Sabtu, 24 Mei 2014

Anak-anak Terluka

Yang paling mengerikan di pikiranku adalah
membayangkan anak-anak yang menyesali kelahirannya,
dan menangisi hidup hingga ajal tiba.
@noffret


Kasus kejahatan anak sepertinya makin marak akhir-akhir ini—pelecehan, kekerasan seksual, perkosaan, bahkan sampai pembunuhan, yang semua korbannya masih anak-anak. Itu sangat mengerikan! Bahkan saya yang belum punya anak pun selalu ngeri setiap kali membaca atau menonton berita mengenai kejahatan terhadap anak-anak. Iblis macam apa yang tega melukai anak-anak itu?

Kita terkejut saat mendengar anak-anak di TK Jakarta International School (JIS) menjadi korban peadofilia. Belum reda keterkejutan kita, media kembali menghujani berita soal Emon di Sukabumi yang melakukan kejahatan sama kepada lebih seratus anak. Kasus Emon masih panas di telinga kita, dan media kembali menyuguhkan kasus serupa di berbagai tempat, dengan bajingan-bajingan berbeda, dengan anak-anak yang terus menjadi korbannya.

Kasus paedofilia di TK JIS atau kasus pelecehan seksual yang dilakukan Emon terhadap anak-anak di Sukabumi, serta kasus serupa lainnya, mungkin hanya sebagian kecil dari potret buram anak-anak dunia, khususnya di Indonesia. Bagaimana pun, kita bersyukur kasus-kasus itu terungkap, dan kita berharap semoga para pelakunya dihukum seberat-beratnya.

Sekarang, masih soal anak-anak, saya ingin menceritakan kasus lain, yang beritanya mungkin tidak sampai ke telinga banyak orang, karena kurang diekspos media.

Enam tahun yang lalu, seorang anak tewas di rel kereta api, di suatu tempat di Semarang. Kisah tragis itu melibatkan dua bocah berusia 9 tahun, sebut saja namanya Alit dan Ageng. Dua bocah itu putus sekolah, dan menghabiskan hari-harinya dengan mengamen di berbagai tempat, berbekal tutup botol yang dibuat menjadi alat musik sederhana. 

Alit dan Ageng bertetangga, dan kedua bocah itu berkawan karib sejak kecil. Karena sadar mereka lahir dalam keluarga miskin, Alit dan Ageng seperti dipaksa dewasa sebelum waktunya. Karena orangtua mereka tidak selalu bisa memberi makan, Alit dan Ageng pun berusaha mencari uang sendiri. Entah siapa yang pertama menemukan ide, yang jelas keduanya lalu menjadi pengamen di jalanan.

Jadi, setiap menjelang siang, dua bocah itu pergi dari rumah, lalu seharian mencari uang dengan menyanyi sambil membunyi-bunyikan alat musik buatan mereka. Kadang-kadang ada orang berbaik hati memberi uang, kadang-kadang mereka mendapat makian. Kadang-kadang uang yang mereka dapatkan bisa digunakan untuk makan di pinggir jalan, kadang pula mereka harus gigit jari dan berjalan lunglai di bawah terik panas Semarang.

Semarang bukan kota besar, tetapi inilah ibukota Jawa Tengah. Dan seperti kota metropolit lain, Semarang tidak hanya berisi kemegahan dan kemewahan, tetapi juga kekerasan dan kejahatan. Alit dan Ageng menghadapi semua itu setiap hari. Mereka telah biasa dengan berbagai ancaman kekerasan yang terjadi di jalanan, mereka pun tahu bagaimana cara melarikan diri ketika Satpol PP muncul dan mengejar.

Jadi, setiap hari, ketika anak-anak lain berangkat sekolah, Alit dan Ageng berangkat ke jalan. Ketika anak-anak lain dilepas orangtua mereka dengan peluk cium, Alit dan Ageng keluar dari rumah untuk menyabung nyawa. Ketika anak-anak lain duduk manis dalam kelas, Alit dan Ageng sedang berjuang mengumpulkan receh. Ketika anak-anak lain pulang sekolah dijemput mobil-mobil mewah, Alit dan Ageng masih berpeluh keringat di jalanan... bersama nasib yang menikamkan ujung belati ke jantung takdir mereka.

Sore hari, bersama mentari yang mulai tenggelam, Alit dan Ageng akan melangkah pulang. Rumah mereka tidak jauh dari rel kereta api yang melintas di daerah mereka, dan setiap hari kedua bocah itu selalu melewati rel di sana. Kadang-kadang mereka berjalan sambil tertawa karena mendapatkan uang lumayan, kadang-kadang mereka melangkah lesu karena tidak ada uang yang didapat. Selalu ada esok, mungkin itu yang ada dalam benak mereka, sebagaimana selalu ada esok bagi anak-anak beruntung lain di dunia.

Tapi ternyata esok tak pernah tiba.

Sore itu, seperti hari-hari lain, Alit dan Ageng melangkah bersama di rel kereta api. Mereka telah hafal kapan kereta akan lewat, dan mereka pun biasanya sudah jauh-jauh menyingkir ketika kereta api akan datang. Tetapi, entah apa yang terjadi sore itu, Alit dan Ageng seperti tak mendengar peluit kencang yang muncul dari belakang mereka. Keduanya sedang melangkah lunglai ketika kereta api datang... dan para saksi mata menjerit... bersama kesadaran yang datang terlambat.

Ageng yang pertama kali menyadari maut di belakang mereka. Dia sudah mencoba memberitahu Alit untuk segera menyingkir dari rel, tapi Alit tampaknya sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. Dia seperti tak mendengar teriakan Ageng, bahkan seperti tak mendengar suara keras di belakangnya. Dia sedang terbebani oleh pikirannya, dan terus melangkah lunglai... dan kereta api itu pun menghantam tubuh kecilnya dengan sangat keras.

Ageng, yang telah menyingkir dari rel, berdiri terpaku menyaksikan tubuh temannya tewas dihantam kereta api. Kelak, karena shock, dia bahkan tidak bisa berkata-kata sampai beberapa hari.

Kisah tragis itu dimuat sejumlah koran—bukan sebagai berita utama. Beberapa hari sejak muncul di koran, orang-orang membicarakannya. Tapi kemudian berita itu seolah menguap begitu saja di tengah-tengah masyarakat yang terlalu sibuk dan pelupa, di tengah-tengah gencarnya berbagai peristiwa yang terus memborbardir kesadaran kita.

Saat menulis catatan ini, saya bertanya-tanya, salah apa Alit dan Ageng hingga keduanya sampai menjalani masa kanak-kanak seperti itu? Mereka tidak minta dilahirkan, tapi mereka dilahirkan hanya untuk menanggung kepahitan, penderitaan, kekerasan jalanan, dan hidup yang amat berat. Mereka hanya sebagian kecil anak-anak terluka di bawah langit, yang setiap hari merasakan pedihnya kelaparan, perihnya kesepian, pahitnya penderitaan.

Di antara bayi-bayi yang terus lahir setiap hari, di sudut-sudut kehidupan kita ada anak-anak terluka yang bersabung nyawa demi meneruskan hidup, karena orangtua yang melahirkannya tak mampu memberi hidup. Mereka ada di mana-mana, setiap hari bertambah banyak, dengan luka-luka menganga yang mungkin tak terlihat, dengan darah dan nanah yang bercampur air mata.

Dan kenyataan itu pun sepertinya belum mampu membuka mata kesadaran banyak orang, hingga setiap hari bayi-bayi tak berdosa lain dilahirkan tanpa tanggung jawab, lalu mereka tumbuh besar bersama rintih kelaparan, ancaman kekerasan, perasaan terbuang, dan hidup tanpa masa depan. Mereka lahir hanya untuk digilas roda hidup, mereka hidup hanya untuk ditikam belati nasib.

Saya tahu bagaimana persisnya pikiran dan perasan anak-anak semacam itu—karena saya pernah menjadi bagian dari mereka. Saya tahu bagaimana rasanya kelaparan, seperti apa sulitnya hidup dalam penderitaan, dan bagaimana perihnya menanggung luka yang tak bisa dikatakan. Saya tahu bagaimana rasanya kesepian, merasa terbuang di jalanan, dan hidup tanpa harapan, lalu menangis sendirian. Bahkan sekarang, ketika saya telah jauh keluar dari hidup semacam itu pun, bekas lukanya belum juga sembuh.

Sekarang, saya telah menjalani hidup yang jauh berbeda dari masa kanak-kanak saya yang sangat pahit. Jika sekarang saya ditanya apakah mau dilahirkan kembali untuk menjalani kehidupan yang persis sama, maka saya akan menolak! Saya akan memilih tidak pernah dilahirkan sama sekali, daripada dilahirkan hanya untuk menjalani kehidupan seperti yang pernah saya jalani. Trauma akibat masa kecil yang rusak, jauh lebih mengerikan dari yang bisa kalian baca di koran-koran!

Karena kenyataan dan kesadaran semacam itulah yang membuat saya teramat peka setiap kali menyaksikan anak-anak terluka di sekeliling kita. Anak-anak yang menanggung beban yang seharusnya belum mereka tanggung, anak-anak yang menjadi korban kemiskinan dan penderitaan, anak-anak yang menjadi tumbal bodohnya peradaban, anak-anak yang menjadi martir bagi sakitnya kemanusiaan.

Dan di tengah-tengah tangis tak terdengar semacam itu pun, masih ada orang-orang sok bijak yang dengan jumawa menyatakan, “Tak perlu khawatir, banyak anak banyak rezeki.”

Coba katakan itu bertahun-tahun lalu ketika saya masih hidup di jalanan, dan mungkin saya akan menghantamkan batu ke mulutmu. Katakan itu pada Ageng dan Alit di Semarang—rezaki macam apa yang dimaksudkan. Atau katakan itu pada anak-anak telantar di sudut-sudut jalan, yang merintih kelaparan, menangis kesepian, terluka dan nelangsa di bawah hening rembulan.

Kemanusiaan kita sedang sakit. Dan catatan ini belum selesai.

Di Pangkuan Mbakyu

Dalam bayanganku, tidak ada yang lebih mendamaikan di dunia ini, selain terlelap di pangkuan mbakyu.

Saya Benci Hari Minggu!

Sebenarnya, saya benci semua hari libur—apalagi libur panjang.

Masalahnya sederhana. Hari libur membuat hal-hal penting diabaikan demi kegiatan sia-sia bernama liburan. Padahal saya sangat cinta kerja keras, dan membenci liburan!

Peradaban dunia dan umat manusia pasti akan jauh lebih mulia, kalau saja tidak ada hari libur, agar kita bisa selalu bekerja.

Rabu, 21 Mei 2014

Relasi Penulis-Penerbit

Berjuang, menangis, dan gigihlah menulis.
Jangan lupa pula untuk mencintainya.
Gregory Poirier


Seorang editor mengeluh di Twitter, mengenai hubungannya dengan seorang penulis. Saya kurang tahu bagaimana masalah yang terjadi. Namun, berdasarkan pemahaman saya atas tweet-nya, editor itu mengeluhkan tidak berimbangnya keleluasaan penulis dan penerbit dalam menyampaikan uneg-uneg. Menurut si editor, seorang penulis bisa leluasa menyampaikan keluhannya mengenai sebuah penerbit secara terbuka di blog atau media lain. Di lain pihak, penerbit merasa tidak bisa seleluasa itu.

Ketika seorang penulis merasa kecewa pada sebuah penerbit—apa pun alasannya—si penulis merasa bebas dan merasa berhak menyampaikan keluhannya di mana saja secara terbuka. Sementara penerbit tidak bisa seperti itu. Ketika sebuah penerbit merasa kecewa pada seorang penulis—juga apa pun alasannya—mereka lebih memilih untuk diam, atau membicarakannya secara tertutup dengan si penulisnya langsung.

Tampaknya memang benar, karena sampai sekarang—setidaknya yang saya tahu—belum pernah ada penerbit yang secara terbuka menulis di web atau blognya mengenai kekecewaan mereka pada seorang penulis.

Tweet editor itu membuka mata saya mengenai hubungan atau relasi antar penulis dan penerbit, yang mungkin selama ini tidak sempat terpikirkan oleh kalangan penulis. Saya sendiri, sebagai penulis, tidak pernah memikirkan hal itu. Dalam posisi sebagai penulis, saya memandang industri penerbitan dari kacamata penulis. Padahal penerbit, dalam industri yang sama, tentu memiliki kacamata sendiri. Penulis bisa saja kecewa pada sebuah penerbit, dan penerbit pun bisa saja kecewa pada seorang penulis.

Yang menjadikan penerbit kesulitan menyampaikan kekecewaannya pada penulis, mungkin disebabkan karena posisi penerbit sebagai lembaga, sementara penulis menempati posisi perorangan.

Sekarang, pertanyaannya, benarkah penerbit tidak bisa menyampaikan keluhannya secara terbuka pada seorang penulis, sementara penulis merasa berhak menyampaikan keluhannya secara terbuka ketika kecewa pada sebuah penerbit?

Sebenarnya, penerbit bisa saja melakukan hal itu, meski tentu dengan cara yang elegan. Di masa sekarang, kebanyakan penerbit memiliki web atau blog. Sarana itu bisa saja digunakan untuk menyampaikan uneg-uneg penerbit, berkaitan dengan para penulis yang bekerjasama—atau yang akan bekerjasama—dengan mereka. Saya pikir tidak masalah, jika uneg-uneg itu disampaikan dengan cara yang santun, tanpa harus menyebut identitas untuk melindungi privasi yang bersangkutan.

Bahkan, uneg-uneg penerbit yang ditujukan untuk para penulis sebenarnya diperlukan, agar para penulis tahu apa sebenarnya yang diinginkan penerbit. Dalam hal ini, penerbit bisa menuliskan harapan-harapan mereka mengenai kerjasamanya dengan penulis, sebagaimana para penulis biasa mengharapkan penerbit ideal untuk menerbitkan naskah mereka. Dari situ, masing-masing pihak mengetahui apa yang diinginkan “calon pasangannya”, dan wujud kerjasama seperti apa yang baik.

Jika saya amati, web atau blog kebanyakan penerbit saat ini hanya berisi pameran sampul buku yang ditujukan untuk promosi, dan beberapa catatan ala kadarnya. Mungkin akan lebih baik jika sarana itu dimaksimalkan untuk menuliskan atau menyampaikan pikiran-pikiran penerbit—tidak hanya yang berkaitan dengan buku yang dijual atau diterbitkan, tapi juga yang berhubungan dengan para penulis yang bekerjasama—atau yang akan bekerjasama—dengan mereka.

Bagaimana pun, industri penerbitan digerakkan oleh penulis dan penerbit—untuk tidak bermaksud menafikan elemen lain. Tanpa penulis, penerbit tidak bisa berproduksi. Begitu pun, tanpa penerbit, penulis tidak bisa menerbitkan karyanya. Meski sekarang ada teknologi POD (Print On Demand) sehingga siapa pun bisa menerbitkan karyanya secara mandiri atau indie, tapi para penulis profesional tetap cenderung memilih penerbit mayor.

Artinya, penerbit membutuhkan penulis, sebagaimana penulis membutuhkan penerbit. Dalam relasi itulah kita melihat pentingnya kesalingpengertian pada masing-masing pihak, sehingga kerjasama yang terjadi bisa saling menguntungkan sekaligus memuaskan. Kerjasama yang baik bukan menang-kalah atau kalah-menang, melainkan menang-menang. Kedua pihak harus saling merasa puas dalam hubungan itu, dan tidak ada yang dirugikan.

Dalam perspektif yang sederhana, untuk mencapai tujuan itu sebenarnya tidak sulit. Hanya dibutuhkan dua hal—kejujuran dan keterbukaan.

Hubungan kerjasama akan mulai rusak ketika kejujuran terdistorsi, dan kekecewaan disampaikan di belakang punggung. Fakta pahitnya, kenyataan itulah yang kadang terjadi. Penerbit kadang memanipulasi kepercayaan penulisnya, dan si penulis menyampaikan kekecewaannya pada si penerbit secara tidak langsung. Atau sebaliknya, si penulis melanggar perjanjian kerjasama mereka, dan penerbit kebingungan menghadapinya.

Para pelaku industri penerbitan tentunya paham bahwa relasi penulis-penerbit memang rentan kecurangan. Bagaimana pun, kalau boleh ngomong blak-blakan, penerbit bisa saja mencurangi jumlah buku yang dicetak sehingga mengorupsi royalti si penulis. Mereka bisa saja menyatakan mencetak lima ribu eksemplar, padahal kenyataannya yang dicetak delapan ribu eksemplar.

Sebaliknya, penulis juga bisa mencurangi penerbit dengan berbagai cara. Dari menulis naskah yang mirip, sampai penggandaan penerbitan (satu naskah yang sama diterbitkan dua penerbit berbeda secara sengaja). Kenyataan itu pernah terjadi—sebuah buku dengan materi atau isi yang persis sama seratus persen, tapi diterbitkan dua penerbit berbeda, dalam waktu nyaris bersamaan. Anehnya, masing-masing penerbit buku tersebut tidak menyadari kenyataan itu.

Untuk menghindari kemungkinan negatif semacam itulah dibutuhkan kejujuran dan keterbukaan. Karena tujuan itu pula, ada penerbit yang sampai menambahkan pasal khusus dalam perjanjian penerbitan, yang bunyinya kira-kira seperti ini, “Jika penulis merasa ragu terhadap data penjualan bukunya, penulis berhak menggunakan jasa akuntan publik untuk melakukan pengecekan atas data yang kami berikan.”

Melalui pasal itu, penerbit seolah menyatakan, “Kami menjamin bahwa kami penerbit jujur. Namun, kalau penulis masih merasa ragu, silakan gunakan akuntan publik untuk memverifikasi kejujuran kami.”

Saya percaya bahwa jika kita jujur pada seseorang, dia pun akan berusaha jujur kepada kita. Sebagaimana kalau kita terbuka pada seseorang, dia pun akan terbuka pada kita. Meski tentu saja kadang ada anomali, karena ini bukan rumus eksak. Tetapi, bagaimana pun, kita selalu berupaya menghormati kejujuran dengan kejujuran yang sama, sebagaimana kita selalu berusaha mengimbangi keterbukaan seseorang dengan keterbukaan yang sama. Begitu pula dengan relasi penulis-penerbit.

Dalam beberapa kasus, kadang ada penulis yang mengetahui penerbit telah mencuranginya. Karena si penerbit tidak terbuka, si penulis pun tidak terbuka. Si penulis kecewa, tapi diam saja. Alih-alih menyatakan kekecewaannya terus terang kepada si penerbit, dia mengumbar kekecewaannya di belakang punggung penerbit dengan membukakannya di mana-mana. Mungkin si penulis salah, tapi si penerbit yang lebih dulu memulai kesalahan.

Sebaliknya, dalam beberapa kasus, kadang memang ada penulis yang terlalu “rewel”—biasanya penulis pemula atau bukan profesional, sehingga kurang tahu dunia penerbitan.

Meski penerbit telah melakukan segalanya dengan baik dan jujur, si penulis tetap saja bawel. Kalau bukunya tidak laku, dia menyalahkan penerbit, padahal dia tidak mau membantu promosi sedikit pun. Kalau ada kritik dari pembaca, dia menyalahkan penerbit, padahal dia sama sekali tidak memberikan saran atau masukan apa pun untuk bukunya. Meski penerbit sudah jujur dan terbuka, dia malah ribut di belakang.

Karenanya, sekali lagi, unsur penting dalam hal ini adalah kejujuran dan keterbukaan, karena bagaimana pun penulis dan penerbit saling membutuhkan.

Jika penerbit sudah berusaha jujur dan terbuka, namun penulis masih merasa kecewa, sampaikan secara langsung pada penerbit, sehingga terjadi komunikasi yang sehat. Begitu pun, kalau penerbit ingin melakukan sesuatu menyangkut naskah, dan kebetulan hal itu belum diatur tersendiri dalam perjanjian penerbitan, sampaikan hal itu pada si penulis, agar tidak ada pihak yang kecewa atau merasa dirugikan.

