Kamis, 01 Oktober 2026

Pertanyaan Sederhana

Ada pertanyaan yang kesannya sederhana, tapi jawabannya tidak sederhana. Misal, “Kamu suka pedas?”

Pertanyaan singkat. Bagi penanya, pertanyaan itu hanya butuh jawaban “ya” atau “tidak”. Bagi yang ditanya, bisa jadi urusannya tidak semudah itu.

Jika saya ditanya “kamu suka pedas?”, saya juga tidak bisa menjawab “ya” atau “tidak”. Saya perlu menjelaskan sesuatu.

Pada dasarnya, saya tidak suka pedas. Kalau makan bakso, saya tidak pakai sambal. Makan mi ayam, tidak pakai sambal. Makan batagor atau siomay, tidak pakai sambal. Makan soto, tidak pakai sambal. Kalau saya masuk warung untuk makan siang, lalu penjualnya menawari pakai sambal, saya akan bilang, “Jangan pakai sambal.” Kalau makan di warung Lamongan, dan ditanya sambalnya pedas atau tidak, saya menjawab, “Sedang saja.” Ukuran “sedang saja” bagi rata-rata warung Lamongan adalah “tidak pedas”.

Contoh-contoh itu sudah cukup membuktikan kalau saya tidak suka pedas, kan? Karena nyatanya saya memang tidak suka pedas. Dan tidak suka pedas itu telah berlangsung sejak saya kecil sampai dewasa sekarang. Bertahun-tahun tidak makan pedas sepertinya cukup meyakinkan untuk mengatakan kalau saya tidak suka pedas.

Tetapi, kalau makan gorengan, saya suka pakai cabai rawit. Dan cabai rawit pedas. Dan saya suka. Rasanya nikmat sekali makan tempe goreng yang masih panas dengan cabai rawit. Kok bisa? Saya tidak tahu. Padahal saya tidak suka pedas.

Saya pernah melakukan eksperimen terkait diri sendiri, untuk tahu secara pasti apakah sebenarnya saya suka pedas atau tidak. Saya berpikir, kalau saya suka makan gorengan dengan cabai rawit, kenapa saya menjauhi pedas ketika menikmati makanan lain?

Suatu waktu, saya makan bakso, dan menambahkan sedikit sambal. Hasilnya? Bagi saya, tidak enak. Saya lebih suka bakso yang tidak pedas daripada bakso yang pedas. Begitu pula saat makan mi ayam. Bagi saya lebih enak tidak pedas. Ketika saya menambahkan sedikit sambal ke mi ayam, rasanya beda. Saya mencoba ke batagor, siomay, soto, dan hasilnya sama. Saya lebih suka makanan-makanan itu tidak pedas daripada pedas.

Sampai di situ, saya merasa bisa menyimpulkan kalau saya tidak suka pedas. Gorengan berbanding bakso, mi ayam, soto, batagor, siomay, dan lain-lain. Statistiknya mendukung kalau saya sebenarnya tidak suka pedas.

Lalu saya menemukan warung yang menyediakan pecel lele dengan sambal terasi hitam yang nikmatnya luar biasa. Sambal terasi itu pedas. Tapi entah kenapa rasanya juga nikmat. Biasanya, saya makan dalam porsi sedikit. Tapi di warung itu saya sampai nambah nasi, saking nikmat dengan sambal terasinya. 

Pedas. Bahkan, untuk ukuran saya, sambal terasi itu sangat pedas. Tapi saya suka. Kenapa? Saya tidak tahu!

Yang saya tahu, saya suka sambal terasi yang pedas itu, bahkan sering datang ke warung tersebut—meski tempatnya sangat jauh—karena saya merasakan nikmat luar biasa setiap kali makan di sana.

Setelah pengalaman itu, apakah kemudian selera saya terkait makanan pedas berubah? Tidak! Meski bisa menikmati pecel lele dengan sambal terasi yang pedas, dan saya mengakui itu sangat nikmat, saya tetap tidak suka pedas untuk makanan-makanan lain. Saat makan bakso atau soto, saya tetap tidak pakai sambal. Makan mi ayam, saya menjauhi sambal. Makan di warung lain dan ditawari sambal, saya tetap menggeleng. Tapi di lain waktu, saya tetap bisa menikmati pecel lele dengan sambal terasi yang pedas!

Jadi, kalau ditanya, “Kamu suka pedas?” Sejujurnya saya bingung bagaimana menjawabnya. Saya punya cukup banyak bukti bahwa saya tidak suka pedas. Tapi saya juga punya bukti bahwa saya bisa menikmati makanan pedas. 

Saya tidak bisa sekadar menjawab “ya” atau “tidak” untuk pertanyaan sederhana itu. Karena faktanya jawaban untuk pertanyaan itu cukup rumit.

Yang mengalami hal semacam itu tentu bukan cuma saya. Di antara kalian juga mungkin mengalami hal serupa, meski dengan makanan berbeda. Saat makan bakso, misalnya, kamu tidak pakai sambal. Tapi saat makan siomay, kamu suka pakai sambal. Saat makan batagor, kamu tidak suka pedas. Tapi saat makan mi ayam, kamu lebih suka pedas. Variasinya bisa berbeda, tapi kemungkinannya sama. Kalau kamu mengalami hal semacam itu, kamu juga bingung saat dihadapkan pertanyaan, “Kamu suka pedas?”

Kamu tidak bisa langsung menjawab “ya” atau “tidak”, karena jawabannya tidak sesederhana itu.

Memang ada, dan banyak, orang yang benar-benar suka pedas. Mereka makan apa pun harus pedas. Makan bakso, sambalnya banyak. Begitu pula saat makan mi ayam. Makan batagor dan siomay, harus pakai sambal. Makan gorengan, cabai rawitnya banyak sekali. Saat di warung Lamongan dan ditanya, “sambalnya pedas?” langsung mengangguk pasti. Pokoknya makan apa pun, harus pedas. Karena nyatanya suka pedas.

Di sisi lain, ada orang yang benar-benar tidak suka pedas. Makan apa pun harus steril dari rasa pedas. Bakso, mi ayam, batagor, siomay, atau saat makan di warung, harus jauh-jauh dari sambal. Bahkan makan gorengan pun tidak pakai cabai rawit. 

Dua jenis orang itu—yang benar-benar suka pedas dan yang benar-benar tidak suka pedas—sepertinya lebih mudah menjawab pertanyaan tadi. “Kamu suka pedas?” Mereka tinggal menjawab “ya” atau “tidak”. Selesai. Dan jika dilakukan verifikasi, jawaban mereka akan dianggap konsisten. Yang satu, makan apa pun harus pedas. Satunya lagi, makan apa pun tidak boleh pedas. Terverifikasi dengan mudah.

Beda dengan saya, atau orang-orang lain, yang kadang suka pedas dan kadang pula tidak suka pedas. Kalau saya ditanya “kamu suka pedas?” dan saya menjawab “ya”, jawaban itu akan bermasalah. Karena saat makan bakso, mi ayam, batagor, siomay, dan banyak makanan lain, saya menjauhi pedas. Sebaliknya, kalau saya menjawab “tidak” untuk pertanyaan tadi, jawaban saya akan tetap bermasalah. Karena saat makan gorengan, saya pakai cabai rawit. Saat makan pecel lele dengan sambal terasi, pedasnya luar biasa. Tidak ada satu jawaban yang benar.

Apakah itu bermasalah? Sebenarnya tidak, wong cuma soal makanan. Orang sesekali makan pedas, dan lain waktu menjauhi pedas, itu bukan masalah. Tidak ada yang dirugikan. Tidak ada pelanggaran hukum. Tidak bertentangan dengan Pancasila.

Masalahnya baru muncul ketika orang menganggap suatu pertanyaan sebagai “pertanyaan sederhana”, lalu menuntut jawaban sesederhana “ya” atau “tidak”. Padahal pertanyaan yang sekilas terdengar sederhana kadang membutuhkan jawaban yang tidak sederhana.

Dalam contoh ini, pertanyaannya sederhana, “Kamu suka pedas?”

Sederhana! Bagi penanya, pertanyaan itu bisa dijawab “ya” atau “tidak”. Tidak perlu membuka buku, tidak perlu membaca jurnal ilmiah, tidak perlu rumus-rumus, tidak perlu mengutip ayat, tidak perlu kontemplasi. Wong itu pertanyaan sederhana, kok!

Tetapi, faktanya, jawaban untuk pertanyaan itu bisa tidak sesederhana “ya” dan “tidak”. Karena ada konteks tertentu, ada penjelasan panjang, ada deviasi, ada anomali. 

Saya tidak suka makan pedas, dan itu fakta yang saya tidak bisa membantahnya. Tapi ketika makan gorengan, saya pakai cabai rawit. Itu anomali.

Saya tidak suka makan pedas, dan warung-warung langganan saya sudah hafal kebiasaan itu. Tapi ketika makan pecel lele dengan sambal terasi yang pedas, saya justru ketagihan. Itu deviasi.

Jika saya ditanya “kamu suka pedas?” dan saya menjawab dengan singkat tanpa mengikutsertakan anomali serta deviasi yang saya alami, jawaban saya tidak lengkap dan bisa menimbulkan masalah.

Seseorang bertanya, “Kamu suka pedas?”

Saya menjawab, “Tidak.”

Lalu dia melihat saya makan gorengan pakai cabai rawit, atau makan pecel lele dengan sambal terasi yang pedas. Dia bisa mengira saya berbohong, “Katanya kamu tidak suka pedas?”

Masalah.

Seseorang bertanya, “Kamu suka pedas?”

Saya menjawab, “Ya.”

Lalu dia melihat saya menjauhi sambal ketika makan bakso, soto, mi ayam, batagor, dan siomay. Dia bisa menuduh saya berdusta, “Katanya kamu suka pedas?”

Masalah lagi.

Pertanyaannya sederhana. Jawabannya tidak.

Yang Terjadi dan yang Kita Pikir Terjadi

Seorang wanita tersenyum kepadamu. Itu "yang terjadi". Tapi kamu bisa mengartikannya apa pun, dan itulah "yang kita pikir terjadi". Dia tersenyum, karena memang ramah dan biasa tersenyum pada siapa pun. Tapi kamu bisa mengira dia naksir, lalu tidur dengan hati berbunga-bunga.‏
 
"Yang terjadi" dan "yang kita pikir terjadi" adalah dua hal yang berbeda. Sayang, sebagian orang tidak bisa melihat perbedaannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Desember 2017.

Memasukkan Hati ke Dalam Botol

Kadang-kadang aku ingin memasukkan hatiku ke dalam botol, dan melemparkannya ke lautan. Lalu membiarkan ombak menuntunnya hingga terdampar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Mekar dan Luruh

Mekar dan luruh. Daun-daun memiliki cerita yang tak pernah dikisahkannya kepadamu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 November 2012.

Isabella Swan adalah Problem

Jadi, Isabella Swan menikah dengan Edward Cullen. Siapa yang layak menangisinya? Manusia, para vampire, atau gerombolan serigala?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Bagaimana Kalau Umpama

Kadang aku berpikir begini. Kalau kita merasa punya kecenderungan pada suatu kata tertentu, dan merasa bisa bersandar pada kata itu untuk melakukan justifikasi atas yang kita pikirkan... bagaimana kalau umpama kata itu tidak ada?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Januari 2018.

Selamat Malam, Malam

Selamat malam, Malam. Tenggelamkan aku pada rembulan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Juli 2012.

Agar Utuh

Aku belajar bahwa keindahan harus dilihat dari jauh. Agar dia selalu utuh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Juli 2012.

Rabu, 30 September 2026

Tata Bahasa

Omong-omong soal berita VICE...

Sambil nunggu udud habis.

Salah satu “kesalahan populer” yang telah menjelma sebagai kesalahan massal di kalangan media di Indonesia adalah penulisan “berhasil di—”. 

Secara tata bahasa, itu sebenarnya salah, karena kata “berhasil” tidak bisa diikuti “di—”. Ivan lanin pasti akan sepakat denganku.

