Selasa, 01 September 2026

Kuburan di Komputer

Saat bersih-bersih ruang harddisk, tanpa sengaja saya menemukan folder lama di komputer, lalu melihat isinya. Ada dokumen bernama "Final". Di sebelahnya ada "Final_Banget". Beberapa langkah kemudian muncul "Final_Fix", "Final_Rev", "Final_Terakhir", dan entah kenapa masih ada lagi "Resolusi_2025" yang dibuat dengan penuh semangat, lalu tidak pernah dibuka kembali.  

Pemandangan seperti itu hampir menjadi lelucon universal di era digital. Kita menertawakannya karena merasa akrab. Namun, jika diperhatikan lebih lama, folder itu bukan sekadar kumpulan berkas. Ia adalah museum kecil yang menyimpan jejak sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar proyek yang tertunda. Ia adalah kuburan dari rasa takut yang menyamar sebagai persiapan.

Sebagian besar proyek itu tidak mati karena kekurangan kemampuan. Banyak di antaranya berhenti sebelum benar-benar diuji. Belum pernah dipresentasikan, belum pernah dipublikasikan, belum pernah dicoba kepada siapa pun. Mereka lahir, diberi nama yang terdengar serius, lalu perlahan tenggelam di antara folder-folder lain. 

Kita sering menyebut keadaan itu sebagai "belum siap". Istilah itu terdengar masuk akal, terkesan dewasa, bahkan terdengar bertanggung jawab. Siapa yang ingin meluncurkan sesuatu dalam keadaan setengah matang? Tidak ada yang salah dengan persiapan. Yang bermasalah adalah ketika persiapan berubah menjadi tempat persembunyian yang terasa aman.

Ada pertanyaan yang jarang diajukan kepada diri sendiri. Sebenarnya, siap menurut ukuran siapa?

Banyak orang mengira sedang mengejar kualitas. Kenyataannya, mereka sedang mengejar kemungkinan yang mustahil: sebuah momen ketika tidak ada lagi risiko terlihat bodoh. Mereka ingin hari pertama yang tampak seperti hari keseratus. Mereka berharap karya pertama terasa seperti karya seorang ahli. Mereka ingin presentasi pertama berlangsung tanpa gugup, tulisan pertama langsung dipuji, usaha pertama langsung meyakinkan semua orang. Yang sedang dicari bukan kesiapan, tapi perlindungan dari rasa malu.

Keinginan itu sangat manusiawi. Tidak ada orang yang senang dinilai buruk. Kita hidup di tengah budaya yang gemar melihat hasil akhir tanpa menyaksikan prosesnya. Ketika melihat musisi tampil memukau, kita menikmati konsernya, bukan ribuan jam latihan yang dipenuhi nada-nada sumbang. Ketika membaca buku yang terasa matang, kita tidak melihat puluhan halaman yang dibuang dan dihapus penulisnya. Ketika melihat pembicara menjelaskan sesuatu dengan tenang, kita tidak menyaksikan presentasi-presentasi awal yang berantakan.

Akibatnya, kita membandingkan hari pertama kita dengan puncak perjalanan orang lain.

Perbandingan itu menghasilkan tuntutan yang mustahil dipenuhi. Kita mulai berpikir bahwa sebelum melangkah, semua celah harus ditutup lebih dulu. Semua kemungkinan kesalahan harus dihilangkan. Semua kritik harus diantisipasi. Kita sibuk mengumpulkan pengetahuan, membeli kursus, atau menyusun rencana berkali-kali. Aktivitasnya terlihat produktif. Kesibukan itu memberi rasa nyaman karena membuat kita merasa sedang bergerak, padahal kaki belum benar-benar meninggalkan garis awal.

Saya melihat kembali folder-folder tadi. Nama file-nya berubah, tanggalnya berganti, versinya bertambah, tetapi satu hal tetap sama: proyek itu tidak pernah bertemu dunia nyata. 

Dunia nyata memang tidak ramah terhadap kesempurnaan. Dunia hanya memberi umpan balik kepada sesuatu yang benar-benar hadir. Sebuah tulisan yang belum diterbitkan tidak akan menemukan pembaca. Sebuah toko yang belum dibuka tidak akan pernah mendapat pelanggan. Sebuah gagasan yang terus disimpan tidak pernah memiliki kesempatan untuk tumbuh melalui koreksi.

Semua orang yang hari ini tampak mahir sebenarnya memiliki arsip yang jarang diperlihatkan. Ada tulisan yang buruk, presentasi yang membosankan, desain yang gagal, produk yang tidak laku, keputusan yang keliru. Arsip itu tidak dihapus dari sejarah mereka. Arsip itu justru menjadi fondasi dari kemampuan yang sekarang terlihat begitu alami. Keahlian tidak muncul setelah seseorang merasa siap. Keahlian lahir karena seseorang bersedia berkali-kali terlihat belum siap.

Itu kenyataan yang paling sulit diterima. Kita sering membayangkan keberanian sebagai keadaan ketika rasa takut menghilang. Kehidupan menunjukkan gambaran yang berbeda. Keberanian sering kali hanyalah keputusan untuk tetap membuka pintu meskipun rasa takut masih duduk di ruang tamu.

Tidak ada tanggal di kalender yang diberi tanda khusus sebagai hari ketika seseorang akhirnya resmi siap menjalani hidupnya. Tidak ada alarm yang berbunyi lalu berkata, "Sekarang kamu sudah cukup pintar. Sekarang kamu tidak akan membuat kesalahan lagi." Hidup tidak bekerja dengan cara seperti itu. Ia terus bergerak sambil mengundang kita belajar di tengah perjalanan.

Mungkin suatu hari nanti folder "Final_Banget" masih akan ada di komputer. Mungkin nama-nama aneh itu tetap membuat kita tersenyum. Namun akan jauh lebih menyenangkan jika di sampingnya ada sesuatu yang benar-benar selesai, benar-benar dikirim, benar-benar dicoba, meski hasil pertamanya jauh dari sempurna. 

Hidup tidak pernah menunggu seseorang merasa siap. Hidup hanya memberi ruang kepada mereka yang bersedia memulai sebelum keyakinannya lengkap.

Lawan Kebodohan Bukan Kecerdasan

Selama bertahun-tahun kita belajar menghubungkan pengetahuan dengan nilai diri. Anak yang bisa menjawab dipuji. Murid yang tidak tahu diminta belajar lebih giat. Di tempat kerja, orang yang dianggap ahli memperoleh kepercayaan lebih besar. Sedikit demi sedikit, pengetahuan berhenti menjadi alat memahami dunia. Ia berubah menjadi bagian dari harga diri.

Perubahan itu hampir tidak terasa. Suatu saat kita tidak lagi mempertahankan pendapat karena pendapat tersebut paling masuk akal. Kita mempertahankannya karena mundur satu langkah terasa seperti kehilangan wibawa. Pikiran mulai bekerja dengan tujuan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari apa yang benar, tetapi mencari apa yang membuat citra diri tetap utuh.

Keadaan itu menjelaskan mengapa seseorang dapat terus memegang keyakinan lama meskipun hasilnya berkali-kali terbukti keliru. Bukan karena informasi baru tidak tersedia. Dunia hari ini dipenuhi pengetahuan yang bisa diakses dalam hitungan detik. Hambatan yang sebenarnya muncul lebih awal: informasi baru harus melewati penjaga bernama "saya sudah tahu". Penjaga itu sangat jarang membuka pintu.

Rasa ingin tahu memiliki sifat yang hampir berlawanan. Ia memaksa seseorang merelakan kenyamanan menjadi orang yang merasa mengerti. Setiap pertanyaan baru mengandung pengakuan bahwa isi kepala hari ini belum cukup. Pengakuan seperti itu memang tidak menyenangkan, tetapi justru itulah yang membuat pikiran tetap lentur. Cara berpikir yang tidak pernah diganggu oleh pertanyaan akhirnya membatu. Dunia berubah, sementara isi kepala tetap menunggu kenyataan menyesuaikan diri.

Saya semakin percaya bahwa lawan kebodohan bukan kecerdasan. Lawannya adalah keyakinan bahwa proses belajar telah selesai. Sejak keyakinan itu menetap, setiap pengetahuan baru berubah status. Ia tidak lagi datang sebagai tamu yang disambut, tetapi sebagai penyusup yang harus ditolak.

Tidak ada yang tampak dramatis ketika seseorang menyadari bahwa dia belum tahu, lalu berusaha belajar, atau bertanya pada orang yang lebih tahu. Yang berubah hanya beberapa detik pengakuan, “Saya belum tahu.” 

Arah hidup seseorang sering mulai bergeser tepat pada detik yang sederhana itu.

Datang dan Pergi

Datang dan pergi, datang dan pulang. Daun jatuh tak pernah kembali kepada ranting, pun waktu yang hilang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Juli 2012.

Satu Hari Lagi

Pagi adalah kesadaran bahwa satu hari lagi datang, dan satu hari lagi hilang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Mei 2012.

Masa Lalu

Masa lalu berkirim surat untukku. Mungkin dia pikir aku masih yang dulu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Hal Besar

Hal-hal besar selalu dimulai dari dalam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Juni 2012.

Rindu Menangisi Jarak

Pada mulanya adalah cinta. Benar, pada mulanya adalah tuntutan spesies untuk melangsungkan keturunan.

Mulanya, cinta tampak indah di kejauhan. Lalu semakin indah dalam dekat. Setelah itu, rindu menangisi jarak.

Setelah selesai melukis di kanvas, si pelukis akan mengambil jarak untuk menilai. Sayangnya, cinta sering tak memberikan jarak.

Cinta adalah jarak yang diretas, paradoks paling absurd dalam logika manusia.

Dari mana datangnya cinta? Bukan dari hati. Ia datang dari otak, manipulasi yang lahir dari scotoma.

Scotoma adalah sesuatu yang kita lihat, karena kita memang ingin melihatnya.

Cinta hadir karena tertarik. Ketertarikan datang karena indah. Keindahan selalu terlihat dari jauh.

Cara ampuh menghilangkan perasaan cinta pada seseorang: Kenali dia lebih dekat.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Juli 2012.

Film Pernikahan Terbaik

"Aku mencintaimu. Tapi yang kita lakukan adalah saling membenci, dan saling berusaha mengendalikan, dan saling menyakiti," kata si pria.

Dan si wanita menjawab, "Itulah pernikahan."

Itu dialog dalam Gone Girl, salah satu "film pernikahan" terbaik yang pernah kusaksikan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2019.

La Luna

Pero sólo puedo ver la luna. RT @YoSoyCookiee Soy la luna del sol de tus ojos.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 April 2014.  

Hubungan

Semua hubungan dibangun dengan perasaan nyaman. Kenyamanan dibangun dengan percakapan menyenangkan. Percakapan adalah hasil kerja dua orang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Mei 2014.  

Senin, 31 Agustus 2026

Kemenangan Sunyi

Saya selalu merasa aneh ketika mendengar seseorang berkata, "Keadaannya memang memaksa saya jadi seperti ini."

Kalimat itu terdengar masuk akal. Dunia memang sering tidak adil. Orang bisa dikhianati, diperlakukan curang, kehilangan pekerjaan, menjadi korban keputusan yang sama sekali tidak mereka buat. Semua itu nyata. Yang membuat saya berhenti justru bagian setelahnya. Mengapa kekacauan di luar tiba-tiba diberi hak untuk menentukan karakter seseorang?

Mungkin kita terlalu sering membayangkan diri sebagai produk lingkungan. Ketika keadaan baik, kita merasa mudah bersikap baik. Ketika keadaan memburuk, keburukan kita dianggap reaksi yang wajar. Kemarahan memperoleh pembenaran. Ketidakjujuran berubah menjadi strategi bertahan hidup. Kekejaman diberi nama balasan yang pantas. Seolah-olah karakter hanyalah pantulan otomatis dari situasi yang sedang berlangsung.

