Selasa, 25 Maret 2014

Dadu Keberuntungan

Hidup kadang menjanjikan sesuatu
yang menyenangkan... sampai kemudian
dadu takdir terlempar ke tempat salah.
@noffret


Saya termasuk orang yang tidak suka undian, dalam apa pun bentuknya. Alasannya sepele—saya tidak pernah memenangkan undian mana pun! Jika diingat-ingat, nyaris semua undian yang pernah saya ikuti—dalam apa pun bentuknya—tidak pernah mengantarkan saya menjadi pemenang. Setelah hal itu terjadi berkali-kali, selama bertahun-tahun, saya pun menyimpulkan kalau saya memang tidak “berbakat” menang undian.

Well, menang undian tampaknya memang membutuhkan bakat tertentu. Kalian mungkin punya teman yang ikut undian apa pun bisa dibilang selalu menang, entah apa pun hadiahnya. Jika orang itu ikut undian, entah bagaimana caranya, dia muncul sebagai pemenang.

Saya juga punya teman yang seperti itu. Ikut undian apa pun, hampir bisa dipastikan dia akan menggondol hadiahnya. Memang tidak selalu, tapi sering terjadi. Sampai-sampai banyak benda di rumahnya berasal dari hadiah undian—mesin cuci, seterika, sampai televisi.

Sebaliknya, ada orang yang sepertinya tidak berbakat menang undian. Tak peduli berapa kali pun mengikuti undian, orang semacam itu bisa dibilang tidak pernah menang. Saya termasuk golongan apes ini.

Suatu waktu, ada pameran buku di kota saya. Dalam pameran itu diadakan undian. Untuk setiap pembelian buku senilai Rp. 10.000, mendapatkan 1 kupon. Kupon-kupon itu akan diundi di akhir acara, dan ada cukup banyak hadiah yang disiapkan—televisi, kompor gas, seterika, ponsel, sampai paket buku, dan lain-lain.

Dalam pameran itu saya menemukan banyak buku bagus. Jadi, saya pun belanja buku dengan kalap. Total uang yang saya keluarkan untuk membeli buku selama pameran mencapai 6 juta rupiah. Karenanya, saya pun mendapatkan 600 lembar kupon undian. Saya masukkan semua kupon itu ke kotak yang disediakan, dan berharap satu di antaranya ada yang berhasil memenangkan hadiah.

Waktu itu saya cukup pede, karena memiliki kupon sangat banyak. Jadi, pada waktu acara pengundian kupon, saya pun datang ke acaranya, karena hampir yakin akan memenangkan hadiah yang ada. Teman-teman yang menemani waktu itu juga sama yakinnya dengan saya. Dengan logika paling bodoh sekali pun, masak iya dari 600 kupon tidak ada satu pun yang lolos?

Lalu acara pengundian dimulai. Satu per satu kupon diambil dari kotak, dan panitia menyebutkan nomor yang tertera pada kupon. Orang yang memegang potongan kupon dengan nomor yang sama menjadi pihak yang beruntung mendapat hadiah yang disediakan. Satu per satu kupon diambil. Satu per satu nomor undian disebutkan. Satu per satu hadiah terus berkurang. Dan kupon saya belum juga muncul!

Di antara orang-orang yang beruntung mendapatkan hadiah adalah tetangga saya. Dia memperoleh kompor gas. Ketika dia turun dari panggung sambil menenteng hadiah yang masih terbungkus rapi, saya pun nyamperin, “Wah, hebat nih, bisa dapet kompor!”

Tetangga saya menyahut dengan sumringah, “Iya, nggak nyangka! Padahal aku cuma punya dua kupon, karena beli buku dua puluh ribu perak.”

Mata saya berbinar. Kalau dia yang cuma belanja 20 ribu saja bisa mendapat kompor gas dengan dua kupon, apalagi saya yang belanja 6 juta dengan enam ratus kupon? Dalam hati saya membayangkan, paling tidak saya akan mendapatkan televisi atau kulkas. Not bad, pikir saya berandai-andai.

Tetapi, oh sialan, sampai acara pengundian itu selesai, dan semua hadiah telah habis dibagi, tidak ada satu pun kupon milik saya yang menang. Saya ulangi, TIDAK ADA SATU PUN KUPON MILIK SAYA YANG MENANG.

Dalam hati saya misuh-misuh. Undian keparat macam apa ini...??? Tetangga saya cuma punya dua kupon, dan dia bisa memenangkan hadiah kompor gas. Lhah saya punya 600—damn, enam ratus!—kupon, tapi tidak ada yang menang satu pun. Ini benar-benar ketidakadilan yang sulit diterima akal sehat, khususnya akal sehat saya. Menggunakan rumus probabilitas apa pun, kemenangan 2 kupon berbanding 600 kupon adalah sesuatu yang musykil.

Tetapi, well, itulah undian. Ia tak dapat diterka, tak bisa diramalkan. Undian bukan sesuatu yang baku, yang bisa diprediksi apalagi dipastikan. Ia seperti bola liar, yang bisa jadi mengarah ke utara dan timur, padahal kita berharap ia ke selatan. Dalam undian, sesuatu yang paling musykil dan mustahil pun bisa terjadi. Orang menyebutnya keberuntungan, atau nasib baik bagi yang menang.

Karena kenyataan semacam itu pula, dan melihat “track record” saya yang selalu apes, saya pun tidak terlalu antusias dengan undian. Setiap kali muncul undian tertentu, dengan iming-iming hadiah apa pun, saya tidak terlalu tertarik. Cuma menguras emosi, kalau dipikir-pikir. Saya sudah kadung berharap, telanjur mengandai-andai, tapi ternyata hasilnya nihil.

Jangankan undian yang tidak bisa diprediksi—sehingga tingkat kemenangannya susah diterka—bahkan undian yang bisa diprediksi pun tampaknya tidak berpihak kepada saya. Contoh untuk kasus ini adalah undian yang saya ikuti di rental DVD langganan.

Ceritanya, rental DVD langganan saya mengadakan undian. Sebenarnya sih tidak bisa seratus persen disebut undian. Jadi, menyambut ulang tahun rental itu, mereka menyediakan hadiah monitor LCD 32 inci bagi siapa pun yang menyewa film paling banyak dalam periode tiga bulan terakhir. Karena hadiahnya cukup menggiurkan, saya pun tertarik. Apalagi ini bisa dibilang dapat diprediksi siapa pemenangnya. Dalam logika yang mudah, sewa saja film sebanyak-banyaknya, dan hadiah itu bisa dimenangkan.

Maka itulah yang kemudian saya lakukan. Saya menyewa buanyaaak film dari rental itu, dengan harapan memenangkan hadiahnya. Jangka waktu perhitungannya tiga bulan. Dan selama tiga bulan itu bisa dibilang saya “mabuk film”, karena banyaknya film yang saya sewa dari rental. Tidak apa-apa, pikir saya waktu itu, yang penting bisa membawa pulang LCD 32 inci.

Tetapi, ternyata, yang berambisi memenangkan hadiah bukan cuma saya—banyak member yang juga menyewa banyak film di rental itu. Kadang-kadang, pas saya di sana, beberapa orang tampak membawa setumpuk keping DVD sambil cengar-cengir memandangi monitor LCD yang dijadikan hadiah. Saya ikut cengar-cengir memandangi hadiah yang dipajang di sana, dan ikutan menyewa setumpuk film.

Dalam undian itu, masing-masing member hanya bisa mengetahui berapa jumlah film yang telah disewanya, tapi tidak bisa mengetahui berapa banyak film yang disewa member lain. Akibatnya, kami semua hanya bisa mengira-ngira, sambil berharap menjadi penyewa film paling banyak, hingga bisa mendapatkan hadiahnya.

Dan permainan itu makin hari makin menggila. Masing-masing member seperti merasa “panas” tiap melihat member lain menyewa banyak film, dan mereka akan menyewa lebih banyak lagi. Gebleknya, saya ikut dalam permainan gila itu. Selama waktu-waktu itu, kerjaan saya sehari-hari cuma nonton film, nonton film, dan nonton film. Bangun tidur, nonton film. Habis makan, nonton film. Habis mandi, nonton film. Habis nonton film, nonton film lagi. Dan saya tidak juga sadar betapa itu sungguh gila.

Sampai kemudian, hari H tiba. Kinilah saatnya untuk mengetahui siapa bocah yang menyewa film paling banyak, yang berhak membawa pulang hadiah LCD 32 inci. Terus terang, saya cukup pede waktu itu, dan sempat membayangkan menjadi pemenang. Saya hampir mampus karena kebanyakan nonton film, dan kinilah saatnya saya mendapatkan hadiah!

Tetapi, oh sialan, semua bentuk undian di dunia ini memang bangsat! Ketika disebutkan pemenangnya, ternyata bukan nama saya! Dalam pengumuman itu disebutkan pula jumlah film yang telah disewa si pemenang, dan jumlahnya cuma selisih dua film dengan saya! Apa yang lebih bangsat dari ini, coba...??? Kalau saja saya menyewa tiga film lagi, maka sayalah pemenangnya! Cuma selisih dua film, ya ampuuuuuuun, mbok ngomong dari kemaren, napa...???

Karena berbagai pengalaman sial menyangkut undian itulah, saya benar-benar pesimis, bahkan apatis, setiap kali mendapati tawaran undian. Pikir saya, tak peduli sekeras apa pun berusaha, keberuntungan undian sepertinya tidak berpihak pada saya. Sepertinya, saya memang tidak berjodoh dengan hal-hal tidak jelas seperti itu. Karena itu pula, sekarang, setiap kali mendapati tawaran undian, saya pun biasanya berkata, “Maaf, saya tidak tertarik.”

Ucapan itu pula yang saya nyatakan tempo hari ketika sedang berbelanja pakaian di swalayan. Ceritanya, sewaktu membayar di kasir, petugas di sana menawari, “Mau ikut undian, Kak?”

Dengan ogah-ogahan, saya menjawab, “Nggak, lah.”

Dia menatap saya sungguh-sungguh. “Bener? Wah, sayang. Ini bisa dapat banyak kupon, lho.”

Persetan, pikir saya. Tetapi, setelah si kasir membereskan belanjaan, tiba-tiba pikiran saya terusik. Sambil menyerahkan pembayaran, saya bertanya, “Uhm... undian apa, sih?”

Sebagai jawaban, kasir itu mengambil selembar brosur, dan menyerahkannya kepada saya. Membaca brosur itu, seketika mata saya berbinar. Dan mungkin setan di neraka langsung bertepuk tangan, karena naluri rakus saya kembali berkobar. Undian yang diadakan swalayan itu tidak main-main. Hadiahnya benar-benar bikin horny. Dan, saat itu juga, saya langsung terbayang untuk belanja dengan kalap demi bisa memenangkan hadiahnya!

