Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 September 2026

Satu Hari Lagi

Pagi adalah kesadaran bahwa satu hari lagi datang, dan satu hari lagi hilang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Mei 2012.

Hal Besar

Hal-hal besar selalu dimulai dari dalam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Juni 2012.

Senin, 31 Agustus 2026

Kemenangan Sunyi

Saya selalu merasa aneh ketika mendengar seseorang berkata, "Keadaannya memang memaksa saya jadi seperti ini."

Kalimat itu terdengar masuk akal. Dunia memang sering tidak adil. Orang bisa dikhianati, diperlakukan curang, kehilangan pekerjaan, menjadi korban keputusan yang sama sekali tidak mereka buat. Semua itu nyata. Yang membuat saya berhenti justru bagian setelahnya. Mengapa kekacauan di luar tiba-tiba diberi hak untuk menentukan karakter seseorang?

Mungkin kita terlalu sering membayangkan diri sebagai produk lingkungan. Ketika keadaan baik, kita merasa mudah bersikap baik. Ketika keadaan memburuk, keburukan kita dianggap reaksi yang wajar. Kemarahan memperoleh pembenaran. Ketidakjujuran berubah menjadi strategi bertahan hidup. Kekejaman diberi nama balasan yang pantas. Seolah-olah karakter hanyalah pantulan otomatis dari situasi yang sedang berlangsung.

Cara berpikir seperti itu diam-diam sangat memanjakan ego. Seluruh kesalahan dipindahkan ke luar diri. Politik yang kacau. Atasan yang buruk. Pasar yang lesu. Masa kecil. Pendidikan. Lingkungan. Daftarnya tidak pernah habis. Kita sibuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab atas keadaan, lalu lupa bertanya siapa yang bertanggung jawab atas respons kita.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua orang memiliki peluang yang sama. Itu jelas tidak benar. Saya juga tidak sedang mengajak menerima ketidakadilan dengan pasrah. Yang saya tolak adalah kebiasaan menyerahkan kemudi batin kepada sesuatu yang memang sejak awal tidak pernah bisa kita atur. Dunia berubah menjadi semacam diktator yang setiap hari memberi izin kepada kita untuk berlaku buruk.

Aneh. Tidak seorang pun mau hidup di bawah pemerintahan tiran. Namun begitu berhadapan dengan kenyataan yang mengecewakan, kita sering membangun seorang tiran di dalam kepala sendiri. Namanya "keadaan". Apa pun yang diperintahkannya langsung kita patuhi. Hari ini marah karena ekonomi. Besok sinis karena politik. Lusa curang karena semua orang juga curang. Sedikit demi sedikit, karakter berubah menjadi wilayah jajahan.

Para insinyur yang merancang menara sangat tinggi tidak pernah bernegosiasi dengan gempa bumi. Mereka juga tidak berharap angin topan tiba-tiba berubah sopan. Semua itu berada di luar kekuasaan mereka. Yang mereka ubah justru isi menaranya sendiri. Di dekat puncak dipasang sebuah bola baja raksasa yang digantung bebas. Ketika bangunan terdorong ke satu arah oleh guncangan, massa itu bergerak ke arah berlawanan. Energi benturan tidak dihapus. Energi itu diserap dan diredam. Menara tetap berdiri bukan karena berhasil mengendalikan bumi, tetapi karena memiliki pusat yang tidak bereaksi secara membabi buta terhadap setiap guncangan.

Saya sering merasa manusia justru melakukan kebalikannya. Kita menghabiskan tenaga untuk memaksa dunia berubah sesuai keinginan, sementara hampir tidak pernah membangun pusat penyeimbang di dalam diri sendiri. Akibatnya setiap berita buruk langsung mengubah suasana hati, setiap komentar tajam mengubah cara berbicara, setiap perlakuan kasar melahirkan alasan baru untuk ikut menjadi kasar. Reaksi kita murah sekali. Siapa pun bisa membelinya.

Mungkin kedewasaan bukan kemampuan menguasai keadaan. Itu terlalu sering dijadikan ukuran yang keliru. Kedewasaan mulai tampak ketika keadaan kehilangan hak untuk menentukan siapa kita hari itu.

Tidak semua kemenangan terdengar keras. Sebagian hanya terlihat dari kenyataan bahwa dunia gagal mengubah seseorang jadi lebih buruk.