“Berhasil ditemukan”, “berhasil ditangkap”, “berhasil dilepaskan”, “berhasil dicintai”, “berhasil disepakati”, dan varian serupa lainnya, semua itu contoh salah. 

Setiap kali kita menulis “berhasil”, kata itu harus diikuti kata aktif (“me—”). Sementara “di—” adalah kata pasif.

Contoh, judul berita yang ku-retweet tadi. JASAD MENDIANG ERIL BERHASIL DITEMUKAN DI PINTU AIR ENGEHALDE SWISS.

Bisa diubah jadi JASAD MENDIANG ERIL AKHIRNYA DITEMUKAN DI PINTU AIR ENGEHALDE SWISS. 

Atau singkat saja, JASAD MENDIANG ERIL DITEMUKAN DI PINTU AIR ENGEHALDE SWISS.

Ada sebagian orang yang menyatakan, “Tata bahasa tidak penting, yang penting orang paham apa yang dimaksud dalam tulisan.” 

Itu benar, jika di luar penulisan profesional. Orang ngoceh di Twitter, misalnya. Bebas! Mau menulis dengan gaya apa pun, terserah, asal kamu nyaman.

Tapi menulis berita, menulis buku, menulis artikel ilmiah, itu bagian dari menulis profesional. Karena itulah, dalam penulisan profesional ada editor dan proofreader. Editor membantu agar tulisan enak dibaca, proofreader membantu agar tulisan sesuai tata bahasa yang benar.

Seorang penulis bisa saja tidak menguasai tata bahasa [Indonesia] yang baik dan benar, dan dia tetap bisa menerbitkan buku secara profesional, melalui penerbit besar. Bisa saja, mungkin karena dia memiliki ide atau pengetahuan luar biasa, yang tidak dimiliki orang-orang lain.

Tapi kalau kita penulis rata-rata—termasuk aku, tentu saja—menguasai tata bahasa yang baik dan benar adalah kebutuhan. Namanya penulis rata-rata, ide kita juga mungkin medioker. Kalau ide sudah medioker, lalu penulisannya penuh kesalahan, ejaannya kacau, lalu di mana istimewanya?

Kadang-kadang, bahkan sering kali, ide atau pengetahuan yang biasa-biasa saja justru bisa dinikmati banyak orang karena penulisannya baik, rapi, dan benar. 

Sebaliknya, ide atau pengetahuan penting bisa jadi sulit dipahami orang-orang, karena penulisannya kacau dan berantakan.

Fungsi tata bahasa, sebagaimana namanya, adalah menata dan merapikan tulisan, agar bisa dinikmati orang-orang secara luas, dari pelbagai kalangan. 

Jadi, jika kita ingin “orang-orang bisa memahami tulisan kita”, tata bahasa justru penting. Ia bukan sekadar baku atau tak baku.

Lebih dari itu, tulisan juga bagian dari seni. Dengan tata bahasa dan rangkaian kalimat yang disusun dengan tepat, kita bisa membuat tulisan yang tidak hanya baik dan benar secara tata bahasa, tapi juga estetis. Itu yang membedakan satu penulis dengan penulis yang lain.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, dan mungkin butuh 749 semester untuk menyelesaikannya. Tapi ududku habis.


*) Dikutip dari timeline @noffret, 9 Juni 2022.

Memilih Sendirian

Dulu, zaman kuliah sampai tidak lagi kuliah, saya sering gabung dengan aksi-aksi sosial, mengadvokasi kasus-kasus tertentu, khususnya yang terkait kalangan bawah versus pemerintah. Itu kerja sosial, dalam arti tidak ada bayarannya, dan selama waktu-waktu itu tidak ada masalah. 

Lalu ada suatu kasus yang membuat saya, secara pribadi, merasa dilema. Di satu sisi, kasus itu membutuhkan bantuan advokasi kami, untuk mediasi dengan pemkot. Tetapi, di sisi lain, saya tidak nyaman melakukannya, karena sebenarnya saya justru mendukung aturan pemerintah waktu itu. 

Ada suatu fenomena yang mengganggu secara sosial, dan pemkot ingin menertibkannya. Saya setuju dengan aturan itu. Tetapi, karena alasan solidaritas, saya tetap bersama teman-teman, dan mengadvokasi kasus itu, sampai akhirnya memenangkan kepentingan masyarakat.

Masyarakat menang, pemerintah mengalah, dan tugas kami—saya serta teman-teman—dianggap sukses. Tapi nurani saya tidak nyaman. Sekali lagi, itu kerja sosial, bukan kerja profesional, dalam arti; sebenarnya saya punya kebebasan untuk memilih, andai tidak ada solidaritas pada teman. 

Pola pikir rata-rata aktivis biasanya memihak masyarakat bawah, dan, di waktu bersamaan, harus kontra dengan pemerintah. Dalam hal itu, sikap saya pribadi adalah memihak kebenaran, terlepas pihak mana. Jika peraturan pemerintah yang benar, ya harus diterima, tidak perlu dilawan. 

Sejak peristiwa itu, akhirnya saya memilih “sendirian”, agar tidak lagi terperangkap dalam “solidaritas semu”. Sendirian membuat saya lebih leluasa untuk menentukan langkah saya sendiri, dan memastikan semua yang saya suarakan atau saya lakukan adalah suara hati dan pikiran saya sendiri.  

Keluar dari Tempurung

Sepanjang sejarah peradaban manusia, ada sekitar 4.000 agama yang pernah lahir, dianut, dan dianggap sebagai jalan kebenaran di dunia. Seiring dengan itu, ada sekitar 5.000 tuhan yang pernah dikenal dan disembah manusia... hingga satu per satu dari mereka kemudian ditinggalkan.

Itu fakta yang mencengangkan, andai kita mau keluar dari "tempurung" yang kita bangun sendiri. Jumlah agama tidak cuma segelintir seperti yang kita kenal, dan jumlah Tuhan juga tidak sebatas yang kita dengar. Ada ribuan agama, ribuan kepercayaan, dan ribuan Tuhan di luar sana.

Kenyataan itu mengandung implikasi yang sangat rumit sekaligus mencengangkan bagi siapa pun yang mau berpikir, termasuk sekelompok tukang batu yang membawa mistar dan jangka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Oktober 2024.

Kabar Buruk

Yang mengherankan, kita sepertinya kecanduan kabar buruk.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Agustus 2012.

Kepekaan

Ada yang bilang, beberapa orang dilahirkan dengan kepekaan yang keterlaluan. Sepertinya aku termasuk. #barusadar


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Lagi Sedih

"Kamu lagi sedih, ya?" | "Nggak, kok." | Berarti lagi sedih.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Ngeri Sendiri

Kadang-kadang ngeri sendiri kalau membaca kembali yang pernah kutulis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Di Telepon

Seseorang berkata di telepon, "Aku lagi nggak ingin nilpon!" 

Tapi dia ngobrol di telepon sampai berjam-jam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Kurang Lebih

Tak ada yang bisa mengurangi kekurangan atau melebihi kelebihan. Ya, kurang lebih seperti itu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Sulit Dibuktikan

Masalah kebanyakan kita adalah menuntut bukti sebelum percaya. Sayangnya, kadang-kadang, beberapa hal sulit dibuktikan secara kasatmata.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Agustus 2012.

Selesai

"Ayo kita bikin definisi sendiri, dan yakini." | Dan cerita pun selesai.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Juli 2012.

Paling Indah

"Apa yang paling indah di dunia ini?" | "Bulan." | "Kenapa?" | "Tanyakan saja pada si Pungguk."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Juli 2012.

Selasa, 29 September 2026

Ngelinting Mbako, Memikirkan Hidup

Saban tahun, harga rokok terus naik karena cukai terus naik. Alasan cukai terus naik karena pemerintah “ingin menurunkan prevalensi merokok, menyejahterakan petani tembakau, meningkatkan penerimaan negara”, dan hal-hal yang terdengar seperti omong kosong lainnya. Intinya, gara-gara cukai terus [di]naik[kan], harga rokok kian mahal. 

Sebenarnya, yang tertekan akibat cukai terus naik bukan hanya perokok atau pembeli rokok, tapi juga produsen rokok. Di sebuah video, saya pernah melihat seorang bos perusahaan rokok mengatakan, kira-kira seperti ini, “Untuk bisa mendapat keuntungan dari bisnis rokok, jumlah yang terjual harus miliaran batang. Kalau yang terjual cuma jutaan apalagi cuma ribuan batang, kita sulit untung, karena modal sudah habis untuk membayar cukai.” 

Dan hal semacam itu akan terus berlangsung tahun demi tahun. Artinya, ketika cukai dinaikkan, perusahaan rokok akan terus berusaha meningkatkan penjualan, agar mereka tetap mendapat keuntungan, dan begitu seterusnya, mungkin sampai kiamat. Kenaikan cukai dan jumlah perokok [atau tingginya penjualan rokok] jadi seperti lingkaran setan.

Saya tidak tahu bagaimana hitung-hitungan bisnis perusahaan rokok, karena saya sebatas penikmat rokok. Dan sebagai perokok, saya mengamati suatu pola yang selalu sama, dari tahun ke tahun. Ketika cukai naik, harga rokok dengan merek terkenal akan naik. Merek terkenal yang saya maksud adalah merek-merek rokok yang sudah dikenal masyarakat luas selama bertahun-tahun. Misalnya Djarum, Dji Sam Soe, Marlboro, dan semacamnya. Harga rokok dengan merek-merek itu biasanya terus naik saban tahun akibat cukai yang terus naik.

Ketika harga rokok dengan merek-merek terkenal itu naik, dan artinya jadi lebih mahal dari harga sebelumnya, selalu muncul rokok-rokok baru dengan merek-merek “aneh”, dengan harga yang jauh lebih murah; bisa setengah dari harga rokok dengan merek terkenal. 

Sekadar cerita. Dulu ada rokok dengan kemasan mirip Dji Sam Soe, namanya Syamsu Bersinar. Harganya seperempat dari harga Dji Sam Soe. Entah sekarang masih ada atau tidak, saya tidak tahu. Lalu ada rokok dengan kemasan seperti Djarum 76, dan lain-lain. Rokok-rokok yang tampaknya sengaja dibuat mirip itu menggunakan merek-merek “aneh”, dan harganya jauh lebih murah. Ketika harga rokok dengan merek-merek terkenal naik dan jadi mahal, rokok dengan merek-merek aneh kerap kali jadi pilihan, hingga laris di pasar.

Seperti yang disebut tadi, saya mengamati pola yang sama setiap kali harga rokok naik. Mula-mula, rokok dengan merek-merek aneh akan membanjiri pasar, dan kompetisi akan terjadi. Seiring waktu, sebagian rokok baru itu akan menghilang, mungkin karena tidak laku atau karena sebab lain, hingga tersisa segelintir merek rokok baru di pasar. Perlahan-lahan, rokok baru itu akan dikenal dan diandalkan sebagian perokok, karena harganya relatif murah. Tapi rokok yang murah itu juga kena cukai, sehingga harganya juga akan naik seiring kenaikan cukai. Akibatnya, rokok-rokok itu pun akan dianggap mahal oleh sebagian perokok.

Ketika sampai di titik itu, banyak perokok yang akhirnya memilih alternatif terakhir; bikin rokok sendiri, alias melinting tembakau!

Ada banyak toko yang menyediakan tembakau aneka rasa, lengkap dengan papir (kertas khusus untuk melinting tembakau), juga lem dan alat melinting. Banyak perokok yang memilih alternatif itu karena dinilai lebih murah, meski juga lebih repot, karena harus melinting tembakau sendiri. 

Aktivitas melinting tembakau itu pula yang saya dapati ketika dolan ke tempat Ardi, tempo hari. Siang itu cukup panas, tapi halaman rumah Ardi selalu adem seperti biasa, dengan silir-silir angin dari pohon besar di halaman. Ardi sedang duduk bersama Ripin di teras rumah, dan mereka lagi asyik ngelinting mbako (melinting tembakau) sambil leyeh-leyeh.

Sambil tersenyum, saya melangkah ke tempat mereka, dan berkata, “Kalian kayak bocah-bocah miliuner kripto yang nggak perlu kerja, cukup leyeh-leyeh sambil ngelinting mbako, karena udah kebanyakan duit!”

