Selasa, 30 Juni 2026

Nasihat Perkawinan

Perkawinan adalah hal biasa, karena dilakukan miliaran orang di dunia. Karenanya, tidak usah menganggap kamu lebih tinggi atau lebih mulia dari orang yang tidak/belum menikah. Sekali lagi, perkawinan adalah hal biasa, itu sesuatu yang dilakukan oleh hampir semua manusia. Menjadi istimewa, karena kamu—dan masyarakatmu—menganggapnya istimewa.

Dan tak perlu buru-buru memuji pasanganmu setinggi langit, karena pasanganmu juga manusia biasa—sama sepertimu, sama seperti pasangan orang-orang lainnya. Lebih dari itu, tak perlu buru-buru memuji pasanganmu kalau kamu baru menikah tiga hari dengannya. Tunggu sampai kamu bersamanya tiga tahun, atau tiga puluh tahun, dan ucapkan pujianmu di depan pasanganmu—bukan di depan orang lain. 

Orang yang berhak mendengar pujianmu terhadap pasanganmu bukan tetanggamu, bukan teman-temanmu, bahkan bukan orang tuamu, tapi pasanganmu sendiri. Jika dia baik, dialah yang paling berhak mendengar pujian darimu. Jadi sampaikan pujianmu kepadanya, dan tidak usah pamer di depan orang lain, karena orang lain juga memiliki pasangannya sendiri.

Salah satu kebiasaan buruk adalah hobi memuji pasangan di depan orang lain, tapi suka bermuka masam dan pelit pujian pada pasangannya sendiri. 

Jika perkawinanmu bahagia, nikmatilah bersama pasanganmu, bersama keluarga dan anak-anakmu. Syukurilah hidupmu—tapi tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain. 

Karena, kalau kamu memamerkan kebahagiaanmu kepada orang lain yang kebetulan menderita, upaya pamermu akan menyakiti perasaannya. Kalau kamu pamer kebahagiaanmu kepada orang lain yang juga bahagia, kalian hanya akan terjebak dalam perlombaan ujub dan riya. Tidak ada gunanya—sungguh tak ada gunanya.

Sebaliknya, jika perkawinanmu sengsara, benahilah bersama pasanganmu, bersama keluargamu. Pelajari kekeliruanmu, dan—sekali lagi—tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain. Perkawinanmu adalah milikmu. 

Doktrin yang Menipu

Ada seorang pria dan seorang wanita yang hidup sendiri-sendiri, dan mereka bisa menikmati kehidupan dengan baik, tanpa kekurangan.

Lalu keduanya bertemu dan menikah. Setelah itu, kehidupan jadi terasa sangat berat dan serba kekurangan.

Diam-diam, realitas itu ada di mana-mana.

Si A punya penghasilan sendiri, begitu pula Si B. Mereka berpikir bisa menggabungkan penghasilan jika menikah, sehingga hidup akan berkecukupan.

Anehnya, begitu pernikahan terjadi, hidup terasa sempit. Penghasilan yang dikira cukup ternyata tak pernah cukup dan terus kurang.

Banyak temanku mengalami kenyataan ini. Sebagian mereka mengaku terang-terangan, sebagian lain sambil malu-malu. Yang jelas, mereka sama-sama menghadapi kenyataan serupa.

Dalam pikiranku, kenyataan aneh itu sebenarnya logis. Saat masih lajang, masing-masing orang hanya mencukupi kebutuhan pribadi. Ketika menikah, mereka punya anak, dan kebutuhan jelas bertambah. Jatah untuk dua orang sekarang harus dibagi lebih banyak. Hasilnya jelas: Tidak cukup.

Tapi doktrin kadang membutakan mata dan pikiran banyak orang. Meski realitasnya begitu jelas, mereka masih memaksa untuk percaya bahwa "anak punya rezeki sendiri", atau "banyak anak banyak rezeki".

Faktanya, banyak pasangan terjerat utang, anak telantar, kelaparan, di mana-mana.

