Jumat, 26 Desember 2014

Esensi Hidup

Ironi manusia yang tak pernah berhenti:
Bekerja keras siang malam demi bisa membangun rumah
yang membuat tinggi hati, lalu ditinggal mati.
@noffret


Kami duduk di bangku penjual dawet beras di depan masjid. Saya masih kelas satu SMP waktu itu, dan ayah masih hidup. Siang hari, ayah mengajak saya untuk membeli sesuatu, dan pulangnya kami mampir ke tempat penjual dawet beras. Pada waktu itulah, seorang lelaki bersepeda ontel kebetulan melintas di depan kami, kemudian berhenti saat melihat ayah.

Lelaki itu menyapa ayah dengan akrab, lalu memesan dawet beras, dan ikut duduk di bangku samping kami. Mereka bercakap-cakap dengan akrab, seperti layaknya teman karib, sambil menikmati dawet beras di siang terik. Cukup lama mereka mengobrol dengan asyik, sampai kemudian lelaki tadi pamit pergi setelah membayar dawetnya. Dia mengayuh sepedanya dengan ringan, seolah tanpa beban.

Tidak lama setelah lelaki itu pergi, ayah memberitahu saya, “Yang tadi itu Haji X,” ujar ayah. Kemudian dia menceritakan kalau mereka telah berkawan sejak masa sekolah dulu. “Pernah dengar namanya?”

Saya menjawab, “Tidak.”

“Kamu tahu Hotel Z?” tanya ayah kemudian. Hotel Z adalah salah satu hotel mewah di kota kami, dan tentu saja saya tahu hotel itu. Kemudian, ayah memberitahu, “Orang tadi pemiliknya.”

Lalu, tiba-tiba, saya merasa pernah mendengar nama Haji X. Tentu saja! Kadang saya mendengar orang membicarakan Haji X, mengenai kekayaannya, kebaikannya, dan keramahannya kepada sesama. Orang-orang mengagumi Haji X—tidak saja mengagumi kekayaannya yang luar biasa, tapi juga mengagumi kebaikan hatinya. Tetapi saya tidak pernah membayangkan bahwa Haji X adalah lelaki sederhana yang bersepeda ontel di terik siang, lalu mampir minum dawet beras di depan masjid.

Kalau saja ayah tidak memberitahu bahwa dia Haji X “yang itu”, saya pasti tidak akan tahu. Dalam bayangan saya, Haji X adalah lelaki glamor berwajah angkuh, bermobil mewah, dengan arloji emas dan cerutu mahal. Tapi yang saya lihat tadi adalah lelaki sederhana seumuran ayah, dengan penampilan bersahaja, berwajah ramah, dan bersepeda ontel. Bagaimana bisa seorang kaya-raya pemilik hotel mewah menjalani hidup semacam itu?

Ketika saya tanyakan hal itu pada ayah, dia menjawab, “Setiap orang memiliki cara masing-masing menikmati hidupnya.”

Saat saya menulis catatan ini, Haji X telah meninggal—sekitar dua atau tiga tahun sebelum ayah saya meninggal. Kisah pertemuan kami dengan Haji X di tempat penjual dawet beras depan masjid mungkin akan terkubur dalam memori untuk kemudian terlupakan, kalau saja saya tidak mengalami kisah yang tak jauh beda.

Pada lebaran Idul Fitri 2012, saya datang ke rumah Thoriq, sohib saya. Saat sampai di rumahnya, Thoriq sedang kedatangan temannya yang lain, seorang cowok seumuran kami. Namanya Arta. Thoriq memperkenalkan kami, dan malam itu kami bertiga bercakap-cakap asyik seperti kawan lama. Meski saya kadang agak kaku ketika berkomunikasi dengan orang yang baru kenal, tapi Thoriq memiliki pembawaan menyenangkan, sementara Arta juga sangat ramah. Jadi saya pun mudah larut bersama mereka.

Saat kami pamit untuk pulang, Arta menawari saya, “Kapan-kapan, kalau pas lewat daerahku, mampirlah ke rumahku.”

Saya pun menawarkan hal yang sama.

Hanya berselang satu bulan sejak itu, saya benar-benar mampir ke rumahnya. Suatu malam, saya membutuhkan kain tenun tradisional, pesanan seorang famili. Saya datang ke daerah Arta, karena di tempat itu cukup banyak pembuat kain seperti yang saya inginkan. Karena tahu Arta tinggal di sana, saya pun mencari rumahnya, dengan maksud untuk bertanya di mana bisa membeli kain seperti yang saya cari.

Rumah Arta mudah ditemukan—hampir semua orang di sana tahu letak rumahnya. Saat saya sampai, Arta menyambut ramah, dan membuatkan teh hangat, lalu kami bercakap-cakap di ruang tamu rumahnya. Saya menyatakan tujuan, mencari kain yang saya inginkan, dan Arta menyahut dengan ringan, “Di belakang kayaknya ada.”

Semula, saya tidak paham maksud “di belakang” yang dikatakannya. Tapi kemudian dia mengajak ke belakang rumahnya, dan saya pun mulai sadar siapa dirinya. Orang yang ramah dan bersahaja, yang tadi membuatkan teh hangat untuk saya, ternyata pemilik pabrik tekstil yang hasil produksinya mencapai mancanegara.

“Di belakang” yang dimaksud Arta adalah pabrik yang ada di belakang rumahnya. Pabrik itu cukup luas, dengan mesin-mesin tenun dan hasil produksi menumpuk. Tampak beberapa pekerja yang lembur—sebagian sedang menenun, sebagian lain sedang mengemas kain ke dalam plastik dan dus, atau kesibukan lainnya. Arta mengajak saya melihat-lihat kain yang diproduksi pabriknya, dan menawari, “Ada yang cocok?”

Saya menemukan yang saya cari. Arta meminta salah satu pekerja di sana untuk mengemasnya, lalu kami kembali ke ruang tamu dan melanjutkan obrolan. Dalam obrolan itulah kemudian Arta mulai membuka diri, dan menceritakan perjuangan serta kerja kerasnya dalam membangun usahanya hingga sebesar sekarang.

“Sebelumnya,” dia bercerita dengan nada ringan, “aku bekerja di pabrik orang lain. Sampai kemudian bisa mengumpulkan sedikit modal dari hasil kerjaku, dan mulai bikin usaha sendiri. Yeah, cukup lancar, dan bisa jalan sampai sekarang. Kedengarannya mudah, tapi aslinya luar biasa susah.”

Sebenarnya, saya juga punya beberapa teman yang tak jauh beda. Mereka memulai usaha dari nol, berjuang dengan gigih, bekerja keras, lalu bisnis mereka tumbuh besar, hingga menjadi bocah-bocah bergelimang uang. Tetapi, bocah-bocah kaya yang saya kenal selama ini memiliki penampilan “konvensional”—mereka membangun rumah mewah, mengendarai mobil mahal, dan menjalani gaya hidup seperti umumnya jutawan.

Hal itu jauh berbeda dengan Arta. Melihat skala usaha yang dimilikinya, dia pasti tidak kalah kaya dibanding teman-teman saya yang lain. Tetapi dia menjalani hidup yang sangat bersahaja. Rumahnya sederhana—seperti rumah saya—dan hanya mengendarai sepeda motor sederhana, sebagaimana yang dipakainya ketika kami bertemu pertama kali di rumah Thoriq. Sikapnya pun sangat ramah—tanpa kesan angkuh seperti umumnya bocah kaya—dengan penampilan yang biasa-biasa saja.

Saat datang ke rumahnya pertama kali, saya belum berani menyinggung gaya hidupnya yang sederhana itu. Saya sempat berpikir, bisa jadi Arta memiliki rumah mewah di tempat lain, dengan mobil mahal di garasi, dan para pembantu serta tukang kebun. Tetapi, setelah kami bertemu kembali beberapa kali, dan hubungan kami semakin dekat, saya pun tahu bahwa dia memang menjalani gaya hidup yang sederhana—bahkan sangat sederhana, jika untuk ukurannya.

Suatu malam, saat mengobrol asyik sambil merokok, dan topik percakapan kami sampai pada gaya hidup, dia pun menceritakan gaya hidup yang dipilih dan dijalaninya. Sekadar catatan, dia masih lajang, dan hidup sendirian—faktor kesamaan itu pula yang menjadikan kami merasa cocok.

“Dulu,” dia menceritakan, “aku pernah punya mobil. Yeah, namanya anak muda, kadang pengin gaya-gayaan. Tapi mobil itu jarang kupakai, karena ribet. Tiap hari harus manasin mesin, dibawa kemana-mana tidak bisa ngebut karena jalanan sering macet, sementara aku juga jarang keluar rumah. Rasanya lebih nyaman pakai motor—itu motor yang pertama aku punya, waktu masih jadi buruh di pabrik orang. Akhirnya, karena kupikir tidak butuh mobil, jadi kujual saja.”

Arta juga menceritakan, “Orangtuaku kadang nyuruh aku merenovasi rumah, biar lebih bagus. Tapi kupikir, buat apa? Wong aku tinggal sendirian di sini, dan aku sudah nyaman dengan keadaan seperti ini. Aku tidak butuh macam-macam—asal bisa hidup tenang, tidur nyenyak di rumah sendiri, mendapat nafkah agar tidak berkekurangan, dan tidak punya utang, kupikir sudah cukup. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya yang dibutuhkan hidup cuma itu.”

Kalimat terakhir itu terus terkenang di benak saya. “Kalau dipikir-pikir, sebenarnya yang dibutuhkan hidup cuma itu.”

Ya, kalau dipikir-pikir, hidup ini mungkin tidak sulit—kita sendirilah yang sering kali menjadikan hidup terasa sulit. Sebelum punya rumah, kita mungkin berharap punya rumah. Lalu kita bekerja keras, banting tulang dari pagi sampai malam, demi punya rumah. Setelah punya rumah, kita ingin menjadikannya lebih mewah, maka kita pun kembali bekerja keras, memeras keringat, demi bisa membangun rumah lebih megah. Kemudian kita mengisinya dengan perabotan yang lebih layak, lebih mahal.

Lalu ada yang terasa kurang—harus ada mobil keluaran baru untuk melengkapi rumah yang sudah mewah. Maka kita pun kembali bekerja keras, bahkan lebih keras lagi, demi bisa memiliki mobil, meski mungkin sebenarnya kita tidak membutuhkan. Setelah punya mobil, kita pun “terpaksa” menggunakannya, karena sudah telanjur punya. Dan karena telah mengendarai mobil, kita pun mulai melihat banyak kekurangan lain—pakaian, sepatu, ponsel, jam tangan, perawatan tubuh, sebut lainnya. Lalu kita bekerja keras lagi, bersusah-payah lagi, dan begitu seterusnya.

Hidup tidak menuntut macam-macam—diri kita sendirilah yang menuntut macam-macam. Dan ketika satu hal tercapai, kita mulai melihat kekurangan lain yang juga perlu dicapai.

Dulu, seperti kebanyakan orang lain, saya belum menyadari kenyataan itu. Tetapi, setelah mendengar penuturan Arta, dan melihat kehidupannya, saya pun mulai memahami. Bahwa yang dibutuhkan untuk hidup sebenarnya tidak sulit—hanya kehidupan yang tenang tanpa banyak masalah, bisa beristirahat di rumah sendiri, kendaraan yang tidak merepotkan, nafkah yang cukup, dan tidak punya utang. Cuma itu. Beberapa orang mungkin menambahkan “pasangan hidup” ke dalam daftar. Tetapi, sekali lagi, cuma itu.

Hidup tidak pernah menuntut macam-macam. Diri kita sendirilah yang sering kali menuntutnya. Dan kemudian kita menjalani hidup dengan kegersangan, kehilangan ketenangan, karena melihat banyaknya hal yang kurang, tanpa menyadari bahwa hal-hal yang “kurang” itu mungkin sama sekali tidak kita butuhkan. 

Sekarang, jika saya bertanya pada diri sendiri, “Apa sebenarnya yang aku butuhkan?” Maka saya melihat betapa sedikit yang sebenarnya saya butuhkan. Saya tidak butuh rumah megah, karena saya bukan artis atau orang terkenal yang harus tampil mewah. Saya tidak butuh mobil mahal, karena jarang keluar rumah apalagi keluyuran. Saya tidak butuh penampilan hebat, karena saya memang orang biasa.

Jadi, apa sebenarnya yang kita butuhkan...?

Kini, saat menulis catatan ini, saya kembali terngiang ucapan ayah saya bertahun-tahun lalu, “Setiap orang memiliki cara masing-masing menikmati hidupnya.”

Kaya dan miskin, susah dan senang, bahagia dan menderita, memang bukan yang tampak di depan mata, melainkan yang tersembunyi di kedalaman hati kita.

Stratum

Yang di atas akan turun,
yang besar akan mengecil,
yang mekar akan luruh,
yang hidup akan mati.

Perlu Berkerendap

Jalanan ramai, waktu itu. Para pengendara mobil dan sepeda motor harus menepi dan berhenti, untuk membiarkan rombongan pawai yang menyita badan jalan. Entah pawai apa. Yang jelas, orang-orang berpawai cukup panjang, sebagian membawa obor menyala, ada yang menabuh drum band, membawa spanduk, bendera, dan lainnya.

Beberapa orang mengatur lalu lintas, dengan ekspresi seolah dunia akan kacau kalau mereka tidak mengaturnya. Beberapa orang mendahului pawai tapi kemudian berhenti, dengan ekspresi seolah pawai itu akan rusak berantakan kalau mereka tidak berhenti. Beberapa lainnya menonton—orang tua, para remaja, anak-anak. Di atas, tampak sekelebat beberapa burung yang mungkin heran melihat kegiatan manusia di jalanan ini.

Di tengah-tengah keramaian itu, seorang bocah bertanya pada lelaki tua yang tampak gila, “Ada apa ini sebenarnya?”

Lelaki-tua-yang-tampak-gila menjawab, “Entahlah. Kadang-kadang orang perlu berkerendap.”

....
....

Ketika iring-iringan pawai itu telah menjauh, dan lalu lintas kembali lancar berjalan, saya melaju perlahan-lahan sambil mengingat kalimat tadi, “Kadang-kadang orang perlu berkerendap.”

