Rabu, 26 Februari 2014

33 Bocah Indonesia Paling Tak Terpengaruh

“Nothing to lose” mungkin kalimat terbaik
yang bisa ditulis. Atau dilakukan.
@noffret


Suatu malam, ketika stres, saya kepikiran untuk membuat daftar yang tidak keren, dan melibatkan orang-orang tidak terkenal. Well, di dunia ini, setidaknya di negeri ini, telah banyak bertebaran daftar yang sangat keren dan melibatkan orang-orang terkenal, atau orang yang ingin terkenal. Karena saya tidak suka mengekor atau meniru-niru orang lain, maka saya pun terpikir untuk membuat daftar sendiri yang seratus persen beda dari daftar-daftar yang sudah ada.

Semula, saya kepikiran untuk membuat daftar berjudul 33 Tokoh Sejarah Indonesia Paling Berpengaruh. Tetapi saya pikir daftar itu kedengarannya keren sekali. Dan hampir bisa dipastikan daftar itu akan memuat nama-nama terkenal. Itu tidak sesuai rencana awal saya. Daftar semacam itu juga harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dengan latar belakang riset dan pemikiran yang matang, serta tidak menutup kemungkinan akan memicu banyak perdebatan.

Selain itu, jika saya membuat daftar berjudul 33 Tokoh Sejarah Indonesia Paling Berpengaruh—yang kesannya sangat serius sekali—mau tidak mau saya harus bisa menjawab dan menjelaskan beberapa hal berikut ini dengan penjelasan yang ilmiah dan akademis:

Pertama, kenapa jumlahnya harus 33? Kenapa tidak 34, 35, atau bahkan 100 saja? Saya tentu tidak bisa menjawab seenaknya, misalnya, “Ya suka-suka saya, laaah!” Itu jawaban yang tidak akademis. Dan saya bisa dimaki banyak orang jika nekat menjawab seperti itu. Saya harus bisa menjelaskan alasan jumlah 33 itu dengan segala latar belakangnya yang ilmiah.

Kedua, dari 33 nama yang saya masukkan ke dalam daftar itu, bagaimana latar belakang seleksinya? Bagaimana cara saya memilihnya? Bagaimana metodologi yang saya gunakan hingga bisa menyusun nama-nama yang dianggap “berpengaruh”? Atas dasar apa saya menjatuhkan pilihan pada mereka? Sedalam dan selengkap apa riset yang saya lakukan untuk memilih 33 orang itu di antara ratusan tokoh sejarah lainnya? Dan sederet pertanyaan lain yang panjangnya bisa melebihi rel kereta api.

Ketiga, apa motivasi saya menyusun daftar itu? Nasionalisme? Kecintaan pada sejarah? Pengabdian pada ilmu pengetahuan? Atau apa...? Motivasi ini perlu saya jelaskan secara jujur, sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap daftar yang saya susun.

Maksudnya, jika saya menyusun daftar 33 Tokoh Sejarah Indonesia Paling Berpengaruh dengan motivasi murni kecintaan pada sejarah, dan daftar itu kemudian menimbulkan polemik karena suatu sebab, maka saya bisa menyatakan, “Well, saya telah berusaha semaksimal mungkin menyusun daftar itu sesuai kapasitas yang saya miliki. Kalau ternyata ada pihak lain yang tidak puas dengan daftar yang saya susun, saya akan senang hati menerima kritik dan masukan untuk melengkapi dan menyempurnakannya di masa mendatang. Atau, jika ada pihak lain yang berencana menyusun daftar sendiri sesuai versinya, saya akan senang hati ikut mempelajarinya.”

Jika motivasi saya menulis/menyusun daftar semacam itu murni karena kejujuran dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, maka segala macam polemik, protes, atau bahkan hujatan, pasti akan surut sendiri. Jika saya bekerja dengan kejujuran dan integritas, maka iblis di neraka pun tidak berhak cuap-cuap. Orang tidak bisa menyalahkan orang lain yang bekerja dengan kejujuran, integritas, dan cinta. Jadi, apa motivasi saya menyusun daftar itu?

Keempat, dari 33 tokoh sejarah yang saya masukkan ke dalam daftar yang saya susun tersebut, apakah murni hasil pilihan saya pribadi, atau ada intervensi dari pihak lain? Jika murni hasil pilihan pribadi, maka saya bisa mempertanggungjawabkannya secara pribadi, dan orang lain tidak perlu ikut campur. Tetapi jika daftar yang saya susun mengandung intervensi dari pihak lain... nah, ini yang kadang bikin masalah.

Ketika Michael Hart menyusun daftar 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah, dia menyusunnya atas pilihan pribadi, berdasarkan risetnya sendiri, tanpa intervensi siapa pun. Karenanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam daftar itu, kita tidak bisa menyalahkan Michael Hart.

Dia telah bekerja seobjektif yang ia bisa, telah mengerjakan penelitian dan risetnya seadil yang ia mampu, dan tidak ada pihak lain yang mengintervensi dalam apa pun bentuknya. Kalau orang lain tidak suka daftar yang disusun Michael Hart, silakan bikin daftar sendiri.

Nah, karena menyusun sesuatu yang ilmiah (dan terdengar keren) sepertinya sangat sulit sekaligus repot—sebagaimana yang diuraikan di atas—saya pun jadi kepikiran untuk menyusun daftar yang tidak ilmiah, sekaligus tidak keren, dan melibatkan orang-orang tidak terkenal.

So, berikut ini adalah daftar 33 Bocah Indonesia Paling Tak Terpengaruh versi saya, yang saya susun secara acak dan seenaknya sendiri. Dalam daftar ini, saya memilih teman-teman saya sendiri, yang saya maksudkan sebagai geguyon (bercanda) dengan mereka.

Kepada nama-nama yang tersebut dalam daftar ini, silakan ketawa-ketiwi. Dan kepada siapa pun yang tidak setuju dengan daftar berikut ini, silakan bikin daftar sendiri! Percayalah, saya menyusun daftar ini tanpa intervensi pihak mana pun, tanpa dibayar siapa pun, dan tanpa pretensi apa pun. So, sekali lagi, inilah daftar 33 Bocah Indonesia Paling Tak Terpengaruh:
  1. Khusnul
  2. Nasruddin
  3. Tuan Ijul
  4. Ipung Roti
  5. Udin Bocah Mbelgendo
  6. Agus Bagong
  7. Arif Marijan
  8. Si Doug
  9. Khusnul
  10. Wawanism
  11. Rini Kecil
  12. Fauzi
  13. Ting Tong
  14. Achong Nugroho
  15. Khusnul
  16. Masruri
  17. Hamzah
  18. Fathur
  19. Aryo Bintoro
  20. Sobir
  21. Khusnul
  22. Tetangganya Khusnul (saya tidak tahu namanya)
  23. Haji Abdurrahman
  24. Misbah
  25. Rozikin
  26. Eni Farkhah
  27. Enni Quro
  28. Amrozi (ini Amrozi teman saya, bukan Amrozi yang itu!)
  29. Hajjah Najwa
  30. Khusnul
  31. Lukman
  32. Haji Puradi
  33. Khusnul

Kenapa kok nama Khusnul muncul berkali-kali? Yeah, suka-suka saya, laaah! Wong ini daftar saya, tentu saya bebas memasukkan nama siapa saja, dong!

Lalu kenapa tidak ada nama saya dalam daftar itu?

Saya khawatir, jika ada nama saya dalam daftar itu, nanti dikira saya mau numpang tenar. Nanti ada yang menuduh saya membiayai penyusunan daftar ini. Nanti ada yang tidak terima karena saya dianggap tidak layak masuk daftar ini. Jadi, untuk lebih aman bagi semua pihak, saya sengaja tidak memasukkan nama saya dalam daftar ini.

Sekali lagi, jika ada pihak-pihak lain yang tidak puas dengan daftar ini (dan sepertinya tidak akan ada!), silakan bikin daftar sendiri.

Juga kepada pihak-pihak yang namanya disebutkan, tapi merasa tidak layak masuk dalam daftar di atas, silakan hubungi saya. Nanti namamu akan saya hapus, dan akan saya ganti dengan nama lain. Wong ini blog—soal hapus/ralat/ubah bukan hal sulit. Sedang bagi yang namanya tidak masuk dalam daftar ini, saya mohon maaf, karena jumlah daftar ini memang terbatas, jadi saya tidak bisa memasukkan nama kalian semua. (Wong nama saya saja tidak masuk, apalagi nama kalian!)

Oh ya, tidak ada acara launching, presentasi, jumpa pers, atau tetek bengek lainnya, sehubungan daftar di atas, karena ini cuma posting suka-suka ketika saya sedang stres!

Aku Dipelet

Pede dan kepedean memang beda tipis.

Begitu pula waras dan sebaliknya.

*Ngaca*

Jumat, 21 Februari 2014

Pedang Setan Mantili

Ada orang yang bercermin, dan melihat bayangan
dirinya begitu buruk. Kemudian, dia menghancurkan
cermin itu, bukannya memperbaiki diri.
@noffret 


Dalam kisah Saur Sepuh yang legendaris, diceritakan bahwa sang raja agung Brama Kumbara memiliki adik wanita yang cantik sekaligus jago tarung, bernama Dewi Mantili. Selain pintar berkelahi, Mantili memiliki senjata hebat yang membuatnya ditakuti banyak musuh. Senjata itu bernama Pedang Setan.

Niki Kosasih, pengarang serial Saur Sepuh, mengisahkan Pedang Setan dengan kalimat seperti ini, “Ketika Pedang Setan dikeluarkan dari sarungnya, seketika muncul bau busuk di udara—mirip bau bangkai yang membuat muntah orang-orang yang menghirupnya.”