Relasi penulis-penerbit sebenarnya sangat mudah dipahami, sebagaimana kita memahami hubungan sepasang pacar. Keduanya saling membutuhkan. Jika salah satunya merasa “sok tidak butuh” dan kemudian berlaku seenaknya pada si pasangan, maka hubungan itu pun akan retak.

Memang, di dunia ini—khususnya di negara ini—ada ribuan penulis. Tetapi, kalau ingin tahu, ada banyak penerbit yang kesulitan mendapatkan penulis yang mau bekerjasama dengan mereka. Sebaliknya, di negeri ini memang ada banyak penerbit. Tetapi hal sama juga berlaku—ada banyak sekali penulis yang kesulitan mendapatkan penerbit untuk menerbitkan karyanya.

Karenanya, sungguh tolol jika ada penulis yang menyia-nyiakan kepercayaan penerbit yang telah mau bekerjasama dengan mereka, sama tololnya dengan penerbit yang memanipulasi kepercayaan penulisnya.

Mbakyufilia

Seorang bocah yang sangat akademis berkata pada saya, “Kalau orang dewasa menyukai anak-anak di bawah umur, disebut paedofilia. Nah, kalau kamu—bocah yang menyukai wanita dewasa—kira-kira disebut apa, ya?”

“Mbakyufilia,” jawab saya mantap.

“Uhm... disebut apa?”

“Disebut mbakyufilia.”

“Mbakyufilia...?” Dia menatap saya dengan heran, seperti baru mendengar istilah itu. “Kedengarannya keren.”

“Tentu saja!” saya menyahut dengan jumawa. “Segala hal yang berhubungan dengan mbakyu selalu keren!”

“Begitu, ya.” Dia mengangguk dengan ragu. “Uhm... istilah itu sudah baku?”

“Sudah, dong. Kenapa kamu belum pernah dengar?”

“Jadi, sudah ada paper yang khusus mengkaji hal itu—mbakyufilia?”

“Sudah,” jawab saya pede.

“Boleh tahu judul papernya? Biar nanti bisa kupelajari.”

“Judulnya, Tinjauan dan Studi Peranan Mbakyufilia Dalam Peradaban Umat Manusia.”

Lalu dia mimisan.

Noffret’s Note: Nasi Goreng

Biasa deh. Penjual nasgor tuh kalau nggak ditunggu, bolak-
balik lewat. Kalau ditunggu, nggak ada satu pun yang nongol!
—Twitter, 7 September 2013

Membeli nasi goreng yang lewat depan rumah tuh
seperti berjudi. Bisa dapat yang enak, bisa pula kena apes;
nasi gorengnya sangat tidak enak!
—Twitter, 9 Juni 2013

Orang yang tak bisa menggoreng telur hingga matang
dengan baik seharusnya tidak pede jualan nasi goreng.
—Twitter, 9 Juni 2013

Yang disebut “menyanyi” tidak sekadar menyanyi.
“Menulis” tidak sekadar menulis. Begitu pun nasi goreng,
tidak sekadar nasi yang digoreng.
—Twitter, 9 Juni 2013

Ada nyanyian sumbang, ada tulisan buruk, ada film jelek, pun
ada nasi goreng yang tidak enak. Semuanya tidak kita inginkan.
—Twitter, 9 Juni 2013

Penyanyi pemula, penulis pemula, sineas pemula,
semuanya melewati masa-masa latihan. Sayangnya,
pembuat nasi goreng pemula langsung jualan.
—Twitter, 9 Juni 2013

Menyanyi tidak sekadar berbekal notasi musik,
menulis tidak sekadar berbekal kertas.
Membuat nasi goreng juga perlu resep, bumbu, keahlian.
—Twitter, 9 Juni 2013

Jika lagu terdengar sumbang, salahkan penyanyinya.
Jika tulisan sulit dipahami, salahkan penulisnya.
Jika nasi goreng tidak enak, well....
—Twitter, 9 Juni 2013

Kita memang tak bisa lepas dari selera per orang.
Tetapi, dalam karya apa pun, selalu ada standar baik
dan buruk. Begitu pula nasi goreng.
—Twitter, 9 Juni 2013

Memakan nasi goreng yang tidak enak itu seperti
menikmati lagu yang sangat tidak enak didengar.
Seperti film buruk yang salah kasting.
—Twitter, 9 Juni 2013

Bagaimana membuat nasi goreng yang enak?
Itu bukan tugas pembeli. Pembuat dan penjualnya
yang seharusnya tahu. Hak pembeli adalah menikmati.
—Twitter, 9 Juni 2013

Penyanyi harus menyanyi dengan indah.
Penulis harus menulis dengan bagus. Pembuat nasi goreng
juga harus membuat nasi goreng yang enak.
—Twitter, 9 Juni 2013

Segala hal yang buruk seperti retakan kecil di gelas kaca.
Gelas tetap utuh, tapi ada cela.
Begitu pun nasi goreng yang tidak enak.
—Twitter, 9 Juni 2013

Well, yang barusan itu bukan kultwit soal nasi goreng.
Itu pelampiasan kejengkelan.
Terpujilah siapa pun yang bisa bikin nasi goreng enak!
—Twitter, 9 Juni 2013


*) Ditranskrip dari timelie @noffret.

Jumat, 16 Mei 2014

Kuntilanak di Kantor (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Di luar dugaan, dia semakin erat memeluk begitu saya mengulang ucapannya. Sambil terus melangkah berdampingan, saya semakin bingung dan makin khawatir. Bingung, karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dan khawatir, karena saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan wanita ini. Dia seperti tidak mau melepaskan pelukannya sedikit pun, tidak mau menjelaskan apa pun, dan hanya melangkah mengikuti saya sambil terus berbisik mengajak keluar dari sana.

Langkah kami sampai di ruang jaga, dan beberapa petugas di sana menatap kami dengan tatapan aneh. Mereka pasti ingat, tadi saya naik sendirian. Dan sekarang saya turun bersama seorang wanita yang memeluk dengan erat. Diam-diam saya ingin berteriak, “OH, TOLONG, INI TIDAK SEPERTI YANG KALIAN LIHAT...!!!”

Tapi saya bisa apa?

Sebenarnya, tadi, saya sempat kepikiran untuk menyerahkan wanita ini pada petugas di sana, agar tahu duduk perkara yang terjadi. Tapi dia benar-benar tidak mau melepaskan saya. Dia baru mulai tampak lega, dan perlahan-lahan mau melepaskan pelukannya, setelah kami berada di luar kantor. Dia terus mengikuti saya menuju mobil Dimas yang terparkir di sana.

Di dalam mobil, dia duduk dengan wajah lelah. Saya mencari-cari botol minuman, lalu menyerahkannya. Dia meneguknya sampai napasnya agak tenang. Tapi dia belum menjelaskan apa pun. Diam-diam saya berpikir untuk berkata, “Mbak, gimana kalau kita nyari hotel saja, biar lebih nyaman?” Tapi kemudian saya ingat, kami bukan muhrim.

Jadi, yang saya katakan kemudian adalah, “Mbak, bisa ceritain apa yang terjadi? Kenapa sampai panik gitu?”

“Oka-oka,” ujarnya seperti tanpa sadar. “Aku lihat oka-oka. Tadi ada oka-oka...”

Saya kembali kebingungan. “Uhm... oka-oka tuh, apa?”

“Mas!” tiba-tiba dia seperti marah. “Kita nggak boleh ngomongin itu!”

Akhirnya, karena bingung campur kesal, saya pun menyulut rokok, dan membiarkannya. Setelah paniknya reda, pikir saya, mungkin dia bisa menceritakan lebih jelas.

Wanita itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya kembali meneguk botol minuman tadi, kemudian melihat jam di dashboard. Lalu seolah baru sadar, “Ya ampun!” ujarnya tiba-tiba. “Udah jam sembilan!”

Kemudian, tanpa menjelaskan apa pun, dia berkata, “Mas, bisa nemenin nyari taksi?”

“Nyari taksi?” sahut saya bingung.

“Ya, di depan situ.”

Rupanya wanita ini benar-benar ketakutan. Bahkan untuk menunggu taksi di depan komplek kantor pun dia minta ditemani. Maka saya pun segera mengangguk, lalu kami melangkah ke luar komplek kantor.

“Mbak,” ujar saya perlahan, “situ baik-baik aja?”

“Ya, sekarang udah agak baikan,” sahutnya sambil terus melangkah. Kemudian, seperti berkata pada diri sendiri, dia menggumam, “Besok-besok nggak sudi kalo lembur lagi!”

Sebuah taksi pas lewat saat kami sampai di depan. Wanita itu menatap saya sungguh-sungguh, dan berkata, “Makasih ya, Mas. Bener-bener makasiiih.”

“Hati-hati, Mbak,” ujar saya melepas kepergiannya.

Dia mencoba tersenyum. Kemudian masuk ke taksi yang segera melaju.

Sambil melangkah kembali menuju tempat parkir mobil, saya berpikir, pertemuan macam apa tadi itu. Seorang wanita yang tidak saya kenal, berlari panik dan histeris, memeluk dengan erat, dan ketakutan. Sampai kami berpisah, saya tetap tidak tahu apa yang terjadi, bahkan tidak tahu namanya. Satu-satunya hal yang saya tahu hanyalah oka-oka, dan saya masih belum paham apa itu oka-oka.

Ponsel saya bergetar. Panggilan dari Dimas.

“Di mana?” tanya Dimas di ponsel.

“Di mana lagi? Aku nunggu di tempat parkir.”

“Oke, aku turun sekarang.”

“Eh, Dim,” ujar saya perlahan, “uhmm... oka-oka tuh apa, sih?”

Di luar dugaan, Dimas langsung berteriak, “OH, SIALAN! KENAPA KAMU HARUS TANYA ITU WAKTU AKU MASIH DI SINI, SIH...???”

“Lhah, emangnya oka-oka tuh, apa?”

Tidak ada jawaban. Dimas telah mematikan ponselnya.

