Kamis, 28 Agustus 2014

Zarry Hendrik, Arman Dhani, dan Nasib Bangsa Ini

Belakangan ini mungkin juga teman-teman sudah tahu
di Twitter kan gue sering ngetwit yang berbau dukungan untuk
Prabowo jadi presiden. Ada yang suka, ada yang enggak. Ya nggak apa-apa,
ya namanya juga pendapat, ya namanya juga Twitter. Tapi gue rasa
gue perlu menjelaskan kenapa gue dukung Prabowo jadi presiden.
Zarry Hendrik

Maaf, Bung Zarry, jika kata-kata saya agak sedikit kurang sopan.
Saya tak ingin berkomentar bahwa sebagai selebtweet, anda baiknya
bicara tentang galau, traveling atau nge-buzz produk sajalah, jangan
bicara politik. ... Semoga suatu saat, jika Prabowo terpilih
dan orang yang anda cintai menghilang, dibunuh atau
dilenyapkan, anda masih ingat akan tulisan ini.
Arman Dhani


Pengantar:

Catatan ini sebenarnya telah saya tulis pada musim kampanye kemarin, tepatnya saat terjadi “konfrontasi” antara Zarry Hendrik dengan Arman Dhani. Waktu itu catatan ini sudah saya siapkan untuk diunggah ke blog. Namun kemudian saya batalkan karena tak ingin memperkeruh suasana kampanye, serta tidak ingin menimbulkan kesan mencampuri urusan orang lain.

Sekarang, setelah musim kampanye berlalu dan suasana telah relatif kondusif, saya kembali teringat pada catatan ini, dan rasanya sayang kalau diabaikan. Jadi, sekarang saya unggah ke blog, meski mungkin relevansinya telah berkurang. Saya berharap catatan ini bisa menjadi pembelajaran kita di musim kampanye yang akan datang, saat terjadi pemilu presiden lagi.

Kalau Zarry Hendrik atau Arman Dhani kebetulan menemukan catatan ini, saya berharap kalian legowo membacanya. (HM)


***

Twitter memang tidak pernah kekurangan sensasi, dan sensasi yang terjadi baru-baru ini adalah “keributan” antara Zarry Hendrik dengan Arman Dhani. Kalian yang aktif di Twitter mungkin mengenal mereka, mungkin pula tidak, dan itu bukan masalah. Tetapi agar catatan ini bisa lebih dipahami, izinkan saya memperkenalkan mereka.

Zarry Hendrik adalah salah satu bocah terkenal di Twitter—juga seorang selebtweet yang ikut berperan dalam memasyarakatkan selfie dan me-selfie-kan masyarakat. Masyarakat yang dimaksud di sini adalah cewek-cewek yang mungkin merasa bohay, seksey, dan kecey—apa pun artinya.

Jadi, suatu ketika, Zarry Hendrik menulis tweet, misalnya, “Gimana sih senyum bidadari habis kecemplung sumur?” Maka, dalam waktu nyaris seketika, cewek-cewek seantero Twitter pun segera mengambil kamera, berpose selfie, kemudian mengunggahnya ke Twitter dengan menautkan mention ke akun Zarry Hendrik. Oh, well, tidak banyak cowok yang mampu melakukan “sihir” semacam itu.

Lalu siapa Arman Dhani? Arman Dhani adalah antitesis Zarry Hendrik. Dia bukan selebtweet—jika definisi selebtweet adalah “sosok manis yang bikin ABG histeris”. Kenyataannya, di Twitter, follower atau pengikut Arman Dhani “cuma” berjumlah ribuan. Bandingkan dengan follower Zarry Hendrik yang mencapai ratusan ribu.

Jika Zarry Hendrik mungkin mimpi indah cewek-cewek alay, maka Arman Dhani mungkin mimpi buruk mereka. Mengapa bisa begitu? Karena bocah ini tidak pernah peduli siapa yang akan “dihabisinya”. Di Twitter, dia akan menyerang siapa pun yang ingin diserangnya, selama ia berpikir orang itu patut diserang—apa pun alasannya. Oh, well, tidak banyak orang yang punya keberanian semacam itu.

Nah, baru-baru ini, pihak yang mendapat serangan Arman Dhani adalah Zarry Hendrik. Ceritanya, Zarry menulis artikel di blognya di Tumblr, mengenai dukungannya terhadap Prabowo Subianto. Artikel itu berjudul Kenapa Gue Dukung Prabowo? (Saat catatan ini diunggah, artikel tersebut sudah tidak bisa saya temukan di blog Zarry Hendrik. So, kalian bisa membacanya di sini.)

Dalam artikel yang ditulisnya, Zarry tampaknya mengagumi Prabowo, dan ia menulis panjang lebar tentang kekagumannya, serta dukungannya terhadap Prabowo untuk menjadi pemimpin negeri ini. Tidak hanya itu. Dia juga menunjukkan dukungannya secara terang-terangan di Twitter.

Atas hal itu, berbagai respons muncul, khususnya di Twitter. Tampaknya, banyak pihak menyayangkan langkah Zarry mendukung Prabowo, apa pun alasan mereka. Namanya Twitter, kadang orang berkomentar seenak udelnya. Dan komentar itu menumpuk semakin banyak. Singkat cerita, Zarry mungkin merasa di-bully. Puncaknya terjadi ketika Arman Dhani menulis artikel khusus berjudul Logika Bebal Zarry Hendrik. (Judul artikel itu sekarang telah diperhalus, menjadi “Logika Zarry Hendrik”, dan kalian bisa membacanya di sini.) 

Akhir kisah, Zarry Hendrik kemudian menonaktifkan akun Twitter-nya, bahkan menghapus semua artikel yang pernah ditulisnya di blog. Sekarang, saya menulis catatan ini bukan untuk membenarkan atau menyalahkan siapa pun, tetapi untuk melihat persoalan ini secara lebih jernih, dan memikirkan hal-hal yang mungkin belum sempat kita pikirkan.

Bahwa Zarry Hendrik menulis dan menyatakan dukungannya kepada seseorang, dalam hal ini kepada Prabowo, sebenarnya itu hak pribadinya. Sebagai warga negara Indonesia, tentunya dia punya hak untuk menyatakan suara serta dukungannya kepada siapa pun yang ia pikir layak. Ini negara demokrasi. Siapa pun berhak untuk bersuara dan menyatakan pendapat, apalagi sekadar bersuara dan menyatakan pendapat di blog pribadi. Jika Arman Dhani atau saya boleh menulis dukungan kepada siapa pun, kenapa Zarry Hendrik tidak boleh...?

Salah satu penyakit kita yang tampaknya belum sembuh adalah ketakutan berbeda dengan orang lain. “Penyakit” itu tidak hanya menggejala di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Seseorang menyatakan pendapatnya yang berbeda dengan kita, dan kemudian kita ngamuk, menyalah-nyalahkannya, atau bahkan sampai mengafirkannya. Siapakah yang bebal? Orang yang menyatakan pendapatnya sendiri, ataukah orang yang menyerang pendapat orang lain hanya karena dianggap berbeda dengan pendapatnya?

Ketika kita berbeda pendapat dengan orang lain, tidak pernah ada jaminan bahwa kitalah yang benar dan orang lain yang salah. Langit sudah berhenti menurunkan Nabi, jadi tidak ada gunanya menganggap diri paling benar atau paling suci. Selain itu, perbedaan pendapat dengan orang lain sering kali hanya karena perbedaan “ukuran sepatu”. Jika ingin menggunakan istilah yang lebih lugas, “ukuran otak”.

Maksud saya, kalau adik kita yang masih duduk di bangku SD tidak mampu memahami teori relativitas Einstein, itu bukan salah dia, tapi karena memang kapasitas otaknya belum mampu memahami. Karenanya, sungguh tidak adil jika kita menoyor kepalanya dan memakinya bebal. Jika dia tidak tahu, itu bukan karena dia bebal, tapi karena memang kadar intelektualnya belum memungkinkan.

Begitu pula dengan Zarry Hendrik, atau lainnya. Menyangkut Zarry Hendrik, sekali lagi, dia punya hak untuk menulis pemikiran apa pun di blognya. Kalau kita berbeda pikiran dengannya, itu wajar, namanya manusia. Tidak usah ngamuk!

Yang lebih penting untuk kita pikirkan, sebenarnya, bukan apakah Zarry berbeda dengan kita atau tidak. Melainkan apakah Zarry menulis dukungannya secara tulus atau karena hal lain? Jika Zarry Hendrik menulis dan menyatakan dukungannya secara tulus kepada Prabowo, atau kepada siapa pun, maka kita tidak berhak menyalahkannya. Sekali lagi, ini negara demokrasi—siapa pun punya hak untuk bersuara.

Tetapi, jika Zarry Hendrik menulis dan menyatakan dukungannya kepada seseorang karena dibayar, maka ini menjadi masalah kita. Masalah kita, karena ketika buzzer bayaran telah mulai bermain di ranah politik, maka nasib bangsa ini telah pindah ke tangan para penjual obat. Dengan atraksi memukau dan sedikit tipuan mata, penjual obat di jalanan selalu mampu memanipulasi pembeli untuk menjual dagangannya. Ketika politik dan masa depan bangsa telah sampai pada kenyataan semacam itu, maka negeri ini benar-benar sedang menghadapi masalah.

Latar pikiran semacam itu pula yang mungkin menggerakkan Arman Dhani untuk “menyerang” Zarry Hendrik. Bagaimana pun, Zarry adalah selebtweet, dan ia salah satu buzzer di Twitter. Selalu ada kemungkinan bahwa Zarry dibayar suatu pihak untuk mendukung pihak tertentu, yang kemudian ia tindaklanjuti dengan menulis dukungan pada seseorang di Twitter dan di blognya. Dengan kata lain, dukungan Zarry pada Prabowo bukan berasal dari pilihan pribadi dan ketulusannya, melainkan karena ia dibayar sebagai buzzer.

Saya tidak bermaksud menuduh, karena saya juga tidak tahu apakah Zarry dibayar atau tidak atas dukungannya. (Berdasarkan pengakuannya sendiri, Zarry Hendrik menyatakan dia tidak dibayar, dan dia bahkan berani bersumpah untuk menegaskan pernyataannya.)

Yang menjadi pikiran saya adalah betapa mengerikan nasib bangsa ini ketika seorang pemimpin dipilih bukan karena memang layak dipilih, melainkan karena rayuan seorang buzzer dengan banyak follower. Jika kenyataan semacam itu yang benar terjadi, maka kita layak berterima kasih pada orang-orang seperti Arman Dhani, yang rela menjadi tidak populer, demi membuka mata kesadaran kita.

Di era sosial media seperti sekarang, keberadaan sosok populer di Twitter memang sarana empuk untuk mempromosikan sesuatu. Pakaian, kosmetik, dompet, tiket pesawat, hotel, tempat liburan, bikini—sebut lainnya. Sejauh menyangkut hal-hal remeh semacam itu, tentu saja tidak masalah. Tetapi ketika buzzer dibayar untuk mendukung seseorang yang diharapkan menjadi pemimpin suatu bangsa, maka itu jelas masalah.

Ini bukan soal apakah kau akan berlibur ke mana, naik pesawat apa, dan menginap di hotel mana. Ini soal pemimpin bangsa, dan menyangkut nasib lebih dari dua ratus juta rakyat Indonesia di masa depan!

Jika benar para buzzer di Twitter dibayar untuk “mempromosikan” seseorang agar didukung menjadi pemimpin, maka bangsa ini telah sampai di titik nadir. Tidak masalah jika si buzzer melakukan riset atas tokoh yang akan didukungnya, untuk mengenal lebih dalam si tokoh bersangkutan, sebelum memutuskan bersedia menjadi buzzer atau tidak. Tetapi bagaimana jika tidak...?

Bagaimana jika para buzzer di Twitter mendukung seseorang secara buta hanya karena dia dibayar, sebagaimana dia biasa mempromosikan produk tertentu karena dibayar untuk mengiklankannya? Jika seperti itu kenyataannya, dan kemudian kita mendasarkan pilihan atas seorang pemimpin karena tergiur rayuan buzzer, maka kita ikut berperan dalam makin rusaknya negeri ini.

Dalam konteks politik dan di hari-hari pemilu seperti sekarang, para buzzer di sosial media mungkin ada yang secara tulus mendukung seseorang tanpa dibayar. Mereka mendukung seseorang semata-mata karena cinta dan kepercayaan. Tetapi juga selalu ada kemungkinan sebagian buzzer yang aktif mendukung seseorang karena dilatarbelakangi bayaran tertentu. Kalau pun tidak dibayar uang untuk mengampanyekan seseorang, selalu ada kemungkinan bayaran lain di luar uang.

Karena latar belakang pemikiran semacam itulah, saya sampai merasa perlu menulis catatan ini. Bukan untuk membela atau memojokkan siapa pun, melainkan untuk membuka mata kita semua, bahwa urusan kampanye politik melalui buzzer bukan urusan remeh.

Bagi orang-orang tertentu, membayar buzzer di Twitter cuma setara uang receh. Tapi dampaknya bisa sangat besar. Jika si buzzer yang dibayar ikut berkontribusi mengantarkan seseorang ke tampuk kekuasaan, maka akibat yang ditimbulkannya akan menyangkut nasib bangsa di masa depan. Tidak hanya menyangkut nasib Zarry Hendrik dan Arman Dhani, tapi juga menyangkut nasib masa depan negeri ini.

Bising

Tidak bisakah orang-orang kurang kerjaan itu berhenti sejenak membuat kebisingan, dan membiarkan orang-orang lain khusyuk dalam keheningan...?

Wanita yang Ingin Menjerumuskan Saya

Wanita itu berkata, “Da’, kamu ke Jakarta, dong.”

“Ngapain?” sahut saya ogah-ogahan.

“Katanya kamu pengin terjerumus?”

“Hah...?”

Dia cekikikan. “Itu lho, yang kamu tulis di blog itu.”

“Oooh...” saya ikut cekikikan.