Cara berpikir seperti itu diam-diam sangat memanjakan ego. Seluruh kesalahan dipindahkan ke luar diri. Politik yang kacau. Atasan yang buruk. Pasar yang lesu. Masa kecil. Pendidikan. Lingkungan. Daftarnya tidak pernah habis. Kita sibuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab atas keadaan, lalu lupa bertanya siapa yang bertanggung jawab atas respons kita.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua orang memiliki peluang yang sama. Itu jelas tidak benar. Saya juga tidak sedang mengajak menerima ketidakadilan dengan pasrah. Yang saya tolak adalah kebiasaan menyerahkan kemudi batin kepada sesuatu yang memang sejak awal tidak pernah bisa kita atur. Dunia berubah menjadi semacam diktator yang setiap hari memberi izin kepada kita untuk berlaku buruk.

Aneh. Tidak seorang pun mau hidup di bawah pemerintahan tiran. Namun begitu berhadapan dengan kenyataan yang mengecewakan, kita sering membangun seorang tiran di dalam kepala sendiri. Namanya "keadaan". Apa pun yang diperintahkannya langsung kita patuhi. Hari ini marah karena ekonomi. Besok sinis karena politik. Lusa curang karena semua orang juga curang. Sedikit demi sedikit, karakter berubah menjadi wilayah jajahan.

Para insinyur yang merancang menara sangat tinggi tidak pernah bernegosiasi dengan gempa bumi. Mereka juga tidak berharap angin topan tiba-tiba berubah sopan. Semua itu berada di luar kekuasaan mereka. Yang mereka ubah justru isi menaranya sendiri. Di dekat puncak dipasang sebuah bola baja raksasa yang digantung bebas. Ketika bangunan terdorong ke satu arah oleh guncangan, massa itu bergerak ke arah berlawanan. Energi benturan tidak dihapus. Energi itu diserap dan diredam. Menara tetap berdiri bukan karena berhasil mengendalikan bumi, tetapi karena memiliki pusat yang tidak bereaksi secara membabi buta terhadap setiap guncangan.

Saya sering merasa manusia justru melakukan kebalikannya. Kita menghabiskan tenaga untuk memaksa dunia berubah sesuai keinginan, sementara hampir tidak pernah membangun pusat penyeimbang di dalam diri sendiri. Akibatnya setiap berita buruk langsung mengubah suasana hati, setiap komentar tajam mengubah cara berbicara, setiap perlakuan kasar melahirkan alasan baru untuk ikut menjadi kasar. Reaksi kita murah sekali. Siapa pun bisa membelinya.

Mungkin kedewasaan bukan kemampuan menguasai keadaan. Itu terlalu sering dijadikan ukuran yang keliru. Kedewasaan mulai tampak ketika keadaan kehilangan hak untuk menentukan siapa kita hari itu.

Tidak semua kemenangan terdengar keras. Sebagian hanya terlihat dari kenyataan bahwa dunia gagal mengubah seseorang jadi lebih buruk.

Menjadi Gila

Kelebihan orang gila yang tak dimiliki orang waras: Orang gila bisa bicara dan tertawa sendiri tanpa merasa gila.

Menjadi gila adalah membiarkan dunia berputar di sekelilingmu, tanpa kau terpengaruh olehnya. Menjadi gila, ternyata, hebat.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Urusan Hamil, Melahirkan, dan Pilihan

Sambil nunggu ngantuk, barusan aku baca ini. Artikel yang penuh typo—salah satu kebiasaan buruk VICE. Tapi yang membuatku nyeri bukan typo-nya, melainkan isinya. Perempuan (khususnya yang belum hamil) sepertinya perlu baca, agar lebih siap dan hati-hati.


Judul yang mungkin terdengar tidak environmental itu mengungkap fakta-fakta kehamilan secara ngablak, tanpa tedeng aling-aling. Bahkan sebagai laki-laki, aku merasa nyeri.

Artikel itu berisi wawancara VICE dengan Batya Grundland, dokter kandungan dan pakar perawatan kehamilan. Jadi isinya bisa dipercaya.

Yang menarik dari artikel tersebut adalah pengungkapan bahwa "masa kehamilan tidak (selalu) seindah yang digembar-gemborkan banyak orang".

Di akhir wawancara, VICE bertanya, kenapa tidak semua orang mau mengungkapkan bahwa masa kehamilan sebenarnya sama sekali tidak indah?

Dr. Grundland menjawab, "Mungkin karena kita tidak mau membuat perempuan merasa takut hamil."

Kedengarannya seperti "tipuan" yang familier, eh?

Orang-orang "menipu" kita bahwa menikah sungguh indah dan melancarkan rezeki, meski sebenarnya tidak selalu begitu. 

Setelah kita menikah, mereka "menipu" lagi bahwa masa kehamilan sungguh indah, meski sebenarnya tidak selalu begitu.

Demi tujuan evolusi, manusia terus ngapusi.

Dan sekarang aku (makin) memahami kenapa sebagian perempuan ada yang memilih untuk tidak hamil dan melahirkan anak, karena nyatanya urusan itu memang "mengerikan". Kalau boleh ngomong kasar, hasilnya belum tentu sepadan dengan proses pengorbanan yang dilakukan.

Urusan hamil dan melahirkan anak tidak seremeh yang mungkin dibayangkan sebagian orang. Dari sisi perempuan, dia harus kepayahan selama hamil dan pascakehamilan. Sementara dari sisi anak, belum tentu ia akan senang telah dilahirkan. Bisa jadi dia malah menyesal saat telah dewasa.

Hal terbesar yang menggerakkan manusia untuk menikah, lalu hamil dan melahirkan anak, adalah doktrinasi! Yang jadi masalah, doktrin ini (ternyata) bermasalah! Realitas yang terjadi sering kali seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang didoktrinkan. Mau sampai kapan?

Pada akhirnya, menikah memang pilihan, bukan kewajiban. Sebagaimana hamil dan punya anak juga hanya pilihan, bukan kewajiban.

Kalau mau ngemeng agama, bahkan agama pun sebenarnya tidak mewajibkan orang menikah dan punya anak, selain hanya mengimbau. Intinya tetap pilihan.

"Kalau kita tidak mau hamil dan punya anak, lalu buat apa kita diberi rahim?"

Itu bukan jawaban! Rahim di tubuhmu adalah peranti. Kalau kau diberi suatu peranti, kau punya hak untuk menggunakan, juga punya hak untuk tidak menggunakan. Kau yang bertanggung jawab atas pilihanmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 April 2019.

Lupa Rasa Bahagia

"Kau kenapa?" | Dia menjawab, "Aku sudah lupa bagaimana rasanya bahagia." | Dan diam-diam aku berdoa, "Semoga Tuhan benar-benar ada."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Semoga

Semoga Tuhan mendengarkan jeritan yang teredam, doa-doa tak terucapkan. Dan membalasnya dengan kebaikan yang tak terbayangkan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Some People

Some people... ah, sudahlah! Ngapain juga aku niru-niru orang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Juli 2012.

Merisaukan

Yang merisaukan, kita butuh banyak alasan untuk mencintai, tapi hanya butuh satu alasan untuk membenci.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Agustus 2012.

Pilih Mana?

Ada tweet buruk yang membuat tersenyum. Ada tweet bagus yang membuat tercenung. Pilih mana?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Agustus 2012.

Musim Dingin

Aku ingin meringkuk seperti anak kecil, tak terbangun, melewatkan musim dingin yang gigil.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Nggak Mau Ngelepasin

Ini sebenarnya aku yang nggak mau ngelepasin hape, atau hape yang nggak mau ngelepasin aku ya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2012.

Sama-sama Terlalu

Terlalu banyak atau terlalu sedikit punya kesamaan. Sama-sama terlalu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Nemu Hal Penting

PSG, GPS, SPG, GSP, kok semuanya punya arti ya? *merasa nemu hal penting*


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Minggu, 30 Agustus 2026

Tipuan di Pikiran

Ada percakapan yang selesai dalam dua menit, tetapi bertahan di dalam kepala selama dua minggu. Kalimatnya tidak bertambah satu kata pun. Kejadiannya juga tidak berubah. Namun setiap kali diingat, ia terasa sedikit lebih berat. Kita mulai membayangkan maksud-maksud tersembunyi, menyusun kemungkinan yang tidak pernah terjadi, lalu menambahkan jawaban-jawaban yang seandainya tadi sempat diucapkan. Anehnya, semakin lama persoalan itu dipikirkan, semakin sulit dipercaya bahwa ia sebenarnya berawal dari peristiwa yang begitu kecil.

Mengapa sesuatu yang tidak berubah dapat terasa terus membesar?

Jawaban yang paling mudah adalah karena kita terlalu banyak memikirkannya. Tetapi jawaban itu belum cukup. Yang lebih menarik justru alasan mengapa pikiran memilih pekerjaan yang tampaknya sia-sia itu.

Kita biasanya mengira selama pikiran sibuk dengan sebuah persoalan, berarti ia sedang mencari jalan keluar. Kesibukan mental terasa seperti bentuk tanggung jawab. Bahkan ada rasa bersalah jika kita berhenti memikirkannya, seolah-olah persoalan akan selesai hanya jika diberi perhatian tanpa henti.

Padahal ada kemungkinan lain yang lebih tidak nyaman.

Selama persoalan tetap berada di dalam kepala, kita tidak perlu bertemu dengan kenyataan. Kita tidak perlu mengirim pesan yang sulit, mengakui kesalahan, menerima penolakan, atau mendengar jawaban yang mungkin mengecewakan. Pikiran menawarkan pengganti yang jauh lebih aman: simulasi tanpa akhir. Di sana kita bisa terus mengedit masa lalu, mengulang percakapan, memperbaiki argumen, atau membayangkan berbagai akhir yang lebih memuaskan. Tidak ada risiko. Tidak ada konsekuensi. Yang ada hanya ilusi bahwa sesuatu sedang dikerjakan.

Di situlah penderitaan memperoleh bentuk yang aneh. Ia bukan lagi sekadar akibat dari masalah, tapi mulai menjadi aktivitas. Kita merawatnya. Kita kembali kepadanya berkali-kali, seperti kurator yang setiap hari membersihkan benda yang sama, mengatur pencahayaannya, lalu memastikan seluruh perhatian tetap tertuju ke sana. Lama-kelamaan, yang tumbuh bukan pemahaman, tetapi kedekatan emosional dengan persoalan itu sendiri.

Mungkin karena itu sebagian masalah terasa sangat pribadi. Bukan semata-mata karena ia memang besar, tetapi karena kita telah menginvestasikan begitu banyak perhatian ke dalamnya. Semakin lama sebuah persoalan menghuni kesadaran, semakin sulit kita menerima kemungkinan bahwa ukurannya sebenarnya tidak sebesar yang selama ini kita rasakan. 

Lalu datang satu tindakan kecil. Sebuah telepon yang akhirnya dilakukan. Sebuah email yang akhirnya ditulis. Sebuah pertanyaan yang akhirnya benar-benar diajukan. Tidak semua persoalan selesai setelah itu. Namun sering kali terjadi sesuatu yang mengejutkan: masalah yang selama berminggu-minggu memenuhi kepala mendadak memiliki batas yang jelas. Ia berubah dari bayangan yang tak berbentuk menjadi sesuatu yang dapat disentuh, diukur, bahkan mungkin diselesaikan.

Baru pada saat itulah kita menyadari bahwa selama ini bukan persoalannya yang terus bertambah. Yang bertambah adalah jumlah pantulannya.

Ruang Sunyi

Di dalam studio kedap suara mutakhir, terdapat sebuah ruangan khusus bernama anechoic chamber. Dinding, langit-langit, dan lantainya, tidak dilapisi cat megah, namun ditutupi ribuan baji busa fiberglass tebal berbentuk kerucut. 

Desain kaku itu dirancang untuk satu tugas yang ekstrem: menyerap seluruh pantulan gelombang suara dari arah mana pun tanpa menyisakan gema sekecil mikroba. 

Ketika sebuah mikrofon presisi diuji di dalamnya, ruangan itu tidak menyumbang kebisingan atau warna suara baru; ia menyediakan kesunyian mutlak agar karakter asli dari gelombang yang datang bisa terbaca tanpa cacat penafsiran.

