Jumat, 01 Mei 2026

Lebaran dan Keadilan Ekonomi

Seminggu setelah lebaran, saya mampir ke tempat Badu, seorang teman yang bekerja sebagai pemulung. Biasanya, kalau saya dolan ke rumahnya malam hari, kami mengobrol sambil Badu menata hasil memulung seharian.

Badu punya jadwal kerja mirip karyawan, tapi dia bukan karyawan. Setiap pagi, Badu berangkat dari rumahnya sambil membawa karung, berkeliling ke sana kemari, mencari barang apa pun di tempat sampah yang sekiranya bisa ia kilokan. Siang hari, dia pulang ke rumah untuk makan siang, sambil mengosongkan isi karung, lalu pergi lagi untuk memulung sampai sore atau menjelang magrib. 

Jadwal kerjanya mirip karyawan, tapi dia bukan karyawan. Karena Badu tidak kenal THR atau tunjangan hari raya, juga tidak punya libur lebaran. Ia hanya libur di hari pertama lebaran, kemudian besoknya sudah kembali memulung. Karena, “kalau aku tidak kerja (memulung), aku tidak makan.”

Malam itu, saat saya mampir ke rumahnya, Badu baru selesai menata barang-barang hasil memulungnya. Tumpukan kardus dan tumpukan plastik telah dipisahkan, sudah diikat rapi, dan besok tinggal dibawa ke pengepul. 

Kami pun mengobrol santai seperti biasa, sambil menikmati udud. Ketika obrolan sampai pada topik lebaran, Badu berkata, “Setiap kali lebaran, aku selalu senang, tapi juga tertekan.” 

Badu senang saat lebaran tiba, karena mendapat zakat, yang memungkinkan keluarganya menikmati makanan enak setahun sekali. Tapi Badu juga tertekan, karena datangnya lebaran sering kali menjadi awal kenaikan harga-harga barang, khususnya makanan. Badu telah mengalami hal itu selama bertahun-tahun, dan merasakan hidupnya makin tercekik setiap kali lebaran datang.

Agar kalian paham apa yang terjadi, khususnya pada orang-orang miskin seperti Badu, izinkan saya menjelaskan.

Ketika Ramadan datang, belanja orang Islam meningkat, khususnya belanja makanan. Itu fenomena yang terjadi secara luas di berbagai wilayah Indonesia, meski dengan intensitas yang bervariasi antardaerah. Orang-orang Islam butuh berbuka puasa, baik yang sendirian, bersama keluarga, ataupun yang bukber dengan teman-teman. Dan belanja makanan selama Ramadan bukan hanya untuk berbuka, tapi juga untuk makan malam, dan untuk sahur. Peredaran uang makin banyak, roda ekonomi berputar.

Sebagian orang, dengan nada mengglorifikasi, kerap menyatakan bahwa fenomena yang terjadi itu “berkah Ramadan”—bukti kaum muslim berkontribusi pada peningkatan ekonomi. Tetapi, jika dicermati lebih dalam, femomena yang terjadi selama Ramadan sebenarnya membentuk akumulasi tekanan harga yang bersifat laten—yang saya analogikan sebagai “bom waktu”.

Sebulan penuh orang-orang Islam membelanjakan banyak uang untuk makanan. Uang yang beredar semakin banyak, konsumsi meningkat, permintaan naik, dan hukum ekonomi merayap diam-diam. Puncaknya terjadi ketika lebaran tiba. Gaji dan THR dibagikan, orang-orang memegang banyak uang. Ditambah liburan saat lebaran, mereka punya banyak kesempatan sekaligus dorongan untuk membelanjakan uangnya. Dan bom waktu yang mulai berdetak saat Ramadan terus menuju titik ledak.

Apa yang biasanya terjadi ketika lebaran datang? Ya, harga-harga barang cenderung naik tajam, khususnya makanan! 

Selama seminggu lebaran, kenaikan harga itu mungkin belum terasa, karena orang-orang masih memegang banyak uang. Tapi setelah lebaran berlalu, dan uang THR makin menipis, sebagian harga tidak sepenuhnya kembali ke level pra-Ramadan. Dalam literatur ekonomi, fenomena itu disebut “seasonality in inflation”, yaitu pola kenaikan harga yang berulang pada periode tertentu akibat faktor musiman seperti hari besar keagamaan, yang salah satu contohnya adalah Ramadan sampai lebaran.

Para pedagang sering menyatakan bahwa kenaikan harga terjadi karena lebaran. Tetapi, ketika lebaran telah berlalu, “harga lebaran” itu tetap bertahan. Harga-harga makanan yang telanjur naik sering kali sulit turun kembali, meski awalnya disebut “harga lebaran”. Mengapa fenomena itu terjadi? Jawabannya, dalam perspektif saya, adalah bom waktu yang telah berdetak sejak awal Ramadan.

Ketika Ramadan tiba, konsumsi naik, permintaan naik, dan itu berdampak pada distribusi logistik yang padat, hingga biaya bahan baku yang naik. Dalam contoh mudah, para petani tidak bisa menaikkan jumlah panen seketika hanya karena permintaan naik seketika. Konsekuensinya, harga naik. 

Tapi kenaikan saat Ramadan belum terasa, karena “bom waktu” masih di angka awal. Kebanyakan pedagang juga belum menaikkan harga barang mereka, karena kenaikan “harga kulakan” masih sebatas beberapa rupiah. Seiring waktu, mendekati lebaran, distribusi logistik makin padat, permintaan konsumsi makin meningkat—ingat ketupat dan opor ayam hingga hidangan lebaran—dan bom waktu yang mulai menyala sejak Ramadan pun meledak! 

Harga-harga makanan naik secara luas!

Seperti yang saya sebut tadi, kenaikan harga—khususnya makanan—selama lebaran belum terasa, karena rata-rata orang masih memegang banyak uang, dan memaklumi kenaikan harga karena lebaran. Tapi ketika lebaran berlalu, “harga lebaran” itu tidak kunjung turun. Mengulang pertanyaan tadi; kenapa? 

Bagi saya, jawabannya sangat gamblang; karena permintaan terhadap makanan cenderung bersifat inelastis terhadap harga, sehingga kenaikan harga tidak diikuti penurunan konsumsi yang signifikan. Dalam bahasa awam, orang tetap butuh makan meski harganya naik! 

Setelah lebaran berlalu, banyak penjual makanan yang mempertahankan “harga lebaran”. Ada dua alasan dalam hal ini; pertama karena masih laku, dan kedua karena struktur pasar yang berubah! Dalam ilmu ekonomi, itu disebut price stickiness; pedagang enggan menurunkan harga karena konsumen masih mau beli, ditambah biaya produksi yang sudah telanjur naik akibat struktur pasar yang berubah sejak Ramadan. 

Di sisi lain, orang-orang tetap beli makanan, karena memang butuh makan! Dalam beberapa kasus, harga baru kemudian jadi referensi (baseline) baru. Ekspektasi pasar berubah, orang-orang perlahan “terbiasa” dengan harga baru. Itu, kan, yang kita alami setiap usai lebaran? 

Harga-harga bahan baku memang cenderung turun setelah Ramadan dan lebaran berlalu. Badan Pusat Statistik mengonfirmasi hal itu. Tetapi, dalam banyak kasus, harga makanan jadi (siap saji) tidak sepenuhnya mengikuti penurunan tersebut. Kenyataan itu memang tidak terjadi di semua tempat, tapi terjadi di banyak tempat. Perhatikan irisannya.

Sebagai catatan, harga mi tektek yang biasa lewat di tempat saya, naik seribu. Harga capcay dan mi ayam langganan saya, naik dua ribu. Sementara harga martabak naik tiga ribu, ayam geprek naik dua ribu, dan itu baru sekadar contoh. Kenaikan harga-harga itu dimulai sejak lebaran, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda penurunan. Berdasarkan kenaikan yang telah terjadi sejak beberapa lebaran sebelumnya, harga-harga yang naik itu biasanya tidak akan pernah turun. Yang terjadi justru akan kembali naik saat lebaran datang lagi di tahun berikutnya. 

Jika harga naik menjelang lebaran, kemudian turun ke harga normal setelah lebaran usai, itu disebut fluktuasi. Tapi jika harga naik menjelang lebaran, dan kenaikan harga itu tetap bertahan—tidak turun ke harga normal—padahal lebaran sudah lama usai, itu apa namanya kalau bukan inflasi? Definisi formal dan statistik mungkin dapat dipakai sebagai “tameng intelektual”, tapi apa artinya definisi formal dan statistik ketika realitas menunjukkan kebalikannya?

Saya sengaja menulis dan mempublikasikan catatan ini jauh setelah lebaran, agar kita semua melihat realitasnya di lapangan, dan agar catatan ini tidak cuma menjadi omong kosong akademis.

Ekonomi memiliki prinsip dasar; kenaikan permintaan akan mendorong kenaikan harga, terutama ketika penawaran tidak bisa menyesuaikan dengan cepat. Dan ketika harga makanan naik, ia sulit turun kembali, karena orang akan tetap beli! Ini adalah implikasi langsung dari mekanisme pasar dasar.

Sekian tahun lalu, ketika saya pertama kali membahas soal ini di blog dan di Twitter, ada beberapa media yang meng-counter dengan menyatakan bahwa yang terjadi selama Ramadan dan lebaran bukan inflasi, karena sifatnya sementara. 

Kalau benar sementara, mestinya harga akan kembali ke titik awal setelah lebaran usai. Faktanya, dalam sejumlah kasus—seperti yang saya alami—harga menetap lebih tinggi, khususnya harga makanan. Ekonomi menyebutnya downward price rigidity (harga yang sulit turun).

“Kenaikan harga-harga barang, khususnya makanan, setelah lebaran, itu bagus, karena ekonomi bergerak,” kata para analis di YouTube. 

Ekonomi memang bergerak, fellas, tapi manfaatnya tidak merata. Yang menikmati lonjakan konsumsi adalah pelaku usaha, sementara beban ditanggung konsumen, terutama yang miskin! Did you see that? Pendekatan yang terlalu normatif dalam buku teks sering kali tidak sepenuhnya menangkap kompleksitas realitas di lapangan!

“Penyebab inflasi bukan Ramadan dan lebaran, tapi faktor lain semisal BBM atau kebijakan moneter,” ujar mahasiswa ekonomi. 

Benar! Tapi Ramadan dan lebaran memperparah tekanan tersebut, karena menjadi pendorong (katalisator) yang mempercepat dan memperkuat tekanan kenaikan harga. Itu adalah pola berulang yang ikut mendorong inflasi dan berpotensi memperlebar tekanan ketimpangan, sekaligus memperburuk beban kelompok rentan! 

Sekali lagi, kembali ke ilmu ekonomi. Ketika permintaan naik sementara penawaran tidak bisa langsung menyesuaikan, harga cenderung naik. Ramadan dan Idul Fitri adalah contoh nyata kondisi itu. Permintaan makanan meningkat tajam dalam waktu singkat, sementara kapasitas produksi dan distribusi tidak berubah secara instan. Akibatnya, kenaikan harga bukan anomali, tapi konsekuensi logis dari mekanisme pasar.

Persoalannya bukan di situ. Masalah muncul ketika harga yang sudah naik tidak kembali ke level semula setelah permintaan normal kembali. Kenyataan itu menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak sepenuhnya bersifat sementara, tapi mencerminkan penyesuaian struktur harga. Dampaknya tidak merata. Kelompok berpenghasilan rendah, yang sebagian besar pengeluarannya untuk makanan, akan merasakan penurunan daya beli secara langsung.

Jadi, dalam praktiknya, siklus Ramadan-Idul Fitri bukan hanya memicu kenaikan harga jangka pendek, tapi juga berkontribusi pada tekanan inflasi, dengan beban terbesar ditanggung kelompok paling rentan atau kaum dhuafa.