Tetapi... wait! Tunggu dulu, pikir saya menahan diri.

Ketika melangkah meninggalkan tempat kasir sambil menenteng tas berisi belanjaan, otak saya berpikir keras. Selama ini, berbagai undian yang pernah saya ikuti berakhir kegagalan, dan saya tak pernah menang. Kenapa...?

Sambil terus melangkah, saya mencari-cari jawabannya, dan tiba-tiba menyimpulkan bahwa kegagalan itu mungkin terjadi karena saya memanjakan kerakusan yang tersembunyi di dalam diri saya. Semua orang punya naluri untuk rakus—itu fitrah manusiawi. Tetapi kerakusan tidak menghasilkan apa-apa. Buktinya saya tidak pernah menang undian. So, bagaimana kalau sekarang saya ikut undian tanpa menjadi rakus? Bagaimana kalau hadiah undian ini saya niatkan untuk sesuatu yang mulia?

Tiba-tiba saya menemukan secercah harap. Saat itu juga, sambil melangkah di swalayan yang ramai, saya tahu apa yang ingin saya lakukan. Saya akan mengikuti undian itu, dan jika menang... well, jika saya memenangkan hadiahnya... saya akan menggunakan hadiah itu untuk memberikan sesuatu kepada nyokap, demi membahagiakannya. Mungkin, dengan niat baik itu, keberuntungan dan nasib baik akan menghampiri saya. Siapa tahu...?

Itulah Kenapa...

Jika satu lelaki pintar digabung dengan satu perempuan pintar, apa hasilnya?

Dua orang pintar.

Salah!

Hasilnya dua orang bodoh.

Orang yang Wajahnya Ada di Mana-mana

Demi segala demi, saya bosan melihatnya!

Saya paham dia—atau mereka—sedang berkampanye. Agar terpilih. Agar menjadi pemimpin. Tetapi justru karena itu saya jadi muak!

Mereka menghambur-hamburkan banyak uang demi bisa nampang di mana-mana, agar masyarakat mengenali wajahnya, agar rakyat memilihnya. Mereka ingin dipilih—dan, bagi saya, itulah kesalahannya. Saya tidak akan memilih pemimpin yang menggunakan segala cara demi bisa dipilih. Saya tidak akan pernah memilih siapa pun yang mati-matian berusaha agar dipilih!

Semakin kuat seseorang berusaha agar dipilih menjadi pemimpin, semakin kuat pula penolakan saya untuk memilihnya!

Saya punya pilihan sendiri, dan saya hanya akan memilih pemimpin yang tidak berkampanye, tetapi memiliki kerja nyata. Yang tidak cuma pintar berkoar-koar, tapi mengerjakan banyak hal baik dalam diam. Yang tidak pasang senyum dimana-mana, tapi menebar manfaat di mana-mana. Yang tidak berambisi memimpin orang lain, tapi selalu berusaha memimpin dirinya sendiri.

Siapa pun tidak akan bisa memimpin orang lain, sebelum mampu memimpin dirinya sendiri.

Jadi, hei orang-orang yang ingin jadi pemimpin. Lain kali, kalau ingin jadi pemimpin, mulailah berkampanye sejak jauh-jauh hari sebelum pemilu. Berkampanyelah dalam diam, tidak usah pamer, atau berusaha mencari perhatian. Berkampanyelah dengan kerja nyata, yang memberi manfaat agar bisa diingat, tapi tidak usah ribut-ribut. Berkampanyelah dengan niat baik, dengan melakukan hal-hal baik, dan tidak usah merisaukan apakah orang lain akan melihatmu atau tidak.

Dengan kampanye mulia semacam itu, maka alam semesta akan mendukungmu. Dan jika alam semesta mendukungmu, maka dua ratus juta rakyat negeri ini tidak akan mampu berpaling darimu.

Tetapi, jika kau baru berkampanye dan berkoar-koar menjelang pemilu, saya malah bosan melihatmu.

Sabtu, 22 Maret 2014

Paradigma Tempe Mendoan

Keindahan tak perlu berteriak atau unjuk diri.
Tersembunyi di mana pun dunia akan mengakui.
@noffret


Tempe mendoan adalah tempe yang digoreng tidak sampai matang. Sebagian orang menyukai tempe mendoan, sebagian lain tidak suka. Dalam hal ini, kebetulan, saya termasuk golongan yang tidak suka.

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, saya suka gorengan—tapi harus digoreng sampai matang, dan masih panas. Dalam hal ini, tempe mendoan tidak memenuhi syarat itu, karena tidak digoreng sampai matang. Akibatnya, penampilan tempe mendoan tidak garing, tapi rapuh. Oh, well, “rapuh” mungkin bukan istilah tepat, tapi saya tidak tahu istilah yang lebih tepat untuk menyebut penampilan tempe mendoan.

Jika kita harus menyebut istilah yang tepat untuk tempe mendoan, kira-kira tempe mendoan “setengah matang” atau “setengah mentah”? Mayoritas orang mungkin akan menyebutnya setengah matang. Tapi jika ada yang menyebutnya setengah mentah pun tidak salah. Karena kenyataannya memang begitu.

Bagaimana pun, tempe mendoan telah mengalami proses “pematangan”, sehingga bisa dimakan. Ia telah dibumbui dengan tepung, kemudian digoreng dalam wajan berisi minyak panas. Tetapi, karena tidak digoreng hingga benar-benar matang, bagaimana pun kita tidak bisa menyebut tempe mendoan adalah tempe matang—ia masih setengah mentah.

Tempe mendoan memang memiliki unsur “matang”. Tapi matang yang dimilikinya adalah “matang yang setengah”. Bukan matang sempurna. Jika menggoreng tempe hingga benar-benar matang dibutuhkan waktu delapan menit, misalnya, maka tempe mendoan hanya digoreng selama empat menit. Setengah matang. Dan setengah mentah. Tidak benar-benar matang, juga tidak benar-benar mentah.

Sebagian orang menyukai tempe mendoan, sebagian lain tidak suka. Ini soal selera, dan tentu saja tidak ada yang benar atau salah. Penyuka tempe mendoan bisa sangat menikmati kesukaannya, sebagaimana penyuka tempe garing menikmati gorengan kesukaannya. Dalam hal selera, setiap orang bisa berbeda. Nah, bagaimana dengan menjalani hidup?

Dalam hidup, banyak orang yang menjalani kehidupannya dengan paradigma tempe mendoan—tidak mentah, tapi juga tidak matang. Mereka adalah orang yang setengah-setengah. Jika menggunakan perspektif ilmu kepribadian, orang-orang semacam itu disebut “golongan rata-rata”. Sekilas kedengarannya tidak ada yang salah, karena “rata-rata” adalah istilah yang sangat familier.

Tapi apa sebenarnya definisi “rata-rata”?

Dalam bukunya yang mencerahkan, The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz mengajukan definisi paling tepat mengenai kepribadian rata-rata. “Orang rata-rata,” kata David J. Schwartz, “adalah orang yang terbaik di antara yang terburuk, atau yang terburuk di antara yang terbaik.”

Itu definisi yang... well, cukup menyedihkan. Sayangnya, definisi itu benar. Orang rata-rata adalah orang setengah matang sekaligus setengah mentah. Ia menjadi yang terbaik jika dikumpulkan bersama-sama orang berkualitas buruk, dan menjadi yang terburuk jika dikumpulkan bersama orang-orang berkualitas baik. Definisi itu sudah menyedihkan. Yang lebih menyedihkan lagi, orang rata-rata adalah orang yang paling tidak diinginkan.

Jika kita menderita penyakit tertentu, dan mengharuskan operasi besar yang menentukan hidup-mati, kira-kira kita akan memilih dokter terbaik atau dokter rata-rata? Jawabannya sangat jelas, kita akan memilih dokter yang terbaik!

Jika kita akan naik pesawat terbang dan diminta memilih; pesawat yang dikendalikan pilot terbaik atau pesawat yang dikendalikan pilot rata-rata, kira-kira kita akan naik pesawat mana? Jawabannya juga sangat jelas, kita akan segera naik pesawat yang dikendalikan pilot terbaik!

Sekarang pikirkan yang berikut ini.

Jika sebuah perusahaan membuka lowongan untuk suatu posisi penting di kantor mereka, kira-kira mereka menginginkan pekerja terbaik atau pekerja rata-rata?

Jika para orangtua rela membayar mahal untuk memasukkan anaknya ke sekolah bonavid, apakah mereka menginginkan anaknya diajar guru terbaik, atau guru rata-rata?

Jika tetangga kita ingin membangun rumah yang indah untuk keluarganya, apakah dia akan mencari arsitek terbaik, atau arsitek rata-rata?

Akhirnya, jika kita ingin memiliki pasangan hidup untuk menghabiskan usia bersama, apakah kita akan mencari pasangan terbaik, atau mencari pasangan rata-rata?

Orang-orang hanya mencari yang terbaik. Kita pun hanya menginginkan yang terbaik. Kantor-kantor dan perusahaan mencari pekerja dan karyawan terbaik. Sekolah dan perguruan tinggi mencari guru dan pengajar terbaik. Toko-toko dan swalayan mencari pramuniaga yang terbaik. Lembaga dan masyarakat luas mencari para profesional yang terbaik. Dan akhirnya... para lajang pun menginginkan pasangan terbaik.

Dalam persaingan yang semakin ketat di zaman ini, orang berkualitas baik akan menemukan dan mendapat peluang. Sementara orang berkualitas rata-rata—apalagi berkualitas rendah—pelan-pelan akan tersingkir. Itu hukum alam, yang bahkan telah dinyatakan Charles Darwin sekian abad lampau. Kompetisi akan mengantar yang paling kuat menjadi pemenang. “Paling kuat” dalam konteks persaingan modern adalah yang “terbaik”.

Ehmm...

Dua tahun yang lalu, saya dihubungi seseorang yang ingin memiliki bisnis majalah. Dia punya uang, punya usaha yang telah berjalan lancar, punya pengaruh, punya koneksi, punya segalanya—tapi tidak tahu bagaimana menjalankan bisnis majalah. Melalui seseorang, dia menghubungi saya. Maka kami pun kemudian bertemu, dan semalam suntuk kami membahas bisnis majalah yang diimpikannya. Di akhir diskusi, kami tidak menemukan titik temu.