Yang menyedihkan, sering ada orang yang sok mengatakan, "Kalau dipikir-pikir, penghasilanku tidak akan cukup untuk menghidupi keluarga. Tapi ndilalah ada saja rezekinya."

Terdengar familier? Meski mungkin terdengar hebat, aku tahu itu cara orang "ngadem-ngademi" diri sendiri.

Yang paling buruk dari semua ini adalah orang-orang yang hobi ngutang pada yang masih lajang, sambil menyuruh-nyuruh cepat kawin.

"Menikah akan melancarkan rezeki," kata mereka.

Kalau melancarkan rezeki, kenapa kau berutang? Sudah begitu, utangnya gak dibayar-bayar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Maret 2019.

Hukum Psikologi Tertua di Dunia

Antara ingin tertawa campur sedih campur ingin marah, tiap ketemu orang yang merasa lebih tahu kehidupan orang lain, lalu menyuruh-nyuruh orang lain agar melakukan sesuatu, karena menurutnya itu hal baik. Misalnya... menyuruh orang lain cepat menikah, atau cepat punya anak.

Yang ironis terkait hal ini adalah, orang yang paling rajin mengurusi hidup orang lain (dalam hal ini menyuruh cepat kawin atau cepat punya anak) biasanya justru tidak bisa mengurus hidupnya sendiri, dan menjalani kehidupan tidak bahagia, campur keblangsak dan menyedihkan.

Kalau ada teman atau tetanggamu yang doyan menyuruh-nyuruhmu cepat menikah, cobalah perhatikan. Aku berani betaruh, dia menjalani perkawinan yang tidak bahagia, yang membuatnya tertekan. Dan mereka yang menyuruh-nyuruhmu cepat punya anak biasanya juga menjalani hidup keblangsak.

Manusia, siapa pun dia, tidak bisa—dan tidak akan bisa—melanggar hukum psikologi tertua di dunia: Orang yang bahagia dengan hidupnya tidak punya keinginan ngerusuhi (sok mengurus) hidup orang lain. Kalau kau bahagia, kau akan nyaman dengan diri sendiri, dan tak peduli orang lain.

Ini bukan doktrin omong kosong, tapi kebenaran yang bisa dibuktikan kapan pun, di mana pun, pada siapa pun. Setiap kali kau menemukan orang yang ngerusuhi hidupmu dan merasa lebih tahu tentang hidupmu, kau bisa yakin dia orang menyedihkan, yang menjalani hidup tanpa kedamaian.

Orang yang bahagia dalam hidupnya tentu punya kepedulian pada orang lain—perhatikan, "kepedulian"—bukan ngerusuhi hidup orang lain. Orang yang bahagia bahkan punya kepedulian tinggi pada orang lain. Mereka peduli, bukan ngerusuhi kehidupan orang lain. Kau tentu tahu perbedaannya.

Jika ingin mendalami lebih lanjut ocehan ini, silakan baca catatan berikut:

Kebahagiaan Tak Butuh Pengakuan » https://bit.ly/2XYFF1c 

Tipuan Paling Tolol » https://bit.ly/2TIfmxQ 

Pernikahan itu baik. Yang buruk adalah orang yang suka menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Maret 2019.

Halusinasi

Halusinasi melihat makhluk halus memang bisa disembuhkan. Yang sulit disembuhkan adalah halusinasi melihat pernikahan sebagai solusi untuk semua masalah, padahal justru menjadi penyebab banyak masalah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Maret 2019.

Keindahan

Keindahan adalah kepak sayap kupu-kupu. Kau bisa memandanginya, tetapi ia tak bisa disentuh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Kurang Tersenyum

Tiap melihat Edward Norton, rasanya seperti melihat diri sendiri. Mungkin aku memang kurang tersenyum akhir-akhir ini.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Kelopak Mawar

Sekuntum mawar mengambang di atas air. Setumpuk harapan bermain di tangan takdir. Kelopak mawar adalah harapan tanpa akhir.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Malaikat Tak Kita Kenal

Ada banyak iblis bertopeng malaikat, dan ada malaikat-malaikat yang tak pernah kita kenal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Raos

Oh... raos.