Saya sepakat bahwa Ramadan dan Idul Fitri memang mendorong aktivitas ekonomi. Tapi tanpa pengelolaan distribusi dan stabilisasi harga yang memadai, dampaknya tidak akan adil. Dalam praktiknya, pemerintah memang biasanya melakukan intervensi melalui operasi pasar, subsidi, atau pengendalian distribusi. Tapi efektivitasnya sering kali terbatas dalam menahan tekanan harga secara menyeluruh. Sementara kenaikan harga yang terjadi—dan sering kali bertahan—secara nyata memperberat beban kelompok miskin. So, ini bukan sekadar fenomena budaya atau “berkah Ramadan”, tapi persoalan keadilan ekonomi!

Inflasi makanan bukan sekadar angka, tapi tekanan hidup bagi kelompok rentan. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik, proporsi pengeluaran rumah tangga miskin sebesar 50–60% untuk biaya makan, rumah tangga menengah sekitar 30–40%, sementara rumah tangga kaya mengeluarkan biaya makan yang jauh lebih kecil dari penghasilan. Statistik itu sejalan dengan prinsip Engel’s Law, bahwa proporsi pengeluaran untuk makanan akan menurun seiring meningkatnya pendapatan. 

Ketika harga makanan naik, orang kaya cuma mikir, “Lhah, paling naik beberapa ribu.” Bagi mereka, itu kenaikan yang tak seberapa, karena penghasilan mereka jauh lebih besar dibanding pengeluaran untuk makan yang hanya sekian persen. Tapi bagi orang miskin, kenaikan beberapa ribu adalah cekikan yang makin kuat di leher mereka!

“Di ujung gang sana, ada penjual soto,” ujar Badu. “Dulu, harga seporsi cuma delapan ribu. Semangkuk soto itu biasanya untuk lauk makan kami bertiga—aku, ibuku, dan adikku. Saban lebaran, harganya naik. Dari delapan ribu jadi sepuluh ribu. Terus naik lagi jadi sebelas ribu, tiga belas ribu, hingga sekarang lima belas ribu. Lebaran tahun ini juga pasti akan naik lagi. Tapi penghasilanku dari dulu cuma segitu-gitu aja, nggak naik sama sekali.” 

Harga-harga makanan naik setiap lebaran, dan sebagian kenaikan harga itu tetap bertahan setelah lebaran usai, karena para pedagang ditekan struktur pasar yang berubah, sementara orang-orang tetap butuh beli makanan. Orang kaya butuh makan, orang miskin juga butuh makan. Kenaikan harga bagi orang kaya cuma membuat mereka tertawa, kenaikan harga bagi orang miskin membuat mereka makin menderita. Dan pola itu terus terjadi dari tahun ke tahun, setiap kali Ramadan dan lebaran tiba.

Puasa Ramadan mendidik kita untuk memahami penderitaan orang-orang miskin. Lebaran jadi waktu merayakan kemenangan atas hawa nafsu. Dan setelah lebaran usai... orang-orang miskin kembali tertindas.

Tarian Nasib

Seperti nada lagu, hidup adalah tarian nasib, naik dan turun. Napas adalah reffrain di antara intro dan coda.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Oktober 2012.

Apa yang Mereka Lakukan?

Orang-orang yang suka mengatakan, "Tak perlu khawatir soal rezeki, karena sudah ada yang mengatur..." sebenarnya apa yang mereka lakukan selain mengatakan kalimat itu?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 November 2024.

Terpujilah Para Pendaki

Waktu untuk naik gunung jauh lebih lama dibanding waktu berada di puncak gunung. Selalu begitu. Tapi orang-orang terus menaiki gunung.

Semakin ke puncak, oksigen semakin menipis. Orang tak bisa lama-lama di puncak. Kapan pun waktunya harus turun. Untuk tetap hidup.

Yang membuat orang tak pernah bosan naik gunung, mungkin, karena menikmati pendakiannya. Bukan ketika berada di puncaknya. Begitu pun hidup.

Orang bilang, hidup seperti roda. Mungkin pula, hidup seperti naik gunung. Semua orang ingin naik ke atas. Tetapi, pada akhirnya, ia harus turun.

Ketika hidup memaksa kita turun, bukan berarti langkah kita selesai untuk mati. Sering kali, turun adalah kesempatan untuk tetap hidup.

Tentu saja setiap orang berhak untuk tetap berada di puncak gunung. Sampai kapan pun. Tapi ia akan mati perlahan-lahan. Sendirian.

Terpujilah para pendaki, para pencari. Yang gembira saat sampai puncak, tapi selalu ingat untuk turun kembali. Karena ada pendakian lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juni 2013.

Lahir dan Mati

Lahir dan mati adalah kepastian yang tak perlu dirisaukan. Karena yang merisaukan, sering kali, adalah waktu-waktu di antaranya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Maret 2012.

Terbang Tinggi

Terbang tinggi bukan hal sulit. Yang sulit adalah tetap menapak bumi, sementara kau tahu betapa nikmatnya terbang tinggi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Maret 2019.

O Menjadi A

“What doesn’t kill you, makes you stranger.” —Joker.

Hanya dengan mengubah “o” menjadi “a”, Nolan membuktikan dirinya memang genius.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Desember 2012.

Pertempuran Besar

Pertempuran besar selalu terjadi setiap hari di relung-relung keheningan kita. Perang antara kita dan sesuatu yang menyerupai kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Imperfection

Yang agak membingungkan, “imperfection” terdengar elegan. Mungkin definisinya memang seperti itu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Oktober 2012.

Hujan Rindu

Hujan turun di kotaku. Rindu luruh di hatiku. Di kejauhan, bayang-bayang memanggil takdirku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Oktober 2012.

Malam Ramadan

Seorang gelandangan terlelap di trotoar.

Kamis, 30 April 2026

Keahlian Manusia yang Tak Berguna

Salah satu keahlian manusia memang ngadem-ngademi diri sendiri.

Sayangnya, aku kesulitan mempelajari kemampuan itu. Mungkin karena terlalu realistis, atau mungkin pula karena (sebagian besar) hidupku begitu pahit.

Well, aku perlu mengatakan bahwa dulu aku juga pernah berusaha ngadem-ngademi diri sendiri untuk banyak hal yang kualami. Tapi belakangan aku menyadari, itu seperti membohongi diri sendiri.

Aku pernah ngadem-ngademi diri sendiri dengan mengatakan bahwa kemiskinan adalah karunia yang melecutku agar bekerja keras. Belakangan aku menyadari bahwa—meski mungkin memang karunia—kemiskinan mengandung lebih banyak kutukan mengerikan. Setidaknya, itu yang kualami

Aku juga pernah ngadem-ngademi diri sendiri dengan mengatakan bahwa uang tidak menjamin bahagia, bahwa uang tidak dibawa mati, dan lain-lain. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa sebagian besar hidup kita ditopang oleh uang, dan aku tahu pasti bagaimana tersiksanya tanpa uang.

Belakangan, aku juga menyadari bahwa ngadem-ngademi diri sendiri tidak membawaku beranjak ke mana-mana, selain hanya membohongi diri sendiri yang bercampur mengasihani diri sendiri. Jadi, aku berkata pada diri sendiri, "Mari berhenti memainkan kebohongan konyol ini!"

Selama aku meyakini bahwa kemiskinan adalah karunia, aku tidak akan pernah keluar dari kemiskinan—wong itu karunia, kok. Dan aku tersadar bahwa menganggapnya karunia berarti aku menerima. Menerima berarti mendapatkan. Mendapatkan berarti memiliki. Karena memiliki, ia melekat.

Begitu pun kalau aku meyakini (ngadem-ngademi diri sendiri) dengan mengatakan "uang tidak menjamin bahagia" atau semacamnya, itu sama seperti menolak kemungkinan mendapatkan uang—wong tidak menjamin bahagia, kok. Ngapain dicari dan didapatkan?

Mungkin ini akan terdengar seperti kalimat motivasional yang mengawang-awang. Tapi aku meyakini bahwa siapa dirimu pertama-tama dibangun di dalam pikiranmu. 

Manusia adalah apa yang terbesar di dalam pikirannya. Bagaimana ia menatap hidup dan dirinya, (akan) seperti itulah dia.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 April 2019.

Descartes di Twitter

Kalau Descartes punya akun di Twitter, aku membayangkan ia akan menulis tweet, "Aku ngoceh, maka aku ada."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Mencemburui Sesuatu

Menyadari bahwa kita mencemburui sesuatu kadang-kadang lucu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Februari 2012.

Hari Handuk Nasional

Seharusnya kita perlu merayakan Hari Handuk Nasional. Apa jadinya kita kalau habis mandi tak ada handuk? 

Setelah dipikir-pikir, kayaknya kita juga perlu merayakan Hari Sabun Nasional. Apa jadinya nasib umat manusia kalau tak ada sabun?

Ehm, dan tisu ya tweeps. Dunia juga perlu merayakan Hari Tisu Nasional. Tisu yang lembut adalah berkat bagi anak-anak Adam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Grafiti di Tembok

Grafiti di sebuah tembok pinggir jalan: “Yang benar menurutmu belum tentu benar menurut setan.”


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

Drama Malam

Apa yang sedang kita lakukan? Saling menyakiti diam-diam, namun tak mau terpisahkan. Demi Tuhan, apa yang sedang kita lakukan? #DramaMalam


*) Ditransksrip dari timeline @noffret, 19 September 2012.

Setidaknya

Setidaknya ada kabar baik di antara banyak kabar buruk.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Desember 2024.

Mana Lebih Baik?

Lagi mikir. Mana lebih baik, ya? Didekati orang yang dibenci, atau dijauhi orang yang dicintai?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Andai Dipisah

Andai dipisah laut dan pantai, tak akan goyah gelora cinta. Andai dipisah api dan bara, tak akan pudar sinaran cinta. #nyanyi


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Seini

“Aku seini.”

“Sama.”

Kata Orang

Kata orang, semuanya berawal dari mimpi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Handuk yang Lembut

Dunia ini pasti tidak lengkap jika tak ada handuk tebal yang lembut. Terpujilah orang-orang yang membuat handuk. Khususnya yang lembut.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Rabu, 29 April 2026

Glorifikasi Seks yang Terlalu Ndakik-ndakik

Nyeruput cokelat hangat, udud, dan kepikiran untuk melanjutkan ocehan ini. Mumpung TL sudah mulai sepi.


Dalam film Wonder Woman, Diana Prince berkata kepada Steve Trevor, “Aku telah membaca 12 jilid Clio tentang Risalah Kenikmatan Ragawi. ... Kesimpulannya adalah pria sangat penting untuk berkembang biak. Tapi untuk kenikmatan seks, pria tidak diperlukan.”

Jika kita melepaskan segala macam glorifikasi yang ndakik-ndakik terkait seks, sebagaimana yang mungkin sering kita dengar, kata-kata Diana Prince itu merupakan kesimpulan paling jujur sekaligus paling ilmiah terkait aktivitas seks; dengan diri sendiri, atau dengan orang lain.

Bahwa wanita, sebagaimana pria, sebenarnya bisa menikmati seks tanpa melibatkan orang lain—lebih spesifik; lawan jenis. Tapi Homo sapiens adalah budak evolusi, dan evolusi ingin kita berkembang biak. Karenanya, kita diiming-imingi untuk berpasangan, dengan aneka glorifikasi.

Evolusi ingin kita berpasangan—sebenarnya bukan untuk menikmati seks, melainkan untuk bereproduksi dan berkembang biak! Agar tujuan itu tercapai, evolusi menggunakan taktik licik berupa iming-iming kenikmatan seks melalui (ber)pasangan. Dan kita terkecoh, hingga sangat ngebet.

Padahal, sebagaimana kata-kata Diana Prince, “... untuk kenikmatan seks, pria tidak diperlukan.” Karena wanita sebenarnya bisa merasakan kenikmatan seks tanpa melibatkan pria, sebagaimana pria bisa merasakan kenikmatan seks tanpa melibatkan wanita. Dan itu ilmiah, tentu saja.