“Sini deh, ntar tak jerumusin.”

....
....

*Nilpon travel*
 
Senin, 18 Agustus 2014

Persahabatanku dengan Tutup Botol Kecap

Aku tidak punya teman.
Batman


Malam sangat getir ketika aku menemukan sebuah tutup botol kecap, yang kelak menjadi sahabatku selama bertahun-tahun. Bahkan meski peristiwa itu telah terjadi bertahun lalu, dalam bayanganku seperti baru berlangsung kemarin. Well, biar kuceritakan kepadamu.

Kaki-kaki kecilku melangkah lunglai di larut malam, waktu itu, saat aku memutuskan untuk pulang, tanpa sekeping receh pun yang kudapat. Di alun-alun, setiap malam aku mencari receh demi bisa mendapat uang saku, bersama bocah-bocah malang lain. Kadang hidup berbaik hati membagikan rezekinya, kadang tidak. Kadang aku pulang dengan langkah ringan bersama beberapa keping receh, kadang kakiku melangkah gontai karena tak ada yang kudapat.

Langkah gontai yang kurasakan saat itu, setelah malam larut tapi tak ada sekeping pun receh kuperoleh. Besok pagi aku harus sekolah, dan sekarang harus pulang, untuk tidur, dan besok terbangun untuk pergi ke sekolah tanpa uang saku lagi. Hidup yang malang, pikirku. Oh, well, bocah yang malang...

Dan aku yang malang menunduk menekuri trotoar alun-alun yang lengang, membayangkan suramnya hidup. Pada waktu itulah, tanpa sengaja, aku menemukan sebuah tutup botol tergeletak di trotoar. Dia seperti aku, pikirku tiba-tiba. Dia seperti aku—tanpa teman, terasing, dan sendirian.

Nyaris tanpa sadar aku memungut tutup botol itu, dan memperhatikannya. Ternyata tutup botol kecap. Ada nama merek di bagian atasnya, dan aku tahu itu merek kecap yang kukenal. Saat menggenggam tutup botol kecap itu, aku merasa menemukan seorang teman. Bagi bocah malang yang kesepian sepertiku, sebenarnya apa pun bisa menjadi teman. Pecahan genteng, bungkus permen, kunci yang patah—sebut apa pun.

Aku tidak punya teman, karenanya aku bisa berteman dengan apa pun. Termasuk dengan tutup botol kecap. Dan menemukannya di trotoar alun-alun yang sepi, tepat ketika aku sedang bersedih, membuatku merasa menemukan teman sejati. Jadi, kusimpan tutup botol kecap itu di saku bajuku yang dekil, dan sejak itulah kami menjadi sahabat. Atau, lebih tepat, dia menjadi sahabatku.

Ketika sampai di rumah, aku naik ke tempat tidur, dan meletakkan tutup botol kecap di dekatku. “Besok aku harus ke sekolah,” bisikku kepadanya sambil menarik selimut, “jadi sekarang aku harus tidur.”

Kupegangi sejenak tutup botol itu, dan kupandangi wujudnya yang agak dekil, sepertiku. Lalu kembali berbisik padanya, “Kamu lebih beruntung dari aku. Kamu tidak perlu sekolah, tidak perlu menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak kamu sukai. Oh, apa? Kamu ingin sekolah? Oh, tidak, kamu tidak akan menyukainya. Percayalah, itu bukan kegiatan menyenangkan. Bahkan, kalau boleh memilih, aku ingin menjadi tutup botol kecap sepertimu, agar tidak perlu sekolah.”

Besok paginya, saat memakai seragam sekolah, aku melihat tutup botol kecap tergeletak di tempat tidur. Tiba-tiba aku tidak tega meninggalkannya sendirian di kamar sementara aku pergi sekolah. Dia pasti akan kesepian, pikirku. Jadi aku pun memungutnya, dan menyimpannya di saku baju. Biarlah dia ikut ke sekolah. Sepertinya itu bahkan lebih baik, agar aku juga merasa punya teman di sekolah.

Waktu itu aku kelas 5 SD. Dan memiliki teman sebuah tutup botol kecap terasa menyenangkan, karena aku sering merasa kesepian. Saat jam istirahat di sekolah, teman-temanku berlarian menuju para penjual jajan atau mainan di depan sekolah, dan aku tidak bisa mengikuti mereka, karena tidak punya uang. Biasanya, saat itu, aku masuk perpustakaan sekolah untuk membaca buku atau apa pun, yang bisa kugunakan menunggu habisnya jam istirahat.

Kini, setelah memiliki sahabat berbentuk tutup botol kecap, aku pun mengajaknya ke perpustakaan. Saat mulai bosan membaca, kukeluarkan tutup botol kecap dari saku, lalu mencoba mengajaknya bercakap-cakap, meski dengan berbisik. Bagaimana pun, aku tidak ingin dianggap gila karena ketahuan mengobrol dengan tutup botol kecap.

Sebenarnya, aku memang telah dianggap gila. Bahkan oleh orangtuaku sendiri. Aku pernah memergoki orangtuaku bercakap-cakap mengenai “ketidakwarasanku”, dan menyebutku “tidak sama seperti anak-anak lain umumnya”. Mereka mengira aku sudah tidur waktu itu, tapi sebenarnya aku masih terjaga.

Waktu itu, sebenarnya, aku sempat berpikir. Bagaimana aku bisa sama seperti anak-anak lain, kalau kenyataannya aku memang tidak sama dengan mereka? Anak-anak lain tidak merasakan kemiskinan seperti aku, anak-anak lain tidak merasakan kesepian seperti aku, anak-anak lain tidak menghadapi kenyataan hidup yang berat seperti aku. Bagaimana aku bisa sama seperti mereka?

Tapi aku tidak pernah menyatakan hal itu, karena khawatir dianggap kurang ajar. Lebih dari itu, aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Aku bocah yang malang, dengan bicara yang gagap, dan sering bingung ketika harus mengatakan sesuatu. Jadi kupendam saja sendirian, dan tidak kukatakan pada siapa pun. Diam sering menjadi senjataku waktu itu, karena kupikir tak ada yang mendengarkanku.

Sekarang, saat memiliki sahabat berbentuk tutup botol kecap, aku pun mulai curhat kepadanya, menceritakan semua yang kupendam dalam-dalam, dan sepertinya dia memang sahabat yang baik—tutup botol kecap itu. Ketika di perpustakaan sekolah, saat ruangan sepi, aku berbisik-bisik kepadanya, menceritakan apa saja. Tidak ada teman sebaik dia, pikirku. Dan aku bersyukur telah menemukannya.

Saat di rumah atau di mana pun, aku mulai tak bisa jauh dari tutup botol kecap itu. Aku merasa membutuhkannya. Untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa aku punya teman. Untuk menyadarkanku bahwa kini ada yang mau mendengarku. Jika seluruh dunia tidak ada yang bisa memahamimu, maka kau bisa menemukan persahabatan dengan tutup botol kecap. Dia akan mendengarkanmu. Percayalah, aku telah membuktikannya.

Dan persahabatanku dengan tutup botol kecap terus berlangsung sampai kelas 6, bahkan saat aku akhirnya lulus SD. Seperti bocah-bocah lain, aku harus melanjutkan sekolah ke SMP, meski orangtuaku harus susah-payah membiayainya. Padahal aku akan senang kalau saja tidak perlu sekolah lagi, tapi orangtuaku—seperti umumnya orangtua lain—menganggap sekolah adalah hal paling penting di bawah langit. Khususnya untuk bocah tidak waras sepertiku.

Jadi, aku pun sekolah lagi. Di SMP, kadang ada teman yang punya buku khusus untuk perkenalan, dan mereka memintaku mengisikan biodata—nama, nama panggilan, alamat, asal sekolah, hobi, cita-cita, dan lain-lain. Di kolom “sahabat”, aku selalu menuliskan “tutup botol kecap”. Karena kenyataannya memang dia satu-satunya sahabatku. Tapi teman-temanku menganggap itu aneh. Ya, tentu saja, karena mereka tidak berteman dengan tutup botol kecap. Dan, kupikir, itu masalah mereka.

Aku memang punya beberapa teman di SMP, tapi semuanya tidak ada yang sedekat pertemananku dengan tutup botol kecap. Ketika bercakap-cakap dengan mereka, aku merasa tidak bebas mengobrolkan apa saja. Sangat beda ketika aku bercakap-cakap dengan tutup botol kecap. Hanya bersamanya aku bisa mengatakan apa pun, dan dia tidak pernah menuduhku gila, atau setidaknya tidak pernah memandangku dengan tatapan aneh.

Suatu hari, aku pernah curhat panjang lebar pada tutup botol kecap, memuntahkan semua yang ada di pikiranku, lalu mengatakan, “Semuanya ini tidak masuk akal, kan? Hidup ini kalau dipikir-pikir tidak masuk akal. Oh, sangat tidak masuk akal! Tapi yang paling tidak masuk akal, tidak ada orang yang mau berpikir bahwa hidup ini tidak masuk akal!”

Tutup botol kecap pastilah makhluk bijaksana. Karena dia tidak pernah menyalahkanku waktu aku berkata seperti itu. Oh, well, kenyataannya dia bahkan lebih bijaksana dari rata-rata guruku yang suka menganggap dirinya pasti benar, hanya karena dia mengajar di sekolah. Itu pun sebenarnya tidak masuk akal, pikirku, tapi aku bisa apa? Hanya kepada tutup botol kecap aku bisa mengatakan segalanya—semua yang ada di kepalaku—tanpa khawatir disalahkan atau dianggap gila.

Setiap hari, seusai sekolah, aku masih harus sibuk mencari uang, demi bisa menyambung hidup sebagai bocah. Kegiatan itu bahkan terus kulakukan saat akhirnya duduk di bangku SMA. Sepanjang perjalanan waktu itu, persahabatanku dengan tutup botol kecap semakin erat. Dia satu-satunya sahabat yang kumiliki, yang benar-benar kumiliki. Meski di SMA aku punya beberapa teman berwujud manusia, tapi tak ada yang lebih sempurna selain teman berbentuk tutup botol kecap.

Suatu hari, aku diikutkan sekolahku untuk mengikuti lomba antar SMA se-Indonesia. Entah alam semesta sedang ingin bercanda atau karena juri-jurinya sedang mabuk, aku dinyatakan sebagai pemenang. Jadi, dengan kebingungan waktu itu, aku diminta maju ke podium, untuk—sesuai istilah mereka—“memberikan sepatah dua patah kata”. Oh, well, sepatah dua patah kata. Tapi apa yang harus kukatakan?

Dengan panik, aku berbisik pada guruku, “A-apa yang harus saya katakan?”

Guruku tersenyum menenangkan, dan menjawab dengan santai, “Ucapkan saja terima kasih pada dewan juri, pada sekolah, serta pada yang lain yang kamu anggap layak diberi ucapan terima kasih.”

Jadi, itulah yang kulakukan. Di hadapan banyak orang waktu itu, di hadapan perwakilan sekolah dari seluruh Indonesia, di depan para juri dan orang-orang lain, aku berkata dengan agak tergagap bahwa aku berterima kasih kepada mereka semua—kepada sekolahku yang tercinta, kepada guru-guruku, kepada dewan juri yang terhormat, dan kepada sahabat baikku si tutup botol kecap. Kupikir itu wajar saja, tapi entah kenapa mereka menatapku dengan bingung.

“Kenapa kamu mengucapkan terima kasih kepada tutup botol kecap?” bisik guruku dengan panik, saat aku kembali ke tempat duduk.

“Karena dia teman terbaik saya,” jawabku dengan berbisik pula.

“Kamu berteman dengan tutup botol kecap?”

“Iya.”

Detik itu, dari raut wajahnya, guruku seperti memperoleh kesimpulan tak terbantah kalau aku memang tidak waras.

Sejak itu pula, setiap kali aku menang lomba, guruku tidak lagi mengizinkanku cuap-cuap di podium. Biasanya, mereka akan menunjuk seseorang untuk—sesuai istilah mereka—“mewakiliku”. Sama sekali tidak masalah bagiku. Bahkan umpama aku tidak menang di lomba apa pun juga tidak masalah. Mereka yang memintaku mengikuti lomba-lomba itu, mereka yang berkepentingan. Sebagai bocah, aku sudah senang kalau dari kemenangan itu bisa mendapat beberapa buku, alat sekolah, atau apa pun.

Di dunia yang gila, rasanya sulit sekali menjadi orang waras. Itulah yang kupikir. Atau, secara terbalik, di dunia yang waras sungguh sulit menjadi gila. Dan aku tak pernah tahu siapakah di antara kami yang gila. Aku selalu berpikir dunia di sekitarku sungguh gila, sementara dunia menatapku dengan pandangan seolah aku yang gila. Aku sering berpikir mereka tidak masuk akal, sementara mereka menilaiku tidak masuk akal. Di tengah-tengah kegalauan seperti itulah, aku bersyukur karena memiliki teman tutup botol kecap. Dia selalu mau mendengarkanku.

Dan teman yang kaumiliki di saat susah, sering kali tetap menjadi temanmu di saat senang. Itulah persahabatanku dengan tutup botol kecap. Dia telah menjadi sahabat baik ketika aku harus melewati perjalanan hidup yang berat, ketika aku masih menjadi bocah miskin, dekil, dan dianggap gila. Dia telah menjadi sahabatku ketika orang-orang lain menjauh, ketika nasib dan takdir berpaling, ketika dunia menatapku seolah aku tidak waras.

Ketika akhirnya aku bisa meninggalkan kemiskinan, dan menjalani hidup yang jauh berbeda, dia tetap menjadi sahabat terbaik tak tergantikan. Dia telah menjadi teman baikku dalam kemiskinan dan kemelaratan, maka aku pun tetap menjadikannya teman baik saat dalam kekayaan dan keberlimpahan.