Ardi dan Ripin tertawa ngakak. 

“Andai benar kayak gitu, ya,” sahut Ardi kemudian.

Saya duduk bersama mereka di teras rumah, dan Ardi menyodorkan wadah tembakau. “Ini mbako rasa Dji Sam Soe,” kata Ardi.

Saya pun mengambil papir, melinting tembakau, menyulutnya, lalu mulai mengisapnya dengan penuh penghayatan. Setelah itu nyengir, “Nggak ada rasa Dji Sam Soe-nya!”

Ardi dan Ripin ngikik. 

Ripin berkata, “Kalau bener rasanya kayak Dji Sam Soe asli, pabrik rokok itu bakal bangkrut!”

Tembakau yang dijual di toko-toko tembakau memang menyediakan aneka rasa. Ada tembakau rasa rokok Djarum, Dji Sam Soe, Surya, dan lain-lain. Tapi tentu saja rasanya tidak sama seperti rokok-rokok yang ditiru. Meski begitu, para penikmat tembakau tidak peduli, karena intinya mereka tetap dapat menikmati udud dengan biaya murah. Seperti Ardi dan Ripin, misalnya.

Ardi dan Ripin sudah cukup lama berpindah dari rokok bungkusan ke rokok lintingan. Karenanya, sambil menikmati udud, mereka biasanya juga asyik ngelinting mbako. 

Saat duduk bersama mereka, saya tanpa sengaja mendapati lembaran brosur mirip undangan. Waktu saya baca, isinya undangan workshop tentang usaha tenun, dan diadakan di Pemalang. Waktu acaranya adalah hari itu.

“Kalian nggak ikut acara ini?” tanya saya pada Ardi dan Ripin.

“Nggak ada duitnya,” jawab Ardi.

Ripin menyahut, “Kami nggak butuh wokshop kayak gitu, sih. Yang kami butuhkan kerja jelas, dengan bayaran jelas. Lagian acara itu di Pemalang, butuh bensin untuk ke sana. Belum lagi biaya workshop-nya lumayan mahal.”

Saya mengangguk. Saat orang tidak punya pekerjaan, yang mereka butuhkan memang kerja yang memberi penghasilan. Sementara acara workshop seperti di brosur itu mungkin lebih tepat untuk orang yang sudah punya pekerjaan tetap, sehingga ada biaya untuk mengikuti workshop. Tanpa penghasilan, bisa dibilang orang akan stuck, tidak bisa ke mana-mana, karena tidak ada biaya.

Orang mungkin bisa mengatakan, “Ikut workshop bisa membangun network. Dengan adanya network, terbuka kemungkinan peluang, dan dari situ bisa mendapat pekerjaan.”

Pernyataan itu memang benar. Secara teoritis, mengikuti workshop—atau acara-acara semacamnya—memang memungkinkan membangun network dengan banyak orang. Dari adanya network, akan terbuka kemungkinan peluang, termasuk peluang pekerjaan. Masalahnya, bagaimana kalau kamu sama sekali tidak punya uang untuk sekadar membayar biaya workshop? 

Boro-boro mikir workshop yang biayanya relatif mahal, wong mikir hidup sehari-hari saja sudah susah! Makanya tadi saya bilang, workshop semacam itu mungkin lebih tepat untuk orang yang sudah punya penghasilan tetap, dan ingin mendapat peluang baru. Artinya, mereka sudah punya modal, khususnya modal untuk membayar biaya workshop! 

Orang yang terbiasa sibuk kerja sering kali tidak ingat bahwa di dunia ini ada banyak orang lain yang masih menganggur, yang satu-satunya harapan mereka adalah mendapat pekerjaan. Dan orang yang tak pernah kehabisan uang sering kali tidak tahu kalau di dunia ini banyak orang lain yang kerap tidak punya uang sama sekali, sehingga, boro-boro mikir workshop, bahkan untuk makan saja mereka bingung!

Saya mengisap rokok, lalu berkata, “Tadi, dalam perjalanan ke sini, aku sempat kejebak macet. Kirain ada kecelakaan, ternyata ada pencuri ketangkap. Dia mencuri sekantong beras di warung, dan ketahuan. Orangnya mungkin seumuran kita. Katanya dia perlu ngasih makan anak-anaknya di rumah.”

“Kasus kayak gitu tuh bikin kita serbasalah, ya,” ujar Ardi. “Kita benci aksi pencurian yang dia lakukan, tapi juga kasihan karena dia mencuri akibat butuh makan.”

Saya mengangguk.

“Kita yang nggak punya istri dan anak aja bingung kalau nggak ada duit,” sahut Ripin, “apalagi yang punya istri dan anak-anak.”

Ardi menyulut rokok yang baru ia linting, lalu berkata, “Aku jadi ingat kasus yang menimpa sepupuku, namanya Gufron. Suatu hari ada teman lama yang datang, dan Gufron menyambut dengan baik—namanya juga teman. Si teman itu datang dengan jalan kaki, katanya motornya lagi di bengkel karena mogok di jalan. Mereka pun ngobrol sampai lama, dan teman Gufron tadi kemudian pinjam motor Gufron, katanya buat ngecek motornya yang di bengkel. Karena percaya, Gufron meminjamkan motornya, dan sejak itu si teman nggak kembali.”

“Lhah, terus gimana?” tanya saya.

“Besoknya, Gufron mendatangi rumah si teman yang bawa motornya itu,” jawab Ardi. “Gebleknya, ternyata motor Gufron udah digadaikan ke orang lain.” 

“Waduh!” seru Ripin.

Ardi melanjutkan, “Temannya Gufron itu bilang kalau dia udah lama nggak kerja, dan butuh biaya buat ngasih makan keluarganya. Barang-barang di rumahnya udah habis buat makan. Dia terpaksa menggadaikan motor Gufron karena butuh uang. Di sisi lain, Gufron juga butuh motor itu buat kerja. Kalau nggak ada motor, dia nggak bisa kerja.” [Gufron bekerja sebagai sales yang memasok barang-barang kebutuhan sehari-hari di warung-warung perkampungan.]

Ardi mengisap rokoknya, lalu meneruskan, “Gufron butuh motornya buat kerja, tapi motor itu digadaikan temannya. Dia bisa aja lapor polisi, tapi menurutnya akan bikin dia makin repot. Gufron menuntut temannya buat mengembalikan motor, tapi temannya udah pasrah. Si teman ini bahkan bilang terang-terangan kalau sebagian uang hasil gadai motor udah ia gunakan buat beli beras dan aneka kebutuhan, dan cuma sisa beberapa ratus ribu. Akhirnya Gufron meminta sisa uang itu, karena dia juga butuh ngasih makan keluarganya.”

Saya dan Ripin terdiam mendengar cerita itu.

Sesaat kemudian, Ripin berkata, “Omong-omong soal keluarga, kita sering dengar kalau menikah akan melancarkan rezeki. Tapi kok orang-orang yang kita kenal malah mengalami kebalikannya, ya? Sampai ada yang maling beras di warung, ada yang bawa motor temannya buat digadaikan, ada juga yang ngutang nggak bayar-bayar, dan alasannya karena butuh menghidupi keluarga. Lhah, katanya menikah melancarkan rezeki?”

“Mungkin ‘rezeki’ yang dimaksud itu nggak mesti dalam bentuk uang, Pin,” ujar saya sambil tersenyum, “punya istri dan anak, kan, termasuk rezeki.”

Ripin ngikik. “Jadi, maksudmu, mereka dapat rezeki berupa istri dan anak, lalu pusing mencari rezeki berbentuk uang untuk menghidupi istri dan anaknya, gitu?”

Entah kenapa saya ikut ngikik, karena bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu. 

Ardi lalu berkata, “Rezeki juga bisa berbentuk ketenangan hati, karena punya istri dan anak-anak...”

Sekarang Ripin tertawa. “Yang bener aja, Ar! Kalau kamu punya istri dan anak-anak, dan kamu nggak ada uang buat menghidupi mereka, ketenangan kayak apa yang kamu rasakan? Wong kita yang lajang aja pusing, apalagi mereka yang punya tanggungan istri dan anak-anak?”

Ardi ikut tertawa, mungkin juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan Ripin.

“Sepusing-pusingnya kita,” kata saya akhirnya, “setidaknya kita masih bisa ngelinting mbako sambil menikmati silir angin di sini, dan nggak ada istri yang marah-marah, juga nggak ada anak-anak yang perutnya kelaparan.”

Produktivitas yang Bertahan Lama

Pernah terpikir bahwa rasa bersalah saat beristirahat mungkin bukan tanda kita rajin, tetapi tanda bahwa kita telah menyerahkan diri pada pekerjaan?

Kalau itu terdengar berlebihan, cobalah duduk tanpa melakukan apa pun selama tiga puluh menit. Jangan membuka ponsel. Jangan membaca. Jangan merencanakan pekerjaan berikutnya. Jangan mengubah keheningan menjadi proyek baru. Rasakan apa yang muncul. Pada sebagian orang, bukan ketenangan yang datang lebih dulu, tapi kecemasan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah hidup sedang terbuang percuma hanya karena tidak ada sesuatu yang sedang diproduksi.

Reaksi itu menarik. Tubuh sebenarnya tidak sedang meminta bekerja. Pikiranlah yang panik. Selama bertahun-tahun kita diajari bahwa manusia yang baik adalah manusia yang terus menghasilkan sesuatu. Semakin padat jadwal, semakin tinggi nilainya. Kesibukan berubah jadi sertifikat moral. Orang yang selalu dapat dihubungi dianggap bertanggung jawab. Orang yang selalu memiliki waktu luang mulai dicurigai. Tanpa sadar kita membangun ukuran martabat yang aneh: eksistensi dianggap sah hanya selama grafik produktivitas terus bergerak naik.

Ukuran seperti itu akan merusak siapa pun, bahkan ketika kariernya sedang berada di puncak.

Sebuah server basis data modern sanggup memproses jutaan permintaan setiap detik. Kemampuannya terlihat hampir tanpa batas. Namun setiap operasi komputasi meninggalkan serpihan alokasi memori yang tidak lagi digunakan. Sistem membutuhkan waktu agar subsistem garbage collector dapat menyisir RAM, mengenali objek yang sudah tidak memiliki fungsi, lalu membebaskan ruang yang mereka tempati. 

Jika seluruh sumber daya dipaksa hanya untuk menjalankan instruksi baru tanpa pernah memberi kesempatan proses pembersihan itu bekerja, sampah memori akan terus menumpuk. Kecepatan pemrosesan turun sedikit demi sedikit, aplikasi mulai membeku, lalu sistem berhenti total. Server itu tidak runtuh karena kekurangan kemampuan menghitung. Ia tenggelam oleh sisa-sisa pekerjaannya sendiri. 

Saya makin sering merasa manusia modern mengalami kebocoran serupa. Kepala kita penuh oleh rapat yang sudah selesai seminggu lalu, percakapan yang terus diputar ulang, berita yang bahkan tidak akan diingat bulan depan, target yang tercapai tetapi langsung digantikan target berikutnya. 

Hampir tidak ada proses pembersihan. Semua ditumpuk karena kita takut kehilangan momentum. Lalu kita heran mengapa keputusan jadi dangkal, perhatian mudah pecah, dan pikiran terasa berat bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.

Yang sebenarnya ditakuti ternyata bukan istirahat. Yang ditakuti adalah ruang kosong.

Ruang kosong memaksa seseorang bertemu dirinya sendiri tanpa perlindungan daftar pekerjaan. Selama ini kesibukan telah menjadi obat penenang yang sangat diterima secara sosial. Tidak ada yang mempertanyakan orang yang pulang larut setiap malam. Tidak ada yang heran melihat seseorang terus membuka email saat makan bersama keluarga. Kesibukan hampir selalu memperoleh pembenaran. Padahal di baliknya kadang tersembunyi kepanikan yang sederhana: kalau saya berhenti, apa yang masih tersisa dari diri saya?

