Rabu, 01 Juli 2026

Ilusi Nasi Uduk

Catatan ini lanjutan catatan sebelumnya (Catatan dari Tahun Baru). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya baca catatan sebelumnya terlebih dulu. 

Tyo bertanya pada Arta, “Dari mana, Ta’?”

“Nyari nasi uduk,” jawab Arta.

“Ketemu?”

“Nggak.” Arta lalu curhat, “Di Jakarta, nyari nasi uduk gampang banget. Cuma jalan kaki beberapa meter, udah nemu warung nasi uduk. Di sini, nasi uduk kayak barang langka.”

Arta bertetangga dengan Tyo, kampung mereka bersebelahan. Namun, sekitar delapan tahun terakhir Arta tinggal di Jakarta, membantu kakaknya yang punya usaha di sana. Hal itu pula yang menjadikan kami—khususnya Arta dan saya—sangat lama sekali tidak ketemu. 

“Di Jakarta,” lanjut Arta, “saban malam aku makan nasi uduk. Cuma jalan kaki dari rumah, beberapa meter udah nemu warung. Kalaupun tutup, jalan kaki lagi udah nemu warung lagi yang jualan nasi uduk. Pas balik ke sini, aku sering kangen nasi uduk, tapi kayaknya nggak ada yang jual.”

Saya jadi penasaran, “Emang kamu udah berapa lama balik ke sini?”

“Udah cukup lama, sih,” jawab Arta, “sekitar lima bulanan ini.”

Sambil menahan senyum, Tyo lalu berkata pada Arta, “Di dekat tempat kita sebenarnya ada warung nasi uduk. Tapi nasi uduk KW.”

“Di daerah mana?” tanya Arta antusias—dia sepertinya tidak menangkap istilah aneh yang disebut Tyo.

Tyo lalu menjelaskan lokasi yang dia maksud, dan Arta langsung paham. Mereka sama-sama mengenal daerahnya. 

“Warung itu dulu ramai banget,” ujar Tyo. “Orang-orang yang suka nasi uduk, termasuk aku, datang ke sana. Tapi belakangan ketahuan kalau nasi uduk di sana ternyata bukan nasi uduk.”

“Maksudnya gimana?” Arta bingung. “Kok, nasi uduk tapi bukan nasi uduk?”

Tyo seperti menahan tawa, lalu mulai menjelaskan. 

Berdasarkan penjelasan Tyo, sekian tahun lalu—sekitar dua tahun setelah Arta tinggal di Jakarta—ada warung makan yang muncul di pinggir jalan. Warung itu mirip warung Lamongan. Ada spanduk besar bergambar lele, ayam, bebek, ikan. Warung itu buka sekitar pukul 17.00 sampai cukup larut malam.

Ketika pertama kali datang ke warung itu, Tyo mengira warung Lamongan seperti biasa. Dia pesan nasi dan pecel lele di sana. Dia sama sekali tidak kepikiran nasi uduk. Tetapi, ketika mendapati nasi di piring, Tyo berpikir itu nasi uduk. Alasannya sederhana: nasi itu ditaburi bawang goreng!

“Sumpah,” ujar Tyo sambil tertawa, “aku mengira itu nasi uduk!”

Waktu pertama kali makan di warung itu, Tyo merasa puas. Pecel lelenya enak, dan nasinya masih hangat. Ketika membayar, Tyo mendapati harga makanan di warung itu sama seperti di warung-warung Lamongan umumnya. Jadi, sejak itu pula, Tyo sering ke sana, untuk menikmati nasi uduk yang nikmat!

Belakangan, Aldi juga ikut terseret ke warung itu. Aldi ini juga teman nyangkruk kami. Sejak pertama kali diajak Tyo ke warung “nasi uduk” tersebut, Aldi juga merasa cocok. Jadi dia pun sering makan di warung itu—kadang sendirian, kadang bersama Tyo. Dan keduanya sama-sama berhalusinasi bahwa selama itu mereka makan nasi uduk!

Ternyata, yang mengalami hal semacam itu bukan cuma Tyo dan Aldi. Ada orang-orang lain yang datang ke sana karena sama-sama mengira warung itu menyediakan nasi uduk. Ketika sedang makan malam di sana, Tyo kadang ketemu orang yang ia kenal yang juga tinggal di daerah itu, dan mereka sama-sama mengira sedang makan nasi uduk. Keberadaan bawang goreng di atas nasi yang hangat ternyata mampu menciptakan ilusi. 

Yang “menakjubkan” dari kisah ini adalah fakta bahwa orang-orang yang makan di warung itu benar-benar percaya sedang makan nasi uduk, padahal di spanduk warung tidak ada keterangan bahwa itu warung nasi uduk. Orang-orang hanya tahu bahwa nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng. Dan karena nasi di warung itu ditaburi bawang goreng, mereka pun menyimpulkan itu nasi uduk.

Saya perlu ngasih catatan di sini. Di kota saya maupun di daerah-daerah sekitarnya, nasi putih biasa (bukan nasi uduk) memang tidak ditaburi bawang goreng. Di warung mana pun saya makan, saya tidak pernah mendapati bawang goreng di atas nasi. Bawang goreng hanya ada pada nasi uduk. 

Ada alasan yang agak ilmiah terkait hal itu. Nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng untuk meningkatkan aroma, memberi tekstur renyah, dan menambah kedalaman rasa gurih. Nasi uduk ditanak dengan santan yang membuat nasi jadi lebih lembut. Bawang goreng ditaburkan untuk menciptakan kontras tekstur.

Hal berbeda terjadi pada nasi biasa (bukan nasi uduk). Nasi biasa, idealnya, agak akas, dan dapat dimakan dengan lauk apa pun, termasuk dengan sayur berkuah. Karenanya, secara umum, nasi biasa tidak membutuhkan bawang goreng. 

Kembali ke cerita Tyo.

Sampai cukup lama, Tyo percaya pada ilusi bahwa warung yang sering ia datangi memang warung nasi uduk. Tidak pernah sedetik pun ia meragukan keyakinannya. Karena nyatanya makan di warung itu terasa nikmat baginya. Sambal pecel lelenya enak. Nasinya hangat, dan ada taburan bawang goreng di atasnya. Dan Tyo bukan Chef Juna, juga bukan Chef Arnold, atau chef-chef lainnya. Lidahnya awam. Taburan bawang goreng pada nasi sudah cukup menciptakan halusinasi.

Sampai suatu malam, waktu lagi makan di warung itu, Tyo ditelepon ibunya, yang memintanya datang ke rumah. Tyo lalu terpikir membawakan nasi uduk plus ayam goreng buat ibu serta adik perempuannya.

Ibu serta adik Tyo senang dengan nasi yang dibawakan Tyo, khususnya karena disebut “nasi uduk”. Tetapi baru beberapa suap, ibu Tyo murka. 

“Nasi uduk apaan?” tanya ibu Tyo. “Ini nasi biasa!” 

Tyo kaget. Dia menyatakan itu nasi uduk, buktinya ada bawang goreng di atasnya. 

Adik Tyo mengonfirmasi pernyataan ibu mereka, bahwa itu nasi biasa—bukan nasi uduk. Tyo makin bingung.

Besok malamnya, saat kembali makan di warung langganan, Tyo memberanikan diri bertanya langsung pada penjualnya, “Mbak, sebenarnya ini nasi uduk apa nasi biasa?”

Mbak-mbak penjual warung, entah kenapa, menjawab dengan wajah agak lelah. “Nasi biasa, Mas. Di spanduk, kan, nggak ada tulisan nasi uduk.” 

Penjelasan itu seperti palu yang menghantam kesadaran Tyo. Ilusinya runtuh. Ketika ibu serta adiknya mengatakan itu nasi biasa, Tyo masih cukup pede dengan keyakinannya. Tapi ketika si penjualnya sendiri yang menyatakan itu nasi biasa, Tyo tidak punya sandaran lagi untuk ilusinya.

Tyo merasa tertipu, meski ia tidak bisa menuduh si pemilik warung menipunya. Faktanya, di warung itu memang sama sekali tidak ada tulisan atau keterangan bahwa mereka menjual nasi uduk. Spanduknya hanya berisi gambar lele, ayam, bebek, dan ikan. Tidak ada tulisan “nasi uduk” atau semacamnya. Dia sendiri yang menyimpulkan nasi di warung itu nasi uduk. Dan kesimpulan itu muncul gara-gara taburan bawang goreng di atas nasi.

Ketika Tyo menyampaikan kebenaran itu ke Aldi, mereka ketawa-tawa seperti orang gila. Pengalaman “makan nasi uduk yang ternyata bukan nasi uduk” sepertinya cukup mengguncang pikiran mereka.

Sambil tertawa, Tyo mengatakan pada saya dan Arta, “Sekarang, kalau ditanya kenapa nasi uduk dikasih bawang goreng tapi nasi biasa nggak dikasih bawang goreng, aku tahu jawabannya. Buat identifikasi!” 

Kami tertawa, dan memahami itu kebenaran yang lucu.

“Tapi warung itu nggak salah, kan?” ujar Arta kemudian. “Nyatanya mereka nggak pernah mengatakan itu nasi uduk.”

“Memang,” sahut Tyo. “Masalahnya, kenapa mereka ngasih bawang goreng di atas nasi, kalau itu sebenarnya nasi biasa?”

Sambil menahan tawa, saya mengatakan, “Ya suka-suka mereka, lah. Kalau nggak suka, kamu tinggal bilang jangan kasih bawang goreng.”

“Masalahnya bukan di situ,” jawab Tyo. “Masalahnya, bawang goreng itu menciptakan ilusi kalau itu nasi uduk!”

Kami bertiga lalu tertawa-tawa, menyadari betapa absurdnya kasus itu.  

Ponsel Tyo berbunyi. Dia merogoh saku celananya, dan mendapati Aldi di layar ponsel. “Panjang umur, nih, bocah,” ujarnya. 

Tyo lalu bercakap-cakap dengan Aldi lewat video call. Di tengah percakapan, Tyo berkata, “Al, coba tebak aku lagi sama siapa.”

“Pacar barumu?” sahut Aldi di ponsel.

Tyo mengarahkan layar ponselnya ke saya dan Arta.

“Anjrit!” seru Aldi setelah melihat kami bertiga. “Kalian tahun baruan, kenapa nggak ngajak aku?”

Kami pun lalu nimbrung ke percakapan di ponsel itu, dan Aldi mengatakan, “Di rumahku masih ada setengah karung jagung sisa semalam. Kenapa kalian nggak ke sini aja, buat bakar-bakar jagung? Mumpung tahun baru!”

Tyo menatap saya dan Arta, meminta pendapat.

Saya berkata, “Tahun baru atau bukan tahun baru, jagung bakar adalah favorit.”

Kami bertiga lalu bangkit, bersiap ke rumah Aldi.

Komunikasi dan Asumsi

Percakapan gagal lebih sering disebabkan oleh asumsi daripada perbedaan pendapat. Kita mengira orang lain sudah tahu apa yang kita maksud, memahami konteks yang kita bawa, atau menangkap isyarat yang menurut kita sangat jelas. Kenyataannya, mereka tidak pernah tinggal di dalam kepala kita. Mereka hanya menerima potongan-potongan informasi yang berhasil keluar melalui kata-kata, ekspresi wajah, atau tindakan. Sisanya harus mereka tebak sendiri.

Kesalahan itu muncul hampir di semua hubungan. Atasan kesal karena bawahan “tidak peka”, padahal instruksinya terlalu umum. Pasangan kecewa karena ulang tahun dilupakan, padahal keinginannya hanya disampaikan lewat sindiran beberapa minggu sebelumnya. Seorang teman mendadak menjaga jarak karena merasa diabaikan, sementara yang lain sama sekali tidak sadar telah melakukan sesuatu yang menyinggung. Kedua orang itu membawa cerita yang berbeda, seolah-olah mereka sedang mengingat dua kejadian yang memang tidak sama.

Otak manusia punya kebiasaan aneh. Setelah memahami sesuatu, kita lupa bagaimana rasanya ketika belum memahami hal itu. Psikologi menyebutnya curse of knowledge. Pengetahuan yang sudah kita miliki membuat kita melebih-lebihkan apa yang seharusnya diketahui orang lain. Penulis menganggap tulisannya sudah jelas. Guru mengira penjelasannya sederhana. Ahli lupa bahwa istilah yang diucapkannya sehari-hari terdengar asing bagi orang yang baru belajar.

