Jumat, 11 September 2015

Serigala Berbulu Teman

Yang berbahaya sebenarnya bukan serigala
berbulu domba, tapi serigala berbulu manusia.
@noffret


Di suatu siang yang terik, Socrates memasuki sebuah taman di Yunani dengan membawa obor menyala di tangan. Dari ekspresinya, filsuf terkenal itu sedang mencari sesuatu. Dia berkeliling ke sana kemari, membawa obornya ke mana-mana, dan seisi taman menatap heran.

Di masa Yunani kuno, orang-orang biasa berkumpul di taman—duduk-duduk dan mendiskusikan banyak hal. Mereka telah mengenal Socrates. Well, siapa yang tidak? Lelaki yang tampak sinting itu memiliki kebijaksanaan yang unik, dan orang-orang menyukai Socrates, meski kadang mereka tidak paham alur pikirannya. Jadi, ketika siang itu melihat Socrates membawa obor menyala, mereka pun seketika menatap ke arahnya dengan bingung.

“Temanku, Socrates,” sapa seseorang sambil bangkit dari duduknya. “Kau membawa obor menyala di siang yang terang benderang. Apa yang sedang kau cari?”

“Aku sedang mencari teman,” jawab Socrates sambil menggerak-gerakkan obor di tangannya.

“Uhm... di sini ada banyak temanmu. Well, kita semua temanmu, Socrates.”

Tapi Socrates kembali menggumam, “Aku sedang mencari teman.”

Dua ribu lima ratus tahun kemudian, saya menyaksikan orang dibakar di lapangan.

....
....

Waktu itu pertengahan 1990-an, dan saya masih hidup di jalanan. Menjelang pukul 24:00, saya sedang melangkah pulang, ketika melihat cukup banyak orang sedang panik memadamkan api yang tengah membakar tubuh seseorang. Didorong penasaran ingin tahu yang terjadi, saya pun mendekat.

Pemandangan yang saya saksikan sangat mengerikan. Seorang lelaki tampak guling-guling di tanah lapangan, menjerit-jerit kesakitan, sementara api menyala dan berkobar di sekujur tubuhnya. Orang-orang berusaha memadamkan api yang membakar tubuh lelaki itu. Beberapa dari mereka mengguyurkan air dari ember. Tapi di tengah lapangan tidak ada sumber air. Jadi orang-orang pun harus berlari ke warung-warung yang masih buka, untuk meminta air, lalu kembali berlari ke tempat lelaki yang masih terbakar di lapangan.

Butuh waktu lama untuk dapat memadamkan api di tubuh orang itu. Ketika akhirnya kobaran api mulai mengecil, samar-samar saya mencium aroma bensin di antara bau daging terbakar. Lelaki itu masih hidup, tapi tubuhnya—khususnya dari pinggang ke bawah—tampak “matang”. Ketika memperhatikan lebih dekat, saya mengenali orang yang terbakar itu. Dia sering muncul di alun-alun, dan biasa menyapa anak-anak jalanan yang ada di sana.

Lelaki itu, sebut saja, bernama Mister X.

Di masa itu, Mister X adalah lelaki berusia 30-an, berpenampilan biasa, dan tampak ramah pada orang-orang yang hidup di jalanan. Kadang dia ikut nongkrong dengan anak-anak jalanan, berbagi rokok, atau sekadar menyapa dengan gaya akrab seolah kami teman-temannya. Kadang-kadang pula dia ikut mabuk-mabukan dengan beberapa orang yang biasa mabuk. Sebenarnya, kami tidak tahu siapa dia. Dia muncul dan menghilang kapan saja, dan kami juga tidak tahu apa pekerjaannya, atau di mana tempat tinggalnya.

Sampai kemudian, saya menyaksikan dia terbakar di lapangan tengah malam.