Tak Perlu Resah

Kalau kita tidak bersalah, tapi kemudian ada yang marah-marah, jelas orang itu yang bermasalah. Tak perlu resah!


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 13 Juli 2012.

Ingin Bersulang

Dua tahun lalu, pada 27 Mei 2017, aku mengatakan di sini bahwa dia sangat pintar. Orang-orang mencibir dan menertawakanku, tapi sekarang terbukti kalau dia memang benar-benar pintar.

Aku ingin bersulang untuk diriku sendiri!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 September 2019.

Lupakan!

Apa yang lebih lucu di dunia ini selain... ah, lupakan!


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 13 Juli 2012.

Senin, 29 Juni 2026

Saat Tergelap dalam Hidup

Kamu itu ga sendiri, cari teman untuk bicara, kalo bisa tenaga berpresional. untuk suicide survivor, terima kasih untuk tidak pernah menyerah —@hati2dimedsos, 28 Januari 2019.


Orang-orang yang menghadapi kemalangan, kesepian, dan kebingungan—yang belakangan memutuskan bunuh diri—kerap dinasihati agar mencari teman bicara. Nasihat itu baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, bagi orang bersangkutan, “mencari teman bicara” sering nyaris mustahil.

Saat kita menemui seseorang—teman, atau siapa pun—dan berharap dia mau mendengarkan kita, belum tentu harapan itu terwujud. Bisa jadi, orang yang kita harap mau mendengarkan justru berceramah, menghakimi, atau menggampangkan beban pikiran kita, atau mendengarkan tapi tak peduli.

Saran agar menemui profesional juga saran yang baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, tidak semua orang—khususnya yang bertendensi bunuh diri—tahu hal itu. Kalau pun tahu, belum tentu dia punya biaya. Kalau pun tahu dan punya biaya, belum tentu dia mau melakukannya.

Sebenarnya, yang paling diinginkan seseorang yang sedang menghadapi “kegelapan hidup” adalah seseorang—kalau bisa yang ia kenal dan percaya—yang benar-benar mau mendengarkan dan menunjukkan kepedulian. Tetapi, demi Tuhan, menemukan orang semacam itu sulitnya luar biasa.

Ada jutaan orang yang tahu cara menasihati, tapi sulit menemukan satu saja yang benar-benar peduli. Ada jutaan orang yang siap menjadi temanmu saat kau tertawa, tapi sulit menemukan satu saja yang menemanimu saat menangis. Terdengar muram, memang. Tapi itulah kenyataannya.

Ada banyak orang yang mendekat dan siap menjadi temanmu saat kau mendapat kesenangan dan bergelimang uang, tapi banyak pula yang menjauh dan berpaling darimu saat kau menghadapi masalah dan butuh pertolongan. Terdengar suram, memang. Tapi itu realitas di sekitar kita.

Aku pernah menghadapi saat-saat tergelap dalam hidup, dan akhirnya menyadari sesuatu yang benar-benar pahit: Tidak ada siapa pun yang bisa kuandalkan di dunia ini, selain diri sendiri. Mungkin terdengar angkuh. Tapi untung aku berpikir seperti itu, bukan malah menenggak arsenik.

Kepedulian dan kemampuan mendengarkan itu mudah dikatakan, tapi sulit ditemukan—khususnya oleh orang yang benar-benar membutuhkannya. Itulah kenapa, sejujurnya, aku tidak heran dengan orang bunuh diri, karena aku benar-benar memahami yang dirasakannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

Merasa Bermimpi

Aku bertanya, "Kapan terakhir kali kau tidur?" | Dia menyahut, "Kapan terakhir kali kau terjaga?" | Tiba-tiba aku merasa bermimpi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Agustus 2012.

Masalah Kita

Masalah kita, Ma'am, kita tak punya masalah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Februari 2012.

Hidup Tanpa Masalah

Mengharapkan hidup tanpa masalah sepertinya sangat sulit. Karena ketika hidup mulai terasa mudah, kita pun sibuk mencari masalah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Februari 2012.

Masalah Masing-masing

Setiap orang menghadapi masalah. Yang membedakan adalah cara menghadapinya. Kehidupan adalah masalah masing-masing.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Februari 2012.

Cara Berpikir SDM Rendah

"Orang paling keparat, dia tuh." | "Heh? Kok kamu bisa berpikir kayak gitu?" | "Ya emang gitu sih. Gak tau kenapa, pokoknya dia keparat."

"Dia tuh bangsat!" | "Dari mana kamu bisa menyimpulkan dia bangsat?" | "Ada yang bilang begitu. Jadi aku percaya dia bangsat!"

"Dia itu bajingan!" | "Apa buktinya kalau dia bajingan?" | "Aku tidak punya bukti apa-apa, tapi katanya dia bajingan, jadi dia bajingan!"

"Dia brengsek, kau tahu." | "Kenapa kau menganggapnya brengsek?" | "Ya karena dia brengsek. Aku tak tahu kenapa, pokoknya dia brengsek!"

"Kupikir dia bersalah," katanya. | "Kenapa kaupikir dia bersalah?" | "Tidak tahu. Pokoknya kupikir dia bersalah, jadi dia bersalah."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Pacarmu bukan Pacarmu

"Anakmu bukan anakmu," kata Kahlil Gibran. Mungkin pula, pacarmu bukan pacarmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Efek Stres

Lelah, padahal seharian gak ngapa-ngapain. Efek stres memang luar biasa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Maret 2019.

Nonton Film

Si cewek bertanya pada pacarnya, "Kenapa ya, cowok-cowok dalam film itu bisa manis sekali?" | "Karena mereka dibayar," sahut si pacar.

Sambil nonton film, si cowok berkata pada pacarnya, "Indah sekali cinta mereka." | "Tentu saja," jawab si pacar. "Honor mereka juga mahal."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Agustus 2012.

Selamat Hari Minggu, Minggu

Selamat hari Minggu, Minggu. Air mata mengering di balik topengmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 14 Juli 2012.

Sweet Dream

Wet dream dan sweet dream tuh ternyata beda jauh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Disuruh Nggasruh

Disuruh kok nggasruh.

Senin, 01 Juni 2026

Catatan dari Tahun Baru

Banyak warung makan, khususnya warung-warung langganan saya, yang tutup di hari-hari besar. Seperti pas Tahun Baru kemarin.

Pada siang hari, 1 Januari 2026, saya keluar rumah untuk cari makan. Tapi warung-warung yang saya kunjungi tutup semua. Yang jadi masalah, perut lapar tidak kenal hari libur atau hari besar. Jadi saya pun kemudian berkendara perlahan-lahan, mencari warung makan yang buka.

Sepanjang perjalanan, saya sempat menemukan beberapa warung yang buka, dari warung nasi sampai warung bakso. Tapi semua warung itu tampak ramai dan penuh. Kalau saya berhenti, saya pasti harus antre, dan saya juga tidak nyaman kalau makan sambil berdesak-desakan. Jadi saya terus melaju perlahan, mencari warung makan yang relatif sepi, sekalian jalan-jalan mumpung Tahun Baru.

Tanpa terasa, perjalanan saya tiba di Kota Batang. Saya memutari alun-alun yang ramai, lalu masuk ke jalan raya yang relatif sepi. Saat melaju di jalan itulah, saya akhirnya menemukan warung makan yang tidak terlalu ramai. 

Saya pun berhenti, lalu masuk, dan memesan makanan.

Usai makan, saya meminum teh di gelas, lalu mengeluarkan bungkus rokok. Tapi baru mau nyulut udud, serombongan orang—sepertinya keluarga yang lagi liburan—masuk warung, dan tentu butuh tempat duduk. Jadi saya pun bangkit, membayar makanan, kemudian keluar dari warung. 

Di depan warung, di seberang jalan, ada tempat duduk panjang yang sepertinya sengaja dibuat di sana untuk bersantai. Tempat duduk itu berdampingan dengan pohon cukup besar, hingga tampak adem. Sebenarnya, cuaca siang itu juga adem. Saya pun menyeberang jalan, lalu duduk di sana, dan mulai menyulut udud. Jalan raya di depan saya waktu itu sepi, dan saya pun duduk santai sambil menikmati udud.

