Banyak warung makan, khususnya warung-warung langganan saya, yang tutup di hari-hari besar. Seperti pas Tahun Baru kemarin.
Pada siang hari, 1 Januari 2026, saya keluar rumah untuk cari makan. Tapi warung-warung yang saya kunjungi tutup semua. Yang jadi masalah, perut lapar tidak kenal hari libur atau hari besar. Jadi saya pun kemudian berkendara perlahan-lahan, mencari warung makan yang buka.
Sepanjang perjalanan, saya sempat menemukan beberapa warung yang buka, dari warung nasi sampai warung bakso. Tapi semua warung itu tampak ramai dan penuh. Kalau saya berhenti, saya pasti harus antre, dan saya juga tidak nyaman kalau makan sambil berdesak-desakan. Jadi saya terus melaju perlahan, mencari warung makan yang relatif sepi, sekalian jalan-jalan mumpung Tahun Baru.
Tanpa terasa, perjalanan saya tiba di Kota Batang. Saya memutari alun-alun yang ramai, lalu masuk ke jalan raya yang relatif sepi. Saat melaju di jalan itulah, saya akhirnya menemukan warung makan yang tidak terlalu ramai.
Saya pun berhenti, lalu masuk, dan memesan makanan.
Usai makan, saya meminum teh di gelas, lalu mengeluarkan bungkus rokok. Tapi baru mau nyulut udud, serombongan orang—sepertinya keluarga yang lagi liburan—masuk warung, dan tentu butuh tempat duduk. Jadi saya pun bangkit, membayar makanan, kemudian keluar dari warung.
Di depan warung, di seberang jalan, ada tempat duduk panjang yang sepertinya sengaja dibuat di sana untuk bersantai. Tempat duduk itu berdampingan dengan pohon cukup besar, hingga tampak adem. Sebenarnya, cuaca siang itu juga adem. Saya pun menyeberang jalan, lalu duduk di sana, dan mulai menyulut udud. Jalan raya di depan saya waktu itu sepi, dan saya pun duduk santai sambil menikmati udud.
Batang bukan kota saya, tapi saya cukup akrab dengan kota ini. Cinta pertama saya dulu, tinggal di sini.
Angan saya lalu terbang ke masa bertahun lalu, ketika masih SMA, dan sering dolan ke Batang. Bukan untuk menemui pacar, tapi sekadar ingin melihat genteng rumahnya. Waktu itu saya hanya “jatuh cinta diam-diam”, dan bagi saya—bertahun lalu—itu sudah cukup. Cinta pertama bagi pria, konon, cinta sejati. Meski sering kali tak pernah jadi cinta abadi.
Saya mengisap udud, dan tersenyum sendiri membayangkan masa-masa itu.
Yaris putih lewat, dan membunyikan klakson ringan, tanda menyapa. Saya melambaikan tangan, dan segera tahu siapa pemiliknya. Yaris TRD itu milik Tyo, seorang teman yang tinggal di Batang.
Mobil itu terus melaju.
Saya kembali menikmati udud.
Beberapa menit kemudian Tyo kembali muncul, kali ini menaiki motor.
“Aku barusan ngantar nyokap ke rumah famili,” ujar Tyo. “Pas pulang lewat sini, aku kaget lihat kamu lagi duduk santai, kayak di depan rumah sendiri.”
Saya tertawa.
Tyo duduk di samping saya, lalu menyulut rokok. “Lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian.
“Barusan makan,” saya menjawab. “Karena warung ramai, akhirnya aku duduk di sini buat udud.”
Tyo tertawa kecil, lalu berujar, “Aku kadang membayangkan hidupmu begitu damai. Ke mana-mana sendirian, bisa duduk santai di mana pun, dan kayak nggak merisaukan apa pun. Jujur ya, kamu tuh sebenarnya butuh orang lain apa nggak?”
“Nggak.”
Tyo ngakak.