Kita sebenarnya memiliki ruangan semacam itu. Di dalam diri kita. Namun jarang digunakan. Karena kebanyakan orang takut pada kesunyian.

Permainan yang Adil

Tadi, waktu lihat rekaman pembakaran buku Najwa Shihab, aku kaget, dan mikir, “Apa yang terjadi, kok sampai ada pembakaran buku?” 

Setelah cari-cari, ternyata masalahnya sepele, yaitu karena Najwa Shihab menyebut “nebeng” terkait kepulangan manpres Jokowi ke Solo.

Aku sudah melihat video Najwa Shihab yang menyebut “nebeng” itu, dan menurutku cuma keceplosan. Itu sesuatu yang manusiawi dalam percakapan di mana pun. Jadi sangat aneh ketika hal manusiawi semacam itu direspons secara berlebihan, sampai ke pembakaran buku dan aneka hujatan.

Kalau memang ucapan “nebeng” Najwa Shihab dianggap menyinggung suatu pihak, mari sepakati itu benar.

Tapi ada perbedaan antara “tidak sengaja menyinggung” dan “sengaja menyinggung”. Dan seperti yang dibilang tadi, kata “nebeng” itu menurutku cuma keceplosan, bukan kesengajaan.

Ada cara yang sangat mudah untuk tahu apakah seseorang sengaja menyinggung perasaanmu, atau tidak sengaja. 

Kalau seseorang satu dua kali mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu, kemungkinan besar dia tidak sengaja. Namanya manusia, kadang khilaf dan ngomong keceplosan.

Tapi jika seseorang terus menerus mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu, kemungkinan besar dia sengaja. Dalam hal itu, aku tidak akan menyalahkan kalau kemudian kamu marah dan menghujatnya, atau membalasnya.

Ini permainan yang fair, jadi bersikaplah adil dalam bermain!

Terkait ucapan Najwa Shihab tadi, aku percaya dia cuma keceplosan. Wong cuma sekali itu dia mengatakannya. Bahkan jika dia dianggap bersalah, sesekali salah itu manusiawi, dan terlalu berlebihan kalau sampai direspons dengan pembakaran buku. Itu barbar dan tidak berpendidikan!

Aku selalu memegang aturan ini; sekali dua kali salah itu ketidaksengajaan, jadi maafkan saja. Tapi kalau seseorang selalu melakukan kesalahan yang sama, dia pasti sengaja. Silakan balas, kalau kamu mau.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Oktober 2024.

Skripsi, Tesis, Disertasi

Mumpung ingat. Catatan baru di BSM, yang mungkin penting bagi yang lagi mengerjakan skripsi dkk.


Skripsi hanya menjawab “Apa”. Tesis menjawab “Apa dan Mengapa”. Sementara disertasi menjawab “Apa, Mengapa, dan Bagaimana”.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 17 November 2022.

Tulang Rusuk

"Lagi ngapain, Mas?" | "Ini, lagi nyari..." | "Nyari apa?" | "Uh, nyari... tulang rusuk."

"Pokoknya kita bubaran!" seru si cewek. | "Uh, tapi kenapa?" tanya si cowok. "Kasih alasan, dong!" | "Tulang rusukmu gak sesuai."

Ada apa sebenarnya dengan tulang rusuk? Dan kenapa namanya kok tulang rusuk? Kayak nggak ada nama lain yang lebih keren aja!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2012.

Batas Waktu

Nyalakanlah sebatang lilin. Ia kecil, tapi menerangi gelap. Dan punya batas waktu. Pada akhirnya ia akan habis. Begitu pula hidup kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Kemurnian

Angin yang menggerakkan pohon, ataukah pohon yang menggerakkan angin? Di zaman kita, jawabannya tergantung media.

Telur lebih dulu, ataukah ayam lebih dulu? Bagi kebanyakan orang, jawaban yang benar tergantung siapa yang mengatakan.

Dunia kita menepiskan gembel yang menyatakan kebenaran, dan lebih suka mendengarkan raja yang memuntahkan kebohongan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 17 Juli 2012.

Menceritakan Tragedi

Jika kelak kita menceritakan tragedi dengan nada bangga karena berhasil melewatinya, kenapa sekarang harus menganggapnya tragedi?


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 18 Juli 2012.

Mawar di Atas Bantal

Terbangun di tengah malam, mendapati sekuntum mawar di atas bantal. #ternyatamimpi


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Agustus 2012.

Sungguh Lucu

Sungguh lucu membayangkan betapa hidup ini tragedi, tapi ternyata alam semesta menertawakan kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Baru Bangun Tidur

Laki-laki macam apa jam segini baru bangun tidur? *nguap* *masih ngantuk*


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 18 Juli 2012.

Asyur

Bangsa Asyur.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Waktu Berlalu

Coba perhatikan sebongkah es batu yang mengambang di dalam segelas air. Selama kita menatapnya, hampir tidak ada perubahan yang bisa ditangkap mata. Es itu tampak tetap sebesar tadi. Permukaannya masih keras. Bentuknya hampir sama. Kita bahkan mungkin mulai bertanya-tanya apakah es benar-benar sedang mencair.

Lalu ponsel berbunyi, dan kita bercakap-cakap dengan seseorang di telepon. Perhatian kita pun berpindah beberapa menit. Ketika pandangan kembali ke gelas, es itu sudah jauh mengecil, bahkan mungkin telah hilang sama sekali. Padahal proses mencairnya tidak pernah dipercepat. Yang berubah hanyalah cara kita mengamatinya.

Banyak hal dalam hidup bekerja dengan cara yang sama. Kita hampir tidak pernah merasakan waktu sedang berlalu. Kita baru menyadarinya ketika hasilnya sudah tidak bisa dibatalkan.

Saat menjalani hari demi hari, waktu terasa begitu biasa. Hari Senin datang, disusul Selasa, lalu Rabu. Masing-masing berlangsung selama dua puluh empat jam yang tampaknya cukup panjang. Kita bekerja, makan, membuka ponsel, berbincang, beristirahat, lalu tidur. Besok pagi semuanya dimulai lagi. Dari dalam proses itu, hidup terasa berjalan dengan kecepatan yang wajar, bahkan kadang terasa lambat.

Karena itulah muncul keyakinan yang sangat menggoda: satu hari tidak akan membuat perbedaan. Satu hari lagi menunda menulis. Satu hari lagi menunda belajar. Satu hari lagi menunda menemui orang tua. Satu hari lagi menunda menjaga kesehatan. Yang kita pinjam selalu hanya hari ini. Tidak pernah terdengar berbahaya.

Masalahnya bukan pada satu hari. Masalahnya terletak pada cara otak memperlakukan waktu. 

Ketika menjalani hidup, kita memandang waktu dalam satuan eceran (harian). Yang terlihat hanyalah hari ini. Besok masih ada. Minggu depan masih tersedia. Tahun depan masih tampak jauh. Karena setiap hari terlihat utuh dan penuh, kita merasa memiliki persediaan yang melimpah. Rasanya seperti memiliki dompet yang masih berisi banyak uang receh. Mengeluarkan satu keping tidak terasa mengurangi apa pun.

Namun, ingatan manusia tidak menyimpan kehidupan dalam bentuk eceran. Tidak ada orang yang mengingat dengan jelas apa yang ia lakukan pada hari Kamis, tanggal tertentu, tiga tahun yang lalu. Yang diingat adalah sesuatu yang jauh lebih besar: tiga tahun telah lewat.

Di situlah ilusi bekerja dengan sangat rapi. Saat menjalani waktu, kita menghitung hari. Saat mengenangnya, kita menghitung tahun.

Akibatnya, ribuan keputusan kecil yang tampak sepele ketika diambil berubah menjadi satu kesimpulan besar ketika dipandang dari belakang. Kita tidak berkata, "Aku kehilangan tiga ratus empat puluh tujuh hari." Kita berkata, "Aku kehilangan satu tahun." Kita tidak mengingat ratusan malam ketika memilih menunda. Kita hanya melihat bahwa usia bertambah, sementara hidup hampir tidak berubah.

Perbedaan antara “eceran” (harian) dan “grosir” (tahunan) itulah yang sering luput dari perhatian. Satu hari memang kecil. Tetapi hidup tidak pernah menagih dalam satuan hari. Ia selalu menagih dalam satuan tahun.

Saya merencanakan menulis buku baru sejak lima tahun yang lalu. Tidak pernah sehari pun saya berkata, "Aku akan membuang lima tahun hidupku." Yang terjadi jauh lebih sederhana. Hari ini terlalu lelah. Besok saja. Minggu ini banyak urusan. Bulan depan suasana mungkin lebih tenang. 

Setiap alasan terdengar masuk akal jika berdiri sendiri. Tidak ada keputusan yang tampak fatal. Lima tahun kemudian, buku yang ingin saya tulis masih berada di dalam kepala. 

Begitu pula dengan hubungan antarmanusia. Tidak banyak anak yang sengaja memutuskan untuk kehilangan kesempatan berbincang dengan ayah atau ibunya. Yang terjadi hanyalah penundaan kecil yang terus berulang. Nanti saja menelepon. Minggu depan saja berkunjung. Setelah pekerjaan selesai. Setelah keadaan lebih longgar.

Lalu suatu hari, kesempatan itu benar-benar hilang. Bukan karena satu keputusan besar, tapi karena terlalu banyak keputusan kecil yang dianggap tidak berarti.

Penyesalan hampir selalu memiliki pola yang sama. Ia jarang berasal dari satu kesalahan dramatis. Ia lebih sering tumbuh dari akumulasi hal-hal yang terus ditunda.

Yang membuat penyesalan terasa menyakitkan adalah kenyataan bahwa semuanya tampak sangat masuk akal ketika sedang dijalani. Tidak ada alarm yang berbunyi saat kita memutuskan menunda sehari. Tidak ada tanda bahaya yang muncul ketika kita berkata, "Masih ada waktu."

Alarm itu baru terdengar ketika waktu sudah berubah menjadi masa lalu. Barulah kita melihat bahwa yang hilang bukan satu sore, tapi bertahun-tahun kemungkinan.

Ada paradoks yang menarik tentang usia. Ketika berumur empat belas tahun, empat tahun terasa seperti keabadian. Ketika berumur empat puluh tahun, empat tahun terasa seperti musim yang lewat begitu saja. Semakin panjang hidup dijalani, semakin pendek potongan waktu terasa dari belakang. Karena itulah banyak orang tua berkata bahwa hidup berjalan sangat cepat. Bukan karena jam berdetak lebih cepat, tetapi karena cara otak menyusun kenangan berubah. 

Mungkin karena itu pula nasihat tentang menghargai waktu sering gagal menyentuh orang yang masih muda. Mereka mendengar kalimatnya, tetapi belum mengalami ilusi itu sendiri. Mereka masih melihat hari-hari sebagai sesuatu yang panjang. Mereka belum pernah menoleh ke belakang dan terkejut melihat satu dekade lenyap hampir tanpa suara.

Padahal waktu tidak pernah berubah sifat. Yang berubah hanyalah posisi kita terhadapnya. Selama berada di dalam arus, ia tampak tenang. Begitu kita menoleh ke belakang, kita baru sadar betapa jauhnya arus telah membawa kita.

Persoalannya, sering kali, bukan apakah kita memiliki cukup waktu. Sebagian besar orang, pada titik tertentu, pernah memiliki waktu yang cukup. Persoalannya adalah kita terus menganggap setiap hari sebagai unit yang berdiri sendiri, padahal kehidupan sedang menggabungkan semuanya menjadi satu cerita besar.

Setiap hari yang tidak dipakai membangun sesuatu akan bergabung dengan hari-hari lain menjadi satu tahun yang kosong. Setiap pertemuan dengan orang tua yang terus ditunda akan bergabung dengan pertemuan lain yang tidak pernah terjadi. Setiap lembar yang tidak ditulis akan bergabung dengan lembar-lembar lain yang tidak pernah lahir.