Selama bertahun-tahun, aku membaca ratusan riset Kinsey Institute terkait penelitian-penelitian mereka dalam aktivitas seksual manusia, dari yang paling sederhana dan primitif sampai yang paling rumit. Dan tumpukan riset itu, jika disimpulkan, membenarkan ucapan Diana Prince.

Selama bertahun-tahun pula, aku membaca ribuan artikel dan konsultasi seks di koran, majalah, buku, internet, sejak SMP sampai dewasa sekarang. Dari ribuan artikel dan konsultasi seks itu, aku disadarkan bahwa “glorifikasi kenikmatan seks dengan pasangan hanyalah omong kosong.”

Ketika sepasang manusia melakukan hubungan seks secara konsensual, tentu mereka merasakan kenikmatan. Tapi kenikmatan dari aktivitas itu sebenarnya tidak “sendakik-ndakik yang diglorifikasikan”. Karenanya, seperti yang kuocehkan di sini, itu cuma B aja.


Bahkan, dalam kadar tertentu, kenikmatan seks yang didapatkan wanita lebih besar daripada kenikmatan seks yang didapatkan pria, ketika aktivitas seks dilakukan secara berpasangan. Karena kenikmatan pria cuma sebatas sensasi dan ejakulasi, sementara wanita mendapatkan lebih.

Kenyataan ini bisa dilihat dari fakta sederhana yang tak bisa dibantah; alat kelamin pria berada di luar, sementara alat kelamin wanita berada di dalam. Sebanyak apa pun syaraf kenikmatan pada organ kelamin pria, ia ada di luar—tingkat kepekaannya tetap kalah dibanding di dalam.

Jadi, aku percaya bahwa secara ilmiah, ketika hubungan seks—secara konsensual—terjadi, wanita mendapat kenikmatan lebih banyak dibanding pria. Dari orgasme vaginal, orgasme clitoral, sampai multiorgasme, dan lain-lain. Dan pria? Cuma sensasi (khayal-visual) dan ejakulasi!

Semua playboy terkenal di dunia tahu kenyataan itu, dari Giacomo Casanova sampai Hugh Hefner, hingga mereka bisa menyimpulkan “semua wanita sama saja”—dan kau paham apa artinya. Karena yang berbeda cuma sensasi; khayalan tolol dan ndakik-ndakik yang ada di otak pria.

Mungkin ada yang berpikir, "Kalau memang wanita mendapat lebih banyak kenikmatan seks daripada pria, lalu kenapa justru pria yang tampaknya paling ngebet ngewe dibanding wanita?"

Jawabannya sangat sederhana, yakni karena testis di tubuh pria terus menerus memproduksi sperma!

Tubuh pria memproduksi sperma tanpa henti, dan tubuh pria juga memaksa agar sperma itu segera dikeluarkan kapan saja, agar tubuh bisa terus memproduksi sperma baru. Dorongan itulah yang menjadikan pria kemudian sangat ngebet ngewe, padahal tujuannya cuma melepaskan sperma.

Otak pria ditipu oleh fantasi dan khayalannya sendiri, membayangkan bahwa seks dengan pasangan begitu indah dan nikmat dan bla-bla-bla, padahal intinya cuma ingin melepaskan sperma. Begitu sperma dilepaskan, semua fantasinya lenyap. Buktinya, mereka langsung terlelap!

Sebenarnya, wanita juga memiliki hasrat seks sebesar pria. Tapi secara alami—atau kita bisa menyebutnya; secara biologis—wanita tahu bahwa pria “lebih menginginkan seks” karena tubuhnya terus memproduksi sperma. Karenanya, pria bersedia "mengejar-ngejar", dan wanita memahami itu.

Jangankan manusia, bahkan binatang pun tahu hal itu. Hewan-hewan betina tahu kalau hewan-hewan jantan bersedia melakukan apa pun demi bisa ngeseks. Badak jantan, misalnya, bersedia mengikuti badak betina sampai lama sekali untuk pedekate, demi diizinkan ngeseks dengannya.

Burung bower (bowerbird) jantan menghabiskan banyak waktu dan tenaga demi membangun sarang indah, dengan aneka pernak-pernik kemilau, demi menarik perhatian bowerbird betina yang matere. Intinya sama saja, untuk ngeseks, berkembang biak, beranak pinak—sesuai tuntutan evolusi.

Contoh-contoh lain masih banyak sekali, merentang dari hewan-hewan kecil semacam kutu atau cacing, sampai yang besar seperti kuda nil atau paus. Intinya, terkait urusan seks, mereka tak jauh beda dengan manusia. Bedanya, manusia mengglorifikasi aktivitas itu secara berlebihan.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, bisa panjang sekali, dan mungkin akan selesai tahun 2918. Intinya, sekarang, aku sama sekali tak percaya dengan segala macam glorifikasi ndakik-ndakik terkait [kenikmatan] hubungan seks. Karena, secara ilmiah, itu cuma B aja.


Kesadaran itulah yang menjadikanku tidak pernah—dan tidak akan pernah—melakukan modus-modus tolol dengan wanita mana pun demi tujuan ngewe. Aku tidak sudi ditipu dan dikibuli fantasiku sendiri. Wong paling cuma B aja, tapi harus buang waktu dan energi untuk modus segala macam.

“Semua yang kita lakukan sebenarnya demi pemuasan libido,” kata Freud. Dan pemuasan libido, sayangnya, B aja. Belakangan, kesadaran itu pula yang membuatku lebih santai dalam menjalani hidup. Tanpa hasrat macam-macam, tanpa khayalan ndakik-ndakik, dan tak sudi melakukan modus!

Kalau kita memang sama-sama tertarik, aturanku sederhana; mari buat segalanya lebih mudah! Kalau kau ingin drama yang rumit dan berbelit-belit, dengan segala macam modus tolol yang cuma buang-buang waktu dan tenaga, mohon maaf... aku lebih suka sibuk belajar dan bekerja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Februari 2020.

Hati yang Berdetak

Satu menit bagi benci terasa satu jam. Satu jam bagi cinta terasa satu menit. Waktu bukanlah jarum yang bergerak, tetapi hati yang berdetak.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Kutemukan Cinderella

Kutemukan Cinderella tadi siang. Berbaju putih panjang, seperti duduk di antara awan. Ehm... ada yang tahu dimana sepatunya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Kejujuran dan Integritas

Kejujuran dan integritas merayap seperti ular. Kebohongan dan publisitas melesat seperti elang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Ngidam

Oooh, ternyata "ngidam" tuh berasal dari kata dasar "idam" >> mengidamkan, mengidam, ngidam. *Ngerasa layak dapet Nobel*


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Siomay Bandung

Seenak-enaknya siomay "khas" Bandung, masih lebih enak siomay yang ada di Bandung. #StudiEmpiris


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Jauh Lebih Sulit

Memaafkan diri sendiri kadang-kadang jauh lebih sulit dibanding memaafkan orang lain. Pun meminta maaf pada diri sendiri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Agustus 2012.

Inka Christie

Ternyata lagu-lagu lama Inka Christie tuh enak banget. Sekarang gimana kabarnya wanita itu, ya?

Ooh... dan ternyata Inka Christie masih lajang!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Agustus 2012.

Selera Canda

Ternyata, selera canda masing-masing orang bisa berbeda. Yang lucu bagi kita bisa sangat serius bagi orang lain. Pun sebaliknya.


*) Ditransksrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Mudah Curiga

Yang paling menjengkelkan di dunia ini adalah orang yang mudah curiga. Setulus apa pun kita berbuat, dia tetap curiga.

Orang yang mudah curiga biasanya tidak mengenal ketulusan. Karenanya, dia pun selalu curiga, karena dianggapnya orang lain sama dengannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Socrates di Twitter

Kalau Socrates aktif di Twitter, mungkin tweet-nya setiap hari cuma, "Aku tidak tahu apa-apa... Aku tidak tahu apa-apa... Aku tidak tahu..."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Justru

Oh, justru.

Selasa, 28 April 2026

Anak Kuntilanak, Anak Genderuwo

Omong-omong soal anak kuntilanak...

Sambil nunggu udud habis.

Berita konyol soal "anak kuntilanak" ini mengingatkanku pada kasus serupa, pada era 2000-an.

Waktu itu, ada seorang pria bernama Tebo, yang memiliki kelainan tubuh, sehingga kulit di tubuhnya ditumbuhi bercak-bercak hitam berambut. Sekilas, penampilan Tebo tampak "menyeramkan".

Tapi sebenarnya dia orang biasa, dalam arti anak manusia seperti umumnya, hanya saja kebetulan memiliki kelainan pada kulit. Andai Tebo anak orang kaya, dia tentu sudah dibawa berobat ke dokter untuk mengatasi masalah kulitnya. Tapi dia anak orang miskin yang tinggal di kampung.

Sosok Tebo mulai dikenal publik secara luas, ketika seorang paranormal mengklaim* bahwa "Tebo anak genderuwo, dan Nyi Roro Kidul menitipkan Tebo kepada paranormal tersebut untuk dirawat."

Media memuat beritanya.

*Dia mengadakan semacam jumpa pers, waktu itu.

Paranormal itu menyatakan bahwa dia menemukan Tebo ketika Tebo masih anak-anak. (Waktu berita mengenai Tebo heboh di Indonesia, usia Tebo sekitar 30-an).

Meski telah bertahun-tahun lalu, rekaman di memoriku masih dapat mengingat pernyataan paranormal itu. Dan inilah katanya...

Inilah kalimat yang ia katakan waktu itu, "Saya menemukan dia (Tebo) saat sedang merangkak di pinggir pantai Laut Selatan."

Para jurnalis waktu itu bertanya soal penemuan tersebut, dan si paranormal menyatakan, "Nyi Roro Kidul menitipkan anak itu kepada saya."

Terdengar konyol?

Meski mungkin terdengar konyol, nyatanya media-media waktu itu memuat berita tersebut, dan "Tebo anak genderuwo" seketika bikin heboh di Indonesia.

Sekadar catatan, di masa itu ada cukup banyak media cetak (tabloid maupun majalah) yang membahas hal-hal klenik dan masalah gaib.

Sosok Tebo (pose andalannya sedang duduk telanjang dada dan memamerkan "tompel-tompel hitamnya") bahkan menghiasi sampul aneka majalah dan tabloid, waktu itu.

Sekali lagi, meski mungkin ini terdengar konyol, ada banyak orang yang percaya kalau Tebo benar-benar anak genderuwo!

Urusan ini, meski mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya rumit, karena ada aneka kepentingan di dalamnya yang saling membelit.

Sori, sebelumnya aku mengira ocehan ini bakalan singkat saja, tapi sepertinya bakal panjang, karena aku harus mengungkapkan bagian penting ini.

Ketika berita Tebo heboh di Indonesia, sebenarnya telah tampak kejanggalan yang sangat nyata. Yaitu usia Tebo (ketika berita itu heboh) dan usia si paranormal yang mengklaim menemukan Tebo ketika masih anak-anak. ("Saya menemukannya saat dia sedang merangkak di pinggir pantai.")

Ketika berita itu heboh, usia Tebo sekitar 30-an. Sementara usia si paranormal sekitar 40-an. Bagaimana dia bisa "menemukannya saat dia (Tebo) merangkak di pinggir pantai"?

Orang yang cukup kritis pasti melihat kejanggalan itu. Tapi urusan ini sangat rumit, dan saling membelit.

Sekarang kita masuk ke inti persoalan, dan kenapa urusan yang sepele ini bisa sangat rumit.

Beberapa jurnalis—yang tidak terjebak dalam konflik kepentingan terkait Tebo—melakukan investigasi, untuk mengungkap siapa Tebo sebenarnya. (Waktu itu latar belakang Tebo masih gelap).