Saya mengatakan, “Maksudku, aku nggak membutuhkan orang lain untuk hal-hal yang bisa kulakukan sendiri. Kayak sekarang, misalnya. Aku tadi keluar rumah buat cari makan, dan akhirnya sampai di sini. Sama sekali nggak masalah kalau sendirian, wong cuma mau makan. Kalau kemudian ketemu kamu di sini, ya aku senang.”
“Kalau misal aku tadi nggak lihat kamu, dan aku nggak ke sini, berarti kamu akan tetap sendirian di sini. Apa yang akan kamu lakukan?”
“Mungkin aku akan tetap duduk di sini, sambil menikmati udud, kemudian pulang kalau merasa udah cukup.”
“Nggak ada pikiran buat mampir ke tempatku?” tanya Tyo sambil mengingatkan kalau rumahnya dekat dengan tempat kami duduk saat itu.
“Takut mengganggu,” jawab saya jujur.
Tyo mengisap rokoknya beberapa saat, kemudian berkata, “Selama mengenalmu, aku sering mendengarmu ngomong gitu—‘takut mengganggu’. Sekarang aku jadi penasaran...”
Tyo seperti tidak yakin bagaimana melanjutkan kalimatnya, jadi saya lalu menjelaskan, “Aku merasa nggak nyaman kalau datang ke rumah seseorang secara tiba-tiba. Alasannya ya itu tadi, takut mengganggu. Apalagi ini tahun baru, siapa tahu kamu ada acara sama keluargamu, dan aku nggak ingin tiba-tiba datang lalu merusak acaramu.”
“Omong-omong soal tahun baru,” ujar Tyo, “apa acaramu tadi malam?”
“Cuma di rumah, nonton Netflix.”
“Nggak menikmati malam tahun baru di luar?”
“Malas,” saya menjawab. “Mungkin karena faktor usia, ya. Dulu, waktu masih belia, rasanya senang malam tahun baruan di luar, berdesak-desakan sama banyak orang, nonton konser, atau apalah. Tapi makin ke sini, rasanya kayak makin malas.”
“Sama, kalau gitu. Dulu, tiap malam tahun baru, aku juga selalu keluar, bareng teman-teman. Biasanya nonton konser. Pulangnya bakar jagung sampai pagi. Tapi makin tambah umur, aku juga makin malas. Sekarang, malam tahun baru atau malam apapun kayak biasa-biasa aja.”
Kami pun lalu bercakap-cakap santai soal tahun baru, tentang perubahan yang terjadi pada kebiasaan hidup kami seiring bertambahnya usia, juga pergeseran cara pandang atau cara berpikir setelah beranjak dari masa belia ke masa dewasa.
“Balik ke soal tadi,” ujar Tyo kemudian, “soal kamu yang nggak nyaman kalau tiba-tiba datang ke tempat seseorang. Aku sering banget dengar kamu ngomong gitu. Itu gimana asal usulnya?”
Saya lalu bercerita, “Bertahun lalu, keponakanku masih kecil, dan aku sayang banget sama dia. Karena dia tinggal di Semarang, kami pun sangat jarang ketemu, dan itu bikin aku sering kangen. Suatu hari, keponakanku datang ke rumahku, bersama ibunya (adik perempuanku), dan aku pun segera asyik bermain-main dengan keponakanku seperti biasa. Tapi baru beberapa menit, ada dua teman datang—mereka datang tiba-tiba, tanpa pemberitahuan sebelumnya—dan aku pun mau nggak mau harus menerima mereka dengan baik. Karena kedatangan dua teman itu, adikku lalu pamit, dan artinya aku harus berpisah dengan keponakanku, padahal kami baru bertemu beberapa menit. Waktu itu, aku menemani dua teman yang datang dengan baik, tapi diam-diam menyayangkan kenapa mereka nggak memberi tahu terlebih dulu kalau mau datang. Andai mereka ngasih tahu terlebih dulu, aku bisa mengatur waktunya, agar nggak bersamaan dengan kedatangan keponakanku. Sejujurnya, waktu itu aku merasa gelo (menyayangkan) karena hanya bisa ketemu keponakanku beberapa menit, padahal kami udah lama sekali nggak ketemu.”