Saya pernah membantu seseorang merakit meja komputer yang baru dibeli. Saya berkata, “Bagian itu dipasang seperti biasa.” 

Dia hanya memandangi papan-papan kayu yang berserakan di lantai, kemudian bertanya bingung, “Seperti biasa bagaimana?” 

Saya melupakan sesuatu di situ. Bagi orang yang pernah apalagi terbiasa mengerjakan sesuatu, langkah berikutnya tampak mudah. Bagi orang yang baru pertama kali melakukannya, langkah berikutnya adalah tanda tanya.

Mungkin karena itulah komunikasi yang baik sering terdengar sedikit berlebihan. Orang yang benar-benar ingin dipahami rela mengulang, memperjelas, bahkan memeriksa apakah lawan bicaranya menangkap maksud yang sama. Bukan karena meremehkan kecerdasan orang lain, tetapi karena sadar setiap kepala membawa peta yang berbeda. Satu kalimat yang tampak lurus saat keluar dari mulut bisa berbelok jauh ketika tiba di telinga orang lain.

Lain kali ketika muncul keinginan berkata, “Harusnya dia mengerti,” saya ingin berhenti sebentar pada kata “harusnya”. Kata kecil itu sering menyembunyikan harapan yang tidak pernah benar-benar diucapkan.

Masih Cukup Waras

Pagi ini temanku mengabari hujan turun di tempatnya, sementara di tempatku tidak ada setetes pun gerimis. Kami bisa saja berdebat seharian, berteori ndakik-ndakik, mengajukan "kebenaran" berdasarkan yang terjadi di tempat masing-masing, tapi untung kami masih cukup waras.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Januari 2019.

Ingin Bikin Band

Di Malaysia ada band bernama PARADIGMA BARU. Aku jadi ingin pindah ke Malaysia, dan bikin band dengan nama DASAR-DASAR PRAGMATISME.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2019.

Hannibal Lecter dan Mbakyunya

Hannibal Lecter pernah punya mbakyu, yang memberi tahu, "Ingatan itu seperti pisau tajam, Hannibal. Menyimpan ingatan bisa membuatmu terluka."

Yang jadi masalah adalah... bagaimana kamu bisa melepaskan ingatan, kalau kamu bahkan tidak punya kemampuan untuk lupa?

Gajah selalu ingat, kata pepatah. Begitu pula Hannibal Lecter.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Januari 2019.

Ngobrol Buku di X

Buku dengan cover ter-cantik! —@basebuku, 13 September 2024

Gramedia Pustaka Utama (GPU) punya desainer cover bernama Eduard Iwan Mangopang. Cover-cover karyanya relatif sederhana, tapi elegan dan berkelas. Itu cover-cover yang menurutku terbaik!

Yang udah baca Murder of Roger Ackyord, tolong kasih tau dong kenapa novel Oma Christie yang satu ini kontroversial? *Tolong jangan spoiler ya! Cukup kasih hint —@basebuku, 14 September 2024

Kontroversial dalam arti; Agatha Christie "menabrak" pakem penulisan cerita detektif di novel ini, hingga pembaca yang paling berpengalaman sekalipun akan terkecoh.

Guys mau tanya, selain Murder of Roger Ackyord, buku karangan Agatha Christie yang mana lagi yang ceritanya sangat mind blowing dan di luar dugaan? —@basebuku, 15 September 2024

Coba baca The Curtain [diterjemahkan dengan judul "Tirai"]. Itu novel Agatha Christie paling "suram" karena menggali sisi-sisi tergelap manusia, sekaligus yang membedakan novel Agatha Christie dengan novel-novel detektif lainnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 September 2024.

Hidup Memang Drama

Tadi pagi menemani seorang teman menangis kehilangan ibunya. Sekarang bersiap ke resepsi perkawinan, untuk ikut bahagia. Hidup memang drama.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Januari 2012.

Komunikasi

Setiap orang mestinya menyadari kebenaran sederhana ini, bahwa satu-satunya cara berkomunikasi yang baik dan sehat dengan orang lain adalah dengan cara berkomunikasi!

Dan yang disebut komunikasi adalah menggunakan bahasa yang bisa dipahami bersama, tanpa menimbulkan salah paham. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Agustus 2021.

This is Wick

This is Wick. Yes, John Wick. —John Wick dalam John Wick

Benar-benar quote yang environmental dan moratorium.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2015.

Mbakyuisme

Personel One Direction, Harry Styles, sering dikabarkan menyukai wanita yang lebih tua darinya. —@kumparan, 15 Januari 2019.

Harry Styles mungkin bocah yang menganut paham mbakyuisme.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Januari 2019.

Selasa, 30 Juni 2026

Nasihat Perkawinan

Perkawinan adalah hal biasa, karena dilakukan miliaran orang di dunia. Karenanya, tidak usah menganggap kamu lebih tinggi atau lebih mulia dari orang yang tidak/belum menikah. Sekali lagi, perkawinan adalah hal biasa, itu sesuatu yang dilakukan oleh hampir semua manusia. Menjadi istimewa, karena kamu—dan masyarakatmu—menganggapnya istimewa.

Dan tak perlu buru-buru memuji pasanganmu setinggi langit, karena pasanganmu juga manusia biasa—sama sepertimu, sama seperti pasangan orang-orang lainnya. Lebih dari itu, tak perlu buru-buru memuji pasanganmu kalau kamu baru menikah tiga hari dengannya. Tunggu sampai kamu bersamanya tiga tahun, atau tiga puluh tahun, dan ucapkan pujianmu di depan pasanganmu—bukan di depan orang lain. 

Orang yang berhak mendengar pujianmu terhadap pasanganmu bukan tetanggamu, bukan teman-temanmu, bahkan bukan orang tuamu, tapi pasanganmu sendiri. Jika dia baik, dialah yang paling berhak mendengar pujian darimu. Jadi sampaikan pujianmu kepadanya, dan tidak usah pamer di depan orang lain, karena orang lain juga memiliki pasangannya sendiri.

Salah satu kebiasaan buruk adalah hobi memuji pasangan di depan orang lain, tapi suka bermuka masam dan pelit pujian pada pasangannya sendiri. 

Jika perkawinanmu bahagia, nikmatilah bersama pasanganmu, bersama keluarga dan anak-anakmu. Syukurilah hidupmu—tapi tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain. 

Karena, kalau kamu memamerkan kebahagiaanmu kepada orang lain yang kebetulan menderita, upaya pamermu akan menyakiti perasaannya. Kalau kamu pamer kebahagiaanmu kepada orang lain yang juga bahagia, kalian hanya akan terjebak dalam perlombaan ujub dan riya. Tidak ada gunanya—sungguh tak ada gunanya.

Sebaliknya, jika perkawinanmu sengsara, benahilah bersama pasanganmu, bersama keluargamu. Pelajari kekeliruanmu, dan—sekali lagi—tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain. Perkawinanmu adalah milikmu. 

Doktrin yang Menipu

Ada seorang pria dan seorang wanita yang hidup sendiri-sendiri, dan mereka bisa menikmati kehidupan dengan baik, tanpa kekurangan.

Lalu keduanya bertemu dan menikah. Setelah itu, kehidupan jadi terasa sangat berat dan serba kekurangan.

Diam-diam, realitas itu ada di mana-mana.

Si A punya penghasilan sendiri, begitu pula Si B. Mereka berpikir bisa menggabungkan penghasilan jika menikah, sehingga hidup akan berkecukupan.

Anehnya, begitu pernikahan terjadi, hidup terasa sempit. Penghasilan yang dikira cukup ternyata tak pernah cukup dan terus kurang.

Banyak temanku mengalami kenyataan ini. Sebagian mereka mengaku terang-terangan, sebagian lain sambil malu-malu. Yang jelas, mereka sama-sama menghadapi kenyataan serupa.

Dalam pikiranku, kenyataan aneh itu sebenarnya logis. Saat masih lajang, masing-masing orang hanya mencukupi kebutuhan pribadi. Ketika menikah, mereka punya anak, dan kebutuhan jelas bertambah. Jatah untuk dua orang sekarang harus dibagi lebih banyak. Hasilnya jelas: Tidak cukup.

Tapi doktrin kadang membutakan mata dan pikiran banyak orang. Meski realitasnya begitu jelas, mereka masih memaksa untuk percaya bahwa "anak punya rezeki sendiri", atau "banyak anak banyak rezeki".

Faktanya, banyak pasangan terjerat utang, anak telantar, kelaparan, di mana-mana.

Yang menyedihkan, sering ada orang yang sok mengatakan, "Kalau dipikir-pikir, penghasilanku tidak akan cukup untuk menghidupi keluarga. Tapi ndilalah ada saja rezekinya."

Terdengar familier? Meski mungkin terdengar hebat, aku tahu itu cara orang "ngadem-ngademi" diri sendiri.

Yang paling buruk dari semua ini adalah orang-orang yang hobi ngutang pada yang masih lajang, sambil menyuruh-nyuruh cepat kawin.

"Menikah akan melancarkan rezeki," kata mereka.

Kalau melancarkan rezeki, kenapa kau berutang? Sudah begitu, utangnya gak dibayar-bayar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Maret 2019.

Hukum Psikologi Tertua di Dunia

Antara ingin tertawa campur sedih campur ingin marah, tiap ketemu orang yang merasa lebih tahu kehidupan orang lain, lalu menyuruh-nyuruh orang lain agar melakukan sesuatu, karena menurutnya itu hal baik. Misalnya... menyuruh orang lain cepat menikah, atau cepat punya anak.

Yang ironis terkait hal ini adalah, orang yang paling rajin mengurusi hidup orang lain (dalam hal ini menyuruh cepat kawin atau cepat punya anak) biasanya justru tidak bisa mengurus hidupnya sendiri, dan menjalani kehidupan tidak bahagia, campur keblangsak dan menyedihkan.

Kalau ada teman atau tetanggamu yang doyan menyuruh-nyuruhmu cepat menikah, cobalah perhatikan. Aku berani betaruh, dia menjalani perkawinan yang tidak bahagia, yang membuatnya tertekan. Dan mereka yang menyuruh-nyuruhmu cepat punya anak biasanya juga menjalani hidup keblangsak.

Manusia, siapa pun dia, tidak bisa—dan tidak akan bisa—melanggar hukum psikologi tertua di dunia: Orang yang bahagia dengan hidupnya tidak punya keinginan ngerusuhi (sok mengurus) hidup orang lain. Kalau kau bahagia, kau akan nyaman dengan diri sendiri, dan tak peduli orang lain.

Ini bukan doktrin omong kosong, tapi kebenaran yang bisa dibuktikan kapan pun, di mana pun, pada siapa pun. Setiap kali kau menemukan orang yang ngerusuhi hidupmu dan merasa lebih tahu tentang hidupmu, kau bisa yakin dia orang menyedihkan, yang menjalani hidup tanpa kedamaian.

Orang yang bahagia dalam hidupnya tentu punya kepedulian pada orang lain—perhatikan, "kepedulian"—bukan ngerusuhi hidup orang lain. Orang yang bahagia bahkan punya kepedulian tinggi pada orang lain. Mereka peduli, bukan ngerusuhi kehidupan orang lain. Kau tentu tahu perbedaannya.

Jika ingin mendalami lebih lanjut ocehan ini, silakan baca catatan berikut:

Kebahagiaan Tak Butuh Pengakuan » https://bit.ly/2XYFF1c 

Tipuan Paling Tolol » https://bit.ly/2TIfmxQ 

Pernikahan itu baik. Yang buruk adalah orang yang suka menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Maret 2019.

Halusinasi

Halusinasi melihat makhluk halus memang bisa disembuhkan. Yang sulit disembuhkan adalah halusinasi melihat pernikahan sebagai solusi untuk semua masalah, padahal justru menjadi penyebab banyak masalah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Maret 2019.