Jadi, ketika bertarung dengan musuh-musuhnya di rimba persilatan, dan sang musuh tidak bisa ditaklukkan dengan “jurus-jurus standar”, Mantili pun akan menggunakan senjata pamungkasnya. Ia akan mengeluarkan Pedang Setan untuk mengalahkan sang musuh. Ketika Pedang Setan itu keluar dari sarungnya, musuh-musuh Mantili akan lari kocar-kacir, muntah-muntah, atau tetap mampu bertarung tapi tak bisa lagi berkonsentrasi akibat bau busuk menyerang pernapasannya.

Meski pedang itu menguarkan bau busuk amat memualkan, Mantili sama sekali tidak terpengaruh. Artinya, dia tidak mencium bau busuk Pedang Setan. Hal itu tentu karena Mantili pemilik sah pusaka tersebut, sehingga kutukan yang ditimbulkannya tidak menyerang dirinya. Karena kenyataan itu pula, Mantili bisa leluasa menggunakan Pedang Setan untuk menyerang musuh-musuhnya tanpa harus repot menutup hidung.

Karena kemampuan dan kesaktiannya, Pedang Setan pernah menjadi rebutan para pendekar di rimba persilatan. Tapi tentu saja tidak mudah merebut pusaka itu dari tangan Mantili. Banyak pendekar dari berbagai tempat menantang Mantili bertarung demi bisa menguasai pedangnya, namun para pendekar itu justru menemui ajalnya. Pedang Setan tetap di tangan Mantili, dan dengan pedang itu ia tetap sakti. Tak terkalahkan. Tak bisa ditaklukkan.

Sampai kemudian, muncul tiga pendekar murid Panembahan Pasopati. Tiga pendekar itu bernama Kijara, Lugina, dan Mariba. Tiga pendekar itu bersatu untuk mengeroyok Mantili dalam pertarungan maut, demi merebut Pedang Setan. Maka pertarungan dahsyat pun terjadi. Mantili, dengan Pedang Setan di tangannya, diserang tiga pendekar sakti dengan senjata mereka.

Sehebat apa pun, Mantili tetap kepayahan diserang tiga pendekar sekaligus. Di akhir pertarungan yang berdarah-darah itu, Mantili tak sadarkan diri. Mariba—satu-satunya orang yang masih cukup kuat setelah pertarungan—segera merampas Pedang Setan dari tangan Mantili. Kelak, perebutan kembali Pedang Setan akan membutuhkan waktu amat panjang, dengan serangkaian pertarungan menggetarkan, melibatkan puluhan pendekar di rimba gelap persilatan.

Karena orang yang mengambil pedang pusaka itu Mariba, maka Mariba pula yang dianggap sebagai pemiliknya. Tapi ia bukan pemilik sah. Bagaimana pun, Mariba mendapatkan Pedang Setan dengan cara merampas, setelah Mantili tak sadarkan diri. Karenanya, meski telah memilikinya, meski Pedang Setan ada di tangannya, Mariba tetap menghadapi masalah yang sama—ia tidak kuat menghadapi bau busuk yang dikeluarkan Pedang Setan.

Niki Kosasih menjelaskan dalam naskahnya, “Untuk menghalau bau busuk pedang itu, Mariba harus menggunakan kapas dan sabut kelapa untuk menutupi daerah hidungnya.”

Jadi begitulah. Dengan kapas dan sabut kelapa menutup hidung, plus bantuan tenaga dalam untuk menghalau bau busuk, Mariba kini menguasai Pedang Setan. Dengan senjata hebat itu, ia menjadi pendekar yang dapat mengalahkan banyak musuh. 

Tetapi kisah itu belum selesai. Begitu para pendekar mengetahui Pedang Setan kini di tangan Mariba, mereka pun memburu Mariba demi bisa merebut pedang itu. Begitu pula Mantili. Ia tidak tinggal diam melihat pedang andalannya dirampas. Ia pun memburu Mariba... dan rimba persilatan menjadi arena berdarah-darah.

Kelak, pada puncaknya, bahkan Brama Kumbara—kakak Mantili—ikut turun ke arena, dan bertarung dengan Panembahan Pasopati, guru Mariba. Itu salah satu pertarungan paling dahsyat di dunia Saur Sepuh, karena Brama Kumbara harus adu kesaktian dengan Panembahan Pasopati yang sama-sama sakti. Dalam satu sesi pertarungan, Brama Kumbara mengerahkan Ajian Bayu Bajra yang menciptakan badai berkekuatan Skala Richter, hingga mengobrak-abrik seluruh tempat pertarungan mereka.

Jeng-jeng-jeng...!

Lalu muncul iklan Procold.

Oh, well, serial Saur Sepuh—yang dulu rutin muncul di radio setiap hari—memang disponsori obat flu Procold. Jadi, biasanya, kalau jalan cerita sedang sampai di puncak klimaks, iklan Procold akan muncul untuk membuat para pendengar radio “rileks sejenak”, dan kembali ke “alam nyata”.

So, sekarang kita kembali ke alam nyata. Di alam nyata, maksud saya di dunia kita, sepertinya tidak ada orang yang memiliki Pedang Setan. Dan kita patut bersyukur. Pasti akan sangat meresahkan kalau ada orang yang memiliki Pedang Setan, kemudian tiap hari menenteng-nenteng pedang itu untuk menakut-nakuti orang lain.

Tetapi, di dunia kita, ada orang-orang yang memiliki sesuatu tak jauh beda dengan Pedang Setan. Ketika orang itu muncul, biasanya orang-orang lain akan menjauh, karena tidak mampu menahan “bau busuk” yang ditimbulkannya.

Yang saya maksud bukan bau badan atau bau mulut. Itu memang masalah, dan masalah semacam itu kadang tidak disadari orang bersangkutan. Untuk masalah semacam itu, kita bisa menegurnya dengan cara halus, dan biasanya si orang bersangkutan akan sadar, lalu berusaha mengatasi masalah tubuhnya. Sekali lagi, itu memang masalah, tapi masalah itu setidaknya bisa diselesaikan baik-baik.

Tetapi ada masalah serupa—tak jauh beda dengan bau badan atau bau mulut—dan kali ini masalahnya jauh lebih parah. Yakni orang yang ucapan atau perilakunya selalu menyakiti orang lain.

Entah ada apa dengan orang-orang itu, yang jelas mereka seperti selalu berusaha menyakiti orang lain. Jika berinteraksi dengan orang lain, gayanya cenderung merendahkan. Jika bercakap dengan orang lain, ucapannya menyakitkan, atau setidaknya menjengkelkan. Sama seperti Mantili, orang itu juga punya “Pedang Setan” yang berbau busuk. Bedanya, Mantili menggunakan pedangnya untuk melawan penjahat, sementara orang-orang di sekitar kita menggunakan lidahnya untuk menyakiti sesama.

Orang semacam itu punya ciri khas yang mudah dikenali. Kalau kita bercakap dengannya, dia seperti berusaha menjatuhkan kita—dengan ucapan, atau pun dengan perbuatan. Menggunakan perspektif psikologi, orang-orang semacam itu adalah orang yang membenci dirinya sendiri. Karena dia tidak mungkin menjelek-jelekkan diri sendiri, maka dia pun menjelek-jelekkan orang lain.

Orang semacam itu ada di mana-mana, di dunia nyata maupun di dunia maya. Dan di mana pun berada, orang semacam itu cenderung dijauhi orang lain akibat perilaku dan ucapannya. Mungkin dia sadar orang lain menjauhinya, mungkin pula tidak sadar, karena tidak punya kepekaan. Yang jelas, tidak ada pendekar yang tahan mencium bau busuk Pedang Setan, pun tak ada orang yang tahan berhadapan dengan orang yang sikap dan ucapannya selalu sok dan suka merendahkan.

Umar bin Khattab yang bijaksana menyatakan, “Sebelum mencari-cari kelemahan orang lain, carilah terlebih dulu kelemahanmu sendiri.”

Kalimat itu sangat istimewa, karena diucapkan Umar bin Khattab. Bagi yang mungkin belum tahu, Umar bin Khattab adalah “pendekar” paling ditakuti di tanah Arabia. Tidak ada orang yang berani terang-terangan menantangnya. Tetapi Umar yang galak dan beringas itu pun tahu arti muhasabah—koreksi diri—sehingga perilakunya tidak sampai menyakiti orang lain. Dia memang orang yang disegani, tetapi “disegani” jauh berbeda dengan “dibenci”.

“Sebelum mencari-cari kelemahan orang lain,” kata Umar, “carilah terlebih dulu kelemahanmu sendiri.”

Itu nasihat yang tetap relevan sejak zaman Jahiliyah sampai di abad internet. Koreksi diri adalah pelajaran yang seharusnya dipelajari setiap orang yang gemar bersikap merendahkan orang lain, atau suka mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain. Sebagaimana kita tidak suka direndahkan, orang lain pun sama. Jika kita sepertinya suka merendahkan orang lain, artinya ada yang salah dengan diri kita.

Di dunia Saur Sepuh, ilmu kesaktian tertinggi adalah Ajian Lampah Lumpuh. Ilmu itu hanya dimiliki satu orang, yakni Brama Kumbara, sang pendekar sakti mandraguna, sekaligus Raja Madangkara yang arif bijaksana. Intisari Ajian Lampah Lumpuh adalah “menang tanpa mengalahkan, digdaya tanpa merendahkan”.

Di dunia kita, juga ada “ilmu kesaktian tertinggi” semacam itu. Siapa pun yang memilikinya, dia akan menjadi orang sakti mandraguna, yang akan disegani semua manusia. Siapa pun yang memilikinya, dia akan dapat meraih hati siapa saja—tanpa paksaan, tanpa kekuatan. Siapa pun yang memilikinya, dia akan menjadi manusia yang dicintai dan dihormati orang-orang lainnya.