Investigasi itu juga tidak bisa dibilang mudah, karena si paranormal "menyembunyikan" Tebo, sekaligus meminta semua orang yang mengenal Tebo agar tutup mulut, termasuk kedua orang tua Tebo. 

Jadi para jurnalis waktu itu seperti menghadapi tembok-keparat yang tidak tertembus.

Investigasi waktu itu berhasil menemukan alamat Tebo, siapa orang tuanya, keluarga dan saudaranya, tapi semuanya tutup mulut!

Singkat cerita, agar ocehan ini tidak bertele-tele, belakangan para jurnalis akhirnya bisa mengorek keterangan sebenar-benarnya dari mulut Tebo sendiri!

Dan inilah yang dikatakan Tebo waktu itu, "Saya diminta Pak X (paranormal) agar mengaku anak genderuwo. ... Saya mengiyakan permintaan itu, karena Pak X membiayai hidup saya dan orang tua saya."

Jadi, si paranormal menemukan Tebo setelah Tebo dewasa, dan "tampak menyeramkan".

Tebo mengikuti permintaan si paranormal, mengaku sebagai anak genderuwo, dan, sebagai timbali balik, si paranormal membiayai kebutuhan hidup Tebo serta orang tuanya. Itulah kenapa orang tua dan keluarga Tebo memilih tutup mulut pada jurnalis, seperti yang diminta si paranormal.

Lalu apa keuntungan yang didapat si paranormal dari hal itu? Jawabannya sederhana; popularitas! (Kalau menggunakan istilah sekarang; jadi viral!)

Menggunakan popularitasnya, ditambah iklan komersial di banyak media, si paranormal bisa "memanen" hasil; pasien yang berdatangan.

Dan dari situlah konflik kepentingan dimulai.

Tebo dan keluarganya "terikat" pada si paranormal, karena si paranormal membiayai kehidupan mereka. Media-media waktu itu tidak bisa frontal mengungkap kebohongan kasus tersebut, karena ada gelontoran uang iklan dari si paranormal.

Semuanya saling membutuhkan. Tebo dan keluarganya butuh si paranormal. Si paranormal butuh menjaga popularitasnya melalui iklan media, agar dapat pasien. Dan media butuh mendapat pemasukan dari iklan.

Akhirnya, siapa yang jadi korban? Masyarakat luas yang menelan kebohongan itu!

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, bisa panjang sekali, tapi ududku habis.

Sekadar penutup, gara-gara kasus Tebo pula, beberapa jurnalis akhirnya mengungkap praktik-praktik kebohongan paranormal lain, termasuk orang yang mengaku "Raja Santet" waktu itu, dan satu per satu terungkap.

Yang paling biadab dari praktik-praktik kebohongan itu adalah seorang pria yang ngaku "orang pintar" dan telah berhasil membodohi ribuan orang miskin, berkat iklan di banyak media. Dia bisa beli BMW dari praktik pembohongan/pembodohannya, sementara korban-korbannya makin miskin.

Oh, bukan hanya membeli BMW (yang tergolong sangat "mahal" untuk ukuran waktu itu), dia bahkan bisa membangun rumah mewah dan bergaya hidup jetset, dengan membohongi orang-orang miskin yang menelan mentah-mentah kebohongannya.


*) Dikutip dari timeline @noffret, 16 Oktober 2022.

Tak Dalam

"Air beriak tanda tak dalam," kata pepatah. Tapi air dalam gelas juga tampak tenang. Meski tak dalam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juli 2012.

Menyedihkan

Menyedihkan bukan saat dunia tak menatap ke arahmu. Tapi saat kau berteriak-teriak agar mereka menatapmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Juli 2012.

Menyanyikan Luka

Hei, Langit, tolong katakan pada Bulan agar segera pulang. Ini sudah malam...

Lalu Bulan muncul. Serigala keluar dari kegelapan, dan melolong penuh kerinduan. Bintang-bintang berdansa, Malam menyanyikan luka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Cara untuk Jatuh Cinta

Satu wanita, dua lelaki. Yang satu jelmaan vampir, satu lagi manusia serigala. Kita tak pernah kehabisan cara untuk jatuh cinta.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Bungkus Kacang Rebus

Aku suka beli kacang rebus yang dibungkus kertas. Kacangnya enak, dan kertas pembungkusnya sering berisi tulisan tak terbayangkan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juli 2012.

Janda Makin Banyak

"Menikah akan membuatmu tenteram, bahagia, dan lancar rezeki."

Faktanya:



*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Oktober 2019.

Kelaparan

Kelaparan memicu kemarahan. #BarusanMarahKarenaLapar


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Februari 2012.

Hih.

Hih. Sumpah. Geli. Campur gimana gitu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Juli 2012.

Tidak Butuh Sayap

Kita tidak butuh sayap untuk terbang. Tetapi kita juga tidak perlu menjalani hidup dengan merangkak.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Juli 2012.

Sudahlah...

Kata-kata paling gimanaaaa gitu di dunia ini: "Sudahlah..."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Masa Depan

Masa depan kita ditentukan oleh impian kita. Jadi, ayo tidur sekarang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Minggu, 01 Maret 2026

Takdir dan Kebetulan

Ramadan tahun kemarin, Rusli mengadakan buka bersama yang “aneh”, dengan mengundang satu teman per hari untuk buka bersama di rumahnya, dari awal sampai akhir Ramadan. Saya termasuk salah satu teman yang ia undang, dan kalian bisa membacanya di sini: Buka Bersama Kaum Introver

Ramadan tahun ini, Rusli kembali mengadakan acara buka bersama dengan cara yang sama, dan saya kembali menjadi salah satu teman yang ia undang.

Malam itu, sambil menikmati jajan dan teh hangat, kami ngobrol-ngobrol santai. Rusli bercerita, “Aku pernah diminta mengantar famili kondangan ke Yogya. Sesampai di Yogya, familiku mengikuti acara kondangan, sementara aku keluyuran sendirian di sana. Ketika lagi makan donat di sebuah gerai, aku ketemu teman, dan kami ngobrol sambil makan. Ternyata, dia lagi mengantar istrinya yang mau mengurus hal-hal administratif di kampusnya. Sementara istrinya masih di kampus, dia kelaparan, dan, ndilalah, dia masuk ke gerai donat yang aku masuki, hingga kami ketemu. Apakah cerita ini terdengar aneh?” 

“Nggak,” saya menjawab, “itu cerita yang biasa aja.”  

Rusli tersenyum, “Sekarang cerita kedua. Kakakku perlu ketemu seseorang di Bali, terkait bisnisnya, tapi kakakku jatuh sakit. Jadi, dia lalu memintaku untuk mewakilinya ke sana, dan aku pun pergi ke Bali. Setelah urusan itu selesai, aku jalan-jalan, mumpung di Bali. Aku nggak punya seorang pun teman di sana, jadi nggak mungkin ketemu orang yang kenal. Tetapi, waktu lagi keluyuran, aku ketemu teman, yang waktu itu baru menikah. Si istri mengajaknya ke Bali, dan ndilalah kami ketemu di sana. Sampai di sini, apakah ceritaku ada yang aneh?” 

“Nggak. Menurutku, ceritamu nggak aneh sama sekali.”

Rusli kembali tersenyum. “Sekarang cerita ketiga. Sepupuku kuliah di Australia, dan suatu waktu aku menemuinya di sana. Satu-satunya orang yang aku kenal di Australia cuma sepupuku, jadi aku sama sekali nggak terpikir bakal ketemu orang lain yang juga aku kenal. Tapi entah gimana, aku ketemu seorang teman yang juga kebetulan ada di sana, dan kami sama-sama kaget. Itu pertemuan yang sama sekali nggak kami duga, bahkan dia sampai bercanda, ‘jauh-jauh aku ke Australia, ketemunya kamu lagi!’ Nah, sampai di sini, kamu udah melihat ada yang aneh?”

Saya bertanya, “Teman yang ketemu kamu di Yogya, di Bali, dan di Australia itu, orang yang sama atau orang yang berbeda-beda?” 

“Mereka tiga orang yang berbeda. Teman yang ketemu di Yogya adalah teman zaman SMA, sementara teman yang ketemu di Bali dan Australia adalah teman kuliah.” 

“Kalau gitu, ceritamu nggak aneh, sih.”

“Oke, kalaupun itu nggak aneh, kenapa bisa terjadi? Kenapa kok bisa-bisanya aku ketemu teman di tempat-tempat yang jauh, yang aku pikir nggak ada orang yang aku kenal?”

“Mungkin karena kamu punya banyak teman.”

Rusli terdiam sesaat, lalu berkata ragu-ragu, “Itu memang masuk akal. Mungkin temanku emang banyak, jadi kemungkinan ketemu teman di tempat-tempat jauh bisa aja terjadi. Tapi kenapa bisa terjadi?”

“Karena kebetulan.”

Rusli tampak tidak puas. “Aku juga semula mikir gitu. Bahwa semua itu terjadi karena kebetulan. Tapi mosok sampai tiga kali? Rasanya, kok, nggak ilmiah.”

“Sebenarnya sangat ilmiah, Rus,” saya menjawab. “Jika teman yang nggak sengaja ketemu kamu sampai tiga kali adalah orang yang sama, kita sepakat itu memang aneh. Tapi kalau teman yang ketemu kamu adalah orang yang berbeda-beda, itu sangat wajar, dan bisa selalu terjadi. Jangankan tiga kali, kebetulan seperti yang kamu alami bahkan bisa terjadi sampai lebih dari lima kali. Dan sifatnya tetap kebetulan.”

Rusli tercenung. “Aku masih belum paham bagaimana kebetulan semacam itu bisa terjadi.”

“Kalau gitu, kamu perlu belajar teori probabilitas,” saya tersenyum. “Dan omong-omong soal probabilitas, kayaknya aku perlu udud.”

Kami lalu menyesap minuman di gelas, dan menyulut udud.

Setelah mengisap rokoknya sesaat, Rusli berkata, “Oke, jelaskan.”

“Jelaskan apa?”

“Itu, teori probabilitas.”

Saya mengisap rokok, dan, seiring asap mengepul, saya berkata, “Secara probabilitas, sangat kecil kemungkinan kita berdua punya tanggal lahir sama. Ada 365 tanggal dalam setahun, dan peluang kita punya tanggal lahir sama benar-benar seimbang dengan peluang kita punya tanggal lahir berbeda. Jadi, tingkat probabilitas untuk kesamaan tanggal lahir kita adalah nol persen. Karena kita di sini cuma dua orang, dan itu artinya 2 banding 365.   

“Sekarang, jika kita menambahkan Adit di sini, artinya ada tiga orang, dan tingkat probabilitasnya naik jadi 0,82 persen. Kamu, Adit, dan aku, kemungkinannya masih kecil untuk punya tanggal lahir sama, karena 3 banding 365. Tetapi, jika kita terus menambahkan orang-orang lain, tingkat probabilitasnya terus naik signifikan. Jika ada 23 orang berkumpul di sini, ada kemungkinan dua orang memiliki tanggal lahir sama, karena tingkat probabilitasnya udah mencapai 50 persen! Bisa membayangkan grafiknya?”

Rusli terdiam, seperti berusaha mencerna penjelasan saya.

Setelah Rusli tampak paham, saya melanjutkan, “Fakta probabilitas ini sering kali nggak terpikir kebanyakan orang, karena rata-rata orang mengira kemungkinannya sangat kecil untuk punya tanggal lahir sama dengan orang lain, khususnya dalam kelompok kecil. Kebanyakan orang mengira harus ada kelompok sangat besar untuk menemukan orang lain yang punya tanggal lahir sama dengannya. Padahal, hanya dengan mengumpulkan 23 orang aja, kita udah hampir dapat memperkirakan ada dua orang yang punya tanggal lahir sama.  