Batang bukan kota saya, tapi saya cukup akrab dengan kota ini. Cinta pertama saya dulu, tinggal di sini. 

Angan saya lalu terbang ke masa bertahun lalu, ketika masih SMA, dan sering dolan ke Batang. Bukan untuk menemui pacar, tapi sekadar ingin melihat genteng rumahnya. Waktu itu saya hanya “jatuh cinta diam-diam”, dan bagi saya—bertahun lalu—itu sudah cukup. Cinta pertama bagi pria, konon, cinta sejati. Meski sering kali tak pernah jadi cinta abadi. 

Saya mengisap udud, dan tersenyum sendiri membayangkan masa-masa itu. 

Yaris putih lewat, dan membunyikan klakson ringan, tanda menyapa. Saya melambaikan tangan, dan segera tahu siapa pemiliknya. Yaris TRD itu milik Tyo, seorang teman yang tinggal di Batang. 

Mobil itu terus melaju.

Saya kembali menikmati udud. 

Beberapa menit kemudian Tyo kembali muncul, kali ini menaiki motor.

“Aku barusan ngantar nyokap ke rumah famili,” ujar Tyo. “Pas pulang lewat sini, aku kaget lihat kamu lagi duduk santai, kayak di depan rumah sendiri.”

Saya tertawa. 

Tyo duduk di samping saya, lalu menyulut rokok. “Lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian.

“Barusan makan,” saya menjawab. “Karena warung ramai, akhirnya aku duduk di sini buat udud.”

Tyo tertawa kecil, lalu berujar, “Aku kadang membayangkan hidupmu begitu damai. Ke mana-mana sendirian, bisa duduk santai di mana pun, dan kayak nggak merisaukan apa pun. Jujur ya, kamu tuh sebenarnya butuh orang lain apa nggak?”

“Nggak.”

Tyo ngakak. 

Saya mengatakan, “Maksudku, aku nggak membutuhkan orang lain untuk hal-hal yang bisa kulakukan sendiri. Kayak sekarang, misalnya. Aku tadi keluar rumah buat cari makan, dan akhirnya sampai di sini. Sama sekali nggak masalah kalau sendirian, wong cuma mau makan. Kalau kemudian ketemu kamu di sini, ya aku senang.”

“Kalau misal aku tadi nggak lihat kamu, dan aku nggak ke sini, berarti kamu akan tetap sendirian di sini. Apa yang akan kamu lakukan?”

“Mungkin aku akan tetap duduk di sini, sambil menikmati udud, kemudian pulang kalau merasa udah cukup.”

“Nggak ada pikiran buat mampir ke tempatku?” tanya Tyo sambil mengingatkan kalau rumahnya dekat dengan tempat kami duduk saat itu.

“Takut mengganggu,” jawab saya jujur. 

Tyo mengisap rokoknya beberapa saat, kemudian berkata, “Selama mengenalmu, aku sering mendengarmu ngomong gitu—‘takut mengganggu’. Sekarang aku jadi penasaran...”

Tyo seperti tidak yakin bagaimana melanjutkan kalimatnya, jadi saya lalu menjelaskan, “Aku merasa nggak nyaman kalau datang ke rumah seseorang secara tiba-tiba. Alasannya ya itu tadi, takut mengganggu. Apalagi ini tahun baru, siapa tahu kamu ada acara sama keluargamu, dan aku nggak ingin tiba-tiba datang lalu merusak acaramu.”

“Omong-omong soal tahun baru,” ujar Tyo, “apa acaramu tadi malam?”

“Cuma di rumah, nonton Netflix.”

“Nggak menikmati malam tahun baru di luar?”

“Malas,” saya menjawab. “Mungkin karena faktor usia, ya. Dulu, waktu masih belia, rasanya senang malam tahun baruan di luar, berdesak-desakan sama banyak orang, nonton konser, atau apalah. Tapi makin ke sini, rasanya kayak makin malas.”

