Jumat, 19 Juni 2015

Dendam yang Adil

Barang siapa menyerangmu, maka seranglah ia,
seimbang dengan serangannya terhadapmu.
QS. Al-Baqarah: 194

Kejahatan orang yang pertama merupakan perbuatan zalim,
dan balasan kejahatan yang setimpal dari orang kedua (yang dizalimi)
merupakan ganjaran bagi orang pertama, sebab merupakan balasan
perbuatan zalim atas orang zalim tersebut.
Tafsir At-Thobari jilid 1 hal. 133

Kejahatan yang pertama adalah kezaliman,
dan balasannya dalam bentuk kejahatan serupa adalah keadilan.
Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 hal. 52

Ganjarlah mereka sesuai dengan perbuatan dan kelakuan mereka
yang jahat. Ganjarlah mereka sesuai dengan perbuatan tangan yang
mereka lakukan, balaslah kepada mereka dengan setimpal.
Mazmur 28:4


Bisa dibilang, ini lanjutan catatan sebelumnya (Menghadapi Pembenci). Tidak lama setelah catatan itu muncul di blog, seseorang bertanya, kira-kira seperti ini, “Apa yang akan kaulakukan, jika seseorang melakukan kejahatan kepadamu, padahal kau sama sekali tidak punya masalah dengannya, dan tidak pernah melakukan kejahatan apa pun kepadanya. Apakah kau hanya akan membiarkan, sebagaimana yang kautulis dalam catatan itu?”

Melalui e-mail, saya menyatakan kepadanya bahwa jawaban untuk pertanyaan itu bisa sangat panjang. Karenanya, saya menjanjikan untuk membalas pertanyaannya dalam bentuk catatan yang sekarang saya posting di sini. Karenanya pula, catatan ini juga bisa dianggap sebagai “penjelas” untuk hal-hal yang mungkin terlewat dari catatan sebelumnya.

Poin penting yang saya bahas di catatan sebelumnya (Menghadapi Pembenci) adalah sikap kita dalam menghadapi orang-orang yang kemungkinan menjadi hater. Saya mengartikan “hater” dalam konteks catatan itu sebagai orang yang “mengejek” atau “mengolok-olok”, misalnya seperti yang dilakukan kebanyakan orang terhadap Syahrini atau orang terkenal lain. Jadi para hater itu bisa dibilang tidak merugikan atau membahayakan Syahrini secara langsung.

Menghadapi para hater atau para pembenci semacam itu, sikap terbaik adalah membiarkannya tanpa harus merasa terusik atau terganggu, sebagaimana saran yang saya kutip dari Raditya Dika, “Kemungkinan adanya hater selalu ada. Tinggal kita memilih untuk merasa terganggu atau tidak. Dan saya memilih untuk tidak merasa terganggu.”

Tetapi, lain soal jika gangguan yang muncul dari hater sudah dalam taraf berbahaya atau merugikan, misalnya fitnah atau upaya penyerangan yang berpotensi merusak. Raditya Dika, misalnya, mungkin bisa tetap adem ayem menghadapi hater yang cuma mengolok-olok atau mengejek atau semacamnya. Tetapi dia pasti akan tetap marah jika gangguan yang ditujukan kepadanya sudah masuk taraf yang merugikan atau berbahaya.

Jadi, jika ada orang yang sekadar mengolok-olok saya (misalnya mengata-ngatai bodoh, idiot, atau gila) saya paling akan tertawa. Bisa jadi, orang itu memang benar-benar benci saya, bisa jadi pula dia sedang ingin bercanda. Menghadapi hal semacam itu, saya punya pilihan untuk merasa terganggu atau tidak, dan saya memilih untuk tidak merasa terganggu. Tetapi, jika gangguan yang ditujukan kepada saya sudah dalam taraf keterlaluan, maka saya akan mengambil sikap.

Dalam hidup, saya punya prinsip sederhana:

Saya tidak akan pernah mengusik, mengganggu, apalagi sampai merugikan orang lain. Jika saya tanpa sengaja bersalah pada seseorang, saya akan meminta maaf kepadanya, dan mengakui kesalahan saya. Jika seseorang bersalah kepada saya, lalu dia meminta maaf serta mengakui kesalahannya, saya pun akan memaafkannya.