Minggu, 30 Agustus 2026

Ruang Sunyi

Di dalam studio kedap suara mutakhir, terdapat sebuah ruangan khusus bernama anechoic chamber. Dinding, langit-langit, dan lantainya, tidak dilapisi cat megah, namun ditutupi ribuan baji busa fiberglass tebal berbentuk kerucut. 

Desain kaku itu dirancang untuk satu tugas yang ekstrem: menyerap seluruh pantulan gelombang suara dari arah mana pun tanpa menyisakan gema sekecil mikroba. 

Ketika sebuah mikrofon presisi diuji di dalamnya, ruangan itu tidak menyumbang kebisingan atau warna suara baru; ia menyediakan kesunyian mutlak agar karakter asli dari gelombang yang datang bisa terbaca tanpa cacat penafsiran.

Kita sebenarnya memiliki ruangan semacam itu. Di dalam diri kita. Namun jarang digunakan. Karena kebanyakan orang takut pada kesunyian.

Batas Waktu

Nyalakanlah sebatang lilin. Ia kecil, tapi menerangi gelap. Dan punya batas waktu. Pada akhirnya ia akan habis. Begitu pula hidup kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Menceritakan Tragedi

Jika kelak kita menceritakan tragedi dengan nada bangga karena berhasil melewatinya, kenapa sekarang harus menganggapnya tragedi?


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 18 Juli 2012.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Waktu Berlalu

Coba perhatikan sebongkah es batu yang mengambang di dalam segelas air. Selama kita menatapnya, hampir tidak ada perubahan yang bisa ditangkap mata. Es itu tampak tetap sebesar tadi. Permukaannya masih keras. Bentuknya hampir sama. Kita bahkan mungkin mulai bertanya-tanya apakah es benar-benar sedang mencair.

Lalu ponsel berbunyi, dan kita bercakap-cakap dengan seseorang di telepon. Perhatian kita pun berpindah beberapa menit. Ketika pandangan kembali ke gelas, es itu sudah jauh mengecil, bahkan mungkin telah hilang sama sekali. Padahal proses mencairnya tidak pernah dipercepat. Yang berubah hanyalah cara kita mengamatinya.

Banyak hal dalam hidup bekerja dengan cara yang sama. Kita hampir tidak pernah merasakan waktu sedang berlalu. Kita baru menyadarinya ketika hasilnya sudah tidak bisa dibatalkan.

Saat menjalani hari demi hari, waktu terasa begitu biasa. Hari Senin datang, disusul Selasa, lalu Rabu. Masing-masing berlangsung selama dua puluh empat jam yang tampaknya cukup panjang. Kita bekerja, makan, membuka ponsel, berbincang, beristirahat, lalu tidur. Besok pagi semuanya dimulai lagi. Dari dalam proses itu, hidup terasa berjalan dengan kecepatan yang wajar, bahkan kadang terasa lambat.

Karena itulah muncul keyakinan yang sangat menggoda: satu hari tidak akan membuat perbedaan. Satu hari lagi menunda menulis. Satu hari lagi menunda belajar. Satu hari lagi menunda menemui orang tua. Satu hari lagi menunda menjaga kesehatan. Yang kita pinjam selalu hanya hari ini. Tidak pernah terdengar berbahaya.

Masalahnya bukan pada satu hari. Masalahnya terletak pada cara otak memperlakukan waktu. 

Ketika menjalani hidup, kita memandang waktu dalam satuan eceran (harian). Yang terlihat hanyalah hari ini. Besok masih ada. Minggu depan masih tersedia. Tahun depan masih tampak jauh. Karena setiap hari terlihat utuh dan penuh, kita merasa memiliki persediaan yang melimpah. Rasanya seperti memiliki dompet yang masih berisi banyak uang receh. Mengeluarkan satu keping tidak terasa mengurangi apa pun.

Namun, ingatan manusia tidak menyimpan kehidupan dalam bentuk eceran. Tidak ada orang yang mengingat dengan jelas apa yang ia lakukan pada hari Kamis, tanggal tertentu, tiga tahun yang lalu. Yang diingat adalah sesuatu yang jauh lebih besar: tiga tahun telah lewat.