“Sama, kalau gitu. Dulu, tiap malam tahun baru, aku juga selalu keluar, bareng teman-teman. Biasanya nonton konser. Pulangnya bakar jagung sampai pagi. Tapi makin tambah umur, aku juga makin malas. Sekarang, malam tahun baru atau malam apapun kayak biasa-biasa aja.”

Kami pun lalu bercakap-cakap santai soal tahun baru, tentang perubahan yang terjadi pada kebiasaan hidup kami seiring bertambahnya usia, juga pergeseran cara pandang atau cara berpikir setelah beranjak dari masa belia ke masa dewasa.

“Balik ke soal tadi,” ujar Tyo kemudian, “soal kamu yang nggak nyaman kalau tiba-tiba datang ke tempat seseorang. Aku sering banget dengar kamu ngomong gitu. Itu gimana asal usulnya?”

Saya lalu bercerita, “Bertahun lalu, keponakanku masih kecil, dan aku sayang banget sama dia. Karena dia tinggal di Semarang, kami pun sangat jarang ketemu, dan itu bikin aku sering kangen. Suatu hari, keponakanku datang ke rumahku, bersama ibunya (adik perempuanku), dan aku pun segera asyik bermain-main dengan keponakanku seperti biasa. Tapi baru beberapa menit, ada dua teman datang—mereka datang tiba-tiba, tanpa pemberitahuan sebelumnya—dan aku pun mau nggak mau harus menerima mereka dengan baik. Karena kedatangan dua teman itu, adikku lalu pamit, dan artinya aku harus berpisah dengan keponakanku, padahal kami baru bertemu beberapa menit. Waktu itu, aku menemani dua teman yang datang dengan baik, tapi diam-diam menyayangkan kenapa mereka nggak memberi tahu terlebih dulu kalau mau datang. Andai mereka ngasih tahu terlebih dulu, aku bisa mengatur waktunya, agar nggak bersamaan dengan kedatangan keponakanku. Sejujurnya, waktu itu aku merasa gelo (menyayangkan) karena hanya bisa ketemu keponakanku beberapa menit, padahal kami udah lama sekali nggak ketemu.”

Saya mengisap rokok, kemudian melanjutkan, “Di lain waktu, aku lagi di rumah ortu. Tiba-tiba, ada teman nilpon, dan ngasih tahu kalau dia udah di depan rumahku. Teman ini datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu, padahal tempat tinggalnya sangat jauh dari rumahku. Karena tahu dia udah menempuh perjalanan jauh, aku pun terpaksa pulang dari rumah ortu, untuk menemui teman yang datang tadi. Untungnya, waktu itu aku lagi di rumah ortu. Bayangkan kalau aku lagi di luar kota, misalnya. Kan, sama-sama gelo. Dia gelo karena aku ternyata nggak di rumah, aku juga gelo karena nggak bisa menemuinya padahal dia udah datang dari jauh.”

Tyo manggut-manggut. “Aku mulai paham sekarang. Ada contoh lain?”

Saya mengangguk. “Sering, aku lagi mengerjakan sesuatu di rumah, dan pekerjaan itu sangat rumit, hingga aku harus benar-benar konsentrasi. Tiba-tiba, ada tamu datang mengetuk pintu. Itu bikin aku serbasalah. Kalau aku menerima tamu yang datang itu, konsentrasiku akan buyar, dan akibatnya harus memulai pekerjaanku lagi dari awal. Sementara kalau aku tetap fokus pada sesuatu yang lagi kukerjakan, aku nggak enak sama tamu yang datang. Dan hal kayak gitu bisa dibilang sering terjadi, hingga lama-lama aku merasa terganggu.”

Saya mengisap rokok yang kian pendek, lalu meneruskan, “Karena hal-hal semacam itulah, aku lalu bilang ke teman-teman, agar ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang, agar aku bisa mempersiapkan diri. Sebaliknya, aku juga mewajibkan diri sendiri agar ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang ke rumah siapa pun. Beberapa kali aku datang ke rumahmu, dan aku selalu ngasih tahu lewat WhatsApp, kan?”