Tutup botol kecap yang kutemukan tergeletak di trotoar bertahun-tahun lalu, yang wujudnya dekil dan kotor sepertiku, telah menjadi teman seperjalanan terbaik. Selama bertahun-tahun bersamaku, dia tidak pernah menyalahkan, tidak pernah menatapku seolah aku tidak waras, tidak pernah berpaling, tidak pernah menuduhku gila. Dia selalu menemani kesepianku. Mendengarkan keluh kesahku. Tutup botol kecap adalah teman terbaik yang bisa diperoleh seorang bocah sepertiku.

Tetapi, tampaknya, tidak ada yang abadi di muka bumi. Dalam suatu perjalanan, aku kehilangan tutup botol kecap yang telah menemaniku bertahun-tahun. Aku sama sekali tidak tahu di mana tutup botol itu terjatuh, sebagaimana aku tidak ingat kapan terakhir kali masih bersamanya. Yang jelas, sejak itu aku benar-benar berpisah darinya, dengan tutup botol kecap itu, dan aku menghabiskan banyak malam untuk menangisinya, merindukannya, mengenang saat-saat bersamanya...

Sudah cukup lama aku kehilangannya, meski aku belum bisa melupakan. Kau tak pernah bisa berpisah dengan sahabat terbaikmu, begitu pula aku. Meski hanya sebuah tutup botol kecap, dia sahabat tak tergantikan. Tentu saja aku bisa mengumpulkan sebanyak apa pun tutup botol kecap yang lain, tapi aku tahu semuanya itu bukan tutup botol kecap sahabatku. Di dunia ini, hanya ada satu tutup botol kecap yang menjadi temanku, dan dia tak tergantikan.

Sekarang, aku tidak bisa membayangkan ada di mana tutup botol kecap temanku itu. Mungkin dia terlempar ke tengah jalan raya, digilas roda-roda mobil yang angkuh. Mungkin dia tenggelam di sungai, menggigil keindinginan bersama ikan dan batu-batu. Mungkin pula dia tergeletak di trotoar, menunggu seorang bocah kesepian memungutnya, seperti aku bertahun-tahun lalu... 

Bocah Berkebutuhan Khusus

Kalau dipikir-pikir, mungkin aku termasuk bocah berkebutuhan khusus.

Butuh mbakyu.

Noffret’s Note: Bercukur

Entah. Selalu merasa bersalah, setiap kali
bercukur dan mengeluarkan darah.
—Twitter, 19 Januari 2013

Bercukur adalah aktivitas yang membutuhkan
kesabaran Ayub, dan kebijaksanaan Sulaiman.
Pantas kalau lelaki harus sabar dan bijaksana.
—Twitter, 19 Januari 2013

Andrew Garfield jadi tampak 10 tahun lebih tua
kalau kumis dan jenggotnya panjang.
Setelah bercukur, dia tampak 10 tahun lebih muda.
—Twitter, 16 Maret 2013

Cara mudah menjadi tua: Biarkan bulu-bulu wajahmu
tumbuh panjang. Cara mudah kembali muda:
Lakukan sebaliknya.
—Twitter, 16 Maret 2013

Ada orang sangat senang bisa membawa alat cukur
dari kamar hotel. Mungkin dia tidak tahu,
itu alat cukur sekali pakai.
—Twitter, 19 Januari 2013


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Selasa, 12 Agustus 2014

Besar dan Kecil

Ah, yang besar pun ternyata masih suka iri pada yang kecil.
Jangan-jangan memang besar-kecil bukan ukuran, tetapi mental.
@noffret


Ini kisah yang terjadi sekitar dua tahun lalu, dan kisah ini banyak beredar di forum-forum, karena menggelitik. Perjalanan kisah ini di internet kemudian mengungkap banyak sisi lain tentang orang-orang terkenal, khususnya di dunia maya, khususnya lagi di Twitter. Untuk keperluan penulisan catatan ini, saya hanya akan membatasi pada kisah awalnya, dan mengabaikan hal-hal lain yang berhubungan (atau dihubungkan) dengan kisah tersebut.

Kisah ini dimulai di Twitter.

Di Twitter, ada seorang penulis yang belum lama punya akun. Karena namanya mungkin cukup populer, dalam waktu singkat dia telah memiliki follower cukup banyak. Dia juga mem-follow cukup banyak akun, khususnya teman-teman dan orang-orang yang dikenalnya. Untuk memudahkan cerita, kita sebut saja penulis ini dengan nama Adam.

Berdasarkan pengakuannya sendiri, Adam menyebut dirinya sebagai penulis pemula, karena baru menerbitkan segelintir buku, itu pun tidak terlalu dikenal. Tapi dia cinta menulis. Selain menulis buku, dia juga aktif menulis di blog. Jadi, ketika membuat akun di Twitter, dia juga menuliskan alamat blognya di akun Twitter-nya.

Suatu hari, ketika sedang bercakap-cakap dengan temannya di Twitter, Adam mendapati sebuah tweet yang di-retweet seseorang. Tweet itu bagus, dan Adam mengenali tweet yang di-retweet itu berasal dari seorang penulis wanita yang terkenal. Untuk memudahkan cerita, kita sebut saja si penulis terkenal dengan nama Tania. Sebagai penulis pemula, Adam seketika tergerak untuk ikut mem-follow Tania di Twitter, agar bisa menikmati tweet-tweet-nya. Dan itulah awal kisah ini.

(Catatan: Untuk menghindarkan fitnah dari orang-orang yang mungkin tidak tahu, perlu saya tegaskan di sini bahwa penulis wanita yang dimaksud dalam kisah ini bukan Dewi Lestari/Dee).

Tania adalah penulis yang tidak hanya terkenal, tetapi juga produktif, dan menjadi seleb di Twitter—dia punya puluhan ribu follower. Selain itu, bagi sebagian penulis pemula, Tania juga dianggap sebagai penulis senior yang telah menulis banyak buku, sejak bertahun-tahun lalu. Di Twitter, Tania biasa ngoceh tentang banyak hal yang nyaris selalu di-retweet para follower-nya.

Karenanya, ketika Adam mendapati akun Twitter Tania, Adam pun seketika tergerak mem-follow, karena berpikir dapat belajar dari penulis yang lebih senior darinya. Selain itu, di mata Adam, Tania adalah wanita pintar yang bijak, selain terkenal. Adam pernah membaca beberapa buku Tania, dan menyukainya. Di Twitter, Adam juga menyukai tweet-tweet Tania yang penuh wawasan dan bijaksana.

Hanya berselang beberapa saat setelah Adam mem-follow Tania di Twitter, Adam juga me-retweet dan memfavoritkan beberapa tweet Tania yang disukainya. Wanita ini memang pintar dan bijaksana, pikir Adam waktu itu.

Tapi mungkin Adam salah sangka.

Tidak lama setelah Adam mem-follow akun Tania di Twitter, penulis terkenal itu kemudian menulis rangkaian tweet yang membuat kening Adam berkerut. Tweet-tweet itu tampaknya sengaja ditulis Tania untuk menyindir atau bahkan menyudutkan Adam. Semula, Adam mengira itu kebetulan—suatu hal yang sebenarnya tidak berhubungan tapi ia anggap berhubungan. Tetapi, lama-lama, Adam menyadari bahwa dia memang sedang disindir dan disudutkan.

Bagaimana Adam menyadari kenyataan itu?

Ketika Adam mem-follow akun Tania, hingga kemudian Tania menulis tweet-tweet tersebut, Adam sedang mengobrolkan sesuatu dengan temannya di Twitter. Topik obrolan mereka adalah karya Adam yang waktu itu baru terbit. Sebenarnya itu obrolan biasa sebagaimana umumnya obrolan antarteman. Yang lebih penting lagi, obrolan itu sama sekali tidak menyinggung orang lain, siapa pun.

Nah, Tania menulis rangkaian tweet yang isinya jelas berhubungan dengan topik obrolan antara Adam dengan temannya. Jika hanya satu tweet yang semacam itu, mungkin Adam akan meyakini itu hanya kebetulan. Tapi jika ada rangkaian tweet semacam itu, Adam berpikir itu sungguh kebetulan yang luar biasa, atau sebenarnya bukan kebetulan.

Mungkin, pikir Adam waktu itu, Tania mendapati ada follower baru di Twitter (yaitu Adam), kemudian mengecek ke akun Adam untuk mengetahui siapa follower barunya tersebut. Di timeline Adam waktu itu sedang ada percakapan Adam dengan temannya, yang membahas karya Adam, dan—entah kenapa—Tania kemudian ikut nimbrung secara tidak langsung melalui tweet-tweet-nya. Yang jadi masalah, tweet-twet Tania yang “nimbrung tidak langsung” itu tampak sekali menyindir, menyudutkan, bahkan melecehkan Adam.

Melalui tweet-tweet tersebut, Tania seperti ingin merendahkan Adam karena posisinya sebagai penulis pemula. Kalau mau diterjemahkan ke dalam bahasa yang lugas, kira-kira rangkaian tweet Tania waktu itu berbunyi, “Lu baru penulis pemula, kagak usah belagu!”

Yang menjadikan Adam yakin bahwa rangkaian tweet Tania memang ditujukan untuknya, karena banyaknya kata-kata Adam dalam percakapan dengan temannya yang dikutip Tania dalam rangkaian tweet-nya. Teman-teman Adam di Twitter yang mengetahui hal itu juga berpikir sama, bahwa tweet-tweet Tania memang sengaja ditulis dan ditujukan untuk Adam.

Mendapati hal itu, Adam semula hanya heran. Lalu bingung. Dan tak habis pikir. Tampak sekali, pikir Adam waktu itu, Tania seperti merasa posisinya terancam oleh Adam. Padahal, jika dipikir dengan sehat, apalah arti Adam yang masih ingusan (masih pemula) dibandingkan Tania yang sudah bangkotan (sudah terkenal dan dianggap senior).

Nah, kisah yang semula ada di Twitter itu, kemudian—entah bagaimana awalnya—berpindah ke forum. Di forum, kisah itu pun lalu diobrolkan, didiskusikan, dan dari situlah kemudian mengalir cerita-cerita lain yang mirip dengan itu, yang juga berhubungan dengan Tania, atau dengan orang-orang terkenal lain.

Di antara yang ikut mengobrolkan kisah itu di forum, ada penulis yang bercerita, “Kalau mau kenal sama Tania, sebaiknya jangan sampai dia tahu kalian penulis. Dia suka sirik sama penulis lain, khususnya yang tidak dia kenal. Sejak dulu dia suka menyerang penulis-penulis lain, khususnya yang ia anggap pemula atau tidak terkenal. Tulisannya memang bijak, tapi kelakuannya jauh beda.”

Meski kalimat itu mungkin terdengar tajam, tapi kalimat (dan cerita) aslinya jauh lebih tajam. Cerita yang sebenarnya cukup panjang itu mengungkapkan bagaimana tidak baiknya perilaku Tania terhadap orang lain, khususnya sesama penulis—yang tidak ia kenal, atau yang ia anggap pemula. Tampaknya, Tania tidak ingin ada pesaing, tidak mau punya pesaing, bahkan jika si pesaing masih pemula.

Seperti yang saya nyatakan di atas, kisah itu kemudian beredar di forum-forum, khususnya dua tahun yang lalu. Dari kisah itu pula kemudian terungkap orang-orang terkenal lain yang juga memiliki kisah-kisah tak jauh beda.

Sekarang, ketika menulis catatan ini, saya menulisnya dengan keheranan dan senyum getir. Saya tahu siapa orang-orang yang dimaksudkan dalam kisah tersebut. Yang tidak saya tahu sebelumnya, ternyata kebesaran kadang menyimpan kekerdilan, nama besar kadang menjadi pemilik pikiran kecil. Jika orang yang terkenal dan dianggap besar masih iri kepada yang lebih kecil, apalah arti kebesaran? Jika yang sudah senior dan dianggap hebat masih merasa terancam oleh pemula, apalah arti kehebatan?

Tapi tampaknya memang begitulah manusia—atau kebanyakan manusia. Yang merasa besar cenderung menindas yang lebih kecil, dan di sisi lain aktif menjilat yang dianggap lebih besar darinya. Yang merasa terkenal tidak ingin mendapat pesaing, dan kemudian berusaha menyingkirkan orang lain yang bisa menjadi saingannya. Yang merasa hebat berusaha menyerang orang lain, demi tampak paling hebat sendiri.

Di dunia nyata maupun di dunia maya, kecenderungan semacam itu selalu ada. Karena selalu ada orang-orang yang merasa besar tapi sebesarnya kerdil, selalu ada orang-orang yang merasa hebat tapi sebenarnya picik.

Ketika Krisdayanti masih artis pemula, dia dipandang sebelah mata oleh artis-artis lainnya, khususnya oleh mereka yang merasa dirinya lebih hebat dan lebih senior. Bukan hanya “dipandang sebelah mata”, Krisdayanti bahkan mendapati sikap serta perlakuan tidak menyenangkan dari artis-artis lain—tidak hanya di atas panggung, tapi juga di luar panggung. Krisdayanti tidak pernah bisa melupakan saat-saat itu, karena dia tidak pernah membayangkan “semengerikan” itu dunia selebriti, dan betapa tingginya tingkat persaingan yang ada di dalamnya.

Bertahun-tahun kemudian, ketika telah menjadi artis terkenal, Krisdayanti menyatakan, “Pengalaman tidak menyenangkan yang saya alami waktu itu sekarang menjadi pelajaran bagi saya, untuk tidak melakukan hal sama pada artis-artis yang masih baru atau masih pemula.”

Di dunia ini, ada orang-orang yang merasa dirinya besar dan menggunakan kebesarannya untuk menindas yang kecil, ada pula orang-orang yang merasa dirinya besar dan menggunakan kebesarannya untuk membantu yang kecil. Yang menjadi masalah, kita tidak pernah tahu kapan yang besar akan menjadi kecil, dan kapan yang kecil akan menjadi besar. Hidup selalu punya misteri—ukuran besar dan kecil bisa berubah hanya dalam hitungan hari.