Keindahan

Keindahan adalah kepak sayap kupu-kupu. Kau bisa memandanginya, tetapi ia tak bisa disentuh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Kurang Tersenyum

Tiap melihat Edward Norton, rasanya seperti melihat diri sendiri. Mungkin aku memang kurang tersenyum akhir-akhir ini.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Kelopak Mawar

Sekuntum mawar mengambang di atas air. Setumpuk harapan bermain di tangan takdir. Kelopak mawar adalah harapan tanpa akhir.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Malaikat Tak Kita Kenal

Ada banyak iblis bertopeng malaikat, dan ada malaikat-malaikat yang tak pernah kita kenal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Raos

Oh... raos.

Tak Perlu Resah

Kalau kita tidak bersalah, tapi kemudian ada yang marah-marah, jelas orang itu yang bermasalah. Tak perlu resah!


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 13 Juli 2012.

Ingin Bersulang

Dua tahun lalu, pada 27 Mei 2017, aku mengatakan di sini bahwa dia sangat pintar. Orang-orang mencibir dan menertawakanku, tapi sekarang terbukti kalau dia memang benar-benar pintar.

Aku ingin bersulang untuk diriku sendiri!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 September 2019.

Lupakan!

Apa yang lebih lucu di dunia ini selain... ah, lupakan!


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 13 Juli 2012.

Senin, 29 Juni 2026

Saat Tergelap dalam Hidup

Kamu itu ga sendiri, cari teman untuk bicara, kalo bisa tenaga berpresional. untuk suicide survivor, terima kasih untuk tidak pernah menyerah —@hati2dimedsos, 28 Januari 2019.


Orang-orang yang menghadapi kemalangan, kesepian, dan kebingungan—yang belakangan memutuskan bunuh diri—kerap dinasihati agar mencari teman bicara. Nasihat itu baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, bagi orang bersangkutan, “mencari teman bicara” sering nyaris mustahil.

Saat kita menemui seseorang—teman, atau siapa pun—dan berharap dia mau mendengarkan kita, belum tentu harapan itu terwujud. Bisa jadi, orang yang kita harap mau mendengarkan justru berceramah, menghakimi, atau menggampangkan beban pikiran kita, atau mendengarkan tapi tak peduli.

Saran agar menemui profesional juga saran yang baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, tidak semua orang—khususnya yang bertendensi bunuh diri—tahu hal itu. Kalau pun tahu, belum tentu dia punya biaya. Kalau pun tahu dan punya biaya, belum tentu dia mau melakukannya.

Sebenarnya, yang paling diinginkan seseorang yang sedang menghadapi “kegelapan hidup” adalah seseorang—kalau bisa yang ia kenal dan percaya—yang benar-benar mau mendengarkan dan menunjukkan kepedulian. Tetapi, demi Tuhan, menemukan orang semacam itu sulitnya luar biasa.

Ada jutaan orang yang tahu cara menasihati, tapi sulit menemukan satu saja yang benar-benar peduli. Ada jutaan orang yang siap menjadi temanmu saat kau tertawa, tapi sulit menemukan satu saja yang menemanimu saat menangis. Terdengar muram, memang. Tapi itulah kenyataannya.

Ada banyak orang yang mendekat dan siap menjadi temanmu saat kau mendapat kesenangan dan bergelimang uang, tapi banyak pula yang menjauh dan berpaling darimu saat kau menghadapi masalah dan butuh pertolongan. Terdengar suram, memang. Tapi itu realitas di sekitar kita.

Aku pernah menghadapi saat-saat tergelap dalam hidup, dan akhirnya menyadari sesuatu yang benar-benar pahit: Tidak ada siapa pun yang bisa kuandalkan di dunia ini, selain diri sendiri. Mungkin terdengar angkuh. Tapi untung aku berpikir seperti itu, bukan malah menenggak arsenik.

Kepedulian dan kemampuan mendengarkan itu mudah dikatakan, tapi sulit ditemukan—khususnya oleh orang yang benar-benar membutuhkannya. Itulah kenapa, sejujurnya, aku tidak heran dengan orang bunuh diri, karena aku benar-benar memahami yang dirasakannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

Merasa Bermimpi

Aku bertanya, "Kapan terakhir kali kau tidur?" | Dia menyahut, "Kapan terakhir kali kau terjaga?" | Tiba-tiba aku merasa bermimpi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Agustus 2012.

Masalah Kita

Masalah kita, Ma'am, kita tak punya masalah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Februari 2012.

Hidup Tanpa Masalah

Mengharapkan hidup tanpa masalah sepertinya sangat sulit. Karena ketika hidup mulai terasa mudah, kita pun sibuk mencari masalah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Februari 2012.

Masalah Masing-masing

Setiap orang menghadapi masalah. Yang membedakan adalah cara menghadapinya. Kehidupan adalah masalah masing-masing.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Februari 2012.

Cara Berpikir SDM Rendah

"Orang paling keparat, dia tuh." | "Heh? Kok kamu bisa berpikir kayak gitu?" | "Ya emang gitu sih. Gak tau kenapa, pokoknya dia keparat."

"Dia tuh bangsat!" | "Dari mana kamu bisa menyimpulkan dia bangsat?" | "Ada yang bilang begitu. Jadi aku percaya dia bangsat!"

"Dia itu bajingan!" | "Apa buktinya kalau dia bajingan?" | "Aku tidak punya bukti apa-apa, tapi katanya dia bajingan, jadi dia bajingan!"

"Dia brengsek, kau tahu." | "Kenapa kau menganggapnya brengsek?" | "Ya karena dia brengsek. Aku tak tahu kenapa, pokoknya dia brengsek!"

"Kupikir dia bersalah," katanya. | "Kenapa kaupikir dia bersalah?" | "Tidak tahu. Pokoknya kupikir dia bersalah, jadi dia bersalah."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Pacarmu bukan Pacarmu

"Anakmu bukan anakmu," kata Kahlil Gibran. Mungkin pula, pacarmu bukan pacarmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Efek Stres

Lelah, padahal seharian gak ngapa-ngapain. Efek stres memang luar biasa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Maret 2019.

Nonton Film

Si cewek bertanya pada pacarnya, "Kenapa ya, cowok-cowok dalam film itu bisa manis sekali?" | "Karena mereka dibayar," sahut si pacar.

Sambil nonton film, si cowok berkata pada pacarnya, "Indah sekali cinta mereka." | "Tentu saja," jawab si pacar. "Honor mereka juga mahal."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Agustus 2012.

Selamat Hari Minggu, Minggu

Selamat hari Minggu, Minggu. Air mata mengering di balik topengmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 14 Juli 2012.

Sweet Dream

Wet dream dan sweet dream tuh ternyata beda jauh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Disuruh Nggasruh

Disuruh kok nggasruh.

Senin, 01 Juni 2026

Catatan dari Tahun Baru

Banyak warung makan, khususnya warung-warung langganan saya, yang tutup di hari-hari besar. Seperti pas Tahun Baru kemarin.

Pada siang hari, 1 Januari 2026, saya keluar rumah untuk cari makan. Tapi warung-warung yang saya kunjungi tutup semua. Yang jadi masalah, perut lapar tidak kenal hari libur atau hari besar. Jadi saya pun kemudian berkendara perlahan-lahan, mencari warung makan yang buka.

Sepanjang perjalanan, saya sempat menemukan beberapa warung yang buka, dari warung nasi sampai warung bakso. Tapi semua warung itu tampak ramai dan penuh. Kalau saya berhenti, saya pasti harus antre, dan saya juga tidak nyaman kalau makan sambil berdesak-desakan. Jadi saya terus melaju perlahan, mencari warung makan yang relatif sepi, sekalian jalan-jalan mumpung Tahun Baru.

Tanpa terasa, perjalanan saya tiba di Kota Batang. Saya memutari alun-alun yang ramai, lalu masuk ke jalan raya yang relatif sepi. Saat melaju di jalan itulah, saya akhirnya menemukan warung makan yang tidak terlalu ramai. 

Saya pun berhenti, lalu masuk, dan memesan makanan.

Usai makan, saya meminum teh di gelas, lalu mengeluarkan bungkus rokok. Tapi baru mau nyulut udud, serombongan orang—sepertinya keluarga yang lagi liburan—masuk warung, dan tentu butuh tempat duduk. Jadi saya pun bangkit, membayar makanan, kemudian keluar dari warung. 

Di depan warung, di seberang jalan, ada tempat duduk panjang yang sepertinya sengaja dibuat di sana untuk bersantai. Tempat duduk itu berdampingan dengan pohon cukup besar, hingga tampak adem. Sebenarnya, cuaca siang itu juga adem. Saya pun menyeberang jalan, lalu duduk di sana, dan mulai menyulut udud. Jalan raya di depan saya waktu itu sepi, dan saya pun duduk santai sambil menikmati udud.

Batang bukan kota saya, tapi saya cukup akrab dengan kota ini. Cinta pertama saya dulu, tinggal di sini. 

Angan saya lalu terbang ke masa bertahun lalu, ketika masih SMA, dan sering dolan ke Batang. Bukan untuk menemui pacar, tapi sekadar ingin melihat genteng rumahnya. Waktu itu saya hanya “jatuh cinta diam-diam”, dan bagi saya—bertahun lalu—itu sudah cukup. Cinta pertama bagi pria, konon, cinta sejati. Meski sering kali tak pernah jadi cinta abadi. 

Saya mengisap udud, dan tersenyum sendiri membayangkan masa-masa itu. 

Yaris putih lewat, dan membunyikan klakson ringan, tanda menyapa. Saya melambaikan tangan, dan segera tahu siapa pemiliknya. Yaris TRD itu milik Tyo, seorang teman yang tinggal di Batang. 

Mobil itu terus melaju.

Saya kembali menikmati udud. 

Beberapa menit kemudian Tyo kembali muncul, kali ini menaiki motor.

“Aku barusan ngantar nyokap ke rumah famili,” ujar Tyo. “Pas pulang lewat sini, aku kaget lihat kamu lagi duduk santai, kayak di depan rumah sendiri.”

Saya tertawa. 

Tyo duduk di samping saya, lalu menyulut rokok. “Lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian.

“Barusan makan,” saya menjawab. “Karena warung ramai, akhirnya aku duduk di sini buat udud.”

Tyo tertawa kecil, lalu berujar, “Aku kadang membayangkan hidupmu begitu damai. Ke mana-mana sendirian, bisa duduk santai di mana pun, dan kayak nggak merisaukan apa pun. Jujur ya, kamu tuh sebenarnya butuh orang lain apa nggak?”

“Nggak.”

Tyo ngakak. 

Saya mengatakan, “Maksudku, aku nggak membutuhkan orang lain untuk hal-hal yang bisa kulakukan sendiri. Kayak sekarang, misalnya. Aku tadi keluar rumah buat cari makan, dan akhirnya sampai di sini. Sama sekali nggak masalah kalau sendirian, wong cuma mau makan. Kalau kemudian ketemu kamu di sini, ya aku senang.”

“Kalau misal aku tadi nggak lihat kamu, dan aku nggak ke sini, berarti kamu akan tetap sendirian di sini. Apa yang akan kamu lakukan?”

“Mungkin aku akan tetap duduk di sini, sambil menikmati udud, kemudian pulang kalau merasa udah cukup.”

“Nggak ada pikiran buat mampir ke tempatku?” tanya Tyo sambil mengingatkan kalau rumahnya dekat dengan tempat kami duduk saat itu.

“Takut mengganggu,” jawab saya jujur. 

Tyo mengisap rokoknya beberapa saat, kemudian berkata, “Selama mengenalmu, aku sering mendengarmu ngomong gitu—‘takut mengganggu’. Sekarang aku jadi penasaran...”

Tyo seperti tidak yakin bagaimana melanjutkan kalimatnya, jadi saya lalu menjelaskan, “Aku merasa nggak nyaman kalau datang ke rumah seseorang secara tiba-tiba. Alasannya ya itu tadi, takut mengganggu. Apalagi ini tahun baru, siapa tahu kamu ada acara sama keluargamu, dan aku nggak ingin tiba-tiba datang lalu merusak acaramu.”

“Omong-omong soal tahun baru,” ujar Tyo, “apa acaramu tadi malam?”

“Cuma di rumah, nonton Netflix.”

“Nggak menikmati malam tahun baru di luar?”

