingin terbebas dari semua luka yang pernah kurasakan, ingin menghapus semua derita dan amarah yang pernah kualami, agar aku tak mendapatkan luka yang lain lagi.”

Setelah mengisap rokoknya sesaat, Lelaki Kedua melanjutkan, “Jika aku menjalin hubungan dengan seseorang, maka aku memasukkan orang lain ke dalam hidupku. Siapa yang menjamin dia akan bisa mengikuti gaya hidup yang kujalani? Siapa yang menjamin dia tidak akan melukaiku? Oh, sialan, aku sudah terlalu rapuh untuk terluka lagi, dan kenyataan itu pun sudah membuatku frustrasi. Kau tahu, aku sangat sensitif—sedikit luka saja bisa membuatku meledak, karena aku sudah sangat tersiksa oleh luka dan amarah yang kuperoleh sepanjang hidup.”

Lelaki Pertama mengangguk, memahami maksud temannya. “Sepertinya kau memang cocok berteman dengan Bruce Banner.”

“Mungkin,” jawab Lelaki Kedua sambil tersenyum. 

“Dan, kalau tak salah ingat, Hulk—maksudku Bruce Banner—punya pasangan yang bisa meredam lukanya, mendinginkan amarahnya.”

“Sayangnya aku tak seberuntung dia.”

“Dalam hal itu, mungkin, yang kauperlukan hanya sedikit keyakinan. Bahwa ada seseorang yang akan mampu menyembuhkan semua lukamu.” Lelaki Pertama mengisap rokoknya, lalu berkata perlahan-lahan, “Maksudku, kau mungkin memang bisa meneruskan hidup yang kaupilih—sendirian, dan seorang diri berusaha menyembuhkan semua lukamu. Kemudian, mungkin, kau akan bisa mati dengan tenang, ketika saatnya tiba. Tapi mengapa memilih jalan itu, jika ada jalan lain yang mungkin lebih baik?”

“Aku mendengarkan.”

Lelaki Pertama tersenyum. “Aku tidak akan memberikan penjelasan panjang lebar. Tapi jawab saja pertanyaanku; apa yang akan kaulakukan jika memiliki seorang kekasih yang membuatmu nyaman bersamanya, dan kau tahu dia benar-benar mencintaimu?”

“Kalau pertanyaannya ‘jika’, maka jawabannya bisa ‘mungkin’.”

“Tidak masalah—jawab saja.”

“Mungkin aku akan terlelap di pangkuannya, setelah lelah menceritakan semua luka hidupku kepadanya.”

Lelaki Pertama mengangguk, dan tersenyum. “Dan selama kau terlelap, dia akan menyembuhkan semua luka yang kau alami. Hingga saat kau terjaga, dan membuka mata, kau akan merasa dilahirkan kembali.”

....
....

Mereka masih bercakap-cakap lama, bersama teh yang terus tertuang ke gelas-gelas mereka, bersama asap rokok yang mengepul, bersama malam yang semakin larut.

Dan bulan masih di atas kepala mereka.

 
;