Kamis, 28 Agustus 2014

Zarry Hendrik, Arman Dhani, dan Nasib Bangsa Ini

Belakangan ini mungkin juga teman-teman sudah tahu
di Twitter kan gue sering ngetwit yang berbau dukungan untuk
Prabowo jadi presiden. Ada yang suka, ada yang enggak. Ya nggak apa-apa,
ya namanya juga pendapat, ya namanya juga Twitter. Tapi gue rasa
gue perlu menjelaskan kenapa gue dukung Prabowo jadi presiden.
Zarry Hendrik

Maaf, Bung Zarry, jika kata-kata saya agak sedikit kurang sopan.
Saya tak ingin berkomentar bahwa sebagai selebtweet, anda baiknya
bicara tentang galau, traveling atau nge-buzz produk sajalah, jangan
bicara politik. ... Semoga suatu saat, jika Prabowo terpilih
dan orang yang anda cintai menghilang, dibunuh atau
dilenyapkan, anda masih ingat akan tulisan ini.
Arman Dhani


Pengantar:

Catatan ini sebenarnya telah saya tulis pada musim kampanye kemarin, tepatnya saat terjadi “konfrontasi” antara Zarry Hendrik dengan Arman Dhani. Waktu itu catatan ini sudah saya siapkan untuk diunggah ke blog. Namun kemudian saya batalkan karena tak ingin memperkeruh suasana kampanye, serta tidak ingin menimbulkan kesan mencampuri urusan orang lain.

Sekarang, setelah musim kampanye berlalu dan suasana telah relatif kondusif, saya kembali teringat pada catatan ini, dan rasanya sayang kalau diabaikan. Jadi, sekarang saya unggah ke blog, meski mungkin relevansinya telah berkurang. Saya berharap catatan ini bisa menjadi pembelajaran kita di musim kampanye yang akan datang, saat terjadi pemilu presiden lagi.

Kalau Zarry Hendrik atau Arman Dhani kebetulan menemukan catatan ini, saya berharap kalian legowo membacanya. (HM)


***

Twitter memang tidak pernah kekurangan sensasi, dan sensasi yang terjadi baru-baru ini adalah “keributan” antara Zarry Hendrik dengan Arman Dhani. Kalian yang aktif di Twitter mungkin mengenal mereka, mungkin pula tidak, dan itu bukan masalah. Tetapi agar catatan ini bisa lebih dipahami, izinkan saya memperkenalkan mereka.

Zarry Hendrik adalah salah satu bocah terkenal di Twitter—juga seorang selebtweet yang ikut berperan dalam memasyarakatkan selfie dan me-selfie-kan masyarakat. Masyarakat yang dimaksud di sini adalah cewek-cewek yang mungkin merasa bohay, seksey, dan kecey—apa pun artinya.

Jadi, suatu ketika, Zarry Hendrik menulis tweet, misalnya, “Gimana sih senyum bidadari habis kecemplung sumur?” Maka, dalam waktu nyaris seketika, cewek-cewek seantero Twitter pun segera mengambil kamera, berpose selfie, kemudian mengunggahnya ke Twitter dengan menautkan mention ke akun Zarry Hendrik. Oh, well, tidak banyak cowok yang mampu melakukan “sihir” semacam itu.

Lalu siapa Arman Dhani? Arman Dhani adalah antitesis Zarry Hendrik. Dia bukan selebtweet—jika definisi selebtweet adalah “sosok manis yang bikin ABG histeris”. Kenyataannya, di Twitter, follower atau pengikut Arman Dhani “cuma” berjumlah ribuan. Bandingkan dengan follower Zarry Hendrik yang mencapai ratusan ribu.

Jika Zarry Hendrik mungkin mimpi indah cewek-cewek alay, maka Arman Dhani mungkin mimpi buruk mereka. Mengapa bisa begitu? Karena bocah ini tidak pernah peduli siapa yang akan “dihabisinya”. Di Twitter, dia akan menyerang siapa pun yang ingin diserangnya, selama ia berpikir orang itu patut diserang—apa pun alasannya. Oh, well, tidak banyak orang yang punya keberanian semacam itu.

Nah, baru-baru ini, pihak yang mendapat serangan Arman Dhani adalah Zarry Hendrik. Ceritanya, Zarry menulis artikel di blognya di Tumblr, mengenai dukungannya terhadap Prabowo Subianto. Artikel itu berjudul Kenapa Gue Dukung Prabowo? (Saat catatan ini diunggah, artikel tersebut sudah tidak bisa saya temukan di blog Zarry Hendrik. So, kalian bisa membacanya di sini.)