Beberapa saat kemudian, Dimas muncul dan segera masuk mobil sambil maki-maki. “Kenapa tadi tanya-tanya gitu waktu aku masih di dalam?!” tanyanya dengan jengkel.

“Emangnya kenapa?” tanya saya lugu. “Dan oka-oka tuh, apa?”

Dimas memastikan semua jendela mobilnya tertutup rapat sebelum menjawab, “Kuntilanak.”

“Hah...?” saya bengong. “Kuntilanak...?”

“Oka-oka tuh kuntilanak, dodol!” ujarnya sambil menghidupkan mesin. “Dan kenapa tiba-tiba kamu tanya soal itu?”

Saat mobil mulai melaju, saya pun menceritakan peristiwa yang tadi saya alami—saat masuk lift, dan tiba-tiba muncul wanita yang histeris, hingga kemudian saya melepaskan kepergiannya naik taksi.

“Uh, rupanya ada yang lihat penampakan lagi,” ujar Dimas dengan prihatin, mengomentari cerita saya.

Saya mengerutkan kening. “Penampakan...?”

Dimas lalu menceritakan, di kantornya sedang muncul kasak-kusuk tentang keberadaan kuntilanak. Semula, orang-orang di kantornya tidak ada yang percaya, meski kadang was-was jika dapat jatah lembur. Kasak-kusuk itu dimulai sejak seorang pegawai di sana mengaku melihat kuntilanak.

Ceritanya, waktu itu, dia sedang kerja lembur sampai cukup larut. Saat bermaksud menemui temannya di ruang sebelah, langkahnya dihadang sesosok makhluk yang ia gambarkan sebagai “wanita berwajah menyeramkan, memakai gaun putih panjang yang tampak kotor, dan menyeringai menakutkan.”

Pegawai yang mengaku melihat kuntilanak itu sangat ketakutan, tapi semula orang-orang lain belum terlalu yakin. Mereka orang-orang berpendidikan yang cukup rasional untuk memahami bahwa makhluk absurd semacam kuntilanak tidak mungkin keluyuran di kantor mereka yang modern. Tetapi, beberapa waktu kemudian, ada pegawai lain yang juga melihat penampakan yang sama di kantor mereka, dan orang-orang di sana mulai gempar, meski semula hanya meributkannya secara kasak-kusuk di antara rekan sejawat. 

Di kantor itu sering ada pegawai yang lembur sampai malam, bahkan kadang sampai cukup larut, dan semula tidak mengkhawatirkan apa pun. Tetapi, sejak kasak-kusuk kemunculan kuntilanak, mereka mulai khawatir dan ketakutan jika kebetulan mendapat jatah lembur. Menurut Dimas, sudah ada beberapa orang yang melihat penampakan kuntilanak di kantor mereka saat sedang menyelesaikan pekerjaan di malam hari. Gara-gara itu pula, gosip dari mulut ke mulut pun segera menyebar luas, hingga diketahui banyak orang di luar kantor mereka.

“Terus-terang, aku juga was-was tiap dapat lembur,” ujar Dimas sambil terus menyetir.

Saya mencoba menghibur, “Yeah, paling kuntilanak, kan?”

“PALING...???” Dimas melotot. “Emang kamu berharap lihat apa? Genderuwo? Pocong? Oh, sialan, sekarang aku jadi merinding!”

“Dan oka-oka itu?” ujar saya mengingatkan. “Kenapa kalian menyebutnya oka-oka?”

“Itu sebutan kami di kantor,” jawab Dimas. “Yeah, namanya orang ketakutan, kita sengaja kasih nama lain, biar nggak terlalu takut.”

Penjelasan dan cerita Dimas mengenai keberadaan kuntilanak itu membuat saya termenung. Bagaimana pun, kantor mereka adalah bangunan modern, berada di pusat kota yang ramai dan sibuk—bukan gedung tua tak terawat di tempat angker yang sepi atau terpencil. Apa iya makhluk absurd semacam kuntilanak sampai keluyuran ke situ?

Ketika saya utarakan hal itu pada Dimas, dia menyahut, “Kayaknya mindset-mu soal makhluk begituan perlu di-update. Bahkan Gedung Putih di Amrik pun konon ada hantunya.”

“Omong-omong, kamu sendiri udah pernah lihat kun... eh, oka-oka, di kantormu?”

“Belum,” jawab Dimas, “dan semoga nggak akan pernah!”

“Uhmm... kalau umpama suatu malam kamu lihat dia, gimana, Dim?”

“Oh, sialan, kenapa kamu tanya gitu, sih?”

“Lhah, kan umpama. Gimana pun, kamu harus antisipasi, kan? Kamu kerja tiap hari di sana, dan sering lembur. Selalu ada kemungkinan kamu dapat jatah untuk lihat dia.”

“Errr...” Dimas tampak bimbang. “Kita pulang aja, yuk.”

....
....

Malam itu, kami tidak jadi keluyuran.
 

Kuntilanak di Kantor (1)

Waktu berjalan seperti hantu melintas di kegelapan malam.
@noffret


Selama ini, saya sering mendengar orang menyatakan, “Gedung DPR banyak setannya,” atau “gedung kementerian”, atau “gedung pemerintah” lainnya. Tetapi, selama ini, saya tidak pernah mengartikannya secara harfiah. Ternyata, “setan” yang dimaksud dalam kalimat semacam itu kadang benar-benar harfiah, dan bukan cuma kata kiasan. Kisah berikut ini di antaranya.

Sepupu saya—sebut saja namanya Dimas—bekerja di sebuah kantor pemerintah. Suatu hari, saya datang ke rumahnya, dan kami janjian untuk keluar pukul 19.00 nanti malam. Tetapi, sampai pukul 18.50, dia belum juga pulang dari kantornya. Kadang-kadang dia memang bekerja lembur sampai malam, atau bisa jadi waktu itu sedang terjebak macet di jalan.

Maka saya pun menghubungi ponselnya. Dimas menjelaskan, saat itu dia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi, dan mungkin acara kami agak terlambat. Saya bilang, tidak masalah, kita bisa keluar lain waktu. Tapi Dimas menyahut, “Gini aja. Karena aku pasti akan terjebak macet kalau pulang dulu, gimana kalau kamu yang ke sini, biar menghemat waktu. Minta Pak Noto ngantar kamu ke sini, ntar kita jalan pakai mobilku.”

Pak Noto adalah sekuriti di rumah Dimas. Menanggapi saran tadi, saya lalu meminta Pak Noto untuk mengantar ke kantor Dimas. Perjalanan itu memang cukup menghabiskan waktu karena macet di mana-mana, seperti yang tadi dikhawatirkan Dimas. Sekitar satu jam kemudian, kami baru sampai di sana. Pak Noto melepaskan saya di halaman kantor, dan saya pun menghubungi Dimas untuk memberitahu telah sampai.

“Aku di lantai empat,” ujar Dimas di ponsel. “Kamu bisa minta diantar petugas jaga di depan.”

Jadi itulah yang kemudian saya lakukan. Saya mendatangi pos jaga di sana, dan memberitahukan tujuan. Ada beberapa petugas di sana, dan seorang dari mereka kemudian mengantarkan saya ke atas. Menggunakan lift kantor, kami sampai di lantai 4, tempat Dimas sedang bersetubuh dengan setumpuk berkas. Penjaga tadi kembali turun, dan saya menemui Dimas yang tampangnya sangat kusut.

“Kelihatannya masih sibuk,” ujar saya mengomentari tumpukan berkas di mejanya, sementara monitor besar di depannya tampak menyala.

“Lumayan,” sahut Dimas. “Kamu bisa nunggu aku, sambil buka-buka internet atau main tetris di komputer. Pilih aja yang mana, dan nyalain. Kalau ingin kopi, kamu bisa bikin sendiri di sono.”

Saya mengangguk. Ruangan kantor itu luas, namun tampaknya para pegawai sudah pulang. Tinggal Dimas dan tiga orang lain yang masih sibuk bekerja di sana. Saya duduk di salah satu kubikel yang kosong, menyalakan komputer, dan masuk internet. Keluyuran di dunia maya selalu mampu menjadi pengisi waktu luang.

Sekitar setengah jam kemudian, mulut saya mulai asam. Maka saya pun mendekati dispenser, dan menyeduh kopi. Setelah menghirup kopi, saya mengeluarkan rokok untuk menyalakannya, tapi Dimas buru-buru berteriak, “Hei, hei, hei, dilarang merokok di sini! AC di mana-mana!”

Saya baru sadar kalau seluruh ruangan di sana terdapat AC. Sambil memasukkan kembali bungkus rokok ke saku, saya maki-maki, “Kantor macam apa yang melarang orang merokok di dalamnya!”

“Kantor pemerintah!” sahut Dimas sambil cengengesan.

Akhirnya, karena ingin merokok, saya pun memutuskan untuk keluar. Lagi pula, kata Dimas, pekerjaannya akan selesai sebentar lagi, jadi dia bisa segera menyusul. Saya meminta kunci mobilnya, agar bisa menunggu dalam mobil. Setelah itu saya meninggalkan ruang kantornya, dan menuju tempat lift untuk turun. Pada waktu itulah kisah yang sangat horor terjadi....

Selama berada di kantor yang luas itu, saya tidak berpikiran buruk apa pun, karena tidak tahu apa-apa tentang kantor itu. Jadi, ketika melangkah sendirian dari ruang Dimas ke tempat lift—yang jaraknya cukup jauh—saya pun santai saja. Tetapi, begitu memasuki lift, dan pintu akan menutup untuk mengantarkan saya ke bawah, muncul seorang wanita yang berlarian dengan tampang panik dan histeris.

“Mas! Mas!” teriaknya dengan panik sambil berlari ke arah saya. “Tahan pintunya! Tahan pintunyaaaaaa!”

Saya pun menunggunya masuk lift. Begitu dia masuk dan pintu lift menutup, wanita itu langsung memeluk saya dengan erat, seolah kami sepasang kekasih yang lama tak berjumpa. Tentu saja saya bingung dan ikut panik, karena bagaimana pun kami bukan muhrim.

((((((BUKAN MUHRIM???))))))

