Jumat, 06 Juni 2014

Iblis Dunia Maya (1)

Kalau aku mengatakan mengamatimu, artinya aku benar-benar
mengamatimu. Setiap aktivitas, semua tindakan dan perbuatanmu,
bahkan yang ada dalam pikiranmu, semuanya akan terpantau.
Suatu tempat, suatu waktu


Catatan ini bisa dibilang tindak lanjut dari catatan sebelumnya (Seringai Iblis di Wajah Malaikat). Catatan ini tidak bermaksud membuka aib seseorang. Semula, saya pun tidak ingin menulisnya. Tetapi, orang yang akan saya ceritakan dalam catatan ini telah berkali-kali mengusik dan mengganggu saya—bahkan tindakannya telah sampai pada pelanggaran hukum—tapi dia masih sok pede, dan mengira perbuatannya tidak diketahui.

Teman-teman dari berbagai pihak yang mengetahui masalah ini menyarankan agar kasus ini diungkap secara terbuka, meski tetap dengan menghormati identitas si pelaku. Bagaimana pun, masalah ini sudah masuk sebagai kejahatan di dunia maya, yang tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Selain itu, kasus ini juga perlu diketahui banyak orang, agar lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang lain di dunia maya.

Jadi, saya terpaksa menulis catatan ini sebagai semacam peringatan bahwa saya tahu semua perbuatan yang dilakukannya, sekaligus sebagai pembelajaran bagi kita semua, agar lebih berhati-hati di dunia maya. Beberapa bagian dalam catatan ini terdapat penjelasan yang cukup teknis mengenai psikologi dan aktivitas di internet. Karenanya, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah perlahan-lahan dan menyeluruh.

***

Semasa kuliah, saya biasa nongkrong bersama teman-teman saat menunggu jam masuk kelas, atau menunggu dosen yang terlambat datang. Kami biasa duduk-duduk di taman kampus yang adem, bercakap, bercanda, saling ledek, dan tertawa. Selama waktu-waktu itu, saya memperhatikan ada satu mahasiswa yang selalu berusaha menghindari saya. Sebut saja namanya Feri.

Jadi, kalau umpama saya sedang nyangkruk dengan beberapa mahasiswa, dan Feri melihat kami, dia tidak akan ikut gabung. Padahal, jika tidak ada saya, dia akan datang dan bergabung. Sebaliknya, kalau umpama Feri sedang asyik bersama beberapa temannya, dan kemudian saya ikut bergabung, tidak lama kemudian Feri akan pergi dari tempat itu. Intinya dia tidak mau dekat dengan saya.

Meski Feri telah berusaha melakukan hal itu secara diam-diam—dan teman-teman lain mungkin luput memperhatikan—tapi insting saya terlalu peka, dan saya bisa menangkap maksud perbuatannya. Semula, saya pura-pura tidak tahu, dan menganggapnya bukan masalah. Tetapi, karena hal itu terjadi terus-menerus, saya pun terusik.

Sebenarnya, saya dan Feri saling kenal. Kami memang tidak satu kelas. Tetapi, beberapa mata kuliah yang sama mengharuskan saya masuk ke kelas Feri, atau Feri yang masuk ke kelas saya. Lebih dari itu, di kampus kami, rata-rata mahasiswa saling mengenal meski tidak satu kelas. Sekadar catatan, saya bahkan mengenal para senior dan yunior saya di kampus, dan mereka baik-baik saja—biasa saling sapa dengan saya, dan bisa berteman dengan asyik. Jadi, ada apa dengan Feri?

Mula-mula, saya mencoba introspeksi. Apa kira-kira yang menyebabkan Feri selalu berusaha menghindari saya? Apakah saya pernah berbuat salah kepadanya, tanpa saya sadari? Tetapi, meski telah berupaya keras mengoreksi diri, saya tetap tidak mampu menemukan apa kira-kira kesalahan saya pada Feri, hingga ia selalu berusaha menghindar dan terkesan tidak mau berteman dengan saya.

Karena tidak mampu menemukan jawabannya, saya pun curhat pada bocah ini. (Dia sobat karib saya di kampus.) Ketika saya menceritakan tingkah Feri yang tampak selalu berusaha menjauhi saya, dia menjelaskan, “Mungkin kamu tidak menyadari seperti apa kesan sosokmu di mata orang lain. Yang jelas, tidak setiap orang punya cukup mental untuk berdekatan denganmu. Meski kamu ramah pada siapa pun, tidak berarti semua orang tidak akan minder denganmu.”

Saya kaget mendengar jawaban itu. Dengan kaget pula saya bertanya, “Kenapa?”

“Kenapa?” dia balik bertanya. Lalu dia menyampaikan penjelasan panjang lebar, yang tidak bisa saya tuliskan di sini. Jika penjelasannya saya tulis di sini, kesannya akan terdengar saya sedang menyombongkan diri. Intinya, menurut dia, Feri selalu berusaha menghindari saya, karena perasaan minder. Semula, saya tidak percaya penjelasan itu. Tetapi, meski telah berusaha keras mencari jawaban lain, saya tidak mampu menemukan alasan logis lain.

Akhirnya, setelah memahami bahwa itulah alasan Feri selalu menghindari saya, sejak itu pun pandangan saya berubah terhadap Feri. Jika sebelumnya saya merasa sakit hati karena dia terkesan selalu menghindari saya, sekarang saya mulai memaklumi. Sejak itu pula, saya mencoba mendekatinya, berusaha menunjukkan bahwa saya tidak berbeda dengan teman-temannya yang lain, agar dia nyaman berteman dengan saya.

Perlahan namun pasti, hubungan Feri dengan saya mulai membaik. Dia mulai mau bergabung dengan saya saat sedang nyangkruk di kampus. Dia pun mulai tampak nyaman saat bercakap dengan saya. Di kelas, saat bertemu di suatu mata kuliah, kami juga bisa asyik berdiskusi saat presentasi. Akhirnya, kami benar-benar bisa berteman dengan baik. Menjelang kelulusan, saat dia menggarap skripsinya, saya bahkan meminjami cukup banyak buku untuk bahan referensinya.

Feri adalah orang baik, yang mungkin menjadi korban dari kesalahan asumsinya sendiri. Dia menilai saya terlalu tinggi, dan akibatnya dia jadi rendah diri, lalu berusaha menjauh dari saya. Ketika saya menunjukkan kepadanya bahwa saya tak jauh beda dengan teman-temannya yang lain, dia pun mulai melihat bahwa saya orang biasa—sama seperti teman-temannya—dan kami bisa berteman. Dan selama berteman dengannya itulah, saya tahu dia orang baik.

Well, saya teringat pada Feri, karena kembali menghadapi kenyataan yang tak jauh beda. Kali ini di dunia maya. Kisahnya dimulai empat tahun yang lalu, ketika saya mulai aktif nge-blog, dan membuat blog yang sedang kalian baca ini.

Seperti umumnya blogger lain, waktu itu saya juga kadang blogwalking, menyambangi blog teman-teman, menjalin pertemanan, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Dari blogwalking itu saya mengenal hingga berteman dengan cukup banyak blogger. Selama waktu-waktu itu, semuanya berjalan wajar. Tapi saya mendapati ada satu blogger yang tampak selalu berusaha menghindari saya. Kita sebut saja namanya Lucifer.

Lanjut ke sini.

 
;