“Probabilitas ini pula yang terjadi waktu kamu ketemu orang-orang yang kamu kenal di tempat-tempat yang nggak terduga. Kamu mengira itu aneh, sama kayak kebanyakan orang mengira nggak mungkin ketemu orang yang punya tanggal lahir sama dalam kelompok yang hanya berisi 20-an orang. Tapi begitu kita paham bagaimana probabilitas bekerja, hal-hal semacam itu nggak aneh lagi.”

Rusli tampak ragu-ragu. “Jadi, yang aku alami—ketemu tiga teman berbeda di tempat-tempat yang nggak terduga—sebenarnya cuma kebetulan?”

“Secara probabilitas, ya.” 

Rusli menggerutu, “Kebetulan yang sangat aneh.”

Saya tertawa. “Sering kali, kebetulan emang bisa sangat aneh, dan kita kayak nggak terima kalau itu disebut kebetulan. Tapi mau gimana lagi, wong itu cara semesta bekerja.”
 
“Maksudmu, semesta bekerja dengan cara kebetulan?”

“Aku nggak bermaksud mengatakan begitu. Maksudku, cara alam semesta bekerja sering kali nggak seperti yang kita pikirkan. Bagi kita, mungkin, sesuatu adalah aneh, ajaib, atau nggak masuk akal. Tapi bagi semesta kehidupan kita, hal-hal yang kita anggap aneh, ajaib, atau nggak masuk akal itu sebenarnya biasa-biasa aja—nggak aneh sama sekali, dan nggak ajaib sama sekali.”

Rusli manggut-manggut, sementara saya mengisap rokok.

Sesaat kemudian, saya berkata, “Pernah dengar kebetulan sangat aneh terkait John F. Kennedy dan Abraham Lincoln? Itu mungkin kebetulan paling aneh di muka bumi.”

Rusli tertarik. “Ceritakan.”

“Perhatikan yang kukatakan, karena ini akan terdengar sangat aneh.” Saya mengisap rokok, lalu memulai, “Abraham Lincoln dan John F. Kennedy adalah dua Presiden Amerika yang tewas karena terbunuh, dan keduanya sama-sama ditembak, pada hari Jumat. Mereka sama-sama tertembak di kepala bagian belakang, dan sama-sama di hadapan istrinya. Orang yang menembak Lincoln bernama John Wilkes Booth, dan orang yang menembak Kennedy bernama Lee Harvey Oswald. Kedua pembunuh itu sama-sama tewas sebelum dibawa ke pengadilan, dan keduanya punya nama yang terdiri dari lima belas huruf dan tiga kata. Setelah Lincoln tewas, ia digantikan Andrew Johnson. Dan ketika Kennedy tewas, ia digantikan Lyndon Johnson.

“Lincoln ditembak saat berada di teater bernama Ford, dan pembunuhnya kemudian lari ke sebuah gudang. Kennedy ditembak saat berada di mobil Ford, dan pembunuhnya menembak dari sebuah gudang, lalu melarikan diri ke gedung teater. Seminggu sebelum tewas, Lincoln berada di Kota Monroe. Dan Kennedy, seminggu sebelum tewas, diketahui bersama artis Marylin Monroe. Apakah semua itu terdengar aneh?”

Rusli mengangguk sambil tersenyum.

Saya kembali melanjutkan, “Yang lebih aneh adalah semua peristiwa itu tepat terjadi dalam kurun seratus tahun! Abraham Lincoln terpilih oleh Kongres pada tahun 1846, John F. Kennedy terpilih oleh Kongres pada 1946. Lincoln jadi presiden tahun 1860, Kennedy jadi presiden tahun 1960. Andrew Johnson, yang menggantikan Lincoln, lahir pada tahun 1808. Lyndon Johnson, yang menggantikan Kennedy, lahir pada 1908. John Wilkes Booth, yang membunuh Lincoln, lahir pada 1839. Lee Harvey Oswald, yang membunuh Kennedy, lahir pada 1939. Dan daftar yang aneh ini masih panjang sekali kalau kulanjutkan, sampai orang-orang Amerika menyebut peristiwa itu dengan istilah The Lincoln/Kennedy List of Coincidences. Jadi, menurutmu, bagaimana semua keanehan itu bisa terjadi?”

Rusli tampak bingung, lalu balik bertanya, “Menurutmu sendiri, bagaimana semua itu terjadi?”

“Sejujurnya, waktu pertama kali tahu semua keanehan itu, aku mengira itu keajaiban atau konspirasi, atau semacamnya. Rasanya sangat sulit untuk menerima kalau semua peristiwa yang nyaris persis dalam kurun seratus tahun itu terjadi secara kebetulan. Tapi setelah memahami probabilitas, akhirnya aku harus menerima kalau semua peristiwa yang sangat aneh itu memang kebetulan.”

Rusli berkata, “Menurutku, kalau semua itu memang kebetulan, kayaknya itu kebetulan yang nggak masuk akal.”

“Setuju, dan kita menyebutnya nggak masuk akal karena nggak mau menerima teori probabilitas.”

Hening sesaat, lalu Rusli berujar, “Maksudmu, kalau kita mau memahami dan menerima teori probabilitas, semua hal yang terjadi dalam kehidupan ini adalah kebetulan?” 

Saya berkata perlahan-lahan, “Mungkin terdengar aneh, atau bahkan terdengar kurang ajar, tapi jawabannya ya. Semua yang terjadi, yang kita alami dari waktu ke waktu, sebenarnya kebetulan. Sejujurnya, aku butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami dan menerima kenyataan itu, dan butuh waktu bertahun-tahun lagi untuk membuktikannya sendiri. Dan ketika akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa semua yang kita hadapi di dunia ini adalah kebetulan, aku benar-benar tercengang sampai sangat... sangat lama.”

Hening kembali menggantung.

“Sori, aku belum benar-benar paham,” ujar Rusli kemudian. “Tolong jelaskan dengan sederhana, agar aku benar-benar mudheng.” 

Saya butuh mikir beberapa saat, lalu berkata, “Mengapa kamu dilahirkan oleh ibumu, dan aku dilahirkan oleh ibuku? Kita menyebutnya takdir. Dan dalam spektrum probabilitas, yang kita sebut takdir itu sebenarnya kebetulan. Kamu kebetulan dilahirkan ibumu, dan aku kebetulan dilahirkan ibuku. Kita nggak bisa memilih dari siapa dilahirkan, dan kita nggak bisa memilih lahir di mana atau berjenis kelamin apa. Itu apa namanya kalau bukan kebetulan?”

Entah kenapa, Rusli tersenyum lebar. “Lanjutkan.”

“Kamu pernah berpikir kenapa kita bisa ketemu, saling kenal, bahkan berteman sampai sekarang? Kita tumbuh di tempat berbeda, tinggal di tempat berbeda, sekolah dan kuliah di tempat berbeda, tapi kebetulan kita mengenal orang yang sama. Aku berteman dengan Miko, dan kamu juga berteman dengan Miko. Itu kebetulan, dan kebetulan itu lalu mempertemukan kita, hingga saling kenal, dan berteman. Jika Miko dihilangkan dari hidup kita, sampai sekarang kita pasti masih asing satu sama lain, karena nggak ada penghubung yang menjembatani. Dan bagaimana Miko bisa ada di kehidupan kita? Ya karena kebetulan. Kebetulan kamu sekampus dengan Miko, dan kebetulan aku pernah bekerja dengan Miko.”

Saya mengisap rokok yang makin memendek, lalu meneruskan, “Dulu, setelah lulus kuliah, kamu melamar kerja ke perusahaan tempatmu bekerja sekarang. Ketika dulu mengirim surat lamaran ke perusahaan itu, bisakah kamu memastikan bakal diterima atau ditolak? Nggak bisa! Fakta bahwa lamaranmu ke perusahaan itu diterima, hingga kamu bekerja di sana, semata karena kebetulan. Mungkin kamu pede lamaranmu diterima karena kamu pintar. Tapi bagaimana kamu tahu kalau ternyata ada orang-orang lain yang lebih pintar dari kamu juga melamar ke sana, tapi ditolak karena alasan tertentu yang kamu nggak tahu?

“Begitu pun, umpama kamu naksir seorang wanita, dan menyatakan cinta kepadanya, bisakah kamu memastikan bakal diterima atau ditolak? Kemungkinan besar sulit, apalagi mengingat wanita juga sulit ditebak. Mungkin kamu berpikir wanita itu menerima kamu karena juga jatuh cinta kepadamu. Tapi siapa yang bisa memastikan itu? Bagaimana kalau ternyata dia juga dekat dengan pria lain, tapi lalu memilihmu dengan pertimbangan tertentu yang kamu nggak tahu? Dan jangan lupakan bahwa kamu ketemu wanita itu karena kebetulan, mungkin kebetulan kerja di tempat sama, atau kebetulan bertemu di tempat tertentu, atau kebetulan kenal di media sosial. Kamu jatuh cinta kepadanya juga kebetulan, karena kamu pasti bertemu dengan wanita-wanita lain, tapi kebetulan aja kamu jatuh cinta pada wanita yang satu itu, lalu kalian jadian. Artinya, jika sewaktu-waktu kamu dan wanita itu menikah dan beranak pinak, semua itu terjadi karena kebetulan!”

Rusli manggut-manggut. “Sekarang aku paham penjelasanmu, tapi sejujurnya masih sulit untuk menerima kalau semua itu disebut kebetulan.”

Saya tersenyum. “Ya, kamu maunya semua itu disebut takdir.”

Rusli tertawa. 

Setelah terdiam beberapa saat, saya berujar, “Umpama, sekali lagi umpama, kamu dan serombongan orang naik bus untuk pergi ke suatu tempat. Di tengah perjalanan, bus yang kalian tumpangi jatuh ke jurang. Semua penumpang bus itu tewas, kecuali kamu. Fakta bahwa kamu satu-satunya orang yang selamat dalam kecelakaan itu, sementara orang-orang lainnya tewas semua, akan kamu sebut apa?”

“Takdir,” jawab Rusli.

“Ya,” saya mengangguk. “Dan teori probabilitas menyebutnya kebetulan.”

Rusli mematikan puntung rokoknya ke asbak, lalu berkata, “Baiklah, aku paham. Takdir adalah istilah religius, sementara kebetulan adalah istilah ilmiah. Dan kalau memang begitu, berarti keduanya—takdir dan kebetulan—adalah sama?”

Sekali lagi saya mengangguk. “Sekarang kita sampai pada bagian yang paling penting. Kita bisa mempelajari kebetulan dengan memahami teori probabilitas. Jika kita memahami teori probabilitas, kita bisa melihat cara kerja kebetulan. Dan jika kita memahami bagaimana kebetulan terjadi... kita akan memahami sesuatu yang kita sebut takdir.”

Melewati Hari

Malam menanti pagi, hidup menunggu usai, dan manusia merajut harap. Kita melewati hari seperti duduk di bawah atap, menunggu hujan reda.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Agustus 2012.

Racun Doktrin

“Rezeki sudah ada yang mengatur,” katanya. Yang mengatur ternyata elite global. Tapi, tentu saja, mereka tidak mengatakannya. Karena memang tidak tahu, dan hanya percaya sepenuhnya bahwa “rezeki sudah ada yang mengatur”—tepat seperti doktrinasi yang mereka terima.

“Jangankan manusia, bahkan hewan saja sudah memiliki rezeki sendiri-sendiri.” Padahal jutaan orang mati kelaparan di berbagai belahan dunia, sementara jutaan hewan lenyap dari muka bumi karena alasan yang sama. Tapi tetap saja, pokoknya “rezeki sudah ada yang mengatur.” 

Mengapa orang-orang tetap percaya sepenuh hati bahwa “menikah akan membuatmu bahagia”, meski jutaan pasangan bercerai? Mengapa orang-orang kukuh meyakini “setiap anak memiliki rezeki sendiri”, padahal jutaan anak telantar, terbuang, dan kelaparan dan mati di mana-mana? 

Profesor Eileen Barker, dari London School of Economics, menjawab peryanyaan itu, “Ketika sebuah ramalan terbukti gagal, orang justru semakin mempercayainya, terutama jika mereka tidak hanya menginvestasikan uang, tapi juga keyakinan, reputasi, dan kecerdasan.”

