Sabtu, 01 Agustus 2026

Waktu Berlalu

Coba perhatikan sebongkah es batu yang mengambang di dalam segelas air. Selama kita menatapnya, hampir tidak ada perubahan yang bisa ditangkap mata. Es itu tampak tetap sebesar tadi. Permukaannya masih keras. Bentuknya hampir sama. Kita bahkan mungkin mulai bertanya-tanya apakah es benar-benar sedang mencair.

Lalu ponsel berbunyi, dan kita bercakap-cakap dengan seseorang di telepon. Perhatian kita pun berpindah beberapa menit. Ketika pandangan kembali ke gelas, es itu sudah jauh mengecil, bahkan mungkin telah hilang sama sekali. Padahal proses mencairnya tidak pernah dipercepat. Yang berubah hanyalah cara kita mengamatinya.

Banyak hal dalam hidup bekerja dengan cara yang sama. Kita hampir tidak pernah merasakan waktu sedang berlalu. Kita baru menyadarinya ketika hasilnya sudah tidak bisa dibatalkan.

Saat menjalani hari demi hari, waktu terasa begitu biasa. Hari Senin datang, disusul Selasa, lalu Rabu. Masing-masing berlangsung selama dua puluh empat jam yang tampaknya cukup panjang. Kita bekerja, makan, membuka ponsel, berbincang, beristirahat, lalu tidur. Besok pagi semuanya dimulai lagi. Dari dalam proses itu, hidup terasa berjalan dengan kecepatan yang wajar, bahkan kadang terasa lambat.

Karena itulah muncul keyakinan yang sangat menggoda: satu hari tidak akan membuat perbedaan. Satu hari lagi menunda menulis. Satu hari lagi menunda belajar. Satu hari lagi menunda menemui orang tua. Satu hari lagi menunda menjaga kesehatan. Yang kita pinjam selalu hanya hari ini. Tidak pernah terdengar berbahaya.

Masalahnya bukan pada satu hari. Masalahnya terletak pada cara otak memperlakukan waktu. 

Ketika menjalani hidup, kita memandang waktu dalam satuan eceran (harian). Yang terlihat hanyalah hari ini. Besok masih ada. Minggu depan masih tersedia. Tahun depan masih tampak jauh. Karena setiap hari terlihat utuh dan penuh, kita merasa memiliki persediaan yang melimpah. Rasanya seperti memiliki dompet yang masih berisi banyak uang receh. Mengeluarkan satu keping tidak terasa mengurangi apa pun.

Namun, ingatan manusia tidak menyimpan kehidupan dalam bentuk eceran. Tidak ada orang yang mengingat dengan jelas apa yang ia lakukan pada hari Kamis, tanggal tertentu, tiga tahun yang lalu. Yang diingat adalah sesuatu yang jauh lebih besar: tiga tahun telah lewat.

Di situlah ilusi bekerja dengan sangat rapi. Saat menjalani waktu, kita menghitung hari. Saat mengenangnya, kita menghitung tahun.

Akibatnya, ribuan keputusan kecil yang tampak sepele ketika diambil berubah menjadi satu kesimpulan besar ketika dipandang dari belakang. Kita tidak berkata, "Aku kehilangan tiga ratus empat puluh tujuh hari." Kita berkata, "Aku kehilangan satu tahun." Kita tidak mengingat ratusan malam ketika memilih menunda. Kita hanya melihat bahwa usia bertambah, sementara hidup hampir tidak berubah.

Perbedaan antara “eceran” (harian) dan “grosir” (tahunan) itulah yang sering luput dari perhatian. Satu hari memang kecil. Tetapi hidup tidak pernah menagih dalam satuan hari. Ia selalu menagih dalam satuan tahun.

Saya merencanakan menulis buku baru sejak lima tahun yang lalu. Tidak pernah sehari pun saya berkata, "Aku akan membuang lima tahun hidupku." Yang terjadi jauh lebih sederhana. Hari ini terlalu lelah. Besok saja. Minggu ini banyak urusan. Bulan depan suasana mungkin lebih tenang. 

Setiap alasan terdengar masuk akal jika berdiri sendiri. Tidak ada keputusan yang tampak fatal. Lima tahun kemudian, buku yang ingin saya tulis masih berada di dalam kepala. 