“Malas,” saya menjawab. “Mungkin karena faktor usia, ya. Dulu, waktu masih belia, rasanya senang malam tahun baruan di luar, berdesak-desakan sama banyak orang, nonton konser, atau apalah. Tapi makin ke sini, rasanya kayak makin malas.”

“Sama, kalau gitu. Dulu, tiap malam tahun baru, aku juga selalu keluar, bareng teman-teman. Biasanya nonton konser. Pulangnya bakar jagung sampai pagi. Tapi makin tambah umur, aku juga makin malas. Sekarang, malam tahun baru atau malam apapun kayak biasa-biasa aja.”

Kami pun lalu bercakap-cakap santai soal tahun baru, tentang perubahan yang terjadi pada kebiasaan hidup kami seiring bertambahnya usia, juga pergeseran cara pandang atau cara berpikir setelah beranjak dari masa belia ke masa dewasa.

“Balik ke soal tadi,” ujar Tyo kemudian, “soal kamu yang nggak nyaman kalau tiba-tiba datang ke tempat seseorang. Aku sering banget dengar kamu ngomong gitu. Itu gimana asal usulnya?”

Saya lalu bercerita, “Bertahun lalu, keponakanku masih kecil, dan aku sayang banget sama dia. Karena dia tinggal di Semarang, kami pun sangat jarang ketemu, dan itu bikin aku sering kangen. Suatu hari, keponakanku datang ke rumahku, bersama ibunya (adik perempuanku), dan aku pun segera asyik bermain-main dengan keponakanku seperti biasa. Tapi baru beberapa menit, ada dua teman datang—mereka datang tiba-tiba, tanpa pemberitahuan sebelumnya—dan aku pun mau nggak mau harus menerima mereka dengan baik. Karena kedatangan dua teman itu, adikku lalu pamit, dan artinya aku harus berpisah dengan keponakanku, padahal kami baru bertemu beberapa menit. Waktu itu, aku menemani dua teman yang datang dengan baik, tapi diam-diam menyayangkan kenapa mereka nggak memberi tahu terlebih dulu kalau mau datang. Andai mereka ngasih tahu terlebih dulu, aku bisa mengatur waktunya, agar nggak bersamaan dengan kedatangan keponakanku. Sejujurnya, waktu itu aku merasa gelo (menyayangkan) karena hanya bisa ketemu keponakanku beberapa menit, padahal kami udah lama sekali nggak ketemu.”

Saya mengisap rokok, kemudian melanjutkan, “Di lain waktu, aku lagi di rumah ortu. Tiba-tiba, ada teman nilpon, dan ngasih tahu kalau dia udah di depan rumahku. Teman ini datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu, padahal tempat tinggalnya sangat jauh dari rumahku. Karena tahu dia udah menempuh perjalanan jauh, aku pun terpaksa pulang dari rumah ortu, untuk menemui teman yang datang tadi. Untungnya, waktu itu aku lagi di rumah ortu. Bayangkan kalau aku lagi di luar kota, misalnya. Kan, sama-sama gelo. Dia gelo karena aku ternyata nggak di rumah, aku juga gelo karena nggak bisa menemuinya padahal dia udah datang dari jauh.”

Tyo manggut-manggut. “Aku mulai paham sekarang. Ada contoh lain?”

Saya mengangguk. “Sering, aku lagi mengerjakan sesuatu di rumah, dan pekerjaan itu sangat rumit, hingga aku harus benar-benar konsentrasi. Tiba-tiba, ada tamu datang mengetuk pintu. Itu bikin aku serbasalah. Kalau aku menerima tamu yang datang itu, konsentrasiku akan buyar, dan akibatnya harus memulai pekerjaanku lagi dari awal. Sementara kalau aku tetap fokus pada sesuatu yang lagi kukerjakan, aku nggak enak sama tamu yang datang. Dan hal kayak gitu bisa dibilang sering terjadi, hingga lama-lama aku merasa terganggu.”

Saya mengisap rokok yang kian pendek, lalu meneruskan, “Karena hal-hal semacam itulah, aku lalu bilang ke teman-teman, agar ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang, agar aku bisa mempersiapkan diri. Sebaliknya, aku juga mewajibkan diri sendiri agar ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang ke rumah siapa pun. Beberapa kali aku datang ke rumahmu, dan aku selalu ngasih tahu lewat WhatsApp, kan?”

Tyo mengangguk.

Saya menjentikkan puntung rokok ke tempat sampah, lalu berkata, “Hal kayak gitu—ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang—mungkin terkesan sepele, tapi bisa sangat besar artinya bagi orang yang kita datangi, sekaligus menghindarkan kita dari kemungkinan mengganggu orang yang kita datangi. Karena itulah, aku nggak akan tiba-tiba datang ke tempatmu, meski rumahmu cukup dekat dari sini, karena kedatanganku bisa aja mengganggumu.”

Tyo mengisap rokoknya, lalu berujar, “Orang-orang mungkin mengira kamu selalu selo, karena kamu belum menikah, dan tinggal sendirian di rumah. Jadi teman-teman mungkin menganggap kamu bisa didatangi kapan aja.”

“Itu ironisnya,” saya tertawa. “Sampai sekarang aku nggak menikah justru karena nggak ingin terganggu siapa pun, termasuk oleh pasanganku sendiri. Jadi kalau orang-orang menganggap aku selo karena belum menikah, itu justru salah! Kalau aku memang benar-benar selo, aku udah nikah sekarang!”

Tyo menggut-manggut. “Sekarang aku paham arti ‘takut mengganggu’ yang sering kamu bilang itu.” 

Saya meletakkan rokok baru di mulut, dan menyulutnya.

Sebuah mobil melaju di depan kami, lalu tiba-tiba berhenti. Sesaat kemudian, mobil itu mundur perlahan-lahan ke arah tempat kami duduk.

Tyo berkata, memberi tahu saya, “Arta.”

Arta muncul dari dalam mobil, lalu tersenyum lebar sambil melangkah ke arah kami. “Asli nggak nyangka lihat kalian nyangkruk di sini!” ujarnya. “Aku boleh gabung, kan?” 

Arta lalu duduk di samping kami, dan mulai menyulut udud. Obrolan pun langsung mengalir.

Tahun Baru yang menyenangkan.

Peace With Himself

A man cannot possibly be at peace with others until he has learned to be at peace with himself.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 April 2012.

Lakukan Sesuatu, Kerjakan dengan Baik

Bertahun-tahun lalu, aku menemukan kalimat di buku, yang belakangan tak pernah kulupakan. Kalimat itu berbunyi, “Kalau kamu bekerja dengan baik, sebegitu baik hingga tak ada orang lain yang mampu menyamai, dan kamu tinggal di puncak gunung, orang-orang akan berdatangan kepadamu.”

Kalimat itu tentu filosofis, dan tidak harus diartikan literal. Aku juga lebih suka mengartikannya secara sederhana, bahwa yang penting mengerjakan pekerjaan kita, sebaik kita mampu, setelah itu meyakinkan diri, “Tidak perlu khawatir soal rezeki, karena sudah ada yang mengatur.”

“Tidak perlu khawatir soal rezeki” itu sebenarnya kalimat tawakal. Dan tawakal baru dilakukan setelah mengerjakan sesuatu, mengusahakan dan mengupayakan sesuatu. Kalau tidak melakukan apa-apa tapi pede dan yakin “tidak perlu khawatir soal rezeki”, itu namanya panjang angan-angan.

Jadi kalau ada orang kena PHK, atau pada orang yang tidak melakukan apa-apa, jangan katakan “tidak perlu khawatir soal rezeki” kepadanya. Karena itu sama artinya mengajarkan tuulul amal. Yang dibutuhkan korban PHK dan pengangguran adalah semangat untuk memulai berusaha kembali.

Rezeki baru datang setelah ada usaha dan upaya, bahkan jika upaya kita tampak sangat bodoh di mata manusia. Misalnya jualan bensin eceran di samping SPBU, atau jualan es teh di kala hujan. Karena itu lebih menarik datangnya rezeki, daripada bermalas-malasan sambil mengkhayal.

Lakukan sesuatu, kerjakan sebaik mungkin, sebaik yang kamu bisa. Semakin baik kamu mengerjakannya, semakin sedikit yang mampu menyamai. Setelah itu, bahkan umpama kamu tinggal di puncak gunung, rezeki akan datang kepadamu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Desember 2024.

Terakhir Kali Putus Cinta

Kalo kamu patah hati karena putus cinta… kamu pingin segera jatuh cinta lagi atau nunggu luka reda dulu? —@AdjieSanPutro


Terakhir kali putus cinta, dan itu bertahun-tahun lalu, aku berpikir, “It's enough, saatnya aku fokus mengurus hidupku sendiri.” Dan aku melakukannya sampai sekarang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 November 2024.

Hati dan Logika

Jatuh cinta adalah pertarungan hati dan logika.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Februari 2018.

Film yang Isinya Bajingan Semua

 Crime 101.

....
....

Kecuali Maya.

Karena Maya adalah mbakyu.

Sejak Kapan?

[Konteks: Ocehan ini terkait kasus pembunuhan yang pernah menggemparkan Indonesia, sekian waktu lalu.]

Ingin sekali meminjam optimisme Kurawa, dan berharap “kasus ini akan terungkap seterang-terangnya”. Tetapi, sayang, optimisme saja kadang tidak cukup. Kita akan menghadapi dinding tebal.

Bagaimana melihat dan memahami kasus yang rumit dan tak masuk akal? 

Ada cara yang sederhana. Singkirkan semua narasi, cerita, dan susunan latar yang tak masuk akal... lalu lihat dan perhatikan sisanya. 

Sambil nunggu udud habis...

Sambil nunggu udud habis, aku teringat salah satu film yang dibintangi Bruce Willis, A Good Day to Die Hard. 

John McClane (Bruce Willis) pergi ke Moskow untuk menemui putranya, Jack McClane (Jai Courtney). Mereka lalu bersua tanpa sengaja dalam sebuah petualangan gila.

Jack, sang anak, ternyata telah menjadi agen CIA, dan waktu itu sedang dalam misi penyelamatan seorang ilmuwan di sana. Jack bertemu John, ayahnya, di tengah jalan, ketika sedang kejar-kejaran mobil dengan musuh yang tidak ia pahami. Ayah dan anak itu lalu saling membantu.

Tak jauh beda dengan anaknya, John McClane bekerja sebagai polisi LAPD, tapi telah pensiun. Dan John, dengan segala pengalamannya, lebih matang dalam menghadapi masalah yang mereka hadapi. 

Sampai mereka akhirnya tiba di suatu plot twist yang benar-benar mengejutkan Jack, si anak.

Jack mendapat misi rahasia CIA untuk menyelamatkan seorang pria, dan membawanya keluar dari Rusia, karena diincar para penjahat di sana. Tetapi, ternyata, pria yang ia selamatkan itulah penjahat sesungguhnya. 

Ketika akhirnya menyadari apa yang telah terjadi, Jack ternganga.

Dalam keterkejutan, setelah memahami inti masalah yang dihadapinya, Jack berkata dengan nada tak percaya, “Jadi, semua ini soal uang?” 

Dan ayahnya menjawab, “Sejak kapan semua ini bukan soal uang?”


*) Dikutip dari timeline @noffret, 21 Juli 2022.

Menyadari

Sophie, robot humanoid, ditanya seseorang di forum PBB, “Apakah kau menyadari kalau kau sebuah robot?”

Sophie menjawab dengan balik bertanya, “Apakah kau menyadari kau seorang manusia?”

Tanya jawab itu membuatku berpikir lama. Sangat lama.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Februari 2018.

Malam Tahun Baru

Malam tahun baru, aku tidak ke mana-mana. Tidak menabuh lonceng, tidak meniup terompet, juga tidak membakar kembang api. Aku melakukannya dengan motivasi yang sederhana... karena memang ingin melakukannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Januari 2018.

Note to Self

Menarilah seolah tak ada kehidupan. Hiduplah seolah tak pernah dilahirkan. Lahirkanlah seolah tak ada kematian. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Minggu, 31 Mei 2026

Cara Masuk Forbes 30 Under 30

They won't. Eliminating the financial category means eliminating the biggest profit potential. Their accountant will scream! 

