Minggu, 01 Maret 2026

Takdir dan Kebetulan

Ramadan tahun kemarin, Rusli mengadakan buka bersama yang “aneh”, dengan mengundang satu teman per hari untuk buka bersama di rumahnya, dari awal sampai akhir Ramadan. Saya termasuk salah satu teman yang ia undang, dan kalian bisa membacanya di sini: Buka Bersama Kaum Introver

Ramadan tahun ini, Rusli kembali mengadakan acara buka bersama dengan cara yang sama, dan saya kembali menjadi salah satu teman yang ia undang.

Malam itu, sambil menikmati jajan dan teh hangat, kami ngobrol-ngobrol santai. Rusli bercerita, “Aku pernah diminta mengantar famili kondangan ke Yogya. Sesampai di Yogya, familiku mengikuti acara kondangan, sementara aku keluyuran sendirian di sana. Ketika lagi makan donat di sebuah gerai, aku ketemu teman, dan kami ngobrol sambil makan. Ternyata, dia lagi mengantar istrinya yang mau mengurus hal-hal administratif di kampusnya. Sementara istrinya masih di kampus, dia kelaparan, dan, ndilalah, dia masuk ke gerai donat yang aku masuki, hingga kami ketemu. Apakah cerita ini terdengar aneh?” 

“Nggak,” saya menjawab, “itu cerita yang biasa aja.”  

Rusli tersenyum, “Sekarang cerita kedua. Kakakku perlu ketemu seseorang di Bali, terkait bisnisnya, tapi kakakku jatuh sakit. Jadi, dia lalu memintaku untuk mewakilinya ke sana, dan aku pun pergi ke Bali. Setelah urusan itu selesai, aku jalan-jalan, mumpung di Bali. Aku nggak punya seorang pun teman di sana, jadi nggak mungkin ketemu orang yang kenal. Tetapi, waktu lagi keluyuran, aku ketemu teman, yang waktu itu baru menikah. Si istri mengajaknya ke Bali, dan ndilalah kami ketemu di sana. Sampai di sini, apakah ceritaku ada yang aneh?” 

“Nggak. Menurutku, ceritamu nggak aneh sama sekali.”

Rusli kembali tersenyum. “Sekarang cerita ketiga. Sepupuku kuliah di Australia, dan suatu waktu aku menemuinya di sana. Satu-satunya orang yang aku kenal di Australia cuma sepupuku, jadi aku sama sekali nggak terpikir bakal ketemu orang lain yang juga aku kenal. Tapi entah gimana, aku ketemu seorang teman yang juga kebetulan ada di sana, dan kami sama-sama kaget. Itu pertemuan yang sama sekali nggak kami duga, bahkan dia sampai bercanda, ‘jauh-jauh aku ke Australia, ketemunya kamu lagi!’ Nah, sampai di sini, kamu udah melihat ada yang aneh?”

Saya bertanya, “Teman yang ketemu kamu di Yogya, di Bali, dan di Australia itu, orang yang sama atau orang yang berbeda-beda?” 

“Mereka tiga orang yang berbeda. Teman yang ketemu di Yogya adalah teman zaman SMA, sementara teman yang ketemu di Bali dan Australia adalah teman kuliah.” 

“Kalau gitu, ceritamu nggak aneh, sih.”

“Oke, kalaupun itu nggak aneh, kenapa bisa terjadi? Kenapa kok bisa-bisanya aku ketemu teman di tempat-tempat yang jauh, yang aku pikir nggak ada orang yang aku kenal?”

“Mungkin karena kamu punya banyak teman.”

Rusli terdiam sesaat, lalu berkata ragu-ragu, “Itu memang masuk akal. Mungkin temanku emang banyak, jadi kemungkinan ketemu teman di tempat-tempat jauh bisa aja terjadi. Tapi kenapa bisa terjadi?”

“Karena kebetulan.”