Ilmu kesaktian tertinggi itu bernama “sikap hormat kepada orang lain”.

Menangisi Mbakyu

Bocah itu menangis sendirian, dengan air mata pilu yang berurai di pipinya. Beberapa kali saya melihat bahunya terguncang karena isak yang menyayat. Dengan hati trenyuh, saya mendekatinya, dan bertanya perlahan, “Kenapa kamu menangis?”

Dengan suara bercampur isak dia menjawab, “Aku menangisi mbakyuku.”

“Uhm... memangnya mbakyumu kemana?”

“Aku tidak punya mbakyu...”

Saya bingung. “Lhoh, tadi kamu bilang menangisi mbakyumu?”

“Lha ya itu!” Dia nyaris berteriak bersama tangisnya. “Aku menangis karena tidak punya mbakyu! Fu... fu... fu...”

Tiba-tiba saya ingin menangis bersamanya.

Sam Punya Cerita

Yang tak bisa kuceritakan.

Minggu, 16 Februari 2014

Hikayat Semangkuk Soto

Salah satu kenikmatan hidup adalah menikmati makanan
yang benar-benar kita suka. Kebalikannya adalah siksa.
@noffret 


Salah satu makanan favorit saya adalah soto ayam. Karena itu pula, saya menjadi pelanggan sebuah warung soto, yang saya anggap sebagai “soto paling enak sedunia akhirat”. Tentu saja anggapan saya berlebihan. Tapi saya belum menemukan warung lain yang mampu menyediakan soto ayam lebih enak dibanding warung itu. Yang lebih menyenangkan, nasi yang disajikan warung itu juga memenuhi kualifikasi saya—keras, butiran nasinya tidak lengket, tapi empuk. Perfect!

Karena jaraknya cukup jauh dari rumah, saya tidak bisa sering ke sana. Namun, kapan pun saya sedang stres dan ingin makan enak, saya akan meluangkan waktu ke sana. Warung itu hanya buka siang hari. Di sana, soto disajikan dalam mangkuk bersama piring kecil berisi irisan jeruk nipis. Sementara nasinya disajikan di piring tersendiri, bersama gorengan usus kering. Biasanya, saya akan menikmati sajian lezat itu dengan emping. Tiap kali menikmati itu semua, saya merasa sedang mencicipi hidangan surga.

Nah, pas Valentine kemarin, saya keluyuran bersama wanita ini, menemaninya shopping. Setelah puas berbelanja, dia mengajak makan siang di warung soto langganan saya. Maka kami pun pergi ke sana, dan memesan nasi beserta soto ayam.

Seusai makan, sambil menikmati perut yang kenyang, kami bercakap-cakap membicarakan soto yang baru kami nikmati. Dia bertanya, “Da’, dari mana asal soto?”

Saya mengisap rokok, dan balik bertanya sambil tersenyum, “Kenapa kamu nggak tanya dari mana datangnya cinta?”

Dia tertawa. “Itu sih aku tahu—pantun yang kacau. Dari sawah turun ke kali, dari mata turun ke hati. Nggak nyambung! Jadi, dari mana asal soto?”

“Coba tebak?”

“Hmm... Madura?”

“Salah.”

“Kudus?”

“Masih salah. Soto berasal dari Cina.”

Dia menatap saya, dan bertanya, “Yang bener? Kirain soto berasal dari Madura.”

“Nggak,” saya menjawab. “Orang yang ngenalin soto ke Indonesia adalah orang-orang Cina yang datang kemari.”

....
....

Seratus empat puluh tahun yang lalu, Indonesia masih menjadi jajahan Belanda. Waktu itu negeri kita tercinta masih bernama Hindia Belanda. Pada 1870, pemerintah Hindia Belanda melaksanakan politik keterbukaan imigrasi yang memungkinkan warga asing untuk masuk dan menetap di Hindia Belanda. Pada waktu itulah orang-orang Cina dan Arab mulai masuk ke negeri ini dalam gelombang para imigran. Orang Belanda menyebut mereka “Vreemde Oosterlingen” atau “penduduk timur asing”.

Masuknya gelombang imigran Arab dan Cina ke Hindia Belanda menambah preferensi selera makan penduduk lokal. Salah satunya adalah masakan bernama “caudo”. Masakan itu dikenalkan orang-orang Cina Selatan yang bermukim di wilayah Lamongan dan Kudus. Meski namanya “caudo”, tapi lidah orang Jawa—khususnya Lamongan dan Kudus—kesulitan melafalkannya, hingga menyebutnya “soto”.

Pada waktu itu, caudo atau soto yang dibuat orang Cina memiliki kuah bening—tanpa kecap atau bumbu lain seperti yang kita kenal sekarang. Caudo bening itu merefleksikan filsafat Jawa, “wening ing ati”, atau “bening di hati”.

Karena masakan itu banyak disukai penduduk lokal—khususnya Lamongan dan Kudus—orang-orang di sana pun kemudian menambahkan bumbu-bumbu khas mereka, hingga lama-lama caudo atau soto tidak sebening awalnya. Orang Kudus menambahkan bumbu khas Kudus, sementara orang Lamongan menambahkan bumbu khas Lamongan.

Tambahan bumbu itu menjadikan caudo atau soto semakin “maknyus” ketika dinikmati lidah orang di sana. Soto yang kita nikmati sekarang adalah hasil akulturasi yang bermula lebih dari seratus tahun yang lalu, ketika orang-orang Kudus dan Lamongan melengkapi hal baru yang dikenalkan orang-orang Cina.

Sampai kemudian, pecah perang yang—dalam sejarah—disebut Perang Diponegoro. Perang itu berlangsung dari 1825 sampai 1830. Perang dahsyat antara pasukan Diponegoro dengan Belanda itu melibatkan banyak orang, termasuk para pejuang dari Lamongan dan Kudus. Orang-orang itu pula yang kemudian mengenalkan masakan caudo atau soto ke orang-orang dari wilayah lain yang bergabung dalam pasukan Diponegoro.

Setelah perang usai, dan para pejuang kembali ke daerahnya masing-masing, masakan soto semakin dikenal luas, terutama di pesisir Jawa. Karena mereka mengenal soto dari orang-orang Kudus dan Lamongan, mereka pun menyebut masakan itu sesuai bumbunya, yakni soto Kudus dan soto Lamongan. 

Masakan soto semakin fenomenal, dan mencapai puncaknya pada 1932, ketika terjadi pemogokan buruh kerata api di Surabaya. Pada waktu itu, orang-orang dari berbagai daerah bekerja di Surbaya, dan—karena suatu insiden—mereka melakukan pemogokan. Aksi itu diikuti banyak orang, sampai ke kampung-kampung di Surabaya, semisal Gundih, Darmo, Waru, Ambengan, dan lainnya.

Orang-orang yang mogok kerja itu butuh makan, dan waktu itu masakan yang bisa dibuat dengan mudah sekaligus enak, serta dapat dinikmati selera banyak orang, adalah soto. Maka orang-orang di sana pun menyajikan masakan soto dengan ciri khasnya masing-masing. Dari situlah kemudian lahir soto Waru, soto Sulung, soto Ambengan, dan—yang paling fenomenal—soto Madura.

Bagaimana bisa soto Madura lahir di Surabaya? Semula, masakan soto Madura dibuat orang Cina peranakan yang tinggal di Surabaya. Dia memiliki juru masak yang berasal dari Madura. Ketika juru masak itu pulang ke Madura, dia membawa resep soto itu ke sana. Karena masakan itu digemari banyak orang, sajian itu pun lalu terkenal dengan sebutan “soto Madura”.

Menyaksikan soto digemari orang-orang di berbagai daerah Nusantara, orang-orang Cina pun bersuka hati, karena sesuatu yang mereka bawa bisa diterima, dikembangkan, dan dinikmati bersama. Caudo atau soto yang semula masakan asing bisa menyatu padu dalam kehidupan orang-orang yang semula tak mengenalnya, bahkan melahirkan berbagai jenis soto yang memperkaya masakan aslinya.

Karena sukacita itu pula, Kong Koan (perkumpulan elite Cina peranakan) mengadakan acara masak besar-besaran pada suatu perayaan Cap Go Meh di Semarang. Dalam acara itu, mereka mengundang para ahli masak Cina untuk berlomba, agar berbagai masakan Cina bisa semakin dikenal luas seperti soto.

Dalam lomba masak itu, bahan dasar yang digunakan di antaranya mian (mie) berbahan dasar tepung terigu dan tepung beras, mifen (bihun), mian xian (misoa), lumian (lomi), guotiao (kwetiau), juga ravioli atau bianshi, yang kemudian populer kita sebut pangsit. Selain bahan berbasis tepung beras, lomba itu juga menyajikan lomba masak jenis-jenis tim sum (dim sum), seperti ruo bao (bapao), ruo zong (bacang), dan nunbing (lumpia).

Seorang Cina peranakan dari Batavia kemudian memenangkan lomba untuk kategori masakan berbahan dasar terigu dan tepung beras, sementara pemenang kategori tim sum adalah seorang wanita dari Bandung. Karena itulah, makanan berbahan dasar tepung terigu dan beras di kemudian hari dikuasai oleh Jakarta, sementara tim sum—yang melahirkan jenis makanan fenomenal bernama siomay—dikuasai orang Bandung.

Dalam semangkuk soto yang kita nikmati, ada perjalanan panjang sejarah yang mengendap di sana... sejarah yang bermula dari akar lahirnya bangsa ini, ketika penduduk pribumi menyambut para pendatang dengan keramahan dan hati lapang, ketika dua hal yang semula tak saling kenal bisa saling melengkapi, ketika kegembiraan sebagai manusia menjadi sesuatu yang tak tepermanai.

....
....

“Jadi,” saya berkata kepadanya, “dari mana datangnya cinta?”