Tidak ada satu hari yang mampu menghancurkan masa depan. Tapi masa depan dibangun oleh kumpulan hari yang tampaknya tidak penting.

Es di dalam gelas tidak pernah tiba-tiba mencair. Ia kehilangan dirinya setetes demi setetes. Begitu pun waktu. Tidak ada hari yang cukup besar untuk mencuri hidup kita. Yang melakukannya adalah ribuan hari kecil yang kita anggap terlalu sepele untuk dijaga.

Waktu terasa lambat ketika sedang kita jalani, tapi terasa sangat cepat ketika sudah jadi kenangan. Kita melihat hidup seperti orang yang menghitung uang receh ketika membelanjakannya, lalu terkejut ketika melihat jumlah akhirnya.

Dan pada titik tertentu, setiap orang akan memahami sesuatu yang terlambat dipelajari: kita tidak pernah benar-benar kehilangan tahun. Kita kehilangan hari-hari yang dulu kita anggap tidak penting, lalu hari-hari itu diam-diam membentuk tahun yang tidak akan pernah kembali.

Pertumbuhan

Manusia tidak mudah melepaskan sesuatu hanya karena kenyataan sudah membantahnya. Isi kepala sering memperoleh perlakuan yang lebih istimewa daripada fakta di depan mata. Ketika keduanya bertabrakan, kita cenderung memperbaiki cara melihat kenyataan lebih dulu sebelum bersedia memperbaiki keyakinan sendiri. Kenyataan dipaksa menunggu sampai ego selesai bernegosiasi.

Saya semakin melihat bahwa rasa "sudah tahu" memiliki daya tarik yang luar biasa. Ia memberi ketenangan tanpa perlu membuktikan dirinya benar. Begitu perasaan itu hadir, pikiran mulai berubah fungsi. Informasi baru tidak lagi dicari untuk memperbaiki pemahaman, tetapi untuk mempertahankan pemahaman yang sudah ada. Semakin lama seseorang hidup dengan keyakinan tertentu, semakin besar godaan untuk menganggap setiap pertanyaan baru sebagai gangguan, bukan kesempatan.

Keadaan itu menjelaskan mengapa pengalaman tidak selalu membuat seseorang bertumbuh. Pengalaman memang bertambah setiap tahun, tetapi cara membacanya bisa berhenti berkembang jauh lebih awal. Dunia terus berubah, sedangkan isi kepala diam-diam menuntut dunia agar tetap sesuai dengan peta lama yang terasa nyaman.

Rasa ingin tahu bekerja dengan arah yang berlawanan. Ia memaksa seseorang meragukan petanya sendiri sebelum meragukan kenyataan. Pekerjaan itu melelahkan karena setiap pertanyaan baru selalu mengandung satu pengakuan yang tidak enak didengar: “selama ini aku belum melihat seluruhnya.”

Pertumbuhan memang tidak dimulai ketika kita menemukan jawaban baru. Ia dimulai ketika keyakinan lama akhirnya kehilangan hak istimewanya.

Tulisan di Buku

Tiap nemu buku dengan tulisan "terjual 1 juta copy", jiwa bocahku bergetar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 November 2022.

Kegilaan Geometris

Ketika kita berdiri di tengah ruangan yang dikelilingi belasan cermin distorsi, kita akan melihat diri sendiri memanjang di satu sudut, melebar secara menggelikan di sudut lain, dan mendadak mengecil di cermin ketiga. Setiap cermin memantulkan siluet yang berbeda, tergantung lengkungan kacanya. 

Menuntut diri kita untuk mengubah bentuk nyata kita agar selaras dengan pantulan di setiap permukaan kaca tersebut adalah kegilaan geometris. Cermin itu tidak menggambarkan siapa kita; mereka hanya menggambarkan cacat bentuk permukaannya sendiri.

Menjemput Mbakyu

Saya baru keluar dari warung, usai makan siang, ketika sebuah motor melaju pelan, lalu berhenti di depan saya berdiri.

Ternyata Fa’ad.

“Kebetulan ketemu kamu di sini,” ujar Fa’ad. “Aku dititipi undangan buat kamu.”

Fa’ad membuka jok motor matiknya, mengambil setumpuk undangan, memilah-milahnya sesaat, lalu mengambil selembar, dan menyerahkannya pada saya.

Saya menerima undangan itu, dan langsung tahu siapa yang akan menikah. Saya pun mengucapkan terima kasih.

Fa’ad kembali menaiki motor, bersiap melanjutkan perjalanan.

Saya bertanya, “Kamu dari mana atau mau ke mana, Ad?”

“Aku mau menjemput mbakyuku,” jawab Fa’ad.

Fa’ad berlalu.

Tapi kalimatnya masih tertinggal.

Menjemput mbakyu. Indah sekali kata-kata itu.

Catatan dan Dokumentasi

Secara pribadi, aku juga mikirnya kayak gini. Sesuatu yang disebut "sihir" itu sebenarnya hal-hal yang tidak/belum dipahami orang pada zamannya.

Dan makhluk-makhluk mitologi lahir karena orang-orang [khususnya zaman dulu] suka membesar-besarkan hal aneh yang mereka lihat/dengar.

Berdasarkan sejarahnya, makhluk-makhluk aneh yang belakangan jadi mitologi semacam manticore, centaurus, atau unicorn, itu bukan lahir dari ruang hampa. Tapi lahir karena orang zaman dulu melihat hewan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, lalu membesar-besarkannya.

Jadi, selalu ada kemungkinan kalau peristiwa-peristiwa aneh atau kemampuan-kemampuan aneh yang terjadi pada masa lalu, yang belakangan diklaim sebagai sihir, sebenarnya hal-hal biasa tapi terlihat luar biasa pada zaman itu, dan kemudian orang-orang membesar-besarkannya.

Wong sampai detik ini aja, aku masih takjub pada kemampuan AI atau ilusi optik yang dihasilkan billboard 3D. Itu bahkan aku tahu cara kerjanya, tapi aku tetap tercengang setiap kali menyaksikan keajaiban yang mereka hasilkan, sampai aku berpikir, "Ini benar-benar tak masuk akal."

Jika, umpamakan saja, aku "membesar-besarkan" kemampuan AI atau billboard 3D hingga terdengar berbeda jauh, apakah orang-orang akan percaya? Tidak, mereka akan tertawa!

Kenapa? Karena zaman yang sekarang kita alami berbeda jauh dengan zaman ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu.

Catatan dan dokumentasi! Itulah inti masalahnya!

Jika sekarang, entah bagaimana, terjadi bencana atau sistem tunggal pemerintahan dunia yang menghancurkan seluruh catatan dan dokumentasi yang dapat ditemukan di zaman sekarang, aku akan bisa ngibul pada generasi yang akan datang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Desember 2024.

Kabut Hidup

Lampu kecil yang berkedip di layar sering lebih cepat membuat panik daripada masalah yang sebenarnya. Begitu muncul tanda peringatan, kepala segera bekerja: pasti ada yang salah. Kebiasaan itu terbentuk karena kita hidup di tengah perangkat yang dirancang untuk memberi sinyal ketika terjadi gangguan. Baterai merah berarti harus diisi. Ikon silang berarti koneksi terputus. Notifikasi gagal berarti proses berhenti. Pelan-pelan cara berpikir itu masuk ke wilayah yang sama sekali berbeda.

Saat hidup terasa kabur, kita buru-buru menyimpulkan bahwa keputusan kita pasti keliru. Ketika hasil belum tampak, kita menganggap langkah sebelumnya salah hitung. Rasa cemas diperlakukan seperti alarm objektif, seolah emosi memiliki akses langsung pada kebenaran. Padahal emosi lebih sering berbicara tentang rasa aman daripada tentang fakta.

Kepala kita tampaknya memiliki kebiasaan aneh: mencampuradukkan ketidaknyamanan dengan kesalahan. Begitu suasana berubah asing, otak segera mengajukan tuduhan kepada diri sendiri. Jarang sekali ia lebih dulu mempertimbangkan kemungkinan bahwa keadaan memang sedang menuntut lintasan yang berbeda.

Ini bukan sekadar soal keberanian. Yang bekerja jauh lebih dalam adalah cara manusia membaca sinyal. Pikiran menyukai kepastian, karena kepastian menghemat energi. Sesuatu yang sudah dikenali tidak perlu dianalisis terus-menerus. Sebaliknya, ketidakpastian memaksa otak tetap siaga. Tubuh mengeluarkan respons seolah sedang menghadapi ancaman, meskipun yang sebenarnya terjadi hanyalah informasi yang belum lengkap.

Kesalahan muncul ketika sensasi biologis itu dianggap sebagai bukti logis. Jantung berdebar, lalu kita menyimpulkan keputusan salah. Tidur tidak nyenyak, lalu kita menganggap masa depan sedang runtuh. Padahal tubuh hanya sedang bereaksi terhadap wilayah yang belum dikenalnya.

Mungkin itulah warisan dunia modern yang jarang dibicarakan. Hampir semua sistem yang kita gunakan sekarang dibangun agar dapat diprediksi. Paket dapat dilacak. Kendaraan ojol memiliki estimasi waktu tiba. Saldo berubah dalam hitungan detik. Kita jadi terbiasa hidup bersama kepastian mikro. Tanpa sadar, kepala mulai menuntut agar seluruh kehidupan mengikuti standar yang sama. Sedikit saja muncul ruang kosong yang tidak dapat diprediksi, kita menganggap sistemnya rusak.

Padahal hidup tidak pernah bekerja seperti aplikasi yang memberi pembaruan status setiap beberapa menit. Sebagian besar keputusan penting justru bergerak dalam keadaan yang tidak memberi konfirmasi apa pun. Tidak ada indikator bahwa suatu hubungan akan berhasil. Tidak ada grafik yang memastikan pekerjaan baru akan membawa hasil. Tidak ada sertifikat yang menjamin pilihan hari ini akan terasa benar lima tahun mendatang.

Ketenangan tampaknya tidak lahir ketika kabut menghilang. Yang berubah justru cara kita memperlakukan kabut itu sendiri. Ia berhenti dibaca sebagai pesan bahwa kita sedang gagal bernavigasi. Ia kembali menjadi apa adanya: keadaan alam.

Sisanya tinggal terus berjalan, meski pandangan belum jauh.

Yang Kurisaukan

Yang kurisaukan adalah keyakinan yang tak pernah diperiksa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2012.

Distorsi Perspektif

Ketika menatap langit malam menggunakan mata telanjang, kita mungkin melihat dua titik bintang yang tampak menempel sangat intim, seolah-olah mereka adalah sepasang benda langit yang sedang berdansa mengitari pusat gravitasi yang sama. 

Namun, astrofisika memberi tahu bahwa kedekatan itu hanyalah distorsi perspektif dari bumi. Kenyataannya, bintang pertama berada sepuluh tahun cahaya di depan, sementara bintang kedua berada ratusan tahun cahaya di belakangnya, terpisah oleh ruang hampa udara yang dingin dan luas tak terhingga.

Mata kita sering menipu. Tapi kita tidak tahu. 

Atau pura-pura tidak tahu.

Waktu

Waktu, kalau tak ditunggu, rasanya cepat sekali berlalu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Agustus 2012.

Jumat, 31 Juli 2026

Gara-gara Omongan Pacar

Ini kisah konyol yang sebenarnya membuat saya malu sendiri. Tetapi saya telanjur jengkel gara-gara kisah konyol ini, hingga memutuskan untuk menuliskannya di sini sebagai semacam klarifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat. Semua nama yang saya sebut dalam catatan ini telah disamarkan, namun alur peristiwanya sesuai yang benar-benar terjadi.

Kisah konyol ini dimulai dengan sebuah e-mail dari seorang perempuan. Sebut saja namanya Dewi. Di antara banyak e-mail lain yang biasa saya terima, Dewi hanyalah satu di antara sekian banyak orang di inbox e-mail. Artinya, saya tidak punya perhatian khusus kepadanya. Sebenarnya, saya bahkan tidak peduli siapa dia. Saya membalas e-mailnya secara relevan sebagaimana saya membalas e-mail orang-orang lain. 