Orang itu ingin membangun bisnis baru, tapi rupanya keinginannya setengah-setengah. Dia tidak mau bermain total, selain hanya ingin memasukkan saya ke dalam “permainan” itu, lalu dia bisa mengklaim punya bisnis penerbitan. Saya katakan terus terang kepadanya, saya tidak bisa bekerja dengan cara seperti itu. Dua opsi saya—bekerja dengan kualitas terbaik, atau tidak usah sama sekali. Saya tidak mau buang-buang waktu untuk mengerjakan sesuatu yang setengah-setengah.

Karena upayanya memasukkan saya tidak berhasil, dia lalu mencari orang lain. Singkat cerita, orang itu berhasil menerbitkan majalah yang dikelola orang-orang yang bisa didapatkannya. Majalah itu terbit sebulan sekali. Kualitasnya tidak bisa dibilang bagus—dari sisi redaksionalnya sampai pengemasannya. Ketika melihat majalah itu, saya sempat bertaruh dengan seorang teman, majalah itu tidak akan mencapai sepuluh edisi.

Ternyata benar. Ketika sampai edisi kelima, majalah itu bubar!

Di negeri ini ada ribuan majalah yang terbit setiap bulan, dengan kualitas hebat, dan dikelola orang-orang hebat. Jika ingin bermain dalam persaingan yang sangat ketat itu, uang saja tidak cukup. Untuk menang—setidaknya mampu bersaing—dibutuhkan kualitas terbaik, kinerja terbaik, yang dijalankan orang-orang terbaik dengan visi terbaik. Tidak ada tempat bagi orang rata-rata dengan nilai rata-rata yang hanya bisa menghasilkan sesuatu dengan kualitas rata-rata.

Tempe mendoan mungkin enak bagi orang yang menyukainya. Tapi kita tidak bisa hidup dengan paradigma tempe mendoan. Untuk benar-benar berhasil dalam apa pun bidang yang kita pilih, kita harus “digoreng sampai benar-benar matang”, sampai unsur mentahnya benar-benar hilang. Karenanya, kita harus rela “digoreng” lebih lama, dan harus mampu bertahan selama dalam penggorengan yang mungkin menyiksa.

Orang-orang dengan kualitas terbaik adalah orang-orang yang telah mengalami “proses penggorengan” dalam hidupnya. Dan penggorengan itu bisa berbentuk latihan siang malam, pembelajaran tanpa henti, penelitian tanpa bosan, pendidikan yang serius dijalani, dan integritas serta totalitas yang diberikan ke dalam apa pun bidang pilihannya.

Thomas Watson, pendiri perusahaan IBM, selalu mengingatkan para karyawannya dengan kalimat ini, “Masukkanlah hati dan pikiranmu ke dalam pekerjaan, dan masukkanlah pekerjaan ke dalam hati dan pikiranmu.”

Manusia baru berguna bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan orang lain, jika ia berkarya, bekerja, melakukan sesuatu. Dan orang-orang terbaik di dunia ini adalah orang-orang yang “memasukkan hati dan pikirannya ke dalam pekerjaannya, dan memasukkan pekerjaannya ke dalam hati dan pikirannya”. Mereka adalah orang-orang yang total, bukan orang setengah-setengah atau orang rata-rata.

Karena mereka total dalam apa pun yang dikerjakannya, mereka pun menjadi yang terbaik di bidangnya. Karena mereka menjadi yang terbaik di bidangnya, dunia pun melihat mereka.

Bagi orang-orang terbaik, peluang dan pekerjaan tidak perlu dicari. Peluang dan pekerjaanlah yang mencari mereka. Dan, sementara itu, mereka bisa menjalani hidup tenang... sambil menikmati tempe mendoan.

Kepada yang Suka Memberi Nasihat Tanpa Diminta

Terima kasih atas perhatiannya.

Lain kali, sebaiknya jangan buru-buru mengambil kesimpulan. Cari tahu dulu apa dan bagaimana masalahnya, kemudian berikan nasihat yang tepat—itu pun kalau dia meminta nasihatmu.

Keliru mengambil kesimpulan membuat nasihatmu jadi menggelikan, karena tidak relevan. Selain itu, orang yang kaunasihati akan jutek kepadamu, sementara kau hanya buang-buang waktu.

Setahun

Ya, kira-kira setahun.

Cukup sudah main-mainnya.

Selasa, 18 Maret 2014

Film-film yang Membuat Saya Menangis

Kalau kau bekerja sendirian, kenakan topeng. Bukan untuk
bersembunyi, tapi untuk melindungi orang-orang terdekatmu.
Batman kepada John Black


Umumnya, film yang membuat penontonnya menangis adalah film-film drama. Tetapi bukan berarti film non-drama tidak mampu membuat penonton menitikkan air mata. Beberapa film action dan fantasi juga memiliki adegan-adegan menyentuh bagi penontonnya, meski sifatnya mungkin lebih personal.

Dari film-film yang pernah saya tonton, ada cukup banyak film yang mampu membuat mata saya membasah, di antaranya beberapa film berikut ini. Kalian mungkin akan terkejut.


The Incredible Hulk

Ada dua film Hulk yang populer, yaitu Hulk (diperankan Eric Bana berpasangan dengan Jennifer Connelly), dan The Incredible Hulk (diperankan Edward Norton berpasangan dengan Liv Tyler). Dua-duanya bagus, tapi yang membuat saya menangis adalah The Incredible Hulk.

Entah mengapa, setiap kali melihat Edward Norton, saya merasa sedang bercermin. Edward Norton punya wajah yang tampak murung, dan seperti orang kurang tidur. Kira-kira seperti itu pula wajah saya. Meski, tentu saja, kami sama sekali tidak mirip.

Dalam The Incredible Hulk, Edward Norton memerankan Bruce Banner dengan sangat bagus—sosok yang menyepi bersama luka dan trauma, berusaha menyembuhkan dirinya dari amarah, dan tetap merindukan kekasih yang dicintainya.

Ada banyak adegan yang sangat menyentuh perasaan saya dalam film ini. Yang membuat saya tak kuasa menahan air mata adalah saat Bruce Banner bersama Elizabeth Ross a.k.a Betty sedang berdiri dan bercakap-cakap di kampus. Pada waktu itu, Bruce mengenakan kemeja sederhana yang dimasukkan ke celana, dan memakai topi—khas ilmuwan yang kurang gaul dan kurang paham penampilan.

Betty mungkin melihat tampilan Bruce terlalu kaku. Sambil bercakap-cakap, Betty dengan halus menarik kemeja Bruce, mengeluarkannya agar tampak lebih santai, dan berkata sambil tersenyum menenangkan, “Aku hanya ingin melakukan ini. Begini lebih baik.” Setelah itu, Betty melepaskan topi dari kepala Bruce, lalu merapikan rambut cowok itu, sementara Bruce menatap kekasihnya. Adegan sederhana itulah yang membuat saya menitikkan air mata.

Semua superhero memiliki mbakyu—itulah yang saya pahami. Sebagaimana Batman memiliki Rachel Dawes, dan Spiderman memiliki Mary Jane Watson, Hulk juga memiliki Elizabeth Ross. Ketiga wanita itu memiliki kesamaan—dewasa, bijaksana, dan menenteramkan—sosok yang diimpikan setiap bocah.

Tak peduli sehebat apa pun Batman, tak peduli sepintar apa pun Spiderman, dan tak peduli sekuat apa pun Hulk, mereka adalah bocah. Batman menanggung duka karena kematian orangtuanya, Spiderman menanggung kesedihan yang sama, dan Hulk seumur hidup berusaha meredam amarahnya. Mereka adalah bocah-bocah terluka, kesepian, yang bersembunyi di balik topeng sosok dewasa. 

Dan terpujilah Tuhan yang telah mengirimkan sosok mbakyu untuk mereka, yang mempertemukan bocah-bocah kesepian itu dengan wanita-wanita hebat yang tidak hanya membuat mereka jatuh cinta, namun juga mampu menenteramkan dan mendamaikan hati mereka.


A Beautiful Mind

Ini benar-benar film istimewa bagi saya, karena orang-orang yang saya kagumi berkumpul di sini. Film ini mengisahkan sosok John Nash yang sangat saya kagumi. Disutradarai oleh Ron Howard, sutradara yang juga saya kagumi. Selain itu, film ini juga melibatkan aktor dan aktris yang selalu saya tonton filmnya—Russel Crowe dan Jennifer Connelly.

Saya sudah menyaksikan A Beautiful Mind puluhan kali, dan bisa dibilang tak pernah bosan menontonnya. Secara keseluruhan, sebenarnya, film ini terus membuat saya tersenyum dan menangis. Adegan-adegannya sangat menyentuh, akting para pemainnya sangat menawan, jalan ceritanya sangat menguras emosi, dan ending-nya benar-benar sempurna. Bisa dibilang, inilah film drama terbaik yang pernah saya tonton.

Seperti yang pernah saya tulis di sini, Russel Crowe adalah aktor—dalam arti sebenarnya. Dia bisa memerankan apa saja, menjadi siapa saja, dan mampu melakukannya dengan sempurna. Memerankan John Nash, Russel Crowe berhasil menghadirkan sosok itu hingga benar-benar nyata. Akting yang hebat itu diimbangi Jennifer Connelly yang memerankan Alicia, istri John Nash. Selama menyaksikan A Beautiful Mind, saya berkali-kali membayangkan punya istri seperti Alicia—sosoknya benar-benar membuat saya jatuh cinta.

Sebagaimana yang dibilang tadi, film ini terus membuat saya tersenyum dan menangis. Dan adegan yang benar-benar membuat saya berurai air mata adalah saat John Nash duduk bersama Thomas King di kantin kampus, kemudian para mahasiswa meletakkan polpennya di atas meja, di hadapan John Nash.

Siang itu, John Nash baru selesai mengajar. Ketika keluar dari kelas, ia didatangi Thomas King, dari komite Nobel Prize, yang memberitahu bahwa John Nash menjadi kandidat penerima Nobel. Lalu Thomas King mengajak John Nash masuk kantin, untuk minum teh dan mengobrolkan Nobel yang akan diterimanya. Semula, John Nash menolak masuk kantin, karena di sana ada para mahasiswa yang dulu suka mengejeknya, ketika ia masih sering “kumat” akibat gangguan skizofrenia.

Tapi Thomas King akhirnya berhasil membujuk John Nash masuk kantin, lalu duduk di satu meja, dan menghirup teh yang dihidangkan. Saat mereka sedang bercakap-cakap, seorang profesor yang dulu menjadi dosen John Nash mendatangi meja mereka, lalu menyapa John Nash dengan hormat sambil meletakkan polpen miliknya di meja, di hadapan John Nash. Itu adalah “ritual” pengakuan atas kepakaran seseorang di dunia akademia.