Tak bisa lebih setuju lagi.

Yang Paling Ditakuti Manusia

Apa yang paling ditakuti manusia? Bukan bencana, bukan pula kemiskinan atau penderitaan. Yang paling ditakuti manusia adalah jika sesuatu yang mereka yakini sebagai kebenaran mutlak dan tak mungkin salah... ternyata salah!

And then, itulah kenapa banyak orang memilih untuk tidak pernah berpikir sama sekali, karena berpikir bisa membuat mereka “kesakitan”. Itu pula jawaban mengapa banyak orang bisa terus menerus dibohongi, dikendalikan, dan dimanipulasi. Karena “merasa benar” terasa menyenangkan daripada menyadari kebalikannya.

Hidupmu adalah Milikmu

Jalani hidupmu seperti yang kamu inginkan, karena kamulah yang menjalani, dan kamu pula yang akan bertanggung jawab pada seluruh kehidupanmu. 

....
....

Ada orang-orang di sekitar kita yang punya penyakit mental tanpa mereka sadari, yaitu merasa lebih tahu tentang hidup orang lain, lalu mengatur-atur bagaimana caramu hidup, seolah mereka lebih tahu darimu, padahal itu hidupmu, dan kamulah yang menjalani kehidupanmu.

Kamu akan sering mendengar orang menyarankan agar kamu segera menikah, misalnya, dan orang-orang itu bisa menyampaikan aneka alasan yang terdengar masuk akal. Tapi ingatlah selalu, kamu yang menjalani hidupmu, bukan orang lain. Jadi tentukan pilihanmu sendiri.

Kalau kamu menuruti saran orang-orang lain untuk menikah, dan kamu tidak bahagia, apakah mereka akan bertanggung jawab? Tidak! Kamulah yang menjalani, dan kamu pula yang akan bertanggung jawab. Sementara orang-orang yang menyuruhmu menikah tidak akan peduli.

Kalau kamu mengikuti omongan orang agar kamu begini atau harus begitu, lalu kamu merasa tertekan menjalaninya, apakah orang-orang itu akan bertanggung jawab? Juga tidak! Mereka hanya ngomong, nyinyir, mbacot, tapi pada akhirnya kamulah yang menjalani dan yang bertangung jawab.

Orang-orang yang suka mengatur-atur kehidupanmu sering kali tidak peduli dengan kehidupanmu. Mereka hanya pada peduli dengan dirinya sendiri. Kamu akan tahu kebenaran pahit ini saat hidupmu kandas di titik terbawah, dan menyadari orang-orang yang banyak bacot itu menghilang.

Pada akhirnya, hidupmu adalah milikmu, karena kamulah yang menjalani. Karena kamu yang menjalani, kamu lebih tahu yang terbaik. Jadi jalani kehidupanmu dengan cara terbaik versimu sendiri. Orang lain punya hidup mereka sendiri, dan kamu punya hak untuk berbeda. 

Aku Berpikir

Sering kali aku berpikir, salah satu kenikmatan di dunia ini adalah berpikir.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juli 2012.

Kehidupan

Dalam satu waktu yang sama, dua kehidupan sedang berjalan. Atau lebih. Dengan kita di tengahnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Juli 2012.

Lapar yang Tidak Environmental

Lapar jam segini adalah kondisi yang sangat tidak environmental.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Februari 2019.

Lebih Banyak Pertanyaan

Tidak semua jawaban menjawab pertanyaan. Kadang-kadang, lebih banyak pertanyaan di dalam jawaban.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

Cania

Cania adalah bukti nyata sekaligus tak terbantah bahwa hidup ini tidak adil. Tetapi, well... siapa yang mengatakan hidup ini adil?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Oktober 2022.

Takdir Hidup

Takdir hidup kita kadang-kadang sangat jelas. Sebegitu jelas, sampai-sampai kita tidak paham.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

Sabtu, 28 Februari 2026

Tolak Perkawinan Anak!

Anak-anak menikah tanpa pikiran matang, tanpa kesadaran, tanpa tanggung jawab, dan hanya bermodal khayalan angin sorga yang diembuskan para pembual. Lalu mereka melahirkan anak-anak terluka, kesepian, dan menyesali kelahirannya. Betapa muram wajah manusia.

#tolakperkawinananak

Penyakit klasik orang-orang yang menikah: Enaknya dikoar-koarkan, tapi keblangsaknya disimpan. Alasannya klasik, "Tidak baik membuka aib rumah tangga sendiri." Sudah paham membuka aib tidak baik, tapi doyan ngibul dan terus berusaha menjerumuskan orang lain.

#tolakperkawinananak

Kalau kau sudah menikah, dan ingin mengatakan hal-hal indah terkait pernikahan, pikirkan ini, "Apakah aku akan bersedia jujur menjelaskan tidak enaknya menikah?" Jika jawabannya tidak, sebaiknya tutuplah mulutmu, daripada membual dan menyesatkan orang lain.

#tolakperkawinananak

Kalau saja orang-orang yang telah menikah mau jujur mengungkapkan bahwa mereka menyesal dan keblangsak setelah menikah, setidaknya anak-anak/remaja akan berpikir ulang terkait pernikahan. Tapi mereka malu, tentu saja. Jadi, alih-alih jujur, mereka membual.

#tolakperkawinananak

Salah satu penyebab besar yang menjadikan banyak anak (dan remaja) tergoda menikah, karena ada banyak pembual yang doyan ngibul tentang indahnya perkawinan, sambil menutupi kepedihan dan penyesalan yang mereka alami. Merekalah sumber masalah pernikahan dini.

#tolakperkawinananak

Belum ada setahun lalu, seorang perempuan yang kukenal menikah pada usia 20 tahun. Beberapa bulan kemudian, dia curhat dengan sedih mengenai perkawinannya, dan mengatakan, "Menikah adalah kesalahan terbesar yang telah kulakukan, dan aku sangat... sangat menyesal."

#tolakperkawinananak

‏Jadi, wanita-wanita yang usianya masih di bawah 30 tahun, apalagi di bawah 25 tahun, sebaiknya tidak sok pacar-pacaran, apalagi ngimpi tentang pernikahan. Kalian masih anak-anak! Jauh lebih baik gunakan waktumu untuk belajar dan mengembangkan diri.

#tolakperkawinananak

Sebagai bocah, aku memandang wanita yang usianya di bawah 25 tahun sebagai "anak-anak". Bahkan telah berusia 25 tahun ke atas pun, kadang wanita masih tampak kekanak-kanakan, jauh dari kesan dewasa. Pikirku, sungguh tak bermoral menikahi "anak-anak".

#tolakperkawinananak

Usia ideal menikah, menurutku, adalah setelah usia 30, saat manusia mencapai puncak kematangan fisik, psikis, spiritual, intelektual, dan enviromental. Yang pria sudah paham tanggung jawab, yang wanita juga sudah tidak kekanak-kanakan. 

#tolakperkawinananak

Dalam perspektif seorang bocah, perkawinan anak tidak hanya sebatas pada orang (khususnya wanita) yang berusia belasan. Kalau usiamu setidaknya belum 25 tahun tapi sudah kawin, kau termasuk menikah ketika masih anak-anak! Tunggu sampai umurmu dewasa!

#tolakperkawinananak


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 November 2018.

Doktrin Ngapusi di Atas Doktrin Ngapusi

Menikah adalah salah satu metode merekrut teroris baru. Ini terjadi di Sibolga, juga beberapa kasus lain. Sebabnya, laki-laki teroris merasa jika perempuan sudah berstatus istri, dia akan lebih mudah “dibina” dan “dipengaruhi”. —@TirtoID


Rupanya ada orang-orang yang mencari pasangan dan menikah dengan motivasi untuk menjadi teroris. Lalu mereka mati. Dan, tentu saja, mereka pun bahagia selama-lamanya.

Itu namanya doktrin ngapusi di atas doktrin ngapusi.

Bukan cuma pria yang menikahi wanita dengan tujuan untuk "dibina" jadi teroris. Wanita pun ternyata ada yang cari pasangan pria dengan tujuan sama; untuk "dibina" jadi teroris.

Dalam hal ini aku bersyukur, karena wanita menarik bagiku adalah "yang ada mbeling-mbelingnya dikit".

"Mbeling dikit" itu maksudnya tidak lurus dan kaku seperti tiang listrik, alias tidak terlalu konservatif. Orang yang ada "mbelingnya dikit" biasanya lebih enak dijadikan teman, wabilkhusus dijadikan pasangan. Hidup jadi terasa lebih mudah dijalani, karena lebih lentur dan asyik, serta tidak membosankan.

Kalau kelak aku ditakdirkan berjodoh dengan wanita alim yang berjilbab (berjilbab lho, ya, bukan bercadar), aku tidak masalah... asal wanita itu "ada mbeling-mbelingnya dikit". 

....
....

Ingin punya mbakyu yang ada mbeling-mbelingnya dikit, biar aku bisa "dibina" olehnya. Apeuuu...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Maret 2019.

Realitas yang Menyedihkan

Fakta banyaknya anggota gerakan Indonesia Tanpa Pacaran (dan bertendensi ingin menikah dini) adalah realitas yang menyedihkan, bahkan mengerikan. Karena ternyata ada banyak remaja Indonesia yang tidak punya impian apa pun dalam hidup mereka, selain hanya ingin cepat kawin.

Tentu saja menikah hal yang baik, jika pelakunya sudah matang, dewasa, dan menyadari tanggung jawab pernikahan. Yang jadi masalah, kebanyakan mereka yang ngebet kawin justru tidak tahu apa-apa tentang pernikahan, selain iming-iming angin sorga yang belum tentu sesuai kenyataan.

Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran itu bagus, jika—dan hanya jika—diarahkan ke hal yang lebih baik. Misal mengganti waktu pacaran untuk belajar, atau untuk mengembangkan diri. Sayangnya, melarang orang pacaran tapi malah menyodorkan menikah dini. Bukannya bagus, malah merusak.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2018.

Pacaran atau Nikah adalah Soal Pilihan

Pacaran atau menikah adalah soal pilihan. Tapi di Indonesia, pilihan itu dieksploitasi sedemikian rupa, hingga tidak lagi menjadi pilihan. Pacaran diubah menjadi larangan, dan menikah diubah menjadi kewajiban. Jika diperhatikan, eksploitasi itu ujung-ujungnya bisnis dan jualan.

Secara pribadi, aku tidak peduli orang mau pacaran atau tidak, mau kawin atau tidak. Ini negara demokrasi, dan pacaran juga menikah adalah soal pilihan masing-masing. Yang jadi masalah adalah ketika pilihan itu dieksploitasi, hingga seolah orang tak bisa punya pilihan lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 November 2018.

Maybe

Kalau kau wanita dan menunjukkan hasrat atau keinginan menikah, dan ada pria yang mendekatimu, kau bisa percaya bahwa pria itu sama frustrasinya denganmu. Jika dua orang yang sama-sama frustrasi memutuskan untuk menikah... and they happily ever after. Maybe.

Fakta tentang wanita yang jarang diketahui wanita: Ketika seorang wanita menunjukkan hasrat ingin menikah, seketika pesonanya lenyap, dan para pria akan jaga jarak, atau bahkan menjauh. Jika tidak percaya, sila buktikan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2018.

Indonesia Tanpa Pacaran

Alangkah suram masa depan remaja dan anak muda di Indonesia. Mereka dibombardir film dan sinetron tentang pacaran, disuguhi khotbah tentang indahnya perkawinan, hingga yang ada dalam pikiran mereka cuma selangkangan. Dan itu pun masih ditambah Indonesia Tanpa Pacaran.