I don't have that antipathy for "30 under 30" type lists. It's cool to recognize up-and-coming types. And a lot of the criticism is just jealousy.

But they should get rid of finance categories, as that's an area where both "innovation" and "inexperience" are huge red flags.

—@TheStalwart, 14 Januari 2023


Ribut-ribut soal 30 Under 30 kayaknya belum rampung, ya. 

Sambil nunggu udud habis, aku terpikir untuk melanjutkan ocehan tempo hari. Agar kita [lebih] tahu apa sebenarnya acara itu.

Mari kita mulai dengan fakta ini. Umpama kamu anak miskin yang berhasil sukses pada usia 27 tahun, dan kesuksesan itu terjadi berkat usahamu sendiri, dan kesuksesanmu diakui secara luas... apakah kamu bisa masuk 30 Under 30? Kemungkinan besar tidak! 

Kenapa? Inilah masalahnya!

Yang jarang dipahami kebanyakan orang, 30 Under 30 sebenarnya bukan “panggung prestasi" (achievement), melainkan lebih sebagai sarana public relation. Karenanya, sistem yang digunakan untuk menyusun daftar itu lebih pada referensi, sistem jejaring, koneksi, dan semacamnya.

Setidaknya ada 3 cara untuk bisa masuk 30 Under 30. 

Pertama, dengan melamar langsung. Ya, kamu bisa mengirim lamaran ke Forbes agar masuk daftar 30 Under 30. Forbes sendiri mengakui, tiap tahun ada ribuan orang yang melamar agar masuk daftar itu. 

Tapi sebaiknya lupakan saja.

Ya, sebaiknya lupakan saja cara itu, karena biasanya cuma sia-sia. Sumber daya Forbes tidak akan bisa memverifikasi ribuan data pelamar yang masuk, padahal 30 Under 30 adalah pertaruhan uang yang sangat besar. Mereka tidak akan membuang-buang waktu dan energi secara percuma.

Cara kedua adalah melalui referensi. Seseorang mereferensikan namamu ke Forbes, untuk masuk daftar 30 Under 30. 

Semakin kuat posisi orang yang mereferensikanmu, semakin besar kemungkinanmu untuk masuk daftar itu—dengan catatan, kamu punya sesuatu yang layak diwartakan.

Yang disebut “kuat” dalam hal ini adalah orang yang memiliki hubungan khusus dengan Forbes. Inilah kenapa ada yang mengatakan, “All these 30 under 30 and 40 under 40 are awarded based on ‘network’. It has absolutely nothing to do with merit...” 

Karena begitulah sistemnya.

Mari gunakan ilustrasi sederhana [dan yang biasa terjadi], agar lebih mudah dipahami. 

Umpamakan saja kamu membangun startup yang punya potensi sukses, hingga ada investor masuk.

Investormu lalu menghubungi Forbes, dan meminta mereka memasukkan namamu dalam daftar 30 Under 30.

Forbes adalah sarana public relation yang sangat efektif di dunia bisnis. Karenanya, orang-orang semacam investor pasti punya koneksi khusus dengan Forbes. Jika mereka merekomendasikan namamu agar masuk 30 Under 30, misalnya, kemungkinan besar kamu akan masuk.

Bisa jadi, dan biasanya, investormu tidak memberitahukan apa pun kepadamu terkait hal tadi. Tahu-tahu saja kamu dapat pemberitahuan dari Forbes bahwa kamu masuk sebagai kandidat daftar mereka. Kamu girang, berpikir bahwa startup-mu diam-diam telah dikenal dunia internasional.

Dalam hal ini, permainannya sederhana. Investor memasukkan uangnya ke dalam bisnismu, dan berharap profit. Cara agar bisnis atau startup-mu cepat menangguk keuntungan adalah dengan mendongkrak popularitasnya, dengan menempatkan namamu di Forbes. Bisa memahami cara mainnya?

Jadi, kalau kamu, misalnya, ditanya, “Apakah kamu membayar untuk masuk 30 Under 30?” Tentu kamu akan menjawab, “Tidak!” 

Investormu yang mengurus hal-hal semacam itu, dan kamu tahunya tinggal beres. Muncul di panggung, tersenyum lebar, foto-foto, ngoceh sekadarnya... anything.

Cara kedua tadi, yaitu direferensikan investor, bisa jadi cara termudah untuk masuk 30 Under 30. Karenanya, selama ini kita mungkin sering mendapati nama-nama asing di daftar itu, dan berpikir, “Orang-orang ini siapa, ya? Ooh, pendiri startup baru, pantesan aku tidak tahu...”

Selain contoh investor yang mereferensikan namamu, ada cara mudah lain untuk masuk 30 Under 30. Yaitu direferensikan ayahmu! 

Tentu saja, dengan catatan kalau ayahmu adalah pejabat berpengaruh, atau pengusaha besar yang biasa dinner dengan orang-orang Forbes!

Selain 2 cara tadi, ada cara ketiga untuk masuk 30 Under 30, yaitu dengan melakukan sesuatu yang luar biasa, yang berdampak positif pada banyak orang, sebegitu luar biasa hingga Forbes mau tak mau harus melihat dan memilihmu. Tapi, jujur saja, ini cara yang sangat, sangat sulit.

Di luar negeri, acara penganugerahan 30 Under 30 dihadiri para pengusaha dan selebritas. Berapa harga undangannya? Lima ribu dolar untuk kursi VIP! 

Acara itu serupa meja kasino, dan sederet nama dalam daftar adalah kartu yang dipegang, sementara dadu nasib dilempar ke arena.

Omong-omong, tempo hari JP Morgan dapat apes, karena megang kartu yang salah!

Bukan hanya JP Morgan yang pernah ketiban sial semacam itu—investor lain juga pernah mengalaminya. Tapi tidak apa-apa. Karena selalu ada “kartu-kartu baru” yang bisa dimainkan.

They should just start preemptively arresting anyone on the Forbes 30 Under 30. —@ChrisJBakke, 12 Januari 2023.

Sampai di sini, sudah mulai paham permainannya?

PS:

Sejujurnya, aku tidak nyaman menulis ocehan ini, karena bisa jadi akan mematikan impian beberapa orang yang mungkin berharap masuk 30 Under 30. Karenanya, jangan terlalu pedulikan ocehan ini, dan lanjutkan saja impianmu, kalau kamu memang mampu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2023.

Kesibukan

Manusia adalah makhluk sosial, kata teori yang telah menjelma dogma. Mari sepakati saja teori—atau dogma—itu benar, karena nyatanya kita memang sesekali butuh berinteraksi dengan orang lain, berkomunikasi, ngobrol-ngobrol ringan sambil bercanda dan tertawa-tawa.

Ngobrol dengan tetangga, misalnya, itu bagus. Selain bagian dari sosialisasi, ngobrol dengan orang lain—dalam hal ini tetangga—juga membantu mengaja kesehatan mental kita, kalau dilakukan sesekali. Tapi kalau setiap hari ngobrol terus dengan tetangga, itu tidak bagus lagi.

Bertemu dan mengobrol dengan tetangga seminggu sekali, misalnya, itu punya manfaat; dari sekadar sosialisasi, mengetahui kabar tetangga, sampai menyehatkan mental. Tapi kalau harus ngobrol dengan tetangga setiap hari, itu justru negatif, karena bisa menjadi penyakit sosial.

Teorinya sederhana saja; kalau orang bisa menghabiskan banyak waktu untuk ngobrol setiap hari, hampir bisa dipastikan mereka tidak punya kesibukan. Dan orang yang paling rentan tergelincir membicarakan atau melakukan hal-hal sia-sia adalah orang yang tak punya kesibukan.

Kesibukan—meski mungkin terdengar tidak nyaman di telinga—mampu menjaga kita dari kemungkinan melakukan hal-hal negatif atau sia-sia. Orang yang sibuk belajar atau sibuk bekerja, pasti malas ngurusin hal-hal tak bermanfaat. Beda dengan orang yang tak punya kesibukan.

Akar

Tunjukkan padaku pohon tanpa akar, dan akan kukatakan kepadamu itulah keajaiban. Atau kemustahilan. Segalanya bermula dari akar.

Kadang-kadang akar tumbuh tanpa benih, meski tidak setiap benih pasti bertumbuh. Apa pun, aku percaya semua pohon ditunjang akar.

Yang merisaukan, kita menebang pohon yang mengganggu dan melupakan akarnya. Lalu akar kembali menumbuhkan pohon sama, dan cerita berulang.

Kita tak akan bisa melenyapkan apa pun, tanpa menghilangkan akarnya, Seperti kanker yang berkecambah, semuanya berasal dari sel akar kecil.

Dan sekarang aku berpikir, jangan-jangan kita semua juga terjebak dan terperangkap dalam sesuatu yang telah ditumbuhkan akar kita...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Oh dan Ouh

Ternyata, "Oh" dan "Ouh" itu beda. Setidaknya selisih satu huruf. #FaktaPentingSekali


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Menjelang Akad

Menjelang akad nikah, seorang pria berkata, "Eh, sebentar. Sepertinya ada yang ketinggalan. Oh, ya ampun, hati saya tertinggal di rumah!"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Bahkan Tumbuhan

Bahkan tumbuhan pun kadang tidak adil. Ada bunga matahari, tapi tak ada bunga bulan. Kata mereka, "Karena bulan tertusuk ilalang."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Agustus 2012.

Resep Lucu

Baca resep kok lucu sekali. "Wanita hamil yang perokok sebaiknya hamilnya dihentikan dulu, biar aktivitas merokoknya tidak terganggu."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Galau Sendiri

Dan kerinduan cinta manakah yang ingin kaulupakan? 

Dan kelembutan hening manakah yang ingin kautinggalkan? 

Dan keindahan kekasihmu manakah yang ingin kaudustakan? 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 September 2012.

Mengapa Kita

Jika Tuhan menginginkan kita menjadi diri sendiri, mengapa kita harus mati-matian menentang-Nya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Agustus 2012.

Mangan Ngendi

Terus aku kudu mangan ngendi iki, jam segini?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Januari 2012.

Raker!

Iya!

Sabtu, 30 Mei 2026

Permainan di Balik Bisnis Media

Baru tau kalo 30 under 30 tuh ada feenya, ya. Wa kira murni karena prestasi/achievement. My whole life is a lie. —@ezash, 12 Januari 2023.


Jika kita melihat hal ini dalam cakupan lebih luas, coba pikirkan koran-koran harian yang harganya cuma seribu atau dua ribu rupiah. Di setiap kota pasti ada, kan? 

Coba pikirkan, mungkinkah koran-koran itu bisa balik modal dengan harga segitu?

Koran-koran lokal itu membutuhkan biaya besar untuk pencetakannya, sementara harga jualnya sangat rendah, itu pun yang terjual tidak seberapa.

Ini bahkan belum bicara biaya operasional, gaji wartawan, dll. Jadi, bagaimana atau dari mana koran-koran itu dapat uang untuk menjalankan bisnisnya, dan, di saat sama, juga menghasilkan keuntungan agar bisnis terus tumbuh?

Pertanyaan sejuta dolar!

Pendapatan dari iklan komersial? Matematika menolaknya! Coba hitung saja.

Aku bisa menjelaskan soal itu panjang lebar, tapi sejujurnya tidak nyaman... karena, bisa jadi, uraiannya akan lebih mengejutkan [sekaligus mencengangkan] daripada fakta 30 Under 30 yang kini terkuak.

....
....

Sepertinya tidak adil kalau ocehannya aku potong di situ. Jadi, omong-omong soal terkuak...

Sambil nunggu udud habis.

Dulu, pada era 2000-an, ada majalah bisnis yang ditujukan untuk anak muda. Sebut saja Majalah X. Karena ditujukan untuk anak muda, isi majalah itu pun sangat trendi, bahkan orang-orang yang menghiasi sampul majalah itu rata-rata anak muda yang [kebetulan] berbisnis.

Di masa itu, aku menjalankan bisnis yang punya keterkaitan dengan media. Jadi aku relatif kenal dengan para “mastermind” di balik media-media era itu. 

Suatu waktu, Majalah X menemuiku, dan—boleh percaya boleh tidak—menawariku untuk jadi sampul majalah mereka.