Peletakan polpen itu kemudian diikuti orang-orang lain di kantin, termasuk oleh para mahasiswa pascasarjana yang dulu suka mengejek John Nash. Ketika polpen-polpen itu semakin banyak berdatangan di hadapannya, John Nash menatapnya dengan terharu, dan... saya berurai air mata menyaksikannya. Tak peduli sebanyak apa pun saya menyaksikan ulang adegan itu, tetap saja air mata saya keluar.


The Amazing Spiderman

Dalam trilogi Spiderman yang diperankan Tobey Maguire, sutradara Sam Raimi telah menghadirkan tontonan yang sangat memukau sekaligus menghibur. Tobey Maguire, yang memerankan Peter Parker, juga mampu mewujudkan tokoh Spiderman dengan luar biasa—sosok hero yang sangat manusiawi, introver, dan selalu ketakutan untuk menyatakan cinta pada wanita yang dipujanya.

Jika trilogi Spiderman mengisahkan Peter Parker menjalin cinta dengan Mary Jane Watson, The Amazing Spiderman garapan sutradara Marc Webb menceritakan Peter Parker berhubungan dengan Gwen Stacy. Kali ini, sosok Spiderman diperankan Andrew Garfield. Dua film garapan dua sutradara berbeda itu sama-sama bagus, dan sama-sama menawan.

Dalam The Amazing Spiderman, latar belakang hidup Peter Parker bisa dibilang sama dengan yang dikisahkan dalam trilogi Spiderman. Orangtuanya meninggal, dia hidup bersama paman dan bibinya, lalu memperoleh kekuatan super secara tak terduga. Yang berbeda adalah pasangan wanitanya, dan musuh yang dihadapinya. Kali ini, Spiderman harus bertarung dengan The Lizard, yang merupakan jelmaan Dr. Curt Connors.

Di sela-sela pertarungan itu, pasukan polisi yang dipimpin Kapten Stacy (ayah Gwen) juga memburu Spiderman. Dalam satu insiden, ia tertembak di kaki. Spiderman pun terpincang-pincang mengejar The Lizard di antara gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit, dan ada kemungkinan dia akan gagal. Adegan-adegan itu disiarkan secara live di televisi... dan seseorang tahu kinilah saatnya membayar utang kebaikan Spiderman.

Sebelumnya, dalam serangan awal The Lizard, seorang bocah terjebak dalam mobil yang tergantung di bibir jembatan. Mobil itu akan jatuh ke sungai, dan bocah di dalamnya bisa mati tenggelam. Ayah si bocah panik di atas jembatan, dan Spiderman kemudian menolong bocah itu. Kini, saat menyaksikan Spiderman terpincang-pincang sambil bergelayutan di antara gedung-gedung tinggi, ayah yang merasa berutang budi itu pun tahu bagaimana cara menolong Spiderman.

Dia menghubungi teman-temannya yang bekerja di kontraktor, meminta mereka menyiapkan palang-palang besi menggunakan traktor, untuk membantu Spiderman menuju puncak menara, tempat The Lizard menyiapkan senjata biologi berbahaya.

Di atas puncak sebuah gedung, seusai menutup luka di kakinya, Spiderman berlari terpincang-pincang sambil mulai melemparkan jaringnya. Jaring itu terulur memanjang, seiring ia melayang di udara. Tetapi karena jauhnya jangkauan, jaring yang hebat itu tidak mampu menangkap objek yang bisa dijadikan pegangan, dan Spiderman pun terjatuh... meluncur ke bawah dari puncak langit-langit gedung tinggi... tapi sebuah palang besi yang telah disiapkan untuknya memberi pertolongan.

Spiderman bergantung di palang itu, kemudian naik ke atasnya. Dan dengan bantuan palang-palang besi yang disiapkan untuknya, dia melayangkan jaring-jaring yang membantunya menuju tempat The Lizard. Pada waktu menyaksikan Spiderman tertolong palang besi dan kemudian melayang di antara palang-palang itulah, saya selalu menitikkan air mata, tak peduli berapa kali pun menyaksikannya. Itu adegan yang sangat menyentuh inti terdalam batin saya.


The Dark Knight Rises

Christopher Nolan mengubah Batman yang komikal menjadi sebuah epos abadi—rangkaian biografi lengkap sejak masa kanak-kanak Bruce Wayne, latar belakang mewujudnya sosok Batman, hingga detik-detik kematiannya yang agung.

Dalam Batman Begins, kita menyaksikan masa kanak-kanak Bruce Wayne, hubungannya dengan Rachel Dawes, perjalanan hidup, sampai terwujudnya sosok hero di balik topeng dan jubah hitam. Dalam The Dark Knight, kita menyaksikan kepahlawanan Bruce Wayne, hingga kesedihannya ditinggal mati wanita yang dicintainya. Dan puncaknya, dalam The Dark Knight Rises, kita disuguhi pemandangan tragis tentang kegalauan seorang pahlawan.

Setelah kematian Rachel Dawes, kita tahu, Bruce Wayne mengurung diri bersama kesedihannya, dan menjauh dari segala aktivitas sosial. Dia juga tidak lagi menjadi Batman karena Gotham telah menjadi kota yang aman. Bruce Wayne yang introver semakin menarik dirinya dari kehidupan, karena berpikir tak ada lagi yang perlu dilakukannya dalam hidup. Semua yang dicintainya telah direnggut darinya, dan dia kesepian.

Tetapi kisah itu memang belum selesai. Di tengah-tengah kesepiannya, Alfred—pembantunya yang setia—membuka selubung rahasia di balik kematian Rachel, bahwa sebenarnya Rachel telah memilih Harvey Dent. Sebelum kematiannya, Rachel menulis surat untuk Bruce Wayne, tapi surat itu dibakar Alfred, karena tak ingin Bruce patah hati saat membacanya. Dan ketika akhirnya kejujuran itu diungkapkan, Bruce pun semakin merasa hidupnya runtuh.

Apa lagi yang bisa disimpan Bruce Wayne dalam hatinya yang rapuh? Kedua orangtuanya terbunuh oleh penjahat. Hidupnya kesepian. Kekasih yang dicintainya ternyata memilih lelaki lain, dan sekarang wanita itu telah tiada. Sementara orang yang sangat dipercayainya telah menyembunyikan kejujuran darinya hingga bertahun-tahun. Apa lagi yang bisa disimpan Bruce Wayne dalam hatinya yang rapuh...?

Kehadiran Bane dan pasukannya yang memporakporandakan Gotham City akhirnya seolah menjadi jalan keluar. Bruce Wayne memahami ia harus kembali menjadi Batman, menyelamatkan kotanya, tetapi, kali ini... ia tahu saatnya telah tiba. Ia akan mengalahkan Bane, tapi juga akan meninggalkan hidupnya, entah bagaimana caranya. Dan tangan-tangan takdir kemudian menunjukkan jalan baginya.

Bersama reaktor nuklir yang akan meledak, Batman terbang ke langit, menjauhkan bencana dari kotanya. Sementara jutaan orang berdebar ketakutan di Gotham City, Batman terus melaju dalam detik-detik ajal. Saat terbang mengangkasa bersama bom yang akan meledak, Bruce Wayne pasti menyadari itu jalan satu arah... menuju kematian. Tetapi, ia juga menyadari, tak ada yang lebih baik dan lebih mulia dari ini. Kematian jiwa yang sepi untuk menyelamatkan jiwa-jiwa lain.

Lalu bom meledak dengan dahsyat. Jutaan nyawa terselamatkan. Batman tiba pada kematian yang dirindukannya.

Di pemakaman, Komisaris Gordon membacakan eulogi di hadapan orang-orang terdekat Bruce Wayne, mengenang lelaki di balik topeng yang telah menyelamatkan jutaan nyawa... sosok pahlawan tak dikenal. Lalu pemakaman keluarga itu sepi, tinggal Alfred yang berdiri penuh kesedihan, menangis pilu menyesali kematian orang yang sangat dikasihinya.

Saat menyaksikan itu, saya ikut menangis bersamanya.

Curhat Lagi

Dia didekati banyak cowok setiap hari, dan tidak memikirkan perasaanku.

Dia janjian dengan orang entah siapa, tanpa berpikir aku akan cemburu.

Tapi begitu lihat aku tampak ramah dengan satu cewek saja, dia langsung marah dan cemburu.

....
....

Aku kudu piye sih, blog? Aku kudu piye...???

Google Tidak Mahatahu

Bocah-bocah berkirim e-mail dengan pertanyaan yang sangat membosankan, “Hei, pal. Aku sudah capek mengubek-ubek Google hanya untuk menemukan identitasmu. Tapi Google tidak bisa memberikan keterangan apa pun tentang dirimu, selain keterangan standar yang semua orang sudah tahu. Jadi, siapa sebenarnya dirimu...?”

....
....

Jadi, memangnya siapa yang menyatakan Google tahu segalanya?

Jumat, 14 Maret 2014

Bocah-bocah Naik Ferrari

Ternyata, kenyataan jauh berbeda
dibanding yang kita tahu tentang kenyataan.
@noffret


Pemandangan paling mempesona yang pernah saya saksikan di Jakarta adalah serombongan bocah mengendarai Ferrari di jalan bebas hambatan, dengan kecepatan tinggi. Ada enam atau tujuh mobil yang saya lihat waktu itu, dan kendaraan mahal beraneka warna itu seperti menciptakan halusinasi, seolah menyaksikan deretan pelangi yang sebenarnya tak tampak. Ini Indonesia, pikir saya. Lebih khusus lagi, Jakarta.

Siapa pun yang hidup di Jakarta pasti paham bahwa kota ini telah dikutuk oleh kemacetan. Dibutuhkan kesabaran seorang nabi untuk bisa merayap di jalan-jalan utama, khususnya lagi di jam-jam sibuk. Karenanya, memiliki mobil sport berkecepatan tinggi semacam Ferrari adalah hal terakhir yang terlintas dalam benak banyak orang, khususnya orang-orang yang tiap hari harus rela dihimpit macet demi mencari sesuap nasi.

Jadi, ketika menyaksikan rombongan Ferrari melaju di sana, saya pun terpesona.

Keterpesonaan saya pada bocah-bocah yang naik Ferrari di Jakarta bukan hanya karena kontradiksinya, juga bukan karena harganya yang luar biasa mahal, melainkan lebih karena implikasi psikologisnya.

Tiga bulan sebelum menyaksikan pemandangan Ferrari di Jakarta itu, saya ngobrol dengan Firman, teman saya, yang menceritakan kisah temannya. Untuk memudahkan cerita, kita sebut saja teman Firman bernama Romeo.