Saya mengisap rokok, kemudian melanjutkan, “Di lain waktu, aku lagi di rumah ortu. Tiba-tiba, ada teman nilpon, dan ngasih tahu kalau dia udah di depan rumahku. Teman ini datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu, padahal tempat tinggalnya sangat jauh dari rumahku. Karena tahu dia udah menempuh perjalanan jauh, aku pun terpaksa pulang dari rumah ortu, untuk menemui teman yang datang tadi. Untungnya, waktu itu aku lagi di rumah ortu. Bayangkan kalau aku lagi di luar kota, misalnya. Kan, sama-sama gelo. Dia gelo karena aku ternyata nggak di rumah, aku juga gelo karena nggak bisa menemuinya padahal dia udah datang dari jauh.”
Tyo manggut-manggut. “Aku mulai paham sekarang. Ada contoh lain?”
Saya mengangguk. “Sering, aku lagi mengerjakan sesuatu di rumah, dan pekerjaan itu sangat rumit, hingga aku harus benar-benar konsentrasi. Tiba-tiba, ada tamu datang mengetuk pintu. Itu bikin aku serbasalah. Kalau aku menerima tamu yang datang itu, konsentrasiku akan buyar, dan akibatnya harus memulai pekerjaanku lagi dari awal. Sementara kalau aku tetap fokus pada sesuatu yang lagi kukerjakan, aku nggak enak sama tamu yang datang. Dan hal kayak gitu bisa dibilang sering terjadi, hingga lama-lama aku merasa terganggu.”
Saya mengisap rokok yang kian pendek, lalu meneruskan, “Karena hal-hal semacam itulah, aku lalu bilang ke teman-teman, agar ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang, agar aku bisa mempersiapkan diri. Sebaliknya, aku juga mewajibkan diri sendiri agar ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang ke rumah siapa pun. Beberapa kali aku datang ke rumahmu, dan aku selalu ngasih tahu lewat WhatsApp, kan?”
Tyo mengangguk.
Saya menjentikkan puntung rokok ke tempat sampah, lalu berkata, “Hal kayak gitu—ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang—mungkin terkesan sepele, tapi bisa sangat besar artinya bagi orang yang kita datangi, sekaligus menghindarkan kita dari kemungkinan mengganggu orang yang kita datangi. Karena itulah, aku nggak akan tiba-tiba datang ke tempatmu, meski rumahmu cukup dekat dari sini, karena kedatanganku bisa aja mengganggumu.”
Tyo mengisap rokoknya, lalu berujar, “Orang-orang mungkin mengira kamu selalu selo, karena kamu belum menikah, dan tinggal sendirian di rumah. Jadi teman-teman mungkin menganggap kamu bisa didatangi kapan aja.”
“Itu ironisnya,” saya tertawa. “Sampai sekarang aku nggak menikah justru karena nggak ingin terganggu siapa pun, termasuk oleh pasanganku sendiri. Jadi kalau orang-orang menganggap aku selo karena belum menikah, itu justru salah! Kalau aku memang benar-benar selo, aku pasti udah nikah sekarang!”
Tyo menggut-manggut. “Sekarang aku paham arti ‘takut mengganggu’ yang sering kamu bilang itu.”
Saya meletakkan rokok baru di mulut, dan menyulutnya.
Sebuah mobil melaju di depan kami, lalu tiba-tiba berhenti. Sesaat kemudian, mobil itu mundur perlahan-lahan ke arah tempat kami duduk.
Tyo berkata, memberi tahu saya, “Arta.”
Arta muncul dari dalam mobil, lalu tersenyum lebar sambil melangkah ke arah kami. “Asli nggak nyangka lihat kalian nyangkruk di sini!” ujarnya. “Aku boleh gabung, kan?”
Arta lalu duduk di samping kami, dan mulai menyulut udud. Obrolan pun langsung mengalir.
Tahun Baru yang menyenangkan.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact