Jumat, 06 Juni 2014

Iblis Dunia Maya (4)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Karena ditujukan untuk riset, kami pun terus mengubah banyak hal menyangkut iklan tersebut, berkaitan dengan laman landas, banner iklan, tampilan produk, dan lain-lain. Tujuan kami waktu itu bukan untuk menjual produknya, melainkan untuk melihat aktivitas para pengunjung berkaitan dengan iklan, untuk menentukan seberapa efektif sebuah iklan berkaitan dengan laman web/blog yang mereka kunjungi. Karena tujuan itu pula, kami memasang beberapa software khusus untuk menunjang akurasi riset.

(Sekadar catatan, hasil riset itu bahkan sempat saya obrolkan sekilas dengan Vicky Laurentina, ketika saya berkomentar untuk suatu posting di blognya, yang membahas soal iklan di internet.)

Nah, Lucifer mungkin melihat iklan di blog Belajar Sampai Mati, dan sifat pendengkinya muncul. Karena dia tidak tahu iklan itu ditujukan untuk riset, dia pun mungkin sudah berpikir macam-macam. Sebenarnya, kalau pun saya benar-benar memasang iklan di blog untuk tujuan komersial, itu hak saya! Setiap blogger punya hak untuk memasang iklan di blognya sendiri. Tapi Lucifer mungkin tipe orang yang sakit hati jika melihat orang lain tampak lebih baik atau lebih sukses darinya.

Mula-mula, yang dilakukan Lucifer belum mengusik saya. Ketika blog Belajar Sampai Mati memunculkan iklan, Lucifer ikut-ikutan memasang iklan di blognya. Saya tertawa waktu itu, karena menyadari kedengkiannya yang konyol dan kekanak-kanakan. Tetapi, kemudian, Lucifer mungkin terbakar iri hatinya sendiri, dan mulai melakukan perbuatan busuknya pada saya. Perbuatannya bahkan sampai melanggar hukum, yang bisa mengakibatkannya masuk penjara. Dia meretas blog ini!

Seperti yang disebutkan tadi, blog yang kami buat untuk keperluan riset adalah blog Kata Waktu. Selama riset berlangsung, @belajar101 (akun Twitter milik blog Belajar Sampai Mati) juga men-tweet link-link posting yang ada di blog Kata Waktu. Lucifer pasti tahu hal itu, dan ketika mendapati blog Kata Waktu juga memuat iklan yang sama seperti di blog Belajar Sampai Mati, Lucifer pun mungkin mengasumsikan blog Kata Waktu juga milik saya. Apalagi blog tersebut memang didesain mirip blog Belajar Sampai Mati.

Nah, dia kemudian meretas blog ini, dengan cara mengotak-atik kolom search yang ada di blog ini. Dalam keadaan normal, kolom search hanya akan menampilkan semua hasil pencarian yang ada di blog ini. Oleh Lucifer, bagian search itu diretas, dan diarahkan ke blog Kata Waktu. Akibatnya, jika ada pengunjung/pembaca blog ini yang memasukkan kata kunci ke kolom search di atas, pengunjung itu akan diarahkan ke blog Kata Waktu.

Itu saja belum cukup. Lucifer juga berkali-kali memasukkan nama saya ke kolom search di blog ini, sehingga nama saya menjadi kata kunci terbanyak di blog Kata Waktu. Paham maksudnya?

Seperti yang disebutkan tadi, kolom search blog ini diretas oleh Lucifer, dan diarahkan ke blog Kata Waktu. Setelah itu, Lucifer berkali-kali memasukkan nama saya sebagai kata kunci di kolom search blog ini—mungkin sampai puluhan kali setiap hari. Akibatnya, setiap kali dia memasukkan nama saya di kolom search blog ini, dia akan diarahkan ke blog Kata Waktu. Finish-nya, kata kunci terbanyak di blog Kata Waktu yang terdeteksi di Alexa adalah nama saya!

Masih ingat pola psikologi yang saya singgung di awal rangkaian catatan ini? Begitulah seseorang terjebak dalam polanya sendiri, tanpa dia sadari. Sejak awal, Lucifer mendengki kepada saya, karena nama saya menjadi kata kunci yang banyak dicari pengguna internet. Ketika dia mengetahui saya membuat blog yang kontennya kacau, dia mungkin melihat itu sebagai kesempatan untuk mempermalukan saya. Maka dia pun meretas blog ini, dan melakukan aktivitas yang saya jelaskan di atas.

Semula, tentu saja, saya dan teman-teman tidak tahu bagaimana bisa nama saya menjadi kata kunci paling banyak yang digunakan orang untuk menuju blog Kata Waktu, karena di blog itu sama sekali tidak terdapat nama saya. Setelah diteliti secara saksama, kami menemukan jejak hacking yang ditinggalkan Lucifer di blog ini, setelah dia meretas kolom search.

(Catatan; kerusakan yang terjadi pada blog ini akibat ulah Lucifer telah dibenahi, sehingga kolom search-nya telah kembali normal. Tetapi bukti perbuatan Lucifer telah kami simpan dalam bentuk digital, sehingga bisa digunakan sebagai barang bukti kejahatan.)

Ketika mengetahui ada jejak hacking yang terjadi, saya menghubungi teman-teman yang punya keahlian khusus dalam hal ini. Mereka bukan sekadar bocah-bocah yang keranjingan komputer untuk main-main, tapi memang pakar dalam bidang pelacakan di dunia maya, yang biasa bekerja untuk urusan profesional. Dari mereka pulalah kemudian saya diberitahu bahwa aktivitas hacking itu memang dilakukan oleh Lucifer. Semua jejak yang ditelusuri mengarah kepadanya.