Pertanyaan itu jauh lebih mengganggu daripada tenggat waktu.

Saya kadang berpikir, sebagian besar orang tidak sedang mengejar produktivitas. Mereka sedang mengejar pembuktian diri yang tidak pernah selesai. Karena itulah istirahat terasa mengancam. Begitu pekerjaan berhenti, sumber identitas ikut berhenti. Keheningan membuka kemungkinan yang selama ini dapat ditutup oleh aktivitas: jangan-jangan semua kesibukan itu bergerak sangat cepat ke arah yang keliru.

Produktivitas yang bertahan lama tidak lahir dari kemampuan memeras setiap menit. Ia lahir dari keberanian menghentikan mesin sebelum mesin itu mengambil alih cara kita menilai diri sendiri.

Banyak yang Libur

Sepertinya hari ini banyak yang libur. Termasuk aku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Pilihan

Sekarang aku bertanya-tanya. Pilihan itu sesuatu yang kita buat... ataukah sesuatu yang kita terima?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juli 2012.

Membahas Nama PT

Sekelompok bocah berencana mendirikan PT (Perseroan Terbatas), dan sedang memikirkan nama yang tepat untuk PT mereka.

“Enaknya mau dinamain PT apa, nih?” tanya salah satunya.

Seorang bocah usul, “Gimana kalau PT CMDS?”

Bocah lain menyahut, “CMDS itu singkatan apa?”

“Aku nggak tahu,” jawab bocah pengusul tadi. “Aku hanya berpikir CMDS terdengar keren aja.”

Lalu PT CMDS pun lahir. 

Sampai sekarang tidak ada yang tahu apa arti singkatan nama PT itu. 

Mahal

Mahal dan terlalu mahal kadang beda tipis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Februari 2012.

Nila dan Susu

Nila setitik dan susu sebelanga itu ternyata relevan untuk banyak hal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Februari 2012.

Tidak Enak Badan

Tidak enak badan adalah alasan bagus untuk menjadi anak manis. Tidur sore-sore.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Februari 2012.

Footnote Gemes

Keyakinan itu beda dengan pengetahuan, Mbak. Itulah kenapa perlu membuka pikiran dan terus belajar, bukan ngotot mengajukan keyakinan yang telah terbukti salah.

Footnote Gemes

Footgem*:

Sayang sekali, padahal memancarkan aura mbakyu.

*Footnote gemes. Apeu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 September 2024.

Merasa Menemukan

Tiap kali mendengar Amy Lee menyanyikan "Untitled", aku merasa menemukan yang ingin kutemukan, meski tak tahu apa yang sebenarnya kutemukan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Juli 2012.

Akhir Pekan

Akhir pekan, dan tak punya pacar. Aku bersyukur, karena bisa menggunakan akhir pekan untuk hal-hal yang lebih baik dan lebih bermanfaat.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 November 2017.

Kapi Kapi

Jangan lupa kapi kapi.

Oh, kapi kapi.

Selasa, 01 September 2026

Kuburan di Komputer

Saat bersih-bersih ruang harddisk, tanpa sengaja saya menemukan folder lama di komputer, lalu melihat isinya. Ada dokumen bernama "Final". Di sebelahnya ada "Final_Banget". Beberapa langkah kemudian muncul "Final_Fix", "Final_Rev", "Final_Terakhir", dan entah kenapa masih ada lagi "Resolusi_2025" yang dibuat dengan penuh semangat, lalu tidak pernah dibuka kembali.  

Pemandangan seperti itu hampir menjadi lelucon universal di era digital. Kita menertawakannya karena merasa akrab. Namun, jika diperhatikan lebih lama, folder itu bukan sekadar kumpulan berkas. Ia adalah museum kecil yang menyimpan jejak sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar proyek yang tertunda. Ia adalah kuburan dari rasa takut yang menyamar sebagai persiapan.

Sebagian besar proyek itu tidak mati karena kekurangan kemampuan. Banyak di antaranya berhenti sebelum benar-benar diuji. Belum pernah dipresentasikan, belum pernah dipublikasikan, belum pernah dicoba kepada siapa pun. Mereka lahir, diberi nama yang terdengar serius, lalu perlahan tenggelam di antara folder-folder lain. 

Kita sering menyebut keadaan itu sebagai "belum siap". Istilah itu terdengar masuk akal, terkesan dewasa, bahkan terdengar bertanggung jawab. Siapa yang ingin meluncurkan sesuatu dalam keadaan setengah matang? Tidak ada yang salah dengan persiapan. Yang bermasalah adalah ketika persiapan berubah menjadi tempat persembunyian yang terasa aman.

Ada pertanyaan yang jarang diajukan kepada diri sendiri. Sebenarnya, siap menurut ukuran siapa?

Banyak orang mengira sedang mengejar kualitas. Kenyataannya, mereka sedang mengejar kemungkinan yang mustahil: sebuah momen ketika tidak ada lagi risiko terlihat bodoh. Mereka ingin hari pertama yang tampak seperti hari keseratus. Mereka berharap karya pertama terasa seperti karya seorang ahli. Mereka ingin presentasi pertama berlangsung tanpa gugup, tulisan pertama langsung dipuji, usaha pertama langsung meyakinkan semua orang. Yang sedang dicari bukan kesiapan, tapi perlindungan dari rasa malu.

Keinginan itu sangat manusiawi. Tidak ada orang yang senang dinilai buruk. Kita hidup di tengah budaya yang gemar melihat hasil akhir tanpa menyaksikan prosesnya. Ketika melihat musisi tampil memukau, kita menikmati konsernya, bukan ribuan jam latihan yang dipenuhi nada-nada sumbang. Ketika membaca buku yang terasa matang, kita tidak melihat puluhan halaman yang dibuang dan dihapus penulisnya. Ketika melihat pembicara menjelaskan sesuatu dengan tenang, kita tidak menyaksikan presentasi-presentasi awal yang berantakan.

Akibatnya, kita membandingkan hari pertama kita dengan puncak perjalanan orang lain.

Perbandingan itu menghasilkan tuntutan yang mustahil dipenuhi. Kita mulai berpikir bahwa sebelum melangkah, semua celah harus ditutup lebih dulu. Semua kemungkinan kesalahan harus dihilangkan. Semua kritik harus diantisipasi. Kita sibuk mengumpulkan pengetahuan, membeli kursus, atau menyusun rencana berkali-kali. Aktivitasnya terlihat produktif. Kesibukan itu memberi rasa nyaman karena membuat kita merasa sedang bergerak, padahal kaki belum benar-benar meninggalkan garis awal.

Saya melihat kembali folder-folder tadi. Nama file-nya berubah, tanggalnya berganti, versinya bertambah, tetapi satu hal tetap sama: proyek itu tidak pernah bertemu dunia nyata. 

Dunia nyata memang tidak ramah terhadap kesempurnaan. Dunia hanya memberi umpan balik kepada sesuatu yang benar-benar hadir. Sebuah tulisan yang belum diterbitkan tidak akan menemukan pembaca. Sebuah toko yang belum dibuka tidak akan pernah mendapat pelanggan. Sebuah gagasan yang terus disimpan tidak pernah memiliki kesempatan untuk tumbuh melalui koreksi.

Semua orang yang hari ini tampak mahir sebenarnya memiliki arsip yang jarang diperlihatkan. Ada tulisan yang buruk, presentasi yang membosankan, desain yang gagal, produk yang tidak laku, keputusan yang keliru. Arsip itu tidak dihapus dari sejarah mereka. Arsip itu justru menjadi fondasi dari kemampuan yang sekarang terlihat begitu alami. Keahlian tidak muncul setelah seseorang merasa siap. Keahlian lahir karena seseorang bersedia berkali-kali terlihat belum siap.

Itu kenyataan yang paling sulit diterima. Kita sering membayangkan keberanian sebagai keadaan ketika rasa takut menghilang. Kehidupan menunjukkan gambaran yang berbeda. Keberanian sering kali hanyalah keputusan untuk tetap membuka pintu meskipun rasa takut masih duduk di ruang tamu.

Tidak ada tanggal di kalender yang diberi tanda khusus sebagai hari ketika seseorang akhirnya resmi siap menjalani hidupnya. Tidak ada alarm yang berbunyi lalu berkata, "Sekarang kamu sudah cukup pintar. Sekarang kamu tidak akan membuat kesalahan lagi." Hidup tidak bekerja dengan cara seperti itu. Ia terus bergerak sambil mengundang kita belajar di tengah perjalanan.

Mungkin suatu hari nanti folder "Final_Banget" masih akan ada di komputer. Mungkin nama-nama aneh itu tetap membuat kita tersenyum. Namun akan jauh lebih menyenangkan jika di sampingnya ada sesuatu yang benar-benar selesai, benar-benar dikirim, benar-benar dicoba, meski hasil pertamanya jauh dari sempurna. 

Hidup tidak pernah menunggu seseorang merasa siap. Hidup hanya memberi ruang kepada mereka yang bersedia memulai sebelum keyakinannya lengkap.

Lawan Kebodohan Bukan Kecerdasan

Selama bertahun-tahun kita belajar menghubungkan pengetahuan dengan nilai diri. Anak yang bisa menjawab dipuji. Murid yang tidak tahu diminta belajar lebih giat. Di tempat kerja, orang yang dianggap ahli memperoleh kepercayaan lebih besar. Sedikit demi sedikit, pengetahuan berhenti menjadi alat memahami dunia. Ia berubah menjadi bagian dari harga diri.

Perubahan itu hampir tidak terasa. Suatu saat kita tidak lagi mempertahankan pendapat karena pendapat tersebut paling masuk akal. Kita mempertahankannya karena mundur satu langkah terasa seperti kehilangan wibawa. Pikiran mulai bekerja dengan tujuan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari apa yang benar, tetapi mencari apa yang membuat citra diri tetap utuh.

Keadaan itu menjelaskan mengapa seseorang dapat terus memegang keyakinan lama meskipun hasilnya berkali-kali terbukti keliru. Bukan karena informasi baru tidak tersedia. Dunia hari ini dipenuhi pengetahuan yang bisa diakses dalam hitungan detik. Hambatan yang sebenarnya muncul lebih awal: informasi baru harus melewati penjaga bernama "saya sudah tahu". Penjaga itu sangat jarang membuka pintu.

Rasa ingin tahu memiliki sifat yang hampir berlawanan. Ia memaksa seseorang merelakan kenyamanan menjadi orang yang merasa mengerti. Setiap pertanyaan baru mengandung pengakuan bahwa isi kepala hari ini belum cukup. Pengakuan seperti itu memang tidak menyenangkan, tetapi justru itulah yang membuat pikiran tetap lentur. Cara berpikir yang tidak pernah diganggu oleh pertanyaan akhirnya membatu. Dunia berubah, sementara isi kepala tetap menunggu kenyataan menyesuaikan diri.

Saya semakin percaya bahwa lawan kebodohan bukan kecerdasan. Lawannya adalah keyakinan bahwa proses belajar telah selesai. Sejak keyakinan itu menetap, setiap pengetahuan baru berubah status. Ia tidak lagi datang sebagai tamu yang disambut, tetapi sebagai penyusup yang harus ditolak.

Tidak ada yang tampak dramatis ketika seseorang menyadari bahwa dia belum tahu, lalu berusaha belajar, atau bertanya pada orang yang lebih tahu. Yang berubah hanya beberapa detik pengakuan, “Saya belum tahu.” 

Arah hidup seseorang sering mulai bergeser tepat pada detik yang sederhana itu.

Datang dan Pergi

Datang dan pergi, datang dan pulang. Daun jatuh tak pernah kembali kepada ranting, pun waktu yang hilang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Juli 2012.

Satu Hari Lagi

Pagi adalah kesadaran bahwa satu hari lagi datang, dan satu hari lagi hilang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Mei 2012.

Masa Lalu

Masa lalu berkirim surat untukku. Mungkin dia pikir aku masih yang dulu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Hal Besar

Hal-hal besar selalu dimulai dari dalam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Juni 2012.

Rindu Menangisi Jarak

Pada mulanya adalah cinta. Benar, pada mulanya adalah tuntutan spesies untuk melangsungkan keturunan.