Dalam artikel yang ditulisnya, Zarry tampaknya mengagumi Prabowo, dan ia menulis panjang lebar tentang kekagumannya, serta dukungannya terhadap Prabowo untuk menjadi pemimpin negeri ini. Tidak hanya itu. Dia juga menunjukkan dukungannya secara terang-terangan di Twitter.

Atas hal itu, berbagai respons muncul, khususnya di Twitter. Tampaknya, banyak pihak menyayangkan langkah Zarry mendukung Prabowo, apa pun alasan mereka. Namanya Twitter, kadang orang berkomentar seenak udelnya. Dan komentar itu menumpuk semakin banyak. Singkat cerita, Zarry mungkin merasa di-bully. Puncaknya terjadi ketika Arman Dhani menulis artikel khusus berjudul Logika Bebal Zarry Hendrik. (Judul artikel itu sekarang telah diperhalus, menjadi “Logika Zarry Hendrik”, dan kalian bisa membacanya di sini.) 

Akhir kisah, Zarry Hendrik kemudian menonaktifkan akun Twitter-nya, bahkan menghapus semua artikel yang pernah ditulisnya di blog. Sekarang, saya menulis catatan ini bukan untuk membenarkan atau menyalahkan siapa pun, tetapi untuk melihat persoalan ini secara lebih jernih, dan memikirkan hal-hal yang mungkin belum sempat kita pikirkan.

Bahwa Zarry Hendrik menulis dan menyatakan dukungannya kepada seseorang, dalam hal ini kepada Prabowo, sebenarnya itu hak pribadinya. Sebagai warga negara Indonesia, tentunya dia punya hak untuk menyatakan suara serta dukungannya kepada siapa pun yang ia pikir layak. Ini negara demokrasi. Siapa pun berhak untuk bersuara dan menyatakan pendapat, apalagi sekadar bersuara dan menyatakan pendapat di blog pribadi. Jika Arman Dhani atau saya boleh menulis dukungan kepada siapa pun, kenapa Zarry Hendrik tidak boleh...?

Salah satu penyakit kita yang tampaknya belum sembuh adalah ketakutan berbeda dengan orang lain. “Penyakit” itu tidak hanya menggejala di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Seseorang menyatakan pendapatnya yang berbeda dengan kita, dan kemudian kita ngamuk, menyalah-nyalahkannya, atau bahkan sampai mengafirkannya. Siapakah yang bebal? Orang yang menyatakan pendapatnya sendiri, ataukah orang yang menyerang pendapat orang lain hanya karena dianggap berbeda dengan pendapatnya?

Ketika kita berbeda pendapat dengan orang lain, tidak pernah ada jaminan bahwa kitalah yang benar dan orang lain yang salah. Langit sudah berhenti menurunkan Nabi, jadi tidak ada gunanya menganggap diri paling benar atau paling suci. Selain itu, perbedaan pendapat dengan orang lain sering kali hanya karena perbedaan “ukuran sepatu”. Jika ingin menggunakan istilah yang lebih lugas, “ukuran otak”.

Maksud saya, kalau adik kita yang masih duduk di bangku SD tidak mampu memahami teori relativitas Einstein, itu bukan salah dia, tapi karena memang kapasitas otaknya belum mampu memahami. Karenanya, sungguh tidak adil jika kita menoyor kepalanya dan memakinya bebal. Jika dia tidak tahu, itu bukan karena dia bebal, tapi karena memang kadar intelektualnya belum memungkinkan.

Begitu pula dengan Zarry Hendrik, atau lainnya. Menyangkut Zarry Hendrik, sekali lagi, dia punya hak untuk menulis pemikiran apa pun di blognya. Kalau kita berbeda pikiran dengannya, itu wajar, namanya manusia. Tidak usah ngamuk!

Yang lebih penting untuk kita pikirkan, sebenarnya, bukan apakah Zarry berbeda dengan kita atau tidak. Melainkan apakah Zarry menulis dukungannya secara tulus atau karena hal lain? Jika Zarry Hendrik menulis dan menyatakan dukungannya secara tulus kepada Prabowo, atau kepada siapa pun, maka kita tidak berhak menyalahkannya. Sekali lagi, ini negara demokrasi—siapa pun punya hak untuk bersuara.

Tetapi, jika Zarry Hendrik menulis dan menyatakan dukungannya kepada seseorang karena dibayar, maka ini menjadi masalah kita. Masalah kita, karena ketika buzzer bayaran telah mulai bermain di ranah politik, maka nasib bangsa ini telah pindah ke tangan para penjual obat. Dengan atraksi memukau dan sedikit tipuan mata, penjual obat di jalanan selalu mampu memanipulasi pembeli untuk menjual dagangannya. Ketika politik dan masa depan bangsa telah sampai pada kenyataan semacam itu, maka negeri ini benar-benar sedang menghadapi masalah.