Dia tersenyum. “Dari soto turun ke hati?”

“Sometimes,” saya menyahut. “Tetapi, sering kali, dari hati sampai ke hati.”

Glodok Panas Banget!

(Tapi di peta lokasi tertulis di Paris, Prancis).

Padahal saya benar-benar sedang nongkrong di Glodok, ngubek-ubek DVD bajakan!

....
....

Berarti saya ini bagaimana...???

Atau... berarti peta lokasi sialan itu bagaimana...???

....
....

Dan kenapa kalian harus mem-bully saya, hanya gara-gara kekeliruan peta lokasi...???

Saya benar-benar ada di Glodok, bukan di Paris—memangnya saya ini siapa, kok sampai keluyuran ke Paris...???

Dan kenapa juga saya harus pamer status lokasi, kalau sekadar nongkrong di Glodok...???

....
....

Saya ini kenapa...???

Kesimpulan Orang Tidak Waras

Kadang-kadang, kita menilai orang lain tidak waras, hanya untuk menyadari bahwa sebenarnya kita sendiri pun mungkin tidak waras.

Kamis, 13 Februari 2014

Cinta yang Tolol

Semua drama cinta panjang lebar dan bertele-tele di muka bumi ini
sebenarnya bisa disingkat dalam satu kata, “Kamu.”
@noffret


Ada suatu masa ketika saya sangat suka lagu-lagu Saleem Iklim. Bagi yang mungkin belum tahu, Saleem adalah salah satu penyanyi top Malaysia, dan ia punya group musik bernama Iklim, hingga ia pun terkenal dengan nama Saleem Iklim. Ia punya suara serak-serak basah, dan dengan suaranya yang khas itu ia menyanyikan lagu-lagu cinta yang menyayat sukma pendengarnya.

Di antara lagu-lagunya, yang pernah sangat terkenal di Indonesia adalah “Suci Dalam Debu”, dan “Puteri”. Nah, saya sukaaaa banget lagu “Puteri”, karena waktu itu kebetulan saya sedang jatuh cinta setengah mati pada seorang teman sekolah. Lagu itu seperti tepat mewakili perasaan, harapan, impian, dan rahasia hati saya.

Jadi, ada suatu masa ketika saya sangat suka lagu-lagu Saleem Iklim. Ketika saya masih remaja, ketika saya masih mudah galau oleh rasa cinta. Dan lagu-lagu Saleem Iklim memang seperti mewakili semua yang saya rasakan—cinta diam-diam, kasih tak sampai, harapan yang kandas, atau kebahagiaan kecil ketika bertemu seseorang yang kita rindukan.

Bagi para remaja, tak ada yang lebih indah di dunia ini selain hal-hal berbau asmara, termasuk lagu cinta. Begitu pula yang terjadi dengan saya. Masa-masa remaja adalah masa-masa awal ketika kita mengenal cinta, ketika kita baru menyadari ada sesuatu yang indah di kedalaman hati kita. Cinta, kerinduan, kasmaran, hasrat ingin memiliki dan dimiliki seseorang. Juga kegalauan yang menyertainya.

Pada waktu SMA, saya menyatakan cinta pada seorang perempuan teman sekolah. Dan dia menolak. Penolakan itu membuat saya galau setengah mati, dan tiap malam saya merindukannya, berharap—entah bagaimana caranya—dia mau meralat keputusannya, dan mau menerima saya sebagai pacarnya. Tapi hal ajaib itu tidak terjadi, dan saya hanya bisa galau setiap hari, setiap malam, mengingatnya, merindukannya.

Jadi, saya suka lagu-lagu Saleem Iklim. Karena lagu-lagunya mewakili perasaan saya. Hampir tiap hari saya menyenandungkan lagu-lagu tersebut, membayangkan orang yang saya rindukan, merindukan orang yang saya cintai, dan sama sekali tidak menyadari betapa konyolnya semua itu.

Oh, well, bertahun-tahun kemudian, ketika dewasa, saya menyadari bahwa semua yang saya rasakan di masa-masa remaja itu sungguh konyol sekaligus tolol. Dan kadang saya malu sendiri kalau mengingatnya.

Sekarang, saya menganggap semua itu konyol, karena perbuatan itu sungguh sia-sia. Saya mengingat seseorang yang sama sekali tidak mengingat saya, merindukan seseorang yang sama sekali tidak merindukan saya, berharap memiliki seseorang yang tak ingin dimiliki saya—jatuh cinta pada seseorang yang tidak jatuh cinta kepada saya. Konyol.

Tapi setiap kita memang sepertinya harus mengalami dan menjalani masa-masa konyol semacam itu. Masa-masa ketika kita masih punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal tolol, semisal jatuh cinta dan merindukan seseorang yang sama sekali tidak ingat kita. Atau mengejar-ngejar seseorang yang sama sekali tidak akan jatuh hati hanya karena kita mengejar-ngejarnya.

Sekarang, ketika dewasa, saya tidak bisa lagi menikmati hal-hal semacam itu. Bukan hanya karena menyadari itu konyol, tetapi juga karena saya tidak punya waktu lagi untuk mengurusi hal-hal tolol semacam itu.

Saya tidak tahu apakah hal ini dialami setiap orang, atau hanya saya. Yang jelas, saya sudah malas melakukan hal-hal yang dulu pernah saya lakukan, dalam hal yang berhubungan dengan jatuh cinta dan semacamnya. Misalnya, kalau dulu saya suka pedekate atau mengejar-ngejar seseorang seperti dalam sinetron, sekarang saya tidak bisa melakukannya. Masalahnya sederhana, saya sudah tak punya waktu untuk melakukan hal-hal seperti itu.

Jadi, kalau dulu saya suka membaca novel cinta yang termehek-mehek, sekarang bacaan semacam itu membuat saya bosan. Kalau dulu saya terkesan ketika menyaksikan film romantis yang memperlihatkan adegan dramatis—misalnya cowok mengejar-ngejar cinta seorang cewek—sekarang saya malah menertawakannya. Drama cinta hanya cocok bagi mereka yang punya waktu luang untuk memikirkan dan mengerjakan hal-hal tolol.

Di Formspring, seseorang pernah bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan, kalau pernyataan cintamu ditolak seseorang?”

Saya jujur menjawab, “Saya akan menertawakannya!”

Dulu, saya mungkin bisa sedih berhari-hari ketika mendapat penolakan cinta dari seseorang. Sekarang, saya menyadari hal itu sia-sia, karena tak mengubah apa pun. Tak peduli sesedih apa pun, dia tetap menolak saya. Tak peduli sebesar apa pun cinta saya kepadanya, itu tidak mengubah keputusannya. Karena itu, sekarang, jika saya menyatakan cinta pada seseorang, dan dia menolak, saya akan menertawakannya.

Sialnya, atau untungnya, hal itu belum pernah terjadi.

Jangankan sampai pada penolakan—yang artinya saya telah menyatakan cinta pada seseorang—bahkan baru tahap pedekate pun, saya sudah langsung mundur dan menjauh begitu orang yang saya dekati menunjukkan sikap negatif. Artinya, jika saya mendekati seseorang, dan sikap atau responnya tidak manis, saya akan langsung berhenti. Saya tidak akan buang-buang waktu dan energi untuk hal-hal tolol seperti pedekate dalam sinetron!

Ehmmm....

Sekitar dua tahun yang lalu, saya datang ke kampus tempat saya kuliah dulu, untuk suatu urusan. Setelah menyelesaikan urusan, saya masuk kantin kampus untuk mengisi perut yang lapar. Di kantin, tampak kerumunan mahasiswa dan mahasiswi yang sedang mengobrol sambil menikmati hidangan kantin. Pada waktu itulah saya melihat seorang mahasiswi yang membuat saya tertarik.

Dia tipe perempuan yang sering membuat saya tertarik. Manis, dan bersahaja.

Saya tidak tahu dan tidak kenal mahasiswi itu. Jadi, saya pun mendekati mahasiswa yang saya kenal di sana, dan berbisik menanyakan namanya. Mahasiswa itu menjelaskan, “Namanya Via (bukan nama sebenarnya). Dia teman sekelasku. Kalau kamu mau, aku juga punya nomor hape-nya.”

Ketika Via memisahkan diri dari teman-temannya untuk membayar di kantin, saya mendekatinya, dan dengan sopan mengajaknya kenalan. Kami berkenalan dengan kaku. Mungkin karena tidak nyaman dilihat teman-temannya, dia segera pergi.

Mahasiswa tadi memberikan nomor ponsel Via, dan menyebutkan alamat rumahnya. Keesokan harinya, saya mencoba menelepon Via, tapi sambutannya kurang menyenangkan, karena mungkin dia sedang sibuk. Saya menyabarkan diri. Beberapa hari kemudian, saya mencoba menelepon lagi, dan sambutannya masih tetap seperti itu.

Maka saya pun berhenti.

Saya tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal tolol seperti ini. Alih-alih bersedih atas hal itu, saya malah tertawa sendiri.

Sekitar dua atau tiga minggu kemudian—saya lupa persisnya—Via menelepon saya. Tidak saya urusi. Dia juga berkirim SMS, dan tetap tidak saya urusi. Mungkin, sikap awal yang ia perlihatkan kepada saya hanya untuk jaim—tapi sayangnya dia keliru. Saya tidak tertarik mengurusi cewek sok jaim!

Kalian yang membaca catatan ini mungkin ingin bilang, “Yeah, namanya juga cewek, wajarlah kalau cuma begitu. Dia tentu ingin jaim, biar tidak terlihat gampangan.”