Mulanya, cinta tampak indah di kejauhan. Lalu semakin indah dalam dekat. Setelah itu, rindu menangisi jarak.

Setelah selesai melukis di kanvas, si pelukis akan mengambil jarak untuk menilai. Sayangnya, cinta sering tak memberikan jarak.

Cinta adalah jarak yang diretas, paradoks paling absurd dalam logika manusia.

Dari mana datangnya cinta? Bukan dari hati. Ia datang dari otak, manipulasi yang lahir dari scotoma.

Scotoma adalah sesuatu yang kita lihat, karena kita memang ingin melihatnya.

Cinta hadir karena tertarik. Ketertarikan datang karena indah. Keindahan selalu terlihat dari jauh.

Cara ampuh menghilangkan perasaan cinta pada seseorang: Kenali dia lebih dekat.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Juli 2012.

Film Pernikahan Terbaik

"Aku mencintaimu. Tapi yang kita lakukan adalah saling membenci, dan saling berusaha mengendalikan, dan saling menyakiti," kata si pria.

Dan si wanita menjawab, "Itulah pernikahan."

Itu dialog dalam Gone Girl, salah satu "film pernikahan" terbaik yang pernah kusaksikan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2019.

La Luna

Pero sólo puedo ver la luna. RT @YoSoyCookiee Soy la luna del sol de tus ojos.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 April 2014.  

Hubungan

Semua hubungan dibangun dengan perasaan nyaman. Kenyamanan dibangun dengan percakapan menyenangkan. Percakapan adalah hasil kerja dua orang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Mei 2014.  

Senin, 31 Agustus 2026

Kemenangan Sunyi

Saya selalu merasa aneh ketika mendengar seseorang berkata, "Keadaannya memang memaksa saya jadi seperti ini."

Kalimat itu terdengar masuk akal. Dunia memang sering tidak adil. Orang bisa dikhianati, diperlakukan curang, kehilangan pekerjaan, menjadi korban keputusan yang sama sekali tidak mereka buat. Semua itu nyata. Yang membuat saya berhenti justru bagian setelahnya. Mengapa kekacauan di luar tiba-tiba diberi hak untuk menentukan karakter seseorang?

Mungkin kita terlalu sering membayangkan diri sebagai produk lingkungan. Ketika keadaan baik, kita merasa mudah bersikap baik. Ketika keadaan memburuk, keburukan kita dianggap reaksi yang wajar. Kemarahan memperoleh pembenaran. Ketidakjujuran berubah menjadi strategi bertahan hidup. Kekejaman diberi nama balasan yang pantas. Seolah-olah karakter hanyalah pantulan otomatis dari situasi yang sedang berlangsung.

Cara berpikir seperti itu diam-diam sangat memanjakan ego. Seluruh kesalahan dipindahkan ke luar diri. Politik yang kacau. Atasan yang buruk. Pasar yang lesu. Masa kecil. Pendidikan. Lingkungan. Daftarnya tidak pernah habis. Kita sibuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab atas keadaan, lalu lupa bertanya siapa yang bertanggung jawab atas respons kita.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua orang memiliki peluang yang sama. Itu jelas tidak benar. Saya juga tidak sedang mengajak menerima ketidakadilan dengan pasrah. Yang saya tolak adalah kebiasaan menyerahkan kemudi batin kepada sesuatu yang memang sejak awal tidak pernah bisa kita atur. Dunia berubah menjadi semacam diktator yang setiap hari memberi izin kepada kita untuk berlaku buruk.

Aneh. Tidak seorang pun mau hidup di bawah pemerintahan tiran. Namun begitu berhadapan dengan kenyataan yang mengecewakan, kita sering membangun seorang tiran di dalam kepala sendiri. Namanya "keadaan". Apa pun yang diperintahkannya langsung kita patuhi. Hari ini marah karena ekonomi. Besok sinis karena politik. Lusa curang karena semua orang juga curang. Sedikit demi sedikit, karakter berubah menjadi wilayah jajahan.

Para insinyur yang merancang menara sangat tinggi tidak pernah bernegosiasi dengan gempa bumi. Mereka juga tidak berharap angin topan tiba-tiba berubah sopan. Semua itu berada di luar kekuasaan mereka. Yang mereka ubah justru isi menaranya sendiri. Di dekat puncak dipasang sebuah bola baja raksasa yang digantung bebas. Ketika bangunan terdorong ke satu arah oleh guncangan, massa itu bergerak ke arah berlawanan. Energi benturan tidak dihapus. Energi itu diserap dan diredam. Menara tetap berdiri bukan karena berhasil mengendalikan bumi, tetapi karena memiliki pusat yang tidak bereaksi secara membabi buta terhadap setiap guncangan.

Saya sering merasa manusia justru melakukan kebalikannya. Kita menghabiskan tenaga untuk memaksa dunia berubah sesuai keinginan, sementara hampir tidak pernah membangun pusat penyeimbang di dalam diri sendiri. Akibatnya setiap berita buruk langsung mengubah suasana hati, setiap komentar tajam mengubah cara berbicara, setiap perlakuan kasar melahirkan alasan baru untuk ikut menjadi kasar. Reaksi kita murah sekali. Siapa pun bisa membelinya.

Mungkin kedewasaan bukan kemampuan menguasai keadaan. Itu terlalu sering dijadikan ukuran yang keliru. Kedewasaan mulai tampak ketika keadaan kehilangan hak untuk menentukan siapa kita hari itu.

Tidak semua kemenangan terdengar keras. Sebagian hanya terlihat dari kenyataan bahwa dunia gagal mengubah seseorang jadi lebih buruk.

Menjadi Gila

Kelebihan orang gila yang tak dimiliki orang waras: Orang gila bisa bicara dan tertawa sendiri tanpa merasa gila.

Menjadi gila adalah membiarkan dunia berputar di sekelilingmu, tanpa kau terpengaruh olehnya. Menjadi gila, ternyata, hebat.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Urusan Hamil, Melahirkan, dan Pilihan

Sambil nunggu ngantuk, barusan aku baca ini. Artikel yang penuh typo—salah satu kebiasaan buruk VICE. Tapi yang membuatku nyeri bukan typo-nya, melainkan isinya. Perempuan (khususnya yang belum hamil) sepertinya perlu baca, agar lebih siap dan hati-hati.


Judul yang mungkin terdengar tidak environmental itu mengungkap fakta-fakta kehamilan secara ngablak, tanpa tedeng aling-aling. Bahkan sebagai laki-laki, aku merasa nyeri.

Artikel itu berisi wawancara VICE dengan Batya Grundland, dokter kandungan dan pakar perawatan kehamilan. Jadi isinya bisa dipercaya.

Yang menarik dari artikel tersebut adalah pengungkapan bahwa "masa kehamilan tidak (selalu) seindah yang digembar-gemborkan banyak orang".

Di akhir wawancara, VICE bertanya, kenapa tidak semua orang mau mengungkapkan bahwa masa kehamilan sebenarnya sama sekali tidak indah?

Dr. Grundland menjawab, "Mungkin karena kita tidak mau membuat perempuan merasa takut hamil."

Kedengarannya seperti "tipuan" yang familier, eh?

Orang-orang "menipu" kita bahwa menikah sungguh indah dan melancarkan rezeki, meski sebenarnya tidak selalu begitu. 

Setelah kita menikah, mereka "menipu" lagi bahwa masa kehamilan sungguh indah, meski sebenarnya tidak selalu begitu.

Demi tujuan evolusi, manusia terus ngapusi.

Dan sekarang aku (makin) memahami kenapa sebagian perempuan ada yang memilih untuk tidak hamil dan melahirkan anak, karena nyatanya urusan itu memang "mengerikan". Kalau boleh ngomong kasar, hasilnya belum tentu sepadan dengan proses pengorbanan yang dilakukan.

Urusan hamil dan melahirkan anak tidak seremeh yang mungkin dibayangkan sebagian orang. Dari sisi perempuan, dia harus kepayahan selama hamil dan pascakehamilan. Sementara dari sisi anak, belum tentu ia akan senang telah dilahirkan. Bisa jadi dia malah menyesal saat telah dewasa.

Hal terbesar yang menggerakkan manusia untuk menikah, lalu hamil dan melahirkan anak, adalah doktrinasi! Yang jadi masalah, doktrin ini (ternyata) bermasalah! Realitas yang terjadi sering kali seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang didoktrinkan. Mau sampai kapan?

Pada akhirnya, menikah memang pilihan, bukan kewajiban. Sebagaimana hamil dan punya anak juga hanya pilihan, bukan kewajiban.

Kalau mau ngemeng agama, bahkan agama pun sebenarnya tidak mewajibkan orang menikah dan punya anak, selain hanya mengimbau. Intinya tetap pilihan.

"Kalau kita tidak mau hamil dan punya anak, lalu buat apa kita diberi rahim?"

Itu bukan jawaban! Rahim di tubuhmu adalah peranti. Kalau kau diberi suatu peranti, kau punya hak untuk menggunakan, juga punya hak untuk tidak menggunakan. Kau yang bertanggung jawab atas pilihanmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 April 2019.

Lupa Rasa Bahagia

"Kau kenapa?" | Dia menjawab, "Aku sudah lupa bagaimana rasanya bahagia." | Dan diam-diam aku berdoa, "Semoga Tuhan benar-benar ada."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Semoga

Semoga Tuhan mendengarkan jeritan yang teredam, doa-doa tak terucapkan. Dan membalasnya dengan kebaikan yang tak terbayangkan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Some People

Some people... ah, sudahlah! Ngapain juga aku niru-niru orang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Juli 2012.

Merisaukan

Yang merisaukan, kita butuh banyak alasan untuk mencintai, tapi hanya butuh satu alasan untuk membenci.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Agustus 2012.

Pilih Mana?

Ada tweet buruk yang membuat tersenyum. Ada tweet bagus yang membuat tercenung. Pilih mana?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Agustus 2012.

Musim Dingin

Aku ingin meringkuk seperti anak kecil, tak terbangun, melewatkan musim dingin yang gigil.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Nggak Mau Ngelepasin

Ini sebenarnya aku yang nggak mau ngelepasin hape, atau hape yang nggak mau ngelepasin aku ya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2012.

Sama-sama Terlalu

Terlalu banyak atau terlalu sedikit punya kesamaan. Sama-sama terlalu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Nemu Hal Penting

PSG, GPS, SPG, GSP, kok semuanya punya arti ya? *merasa nemu hal penting*


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Minggu, 30 Agustus 2026

Tipuan di Pikiran

Ada percakapan yang selesai dalam dua menit, tetapi bertahan di dalam kepala selama dua minggu. Kalimatnya tidak bertambah satu kata pun. Kejadiannya juga tidak berubah. Namun setiap kali diingat, ia terasa sedikit lebih berat. Kita mulai membayangkan maksud-maksud tersembunyi, menyusun kemungkinan yang tidak pernah terjadi, lalu menambahkan jawaban-jawaban yang seandainya tadi sempat diucapkan. Anehnya, semakin lama persoalan itu dipikirkan, semakin sulit dipercaya bahwa ia sebenarnya berawal dari peristiwa yang begitu kecil.

Mengapa sesuatu yang tidak berubah dapat terasa terus membesar?

Jawaban yang paling mudah adalah karena kita terlalu banyak memikirkannya. Tetapi jawaban itu belum cukup. Yang lebih menarik justru alasan mengapa pikiran memilih pekerjaan yang tampaknya sia-sia itu.

Kita biasanya mengira selama pikiran sibuk dengan sebuah persoalan, berarti ia sedang mencari jalan keluar. Kesibukan mental terasa seperti bentuk tanggung jawab. Bahkan ada rasa bersalah jika kita berhenti memikirkannya, seolah-olah persoalan akan selesai hanya jika diberi perhatian tanpa henti.

Padahal ada kemungkinan lain yang lebih tidak nyaman.