Rusli tampak tidak puas. “Aku juga semula mikir gitu. Bahwa semua itu terjadi karena kebetulan. Tapi mosok sampai tiga kali? Rasanya, kok, nggak ilmiah.”

“Sebenarnya sangat ilmiah, Rus,” saya menjawab. “Jika teman yang nggak sengaja ketemu kamu sampai tiga kali adalah orang yang sama, kita sepakat itu memang aneh. Tapi kalau teman yang ketemu kamu adalah orang yang berbeda-beda, itu sangat wajar, dan bisa selalu terjadi. Jangankan tiga kali, kebetulan seperti yang kamu alami bahkan bisa terjadi sampai lebih dari lima kali. Dan sifatnya tetap kebetulan.”

Rusli tercenung. “Aku masih belum paham bagaimana kebetulan semacam itu bisa terjadi.”

“Kalau gitu, kamu perlu belajar teori probabilitas,” saya tersenyum. “Dan omong-omong soal probabilitas, kayaknya aku perlu udud.”

Kami lalu menyesap minuman di gelas, dan menyulut udud.

Setelah mengisap rokoknya sesaat, Rusli berkata, “Oke, jelaskan.”

“Jelaskan apa?”

“Itu, teori probabilitas.”

Saya mengisap rokok, dan, seiring asap mengepul, saya berkata, “Secara probabilitas, sangat kecil kemungkinan kita berdua punya tanggal lahir sama. Ada 365 tanggal dalam setahun, dan peluang kita punya tanggal lahir sama benar-benar seimbang dengan peluang kita punya tanggal lahir berbeda. Jadi, tingkat probabilitas untuk kesamaan tanggal lahir kita adalah nol persen. Karena kita di sini cuma dua orang, dan itu artinya 2 banding 365.   

“Sekarang, jika kita menambahkan Adit di sini, artinya ada tiga orang, dan tingkat probabilitasnya naik jadi 0,82 persen. Kamu, Adit, dan aku, kemungkinannya masih kecil untuk punya tanggal lahir sama, karena 3 banding 365. Tetapi, jika kita terus menambahkan orang-orang lain, tingkat probabilitasnya terus naik signifikan. Jika ada 23 orang berkumpul di sini, ada kemungkinan dua orang memiliki tanggal lahir sama, karena tingkat probabilitasnya udah mencapai 50 persen! Bisa membayangkan grafiknya?”

Rusli terdiam, seperti berusaha mencerna penjelasan saya.

Setelah Rusli tampak paham, saya melanjutkan, “Fakta probabilitas ini sering kali nggak terpikir kebanyakan orang, karena rata-rata orang mengira kemungkinannya sangat kecil untuk punya tanggal lahir sama dengan orang lain, khususnya dalam kelompok kecil. Kebanyakan orang mengira harus ada kelompok sangat besar untuk menemukan orang lain yang punya tanggal lahir sama dengannya. Padahal, hanya dengan mengumpulkan 23 orang aja, kita udah hampir dapat memperkirakan ada dua orang yang punya tanggal lahir sama.  

“Teori probabilitas ini pula yang terjadi waktu kamu ketemu orang-orang yang kamu kenal di tempat-tempat yang nggak terduga. Kamu mengira itu aneh, sama kayak kebanyakan orang mengira nggak mungkin ketemu orang yang punya tanggal lahir sama dalam kelompok yang hanya berisi 20-an orang. Tapi begitu kita paham bagaimana probabilitas bekerja, hal-hal semacam itu nggak aneh lagi.”

Rusli tampak ragu-ragu. “Jadi, yang aku alami—ketemu tiga teman berbeda di tempat-tempat yang nggak terduga—sebenarnya cuma kebetulan?”

“Secara probabilitas, ya.” 

Rusli menggerutu, “Kebetulan yang sangat aneh.”