Andai gerakan Indonesia Tanpa Pacaran mendorong anggotanya untuk belajar alih-alih sibuk pacaran, aku akan menjadi pendukungnya yang terdepan. Sayangnya, gerakan itu justru mendorong anggotanya untuk mikir kawin, kawin, kawin. Itu sangat... sangat menyedihkan.

Kalau mau bisnis, ya bisnis yang wajar sajalah, tidak usah mengeksploitasi jomblo sambil membawa-bawa agama.

Menyuruh-nyuruh orang agar tidak pacaran, tapi ujung-ujungnya jualan, sambil mendorong orang lain untuk cepat kawin tanpa pertimbangan matang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 November 2018.

Yang Kita Butuhkan

Setelah ada Indonesia Tanpa Pacaran, sekarang ada Indonesia Tanpa Feminis. Sebenarnya, yang kita butuhkan adalah Indonesia Tanpa Ngerusuhi Hidup Orang Lain, dan Pergilah ke Neraka!

Games diharamkan. Golput diharamkan. Sementara pecicilan kawin tanpa persiapan malah dibiarkan. Pantas kalau negeri ini makin kacau tak karuan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 April 2019.

Negara Berkembang Biak

Indonesia mungkin bukan negara berkembang, tapi negara berkembang biak. Ciri negara berkembang tuh ya warganya berkembang pikiran dan hidupnya. Sementara di Indonesia, warganya cuma mikir nikah muda, ngewe halal, dan percaya banyak anak banyak rezeki—meski akhirnya keblangsak.

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

Urusan Jodoh dan Poligami

Ada poster berisi kalimat, "Suamimu bukan jodohmu saja, bisa jadi jodoh saya juga." Diikuti tagar ajakan poligami, dan foto dua perempuan berjilbab yang tidak menunjukkan wajahnya.

Sebagai laki-laki, aku ingin ngomong jujur, dan tolong maafkan kalau kasar. 

Aku jijik melihatnya!

Tentu saja laki-laki berhak poligami, terlepas apa pun alasannya, dan itu urusan mereka, toh ada aturannya (meski aku tidak akan ikut melakukan). 

Cuma, kalau ada perempuan yang sampai mengkampanyekan poligami... kira-kira perempuan macam apa yang tidak malu melakukannya?

Kalau kau perempuan, dan menikah dengan laki-laki yang baik, dan perkawinan kalian juga baik-baik saja, tak perlu khawatir. Suamimu tidak akan tergoda dengan perempuan-perempuan yang mengkampanyekan poligami seperti dalam poster itu. Boro-boro tergoda, yang ada malah muak.

Ada sesuatu dalam pikiran laki-laki [waras] yang tidak atau jarang diketahui perempuan:

Jika perempuan menunjukkan hasrat ingin segera menikah, daya tarik perempuan itu seketika sirna, tak peduli semenarik apa pun dia.

Apalagi perempuan yang menunjukkan hasrat dipoligami!

Jika ada yang meragukan pernyataan itu, sila buktikan.

Kalau kau merasa menjadi perempuan menarik yang didekati banyak laki-laki, sekarang tunjukkan bahwa kau ingin segera menikah. Dan aku berani bertaruh, laki-laki yang semula ramai mendekatimu akan perlahan menjauh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 April 2019.

Catatan Lama

Catatan lama yang sedang banyak dibaca:

Hegemoni Nasi Goreng, Monopoli Keyakinan, Kepicikan Ideologi, dan Masalah Terbesar Umat Manusia » http://bit.ly/2dFpgN5 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Maret 2019.

Modus Licik

Ngga pacaran itu bagus. Tapi menyerukan gerakan tanpa pacaran sambil jualan, nah itu yang bahaya. —@the_geotimes


Modus licik Indonesia Tanpa Pacaran (ITP):

Mereka tahu kau butuh pacar (juga ngebet kawin), tapi malu jika ngomong blak-blakan. Jadi, mereka bikin ITP untuk orang-orang sepertimu. Untuk jadi anggota, kau harus bayar. Hasilnya, kau tetap jomblo, dan ITP dapat banyak uang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Desember 2018.

Jumat, 27 Februari 2026

Mari Bersikap Adil

Tidak semua orang tua pasti baik. Sebagian dari mereka adalah para perusak kehidupan anak-anaknya.

Mari bersikap adil. Tidak semua orang tua bisa menjadi sosok sempurna yang mampu memanjakan anak. Kalau memang orang tua tidak bisa membahagiakan anak, minimal jangan melukainya.

Yang jadi masalah, banyak orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak, tapi malah memberikan luka.

Ada banyak orang tua yang merasa dirinya pasti benar bahkan mulia, dengan berdalih, "Orang tua yang melahirkan dan membesarkan anak..."

LHA YANG MINTA DILAHIRKAN JUGA SIAPA?

Kau memilih untuk punya anak, lalu bersikap seolah anakmu yang minta dilahirkan. What the hell?

Sekali lagi, mari bersikap adil dan jujur pada diri sendiri.

Kau memilih punya anak, karena berdasar alasan/kepentinganmu sendiri. Kau ingin kelak ada yang mengurusi saat tua, atau kau buru-buru punya anak demi membungkam nyinyiran tetangga. Lalu kau punya anak. Itu pilihanmu!

Dan ketika anakmu lahir, siapakah yang tersenyum senang? Tentu saja kau, karena itu memang demi kepentinganmu yang egois, dan demi dirimu sendiri!

Lalu kau seenaknya merasa diri pasti benar hanya karena telah melahirkan dan membesarkan anak, seolah anakmu yang minta dilahirkan.

Berhentilah berpikir dan bersikap seolah anak-anakmu minta dilahirkan. Kelahiran mereka semata karena keinginan, kehendak, dan pilihanmu. Karenanya, kau yang harus bertanggung jawab pada mereka, dan bukan mereka yang harus bertanggung jawab kepadamu.

MOSOK NGENE WAE ORA PAHAM?

Sedari dulu sudah diberi tahu, "Anak adalah titipan Tuhan."

Dan apa yang kaulakukan? Kau merasa dirimu pasti benar, hingga merasa bisa sewenang-wenang pada anakmu, melukainya, membuatnya terluka dan trauma seumur hidup. Kau diberi titipan Tuhan, tapi bertingkah seperti iblis.

Masalah terbesar dalam relasi anak dan orang tua adalah; Orang tua ingin dihormati anak, tapi mereka tidak bisa menghormati anak. Dan kekacauan itu diwariskan turun temurun. Karenanya memang benar, takdir terbaik adalah tidak dilahirkan.

Takdir Terbaik » http://bit.ly/2pcI7yK 

Kalau orang tuamu baik, kebaikan orang tua lain akan mengingatkanmu pada orang tuamu sendiri. 

Sebaliknya, kalau orang tuamu buruk, keburukan orang tua lain juga akan mengingatkanmu pada keburukan orang tuamu sendiri. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27-28 Maret 2019.

Orang Paling Menyedihkan

“Dia sudah dewasa tapi belum nikah.”

Lalu kenapa?

“Dia sudah nikah tapi belum punya anak.”

LALU KENAPA?

“Nikahnya sudah lama, tapi anaknya baru satu.”

LALU KENAPA, BANGSAT? ORANG HIDUP DENGAN MASALAH MASING-MASING, DAN KAU MALAH SIBUK NGERUSUHI HIDUP ORANG LAIN.

"Menikah dini sungguh indah, karena bisa berpacaran setelah menikah. Suami istri bisa saling menyayangi secara halal. Tidak ada yang lebih indah dan lebih membahagiakan selain pernikahan dini. Percayalah!"

Oh, benar sekali. Tolong katakan itu pada Salmafina.

"Menikahlah, agar bahagia."

Begini, persetan. Kalau pun aku memang tidak bahagia karena tidak/belum menikah, aku yang menjalani—bukan kau atau orang lain. Jadi, jalani saja hidupmu yang menyedihkan itu, dan berhentilah membual seolah kau orang paling bahagia hanya karena kawin!"

Orang yang paling menyedihkan di dunia bukan orang yang tidak/belum menikah. Yang paling menyedihkan di dunia adalah orang yang menikah lalu keblangsak, tapi pura-pura bahagia, dan menyuruh-nyuruh orang lain agar cepat menikah dengan alasan "agar bahagia seperti dirinya".


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Februari 2019.

Arti Family

Baru tahu.

Dalam bahasa Inggris, keluarga disebut family. Kadang istilah itu juga disebut familia. Istilah itu berasal dari bahasa Romawi, famulus, yang artinya “budak rumah tangga”.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Februari 2019.

Catatan dari Kota Tertinggi di Dunia

Catatan dari kota tertinggi di dunia, tempat orang-orang kehilangan pilihan, dan kisah takdir yang mempermainkan mereka dengan licik.

Tak Ada Jalan Pulang » http://bit.ly/2fQFLFa 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Maret 2019.

Kebut-kebutan Ala Hollywood

Barusan nonton Furious 7, dan menyadari satu hal yang tidak ilmiah. Kalau mobil si bajingan jatuh, si bajingan mati. Tapi kalau mobil si jagoan jatuh, si jagoan tidak mati, bahkan tidak luka, dan tetap segar-bugar.

Yo ora rampung-rampung nek ngono ceritane.

Adegan kebut-kebutan ala Hollywood paling gahar, menurutku, adalah opening James Bond: Quantum of Solace. Sendirian, beradu cepat dengan mobil-mobil lain di jalan terjal berbahaya, melawan truk, dikejar polisi, sampai ditembaki senapan mesin.

James Bond memang bocah tangguh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Februari 2019.

Lalala Fest

Apa cuma aku yang gak tahu apa itu #LalalaFest? Heran, mereka pada ngomongin apa, sih?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Februari 2019.

Cara Topeng Terbuka

Kebahagiaan kita adalah topeng kita. Kemarahan kita, ironisnya, sering kali menjadi keaslian kita. Seseorang? Lihatlah ketika dia marah.

Kita mengagumi seseorang ketika dia bahagia, dan menertawakannya ketika dia marah. Begitulah cara topeng terbuka, dan keaslian menjelma.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 Februari 2012.

Lebih Drama

Ternyata Twitter lebih drama dari yang kusangka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Februari 2012.

Lihat Hal Konyol

Pancen nang dunyo iki ono-ono wae tingkahe menuso.

Ngakak lihat hal konyol ini, dan teringat bahwa "segala hal yang terjadi pada manusia telah tertulis di laukhul mahfudz"—katanya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Maret 2019.

Ikut Senang

Ikut senang dengan bebasnya BTP.

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Januari 2019.

Duingin

Duinginnya luarr biassaaaahhh...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Januari 2019.

Minggu, 01 Februari 2026

Kembali Membaca Buku

Salah satu kenikmatan hidup saya adalah membaca buku. Itu kenikmatan yang telah saya kenali sejak masa kecil, dan tak bisa saya tinggalkan hingga kini. Saat membuka buku, lalu membacanya lembar demi lembar, saya merasakan kenikmatan yang tidak dapat saya peroleh dari hal lain. Fiksi maupun nonfiksi, sama-sama menyenangkan bagi saya. Selain menambah ilmu dan pengetahuan, membaca buku juga sarana hiburan yang sehat—setidaknya menurut saya.

Membaca buku bisa dilakukan dengan sangat mudah. Cukup siapkan buku, duduk dengan tenang, lalu membacanya. Aktivitas membaca buku tidak mengeluarkan suara, jadi tidak mengganggu telinga orang lain. Apalagi kalau kamu tinggal sendirian di rumah, seperti yang saya alami, membaca buku serupa memasuki alam keheningan. Tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa, hanya ada kamu dan buku. Tanpa ribut-ribut, tanpa suara.

Sejak bertahun lalu, saya punya jadwal khusus terkait membaca buku. Saban hari, setiap pagi, sambil menikmati teh hangat dan udud, saya selalu meluangkan waktu 2 sampai 3 jam untuk membaca buku. Setelah itu, saya baru menyalakan komputer untuk bekerja. Tengah hari, usai makan siang, saya kembali membaca buku sekitar 2 jam, lalu kembali bekerja sampai sore. Setelah pekerjaan selesai sore hari, saya beres-beres rumah—misal mencuci piring atau gelas kotor—lalu kembali membaca buku sampai malam. Biasanya saya baru berhenti setelah mengantuk, lalu tidur. 