Lucifer memang telah berusaha menutupi jejaknya agar tidak terdeteksi—salah satunya dengan menyembunyikan identitas komputernya. Tapi sekarang dia berurusan dengan orang yang keliru! Serapi apa pun dia menyembunyikan jejaknya, kami tetap dapat menemukannya.

Sekarang, benarkah Lucifer memang punya kemampuan hacking, sehingga dia layak dituduh melakukan perbuatan itu di blog saya? Jawabannya ya!

Lucifer punya blog yang berisi beragam artikel—kebanyakan artikel-artikel membosankan yang tidak menarik dibaca. Tapi saya tertarik mengamatinya, jadi saya pun membaca banyak tulisannya. Siapa pun yang mempelajari psikologi manusia akan tahu hukum rahasia yang berbunyi, “Setiap orang selalu berusaha mengatakan dirinya.”

Setiap orang selalu berusaha mengatakan dirinya—itu hukum rahasia dalam berinteraksi dengan setiap manusia. Saya membaca banyak tulisan di blog Lucifer, bukan karena tertarik dengan isi artikelnya, melainkan untuk tahu seperti apa dirinya. Sekuat apa pun seseorang menyembunyikan diri, dia tidak bisa lepas dari hukum psikologi yang membelit setiap manusia, yakni selalu berusaha mengatakan dirinya.

Dalam banyak tulisan Lucifer yang saya baca, sangat tampak seperti apa kepribadian orang itu. Yang lebih pasti lagi, dalam beberapa artikel yang ditulisnya sendiri, dia secara terang-terangan menyatakan bahwa dia memang kadang meretas blog orang lain, dengan tujuan untuk “bersenang-senang”, atau untuk “mempermainkan”. (Semua artikel itu telah saya simpan, hingga tetap bisa dijadikan sebagai barang bukti jika sewaktu-waktu Lucifer menghapusnya.)

Jadi, secara konklusif, Lucifer memang pelaku hacking terhadap blog saya. Dilihat dari jejaknya di internet, jejak itu mengarah kepadanya. Di artikel blognya sendiri, dia telah mengakui memiliki kemampuan hacking, bahkan suka melakukannya untuk bersenang-senang atau untuk mempermainkan orang lain. Sekarang, mari kita buka undang-undang cybercrime, untuk melihat unsur pidana yang telah dilakukan Lucifer.

Dalam penjelasan di bab Cybercrime yang Menyerang Individu, terdapat penjelasan ini, “Kejahatan yang dilakukan terhadap orang lain dengan motif dendam atau iseng yang bertujuan untuk merusak nama baik, mencoba ataupun mempermainkan seseorang untuk mendapatkan kepuasan pribadi. Contoh: cyberstalking.”

Penjelasan itu berkaitan dengan Pasal 30 UU ITE tahun 2008 ayat 3, yang berbunyi, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer dan/atau sistem elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengaman (cracking, hacking, illegal access). Ancaman pidana pasal 46 ayat 3 setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam pasal 30 ayat 3 dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).”

Penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah). Kedengarannya mengerikan, eh?

Memang! Dan itulah yang akan terjadi pada Lucifer kalau saya mau main kejam-kejaman. Satu-satunya alasan mengapa saya belum mengambil tindakan, karena alasan kemanusiaan.

Saya tahu siapa dia, saya tahu bagaimana latar belakangnya, saya tahu dimana dia tinggal, apa pekerjaannya, saya bahkan tahu apa saja yang biasa dilakukannya. Dia telah mencari masalah dengan orang yang keliru! Jika saya mau mengambil tindakan sekarang, saya tinggal menghubungi seseorang, dan Lucifer akan “diciduk” untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sebenarnya, aktivitas busuk yang dilakukan Lucifer tidak hanya yang saya paparkan di atas—masih banyak yang lain. Tetapi catatan ini bisa sangat panjang sekali jika saya beberkan semuanya. Selain itu, hal-hal lain yang tidak saya ungkap di sini akan saya gunakan sebagai semacam kartu As, jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Jadi, saat ini, saya masih mencoba menunggu itikad baiknya. Jika dia mau mengakui semua perbuatannya kepada saya secara pribadi, dan meminta maaf secara jujur serta bersumpah tidak akan mengulangi perbuatannya, maka saya akan melupakan semua ini, dan akan tetap merahasiakan identitasnya.

Tetapi, jika dia memang cuma munafik-pendengki yang banci, yang tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya untuk minta maaf, atau bersikap pura-pura tak tahu, maka saya akan menjadikan ini sebagai permainan.

Sebagaimana dia biasa meretas blog orang lain dengan tujuan untuk main-main atau bersenang-senang, maka itu pula yang akan saya lakukan kepadanya. Kapan pun, jika saya ingin “bermain-main” atau “bersenang-senang”, saya akan menghubungi pihak berwenang dan melaporkan seluruh perbuatannya. Setelah itu, saya akan mengontak teman-teman di media untuk mengekspos beritanya.

Aturannya sederhana—setiap orang akan mendapatkan yang mereka cari. Kau mencari masalah, kau akan mendapatkan masalah. Dan kalau kau menginginkan perang, saya bisa menjanjikan perang paling mematikan.

 
;