Kisahnya, Romeo butuh membeli spion, tapi uangnya kurang. Ia lalu menghubungi Firman untuk menutupi kekurangan uangnya. Karena mereka telah berteman lama, Firman pun membantu. Ia meminjamkan 10 juta kepada Romeo. Yang jadi masalah, jumlah uang itu masih kurang. Romeo masih butuh 8 juta lagi, dan dia kebingungan.

Mendengar kisah itu, saya buru-buru memotong, “Katamu tadi, dia mau beli spion?”

“Iya,” sahut Firman. Lalu dia menjelaskan, “Dia kan punya 18 juta. Terus aku kasih pinjaman 10 juta. Nah, masih kurang 8 juta.”

Saya seperti salah dengar. “Jadi, harga spion itu berapa?”

“Tiga puluh enam juta.”

Saya membelalak. “Spion keparat apa yang harganya 36 juta...???”

“Ferrari,” jawab Firman. “Dia mau beli spion Ferrari.”

Detik itulah saya baru paham bahwa spion Ferrari harganya tiga puluh enam juta! Baru membayangkannya saja, kepala saya seperti mau pecah. Dipikir dengan akal sehat—khususnya akal sehat saya—kedengarannya sangat tidak masuk akal ada spion harganya sampai puluhan juta! Spion! Demi Tuhan, spion!

Jadi, bocah bernama Romeo tadi adalah anak seorang konglomerat. Suatu hari, dia “jalan-jalan sore” mengendarai Ferrari milik bokapnya, dan suatu kecelakaan kecil terjadi. Ferrari yang dikendarai Romeo menyerempet sesuatu, dan spionnya retak. Cuma itu, dan Romeo panik bukan kepalang. Ia tahu, bagaimana pun caranya, ia harus mengganti spion itu secepatnya, sebelum bokapnya melihat.

Karena itulah, ia kemudian menghubungi teman-temannya, untuk meminjam uang demi membeli spion secepatnya. Dan salah satu teman yang dihubunginya adalah Firman, yang lalu menceritakan kisah itu pada saya. Ketika Firman mengisahkan cerita itu, Romeo sudah mengembalikan uang yang ia pinjam. Dia pasti sudah membereskan masalah spion yang menimpa mobil bokapnya.

Gara-gara kisah itu, saya dan Firman kemudian mengobrolkan Ferrari sambil meneteskan air liur. Bagi orang-orang kere seperti kami, Ferrari tampak lebih absurd dibanding fisika kuantum. Maksud saya, fisika kuantum memang sulit dipahami, tetapi memiliki Ferrari adalah kenyataan yang tampaknya lebih sulit dipahami. Siapa pun tahu berapa harga mobil itu, dan cuma para konglomerat yang bisa membelinya. Oh, well, beruntunglah anak-anak mereka yang bisa ikut mengendarainya, seperti Romeo.

Yang menakjubkan, tampaknya bocah yang mengendarai Ferrari hidup di dunia yang berbeda dengan bocah-bocah yang tidak mengendarai Ferrari, meski mereka tinggal di dunia yang sama. Jika kalimat itu terdengar membingungkan, izinkan saya menjelaskannya.

Romeo dalam kisah di atas berteman dengan Firman cukup lama. Bedanya, Romeo lahir dan tumbuh dalam keluarga kaya raya, sementara Firman lahir dan tumbuh dari keluarga miskin yang serba kekurangan. Mereka kenal dan berteman karena menjadi mahasiswa di kampus yang sama di luar negeri, ketika Firman mendapat beasiswa untuk kuliah di sana. Karena sama-sama berasal dari Indonesia, mereka pun berteman akrab.

Suatu hari, mereka mengobrol dengan asyik, dan dalam obrolan itu Firman menceritakan latar belakang keluarganya yang serba kekurangan. Cerita itu tidak bermaksud apa-apa, selain hanya sebagai bahan obrolan antar dua sahabat baik yang telah lama berteman.

Yang menakjubkan, Romeo sama sekali tidak percaya pada cerita Firman. Yang lebih menakjubkan lagi, dia tidak hanya tidak percaya bahwa Firman berasal dari keluarga miskin penuh kekurangan, tapi tampaknya Romeo sungguh tidak percaya bahwa di dunia ini ada orang miskin!

Obrolan dua sahabat itu pun mengalir, dan Romeo terus “terkagum-kagum” ketika mendengar ada orang-orang yang sampai menggadaikan barang di rumahnya demi bisa menyambung hidup, bahwa ada anak-anak tak bisa melanjutkan pendidikan karena orangtuanya tak sanggup lagi membiayai, bahwa ada orang-orang yang setiap saat dililit kelaparan karena tak punya uang untuk membeli makan.

Romeo tidak percaya. Dia tidak percaya bahwa di dunia ini—di dunia kita ini—ada orang-orang yang tidak seberuntung dirinya. Jadi, ketika Firman menceritakan semua itu dan Romeo terbelalak tak percaya, Firman juga ikut terbelalak tak percaya. Ia tak percaya bahwa ternyata di dunia ini ada orang yang tidak tahu bahwa kemiskinan ada di mana-mana, bahwa kemelaratan menghimpit jutaan manusia.

Romeo, dalam bayangan Firman waktu itu, tak jauh beda dengan Siddharta Gautama. Sebagai pangeran yang menghuni istana, Siddharta Gautama hidup dalam kelimpahan yang gemerlap. Ia tidak tahu bahwa manusia bisa sakit, tua, dan mati. Ia tidak tahu bahwa di luar gerbang istananya ada banyak orang miskin yang hidup penuh kekurangan. Ia pun tak tahu bahwa di dunia ini tidak banyak orang seberuntung dia.

Romeo menghadapi kehidupan tak jauh beda. Lahir dan tumbuh besar sebagai anak konglomerat, dia hanya tahu kemudahan, kemapanan, dan kelimpahan. Dinding-dinding rumahnya yang megah tanpa sadar telah membutakan matanya dari keadaan di sekelilingnya, sehingga ia tidak tahu bahkan tidak percaya bahwa dunia di sekelilingnya tidak sama dengan dunianya. Percakapannya dengan Firman kemudian membukakan matanya, sebagaimana Siddharta Gautama menemukan pencerahan yang mengubah seluruh paradigmanya.

Ketika mendengar segala cerita Firman di atas, saya tertegun lama, dan berpikir keras. Jika ada orang yang tidak percaya bahwa di dunia ini ada kemiskinan dan kekurangan, mungkinkah yang semacam itu hanya satu orang...?

Tiba-tiba saya khawatir, di negeri ini ada banyak orang yang tidak juga menyadari bahwa kemiskinan menjadi wabah di mana-mana, karena mereka telah terbiasa hidup dalam kekayaan dan keberlimpahan. Saya khawatir, di negeri ini ada banyak orang yang terlalu lama hidup dalam kemakmuran, sehingga matanya terbutakan dari kemelaratan yang menghimpit jutaan manusia.

Pada akhirnya, saya khawatir orang-orang yang disebut wakil rakyat itu sama sekali tidak tahu keadaan rakyat yang mereka wakili, sehingga mereka bekerja seenaknya. Seperti bocah-bocah yang melaju kencang di atas Ferrari yang saya lihat di jalan tol Jakarta, saya khawatir pemerintah kita sedang asyik melenggang di atas kemewahan demi keasyikan dan kesenangan dirinya.

Insiden, Suatu Hari

Kafe itu terletak di tempat terpencil, dan pengunjungnya kebanyakan pasangan-pasangan yang menginginkan privasi. Kadang-kadang dua orang atau lebih memilih kafe itu sebagai tempat pertemuan untuk membicarakan hal-hal penting yang membutuhkan suasana hening. Jarang sekali ada orang yang sengaja datang dan makan di sana sendirian.

Di salah satu sudut, seorang lelaki bangkit dari tempat duduknya, membereskan beberapa berkas yang dibawanya, dan melirik ke tempat seorang wanita yang juga tampak sendirian. Ia tahu, begitu ia bangkit dari tempat duduknya, wanita itu juga akan bangkit—suatu pola yang diam-diam diingatnya.

Seusai membayar di kasir, si lelaki menoleh pada wanita di belakangnya, yang juga akan membayar di kasir, lalu berkata lirih, “Kalau tak salah ingat, kita bertemu tepat di depan kasir ini empat kali. Well, kau tahu, aku tak pernah percaya pada kebetulan semacam ini.”

Si wanita tersenyum, usahanya telah berhasil. Lalu ia menjawab dengan percaya diri, “Sepertinya aku sudah mendapatkan perhatianmu. Kudengar kau sering menikmati waktu senggang di sini, jadi aku sengaja datang ke sini untuk bertemu denganmu.”

“Apa yang kauinginkan?”

“Mau makan malam denganku, kapan-kapan?”

Si lelaki menatap wanita di dekatnya. Ia jenis wanita yang menyadari siapa dirinya—dan si lelaki tertantang. Setelah berpikir sesaat, dia menjawab, “Oke. Kita bisa makan berdua besok malam. Siapa tahu kita bisa berteman.”

“Besok malam aku tidak bisa,” sahut si wanita. “Bagaimana kalau lusa?”

“Kalau begitu lupakan saja,” ujar si lelaki sambil melangkah pergi.

Si wanita menatap punggung si lelaki. “Sepertinya kau tidak terbiasa mendengar kata ‘tidak’, ya?”

“Kecuali aku yang mengatakan.”

....
....

Sejak insiden itu, si wanita tidak pernah lagi menemukan si lelaki di sana. Mungkin dia menyesali sok jaimnya ternyata sia-sia.

Ngeri!

Wanita yang sedang cemburu tuh ngeri.

Ngeri.

Pokoknya ngeri!

....
....

Tapi lucu.

Minggu, 09 Maret 2014

Orang Bodoh No. 1 di Indonesia

Dunia maya tidak hanya menjanjikan ilusi.
Tetapi juga memberikan ruang bagi delusi.
@noffret


Saya sering “ngeri” setiap membaca biodata orang di Twitter, yang tampak “serius sekali”. Di masing-masing akun Twitter, ada header yang memungkinkan pemiliknya menuliskan biodata singkat dirinya untuk memperkenalkan diri. Dan, tampaknya, ada banyak orang yang terlalu serius menilai dirinya sendiri.

Saya kadang mendapati ada orang yang menulis biodatanya di Twitter sebagai “Pakar Anu No. 1 di Indonesia”, atau “Pakar Itu No. 1 di Asia”, dan semacamnya—yang umumnya lekat dengan sebutan “Pakar” atau “No. 1”. Kadang pula dilekati serentetan titel atau gelar akademis, hingga mirip sampul makalah ilmiah. Padahal itu Twitter, yang sama sekali tidak dimaksudkan sebagai presentasi ilmiah di universitas mana pun.

