Jumat, 06 Juni 2014

Iblis Dunia Maya (3)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

 ***

Sejak menemukan hal itu, saya makin tertarik mengamati Lucifer. Lebih khusus lagi perbuatannya secara tak langsung telah mengusik saya. Jadi, saya pun terus mengamatinya, untuk tahu apa lagi yang akan dilakukannya. Dan seiring pengamatan itulah, saya mulai mengenali ciri khasnya yang sangat menonjol—munafik, pendengki, dan bersembunyi di balik sikap sok rendah hati.

Di banyak komentarnya yang saya baca di blog-blog orang lain atau di blognya sendiri, ciri itu pula yang melekat pada dirinya. Sok pintar, sok hebat, mencoba bersikap rendah hati, tapi sangat tampak munafiknya. Puncaknya terjadi ketika saya membuat blog Belajar Sampai Mati. Mungkin karena mengetahui blog itu dikunjungi banyak orang, Lucifer ikut berkomentar di sana. Dan, komentar pertamanya langsung tampak berusaha menjatuhkan saya!

Selama waktu-waktu itu, saya mulai menyimpulkan. Lucifer mungkin menganggap dirinya blogger paling pintar, paling hebat, paling produktif, atau bahkan pula menganggap dirinya sangat terkenal. Kemudian, ketika saya mulai muncul, dia merasa keberadaan saya menjadi ancaman baginya. Sebagaimana orang sok yang biasa mengagungkan diri, Lucifer mulai minder dan rendah diri ketika menghadapi kenyataan bahwa ada yang melebihinya.

(Sori, kalau kalimat itu terdengar sombong—saya tidak bisa menemukan kalimat lain yang lebih baik!)

Kenyataannya, selama ini, Lucifer memang selalu berupaya menunjukkan bahwa dirinya sangat hebat, meski dengan gaya rendah hati yang sangat tampak kepalsuannya. Salah satu contohnya berikut ini.

Di dunia blog, salah satu hal yang paling diinginkan banyak blogger adalah pengunjung yang banyak. Itu hal biasa, dan tentu saja wajar kalau banyak blogger yang seperti itu. Karenanya, sering kali ada blogger menulis posting yang intinya berisi teknik atau cara tertentu untuk mendatangkan lebih banyak pengunjung. Biasanya, posting semacam itu mendapatkan respon/komentar positif dari para pembaca (sesama blogger), yang rata-rata memang menginginkan hal sama—trafik lebih banyak. Tapi tidak dengan Lucifer.

Beberapa kali saya mendapati komentarnya yang menyatakan bahwa dia tidak mengharapkan banyak pengunjung ke blognya. Bahkan, dia secara terus terang menyatakan justru berusaha membatasi jumlah pengunjung blognya. Alasannya karena pengunjung yang banyak akan membebani bandwith di blognya.

Sekilas, komentar itu mungkin terdengar wajar, bahkan rendah hati—tipe blogger bersahaja yang cuma ingin nge-blog. Tetapi, jika kita perhatikan realitasnya, tampak sekali kalau pernyataan Lucifer hanyalah bualan seorang munafik!

Di antara banyak blogger yang saya kenal—langsung maupun tak langsung—Lucifer adalah satu-satunya blogger yang bisa dibilang ada di mana pun. Ia nyaris muncul di semua blog yang pernah saya temukan. Di mana pun ada blog yang cukup populer, bisa dibilang di situ ada Lucifer di kolom komentar. Fakta itu sudah cukup menjadi bukti bahwa dia sengaja muncul di mana-mana, sangat aktif blogwalking, karena berharap mendapat kunjungan balik sambil menanam backlink. Tujuan akhirnya sangat jelas—dia ingin blognya banyak dikunjungi!

Itu saja belum cukup. Selain blogwalking kesana kemari yang tentunya berharap mendapat kunjungan balik, Lucifer juga sangat aktif mengirimkan link blognya ke dashboard blog orang lain—termasuk dashboard blog saya.

Sebenarnya, munculnya link blog di dashboard kita adalah hal wajar, jika link itu berasal dari blog yang memang memuat tautan blog kita di sana. Misalnya, di blog A ada blogroll (daftar blog) yang di antaranya terdapat tautan ke blog kita. Jika kemudian kita mendapati link blog A di dashboard blog kita, maka itu wajar saja, karena bisa jadi orang yang berkunjung di blog A meng-klik tautan blog kita yang ada di sana.

Tetapi jika blog A tidak memuat tautan apa pun yang menuju ke blog kita, dan kemudian muncul link dari blog A ke dashboard blog kita, maka itu berarti si pemilik blog yang memang sengaja mengirimkan link blognya ke dashboard kita. Di dunia blog, hal semacam itu biasanya bertujuan agar kita tertarik meng-klik link tersebut dan berkunjung ke blognya.

Hal semacam itulah yang terjadi dengan Lucifer. Di blognya, dia tidak memuat tautan apa pun yang menuju blog saya, atau ke blog mana pun. Tetapi, secara terus menerus, selalu muncul link blognya di dashboard blog saya. Tujuannya jelas, dia ingin saya meng-klik link itu dan mengunjungi blognya.

Coba lihat. Dia kesana kemari gembar-gembor menyatakan tidak mengharapkan pengunjung ke blognya, dengan alasan beban bandwith dan segala macam. Tapi dia sangat aktif blogwalking ke mana-mana, dan mengirimkan link blognya ke dashboard blog orang lain dengan harapan blognya dikunjungi. Jika bukan pembohong dan munafik, akan kita sebut apa orang semacam itu...???

Sampai di sini, mungkin di antara kita ada yang berpikir, “Yeah, orang kadang memang ada yang begitu. Biarin saja, lah.”

Sebenarnya, saya pun tidak akan buang waktu dan energi untuk mengurusi orang semacam itu. Nggak penting banget! Yang membuat saya sampai meluangkan waktu hingga menulis catatan ini, karena orang itu—si Lucifer—berusaha mengusik saya!

Seperti yang tadi saya tuturkan di atas, Lucifer mungkin merasa tersaingi oleh kehadiran saya. Dia sudah dewasa. Mestinya, kalau memang dia merasa tersaingi, bersainglah secara sehat dan dewasa. Tapi tidak. Dia justru bersikap kekanak-kanakan, bahkan konyol. Puncaknya, dia mengusik saya dengan cara yang sangat busuk—suatu perbuatan khas yang dilakukan seorang pendengki. Saya akan menceritakan ini cukup detail, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Ceritanya, beberapa bulan lalu, saya bersama teman-teman melakukan riset menyangkut iklan di internet. Intinya, kami ingin tahu seberapa besar kemungkinan seorang pengunjung internet meng-klik iklan yang ada di web/blog, dan seberapa besar tingkat kepercayaan (trust) mereka, serta seberapa tinggi konversi yang terjadi atas klik itu, berkaitan dengan jumlah unique view, page view, dan beberapa faktor lain yang kami pertimbangkan dalam riset.

Untuk keperluan riset itu, kami membuat produk penunjang riset, berupa DVD yang berisi e-book. Setelah produk siap, kami membuat blog khusus yang ditujukan untuk riset tersebut, dan mulai memasang iklan. Blog yang kami buat waktu itu beralamat di http://kata-waktu.blogspot.com (selanjutnya kita sebut Kata Waktu).

Salah satu aspek yang ingin kami tahu dalam riset itu adalah tingkat kepercayaan (trust) dari pengunjung internet terhadap suatu web/blog, berkaitan dengan iklan yang dimuat. Karenanya, teman-teman juga meminta agar saya mengizinkan blog saya pribadi (Belajar Sampai Mati) digunakan dalam riset itu, sebagai pembanding, karena blog itu dianggap dipercaya para pengguna internet.

Jadi, dalam proses riset, kami menggunakan blog Belajar Sampai Mati sebagai “blog yang dipercaya”, dan blog Kata Waktu sebagai “blog yang tidak dipercaya”. Karena tujuan itu pula, kami pun membuat blog Kata Waktu dengan meniadakan identitas pembuat, dan mengisinya dengan artikel-artikel hasil copas. Karena tujuannya memang untuk melihat bagaimana respon pengguna internet terhadap blog semacam itu, dan seberapa tinggi tingkat kepercayaan mereka terhadap iklan yang ada di dalamnya.

Lanjut ke sini.
 
 
;