Di situlah ilusi bekerja dengan sangat rapi. Saat menjalani waktu, kita menghitung hari. Saat mengenangnya, kita menghitung tahun.

Akibatnya, ribuan keputusan kecil yang tampak sepele ketika diambil berubah menjadi satu kesimpulan besar ketika dipandang dari belakang. Kita tidak berkata, "Aku kehilangan tiga ratus empat puluh tujuh hari." Kita berkata, "Aku kehilangan satu tahun." Kita tidak mengingat ratusan malam ketika memilih menunda. Kita hanya melihat bahwa usia bertambah, sementara hidup hampir tidak berubah.

Perbedaan antara “eceran” (harian) dan “grosir” (tahunan) itulah yang sering luput dari perhatian. Satu hari memang kecil. Tetapi hidup tidak pernah menagih dalam satuan hari. Ia selalu menagih dalam satuan tahun.

Saya merencanakan menulis buku baru sejak lima tahun yang lalu. Tidak pernah sehari pun saya berkata, "Aku akan membuang lima tahun hidupku." Yang terjadi jauh lebih sederhana. Hari ini terlalu lelah. Besok saja. Minggu ini banyak urusan. Bulan depan suasana mungkin lebih tenang. 

Setiap alasan terdengar masuk akal jika berdiri sendiri. Tidak ada keputusan yang tampak fatal. Lima tahun kemudian, buku yang ingin saya tulis masih berada di dalam kepala. 

Begitu pula dengan hubungan antarmanusia. Tidak banyak anak yang sengaja memutuskan untuk kehilangan kesempatan berbincang dengan ayah atau ibunya. Yang terjadi hanyalah penundaan kecil yang terus berulang. Nanti saja menelepon. Minggu depan saja berkunjung. Setelah pekerjaan selesai. Setelah keadaan lebih longgar.

Lalu suatu hari, kesempatan itu benar-benar hilang. Bukan karena satu keputusan besar, tapi karena terlalu banyak keputusan kecil yang dianggap tidak berarti.

Penyesalan hampir selalu memiliki pola yang sama. Ia jarang berasal dari satu kesalahan dramatis. Ia lebih sering tumbuh dari akumulasi hal-hal yang terus ditunda.

Yang membuat penyesalan terasa menyakitkan adalah kenyataan bahwa semuanya tampak sangat masuk akal ketika sedang dijalani. Tidak ada alarm yang berbunyi saat kita memutuskan menunda sehari. Tidak ada tanda bahaya yang muncul ketika kita berkata, "Masih ada waktu."

Alarm itu baru terdengar ketika waktu sudah berubah menjadi masa lalu. Barulah kita melihat bahwa yang hilang bukan satu sore, tapi bertahun-tahun kemungkinan.

Ada paradoks yang menarik tentang usia. Ketika berumur empat belas tahun, empat tahun terasa seperti keabadian. Ketika berumur empat puluh tahun, empat tahun terasa seperti musim yang lewat begitu saja. Semakin panjang hidup dijalani, semakin pendek potongan waktu terasa dari belakang. Karena itulah banyak orang tua berkata bahwa hidup berjalan sangat cepat. Bukan karena jam berdetak lebih cepat, tetapi karena cara otak menyusun kenangan berubah. 

Mungkin karena itu pula nasihat tentang menghargai waktu sering gagal menyentuh orang yang masih muda. Mereka mendengar kalimatnya, tetapi belum mengalami ilusi itu sendiri. Mereka masih melihat hari-hari sebagai sesuatu yang panjang. Mereka belum pernah menoleh ke belakang dan terkejut melihat satu dekade lenyap hampir tanpa suara.

Padahal waktu tidak pernah berubah sifat. Yang berubah hanyalah posisi kita terhadapnya. Selama berada di dalam arus, ia tampak tenang. Begitu kita menoleh ke belakang, kita baru sadar betapa jauhnya arus telah membawa kita.

Persoalannya, sering kali, bukan apakah kita memiliki cukup waktu. Sebagian besar orang, pada titik tertentu, pernah memiliki waktu yang cukup. Persoalannya adalah kita terus menganggap setiap hari sebagai unit yang berdiri sendiri, padahal kehidupan sedang menggabungkan semuanya menjadi satu cerita besar.