Jika orang berbuat baik kepada saya, maka bidadari di surga akan menjadi saksi, bahwa saya pasti akan membalas kebaikannya dengan kebaikan yang lebih besar. Jika saya tidak bisa membalasnya langsung, saya akan membalas di lain waktu. Untuk membalas kebaikan seseorang, saya tidak akan lupa meski sampai bertahun-tahun.

Dan jika orang berbuat jahat kepada saya, maka iblis di neraka akan menjadi saksi bahwa saya pasti akan membalas kejahatannya dengan kejahatan yang setimpal. Jika saya tidak bisa membalasnya langsung, saya akan membalas di lain waktu. Untuk membalas kejahatan, saya bisa bersabar menunggu sampai bertahun-tahun.


Prinsip yang sederhana—saya menyebutnya “dendam yang adil”—dan siapa pun yang mengenal saya tahu betul, bahwa saya benar-benar memegang prinsip itu.

Di dunia nyata, saya tidak ragu berkonfrontasi dengan siapa pun. Jika seseorang mencari masalah dengan saya, dan sikapnya telah keterlaluan, saya akan menemuinya, face to face, dan menyelesaikannya dengan cara apa pun. Jika kalimat itu terdengar sok hero, silakan tanya pada bocah ini atau bocah ini. Mereka telah menjadi teman saya sejak semester awal di kampus, dan mereka tahu betul bagaimana saya di dunia nyata.

Memang, kadang suatu “urusan” tidak bisa diselesaikan dalam satu waktu. Maka saya akan menunggu... menunggu sampai kapan pun... untuk “menyelesaikannya”.

Enam belas tahun yang lalu, saya terkapar pingsan dalam sebuah perkelahian tak seimbang, karena rebutan lahan di jalanan. Tubuh saya luka-luka akibat pengeroyokan, dan tergeletak ditinggalkan. Seorang teman di jalanan, bernama Aldi, menolong dan menunggui saya sampai siuman. Dia membelikan minum. Dia membantu merawat luka-luka saya, membebatkan perban, hingga mengantar saya tertatih pulang. Waktu itu kami sama-sama tidak punya uang untuk sekadar naik becak.

Bertahun-tahun kemudian, saat telah jauh meninggalkan hidup di jalanan, saya tidak pernah lagi berhubungan dengan Aldi, bahkan tidak tahu di mana dia sekarang. Tetapi saya tidak lupa pada kebaikan yang dulu pernah dilakukannya. Saya pun mencari-cari informasi tentang Aldi, sampai kemudian mendengar dia sedang berurusan dengan kepolisian akibat kasus kekerasan antar-gank di jalanan. Melalui perantara seseorang, saya membereskan masalahnya.

Itu hanya satu kisah di antara banyak kisah lain yang serupa. Saya tidak pernah melupakan orang-orang baik, sebagaimana saya tidak pernah melupakan orang-orang jahat. Selalu ada waktu untuk membalas kebaikan, sebagaimana selalu ada waktu untuk membalas kejahatan.

Memang, urusan-urusan di dunia nyata jauh lebih mudah dibereskan, karena kita bisa langsung mengetahui akar masalahnya. Jika seseorang berbuat baik atau berbuat jahat, kita tahu siapa orangnya, dan bisa langsung menemuinya. Yang kadang agak sulit adalah masalah yang terjadi di dunia maya.

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, ada seseorang yang mencoba mengusik dengan cara merusak blog saya. Orang itu bahkan terus menerus mengirim e-mail spam berisi virus/trojan ke alamat e-mail saya. Masing-masing e-mail itu berisi pesan seksual, dilengkapi link berisi virus. Itu jelas tidak bisa lagi dianggap gangguan biasa, karena telah merugikan. Semula, saya mencurigai Cahya Legawa sebagai pelakunya. Tetapi rupanya Cahya cuma korban fitnah.

Sebelum melakukan tindakan lebih lanjut, saya pun memasang perangkap untuk menjebak si pelaku sebenarnya. Saya sengaja membuka e-mail berisi virus/trojan yang dikirimkannya, dan trojan itu pun masuk ke komputer saya.