Pemahaman seperti itu pula yang mungkin selama ini bercokol di kepala banyak cewek. Sekarang biar saya beritahu, tidak semua cowok suka cewek sok jaim. Lebih spesifik lagi, tidak semua cowok punya waktu luang untuk mengurusi cewek sok jaim. Sebagian cowok—termasuk saya—justru lebih suka cewek yang apa adanya, tanpa kesan sok jaim yang sia-sia. Sedikit saja sikap tidak mengenakkan—semisal sok jaim yang menjengkelkan—sudah langsung membuat saya mundur dan menjauh.

Dalam hidup, saya telah menerima banyak luka hati yang bekasnya belum juga sembuh hingga hari ini. Karenanya, saya sangat peka dan sensitif, karena tak ingin menerima luka apa pun lagi, sekecil apa pun. Jika saya tidak yakin seseorang membuat saya nyaman, saya lebih memilih untuk tidak mendekat. Jika seseorang menunjukkan sedikit saja sikap yang mungkin akan melukai hati, saya akan segera pergi.

Omong-omong, sampai hari ini saya masih suka lagu-lagu Saleem Iklim. Dan saya senang karena bisa menikmati lagu-lagunya tanpa membuat saya galau.

Maaf, saya tidak punya waktu mengurusi hal-hal tolol semacam itu.

Selarik Kata di Baris Pertama

Aku ingin berhenti menyakiti diri sendiri.

Aku Benci Mencintaimu

Aku serigala dan kau rembulan.
Aku melolong merindukanmu setiap malam,
tapi kau terlelap dalam pelukan vampir.
@noffret


Jika satu-satunya kesalahanku adalah tidak mengucapkan cinta kepadamu, aku khawatir itu berasal dari kesalahanmu.

Aku tidak punya kewajiban mencairkan salju membeku, sebagaimana kau pun tak punya kewajiban memadamkan api di hatiku.

Jadi teruslah membeku selama kau mau, dan aku akan tetap menjaga api di hatiku menyala dari waktu ke waktu.

Jika salju tak juga mencair, aku akan mencari tempat lain yang lebih teduh, yang tidak membuatku gigil, yang bisa membuatku tenang menyalakan api di malam dingin, dan mematikannya seusai mimpi berlalu.

Aku ingin pergi ke pelukmu, menjemput mimpi dalam dekapmu. Tetapi, setiap pikiran itu melintas, aku menyadari betapa benci aku mencintaimu.

Minggu, 09 Februari 2014

Harga Sebuah Kemalasan

Kemalasan memiliki harga yang harus dibayar.
Dan harganya sering kali sangat mahal.
@noffret 


Pengalaman saya dengan motor bisa dibilang sangat terbatas, karena seumur-umur hanya mengenal Suzuki Satria, yang RU maupun yang FU. Menyangkut motor, ada pengalaman yang tak bisa saya lupakan, yang mengajarkan pada saya tentang besarnya bahaya kemalasan.

Seperti kita tahu, Suzuki Satria menggunakan rem cakram. Karenanya, ada suatu saat kampas cakram itu akan aus, dan harus diganti. Ada sepasang kampas pada rem cakram, kanan dan kiri, dan seiring berlalunya waktu sepasang kampas itu akan menipis sehingga kekuatan rem akan terus berkurang. Hal semacam itu pula yang terjadi pada motor saya.

Suatu hari, motor saya mengeluarkan suara derit setiap kali melakukan pengereman. Saya cukup tahu itu tanda bahwa kampas cakram harus diganti. Maka saya pun pergi ke toko onderdil motor, dan membeli satu set kampas. Seharusnya, saya membawa motor ke bengkel resmi untuk mengganti kampas cakram tersebut. Tetapi, karena letak bengkel resmi cukup jauh, saya jadi malas dan memilih menyerahkan pengurusan motor saya pada bengkel di pinggir jalan yang kebetulan saya temukan.

Itu kemalasan yang kelak akan sangat berbahaya.

Ternyata, urusan mengganti kampas cakram tidak semudah kedengarannya. Untuk mengganti sepasang kampas, kita harus membongkar cakram itu sepenuhnya, yang tentu juga butuh keahlian serta peralatan memadai. Urusan melepas cakram, kemudian mengganti sepasang kampas lama dengan yang baru, juga membutuhkan waktu cukup lama.

Sayangnya, bengkel yang mengurus motor saya tidak mau terlalu repot. Karena tidak tahu caranya atau karena memang malas, dia hanya melepas cakram motor saya sekadarnya, kemudian menyisipkan kampas ke dalamnya. Dalam hal ini, terjadi masalah yang kesannya sepele. Karena cakram tidak dilepas sepenuhnya, hanya satu bagian kampas yang bisa dimasukkan—bukan sepasang. Akibatnya, hanya satu bagian kampas yang baru, sementara bagian lainnya masih menggunakan kampas lama.

Waktu itu saya bertanya, apakah hal itu tidak masalah. Orang di bengkel menjawab hal tersebut tidak masalah, karena yang penting fungsi pengereman telah berjalan baik. Suara derit yang mengganggu pun sudah tak ada lagi. Maka saya pun tidak memperpanjang urusan. Saya bawa pulang motor itu, beserta satu bagian kampas baru yang tidak terpakai.

Berbulan-bulan kemudian, motor saya tidak mengalami masalah. Tetapi, lama-lama, motor terasa berat. Waktu itu saya tidak berpikir macam-macam, selain menyangka motor saya mungkin kotor, dan rantainya perlu dibasahi oli. Seharusnya saya memperhatikan kondisi motor untuk mengetahui sebabnya, tapi saya malas. Dan itu sungguh kemalasan yang berbahaya.

Suatu sore, saya berencana membeli gorengan di tempat yang tak jauh dari rumah. Maka saya pun mengeluarkan motor, lalu melaju perlahan-lahan di pinggir jalan raya. Laju motor sangat perlahan waktu itu, mungkin hanya 40 kilometer per jam, karena saya tidak sedang buru-buru. Di tengah jalan, tiba-tiba motor itu berhenti mendadak. Sebegitu mendadak, hingga saya nyaris jatuh.

Mesin motor tidak mati, tarikan gasnya masih hidup. Tapi motor itu tidak mau jalan, seinci pun. Padahal kondisi rem sama sekali normal, tidak tertekan. Kopling dan transmisi gigi juga tidak bermasalah. Dengan perasaan heran luar biasa, saya mengamati motor, mencari-cari di mana masalahnya. Semula, saya pikir ada tali atau semacamnya yang terjebak di as roda, sehingga roda motor tak mau berputar. Tetapi, meski sudah saya cari dengan teliti, tidak ada apa-apa di sana. Seluruh bagian roda itu bersih.

Tetapi motor tetap tidak mau jalan. Bahkan, ketika mesin sudah dimatikan dan saya mencoba menuntunnya, motor itu tetap tidak mau jalan. Benda itu seperti terpaku di aspal, dan tidak mau dipindahkan seinci pun. Kegiatan saya di pinggir jalan itu pun menarik perhatian beberapa orang yang kemudian mendekat. Mereka bertanya ada masalah apa. Saya jelaskan masalahnya. Seseorang, yang sepertinya tahu akar masalah itu, memberikan pencerahan bahwa roda motor saya terkunci kampas rem.

Dia menjelaskan, biasanya hal semacam itu terjadi karena sepasang kampas tidak imbang kanan-kirinya, atau karena pemasangan kampas rem yang tidak benar. Penjelasan itu terdengar match. Saya masih ingat, bengkel yang memasang kampas rem dulu hanya mengganti satu bagian, sementara bagian yang lain masih menggunakan kampas yang lama.

Akhirnya, karena hari sudah sore, dan bengkel kebanyakan sudah tutup, motor saya pun terpaksa dibongkar dengan peralatan seadanya. Beberapa orang itu membantu melepaskan cengkeraman rem di kampas, demi motor saya bisa dijalankan. Setelah rem cakram terlepas, motor bisa kembali jalan. Dan saya pun pulang, tanpa sempat membeli gorengan.

Di rumah, saya tercenung, dan berkali-kali bersyukur. Meski motor saya bermasalah, tapi untungnya saya tidak sampai celaka. Untungnya pula, tadi saya sedang melaju perlahan-lahan di jalan.

Coba bayangkan apa yang akan menimpa saya, jika kasus tadi terjadi ketika motor sedang melaju kencang. Asal tahu saja, saya sering melaju hingga kecepatan maksimal di jalan, khususnya ketika sedang stres. Apa yang sekiranya akan terjadi, jika saya sedang melaju dengan kecepatan 150 kilometer per jam, misalnya, lalu tiba-tiba motor saya terkunci dan berhenti mendadak seperti tadi?

Membayangkannya saja sudah cukup membuat saya ngeri. Umpama saya sedang melaju kencang, kemudian roda motor terkunci seperti tadi, maka saya akan menjadi Jackie Chan. Ketika roda terkunci secara mendadak, padahal motor sedang melaju kencang, maka kemungkinan yang paling “ringan” adalah saya akan terlempar dari motor dan menghantam aspal.

Kemungkinan lain agak berat. Jika saya sedang melaju kencang di jalanan, lalu roda motor terkunci secara mendadak, maka mobil atau kendaraan lain di belakang saya yang juga melaju kencang akan terkejut, dan hampir bisa dipastikan akan menabrak saya karena tak kuasa melakukan pengereman. Itu terlalu mengerikan untuk dibayangkan.

Hanya gara-gara malas memasang kampas rem dengan benar, nyawa saya punya kemungkinan untuk hilang. Mungkin kedengarannya terlalu dramatis. Tapi kemalasan mungkin memang memiliki harga yang sangat mahal, jauh lebih mahal dari yang kita bayangkan. Dalam sebuah kasus, kemalasan bahkan telah terbukti merenggut nyawa orang-orang tak bersalah, serta menyebabkan ribuan orang menderita. Kita bisa melihatnya pada kasus yang menimpa masyarakat di Goiania, Brasil.

Kisah mengerikan itu dimulai pada 1985. Pada waktu itu, The Goiania Institute of Radiotherapy bermarkas di Goiania, Brasil. Di markas mereka, lembaga yang menangani terapi kanker tersebut memiliki mesin teletherapy Cesium-137, isotop radioaktif yang mengandung radiasi berbahaya.

Nah, pada 1985, lembaga tersebut pindah ke lokasi baru, dan meninggalkan mesin berbahaya tersebut di markasnya yang lama, karena dianggap tak dibutuhkan lagi. Yang jadi masalah, mereka lalai memberitahu petugas berwenang mengenai mesin yang sudah tidak terpakai itu, serta dampaknya jika terpapar ke masyarakat.

Setelah ditinggalkan, gedung bekas institusi itu pun perlahan-lahan rusak dan terbengkalai, karena tak lagi dihuni serta dirawat.

Sekitar dua tahun setelah ditinggalkan, gedung yang telah rusak itu dimasuki dua orang yang berencana mengambil benda-benda berharga di sana. Ketika menemukan mesin Cesium-137, dua orang itu pun mengambilnya. Kedua orang itu tidak tahu bahwa mesin yang diambilnya berbahaya, dan mereka menjualnya ke tempat barang bekas. Peristiwa itu terjadi pada 13 September 1987.

Lima hari kemudian, pekerja di tempat barang bekas membongkar mesin itu, dan mengeluarkan Cesium-137 yang ada di dalamnya. Ketika dibongkar, mesin itu memancarkan cahaya berwarna biru, dan para pekerja di sana terpesona menyaksikannya.

Tanpa menyadari bahwa itu benda berbahaya, para pekerja tersebut memotong-motong cesium itu, dan membagikannya pada keluarga, teman, serta tetangga. Orang-orang yang menerimanya sangat terpesona dengan benda aneh itu, dan cesium berbahaya itu pun tersebar dengan cepat, karena kemudian ditemukan kontaminasi hingga jarak 160 kilometer.

Beberapa hari kemudian, istri pemilik tempat barang bekas mulai menyadari bahwa keluarga serta kerabat yang diberi benda aneh itu jatuh sakit. Dokter menyatakan mereka keracunan radiasi akut. Empat orang tewas, termasuk seorang anak kecil. Selanjutnya, sekitar 100 ribu orang di kota tersebut harus diperiksa paparan kontaminasi.

Dari pemeriksaan, ditemukan sekitar 40 rumah di kota tersebut terkena kontaminasi tinggi, dan harus dihancurkan. Dalam laporan Agen Energi Atom Internasional (IAEA) yang dipublikasikan pada 1988, disebutkan insiden radiologi itu makin rumit, karena tidak lengkapnya kronologi yang diceritakan warga. Akibatnya, tim penolong pun kesulitan untuk menentukan berapa lama paparan radiasi masuk ke tubuh korban. Mayoritas korban mengalami mual, muntah, diare, pusing, dan kelelahan yang amat sangat. Mereka juga mengalami infeksi di tangan, kaki, dan beberapa area di tubuh.

Meski akhirnya kondisi kota bisa dipulihkan, warga Goiania terkena dampak sosial. Karena adanya paparan radiasi berbahaya di sana, warga kota lain menolak kehadiran apa pun yang berasal dari Goiania, baik orang maupun barang. Secara nasional, insiden itu membuat pemerintah Brasil mulai memikirkan dan menetapkan hukum mengenai sumber penyimpanan zat yang mengandung radiasi.

Hanya karena kemalasan dan kelalaian, nyawa orang-orang tak bersalah menjadi tumbal. Kemalasan memiliki harga, bahkan lebih besar dari yang mungkin kita pikirkan.

Noffret’s Note: Wanita

Konon, ada wanita hebat di balik setiap lelaki hebat.
Lalu siapa yang bertanggung jawab di balik setiap lelaki gagal?
—Twitter, 22 Desember 2012

Hukum tentang Wanita: Pasal 1; Wanita tidak pernah salah.
Pasal 2; Jika wanita salah, lihat pasal 1.
—Twitter, 22 Desember 2012

Dengarkanlah ketika wanita bicara.
Tetapi, yeah... cukup dengarkan saja.
—Twitter, 22 Desember 2012

Dua kemungkinan jika Tuhan tidak menciptakan Hawa:
(1) Adam tetap jomblo. (2) Adam tetap jomblo tapi bahagia.
—Twitter, 22 Desember 2012

Dua kemungkinan jika Hawa tidak memakan apel:
(1) Adam dan Hawa tetap di surga. (2) Mereka tidak pernah belajar.
—Twitter, 22 Desember 2012

Hawa telah mengajari kita tentang wanita,
yang tidak juga dipahami oleh pria, apalagi wanita.
—Twitter, 22 Desember 2012

Apakah Hawa merasa bersalah setelah memakan apel
yang menyebabkan pengusiran dari Surga?
Dia tak pernah menjelaskannya.
—Twitter, 22 Desember 2012

Adam menyesal setelah mengikuti keinginan Hawa.
Dan Hawa...? Entahlah.
—Twitter, 22 Desember 2012

Adam dan Hawa adalah kita. Apel yang mereka makan
adalah janji keabadian yang ternyata fatamorgana.
—Twitter, 22 Desember 2012

Dalam hubungan pria-wanita, sulitnya menyadarkan wanita
ketika bersalah sama sulitnya memadamkan api neraka.
—Twitter, 22 Desember 2012

So, wanita yang mau mengakui dan menyadari
dirinya bersalah ketika melakukan kesalahan,
adalah wanita yang benar-benar langka.
—Twitter, 22 Desember 2012

Lima kemungkinan ketika wanita bersalah: 1) tidak mengakui;
2) tidak menyadari; 3) dua-duanya; 4) menyadari tapi
tidak mengakui; 5) lain-lain.
—Twitter, 22 Desember 2012

Believe it or not. Berdasarkan penelitian
dan simulasi ilmiah, para lelaki akan jauh lebih sehat
dan bahagia jika di dunia tidak ada wanita.
—Twitter, 22 Desember 2012

Ya, ya, meski mereka tentunya akan segera punah
karena tak bisa beranak-pinak.
—Twitter, 22 Desember 2012

Jangan salah paham. Tweet2 barusan lebih ditujukan
untuk hubungan pacaran, meski tak menutup
kemungkinan untuk pernikahan.
—Twitter, 22 Desember 2012

Dan, hei, aku belum menikah. Jadi aku tidak tahu
(akan) seperti apa karakter wanita yang sudah menikah.
—Twitter, 22 Desember 2012

Sudah, jangan protes mulu. Mari kita ganti topik.
Hmm... aku lapar, mau makan. *tidak mau mengaku salah*
—Twitter, 22 Desember 2012


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.
 

Hari Ini, Satu Tahun yang Lalu

Hari ini, satu tahun yang lalu, aku cemburu pada orang yang melakukan kudeta di Pakistan.

Dan, kau tahu, aku lelaki pencemburu.

Rabu, 05 Februari 2014

Rahasia di Bukit

Kebenaran paling penting,
sering kali berteriak dalam hening.
@noffret 


Pemuda itu terengah-engah bersama sepasang kakinya yang terus melangkah. Tidak, sebenarnya dia nyaris merangkak. Jalanan yang dilaluinya terus menanjak, dan tenaganya semakin terkuras. Tubuhnya diselimuti debu bercampur keringat, dan darah yang telah mengering. Duri-duri tajam dan ranting-ranting pohon yang dilewatinya telah mengoyak kulitnya sepanjang perjalanan.

Tapi dia meneruskan tekadnya.

Sesuatu itu tersimpan di sana, pikirnya. Di atas bukit. Dan ia akan menemukannya. Menyentuhnya. Memilikinya.

Ketika akhirnya ia menjejak puncak bukit, tubuhnya lunglai kehabisan energi. Ia terjatuh di atas rerumputan lembut. Ia terlalu letih untuk menyadari kesadarannya terisap lelah, dan ia jatuh tertidur. Tapi sepasang bibir yang tersenyum menghiasi wajah sekaratnya. Di sekelilingnya, terik siang mulai menyisih untuk menyambut kedatangan senja.

Pemuda itu tidak tahu berapa lama ia tertidur—atau pingsan. Entah satu jam, satu hari, satu minggu, atau bahkan satu abad. Yang ia tahu, begitu membuka mata, ia mendapati sesosok orang tua dengan rambut telah memutih semua, tengah membungkuk ke arahnya.

“Di mana aku...” rintih si Pemuda tanpa sadar.

“Kau ada di puncak bukit,” sahut si Orang Tua. Kemudian, ia mengangsurkan segelas minuman kepada si Pemuda. “Kau perlu minum, untuk mengembalikan kesadaranmu.”

Dengan susah payah, si Pemuda memaksa tubuhnya untuk bangkit, kemudian menerima gelas di depannya dengan tangan bergetar. Dengan bergetar pula ia mendekatkan minuman itu ke mulutnya, lalu menghabiskan isinya.

“Apa yang terjadi denganku?” tanya si Pemuda setelah merasakan darahnya kembali mengalir di tubuhnya.

“Kau kelelahan,” jawab si Orang Tua. “Kau telah melakukan perjalanan jauh untuk sampai di tempat ini, dan kau telah menguras semua energimu. Atau bahkan mungkin hidupmu.”

Si Pemuda mulai menyadari keadaannya. Sekelilingnya. Puncak bukit yang telah didakinya. Kemudian, dengan tergagap ia berkata, “Aku... aku perlu menemukan sesuatu di bukit ini.”

“Aku tahu, Nak, aku tahu,” ujar si Orang Tua dengan nada menenangkan. “Sebelum kedatanganmu, aku telah mendapati banyak pemuda lain yang datang ke sini untuk mencari dan mendapatkan sesuatu yang sama. Aku tahu yang kau cari.”