Begitu pula dengan hubungan antarmanusia. Tidak banyak anak yang sengaja memutuskan untuk kehilangan kesempatan berbincang dengan ayah atau ibunya. Yang terjadi hanyalah penundaan kecil yang terus berulang. Nanti saja menelepon. Minggu depan saja berkunjung. Setelah pekerjaan selesai. Setelah keadaan lebih longgar.

Lalu suatu hari, kesempatan itu benar-benar hilang. Bukan karena satu keputusan besar, tapi karena terlalu banyak keputusan kecil yang dianggap tidak berarti.

Penyesalan hampir selalu memiliki pola yang sama. Ia jarang berasal dari satu kesalahan dramatis. Ia lebih sering tumbuh dari akumulasi hal-hal yang terus ditunda.

Yang membuat penyesalan terasa menyakitkan adalah kenyataan bahwa semuanya tampak sangat masuk akal ketika sedang dijalani. Tidak ada alarm yang berbunyi saat kita memutuskan menunda sehari. Tidak ada tanda bahaya yang muncul ketika kita berkata, "Masih ada waktu."

Alarm itu baru terdengar ketika waktu sudah berubah menjadi masa lalu. Barulah kita melihat bahwa yang hilang bukan satu sore, tapi bertahun-tahun kemungkinan.

Ada paradoks yang menarik tentang usia. Ketika berumur empat belas tahun, empat tahun terasa seperti keabadian. Ketika berumur empat puluh tahun, empat tahun terasa seperti musim yang lewat begitu saja. Semakin panjang hidup dijalani, semakin pendek potongan waktu terasa dari belakang. Karena itulah banyak orang tua berkata bahwa hidup berjalan sangat cepat. Bukan karena jam berdetak lebih cepat, tetapi karena cara otak menyusun kenangan berubah. 

Mungkin karena itu pula nasihat tentang menghargai waktu sering gagal menyentuh orang yang masih muda. Mereka mendengar kalimatnya, tetapi belum mengalami ilusi itu sendiri. Mereka masih melihat hari-hari sebagai sesuatu yang panjang. Mereka belum pernah menoleh ke belakang dan terkejut melihat satu dekade lenyap hampir tanpa suara.

Padahal waktu tidak pernah berubah sifat. Yang berubah hanyalah posisi kita terhadapnya. Selama berada di dalam arus, ia tampak tenang. Begitu kita menoleh ke belakang, kita baru sadar betapa jauhnya arus telah membawa kita.

Persoalannya, sering kali, bukan apakah kita memiliki cukup waktu. Sebagian besar orang, pada titik tertentu, pernah memiliki waktu yang cukup. Persoalannya adalah kita terus menganggap setiap hari sebagai unit yang berdiri sendiri, padahal kehidupan sedang menggabungkan semuanya menjadi satu cerita besar.

Setiap hari yang tidak dipakai membangun sesuatu akan bergabung dengan hari-hari lain menjadi satu tahun yang kosong. Setiap pertemuan dengan orang tua yang terus ditunda akan bergabung dengan pertemuan lain yang tidak pernah terjadi. Setiap lembar yang tidak ditulis akan bergabung dengan lembar-lembar lain yang tidak pernah lahir.

Tidak ada satu hari yang mampu menghancurkan masa depan. Tapi masa depan dibangun oleh kumpulan hari yang tampaknya tidak penting.

Es di dalam gelas tidak pernah tiba-tiba mencair. Ia kehilangan dirinya setetes demi setetes. Begitu pun waktu. Tidak ada hari yang cukup besar untuk mencuri hidup kita. Yang melakukannya adalah ribuan hari kecil yang kita anggap terlalu sepele untuk dijaga.

Waktu terasa lambat ketika sedang kita jalani, tapi terasa sangat cepat ketika sudah jadi kenangan. Kita melihat hidup seperti orang yang menghitung uang receh ketika membelanjakannya, lalu terkejut ketika melihat jumlah akhirnya.

Dan pada titik tertentu, setiap orang akan memahami sesuatu yang terlambat dipelajari: kita tidak pernah benar-benar kehilangan tahun. Kita kehilangan hari-hari yang dulu kita anggap tidak penting, lalu hari-hari itu diam-diam membentuk tahun yang tidak akan pernah kembali.