Rupanya, itu trojan spy (bernama WIN32/Banker) yang dimaksudkan untuk memata-matai aktivitas saya di internet, lebih khusus untuk mengincar aktivitas perbankan saya di internet. Perhatikan, si keparat ini memiliki rencana busuk yang sangat jahat. Ketika trojan itu masuk ke komputer, saya pura-pura tidak tahu, dan sengaja membiarkan dia tahu aktivitas-aktivitas yang saya lakukan di internet melalui trojan yang dikirimkannya. Tentu saja, saya sama sekali tidak melakukan aktivitas perbankan, selama trojan keparat itu masih bercokol di komputer saya.

Setelah cukup lama segalanya berlangsung dengan alami, hingga dia benar-benar tidak curiga, saya memancing dan mengarahkannya ke perangkap yang telah disiapkan untuk menjebaknya... dan dia benar-benar terjebak. Dia bahkan tidak sadar telah terjebak, hingga melakukan perbuatan-perbuatan tolol yang makin menjelaskan betapa busuk dirinya, hingga tak bisa lagi menyembunyikan identitasnya.

Keparat licik yang menjadi iblis di dunia maya itu bukan Cahya Legawa sebagaimana kecurigaan saya semula, melainkan seseorang—sebut saja—bernama Jongostt.

Siapakah Jongostt? Saya tidak mengenalnya langsung, selain hanya tahu dia di dunia maya. Berdasarkan pengamatan, dia lelaki yang telah punya anak istri, pernah aktif di dunia maya—blog, Twitter, maupun Facebook—tapi sekarang pura-pura menghilang. Dulu, saya mengenalnya karena dia sering berkomentar di blog-blog yang kebetulan saya kenal. Sebenarnya, sebagaimana dengan orang lain, saya tidak punya masalah apa pun dengan Jongostt. Tapi saya bisa memperkirakan kenapa Jongostt sampai begitu aktif mengganggu saya. Akar masalahnya adalah wanita!

(Maaf, saya tidak bisa menceritakan hal ini lebih lanjut, karena bisa jadi akan membuka aib orang, bahkan mengganggu rumahtangga orang. Tetapi, jika keadaan memaksa, saya tidak akan ragu membuka kisah memalukan ini secara detail, lengkap dengan nama-nama asli. Persetan, saya tidak peduli! Saya tidak punya peran apa pun dalam kisah aib ini, selain fakta bahwa “si wanita” pernah mengejar-ngejar saya.)

Seperti yang telah dinyatakan di atas, prinsip hidup saya sederhana. Jika saya bersalah kepada seseorang, saya akan segera meminta maaf kepadanya, dan mengakui kesalahan. Karena saya pernah berburuk sangka pada Cahya Legawa, saya pun telah menghubunginya, dan meminta maaf kepadanya. Saya mengirim e-mail untuknya, dan berikut ini sebagian isi e-mail yang saya kirim pada Cahya.

Mas Cahya,

Saya mengirim e-mail ini untuk meminta maaf, karena pernah berburuk sangka kepada Anda. Saya tidak tahu apakah Anda menyadari hal ini atau tidak, namun saya merasa perlu untuk menyampaikan permintaan maaf ini, agar saya bisa berdamai dengan diri sendiri.

Sudah cukup lama, blog saya mendapat gangguan dari seseorang, dan saya mencurigai Anda sebagai pelakunya. Saya juga sering mendapat e-mail berisi virus, dan saya juga mencurigai Anda sebagai pelakunya.

Sekarang, pelaku sebenarnya telah terungkap, dan saya pun yakin kecurigaan serta persangkaan saya selama ini kepada Anda telah keliru. Untuk itu, saya ingin meminta maaf atas kecurigaan serta persangkaan tersebut, dan berharap Anda mau memaafkan saya.


Cahya membalas e-mail saya dan memaafkan, dia bahkan menganggap itu bukan masalah. Jadi, sebagai sesama manusia, saya merasa telah terbebas dari perasaan bersalah, dan sekarang saya tidak punya masalah apa pun dengan Cahya.

Sekarang, kita kembali pada pertanyaan yang mengawali catatan ini. “Apa yang akan kaulakukan, jika seseorang melakukan kejahatan kepadamu, padahal kau sama sekali tidak punya masalah dengannya, dan tidak pernah melakukan kejahatan apa pun kepadanya?”

Jawabannya... well, prinsip hidup saya sederhana. Saya tidak pernah melupakan kejahatan, sebagaimana saya tidak pernah melupakan kebaikan.

 
;