Sabtu, 20 Desember 2014

10 Buku Terbaik yang Saya Baca Sepanjang 2014

Buku yang bagus serupa teman. Ia tahu membuatmu
tersenyum, dan seiring dengan itu membukakan pengetahuan
dan kesadaran. Pun kadang kearifan.
@noffret 


Tanggal 20 Desember tampaknya telah menjadi semacam hari keramat bagi cukup banyak orang, khususnya para pembaca setia blog ini. Setiap akhir tahun, blog ini merilis daftar 10 Buku Terbaik, dan rupanya ada banyak orang yang berdebar campur penasaran buku-buku apa yang akan muncul. Beberapa teman sesama penulis bahkan sampai ada yang minta “bocoran” dengan bertanya, “Apakah bukuku akan masuk daftarmu tahun ini?”

Well, tanpa saya duga sebelumnya, daftar tahunan di blog ini telah memberi pengaruh bagi cukup banyak pihak—penulis, penerbit, dan pembaca—khususnya yang biasa terhubung dengan internet. Google bahkan menempatkan Daftar 10 Buku Terbaik di blog ini di peringkat teratas di antara jutaan link yang diindeksnya, sehingga Daftar 10 Buku Terbaik di blog ini menjadi post yang dibaca beribu-ribu orang setiap tahun.

Karena kenyataan itu, berbagai reaksi muncul, berupa tanggapan dan pertanyaan yang berkaitan dengan daftar tersebut. Untuk itu pula, di tahun ini saya juga memposting FAQ (tanya jawab) seputar Daftar Buku Terbaik yang setiap tahun dirilis blog ini, sebagai bentuk pertanggungjawaban saya sebagai pihak yang merilisnya. Kalian bisa membaca FAQ tersebut di sini.

Dan sekarang, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya ingin kembali berbagi buku-buku terbaik yang saya baca, fiksi maupun nonfiksi. Daftar berikut tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi, namun murni apresiasi—yang tentu bisa subjektif—atas buku-buku yang saya anggap terbaik. Berikut ini, tertulis secara alfabetis berdasarkan nama-nama penulisnya, 10 buku yang saya anggap terbaik dari semua buku yang saya baca sepanjang 2014. Silakan disimak.


Gary Allen: The Rockefeller’s File

John D. Rockefeller mendirikan Standard Oil Co pada satu abad yang lalu, dan perusahaan minyak itu kemudian tumbuh menjadi perusahaan raksasa, bahkan paling besar di dunia. Sebagai perusahaan besar, Standard Oil telah menghadapi aneka tuduhan monopoli, bertarung dengan pengadilan, melibatkan banyak penulis untuk berperang lewat propaganda, sampai terlibat dalam wilayah abu-abu yang kelak melahirkan tak terhitung banyaknya teori konspirasi.

Setelah Rockefeller Tua meninggal, perusahaan itu diwarisi anak-anaknya, dan para pewaris melanjutkan serta membesarkannya hingga makin meraksasa.

Seratus tahun kemudian, Standard Oil Co telah melahirkan ratusan industri lain, meliputi perbankan, farmasi, asuransi, kesehatan, surat kabar—sebut apa pun. Sekadar ilustrasi, Chase Manhattan Bank adalah bank internasional yang dimiliki keluarga Rockefeller. Bank tersebut memiliki 28 kantor cabang sendiri di luar negeri, dan memiliki 50.000 kantor cabang koresponden di seluruh dunia.

Bisa dibayangkan sebesar apa pengaruh dan kekuasaan mereka? Lima puluh ribu bank koresponden di seluruh dunia! Jika setiap bank koresponden tersebut hanya memiliki 10 juta dollar saja, maka Chase Manhattan Bank memiliki kekayaan sebesar 500 miliar dollar di seluruh dunia. Dengan kekayaan sebesar itu, maka Chase Manhattan Bank, di bawah kendali keluarga Rockefeller, bisa menciptakan krisis moneter internasional kapan saja dalam waktu semalam, semudah kita membalikkan telapak tangan!

Berdasarkan standar apa pun, Chase Manhattan Bank tak ubahnya sebuah negara yang berkuasa, bahkan memiliki kekayaan lebih besar dibanding sebagian negara lain. David Rockefeller, salah satu anak Rockefeller Tua, biasa nyangkruk dengan para presiden, bahkan dikabarkan pengaruhnya lebih besar dari presiden Amerika.

Itu baru dari industri perbankan, dan estimasi yang digunakan adalah perkiraan paling rendah. Sementara keluarga Rockefeller memiliki banyak industri lain, dengan jumlah uang yang juga luar biasa besar.

Buku ini memaparkan sepak terjang keluarga Rockefeller, industri dan gurita bisnisnya, kekayaan mereka, serta pengaruh dan keterlibatan mereka dalam berbagai kebijakan dan masalah dunia. Selama membacanya, saya terus-menerus tercengang, geleng-geleng kepala tak percaya. Membayangkan sekelompok bocah memiliki kekayaan dan kekuasaan yang melebihi kekuatan negara, benar-benar membuat sakit kepala.


Ita F. Nadia: 

Suara Perempuan Korban Tragedi ‘65

Rusminah berusia 20 tahun, ketika dijodohkan dengan lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya. Pada 1960, Rusminah baru tamat Sekolah Guru di Malang, dan waktu itu sedang menunggu penempatan sebagai guru. Ketika orangtuanya memutuskan untuk menjodohkannya dengan anak orang yang dianggap terpandang, Rusminah tidak kuasa menolak. Maka mereka pun menikah.

Setelah menikah, Rusminah mengajar di Sekolah Rakyat di desanya, di Malang. Pernikahannya telah berlangsung selama lima tahun, dan bisa dibilang tidak ada masalah apa-apa, selain kenyataan bahwa mereka belum memiliki anak. Suami Rusminah aktif di PKI (Partai Komunis Indonesia), dan aktivitas itu menjadikannya jarang di rumah. Rusminah sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan suaminya. Jika ditanya, suami Rusminah tidak pernah menjelaskan, selain menjawab, “Aku nyambut gawe kanggo wong cilik—aku bekerja untuk orang kecil.”

Jadi, praktis bisa dibilang Rusminah sama sekali tidak tahu apa-apa tentang PKI, tidak tahu apa yang dilakukan suaminya dalam aktivitas bersama PKI, tidak tahu apa saja kegiatan PKI. Tapi sejarah kemudian menghancurleburkan hidupnya dengan sangat brutal.

Pada 1 Oktober 1965, Rusminah mengajar di sekolah sampai pukul 10:00 pagi, karena sekolah dipulangkan awal akibat “terjadi peristiwa penting di Jakarta”. Waktu itu sarana informasi belum semaju sekarang, jadi Rusminah sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di Jakarta, hingga sekolahnya dipulangkan awal. Dia bahkan tidak tahu suaminya ada di mana waktu itu, karena telah pergi sejak 25 September dan belum pulang atau memberi kabar.

Tidak lama setelah sampai di rumah, Rusminah dikejutkan oleh segerombolan orang yang mendatangi rumahnya. Mereka mencari suaminya. Karena tidak menemukan yang dicari, orang-orang itu membakar rumah Rusminah, dan menangkap wanita itu, lalu melemparkannya ke truk bersama beberapa orang lain yang telah ditangkap sebelumnya. Awal penderitaan Rusminah pun dimulai.

Selama dalam penangkapan, Rusminah disiksa, dianiaya secara fisik dan mental, diperkosa banyak orang, direndahkan, dan semua perlakuan tak manusiawi itu hanya karena dituduh terlibat dalam PKI, padahal dia sama sekali tidak tahu apa pun tentang PKI.

Kisah lara yang dialami Rusminah hanyalah satu di antara sekian banyak kisah serupa yang terjadi selama pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh PKI. Mereka orang-orang tak bersalah, yang tidak tahu apa-apa, tapi kemudian ditangkap, disiksa, dianiaya secara brutal, bahkan dibunuh secara keji, tanpa pembuktian jelas apakah mereka benar-benar bersalah atau tidak. Itu kisah-kisah yang tidak pernah ada dalam buku-buku sejarah Indonesia yang dicekokkkan kepada kita di bangku sekolah.

Suara Perempuan Korban Tragedi ’65 memuat kisah-kisah nyata yang sangat tragis dan getir—sebagian bahkan biadab—yang dituturkan langsung oleh wanita-wanita yang menjadi korban dalam tragedi sejarah 1965. Tentu saja buku ini tidak memuat semua kisah yang ada, tetapi sepuluh kisah nyata yang dirangkum buku ini bisa menjadi ilustrasi betapa mengerikannya sejarah bangsa kita.


John Grisham: The Innocent Man

A Time to Kill, novel pertama Grisham, langsung menyedot perhatian banyak pembaca di dunia, termasuk saya. Setelah itu, Grisham menulis novel-novel lain yang tak kalah mengasyikkan—The Pelican Brief, The Firm, The Client, serta lainnya—yang makin membuat pembaca kecanduan cerita-ceritanya. Semua kisah yang ditulis Grisham melibatkan dunia hukum, khususnya pengacara, dan cerita yang dibangunnya selalu tegang, mendebarkan.

Tetapi, makin ke sini, novel-novel Grisham makin berkurang efek ketegangannya. Entah hanya saya yang merasakan, atau pembaca lain juga berpikir seperti itu. Saya masih mencoba menikmati The Rainmaker, The Testament, The Runaway Jury, The Summons, The Partner, The Broker, The Last Juror, The Brethren, juga The Street Lawyer, dan lainnya, tapi makin lama saya makin kehilangan gairah pada novel-novel Grisham. Tampaknya, pikir saya, Grisham telah kehilangan sentuhan suspense-nya. Judul-judul novel yang saya sebut barusan bisa dibilang jauh berbeda dengan novel-novel awalnya yang sangat menegangkan.

Lama-lama, Grisham bahkan seperti terjebak menjadi penulis drama. The Rainmaker, misalnya, lebih tepat disebut novel drama daripada novel suspense. Begitu pula The Testament, The Summons, atau The Street Lawyer—novel-novel itu tidak memiliki unsur suspense sama sekali. Ceritanya datar, jauh dari kesan menegangkan apalagi mencekam. Karena berpikir Grisham tidak lagi menulis suspense, saya pun berhenti membaca novel-novelnya.

Sampai kemudian, muncul The Innocent Man. Saya tertarik membaca novel ini, karena diangkat dari kisah nyata. The Innocent Man juga tidak bisa disebut novel suspense, tapi inilah novel Grisham yang lain dari yang lain. Dalam novel ini, Grisham menuturkan kisahnya hanya melalui narasi dan deskripsi, nyaris tanpa dialog sama sekali. Bisa dibilang, The Innocent Man adalah novel dokumenter—Grisham mengangkat kisah aslinya sesuai yang terjadi—lengkap dengan foto-foto dokumentasi.

The Innocent Man mengisahkan Ron Williamson, lelaki yang dituduh membunuh Debra Sue Carter, pada 1982, dan dijatuhi hukuman mati, padahal bukti-bukti yang ada tidak bisa dibilang meyakinkan. Kenyataannya, Ron Williamson tidak melakukan pembunuhan itu, dan hidupnya kemudian dihabiskan hanya untuk mengusahakan dirinya terbebas dari ancaman hukuman mati, sekaligus membuktikan dirinya tidak bersalah.

Karena kisah nyata, pembaca seperti dipaksa ikut merasakan tekanan batin serta beban hidup yang dijalani Ron Williamson selama bertahun-tahun, menghadapi tuduhan mengerikan yang tak pernah dilakukannya, berusaha membuka mata dunia bahwa pengadilan Amerika telah berlaku sewenang-wenang terhadapnya, hingga akhirnya—saat usianya telah senja—Ron Williamson berhasil membebaskan dirinya, dan mengembalikan nama baiknya.

Dibanding A Time to Kill, kisah dalam The Innocent Man jelas kalah. Tetapi ini kisah nyata, dan... saya pikir, ini salah satu kisah nyata paling mengerikan yang bisa dialami manusia.


Joost Smiers & Marieke van Schijndel: 
Dunia Tanpa Hak Cipta

Merupakan terjemahan kumpulan esai kedua penulisnya, berjudul Imagine There is No Copyright and No Cultural Conglomerates Too. Isinya, seperti yang tergambar pada judul, tawaran ide untuk menghapus hak cipta dan konglomerasi budaya.

Dalam perspektif Joost Smiers dan Marieke van Schijndel, hak cipta sering kali tidak dimiliki oleh si pencipta suatu karya, melainkan dimiliki—bahkan dikendalikan—oleh perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang kebudayaan. Kenyataan itu menjadikan segelintir konglomerat memiliki kekuasaan mutlak dalam menentukan apa yang bisa kita lihat, dengar, atau baca—dalam tampilan seperti apa—juga yang tidak boleh kita lihat, dengar, dan baca.

Karena perspektif itu pula, kedua penulis buku ini menawarkan ide baru yang radikal, yakni penghapusan hak cipta. Dengan dihilangkannya hak cipta, menurut mereka, maka siapa pun bisa berkarya dengan bebas, dengan segenap ekspresi, dan masyarakat juga bebas menikmati karya seperti apa yang mereka inginkan, karena perusahaan-perusahaan besar yang biasa mendominasi ranah budaya telah disingkirkan. Dengan kata lain, dunia tak bisa lagi didikte oleh segelintir konglomerat yang menguasai hak cipta.

Dalam menawarkan idenya yang idealis ini, Smiers dan Schijndel mengandaikan satu sisi—yakni jika semua orang, tanpa kecuali, dapat hidup dan berkarya secara jujur. Mereka juga menyatakan bahwa abad digital yang sekarang muncul di dunia kita, pelan namun pasti, makin mengaburkan pentingnya hak cipta.

Secara keseluruhan, ada banyak ide dalam buku ini yang tidak saya setujui. Namun, saya juga harus jujur mengakui bahwa buku ini bagus, karena menawarkan perspektif baru yang mungkin belum pernah dibayangkan banyak orang. Selain itu, penerjemahan dan penyuntingan buku ini layak diacungi jempol, karena mengalir lancar dan enak dibaca, hingga saya merasa sedang membaca buku asli Indonesia.


Kurniawan (et.al.): Pengakuan Algojo 1965


Bisa dibilang, ini “majalah yang dibukukan”. Pengakuan Algojo 1965 berawal dari investigasi wartawan Tempo, yang semula dimuat majalah Tempo. Rangkaian investigasi itu kemudian diterbitkan dalam bentuk buku, dan... sepertinya bestseller. Buku yang saya baca menyebutkan cetakan V.