Dewi berulang kali mengirim e-mail. Tidak semua e-mailnya saya balas. Lalu dia mengirim undangan agar saya bergabung dengannya di Facebook. Undangan itu pun saya abaikan. Sudah lama sekali saya kehilangan minat bermain Facebook. Kenyataannya, yang mengirim undangan semacam itu bukan hanya Dewi, dan semuanya saya abaikan.

Tetapi Dewi rupanya tidak pantang menyerah. Dia terus menerus mengirimkan undangan yang sama. Karena penasaran, saya pun mencoba mengecek akun Dewi di Facebook, untuk tahu lebih lanjut siapa sebenarnya perempuan itu. 

Di akun Facebook-nya, terdapat identitas cukup lengkap mengenai Dewi, termasuk artis idola sampai buku favorit. Yang menarik perhatian saya, ternyata Dewi berteman dengan Nabil. Si Nabil ini teman saya di dunia nyata. 

Lagi-lagi karena penasaran, saya mengontak Nabil, dan bertanya kepadanya, siapa Dewi. Di luar dugaan, ternyata Dewi adalah pacar Nabil.

Dan, sejak itu, hubungan saya dengan Nabil mulai renggang. Nabil menjauh dari saya.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang terjadi, hingga menyebabkan Nabil menjauhi saya. Kenyataannya kami memang tak pernah bertemu sejak itu, hingga dia maupun saya tidak bisa saling menjelaskan apa pun. Tetapi bahwa kenyataan itu terjadi setelah saya menanyakan Dewi kepadanya, mau tak mau membuat saya berpikir. 

Jika saya membayangkan apa yang telah terjadi, kira-kira seperti inilah bayangan saya mengenai apa yang terjadi....

Setelah saya bertanya pada Nabil tentang Dewi, yang ternyata pacarnya, Nabil pun meneruskan percakapan kami pada Dewi. Dia tentu penasaran, kenapa saya tiba-tiba bertanya tentang pacarnya. Bisa jadi, karena merasa “tertangkap basah”, Dewi mengarang cerita yang melenceng dari kisah sebenarnya, yang kemudian menyebabkan Nabil menjauhi saya. 

Dalam kisah sebenarnya, Dewi berulang kali mengirim e-mail kepada saya, hingga saya penasaran dan melacak dirinya. Tetapi, dalam kisah Dewi pada Nabil, tidak menutup kemungkinan dia menceritakan kisah yang berbeda. Sebagai pacar, Nabil tentu akan mempercayai cerita pacarnya. Tanpa klarifikasi kepada saya, bisa jadi dia diam-diam memendam kekesalan, hingga memutuskan menjauhi saya.

Kisah konyol itu memberi saya pelajaran mengenai pentingnya klarifikasi, agar tidak dikuasai prasangka. Kalau pacar kita menceritakan sesuatu menyangkut orang lain, silakan percaya kepadanya. Tapi jangan menutup diri untuk melakukan klarifikasi. 

Omong-omong soal klarifikasi, sekarang saya ingin menceritakan kisah seorang teman. Kisah ini mirip dengan yang saya alami, namun kadarnya lebih parah.

Safik, teman saya, berteman dengan Ale. Ale punya pacar bernama Ervin. Baik Ale maupun Ervin akrab dengan Safik. Mereka juga akrab dengan saya. Kami biasa ngumpul dan bercanda sebagaimana layaknya teman.

Suatu hari, ada acara kumpul-kumpul di suatu tempat. Ada banyak orang yang datang waktu itu, termasuk Safik, Ale, Ervin, dan saya. Malam hari, seusai acara rampung, saya duduk di depan komputer, browsing internet. Lalu muncul Safik, disusul Ervin. Kami bercakap-cakap di depan komputer, sambil saya terus memindai laman-laman internet. 

Di suatu laman, kebetulan ada gambar kartun yang lucu; wanita gemuk yang lagi pegang sapu. Safik meledek Ervin, menyatakan kartun itu mirip Ervin. Ervin paham itu cuma olok-olok yang ditujukan sebagai candaan, dan kami pun tertawa bersama waktu itu. Saya tahu betul, Ervin sama sekali tidak marah, karena memahami itu cuma gurauan antarteman. Kenyataannya kami semua—termasuk Safik dan Ervin—telah akrab berteman.

Pagi harinya, usai bangun tidur, saya duduk-duduk bersama Ale sambil menikmati teh hangat. Di luar dugaan, kami mendapati Ervin baru datang bersama Rudi, cowok yang juga teman kami. Ale maupun saya tidak tahu dari mana Ervin dan Rudi waktu itu. Tapi saya hanya berpikir positif, mungkin Ervin baru saja sarapan dengan Rudi, karena Ale masih tidur.

Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang jelas, siang harinya, Ale marah-marah pada Safik. Pasalnya, menurut Ale, Safik telah menghina pacarnya, dengan menyamakan Ervin seperti kartun jelek di internet. Safik kebingungan. Seingatnya, masalah kartun itu hanya olok-olok yang dimaksudkan sebagai gurauan, dan Ervin sama sekali tidak marah. Kenapa sekarang Ale marah-marah soal itu?

Safik menyatakan, “Biar kujelaskan apa yang terjadi...”

Tapi Ale sudah meradang. “Jelaskan sendiri pada pacarku! Dia sedang menangis gara-gara ulahmu semalam!”

Bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Semalam, saya menjadi saksi peristiwa soal kartun yang sekarang dipermasalahkan Ale. Semalam, saya tahu betul bahwa urusan kartun yang disebut mirip Ervin hanyalah gurauan, dan Safik maupun Ervin paham itu cuma gurauan. Saya bahkan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa Ervin tertawa-tawa karena gurauan itu, dan sama sekali tidak marah. Tetapi, sekarang, Ale menyatakan Ervin sedang menangis karena disamakan seperti kartun oleh Safik.

Sekali lagi, bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Tanpa bermaksud membela siapa pun, saya bisa membayangkan apa yang telah terjadi. Ketika Ervin kepergok Ale baru pulang bersama Rudi, Ervin mungkin merasa bersalah. Sebagai pacar, Ale mungkin bertanya pada Ervin, dari mana dia dengan Rudi. 

Entah apa yang dinyatakannya kepada Ale, yang jelas Ervin kemudian “memanipulasi” kisah antara dirinya dan Safik soal kartun semalam, dengan tujuan “membelokkan” kemarahan Ale. Hasilnya, alih-alih marah kepada pacarnya, Ale berbalik marah kepada Safik—tepat seperti yang diharapkan Ervin.

Salah satu keahlian perempuan adalah memanipulasi pacarnya. Dan laki-laki biasanya mudah teperdaya oleh pacarnya, apalagi jika didramatisir air mata. 

Karenanya, jika cewekmu menceritakan apa saja yang terkait orang lain, percayalah kepadanya. Tapi jangan berhenti di situ. Lakukan klarifikasi pada orang terkait, agar tidak menimbulkan masalah. Karena, jika kita semata hanya percaya tuturan pacar namun tidak mau melakukan klarifikasi, kita hanya separuh benar. Dan separuh benar tentu bukan kebenaran. 

Sampai sekarang, hubungan Safik dengan Ale tidak sebaik dulu. Padahal sebelumnya mereka berteman akrab tanpa masalah. Bagaimana pun, Safik mengakui, dia masih jengkel kepada Ale, karena disalahkan untuk sesuatu yang ia pikir bukan kesalahannya. Safik juga mengakui masih membenci Ervin, karena dia menilai Ervin telah memanipulasi dirinya.

Hanya karena tuturan pacar secara sepihak, hubungan pertemanan bertahun-tahun yang semula baik dan menyenangkan bisa rusak dan terpecah. 

Ingin Kaya tapi Belum Tentu Ingin Bekerja

Jack Ma mengusulkan agar para karyawannya bekerja 12 jam setiap hari. Seperti yang sudah diduga banyak orang, usul itu langsung diprotes bahkan ditolak mentah-mentah. Karena kebanyakan orang memang ingin kaya, tapi belum tentu ingin kerja.

Kalau kau mencari cowok gaul yang suka nongkrong, eksis di Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, dan bertingkah sok kaya, aku mundur.

Tapi kalau kau mencari cowok biasa yang rajin belajar dan giat bekerja, dan menjalani hidup bersahaja tanpa peduli apa kata dunia, aku maju.

Rata-rata lowongan kerja ngasih syarat "penampilan rapi", "bisa berkomunikasi dengan baik", dan semacamnya. Tapi sepertinya belum ada yang mensyaratkan "mampu bekerja 12 jam setiap hari".

Kalau ada yang begitu, mungkin aku akan tergoda melamar, siapa tahu gajinya memang besar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 April 2019.

Kenangan, Pelajaran, dan Keperluan

Cinta pertama adalah kenangan, cinta kedua adalah pelajaran, dan cinta yang seterusnya adalah keperluan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 September 2012.

Di Balik Lelaki Hebat

Di balik lelaki hebat ada perempuan hebat. Sepertinya, begitu pula di balik setiap lelaki gagal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Mengisahkan dan Mengutuk

Kita mengisahkan dongeng Angin dan Matahari. Tetapi, di saat sama, kita mengutuk matahari dan menyalakan kipas angin.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Efeknya Seperti Gempa

Bencana adalah ketika kau mendonlut something sebesar empat giga, tapi terhapus dan hilang tanpa sengaja. Percayalah, efeknya seperti gempa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Agustus 2012.

Duka Mendalam

Ini sangat menyedihkan.

Dari kemarin, status WhatsApp teman-teman di ponselku berisi banjir dan longsor. Bencana ini terjadi di wilayah kabupaten, jadi yang paling terdampak adalah yang tinggal di kabupaten. Di Petungkriyono, lokasi bencana, ada beberapa orang yang tewas, dan berbagai kerusakan terjadi.

Menurut teman-teman yang tinggal di sana, hujan deras turun tanpa henti, dan hal itu menyebabkan longsor sekaligus banjir. Sementara Petungkriyono adalah dataran tinggi, sehingga terjadi banjir bandang yang mengalir ke mana-mana, ke daerah-dearah lain yang relatif jauh dari sana.

Kedungwuni dan Wonopringgo, misalnya, adalah dua kecamatan yang relatif jauh dari Petungkriyono, tapi ikut terdampak banjir. Di dua tempat itu ada cukup banyak pengusaha batik dan penjual konveksi di marketplace. Membaca status-status mereka di WhatsApp, rasanya bikin mau nangis.

Ada teman yang rumahnya kebanjiran, dan air merendam tumpukan kain batik yang masih dalam proses pengerjaan maupun yang sudah jadi.

Ada pula teman yang sudah menyiapkan ratusan paket yang siap dikirim ke ekspedisi, dan ratusan paket itu terendam banjir yang datang tiba-tiba.

Belasan orang meninggal, entah berapa yang terluka, rumah-rumah hancur, jembatan ambrol, mobil-mobil terguling, ternak mati, banjir mengalir ke sembilan kecamatan, merendam ratusan rumah, dan mengakibatkan kerugian yang entah berapa besar.

Duka mendalam untuk korban bencana.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Januari 2025.

Membuatku Heran

Kupikir aku orang yang tak mudah heran. Tapi menemukan orang berkata, "Tak ada yang lebih sempurna dariku!" benar-benar membuatku heran.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Paling Jujur di Dunia

Kata-kata paling jujur di dunia adalah kata-kata Bullseye dalam film DareDevil. "Setan itu milikku!"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Sebenarnya

Sebagian orang merasa menjadi wakil Tuhan. Sebagian lagi merasa wakil setan. Sebenarnya, mereka hanya mewakili egonya sendiri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

Berpikir Tuhan

Kadang-kadang aku berpikir Tuhan tidak ada, tapi kemudian Tuhan menertawakanku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Agustus 2012.

Kamis, 30 Juli 2026

Hantu dan Orang-orang Awam

Jika kita perhatikan, hantu/setan Indonesia dan hantu-hantu Amerika/Eropa memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Setidaknya, hal itu tergambar dalam banyak film bertema hantu/setan.