Selama persoalan tetap berada di dalam kepala, kita tidak perlu bertemu dengan kenyataan. Kita tidak perlu mengirim pesan yang sulit, mengakui kesalahan, menerima penolakan, atau mendengar jawaban yang mungkin mengecewakan. Pikiran menawarkan pengganti yang jauh lebih aman: simulasi tanpa akhir. Di sana kita bisa terus mengedit masa lalu, mengulang percakapan, memperbaiki argumen, atau membayangkan berbagai akhir yang lebih memuaskan. Tidak ada risiko. Tidak ada konsekuensi. Yang ada hanya ilusi bahwa sesuatu sedang dikerjakan.

Di situlah penderitaan memperoleh bentuk yang aneh. Ia bukan lagi sekadar akibat dari masalah, tapi mulai menjadi aktivitas. Kita merawatnya. Kita kembali kepadanya berkali-kali, seperti kurator yang setiap hari membersihkan benda yang sama, mengatur pencahayaannya, lalu memastikan seluruh perhatian tetap tertuju ke sana. Lama-kelamaan, yang tumbuh bukan pemahaman, tetapi kedekatan emosional dengan persoalan itu sendiri.

Mungkin karena itu sebagian masalah terasa sangat pribadi. Bukan semata-mata karena ia memang besar, tetapi karena kita telah menginvestasikan begitu banyak perhatian ke dalamnya. Semakin lama sebuah persoalan menghuni kesadaran, semakin sulit kita menerima kemungkinan bahwa ukurannya sebenarnya tidak sebesar yang selama ini kita rasakan. 

Lalu datang satu tindakan kecil. Sebuah telepon yang akhirnya dilakukan. Sebuah email yang akhirnya ditulis. Sebuah pertanyaan yang akhirnya benar-benar diajukan. Tidak semua persoalan selesai setelah itu. Namun sering kali terjadi sesuatu yang mengejutkan: masalah yang selama berminggu-minggu memenuhi kepala mendadak memiliki batas yang jelas. Ia berubah dari bayangan yang tak berbentuk menjadi sesuatu yang dapat disentuh, diukur, bahkan mungkin diselesaikan.

Baru pada saat itulah kita menyadari bahwa selama ini bukan persoalannya yang terus bertambah. Yang bertambah adalah jumlah pantulannya.

Ruang Sunyi

Di dalam studio kedap suara mutakhir, terdapat sebuah ruangan khusus bernama anechoic chamber. Dinding, langit-langit, dan lantainya, tidak dilapisi cat megah, namun ditutupi ribuan baji busa fiberglass tebal berbentuk kerucut. 

Desain kaku itu dirancang untuk satu tugas yang ekstrem: menyerap seluruh pantulan gelombang suara dari arah mana pun tanpa menyisakan gema sekecil mikroba. 

Ketika sebuah mikrofon presisi diuji di dalamnya, ruangan itu tidak menyumbang kebisingan atau warna suara baru; ia menyediakan kesunyian mutlak agar karakter asli dari gelombang yang datang bisa terbaca tanpa cacat penafsiran.

Kita sebenarnya memiliki ruangan semacam itu. Di dalam diri kita. Namun jarang digunakan. Karena kebanyakan orang takut pada kesunyian.

Permainan yang Adil

Tadi, waktu lihat rekaman pembakaran buku Najwa Shihab, aku kaget, dan mikir, “Apa yang terjadi, kok sampai ada pembakaran buku?” 

Setelah cari-cari, ternyata masalahnya sepele, yaitu karena Najwa Shihab menyebut “nebeng” terkait kepulangan manpres Jokowi ke Solo.

Aku sudah melihat video Najwa Shihab yang menyebut “nebeng” itu, dan menurutku cuma keceplosan. Itu sesuatu yang manusiawi dalam percakapan di mana pun. Jadi sangat aneh ketika hal manusiawi semacam itu direspons secara berlebihan, sampai ke pembakaran buku dan aneka hujatan.

Kalau memang ucapan “nebeng” Najwa Shihab dianggap menyinggung suatu pihak, mari sepakati itu benar.

Tapi ada perbedaan antara “tidak sengaja menyinggung” dan “sengaja menyinggung”. Dan seperti yang dibilang tadi, kata “nebeng” itu menurutku cuma keceplosan, bukan kesengajaan.

Ada cara yang sangat mudah untuk tahu apakah seseorang sengaja menyinggung perasaanmu, atau tidak sengaja. 

Kalau seseorang satu dua kali mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu, kemungkinan besar dia tidak sengaja. Namanya manusia, kadang khilaf dan ngomong keceplosan.

Tapi jika seseorang terus menerus mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu, kemungkinan besar dia sengaja. Dalam hal itu, aku tidak akan menyalahkan kalau kemudian kamu marah dan menghujatnya, atau membalasnya.

Ini permainan yang fair, jadi bersikaplah adil dalam bermain!

Terkait ucapan Najwa Shihab tadi, aku percaya dia cuma keceplosan. Wong cuma sekali itu dia mengatakannya. Bahkan jika dia dianggap bersalah, sesekali salah itu manusiawi, dan terlalu berlebihan kalau sampai direspons dengan pembakaran buku. Itu barbar dan tidak berpendidikan!

Aku selalu memegang aturan ini; sekali dua kali salah itu ketidaksengajaan, jadi maafkan saja. Tapi kalau seseorang selalu melakukan kesalahan yang sama, dia pasti sengaja. Silakan balas, kalau kamu mau.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Oktober 2024.

Skripsi, Tesis, Disertasi

Mumpung ingat. Catatan baru di BSM, yang mungkin penting bagi yang lagi mengerjakan skripsi dkk.


Skripsi hanya menjawab “Apa”. Tesis menjawab “Apa dan Mengapa”. Sementara disertasi menjawab “Apa, Mengapa, dan Bagaimana”.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 November 2022.

Tulang Rusuk

"Lagi ngapain, Mas?" | "Ini, lagi nyari..." | "Nyari apa?" | "Uh, nyari... tulang rusuk."

"Pokoknya kita bubaran!" seru si cewek. | "Uh, tapi kenapa?" tanya si cowok. "Kasih alasan, dong!" | "Tulang rusukmu gak sesuai."

Ada apa sebenarnya dengan tulang rusuk? Dan kenapa namanya kok tulang rusuk? Kayak nggak ada nama lain yang lebih keren aja!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2012.

Batas Waktu

Nyalakanlah sebatang lilin. Ia kecil, tapi menerangi gelap. Dan punya batas waktu. Pada akhirnya ia akan habis. Begitu pula hidup kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Kemurnian

Angin yang menggerakkan pohon, ataukah pohon yang menggerakkan angin? Di zaman kita, jawabannya tergantung media.

Telur lebih dulu, ataukah ayam lebih dulu? Bagi kebanyakan orang, jawaban yang benar tergantung siapa yang mengatakan.

Dunia kita menepiskan gembel yang menyatakan kebenaran, dan lebih suka mendengarkan raja yang memuntahkan kebohongan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Juli 2012.

Menceritakan Tragedi

Jika kelak kita menceritakan tragedi dengan nada bangga karena berhasil melewatinya, kenapa sekarang harus menganggapnya tragedi?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Juli 2012.

Mawar di Atas Bantal

Terbangun di tengah malam, mendapati sekuntum mawar di atas bantal. #ternyatamimpi


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Agustus 2012.

Sungguh Lucu

Sungguh lucu membayangkan betapa hidup ini tragedi, tapi ternyata alam semesta menertawakan kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juli 2012.

Baru Bangun Tidur

Laki-laki macam apa jam segini baru bangun tidur? *nguap* *masih ngantuk*


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Juli 2012.

Asyur

Bangsa Asyur.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Waktu Berlalu

Coba perhatikan sebongkah es batu yang mengambang di dalam segelas air. Selama kita menatapnya, hampir tidak ada perubahan yang bisa ditangkap mata. Es itu tampak tetap sebesar tadi. Permukaannya masih keras. Bentuknya hampir sama. Kita bahkan mungkin mulai bertanya-tanya apakah es benar-benar sedang mencair.

Lalu ponsel berbunyi, dan kita bercakap-cakap dengan seseorang di telepon. Perhatian kita pun berpindah beberapa menit. Ketika pandangan kembali ke gelas, es itu sudah jauh mengecil, bahkan mungkin telah hilang sama sekali. Padahal proses mencairnya tidak pernah dipercepat. Yang berubah hanyalah cara kita mengamatinya.

Banyak hal dalam hidup bekerja dengan cara yang sama. Kita hampir tidak pernah merasakan waktu sedang berlalu. Kita baru menyadarinya ketika hasilnya sudah tidak bisa dibatalkan.

Saat menjalani hari demi hari, waktu terasa begitu biasa. Hari Senin datang, disusul Selasa, lalu Rabu. Masing-masing berlangsung selama dua puluh empat jam yang tampaknya cukup panjang. Kita bekerja, makan, membuka ponsel, berbincang, beristirahat, lalu tidur. Besok pagi semuanya dimulai lagi. Dari dalam proses itu, hidup terasa berjalan dengan kecepatan yang wajar, bahkan kadang terasa lambat.

Karena itulah muncul keyakinan yang sangat menggoda: satu hari tidak akan membuat perbedaan. Satu hari lagi menunda menulis. Satu hari lagi menunda belajar. Satu hari lagi menunda menemui orang tua. Satu hari lagi menunda menjaga kesehatan. Yang kita pinjam selalu hanya hari ini. Tidak pernah terdengar berbahaya.

Masalahnya bukan pada satu hari. Masalahnya terletak pada cara otak memperlakukan waktu. 

Ketika menjalani hidup, kita memandang waktu dalam satuan eceran (harian). Yang terlihat hanyalah hari ini. Besok masih ada. Minggu depan masih tersedia. Tahun depan masih tampak jauh. Karena setiap hari terlihat utuh dan penuh, kita merasa memiliki persediaan yang melimpah. Rasanya seperti memiliki dompet yang masih berisi banyak uang receh. Mengeluarkan satu keping tidak terasa mengurangi apa pun.

Namun, ingatan manusia tidak menyimpan kehidupan dalam bentuk eceran. Tidak ada orang yang mengingat dengan jelas apa yang ia lakukan pada hari Kamis, tanggal tertentu, tiga tahun yang lalu. Yang diingat adalah sesuatu yang jauh lebih besar: tiga tahun telah lewat.

Di situlah ilusi bekerja dengan sangat rapi. Saat menjalani waktu, kita menghitung hari. Saat mengenangnya, kita menghitung tahun.

Akibatnya, ribuan keputusan kecil yang tampak sepele ketika diambil berubah menjadi satu kesimpulan besar ketika dipandang dari belakang. Kita tidak berkata, "Aku kehilangan tiga ratus empat puluh tujuh hari." Kita berkata, "Aku kehilangan satu tahun." Kita tidak mengingat ratusan malam ketika memilih menunda. Kita hanya melihat bahwa usia bertambah, sementara hidup hampir tidak berubah.

Perbedaan antara “eceran” (harian) dan “grosir” (tahunan) itulah yang sering luput dari perhatian. Satu hari memang kecil. Tetapi hidup tidak pernah menagih dalam satuan hari. Ia selalu menagih dalam satuan tahun.

Saya merencanakan menulis buku baru sejak lima tahun yang lalu. Tidak pernah sehari pun saya berkata, "Aku akan membuang lima tahun hidupku." Yang terjadi jauh lebih sederhana. Hari ini terlalu lelah. Besok saja. Minggu ini banyak urusan. Bulan depan suasana mungkin lebih tenang. 

Setiap alasan terdengar masuk akal jika berdiri sendiri. Tidak ada keputusan yang tampak fatal. Lima tahun kemudian, buku yang ingin saya tulis masih berada di dalam kepala. 

Begitu pula dengan hubungan antarmanusia. Tidak banyak anak yang sengaja memutuskan untuk kehilangan kesempatan berbincang dengan ayah atau ibunya. Yang terjadi hanyalah penundaan kecil yang terus berulang. Nanti saja menelepon. Minggu depan saja berkunjung. Setelah pekerjaan selesai. Setelah keadaan lebih longgar.

Lalu suatu hari, kesempatan itu benar-benar hilang. Bukan karena satu keputusan besar, tapi karena terlalu banyak keputusan kecil yang dianggap tidak berarti.