Uhmm... maksud saya, bagaimana pun kami kan tidak saling kenal. Saya tidak tahu siapa wanita ini. Kalau pun dia mengenal saya—dan sepertinya itu tidak mungkin—tentunya dia juga tidak perlu memeluk saya seerat itu. Diam-diam saya melirik ke langit-langit lift, mencari-cari kemungkinan adanya kamera pengintai.

“Mbak, Mbak,” ujar saya perlahan dengan tidak enak.

Tapi dia terus memeluk erat. Sebenarnya, dia memeluk dengan panik, karena tampak ketakutan. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya diam sambil memejamkan mata, sementara kedua tangannya melingkari tubuh saya dengan kuat. Sambil menunggu lift mengantarkan kami ke bawah, diam-diam saya memperhatikannya. Wanita itu mungkin berusia menjelang 30-an, berkulit putih bersih, berwajah manis, dan bertipe mbakyu. Tetapi yang jelas, kami bukan muhrim.

Saat lift sampai di bawah dan pintu membuka, saya menepuk tangannya. Dia membuka mata, dan berbisik panik, “Udah sampe? Udah sampeeee...?”

Wanita ini sedang ketakutan, pikir saya. Sesopan mungkin saya berusaha melepaskan tangannya yang masih memeluk, tapi dia tampaknya tidak sadar. Jadi dia terus saja memeluk saya dengan erat, sementara kami mulai melangkah meninggalkan lift.

“Mbak,” saya mencoba mengajaknya ngomong, untuk mengurangi ketegangan, “ada apa, sih?”

Dia tidak menjawab, meski mengikuti langkah saya sambil terus memeluk erat. Yang ia katakan cuma, “Oka-oka... kita keluar... kita keluar... oka-oka...”

“Oka-oka...?” sahut saya bingung.

Lanjut ke sini.

Puncak Hidup

Puncak kedamaian hidup, kupikir, adalah jika kita bisa beristirahat dengan tenang.

Cuma itu.

Sabtu, 10 Mei 2014

Cinta Tak Selesai

Aku belajar, aku tak bisa memaksa orang lain
untuk jatuh cinta kepadaku.
@noffret


Waktu kelas satu SMA, saya sekelas dengan Martha (bukan nama sebenarnya). Karena seringnya ketemu di perpustakaan, kami pun jadi akrab. Dia murid yang pintar. Jadi, sering kali saya nyontek dia kalau kebetulan ada PR. Kalau suatu hari saya bolos sekolah, biasanya saya juga akan nitip surat izin lewat Martha. Selama setahun di kelas satu, kami menjalin pertemanan yang menyenangkan.

Saat naik kelas dua, Martha masuk jurusan IPA, sementara saya masuk IPS. Ruang kelas kami kebetulan cukup jauh. Jadi sejak itu kami pun mulai jarang ketemu, selain di perpustakaan waktu istirahat sekolah. Tapi kami masih berteman, dan masih senang bercanda bersama.

Di kelas dua, saya duduk sebangku dengan Firdan (juga bukan nama sebenarnya). Sebelumnya, di kelas satu, Firdan beda kelas dengan saya—dia di kelas B, saya di kelas D. Tapi kami saling kenal, lalu nasib mempertemukan kami untuk duduk satu meja di kelas dua IPS. Dan nasib itu pula yang kemudian mengantarkan saya pada kisah cinta… yang kemudian tak selesai.

Suatu hari, ketika sedang bercakap-cakap di perpustakaan, Martha membuka pembicaraan mengenai Firdan. Dia menanyakan pendapat saya tentang Firdan, dan saya pun menjawabnya dengan jujur. Setahu saya, Firdan anak baik, tidak sombong, meski saya tidak tahu apakah dia rajin menabung atau tidak. Yang jelas, Firdan bernilai positif di mata saya.

“Dia udah punya pacar?” tanya Martha suatu kali.

Saya menjawab jujur, “Setahuku sih belum.”

“Hmm... kira-kira cewek gimana sih yang dia inginkan?”

“Uhm, nggak tahu, tuh. Mau aku tanyain ke orangnya?”

Martha cuma tersenyum.

Suatu hari, Martha membukakan kisah hatinya. Ternyata, sejak kelas satu, dia telah naksir Firdan. Tetapi, karena tidak sekelas, dia agak kesulitan menunjukkan perhatian bahwa dia naksir Firdan. Sekarang, karena saya duduk satu meja dengan Firdan, Martha pun berharap saya bisa menyampaikan perasaannya pada cowok itu, meski tentu tidak secara langsung.

Saya memahami maksud Martha. Dan saya menjanjikan untuk melakukan misi itu sebaik-baiknya. Saya akan ikut senang kalau Firdan bisa jadian dengan Martha.

Jadi, ketika suatu hari saya ngobrol berdua dengan Firdan di depan kelas, dan pembicaraan kami sampai ke topik cewek, saya pun mancing-mancing Firdan. Dia menanyakan tipe cewek seperti apa yang saya impikan, dan saya menjawab jujur.

Lalu saya tanya ke Firdan. “Kalau kamu, Fir? Sukanya cewek yang gimana?”

“Uh, nggak tahu,” jawabnya.

“Masak nggak tahu?”

“Maksudnya, aku sulit gambarin gimana-gimananya. Pokoknya kalau aku nemu yang pas, aku akan tahu kayak apa cewek yang aku impikan.”

“Hmm… kalau cewek tipe Martha, gimana?”

“Martha temenmu itu?”

“Iya. Kamu suka yang tipe kayak dia?”

Firdan tersenyum. “Kayaknya nggak, deh. Dia tuh… apa, ya? Kayaknya dia tuh terlalu kelihatan pinternya. Jadinya malah bikin takut.”

Saya melongo. Dan diam-diam membatin, mungkin Martha perlu kelihatan sedikit tolol untuk menarik perhatian cowok ini.

Firdan adalah cowok kalem yang tidak banyak tingkah. Di sekolah kami, tidak banyak yang mengenal namanya, karena dia memang “low profile” dalam arti sebenarnya. Dia ramah, murah senyum, dan agak pendiam. Sebaliknya, Martha adalah cewek populer di sekolah. Karena tampilan fisiknya, juga karena kecerdasannya. Seperti yang tadi dibilang Firdan, “dia tuh terlalu kelihatan pinternya”.

Berhari-hari setelah obrolan kami di depan kelas itu, Firdan dan saya tidak membahas topik itu lagi. Tapi Martha tak pernah berhenti bertanya pada saya tentang Firdan, setiap kali kami bertemu di perpustakaan. Dari “gimana kabarnya?” sampai “dia bener belum punya pacar, kan?”

Saya selalu berusaha menjawab jujur untuk setiap pertanyaan Martha, meski saya tidak ingin memberikan harapan kosong kepadanya. Jadi, saya berterus terang apa pun keadaan Firdan. Tapi saya kebingungan ketika Martha bertanya, “Da’, menurutmu, kira-kira gimana prospek jadian kami?”

Mungkin saya akan tertawa kalau mendengar pertanyaan semacam itu di masa sekarang. Tapi waktu itu saya masih SMA. Dan mendengar pertanyaan tentang “prospek jadian” waktu itu membuat saya membayangkan takdir dua manusia, tentang masa depan anak-anak mereka, hingga membayangkan nasib umat manusia kalau mereka sampai tidak jadian.

“Uh…” saya bingung menjawab pertanyaan Martha. “Nggak tahu, Mar.”

Tapi Martha rupanya sudah “kebelet” cinta. Dia berkata sungguh-sungguh, “Da’, bantuin aku, dong.”

“Bukannya selama ini aku emang bantuin?”

“Maksudku, bantuin aku biar bisa jadian sama dia.”

Sebenarnya, jika saya menilai Martha secara objektif dengan mata seorang cowok, dia bisa mendapatkan cowok lain yang jauh lebih baik dibanding Firdan. Dia cantik, pintar, dan salah satu murid terkenal di sekolah. Kalau dia masuk kantin, bocah-bocah di sekolah kami akan berebutan menyapanya, sementara sebagian yang lain akan memandanginya diam-diam. Saya sendiri—dalam hati mengakui—mau-mau saja jadi pacarnya, kalau dia mau!

Tapi cinta kadang-kadang menuju ke arah yang keliru. Cewek yang jadi pujaan banyak cowok itu justru jatuh hati pada cowok “biasa-biasa saja” yang—sepertinya—justru tak punya perasaan apa pun kepadanya.

Satu tahun berlalu, dan Martha masih memendam perasaannya kepada Firdan. Saya sudah berusaha menunjukkan pada Firdan—dengan cara halus sampai cukup terang-terangan—bahwa Martha jatuh hati kepadanya, tetapi sikap Firdan dingin-dingin saja. Bahkan, setelah tahu Martha naksir padanya, Firdan justru terlihat berusaha menghindari Martha. Suatu hari saya pernah memergoki Firdan akan masuk perpus, tapi kemudian segera berbalik begitu tahu di sana ada Martha.

Ada pepatah yang bilang, “Cowok tuh pemberani, tapi jadi pemalu ketika jatuh cinta. Cewek tuh pemalu, tapi jadi pemberani ketika jatuh cinta.”

Mungkin pepatah itu memang benar. Setelah tahu saya tidak bisa membantunya lebih jauh, Martha akhirnya nekat mendekati Firdan secara langsung. Saat di kantin, misalnya, Martha akan mengambil tempat duduk di dekat Firdan, dan berusaha membuka percakapan dengan cowok itu. Tapi Firdan hanya menanggapi dingin.

Waktu itu ponsel belum semusim sekarang. Belum ada Twitter, Facebook, ataupun sarana lain yang memudahkan pedekate. Jadi, Martha meminta saya untuk mendapatkan nomor telepon rumah Firdan, dan saya memberikannya. Tetapi, setiap kali Martha menelepon ke rumah Firdan, selalu ada seribu satu alasan yang intinya Firdan tidak bisa menerima telepon Martha. Sepertinya, Firdan telah memesan orang di rumahnya agar semua telepon dari Martha tidak diteruskan kepadanya.

Sampai suatu hari, Firdan berkata sungguh-sungguh, “Da’, tolong temanmu dikasih tahu dong, jangan gitu terus.”

Saya memahami maksudnya. Upaya pendekatan yang dilakukan Martha telah cukup mengganggu Firdan, hingga ia tak lagi merasa nyaman. Tapi apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus berkata terus-terang pada Martha bahwa Firdan sama sekali tidak bisa mencintai atau menerima cintanya?

Oh, saya memang akhirnya menyatakan kepahitan itu. Kepada Martha, ketika kami hanya berdua di ruang perpus yang sepi, saya katakan dengan halus pada cewek itu, bahwa sepertinya Firdan tidak bisa menerimanya. Dengan halus pula saya memberikan saran kepadanya agar mencari cowok lain saja.

Tapi Martha tidak peduli. Salah satu penyakit orang pintar, kau tahu, adalah keras kepala. Dengan fasih dia malah berkata, “Mungkin kamu lupa, batu yang keras pun akhirnya berlubang setelah terkena tetesan air terus-menerus.”

Analogi yang hebat, pikir saya. Tapi mungkin Martha tak menyadari bahwa hati manusia ada kalanya jauh lebih keras dibanding batu yang paling keras, sebagaimana kepalanya sendiri yang jauh lebih keras dari batu keras. Jadi, seiring satu tahun lagi berlalu, Martha tetap keras kepala pada pendiriannya, pada cintanya. Sebagai teman, saya hanya bisa mendukung, dan diam-diam berdoa, semoga dua bocah aneh itu benar-benar bisa jadian—entah bagaimana caranya.

Sampai akhirnya waktu kelulusan tiba. Martha tetap belum jadian dengan Firdan, meski—berdasarkan pengakuannya sendiri—dia masih mencintai cowok itu dan tetap berharap untuknya. Selepas SMA, kami semua berpisah, mengejar nasib dan cita-cita. Dan sejak itu saya tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka.

Bertahun-tahun kemudian, SMA kami mengadakan reuni, dan dalam acara itu saya kembali bertemu teman-teman lama, termasuk dengan Firdan dan Martha. Ada banyak hal yang telah berubah—dari tampilan fisik, sampai status masing-masing orang. Dalam reuni itu kami tahu ada teman-teman yang masih kuliah, ada yang bekerja, ada pula yang telah menikah.

Firdan dan Martha termasuk yang sudah menikah… tapi dengan orang lain. Firdan menikah dengan wanita teman sekampusnya, sementara Martha menikah dengan lelaki lain. Dalam acara reuni itu, Firdan maupun Martha datang sendirian. Kami semua telah dewasa, dan mungkin telah melupakan semua kekonyolan yang dulu terjadi di masa SMA.

Ketika bertemu Martha, Firdan menyapa dengan sopan, sementara Martha tampak salah tingkah. Saya ada di sana. Dan menyaksikan keduanya, saya pun tahu ada cinta yang tak selesai di hati seorang anak manusia.

Kasihan

Suka kasihan tiap melihat orang yang sampai meluangkan banyak waktu demi berusaha mengusik orang lain. Kasihan, karena orang semacam itu pasti menyedihkan sekali hidupnya.

Kelompok Bukan Superhero

Dua bocah berwajah kembar menemui saya, dan salah satu dari mereka berkata, “Hei, pal, kudengar kau ingin menjadi Magneto?”

“Yeah,” saya menjawab. “Ada masalah?”

“Tentu saja tidak. Tetapi, well... mungkin kita bisa bergabung.”

“Bergabung?”

“Ya.” Lalu dia menjelaskan dengan ragu-ragu. “Begini. Aku ingin menjadi Lex Luthor...”

Saya menatapnya, memastikan tidak salah dengar. “Lex Luthor, eh?”

“Ya, Lex Luthor.” Lalu dia menunjuk temannya. “Dan temanku ini ingin menjadi Lord Voldemort.”

“Wow!” saya terperangah.

“Bagaimana menurutmu?”

“Well, amazing!”

Mereka tersenyum puas. Lalu si Voldemort berkata, “Jadi, kupikir kita bisa membentuk semacam... well, Kelompok Superhero—seperti Fantastic Four.”

“Tapi Magneto bukan superhero,” saya menjawab. “Begitu pun Lex Luthor dan Voldemort. Mereka, well... kalian tahu maksudku.”

“Ya, kau benar,” sahut Lex Luthor. “Kalau begitu, mungkin kita bisa membentuk Kelompok Bukan Superhero.”

....
....

Pada waktu itulah saya menyadari, mungkin ada yang salah di otak saya.

Minggu, 04 Mei 2014

Awal Menulis

Aku bodoh, miskin, dan gila.
Tapi aku menulis… dan itu mengubah segalanya.
@noffret


Ini kisah awal saya menekuni dunia kepenulisan. Saya menulis catatan ini untuk mengenang kembali saat-saat yang kini menjadi kenangan manis. Sebenarnya, saya suka menulis sejak SD. Tetapi awal menulis secara profesional saat di SMA—ketika mulai mengirimkan tulisan ke majalah.

Dulu, waktu saya masih ABG, ada majalah-majalah remaja yang bagus, dan saya pun suka membaca serta mengikutinya. Di antara majalah-majalah yang bagus itu, tiga yang sangat saya sukai adalah Mode, Ceria, dan majalah Anita.

Saya menyukai majalah Mode, karena, well, isinya keren—khususnya untuk saya yang waktu itu masih ABG. Melalui majalah itu saya tahu tren apa yang sedang berlangsung, perkembangan zaman seperti apa yang sedang terjadi. Jadi saya pun sering meminjam majalah itu dari teman.

Sedang alasan saya menyukai majalah Ceria dan Anita, karena dua majalah itu memuat banyak puisi serta cerpen yang dikirim para pembaca. Di tahun 90-an, ketika saya masih ABG, membaca majalah Ceria dan Anita adalah keasyikan luar biasa. Melalui kedua majalah itu, saya bisa menikmati cerpen-cerpen bagus—suatu hal yang kemudian membuat saya terobsesi.

Benar, saya terobsesi untuk dapat menulis cerpen yang bisa dimuat majalah itu. Pada waktu itu, memiliki karya yang dimuat majalah Anita atau Ceria adalah suatu prestise bagi remaja yang suka menulis. Kedua majalah itu memiliki redaktur hebat, dan cerpen-cerpen yang dimuat di dua majalah itu pun bukan karya-karya sembarangan.

Di majalah Ceria, misalnya, redaktur cerpennya Nina Pane (salah satu penulis terkenal Indonesia), sedang redaktur puisinya Sutardji Calzoum Bachrie, penyair yang dianggap sebagai presidennya kaum penyair di Indonesia. Jadi kita bisa membayangkan seperti apa kualifikasi yang dibutuhkan untuk dapat menembus dinding seleksi mereka.

Dan memang, menembus dinding seleksi majalah-majalah itu agar karya kita dimuat di sana bukan pekerjaan mudah. Pertama; karena taraf kualifikasinya sangat tinggi, dan kedua; karena tingkat persaingannya sangat ketat.

Majalah-majalah yang saya sebutkan itu terbit dua minggu sekali, sementara setiap hari mereka mendapat kiriman puluhan naskah yang terus menumpuk. Sering kali, seorang pengirim naskah harus sabar menunggu sampai 6 bulan (setengah tahun) hanya untuk memperoleh kepastian apakah karyanya diterima (untuk dimuat) atau ditolak (dan dikembalikan).

Karenanya, mengirim naskah dengan harapan dapat dimuat di majalah pada masa itu tidak hanya membutuhkan perjuangan yang keras, tetapi juga kesabaran luar biasa. Dua hal itulah yang kemudian—secara tak langsung—menempa banyak calon penulis muda Indonesia pada waktu itu.

Ada kalanya, majalah Anita mengadakan sayembara penulisan cerpen dengan hadiah mesin ketik. Pada masa itu, hadiah mesin ketik mungkin setara dengan satu set komputer atau laptop di masa sekarang. Karenanya, ketika sayembara semacam itu diadakan, peminatnya pasti membludak. Jumlahnya tidak lagi ratusan, tapi ribuan. Dan, biasanya, saya termasuk yang ikut. Dan, biasanya pula, saya termasuk yang tidak menang.

Tapi saya senang.

Saya senang meskipun tidak juara atau menjadi pemenang dalam lomba itu. Bahkan, ketika berkali-kali saya mencoba mengirimkan naskah ke majalah dan berkali-kali pula ditolak, saya tetap merasa senang. Jangan tanya mengapa, karena saya sendiri tidak tahu jawabannya.

Yang saya tahu, saya senang karena menyadari bahwa saya sedang berproses dalam mengejar sesuatu, atau berproses untuk menjadi sesuatu. Padahal, kalau ingin tahu, saya sampai tidak jajan berhari-hari agar dapat membeli kertas, kemudian meminjam mesin ketik milik teman, agar bisa menulis naskah-naskah yang kemudian ditolak. (Omong-omong, waktu itu komputer belum musim, dan rental pengetikan belum ada).

Jadi, itulah yang saya lakukan—menyimpan uang jajan selama berhari-hari, kemudian uangnya saya gunakan untuk membeli kertas HVS, lalu begadang beberapa malam untuk mengetik naskah di mesin ketik yang saya pinjam dari teman. Biasanya, suara mesin ketik yang keras di malam hari itu akan terdengar para tetangga sampai radius beberapa meter.

Ketika naskah cerpen yang saya bikin telah jadi, saya harus menyisihkan uang jajan lagi—kali ini untuk membeli amplop, perangko pengiriman, dan perangko balasan untuk pengembalian (jika naskah ditolak dan dikembalikan). Omong-omong, waktu itu internet belum ngetren, dan pengiriman naskah lewat e-mail masih menjadi bagian dari film fiksi ilmiah.

Seperti yang dikatakan tadi, saya senang melakukannya. Biasanya, enam bulan setelah mengirimkan naskah, saya pun akan tahu nasib naskah itu. Yang biasanya terjadi, sepulang sekolah saya akan mendapati sebuah amplop berisi naskah yang dikembalikan—naskah yang saya kirim enam bulan sebelumnya.

Ketika mendapati hal itu, rasanya saya ingin menangis sambil tertawa. Ingin menangis, karena semua perjuangan, kerja keras, dan semua upaya yang telah saya lakukan ternyata sia-sia. Tapi saya juga ingin tertawa, karena…

…karena saya bisa mulai menulis lagi, dan berharap lagi, dan bermimpi lagi, dan berkata pada diri sendiri, “Kau bisa berhenti sekarang dan membuang mimpimu. Tetapi, kau bisa mulai kembali, dan… siapa tahu ternyata karyamu selanjutnya berhasil terbit?”

Maka saya pun kembali menulis cerpen atau puisi di buku pelajaran saya—mengarang lagi, mencorat-coret lagi. Ketika cerpen atau puisi itu telah selesai dan sudah saya anggap bagus, saya pun mulai tidak jajan lagi agar dapat mengumpulkan uang untuk membeli kertas HVS. Setelah itu, saya akan meminjam mesin ketik milik teman lagi, dan mulai begadang lagi, mengetik lagi, dan tetangga-tetangga saya akan mulai mendengar suara ketak-ketik-keras sampai larut malam lagi.

Setelah karya itu selesai diketik, saya kembali tidak jajan untuk mengumpulkan uang buat membeli amplop dan perangko. Enam bulan kemudian… naskah itu ditolak dan dikembalikan lagi. Dan saya ingin menangis sambil tertawa lagi!

Dan prosesnya dimulai kembali—dari awal lagi.

Pada masa-masa itu, sejujurnya, ada bagian diri saya yang ingin menyerah, ingin berhenti dan tidak mencoba lagi. Tetapi, setiap kali ingin menyerah, setiap kali pula bagian diri saya yang lain berbisik, “Jangan membohongi dirimu sendiri. Kau tahu satu-satunya hal yang ingin kaulakukan di dunia ini hanyalah menulis. Jadi, ayo, menulislah lagi!”

Maka saya pun menulis lagi. Tidak jajan lagi. Meminjam mesin ketik lagi. Begadang lagi. Menunggu dengan harap-harap cemas lagi. Lalu… ditolak lagi. Dan setiap kali saya ingin menangis dan menyerah, setiap kali pula saya berkata pada diri sendiri, “Mungkin karyamu selanjutnya akan berhasil. Ayo coba lagi.”

Untuk setiap batang yang tumbuh, ada banyak benih yang mati. Jika kita menyebar sepuluh biji mangga, tidak ada jaminan sepuluh biji itu akan tumbuh semua.

Begitu pula proses menulis yang saya jalani. Untuk setiap karya yang berhasil terbit di majalah, ada puluhan karya lain yang ditolak. Tetapi penolakan demi penolakan itu, pada akhirnya, membuat saya belajar dan terus belajar—menulis dan menulis lebih baik lagi. Jika hari ini orang bertanya siapa guru menulis saya, maka guru menulis saya adalah penolakan-penolakan yang pernah saya terima.

Hari ini, saya telah cukup banyak menulis, artikel ataupun buku yang diterbitkan, fiksi maupun nonfiksi, di media cetak maupun internet. Dan saya masih suka menulis, masih terus menulis.

Kalau kau bertanya apakah saya senang, tentu saja saya senang. Menulis adalah satu-satunya pekerjaan yang dapat saya lakukan dengan perasaan senang dan cinta, dengan hati bahagia. Jika ada sesuatu yang paling ingin saya lakukan di dunia selagi hidup, maka itu adalah menulis.

Karena itulah saya melakukannya.

Mengapa Saya Menulis

Mengapa saya menulis? Jawabannya sederhana—karena saya mencintainya. Seperti ketika kita mencintai seseorang dengan tulus, kita mencintainya bukan karena apa pun, tetapi karena kita memang mencintainya. Begitu pula kesukaan saya menulis—karena satu alasan yang sama; cinta.

Saya tidak ingin menjadi pilot. Saya tidak ingin menjadi artis. Saya tidak ingin menjadi politisi, bupati, walikota, menteri, ataupun presiden. Saya hanya ingin menulis—jadi itulah yang saya lakukan. Umpama pada pemilu presiden yang akan datang—entah bagaimana caranya—saya terpilih jadi presiden, saya akan menolak.

Satu-satunya hal yang dapat saya lakukan dengan perasaan penuh cinta hanyalah menulis. Satu-satunya hal yang ingin saya lakukan di dunia hanya menulis. Satu-satunya hal yang ingin selalu saya lakukan selagi masih hidup hanya menulis.

Jadi saya pun menulis.

Noffret’s Note: Quotes

“Dengan sentuhan cinta, setiap orang jadi pujangga,”
kata Plato. Di Twitter, dengan sentuhan galau,
setiap orang bisa jadi seleb twit.
—Twitter, 21 Juli 2013

“Cinta adalah kemenangan imajinasi atas inteligensi,”
tulis H.L. Mencken. | Oh, well, faktanya memang
tidak perlu pintar untuk jatuh cinta.
—Twitter, 21 Juli 2013

Kalimat hebat Anton Chekov, “Jika kau takut kesendirian,
janganlah menikah.” Aku butuh waktu lama sekali
untuk bisa memahami kalimat itu.
—Twitter, 21 Juli 2013

Para wanita perlu mendengar Natalie Wood,
“Satu-satunya masa seorang wanita berhasil mengubah
seorang pria adalah ketika dia masih bayi.”
—Twitter, 21 Juli 2013

“Lebih mudah merasakan kepedihan seseorang
jika kau sedang jatuh cinta kepadanya.” Itu yang bilang
Salma Hayek. Rupanya dia juga bijaksana.
—Twitter, 21 Juli 2013

Kahlil Gibran menulis, “Cinta telah diciptakan
untuk melemahkan kekuatan yang kuwarisi
dari Adam.” | Pantas saja dia memilih melajang.
—Twitter, 21 Juli 2013

“Uang tidak bisa membeli cinta,” kata John Lennon
dengan yakin. | Benar sekali, John. Tapi uang
selalu mampu menaikkan posisi tawar.
—Twitter, 21 Juli 2013

“Hidup adalah petualangan cinta, atau tidak
berpetualang sama sekali.” | Aku setuju, karena
yang ngomong Helen Keller. Kita tahu siapa dia.
—Twitter, 21 Juli 2013

Tony Bennet berkata, “Jika aku lemah dan beku
tak bisa mengucapkan apa pun, aku akan mengingat
dirimu.” | Romantis? Perhatikan setelah “jika”.
—Twitter, 21 Juli 2013

Kutipan favoritku, dari Ellen Key, “Cinta adalah
kegiatan moral tanpa disertai pernikahan,
tapi menikah adalah kegiatan moral tanpa cinta.”
—Twitter, 21 Juli 2013

“Kita semua membutuhkan cinta,” ujar Paul McCartney.
“Aku tidak tahu apa yang lebih baik dari hal itu.” |
Lalu The Beatles pun bubar.
—Twitter, 21 Juli 2013

“Selalu ada kegilaan dalam cinta,” kata Friedrich Nietzche,
“tapi juga selalu ada dalih dalam kegilaan.” |
Nietzche memang tak tertandingi.
—Twitter, 21 Juli 2013

“Sangat tidak adil jika ‘menguasai’ wanita secara
eksklusif, seperti ‘menguasai’ budak.” Itu yang ngomong
Marquis de Sade. Dia orang stres.
—Twitter, 21 Juli 2013

Dan Victor Hugo menulis, “…jika aku bersamamu
seperti napas terakhir dan gelapnya surga.” |
Bayangkan kalimat yang ada di titik-titik itu.
—Twitter, 21 Juli 2013

Kata Roman Polanski, “Cinta yang normal tidak
menarik, karena membosankan.” | Sayangnya, aku tidak tahu
seperti apa cinta yang normal dan tidak.
—Twitter, 21 Juli 2013


*) Ditrakskrip dari timeline @noffret
 
Kamis, 01 Mei 2014

Cara Mudah Membuat Orang Lain Terkesan

Kita semua mengenakan topeng, karena tak sempurna.
Sebagian orang sadar mengenakan topeng,
sebagian lain menganggap topeng itu wajahnya.
@noffret 


Salah satu hukum rahasia psikologi manusia adalah, “Jika seseorang berusaha membuatmu terkesan, sebaiknya tidak usah terkesan!”

Ketika saya masih remaja, dan belum mengetahui hukum psikologi itu, saya sering terkesan pada orang-orang tertentu yang gayanya meyakinkan, bicaranya terkesan pintar, atau yang tingkahnya cenderung dibuat-buat agar mengesankan. Waktu itu, dengan segala kenaifan sebagai remaja, saya menganggap orang-orang semacam itu layak dipercaya dan diikuti. Kini, ketika dewasa, saya justru menertawakannya.

Sekarang, jika bertemu seseorang yang berusaha membuat saya terkesan, saya justru tidak akan terkesan!

Beberapa tahun lalu, untuk suatu keperluan, saya bersama seorang teman ditugaskan sebuah lembaga untuk melakukan survai di beberapa daerah yang terhitung pelosok. Daerah-daerah itu nyaris tidak terdapat di peta, dan para penduduknya bisa dibilang masih “terbelakang”—dalam arti belum semodern orang-orang di perkotaan. Rata-rata pendidikan mereka masih sangat minim, dan akses informasi juga sangat terbatas.

Seperti umumnya orang desa, mereka sangat ramah, meski terhadap orang asing. Saya bersama teman menelusuri desa-desa itu untuk mengerjakan tugas kami, mewawancarai orang-orang yang dipilih, dan melakukan beberapa hal yang harus kami lakukan sehubungan kunjungan kami di sana. Selama menemui orang-orang di rumah mereka, kami disambut dengan keramahan yang menyenangkan.

Kami bercakap-cakap dengan mereka dalam suasana akrab, dengan bahasa sehari-hari, dan pertemuan-pertemuan itu pun terasa sangat menyenangkan sekaligus mengesankan. Terbiasa hidup di kota yang bising dan asing satu sama lain, keramahan orang-orang desa terasa seperti oase di tengah kegersangan. Mereka bertanya dan kami menjawab, atau kami bertanya dan mereka menjawab. Semuanya dalam bahasa sederhana, dengan dialek sehari-hari yang akrab.