Setiap hari yang tidak dipakai membangun sesuatu akan bergabung dengan hari-hari lain menjadi satu tahun yang kosong. Setiap pertemuan dengan orang tua yang terus ditunda akan bergabung dengan pertemuan lain yang tidak pernah terjadi. Setiap lembar yang tidak ditulis akan bergabung dengan lembar-lembar lain yang tidak pernah lahir.

Tidak ada satu hari yang mampu menghancurkan masa depan. Tapi masa depan dibangun oleh kumpulan hari yang tampaknya tidak penting.

Es di dalam gelas tidak pernah tiba-tiba mencair. Ia kehilangan dirinya setetes demi setetes. Begitu pun waktu. Tidak ada hari yang cukup besar untuk mencuri hidup kita. Yang melakukannya adalah ribuan hari kecil yang kita anggap terlalu sepele untuk dijaga.

Waktu terasa lambat ketika sedang kita jalani, tapi terasa sangat cepat ketika sudah jadi kenangan. Kita melihat hidup seperti orang yang menghitung uang receh ketika membelanjakannya, lalu terkejut ketika melihat jumlah akhirnya.

Dan pada titik tertentu, setiap orang akan memahami sesuatu yang terlambat dipelajari: kita tidak pernah benar-benar kehilangan tahun. Kita kehilangan hari-hari yang dulu kita anggap tidak penting, lalu hari-hari itu diam-diam membentuk tahun yang tidak akan pernah kembali.

Kegilaan Geometris

Ketika kita berdiri di tengah ruangan yang dikelilingi belasan cermin distorsi, kita akan melihat diri sendiri memanjang di satu sudut, melebar secara menggelikan di sudut lain, dan mendadak mengecil di cermin ketiga. Setiap cermin memantulkan siluet yang berbeda, tergantung lengkungan kacanya. 

Menuntut diri kita untuk mengubah bentuk nyata kita agar selaras dengan pantulan di setiap permukaan kaca tersebut adalah kegilaan geometris. Cermin itu tidak menggambarkan siapa kita; mereka hanya menggambarkan cacat bentuk permukaannya sendiri.

Distorsi Perspektif

Ketika menatap langit malam menggunakan mata telanjang, kita mungkin melihat dua titik bintang yang tampak menempel sangat intim, seolah-olah mereka adalah sepasang benda langit yang sedang berdansa mengitari pusat gravitasi yang sama. 

Namun, astrofisika memberi tahu bahwa kedekatan itu hanyalah distorsi perspektif dari bumi. Kenyataannya, bintang pertama berada sepuluh tahun cahaya di depan, sementara bintang kedua berada ratusan tahun cahaya di belakangnya, terpisah oleh ruang hampa udara yang dingin dan luas tak terhingga.

Mata kita sering menipu. Tapi kita tidak tahu. 

Atau pura-pura tidak tahu.

Jumat, 31 Juli 2026

Sebenarnya

Sebagian orang merasa menjadi wakil Tuhan. Sebagian lagi merasa wakil setan. Sebenarnya, mereka hanya mewakili egonya sendiri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

Kamis, 30 Juli 2026

Hantu dan Orang-orang Awam

Jika kita perhatikan, hantu/setan Indonesia dan hantu-hantu Amerika/Eropa memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Setidaknya, hal itu tergambar dalam banyak film bertema hantu/setan.

Hantu/setan barat umumnya bertarung dengan manusia, dan memiliki ambisi menguasai dunia. Sementara hantu/setan Indonesia, biasanya cuma nakut-nakutin orang.

Apa makna yang bisa diambil dari kenyataan itu? Bagi saya sederhana. Bahwa hantu—sebagaimana banyak hal lain—adalah hasil konstruksi budaya, olah pikir masyarakat, yang mencerminkan kultur tempat hantu-hantu itu diciptakan. Orang barat yang ambisius menciptakan setan yang ambisius, orang Indonesia yang “apa adanya” menciptakan setan serupa.

Encyclopedia Britannica (edisi 2003) mengulas Nyi Roro Kidul dalam perspektif semacam itu, bahwa sosok gaib itu sebenarnya diciptakan raja-raja Jawa untuk menakut-nakuti rakyat.

Sementara Pramoedya Ananta Toer, dalam “Anak Semua Bangsa”, menyatakan, “Nyai Roro Kidul adalah kreasi Jawa yang gemilang untuk mempertahankan kepentingan Raja-Raja Pribumi Jawa.”

Bagaimana cara agar manusia tunduk pada manusia lain, yang jelas sama-sama manusia? Bagi orang zaman dulu, caranya mudah. Cukup ciptakan mitos, dan bangun “kepercayaan tertentu” yang memungkinkan seorang manusia jadi “tampak seperti bukan manusia umumnya”.

Di kalangan masyarakat terbelakang (di zaman dulu maupun sekarang), cara semacam itu benar-benar efektif, dan memungkinkan siapa pun untuk memerintah manusia lain, karena seolah-olah dia memiliki privilese (keistimewaan) yang tidak dimiliki manusia umumnya.

Kaisar Jepang, juga para kaisar lain di zaman dulu, membangun mitos tentang diri mereka yang—konon katanya—keturunan dewa, dilahirkan oleh matahari, atau hal-hal gaib lain, dan dengan cara itulah mereka menghasilkan ketundukan bahkan penyembahan dari rakyatnya.

Hal serupa terjadi di Eropa, saat masih berada di zaman kegelapan. Para bangsawan Eropa mengklaim diri mereka keturunan dewa, dan dengan mitos itu mereka berharap para kawula menundukkan kepala untuk patuh dan hormat serta menuruti apa pun yang diperintahkan.

Sementara di Indonesia, beberapa raja mengklaim memiliki hubungan dengan makhluk gaib yang dihormati sebagai “penguasai laut selatan”. Intinya sama—menciptakan privilese, yang sebenarnya tidak ada, agar tampak “seperti bukan manusia umumnya”.

Bahkan di zaman sekarang pun, cara semacam itu masih digunakan. Kim Jong Un di Korea Utara mengklaim dia—dan leluhurnya—keturunan dewa, dan rakyat Korut patuh serta takut padanya. Kenapa ia berhasil? Karena rakyat Korut terbelakang, dan terus dikondisikan untuk tetap terbelakang.

Mitos-mitos gaib semacam itu tidak hanya ampuh untuk menempatkan diri di “tempat yang tinggi”, tapi juga ampuh untuk mengendalikan orang-orang terbelakang. Di China, misalnya, ada mitos populer bahwa orang yang mati karena kecelakaan atau dibunuh akan bangkit pada hari ketujuh untuk balas dendam.

Peneliti modern yakin bahwa cerita itu dibuat oleh penguasa untuk mencegah terjadinya pembunuhan. Motivasinya memang bagus, tapi hanya relevan saat diterapkan pada masyarakat yang masih terbelakang, yang masih sangat percaya pada takhayul dan hal-hal mistis.

Sementara di Jepang, ada mitos hantu berbentuk rubah. Jika orang makan terlalu banyak atau memuja penampilan mereka—kata mitos itu—artinya mereka kerasukan rubah. Itu sebenarnya upaya pemimpin religius zaman dulu untuk mendorong orang-orang agar tidak materialistis. Mungkin terdengar meyakinkan ketika hal semacam itu diajarkan di zaman kuno, tapi bisa membuat orang tertawa kalau dikatakan di zaman sekarang.

Fazlur Rahman, mengutip Polybius, menulis, “... orang-orang awam adalah orang yang tidak punya pikiran, dan penuh dorongan-dorongan yang bertentangan dengan hukum; seperti rasa marah yang tak rasional dan kecenderungan-kecenderungan yang agresif. Tidak ada satu pun yang dapat mengendalikan mereka, kecuali rasa takut terhadap yang gaib.”

Sepertinya memang begitu.

Rabu, 01 Juli 2026

Hidup Memang Drama

Tadi pagi menemani seorang teman menangis kehilangan ibunya. Sekarang bersiap ke resepsi perkawinan, untuk ikut bahagia. Hidup memang drama.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Januari 2012.

Senin, 29 Juni 2026

Hidup Tanpa Masalah

Mengharapkan hidup tanpa masalah sepertinya sangat sulit. Karena ketika hidup mulai terasa mudah, kita pun sibuk mencari masalah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Februari 2012.

Senin, 01 Juni 2026

Peace With Himself

A man cannot possibly be at peace with others until he has learned to be at peace with himself.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 April 2012.