Penyesalan hampir selalu memiliki pola yang sama. Ia jarang berasal dari satu kesalahan dramatis. Ia lebih sering tumbuh dari akumulasi hal-hal yang terus ditunda.

Yang membuat penyesalan terasa menyakitkan adalah kenyataan bahwa semuanya tampak sangat masuk akal ketika sedang dijalani. Tidak ada alarm yang berbunyi saat kita memutuskan menunda sehari. Tidak ada tanda bahaya yang muncul ketika kita berkata, "Masih ada waktu."

Alarm itu baru terdengar ketika waktu sudah berubah menjadi masa lalu. Barulah kita melihat bahwa yang hilang bukan satu sore, tapi bertahun-tahun kemungkinan.

Ada paradoks yang menarik tentang usia. Ketika berumur empat belas tahun, empat tahun terasa seperti keabadian. Ketika berumur empat puluh tahun, empat tahun terasa seperti musim yang lewat begitu saja. Semakin panjang hidup dijalani, semakin pendek potongan waktu terasa dari belakang. Karena itulah banyak orang tua berkata bahwa hidup berjalan sangat cepat. Bukan karena jam berdetak lebih cepat, tetapi karena cara otak menyusun kenangan berubah. 

Mungkin karena itu pula nasihat tentang menghargai waktu sering gagal menyentuh orang yang masih muda. Mereka mendengar kalimatnya, tetapi belum mengalami ilusi itu sendiri. Mereka masih melihat hari-hari sebagai sesuatu yang panjang. Mereka belum pernah menoleh ke belakang dan terkejut melihat satu dekade lenyap hampir tanpa suara.

Padahal waktu tidak pernah berubah sifat. Yang berubah hanyalah posisi kita terhadapnya. Selama berada di dalam arus, ia tampak tenang. Begitu kita menoleh ke belakang, kita baru sadar betapa jauhnya arus telah membawa kita.

Persoalannya, sering kali, bukan apakah kita memiliki cukup waktu. Sebagian besar orang, pada titik tertentu, pernah memiliki waktu yang cukup. Persoalannya adalah kita terus menganggap setiap hari sebagai unit yang berdiri sendiri, padahal kehidupan sedang menggabungkan semuanya menjadi satu cerita besar.

Setiap hari yang tidak dipakai membangun sesuatu akan bergabung dengan hari-hari lain menjadi satu tahun yang kosong. Setiap pertemuan dengan orang tua yang terus ditunda akan bergabung dengan pertemuan lain yang tidak pernah terjadi. Setiap lembar yang tidak ditulis akan bergabung dengan lembar-lembar lain yang tidak pernah lahir.

Tidak ada satu hari yang mampu menghancurkan masa depan. Tapi masa depan dibangun oleh kumpulan hari yang tampaknya tidak penting.

Es di dalam gelas tidak pernah tiba-tiba mencair. Ia kehilangan dirinya setetes demi setetes. Begitu pun waktu. Tidak ada hari yang cukup besar untuk mencuri hidup kita. Yang melakukannya adalah ribuan hari kecil yang kita anggap terlalu sepele untuk dijaga.

Waktu terasa lambat ketika sedang kita jalani, tapi terasa sangat cepat ketika sudah jadi kenangan. Kita melihat hidup seperti orang yang menghitung uang receh ketika membelanjakannya, lalu terkejut ketika melihat jumlah akhirnya.

Dan pada titik tertentu, setiap orang akan memahami sesuatu yang terlambat dipelajari: kita tidak pernah benar-benar kehilangan tahun. Kita kehilangan hari-hari yang dulu kita anggap tidak penting, lalu hari-hari itu diam-diam membentuk tahun yang tidak akan pernah kembali.

Pertumbuhan

Manusia tidak mudah melepaskan sesuatu hanya karena kenyataan sudah membantahnya. Isi kepala sering memperoleh perlakuan yang lebih istimewa daripada fakta di depan mata. Ketika keduanya bertabrakan, kita cenderung memperbaiki cara melihat kenyataan lebih dulu sebelum bersedia memperbaiki keyakinan sendiri. Kenyataan dipaksa menunggu sampai ego selesai bernegosiasi.

Saya semakin melihat bahwa rasa "sudah tahu" memiliki daya tarik yang luar biasa. Ia memberi ketenangan tanpa perlu membuktikan dirinya benar. Begitu perasaan itu hadir, pikiran mulai berubah fungsi. Informasi baru tidak lagi dicari untuk memperbaiki pemahaman, tetapi untuk mempertahankan pemahaman yang sudah ada. Semakin lama seseorang hidup dengan keyakinan tertentu, semakin besar godaan untuk menganggap setiap pertanyaan baru sebagai gangguan, bukan kesempatan.

Keadaan itu menjelaskan mengapa pengalaman tidak selalu membuat seseorang bertumbuh. Pengalaman memang bertambah setiap tahun, tetapi cara membacanya bisa berhenti berkembang jauh lebih awal. Dunia terus berubah, sedangkan isi kepala diam-diam menuntut dunia agar tetap sesuai dengan peta lama yang terasa nyaman.

Rasa ingin tahu bekerja dengan arah yang berlawanan. Ia memaksa seseorang meragukan petanya sendiri sebelum meragukan kenyataan. Pekerjaan itu melelahkan karena setiap pertanyaan baru selalu mengandung satu pengakuan yang tidak enak didengar: “selama ini aku belum melihat seluruhnya.”

Pertumbuhan memang tidak dimulai ketika kita menemukan jawaban baru. Ia dimulai ketika keyakinan lama akhirnya kehilangan hak istimewanya.

Tulisan di Buku

Tiap nemu buku dengan tulisan "terjual 1 juta copy", jiwa bocahku bergetar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 November 2022.

Kegilaan Geometris

Ketika kita berdiri di tengah ruangan yang dikelilingi belasan cermin distorsi, kita akan melihat diri sendiri memanjang di satu sudut, melebar secara menggelikan di sudut lain, dan mendadak mengecil di cermin ketiga. Setiap cermin memantulkan siluet yang berbeda, tergantung lengkungan kacanya. 

Menuntut diri kita untuk mengubah bentuk nyata kita agar selaras dengan pantulan di setiap permukaan kaca tersebut adalah kegilaan geometris. Cermin itu tidak menggambarkan siapa kita; mereka hanya menggambarkan cacat bentuk permukaannya sendiri.

Menjemput Mbakyu

Saya baru keluar dari warung, usai makan siang, ketika sebuah motor melaju pelan, lalu berhenti di depan saya berdiri.

Ternyata Fa’ad.

“Kebetulan ketemu kamu di sini,” ujar Fa’ad. “Aku dititipi undangan buat kamu.”

Fa’ad membuka jok motor matiknya, mengambil setumpuk undangan, memilah-milahnya sesaat, lalu mengambil selembar, dan menyerahkannya pada saya.

Saya menerima undangan itu, dan langsung tahu siapa yang akan menikah. Saya pun mengucapkan terima kasih.

Fa’ad kembali menaiki motor, bersiap melanjutkan perjalanan.

Saya bertanya, “Kamu dari mana atau mau ke mana, Ad?”

“Aku mau menjemput mbakyuku,” jawab Fa’ad.

Fa’ad berlalu.

Tapi kalimatnya masih tertinggal.

Menjemput mbakyu. Indah sekali kata-kata itu.

Catatan dan Dokumentasi

Secara pribadi, aku juga mikirnya kayak gini. Sesuatu yang disebut "sihir" itu sebenarnya hal-hal yang tidak/belum dipahami orang pada zamannya.

Dan makhluk-makhluk mitologi lahir karena orang-orang [khususnya zaman dulu] suka membesar-besarkan hal aneh yang mereka lihat/dengar.

Berdasarkan sejarahnya, makhluk-makhluk aneh yang belakangan jadi mitologi semacam manticore, centaurus, atau unicorn, itu bukan lahir dari ruang hampa. Tapi lahir karena orang zaman dulu melihat hewan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, lalu membesar-besarkannya.

Jadi, selalu ada kemungkinan kalau peristiwa-peristiwa aneh atau kemampuan-kemampuan aneh yang terjadi pada masa lalu, yang belakangan diklaim sebagai sihir, sebenarnya hal-hal biasa tapi terlihat luar biasa pada zaman itu, dan kemudian orang-orang membesar-besarkannya.

Wong sampai detik ini aja, aku masih takjub pada kemampuan AI atau ilusi optik yang dihasilkan billboard 3D. Itu bahkan aku tahu cara kerjanya, tapi aku tetap tercengang setiap kali menyaksikan keajaiban yang mereka hasilkan, sampai aku berpikir, "Ini benar-benar tak masuk akal."

Jika, umpamakan saja, aku "membesar-besarkan" kemampuan AI atau billboard 3D hingga terdengar berbeda jauh, apakah orang-orang akan percaya? Tidak, mereka akan tertawa!

Kenapa? Karena zaman yang sekarang kita alami berbeda jauh dengan zaman ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu.

Catatan dan dokumentasi! Itulah inti masalahnya!

Jika sekarang, entah bagaimana, terjadi bencana atau sistem tunggal pemerintahan dunia yang menghancurkan seluruh catatan dan dokumentasi yang dapat ditemukan di zaman sekarang, aku akan bisa ngibul pada generasi yang akan datang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Desember 2024.

Kabut Hidup

Lampu kecil yang berkedip di layar sering lebih cepat membuat panik daripada masalah yang sebenarnya. Begitu muncul tanda peringatan, kepala segera bekerja: pasti ada yang salah. Kebiasaan itu terbentuk karena kita hidup di tengah perangkat yang dirancang untuk memberi sinyal ketika terjadi gangguan. Baterai merah berarti harus diisi. Ikon silang berarti koneksi terputus. Notifikasi gagal berarti proses berhenti. Pelan-pelan cara berpikir itu masuk ke wilayah yang sama sekali berbeda.

Saat hidup terasa kabur, kita buru-buru menyimpulkan bahwa keputusan kita pasti keliru. Ketika hasil belum tampak, kita menganggap langkah sebelumnya salah hitung. Rasa cemas diperlakukan seperti alarm objektif, seolah emosi memiliki akses langsung pada kebenaran. Padahal emosi lebih sering berbicara tentang rasa aman daripada tentang fakta.

Kepala kita tampaknya memiliki kebiasaan aneh: mencampuradukkan ketidaknyamanan dengan kesalahan. Begitu suasana berubah asing, otak segera mengajukan tuduhan kepada diri sendiri. Jarang sekali ia lebih dulu mempertimbangkan kemungkinan bahwa keadaan memang sedang menuntut lintasan yang berbeda.

Ini bukan sekadar soal keberanian. Yang bekerja jauh lebih dalam adalah cara manusia membaca sinyal. Pikiran menyukai kepastian, karena kepastian menghemat energi. Sesuatu yang sudah dikenali tidak perlu dianalisis terus-menerus. Sebaliknya, ketidakpastian memaksa otak tetap siaga. Tubuh mengeluarkan respons seolah sedang menghadapi ancaman, meskipun yang sebenarnya terjadi hanyalah informasi yang belum lengkap.

Kesalahan muncul ketika sensasi biologis itu dianggap sebagai bukti logis. Jantung berdebar, lalu kita menyimpulkan keputusan salah. Tidur tidak nyenyak, lalu kita menganggap masa depan sedang runtuh. Padahal tubuh hanya sedang bereaksi terhadap wilayah yang belum dikenalnya.

Mungkin itulah warisan dunia modern yang jarang dibicarakan. Hampir semua sistem yang kita gunakan sekarang dibangun agar dapat diprediksi. Paket dapat dilacak. Kendaraan ojol memiliki estimasi waktu tiba. Saldo berubah dalam hitungan detik. Kita jadi terbiasa hidup bersama kepastian mikro. Tanpa sadar, kepala mulai menuntut agar seluruh kehidupan mengikuti standar yang sama. Sedikit saja muncul ruang kosong yang tidak dapat diprediksi, kita menganggap sistemnya rusak.