Tyo mengangguk.

Saya menjentikkan puntung rokok ke tempat sampah, lalu berkata, “Hal kayak gitu—ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang—mungkin terkesan sepele, tapi bisa sangat besar artinya bagi orang yang kita datangi, sekaligus menghindarkan kita dari kemungkinan mengganggu orang yang kita datangi. Karena itulah, aku nggak akan tiba-tiba datang ke tempatmu, meski rumahmu cukup dekat dari sini, karena kedatanganku bisa aja mengganggumu.”

Tyo mengisap rokoknya, lalu berujar, “Orang-orang mungkin mengira kamu selalu selo, karena kamu belum menikah, dan tinggal sendirian di rumah. Jadi teman-teman mungkin menganggap kamu bisa didatangi kapan aja.”

“Itu ironisnya,” saya tertawa. “Sampai sekarang aku nggak menikah justru karena nggak ingin terganggu siapa pun, termasuk oleh pasanganku sendiri. Jadi kalau orang-orang menganggap aku selo karena belum menikah, itu justru salah! Kalau aku memang benar-benar selo, aku udah nikah sekarang!”

Tyo menggut-manggut. “Sekarang aku paham arti ‘takut mengganggu’ yang sering kamu bilang itu.” 

Saya meletakkan rokok baru di mulut, dan menyulutnya.

Sebuah mobil melaju di depan kami, lalu tiba-tiba berhenti. Sesaat kemudian, mobil itu mundur perlahan-lahan ke arah tempat kami duduk.

Tyo berkata, memberi tahu saya, “Arta.”

Arta muncul dari dalam mobil, lalu tersenyum lebar sambil melangkah ke arah kami. “Asli nggak nyangka lihat kalian nyangkruk di sini!” ujarnya. “Aku boleh gabung, kan?” 

Arta lalu duduk di samping kami, dan mulai menyulut udud. Obrolan pun langsung mengalir.

Tahun Baru yang menyenangkan.

Peace With Himself

A man cannot possibly be at peace with others until he has learned to be at peace with himself.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 April 2012.

Lakukan Sesuatu, Kerjakan dengan Baik

Bertahun-tahun lalu, aku menemukan kalimat di buku, yang belakangan tak pernah kulupakan. Kalimat itu berbunyi, “Kalau kamu bekerja dengan baik, sebegitu baik hingga tak ada orang lain yang mampu menyamai, dan kamu tinggal di puncak gunung, orang-orang akan berdatangan kepadamu.”

Kalimat itu tentu filosofis, dan tidak harus diartikan literal. Aku juga lebih suka mengartikannya secara sederhana, bahwa yang penting mengerjakan pekerjaan kita, sebaik kita mampu, setelah itu meyakinkan diri, “Tidak perlu khawatir soal rezeki, karena sudah ada yang mengatur.”

“Tidak perlu khawatir soal rezeki” itu sebenarnya kalimat tawakal. Dan tawakal baru dilakukan setelah mengerjakan sesuatu, mengusahakan dan mengupayakan sesuatu. Kalau tidak melakukan apa-apa tapi pede dan yakin “tidak perlu khawatir soal rezeki”, itu namanya panjang angan-angan.

Jadi kalau ada orang kena PHK, atau pada orang yang tidak melakukan apa-apa, jangan katakan “tidak perlu khawatir soal rezeki” kepadanya. Karena itu sama artinya mengajarkan tuulul amal. Yang dibutuhkan korban PHK dan pengangguran adalah semangat untuk memulai berusaha kembali.

Rezeki baru datang setelah ada usaha dan upaya, bahkan jika upaya kita tampak sangat bodoh di mata manusia. Misalnya jualan bensin eceran di samping SPBU, atau jualan es teh di kala hujan. Karena itu lebih menarik datangnya rezeki, daripada bermalas-malasan sambil mengkhayal.