Hantu/setan barat umumnya bertarung dengan manusia, dan memiliki ambisi menguasai dunia. Sementara hantu/setan Indonesia, biasanya cuma nakut-nakutin orang.

Apa makna yang bisa diambil dari kenyataan itu? Bagi saya sederhana. Bahwa hantu—sebagaimana banyak hal lain—adalah hasil konstruksi budaya, olah pikir masyarakat, yang mencerminkan kultur tempat hantu-hantu itu diciptakan. Orang barat yang ambisius menciptakan setan yang ambisius, orang Indonesia yang “apa adanya” menciptakan setan serupa.

Encyclopedia Britannica (edisi 2003) mengulas Nyi Roro Kidul dalam perspektif semacam itu, bahwa sosok gaib itu sebenarnya diciptakan raja-raja Jawa untuk menakut-nakuti rakyat.

Sementara Pramoedya Ananta Toer, dalam “Anak Semua Bangsa”, menyatakan, “Nyai Roro Kidul adalah kreasi Jawa yang gemilang untuk mempertahankan kepentingan Raja-Raja Pribumi Jawa.”

Bagaimana cara agar manusia tunduk pada manusia lain, yang jelas sama-sama manusia? Bagi orang zaman dulu, caranya mudah. Cukup ciptakan mitos, dan bangun “kepercayaan tertentu” yang memungkinkan seorang manusia jadi “tampak seperti bukan manusia umumnya”.

Di kalangan masyarakat terbelakang (di zaman dulu maupun sekarang), cara semacam itu benar-benar efektif, dan memungkinkan siapa pun untuk memerintah manusia lain, karena seolah-olah dia memiliki privilese (keistimewaan) yang tidak dimiliki manusia umumnya.

Kaisar Jepang, juga para kaisar lain di zaman dulu, membangun mitos tentang diri mereka yang—konon katanya—keturunan dewa, dilahirkan oleh matahari, atau hal-hal gaib lain, dan dengan cara itulah mereka menghasilkan ketundukan bahkan penyembahan dari rakyatnya.

Hal serupa terjadi di Eropa, saat masih berada di zaman kegelapan. Para bangsawan Eropa mengklaim diri mereka keturunan dewa, dan dengan mitos itu mereka berharap para kawula menundukkan kepala untuk patuh dan hormat serta menuruti apa pun yang diperintahkan.

Sementara di Indonesia, beberapa raja mengklaim memiliki hubungan dengan makhluk gaib yang dihormati sebagai “penguasai laut selatan”. Intinya sama—menciptakan privilese, yang sebenarnya tidak ada, agar tampak “seperti bukan manusia umumnya”.

Bahkan di zaman sekarang pun, cara semacam itu masih digunakan. Kim Jong Un di Korea Utara mengklaim dia—dan leluhurnya—keturunan dewa, dan rakyat Korut patuh serta takut padanya. Kenapa ia berhasil? Karena rakyat Korut terbelakang, dan terus dikondisikan untuk tetap terbelakang.

Mitos-mitos gaib semacam itu tidak hanya ampuh untuk menempatkan diri di “tempat yang tinggi”, tapi juga ampuh untuk mengendalikan orang-orang terbelakang. Di China, misalnya, ada mitos populer bahwa orang yang mati karena kecelakaan atau dibunuh akan bangkit pada hari ketujuh untuk balas dendam.

Peneliti modern yakin bahwa cerita itu dibuat oleh penguasa untuk mencegah terjadinya pembunuhan. Motivasinya memang bagus, tapi hanya relevan saat diterapkan pada masyarakat yang masih terbelakang, yang masih sangat percaya pada takhayul dan hal-hal mistis.

Sementara di Jepang, ada mitos hantu berbentuk rubah. Jika orang makan terlalu banyak atau memuja penampilan mereka—kata mitos itu—artinya mereka kerasukan rubah. Itu sebenarnya upaya pemimpin religius zaman dulu untuk mendorong orang-orang agar tidak materialistis. Mungkin terdengar meyakinkan ketika hal semacam itu diajarkan di zaman kuno, tapi bisa membuat orang tertawa kalau dikatakan di zaman sekarang.

Fazlur Rahman, mengutip Polybius, menulis, “... orang-orang awam adalah orang yang tidak punya pikiran, dan penuh dorongan-dorongan yang bertentangan dengan hukum; seperti rasa marah yang tak rasional dan kecenderungan-kecenderungan yang agresif. Tidak ada satu pun yang dapat mengendalikan mereka, kecuali rasa takut terhadap yang gaib.”

Sepertinya memang begitu.

Menjangkau Matahari

Jatuh cinta membuatmu merasa dapat menjangkau matahari. Terasa hebat, tapi juga membuatmu terbakar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Agustus 2012.

Tujuan Hidup

Barusan baca artikel di Vice tentang “resep tidur nyenyak”. Cara tidur nyenyak, menurut artikel itu—mengutip suatu penelitian—adalah “memiliki tujuan hidup”. 

Tautan artikelnya tidak perlu kumasukkan di sini, karena artikelnya (atau adaptasi/terjemahan Indonesianya) awut-awutan.

Jadi, merujuk artikel itu, kita perlu punya tujuan hidup untuk bisa tidur nyenyak. Aku punya tujuan hidup, tapi sulit tidur nyenyak. Boro-boro tidur nyenyak, yang ada malah gelisah terus, karena terbayang tujuan hidup. Karena punya tujuan hidup, aku justru tidak ingin tidur!

Mungkin ada yang ingin bertanya, "Emang, tujuan hidupmu apa?"

Tujuan hidupku sederhana: Meruntuhkan peradaban, dan mengakhiri semua omong kosong ini.

*Pantes gak bisa tidur.*

Dan setelah itu, mengutip ungkapan Thanos dalam Infinity War, “Akhirnya aku bisa beristirahat, sambil menyaksikan matahari terbit di Alam Semesta. Untuk kemudian terlelap di pangkuan Mbakyu."

Kalimat terakhir tambahan dariku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Maret 2019.

Asal Punya Duit

Bangun tidur, keluar rumah, banjiran, menuju warung Bu Solehah untuk menikmati sego megono dan teh anget.

Subhanallah... bahagia itu sederhana—asal punya duit.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

Selera Humor yang Aneh

Sebagian orang stres karena ingin kurus, sebagian lagi stres karena ingin gemuk. Hidup tampaknya punya selera humor yang aneh, dan, kadang-kadang, menjengkelkan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2019.

Pantas Kurus Terus

Bocah ini sering baru merasa kelaparan setelah berhadapan dengan makanan. Pantas kurus terus.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Ingin Sekali

Ingin sekali memiliki cangkir beling, bertulisan "potluck". Lalu akan kuletakkan cangkir itu di kamarku, sementara aku damai terlelap.

  
*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Juni 2014.  

Jauh Lebih Mudah

Memang, jauh lebih mudah mencari dan mendapatkan, daripada melepas dan melupakan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Februari 2012.

Tweet Jadul Zaman DVD-ROM

Yang menjengkelkan dari DVD-ROM keluaran baru: Terlalu selektif. Cakram tergores dikit aja nggak mau muter! Sok jual mahal banget!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Februari 2012.

Gegara Harddisk Rusak

Kehilangan ratusan halaman di Word gegara harddisk rusak tuh rasanya seperti patah hati sewaktu sakit parah, lalu mendengar vonis amputasi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Februari 2012.

Lelah Pikiran

Lelah pikiran sepertinya lebih menguras tenaga daripada lelah fisik. Sudah istirahat lama pun tetap terasa lelah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Februari 2012.

Sudah Diberitahu

Sudah diberitahu malah teriak.

Antara goblok campur asu.

Rabu, 01 Juli 2026

Ilusi Nasi Uduk

Catatan ini lanjutan catatan sebelumnya (Catatan dari Tahun Baru). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya baca catatan sebelumnya terlebih dulu. 

Tyo bertanya pada Arta, “Dari mana, Ta’?”

“Nyari nasi uduk,” jawab Arta.

“Ketemu?”

“Nggak.” Arta lalu curhat, “Di Jakarta, nyari nasi uduk gampang banget. Cuma jalan kaki beberapa meter, udah nemu warung nasi uduk. Di sini, nasi uduk kayak barang langka.”

Arta bertetangga dengan Tyo, kampung mereka bersebelahan. Namun, sekitar delapan tahun terakhir Arta tinggal di Jakarta, membantu kakaknya yang punya usaha di sana. Hal itu pula yang menjadikan kami—khususnya Arta dan saya—sangat lama sekali tidak ketemu. 

“Di Jakarta,” lanjut Arta, “saban malam aku makan nasi uduk. Cuma jalan kaki dari rumah, beberapa meter udah nemu warung. Kalaupun tutup, jalan kaki lagi udah nemu warung lagi yang jualan nasi uduk. Pas balik ke sini, aku sering kangen nasi uduk, tapi kayaknya nggak ada yang jual.”

Saya jadi penasaran, “Emang kamu udah berapa lama balik ke sini?”

“Udah cukup lama, sih,” jawab Arta, “sekitar lima bulanan ini.”

Sambil menahan senyum, Tyo lalu berkata pada Arta, “Di dekat tempat kita sebenarnya ada warung nasi uduk. Tapi nasi uduk KW.”

“Di daerah mana?” tanya Arta antusias—dia sepertinya tidak menangkap istilah aneh yang disebut Tyo.

Tyo lalu menjelaskan lokasi yang dia maksud, dan Arta langsung paham. Mereka sama-sama mengenal daerahnya. 

“Warung itu dulu ramai banget,” ujar Tyo. “Orang-orang yang suka nasi uduk, termasuk aku, datang ke sana. Tapi belakangan ketahuan kalau nasi uduk di sana ternyata bukan nasi uduk.”

“Maksudnya gimana?” Arta bingung. “Kok, nasi uduk tapi bukan nasi uduk?”

Tyo seperti menahan tawa, lalu mulai menjelaskan. 

Berdasarkan penjelasan Tyo, sekian tahun lalu—sekitar dua tahun setelah Arta tinggal di Jakarta—ada warung makan yang muncul di pinggir jalan. Warung itu mirip warung Lamongan. Ada spanduk besar bergambar lele, ayam, bebek, ikan. Warung itu buka sekitar pukul 17.00 sampai cukup larut malam.

Ketika pertama kali datang ke warung itu, Tyo mengira warung Lamongan seperti biasa. Dia pesan nasi dan pecel lele di sana. Dia sama sekali tidak kepikiran nasi uduk. Tetapi, ketika mendapati nasi di piring, Tyo berpikir itu nasi uduk. Alasannya sederhana: nasi itu ditaburi bawang goreng!

“Sumpah,” ujar Tyo sambil tertawa, “aku mengira itu nasi uduk!”

Waktu pertama kali makan di warung itu, Tyo merasa puas. Pecel lelenya enak, dan nasinya masih hangat. Ketika membayar, Tyo mendapati harga makanan di warung itu sama seperti di warung-warung Lamongan umumnya. Jadi, sejak itu pula, Tyo sering ke sana, untuk menikmati nasi uduk yang nikmat!

Belakangan, Aldi juga ikut terseret ke warung itu. Aldi ini juga teman nyangkruk kami. Sejak pertama kali diajak Tyo ke warung “nasi uduk” tersebut, Aldi juga merasa cocok. Jadi dia pun sering makan di warung itu—kadang sendirian, kadang bersama Tyo. Dan keduanya sama-sama berhalusinasi bahwa selama itu mereka makan nasi uduk!

Ternyata, yang mengalami hal semacam itu bukan cuma Tyo dan Aldi. Ada orang-orang lain yang datang ke sana karena sama-sama mengira warung itu menyediakan nasi uduk. Ketika sedang makan malam di sana, Tyo kadang ketemu orang yang ia kenal yang juga tinggal di daerah itu, dan mereka sama-sama mengira sedang makan nasi uduk. Keberadaan bawang goreng di atas nasi yang hangat ternyata mampu menciptakan ilusi. 