Kejadian terbakarnya Mister X pun menjadi bahan percakapan yang ramai di jalanan. Orang-orang saling mengobrolkan dengan temannya, dan perlahan-lahan saya mulai tahu siapa Mister X, bagaimana latar belakangnya, hingga dia sampai mengalami nasib yang tragis. Peristiwa menjelang tengah malam itu pun kemudian menguak kehidupan Mister X yang sangat kelam....

Jadi, Mister X memiliki beberapa teman polisi. Pertemanannya dengan beberapa polisi itu dimanfaatkannya untuk sesuatu yang sangat tercela. Seiring berteman dengan beberapa polisi, Mister X juga menjalin pertemanan dengan orang-orang di jalanan—dari para preman yang menguasai lahan parkir, sampai para penjual kaset dan VCD bajakan.

Di masa itu, era 1990-an, kaset pita masih populer, dan banyak dijual di lapak-lapak, seiring munculnya CD dan VCD. Tidak jauh beda dengan yang terjadi di Glodok atau tempat-tempat semacamnya, peredaran dan distribusi kaset bajakan di tempat saya juga dikendalikan jaringan mafia. Nah, Mister X menjalin pertemanan dengan para penjual kaset dan VCD bajakan tersebut, sambil diam-diam mencari informasi tentang siapa distributornya, hingga para pembuatnya.

Karena menganggap Mister X sebagai teman, para penjual kaset dan VCD bajakan itu pun percaya pada Mister X, dan menceritakan apa adanya. Mereka menyebutkan siapa pemasoknya, di mana distributornya, dan lain-lain. Kemudian, diam-diam Mister X menyampaikan informasi itu kepada polisi-polisi yang menjadi temannya.

Menggunakan informasi yang mereka peroleh, polisi-polisi teman Mister X melakukan penggerebekan terhadap para pembuat dan distributor barang-barang bajakan tersebut. Mereka menyita kaset-kaset, CD dan VCD, serta mesin dan alat-alat elektronik yang dapat mereka temukan di tempat penggerebekan. Pihak yang digerebek biasanya hanya bisa pasrah, dan merelakan barang-barangnya disita daripada masuk tahanan.

Apakah polisi-polisi itu membawa barang sitaan ke kantor polisi? Tidak! Mereka mengumpulkan barang-barang hasil sitaan, kemudian menjualnya. Setelah itu, hasil “rampokan” dibagi bersama Mister X. Jadi, oknum-oknum polisi itu memanfaatkan Mister X untuk menjadi mata-mata di jalanan, sementara Mister X memanfaatkan oknum-oknum polisi temannya untuk melakukan penggerebekan. Tapi itu penggerebekan ilegal.

Mula-mula, hal itu tidak disadari oleh jaringan mafia yang telah menjadi korban Mister X dan teman-temannya. Mereka pikir itu penggerebekan resmi. Tetapi bau busuk memang mudah tercium. Entah bagaimana caranya, para mafia itu akhirnya tahu bahwa yang menjadi akar busuk dari serangkaian penggerebekan yang terjadi adalah Mister X. Mereka juga tahu bahwa itu bukan penggerebekan resmi, karena hasil sitaan barang-barang mereka ternyata digunakan Mister X dan teman-temannya untuk keperluan pribadi.

Setelah kenyataan itu terungkap, para mafia itu pun mulai mengumpulkan dendam, dan memasang perangkap. Dari yang saya dengar dari teman-teman di jalanan waktu itu, seseorang mengajak Mister X untuk mabuk-mabukan. Tanpa curiga, Mister X menerima ajakan itu, dan mereka pun teler di lapangan. Saat Mister X telah kehilangan kesadaran, beberapa orang muncul dan mengguyurkan bensin ke tubuhnya, lalu menyalakan api. Hasilnya, seperti yang saya lihat kemudian, tubuh Mister X terbakar, sementara para pelakunya tak pernah diketahui.

