Jumat, 06 Juni 2014

Iblis Dunia Maya (2)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Kadang-kadang, saat blogwalking, saya bertemu Lucifer di kolom komentar blog teman. Itu hal biasa. Blogger A bertemu blogger B di blog milik blogger C, saat sama-sama memberi komentar untuk suatu posting—itu hal biasa di dunia blog. Tetapi, lama-lama, saya mulai menyadari Lucifer tampaknya berusaha menghindari saya. Meski hanya bertemu di dunia maya, dan saya tidak mengenal langsung sosoknya, tapi insting saya terlalu peka. Dan, sejak itu, saya mulai mengamatinya.

Saat bertemu di blog milik blogger yang sama-sama cowok, Lucifer memang masih terlihat wajar—dia tidak tampak menghindar. Tetapi ketika kami bertemu di blog milik blogger cewek, tingkah aneh Lucifer sangat jelas.

Semula, Lucifer sangat aktif berkomentar di blog milik Ayu (bukan nama sebenarnya). Hampir bisa dibilang dia rutin berkomentar di blog Ayu, karena blog itu memang ramai. Ketika kemudian saya juga mulai berkomentar di blog Ayu, Lucifer perlahan menghilang. Sejak itu, saya tidak lagi menemukan komentar Lucifer di sana. Hal semacam itu juga terjadi di blog-blog lain, yang rata-rata milik blogger cewek. Kebetulan...?

Di antara blog lain yang semula sering disambangi Lucifer adalah blog milik Wulan (juga bukan nama sebenarnya). Hampir tiap kali Wulan memposting tulisan baru, Lucifer akan meninggalkan komentar sekalian nampang. Ketika kemudian saya juga mulai berkomentar di blog Wulan, Lucifer menghilang. Sekitar dua tahun setelah saya tidak pernah lagi berkomentar di blog Wulan, Lucifer kembali aktif “mejeng” di sana—sampai sekarang.

Karena hal aneh semacam itu terjadi berkali-kali, saya pun terus tertarik mengamatinya. Dalam psikologi, ada suatu istilah yang disebut “pola psikologi”. Jika suatu hal terjadi sesekali, atau secara acak, itu kebetulan. Tetapi jika suatu hal yang sama terjadi berkali-kali, dan semuanya menyangkut satu orang yang sama, maka kau bisa mengambil kesimpulan. Itulah pola psikologi.

Dalam kehidupan sehari-hari—di dunia nyata maupun di dunia maya—kita semua terbiasa melakukan banyak hal tanpa sadar, dan segala aktivitas itu akan membentuk suatu pola. Kita adalah apa yang kita lakukan. Dan yang kita lakukan, anehnya, sering kali tidak kita sadari—meski kita yakin sedang sadar ketika melakukannya. Ketika yang kita lakukan itu berulang, perlahan-lahan pola psikologi terbentuk—dan orang yang cukup peka akan bisa melihatnya.

Itu pula yang saya dapati pada Lucifer. Mungkin dia tidak sadar sedang meninggalkan pola yang sangat jelas. Tapi saya melihatnya. Ketika saya telah melihat polanya, saya mulai mengamatinya. Dan jika saya mulai mengamati seseorang, maka semua jejaknya akan terbaca. Seperti yang pernah saya tulis sekilas di sini, saya menghabiskan separuh dari umur saya untuk mempelajari psikologi manusia, dan cukup mudah bagi saya untuk melakukan hal-hal semacam itu.

Semula, saya mencoba berbaik sangka pada Lucifer, dan membayangkan Feri yang pernah saya kenal di kampus dulu. Feri adalah orang baik. Tapi dia menghindari saya karena perasaan minder. Bisa jadi, pikir saya waktu itu, Lucifer juga berusaha menghindari saya karena alasan yang sama. Maka saya pun mencoba mendekati Lucifer secara baik-baik, sebagaimana dulu saya mendekati Feri. Tetapi, rupanya, Lucifer berbeda dengan Feri.

Mula-mula, sebagai itikad baik, saya mengunjungi blog Lucifer, dan meninggalkan komentar. Saya lakukan beberapa kali, sebagai wujud sapaan, “Hei, ayo kita berteman.” Tapi dia tidak berubah. Bahkan, yang terjadi, seiring pengamatan terhadapnya, saya mulai melihat sisi gelap Lucifer yang ia coba sembunyikan di balik topeng munafik.