Pertumbuhan

Manusia tidak mudah melepaskan sesuatu hanya karena kenyataan sudah membantahnya. Isi kepala sering memperoleh perlakuan yang lebih istimewa daripada fakta di depan mata. Ketika keduanya bertabrakan, kita cenderung memperbaiki cara melihat kenyataan lebih dulu sebelum bersedia memperbaiki keyakinan sendiri. Kenyataan dipaksa menunggu sampai ego selesai bernegosiasi.

Saya semakin melihat bahwa rasa "sudah tahu" memiliki daya tarik yang luar biasa. Ia memberi ketenangan tanpa perlu membuktikan dirinya benar. Begitu perasaan itu hadir, pikiran mulai berubah fungsi. Informasi baru tidak lagi dicari untuk memperbaiki pemahaman, tetapi untuk mempertahankan pemahaman yang sudah ada. Semakin lama seseorang hidup dengan keyakinan tertentu, semakin besar godaan untuk menganggap setiap pertanyaan baru sebagai gangguan, bukan kesempatan.

Keadaan itu menjelaskan mengapa pengalaman tidak selalu membuat seseorang bertumbuh. Pengalaman memang bertambah setiap tahun, tetapi cara membacanya bisa berhenti berkembang jauh lebih awal. Dunia terus berubah, sedangkan isi kepala diam-diam menuntut dunia agar tetap sesuai dengan peta lama yang terasa nyaman.

Rasa ingin tahu bekerja dengan arah yang berlawanan. Ia memaksa seseorang meragukan petanya sendiri sebelum meragukan kenyataan. Pekerjaan itu melelahkan karena setiap pertanyaan baru selalu mengandung satu pengakuan yang tidak enak didengar: “selama ini aku belum melihat seluruhnya.”

Pertumbuhan memang tidak dimulai ketika kita menemukan jawaban baru. Ia dimulai ketika keyakinan lama akhirnya kehilangan hak istimewanya.

Tulisan di Buku

Tiap nemu buku dengan tulisan "terjual 1 juta copy", jiwa bocahku bergetar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 November 2022.

Kegilaan Geometris

Ketika kita berdiri di tengah ruangan yang dikelilingi belasan cermin distorsi, kita akan melihat diri sendiri memanjang di satu sudut, melebar secara menggelikan di sudut lain, dan mendadak mengecil di cermin ketiga. Setiap cermin memantulkan siluet yang berbeda, tergantung lengkungan kacanya. 

Menuntut diri kita untuk mengubah bentuk nyata kita agar selaras dengan pantulan di setiap permukaan kaca tersebut adalah kegilaan geometris. Cermin itu tidak menggambarkan siapa kita; mereka hanya menggambarkan cacat bentuk permukaannya sendiri.

Menjemput Mbakyu

Saya baru keluar dari warung, usai makan siang, ketika sebuah motor melaju pelan, lalu berhenti di depan saya berdiri.

Ternyata Fa’ad.

“Kebetulan ketemu kamu di sini,” ujar Fa’ad. “Aku dititipi undangan buat kamu.”

Fa’ad membuka jok motor matiknya, mengambil setumpuk undangan, memilah-milahnya sesaat, lalu mengambil selembar, dan menyerahkannya pada saya.

Saya menerima undangan itu, dan langsung tahu siapa yang akan menikah. Saya pun mengucapkan terima kasih.

Fa’ad kembali menaiki motor, bersiap melanjutkan perjalanan.

Saya bertanya, “Kamu dari mana atau mau ke mana, Ad?”

“Aku mau menjemput mbakyuku,” jawab Fa’ad.

Fa’ad berlalu.

Tapi kalimatnya masih tertinggal.

Menjemput mbakyu. Indah sekali kata-kata itu.

Catatan dan Dokumentasi

Secara pribadi, aku juga mikirnya kayak gini. Sesuatu yang disebut "sihir" itu sebenarnya hal-hal yang tidak/belum dipahami orang pada zamannya.

Dan makhluk-makhluk mitologi lahir karena orang-orang [khususnya zaman dulu] suka membesar-besarkan hal aneh yang mereka lihat/dengar.

Berdasarkan sejarahnya, makhluk-makhluk aneh yang belakangan jadi mitologi semacam manticore, centaurus, atau unicorn, itu bukan lahir dari ruang hampa. Tapi lahir karena orang zaman dulu melihat hewan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, lalu membesar-besarkannya.

