Kamis, 08 Oktober 2015

Tersenyum dari Depan, Menusuk dari Belakang

Neraka terdalam dan paling dasar disediakan untuk
orang-orang munafik. Sangat pantas! Karena munafik
adalah iblis yang berpura-pura baik.
@noffret


—Lanjutan catatan Serigala Berbulu Teman

Seperti yang saya tulis di catatan Serigala Berbulu Teman, kejahatan dan kebusukan Jongostt harus diungkap, agar orang-orang—khususnya yang aktif di dunia maya—berhati-hati dengannya. Di blog maupun di akun Twitter, dia memasang foto wajahnya yang tampak tersenyum seperti orang baik. Saat berinteraksi dengan orang lain di dunia maya, dia juga bersikap sok rendah hati, dan seperti orang baik. Tapi diam-diam menyimpan kebusukan dan perbuatan jahat di belakang.

So, mari kita flashback sejenak untuk melihat awal perkenalan saya dengan Jongostt di dunia maya, untuk melihat betapa munafiknya orang ini, sekaligus untuk menjelaskan beberapa hal yang perlu saya jelaskan.

Seperti yang telah disinggung sekilas pada catatan Serigala Berbulu Teman, saya mengenal Jongostt pada tahun 2011, dari blog-blog yang biasa saya kunjungi. Karena saya pikir dia orang baik—dan komentar-komentarnya di blog orang lain juga sopan—saya pun mencoba mengunjungi blognya. Karena kebetulan waktu itu dia menulis tentang aktivitas menulis, dan saya paham topik itu, saya pun meninggalkan komentar. Dan itulah awal perkenalan kami.

Sejak itu, sebagai sesama blogger, kami berteman. Jongostt bahkan kemudian memasang link blog saya di blognya. Ketika saya membuat blog Belajar Sampai Mati, saya juga memasang link blog Jongostt di sana. Kemudian, ketika saya bikin akun Twiter, kami saling follow. Tuhan menjadi saksi, saya tidak punya pikiran buruk apa pun kepada Jongostt, dan kenyataannya kami memang tidak punya masalah apa pun.

Sampai kemudian, sesuatu yang aneh terjadi. Blog saya tiba-tiba rusak. Search engine blog ini mengarah ke blog lain. Sementara e-mail saya dibanjiri spam berisi virus/trojan yang datang setiap hari. Seiring dengan itu, muncul link-link asing di dasbor blog saya dan blog Belajar Sampai Mati, yang semuanya mengarah pada suatu sarana pengiriman virus.

Waktu itu, saya belum paham bahwa pelakunya adalah Jongostt, karena kami memang tidak punya masalah apa pun. Bagaimana mungkin saya mencurigai Jongostt, wong waktu itu kami bahkan masih berkomunikasi dengan baik. Saya masih menganggapnya sebagai teman, dan saya pikir Jongostt pun menganggap saya sebagai teman. Tapi ternyata keparat itu serigala berbulu teman. Yang tampak seperti teman di depan, tapi diam-diam menusuk di belakang.

Cukup lama saya belum juga menyadari bahwa saya telah berurusan dengan keparat licik yang pura-pura tampak seperti teman. Kebusukan Jongostt mulai terungkap ketika dia terjebak pada kesalahannya sendiri.

Jadi, saya sengaja membuka e-mail berisi virus yang dikirimkan Jongostt, juga meng-klik link asing dari dasbor blog saya, yang mengarah pada suatu sarana pengiriman virus. (Karena e-mail berisi virus dan link virus itu datang dalam waktu bersamaan, saya pun yakin pengirimnya sama). Sejak itu, virus/trojan pun masuk ke komputer saya. Seperti yang sudah saya duga, itu trojan spy yang ditujukan untuk memata-matai aktivitas saya di internet.

Sejak trojan itu bercokol di komputer saya, Jongostt pun bisa memata-matai aktivitas saya di internet—termasuk web-web apa saja yang saya kunjungi, dan tidak menutup kemungkinan dia juga melihat password yang saya gunakan untuk login di e-mail atau Twitter. (Coba lihat, dia berteman dengan saya, tapi diam-diam mengirimkan trojan ke komputer saya, untuk memata-matai aktivitas saya. Jika bukan bangsat busuk munafik, akan kita sebut apa orang semacam itu?)