Daya tarik buku ini pastilah sudut pandang yang digunakan, yaitu orang-orang yang terlibat dalam pembantaian terhadap pihak-pihak yang dituduh atau dicurigai sebagai PKI (Partai Komunis Indonesia), yang terjadi pada era 1965. Setelah membaca Suara Perempuan Korban Tragedi ’65, maka Pengakuan Algojo 1965 seperti buku pelangkap. Yang satu menjelaskan suara para korban, satunya lagi menjelaskan suara para algojo.

Dua buku tersebut (Suara Perempuan Korban Tragedi ’65 dan Pengakuan Algojo 1965) bisa dibilang buku-buku yang menjelaskan hal-hal yang tidak pernah dijelaskan buku-buku sejarah “konvensional” yang kita baca di sekolah. PKI mungkin kejam, tapi bukan berarti pelakuan terhadap PKI—atau yang dituduh sebagai PKI—tidak kejam. Buku-buku sejarah yang kita baca selama ini telah berlaku tidak adil, karena hanya menjelaskan kekejaman satu pihak sambil menyembunyikan kekejaman pihak lain.

Sejarah, kenyataannya, memang ditulis oleh pemenang. Soeharto memenangkan pertempuran ketika melawan PKI, jadi dia pun menulis sejarah seenak udelnya, kemudian mencekokkannya ke kepala kita. Dan, selama bertahun-tahun, kita percaya.

Kini, setelah era Soeharto berlalu, dan kebebasan berpendapat terbuka lebar, buku-buku yang mengungkap “sejarah sebenarnya” pun bermunculan untuk membuka mata kita, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Buku ini mengungkap banyak hal—khususnya kisah-kisah dari para pelaku sejarah dan pembantaian—termasuk tentang Anwar Congo, salah satu algojo pembantai yang (mungkin) merasa dirinya pahlawan.

Selama membaca buku ini, saya seperti dipaksa menghadapi kenyataan yang amat mengerikan menyangkut sejarah Indonesia. Bahwa di balik “budaya luhur” yang sering kita gembar-gemborkan, di masa lalu tersimpan sejarah barbar penuh kebuasan.


Richard Dawkins: The God Delusion

Sejak terbit pertama kali, The God Delusion langsung bikin geger dunia dan membakar jenggot banyak orang. Buku yang merupakan akumulasi kegelisahan seumur hidup Richard Dawkins ini mengobrak-abrik seluruh tatanan keyakinan yang sudah mapan bagi banyak orang. Menggunakan keahliannya sebagai pakar biologi, Dawkins dengan amat meyakinkan membuktikan bahwa Tuhan, sebenarnya, well... tidak ada.

Pertarungan ideologi antara kreasionis dan evolusionis bisa dibilang pertarungan abadi yang tak pernah selesai. Sejak Charles Darwin ngoceh tentang evolusi pada 1895, pertarungan itu pun dimulai—secara terang-terangan. Kubu kreasionis telah berupaya mematahkan teori Darwin, bahkan Harun Yahya pernah menghabiskan hidupnya untuk membuktikan kesalahan Darwin. Kini, seratus tahun kemudian, Richard Dawkins muncul dengan amunisi yang menggelegar, dan mungkin Charles Darwin sedang cekikikan dalam kuburnya.

Saya mengagumi Richard Dawkins karena dua hal. Pertama, dia sinting. Kedua, dia mampu mempertanggungjawabkan kesintingannya secara ilmiah. The God Delusion adalah bukti kesintingan Dawkins yang menggelisahkan pikiran pembaca, bahkan membuat saya tidak bisa tidur selama membacanya. Melalui pemaparan yang lugas, bahkan frontal, Dawkins memuntahkan pikiran-pikirannya yang paling gila, menunjukkan bahwa Tuhan hanyalah bentuk delusi umat manusia.

Sebagai orang beriman—kalau boleh dibilang begitu—saya mengamini nasihat bijak yang menyatakan bahwa sebaiknya kita percaya Tuhan ada. Karena, mempercayai keberadaan Tuhan jauh lebih baik, dan lebih menguntungkan, daripada mempercayai Tuhan tidak ada. Jika kita percaya keberadaan Tuhan, namun ternyata Tuhan tidak ada, habis perkara. Namun, jika kita tidak mempercayai Tuhan, tapi ternyata Tuhan benar-benar ada, maka kita menghadapi masalah.

Richard Dawkins punya pola pikir berbeda. Dia tidak percaya keberadaan Tuhan. Dengan seluruh kecerdasannya—atau kesintingannya—dia lebih percaya bahwa Tuhan tidak ada, karena bukti-bukti yang ada menunjukkan Tuhan memang tidak ada. Jadi, secara konklusif, Dawkins lebih percaya Tuhan tidak ada. Lalu bagaimana jika Tuhan ternyata ada?

Jika Tuhan ternyata benar-benar ada, dan di akhirat kelak Dawkins bertemu Tuhan, kira-kira Richard Dawkins akan ngomong seperti ini, “Tuhan, maafkan saya. Seumur hidup, saya telah berusaha mencari keberadaan Tuhan, namun bukti-bukti yang saya temukan menunjukkan Tuhan tidak ada. Sebagai manusia yang dikaruniai akal pikiran, saya telah mengerahkan segala kemampuan berpikir, namun hasil yang saya dapatkan menunjukkan bahwa Tuhan tidak ada. Kalau sekarang ternyata Engkau benar-benar ada, Tuhan, mohon ampuni kebodohan saya.”

Kalau Tuhan benar-benar ada, apakah Tuhan akan mengampuni Richard Dawkins? Kira-kira, lebih baik manakah di mata Tuhan; manusia yang percaya kepada Tuhan tanpa berpikir, ataukah manusia yang berpikir namun tidak percaya kepada Tuhan?

The God Delusion adalah buku yang menantang pikiran, dan menggelisahkan keyakinan. Jika hidupmu sudah tenang dan pikiranmu sudah nyaman dengan segala yang kauyakini, sebaiknya jangan baca buku ini.


Rizki Ridyasmara: The Codex

Pertama kali mengenal Rizki Ridyasmara ketika dia menerbitkan novel pertamanya, The Jacatra Secret, yang waktu itu diterbitkan secara indie. Saya membaca novel itu, dan cukup menikmatinya. The Jacatra Secret mengisahkan misteri-misteri yang ada di Jakarta, dengan pemaparan ala Dan Brown.

Mungkin karena baru pertama kali menulis novel, Rizki Ridyasmara tampak sangat kaku dalam membangun kisah The Jacatra Secret. Tokoh-tokohnya tidak berkarakter, jalan ceritanya terasa dipaksakan, sementara plotnya bisa dibilang meniru mentah-mentah The DaVinci Code-nya Dan Brown. Semua kekurangan itu, untungnya, tertolong oleh kisah penelusuran misteri yang menjadikan The Jacatra Secret asyik dibaca.

Kini, setelah The Jacatra Secret, Rizki Ridyasmara telah menulis beberapa novel lain, salah satunya The Codex, yang saya baca tahun ini. Dibanding The Jacatra Secret, The Codex jauh lebih bagus. Kisahnya mengalir alami, tokoh-tokohnya memiliki karakter jelas, teknik penceritaannya luwes, sementara pemaparan aneka deskripsi di dalamnya tidak terkesan dipaksakan. Inilah yang benar-benar disebut novel!

The Codex menceritakan konspirasi busuk yang melibatkan zat-zat beracun dalam makanan yang biasa kita konsumsi. Dalam novel ini, Rizki Ridyasmara melakukan riset sangat dalam untuk membangun kisahnya, hingga mampu menceritakan banyak hal secara akurat, plus menyuguhkan fakta-fakta yang bisa diverifikasi kebenarannya.

Bagi saya, The Codex adalah novel lokal bercita rasa internasional. Jalan ceritanya mengasyikkan, kisahnya tidak membosankan, pemaparan di dalamnya menambah wawasan dan pengetahuan.


Sophie Hannah: The Monogram Murders

Agatha Christie, pengarang wanita yang dijuluki “Ratu Kisah Kriminal”, menciptakan sosok detektif hebat bernama Hercule Poirot. Tokoh itu muncul dalam banyak novel Agatha Christie, dan membuat jutaan orang jatuh cinta dengan penuh kekaguman. Bisa jadi, Hercule Poirot adalah detektif terbesar di dunia fiksi, setelah Sherlock Holmes yang diciptakan Sir Arthur Conan Doyle.

Menjelang wafatnya, Agatha Christie mematikan tokoh Hercule Poirot dalam novel terakhir, berjudul The Curtain, dan itulah kasus terakhir yang ditangani Hercule Poirot. Karena pengarangnya telah mati, Hercule Poirot pun tidak pernah muncul lagi.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada 2014, Hercule Poirot “hidup lagi” dalam novel karya Sophie Hannah, The Monogram Murders, yang ditulis berdasarkan lisensi Agatha Christie Ltd. Kehadiran kembali Hercule Poirot tentu disambut gembira banyak orang yang merindukannya—termasuk saya. Jadi, ketika novel ini terbit, serta merta saya langsung bernafsu membacanya. Oh, well, rasanya menyenangkan bisa kembali menikmati kisah Hercule Poirot dengan segala kehebatan dan tingkahnya yang eksentrik.

The Monogram Murders mengisahkan kasus pembunuhan yang sangat rumit, dengan plot penuh teka-teki yang saling membelit, trik-trik “menyesatkan” yang membuat pembaca berpikir keliru, plus tokoh-tokoh unik yang suka bicara melantur, khas Agatha Christie. Sophie Hannah tampaknya berusaha keras agar novel ini memiliki “ruh” Agatha Christie, dan—dalam hal itu—usahanya layak dipuji.

Namun, apakah Sophie Hannah bisa menghidupkan Hercule Poirot sebagus Agatha Christie? Menurut saya, Sophie Hannah tidak terlalu berhasil. Di tangan Sophie Hannah, Hercule Poirot tampak seperti badut—penegasan karakternya terkesan dipaksakan—tidak alami seperti ketika ditulis Agatha Christie. Tapi tentu tidak adil jika berharap Sophie Hannah bisa menyamai Agatha Christie. Bagaimana pun, Christie yang menciptakan Hercule Poirot—tentu dia lebih mengenalnya, dan lebih tahu bagaimana menghidupkannya.

Terlepas dari hal itu, The Monogram Murders adalah kisah detektif yang menyenangkan dan mengasah otak, khususnya bagi para pengagum Hercule Poirot yang telah lama merindukannya.


Stephany Josephine: The Freaky Teppy

Kalau kalian mengira saya hanya membaca buku-buku berat yang bikin jidat berlumut, kalian keliru. Sebagai bocah, saya tentu juga membutuhkan hiburan, melemaskan urat saraf, dan cekikikan. Karena itulah saya juga membaca buku-buku ringan—lebih khusus yang lucu—yang tidak membuat kepala pening, sekaligus untuk mengingatkan saya agar tidak kehilangan selera humor.

Di toko buku, banyak sekali buku “ringan” semacam itu. Sebegitu banyak, hingga rasanya kita bisa menemukannya sambil merem. Tetapi harus diakui, tidak semua buku semacam itu bagus. Umumnya, buku-buku ringan—dan lucu—yang bagus ditulis orang yang benar-benar bisa menulis, bukan orang yang sekadar latah menulis buku. The Freaky Teppy adalah satu di antaranya.

Jika buku komedi/ringan selama ini terkesan remaja banget, The Freaky Teppy lebih dewasa. Jika saya sering “gagal paham” saat membaca buku komedi remaja sehingga tidak tahu di mana letak lucunya, The Freaky Teppy mampu membuat saya cekikikan tanpa henti. Oh, well, saya sangat menikmati saat membacanya, hingga terus guling-guling di sofa selama membaca kisah-kisah di dalamnya.

Nyaris setiap lembar buku ini membuat saya tidak bisa berhenti tertawa. Stephany ‘Teppy’ Josephine menulis kisah-kisahnya dengan caranya sendiri—lugas, jujur, apa adanya, tanpa sok jaim-jaiman, dan selalu mampu menghadirkan humor di rangkaian kisahnya.

Tapi kejutan tak terduga muncul menjelang akhir buku, tepatnya dalam kisah “Shameless Assistant: Patah Hati”. Di akhir kisah itu, jantung saya mencelos, dada saya menghangat. Setelah cekikikan dan guling-guling sejak halaman pertama, akhir kisah itu membuat saya tercenung dan ingin menangis. Saya tidak akan menceritakannya di sini—kalian harus membacanya sendiri!

Buku ini murni komedi, ditulis dengan tujuan untuk menghibur, namun kita bisa menemukan pelajaran-pelajaran tersembunyi di dalamnya. Sayangnya, buku ini terlalu tipis—saya menghabiskannya dalam sekali duduk. Akibatnya, ketika sampai di halaman akhir, dan mendapati kisahnya telah selesai, saya merasa “tidak rela”. Ini seperti makan sedang enak-enaknya, belum sempat kenyang, tapi tiba-tiba disuruh berhenti.

*Nangis pelangi*


Stephen King: Carrie

Carrie adalah karya klasik Stephen King, yang kemudian mengantarnya menjadi raja novel horor. Sebagai novel, Carrie terbit pertama kali pada 1974, tepat ketika Stephen King—yang waktu itu masih penulis pemula—merasa frustrasi dengan banyaknya penolakan dari penerbit.

Di rumahnya yang sederhana, Stephen King memasang paku besar di salah satu dinding. Menancap kuat di dinding rumah, paku itu menonjol sepanjang 10 centimeter. Paku itu menjadi saksi bisu penolakan demi penolakan yang pernah diterima Stephen King. Setiap kali ia mengirim naskah ke penerbit dan ditolak, King akan menancapkan nota penolakan yang ia terima pada paku di rumahnya.

Waktu demi waktu berlalu, dan surat-surat penolakan yang diterimanya semakin banyak—semuanya ia tancapkan pada paku di dinding—hingga paku yang panjang itu seolah tak muat lagi karena telah penuh deretan nota penolakan. Pada waktu itulah, di tengah frustrasi memandangi banyaknya penolakan yang ia terima, Stephen King mendapat kabar bahwa novelnya, Carrie, diterima untuk diterbitkan.

Hasil penerbitan novel itu tidak hanya mampu menopang kehidupan Stephen King yang waktu itu sedang kembang-kempis, namun juga mengantarnya menjadi legenda novel horor. Kisah seorang gadis yang memiliki kekuatan telekinetik bernama Carrie White segera terkenal, novelnya terjual dalam jumlah besar, hingga kemudian difilmkan beberapa kali. Setelah itu, Stephen King pun menancapkan namanya sebagai penulis horor paling terkenal di dunia.