Jadi, selalu ada kemungkinan kalau peristiwa-peristiwa aneh atau kemampuan-kemampuan aneh yang terjadi pada masa lalu, yang belakangan diklaim sebagai sihir, sebenarnya hal-hal biasa tapi terlihat luar biasa pada zaman itu, dan kemudian orang-orang membesar-besarkannya.

Wong sampai detik ini aja, aku masih takjub pada kemampuan AI atau ilusi optik yang dihasilkan billboard 3D. Itu bahkan aku tahu cara kerjanya, tapi aku tetap tercengang setiap kali menyaksikan keajaiban yang mereka hasilkan, sampai aku berpikir, "Ini benar-benar tak masuk akal."

Jika, umpamakan saja, aku "membesar-besarkan" kemampuan AI atau billboard 3D hingga terdengar berbeda jauh, apakah orang-orang akan percaya? Tidak, mereka akan tertawa!

Kenapa? Karena zaman yang sekarang kita alami berbeda jauh dengan zaman ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu.

Catatan dan dokumentasi! Itulah inti masalahnya!

Jika sekarang, entah bagaimana, terjadi bencana atau sistem tunggal pemerintahan dunia yang menghancurkan seluruh catatan dan dokumentasi yang dapat ditemukan di zaman sekarang, aku akan bisa ngibul pada generasi yang akan datang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Desember 2024.

Kabut Hidup

Lampu kecil yang berkedip di layar sering lebih cepat membuat panik daripada masalah yang sebenarnya. Begitu muncul tanda peringatan, kepala segera bekerja: pasti ada yang salah. Kebiasaan itu terbentuk karena kita hidup di tengah perangkat yang dirancang untuk memberi sinyal ketika terjadi gangguan. Baterai merah berarti harus diisi. Ikon silang berarti koneksi terputus. Notifikasi gagal berarti proses berhenti. Pelan-pelan cara berpikir itu masuk ke wilayah yang sama sekali berbeda.

Saat hidup terasa kabur, kita buru-buru menyimpulkan bahwa keputusan kita pasti keliru. Ketika hasil belum tampak, kita menganggap langkah sebelumnya salah hitung. Rasa cemas diperlakukan seperti alarm objektif, seolah emosi memiliki akses langsung pada kebenaran. Padahal emosi lebih sering berbicara tentang rasa aman daripada tentang fakta.

Kepala kita tampaknya memiliki kebiasaan aneh: mencampuradukkan ketidaknyamanan dengan kesalahan. Begitu suasana berubah asing, otak segera mengajukan tuduhan kepada diri sendiri. Jarang sekali ia lebih dulu mempertimbangkan kemungkinan bahwa keadaan memang sedang menuntut lintasan yang berbeda.

Ini bukan sekadar soal keberanian. Yang bekerja jauh lebih dalam adalah cara manusia membaca sinyal. Pikiran menyukai kepastian, karena kepastian menghemat energi. Sesuatu yang sudah dikenali tidak perlu dianalisis terus-menerus. Sebaliknya, ketidakpastian memaksa otak tetap siaga. Tubuh mengeluarkan respons seolah sedang menghadapi ancaman, meskipun yang sebenarnya terjadi hanyalah informasi yang belum lengkap.

Kesalahan muncul ketika sensasi biologis itu dianggap sebagai bukti logis. Jantung berdebar, lalu kita menyimpulkan keputusan salah. Tidur tidak nyenyak, lalu kita menganggap masa depan sedang runtuh. Padahal tubuh hanya sedang bereaksi terhadap wilayah yang belum dikenalnya.

Mungkin itulah warisan dunia modern yang jarang dibicarakan. Hampir semua sistem yang kita gunakan sekarang dibangun agar dapat diprediksi. Paket dapat dilacak. Kendaraan ojol memiliki estimasi waktu tiba. Saldo berubah dalam hitungan detik. Kita jadi terbiasa hidup bersama kepastian mikro. Tanpa sadar, kepala mulai menuntut agar seluruh kehidupan mengikuti standar yang sama. Sedikit saja muncul ruang kosong yang tidak dapat diprediksi, kita menganggap sistemnya rusak.

Padahal hidup tidak pernah bekerja seperti aplikasi yang memberi pembaruan status setiap beberapa menit. Sebagian besar keputusan penting justru bergerak dalam keadaan yang tidak memberi konfirmasi apa pun. Tidak ada indikator bahwa suatu hubungan akan berhasil. Tidak ada grafik yang memastikan pekerjaan baru akan membawa hasil. Tidak ada sertifikat yang menjamin pilihan hari ini akan terasa benar lima tahun mendatang.