“Benarkah...?”

Si Orang Tua menatap si Pemuda dengan wajah prihatin. Ia mendesah perlahan, kemudian berkata lirih, “Kau akan mendapatkan yang kauinginkan.”

“Di mana aku bisa mendapatkannya...?”

Tetapi bahkan sebelum menyelesaikan kalimatnya, Pemuda itu telah tahu yang ia cari tak jauh dari tempatnya. Dengan penuh hasrat ia bangkit dari duduknya, kemudian melangkah ke tengah bukit, dan seketika terpaku di sana.

Tepat di bawah kakinya, ia menyaksikan serumpun bunga dengan ciri-ciri sempurna sebagaimana yang ia angankan. Putih, mekar, berkilau, seolah diterpa cahaya. Dengan kekhusyukan yang hening, ia mendekat dan menyentuh bunga itu dengan lembut. Mengangkat tangkainya perlahan hingga terlepas dari batang, kemudian menciumnya dengan takzim. Akhirnya kudapatkan, pikirnya dengan penuh syukur.

Ia nyaris lupa pada orang tua yang ada di belakang punggungnya. Ketika berbalik, ia mendapati orang tua itu tengah berdiri menatapnya, dengan wajah prihatin.

“Kuharap kau telah menemukan yang kau cari,” ujar si Orang Tua dengan nada lelah.

“Ya,” sahut si Pemuda sambil menunjukkan setangkai bunga di tangannya. “Aku datang dari jauh hanya untuk ini.”

Si Orang Tua menatap anak muda di depannya beberapa saat, kemudian berkata perlahan, “Boleh kutahu kenapa kau mau datang jauh-jauh ke tempat ini hanya untuk bunga itu?”

Dengan nada antusias, si Pemuda menjelaskan, “Orang-orang di tempatku memberitahu, aku akan menemukan bunga yang amat berharga di tempat ini. Bahwa kemanusiaanku akan lengkap setelah kutemukan bunga ini. Jadi kutinggalkan rumah dan kampung halamanku, lalu menempuh perjalanan jauh untuk sampai ke sini. Demi bunga yang kucari.”

“Bagaimana kalau kukatakan bahwa bunga-bunga semacam itu sebenarnya juga ada di tempatmu? Bagaimana kalau kukatakan bahwa kau bisa menemukan dan mendapatkan bunga semacam itu tanpa jauh-jauh ke sini, karena tersedia di lingkungan sekitarmu?”

“Tidak mungkin!” sahut si Pemuda spontan.

“Kenapa kau begitu yakin, Nak?”

“Karena masyarakat memberitahu bahwa bunga ini hanya bisa ditemukan di tempat ini.”

Si Orang Tua tersenyum ironis. “Bagaimana kalau umpama masyarakatmu menyatakan sebaliknya? Bagaimana kalau mereka menyatakan bahwa bunga itu juga ada di tempatmu? Apakah kau juga akan percaya?”

Si Pemuda terdiam.

“Kau tidak mencari kebenaran, Nak,” ujar si Orang Tua perlahan-lahan. “Kau hanya mempercayai—bahkan meyakini—kebenaran.”

Si Pemuda menatap Orang Tua di hadapannya. “Ya...? Dan apa bedanya itu?”

“Mencari kebenaran artinya melihat dan memeriksa apakah kebenaran yang kauterima memang benar. Mempercayai apalagi meyakini kebenaran artinya kau menerima begitu saja sesuatu yang dinyatakan kepadamu sebagai kebenaran. Mencari dan meyakini—itu perbedaan yang sangat esensial.”

“Tetapi jika masyarakat menyatakan kebenaran...”

“Masyarakat!” potong si Orang Tua dengan nada sinis yang tak disembunyikan. “Kau menyandarkan keyakinan kebenaranmu kepada masyarakat. Bagaimana kau bisa yakin masyarakatmu memang telah mencari kebenaran, dan bukan semata mempercayai atau sekadar meyakininya?”

“Maafkan aku, Orang Tua,” ujar si Pemuda perlahan, “Kupikir, jika masyarakatku menyatakan bahwa sesuatu memang benar, dan orang-orang lain juga menyepakatinya, sepertinya aku tak punya alasan untuk meragukannya.”

“Dan kau memang benar.”

“Maaf...?”

Dengan nada seperti mengumumkan, si Orang Tua berkata, “Apakah kau percaya sesuatu sebagai kebenaran atau bukan, kau benar.”

Keheningan merayapi bukit. Awan di langit bergerak perlahan, burung-burung terbang kembali ke sarang. Di kejauhan mulai terdengar cicit kelelawar keluar dari sarang kegelapan.

“Kau mau mendengar ceritaku?” ujar si Orang Tua setelah terdiam sesaat.

Si Pemuda mengangguk.

Mereka lalu duduk di atas bongkah batu besar, berhadapan, dan si Orang Tua memulai ceritanya. “Aku telah menjalani hidup di puncak bukit ini selama puluhan tahun, dan mungkin sesaat lagi aku harus pergi selamanya. Selama hidup di sini, aku mendapati para pemuda sepertimu meninggalkan tempat ini untuk turun, menyeberangi laut, pergi ke tempatmu. Mereka memiliki alasan sepertimu—menemukan bunga yang kauinginkan. Sebagaimana kau meninggalkan kampung halamanmu untuk mendaki bukit demi bunga itu, para pemuda di sini pun rela menyeberangi laut untuk datang ke tempatmu, untuk alasan yang sama.”

“Tapi di tempatku tidak ada bunga seperti ini,” ujar si Pemuda.

“Sayangnya,” sahut si Orang Tua, “para pemuda di sini meyakini bunga semacam itu hanya ada di tempatmu—tepat sama seperti kau dan masyarakatmu meyakini bunga semacam itu hanya ada di sini.”

Si Pemuda tercengang. “Itu... itu tidak mungkin!”

Si Orang Tua menyahut perlahan, “Itu pula yang dikatakan para pemuda di sini, ketika kuberitahu bahwa bunga yang mereka cari jauh-jauh itu sebenarnya ada di sini. Orang-orang di tempatmu berdatangan ke sini, dan orang-orang sini berdatangan ke tempatmu, untuk mencari dan menemukan benda yang sama. Kedengarannya memang tidak mungkin, Nak. Sangat tidak mungkin! Bagaimana bisa manusia dibutakan oleh keyakinannya sendiri...?”

Si Pemuda menimang-nimang bunga indah di tangannya, kemudian dengan ragu berkata perlahan-lahan, “Tetapi... kalau memang begitu kenyataannya, kalau memang bunga seperti ini bisa ditemukan di tempatku, hingga aku tak perlu pergi jauh ke sini untuk mendapatkannya, mengapa masyarakatku menyatakan aku harus mendaki bukit ini untuk menemukannya?”

Si Orang Tua tersenyum lelah. “Seperti yang kubilang tadi. Mencari dan meyakini kebenaran adalah dua hal yang berbeda.”

Ada dan Tiada

Setiap kali menyaksikan kebuasan manusia kepada manusia lainnya, aku tidak percaya Tuhan ada.

Setiap kali menyaksikan kebaikan manusia kepada manusia lainnya, aku percaya Tuhan ada.

Oh, Mbak Tari

Mbak Tariiiiii, Mbak Tari.

Piye tho, iki...?

....
....

*Pusing*

Sabtu, 01 Februari 2014

Penjual Durian yang Tidak Mencerminkan Registrasi

Berdasarkan pengalaman, kelezatan durian
semakin optimal jika dinikmati dalam keheningan.
Mungkin begitu pula kenikmatan lainnya.
@noffret


Pada masa kuliah dulu, saya “membelokkan” istilah “registrasi” untuk meledek bocah-bocah yang kuliah seenaknya. Misalnya, suatu siang ada teman yang tampak asyik merokok di kantin, kemudian saya menyapa, “Kayaknya santai banget. Nggak ada kuliah?”

Dia menjawab, “Ada kuliah sih, tapi malas mau masuk kelas.”

Lalu saya akan berujar sambil tersenyum, “Kamu tuh, mahasiswa tapi kok tidak mencerminkan registrasi.”

Biasanya bocah yang saya ledek begitu akan cekikikan.

Mungkin karena ucapan itu terdengar unik dan lucu, istilah “registrasi” pun populer di kampus kami, khususnya di antara para mahasiswa yang seangkatan dengan saya. Pada waktu-waktu tertentu, saya kerap mendengar para mahasiswa saling meledek dengan ucapan semacam itu, dan biasanya yang diledek—dan yang mendengar ucapan itu—akan cekikikan.

Dalam kelas, misalnya, kadang ada mahasiswa yang ditegur dosen karena bolos kuliah beberapa kali. Lalu ada yang menimpali, “Dia tuh emang gitu, Bu. Mahasiswa tapi tidak mencerminkan registrasi.” Dan seisi kelas akan cekikikan.

Sebelum kalian gila karena pusing memahami kalimat itu, biar saya jelaskan.

Kebanyakan mahasiswa—khususnya S1—kuliah dengan biaya dari orangtua. Artinya, orangtua mereka banting tulang, peras keringat, demi bisa menguliahkan mereka, demi... well, menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa, serta berbakti pada orangtua. Dengan kata lain, aktivitas kuliah mereka tidak gratis. Karena kuliah dengan biaya orangtua, mestinya mereka kuliah dengan baik sebagaimana yang diharapkan orangtua.

Sayangnya, tidak banyak mahasiswa yang menyadari hal itu. Kebanyakan dari kita kuliah dengan seenaknya sendiri. Kalau sedang mood, kita rajin masuk kelas. Kalau sedang malas, kita mojok di kantin. Padahal, sekali lagi, aktivitas kuliah tidak gratis. Setiap semester, para mahasiswa harus membayar registrasi. Registrasi bisa dibilang “perpanjangan kontrak” agar seseorang masih dapat belajar di sebuah kampus, dan tetap dianggap sebagai mahasiswa.