Latar pikiran semacam itu pula yang mungkin menggerakkan Arman Dhani untuk “menyerang” Zarry Hendrik. Bagaimana pun, Zarry adalah selebtweet, dan ia salah satu buzzer di Twitter. Selalu ada kemungkinan bahwa Zarry dibayar suatu pihak untuk mendukung pihak tertentu, yang kemudian ia tindaklanjuti dengan menulis dukungan pada seseorang di Twitter dan di blognya. Dengan kata lain, dukungan Zarry pada Prabowo bukan berasal dari pilihan pribadi dan ketulusannya, melainkan karena ia dibayar sebagai buzzer.

Saya tidak bermaksud menuduh, karena saya juga tidak tahu apakah Zarry dibayar atau tidak atas dukungannya. (Berdasarkan pengakuannya sendiri, Zarry Hendrik menyatakan dia tidak dibayar, dan dia bahkan berani bersumpah untuk menegaskan pernyataannya.)

Yang menjadi pikiran saya adalah betapa mengerikan nasib bangsa ini ketika seorang pemimpin dipilih bukan karena memang layak dipilih, melainkan karena rayuan seorang buzzer dengan banyak follower. Jika kenyataan semacam itu yang benar terjadi, maka kita layak berterima kasih pada orang-orang seperti Arman Dhani, yang rela menjadi tidak populer, demi membuka mata kesadaran kita.

Di era sosial media seperti sekarang, keberadaan sosok populer di Twitter memang sarana empuk untuk mempromosikan sesuatu. Pakaian, kosmetik, dompet, tiket pesawat, hotel, tempat liburan, bikini—sebut lainnya. Sejauh menyangkut hal-hal remeh semacam itu, tentu saja tidak masalah. Tetapi ketika buzzer dibayar untuk mendukung seseorang yang diharapkan menjadi pemimpin suatu bangsa, maka itu jelas masalah.

Ini bukan soal apakah kau akan berlibur ke mana, naik pesawat apa, dan menginap di hotel mana. Ini soal pemimpin bangsa, dan menyangkut nasib lebih dari dua ratus juta rakyat Indonesia di masa depan!

Jika benar para buzzer di Twitter dibayar untuk “mempromosikan” seseorang agar didukung menjadi pemimpin, maka bangsa ini telah sampai di titik nadir. Tidak masalah jika si buzzer melakukan riset atas tokoh yang akan didukungnya, untuk mengenal lebih dalam si tokoh bersangkutan, sebelum memutuskan bersedia menjadi buzzer atau tidak. Tetapi bagaimana jika tidak...?

Bagaimana jika para buzzer di Twitter mendukung seseorang secara buta hanya karena dia dibayar, sebagaimana dia biasa mempromosikan produk tertentu karena dibayar untuk mengiklankannya? Jika seperti itu kenyataannya, dan kemudian kita mendasarkan pilihan atas seorang pemimpin karena tergiur rayuan buzzer, maka kita ikut berperan dalam makin rusaknya negeri ini.

Dalam konteks politik dan di hari-hari pemilu seperti sekarang, para buzzer di sosial media mungkin ada yang secara tulus mendukung seseorang tanpa dibayar. Mereka mendukung seseorang semata-mata karena cinta dan kepercayaan. Tetapi juga selalu ada kemungkinan sebagian buzzer yang aktif mendukung seseorang karena dilatarbelakangi bayaran tertentu. Kalau pun tidak dibayar uang untuk mengampanyekan seseorang, selalu ada kemungkinan bayaran lain di luar uang.

Karena latar belakang pemikiran semacam itulah, saya sampai merasa perlu menulis catatan ini. Bukan untuk membela atau memojokkan siapa pun, melainkan untuk membuka mata kita semua, bahwa urusan kampanye politik melalui buzzer bukan urusan remeh.

Bagi orang-orang tertentu, membayar buzzer di Twitter cuma setara uang receh. Tapi dampaknya bisa sangat besar. Jika si buzzer yang dibayar ikut berkontribusi mengantarkan seseorang ke tampuk kekuasaan, maka akibat yang ditimbulkannya akan menyangkut nasib bangsa di masa depan. Tidak hanya menyangkut nasib Zarry Hendrik dan Arman Dhani, tapi juga menyangkut nasib masa depan negeri ini.

 
;