Carrie mengisahkan gadis lugu yang sering di-bully teman-teman sekolahnya, hingga puncaknya terjadi ketika si gadis lugu menggunakan kekuatan telekinetik yang dimilikinya, dan menghancurkan seisi kota. Teknik penulisan novel ini sangat unik, karena plotnya tidak hanya mengisahkan tokoh-tokoh dalam cerita, namun juga melibatkan aneka deskripsi berupa potongan-potongan berita yang seolah nyata.

Novel yang saya baca adalah cetakan baru—Februari 2014. Tetap asyik dibaca dan dinikmati, meski telah ditulis empat puluh tahun yang lalu. Bukti bahwa Carrie memang tak lekang oleh waktu.

Sampai jumpa di daftar Buku Terbaik tahun depan!

FAQ Seputar Buku Terbaik

Selalu ada hal baru yang kita dapatkan
ketika membaca buku yang bagus. Bahkan meski kita
membacanya berulang-ulang.
@noffret


Ketika pertama kali merilis daftar buku terbaik setiap akhir tahun, motivasi saya hanya ingin menunjukkan buku-buku bagus, yang mungkin kurang terkenal, khususnya di kalangan pembaca buku di Indonesia. Namun, ternyata, daftar tahunan di blog ini menjadi rujukan banyak orang dalam mencari “bacaan rekomendasi”, meski saya sama sekali tidak memaksudkannya sebagai rekomendasi.

Kenyataan itu tentu tidak bisa dilepaskan dari Google dan para pembaca setia blog ini. Di Google, jika kita searching menggunakan kata kunci Buku Terbaik 2011, atau Buku Terbaik 2012, atau Buku Terbaik 2013, ada lebih dari satu juta link yang diindeks, dan blog ini menempati peringkat teratas. Selama tiga tahun berturut-turut, blog ini merilis daftar tahunan buku terbaik, dan daftar itu menjadi posting yang dibaca beribu-ribu orang.

Berbagai pertanyaan saya terima mengenai Daftar Buku Terbaik yang dirilis di blog ini, dari sistem penilaian yang digunakan, sampai “pertanggungjawaban” saya sebagai pihak yang merilis daftar. Untuk itulah secara khusus saya menulis post ini, yang berisi FAQ (pertanyaan-pertanyaan yang banyak diajukan) seputar Daftar Buku Terbaik, sebagai bentuk “pertanggungjawaban”.

Ada kemungkinan FAQ ini akan bertambah di waktu-waktu mendatang, jika ada pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul dan relevan. Untuk sementara, berikut ini yang bisa saya jawab.


Berapa jumlah buku yang dibaca dalam setahun?

Tidak pasti, karena sangat tergantung pada waktu yang saya miliki. Namun, setiap hari, saya mewajibkan diri sendiri untuk membaca buku, dan secara rata-rata saya membaca antara 50 hingga 100 buku setiap tahun.


Jenis buku apa saja yang biasa dibaca?

Sebenarnya, saya membaca hampir semua jenis buku, fiksi maupun nonfiksi. Namun, sebagai pembaca, tentu saya memiliki bacaan favorit, juga penulis favorit. Untuk nonfiksi, bacaan favorit saya adalah buku-buku yang membahas hal-hal baru, atau hal-hal lama yang ditulis dengan cara atau perspektif baru. Intinya, selama buku itu meluaskan wawasan dan pengetahuan—khususnya yang belum saya tahu—saya akan tertarik membaca.

Sedang untuk fiksi, bacaan favorit saya adalah suspense (misal novel-novel Dan Brown atau Sidney Sheldon), fantasi (misal seri Chronicle of Narnia atau Harry Potter), misteri (misal novel-novel Agatha Christie atau Sir Arthur Conan Doyle), dan beberapa genre lain. Intinya, saya menyukai novel-novel yang “kaya”. Seperti yang pernah saya tulis di sini, semakin rumit alur dan plotnya, saya semakin suka. Saya juga membaca novel drama, namun dalam jumlah sangat terbatas.


Apakah juga membaca buku-buku agama?


Oh, tentu saja. Buku-buku agama juga termasuk daftar bacaan saya. Tidak hanya buku-buku agama semacam karya Ali Syari’ati atau Karen Armstrong, saya bahkan membaca buku-buku (mungkin lebih tepat disebut kitab) semacam Tafsir Jalalain, Riyadhus Shalihin, Ihya’ Ulumuddin, Sahih Bukhari Muslim, dan lainnya. Selain Al-Qur’an dan Terjemahan, saya juga membaca Alkitab (Injil), Zabur, dan kitab suci lainnya.


Bagaimana dengan buku-buku ringan?

Well, bagaimana kita mendefinisikan “buku-buku ringan”? Jika yang dimaksud “buku ringan” adalah buku-buku yang membahas hal-hal ringan, atau lucu dan membuat tertawa, tentu saya juga menyukainya. Setelah menyetubuhi buku-buku berat (yang membahas hal-hal berat), membaca buku ringan adalah hiburan yang beradab. Meski saya sangat selektif dalam memilih bacaan ringan semacam itu.


Tentang Daftar Buku Terbaik yang dirilis setiap tahun di blog ini, apa motivasi merilisnya?


Seperti yang saya nyatakan di awal catatan ini, motivasi saya hanya ingin menunjukkan atau memperkenalkan buku-buku bagus namun kurang dikenal, khususnya oleh pembaca di Indonesia. Tetapi bukan berarti buku-buku yang masuk daftar itu harus buku-buku yang tidak/kurang dikenal. Banyak pula buku-buku terkenal yang masuk daftar tersebut, karena memang bagus.

Biar saya ceritakan lebih spesifik. Banyak teman saya yang kadang membaca buku. Mereka bukan kutubuku—hanya suka membaca buku, kalau pas ada waktu luang. Karenanya, mereka pun tidak selalu tahu buku bagus apa yang sedang beredar, namun cenderung hanya mengenal buku-buku yang dihebohkan masyarakat. Padahal, buku-buku yang dihebohkan masyarakat jumlahnya sangat sedikit, dan—harus kita akui—belum tentu benar-benar bagus.

Kenyataan itu membuat saya sedih. Di luar sana ada buku-buku hebat yang menunggu dibaca—buku-buku yang akan “meledakkan” pikiran mereka—tapi mereka tidak tahu, hanya karena masyarakat atau lingkungannya tidak tahu. Jadi, ketika datang ke toko buku, pilihan mereka sangat terbatas. Bukan karena jumlah buku bagus yang memang sedikit, tapi karena wawasan dan pengetahuan mereka seputar buku yang sangat minim.

Latar belakang itulah yang kemudian membuat saya berpikir, bisa jadi di luar sana juga banyak orang semacam itu—orang-orang yang tidak pernah membaca buku-buku bagus, karena memang tidak tahu.

Dan kalau memang begitu kenyataannya, saya pikir tidak ada salahnya kalau mencoba memperkenalkan buku-buku bagus kepada mereka. Daftar Buku Terbaik itulah hasilnya. Sebenarnya, daftar itu tidak saya tujukan untuk pembaca awam (bukan kutubuku), namun bisa dimanfaatkan pembaca awam yang ingin mengenal buku-buku bagus, atau ingin mendapatkan alternatif bacaan.


Bagaimana sistem penilaian yang digunakan dalam menyusun Daftar Buku Terbaik di blog ini?

Sederhana saja—saya memilih sepuluh buku yang terbaik dari semua buku yang saya baca dalam setahun. Dari semua buku yang saya baca dalam setahun, mula-mula saya menyisihkan buku-buku yang saya anggap bagus. Dari buku-buku yang bagus, saya pilih lagi sepuluh di antaranya—yang saya anggap terbaik—untuk kemudian saya rilis daftarnya di blog ini.


Omong-omong, seperti apa buku bagus?

Bagi saya, buku bagus adalah buku yang memberikan sesuatu kepada pembacanya, dengan cara yang unik dan orisinal, serta enak dibaca. Jika tiga syarat itu terpenuhi, maka buku itu bisa disebut bagus. Mari kita ulas satu per satu.

Pertama, sebuah buku harus memberikan “sesuatu” kepada pembacanya—pengetahuan atau wawasan baru, pengalaman yang membuka cakrawala, atau setidaknya menghibur dengan cara menyenangkan. Pendek kata, buku bagus adalah buku yang tidak anti-pembelajaran.

Kedua, sesuatu yang disampaikan dalam buku itu unik dan orisinal. Memang, seperti yang dikatakan Raja Solomon, tidak ada yang baru di bawah matahari. Tetapi setiap orang (penulis) adalah jiwa yang baru, pikiran yang baru, sebuah kehidupan yang baru, dengan pengalaman yang baru. Unsur kebaruan yang dimiliki setiap penulis itulah yang memungkinkan suatu buku ditulis dengan cara yang benar-benar baru, dan orisinal. Tanpa orisinalitas, semua hal baru hanya daur ulang hal-hal lama.

Ketiga, buku itu harus enak dibaca, atau ramah pembaca (readable). Banyak buku yang sebenarnya memiliki muatan bagus bahkan hebat (asli Indonesia maupun terjemahan) tapi ditulis atau diterjemahkan dengan kalimat-kalimat tersendat bahkan terlarat-larat, hingga pembaca sangat berat membacanya. Oh, banyak sekali buku semacam itu. Baru membaca beberapa lembar saja, kita sudah mau pingsan kehabisan energi atau nyaris mati karena bosan.

Buku yang enak dibaca membutuhkan penulis (atau penerjemah) yang mumpuni. Faktor itu penting, khususnya di masa sekarang, ketika nyaris setiap orang bisa mengklaim diri sebagai penulis. Kita tahu, tidak setiap orang yang bisa menyanyi pasti penyanyi, tidak setiap orang yang bisa menari pasti penari, tidak setiap orang yang bisa melukis pasti pelukis... pun tidak setiap orang yang bisa menulis pasti penulis. Buku bagus yang enak dibaca hanya mungkin ditulis orang yang benar-benar penulis, bukan orang yang sekadar merasa dirinya penulis.

Buku-buku semacam itulah—yang memberikan “sesuatu” kepada pembacanya, yang unik dan orisinal, serta yang enak dibaca—yang saya masukkan ke dalam list buku bagus. Dari buku-buku bagus itu, saya pilih sepuluh yang saya anggap terbaik. Kemudian hasilnya saya rilis di blog ini, setiap tanggal 20 Desember.

Tetapi, bagaimana pun, jumlah buku yang saya baca sangat terbatas—hanya 100-an judul per tahun. Selalu ada kemungkinan saya melewatkan buku bagus di luar sana, karena memang belum membacanya. Lebih dari itu, pilihan atas 10 buku terbaik di blog ini tentu tidak bisa dilepaskan dari unsur subjektivitas, karena ini penilaian saya pribadi.


Kadang ada buku terbitan lama yang masuk Daftar Buku Terbaik di blog ini. Bagaimana itu bisa terjadi?

Setiap bulan, saya menambah koleksi buku di perpustakaan saya—dari toko buku, dari online bookstore, sampai dari pameran atau bazaar buku. Buku-buku itu terus menumpuk, dan makin hari jumlahnya makin banyak, karena buku yang saya beli jauh lebih banyak dibanding kemampuan saya menghabiskannya. Akibatnya, daftar antrian buku yang akan saya baca makin hari makin panjang. Sekadar ilustrasi, saat ini ada sekitar 3.000 (tiga ribu) buku yang menunggu dibaca di perpustakaan saya.

Dari ribuan buku yang menunggu dibaca itu, saya memilihnya secara acak—mana yang paling menggoda, saya ambil terlebih dulu. Akibatnya, buku yang saya beli delapan tahun lalu bisa jadi baru saya baca tahun ini. Kadang-kadang pula, saat keluyuran di pameran buku, saya menemukan buku-buku “kuno” yang telah terbit bertahun-tahun lalu. Karena buku itu memang bagus, dan baru saya baca, saya pun memasukkannya ke Daftar Buku Terbaik yang baru saya rilis, meski itu buku terbitan lama.


Mengapa daftar tahunan buku terbaik di blog ini tidak hanya berisi buku-buku asli Indonesia, tapi juga buku-buku luar negeri?

Dari semua buku yang saya baca, sekitar 70 persen di antaranya adalah buku luar negeri atau terjemahan. Jika dalam setahun saya membaca 100 buku, maka artinya buku asli Indonesia yang saya baca hanya sekitar 30 judul. Karenanya, ketika merilis daftar tahunan di blog ini, lebih dari separuh yang menempati adalah buku-buku luar negeri. Izinkan saya memberi sedikit penjelasan soal ini.

Ketika blogger kutubuku Amerika merilis daftar buku terbaik di blognya, dia tidak hanya memasukkan buku-buku asli Amerika, tapi juga buku-buku pengarang Inggris, Prancis, Rusia, bahkan Mesir. Ketika blogger kutubuku Inggris merilis daftar yang sama, buku-buku yang masuk dalam daftarnya juga tidak hanya sebatas buku-buku lokal Inggris. Karenanya, sah dan wajar kalau saya melakukan hal yang sama. Internet memungkinkan kita untuk berpikir global, meski tetap memegang kearifan lokal.


Maukah menerima tawaran/kiriman buku dari penulis/penerbit untuk dibaca—siapa tahu bisa masuk daftar ini?

Saya sangat menghargai tawaran itu. Namun, agar saya tidak punya beban moral apa pun, khususnya dalam merilis daftar buku terbaik di blog ini, dengan berat hati saya tidak bisa menerima tawaran atau kiriman buku dari mana pun. Kalau kalian punya buku baru yang bagus, yang mungkin akan saya sukai, cukup colek atau beritahu saya, nanti akan saya cari sendiri.


Blog ini dibaca banyak orang, dan tentunya Daftar Buku Terbaik yang dirilis di blog ini juga dibaca banyak orang. Tidakkah itu seperti “promosi gratis” untuk buku-buku tersebut?

Sejak merilis Daftar Buku Terbaik pada 2011, setiap tahun Daftar Buku Terbaik di blog ini dibaca beribu-ribu orang. Seperti yang disebutkan di atas, Google menempatkan rilis Buku Terbaik di blog ini di peringkat teratas di antara jutaan link yang diindeksnya. Jika daftar tahunan ini kemudian dianggap “promosi gratis” untuk buku-buku tersebut, saya tidak mempersoalkannya—barang bagus memang harus dikenal banyak orang.