Mister X memang berhasil selamat, meski separuh tubuhnya—khususnya bagian bawah—terbakar parah. Tetapi bahkan setelah dinyatakan “sembuh”, dia tetap tidak tahu siapa orang-orang yang telah membakarnya. Dia sedang teler ketika peristiwa itu terjadi, dan benar-benar tak ingat wujud atau ciri orang yang bersamanya waktu itu.

Sekarang, saya tidak tahu bagaimana kabar Mister X—saya bahkan tidak pernah melihatnya lagi. Entah dia masih hidup, ataukah sudah tiada. Tetapi kisah dan peristiwa yang terjadi pada Mister X masih membekas dalam ingatan saya. Kisah itu bahkan memberi pelajaran yang sangat penting sekaligus berbahaya. Bahwa orang yang kita percaya sebagai teman ternyata bisa jadi seorang pengkhianat, dan pembalasan dendam bisa datang kapan saja, dengan berbagai cara.

Mister X mungkin merasa dirinya aman, karena berteman dengan oknum-oknum polisi yang mungkin melindunginya, dan sejauh itu perbuatannya dilakukan sangat rapi. Tetapi bau yang mudah tercium memang bau bangkai. Serapi apa pun Mister X menyimpan kebusukan, akhirnya terungkap. Dan seaman apa pun dia merasa terlindungi, pembalasan dendam tetap datang.

Pepatah lama menyebut orang semacam Mister X sebagai “serigala berbulu domba”—orang yang tampak baik di luar tapi busuk di dalam, sosok yang bersikap sebagai teman tapi menikam di belakang, orang yang mungkin menyalami tanganmu dengan hangat tapi diam-diam menggunting dalam lipatan. Orang semacam itu perpaduan antara sifat munafik dan pengkhianat—berbahaya sekaligus menjijikkan.

Dan orang semacam itu tidak hanya ada di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Setidaknya, saya pernah mengalaminya. Seseorang yang saya percaya sebagai teman, ternyata sosok munafik yang sangat busuk dan menjijikkan.

Pada 2011, saya mengenal seorang blogger yang saya kira orang baik, tapi ternyata munafik—seorang yang saya sangka baik hati ternyata sosok pendengki. Blogger itu bernama Joko Sutarto, pemilik blog Diptara.com. Dia lelaki berusia 40-an, sudah punya anak dan istri, serta punya blog yang waktu itu aktif di-update.

Semula, saya sering melihat Joko Sutarto berkomentar di blog Ayu dan blog Vicky—dua blog yang waktu itu sering saya kunjungi. Komentarnya baik, dalam arti bukan komentar spam, sehingga saya pun tertarik. Selain itu, saya berpikir, “Orang ini sudah tergolong tua, tapi mau bergaul dengan anak muda dan remaja.” Jadi, saya punya kesan kalau dia orang yang asyik.

Maka saya pun mencoba mengunjungi blognya. Karena kebetulan waktu itu dia menulis post tentang aktivitas menulis, dan saya paham topik tersebut, saya meninggalkan komentar pada postingnya. Dan, singkat cerita, kami pun berteman sebagai sesama blogger.

Bahkan, tidak lama setelah itu, Joko Sutarto memasang link blog saya di blognya. Ketika saya mulai bikin akun Twitter, kami saling follow di Twitter. Dan sebagai balasan kebaikan, saya pun memasang link blog Joko Sutarto di blog Belajar Sampai Mati, ketika saya mulai membuat blog tersebut.

Tuhan menjadi saksi, tidak ada setitik pun hal negatif dalam pikiran dan hati saya terhadap Joko Sutarto. Saya menganggapnya sebagai teman, dan berpikir dia juga menganggap saya sebagai teman. Saya suka berkomentar di blognya, dan kami pun menjalin komunikasi yang baik. Tapi ternyata saya salah sangka.