Suatu waktu, tiga tahun yang lalu, ada seorang teman blogger yang membahas tentang pentingnya kata kunci dalam nge-blog, karena kata kunci yang tepat bisa mendatangkan trafik berlimpah. Waktu itu, saya menulis komentar, bahwa saya tidak sempat memikirkan kata kunci apa pun ketika menulis posting di blog. Yang saya lakukan cuma menulis, dan tidak peduli kata kunci. Lagi pula, kata kunci terbanyak yang digunakan orang untuk mengunjungi blog ini adalah nama saya.

Itu sebenarnya komunikasi biasa antarblogger, dan kami (saya dan si blogger yang saya komentari) pun berkomunikasi dengan santai di kolom komentar. Tapi rupanya Lucifer menganggap itu terlalu serius.

Sejak itu, dia melakukan perbuatan yang sangat aneh—dia memasukkan namanya sendiri sebagai kata kunci untuk mengunjungi blognya sendiri, secara terus-menerus. Jadi, saban hari, dia masukkan namanya sendiri di Google, lalu meng-klik tautan ke blognya sendiri pula. Dia lakukan itu terus-menerus, mungkin sampai puluhan kali setiap hari.

Kenyataan itu sangat mudah dilacak—salah satunya bisa dibaca di situs Alexa. Semula, dari 5 kata kunci teratas blog milik Lucifer, semuanya kata-kata acak. Tidak ada nama Lucifer. Tetapi, tidak lama setelah peristiwa di atas, nama Lucifer menempati peringkat pertama sebagai kata kunci yang paling banyak digunakan untuk mengunjungi blognya. Terlalu kebetulan jika kita menganggap itu sebagai kebetulan.

Sekarang, jika dicek ke Alexa, nama Lucifer tidak lagi menempati peringkat 5 kata kunci teratas di blognya, karena kenyataannya memang tidak ada yang menggunakan namanya sebagai kata kunci, selain dirinya sendiri. Dalam pengamatan waktu itu, saya mendapati keberadaan nama Lucifer sebagai kata kunci di Alexa hanya bertahan beberapa minggu. Setelah itu tidak pernah ada lagi. Karena kenyataannya memang cuma dirinya sendiri yang waktu itu menggunakannya sebagai kata kunci untuk mengunjungi blognya.

Ketika mendapati hal itu, saya tersenyum. Yang dilakukan Lucifer waktu itu sangat jelas menunjukkan perilaku orang minder yang sok tidak mau kalah. Perilaku yang sungguh kekanak-kanakan.

(Sekadar catatan penunjang: Sejak saya membuat blog ini sampai sekarang, kata kunci yang paling banyak masuk adalah nama saya. Kenyataan itu bisa dicek di Alexa dengan mudah. Kenyataan itu pula menunjukkan bahwa kebanyakan pengunjung blog ini memang menggunakan nama saya sebagai kata kunci. Bahkan, ada cukup banyak blogger lain yang memasang nama saya di blogroll mereka untuk mendatangkan trafik. Kenyataannya, web/blog mana pun yang memuat nama saya di blognya mendapat limpahan pengunjung tambahan—karena nama saya menjadi salah satu kata kunci yang banyak dicari di internet. Silakan coba sendiri di blogmu, kalau ingin membuktikan.)

Nah, Lucifer tampaknya ingin “menyaingi” saya, tapi caranya sungguh konyol dan kekanak-kanakan. Bukannya membangun blog dengan baik sehingga namanya dikenal para pengguna internet, dia justru “menipu diri sendiri” dengan cara berbuat seolah-olah namanya juga menjadi kata kunci yang banyak digunakan para pengguna internet.

Contoh kata kunci yang terbentuk alami di mesin pencari.
Klik untuk memperbesar.

Untuk ukuran orang yang tahu internet, perbuatan Lucifer sangat tolol! Kata kunci tidak bisa terbentuk hanya karena satu orang menggunakannya, meski terus-menerus. Kata kunci baru terbentuk secara alami jika ada banyak pengguna internet dari berbagai wilayah menggunakannya terus-menerus, dan datang dari berbagai IP (Internet Protocol) yang berbeda.

Lanjut ke sini.

 
;