Padahal hidup tidak pernah bekerja seperti aplikasi yang memberi pembaruan status setiap beberapa menit. Sebagian besar keputusan penting justru bergerak dalam keadaan yang tidak memberi konfirmasi apa pun. Tidak ada indikator bahwa suatu hubungan akan berhasil. Tidak ada grafik yang memastikan pekerjaan baru akan membawa hasil. Tidak ada sertifikat yang menjamin pilihan hari ini akan terasa benar lima tahun mendatang.

Ketenangan tampaknya tidak lahir ketika kabut menghilang. Yang berubah justru cara kita memperlakukan kabut itu sendiri. Ia berhenti dibaca sebagai pesan bahwa kita sedang gagal bernavigasi. Ia kembali menjadi apa adanya: keadaan alam.

Sisanya tinggal terus berjalan, meski pandangan belum jauh.

Yang Kurisaukan

Yang kurisaukan adalah keyakinan yang tak pernah diperiksa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2012.

Distorsi Perspektif

Ketika menatap langit malam menggunakan mata telanjang, kita mungkin melihat dua titik bintang yang tampak menempel sangat intim, seolah-olah mereka adalah sepasang benda langit yang sedang berdansa mengitari pusat gravitasi yang sama. 

Namun, astrofisika memberi tahu bahwa kedekatan itu hanyalah distorsi perspektif dari bumi. Kenyataannya, bintang pertama berada sepuluh tahun cahaya di depan, sementara bintang kedua berada ratusan tahun cahaya di belakangnya, terpisah oleh ruang hampa udara yang dingin dan luas tak terhingga.

Mata kita sering menipu. Tapi kita tidak tahu. 

Atau pura-pura tidak tahu.

Waktu

Waktu, kalau tak ditunggu, rasanya cepat sekali berlalu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Agustus 2012.

Jumat, 31 Juli 2026

Gara-gara Omongan Pacar

Ini kisah konyol yang sebenarnya membuat saya malu sendiri. Tetapi saya telanjur jengkel gara-gara kisah konyol ini, hingga memutuskan untuk menuliskannya di sini sebagai semacam klarifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat. Semua nama yang saya sebut dalam catatan ini telah disamarkan, namun alur peristiwanya sesuai yang benar-benar terjadi.

Kisah konyol ini dimulai dengan sebuah e-mail dari seorang perempuan. Sebut saja namanya Dewi. Di antara banyak e-mail lain yang biasa saya terima, Dewi hanyalah satu di antara sekian banyak orang di inbox e-mail. Artinya, saya tidak punya perhatian khusus kepadanya. Sebenarnya, saya bahkan tidak peduli siapa dia. Saya membalas e-mailnya secara relevan sebagaimana saya membalas e-mail orang-orang lain. 

Dewi berulang kali mengirim e-mail. Tidak semua e-mailnya saya balas. Lalu dia mengirim undangan agar saya bergabung dengannya di Facebook. Undangan itu pun saya abaikan. Sudah lama sekali saya kehilangan minat bermain Facebook. Kenyataannya, yang mengirim undangan semacam itu bukan hanya Dewi, dan semuanya saya abaikan.

Tetapi Dewi rupanya tidak pantang menyerah. Dia terus menerus mengirimkan undangan yang sama. Karena penasaran, saya pun mencoba mengecek akun Dewi di Facebook, untuk tahu lebih lanjut siapa sebenarnya perempuan itu. 

Di akun Facebook-nya, terdapat identitas cukup lengkap mengenai Dewi, termasuk artis idola sampai buku favorit. Yang menarik perhatian saya, ternyata Dewi berteman dengan Nabil. Si Nabil ini teman saya di dunia nyata. 

Lagi-lagi karena penasaran, saya mengontak Nabil, dan bertanya kepadanya, siapa Dewi. Di luar dugaan, ternyata Dewi adalah pacar Nabil.

Dan, sejak itu, hubungan saya dengan Nabil mulai renggang. Nabil menjauh dari saya.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang terjadi, hingga menyebabkan Nabil menjauhi saya. Kenyataannya kami memang tak pernah bertemu sejak itu, hingga dia maupun saya tidak bisa saling menjelaskan apa pun. Tetapi bahwa kenyataan itu terjadi setelah saya menanyakan Dewi kepadanya, mau tak mau membuat saya berpikir. 

Jika saya membayangkan apa yang telah terjadi, kira-kira seperti inilah bayangan saya mengenai apa yang terjadi....

Setelah saya bertanya pada Nabil tentang Dewi, yang ternyata pacarnya, Nabil pun meneruskan percakapan kami pada Dewi. Dia tentu penasaran, kenapa saya tiba-tiba bertanya tentang pacarnya. Bisa jadi, karena merasa “tertangkap basah”, Dewi mengarang cerita yang melenceng dari kisah sebenarnya, yang kemudian menyebabkan Nabil menjauhi saya. 

Dalam kisah sebenarnya, Dewi berulang kali mengirim e-mail kepada saya, hingga saya penasaran dan melacak dirinya. Tetapi, dalam kisah Dewi pada Nabil, tidak menutup kemungkinan dia menceritakan kisah yang berbeda. Sebagai pacar, Nabil tentu akan mempercayai cerita pacarnya. Tanpa klarifikasi kepada saya, bisa jadi dia diam-diam memendam kekesalan, hingga memutuskan menjauhi saya.

Kisah konyol itu memberi saya pelajaran mengenai pentingnya klarifikasi, agar tidak dikuasai prasangka. Kalau pacar kita menceritakan sesuatu menyangkut orang lain, silakan percaya kepadanya. Tapi jangan menutup diri untuk melakukan klarifikasi. 

Omong-omong soal klarifikasi, sekarang saya ingin menceritakan kisah seorang teman. Kisah ini mirip dengan yang saya alami, namun kadarnya lebih parah.

Safik, teman saya, berteman dengan Ale. Ale punya pacar bernama Ervin. Baik Ale maupun Ervin akrab dengan Safik. Mereka juga akrab dengan saya. Kami biasa ngumpul dan bercanda sebagaimana layaknya teman.

Suatu hari, ada acara kumpul-kumpul di suatu tempat. Ada banyak orang yang datang waktu itu, termasuk Safik, Ale, Ervin, dan saya. Malam hari, seusai acara rampung, saya duduk di depan komputer, browsing internet. Lalu muncul Safik, disusul Ervin. Kami bercakap-cakap di depan komputer, sambil saya terus memindai laman-laman internet. 

Di suatu laman, kebetulan ada gambar kartun yang lucu; wanita gemuk yang lagi pegang sapu. Safik meledek Ervin, menyatakan kartun itu mirip Ervin. Ervin paham itu cuma olok-olok yang ditujukan sebagai candaan, dan kami pun tertawa bersama waktu itu. Saya tahu betul, Ervin sama sekali tidak marah, karena memahami itu cuma gurauan antarteman. Kenyataannya kami semua—termasuk Safik dan Ervin—telah akrab berteman.

Pagi harinya, usai bangun tidur, saya duduk-duduk bersama Ale sambil menikmati teh hangat. Di luar dugaan, kami mendapati Ervin baru datang bersama Rudi, cowok yang juga teman kami. Ale maupun saya tidak tahu dari mana Ervin dan Rudi waktu itu. Tapi saya hanya berpikir positif, mungkin Ervin baru saja sarapan dengan Rudi, karena Ale masih tidur.

Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang jelas, siang harinya, Ale marah-marah pada Safik. Pasalnya, menurut Ale, Safik telah menghina pacarnya, dengan menyamakan Ervin seperti kartun jelek di internet. Safik kebingungan. Seingatnya, masalah kartun itu hanya olok-olok yang dimaksudkan sebagai gurauan, dan Ervin sama sekali tidak marah. Kenapa sekarang Ale marah-marah soal itu?

Safik menyatakan, “Biar kujelaskan apa yang terjadi...”

Tapi Ale sudah meradang. “Jelaskan sendiri pada pacarku! Dia sedang menangis gara-gara ulahmu semalam!”

Bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Semalam, saya menjadi saksi peristiwa soal kartun yang sekarang dipermasalahkan Ale. Semalam, saya tahu betul bahwa urusan kartun yang disebut mirip Ervin hanyalah gurauan, dan Safik maupun Ervin paham itu cuma gurauan. Saya bahkan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa Ervin tertawa-tawa karena gurauan itu, dan sama sekali tidak marah. Tetapi, sekarang, Ale menyatakan Ervin sedang menangis karena disamakan seperti kartun oleh Safik.

Sekali lagi, bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Tanpa bermaksud membela siapa pun, saya bisa membayangkan apa yang telah terjadi. Ketika Ervin kepergok Ale baru pulang bersama Rudi, Ervin mungkin merasa bersalah. Sebagai pacar, Ale mungkin bertanya pada Ervin, dari mana dia dengan Rudi. 

Entah apa yang dinyatakannya kepada Ale, yang jelas Ervin kemudian “memanipulasi” kisah antara dirinya dan Safik soal kartun semalam, dengan tujuan “membelokkan” kemarahan Ale. Hasilnya, alih-alih marah kepada pacarnya, Ale berbalik marah kepada Safik—tepat seperti yang diharapkan Ervin.

Salah satu keahlian perempuan adalah memanipulasi pacarnya. Dan laki-laki biasanya mudah teperdaya oleh pacarnya, apalagi jika didramatisir air mata. 

Karenanya, jika cewekmu menceritakan apa saja yang terkait orang lain, percayalah kepadanya. Tapi jangan berhenti di situ. Lakukan klarifikasi pada orang terkait, agar tidak menimbulkan masalah. Karena, jika kita semata hanya percaya tuturan pacar namun tidak mau melakukan klarifikasi, kita hanya separuh benar. Dan separuh benar tentu bukan kebenaran. 

Sampai sekarang, hubungan Safik dengan Ale tidak sebaik dulu. Padahal sebelumnya mereka berteman akrab tanpa masalah. Bagaimana pun, Safik mengakui, dia masih jengkel kepada Ale, karena disalahkan untuk sesuatu yang ia pikir bukan kesalahannya. Safik juga mengakui masih membenci Ervin, karena dia menilai Ervin telah memanipulasi dirinya.

Hanya karena tuturan pacar secara sepihak, hubungan pertemanan bertahun-tahun yang semula baik dan menyenangkan bisa rusak dan terpecah. 

Ingin Kaya tapi Belum Tentu Ingin Bekerja

Jack Ma mengusulkan agar para karyawannya bekerja 12 jam setiap hari. Seperti yang sudah diduga banyak orang, usul itu langsung diprotes bahkan ditolak mentah-mentah. Karena kebanyakan orang memang ingin kaya, tapi belum tentu ingin kerja.

Kalau kau mencari cowok gaul yang suka nongkrong, eksis di Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, dan bertingkah sok kaya, aku mundur.

Tapi kalau kau mencari cowok biasa yang rajin belajar dan giat bekerja, dan menjalani hidup bersahaja tanpa peduli apa kata dunia, aku maju.

Rata-rata lowongan kerja ngasih syarat "penampilan rapi", "bisa berkomunikasi dengan baik", dan semacamnya. Tapi sepertinya belum ada yang mensyaratkan "mampu bekerja 12 jam setiap hari".

Kalau ada yang begitu, mungkin aku akan tergoda melamar, siapa tahu gajinya memang besar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 April 2019.

Kenangan, Pelajaran, dan Keperluan

Cinta pertama adalah kenangan, cinta kedua adalah pelajaran, dan cinta yang seterusnya adalah keperluan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 September 2012.

Di Balik Lelaki Hebat

Di balik lelaki hebat ada perempuan hebat. Sepertinya, begitu pula di balik setiap lelaki gagal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Mengisahkan dan Mengutuk

Kita mengisahkan dongeng Angin dan Matahari. Tetapi, di saat sama, kita mengutuk matahari dan menyalakan kipas angin.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Efeknya Seperti Gempa

Bencana adalah ketika kau mendonlut something sebesar empat giga, tapi terhapus dan hilang tanpa sengaja. Percayalah, efeknya seperti gempa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Agustus 2012.

 
;