Yang “menakjubkan” dari kisah ini adalah fakta bahwa orang-orang yang makan di warung itu benar-benar percaya sedang makan nasi uduk, padahal di spanduk warung tidak ada keterangan bahwa itu warung nasi uduk. Orang-orang hanya tahu bahwa nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng. Dan karena nasi di warung itu ditaburi bawang goreng, mereka pun menyimpulkan itu nasi uduk.

Saya perlu ngasih catatan di sini. Di kota saya maupun di daerah-daerah sekitarnya, nasi putih biasa (bukan nasi uduk) memang tidak ditaburi bawang goreng. Di warung mana pun saya makan, saya tidak pernah mendapati bawang goreng di atas nasi. Bawang goreng hanya ada pada nasi uduk. 

Ada alasan yang agak ilmiah terkait hal itu. Nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng untuk meningkatkan aroma, memberi tekstur renyah, dan menambah kedalaman rasa gurih. Nasi uduk ditanak dengan santan yang membuat nasi jadi lebih lembut. Bawang goreng ditaburkan untuk menciptakan kontras tekstur.

Hal berbeda terjadi pada nasi biasa (bukan nasi uduk). Nasi biasa, idealnya, agak akas, dan dapat dimakan dengan lauk apa pun, termasuk dengan sayur berkuah. Karenanya, secara umum, nasi biasa tidak membutuhkan bawang goreng. 

Kembali ke cerita Tyo.

Sampai cukup lama, Tyo percaya pada ilusi bahwa warung yang sering ia datangi memang warung nasi uduk. Tidak pernah sedetik pun ia meragukan keyakinannya. Karena nyatanya makan di warung itu terasa nikmat baginya. Sambal pecel lelenya enak. Nasinya hangat, dan ada taburan bawang goreng di atasnya. Dan Tyo bukan Chef Juna, juga bukan Chef Arnold, atau chef-chef lainnya. Lidahnya awam. Taburan bawang goreng pada nasi sudah cukup menciptakan halusinasi.

Sampai suatu malam, waktu lagi makan di warung itu, Tyo ditelepon ibunya, yang memintanya datang ke rumah. Tyo lalu terpikir membawakan nasi uduk plus ayam goreng buat ibu serta adik perempuannya.

Ibu serta adik Tyo senang dengan nasi yang dibawakan Tyo, khususnya karena disebut “nasi uduk”. Tetapi baru beberapa suap, ibu Tyo murka. 

“Nasi uduk apaan?” tanya ibu Tyo. “Ini nasi biasa!” 

Tyo kaget. Dia menyatakan itu nasi uduk, buktinya ada bawang goreng di atasnya. 

Adik Tyo mengonfirmasi pernyataan ibu mereka, bahwa itu nasi biasa—bukan nasi uduk. Tyo makin bingung.

Besok malamnya, saat kembali makan di warung langganan, Tyo memberanikan diri bertanya langsung pada penjualnya, “Mbak, sebenarnya ini nasi uduk apa nasi biasa?”

Mbak-mbak penjual warung, entah kenapa, menjawab dengan wajah agak lelah. “Nasi biasa, Mas. Di spanduk, kan, nggak ada tulisan nasi uduk.” 

Penjelasan itu seperti palu yang menghantam kesadaran Tyo. Ilusinya runtuh. Ketika ibu serta adiknya mengatakan itu nasi biasa, Tyo masih cukup pede dengan keyakinannya. Tapi ketika si penjualnya sendiri yang menyatakan itu nasi biasa, Tyo tidak punya sandaran lagi untuk ilusinya.

Tyo merasa tertipu, meski ia tidak bisa menuduh si pemilik warung menipunya. Faktanya, di warung itu memang sama sekali tidak ada tulisan atau keterangan bahwa mereka menjual nasi uduk. Spanduknya hanya berisi gambar lele, ayam, bebek, dan ikan. Tidak ada tulisan “nasi uduk” atau semacamnya. Dia sendiri yang menyimpulkan nasi di warung itu nasi uduk. Dan kesimpulan itu muncul gara-gara taburan bawang goreng di atas nasi.

Ketika Tyo menyampaikan kebenaran itu ke Aldi, mereka ketawa-tawa seperti orang gila. Pengalaman “makan nasi uduk yang ternyata bukan nasi uduk” sepertinya cukup mengguncang pikiran mereka.

Sambil tertawa, Tyo mengatakan pada saya dan Arta, “Sekarang, kalau ditanya kenapa nasi uduk dikasih bawang goreng tapi nasi biasa nggak dikasih bawang goreng, aku tahu jawabannya. Buat identifikasi!” 

Kami tertawa, dan memahami itu kebenaran yang lucu.

“Tapi warung itu nggak salah, kan?” ujar Arta kemudian. “Nyatanya mereka nggak pernah mengatakan itu nasi uduk.”

“Memang,” sahut Tyo. “Masalahnya, kenapa mereka ngasih bawang goreng di atas nasi, kalau itu sebenarnya nasi biasa?”

Sambil menahan tawa, saya mengatakan, “Ya suka-suka mereka, lah. Kalau nggak suka, kamu tinggal bilang jangan kasih bawang goreng.”

“Masalahnya bukan di situ,” jawab Tyo. “Masalahnya, bawang goreng itu menciptakan ilusi kalau itu nasi uduk!”

Kami bertiga lalu tertawa-tawa, menyadari betapa absurdnya kasus itu.  

Ponsel Tyo berbunyi. Dia merogoh saku celananya, dan mendapati Aldi di layar ponsel. “Panjang umur, nih, bocah,” ujarnya. 

Tyo lalu bercakap-cakap dengan Aldi lewat video call. Di tengah percakapan, Tyo berkata, “Al, coba tebak aku lagi sama siapa.”

“Pacar barumu?” sahut Aldi di ponsel.

Tyo mengarahkan layar ponselnya ke saya dan Arta.

“Anjrit!” seru Aldi setelah melihat kami bertiga. “Kalian tahun baruan, kenapa nggak ngajak aku?”

Kami pun lalu nimbrung ke percakapan di ponsel itu, dan Aldi mengatakan, “Di rumahku masih ada setengah karung jagung sisa semalam. Kenapa kalian nggak ke sini aja, buat bakar-bakar jagung? Mumpung tahun baru!”

Tyo menatap saya dan Arta, meminta pendapat.

Saya berkata, “Tahun baru atau bukan tahun baru, jagung bakar adalah favorit.”

Kami bertiga lalu bangkit, bersiap ke rumah Aldi.

Komunikasi dan Asumsi

Percakapan gagal lebih sering disebabkan oleh asumsi daripada perbedaan pendapat. Kita mengira orang lain sudah tahu apa yang kita maksud, memahami konteks yang kita bawa, atau menangkap isyarat yang menurut kita sangat jelas. Kenyataannya, mereka tidak pernah tinggal di dalam kepala kita. Mereka hanya menerima potongan-potongan informasi yang berhasil keluar melalui kata-kata, ekspresi wajah, atau tindakan. Sisanya harus mereka tebak sendiri.

Kesalahan itu muncul hampir di semua hubungan. Atasan kesal karena bawahan “tidak peka”, padahal instruksinya terlalu umum. Pasangan kecewa karena ulang tahun dilupakan, padahal keinginannya hanya disampaikan lewat sindiran beberapa minggu sebelumnya. Seorang teman mendadak menjaga jarak karena merasa diabaikan, sementara yang lain sama sekali tidak sadar telah melakukan sesuatu yang menyinggung. Kedua orang itu membawa cerita yang berbeda, seolah-olah mereka sedang mengingat dua kejadian yang memang tidak sama.

Otak manusia punya kebiasaan aneh. Setelah memahami sesuatu, kita lupa bagaimana rasanya ketika belum memahami hal itu. Psikologi menyebutnya curse of knowledge. Pengetahuan yang sudah kita miliki membuat kita melebih-lebihkan apa yang seharusnya diketahui orang lain. Penulis menganggap tulisannya sudah jelas. Guru mengira penjelasannya sederhana. Ahli lupa bahwa istilah yang diucapkannya sehari-hari terdengar asing bagi orang yang baru belajar.

Saya pernah membantu seseorang merakit meja komputer yang baru dibeli. Saya berkata, “Bagian itu dipasang seperti biasa.” 

Dia hanya memandangi papan-papan kayu yang berserakan di lantai, kemudian bertanya bingung, “Seperti biasa bagaimana?” 

Saya melupakan sesuatu di situ. Bagi orang yang pernah apalagi terbiasa mengerjakan sesuatu, langkah berikutnya tampak mudah. Bagi orang yang baru pertama kali melakukannya, langkah berikutnya adalah tanda tanya.

Mungkin karena itulah komunikasi yang baik sering terdengar sedikit berlebihan. Orang yang benar-benar ingin dipahami rela mengulang, memperjelas, bahkan memeriksa apakah lawan bicaranya menangkap maksud yang sama. Bukan karena meremehkan kecerdasan orang lain, tetapi karena sadar setiap kepala membawa peta yang berbeda. Satu kalimat yang tampak lurus saat keluar dari mulut bisa berbelok jauh ketika tiba di telinga orang lain.

Lain kali ketika muncul keinginan berkata, “Harusnya dia mengerti,” saya ingin berhenti sebentar pada kata “harusnya”. Kata kecil itu sering menyembunyikan harapan yang tidak pernah benar-benar diucapkan.

Masih Cukup Waras

Pagi ini temanku mengabari hujan turun di tempatnya, sementara di tempatku tidak ada setetes pun gerimis. Kami bisa saja berdebat seharian, berteori ndakik-ndakik, mengajukan "kebenaran" berdasarkan yang terjadi di tempat masing-masing, tapi untung kami masih cukup waras.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Januari 2019.

Ingin Bikin Band

Di Malaysia ada band bernama PARADIGMA BARU. Aku jadi ingin pindah ke Malaysia, dan bikin band dengan nama DASAR-DASAR PRAGMATISME.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2019.

Hannibal Lecter dan Mbakyunya

Hannibal Lecter pernah punya mbakyu, yang memberi tahu, "Ingatan itu seperti pisau tajam, Hannibal. Menyimpan ingatan bisa membuatmu terluka."

Yang jadi masalah adalah... bagaimana kamu bisa melepaskan ingatan, kalau kamu bahkan tidak punya kemampuan untuk lupa?

Gajah selalu ingat, kata pepatah. Begitu pula Hannibal Lecter.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Januari 2019.

Ngobrol Buku di X

Buku dengan cover ter-cantik! —@basebuku, 13 September 2024

Gramedia Pustaka Utama (GPU) punya desainer cover bernama Eduard Iwan Mangopang. Cover-cover karyanya relatif sederhana, tapi elegan dan berkelas. Itu cover-cover yang menurutku terbaik!

Yang udah baca Murder of Roger Ackyord, tolong kasih tau dong kenapa novel Oma Christie yang satu ini kontroversial? *Tolong jangan spoiler ya! Cukup kasih hint —@basebuku, 14 September 2024

Kontroversial dalam arti; Agatha Christie "menabrak" pakem penulisan cerita detektif di novel ini, hingga pembaca yang paling berpengalaman sekalipun akan terkecoh.

Guys mau tanya, selain Murder of Roger Ackyord, buku karangan Agatha Christie yang mana lagi yang ceritanya sangat mind blowing dan di luar dugaan? —@basebuku, 15 September 2024

Coba baca The Curtain [diterjemahkan dengan judul "Tirai"]. Itu novel Agatha Christie paling "suram" karena menggali sisi-sisi tergelap manusia, sekaligus yang membedakan novel Agatha Christie dengan novel-novel detektif lainnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 September 2024.

Hidup Memang Drama

Tadi pagi menemani seorang teman menangis kehilangan ibunya. Sekarang bersiap ke resepsi perkawinan, untuk ikut bahagia. Hidup memang drama.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Januari 2012.