Oh, well, kita mungkin terlalu memuja ukuran—sibuk menjilat yang besar, seiring menindas yang kecil. Padahal, seiring hari berganti dan waktu yang terus berjalan, selalu ada kemungkinan yang kecil akan menjelma wujud kebesaran, sementara yang besar menjadi fosil terlupakan.

Terjerumus ke Dalam Putih-putih

Sebagai bocah, kadang aku membayangkan diriku terjerumus ke dalam putih-putih.

Tweet Bocah

Seorang bocah berkali-kali mengirim mention kepada idolanya di Twitter, berharap mention itu dibalas, tapi sang selebtweet tidak pernah menghiraukan mention-nya. Akhirnya, bocah itu menulis tweet di timeline-nya, “Suatu hari kelak, dia akan membalas mention-ku.”

Teman si bocah merespon tweet itu dengan mention, “Ah, harapanmu keliru, tuh.”

“Keliru bagaimana?” tanya si bocah.

“Seharusnya kamu tidak berharap seperti itu.”

“Jadi, apa yang seharusnya kuharapkan?”

Teman si bocah memberitahu, “Seharusnya, kamu berharap suatu hari kelak dia yang akan berharap kamu membalas mention-nya.”

....
....

Beberapa hari kemudian, bocah itu menulis tweet di timeline-nya, “Suatu hari kelak, seleb-fucking-tweet itu akan berharap aku membalas mention-nya.”

....
....

Saya tertawa di kejauhan.

Rabu, 06 Agustus 2014

Luka Mengubah Dunia (7)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Menggunakan popularitas dan pengaruhnya, Mukhtaran Mai mendesak para polisi, wartawan, pengacara, dan pihak-pihak berwenang untuk membantu kasus wanita-wanita yang menjadi korban kekerasan. Dia memang bukan orang terpelajar, sehingga tidak pintar berbicara di depan umum dengan cara memukau. Tetapi dia tahu apa yang ingin dikatakan. Dan jika seseorang tahu apa yang ingin dikatakan, maka dunia akan mendengarkan.

Sejak itu, suatu hal besar terjadi di Pakistan. Kelompok-kelompok pemberi bantuan berdiri di mana-mana, dan membantu korban-korban kekerasan, sementara para pelaku dituntut mempertanggungjawabkan perbuatannya. Angka perkosaan dan kekerasan terhadap wanita mengalami penurunan drastis, dan pemerkosaan terhadap anak perempuan miskin semakin jarang. Angka perkosaan di Pakistan memang bisa dibilang tidak ada datanya. Tapi siapa pun yang hidup di sana tahu bahwa kasus perkosaan kini semakin jarang, mengingat sebelumnya perkosaan dianggap sebagai semacam olahraga ringan.

Pada 2 Mei 2006, Mukhtaran Mai berbicara di markas besar PBB di New York. Dalam pertemuan itu ia mengatakan, “Aku ingin menyampaikan pesan ke seluruh dunia, bahwa orang harus berjuang demi hak-haknya, dan demi hak-hak untuk generasi yang akan datang.”

Ia disambut oleh Wakil Sekjen PBB, Shashi Tharoor, yang berkata dengan nada memuji, “Siapa pun yang memiliki keberanian moral dan kekuatan batin untuk mengubah serangan brutal seperti itu menjadi sebuah senjata untuk membela orang lain dalam posisi yang serupa, memang benar-benar seorang pahlawan, dan layak memperoleh penghormatan serta penghargaan kita yang terdalam.”

Dengan makin terkenalnya Mukhtaran Mai, bukan berarti jalannya kini tanpa penghalang. Selalu ada orang-orang dengki yang membenci keberhasilan orang lain. Selalu ada keparat-keparat berhati kotor yang ingin menjatuhkan orang lain. Selalu ada bangsat-bangsat kerdil yang memandang kesuksesan orang lain tidak dengan kekaguman, tapi dengan iri hati dan kebencian. Di antara orang-orang semacam itu, Presiden Musharraf bahkan termasuk.

Musharraf masih menganggap Mukhtaran Mai telah mempermalukan negaranya, pemerintahnya, nama baik bangsanya. Sebagai pemimpin, dia bukannya bangga menyaksikan seorang rakyatnya bisa mencapai prestasi besar, tetapi justru sakit hati. Duta-duta besar dari banyak negara kini lebih sering bertemu dengan Mukhtaran Mai daripada dengannya. Para wartawan dan orang-orang penting dari luar negeri lebih sering berkunjung ke sekolah Mukhtaran Mai daripada ke istananya.

Musharraf kena penyakit saraf—khas orang-orang pendengki. Dan karena dibakar iri hatinya sendiri, Musharraf pun sampai melakukan perbuatan yang sangat tercela. Dia melakukan rekayasa kotor dengan memfitnah keluarga Mukhtaran Mai. Menggunakan aparat intelijen yang masih menjadi antek-anteknya, Musharraf merekayasa kasus dengan tuduhan bahwa saudara lelaki Mukhtaran Mai melakukan suatu kejahatan, dan ditangkap.

Seiring dengan itu, ia menekan koran-koran di Pakistan untuk tidak lagi memberitakan aktivitas Mukhtaran Mai. Sebagai gantinya, ia menerbitkan koran-koran sendiri yang isinya memfitnah Mukhtaran Mai dan keluarganya. Di koran itu Mukhtaran Mai dituduh hidup bergelimang kemewahan dan menjadi orang sok kaya (padahal dia tidur di lantai kamarnya). Sementara koran sampah lain menulis dengan sinis, “Mukhtaran Mai memang punya niat baik, tapi dia hanya orang kampung.”

Kemudian, agar tidak ada lagi wartawan-wartawan asing yang beraktivitas di sana, pemerintah Pakistan menolak permintaan visa para wartawan yang biasa datang ke Pakistan. Puncaknya, Musharraf memerintahkan seseorang untuk membunuh Mukhtaran Mai. Kelak, Mukhtaran Mai menceritakan, “Di waktu-waktu itulah, aku menyadari pemerintah benar-benar serius ingin menghancurkanku.”

Orang yang mendapat tugas untuk membunuh Mukhtaran Mai adalah Farooq Leghari. Dia seorang polisi tangguh, lelaki beringas berbadan besar, yang biasa memukuli tersangka untuk mendapat pengakuan. Namanya sudah cukup membuat para bajingan di Pakistan bergidik ngeri, dan berurusan dengannya artinya berurusan dengan darah dan luka.

Dia pernah ditugaskan di daerah paling keras di Pakistan, dan sejak kedatangannya semua bajingan di sana berhenti melakukan kejahatan. Segala yang diketahuinya hanyalah kekerasan, dan hidupnya dijalani dengan prinsip hukum rimba. Orang mengerikan itulah yang dikirim ke Meerwala untuk membunuh Mukhtaran Mai.

Farooq Leghari pun datang ke Meerwala, dan mulai melakukan pengintaian terhadap Mukhtaran Mai untuk mengetahui kapan dan di tempat mana yang paling tepat untuk menghabisi wanita itu. Karena Mukhtaran Mai jarang sendirian, Leghari pun agak kesulitan mencari tempat yang ideal untuk melakukan rencananya. Tetapi, sebagai profesional, dia terus bersabar dan terus memantau calon korbannya.

Selama memantau Mukhtaran Mai, ada sesuatu yang dirasakan Farooq Leghari. Semula, rencananya datang ke Meerwala hanya untuk membunuh wanita itu, lalu segera pergi dari sana. Tetapi, selama waktu-waktu itu, ia menyaksikan sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lihat. Ketulusan. Cinta kasih. Kerja keras yang dilakukan untuk hal-hal baik terhadap sesama. Dan... seorang wanita lemah yang mampu mengubah wajah negaranya, yang mampu mempengaruhi dunia.

Farooq Leghari merasa ragu. Ia menyadari dirinya bukan orang baik, dan ia pun tahu tugasnya datang ke tempat itu hanya untuk membunuh calon korban yang telah ditetapkan. Tetapi, menyaksikan keseharian Mukhtaran Mai yang diabdikan untuk sekolahnya, untuk kebaikan sesamanya, nurani Leghari merasa terketuk. Bagaimana mungkin dia harus membunuh wanita sebaik itu...?

Kelak, Farooq Leghari menceritakan, “Yang kualami waktu itu semacam perasaan spiritual. Aku senang melihatnya (Mukhtaran Mai) bekerja di sekolah, atau di rumah penampungan.”

Akhirnya, ia memutuskan untuk melanggar perintah yang diterimanya. Ia tidak akan membunuh Mukhtaran Mai—ia tidak sanggup melakukannya. Kepada penghubungnya yang memberikan perintah itu, ia dengan tegas menolak melakukan pekerjaan tersebut.

Penolakan Farooq Leghari terhadap perintah itu bukannya tanpa konsekuensi. Akibat penolakannya melakukan tugas, Leghari dibuang ke tempat terpencil, bahkan dia sempat berpikir akan dibunuh. Tetapi, akibat perasaannya yang tersentuh menyaksikan kehidupan Mukhtaran Mai, dia tidak takut menghadapi ancaman yang mungkin akan datang. Bahkan, ia mengakui, kini merasa punya tujuan hidup. Dari tempatnya yang terpencil, dia membuka mulut dan menceritakan semua hal yang telah diperintahkan kepadanya.

Orang yang semula akan membunuh Mukhtaran Mai itu kini menjadi pembelanya yang paling keras bersuara. Koran-koran meliputnya, televisi menyiarkan seruannya. Ia membela perjuangan Mukhtaran Mai, dan mengutuk pemerintahnya yang telah berbuat sewenang-wenang.

“Selama ini aku memang orang jahat,” ujar Leghari saat diwawancarai. “Jahat kepada orang jahat. Tetapi, saat melihat Mukhtaran Mai, aku berpikir, pernahkah aku berbuat sesuatu yang baik? Well, kini aku punya kesempatan untuk melakukan kebaikan. Wanita itu, Mukhtaran Mai, seorang diri telah menolong banyak orang, dan aku tergerak untuk menolongnya—aku harus menolongnya! Kupikir, sekarang aku telah melakukan hal baik, meski aku tahu nyawaku terancam.”

Di kejauhan, Mukhtaran Mai mengetahui keberadaan lelaki yang tak dikenalnya itu, menyadari pembelaan yang diberikannya, dari koran-koran dan siaran televisi. Dari waktu ke waktu, ia pun tahu lelaki itu tak pernah berhenti membelanya.

Pada 2008, pemerintahan Musharraf jatuh. Jatuhnya Presiden Musharraf menjadikan seluruh perintahnya tidak relevan lagi. Pergantian pemimpin dan pemerintah di Pakistan membuka lembaran baru. Koran-koran yang semula ditekan kini kembali bebas bersuara, media-media tukang fitnah hilang satu per satu, wartawan-wartawan asing kembali bisa masuk Pakistan, kakak lelaki Mukhtaran Mai dibebaskan, dan dinas intelijen yang semula sibuk mengawasi Mukhtaran Mai kini punya kesibukan baru memburu teroris.

Sementara itu, Farooq Leghari meninggalkan tempat pembuangannya yang terkucil, dan pergi ke Desa Meerwala untuk membantu perjuangan dan pekerjaan Mukhtaran Mai.

Sejak itu, Leghari membantu kegiatan dan aktivitas-aktivitas Mukhtaran Mai di sekolahnya, di rumah penampungan, mengerjakan kasus yang menimpa wanita-wanita korban kekerasan, datang ke kantor polisi, ke pengadilan, menemui pengacara, hakim, jaksa—sebut lainnya. Dengan keberadaan Farooq Leghari di sana, tidak ada lagi idiot-idiot yang berani mengusik kerja kemanusiaan yang dilakukan Mukhtaran Mai.

Karena segala aktivitas yang dilakukan Leghari bersamanya, Mukhtaran Mai pun merasa dekat dengan lelaki itu. Meski berasal dari dunia yang berbeda, tetapi mereka kini memiliki visi yang sama—kerja kemanusiaan, semangat cinta kasih, dan ketulusan untuk membantu sesama. Suatu hari, Leghari berkata pada Mukhtaran Mai, “Melihatmu, aku tahu tujuan hidupku.”

Pada 2009, mereka menikah. Pernikahan itu menjadi salah satu pernikahan paling spektakuler di Pakistan. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena banyaknya orang yang ingin ikut merayakannya. Para pejabat Pakistan, duta-duta besar, wartawan-wartawan lokal dan asing, semuanya berkumpul di hari besar itu, sementara anak-anak sekolah bernyanyi riang untuk pahlawan mereka.

Di antara keramaian itu, Nicholas Kristof menatap sepasang mempelai dengan terharu. Seorang wanita, pikirnya.

Seorang wanita buta huruf dari keluarga petani miskin di desa terbelakang, berjuang seorang diri melawan kebodohan dan keterbelakangan masyarakatnya, melawan aparat yang sewenang-wenang, melawan pemerintahnya, melawan presidennya, melawan takdirnya, melawan ketertindasan kaumnya... dan membuka mata dunia. Berkat upaya Mukhtaran Mai, wajah dunia tak pernah sama lagi.

Luka Mengubah Dunia (6)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Kisah Mukhtaran Mai telah memberikan inspirasi bagi berjuta-juta wanita di dunia—kisah tentang seorang wanita bodoh dan miskin yang tinggal di desa, tertindas, teraniaya, dan seorang diri melawan kesewenang-wenangan negaranya, hingga kemudian diundang ke Gedung Putih untuk ngobrol dengan Presiden Amerika. Karena kenyataan itu, majalah Glamour pun jatuh cinta kepadanya, dan bermimpi setengah mati untuk bisa menampilkan wanita itu di halaman majalah mereka yang mewah.

Pada 2 November 2005, dengan mencarter pesawat kelas satu, majalah Glamour menjemput Mukhtaran Mai untuk datang ke New York, dalam penganugerahan “Woman of The Year”. Dalam pesta yang gemerlap itu, berbagai tokoh dan selebritas datang, termasuk Laura Bush, istri Presiden George W. Bush. Di acara itu pula, Mukhtaran Mai dikenalkan dengan Brooke Shields, seorang model terkenal yang juga mengaguminya. Omong-omong, Mukhtaran Mai sebelumnya tidak kenal siapa Brooke Shields.

Di akhir acara mewah yang diliput berbagai media itu, Laura Bush didaulat untuk memberikan sambutan atas terpilihnya Mukhtaran Mai sebagai Woman of The Year. Laura Bush menyatakan, “Jangan berpikir ini sekadar dongeng menyentuh hati. Mukhtaran Mai telah membuktikan bahwa seorang wanita mampu mengubah dunia.”

Selama acara itu berlangsung, Mukhtaran Mai menjadi selebritas dunia. Ia tinggal di suite kelas satu di sebuah hotel mewah di Central Park West. Ia menerima banyak wartawan untuk wawancara, dan profil serta wawancara-wawancaranya termuat di banyak media. Bersama segala kemewahan dan fasilitas kelas satu, yang paling dirindukan Mukhtaran Mai adalah rumahnya yang sederhana di desa.

Saat kembali ke Pakistan, banyak pejabat di sana yang menyadari besarnya pengaruh yang dimiliki Mukhtaran Mai sekarang. Apa yang keluar dari mulutnya akan dikutip media, apa yang dikatakannya akan dapat menjatuhkan atau mengangkat seseorang. Menyadari hal itu pula, banyak pejabat berdatangan menemui Mukhtaran Mai, untuk mendapatkan simpati. Jika Mukhtaran Mai punya kesan positif untuk mereka, dan mau menyatakannya di media, maka nasib baik akan mengikuti mereka.

Kepada para pejabat itu, Mukhtaran Mai biasanya berkata, “Di wilayah Pakistan mana Anda bekerja?”

Umumnya, para pejabat itu menjawab mereka bertugas di Islamabad, Lahore, atau Karachi—daerah-daerah perkotaan besar yang sama sekali tidak membutuhkan bantuan. Karenanya pula, Mukhtaran Mai biasanya akan menyatakan, “Di negara kita, wilayah pinggiranlah yang membutuhkan bantuan. Silakan datang ke desa-desa, dan lakukan pekerjaan Anda.”

Kenyataannya, Mukhtaran Mai menjalani kehidupan dengan prinsip yang sama. Meski banyak pihak yang memintanya agar tinggal di Islamabad atau kota lain yang memiliki fasilitas mewah, ia tetap tinggal di desa. “Tugasku adalah di desaku,” ujarnya. “Di sanalah mereka membutuhkanku, dan di sana pula aku menemukan takdirku.”

Yang dilakukan Mukhtaran Mai, dengan segala perjuangannya, seperti melemparkan kerikil ke dalam sungai. Lemparan itu melahirkan riak kecil yang kemudian menjadi gelombang besar. Sesuatu yang dirintisnya seorang diri kini telah menarik banyak pihak untuk ikut berperan dan membantu. Sekolah di desanya yang semula sangat sederhana kini telah menjadi sekolah layak dengan banyak murid.

Suatu hari, Mukhtaran Mai menghubungi Nicholas Kristof di New York. “Nick,” ujarnya, “akan ada acara kenaikan kelas di sekolahku. Kau mau datang untuk memberikan sambutan untuk mereka?”

Dengan suara yang gembira, Nicholas Kristof menyahut, “Tentu saja aku akan datang!”

Ketika Kristof datang ke Pakistan dan memberikan sambutan di sekolah Mukhtaran Mai di desa Meerwala, ia sangat terharu saat melihat semuanya. Sekolah yang dulu hanya memiliki beberapa murid kini telah menjadi tempat belajar bagi lebih dari seribu murid, dengan guru-guru penuh kasih yang membimbing mereka, dengan para orangtua yang bersuka cita menyaksikan anak-anaknya bersekolah.

Dan perjuangan Mukhtaran Mai belum berhenti. Setelah sekolah yang diimpikannya kini terwujud, setelah anak-anak perempuan di desanya bisa bersekolah, setelah masyarakatnya mau belajar, Mukhtaran Mai terus bekerja keras. Kali ini ia memperjuangkan hak-hak kaum perempuan.

Di desa-desa di Pakistan, kawin paksa yang melibatkan anak-anak perempuan di bawah umur biasa terjadi. Kenyataan itu juga terjadi pada anak-anak perempuan yang bersekolah di tempat Mukhtaran Mai. Sering ia mendapati ada murid yang bercerita bahwa ia akan dinikahkan dengan seorang lelaki yang bahkan belum pernah dilihatnya, sementara usia si anak perempuan baru 12 tahun.

Kenyataan itulah yang menyadarkan Mukhtaran Mai bahwa perjuangannya belum selesai. Anak-anak perempuan di desanya masih belum memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri, bahkan hak yang sangat penting seperti pernikahan. Karena hal itu pulalah, ia kemudian bertekad untuk membuat sekolah lanjutan, agar murid-murid di sekolahnya bisa terus bersekolah sampai ke jenjang lebih tinggi.

Melalui bantuan banyak pihak, impian Mukhtaran Mai kembali diwujudkan. Ia membangun sekolah setingkat SMP, kemudian SMA, hingga anak-anak yang lulus dari sekolah dasar bisa terus melanjutkan pendidikan, agar mereka terus belajar. Melalui sumbangan yang diterimanya, dia berternak sapi yang diambil susunya, dan pendapatan yang diperoleh digunakannya untuk mengembangkan sekolahnya. Ia membeli minibus untuk antar-jemput murid-muridnya, yang juga ia pinjamkan untuk membawa orang ke rumah sakit atau wanita yang akan melahirkan.

Ketika sekolah-sekolah di desanya dianggap dapat berjalan lancar, Mukhtaran Mai kembali membangun sekolah di daerah lain. Daerah yang dipilihnya adalah salah satu tempat kumuh yang banyak dihuni para gangster. Ia tahu, sebagaimana desanya, daerah itu pun termasuk terbelakang akibat kebodohan, akibat orang-orang di sana tidak belajar, karena tidak adanya sekolah.

Saat Mukhtaran Mai memutuskan membangun sekolah di daerah itu, banyak pihak yang mengkhawatirkannya. Namun, kekhawatiran itu rupanya tak terjadi. Alih-alih merampok sekolah yang baru didirikan, para gangster di sana bahkan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah tersebut. Di sela-sela kesibukan itu, Mukhtaran Mai mengisi acara mingguan di televisi Pakistan.

Untuk memenuhi kebutuhan pengajar yang makin banyak, Mukhtaran Mai menerima sukarelawan untuk mengajar di sekolah-sekolahnya, dan menyediakan kamar untuk mereka, serta makan sehari-hari, jika mereka bersedia tinggal beberapa bulan. Dia juga mendirikan kelompok pemberi bantuan, “Mukhtaran Mai Woman’s Welfare Organization”, yang menyediakan layanan hotline 24 jam bagi wanita yang dianiaya. Organisasi itu memiliki klinik resmi yang gratis, perpustakaan umum, dan rumah penampungan bagi korban kekerasan.

Rumah penampungan itu diperlukan. Karena, begitu kemasyhuran Mukhtaran Mai tersebar, wanita-wanita korban kekerasan dari seluruh negeri berdatangan ke sana untuk menemuinya. Mereka datang dengan bus, naik taksi, ojek, ricksaw (becak di Pakistan), atau bahkan berjalan kaki. Sebagian mereka kadang tak punya ongkos, dan Mukhtaran Mai yang membayar ongkos perjalanan mereka.

Lanjut ke sini.

Luka Mengubah Dunia (5)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Mukhtaran Mai menyadari aktivitasnya kini terus dipantau. Ia tidak bisa dihubungi wartawan luar negeri karena sambungan teleponnya telah diputus, ia tidak bisa pergi kemana-mana karena telah dicekal, ia juga tidak bisa bebas berkomunikasi dengan siapa pun karena orang-orang juga ketakutan jika terlihat bercakap-cakap dengannya.

“Aku memang mencemaskan keselamatanku,” ujar Mukhtaran Mai suatu kali. “Tapi aku tidak akan mundur, dan aku akan terus menyerukan agar pemerintah Pakistan lebih memperhatikan hak-hak perempuan.”

Mengetahui langkah pemerintah Pakistan yang kini mengisolasi Mukhtaran Mai, Nicholas Kristof diam-diam menemuinya, dan secara rahasia memberikan sebuah ponsel dengan sambungan internasional. “Gunakan ini, jika kau ingin menghubungiku,” ujar Kristof.

Mukhtaran Mai sangat berterima kasih atas segala bantuan yang selama ini diberikan jurnalis itu. Dengan suara terbata-bata, ia menyatakan, “Terima kasih, Mr. Kristof. Kau telah banyak menolongku selama ini.”

“Teman-teman baikku biasa memanggilku Nick,” ujar Kristof. “Dan sebaiknya kau juga memanggilku begitu.”

“Kau baik sekali, Nick.”

Melalui ponsel pemberian Kristof, Mukhtaran Mai kini memiliki sarana untuk kembali menyuarakan perjuangannya. Untuk dapat menghubungi Kristof, Mukhtaran Mai harus naik genteng rumahnya demi mendapatkan sinyal, sekaligus bersembunyi dari intaian orang-orang yang terus memantaunya. Sementara itu, di Amerika, Nicholas Kristof tekun mendengarkan suara-suara Mukhtaran Mai, dan menyampaikannya melalui tulisan-tulisannya.

Di masa itu, pemerintahan Musharraf sebenarnya sedang di ujung tanduk. Terlepas dari kasus Mukhtaran Mai, Presiden Musharraf sedang menghadapi berbagai masalah politik di negaranya, sekaligus ancaman kudeta yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Karenanya, untuk mempertahankan kekuasaannya dan mendapatkan dukungan luar negeri, Musharraf benar-benar harus bekerja keras meyakinkan semua pihak bahwa negaranya “baik-baik saja”.

Karenanya pula, dia benar-benar murka ketika mendapati koran New York Times masih menulis kasus Mukhtaran Mai, dan masih bisa mewawancarai wanita itu. Bagaimana koran itu bisa menghubungi Mukhtaran Mai, padahal dia telah diisolasi? Musharraf paham New York Times dibaca secara luas di dunia, dan apa pun yang dimuat koran itu menyangkut Mukhtaran Mai bisa mengancam posisinya.

Menyadari Mukhtaran Mai tidak bisa dibungkam dengan mudah, akhirnya Musharraf pun melakukan upaya terakhir. Ia memerintahkan agen intelijennya untuk menculik Mukhtaran Mai, dan menyembunyikannya di tempat yang tak bisa ditemukan siapa pun, agar wanita itu tak bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Ia tidak berani langsung membunuh wanita itu, karena implikasinya akan sangat besar, dan akan menjadi sorotan internasional.

Jadi begitulah. Suatu hari, Mukhtaran Mai diculik sekolompok orang, dan dibawa ke suatu tempat tersembunyi. Sejak itu, tidak ada yang tahu bagaimana nasibnya, tidak ada yang tahu dimana ia berada.

Selang beberapa waktu sejak penculikan Mukhtaran Mai, Menteri Luar Negeri Pakistan berkunjung ke Amerika, untuk bertemu Presiden George W. Bush. Mereka bercakap-cakap di Gedung Putih, dan Menteri Luar Negeri Pakistan membual tentang negaranya yang kini aman, damai, sentosa, dengan pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan, dengan sistem pemerintahan yang sesuai “Ayat-Ayat Amerika”.

Di akhir pertemuan, dengan disorot kamera berbagai media massa dan televisi, George W. Bush dengan pede memuji Pakistan sebagai negara yang hebat, berkat “kepemimpinan Musharraf yang berani.”

Sementara itu, di sebuah kantor di New York, Nicholas Kristof kebingungan karena tidak bisa menghubungi Mukhtaran Mai seperti biasa. Ponsel wanita itu terus-menerus tidak aktif, padahal hal semacam itu tidak pernah terjadi. Ada yang tidak beres, pikirnya. Maka Kristof kemudian terbang ke Pakistan secara diam-diam, dan mencari tahu apa yang terjadi pada Mukhtaran Mai.

Tidak butuh waktu lama bagi Kristof untuk mengetahui penculikan yang terjadi pada wanita itu. Setelah mengumpulkan semua informasi yang dibutuhkan, Kristof menuliskan penculikan itu dengan bahasa yang provokatif di New York Times—sedemikian provokatif, hingga Presiden Amerika harus merasa malu karena telah memuji Presiden Pakistan.

Ketika George W. Bush membaca berita penculikan Mukhtaran Mai di New York Times, mau tidak mau dia harus menjilat ludahnya sendiri. Pemerintah macam apa yang menculik seorang wanita desa yang lemah? Bush lalu memerintahkan Menteri Luar Negeri Amerika, Condoleeza Rice, untuk menghubungi Menteri Luar Negeri Pakistan, dan memintanya agar melepaskan Mukhtaran Mai. Sebagai penekanan, ia menyatakan, “Omong-omong, aku ingin bertemu dengannya.”

Mendapat tekanan dari Gedung Putih, Presiden Musharraf tidak punya pilihan lain. Ia memerintahkan agar Mukhtaran Mai dilepaskan. Kepada pers, juru bicara kepresidenan kemudian berdalih bahwa penculikan itu terpaksa dilakukan untuk menjaga keamanan Mukhtaran Mai, dan—jika keadaan sudah memungkinkan—para pejabat Pakistan akan mengawal Mukhtaran Mai untuk berkunjung ke Amerika Serikat.

Pencekalan terhadap Mukhtaran Mai pun dicabut, dan paspornya dikembalikan. Ketika akan berkunjung ke Amerika, Mukhtaran Mai ditekan pemerintahnya agar memberikan pernyataan bahwa pemerintah Pakistan telah melakukan hal-hal baik, dan negeri mereka tidak punya masalah apa pun. Mukhtaran Mai dengan tegas menolak. “Aku akan pergi dengan kemauan sendiri,” ujarnya. Dalam hati, ia menambahkan, “Dan aku akan mengatakan apa pun yang kuinginkan.”