Dan orang-orang itu serius. Maksud saya, mereka melekatkan predikat “serba hebat” semacam itu tidak bertujuan untuk main-main atau sekadar bercanda, tapi sengaja digunakan untuk menunjukkan “betapa hebat” dirinya. Mungkin, kalau umpama Raditya Dika atau Alitt Susanto yang menulis biodata semacam itu, saya paling akan tertawa, karena paham mereka pasti sedang bercanda. Tapi ini orang-orang serius, yang bisa dibilang jauh dari kesan bercanda.

Karena yang melakukan hal semacam itu orang-orang serius, dan mereka melakukannya secara serius pula, saya pun menghadapi dan memikirkan kenyataan itu dengan serius. Sebegitu serius, hingga saya merasa perlu menulis catatan ini.

Well, jika ada orang mengklaim dirinya sebagai “No. 1 di Indonesia”, parameter apa yang digunakan untuk menentukan nomor itu? Jika saya merasa—tolong perhatikan kata “merasa”—sebagai orang yang sangat tahu tentang perpolitikan di Indonesia, misalnya, kemudian menyatakan diri sebagai “Pakar Politik No. 1 di Indonesia”, siapakah yang menjamin bahwa saya memang orang paling hebat dalam bidang itu?

Bahkan umpama ada parameter yang jelas, misalnya saya mengikuti “kontes pengamat politik di Indonesia”, dan dinyatakan sebagai juara pertama, sebutan “No. 1” pun tetap sangat relatif, dan rasanya sangat riskan jika saya secara sengaja menggunakannya untuk menunjukkan citra diri. Itu tak jauh beda dengan kontes Miss Indonesia. Jika Si A menjadi pemenang Miss Indonesia, kemudian mengklaim diri sebagai “Wanita Cantik No. 1 di Indonesia”, sepertinya kok sangat aneh. Dan bisa jadi kita akan menertawakannya.

Itu bahkan jika ada parameter yang jelas—sebagaimana yang saya contohkan di atas. Lalu bagaimana jika kenyataannya tidak ada parameter apa pun yang bisa digunakan untuk mengukur “nomor” seseorang? Bagaimana bisa seseorang mengklaim dirinya sebagai “Pakar” atau bahkan “Pakar No. 1”? Apa yang menjadi dasar ukurannya? Bagaimana mengukur parameternya? Lebih penting lagi, sejauh apa sebutan itu sesuai kebenarannya?

Jika kita perhatikan, orang-orang yang menyebut dirinya sebagai “Pakar”, umumnya karena menulis buku yang membahas suatu topik tertentu. Jika ia menulis tentang tutup botol, misalnya, maka ia kemudian merasa berhak untuk menjuluki dirinya “Pakar Tutup Botol”, atau “Pakar Tutup Botol No. 1 Indonesia”.

Pertanyaannya, sekali lagi, sesahih dan sevalid apa sebutan “Pakar” itu, sampai-sampai dilekatkan di header Twitter-nya. Jangan lupa, ini soal header Twitter. Jika sebutan “Pakar” tertera di sampul makalah ilmiah, saya tidak akan repot-repot memikirkannya, karena audiens di ruang presentasi bisa langsung menilainya.

Sekali lagi, ini Twitter! Dan ruang di Twitter hanya menyediakan 140 karakter. Tak peduli sepakar apa pun, apa yang bisa kita harapkan dari tempat terbatas seluas 140 karakter?

Untuk menilai tingkat kepakaran seseorang, kita tidak bisa menyandarkan penilaian pada celotehnya di timeline—kita harus melihat atau membaca langsung karyanya yang benar-benar utuh. Jika dia memiliki blog, kita bisa melihat blognya. Jika dia menulis buku, kita bisa membaca bukunya. Jika dia menyusun makalah, kita bisa menyimak presentasinya. Dari hasil karya nyata itulah seseorang baru bisa dianggap “benar-benar pakar” atau “sekadar ingin dianggap pakar”.

Bahkan ketika seseorang telah memiliki karya jelas dan nyata sekali pun, tetap saja tidak mudah memiliki gelar pakar, karena ada uji kepakaran—secara sosial atau secara akademik.

Seorang ulama, misalnya, mungkin tidak pernah menyebut dirinya ulama. Tetapi, karena kontribusinya dalam masyarakat yang memberi banyak manfaat—khususnya dalam bidang agama—dan orang itu juga memiliki akhlak serta perilaku terpuji yang telah teruji bertahun-tahun, masyarakat pun kemudian menyebutnya ulama. Itu contoh mudah “kepakaran” seseorang diakui secara sosial. “Kepakaran”nya telah diuji oleh masyarakat, dan masyarakat menganggapnya “lulus”, hingga ia disebut ulama.

Dalam dunia akademik, juga ada uji kepakaran yang tak jauh beda—namun menggunakan sistem dan ujian yang berlaku—hingga seseorang layak disebut pakar, atau minimal memiliki gelar akademis yang akan memungkinkannya layak disebut pakar.

Siapa pun yang pernah kuliah S3, atau yang telah memiliki gelar Doktor, pasti mengenal istilah “prestasi capaian akademik” sebelum pengajuan tesis (masing-masing negara memiliki sebutan/istilah berbeda).

Dalam persyaratan pengajuan degree, kontribusi kandidat doktoral dihitung berdasarkan prestasi capaian di dunia akademik. Misalnya, menulis di jurnal ilmiah akan mendapat 1 poin. Mengikuti konferensi internasional dan menulis reviu akan mendapat 0,5 poin. Jika tidak ada reviu, poin 0. Menulis makalah—biasanya minimal 8 halaman—akan mendapat 2 poin. Jika kurang dari 8 halaman, tidak mendapat poin. (Masing-masing universitas/fakultas memiliki kriteria berbeda).

Poin-poin yang telah diperoleh itu kemudian diakumulasi untuk menentukan apakah seseorang sudah layak mengajukan tesisnya atau belum. Ketika mahasiswa S3 akan mengajukan tesisnya, total pencapaian poin yang diperolehnya akan dihitung terlebih dulu, sebagai prasyarat akademik bahwa ia telah memahami apa yang akan dibicarakannya. Ketika kemudian ia dinyatakan lulus dan mendapat gelar Doktor, dia sudah layak disebut pakar dalam bidang yang dipelajarinya, yang dibuktikan dari riset tesisnya.

Memang, seseorang tidak harus menjalani pendidikan formal untuk bisa disebut pakar. Bocah-bocah yang mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa, misalnya, juga rata-rata tidak memiliki ijazah dari pendidikan formal. Tetapi mereka disebut pakar, bahkan memperoleh pengukuhan gelar, setelah membuktikan dirinya benar-benar menguasai suatu bidang tertentu yang sulit dilakukan orang-orang lainnya, dan mereka telah melakukannya bertahun-tahun, dengan pencapaian prestasi yang memang mengagumkan.

Kita lihat, betapa sulit untuk mendapat gelar yang merepresentasikan bahwa seseorang memang pakar dalam suatu bidang. Tetapi di Indonesia, khususnya di Twitter, sepertinya kita sangat mudah menemukan berbagai “pakar”. Sebegitu mudah, hingga ada “Pakar Mercon”, “Pakar Botol Kosong”, “Pakar Tangan Kiri”, “Pakar Ember Bocor”, sampai “Pakar Orang Gagap”.

Ehmm....

Salah satu sebutan pakar yang terkenal di Indonesia adalah “Pakar TI” atau “Pakar Teknologi Informasi” (kadang-kadang disebut pula Pakar IT). Bagi yang mungkin belum tahu, orang-orang di luar negeri selalu “takjub” setiap mendengar ada orang yang memiliki gelar “Pakar TI”. Takjub, karena teknologi informasi adalah dunia yang sangat luas—sebegitu luas, hingga bisa dibilang seluas Bumi yang kita tinggali.

Karenanya, orang-orang di luar negeri sering “takjub” setiap mendengar ada orang yang disebut “Pakar TI”, karena tidak bisa membayangkan seluas apa pengetahuan orang itu dalam dunia teknologi informasi, dan sebanyak apa bangku kuliah yang telah “dimakannya”.  

Jepang, sebagai contoh, adalah negara yang sangat maju dalam bidang teknologi informasi—dan dunia pun mengakui. Tetapi, jika kita pergi ke Jepang, kemudian keluyuran ke kampus atau perusahaan teknologi di sana, kita tidak akan menemukan “Pakar TI”. Memang banyak orang Jepang yang sangat hebat dalam bidang teknologi informasi—biasanya memiliki gelar Profesor—tetapi tidak ada Pakar TI.

Profesor Iwata, misalnya, dikenal luas sebagai peneliti di bidang neural networks, tapi dia bukan Pakar TI. Profesor Usui juga dikenal luas sebagai peneliti di bidang neuroinformatics, sedang Profesor Toriwaki dianggap sebagai pionir di bidang medical imaging. Tetapi, bahkan sehebat dan seterkenal itu pun, mereka tidak pernah disebut—atau menyebut diri—sebagai Pakar TI. Bukankah ini berbanding terbalik dengan yang terjadi di Indonesia?

Karenanya, ketika menyaksikan dan memikirkan semua ini, saya benar-benar bingung, dan tiba-tiba merasa sangat bodoh.

Bingung, karena tak mampu memahami bagaimana banyak orang bisa memiliki gelar pakar dengan sangat mudah, hingga dipamer-pamerkan di header Twitter mereka, seolah akun Twitter adalah makalah yang akan dipresentasikan di forum ilmiah. Dan saya merasa bodoh, karena tidak bisa melihat tingkat kemanfaatan para pakar itu bagi Indonesia—negara yang mereka sematkan di belakang kepakarannya.

Jika memang Indonesia memiliki begitu banyak pakar—sebagaimana yang ditunjukkan di header Twitter—seharusnya negeri ini telah jauh lebih maju, bukannya terus ketinggalan. Jika memang bangsa ini memiliki banyak orang pintar, seharusnya rakyat Indonesia lebih jujur dan beradab, lebih cerdas dan lebih toleran. Jika memang para pakar itu benar-benar pakar, tentunya mereka akan lebih sibuk belajar dan membaktikan ilmunya di lapangan kehidupan... bukannya sibuk di Twitter dan ngoceh mencari perhatian.

Oh, well, mungkin saya memang orang bodoh yang tak mampu memahami pentingnya sebutan pakar bagi seseorang. Mungkin saya terlalu bodoh untuk mengerti betapa pentingnya popularitas dan menjadi pusat perhatian. Mungkin pula saya terlalu bodoh untuk mengetahui betapa bangganya disebut atau menyebut diri sebagai nomor satu di hadapan orang-orang.