Aku bertanya, “Jika aku bersedia menjadi sampul majalah kalian, apa yang akan kudapatkan?” 

Mereka spontan menjawab, “Eksposur!” 

Itu benar. Jadi sampul majalah X artinya akan terekspos ke seluruh Indonesia, dan itu jelas berdampak bagus untuk bisnis. Permainan sederhana.

Siapa pun yang mengenal bisnis media pasti memahami bahwa ini adalah permainan sederhana—setepatnya, permainan sederhana dalam skala raksasa. 

Seperti Majalah X tadi. “Jadilah sampul majalahku, dan itu akan jadi promosi yang sangat bagus untuk bisnismu.” Sesederhana itu.

Tapi tidak ada makan siang gratis, tentu saja. Jika waktu itu aku bersedia menjadi sampul majalah mereka, aku harus membayar sejumlah uang [yang untuk ukuran waktu itu relatif besar]. Sebenarnya, dari segi bisnis, itu tidak masalah, tapi aku jadi merasa “membohongi diri sendiri”.

Maksudku begini. Kalau kamu muncul di sampul majalah karena bisnis atau prestasimu, dan untuk hal itu kamu tidak perlu membayar sama sekali—dalam arti murni sebagai apresiasi karena pencapaian/prestasimu—kamu pasti akan bangga. Tapi beda cerita kalau kamu harus bayar, kan?

Kalau kamu harus bayar untuk jadi sampul majalah, di mana unsur kebanggaannya? Wong bayar, kok! Siapa pun juga bisa! 

Karenanya, waktu itu Majalah X menawariku jadi sampul mereka, padahal bisnisku juga tidak prestisius-prestisius amat—pokoknya asal aku mau bayar aja udah!

Nah, hal serupa sebenarnya terjadi pada “nominasi atau daftar tertentu” ala media, salah satunya yang kini jadi bahan pembicaraan di Twitter. Dari dulu ya aku paham kalau memang begitu “cara mainnya”. Dan ketika permainan semacam itu akhirnya terkuak, itu bikin malu, kan?

Maksudku begini. Kamu mungkin punya prestasi tertentu yang memang layak dibanggakan atau diwartakan. Jadi kamu lalu masuk “nominasi atau daftar” yang berisi orang-orang berprestasi. Tapi di balik layar, kamu harus bayar. Kamu tidak peduli, toh ini membuatmu bangga.

Jadi, kamu kemudian muncul sebagai salah satu dalam "daftar orang berprestasi", bersama orang-orang berprestasi lainnya. 

Lalu, rahasia di balik layar tadi terkuak. Bahwa kamu ternyata harus bayar untuk bisa masuk dalam daftar itu. Kebanggaan bisa berubah jadi cibiran.

Jika ocehan ini mau dilanjutkan, kita bisa masuk ke relung-relung yang lebih gelap di balik dunia media. 

Pernah menemukan majalah-majalah dewasa dengan sampul wanita-wanita yang berpose seksi? Sebagian wanita itu memang fotomodel, tapi sebagian lain wanita biasa (bukan model).

Dari mana wanita-wanita itu berasal? Bisa dari mana saja. Di mall, di jalan mana pun, di tempat wisata, di hotel, di ruang karaoke, sebut lainnya. 

Mereka dapat tawaran manis, “Kamu mau jadi model sampul Majalah Z?” Hampir semua mereka bersedia—persetan, siapa yang tidak?

Masyarakat awam mungkin membayangkan, wanita-wanita itu jadi sampul majalah, foto-foto seksinya menghiasi lembar-lembar majalah, dapat bayaran besar, lalu populer, lalu jadi fotomodel terkenal, bahkan jadi artis. 

Benarkah begitu? Sayang sekali, aku tidak nyaman menjelaskannya.

Well, semua ini permainan bisnis. Dan menjalankan bisnis media adalah “meletakkan makanan-makanan enak dan lezat di meja prasmanan”, sambil menjaga agar orang-orang (masyarakat luas yang mengonsumsi media) “tidak tahu apa yang terjadi balik dapur”. Sesederhana itu.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, tapi ududku habis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Januari 2023.

Terjebak dalam Rollercoaster

Salah satu hal yang identik dengan internet, tapi jarang dipahami banyak penggunanya, adalah kecepatan. Orang-orang yang bekerja untuk media pasti paham soal ini. Dalam skala tertentu, “kecepatan” di internet bahkan telah melampaui akal sehat, dan menerobos kemustahilan.

Agar ocehan ini lebih mudah dipahami semua orang, kita perlu melihat cara kerja media di internet lebih dulu. Semua media di internet menuntut kecepatan agar selalu up to date. Kecepatan itu tidak hanya akan berpengaruh pada jumlah pembaca, tapi juga reputasi situs di mesin pencari.

Dalam ilustrasi sederhana, semakin banyak dan semakin cepat kita meng-update situs (menggelontorkan banyak tulisan baru), semakin baik posisi situs kita; bagi pembaca, bagi mesin pencari, dan, tentu saja, bagi rekening situs bersangkutan. Ini telah jadi hukum besi media di internet.

Karena latar semacam itu, semua situs—khususnya yang bermodal besar—akan terus memproduksi tulisan baru, dari detik ke detik, tanpa henti. Untuk tujuan tersebut, mereka merekrut banyak jurnalis. Di titik itu, nasib para jurnalis kadang seperti terjebak dalam rollercoaster.

Aku bilang “terjebak”, karena tidak bisa [atau sulit] keluar. Irama kerja yang terus berputar cepat, membawa mereka terayun-ayun dalam tugas demi tugas penulisan tanpa henti. Sebagian jurnalis itu kadang mendapat penghasilan besar, tapi tidak punya kehidupan sama sekali.

Mustahil

Aku benci ngomong mustahil. Tapi sekarang terpaksa mengatakannya. MUSTAHIL!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 September 2012.

Tense

Lawan "past tense" adalah "present tense". Mengapa lawan "perfect tense" adalah... ah, sudahlah!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 September 2012.

Sangat Pahit

Seperti obat, sesuatu yang menyembuhkan kadang-kadang sangat pahit.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Dan Kerusakan

Entah bagaimana kalimat awalnya, aku lupa, tapi inilah kalimat akhirnya, "Dan kerusakan telah terjadi."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Terus Aku Kudu Piye?

"Kita putus!" jerit si cewek. | "Ya," sahut cowoknya kalem. | "Ya...? Gitu aja?!" | "Terus aku kudu piye? Apa aku harus bilang 'Wow', gitu?"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 September 2012.

Blogger dan Laptop

Ada masalah apa sebenarnya antara Blogger dengan laptopku? Mereka sepertinya kok bermusuhan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 September 2012.

Nggak Tidur

Alamat nggak akan tidur seharian nih.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Membayangkan

Membayangkan, mungkin akan seperti inilah hari-hari "kelak" nanti, di waktu pagi. Bedanya mungkin hanya ketiadaan sunyi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Di Friendster

Jadi, apa yang mereka lakukan sekarang di Friendster?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Jumat, 01 Mei 2026

Lebaran dan Keadilan Ekonomi

Seminggu setelah lebaran, saya mampir ke tempat Badu, seorang teman yang bekerja sebagai pemulung. Biasanya, kalau saya dolan ke rumahnya malam hari, kami mengobrol sambil Badu menata hasil memulung seharian.

Badu punya jadwal kerja mirip karyawan, tapi dia bukan karyawan. Setiap pagi, Badu berangkat dari rumahnya sambil membawa karung, berkeliling ke sana kemari, mencari barang apa pun di tempat sampah yang sekiranya bisa ia kilokan. Siang hari, dia pulang ke rumah untuk makan siang, sambil mengosongkan isi karung, lalu pergi lagi untuk memulung sampai sore atau menjelang magrib. 

Jadwal kerjanya mirip karyawan, tapi dia bukan karyawan. Karena Badu tidak kenal THR atau tunjangan hari raya, juga tidak punya libur lebaran. Ia hanya libur di hari pertama lebaran, kemudian besoknya sudah kembali memulung. Karena, “kalau aku tidak kerja (memulung), aku tidak makan.”

Malam itu, saat saya mampir ke rumahnya, Badu baru selesai menata barang-barang hasil memulungnya. Tumpukan kardus dan tumpukan plastik telah dipisahkan, sudah diikat rapi, dan besok tinggal dibawa ke pengepul. 

Kami pun mengobrol santai seperti biasa, sambil menikmati udud. Ketika obrolan sampai pada topik lebaran, Badu berkata, “Setiap kali lebaran, aku selalu senang, tapi juga tertekan.” 

Badu senang saat lebaran tiba, karena mendapat zakat, yang memungkinkan keluarganya menikmati makanan enak setahun sekali. Tapi Badu juga tertekan, karena datangnya lebaran sering kali menjadi awal kenaikan harga-harga barang, khususnya makanan. Badu telah mengalami hal itu selama bertahun-tahun, dan merasakan hidupnya makin tercekik setiap kali lebaran datang.

Agar kalian paham apa yang terjadi, khususnya pada orang-orang miskin seperti Badu, izinkan saya menjelaskan.

Ketika Ramadan datang, belanja orang Islam meningkat, khususnya belanja makanan. Itu fenomena yang terjadi secara luas di berbagai wilayah Indonesia, meski dengan intensitas yang bervariasi antardaerah. Orang-orang Islam butuh berbuka puasa, baik yang sendirian, bersama keluarga, ataupun yang bukber dengan teman-teman. Dan belanja makanan selama Ramadan bukan hanya untuk berbuka, tapi juga untuk makan malam, dan untuk sahur. Peredaran uang makin banyak, roda ekonomi berputar.

Sebagian orang, dengan nada mengglorifikasi, kerap menyatakan bahwa fenomena yang terjadi itu “berkah Ramadan”—bukti kaum muslim berkontribusi pada peningkatan ekonomi. Tetapi, jika dicermati lebih dalam, femomena yang terjadi selama Ramadan sebenarnya membentuk akumulasi tekanan harga yang bersifat laten—yang saya analogikan sebagai “bom waktu”.

Sebulan penuh orang-orang Islam membelanjakan banyak uang untuk makanan. Uang yang beredar semakin banyak, konsumsi meningkat, permintaan naik, dan hukum ekonomi merayap diam-diam. Puncaknya terjadi ketika lebaran tiba. Gaji dan THR dibagikan, orang-orang memegang banyak uang. Ditambah liburan saat lebaran, mereka punya banyak kesempatan sekaligus dorongan untuk membelanjakan uangnya. Dan bom waktu yang mulai berdetak saat Ramadan terus menuju titik ledak.

Apa yang biasanya terjadi ketika lebaran datang? Ya, harga-harga barang cenderung naik tajam, khususnya makanan! 

Selama seminggu lebaran, kenaikan harga itu mungkin belum terasa, karena orang-orang masih memegang banyak uang. Tapi setelah lebaran berlalu, dan uang THR makin menipis, sebagian harga tidak sepenuhnya kembali ke level pra-Ramadan. Dalam literatur ekonomi, fenomena itu disebut “seasonality in inflation”, yaitu pola kenaikan harga yang berulang pada periode tertentu akibat faktor musiman seperti hari besar keagamaan, yang salah satu contohnya adalah Ramadan sampai lebaran.

Para pedagang sering menyatakan bahwa kenaikan harga terjadi karena lebaran. Tetapi, ketika lebaran telah berlalu, “harga lebaran” itu tetap bertahan. Harga-harga makanan yang telanjur naik sering kali sulit turun kembali, meski awalnya disebut “harga lebaran”. Mengapa fenomena itu terjadi? Jawabannya, dalam perspektif saya, adalah bom waktu yang telah berdetak sejak awal Ramadan.

Ketika Ramadan tiba, konsumsi naik, permintaan naik, dan itu berdampak pada distribusi logistik yang padat, hingga biaya bahan baku yang naik. Dalam contoh mudah, para petani tidak bisa menaikkan jumlah panen seketika hanya karena permintaan naik seketika. Konsekuensinya, harga naik. 

Tapi kenaikan saat Ramadan belum terasa, karena “bom waktu” masih di angka awal. Kebanyakan pedagang juga belum menaikkan harga barang mereka, karena kenaikan “harga kulakan” masih sebatas beberapa rupiah. Seiring waktu, mendekati lebaran, distribusi logistik makin padat, permintaan konsumsi makin meningkat—ingat ketupat dan opor ayam hingga hidangan lebaran—dan bom waktu yang mulai menyala sejak Ramadan pun meledak! 