Lakukan sesuatu, kerjakan sebaik mungkin, sebaik yang kamu bisa. Semakin baik kamu mengerjakannya, semakin sedikit yang mampu menyamai. Setelah itu, bahkan umpama kamu tinggal di puncak gunung, rezeki akan datang kepadamu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Desember 2024.

Terakhir Kali Putus Cinta

Kalo kamu patah hati karena putus cinta… kamu pingin segera jatuh cinta lagi atau nunggu luka reda dulu? —@AdjieSanPutro


Terakhir kali putus cinta, dan itu bertahun-tahun lalu, aku berpikir, “It's enough, saatnya aku fokus mengurus hidupku sendiri.” Dan aku melakukannya sampai sekarang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 November 2024.

Hati dan Logika

Jatuh cinta adalah pertarungan hati dan logika.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Februari 2018.

Film yang Isinya Bajingan Semua

 Crime 101.

....
....

Kecuali Maya.

Karena Maya adalah mbakyu.

Sejak Kapan?

[Konteks: Ocehan ini terkait kasus pembunuhan yang pernah menggemparkan Indonesia, sekian waktu lalu.]

Ingin sekali meminjam optimisme Kurawa, dan berharap “kasus ini akan terungkap seterang-terangnya”. Tetapi, sayang, optimisme saja kadang tidak cukup. Kita akan menghadapi dinding tebal.

Bagaimana melihat dan memahami kasus yang rumit dan tak masuk akal? 

Ada cara yang sederhana. Singkirkan semua narasi, cerita, dan susunan latar yang tak masuk akal... lalu lihat dan perhatikan sisanya. 

Sambil nunggu udud habis...

Sambil nunggu udud habis, aku teringat salah satu film yang dibintangi Bruce Willis, A Good Day to Die Hard. 

John McClane (Bruce Willis) pergi ke Moskow untuk menemui putranya, Jack McClane (Jai Courtney). Mereka lalu bersua tanpa sengaja dalam sebuah petualangan gila.

Jack, sang anak, ternyata telah menjadi agen CIA, dan waktu itu sedang dalam misi penyelamatan seorang ilmuwan di sana. Jack bertemu John, ayahnya, di tengah jalan, ketika sedang kejar-kejaran mobil dengan musuh yang tidak ia pahami. Ayah dan anak itu lalu saling membantu.

Tak jauh beda dengan anaknya, John McClane bekerja sebagai polisi LAPD, tapi telah pensiun. Dan John, dengan segala pengalamannya, lebih matang dalam menghadapi masalah yang mereka hadapi. 

Sampai mereka akhirnya tiba di suatu plot twist yang benar-benar mengejutkan Jack, si anak.

Jack mendapat misi rahasia CIA untuk menyelamatkan seorang pria, dan membawanya keluar dari Rusia, karena diincar para penjahat di sana. Tetapi, ternyata, pria yang ia selamatkan itulah penjahat sesungguhnya. 

Ketika akhirnya menyadari apa yang telah terjadi, Jack ternganga.

Dalam keterkejutan, setelah memahami inti masalah yang dihadapinya, Jack berkata dengan nada tak percaya, “Jadi, semua ini soal uang?” 

Dan ayahnya menjawab, “Sejak kapan semua ini bukan soal uang?”


*) Dikutip dari timeline @noffret, 21 Juli 2022.

Menyadari

Sophie, robot humanoid, ditanya seseorang di forum PBB, “Apakah kau menyadari kalau kau sebuah robot?”

Sophie menjawab dengan balik bertanya, “Apakah kau menyadari kau seorang manusia?”

Tanya jawab itu membuatku berpikir lama. Sangat lama.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Februari 2018.

Malam Tahun Baru

Malam tahun baru, aku tidak ke mana-mana. Tidak menabuh lonceng, tidak meniup terompet, juga tidak membakar kembang api. Aku melakukannya dengan motivasi yang sederhana... karena memang ingin melakukannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Januari 2018.

Note to Self

Menarilah seolah tak ada kehidupan. Hiduplah seolah tak pernah dilahirkan. Lahirkanlah seolah tak ada kematian. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

 
;