Kedatangan Mukhtaran Mai ke Gedung Putih bak kedatangan selebritas. Ratusan wartawan dan fotografer berdesakan dengan mikrofon dan kamera-kamera mereka, sementara acara itu disiarkan langsung berbagai stasiun televisi. Di Gedung Putih, Mukhtaran Mai bercakap-cakap dengan Presiden Amerika, juga dengan Menteri Luar Negeri Amerika serta Prancis, mendiskusikan masalah internasional, serta beberapa hal menyangkut Pakistan.

Lanjut ke sini.

Luka Mengubah Dunia (4)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Nicholas Kristof, jurnalis New York Times, terus memantau perkembangan kasus Mukhtaran Mai, dan ia pun tahu keberadaan sekolah baru itu. Ia datang ke Pakistan dan kembali berbicang-bincang dengan Mukhtaran Mai mengenai sekolah baru di tempatnya. Kristof menuliskan kembali kisah itu di koran tempatnya bekerja, dan kembali menyentakkan kesadaran dunia.

Kisah yang ditulis Kristof menarik perhatian Komisioner Tinggi Kanada di Islamabad, Margaret Hurber. Kanada dan Pakistan telah bekerjasama dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pemerintahan, sejak 1947. Ketika membaca tulisan Kristof di New York Times, Margaret Hurber datang bersama rombongannya ke Pakistan dan menemui Mukhtaran Mai. Mereka memberikan sumbangan sebesar 2.200.000 rupee, sebagai kontribusi Kanada untuk pembangunan sekolah di sana.

Sejak itu, berbagai sumbangan lain terus mengalir. Para pembaca koran New York Times yang ikut bersimpati pada perjuangan Mukhtaran Mai kemudian mengumpulkan sumbangan yang disalurkan melalui Mercy Corps, suatu organisasi bantuan yang bekerja di Pakistan.

Dengan semua bantuan dan sumbangan itu, sekolah yang semula sangat sederhana bisa diperbaiki. Gedungnya diperluas dengan banyak kelas, dilengkapi perpustakaan dengan jumlah bacaan yang layak, dan para guru yang mengajar juga bisa mendapat gaji yang teratur. Impian terindah Mukhtaran Mai kini terwujud.

Tetapi kisah ini belum selesai.

Berbeda dengan kisah sinetron yang berakhir happy ending dengan sangat mudah, kisah di dunia nyata sering kali tak semudah itu. Banyaknya perhatian dunia internasional yang diarahkan kepada Mukhtaran Mai membuat pemerintah Pakistan gusar. Presiden Musharraf yang semula mendukungnya, kini berbalik menentangnya. Hal itu tidak bisa dipisahkan dari politik. Pakistan, di bawah pemerintahan Musharraf, ingin dikenal sebagai negara yang memiliki ekonomi berkembang. Sementara perhatian internasional terhadap Mukhtaran Mai menjadikan Pakistan dikenal akibat perkosaan barbar.

Yang lebih mengkhawatirkan, Mukhtaran Mai sering diminta tampil di televisi, dan diwawancarai tentang nasib bangsanya. Dengan blak-blakan, Mukhtaran Mai menceritakan semua yang ia tahu, dan dengan sama blak-blakannya ia menyatakan bahwa kasus perkosaan terhadap kaum wanita di Pakistan adalah masalah yang sistemik. Pemerintahnya tidak terlalu mempedulikan kasus semacam itu, karena sudah dianggap hal biasa.

Pemerintah Pakistan, khususnya Musharraf, merasa dipermalukan oleh semua itu. Wajah negara telah dicoreng moreng oleh seorang wanita miskin dan bodoh. Ini harus dihentikan. Wanita itu harus dibungkam.

Presiden Musharraf seperti dipaksa memikirkan hal itu dengan matang. Bagaimana pun, Mukhtaran Mai telah menjadi perhatian internasional. Jika ia salah melangkah, maka nasib pemerintahannya di ujung tanduk. Musharraf tidak bisa memerintahkan polisi-polisi tolol yang sok kuasa untuk menangani kasus ini. Persoalan ini telah menjadi urusan negara. Maka ia pun memerintahkan dinas intelijen untuk turun tangan, agar menyelesaikan masalah itu dengan halus.

Mula-mula, Mukhtaran Mai diminta secara baik-baik, agar mulai tutup mulut dan tidak lagi berkoar-koar di televisi. “Ini menyangkut nasib baik negara kita,” ujar petugas yang menemuinya.

Tetapi Mukhtaran Mai tidak gentar. Ia tetap menerima panggilan wawancara dari televisi dan koran-koran internasional, dan tetap menyuarakan apa yang ingin disuarakannya. Ia memang wanita miskin, bodoh, dan buta huruf. Tetapi jika seorang manusia tahu apa yang ingin disuarakannya, maka dunia harus mendengarkan. Oh, well, dia tidak akan diam. Karena dunia masih akan mendengarkan.

Karena permintaan halus itu tidak dituruti Mukhtaran Mai, Presiden Musharraf pun menggunakan cara lain. Melalui tangan intelijen yang memotong jalur panjang birokrasi, ia memerintahkan semua terdakwa yang dulu telah masuk penjara akibat kasus itu agar dibebaskan. Pembebasan semua penjahat pemerkosa itu akan menjadi tekanan bagi Mukhtaran Mai, dan ia berharap wanita itu mulai menyadari bahwa dia telah berhadapan dengan kekuasaan pemerintah.

Kenyataannya, Mukhtaran Mai memang sangat berduka dan tertekan begitu mengetahui para pemerkosanya kini dibebaskan. Perjuangan dan pengorbanannya yang sangat berat dan panjang kini sia-sia. Ia merasa telah dizalimi oleh penguasa, dan ia terluka.

Yang merasakan hal semacam itu tidak hanya Mukhtaran Mai. Ketika mengetahui para terdakwa perkosaan itu dibebaskan, berbagai LSM dan pers asing marah dan melakukan demonstrasi, serta menuntut agar bajingan-bajingan itu dikembalikan ke penjara. Sementara itu, warga Meerwala yang semula sudah damai dan senang karena anak-anak mereka bisa bersekolah, kini khawatir orang-orang Suku Mastoi akan melakukan pembalasan dan merusak sekolah mereka.

Mukhtaran Mai kemudian pergi menemui Menteri Dalam Negeri untuk mencari dukungan. Ia datang ke sana bersama pengacara dan para pendukungnya—para aktivis pendukung hak asasi manusia—dengan ditemani wartawan dari berbagai belahan dunia.

Pertemuan dengan Menteri Dalam Negeri tidak menghasilkan solusi yang disepakati. Tidak mau menyerah, Mukhtaran Mai mendatangi Perdana Menteri dan menuntut agar semua terdakwa yang telah dibebaskan ditangkap kembali. Semula, Perdana Menteri menjanjikan akan segera menangkap mereka kembali. Tetapi, Mukhtaran Mai dan para pendukungnya bersumpah tidak akan meninggalkan kantor Perdana Menteri sebelum bajingan-bajingan itu telah terkurung kembali di penjara.

Akhirnya, Perdana Menteri pun memerintahkan kepolisian agar segera menangkap kembali para penjahat itu. Sebelum pulang ke desanya, Mukhtaran Mai menelepon adiknya dan menanyakan hal itu. Adiknya menjawab, ia memang melihat semua terdakwa itu telah ditangkap kembali dari rumahnya.

Presiden Musharraf sakit kepala. Upayanya untuk menghentikan Mukhtaran Mai tidak berhasil seperti yang ia harapkan. Maka ia pun memutuskan untuk mulai bermain kasar. Mengetahui banyak wartawan yang menghubungi Mukhtaran Mai lewat telepon di rumahnya, Musharraf pun memerintahkan bawahannya agar sambungan telepon di rumah wanita itu diputuskan. Dan untuk mencegah Mukhtaran Mai keluar dari Pakistan karena diundang wawancara televisi di luar negeri, Musharraf memerintahkan agar wanita itu dicekal, sementara paspornya dibekukan.

Upaya Masharraf tidak berhenti di situ. Untuk memastikan Mukhtaran Mai benar-benar tidak pergi jauh dari rumahnya, orang-orang dari dinas intelijen disebar di wilayah Meerwala untuk terus memantau semua aktivitas wanita itu, dan memastikan Mukhtaran Mai benar-benar tidak pergi jauh, tidak menemui atau ditemui siapa pun, juga tidak berkomunikasi dengan orang asing mana pun.

Lanjut ke sini.

Luka Mengubah Dunia (3)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Kini, kasus Mukhtaran Mai tidak hanya menjadi kasus lokal, tapi telah menjadi masalah nasional, bahkan internasional. Puncaknya, Amnesty Internasional mulai turun tangan, dan LSM-LSM pejuang hak asasi manusia mulai bergerak menuntut keadilan.

Sementara itu, hakim yang sebelumnya telah mencari informasi mengenai kasus Mukhtaran Mai di Pakistan kini mulai membukakan masalah sebenarnya kepada pers lokal, dan menceritakan bagaimana kerja kepolisian di sana yang dinilainya tidak beres dalam menangani kasus tersebut. Tekanan dari pers kemudian membuat Menteri Kehakiman Pakistan berbicara di televisi, dan menyatakan bahwa keputusan Dewan Jirga adalah sebuah tindakan terorisme.

Bola salju itu semakin menggelinding liar, dan makin membesar. Pemerintah Pusat Pakistan segera mengambil langkah serius untuk menangani kasus Mukhtaran Mai. Mereka memerintahkan pihak kepolisian segera menuntaskan kasus itu, dan membawanya ke pengadilan. Hasilnya, delapan orang Suku Mastoi ditangkap dan diinterogasi. Setelah itu, empat belas orang lain juga ditangkap, yaitu mereka yang terlibat di pengadilan sesat yang dulu digelar Dewan Jirga.

Kenyataan itu tentu sangat disyukuri Mukhtaran Mai. Akhirnya perjuangan dan kegigihannya membuahkan hasil. Keparat-keparat yang telah melakukan kejahatan terhadap keluarganya kini telah ditangkap, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara itu, pandangan masyakat kini juga berbalik kepadanya. Jika sebelumnya mereka menilai rendah dan menganggapnya bersalah, kini mereka menjadi pendukungnya. Mereka bahkan menyumbang sejumlah uang dan makanan. Polisi setempat juga menurunkan pasukannya, untuk menjaga keamanan keluarga Mukhtaran Mai.

Kebenaran akhirnya menang, pikir Mukhtaran Mai, menyaksikan segala yang terjadi. Gubernur Punjab meluangkan waktu demi bisa menemuinya, sementara lima belas pejabat pemerintah datang ke rumahnya, dan menjanjikan untuk membantunya mendapatkan keadilan. “Semua yang bersalah akan mendapatkan hukuman setimpal,” janji mereka.

Akhirnya, pada 31 Agustus 2002, pengadilan Pakistan menjatuhkan hukuman mati dan denda kepada para pelaku kejahatan itu. Sebanyak enam orang dijatuhi hukuman mati karena terbukti telah memperkosa Mukhtaran Mai, sementara dua orang lainnya dijatuhi denda sebesar 50.000 rupee karena menjadi anggota Dewan Jirga.

Mukhtaran Mai merasa puas dengan putusan itu. Tapi perjuangannya belum berakhir. Para pengacara terdakwa dan jaksa menyatakan naik banding. Bukan masalah, pikirnya. Setidaknya, kini, ia dapat berjalan dengan kepala tegak di desanya, karena pengadilan telah menyatakan dirinya sebagai pihak yang benar, dan bangsat-bangsat itulah yang bersalah serta terbukti melakukan kejahatan.

Presiden Pervez Musharraf, yang waktu itu memimpin Pakistan, mendengar kasus itu, dan bersimpati atas nasib Mukhtaran Mai. Ia memerintahkan seorang menterinya untuk menemui wanita itu, dan menyerahkan cek senilai 500.000 rupee sebagai tali asih dari pihak pemerintah.

Ketika mendapati tawaran cek itu, Mukhtaran Mai tidak langsung menerimanya. Bagaimana pun, ia telah menghadapi bagaimana kejinya aparat-aparat pemerintah di daerahnya dalam memperlakukan dirinya, hingga ia curiga kalau-kalau cek itu hanyalah cara untuk menyuapnya, agar ia menghentikan perjuangannya. Jadi, ketika disodori cek bernilai besar itu, yang ia lakukan adalah merobek-robeknya hingga menjadi remah-remah kecil.

Sang menteri yang menyerahkan cek kebingungan. “Kenapa kau malah merobek cek itu?” tanyanya.

Mukhtaran Mai menjawab, “Aku tidak ingin cek ini menghentikan perjuanganku.”

“Sebenarnya,” ujar sang menteri, “cek itu disampaikan presiden, dengan maksud untuk membantu membiayai pengacara yang kau sewa untuk kasusmu.”

“Pengacaraku bekerja pro bono—tidak meminta bayaran.”

“Kalau begitu, seharusnya, kau bisa memanfaatkan cek itu untukmu sendiri.”

“Kenapa aku harus menggunakan uang itu untukku sendiri?”

Sang menteri menatap Mukhtaran Mai. “Jadi, apa yang kauinginkan?”

Mukhtaran Mai menyatakan, “Jika presiden memang bermaksud memberiku sumbangan sebesar itu, maka uang sebanyak itu bisa digunakan untuk membangun sekolah, agar anak-anak di sini—khususnya anak-anak perempuan—bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan.”

Niat itu telah lama dipikirkan Mukhtaran Mai. Ia ingin desanya memiliki sekolah. Ia ingin anak-anak di desanya menghabiskan waktu untuk belajar. Ia ingin kebodohan masyarakatnya terkikis habis. Dan itu harus dimulai dengan pendidikan. Dengan adanya sekolah, anak-anak akan tumbuh dengan lebih baik, akan belajar dengan lebih baik, sehingga mereka dapat diharapkan menjadi manusia-manusia yang lebih baik, dan menjalani hidup yang juga lebih baik. 

