Jumat, 06 Juni 2014

Iblis Dunia Maya (1)

Dunia maya memang remang-remang, dalam arti hal-hal yang kita lihat di dunia maya belum tentu sesuai aslinya. Seseorang yang tampak baik, ternyata jahat, atau sebaliknya. Kenyataan itu pula yang saya alami, terkait seseorang yang saya kenal di dunia maya, bernama Joko Sutarto, pemilik blog diptara.com. Orang yang semula saya kira baik, ternyata sesosok iblis menjijikkan di dunia maya.

Perkenalan saya dengan Joko Sutarto terjadi bertahun lalu, saat saya masih awal ngeblog. Pada waktu itu, saya biasa blogwalking ke blog milik Ayu (beralamat di itikbali.com) dan blog Vicky (beralamat di georgetterox.blogspot.com). Sekadar catatan, blog Ayu sudah tidak aktif, sementara blog Vicky masih ada, namun dia sekarang pindah ngeblog ke alamat lain (vickyfahmi.com).

Dulu, pada awal ngeblog, bisa dibilang saya sering blogwalking ke dua blog di atas, karena menyukai tulisan-tulisan yang ada di sana. Seperti umumnya blogger lain, saya pun kerap meninggalkan komentar untuk post-post yang saya baca. Melalui kolom komentar itu pula, saya pun lalu saling kenal dengan Ayu maupun Vicky.

Nah, di dua blog itu, sering terlihat seseorang bernama Joko Sutarto. Hampir setiap kali saya blogwalking ke blog Ayu maupun blog Vicky, Joko Sutarto selalu terlihat di kolom komentar. Berdasarkan foto yang terlihat pada profilnya, si Joko Sutarto ini tergolong sudah tua. Karenanya, waktu itu saya pun berpikir, “Nih orang sudah tua, tapi masih mau gaul sama anak muda.”

Jadi, saya pun menilai dia orang yang asyik. Selain itu, berdasarkan komentar-komentarnya yang saya baca di blog Ayu maupun di blog Vicky, si Joko Sutarto ini komentarnya baik, dalam arti bukan nyepam.

Karena kesan baik itu, dan karena seringnya melihat Joko Sutarto di kolom komentar blog Ayu maupun blog Vicky, saya pun jadi tertarik untuk mengunjungi blog Joko Sutarto yang beralamat di www.diptara.com.

Di blog Joko Sutarto, saya lihat dia menulis banyak artikel, termasuk tips menulis. Kebetulan, waktu itu, post terbaru di blog Joko Sutarto membahas tentang kepenulisan. Karena saya merasa paham dengan isi artikel yang ditulisnya, saya pun memberanikan diri untuk berkomentar di blognya. Itulah pertama kalinya saya berkomentar di blog Joko Sutarto.

Singkat cerita, sejak itu, saya dan Joko Sutarto saling kenal, bahkan belakangan kami saling follow di Twitter. Selama waktu-waktu itu bisa dibilang semuanya berjalan wajar, tanpa ada masalah.

Suatu hari, Joko Sutarto menulis di blognya, bahwa dia menerima tawaran jual beli akun Facebook yang sudah tidak terpakai, asal akun yang ditawarkan telah memiliki banyak teman. Menurutnya, akun Facebook yang ia beli itu akan diubah menjadi tempat bisnis atau jual beli.

Kebetulan, waktu itu, saya punya teman wanita bernama Tiara. Dia punya akun Facebook yang telah memiliki ribuan teman, tapi tidak lagi digunakan karena kesibukan Tiara di dunia nyata. Saya pun iseng, bilang ke Tiara, agar dia jual saja akun Facebook-nya, daripada menganggur tak terpakai.

Tiara tertarik dengan tawaran itu, lalu saya pun mengenalkan Tiara dengan Joko Sutarto melalui e-mail. Karena Tiara tidak mengenal Joko Sutarto sebelumnya, dan dia orangnya juga protektif, Tiara pun sengaja membuat alamat e-mail baru, yang khusus digunakannya untuk berkomunikasi dengan Joko Sutarto.

Jadi, sejak pertama kali saya perkenalkan dengan Joko Sutarto via e-mail, alamat e-mail yang digunakan Tiara adalah alamat e-mail yang benar-benar baru, yang tidak diketahui siapa pun, selain saya dan Joko Sutarto.

Setelah saya perkenalkan lewat e-mail, Tiara dan Joko Sutarto sempat berkomunikasi beberapa kali, namun sepertinya tidak/belum ada deal.

Nah, ada yang menarik di sini, yang belakangan mengungkap kebejatan Joko Sutarto.

Selama waktu-waktu itu, saya kerap menemukan e-mail spam yang sangat aneh. E-mail spam itu memiliki subject yang “menggoda”, misalnya “CAN’T GET PUSSY?” atau “CAN’T GET LAID?”. Sementara isi e-mail itu bukan tulisan sebagaimana yang biasa kita lihat di e-mail, melainkan kode-kode yang aneh.

Saya menggunakan e-mail di Gmail, dan Gmail pun secara otomatis menandai e-mail aneh itu sebagai spam, dan menempatkannya di folder spam. Tetapi, seperti umumnya manusia lain, saya kadang tergoda untuk melihat yang ada di folder spam, dan mengecek isinya. Karena siapa tahu ada e-mail penting yang justru masuk ke sana. Dari situlah saya lalu menemukan e-mail-e-mail aneh tersebut.

Setiap hari, bisa dibilang alamat e-mail saya terus menerus mendapat kiriman e-mail spam yang aneh tersebut. Hari ini saya mengosongkan folder spam, besok e-mail yang aneh itu datang lagi, dan begitu seterusnya.

Belakangan, saya tahu bahwa e-mail aneh itu berisi virus berbahaya, yang ditujukan untuk memata-matai penerimanya. Jadi, ketika e-mail itu dibuka, secara otomatis virus akan masuk ke komputer kita, dan satu per satu virus itu lalu menjadi trojan yang memata-matai aktivitas kita di internet.

Perlu saya jelaskan, bahwa e-mail spam aneh itu bukan jenis spam biasa yang sering masuk ke alamat e-mail banyak orang. Itu jenis e-mail yang sengaja yang dikirim dengan target terbidik, karena isinya memang virus yang ditujukan untuk memata-matai si target. Jadi, si pengirim e-mail bervirus itu telah mengenal si penerima e-mail, dan bermaksud memata-matai orang yang ia kirimi e-mail virus tersebut.

Jadi, pada waktu itu saya pun berpikir bahwa ada seseorang di dunia maya yang sengaja mengirimkan e-mail bervirus itu, dengan maksud untuk memata-matai aktivitas saya di internet. Tetapi, pada waktu itu, saya belum bisa menyimpulkan siapa kira-kira pelaku kejahatan yang busuk itu.

Sampai suatu hari....

Lanjut ke sini: Iblis Dunia Maya (2)

 
;