Lebih dari itu, ini adalah bentuk apresiasi saya kepada sesama penulis, agar kita terus termotivasi untuk melahirkan karya yang lebih baik. Di dunia literasi, saya pikir itu hal yang baik.

Nyanyi Sunyi

Siapalah aku ini. Hanya anak-anak yang belajar dewasa.

Siapalah aku ini. Hanya bocah yang merindu mbakyunya.

....
....

Siapalah aku ini. Hanya sunyi di pelukan fana.

Senin, 15 Desember 2014

Rachel, Sang Mbakyu

Bruce, mungkin dalam hati kau masih anak baik seperti dulu.
Tapi bukan yang di hati, melainkan yang tampak yang dinilai orang.
Rachel Dawes kepada Bruce Wayne
dalam Batman Begins


Semua superhero adalah bocah, dan semua bocah merindukan mbakyu. Christopher Nolan tampaknya memahami konsep itu. Karenanya, ketika dia menggarap serial Batman, sutradara hebat itu melakukan perombakan besar-besaran dari komik aslinya—tidak hanya dalam jalan cerita, tapi juga memikirkan konsep hubungan antara bocah dan mbakyu melalui jalinan ceritanya.

Dalam Batman Begins, Katie Holmes dikasting menjadi Rachel Dawes, mbakyu yang diplot untuk menjadi pasangan Batman. Seri pertama trilogi itu mengisahkan Bruce Wayne yang telah bersama Rachel Dawes sejak masa kanak-kanak, dan Katie Holmes benar-benar tepat memerankannya. Mereka seumuran. Ketika Bruce tumbuh dewasa, Rachel juga semakin mekar.

Di akhir kisah Batman Begins, Rachel Dawes berkata pada Bruce Wayne, “Aku tak pernah berhenti berpikir tentangmu, tentang kita. Saat kudengar kau kembali, aku mulai berharap. Tapi kemudian aku tahu soal topengmu... Pria yang kucintai, pria yang menghilang, dia tak pernah kembali lagi. Tetapi mungkin masih ada di suatu tempat. Mungkin, suatu hari, saat Gotham tak membutuhkan Batman lagi, aku akan menemuinya.”

Kemudian muncul The Dark Knight, seri kedua dalam trilogi Batman garapan Nolan. Dalam The Dark Knight, Bruce Wayne telah tumbuh semakin matang, dan dia menghadapi musuh yang tidak hanya berbahaya, tetapi juga gila. Konflik psikologis dalam kisah itu makin rumit dengan munculnya Harvey Dent, yang juga jatuh cinta pada Rachel Dawes.

Harvey Dent mungkin sebaya dengan Bruce Wayne. Namun, fakta penting yang tak bisa diabaikan adalah latar belakang mereka. Bruce lahir dan tumbuh besar sebagai anak konglomerat. Sementara Harvey lahir dan tumbuh dari keluarga berkekurangan. Meski usia mereka sebaya, tapi Harvey Dent—akibat latar belakangnya—memiliki penampilan fisik yang tampak lebih dewasa. Oh, well, Nolan pasti telah memikirkan fakta itu dengan cermat.

Kita tahu, anak-anak orang miskin tumbuh besar dalam kehidupan yang jauh berbeda dibanding anak-anak orang kaya. Akibat kemiskinan, anak-anak itu seperti dipaksa dewasa sebelum waktunya. Hasilnya, tidak saja nalar mereka yang biasanya lebih cepat dewasa, tapi juga mempengaruhi penampilan fisik mereka. Kenyataan itu juga terjadi pada Harvey Dent. Karena itulah Aaron Eckhart (yang penampilan fisiknya lebih tua dari Christian Bale) dikasting menjadi Harvey Dent.

Karena Harvey Dent diperankan Aaron Eckhart, muncul masalah baru. Dalam kisah The Dark Knight, Harvey Dent jatuh cinta pada Rachel Dawes. Jika Rachel Dawes masih tetap diperankan Katie Holmes, sosoknya kurang mencerminkan wujud mbakyu, khususnya bagi Harvey. Padahal Harvey Dent—sebagaimana Bruce Wayne—adalah bocah, dan bocah hanya merindukan mbakyu.

Jadi, langkah cerdik kemudian dilakukan—Katie Holmes diganti Maggie Gyllenhaal. Sosok Maggie Gyllenhaal (yang lebih dewasa dibanding Katie Holmes) jauh lebih tepat untuk mewujudkan sosok mbakyu—tidak saja bagi Bruce Wayne a.k.a Batman, tetapi juga bagi Harvey Dent. (Sekadar catatan, Maggie Gyllenhaal lebih tua dua tahun dari Katie Holmes).

Seperti yang pernah saya tulis di sini, Bruce Wayne maupun Harvey Dent adalah bocah-bocah yang bersembunyi di balik sosok dewasa. Bruce adalah bocah kesepian akibat ditinggal mati orangtuanya, sementara Harvey adalah bocah nelangsa akibat latar belakang hidupnya. Kedua bocah itu merindukan mbakyu, dan Christopher Nolan tahu bagaimana mewujudkannya, yaitu melalui sosok Maggie Gyllenhaal.

Latar belakang itu tampaknya menjawab penggemar Batman yang mungkin bertanya-tanya mengapa Katie Holmes harus diganti Maggie Gyllenhaal untuk memerankan Rachel Dawes. Dia memang terpaksa diganti, karena skenario cerita di dalamnya tidak memungkinkan. See, kita lihat betapa detailnya Nolan (dan tim kasting) mempersiapkan trilogi Batman.

Hasilnya, Maggie Gyllenhaal benar-benar mampu mewujudkan sosok mbakyu bagi bocah-bocah dalam kisah itu. Rachel Dawes adalah mbakyu yang dirindukan Bruce Wayne, juga Harvey Dent. Dan siapakah yang kemudian dipilih Rachel? Jawabannya telah kita tahu, yakni Havey Dent. Di antara Bruce Wayne dan Harvey Dent, Rachel lebih memilih Harvey. Kenapa? Lagi-lagi jawabannya karena dia mbakyu!

Jika Rachel Dawes bukan mbakyu, dia pasti akan memilih Bruce Wayne. Itu logika yang sangat mudah dipahami. Dibanding Harvey, Bruce jelas lebih unggul, selain mereka telah saling kenal dan bersama sejak masa kanak-kanak. Tapi tidak, Rachel lebih memilih Harvey, yang bahkan bisa dibilang masa depannya belum jelas. Dan pilihan itu bahkan tidak berubah saat mereka ada di titik nadir paling menentukan, antara hidup dan mati.

Salah satu adegan dalam kisah The Dark Knight memperlihatkan Rachel Dawes dan Harvey Dent diculik anak buah Joker, kemudian mereka diikat di ruangan yang sama, bersama bom waktu yang siap meledak, sementara drum-drum bahan bakar mengelilingi tempat mereka. Begitu bom yang ada di sana meledak, akibatnya sangat jelas—kematian.

Seiring waktu ledakan terus berdetak menuju angka 00:00, Rachel Dawes bercakap-cakap dengan Harvey Dent. Untuk menyegarkan ingatan, berikut ini sebagian adegan dan dialog mereka.

Ketika Harvey Dent tersadar dari pingsannya dan berteriak-teriak, Rachel mendengar suaranya, kemudian menyahut dengan suara menenteramkan, “Harvey, oh syukurlah, kau baik-baik saja.”

Perhatikan—waktu itu Rachel juga dalam kondisi yang sama, dia terikat di tempat duduk, dan juga baru sadar dari pingsannya. Tetapi, ketika menyadari keadaan mereka, Rachel tidak histeris atau menyatakan ucapan-ucapan tolol, tetapi justru menenangkan Harvey dengan kalimat menenteramkan, “Harvey, oh syukurlah, kau baik-baik saja.” Itu jenis kalimat yang tidak akan keluar dari mulut cewek biasa—itu kalimat yang hanya muncul dari bibir seorang mbakyu!

Lalu Harvey menjawab, “Aku baik-baik saja. Aku ada di gudang, tersambung ke tong minyak.”

“Aku juga,” sahut Rachel. “Harvey, dengar. Waktu kita tidak banyak. Mereka bilang, hanya satu dari kita yang akan selamat. Mereka akan biarkan teman-teman kita memilih.”

“Tenanglah, semua akan beres. Polisi akan menyelamatkanmu.”

“Baik. Dengar, akan kubantu kau, beritahu keadaan di situ. Bisa temukan benda tajam?”


Sekali lagi, perhatikan. Kondisi Rachel maupun Harvey sama-sama terikat, dengan ancaman bom yang sama. Tetapi bukannya memikirkan diri sendiri, Rachel justru memikirkan Harvey. Dia tidak mengatakan, misalnya, “Harvey, kau bisa membantuku? Oh, tolong cepatlah! Lepaskan aku dari ikatan sialan ini!” Tidak—yang diucapkan Rachel jauh lebih baik dari itu. Yang ia katakan, “Dengar, akan kubantu kau, beritahu keadaan di situ. Bisa temukan benda tajam?”

Mungkin ucapan itu tidak membantu apa-apa, tapi setidaknya tidak membuat Harvey makin panik. Itulah mbakyu! Rachel Dawes adalah sosok seorang mbakyu. Dan Tuhan—bersama Christopher Nolan—mengetahui kenyataan itu.

Kemudian, dengan mata berkaca-kaca, Rachel menyatakan, “Harvey, siapa tahu ini saat-saat terakhir kita, aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Jangan berpikir begitu, Rachel,” sahut Harvey. “Mereka akan menyelamatkanmu.”

“Memang, tapi aku tak mau diprioritaskan.” Lalu air mata Rachel mengalir. “Aku tak mau hidup tanpamu, dan aku punya jawaban untukmu. Jawabanku, ya.”


Lalu bom meledak.

Harvey Dent selamat—ia ditarik Batman yang baru tiba di sana. Tapi Rachel tewas dalam ledakan itu, bersama teriakan Harvey yang histeris, bersama ledakan lain yang membuat tempat itu makin berkobar, dengan asap membubung ke langit.

Kematian Rachel Dawes tidak hanya meninggalkan duka cita bagi Harvey Dent, tapi juga bagi Bruce Wayne. Tidak lama setelah kejadian itu, Bruce mengadu pada Alfred—pembantu setianya—bahwa Rachel telah memilih dirinya, dan dia berharap Harvey tidak mengetahui kenyataan itu, agar tidak semakin terluka.

Alfred hanya mengangguk—tapi dia tahu sesuatu yang tidak diketahui Bruce Wayne. Bahwa Rachel, sebenarnya, telah memilih Harvey Dent. Kenyataan itu diketahui Alfred saat ia membaca surat yang ditinggalkan Rachel untuk Bruce. Setelah mendengar kabar Rachel tewas, Alfred membuka surat itu, dan membaca isinya. Ia selipkan surat itu ke dalam sajian sarapan untuk Bruce yang disiapkannya.

Tetapi, setelah mendengar Bruce mengadu dan yakin bahwa Rachel memilih dirinya, Alfred pun tahu apa yang harus dilakukan. Ia ambil kembali surat itu, dan membakarnya diam-diam. Ia berharap Bruce selamanya tidak tahu bahwa Rachel telah memilih Harvey. Alfred tentu tidak ingin Bruce makin terluka akibat kenyataan itu. Kelak, dalam The Dark Knight Rises, masalah surat yang dibakar—dan kejujuran yang disembunyikan—itu menjadi konflik antara Bruce dan Alfred, hingga kemudian Alfred meninggalkan rumah Bruce Wayne.

....
....

Rachel Dawes adalah mbakyu—sosok menenteramkan yang dirindukan bocah-bocah seperti Bruce Wayne dan Harvey Dent. Ketika Rachel meninggal, bocah-bocah itu pun terlempar ke dalam nasibnya masing-masing. Harvey Dent kemudian tewas dalam pembalasan dendam yang dilakukannya, sementara Bruce Wayne menjalani hidup dalam kekosongan, kehampaan, kerinduan... sampai menemukan jalan untuk mati dalam The Dark Knight Rises.

Rachel Dawes adalah mbakyu—dan bocah-bocah terluka, kesepian, di bawah langit mana pun, tak pernah berhenti merindukan sosok semacam itu.

Sabda Bocah

Akan tiba suatu masa dalam hidupmu, ketika yang paling kaurindukan hanyalah kasih seorang mbakyu.

Modal Penting Cari Pasangan

Setelah lama ngobrol tentang hubungan dan segala hal yang berkaitan, temanku berkata, “Di antara semua kualitas yang biasa kita pikirkan dalam mencari pasangan, ada satu hal yang sering terlewat. Padahal satu hal itu paling penting, di antara lainnya.”

“Apa itu?” tanyaku penasaran.

“Kepercayaan,” dia menjawab. “Kualitas paling penting yang seharusnya dimiliki orang yang akan kita jadikan pasangan adalah kepercayaan—bahwa kita percaya kepadanya, bahwa dia memang layak dipercaya.”

Aku mengangguk.

Lalu dia melanjutkan, “Kau bisa mendapatkan pasangan yang sempurna, rupawan, cerdas, elegan—sebut apa pun—tapi kalau dia tidak bisa dipercaya, buat apa? Itu hanya akan membuatmu gelisah, dan menggerogoti ketenteramanmu. Alih-alih bahagia seperti yang kauinginkan, kau justru menjalani hubungan yang membuatmu tertekan.”

Sekali lagi aku mengangguk. Lalu bertanya, “Tapi bagaimana kita bisa tahu apakah seseorang bisa dipercaya atau tidak?”

“Kau pasti tahu,” ujarnya sambil tersenyum.

Kamis, 11 Desember 2014

Soal Mantan, dan Beberapa Hal yang Perlu Kita Bicarakan

Aneh, ya. Tiap kali aku nyebut “luka”,
orang mengasumsikannya ke “cinta”. Kok sempit amat?
Aku bahkan tidak punya masalah atau luka cinta.
@noffret 


Rencana semula, catatan yang sebenarnya akan saya unggah hari ini adalah post berjudul Rachel, Sang Mbakyu (plus dua catatan lain sebagai pengiring). Catatan itu mengulas sosok Rachel Dawes dalam film Batman Begins dan The Dark Knight, khususnya seputar hubungannya dengan Bruce Wayne dan Harvey Dent. Namun, posting tersebut terpaksa saya tunda dulu, dan mungkin akan saya unggah setelah catatan soal mantan ini.