Mukhtaran Mai telah memahami bahwa masalah utama masyarakatnya adalah kebodohan. Kebodohanlah yang menjadikan kemanusiaan timpang, kaum wanita rela ditindas, orang-orang miskin terus menjadi korban, sementara masyarakat tidak juga sadar. Kebodohanlah yang melembagakan hukum brutal dan ketidakadilan, orang-orang tak bersalah menjadi korban, sementara segelintir keparat memanipulasi hukum dan kekuasaan. Masalah mereka adalah kebodohan. Dan keterbelakangan.

Dalam bayangan Mukhtaran Mai yang sederhana, cara paling mudah melawan kebodohan adalah dengan membangun sebuah sekolah. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia tidak punya uang. Ia juga buta huruf sehingga tidak bisa mengajar. Yang ia tahu hanyalah bahwa kebodohan itu harus diakhiri, entah bagaimana caranya.

Jadi, ketika ditawari cek dengan nilai sangat besar, Mukhtaran Mai seolah melihat jalan keluar. Ia tidak mau menerima cek untuk dirinya sendiri, karena hidup mewah dan foya-foya bukan sesuatu yang ia inginkan. Jika pemerintah memang ingin membantunya, ia ingin bantuan itu diwujudkan dalam bentuk sekolah di desanya.

Pemerintah Pakistan tidak langsung menyetujui keinginan Mukhtaran Mai. Tetapi, yang jelas, akhirnya sebuah sekolah khusus untuk perempuan dibangun di Desa Meerwala, tepat di sebelah rumah Mukhtaran Mai. Bangunannya sangat sederhana, tapi bisa digunakan untuk belajar. Ketika sekolah itu dibangun, anak-anak perempuan di sana segera mendaftarkan diri, termasuk Mukhtaran Mai. Ia masuk kelas, dan ikut belajar, duduk di samping seorang gadis kecil, belajar membaca dan menulis bersama mereka.

Lanjut ke sini.

Luka Mengubah Dunia (2)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Kemarahan lebih baik daripada kesedihan. Didorong kemarahannya, Mukhtaran Mai mulai bisa menghilangkan kesedihannya. Bukannya melakukan bunuh diri sebagaimana yang ia rencanakan, ia justru datang ke kantor polisi, dan melaporkan tindak perkosaan biadab yang dialaminya.

Sebuah sejarah baru telah dituliskan di Pakistan. Sebelumnya, wanita korban perkosaan akan bunuh diri sebagai jalan keluar. Tapi Mukhtaran Mai memilih untuk tetap melanjutkan hidup. Hukum tak tertulis di Pakistan menyebutkan bahwa wanita tidak punya hak untuk memperjuangkan nasibnya. Tapi Mukhtaran Mai memilih untuk memperjuangkan nasibnya. Kebodohan ini harus diakhiri, pikirnya, dan ia yang akan mengakhirinya.

Di kantor polisi, Mukhtaran Mai melaporkan dan menceritakan semua yang dialaminya. Sementara dia masih menjawab setumpuk pertanyaan polisi, kabar kedatangannya ke sana telah menyebar ke seluruh Meerwala. Kabar itu juga sampai ke telinga Dewan Jirga dan Suku Mastoi yang segera mengeluarkan ancaman. Ketika Mukhtaran Mai keluar dari kantor polisi, tidak ada satu pun tukang ojek yang bersedia mengantarkannya, akibat ketakutan diserang Suku Mastoi.

Kenyataannya, pengaruh Suku Mastoi di sana memang sangat besar. Tidak hanya bagi kalangan masyarakat umum, tetapi juga pada para pejabat. Hanya berselang beberapa hari sejak laporan Mukhtaran Mai ke kepolisian, beberapa orang dari kantor pemerintahan setempat mendatangi rumah Mukhtaran Mai dan meminta wanita itu agar mencabut laporannya. “Ini demi kebaikanmu sendiri,” ujar mereka. “Teruskan saja hidupmu dengan tenang, dan lupakan masalah itu.”

Tapi Mukhtaran Mai tidak sudi melupakan.

Intimidasi terhadap Mukhtaran Mai terus berlangsung, dilakukan secara halus atau pun terang-terangan. Para pemimpin Suku Mastoi mendekati para pejabat di sana, sementara masyarakat dihasut untuk percaya bahwa Mukhtaran Mai bersalah. Celakanya, Ramzan—orang yang dulu dibawa Mukhtaran Mai untuk menjadi mediator di Dewan Jirga—ternyata orang bayaran Suku Mastoi, dan dia juga ikut menghasut masyarakat dengan menyatakan Mukhtaran Mai memang bersalah.

Jika dirunut sejak awal, kasus ini memang penuh rekayasa, yang menunjukkan bagaimana pihak berkuasa memanipulasi hukum seenaknya. Pertama, Abdul Shakoor—adik Mukhtaran Mai—diperkosa empat orang berandal Suku Mastoi. Setelah itu, bukannya melepaskan si korban, mereka memfitnah Abdul Shakoor telah memperkosa wanita dari Suku Mastoi, dan keputusan hukumnya ada di tangan orang-orang Suku Mastoi.

Ketika kemudian Mukhtaran Mai datang ke Dewan Jirga untuk mengurus kasus adiknya, Suku Mastoi telah menyusupkan orangnya, yakni Ramzan, untuk menjadi mediator mereka. Mukhtaran Mai dan ayah serta pamannya adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu hukum. Sementara Ramzan yang diharapkan dapat menolong mereka ternyata sesosok iblis yang justru menjerumuskan keluarga Mukhtaran Mai, hingga keputusan biadab pemerkosaan massal terhadapnya dijatuhkan.

Sekarang, ketika Mukhtaran Mai melaporkan kasusnya ke kepolisian, dia membentur dinding keras. Dia melaporkan perkosaan brutal terhadap dirinya, yang merupakan hukuman Dewan Jirga atas kesalahan adiknya. Kepolisian—atas hasutan Suku Mastoi—menilai hukuman itu wajar, sebagai balasan atas perbuatan Abdul Shakoor yang memperkosa wanita dari Suku Mastoi. Dan ketika Mukhtaran Mai menyatakan bahwa Abdul Shakoor tidak memperkosa siapa pun, bahkan adiknyalah yang diperkosa empat berandal, Mukhtaran Mai membentur undang-undang di sana, yakni tidak adanya saksi yang melihat perkosaan terhadap adiknya.

Apa yang harus dilakukan Mukhtaran Mai sekarang...? Ia putus asa. Bersama kemiskinannya, kebodohannya, keterbelakangannya, Mukhtaran Mai adalah korban yang ditikam belati nasib, tepat di jantung kehidupannya, ketika berhadapan dengan sekelompok bangsat yang mengandalkan kekuasaan, manipulasi hukum, dan perlakuan sewenang-wenang.

Tetapi, di titik nadir semacam itu pulalah, sebersit kesadaran tumbuh di hati wanita itu. Mukhtaran Mai menyadari bahwa nasib malangnya terjadi akibat kebodohan dan keterbelakangan masyarakatnya. Ia hidup di lingkungan masyarakat yang belum mampu memahami perlunya menghargai persamaan hak pria-wanita—ia tumbuh di tempat yang menganggap perkosaan, penindasan, dan kesewenang-wenangan, adalah hal biasa.

Semuanya ini berawal dari kebodohan, pikir Mukhtaran Mai dengan hati getir. Ia bukan hanya korban perkosaan, ia juga korban kebodohan, sama seperti banyak wanita lain yang telah bunuh diri akibat kasus yang sama. Kebodohan ini harus diakhiri, pikirnya kemudian. Dan jika memang bobroknya masyarakat ini harus diakhiri, maka dialah yang harus mengakhirinya.

Mukhtaran Mai, wanita miskin dan buta huruf itu, bersumpah akan mengakhiri kebodohan dan keterbelakangan masyarakatnya, apa pun risikonya. Dan jika seorang anak manusia di muka bumi rela mati demi tujuannya, maka langit akan mendukung... dan alam semesta akan berkonspirasi mewujudkan impiannya.

Bersama tekadnya yang membulat, Mukhtaran Mai tidak mau mundur meski ditekan dan diintimidasi oleh berbagai pihak. Menyadari pihak kepolisian kini tidak bisa lagi diharapkan, dia pun pergi ke sana kemari menemui pejabat-pejabat berwenang yang ia harapkan bisa dipercaya, yang diharapkan dapat membantunya. Ia menempuh semua perjalanan itu dengan jalan kaki. Karena tidak punya uang untuk naik angkutan umum, karena tidak ada ojek atau becak yang mau memberikan tumpangan baginya.

Seorang hakim pengadilan bersimpati kepada Mukhtaran Mai, atas kasus yang menimpanya. Hakim itu kemudian mencoba mencari informasi lebih dalam mengenai masalah itu, dan berjanji untuk membantunya. Kelak, Mukhtaran Mai menceritakan bahwa ia percaya hakim itu seorang yang jujur, dan ia mempercayai ketulusannya.

Kabar kegigihan dan perjuangan yang dilakukan Mukhtaran Mai dalam menuntut keadilan sampai ke telinga Nicholas Kristof, seorang jurnalis The New York Times. Nicholas Kristof terbang dari Amerika ke Pakistan, menemui Mukhtaran Mai, dan mewawancarainya panjang lebar. Hasil wawancara itu kemudian ia tulis dalam sebuah artikel menyentuh di halaman New York Times, dan dunia seolah dipaksa untuk melihatnya.

Tulisan di New York Times itu seolah badai yang mengguncang dengan kencang. Bola salju yang telah digulirkan Mukhtaran Mai di negaranya seketika menggelinding dengan cepat, makin lama semakin besar. Pada 3 Juli 2002, BBC mengangkat berita itu dalam laporannya, diikuti majalah Time yang melaporkan kasus tersebut, sementara surat-surat kabar dan jaringan internasional melaporkan perkembangan kasusnya.

Lanjut ke sini.

Luka Mengubah Dunia (1)

Para pecundang menunggu takdir.
Para pemenang menciptakan takdir.
@noffret


Majalah Glamour tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari kelak lembaran glossy majalah mereka akan menampilkan sosok seorang wanita desa yang miskin, tak berpendidikan, bahkan buta huruf. Setelah bertahun-tahun menampilkan sosok wanita-wanita jetset dengan penampilan anggun dan mewah, majalah Glamour akhirnya harus mengagumi sesosok wanita miskin tak berpendidikan, bernama Mukhtaran Mai.

Mukhtaran Mai adalah anak petani yang hidup di desa Meerwala, yang terletak di tehsil (kabupaten) Jatoi di distrik Muzaffargarh, Pakistan. Dia berasal dari Suku Tatla, yang dianggap suku berkasta rendah di sana. Karena tidak pernah bersekolah, bahkan tidak bisa baca tulis, Mukhtaran Mai tidak tahu tanggal dan bulan ia dilahirkan. Yang ia tahu, ia lahir pada 1972.

Di desa Meerwala memang tidak ada satu pun sekolah, khususnya untuk anak perempuan. Kenyataannya, hampir di seluruh Pakistan, perempuan menjadi warga kelas dua, sehingga diskriminasi gender sangat tampak di sana. Selain itu, tingkat kasta masing-masing suku juga sangat berpengaruh di Pakistan, sehingga suku yang lebih tinggi seolah bebas melakukan apa saja terhadap suku yang dianggap lebih rendah.

Hal itulah yang terjadi pada adik Mukhtaran Mai, bernama Abdul Shakoor. Pada 22 Juni 2002, bocah lelaki berusia 12 tahun itu diculik dan diperkosa oleh beberapa berandal dari Suku Mastoi, yang dianggap memiliki kasta lebih tinggi. Di Pakistan, perkosaan hampir bisa dianggap sebagai hal biasa—terhadap anak lelaki, ataupun pada wanita—karena nyaris terjadi setiap hari.

Seusai memperkosa Abdul Shakoor, para berandal dari Suku Mastoi khawatir kalau bocah lelaki itu akan menuntut mereka dengan melaporkannya ke polisi. Karenanya, alih-alih melepaskan korbannya, mereka menahan Abdul Shakoor, dan memutarbalikkan fakta dengan fitnah keji. Mereka menuduh Abdul Shakoor telah memperkosa Salma, gadis dari Suku Mastoi.

Tuduhan yang merupakan fitnah itu seketika dipercaya warga Meerwala, khususnya karena mayoritas penduduk di sana berasal dari Suku Mastoi. Majelis Desa, yang didominasi Suku Mastoi, segera mengadakan rapat untuk membicarakan kasus itu, dan memutuskan untuk menahan Abdul Shakoor dengan tuduhan telah melakukan penghinaan terhadap Suku Mastoi. Mereka pun segera menyiapkan Dewan Jirga, untuk memberikan putusan.

(Dewan Jirga adalah perkumpulan beberapa kepala suku di suatu daerah, yang berfungsi sebagai badan penyelesaian masalah atau sengketa yang terjadi pada kawasan kekuasaan suku-suku tersebut. Di daerah-daerah Pakistan, kekuasaan Dewan Jirga lebih berpengaruh dibandingkan badan-badan hukum formal yang secara resmi dibentuk pemerintah).

Kabar penahanan Abdul Shakoor sampai ke telinga keluarganya, termasuk kakak perempuannya, Mukhtaran Mai. Mendengar adik lelakinya ditahan oleh Majelis Desa, Mukhtaran Mai segera berangkat ke sana. Dengan berjalan kaki, ia ditemani ayah dan pamannya, dengan membawa seorang mediator bernama Ramzan yang diharapkan dapat melakukan negosiasi di Dewan Jirga.