Nah, selama Jongostt memata-matai aktivitas saya di internet, saya pura-pura tak tahu, dan tetap berinternet seperti biasa. Saya bahkan berinternet senatural mungkin, agar Jongostt benar-benar yakin bahwa saya tidak tahu sedang dimata-matai. Seiring dengan itu, saya menggiringnya ke perangkap yang telah disiapkan. Saya menggiringnya ke web-web tertentu, hingga dia yakin bahwa web itu milik saya.

(Sebelumnya, saya telah membuat web khusus, tetapi tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa itu web milik saya. Karena Jongostt dapat memata-matai aktivitas berinternet saya melalui trojan spy yang dikirimkannya, dia pun tahu bahwa itu web saya).

Dan keparat itu terjebak—tepat seperti yang saya harapkan.

Ketika Jongostt telah yakin bahwa itu web milik saya, dia melakukan kejahatan seperti yang pernah dilakukannya. Dia merusak web itu!

Dan aktivitasnya itulah yang akhirnya membongkar identitas busuknya. Begitu dia mulai mengutak-atik web tersebut, identitasnya pun terkuak. Saya bahkan akhirnya tahu, bahwa dia melakukan perusakan terhadap web/blog saya bukan dengan teknik hacking, melainkan menggunakan plugin. Kenyataan itu benar-benar membuat saya ingin muntah!

Sekali lagi, coba lihat, dia berteman dengan saya, tapi diam-diam merusak web/blog saya. Bahkan, belakangan, saya juga tahu bahwa dia pernah mencoba meretas akun Twitter saya, dan beberapa akun lain.

Setelah mengetahui bahwa pelaku semua kejahatan itu Jongostt, saya pun bertanya-tanya dalam hati, apa kesalahan yang mungkin telah saya lakukan kepada Jongostt, hingga dia sampai melakukan perbuatan yang sangat busuk semacam itu? Cukup lama, saya melakukan introspeksi, mengoreksi semua interaksi kami, namun saya tetap tidak tahu apa kesalahan saya terhadap Jongostt. Kenyataannya waktu itu kami masih berkomunikasi dengan baik sebagaimana layaknya teman.

....
....

Seperti yang saya bilang di atas, kejahatan Jongostt tidak sebatas yang telah saya uraikan di sini. Dia juga melakukan berbagai kejahatan dan kebusukan lain, yang kelak akan saya ungkap perlahan-lahan.

Meski begitu, saya juga ingin bertindak adil—apalagi mengingat bahwa kami dulu pernah berteman. So, sebelum nama aslinya saya ungkap dan diketahui orang-orang secara luas, saya ingin memberi kesempatan kepada Jongostt, agar “permainan” ini benar-benar fair.

Jika Jongostt mau mengakui kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulangi kejahatannya—baik kepada saya maupun kepada orang lain—saya akan menutup kasus ini, dan tidak akan memperpanjang lagi.

Jadi, jika Jongostt tidak ingin namanya semakin hancur, dia cukup mengirim e-mail kepada saya, mengakui semua perbuatannya, dan bersumpah tidak akan mengulangi, baik kepada saya maupun kepada orang lain. Kalau dia jantan mau melakukan kejujuran itu, saya akan menganggap masalah ini selesai, karena artinya dia telah berani bertanggung jawab. 

Tetapi, well, hidup adalah soal pilihan. Karenanya, Jongostt tentu punya pilihan lain—yakni memilih menjadi banci yang hanya berani melakukan kejahatan tapi tak berani bertanggung jawab. Jika itu yang dipilihnya, maka saya akan terus mengungkap nama aslinya, agar orang-orang tahu kebusukannya, agar berhati-hati berurusan dengannya.

Update:

Karena Jongostt memilih menjadi banci yang tidak mau mengakui kesalahan, bahkan dia mencoba membohongi saya, maka sekarang terpaksa saya ungkap identitas atau nama aslinya.

Jongostt yang saya maksud dalam catatan ini adalah Joko Sutarto, pemilik blog Diptara.Com, dan yang punya akun Twitter dengan username @jokostt. Jika kalian mengenal Joko Sutarto, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, sebaiknya berhati-hati. Dia iblis munafik, yang bisa bersikap seperti teman di depan, tapi diam-diam menusuk di bekalang.

 
;