Komunikasi

Setiap orang mestinya menyadari kebenaran sederhana ini, bahwa satu-satunya cara berkomunikasi yang baik dan sehat dengan orang lain adalah dengan cara berkomunikasi!

Dan yang disebut komunikasi adalah menggunakan bahasa yang bisa dipahami bersama, tanpa menimbulkan salah paham. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Agustus 2021.

This is Wick

This is Wick. Yes, John Wick. —John Wick dalam John Wick

Benar-benar quote yang environmental dan moratorium.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2015.

Mbakyuisme

Personel One Direction, Harry Styles, sering dikabarkan menyukai wanita yang lebih tua darinya. —@kumparan, 15 Januari 2019.

Harry Styles mungkin bocah yang menganut paham mbakyuisme.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Januari 2019.

Selasa, 30 Juni 2026

Nasihat Perkawinan

Perkawinan adalah hal biasa, karena dilakukan miliaran orang di dunia. Karenanya, tidak usah menganggap kamu lebih tinggi atau lebih mulia dari orang yang tidak/belum menikah. Sekali lagi, perkawinan adalah hal biasa, itu sesuatu yang dilakukan oleh hampir semua manusia. Menjadi istimewa, karena kamu—dan masyarakatmu—menganggapnya istimewa.

Dan tak perlu buru-buru memuji pasanganmu setinggi langit, karena pasanganmu juga manusia biasa—sama sepertimu, sama seperti pasangan orang-orang lainnya. Lebih dari itu, tak perlu buru-buru memuji pasanganmu kalau kamu baru menikah tiga hari dengannya. Tunggu sampai kamu bersamanya tiga tahun, atau tiga puluh tahun, dan ucapkan pujianmu di depan pasanganmu—bukan di depan orang lain. 

Orang yang berhak mendengar pujianmu terhadap pasanganmu bukan tetanggamu, bukan teman-temanmu, bahkan bukan orang tuamu, tapi pasanganmu sendiri. Jika dia baik, dialah yang paling berhak mendengar pujian darimu. Jadi sampaikan pujianmu kepadanya, dan tidak usah pamer di depan orang lain, karena orang lain juga memiliki pasangannya sendiri.

Salah satu kebiasaan buruk adalah hobi memuji pasangan di depan orang lain, tapi suka bermuka masam dan pelit pujian pada pasangannya sendiri. 

Jika perkawinanmu bahagia, nikmatilah bersama pasanganmu, bersama keluarga dan anak-anakmu. Syukurilah hidupmu—tapi tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain. 

Karena, kalau kamu memamerkan kebahagiaanmu kepada orang lain yang kebetulan menderita, upaya pamermu akan menyakiti perasaannya. Kalau kamu pamer kebahagiaanmu kepada orang lain yang juga bahagia, kalian hanya akan terjebak dalam perlombaan ujub dan riya. Tidak ada gunanya—sungguh tak ada gunanya.

Sebaliknya, jika perkawinanmu sengsara, benahilah bersama pasanganmu, bersama keluargamu. Pelajari kekeliruanmu, dan—sekali lagi—tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain. Perkawinanmu adalah milikmu. 

Doktrin yang Menipu

Ada seorang pria dan seorang wanita yang hidup sendiri-sendiri, dan mereka bisa menikmati kehidupan dengan baik, tanpa kekurangan.

Lalu keduanya bertemu dan menikah. Setelah itu, kehidupan jadi terasa sangat berat dan serba kekurangan.

Diam-diam, realitas itu ada di mana-mana.

Si A punya penghasilan sendiri, begitu pula Si B. Mereka berpikir bisa menggabungkan penghasilan jika menikah, sehingga hidup akan berkecukupan.

Anehnya, begitu pernikahan terjadi, hidup terasa sempit. Penghasilan yang dikira cukup ternyata tak pernah cukup dan terus kurang.

Banyak temanku mengalami kenyataan ini. Sebagian mereka mengaku terang-terangan, sebagian lain sambil malu-malu. Yang jelas, mereka sama-sama menghadapi kenyataan serupa.

Dalam pikiranku, kenyataan aneh itu sebenarnya logis. Saat masih lajang, masing-masing orang hanya mencukupi kebutuhan pribadi. Ketika menikah, mereka punya anak, dan kebutuhan jelas bertambah. Jatah untuk dua orang sekarang harus dibagi lebih banyak. Hasilnya jelas: Tidak cukup.

Tapi doktrin kadang membutakan mata dan pikiran banyak orang. Meski realitasnya begitu jelas, mereka masih memaksa untuk percaya bahwa "anak punya rezeki sendiri", atau "banyak anak banyak rezeki".

Faktanya, banyak pasangan terjerat utang, anak telantar, kelaparan, di mana-mana.

Yang menyedihkan, sering ada orang yang sok mengatakan, "Kalau dipikir-pikir, penghasilanku tidak akan cukup untuk menghidupi keluarga. Tapi ndilalah ada saja rezekinya."

Terdengar familier? Meski mungkin terdengar hebat, aku tahu itu cara orang "ngadem-ngademi" diri sendiri.

Yang paling buruk dari semua ini adalah orang-orang yang hobi ngutang pada yang masih lajang, sambil menyuruh-nyuruh cepat kawin.

"Menikah akan melancarkan rezeki," kata mereka.

Kalau melancarkan rezeki, kenapa kau berutang? Sudah begitu, utangnya gak dibayar-bayar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Maret 2019.

Hukum Psikologi Tertua di Dunia

Antara ingin tertawa campur sedih campur ingin marah, tiap ketemu orang yang merasa lebih tahu kehidupan orang lain, lalu menyuruh-nyuruh orang lain agar melakukan sesuatu, karena menurutnya itu hal baik. Misalnya... menyuruh orang lain cepat menikah, atau cepat punya anak.

Yang ironis terkait hal ini adalah, orang yang paling rajin mengurusi hidup orang lain (dalam hal ini menyuruh cepat kawin atau cepat punya anak) biasanya justru tidak bisa mengurus hidupnya sendiri, dan menjalani kehidupan tidak bahagia, campur keblangsak dan menyedihkan.

Kalau ada teman atau tetanggamu yang doyan menyuruh-nyuruhmu cepat menikah, cobalah perhatikan. Aku berani betaruh, dia menjalani perkawinan yang tidak bahagia, yang membuatnya tertekan. Dan mereka yang menyuruh-nyuruhmu cepat punya anak biasanya juga menjalani hidup keblangsak.

Manusia, siapa pun dia, tidak bisa—dan tidak akan bisa—melanggar hukum psikologi tertua di dunia: Orang yang bahagia dengan hidupnya tidak punya keinginan ngerusuhi (sok mengurus) hidup orang lain. Kalau kau bahagia, kau akan nyaman dengan diri sendiri, dan tak peduli orang lain.

Ini bukan doktrin omong kosong, tapi kebenaran yang bisa dibuktikan kapan pun, di mana pun, pada siapa pun. Setiap kali kau menemukan orang yang ngerusuhi hidupmu dan merasa lebih tahu tentang hidupmu, kau bisa yakin dia orang menyedihkan, yang menjalani hidup tanpa kedamaian.

Orang yang bahagia dalam hidupnya tentu punya kepedulian pada orang lain—perhatikan, "kepedulian"—bukan ngerusuhi hidup orang lain. Orang yang bahagia bahkan punya kepedulian tinggi pada orang lain. Mereka peduli, bukan ngerusuhi kehidupan orang lain. Kau tentu tahu perbedaannya.

Jika ingin mendalami lebih lanjut ocehan ini, silakan baca catatan berikut:

Kebahagiaan Tak Butuh Pengakuan » https://bit.ly/2XYFF1c 

Tipuan Paling Tolol » https://bit.ly/2TIfmxQ 

Pernikahan itu baik. Yang buruk adalah orang yang suka menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Maret 2019.

Halusinasi

Halusinasi melihat makhluk halus memang bisa disembuhkan. Yang sulit disembuhkan adalah halusinasi melihat pernikahan sebagai solusi untuk semua masalah, padahal justru menjadi penyebab banyak masalah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Maret 2019.

Keindahan

Keindahan adalah kepak sayap kupu-kupu. Kau bisa memandanginya, tetapi ia tak bisa disentuh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Kurang Tersenyum

Tiap melihat Edward Norton, rasanya seperti melihat diri sendiri. Mungkin aku memang kurang tersenyum akhir-akhir ini.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Kelopak Mawar

Sekuntum mawar mengambang di atas air. Setumpuk harapan bermain di tangan takdir. Kelopak mawar adalah harapan tanpa akhir.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Malaikat Tak Kita Kenal

Ada banyak iblis bertopeng malaikat, dan ada malaikat-malaikat yang tak pernah kita kenal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Raos

Oh... raos.

Tak Perlu Resah

Kalau kita tidak bersalah, tapi kemudian ada yang marah-marah, jelas orang itu yang bermasalah. Tak perlu resah!


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 13 Juli 2012.

Ingin Bersulang

Dua tahun lalu, pada 27 Mei 2017, aku mengatakan di sini bahwa dia sangat pintar. Orang-orang mencibir dan menertawakanku, tapi sekarang terbukti kalau dia memang benar-benar pintar.

Aku ingin bersulang untuk diriku sendiri!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 September 2019.

Lupakan!

Apa yang lebih lucu di dunia ini selain... ah, lupakan!


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 13 Juli 2012.

Senin, 29 Juni 2026

Saat Tergelap dalam Hidup

Kamu itu ga sendiri, cari teman untuk bicara, kalo bisa tenaga berpresional. untuk suicide survivor, terima kasih untuk tidak pernah menyerah —@hati2dimedsos, 28 Januari 2019.


Orang-orang yang menghadapi kemalangan, kesepian, dan kebingungan—yang belakangan memutuskan bunuh diri—kerap dinasihati agar mencari teman bicara. Nasihat itu baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, bagi orang bersangkutan, “mencari teman bicara” sering nyaris mustahil.

Saat kita menemui seseorang—teman, atau siapa pun—dan berharap dia mau mendengarkan kita, belum tentu harapan itu terwujud. Bisa jadi, orang yang kita harap mau mendengarkan justru berceramah, menghakimi, atau menggampangkan beban pikiran kita, atau mendengarkan tapi tak peduli.

Saran agar menemui profesional juga saran yang baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, tidak semua orang—khususnya yang bertendensi bunuh diri—tahu hal itu. Kalau pun tahu, belum tentu dia punya biaya. Kalau pun tahu dan punya biaya, belum tentu dia mau melakukannya.

Sebenarnya, yang paling diinginkan seseorang yang sedang menghadapi “kegelapan hidup” adalah seseorang—kalau bisa yang ia kenal dan percaya—yang benar-benar mau mendengarkan dan menunjukkan kepedulian. Tetapi, demi Tuhan, menemukan orang semacam itu sulitnya luar biasa.

Ada jutaan orang yang tahu cara menasihati, tapi sulit menemukan satu saja yang benar-benar peduli. Ada jutaan orang yang siap menjadi temanmu saat kau tertawa, tapi sulit menemukan satu saja yang menemanimu saat menangis. Terdengar muram, memang. Tapi itulah kenyataannya.

Ada banyak orang yang mendekat dan siap menjadi temanmu saat kau mendapat kesenangan dan bergelimang uang, tapi banyak pula yang menjauh dan berpaling darimu saat kau menghadapi masalah dan butuh pertolongan. Terdengar suram, memang. Tapi itu realitas di sekitar kita.

Aku pernah menghadapi saat-saat tergelap dalam hidup, dan akhirnya menyadari sesuatu yang benar-benar pahit: Tidak ada siapa pun yang bisa kuandalkan di dunia ini, selain diri sendiri. Mungkin terdengar angkuh. Tapi untung aku berpikir seperti itu, bukan malah menenggak arsenik.

Kepedulian dan kemampuan mendengarkan itu mudah dikatakan, tapi sulit ditemukan—khususnya oleh orang yang benar-benar membutuhkannya. Itulah kenapa, sejujurnya, aku tidak heran dengan orang bunuh diri, karena aku benar-benar memahami yang dirasakannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

 
;