Saya tertawa. “Sering kali, kebetulan emang bisa sangat aneh, dan kita kayak nggak terima kalau itu disebut kebetulan. Tapi mau gimana lagi, wong itu cara semesta bekerja.”
 
“Maksudmu, semesta bekerja dengan cara kebetulan?”

“Aku nggak bermaksud mengatakan begitu. Maksudku, cara alam semesta bekerja sering kali nggak seperti yang kita pikirkan. Bagi kita, mungkin, sesuatu adalah aneh, ajaib, atau nggak masuk akal. Tapi bagi semesta kehidupan kita, hal-hal yang kita anggap aneh, ajaib, atau nggak masuk akal itu sebenarnya biasa-biasa aja—nggak aneh sama sekali, dan nggak ajaib sama sekali.”

Rusli manggut-manggut, sementara saya mengisap rokok.

Sesaat kemudian, saya berkata, “Pernah dengar kebetulan sangat aneh terkait John F. Kennedy dan Abraham Lincoln? Itu mungkin kebetulan paling aneh di muka bumi.”

Rusli tertarik. “Ceritakan.”

“Perhatikan yang kukatakan, karena ini akan terdengar sangat aneh.” Saya mengisap rokok, lalu memulai, “Abraham Lincoln dan John F. Kennedy adalah dua Presiden Amerika yang tewas karena terbunuh, dan keduanya sama-sama ditembak, pada hari Jumat. Mereka sama-sama tertembak di kepala bagian belakang, dan sama-sama di hadapan istrinya. Orang yang menembak Lincoln bernama John Wilkes Booth, dan orang yang menembak Kennedy bernama Lee Harvey Oswald. Kedua pembunuh itu sama-sama tewas sebelum dibawa ke pengadilan, dan keduanya punya nama yang terdiri dari lima belas huruf dan tiga kata. Setelah Lincoln tewas, ia digantikan Andrew Johnson. Dan ketika Kennedy tewas, ia digantikan Lyndon Johnson.

“Lincoln ditembak saat berada di teater bernama Ford, dan pembunuhnya kemudian lari ke sebuah gudang. Kennedy ditembak saat berada di mobil Ford, dan pembunuhnya menembak dari sebuah gudang, lalu melarikan diri ke gedung teater. Seminggu sebelum tewas, Lincoln berada di Kota Monroe. Dan Kennedy, seminggu sebelum tewas, diketahui bersama artis Marylin Monroe. Apakah semua itu terdengar aneh?”

Rusli mengangguk sambil tersenyum.

Saya kembali melanjutkan, “Yang lebih aneh adalah semua peristiwa itu tepat terjadi dalam kurun seratus tahun! Abraham Lincoln terpilih oleh Kongres pada tahun 1846, John F. Kennedy terpilih oleh Kongres pada 1946. Lincoln jadi presiden tahun 1860, Kennedy jadi presiden tahun 1960. Andrew Johnson, yang menggantikan Lincoln, lahir pada tahun 1808. Lyndon Johnson, yang menggantikan Kennedy, lahir pada 1908. John Wilkes Booth, yang membunuh Lincoln, lahir pada 1839. Lee Harvey Oswald, yang membunuh Kennedy, lahir pada 1939. Dan daftar yang aneh ini masih panjang sekali kalau kulanjutkan, sampai orang-orang Amerika menyebut peristiwa itu dengan istilah The Lincoln/Kennedy List of Coincidences. Jadi, menurutmu, bagaimana semua keanehan itu bisa terjadi?”

Rusli tampak bingung, lalu balik bertanya, “Menurutmu sendiri, bagaimana semua itu terjadi?”

“Sejujurnya, waktu pertama kali tahu semua keanehan itu, aku mengira itu keajaiban atau konspirasi, atau semacamnya. Rasanya sangat sulit untuk menerima kalau semua peristiwa yang nyaris persis dalam kurun seratus tahun itu terjadi secara kebetulan. Tapi setelah memahami probabilitas, akhirnya aku harus menerima kalau semua peristiwa yang sangat aneh itu memang kebetulan.”