Sampai kemudian, kami menemui seseorang yang “berbeda”. Dia lelaki berusia 35-an, tidak tamat SMP, tidak pernah membaca buku, hanya sesekali membaca koran, namun sering menonton televisi. Dia suka mengikuti berita, katanya, khususnya berita politik. 

Berbeda dengan orang-orang lain yang telah kami temui sebelumnya, lelaki itu berbicara dengan gaya “akademis”. Dia tidak bicara dengan bahasa sederhana sehari-hari, tapi menggunakan istilah-istilah yang diusahakan terdengar intelek—derivatif, probabilitas, tipologi, profan, kausalitas, dan lainnya. Mungkin dia mengenal istilah-istilah itu dari televisi yang biasa ditontonnya. Tujuannya jelas, dia ingin membuat kami terkesan.

Dan apakah kami terkesan? Tidak!

Kami tidak terkesan, bukan karena dia berpendidikan rendah atau karena dia tinggal di desa. Kami tidak terkesan, karena dia berusaha membuat kami terkesan! Padahal, kalau saja dia bercakap-cakap dengan bahasa yang wajar, dengan istilah sehari-hari, bisa jadi kami justru akan terkesan. Tapi tidak, dia berusaha membuat kami terkesan. Dan karena dia berusaha membuat kami terkesan, kami justru tidak terkesan!

Semakin kuat upaya kita untuk membuat orang lain terkesan, mereka justru tidak akan terkesan! Itu hukum psikologi yang berlaku di mana pun, kapan pun, dengan siapa pun. Sebegitu pentingnya hukum ini, hingga saya merasa perlu mengulanginya sekali lagi dengan cetakan tebal. Semakin kuat upaya kita untuk membuat orang lain terkesan, mereka justru tidak akan terkesan!

Kita terkesan pada orang yang wajar, apa adanya, tidak dibuat-buat. Sebaliknya, kita muak pada orang yang berkebalikan dari itu. Kita terkesan pada orang pintar yang wajar, tapi muak pada orang yang sok pintar. Kita terkesan pada orang alim yang wajar, tapi kita muak pada orang yang sok alim. Kita terkesan pada orang hebat yang wajar, tapi kita muak pada orang yang sok hebat.

Selama melakukan penelitian di desa-desa yang kami kunjungi, saya dan teman berinteraksi dengan orang-orang desa yang sederhana, tapi kami terkesan pada mereka. Mengapa? Karena mereka tampil wajar, apa adanya, dengan segala kesederhanaan mereka. Sebaliknya, ketika ada orang yang berusaha tampil dibuat-buat dengan tujuan agar kami terkesan, kami justru tidak terkesan!

Kita terkesan pada orang lain bukan karena mereka berusaha membuat kita terkesan, tapi karena mereka tampil sebagai diri mereka sejujurnya—tidak dibuat-buat, tidak munafik, tidak berusaha tampak hebat. Pendeknya, tidak sok! Bahkan, dalam skala ekstrim, orang yang sombong pun kadang masih mampu membuat kita terkesan, selama kesombongannya alami—bukan sekadar sok sombong-sombongan.

Ehmmm....

Masih beberapa tahun yang lalu, saya diminta sebuah lembaga untuk mencari satu orang untuk suatu pekerjaan di lapangan. Kualifikasi yang diminta sangat mudah—yang mereka inginkan hanya seseorang yang cerdas, dan memiliki penampilan yang biasa.

Melalui beberapa teman, saya mendapat rekomendasi sebuah nama. Kita sebut saja namanya Mister X. Dia masih muda, terkenal pintar, berwajah biasa, dengan penampilan yang juga biasa saja. Secara keseluruhan, pikir saya waktu itu, dia memenuhi syarat—cerdas, dan sosoknya biasa-biasa saja. Dia bukan tipe orang yang akan menarik perhatian.

Maka saya pun menyodorkan nama Mister X ke direktur lembaga yang menghubungi saya. Ketika mendengar nama yang saya sebutkan, dia langsung melengos. “Orang ini,” katanya, “sudah beberapa kali disodorkan, dan kami terus menolaknya.”

“Boleh saya tahu kenapa?” tanya saya penasaran.

Jawabannya terdengar bernada muak, “Ketika pertama kali namanya disodorkan, kami telah meriset kehidupan orang ini. Hasilnya, dia pintarnya tidak seberapa, tapi sombongnya telah sampai ke neraka!”

Kemudian, masih dengan nada muak, dia menceritakan. Mister X, katanya, mengidap “penyakit” yang biasa menghinggapi orang-orang yang “baru merasa pintar”. Seperti bocah yang baru belajar pencak silat, Mister X kemana-mana ingin pamer jurus, berusaha membuat orang lain terkesan dengan wawasan dan pengetahuannya. Sosoknya memang tampak biasa, tapi gayanya yang memuakkan membuat orang mengingatnya secara negatif.

Untuk mendukung penjelasannya, dia menyodorkan sebuah portofolio yang menjelaskan kualifikasi Mister X seutuhnya. Menyangkut kecakapan berinteraksi, kemampuan dan tingkat kecerdasan, gaya sehari-hari, hingga lainnya. Di portofolio itu saya mendapati semua skor yang rendah—jauh berbeda dengan gaya yang biasa ia pamerkan. “Orang-orang tolol mungkin terkesan pada orang sok pintar semacam ini,” ujarnya sambil menuding lembar portofolio di atas meja, “tapi kita tidak butuh!”

Penjelasan itu kemudian membuka mata saya, bahwa orang yang suka sok-sokan memang sering kali justru tidak tahu apa-apa, sebagaimana tong kosong yang selalu berbunyi nyaring. Kemudian saya mengingat orang-orang yang pernah bekerja dengan saya—mereka memiliki kecakapan, kemampuan, dan kecerdasan di atas rata-rata, tapi sikapnya sangat bersahaja, dengan penampilan yang juga sangat biasa. Beberapa orang bahkan menguasai lebih dari dua belas bahasa, tapi biasa ngobrol dengan bahasa sederhana.

Tiba-tiba saya seperti dipaksa melihat dunia di sekitar kita—dunia nyata, maupun dunia maya. Meski mungkin dengan pahit, sepertinya kita harus mengakui bahwa tong kosong memang berbunyi nyaring.

Seperti yang disebutkan tadi, bocah yang baru belajar pencak silat selalu ingin pamer jurus dan sok jagoan, padahal pendekar yang benar-benar sakti justru bersikap kalem. Orang yang baru kemarin belajar agama suka bertingkah seolah paling alim sendiri, padahal ulama yang puluhan tahun belajar agama justru bersikap kalem. Orang yang baru membaca beberapa buku sering kali sok bertingkah paling pintar sendiri, padahal yang telah membaca ribuan buku justru bersikap kalem.

Kecenderungan semacam itu memang sering menghinggapi orang-orang yang “baru merasa hebat”. Kita bisa mudah menemukannya di sekeliling kita—di dunia nyata maupun di dunia maya. Di mana pun, selalu ada orang-orang yang sok jagoan, sok alim, atau pun sok pintar. Yang sok jago mudah marah hanya karena tersinggung sedikit, yang sok alim mudah menyalahkan dan mengafirkan orang lain, sementara yang sok pintar bertingkah seolah orang lain bodoh semua.

Mungkin sikap sok mereka bertujuan agar kita terkesan. Dan apakah kita terkesan? Sejujurnya, saya tidak! Karena ketika seseorang berusaha membuat orang lain terkesan, artinya dia tidak punya apa pun yang mengesankan. Dan ketika orang semacam itu berusaha membuat orang lain terkesan, saya tidak terkesan!

Ketika seseorang sibuk memamerkan gelar dan titelnya secara demonstratif, apakah kita terkesan? Tidak! Ketika seseorang sibuk menyombongkan kekayaannya yang tak seberapa, apakah kita terkesan? Tidak! Ketika seseorang sibuk mengkhotbahkan pengetahuan agamanya yang dangkal, apakah kita terkesan? Tidak! Ketika seseorang sibuk berkoar-koar memamerkan pengetahuannya yang pas-pasan, apakah kita terkesan? Juga tidak!

Sebaliknya, kita justru sering terkesan pada orang yang bersikap wajar, dan bersahaja. Mungkin dia memang tidak istimewa. Tapi sikapnya yang wajar dan apa adanya justru membuat kita terkesan. Dan, “ironis”nya, orang-orang yang sikapnya bersahaja semacam itu sering kali justru memiliki hal-hal yang benar-benar mengesankan. Sebagaimana padi yang makin merunduk karena berisi, orang-orang istimewa justru bersikap sederhana.

Jadi, cara mudah untuk membuat orang lain terkesan adalah; jangan berusaha membuat orang lain terkesan! Karena semakin kuat kita berusaha membuat orang lain terkesan, mereka justru tidak akan terkesan! Jadiah pintar, tapi tidak usah sok pintar. Jadilah alim, tapi tidak usah sok alim. Jadilah hebat, tapi tidak sok hebat.

Karenanya pula, cara mudah untuk mengetahui apakah kita “benar-benar hebat” atau “sekadar merasa hebat” adalah dengan melihat diri sendiri. Jika kita masih berupaya agar orang lain mengetahui dan mengakui kehebatan kita, artinya kita belum hebat. Orang-orang yang benar-benar hebat tidak peduli apakah orang lain mengetahui dan mengakui kehebatannya atau tidak.

Omong-omong, saya bukan orang hebat. Jadi tidak usah terkesan!

Sedemikian....

Sedemikian opo?

Membeli Bunga di Malam Minggu

Pukul 19.00, malam Minggu, di sebuah swalayan, saya berdiri di konter bunga, memilih-milih tumpukan buket yang tampak cantik. Ketika sedang asyik di tempat itu, seorang teman kebetulan lewat, dan menyapa sambil tersenyum, “Cieeee, beli bunga. Buat siapa?”

Saya menjawab pede, “Buat mbakyuku, laah.”

“Memangnya kamu punya mbakyu?”

....
....

*Nangis di depan kasir*
 
 
;