Well, saya terpaksa menulis catatan ini, untuk meluruskan beberapa hal yang mungkin disalahpahami sebagian orang. Di blog maupun di Twitter, saya cukup sering menyebut “luka” atau kata/kalimat sejenisnya, dan sebagian orang rupanya mengasumsikan hal tersebut dengan “cinta”. Padahal, saya sama sekali tidak memaksudkan seperti itu. “Luka” yang sering saya sebut sama sekali tidak berhubungan dengan cinta, khususnya cinta dengan (mantan) pacar.

Kenapa ini jadi penting?

Saya perlu menjelaskan hal ini, karena bagaimana pun asumsi yang keliru itu tidak adil untuk mantan (atau mantan-mantan) saya. Mereka perempuan-perempuan baik yang pernah menjalin hubungan baik dengan saya, dan tentunya asumsi yang keliru mengenai mereka secara tak langsung telah menghakimi mereka. Karena itu, saya merasa punya kewajiban moral untuk menjelaskan dan meluruskan, agar mereka tidak dicederai asumsi yang salah. Itu tidak adil untuk mereka.

Ada mantan saya yang cukup aktif di Facebook. Kami memang tidak lagi berhubungan, tapi selalu ada kemungkinan dia juga membaca blog ini, dengan alasan apa pun. Tempo hari, seorang teman memberitahu bahwa mantan saya “direcoki” beberapa orang di Facebook yang ingin tahu hubungan kami di masa lalu, dan bertanya-tanya mengapa saya tampaknya sangat terluka akibat cinta.

Terus terang saya ingin ngakak campur nangis mengetahui hal itu. Oh, well, rupanya orang bisa salah memahami sesuatu hanya karena merasa sok tahu.

Untuk itulah, saya merasa perlu menulis catatan ini, untuk menjelaskan beberapa hal yang telah menyesatkan asumsi sebagian orang, serta untuk membicarakan beberapa hal lain seputar mantan.

Mari kita mulai dari awal.

Seperti yang pernah saya tulis di catatan-catatan terdahulu, seumur-umur saya hanya pernah pacaran dua kali. Dan keduanya adalah perempuan yang baik, bukan sosok yang telah melukai saya hingga meninggalkan luka dan trauma. Meski sekarang tidak lagi berhubungan dengan mereka, saya tetap mengenang mereka sebagai orang-orang baik, dan bersyukur karena pernah mengenal serta menjalin hubungan dengan mereka.

Pacar pertama saya berawal dari pertemanan. Kami telah saling kenal dan sama-sama merasa nyaman sebelum menjadi pacar. Dari hubungan pertemanan, kami menjadi pacar. Dia maupun keluarganya sangat baik. Saya akrab dengan ayah dan ibunya, juga adik dan kakaknya. Waktu itu mereka bahkan sangat merestui hubungan kami.

Namun, singkat cerita, kami kemudian putus. Dia pergi ke tempat jauh, dan saya melanjutkan hidup. Sejak itu kami berpisah, tapi kami tidak punya masalah apa pun. Saya bahkan masih cukup sering bertemu adik atau kakaknya, dan kami biasa saling sapa dengan ramah seperti dulu.

Jika sekarang ditanya seperti apa pacar pertama saya, maka saya akan menjawab jujur bahwa dia perempuan yang baik—seseorang yang pernah menjalin hubungan indah, sesuatu yang saya syukuri dalam hidup. Dia tidak hanya baik sebagai pacar, namun juga baik sebagai teman. Fakta bahwa kami kemudian putus tidak akan membutakan mata dan hati saya dari kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukannya. Saya bahkan mendoakan semoga dia dikaruniai hidup yang baik dan bahagia, di mana pun kini berada.

Kemudian, pacar kedua, adalah teman kuliah—seorang perempuan yang pernah saya ceritakan di sini. Seperti yang terjadi pada pacar pertama, hubungan yang saya jalin dengan pacar kedua juga berawal dari pertemanan. Kami telah kenal dan akrab jauh-jauh hari sebelum kemudian memutuskan untuk pacaran. Memang sejak awal saya telah menyadari dia perempuan yang sangat indah, tetapi saya mulai jatuh cinta kepadanya setelah hampir dua tahun bersama sebagai teman.

Kami berpacaran selama kuliah, seperti umumnya teman-teman yang lain. Ketika saya drop out dari kampus, kami tetap menjalin hubungan. Di sela-sela kesibukan, saya masih sering antar-jemput dia kuliah, dan seisi kampus tahu dia pacar saya. Oh, pacar saya ini kembang kampus—dari para mahasiswa, dosen-dosen, sampai staf akademik, mengenalnya. Karenanya, ketika kami pacaran, semua orang pun tahu saya pacarnya.

Namun, karena waktu itu saya sudah sangat sibuk mengurusi kerja, hubungan kami bisa dibilang kurang lancar. Waktu dan pikiran saya banyak tersita untuk pekerjaan, dan kadang kami tidak bertemu sampai berminggu-minggu karena saya harus pergi ke tempat jauh. Puncaknya, ketika dia KKN (Kuliah Kerja Nyata), saya hanya sempat menjenguknya satu kali, padahal rata-rata cowok lain menjenguk pacarnya di tempat KKN seminggu sekali.

Bahkan sampai seperti itu pun, pacar saya tidak pernah marah—setidaknya, dia tidak pernah menunjukkan kemarahannya terang-terangan. Dia berusaha memaklumi kesibukan saya, memaafkan waktu dan pikiran saya yang terlalu tersita oleh kerja, toh itu juga demi hidup kami di masa depan. Sebenarnya, waktu itu saya menyadari telah menjadi pacar yang tidak baik, karena kurang memperhatikannya. Tapi tuntutan pekerjaan tak bisa ditawar-tawar. Makin lama, hubungan kami pun mulai renggang.

Sampai kemudian, pacar saya lulus kuliah. Seusai wisuda, banyak teman kami mulai mengukuhkan hubungan mereka ke tahap yang lebih serius, dari sekadar mempertemukan masing-masing keluarga/orangtua, sampai pertunangan, bahkan ada yang segera menikah. Pacar saya tentu juga memikirkan hal yang sama. Namun, waktu itu, saya tidak/belum bisa memberi kepastian apa pun, karena seluruh pikiran, waktu, dan konsentrasi saya masih tercurah untuk pekerjaan.

Mula-mula, hal itu belum jadi masalah. Tetapi, lama-lama, keluarga/orangtua pacar saya tentu mulai ikut memikirkan hubungan kami yang tidak jelas. Singkat cerita, kami putus.

Saya harus mengakui, bahwa saya sangat sedih kehilangan dirinya, bahkan pernah berduka sampai lama akibat putusnya hubungan kami. Tetapi, saya juga harus mengakui, bahwa keputusan itu juga terjadi karena salah saya sendiri.

Pacar saya—dengan segala kesabaran yang dimilikinya—telah berusaha memaklumi kesibukan saya yang nyaris tanpa henti, telah berusaha memaafkan saya yang sering lama tidak menghubungi. Tetapi, bagaimana pun, dia tentu memiliki batas kesabaran. Ketika hubungan kami tidak juga memiliki kepastian, dia tentu punya pilihan untuk tidak melanjutkan.

Meski sangat berduka atas putusnya hubungan kami, tapi saya tidak terluka. Perhatikan perbedaan kenyataan itu. Bahwa saya berduka karena kami putus—ya. Tapi saya tidak sampai terluka, karena bagaimana pun saya bisa memahami kenyataan itu secara dewasa, dan kenyataannya pacar saya memang tidak meninggalkan luka apa pun. Saat kami berpisah, saya bisa memahami kenyataan itu.

Sekarang, jika ditanya apakah saya telah “move on” dari mantan, terus terang saya cuma bisa senyum. Sejujurnya, saya bingung memahami maksud atau definisi “move on” yang absurd itu. Apakah yang dimaksud “move on” adalah “melupakan”? Jika ya, maka terus terang saya belum melupakan. Oh, saya bahkan tidak bermaksud melupakan mantan-mantan saya! Mereka perempuan-perempuan baik, dan bagaimana pun saya ingin tetap mengenang mereka sebagai orang-orang baik yang pernah ada dalam hidup saya. Persetan dengan move on!

Tetapi, meski masih mengingat mereka, bukan berarti saya masih punya perasaan cinta yang sama seperti dulu. Saya mengenang mereka sebagai orang baik yang pernah ada dalam hidup saya, tapi bagaimana pun kami telah memiliki jalan hidup sendiri-sendiri. Saya kadang ketemu mantan di resepsi perkawinan teman, dan kami pun saling sapa sambil tersenyum. Mungkin pula mantan saya kadang membaca blog ini, dan bisa jadi dia membatin, “Lelaki ini dulu pernah menjadi pacarku.”

Tidak masalah—itu perasaan manusiawi.

Sampai di sini, kita lihat bahwa saya sama sekali tidak punya masalah apa pun dengan mantan yang mana pun. Dalam hubungan cinta dengan mereka, kami sama-sama tidak meninggalkan luka. Alih-alih terluka oleh mereka, saya bahkan mensyukuri karena pernah mengenal dan menjadi pacar mereka.

Jadi, “luka” apa sebenarnya yang saya maksud dalam banyak catatan dan tweet itu? Sama sekali bukan luka yang berhubungan dengan cinta atau mantan pacar!

“Luka” yang sering muncul dalam tulisan-tulisan saya lebih berhubungan dengan kehidupan saya sebagai pribadi, khususnya yang berhubungan dengan masa kecil, yang kemudian menimbulkan trauma berkepanjangan. Saya tidak akan menjelaskannya secara spesifik di sini. Jika kalian rutin membaca catatan-catatan di blog ini, kalian pasti bisa memahami yang saya maksudkan. Yang jelas, saya tidak punya luka, masalah, atau trauma apa pun, yang berhubungan dengan cinta dan (mantan) pacar.

Jika sampai sekarang saya tetap tidak pacaran, itu bukan karena trauma atau semacamnya. Tapi lebih karena kesadaran pribadi, bahwa saya belum tentu dapat menjadi pacar yang baik. Putusnya hubungan dengan pacar kedua memberi pelajaran kepada saya bahwa perempuan tidak hanya menginginkan kasih sayang, tapi juga membutuhkan kepastian. Mungkin saya bisa memberikan kasih sayang, tapi untuk kepastian... saya tidak bisa menjanjikan. Karenanya, daripada pacaran dan kemudian berakhir sama seperti dulu, lebih baik saya menikmati kesendirian.

Tetapi bukan berarti saya memutuskan untuk tidak akan pacaran selamanya. Kita tahu, orang selalu bertumbuh, dan hati manusia kadang berubah. Saat ini mungkin saya mampu menahan diri untuk tidak pacaran, tapi siapa tahu yang akan terjadi di masa depan?

Di suatu waktu, mungkin saya akan menemukan seorang perempuan yang baik, yang dewasa dan bijaksana, yang mampu menerbitkan senyum di bibir dan di hati, yang membuat saya nyaman dan tenteram bersamanya, yang menyediakan pelukan dan pangkuannya untuk saya beristirahat... seorang perempuan yang membuat saya menyadari dengan penuh kepastian, “Inilah mbakyu yang kurindukan dalam hidup dan mimpiku.”

Ya, well, siapa tahu...?

Hubungan, Cinta, dan Rasa Nyaman

Hanya ada satu cara untuk menyatukan dua orang asing dalam suatu hubungan atau pertalian. Yaitu percakapan yang membuat nyaman.
—Twitter, 29 November 2014

Zarry Hendrik bilang, “Persetan dengan rasa nyaman.” Kenyataannya, Zarry, tidak ada hubungan baik tanpa kenyamanan. Tanyakan pada ayahmu.
—Twitter, 29 November 2014

Dua orang asing bisa dan bersedia tinggal di bawah satu atap yang sama, menghabiskan usia bersama. Tanpa kenyamanan, itu benar-benar neraka.
—Twitter, 29 November 2014

Aku lebih suka dan lebih betah ngobrol dengan tukang sapu jalan yang membuatku nyaman, daripada dengan artis yang membuat tidak nyaman.
—Twitter, 29 November 2014

Perempuan punya sejuta macam alasan saat menolak cinta dari seorang lelaki. Sebenarnya alasannya cuma satu: Tidak nyaman, apa pun artinya.
—Twitter, 29 November 2014

Lelaki punya sejuta macam alasan yang membuatnya jatuh cinta pada seorang perempuan. Sebenarnya alasannya cuma satu: Nyaman saat bersamanya.
—Twitter, 29 November 2014

Dua orang telah saling kenal bertahun-tahun, tapi keduanya tak pernah bisa berteman. Sering kali alasannya cuma satu: Tidak nyaman.
—Twitter, 29 November 2014

Dua orang baru kenal beberapa jam. Tapi keduanya bisa bercakap asyik seperti sepasang teman. Sering kali alasannya cuma satu: Rasa nyaman.
—Twitter, 29 November 2014

Kita tidak bisa “telanjang” di hadapan orang yang membuat tidak nyaman. Dua orang mau sama-sama telanjang, karena perasaan nyaman.
—Twitter, 29 November 2014

Kenyamanan dibuat dari hubungan. Hubungan dibuat dari percakapan. Percakapan adalah hasil kerja dua orang.
—Twitter, 29 November 2014

Percakapan yang menyenangkan selalu melibatkan kejujuran, senyum, keterbukaan, dan sama sekali tidak melibatkan gengsi atau sok jaim-jaiman.
—Twitter, 29 November 2014

Mencari dan menemukan orang mempesona adalah pekerjaan mudah. Yang sulit adalah menemukan seseorang yang benar-benar membuat nyaman.
—Twitter, 29 November 2014

Aku suka tinggal di rumah, karena nyaman. Satu-satunya alasan yang membuatku bersedia meninggalkan rumah adalah hal sama: Rasa nyaman.
—Twitter, 29 November 2014

Jauh dan dekat tidak diukur dari jarak atau tempat. Jauh dan dekat tergantung pada rasa nyaman kita dengan seseorang.
—Twitter, 29 November 2014

Aku tidak tertarik pada seseorang karena apa pun. Satu-satunya alasanku tertarik pada seseorang karena dia bisa membuatku nyaman.
—Twitter, 29 November 2014

Ketertarikan berawal rasa nyaman. Kenyamanan dibuat dari hubungan. Hubungan dimulai percakapan. Percakapan adalah hasil kerja dua orang.
—Twitter, 29 November 2014


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Telanjang

Aku memberimu cara mudah, tapi kau mempersulit diri. Aku menawarimu percakapan agar kita sama-sama nyaman, tapi kau malah memilih cara yang sama-sama menyulitkan, yang bahkan membuatmu lelah dan frustrasi.