Rusli berkata, “Menurutku, kalau semua itu memang kebetulan, kayaknya itu kebetulan yang nggak masuk akal.”

“Setuju, dan kita menyebutnya nggak masuk akal karena nggak mau menerima teori probabilitas.”

Hening sesaat, lalu Rusli berujar, “Maksudmu, kalau kita mau memahami dan menerima teori probabilitas, semua hal yang terjadi dalam kehidupan ini adalah kebetulan?” 

Saya berkata perlahan-lahan, “Mungkin terdengar aneh, atau bahkan terdengar kurang ajar, tapi jawabannya ya. Semua yang terjadi, yang kita alami dari waktu ke waktu, sebenarnya kebetulan. Sejujurnya, aku butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami dan menerima kenyataan itu, dan butuh waktu bertahun-tahun lagi untuk membuktikannya sendiri. Dan ketika akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa semua yang kita hadapi di dunia ini adalah kebetulan, aku benar-benar tercengang sampai sangat... sangat lama.”

“Sori, aku belum paham,” ujar Rusli. “Tolong jelaskan dengan sederhana, agar aku benar-benar mudheng.” 

Saya butuh mikir beberapa saat, lalu berkata, “Mengapa kamu dilahirkan oleh ibumu, dan aku dilahirkan oleh ibuku? Kita menyebutnya takdir. Dan dalam spektrum probabilitas, yang kita sebut takdir itu sebenarnya kebetulan. Kamu kebetulan dilahirkan ibumu, dan aku kebetulan dilahirkan ibuku. Kita nggak bisa memilih dari siapa dilahirkan, dan kita nggak bisa memilih lahir di mana atau berjenis kelamin apa. Itu apa namanya kalau bukan kebetulan?”

Entah kenapa, Rusli tersenyum lebar. “Lanjutkan.”

“Kamu pernah berpikir kenapa kita bisa ketemu, saling kenal, bahkan berteman sampai sekarang? Kita tumbuh di tempat berbeda, tinggal di tempat berbeda, sekolah dan kuliah di tempat berbeda, tapi kebetulan kita mengenal orang yang sama. Aku berteman dengan Miko, dan kamu juga berteman dengan Miko. Itu kebetulan, dan kebetulan itu lalu mempertemukan kita, hingga saling kenal, dan berteman. Jika Miko dihilangkan dari hidup kita, sampai sekarang kita pasti masih asing satu sama lain, karena nggak ada penghubung yang menjembatani. Dan bagaimana Miko bisa ada di kehidupan kita? Ya karena kebetulan. Kebetulan kamu sekampus dengan Miko, dan kebetulan aku pernah bekerja dengan Miko.”

Saya mengisap rokok yang makin memendek, lalu meneruskan, “Dulu, setelah lulus kuliah, kamu melamar kerja ke perusahaan tempatmu bekerja sekarang. Ketika dulu mengirim surat lamaran ke perusahaan itu, bisakah kamu memastikan bakal diterima atau ditolak? Nggak bisa! Fakta bahwa lamaranmu ke perusahaan itu diterima, hingga kamu bekerja di sana, semata karena kebetulan. Mungkin kamu pede lamaranmu diterima karena kamu pintar. Tapi bagaimana kamu tahu kalau ternyata ada orang-orang lain yang lebih pintar dari kamu juga melamar ke sana, tapi ditolak karena alasan tertentu yang kamu nggak tahu?

“Begitu pun, umpama kamu naksir seorang wanita, dan menyatakan cinta kepadanya, bisakah kamu memastikan bakal diterima atau ditolak? Kemungkinan besar sulit, apalagi mengingat wanita juga sulit ditebak. Mungkin kamu berpikir wanita itu menerima kamu karena juga jatuh cinta kepadamu. Tapi siapa yang bisa memastikan itu? Bagaimana kalau ternyata dia juga dekat dengan pria lain, tapi lalu memilihmu dengan pertimbangan tertentu yang kamu nggak tahu? Dan jangan lupakan bahwa kamu ketemu wanita itu karena kebetulan, mungkin kebetulan kerja di tempat sama, atau kebetulan bertemu di tempat tertentu, atau kebetulan kenal di media sosial. Kamu jatuh cinta kepadanya juga kebetulan, karena kamu pasti bertemu dengan wanita-wanita lain, tapi kebetulan aja kamu jatuh cinta pada wanita yang satu itu, lalu kalian jadian. Artinya, jika sewaktu-waktu kamu dan wanita itu menikah dan beranak pinak, semua itu terjadi karena kebetulan!”

Rusli manggut-manggut. “Sekarang aku paham penjelasanmu, tapi sejujurnya masih sulit untuk menerima kalau semua itu disebut kebetulan.”

Saya tersenyum. “Ya, kamu maunya semua itu disebut takdir.”

Rusli tertawa. 

Setelah terdiam beberapa saat, saya berujar, “Umpama, sekali lagi umpama, kamu dan serombongan orang naik bus untuk pergi ke suatu tempat. Di tengah perjalanan, bus yang kalian tumpangi jatuh ke jurang. Semua penumpang bus itu tewas, kecuali kamu. Fakta bahwa kamu satu-satunya orang yang selamat dalam kecelakaan itu, sementara orang-orang lainnya tewas semua, akan kamu sebut apa?”

“Takdir,” jawab Rusli.

“Ya,” saya mengangguk. “Dan teori probabilitas menyebutnya kebetulan.”

Rusli mematikan puntung rokoknya ke asbak, lalu berkata, “Baiklah, aku paham. Takdir adalah istilah religius, sementara kebetulan adalah istilah ilmiah. Dan kalau memang begitu, berarti keduanya—takdir dan kebetulan—adalah sama?”

Sekali lagi saya mengangguk. “Sekarang kita sampai pada bagian yang paling penting. Kita bisa mempelajari kebetulan dengan memahami teori probabilitas. Jika kita memahami teori probabilitas, kita bisa melihat cara kerja kebetulan. Dan jika kita memahami bagaimana kebetulan terjadi... kita akan memahami sesuatu yang kita sebut takdir.”

Melewati Hari

Malam menanti pagi, hidup menunggu usai, dan manusia merajut harap. Kita melewati hari seperti duduk di bawah atap, menunggu hujan reda.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Agustus 2012.

Racun Doktrin

“Rezeki sudah ada yang mengatur,” katanya. Yang mengatur ternyata elite global. Tapi, tentu saja, mereka tidak mengatakannya. Karena memang tidak tahu, dan hanya percaya sepenuhnya bahwa “rezeki sudah ada yang mengatur”—tepat seperti doktrinasi yang mereka terima.

“Jangankan manusia, bahkan hewan saja sudah memiliki rezeki sendiri-sendiri.” Padahal jutaan orang mati kelaparan di berbagai belahan dunia, sementara jutaan hewan lenyap dari muka bumi karena alasan yang sama. Tapi tetap saja, pokoknya “rezeki sudah ada yang mengatur.” 

Mengapa orang-orang tetap percaya sepenuh hati bahwa “menikah akan membuatmu bahagia”, meski jutaan pasangan bercerai? Mengapa orang-orang kukuh meyakini “setiap anak memiliki rezeki sendiri”, padahal jutaan anak telantar, terbuang, dan kelaparan dan mati di mana-mana? 

Profesor Eileen Barker, dari London School of Economics, menjawab peryanyaan itu, “Ketika sebuah ramalan terbukti gagal, orang justru semakin mempercayainya, terutama jika mereka tidak hanya menginvestasikan uang, tapi juga keyakinan, reputasi, dan kecerdasan.”