Suatu hari, saya mendapati blog saya rusak—search engine di blog ini tiba-tiba mengarah ke blog lain. Selain itu, kadang laman blog saya mengarah ke web asing (luar negeri) yang sama sekali tidak saya kenal. Seiring dengan itu, inbox e-mail saya terus menerus mendapat kiriman spam berisi virus/trojan. E-mail spam itu berisi pesan-pesan seksual, dengan virus/trojan di dalamnya. (Mengenai hal ini, baca lebih lanjut di sini).

Karena jengkel, saya pun memutuskan untuk menjebaknya. Saya sengaja membuka e-mail berisi virus/trojan tersebut, dan trojan itu pun masuk ke komputer saya. Rupanya itu trojan spy, yang ditujukan untuk memata-matai aktivitas saya di internet. Maka saya pun sengaja membiarkan dia melihat aktivitas-aktivitas saya di internet, sambil diam-diam menggiringnya ke perangkap yang telah disiapkan. Dan keparat itu pun terjebak, hingga identitasnya terkuak.

Selama dia memantau aktivitas saya di internet, saya menggiring dia ke web-web tertentu, hingga dia yakin bahwa web tersebut milik saya. Upaya itu saya lakukan untuk melihat apa yang akan dilakukannya, sekaligus untuk mengungkap identitasnya. Dan dia terjebak—dia “merusak” web-web tersebut, seperti dia merusak blog saya sebelumnya! Dengan modus operandi yang sama, dengan cara yang sama!

Keparat itulah si Joko Sutarto. Dialah pelakunya.

Coba lihat. Saya menjalin pertemanan yang baik dengannya di dunia maya, dan saya telah berbaik sangka kepadanya—menganggapnya orang yang baik, teman yang baik. Tapi teman yang saya sangka baik itu rupanya serigala busuk, orang yang saya sangka baik itu ternyata sesosok iblis keji. Yang menampakkan keramahan di depan, sambil diam-diam menusuk di belakang. Yang menjalin pertemanan di dunia blog, sambil diam-diam merusak blog temannya.

Apakah perbuatan busuk Joko Sutarto hanya sebatas itu? Tidak, dia masih punya setumpuk kebusukan dan kejahatan lain. Dan tidak menutup kemungkinan dia juga mengirimkan virus/trojan ke komputer orang-orang lain, untuk tujuan kejahatan yang sama.

Sejauh ini, Joko Sutarto telah mengirimkan e-mail berisi virus/trojan ke alamat e-mail saya, dan ke alamat e-mail dua teman saya yang kebetulan alamat e-mailnya diketahui oleh  Joko Sutarto. E-mail-e-mail bervirus itu memiliki bentuk sama—berisi pesan-pesan seksual, dengan sisipan virus di dalamnya.

So, setelah tahu kenyataan itu, saya pun menghapus link blog Joko Sutarto dari blog Belajar Sampai Mati. Di Twitter, saya juga telah meng-unfollow dia, bahkan kemudian memblokir akun miliknya. Saya tidak sudi berteman dengan serigala berbulu teman.

Dan bagaimana dengan Joko Sutarto?

Oh, dia pasti telah menyadari bahwa saya mencurigai dan tahu semua kebusukan yang ia lakukan terhadap saya. Meski begitu, dia masih berlagak pilon (sok tanpa dosa). Di blognya, misalnya, dia masih memasang link blog saya. Mungkin dia berharap hal itu dapat menetralisir kecurigaan saya kepadanya.

(Update: Pada 15 Oktober 2015, Joko Sutarto telah menghapus link blog saya di blognya. Sejujurnya, saya sangat senang mendapati hal itu, karena saya benar-benar menyesal telah mengenal orang licik seperti dia).

Jadi, ketika menulis catatan ini, saya teringat pada Socrates, dua ribu lima ratus tahun yang lalu, ketika dia datang ke taman. Di siang yang terang benderang, dia membawa obor menyala, dan menyatakan sedang mencari teman. Socrates pasti memahami, bahwa teman yang tampak teman kadang-kadang bukanlah teman.

 
;