Aku bukan orang yang suka ge-er atau besar kepala. Kalau kau mencoba menyindir, memotivasi, memuji, mengarahkan, atau apa pun, aku tidak akan pernah berpikir itu ditujukan untukku—selama itu tidak terjadi dalam percakapan. 

Aku hanya ingin dibuat nyaman, dan satu-satunya cara hanyalah percakapan yang menyenangkan. Tanpa itu, kau tidak akan bisa menemukan cara lain, meski kau menggunakan seluruh daya dan pesonamu.

Aku hanya menginginkan percakapan, dan percakapan adalah hasil kerja dua orang.

Tetapi, tampaknya, catatan ini tidak penting. Jadi lupakan saja.

Senin, 08 Desember 2014

Urusan Ego Dalam Expendables

“Aku punya ide. Dan dengan egomu, kurasa kau akan menyukainya.”
Barney Ross kepada Lee Christmas dalam Expendables 2


Penggemar film action pasti tahu The Expendables, film yang dibintangi bocah-bocah terkenal Hollywood. Sejak pertama kali dirilis, The Expendables telah menjadi film laris—tidak hanya karena kedahsyatan aksi dalam ceritanya, tapi juga karena aktor-aktor yang terlibat. Nama-nama besar bergabung dalam film ini—Sylvester Stallone, Jason Statham, Arnold Schwarzenegger, Jet Li, Dolph Lundgren, Van Damme, Wesley Snipes, Chuck Norris, Bruce Willis, sampai Mel Gibson, dan lain-lain.

The Expendables adalah proyek Sylvester Stallone yang ingin membuat “film reuni”, yang mempertemukan bocah-bocah terkenal Hollywood dalam satu film. Proyek itu tampaknya berhasil, hingga The Expendables—sejauh ini—telah dibuat tiga seri. Saya termasuk penggila serial Expendables, dan selalu menikmati saat menontonnya. Oh, well, menyaksikan Stallone duel satu lawan satu dengan Van Damme (dalam Expendables 2) adalah kesempatan yang belum tentu terulang dalam seratus tahun!

Di mata saya, Expendables adalah film yang dibuat oleh bocah, diperankan para bocah, dan ditujukan untuk bocah. Para penonton The Expendables—khususnya yang lelaki—pasti masih ingat keasyikan di masa kecil dulu, ketika main perang-perangan dengan teman-teman, tembak-tembakan menggunakan pistol air atau senjata mainan, sampai bertarung main-main dengan teman-teman. Semua keasyikan masa kecil itu diwujudkan The Expendables dalam skala spektakuler. 

Jalan cerita serial Expendables bisa dibilang hanya berisi perang, pertempuran, pertarungan, ledakan, tembak-tembakan. Dan semuanya dikemas dengan sangat memukau, melibatkan banyak senjata, pesawat dan helikopter tempur, sampai tank. Semua yang terjadi dalam Expendables bisa dibilang merefleksikan bayangan keasyikan para bocah. Tidak ada drama bertele-tele yang membosankan, tidak ada percakapan sia-sia, yang ada hanya perang, pertarungan, dan ledakan.

Jika kita memperhatikan sungguh-sungguh percakapan antar tokoh dalam The Expendables, kita akan mendapati dialog yang selalu muncul dalam setiap serinya. Percakapan atau dialog itu berbunyi,

“Did you win?”

“Of course I win.”

Ada kisah tersembunyi di balik percakapan itu, yang berhubungan dengan tokoh-tokoh dalam Expendables. Ketika Stallone berencana membuat The Expendables pertama kali, dia meminta Steven Seagal untuk ikut dalam film. Rencananya, Steven Seagal akan diminta memerankan James Munroe, tokoh antagonis dalam Expendables 1. Namun, Steven Seagal menolak mentah-mentah. Tahu kenapa? Alasannya mungkin lucu—karena James Munroe kalah dalam film!

Setelah Steven Seagal menolak mentah-mentah, Stallone lalu menghubungi Van Damme, dan berharap aktor terkenal itu bersedia masuk dalam film Expendables 1 untuk memerankan James Munroe. Tetapi, sama seperti Steven Seagal, Van Damme juga menolak. Dan alasannya juga sama—karena James Munroe kalah dalam film!

Karena dua bocah terkenal itu tidak mau menerima tawarannya, pilihan Stallone kemudian jatuh ke Eric Roberts, aktor yang sering menjadi antagonis. Eric Roberts bersedia memerankan James Munroe, maka Expendables 1 pun mulai syuting. Hasilnya, ketika dirilis, film itu meledak dan menghasilkan keuntungan besar.

Lalu proyek Stallone berlanjut dengan membuat Expendables seri kedua. Jika Expendables 1 memunculkan James Munroe sebagai antagonis, Expendables 2 menghadapi musuh yang lebih kuat—bajingan keji bernama Jean Villain. Untuk seri kedua tersebut, Stallone menemui Steven Seagal, dan mencoba kembali memintanya untuk ikut dalam film Expendables.

Kali ini, Stallone berharap Seagal bersedia, karena peran yang akan dimainkannya tidak main-main, dan mereka akan bertarung satu lawan satu, hidup atau mati. Steven Seagal bertanya, “Apakah aku akan menang dalam film?”

“Tidak,” jawab Stallone. “Kau berperan sebagai Villain, dan dia mati di akhir film.”

Mendengar jawaban itu, Steven Seagal menolak.

Karena Seagal kembali menolak tawarannya, Stallone pun menemui Van Damme, seperti sebelumnya, dan berharap Van Damme kali ini mau menerima tawarannya. Karena melihat kesuksesan Expendables 1 yang luar biasa, Van Damme akhirnya bersedia menerima tawaran Stallone. Meski tokoh yang diperankannya akan kalah dan mati di akhir film, Van Damme kali ini tidak keberatan. Tawaran bayaran besar rupanya mampu menurunkan ego seorang Van Damme.

Maka jadilah Van Damme membintangi Expendables 2, dan memerankan Jean Villain. Di akhir film, seperti yang dapat kita saksikan, Stallone dan Van Damme bertarung sampai mati, dan itu menjadi salah satu pertarungan paling memukau yang pernah ada di Hollywood. Kapan lagi kita bisa melihat Van Damme memamerkan tendangan memutarnya yang mematikan itu, tepat di hadapan muka Sylvester Stallone?

Karena aksi yang lebih dahsyat dari film sebelumnya, Expendables 2 juga sukses, bahkan mendatangkan keuntungan yang jauh lebih besar. Lalu Stallone melanjutkan proyeknya, dan menyiapkan Expendables 3. Kali ini, jumlah tokoh yang terlibat semakin banyak, bahkan melibatkan Wesley Snipes, Antonio Banderas, hingga Harrison Ford. Seperti sebelum-sebelumnya, Stallone kembali berharap Steven Seagal mau ikut terlibat.

Ketika Expendables 3 telah siap syuting, Stallone masih berusaha merayu Steven Seagal untuk mau membintangi film tersebut. Beberapa kali, Stallone bahkan sempat menuliskan upayanya itu di akun Twitter-nya, bahwa dia sedang membujuk Seagal agar mau ikut dalam Expendables 3. Namun, Seagal rupanya tidak terbujuk. Ia masih menolak dengan alasan yang sama—karena tokoh yang diperankannya kalah dalam film. Intinya, Steven Seagal tidak mau kalah, meski hanya dalam film!

Akhirnya, karena Seagal tetap tidak mau ikut dalam Expendables 3, Stallone lalu menghubungi Mel Gibson. Hasilnya, seperti yang kita lihat, Mel Gibson bersedia memerankan tokoh Conrad Stonebanks, antagonis dalam Expendables 3. Di akhir film, sama seperti para antagonis sebelumnya, Conrad Stonebanks a.k.a Mel Gibson juga kalah dan mati setelah bertarung dengan Barney Ross yang diperankan Stallone.

Jika kelak Stallone membuat Expendables 4, dan ia kembali meminta Steven Seagal untuk ikut membintanginya, apakah mungkin Seagal akan bersedia? Bila tokoh yang diperankannya juga kalah dalam film, banyak pihak meramalkan Seagal akan tetap menolak. Penolakan Steven Seagal dan Van Damme sebelumnya itulah yang kemudian memunculkan dialog “Did you win?/Of course I win” dalam film. Dialog itu sebenarnya ditujukan untuk menyindir Steven Seagal dan Van Damme, yang menolak main film hanya karena tokoh yang diperankannya kalah.

Mungkin banyak orang menilai tingkah Van Damme dan Steven Seagal terlalu kekanak-kanakan, bahkan terkesan tidak profesional. Mungkin ya. Kenyataannya, dua bocah itu memiliki ego yang sama-sama besar—tidak hanya dalam film, tetapi juga di dunia nyata. Bahkan latar penolakan mereka untuk tidak mau terlibat dalam proyek Expendables, juga diperkirakan berawal dari kejadian di dunia nyata.

Pada 1997, Sylvester Stallone mengadakan pesta di rumahnya, di Miami, dan mengundang bocah-bocah terkenal Hollywood. Steven Seagal dan Van Damme termasuk tamu yang diundang. Dalam pesta, orang-orang bercakap asyik, bercanda, tertawa-tawa, bahkan saling ledek. Pada waktu itu, Steven Seagal meledek Van Damme dengan mengatakan bahwa dia “bisa menendang pantat Van Damme dengan mudah”.

Entah karena tidak paham ucapan itu hanya bergurau atau karena memang muka Seagal yang terlalu lempeng, Van Damme marah. Dengan emosi, Van Damme menantang Steven Seagal dengan menyatakan, “Bagaimana kalau kita keluar, untuk membuktikan omong besarmu?”

Menyadari Van Damme marah, Seagal buru-buru menjelaskan bahwa ucapannya tadi hanya dimaksudkan sebagai gurauan. Tetapi, Van Damme sudah telanjur emosi, dan nyaris terjadi perkelahian dalam pesta, sampai Stallone turun tangan memisahkan kedua bocah itu agar tidak berantem. Kejadian itu pun membuat geger orang-orang yang ada di sana. Sampai pesta berakhir, Van Damme maupun Seagal masih belum bisa tersenyum.

Apakah kisah itu selesai? Tidak—belum, karena kemudian Van Damme berkoar-koar ke media mengenai tantangannya kepada Steven Seagal. Dalam beberapa wawancara, Van Damme dengan jelas mengungkapkan kekesalannya kepada Seagal, bahkan mengejek Seagal yang kini mulai gendut karena jarang berlatih.

Seagal lebih memilih tutup mulut dan tidak melayani koar-koar Van Damme di media. Dia menolak setiap kali diwawancara mengenai keributannya dengan Van Damme. Dan bagaimana dengan Stallone? Ketika ditanya pers, mengenai siapa yang akan menang jika kedua bocah itu bertarung, Stallone menjawab diplomatis, “Van Damme terlalu kuat untuk dikalahkan Seagal.”

Banyak pihak mempercayai bahwa insiden di rumah Stallone itulah yang kemudian berbuntut panjang, hingga kedua aktor terkenal itu sampai menolak ikut dalam proyek Expendables, jika tokoh yang diperankannya kalah dalam film. Steven Seagal maupun Van Damme memiliki ego sangat besar—mereka sama-sama terkenal, telah bermain dalam banyak film, populer sebagai jago tarung, dan... sejauh ini keduanya bisa dibilang tidak pernah kalah dalam film.

Ego adalah urusan penting di Hollywood—tidak hanya dalam film, tapi juga dalam kehidupan nyata. Sebagian besar bocah terkenal di Hollywood memiliki “kegilaan” yang berhubungan dengan ego. Bahkan Stallone pun mengidap “kegilaan” yang sama.

Dulu, ketika masih muda, Stallone dikenal sebagai aktor yang sangat angkuh, dengan ego luar biasa besar. Ketika bermain film, dia tidak mengizinkan lawan mainnya menatap matanya. Jika lawan mainnya nekat menatap matanya, Stallone marah-marah, dan jadwal syuting akan berantakan. Meski dalam skenario jelas mengharuskan adegan saling tatap, Stallone tidak peduli. Akibatnya, dalam proses syuting, adegan saling tatap di-shoot secara terpisah. Awak film di sana mau mengalah, meski repot, karena waktu itu Stallone “barang jualan” yang pasti laku. 

“Kegilaan” Stallone mulai sembuh ketika usianya makin matang, dan mungkin dia bisa lebih bijak serta rendah hati. Di film-filmnya sekarang, dia tidak lagi mempersoalkan urusan yang dulu diributkannya. Tetapi, apakah Stallone benar-benar telah mampu mengalahkan egonya sendiri? 

Dalam trilogi Expendables, Sylvester Stallone memerankan tokoh Barney Ross, ketua kelompok jagoan yang selalu menang dalam pertempuran. Dalam film-film itu, Stallone bertarung dengan lawan-lawan yang tangguh—dari Eric Roberts, Van Damme, sampai Mel Gibson—dan dia selalu menang.

Apakah kemenangan Stallone dalam film-film itu memang semata tuntutan skenario? Semoga saja begitu. Karena sangat ironis dan lucu jika serial Expendables ternyata hanya cara Stallone memanjakan egonya yang masih membatu.

Catatan yang Kutulis ketika Pusing

Orang-orang bekerja, orang-orang bekerja.... banting tulang, peras keringat, diguyur hujan, disengat terik siang.

Orang-orang bekerja, orang-orang bekerja.... kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, dan kadang tetap tak pernah cukup.

Demi apa?

Kalau dipikir-pikir, demi apa...?

Demi memenuhi keinginan. Nafsu. Eksistensi. Harapan. Ambisi.

Dan setelah itu semua tercapai, lalu apa?

Kalau saja kutinggalkan semua keinginan dan harapanku, kalau saja kutanggalkan nafsu, ambisi, eksistensiku... aku tak perlu melakukan apa-apa, dan bisa menjalani hidup damai, tenang, bahagia. Begitukah...?

Mungkin.

Aku tak tahu.

Masing-masing

Kita semua adalah masing-masing.

Oh, oh.