Harga-harga makanan naik secara luas!

Seperti yang saya sebut tadi, kenaikan harga—khususnya makanan—selama lebaran belum terasa, karena rata-rata orang masih memegang banyak uang, dan memaklumi kenaikan harga karena lebaran. Tapi ketika lebaran berlalu, “harga lebaran” itu tidak kunjung turun. Mengulang pertanyaan tadi; kenapa? 

Bagi saya, jawabannya sangat gamblang; karena permintaan terhadap makanan cenderung bersifat inelastis terhadap harga, sehingga kenaikan harga tidak diikuti penurunan konsumsi yang signifikan. Dalam bahasa awam, orang tetap butuh makan meski harganya naik! 

Setelah lebaran berlalu, banyak penjual makanan yang mempertahankan “harga lebaran”. Ada dua alasan dalam hal ini; pertama karena masih laku, dan kedua karena struktur pasar yang berubah! Dalam ilmu ekonomi, itu disebut price stickiness; pedagang enggan menurunkan harga karena konsumen masih mau beli, ditambah biaya produksi yang sudah telanjur naik akibat struktur pasar yang berubah sejak Ramadan. 

Di sisi lain, orang-orang tetap beli makanan, karena memang butuh makan! Dalam beberapa kasus, harga baru kemudian jadi referensi (baseline) baru. Ekspektasi pasar berubah, orang-orang perlahan “terbiasa” dengan harga baru. Itu, kan, yang kita alami setiap usai lebaran? 

Harga-harga bahan baku memang cenderung turun setelah Ramadan dan lebaran berlalu. Badan Pusat Statistik mengonfirmasi hal itu. Tetapi, dalam banyak kasus, harga makanan jadi (siap saji) tidak sepenuhnya mengikuti penurunan tersebut. Kenyataan itu memang tidak terjadi di semua tempat, tapi terjadi di banyak tempat. Perhatikan irisannya.

Sebagai catatan, harga mi tektek yang biasa lewat di tempat saya, naik seribu. Harga capcay dan mi ayam langganan saya, naik dua ribu. Sementara harga martabak naik tiga ribu, ayam geprek naik dua ribu, dan itu baru sekadar contoh. Kenaikan harga-harga itu dimulai sejak lebaran, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda penurunan. Berdasarkan kenaikan yang telah terjadi sejak beberapa lebaran sebelumnya, harga-harga yang naik itu biasanya tidak akan pernah turun. Yang terjadi justru akan kembali naik saat lebaran datang lagi di tahun berikutnya. 

Jika harga naik menjelang lebaran, kemudian turun ke harga normal setelah lebaran usai, itu disebut fluktuasi. Tapi jika harga naik menjelang lebaran, dan kenaikan harga itu tetap bertahan—tidak turun ke harga normal—padahal lebaran sudah lama usai, itu apa namanya kalau bukan inflasi? Definisi formal dan statistik mungkin dapat dipakai sebagai “tameng intelektual”, tapi apa artinya definisi formal dan statistik ketika realitas menunjukkan kebalikannya?

Saya sengaja menulis dan mempublikasikan catatan ini jauh setelah lebaran, agar kita semua melihat realitasnya di lapangan, dan agar catatan ini tidak cuma menjadi omong kosong akademis.

Ekonomi memiliki prinsip dasar; kenaikan permintaan akan mendorong kenaikan harga, terutama ketika penawaran tidak bisa menyesuaikan dengan cepat. Dan ketika harga makanan naik, ia sulit turun kembali, karena orang akan tetap beli! Ini adalah implikasi langsung dari mekanisme pasar dasar.

Sekian tahun lalu, ketika saya pertama kali membahas soal ini di blog dan di Twitter, ada beberapa media yang meng-counter dengan menyatakan bahwa yang terjadi selama Ramadan dan lebaran bukan inflasi, karena sifatnya sementara. 

Kalau benar sementara, mestinya harga akan kembali ke titik awal setelah lebaran usai. Faktanya, dalam sejumlah kasus—seperti yang saya alami—harga menetap lebih tinggi, khususnya harga makanan. Ekonomi menyebutnya downward price rigidity (harga yang sulit turun).

“Kenaikan harga-harga barang, khususnya makanan, setelah lebaran, itu bagus, karena ekonomi bergerak,” kata para analis di YouTube. 

Ekonomi memang bergerak, fellas, tapi manfaatnya tidak merata. Yang menikmati lonjakan konsumsi adalah pelaku usaha, sementara beban ditanggung konsumen, terutama yang miskin! Did you see that? Pendekatan yang terlalu normatif dalam buku teks sering kali tidak sepenuhnya menangkap kompleksitas realitas di lapangan!

“Penyebab inflasi bukan Ramadan dan lebaran, tapi faktor lain semisal BBM atau kebijakan moneter,” ujar mahasiswa ekonomi. 

Benar! Tapi Ramadan dan lebaran memperparah tekanan tersebut, karena menjadi pendorong (katalisator) yang mempercepat dan memperkuat tekanan kenaikan harga. Itu adalah pola berulang yang ikut mendorong inflasi dan berpotensi memperlebar tekanan ketimpangan, sekaligus memperburuk beban kelompok rentan! 

Sekali lagi, kembali ke ilmu ekonomi. Ketika permintaan naik sementara penawaran tidak bisa langsung menyesuaikan, harga cenderung naik. Ramadan dan Idul Fitri adalah contoh nyata kondisi itu. Permintaan makanan meningkat tajam dalam waktu singkat, sementara kapasitas produksi dan distribusi tidak berubah secara instan. Akibatnya, kenaikan harga bukan anomali, tapi konsekuensi logis dari mekanisme pasar.

Persoalannya bukan di situ. Masalah muncul ketika harga yang sudah naik tidak kembali ke level semula setelah permintaan normal kembali. Kenyataan itu menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak sepenuhnya bersifat sementara, tapi mencerminkan penyesuaian struktur harga. Dampaknya tidak merata. Kelompok berpenghasilan rendah, yang sebagian besar pengeluarannya untuk makanan, akan merasakan penurunan daya beli secara langsung.

Jadi, dalam praktiknya, siklus Ramadan-Idul Fitri bukan hanya memicu kenaikan harga jangka pendek, tapi juga berkontribusi pada tekanan inflasi, dengan beban terbesar ditanggung kelompok paling rentan atau kaum dhuafa.

Saya sepakat bahwa Ramadan dan Idul Fitri memang mendorong aktivitas ekonomi. Tapi tanpa pengelolaan distribusi dan stabilisasi harga yang memadai, dampaknya tidak akan adil. Dalam praktiknya, pemerintah memang biasanya melakukan intervensi melalui operasi pasar, subsidi, atau pengendalian distribusi. Tapi efektivitasnya sering kali terbatas dalam menahan tekanan harga secara menyeluruh. Sementara kenaikan harga yang terjadi—dan sering kali bertahan—secara nyata memperberat beban kelompok miskin. So, ini bukan sekadar fenomena budaya atau “berkah Ramadan”, tapi persoalan keadilan ekonomi!

Inflasi makanan bukan sekadar angka, tapi tekanan hidup bagi kelompok rentan. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik, proporsi pengeluaran rumah tangga miskin sebesar 50–60% untuk biaya makan, rumah tangga menengah sekitar 30–40%, sementara rumah tangga kaya mengeluarkan biaya makan yang jauh lebih kecil dari penghasilan. Statistik itu sejalan dengan prinsip Engel’s Law, bahwa proporsi pengeluaran untuk makanan akan menurun seiring meningkatnya pendapatan. 

Ketika harga makanan naik, orang kaya cuma mikir, “Lhah, paling naik beberapa ribu.” Bagi mereka, itu kenaikan yang tak seberapa, karena penghasilan mereka jauh lebih besar dibanding pengeluaran untuk makan yang hanya sekian persen. Tapi bagi orang miskin, kenaikan beberapa ribu adalah cekikan yang makin kuat di leher mereka!

“Di ujung gang sana, ada penjual soto,” ujar Badu. “Dulu, harga seporsi cuma delapan ribu. Semangkuk soto itu biasanya untuk lauk makan kami bertiga—aku, ibuku, dan adikku. Saban lebaran, harganya naik. Dari delapan ribu jadi sepuluh ribu. Terus naik lagi jadi sebelas ribu, tiga belas ribu, hingga sekarang lima belas ribu. Lebaran tahun ini juga pasti akan naik lagi. Tapi penghasilanku dari dulu cuma segitu-gitu aja, nggak naik sama sekali.” 

Harga-harga makanan naik setiap lebaran, dan sebagian kenaikan harga itu tetap bertahan setelah lebaran usai, karena para pedagang ditekan struktur pasar yang berubah, sementara orang-orang tetap butuh beli makanan. Orang kaya butuh makan, orang miskin juga butuh makan. Kenaikan harga bagi orang kaya cuma membuat mereka tertawa, kenaikan harga bagi orang miskin membuat mereka makin menderita. Dan pola itu terus terjadi dari tahun ke tahun, setiap kali Ramadan dan lebaran tiba.

Puasa Ramadan mendidik kita untuk memahami penderitaan orang-orang miskin. Lebaran jadi waktu merayakan kemenangan atas hawa nafsu. Dan setelah lebaran usai... orang-orang miskin kembali tertindas.

Tarian Nasib

Seperti nada lagu, hidup adalah tarian nasib, naik dan turun. Napas adalah reffrain di antara intro dan coda.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Oktober 2012.

Apa yang Mereka Lakukan?

Orang-orang yang suka mengatakan, "Tak perlu khawatir soal rezeki, karena sudah ada yang mengatur..." sebenarnya apa yang mereka lakukan selain mengatakan kalimat itu?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 November 2024.

Terpujilah Para Pendaki

Waktu untuk naik gunung jauh lebih lama dibanding waktu berada di puncak gunung. Selalu begitu. Tapi orang-orang terus menaiki gunung.

Semakin ke puncak, oksigen semakin menipis. Orang tak bisa lama-lama di puncak. Kapan pun waktunya harus turun. Untuk tetap hidup.

Yang membuat orang tak pernah bosan naik gunung, mungkin, karena menikmati pendakiannya. Bukan ketika berada di puncaknya. Begitu pun hidup.

Orang bilang, hidup seperti roda. Mungkin pula, hidup seperti naik gunung. Semua orang ingin naik ke atas. Tetapi, pada akhirnya, ia harus turun.

Ketika hidup memaksa kita turun, bukan berarti langkah kita selesai untuk mati. Sering kali, turun adalah kesempatan untuk tetap hidup.

Tentu saja setiap orang berhak untuk tetap berada di puncak gunung. Sampai kapan pun. Tapi ia akan mati perlahan-lahan. Sendirian.

Terpujilah para pendaki, para pencari. Yang gembira saat sampai puncak, tapi selalu ingat untuk turun kembali. Karena ada pendakian lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juni 2013.

Lahir dan Mati

Lahir dan mati adalah kepastian yang tak perlu dirisaukan. Karena yang merisaukan, sering kali, adalah waktu-waktu di antaranya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Maret 2012.

Terbang Tinggi

Terbang tinggi bukan hal sulit. Yang sulit adalah tetap menapak bumi, sementara kau tahu betapa nikmatnya terbang tinggi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Maret 2019.

O Menjadi A

“What doesn’t kill you, makes you stranger.” —Joker.

Hanya dengan mengubah “o” menjadi “a”, Nolan membuktikan dirinya memang genius.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Desember 2012.

Pertempuran Besar

Pertempuran besar selalu terjadi setiap hari di relung-relung keheningan kita. Perang antara kita dan sesuatu yang menyerupai kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Imperfection

Yang agak membingungkan, “imperfection” terdengar elegan. Mungkin definisinya memang seperti itu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Oktober 2012.

Hujan Rindu

Hujan turun di kotaku. Rindu luruh di hatiku. Di kejauhan, bayang-bayang memanggil takdirku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Oktober 2012.

Malam Ramadan

Seorang gelandangan terlelap di trotoar.