Ya, mungkin saya memang orang bodoh, sebegitu bodoh hingga sangat terbelakang dan ketinggalan zaman. Dan, jika memang begitu kenyataannya, mungkin saya perlu mengubah biodata di header Twitter saya. Orang Bodoh No. 1 di Indonesia, sepertinya sebutan paling tepat untuk orang bodoh dan terbelakang seperti saya.

Punya Mbakyu itu Penting

Lalu dia bertanya, “Kenapa punya mbakyu itu penting?”

Aku menjawab, “Karena semua lelaki hebat punya mbakyu.”

“Oh, ya?” Dia tertawa. “Coba katakan.”

“Batman punya mbakyu, namanya Rachel Dawes. Spiderman punya mbakyu, namanya Mary Jane Watson. Iron Man punya mbakyu, namanya Pepper Pots. Bahkan Hulk pun punya mbakyu, namanya Elizabeth Ross.”

Dia menyergah, “Tunggu dulu. Rachel Dawes, Mary Jane Watson, Pepper Pots, dan Elizabeth Ross kan bukan mbakyu mereka, tapi pasangan mereka...?”

“Nah, itulah maksudku.”
 

Yaelah, Bro...

Yaelah, bro. Kampanye sih kampanye. Iklan sih iklan.

Tapi ya nggak usah sampai segitunya, kaleeeeee!

Selasa, 04 Maret 2014

Terbit dan Tenggelam

Aku heran pada kesombongan yang bisa kutinggalkan,
pada keangkuhan yang dapat kutertawakan.
@noffret


Salah satu teman kuliah saya bernama Ummu Salamah. Selama kami berteman di kampus, di mata saya dia tak jauh beda dengan umumnya mahasiswi lain—ramah, bersahaja, dan suka guyon (bercanda). Keramahan dan sikapnya yang bersahaja itu pula yang menjadikan kami mudah akrab. Tidak jarang, sambil menunggu jam kuliah, kami ngobrol di depan kelas sambil cekikikan.

Suatu hari, saya dolan ke rumahnya, untuk mengerjakan suatu tugas kuliah. Itu pertama kalinya saya dolan ke rumah Ummu sejak kami berteman cukup lama. Ketika berada di rumahnya, sambil asyik mengerjakan makalah dan ngobrol-ngobrol, tanpa sengaja saya menengok ke ruang tengah yang terbuka... dan saya tercengang.

Di ruang tengah, di sebuah almari yang cukup besar, terdapat jajaran piala beraneka ukuran. Jumlahnya bukan satu dua, tapi mungkin lebih dari seratus. Karena penasaran, saya pun bertanya nyaris spontan, “Um, kamu jualan piala, atau gimana?”

Dia menjawab sambil tertawa, “Nggak, itu piala hasil lomba.”

“Lomba apa?” tanya saya makin penasaran, mengingat banyaknya piala di sana.

Dengan santai, Ummu menjelaskan, semua piala itu ia dapatkan sebagai hadiah lomba qiro’ah (membaca al-Qur’an dengan kefasihan tajwid) yang pernah diikutinya.

Penjelasan itu membuat saya terbelalak. Oh, well, saya juga punya beberapa piala di rumah hasil menang lomba. Tapi piala yang saya miliki tidak sebanyak itu. Dan tentu saja bukan piala hasil lomba qiro’ah!

Ummu mungkin sudah terbiasa menghadapi sikap teman-temannya yang heran campur takjub saat melihat koleksi piala miliknya. Jadi dia cekikikan saja melihat reaksi saya. Karena penasaran, saya pun minta izin untuk melihat-lihat koleksi piala itu, dan sekali lagi saya tercengang.

Di bagian bawah piala-piala itu tertera keterangan yang menyebutkan tingkat kejuaraan, lomba yang diikuti, serta skala wilayah lomba. Semua piala itu memang hasil lomba qiro’ah. Ada piala Juara I, Juara II, ada pula yang Juara III. Ada yang tingkat Kota, Provinsi, Nasional, hingga Asia. Dari banyaknya piala yang ada di sana, Ummu bisa dibilang telah memenangkan hampir semua lomba qiro’ah yang mungkin pernah diadakan di Indonesia, atau bahkan Asia.

Kenyataan itu benar-benar membuat saya sangat terpesona.

Di kampus, saya memang tahu Ummu aktif di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang berhubungan dengan aktivitas keagamaan. Dia juga punya suara empuk yang enak didengar saat menyanyikan lagu-lagu kasidah. Tapi saya sama sekali tidak tahu kalau perempuan bersahaja dan suka guyon itu ternyata seorang juara dalam bidang qiro’ah, hingga bisa menyabet seratusan piala. Perempuan yang bisa mengoleksi seratus piala di lomba qiro’ah pasti bukan perempuan sembarangan!

Dan itulah yang membuat saya sangat terpesona.

Maksud saya, Ummu sama sekali tidak pernah menunjukkan apalagi memamerkan dan membangga-banggakan prestasinya. Dia sangat bersahaja—kalau kalian paham maksud saya. Selama bergaul dengan teman-teman di kampus, dia benar-benar tidak pernah berusaha menunjukkan dirinya memiliki prestasi sehebat itu. Dia tampil sebagai mahasiswi gaul biasa, yang menyenangkan dijadikan teman, yang asyik diajak ngobrol dan bercanda, dan sama sekali tidak pernah bertingkah sok hebat atau sok alim.

Ketika saya menceritakan pada teman-teman di kampus bahwa Ummu ternyata seorang juara qiro’ah yang hebat, teman-teman di kampus tidak terkejut. Mereka sudah lama tahu prestasi Ummu yang luar biasa, dan mereka juga sama mengaguminya. Dari teman-teman pula saya kemudian semakin mengenal sosok Ummu yang hidupnya sangat agamis, taat beribadah, aktif dalam bidang sosial keagamaan di lingkungannya, serta memiliki latar belakang santri yang sangat kuat.

Saat kami mengobrolkan Ummu yang begitu gaul dan bersahaja, beberapa teman berkomentar, “Itulah yang membedakan seorang maestro dengan medioker. Seorang maestro bersikap wajar dan bersahaja, tapi medioker justru suka bertingkah sok seolah paling hebat!”

Komentar itu mungkin terdengar tajam. Tetapi, kalau saya perhatikan, kenyataannya memang seperti itu. Selain Ummu, saya mengenal teman-teman lain yang memiliki prestasi yang sama hebat—dalam berbagai bidang—dengan koleksi piala yang jumlahnya menyaingi toko piala, dan pernah menjuarai lomba tingkat Kota, Provinsi, Nasional, sampai Internasional. Tetapi mereka yang berprestasi hebat itu rata-rata juga memiliki sikap sama—bersahaja, tidak bertingkah sok atau suka membangga-banggakan dirinya.

Ironisnya, hal sebaliknya terjadi pada orang-orang yang justru tak sehebat mereka. Paling juara satu kali saja, tingkahnya sudah kayak paling hebat di dunia. Paling punya beberapa piala saja, pamernya sudah kemana-mana. Paling muncul di koran sekali saja, gegernya sudah mirip Perang Dunia. Prestasi yang dicapainya mungkin membuat kita kagum. Tapi sikap mereka dalam memperlakukan prestasinya membuat kita kehilangan kekaguman.

Dunia adalah satu hal. Cara kita memperlakukan dunia adalah hal lain.

Semua orang mengagumi sosok hebat dan berprestasi, tapi semua orang lebih mengagumi sosok hebat dan berprestasi yang tetap rendah hati. Maksud saya benar-benar rendah hati, bukan sekadar sok bertingkah rendah hati atau pura-pura rendah hati. Sok rendah hati itu sama buruknya dengan sikap congkak—sama-sama menjijikkan.

Sekitar setahun lalu, ada suatu lomba seputar blog di internet, yang hasil finalnya ditentukan oleh voting. Siapa saja bisa ikut memberikan voting di laman yang telah ditentukan. Saya tidak mengikuti lomba itu, tetapi saya tertarik mengikuti beritanya. Di tahap akhir, pada saat voting, saya terang-terangan memilih seorang blogger perempuan, yang saya harapkan menjadi pemenangnya.

Saya sadar, komentar saya di laman lomba itu akan dibaca banyak orang, dan tidak menutup kemungkinan akan ada sekian banyak orang yang mengikuti saya—memberikan voting untuk blogger yang saya dukung. Kenyataannya, blogger perempuan itu berhasil menang!

Saya tidak mengenal blogger perempuan itu. Saya juga tidak pernah berkomunikasi dengannya—saya bahkan tidak tahu siapa dia. Tetapi, berdasarkan tulisan-tulisan di blognya, juga dari beberapa komentarnya di blog lain yang sempat saya baca, saya tahu dia perempuan bersahaja—sosok yang tidak akan menjadi pongah hanya karena suatu kemenangan yang diraihnya. Jadi, ketika dia akhirnya menang, saya ikut senang—meski saya tidak mengenalnya.

Manusia adalah satu hal. Cara kita menilai manusia adalah hal lain.

Jika kita mempelajari psikologi, kita akan dikenalkan pada berbagai teori tentang cara menciptakan citra diri—dari yang sangat mudah, sampai yang paling rumit. Dan dari semua upaya citra diri yang diajarkan psikologi, saya bisa merangkum satu hal yang paling penting, “Jadilah dirimu sendiri, tetapi dirimu yang rendah hati.”

Sekali lagi, maksud saya adalah benar-benar rendah hati—bukan sekadar sok bersikap rendah hati atau pura-pura rendah hati. Orang selalu tahu apakah kita jujur atau munafik, apakah kita tulus atau pura-pura. Orang selalu tahu apakah kita benar-benar pintar atau hanya sekadar sok pintar. Orang selalu tahu apakah kita benar-benar alim atau hanya sekadar sok alim. Orang selalu tahu apakah kita benar-benar hebat atau hanya sekadar sok hebat.

Pada akhirnya, sampah tidak akan menjadi mutiara meski diletakkan di atas nampan emas, dan mutiara tetap akan memancarkan kilaunya meski dilemparkan ke tempat sampah. Kalau kita memang benar-benar hebat, dunia pasti akan melihat—bahkan umpama kita telah berupaya agar tidak terlihat. Itu hukum alam—dibelokkan dengan cara apa pun, hasilnya akan tetap sama. Alam senantiasa mendukung yang tumbuh, dan membuang yang busuk.