Sesampai di Majelis Desa yang menahan adiknya, Mukhtaran Mai mendapati kenyataan yang tak dibayangkannya. Bukannya sikap terbuka untuk menyelesaikan masalah, Majelis Desa telah menyiapkan 150 orang lelaki dari Suku Mastoi yang membawa senapan. Di sana juga ada Faiz Mohammed, pemimpin Suku Mastoi, beserta para pengawalnya, yang langsung menodongkan senjata ke kepala Mukhtaran Mai beserta ayah dan pamannya.

Mukhtaran Mai, yang belum menyadari bahwa adiknya telah difitnah, seketika memohon pengampunan atas kesalahan yang telah dilakukan Abdul Shakoor. Tetapi, meski Mukhtaran Mai telah memohon dan mengiba dengan uraian air mata, Dewan Jirga—yang didominasi Suku Mastoi—tidak mau memberikan pengampunan. Dewan itu bahkan memutuskan agar Mukhtaran Mai harus menebus kesalahan adiknya, dengan cara diperkosa beramai-ramai.

Berbeda dengan keputusan pengadilan yang dapat naik banding, keputusan Dewan Jirga bisa dibilang semacam fatwa yang tak bisa dibantah. Begitu keputusan itu dijatuhkan, beberapa lelaki langsung menarik Mukhtaran Mai ke sebuah kandang kosong, dan memperkosanya beramai-ramai. Sementara itu, ayah dan paman Mukhtaran Mai yang ada di sana tak bisa berbuat apa-apa, karena ditodong senjata.

Wanita malang itu diperkosa sampai pingsan. Saat tersadar dari pingsannya, dia dilempar keluar, lalu dipaksa pulang dengan tubuh nyaris telanjang. Itulah hukuman setimpal baginya, menurut Dewan Jirga. Mukhtaran Mai pun melangkah pulang dengan tubuh lunglai, kotor, sementara wajahnya berurai air mata menanggung aib dan malu, di bawah tatapan penuh hinaan orang-orang banyak yang melihatnya.

Di Pakistan, satu-satunya pilihan yang bisa diambil wanita korban perkosaan adalah bunuh diri. Bisa dibilang, bunuh diri adalah solusi bagi korban perkosaan, karena mengakhiri rasa malu dan aib. Tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi keluarganya. Pakistan adalah negara yang tidak ramah bagi wanita, tempat diskriminasi berdasar jenis kelamin menjadi hal biasa, sehingga wanita bisa dibilang tidak dapat menuntut haknya.

Kenyataan itu pula yang dihadapi Mukhtaran Mai. Seusai diperkosa, ia hanya punya satu jalan—bunuh diri—untuk mengakhiri aib dirinya, untuk menghilangkan rasa malu keluarganya, untuk menyelesaikan derita hidupnya. Untungnya, orangtua Mukhtaran Mai menyadari hal itu, dan mereka menasihati, “Bunuh diri tidak menyelesakan masalah.”

Entah karena nasihat itu atau karena kesadaran bahwa dirinya telah menjadi korban fitnah dan ketidakadilan, Mukhtaran Mai nengurungkan niatnya bunuh diri. Saat sampai kembali di rumah bersama ayah dan pamannya seusai pertemuan di Dewan Jirga, Abdul Shakoor—adik lelakinya—menceritakan bahwa sebenarnya dia tidak memperkosa siapa pun, sebagaimana yang dituduhkan kepadanya. Yang benar, dirinya yang justru diperkosa beberapa berandal Suku Mastoi.

Kenyataan itu menghantam kesadaran Mukhtaran Mai. Jika sebelumnya dia hanya merasa malu karena harus menebus kesalahan adiknya, kini mulai menyadari bahwa dirinya telah menjadi korban ketidakadilan. Adiknya tidak bersalah. Keluarga mereka telah menjadi korban akibat fitnah dan ketidakadilan yang dilancarkan sekelompok orang berkuasa yang merasa bisa berbuat sewenang-wenang.

Lanjut ke sini.

In Vitro

“Apakah kau pernah pergi ke tempat-tempat yang seharusnya dikunjungi pada 1752-1783, sehingga kau menemukan apa yang seharusnya tidak kautemukan?”

“Ya.”

Jumat, 01 Agustus 2014

Lebaran, dan Lingkar Kebaikan

Angin menyerbuki bunga tanpa membuatnya layu.
Kupu-kupu menari di antara bunga
tanpa membuat mereka terluka. Itulah cinta.
@noffret


Setiap tahun, saat lebaran, salah satu budaya yang biasa dilakukan adalah pemberian angpau kepada anak-anak kecil—umumnya anak keponakan atau anak para famili. Budaya pemberian angpau biasanya sangat lekat bagi keluarga-keluarga besar yang memiliki banyak saudara atau famili. Masing-masing orangtua saling memberi angpau untuk anak-anak saudaranya, atau keponakan-keponakan mereka.

Bertahun-tahun silam, ketika masih anak-anak, saya selalu suka ketika lebaran datang, salah satunya karena angpau. Sebagai anak kecil, saya tentu dimasukkan ke dalam “golongan yang layak mendapat angpau”, dan para famili begitu murah hati membagikan uangnya. Jadi, setahun sekali, saya akan merasa sebagai bocah kaya karena punya cukup banyak uang. Oh, well, tidak ada yang lebih menggembirakan waktu itu, selain memiliki sejumlah uang yang tidak pernah saya miliki di hari-hari lain.

Jadi, bertahun-tahun silam, saya suka lebaran. Karena angpau. Mungkin naif. Namanya saja anak-anak.

Dengan segala kepolosan saya waktu itu, sambil menghitung lembaran uang yang saya terima di hari-hari lebaran, kadang saya membatin dan memikirkan. Mengapa orang-orang dewasa mau memberikan uangnya untuk saya dan untuk anak-anak lain? Apa untungnya buat mereka? Tidak semua famili saya tergolong kaya. Sebagian dari mereka bisa dianggap sama miskinnya dengan keluarga saya. Jadi, kenapa mereka mau memberikan uangnya untuk saya dan anak-anak lain?

Di hari lebaran, orangtua saya juga memberikan angpau untuk anak-anak para famili. Padahal, saya tahu, kadang mereka pelit memberikan uang untuk saya karena memang tidak ada uang. Tapi lebaran tampaknya memang moment istimewa, saat orang-orang miskin yang kekurangan memiliki kelebihan uang, hingga bisa membagi-bagikannya kepada orang lain, khususnya untuk anak-anak kecil. Dengan segala kepolosan sebagai anak-anak, saya hanya bisa memahami sebatas itu.

Bertahun-tahun kemudian, ketika dewasa, saya seperti diingatkan untuk membalas kebaikan yang dulu pernah saya terima ketika masih anak-anak. Setelah bekerja dan bisa menghasilkan uang sendiri, tentunya saya tidak lagi dimasukkan ke dalam golongan yang layak mendapat angpau di hari lebaran. Kenyataannya memang tidak ada lagi famili yang memberi angpau untuk saya. Namun, tanpa diberitahu siapa pun, saya mulai menyadari bahwa kinilah saatnya giliran saya untuk memberikan angpau.

Jadi, itulah yang kemudian saya lakukan. Setiap tahun, saya selalu menganggarkan sejumlah dana untuk angpau, yang akan saya bagikan sembari bersilaturrahmi di hari lebaran.

Di lingkaran keluarga besar saya—dari pihak ayah maupun ibu—ada banyak anak kecil, anak-anak keponakan dan para famili, dan saya tahu mereka layak mendapat angpau, sebagaimana saya dulu layak mendapat pemberian orangtua mereka. Saya tidak bisa membalas kebaikan orangtua mereka yang dulu murah hati membagikan angpau untuk saya. Tetapi, saya tahu, saya bisa membalas kebaikan itu dengan memberikan hal yang sama untuk anak-anak mereka.

Anak-anak kecil itu belum lahir ketika dulu saya masih kecil—bahkan orangtua mereka kadang belum menikah. Anak-anak itu tidak tahu bahwa orangtua mereka dulu pernah memberikan angpau untuk saya, bertahun-tahun silam. Mereka tidak tahu bagaimana gembiranya hati saya selama hari-hari lebaran karena mendapat angpau dari orangtuanya. Mereka tidak tahu betapa murah hati orangtua mereka, meski kadang hidup dalam kekurangan. Mereka tidak tahu....

Tetapi saya tahu.

Tetapi saya tahu, kebaikan—sebagaimana kejahatan—adalah lingkaran. Kau menaburkan benih hari ini, dan besok mungkin masih benih. Tapi benih yang hidup akan terus hidup, bahkan ketika dilupakan, dan benih itu akan tumbuh... terus tumbuh... hingga bertahun-tahun kemudian kau mungkin baru ingat pernah menaburkan benih yang kini tumbuh besar. Kebaikan, sebagaimana kejahatan, adalah lingkaran.

Orang tidak bisa melarikan diri dari kejahatan yang pernah dilakukannya, sebagaimana orang tidak bisa keluar dari karunia kebaikan yang pernah diperbuatnya. Langit akan mencatat, dan Bumi menjadi saksi. Manusia boleh melupakannya, tapi alam semesta tak pernah lupa. Seperti dendam kesumat yang haus darah dan menuntut pembalasan, karunia kebaikan memberi ganjaran setimpal meski tangan si pemberi disembunyikan.

Setiap tahun, ketika menyiapkan sejumlah angpau untuk dibagikan buat keponakan dan anak-anak para famili, saya tahu bahwa saat pembalasan telah tiba. Itu pembalasan yang bahkan telah menunggu waktu bertahun-tahun... bertahun-tahun... tapi saat pembalasan selalu datang. Sebagaimana dulu orangtua mereka menciptakan senyum di bibir saya, kini saatnya saya membalas kebaikan itu dengan menerbitkan senyum yang sama untuk anak-anak mereka.

Sebagian keponakan dan anak-anak famili saya masih SD, ada yang sudah SMP, SMA, dan beberapa masih TK. Tapi mereka sama—masih tergolong anak-anak yang layak mendapat angpau. Kenyataannya, saat saya beserta keluarga datang ke rumah mereka dan membagikan angpau untuk anak-anak itu, mereka sangat tampak bersuka cita menerimanya. Khas anak-anak yang mendapat pemberian yang belum tentu mereka terima setiap hari.

Selama bertahun-tahun, saya belum pernah mendapati ada di antara mereka yang menolak pemberian angpau. Meski mungkin orangtuanya tergolong berkecukupan, tapi anak-anak itu selalu tampak senang saat mendapat angpau di hari lebaran. Meski jumlah angpau yang saya berikan mungkin tidak lebih banyak dari yang biasa mereka terima dari orangtuanya, tapi anak-anak itu selalu tampak bersuka cita. Lebaran memberi saya pelajaran, bahwa satu-satunya hal yang tidak pernah bisa ditolak adalah kebaikan.

Dan kebaikan adalah lingkaran. Saat ini, saat mereka menerima kebaikan itu, mungkin mereka bertanya-tanya seperti saya dulu; mengapa saya mau memberikan uang untuk mereka; apa manfaatnya buat saya hingga mau membagi-bagikan angpau untuk mereka. Tetapi kelak, bertahun-tahun yang akan datang, tanpa diberitahu siapa pun, mereka akan tahu, dan menyadari, bahwa kebaikan adalah lingkaran. Sebutir benih yang dilemparkan dan dilupakan, tapi berdenyut dan hidup... hingga waktu menjadikannya tumbuh besar.

Ketika saya dewasa, tidak pernah ada satu orang pun yang pernah memberitahu atau mengingatkan saya bahwa mereka dulu pernah memberikan angpau saat saya masih anak-anak. Tetapi, kau tahu, ingatan paling bersih dan paling murni adalah ingatan anak-anak. Kebaikan yang pasti akan terbalas adalah kebaikan yang diberikan kepada anak-anak, sebagaimana kejahatan yang menghasilkan buah paling mengerikan adalah kejahatan terhadap anak-anak.

Saya masih anak-anak ketika mendapatkan angpau dari mereka, bertahun-tahun lalu. Tetapi dengan segala naluri sebagai anak-anak, saya ingat... dan masih terus mampu mengingat. Tidak hanya mengingat siapa saja yang pernah mengulurkan tangan kebaikannya untuk saya, tetapi juga mengingat bagaimana suka cita saat menerima uluran kebaikan mereka. Jika ada kegembiraan yang tak bisa dilukiskan di dunia ini, salah satunya adalah kegembiraan anak-anak.

Dan kegembiraan itu, seiring bergantinya tahun, menyadarkan saya untuk membalasnya, mengembalikannya, agar seimbang. Ketika dewasa, saya menyadari, saat pembalasan telah tiba. Saya tidak bisa membalas pemberian saudara dan para famili saya, tapi saya bisa membalas kebaikan mereka melalui anak-anaknya.

Maka saya pun meraih tangan-tangan kecil anak-anak itu, membalas sesuatu yang dulu pernah diberikan orangtua mereka kepada saya, dan memekarkan senyum di bibir-bibir mereka.

Menyaksikan senyum suka cita anak-anak itu, saya seperti diingatkan pada senyum saya sendiri, bertahun-tahun lalu. Melihat kegembiraan mereka saat menerima angpau, saya seperti bernostalgia dengan kegembiraan saya sendiri, bertahun-tahun lalu. Kebahagiaan yang mereka rasakan sebesar kebahagiaan yang dulu pernah saya rasakan. Dan menyaksikan orangtua mereka ikut tersenyum melihat kebahagiaan anak-anaknya, tiba-tiba saya menyadari utang telah lunas terbayar...

...meski saya ingin terus membayarnya, setiap tahun, tahun demi tahun.

Kebaikan, sebagaimana kejahatan, adalah lingkaran. Sebutir benih kebaikan yang kecil akan tumbuh, dan mendatangkan balasan abadi tak berkesudahan. Lebaran memberi kesempatan kepada kita untuk mengajarkan pelajaran agung itu kepada anak-anak—jiwa-jiwa murni yang tak pernah melupakan apa pun yang pernah mereka saksikan.

 
;