Karena itu, saya pikir, mahasiswa yang kuliah seenaknya sendiri adalah “mahasiswa yang tidak mencerminkan registrasi”. Dia lupa bahwa setiap semester orangtuanya memberi uang untuk membiayai kuliahnya, demi harapan memiliki anak-anak berpendidikan. Sebagian orangtua mungkin bisa membayar biaya kuliah anaknya dengan mudah. Tapi ada banyak orangtua yang harus bekerja keras dan banting tulang untuk itu—sebagian mereka bahkan ada yang sampai menjual sawah dan menggadaikan rumah demi membiayai kuliah anak-anaknya.

Karenanya, tugas setiap mahasiswa—khususnya yang kuliah dibiayai orangtua—bukan hanya belajar sungguh-sungguh di kampusnya, namun juga mengingat bahwa mereka punya “utang” pada orangtua mereka. Utang itu bisa dibayar dengan nilai akademik yang tinggi, atau prestasi yang membanggakan, atau setidaknya dengan menjalani kuliah dengan benar. Selalu ingat registrasi. Kuliah tidak gratis. Karenanya, sekali lagi, mahasiswa yang kuliah seenaknya sendiri adalah mahasiswa yang tidak mencerminkan registrasi.

Well, saya teringat istilah “registrasi” gara-gara jengkel pada penjual durian. Ceritanya, beberapa hari lalu, saya membeli durian yang sama sekali tidak bisa dimakan karena busuk.

Jadi, suatu malam, tiba-tiba saya ingin durian. Waktu itu sudah pukul sepuluh—cukup larut untuk mencari durian. Susahnya, kalau sedang punya keinginan, saya tuh seperti orang ngidam—meski saya juga tidak tahu seperti apa rasanya ngidam. Pokoknya, jika ingin sesuatu, saya akan mencarinya sampai ketemu, dan tidak akan berhenti sebelum ketemu.

Malam itu gerimis. Tapi saya tak peduli. Saya hanya tahu saya ingin durian malam itu juga, dan saya akan mendapatkannya!

Jadi begitulah. Menembus gerimis yang turun, saya keluyuran malam-malam demi menemukan durian. Di suatu pinggir jalan, ada penjual durian yang tampaknya akan menutup dagangannya. Dia sedang mengangkuti durian ke keranjang. Saya berhenti di sana, dan memilih durian yang kelihatan paling besar. Saya tanya penjualnya, “Yang ini bagus nggak, Pak?”

Si penjual durian menjawab dengan pasti, “Itu bagus, Dek. Dijamin!”

Karena tempat itu agak gelap, saya tidak terlalu memperhatikan noda-noda hitam yang terdapat pada kulit durian. Saya hanya mendekatkan durian ke hidung, dan mencium aroma yang sedap. Saya pikir itu cukup. Apalagi si penjual dengan yakin menyatakan durian yang saya pilih memang bagus. Maka saya pun mengambil durian itu, dan membayarnya. Harganya lima puluh ribu—saya pikir cukup murah untuk durian sebesar itu.

Durian itu tidak dibuka di sana. Saya cuma meminta kulitnya dibelah, agar nanti saya tidak repot membukanya di rumah.

Sesampai di rumah, dengan hasrat yang membara, saya membuka durian itu dan siap menyantapnya. Begitu kulitnya terbuka seutuhnya, saya langsung misuh-misuh. Bagian dalam durian itu busuk seluruhnya. Tidak ada satu bagian pun dari durian yang lumayan besar itu bisa dimakan. Ulat yang rakus tampaknya telah merusak durian itu, hingga buah di dalamnya membusuk tak bisa dimakan.

Apa yang harus saya lakukan sekarang? Jika saya kembali ke tempat penjual durian tadi, dan meminta pertanggungjawaban, bisa dipastikan dia tidak ada lagi di sana, karena sudah pulang—entah di mana rumahnya. Dan tidak ada jaminan besok dia akan jualan lagi di sana. Kalau pun dia jualan lagi di tempat yang sama, tidak ada kepastian dia masih mengenal saya. Bahkan umpama dia masih mengenal saya pun, selalu ada kemungkinan dia akan pura-pura tidak kenal.

Jadi, saya menyimpulkan, saya tidak bisa melakukan apa-apa sehubungan durian keparat itu. Karena jengkel, saya pun kemudian membuat teh hangat, menyulut rokok, menyalakan komputer, dan menulis catatan ini.

Penjual durian itu benar-benar tidak mencerminkan registrasi, pikir saya dengan jengkel. Sebagai penjual durian, dia pasti tahu durian yang tadi saya pilih sebenarnya tidak bisa dibilang bagus. Tetapi bukannya jujur menyatakan durian itu busuk dan tak bisa dimakan, dia justru menipu saya dengan menyatakan durian itu bagus. Tentu dengan harapan agar duriannya terjual, dan dia bisa mendapatkan uang.

Upayanya memang berhasil—saya tertipu, membeli durian busuk itu, dan dia memperoleh uang. Tetapi haruskah seseorang mencari keuntungan dengan merugikan orang lain? Hanya untuk mendapatkan uang lima puluh ribu rupiah, dia menggadaikan kejujurannya, dan mengorbankan orang lain demi pencarian nafkahnya.

Tanpa bermaksud sombong, lima puluh ribu rupiah bukan nilai besar bagi saya. Meski jengkel, saya masih dapat bersyukur, karena setidaknya hanya kehilangan uang sejumlah itu.

Tetapi bagaimana kalau umpama yang tertipu semacam itu orang lain yang kebetulan uangnya pas-pasan? Bagaimana kalau ada seorang lelaki kelayapan larut malam mencari durian, demi menyenangkan istrinya yang sedang ngidam karena hamil? Kira-kira bagaimana perasaan mereka begitu tahu durian yang dibelinya ternyata busuk dan tak bisa dimakan?

Penjual durian yang curang itu tak jauh beda dengan mahasiswa nakal, yang tak peduli keringat orangtua mereka dalam membiayai kuliahnya. Mahasiswa “yang tidak mencerminkan registrasi” menjalani kuliah seenaknya, tanpa peduli orangtua mereka bating tulang demi menguliahkan mereka. Penjual durian “yang tidak mencerminkan registrasi” juga seenaknya dalam mencari nafkah, tanpa peduli orang lain peras keringat demi bisa mencari nafkah yang sama.

Menjalani kehidupan adalah menjalani kampus dalam skala yang lebih besar. Sama sebagaimana pendidikan di kampus yang harus dijalani dengan benar untuk mendapatkan nilai terbaik, begitu pun dengan kehidupan. Setiap kita membayar kehidupan yang kita jalani—disadari atau tidak. Kita membayarnya dengan usia, kesehatan, dan batas waktu. Hidup ini tidak gratis, pun tidak selamanya.

Karena hidup tidak gratis, tentunya kita perlu mengingat untuk menjalaninya dengan baik, agar pembayaran yang kita lakukan dalam menjalaninya tidak sia-sia. Karena hidup tidak berlangsung selamanya, mestinya setiap kita perlu mengingat untuk meninggalkan hal-hal baik pada sesama... dan bukan sebaliknya.

Setiap hari, saat kita terbangun dan membuka mata di ujung pagi, kita menandatangani berkas registrasi untuk memperpanjang hidup satu hari lagi. Dan tidak ada jaminan besok lusa kita masih punya kesempatan untuk melakukan registrasi. Karenanya, siapa pun yang menjalani hidup seenaknya sendiri, dia pastilah manusia yang tidak mencerminkan registrasi.

Sexy is Simple

Entah mengapa...

...tidur mengenakan sweater di saat hujan membuatku merasa seksi.

Tidak Bisa Pesan Stempel di Akhirat

Suatu siang, saat keluar dari warung makan, saya melihat seorang teman sedang berdiri di depan kios tukang stempel. Karena tertarik, saya pun mendekatinya.

“Lagi ngapain?” sapa saya saat sampai di dekat kios.

Dia menengok, dan menyahut agak terkejut, “Eh, ini, lagi pesan stempel.”

“Stempel untuk apa?”

“Untuk memuaskan kemanusiaanku.”

Saya merasa salah dengar. “Untuk... apa?”

“Untuk memuaskan kemanusiaanku,” dia mengulang.

“Uh...” saya agak bingung. “Bisa dijelaskan?”

Dia tersenyum. Dan mengajukan pertanyaan tak terduga, “Kamu percaya alam akhirat?”

“Uhm...” sekali lagi saya bingung. “Apa hubungannya itu dengan stempel yang kamu pesan?”

Sekali lagi dia tersenyum. Lalu mulai menjelaskan perlahan-lahan, “Begini. Setelah kita mati, dan sampai di akhirat, kita akan punya dua kemungkinan tempat. Bisa masuk surga, atau masuk neraka. Apakah kamu setuju?”

Saya mengangguk.

Dia melanjutkan, “Jika aku masuk surga, kemungkinan besar yang akan kulakukan adalah bersenang-senang, dugem, mojok dengan bidadari, dan lain-lain semacamnya. Ketika semua keasyikan itu terjadi, aku pasti tidak akan kepikiran untuk memesan stempel. Sebaliknya, jika aku masuk neraka, mungkin aku akan dibakar siang malam, diguyur aspal panas, dipanggang, dicambuk, disiksa, dan lain-lain. Dalam penderitaan semacam itu, aku pasti tidak akan ingat untuk pesan stempel.”

“Jadi...?”

“Jadi, mumpung sekarang aku masih hidup di dunia, dan punya waktu yang cukup, aku datang ke kios ini untuk pesan stempel.”

....
....

Lalu saya ikut pesan stempel.
 
 
;