Kamis, 04 Desember 2014

Masalah Terbesar Umat Manusia

Yang paling sulit dilakukan di dunia adalah menyatakan sesuatu
yang jelas dan nyata, tapi tidak akan ada yang percaya.
@noffret


Catatan ini masih berhubungan dengan tukang batu di rumah saya. Seperti yang telah diceritakan di posting sebelumnya, proses pengerjaan renovasi itu membutuhkan waktu sampai seminggu lebih.

Selama menemani para tukang batu bekerja di belakang rumah, saya memperhatikan pekerjaan mereka tidak bisa dibilang ringan. Bolak-balik mengangkuti ember berisi adukan semen dan pasir hingga puluhan kali, jelas pekerjaan berat. Dibanding pekerjaan mereka, pekerjaan saya tidak ada apa-apanya. Setiap hari saya hanya duduk dan berpikir—tidak mengangkat apa pun yang berat, bahkan tanpa keluar keringat. Tetapi, meski begitu, pekerjaan yang “ringan” itu sering membuat saya kecapekan.

Rupanya, para tukang batu juga memperhatikan aktivitas saya. Beberapa kali mereka butuh hal-hal tertentu, atau menanyakan sesuatu berkaitan renovasi itu, dan seorang dari mereka menemui saya. Biasanya, ketika mereka datang, saya sedang duduk, merokok, dan mengerjakan sesuatu yang mungkin aneh di mata mereka. Biasanya pula, mereka akan berdiri sejenak, memperhatikan, mungkin karena tertarik ingin tahu apa yang sedang saya kerjakan.

Suatu siang, saat para tukang batu beristirahat untuk makan, saya menemani mereka sambil merokok. Saya bertanya, “Pak, sampeyan bekerja berat seharian gitu, biasanya kalau malam capek, nggak?”

“Ya capek lah, Mas,” sahutnya. “Badan pegal-pegal semua. Tapi kalau udah main-main sama anak, capeknya nggak terasa lagi.”

Saya tahu jawaban itu jujur. Jadi saya pun percaya. Di dunia ini, salah satu cinta yang tulus adalah cinta seorang ayah kepada anaknya. Seorang lelaki rela bekerja keras, banting tulang, memeras keringat, bahkan darah dan air mata, demi anak-anaknya. Karena cinta itu pula, segala lelah dan letih karena bekerja keras seketika hilang saat asyik bermain bersama anak-anaknya.

Lalu seorang dari mereka bertanya, “Mas, kok rumahnya sepi terus, ya? Apa nggak ada keluarga yang tinggal di sini?”

Saya menjelaskan, ibu dan adik saya tinggal di tempat lain, dan saya hidup sendirian di rumah.

“Jadi, Mas ini belum menikah?” tanyanya lagi.

“Belum.”

Mungkin, bagi mereka kenyataan itu sangat aneh. Jadi, dengan segala keluguan, tukang batu itu kembali bertanya, “Kenapa belum menikah, Mas?”

Saya menjawab, “Karena saya belum pengin menikah.”

“Belum pengin?” dia terkejut, dan ekspresinya seolah mengatakan, “MENIKAH BELUM PENGIN? MEMANGNYA APA YANG KAMU PENGIN  DI DUNIA INI?”

Dengan suara datar, saya mencoba menjelaskan, “Pekerjaan saya membutuhkan konsentrasi, hingga butuh ketenangan, dan kehadiran istri serta anak-anak akan mengganggu konsentrasi saya bekerja.”

Karena sebelumnya mereka telah melihat aktivitas dan pekerjaan saya sehari-hari, tampaknya mereka percaya jawaban itu. Meski sebenarnya jawabannya jauh lebih rumit. Tapi saya tidak bisa menjelaskannya kepada mereka. Bukan karena mereka belum tentu mampu memahami penjelasan saya, melainkan karena kemungkinan besar mereka tidak akan percaya.

Sekarang, saya akan menjelaskan sesuatu, dan ada kemungkinan kalian pun tidak akan percaya. Saya hanya akan menjelaskan garis besarnya, secara singkat, tanpa detail-detail yang bikin pusing, dan coba lihat seberapa besar kepercayaan kalian pada pemaparan ini.

Well.

Dunia kita saat ini sedang menghadapi masalah besar, dan masalah besar itu adalah ledakan populasi. Sepanjang sejarah umat manusia, belum pernah planet ini menghadapi masalah sebesar yang sedang kita hadapi. Kita—atau sebagian besar manusia—mungkin tidak menganggapnya masalah. Tapi ada orang-orang yang menyadari masalah ini jauh-jauh hari, dan mereka telah berupaya melakukan segala cara untuk mengatasinya. Berita buruknya, yang mereka lakukan adalah upaya depopulasi.

Tahu kenapa Perang Dunia I dan Perang Dunia II meletus? Jawabannya bukan perluasan wilayah atau agresi satu negara kepada negara lain. Juga bukan karena aksi balas dendam akibat pembunuhan seorang pangeran sebagaimana yang kita baca di buku sejarah. Pun bukan semata karena kegilaan segelintir orang seperti Hitler atau Mussolini. Alasan sesungguhnya dua perang besar itu terjadi adalah depopulasi. Perang adalah cara mudah mengurangi populasi bumi.

Hitler dan Mussolini hanyalah pemicu—dua bocah itu sengaja dikorbankan untuk menjadi kambing hitam. Kematian pangeran Austria hanyalah pemicu—kisahnya sengaja diplot untuk memantik sumbu perang. Serangan Jepang ke Pearl Harbor hanyalah pemicu—Amerika sengaja membiarkan hal itu terjadi, agar mereka punya alasan untuk terjun ke kancah peperangan. Perang Dunia bukan perang spontanitas banyak negara—itu peristiwa yang telah dirancang jauh-jauh hari agar terjadi.

Memasuki abad ke-21, dunia semakin beradab. Perang tidak mungkin lagi dilakukan secara barbar, apalagi setelah dibentuknya PBB dan segala organisasi di bawahnya yang meliputi kerjasama antarnegara, ekonomi, kesehatan, penghijuan alam, sampai urusan pengungsi. Tetapi bukan berarti upaya depopulasi telah berhenti. Karena upaya menghalau ledakan penduduk tak mudah lagi dilakukan dengan perang, upaya itu pun kini dilakukan dengan cara lebih tersamar.

Mengapa wabah obesitas terjadi di mana-mana? Mengapa berbagai penyakit baru terus bermunculan, padahal teknologi kedokteran semakin canggih dan modern? Mengapa HIV/AIDS muncul pertama kali di Afrika? Mengapa bisa terjadi aneka flu aneh dari hewan-hewan, dari flu burung sampai flu unta? Mengapa resesi ekonomi terus terjadi tahun demi tahun dan menggilas banyak negara, hingga utang terus bertumpuk dan IMF serta Bank Dunia makin berkuasa? Mengapa ISIS bisa melenggang santai seolah tak bisa dikalahkan, padahal mereka “cuma” organisasi kecil-kecilan? Dan yang terbaru, mengapa wabah ebola bisa kembali muncul di dunia, padahal itu “barang lama”?

Jika kalian menganggap semua itu kebetulan—selamat, kalian telah menjadi bagian skenario besar pembodohan massal.

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanya sebagian kecil dari setumpuk pertanyaan lain, yang semuanya mengarah pada satu hal; upaya depopulasi. Dan ketika kita mulai memikirkan implikasi serta apa yang akan terjadi, hasilnya adalah kengerian tak terperi. Silakan bilang saya gila atau terlalu paranoid. Tapi dengarkan ini. Perang Dunia III tidak lama lagi akan terjadi, dan perbudakan umat manusia akan segera dimulai.

Michel Chossudovsky, pemikir masalah globalisasi dan kontributor Encyclopædia Britannica, menulis buku berjudul Towards a Word War III Scenario: The Danger of Nuclear War. Dalam buku yang terbit pada 2011 itu, Michel Chossudovsky menjelaskan bagaimana perkembangan dunia masa kini akan membawa kita semua menuju Perang Dunia III. Jika kita aktif memantau berita-berita internasional, kita akan bersepakat dengannya.

Makanan-makanan yang kita konsumsi saat ini sudah tidak sehat lagi—berbagai racun dimasukkan ke dalamnya, dan racun-racun itu diberi nama lain seolah tidak berbahaya. Hasilnya adalah obesitas, berbagai penyakit, aneka kanker, dan masalah kesehatan. Tujuan akhirnya adalah depopulasi. Berbagai wabah diciptakan—dari flu burung sampai flu unta, dari AIDS sampai ebola—dan tujuan akhirnya tetap sama; depopulasi.

Omong-omong, HIV/AIDS adalah karya gemilang sekelompok keparat genius yang benar-benar canggih dalam program depopulasi. Dibutuhkan waktu hingga 15 tahun bagi seseorang untuk menyadari dirinya mengidap HIV, dan selama itu pula ada kemungkinan dia telah menularkan penyakitnya kemana-mana tanpa menyadari. Infeksi virus atau bakteri paling primitif pun tidak akan secanggih itu, jika benar-benar alami.

Kemudian, resesi sengaja diciptakan, agar negara-negara di dunia terus kolaps dan bergantung pada IMF serta Bank Dunia hingga tercipta ketergantungan, agar mereka punya kuasa untuk mengendalikan. Dan bagaimana dengan ISIS yang semakin menggila? Kalau Amerika—yang menganggap dirinya polisi dunia—memang ingin ISIS hancur, itu pekerjaan mudah. Amerika tinggal mengontak konco-konconya, lalu bersama menyerbu dengan berbagai alasan, dan riwayat ISIS pun tamat. Mereka bisa dengan mudah menyamakan ISIS dengan Al-Qaeda. Tapi tidak—mereka sengaja membiarkan ISIS semakin berkuasa dan merajalela, karena itulah kelak yang akan menjadi pemicunya.

Pemicu apa...?

Pemicu apa lagi? Jelas, pemicu Perang Dunia III.

Seperti yang disinggung atas, perang secara barbar tidak mungkin lagi dilakukan di masa sekarang. Maka upaya depopulasi pun dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya meracuni makanan dan minuman, serta menciptakan aneka wabah dan penyakit. Tapi itu butuh waktu lama, sementara ledakan populasi terus terjadi. Tingkat kematian dan kelahiran tidak seimbang. Harus ada cara lain yang lebih cepat untuk mengurangi penduduk bumi, dan itu adalah perang.

Karena perang tidak bisa dilakukan secara mudah di masa sekarang, berbagai “upaya tersamar” pun diciptakan—salah satunya adalah ISIS. Lihat, pelajari, dan perhatikan. Bagaimana bisa organisasi semacam ISIS sangat cepat berkembang hingga mendapatkan kekuasaan semakin besar dalam waktu singkat. Tidak, itu sangat tidak alami. ISIS sengaja diciptakan, dibiarkan, bahkan didukung diam-diam oleh sekelompok kekuatan, agar bisa terus berkuasa dan berkembang, hingga masuk ke berbagai negara sebagai kekuatan baru.

Kelak, setelah itu terjadi, dan ISIS semakin kuat di banyak negara, maka dalih akan diciptakan, dan berbagai media internasional akan berkomplot mengembuskan isu yang sama. Mungkin ISIS akan disebut sebagai teroris atau apa pun, lalu Amerika akan tampak gerah. PBB akan mengeluarkan fatwa, NATO akan dibangunkan dari tidurnya, negara-negara besar akan waspada, lalu persenjataan nuklir akan disiagakan.

Oh, hell, kalian pikir kenapa banyak negara di dunia ini mempersiapkan senjata-senjata nuklir, padahal dunia katanya damai sentosa karena telah ada PBB?

Jadi, percaya atau tidak, Perang Dunia III akan terjadi, bahkan pasti akan terjadi. Karena itulah satu-satunya cara efektif untuk mengurangi penduduk bumi dalam jumlah besar-besaran. Jauh-jauh hari Albert Einstein telah mengkhawatirkan hal itu, saat ia galau akibat banyaknya persenjataan nuklir di dunia ini, dan berbisik, “Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Perang Dunia III terjadi.”

Yang akan terjadi, Albert, adalah musnahnya separuh lebih penduduk bumi. Itulah yang diinginkan sekelompok orang paling berkuasa di dunia ini—depopulasi, depopulasi, depopulasi—karena penduduk planet ini sudah terlalu banyak dan tak bisa lagi dikendalikan. Jika perang besar dilakukan, kehidupan manusia akan hancur. Jika perang besar tidak dilakukan, kehidupan planet bumi yang akan hancur. Jadi, kesimpulannya sangat jelas—Perang Dunia III akan terjadi, dan pasti terjadi.

Jika perang besar itu tidak terjadi di zaman kita, maka akan terjadi pada zaman anak-anak kita. Bagi saya, kenyataan itu sepasti matahari terbit di esok pagi.

Itulah yang paling saya khawatirkan dalam hidup. Jika saya memiliki anak-anak sekarang, sama artinya saya mewariskan kehancuran dunia, zaman kegelapan, dan malapetaka bagi mereka. Perang adalah tragedi paling buruk yang bisa dialami manusia. Sayangnya, ledakan populasi manusia yang makin tak terkendali telah mengundang perang itu datang demi memusnahkan sebagian mereka. Saya tak bisa membayangkan bagaimana nasib anak-anak saya ketika itu terjadi. Saya tak bisa membayangkan kengerian macam apa yang akan mereka hadapi.

Sampai di sini, kalian mungkin akan menganggap saya gila atau terlalu paranoid. Karena itu pula, saya pun sengaja tidak menjelaskan hal ini pada para tukang batu di rumah saya. Mereka orang-orang lugu dan baik, yang mencari nafkah dengan cara baik, demi keluarga dan anak-anak mereka. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan mereka dengan penjelasan mengerikan ini. Karena toh mereka belum tentu mau mempercayai.

Orang sering mengatakan, kita hidup di zaman akhir. Memang benar. Sayangnya, “zaman akhir” yang akan terjadi tidak seperti yang mereka bayangkan. Zaman akhir yang akan segera terjadi adalah perang nuklir akibat populasi manusia yang sudah tak bisa lagi dikendalikan.

Kelak, jika memungkinkan—dan jika saya masih hidup—saya akan memaparkan topik ini lebih detail, dengan penjelasan gamblang dan jelas, lengkap dengan data dan fakta dari berbagai negara, hingga kita semua menyadari dan memahami... bahwa masalah terbesar umat manusia saat ini adalah diri kita sendiri.

 
;