Kamis, 30 April 2026

Keahlian Manusia yang Tak Berguna

Salah satu keahlian manusia memang ngadem-ngademi diri sendiri.

Sayangnya, aku kesulitan mempelajari kemampuan itu. Mungkin karena terlalu realistis, atau mungkin pula karena (sebagian besar) hidupku begitu pahit.

Well, aku perlu mengatakan bahwa dulu aku juga pernah berusaha ngadem-ngademi diri sendiri untuk banyak hal yang kualami. Tapi belakangan aku menyadari, itu seperti membohongi diri sendiri.

Aku pernah ngadem-ngademi diri sendiri dengan mengatakan bahwa kemiskinan adalah karunia yang melecutku agar bekerja keras. Belakangan aku menyadari bahwa—meski mungkin memang karunia—kemiskinan mengandung lebih banyak kutukan mengerikan. Setidaknya, itu yang kualami

Aku juga pernah ngadem-ngademi diri sendiri dengan mengatakan bahwa uang tidak menjamin bahagia, bahwa uang tidak dibawa mati, dan lain-lain. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa sebagian besar hidup kita ditopang oleh uang, dan aku tahu pasti bagaimana tersiksanya tanpa uang.

Belakangan, aku juga menyadari bahwa ngadem-ngademi diri sendiri tidak membawaku beranjak ke mana-mana, selain hanya membohongi diri sendiri yang bercampur mengasihani diri sendiri. Jadi, aku berkata pada diri sendiri, "Mari berhenti memainkan kebohongan konyol ini!"

Selama aku meyakini bahwa kemiskinan adalah karunia, aku tidak akan pernah keluar dari kemiskinan—wong itu karunia, kok. Dan aku tersadar bahwa menganggapnya karunia berarti aku menerima. Menerima berarti mendapatkan. Mendapatkan berarti memiliki. Karena memiliki, ia melekat.

Begitu pun kalau aku meyakini (ngadem-ngademi diri sendiri) dengan mengatakan "uang tidak menjamin bahagia" atau semacamnya, itu sama seperti menolak kemungkinan mendapatkan uang—wong tidak menjamin bahagia, kok. Ngapain dicari dan didapatkan?

Mungkin ini akan terdengar seperti kalimat motivasional yang mengawang-awang. Tapi aku meyakini bahwa siapa dirimu pertama-tama dibangun di dalam pikiranmu. 

Manusia adalah apa yang terbesar di dalam pikirannya. Bagaimana ia menatap hidup dan dirinya, (akan) seperti itulah dia.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 April 2019.

Descartes di Twitter

Kalau Descartes punya akun di Twitter, aku membayangkan ia akan menulis tweet, "Aku ngoceh, maka aku ada."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Mencemburui Sesuatu

Menyadari bahwa kita mencemburui sesuatu kadang-kadang lucu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Februari 2012.

Hari Handuk Nasional

Seharusnya kita perlu merayakan Hari Handuk Nasional. Apa jadinya kita kalau habis mandi tak ada handuk? 

Setelah dipikir-pikir, kayaknya kita juga perlu merayakan Hari Sabun Nasional. Apa jadinya nasib umat manusia kalau tak ada sabun?

Ehm, dan tisu ya tweeps. Dunia juga perlu merayakan Hari Tisu Nasional. Tisu yang lembut adalah berkat bagi anak-anak Adam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Grafiti di Tembok

Grafiti di sebuah tembok pinggir jalan: “Yang benar menurutmu belum tentu benar menurut setan.”


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

Drama Malam

Apa yang sedang kita lakukan? Saling menyakiti diam-diam, namun tak mau terpisahkan. Demi Tuhan, apa yang sedang kita lakukan? #DramaMalam


*) Ditransksrip dari timeline @noffret, 19 September 2012.

Setidaknya

Setidaknya ada kabar baik di antara banyak kabar buruk.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Desember 2024.

Mana Lebih Baik?

Lagi mikir. Mana lebih baik, ya? Didekati orang yang dibenci, atau dijauhi orang yang dicintai?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Andai Dipisah

Andai dipisah laut dan pantai, tak akan goyah gelora cinta. Andai dipisah api dan bara, tak akan pudar sinaran cinta. #nyanyi


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Seini

“Aku seini.”

“Sama.”

Kata Orang

Kata orang, semuanya berawal dari mimpi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Handuk yang Lembut

Dunia ini pasti tidak lengkap jika tak ada handuk tebal yang lembut. Terpujilah orang-orang yang membuat handuk. Khususnya yang lembut.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Rabu, 29 April 2026

Glorifikasi Seks yang Terlalu Ndakik-ndakik

Nyeruput cokelat hangat, udud, dan kepikiran untuk melanjutkan ocehan ini. Mumpung TL sudah mulai sepi.


Dalam film Wonder Woman, Diana Prince berkata kepada Steve Trevor, “Aku telah membaca 12 jilid Clio tentang Risalah Kenikmatan Ragawi. ... Kesimpulannya adalah pria sangat penting untuk berkembang biak. Tapi untuk kenikmatan seks, pria tidak diperlukan.”

Jika kita melepaskan segala macam glorifikasi yang ndakik-ndakik terkait seks, sebagaimana yang mungkin sering kita dengar, kata-kata Diana Prince itu merupakan kesimpulan paling jujur sekaligus paling ilmiah terkait aktivitas seks; dengan diri sendiri, atau dengan orang lain.

Bahwa wanita, sebagaimana pria, sebenarnya bisa menikmati seks tanpa melibatkan orang lain—lebih spesifik; lawan jenis. Tapi Homo sapiens adalah budak evolusi, dan evolusi ingin kita berkembang biak. Karenanya, kita diiming-imingi untuk berpasangan, dengan aneka glorifikasi.

Evolusi ingin kita berpasangan—sebenarnya bukan untuk menikmati seks, melainkan untuk bereproduksi dan berkembang biak! Agar tujuan itu tercapai, evolusi menggunakan taktik licik berupa iming-iming kenikmatan seks melalui (ber)pasangan. Dan kita terkecoh, hingga sangat ngebet.

Padahal, sebagaimana kata-kata Diana Prince, “... untuk kenikmatan seks, pria tidak diperlukan.” Karena wanita sebenarnya bisa merasakan kenikmatan seks tanpa melibatkan pria, sebagaimana pria bisa merasakan kenikmatan seks tanpa melibatkan wanita. Dan itu ilmiah, tentu saja.

Selama bertahun-tahun, aku membaca ratusan riset Kinsey Institute terkait penelitian-penelitian mereka dalam aktivitas seksual manusia, dari yang paling sederhana dan primitif sampai yang paling rumit. Dan tumpukan riset itu, jika disimpulkan, membenarkan ucapan Diana Prince.

Selama bertahun-tahun pula, aku membaca ribuan artikel dan konsultasi seks di koran, majalah, buku, internet, sejak SMP sampai dewasa sekarang. Dari ribuan artikel dan konsultasi seks itu, aku disadarkan bahwa “glorifikasi kenikmatan seks dengan pasangan hanyalah omong kosong.”

Ketika sepasang manusia melakukan hubungan seks secara konsensual, tentu mereka merasakan kenikmatan. Tapi kenikmatan dari aktivitas itu sebenarnya tidak “sendakik-ndakik yang diglorifikasikan”. Karenanya, seperti yang kuocehkan di sini, itu cuma B aja.


Bahkan, dalam kadar tertentu, kenikmatan seks yang didapatkan wanita lebih besar daripada kenikmatan seks yang didapatkan pria, ketika aktivitas seks dilakukan secara berpasangan. Karena kenikmatan pria cuma sebatas sensasi dan ejakulasi, sementara wanita mendapatkan lebih.

Kenyataan ini bisa dilihat dari fakta sederhana yang tak bisa dibantah; alat kelamin pria berada di luar, sementara alat kelamin wanita berada di dalam. Sebanyak apa pun syaraf kenikmatan pada organ kelamin pria, ia ada di luar—tingkat kepekaannya tetap kalah dibanding di dalam.

Jadi, aku percaya bahwa secara ilmiah, ketika hubungan seks—secara konsensual—terjadi, wanita mendapat kenikmatan lebih banyak dibanding pria. Dari orgasme vaginal, orgasme clitoral, sampai multiorgasme, dan lain-lain. Dan pria? Cuma sensasi (khayal-visual) dan ejakulasi!

Semua playboy terkenal di dunia tahu kenyataan itu, dari Giacomo Casanova sampai Hugh Hefner, hingga mereka bisa menyimpulkan “semua wanita sama saja”—dan kau paham apa artinya. Karena yang berbeda cuma sensasi; khayalan tolol dan ndakik-ndakik yang ada di otak pria.

Mungkin ada yang berpikir, "Kalau memang wanita mendapat lebih banyak kenikmatan seks daripada pria, lalu kenapa justru pria yang tampaknya paling ngebet ngewe dibanding wanita?"

Jawabannya sangat sederhana, yakni karena testis di tubuh pria terus menerus memproduksi sperma!

Tubuh pria memproduksi sperma tanpa henti, dan tubuh pria juga memaksa agar sperma itu segera dikeluarkan kapan saja, agar tubuh bisa terus memproduksi sperma baru. Dorongan itulah yang menjadikan pria kemudian sangat ngebet ngewe, padahal tujuannya cuma melepaskan sperma.

Otak pria ditipu oleh fantasi dan khayalannya sendiri, membayangkan bahwa seks dengan pasangan begitu indah dan nikmat dan bla-bla-bla, padahal intinya cuma ingin melepaskan sperma. Begitu sperma dilepaskan, semua fantasinya lenyap. Buktinya, mereka langsung terlelap!

Sebenarnya, wanita juga memiliki hasrat seks sebesar pria. Tapi secara alami—atau kita bisa menyebutnya; secara biologis—wanita tahu bahwa pria “lebih menginginkan seks” karena tubuhnya terus memproduksi sperma. Karenanya, pria bersedia "mengejar-ngejar", dan wanita memahami itu.

Jangankan manusia, bahkan binatang pun tahu hal itu. Hewan-hewan betina tahu kalau hewan-hewan jantan bersedia melakukan apa pun demi bisa ngeseks. Badak jantan, misalnya, bersedia mengikuti badak betina sampai lama sekali untuk pedekate, demi diizinkan ngeseks dengannya.

Burung bower (bowerbird) jantan menghabiskan banyak waktu dan tenaga demi membangun sarang indah, dengan aneka pernak-pernik kemilau, demi menarik perhatian bowerbird betina yang matere. Intinya sama saja, untuk ngeseks, berkembang biak, beranak pinak—sesuai tuntutan evolusi.

Contoh-contoh lain masih banyak sekali, merentang dari hewan-hewan kecil semacam kutu atau cacing, sampai yang besar seperti kuda nil atau paus. Intinya, terkait urusan seks, mereka tak jauh beda dengan manusia. Bedanya, manusia mengglorifikasi aktivitas itu secara berlebihan.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, bisa panjang sekali, dan mungkin akan selesai tahun 2918. Intinya, sekarang, aku sama sekali tak percaya dengan segala macam glorifikasi ndakik-ndakik terkait [kenikmatan] hubungan seks. Karena, secara ilmiah, itu cuma B aja.


Kesadaran itulah yang menjadikanku tidak pernah—dan tidak akan pernah—melakukan modus-modus tolol dengan wanita mana pun demi tujuan ngewe. Aku tidak sudi ditipu dan dikibuli fantasiku sendiri. Wong paling cuma B aja, tapi harus buang waktu dan energi untuk modus segala macam.

“Semua yang kita lakukan sebenarnya demi pemuasan libido,” kata Freud. Dan pemuasan libido, sayangnya, B aja. Belakangan, kesadaran itu pula yang membuatku lebih santai dalam menjalani hidup. Tanpa hasrat macam-macam, tanpa khayalan ndakik-ndakik, dan tak sudi melakukan modus!

Kalau kita memang sama-sama tertarik, aturanku sederhana; mari buat segalanya lebih mudah! Kalau kau ingin drama yang rumit dan berbelit-belit, dengan segala macam modus tolol yang cuma buang-buang waktu dan tenaga, mohon maaf... aku lebih suka sibuk belajar dan bekerja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Februari 2020.

 
;