Jadwal yang mirip ritual itu saya lakukan dengan disiplin selama bertahun-tahun, dan dengan kedisiplinan semacam itulah saya bisa mengkhatamkan ribuan buku, tahun demi tahun. Dulu, setiap akhir tahun, saya bahkan selalu memosting daftar buku terbaik di blog ini, yang berisi 10 buku yang saya anggap terbaik di antara banyak buku yang saya baca dalam setahun. 

Belakangan, jadwal membaca buku itu “rusak” setelah e-book atau buku elektronik makin populer, dan saya pun mengikuti perkembangan zaman tersebut. Artinya, saya tidak lagi membaca buku dalam bentuk kertas, tapi juga membaca buku dalam bentuk e-book yang dibaca di komputer. 

Kemunculan e-book sebenarnya membantu para pembaca buku seperti saya. Dengan e-book, kita tidak lagi butuh rak atau tempat khusus untuk menyimpan buku, karena e-book hanya berupa file yang dapat disimpan dengan mudah di komputer. 

Saat ini, di rumah saya ada ribuan buku yang tertumpuk di rak, dan di dalam banyak kardus karena kehabisan rak. Seiring waktu, jumlah buku itu tentu akan terus bertambah, karena saya masih terus membaca. Artinya, tumpukan buku itu akan semakin banyak, dan saya makin bingung bagaimana menyimpannya.  

Masalah semacam itu terbantu oleh e-book. Di komputer saya saat ini ada puluhan ribu e-book. Andai puluhan ribu file itu berupa buku cetak, saat ini rumah saya mungkin sudah “tenggelam” oleh buku. Jadi, seperti yang disebut tadi, keberadaan e-book membantu para pembaca buku seperti saya. Karena bisa terus membaca buku, tanpa harus dipusingkan bagaimana cara menyimpannya.

Sayangnya, kemunculan e-book juga “mengacaukan” jadwal harian saya. Karena e-book harus dibaca di komputer, rutinitas saya pun terpaksa berubah. Jika sebelumnya baru menyalakan komputer setelah agak siang—karena saya biasa membaca buku di pagi hari—sekarang saya sudah menyalakan komputer sejak pagi hari. Tujuannya sama, untuk membaca buku, tapi kali ini di komputer. 

Lama-lama, mungkin karena kebiasaan, saya nyaman membaca buku (e-book) di komputer. Artinya, sejak pagi sampai malam, saya terus berada di depan komputer. Setengah untuk kerja, setengahnya lagi untuk membaca buku yang memang ada di komputer. Kebiasaan baru itu kemudian saya jalani beberapa tahun terakhir, bahkan sampai sekarang. 

Tempo hari, saat bersih-bersih rumah dan menata buku-buku yang berserakan di rumah—seperti yang saya tulis di sini—saya mendapati buku-buku lama yang membuat saya kangen ingin membacanya kembali. Ada pula buku-buku yang belum sempat saya baca, padahal sudah saya beli sejak lama. Karenanya, sambil menata buku-buku tempo hari, saya juga menyisihkan buku demi buku yang akan saya baca. Setelah urusan menata buku itu selesai, buku-buku yang saya sisihkan sudah setinggi tiga meter—jumlahnya sekitar 200-an buku.

Ada 200-an buku yang akan saya baca, atau baca ulang, dan saya telah memulainya sejak akhir tahun kemarin. Karenanya, update blog tempo hari juga agak telat, sebab saya “kelupaan” gara-gara keasyikan membaca buku. Ada kemungkinan, update blog untuk beberapa waktu ke depan juga tidak akan tepat waktu seperti sebelumnya, karena sekarang saya baru menyalakan komputer setelah puas membaca buku. Tapi yang jelas, saya akan berusaha meng-update blog ini secara rutin—meski waktunya tidak pasti.

So, sekarang saya kembali membaca buku, dalam arti sebenarnya. Yaitu duduk dan memegang buku dalam bentuk kertas. Rasanya seperti me-restart diri saya sendiri untuk kembali pada kebiasaan lama. 

Mungkin karena sudah beberapa tahun membaca buku di komputer, saya sempat merasa “aneh” saat kembali membaca buku dalam bentuk kertas. Untungnya, saya punya dasar kebiasaan membaca buku kertas sebelumnya. Jadi, ketika kembali membaca buku dalam bentuk kertas, saya tidak terlalu kesulitan, karena rasanya seperti “memanggil” kebiasaan lama untuk aktif kembali.

Di titik itu, saya agak tersadar pada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan, terkait kebiasaan membaca buku. 

Anak-anak yang tumbuh di era ‘90-an—seperti saya—belum kenal e-book ketika memulai kebiasaan membaca buku. Jadi mau tak mau harus membaca buku berbahan kertas. Karenanya, pada masa itu, para kutubuku bisa seharian khusyuk memegangi buku, tanpa banyak distraksi. Karena belum ada smartphone, belum ada media sosial, belum ada Netflix atau aneka jenis distraksi lainnya.

Sementara anak-anak yang tumbuh di era sekarang sudah akrab dengan smartphone, dengan laptop atau komputer, bahkan internet sudah jadi barang kebutuhan sehari-hari. Karenanya, saya pikir membentuk kebiasaan membaca buku saat ini mungkin lebih sulit daripada di era saya. Apalagi jika harus membaca buku berbahan kertas. Karena bahkan saya sendiri, yang telah sejak kecil membaca buku berbentuk kertas, belakangan merasa “aneh” ketika kembali membaca buku berbahan kertas setelah lama menikmati membaca buku di komputer, dan merasa seperti membentuk kebiasaan baru lagi.

Saya tidak tahu pemikiran saya ini benar atau tidak, dan semoga saja tidak benar. Karena bagaimana pun saya berharap generasi sekarang juga senang membaca buku, dan akrab dengan buku, semudah generasi di era saya. Terlepas apakah mereka membaca buku dalam bentuk e-book atau buku berbahan kertas, itu cuma soal pilihan, atau selera. Intinya tetap membaca buku.

Dan sekarang, seperti yang disebut tadi, saya kembali membaca buku berbahan kertas. Rasanya memang seperti membentuk kebiasaan baru, tapi itu kebiasaan yang menyenangkan. Saya pernah punya kebiasaan itu; duduk santai, memegangi buku, membuka halaman per halaman, membaca isinya, dan terpesona pada kisah atau aneka pengetahuan yang saya dapatkan dari lembar-lembar buku yang saya baca. Sekarang saya mengulangi kebiasaan itu, dan kembali mendapatkan kenikmatan yang sama.

Kalau-kalau ada pembaca catatan ini yang mungkin ingin mulai membaca buku, dan bertanya-tanya bagaimana cara memulai kebiasaan itu, izinkan saya berbagi tip.

Tip ini sangat mendasar, jadi dapat digunakan oleh orang yang bahkan sama sekali belum pernah membaca buku. Pertama, temukan buku yang membuatmu tertarik. Buku apa saja, fiksi ataupun nonfiksi, tebal maupun tipis—bebas! Tapi usahakan kamu membeli buku itu, bukan meminjam, agar buku itu benar-benar milikmu, dan kamu bebas membacanya tanpa batasan waktu.

Setelah kamu memiliki buku, mulailah membaca isinya. Karena baru memulai, kamu tidak perlu berharap banyak. Cukup baca selembar atau dua lembar per hari. Tandai halaman buku yang kamu baca, agar kamu mudah meneruskan bacaanmu di lain waktu. Kalau bisa, tentukan waktu khusus untuk membaca—bisa pagi hari sebelum berangkat kerja, atau malam hari menjelang tidur. Tidak perlu banyak-banyak, cukup selembar atau dua lembar. Yang penting rutin.

Dengan terus membaca selembar atau dua lembar buku setiap hari, mungkin kamu bisa mengkhatamkan isi buku itu dalam waktu 1 sampai 3 bulanan. Jika kamu terus melakukannya setiap hari, kamu sedang membentuk kebiasaan. Mungkin sulit. Tapi membaca selembar atau dua lembar buku mestinya tidak sulit-sulit amat, karena hanya butuh waktu beberapa menit. Dan setelah kebiasaan itu akhirnya terbentuk, kamu akan merasa mudah melakukannya. 

Dari situ, kamu mungkin bisa menambah jumlah bacaanmu. Dari selembar menjadi dua lembar, lalu meningkat jadi tiga lembar, dan begitu seterusnya, sampai akhirnya kamu bisa membaca ratusan halaman buku dalam sekali duduk. Mungkin butuh waktu berbulan-bulan untuk mencapai hal itu, atau bahkan bertahun-tahun, tapi tidak apa-apa, namanya juga sedang membentuk kebiasaan. Tak perlu buru-buru, yang penting kamu menikmati yang kamu lakukan.

Dengan cara itulah dulu saya membentuk kebiasaan membaca buku, hingga akhirnya terbiasa. Dan sekarang, saya kembali membentuk ulang kebiasaan itu—membaca buku kertas, menghayati isinya, halaman demi halaman, dan tenggelam di dalamnya.

Sebuah buku, teh hangat, dan udud—bagi saya, itu saja sudah menyenangkan.

Kemerdekaan Hanya Milik Para Pemikir

Mau logout, tapi udud masih panjang.

Kemerdekaan Hanya Milik Para Pemikir

Banyak orang mengenal Nietzsche karena Thus Spoke Zarathustra, tapi banyak yang tidak tahu kalau buku inilah cikal bakalnya.

Sambil nunggu udud habis.

The Birth of Tragedy adalah karya awal Friedrich Nietzsche, dan di buku ini ia mengeksplorasi seni, khususnya drama Yunani kuno, dengan kehidupan, filsafat, dan pemahaman tentang eksistensi manusia. Eksplorasi itu menuntunnya untuk melahirkan perspektif Apollonian dan Dionysian.

Tapi aku tidak bermaksud ngoceh soal itu atau menulis sinopsis buku The Birth of Tragedy. Yang membuatku gatal ingin ngoceh soal buku itu adalah bahwa kita bisa menelusuri akar pikiran seseorang—khususnya pemikir-pemikir besar—melalui "napak tilas" karya-karyanya dari awal.

Friedrich Nietzsche adalah nihilisme, dan itu sangat tampak dalam karya-karyanya yang terkenal seperti Thus Spoke Zarathustra, Beyond Good and Evil, atau The Will to Power. Tapi bagaimana Nietzsche bisa sampai pada pemikiran itu? The Birth of Tragedy memberikan gambaran awalnya.

Ketika menulis The Birth of Tragedy, Nietzsche masih “culun”—meski culunnya dia tentu beda dengan culunnya kita. Sebagai pemikir pemula, Nietzsche masih "lugu" ketika menulis buku itu, dan kelak, seiring waktu, ia membangun, meruntuhkan, dan membangun kembali ide-idenya sendiri.

Tidak ada satu pun pemikir yang tiba-tiba sampai pada kesimpulan yang amat kuat—yang ia rela mati demi pemikirannya. Semua pemikir melewati tahap per tahap, tesis dan antitesis, dan itu bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa henti, sampai kemudian tiba pada kesimpulan pamungkas.

Dalam perspektif filsafat, tidak ada kebenaran/keyakinan instan—yang serbainstan itu cuma “hiburan” untuk orang-orang yang otaknya setara trilobita, yang didoktrinkan pada mereka agar dapat dikibuli, dikendalikan, untuk kemudian dikuasai. 

Kemerdekaan hanya milik para pemikir.

And then... itulah kenapa ada pihak-pihak yang sangat khawatir kalau kita sampai berpikir, lalu berusaha mematikan pikiran kita dengan tumpukan doktrin.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Oktober 2024.

 
;