Seperti mentari yang terbit di ufuk timur, tidak ada kekuatan apa pun yang sanggup menahan cahayanya untuk memancar keluar. Dan sebagaimana ia akan tenggelam di ufuk barat, tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menahannya untuk tidak menghilang. Terbit dan tenggelamnya mentari hanya dalam hitungan sehari, terbit dan tenggelamnya manusia berlangsung sampai mati. Pada waktu-waktu di antaranya, manusia membangun jiwanya sendiri.

Curhat

Kalau dia nge-tweet nomention, dan aku tidak merespon, dia bilang aku tidak peka.

Kalau dia nge-tweet nomention, dan aku membalas tweet-nya, dia cuek.

Kalau dia nge-tweet nomention, dan aku membalas dengan nomention, dia menghapus tweet-nya.

Aku bingung, stres, dan berhenti nge-tweet. Kalau aku tidak nge-tweet, dia anggap aku menghindar.

....
....

Aku kudu piye, blog...?

Siapakah Saya?

Saya adalah bocah.

Sabtu, 01 Maret 2014

Jeritan di Atas Piring

Kadang-kadang kita perlu disakiti
untuk tahu bahwa disakiti itu sakit,
agar kita tidak lagi menyakiti orang lain.
@noffret


Banyak orang menyukai sushi, makanan khas Jepang, yang dibuat dari hasil laut. Bagi yang suka, sushi memiliki citarasa luar biasa. Salah satu hal penting yang menjadikan sushi lezat adalah kesegaran bahannya. Karenanya pula, hewan laut yang dijadikan bahan pembuatan sushi biasanya dibiarkan hidup, dan baru dibunuh atau dimatikan ketika akan dimasak, untuk menjaga kesegarannya.

Karena pentingnya faktor kesegaran itu pula, beberapa restoran bahkan menyediakan aneka masakan sushi yang bahannya benar-benar segar—dalam arti sebenarnya. Ketika disajikan untuk disantap, hewan-hewan itu benar-benar masih hidup, setengah hidup, atau setengah mati. Konon, sajian itu sangat disukai penggemar sushi, hingga banyak restoran—khususnya di Jepang—yang menjadikannya sajian andalan.

Ikizakuri adalah makanan Jepang yang bahannya menggunakan ikan, lobster, dan udang, untuk dijadikan sashimi. Untuk menyajikan makanan itu, dibutuhkan koki yang tidak hanya andal, tetapi mungkin juga berjiwa psikopat.

Hewan-hewan yang digunakan dalam masakan Ikizakuri tidak dibunuh atau dimatikan terlebih dulu, tapi disajikan dalam keadaan setengah hidup—atau setengah mati. Ikan yang disajikan biasanya dipotong setengah badannya, tapi pemotongan itu diusahakan tidak membunuh si ikan. Jadi, meski tubuhnya sudah terpotong, ikan itu masih hidup, bahkan mampu berenang—tentu dengan kesakitan karena kehilangan sebagian tubuhnya akibat mutilasi. Sementara bagian tubuhnya yang terpotong (bagian bawah) diiris-iris untuk dijadikan sup atau sashimi.

Manusia konsumennya kemudian menyantap sajian itu dengan lahap, sementara si ikan malang (yang kini setengah hidup karena tinggal memiliki bagian atas tubuhnya) menyaksikan semua itu dengan kepedihan.

Selain Ikizakuri, ada pula masakan yang disebut Ebi No Ikita. Bahannya menggunakan udang—biasanya berukuran cukup besar. Sama seperti sajian Ikizakuri, udang yang dijadikan sajian Ebi No Ikita juga mengalami penyiksaan luar biasa. Sebelum dimasak, udang itu tidak dimatikan terlebih dulu, tapi kulitnya dikupas hingga yang tersisa bagian tubuhnya yang kenyal, lengkap dengan kepala dan ekor. “Hebat”nya, koki yang melakukan itu bisa mengusahakan si udang tetap hidup meski telah dikuliti.

Kemudian ada pula masakan yang disebut Ikan Ying Yang (atau Yin Yang). Masakan ini menggunakan bahan ikan. Sama seperti di atas, ikan yang dimasak tidak dimatikan terlebih dulu, tapi digoreng hidup-hidup, dan yang digoreng hanya setengah badannya ke bawah, sementara setengah badannya ke atas tetap dibiarkan hidup.

Untuk menilai apakah ikan itu telah dimasak sempurna atau tidak, dengan melihat kepala si ikan. Jika kepalanya masih bergerak-gerak, yang artinya menunjukkan tanda kehidupan, artinya ikan telah dimasak sempurna. Jika mati, berarti kokinya goblok.

Lalu ada pula masakan hasil laut yang disebut Odori-don. Bahannya tidak menggunakan ikan, tetapi cumi-cumi. Dibutuhkan seorang koki berbakat psikopat untuk bisa menyajikan masakan ini.

Cumi dipenggal kepalanya, dan tentakel-tentakelnya dipotong, tapi tetap diusahakan hidup. Saya tidak tahu bagaimana proses memasak sajian itu. Yang jelas, ketika dihidangkan ke konsumen, cumi yang telah dimutilasi itu masih hidup. Jika kita tuangkan kecap asin khas Jepang—yang memang disediakan untuk menyantap masakan itu—tubuh cumi yang telah dimutilasi itu akan “menari-nari” di atas piring akibat kesakitan. Kecap itu menjadikannya perih sehingga ia pun bergerak-gerak ke sana kemari, sementara konsumennya menganggap itu gerak tari.

Jika masakan-masakan di atas terdengar mengerikan, ada lagi yang lebih mengerikan. Kali ini melibatkan kodok. Karenanya disebut sashimi kodok. Kodok yang disajikan sudah dimasak, tetapi—entah bagaimana caranya—kodok itu masih hidup ketika dihidangkan di atas piring. Si konsumen kemudian akan membuka tubuhnya, untuk mengambil dan memakan jantungnya yang masih tampak berdenyut. Jantung kodok yang masih hidup itulah yang menjadi inti masakan tersebut.

....
....

Saya bukan vegetarian, dan saya juga sering menikmati masakan yang berasal dari hewan—entah pecel lele, ikan bakar, ayam goreng, atau lainnya. Tetapi, ketika menyaksikan sajian-sajian di atas, saya benar-benar kasihan melihat hewan-hewan itu disiksa sedemikian rupa demi memuaskan nafsu manusia, demi mengenyangkan perut mereka. Terus terang pula, saya tidak punya nafsu memakan masakan-masakan semacam itu, apalagi menikmatinya.

Hewan-hewan itu tak berdaya di tangan manusia, bukan hanya karena ukuran mereka yang kecil, tetapi juga karena manusia meyakini bahwa keberadaan hewan-hewan itu memang untuk dijadikan santapan. Ketika menyantap hewan mati dianggap “terlalu mainstream”, sebagian manusia pun terpikir untuk menyantap hewan yang setengah mati. Ketika hewan sembelihan dianggap biasa, sebagian orang pun mencoba memakan hewan dalam keadaan hidup.

Ketika menyaksikan sajian-sajian masakan di atas, saya teringat pada kisah The War of the Worlds, yang ditulis H.G. Wells. Novel itu mengisahkan penyerbuan makhluk luar angkasa ke Bumi, kemudian menjajah manusia. Novel itu telah difilmkan oleh Steven Spielberg dengan memodernisasi kisahnya. Dalam film buatan Spielberg, digambarkan makhluk-makhluk luar angkasa itu menjadikan manusia sebagai santapan.

Manusia benar-benar tak berdaya ketika berhadapan dengan makhluk-makhluk asing itu. Sebegitu tak berdaya, hingga makhluk-makhluk besar yang sangat kuat itu bisa “menikmati” manusia dengan mudah. Dengan tentakel-tentakelnya yang kuat, makhluk-makhluk itu merenggut manusia mana pun yang diinginkannya, kemudian mengisap darahnya hingga habis. Mengisap darah manusia hidup-hidup adalah cara makhluk-makhluk itu makan untuk mengenyangkan perut mereka.

Kisah film itu, dalam bayangan saya, tak jauh beda dengan sajian masakan yang saya ceritakan di atas. Makhluk-makhluk luar angkasa menindas dan membunuhi manusia karena merasa kuat, dan manusia menjadi korban karena lemah tak berdaya. Di sisi lain, manusia menyiksa dan menyantap hewan-hewan karena merasa kuat, dan hewan-hewan itu terbunuh, tertindas, dan tersiksa, karena lemah tak berdaya.

Karenanya pula, ketika menyaksikan sajian-sajian masakan di atas, angan saya membayangkan sesuatu yang liar. Bayangkan, kata saya pada diri sendiri, suatu hari ada segerombolan raksasa yang menginvasi Bumi, kemudian menjadikan manusia sebagai santapan mereka. Manusia tak berdaya menghadapi mereka, karena ukuran kawanan raksasa itu jauh lebih besar. Maka manusia pun hanya bisa pasrah ketika kawanan raksasa itu menjadikannya sebagai makanan.

Agar masakan berbahan manusia itu lebih nikmat dimakan, para raksasa itu pun berinovasi dalam pembuatan resepnya. Ada manusia yang digoreng setengah badannya, lalu disantap dalam keadaan hidup. Ada yang dimutilasi hidup-hidup, lalu bagian-bagian tubuhnya dibuat sup. Ada yang dipotong dan diiris-iris tapi tetap diusahakan hidup, kemudian dimasukkan ke kuali besar, dan dicampur air garam. Ada yang dikuliti, lalu dibumbui kecap asin. Ada pula manusia yang direbus setengah matang, kemudian jantungnya yang masih berdenyut direnggut untuk dimakan.

Tentu saja bayangan saya terlalu liar. Dan semoga hal mengerikan semacam itu tidak terjadi.

Tetapi... saya khawatir hewan-hewan yang dimasak di Jepang juga pernah membayangkan yang saya bayangkan, dan mereka bilang pada temannya, “Tentu saja bayangan saya terlalu liar. Dan semoga hal mengerikan semacam itu tidak terjadi.”

Sial bagi mereka, hal itu sekarang benar-benar terjadi.

Curhat Soal Mbakyu

Seorang bocah curhat dengan wajah nelangsa, “Nasibku benar-benar apes. Aku tuh punya mbakyu, tapi kayak nggak punya mbakyu.”

Saya menyahut dengan wajah yang tak kalah nelangsa, “Kamu masih lumayan. Nasibku lebih parah. Aku tuh nggak punya mbakyu, tapi selalu kepikiran kalau aku punya mbakyu. Jadinya kayak orang halusinasi.”

Ada Orang yang Merasa Mengurus Dunia

Padahal mengurus dirinya saja tidak bisa.

Ada.

 
;