Tak bisa lebih setuju lagi.

Yang Paling Ditakuti Manusia

Apa yang paling ditakuti manusia? Bukan bencana, bukan pula kemiskinan atau penderitaan. Yang paling ditakuti manusia adalah jika sesuatu yang mereka yakini sebagai kebenaran mutlak dan tak mungkin salah... ternyata salah!

And then, itulah kenapa banyak orang memilih untuk tidak pernah berpikir sama sekali, karena berpikir bisa membuat mereka “kesakitan”. Itu pula jawaban mengapa banyak orang bisa terus menerus dibohongi, dikendalikan, dan dimanipulasi. Karena “merasa benar” terasa menyenangkan daripada menyadari kebalikannya.

Hidupmu adalah Milikmu

Jalani hidupmu seperti yang kamu inginkan, karena kamulah yang menjalani, dan kamu pula yang akan bertanggung jawab pada seluruh kehidupanmu. 

....
....

Ada orang-orang di sekitar kita yang punya penyakit mental tanpa mereka sadari, yaitu merasa lebih tahu tentang hidup orang lain, lalu mengatur-atur bagaimana caramu hidup, seolah mereka lebih tahu darimu, padahal itu hidupmu, dan kamulah yang menjalani kehidupanmu.

Kamu akan sering mendengar orang menyarankan agar kamu segera menikah, misalnya, dan orang-orang itu bisa menyampaikan aneka alasan yang terdengar masuk akal. Tapi ingatlah selalu, kamu yang menjalani hidupmu, bukan orang lain. Jadi tentukan pilihanmu sendiri.

Kalau kamu menuruti saran orang-orang lain untuk menikah, dan kamu tidak bahagia, apakah mereka akan bertanggung jawab? Tidak! Kamulah yang menjalani, dan kamu pula yang akan bertanggung jawab. Sementara orang-orang yang menyuruhmu menikah tidak akan peduli.

Kalau kamu mengikuti omongan orang agar kamu begini atau harus begitu, lalu kamu merasa tertekan menjalaninya, apakah orang-orang itu akan bertanggung jawab? Juga tidak! Mereka hanya ngomong, nyinyir, mbacot, tapi pada akhirnya kamulah yang menjalani dan yang bertangung jawab.

Orang-orang yang suka mengatur-atur kehidupanmu sering kali tidak peduli dengan kehidupanmu. Mereka hanya pada peduli dengan dirinya sendiri. Kamu akan tahu kebenaran pahit ini saat hidupmu kandas di titik terbawah, dan menyadari orang-orang yang banyak bacot itu menghilang.

Pada akhirnya, hidupmu adalah milikmu, karena kamulah yang menjalani. Karena kamu yang menjalani, kamu lebih tahu yang terbaik. Jadi jalani kehidupanmu dengan cara terbaik versimu sendiri. Orang lain punya hidup mereka sendiri, dan kamu punya hak untuk berbeda. 

Aku Berpikir

Sering kali aku berpikir, salah satu kenikmatan di dunia ini adalah berpikir.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juli 2012.

Kehidupan

Dalam satu waktu yang sama, dua kehidupan sedang berjalan. Atau lebih. Dengan kita di tengahnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Juli 2012.

Lapar yang Tidak Environmental

Lapar jam segini adalah kondisi yang sangat tidak environmental.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Februari 2019.

Lebih Banyak Pertanyaan

Tidak semua jawaban menjawab pertanyaan. Kadang-kadang, lebih banyak pertanyaan di dalam jawaban.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

Cania

Cania adalah bukti nyata sekaligus tak terbantah bahwa hidup ini tidak adil. Tetapi, well... siapa yang mengatakan hidup ini adil?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Oktober 2022.

Takdir Hidup

Takdir hidup kita kadang-kadang sangat jelas. Sebegitu jelas, sampai-sampai kita tidak paham.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

 
;