Menyadari

Sophie, robot humanoid, ditanya seseorang di forum PBB, “Apakah kau menyadari kalau kau sebuah robot?”

Sophie menjawab dengan balik bertanya, “Apakah kau menyadari kau seorang manusia?”

Tanya jawab itu membuatku berpikir lama. Sangat lama.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Februari 2018.

Minggu, 31 Mei 2026

Akar

Tunjukkan padaku pohon tanpa akar, dan akan kukatakan kepadamu itulah keajaiban. Atau kemustahilan. Segalanya bermula dari akar.

Kadang-kadang akar tumbuh tanpa benih, meski tidak setiap benih pasti bertumbuh. Apa pun, aku percaya semua pohon ditunjang akar.

Yang merisaukan, kita menebang pohon yang mengganggu dan melupakan akarnya. Lalu akar kembali menumbuhkan pohon sama, dan cerita berulang.

Kita tak akan bisa melenyapkan apa pun, tanpa menghilangkan akarnya, Seperti kanker yang berkecambah, semuanya berasal dari sel akar kecil.

Dan sekarang aku berpikir, jangan-jangan kita semua juga terjebak dan terperangkap dalam sesuatu yang telah ditumbuhkan akar kita...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Mengapa Kita

Jika Tuhan menginginkan kita menjadi diri sendiri, mengapa kita harus mati-matian menentang-Nya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Agustus 2012.

Jumat, 01 Mei 2026

Lahir dan Mati

Lahir dan mati adalah kepastian yang tak perlu dirisaukan. Karena yang merisaukan, sering kali, adalah waktu-waktu di antaranya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Maret 2012.

Pertempuran Besar

Pertempuran besar selalu terjadi setiap hari di relung-relung keheningan kita. Perang antara kita dan sesuatu yang menyerupai kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Kamis, 30 April 2026

Keahlian Manusia yang Tak Berguna

Salah satu keahlian manusia memang ngadem-ngademi diri sendiri.

Sayangnya, aku kesulitan mempelajari kemampuan itu. Mungkin karena terlalu realistis, atau mungkin pula karena (sebagian besar) hidupku begitu pahit.

Well, aku perlu mengatakan bahwa dulu aku juga pernah berusaha ngadem-ngademi diri sendiri untuk banyak hal yang kualami. Tapi belakangan aku menyadari, itu seperti membohongi diri sendiri.

Aku pernah ngadem-ngademi diri sendiri dengan mengatakan bahwa kemiskinan adalah karunia yang melecutku agar bekerja keras. Belakangan aku menyadari bahwa—meski mungkin memang karunia—kemiskinan mengandung lebih banyak kutukan mengerikan. Setidaknya, itu yang kualami

Aku juga pernah ngadem-ngademi diri sendiri dengan mengatakan bahwa uang tidak menjamin bahagia, bahwa uang tidak dibawa mati, dan lain-lain. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa sebagian besar hidup kita ditopang oleh uang, dan aku tahu pasti bagaimana tersiksanya tanpa uang.

Belakangan, aku juga menyadari bahwa ngadem-ngademi diri sendiri tidak membawaku beranjak ke mana-mana, selain hanya membohongi diri sendiri yang bercampur mengasihani diri sendiri. Jadi, aku berkata pada diri sendiri, "Mari berhenti memainkan kebohongan konyol ini!"

Selama aku meyakini bahwa kemiskinan adalah karunia, aku tidak akan pernah keluar dari kemiskinan—wong itu karunia, kok. Dan aku tersadar bahwa menganggapnya karunia berarti aku menerima. Menerima berarti mendapatkan. Mendapatkan berarti memiliki. Karena memiliki, ia melekat.

Begitu pun kalau aku meyakini (ngadem-ngademi diri sendiri) dengan mengatakan "uang tidak menjamin bahagia" atau semacamnya, itu sama seperti menolak kemungkinan mendapatkan uang—wong tidak menjamin bahagia, kok. Ngapain dicari dan didapatkan?

Mungkin ini akan terdengar seperti kalimat motivasional yang mengawang-awang. Tapi aku meyakini bahwa siapa dirimu pertama-tama dibangun di dalam pikiranmu. 

Manusia adalah apa yang terbesar di dalam pikirannya. Bagaimana ia menatap hidup dan dirinya, (akan) seperti itulah dia.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 April 2019.

 
;