Ketenangan tampaknya tidak lahir ketika kabut menghilang. Yang berubah justru cara kita memperlakukan kabut itu sendiri. Ia berhenti dibaca sebagai pesan bahwa kita sedang gagal bernavigasi. Ia kembali menjadi apa adanya: keadaan alam.

Sisanya tinggal terus berjalan, meski pandangan belum jauh.

Yang Kurisaukan

Yang kurisaukan adalah keyakinan yang tak pernah diperiksa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2012.

Distorsi Perspektif

Ketika menatap langit malam menggunakan mata telanjang, kita mungkin melihat dua titik bintang yang tampak menempel sangat intim, seolah-olah mereka adalah sepasang benda langit yang sedang berdansa mengitari pusat gravitasi yang sama. 

Namun, astrofisika memberi tahu bahwa kedekatan itu hanyalah distorsi perspektif dari bumi. Kenyataannya, bintang pertama berada sepuluh tahun cahaya di depan, sementara bintang kedua berada ratusan tahun cahaya di belakangnya, terpisah oleh ruang hampa udara yang dingin dan luas tak terhingga.

Mata kita sering menipu. Tapi kita tidak tahu. 

Atau pura-pura tidak tahu.

Waktu

Waktu, kalau tak ditunggu, rasanya cepat sekali berlalu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Agustus 2012.

Jumat, 31 Juli 2026

Gara-gara Omongan Pacar

Ini kisah konyol yang sebenarnya membuat saya malu sendiri. Tetapi saya telanjur jengkel gara-gara kisah konyol ini, hingga memutuskan untuk menuliskannya di sini sebagai semacam klarifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat. Semua nama yang saya sebut dalam catatan ini telah disamarkan, namun alur peristiwanya sesuai yang benar-benar terjadi.

Kisah konyol ini dimulai dengan sebuah e-mail dari seorang perempuan. Sebut saja namanya Dewi. Di antara banyak e-mail lain yang biasa saya terima, Dewi hanyalah satu di antara sekian banyak orang di inbox e-mail. Artinya, saya tidak punya perhatian khusus kepadanya. Sebenarnya, saya bahkan tidak peduli siapa dia. Saya membalas e-mailnya secara relevan sebagaimana saya membalas e-mail orang-orang lain. 

Dewi berulang kali mengirim e-mail. Tidak semua e-mailnya saya balas. Lalu dia mengirim undangan agar saya bergabung dengannya di Facebook. Undangan itu pun saya abaikan. Sudah lama sekali saya kehilangan minat bermain Facebook. Kenyataannya, yang mengirim undangan semacam itu bukan hanya Dewi, dan semuanya saya abaikan.

Tetapi Dewi rupanya tidak pantang menyerah. Dia terus menerus mengirimkan undangan yang sama. Karena penasaran, saya pun mencoba mengecek akun Dewi di Facebook, untuk tahu lebih lanjut siapa sebenarnya perempuan itu. 

Di akun Facebook-nya, terdapat identitas cukup lengkap mengenai Dewi, termasuk artis idola sampai buku favorit. Yang menarik perhatian saya, ternyata Dewi berteman dengan Nabil. Si Nabil ini teman saya di dunia nyata. 

Lagi-lagi karena penasaran, saya mengontak Nabil, dan bertanya kepadanya, siapa Dewi. Di luar dugaan, ternyata Dewi adalah pacar Nabil.

Dan, sejak itu, hubungan saya dengan Nabil mulai renggang. Nabil menjauh dari saya.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang terjadi, hingga menyebabkan Nabil menjauhi saya. Kenyataannya kami memang tak pernah bertemu sejak itu, hingga dia maupun saya tidak bisa saling menjelaskan apa pun. Tetapi bahwa kenyataan itu terjadi setelah saya menanyakan Dewi kepadanya, mau tak mau membuat saya berpikir. 

Jika saya membayangkan apa yang telah terjadi, kira-kira seperti inilah bayangan saya mengenai apa yang terjadi....

Setelah saya bertanya pada Nabil tentang Dewi, yang ternyata pacarnya, Nabil pun meneruskan percakapan kami pada Dewi. Dia tentu penasaran, kenapa saya tiba-tiba bertanya tentang pacarnya. Bisa jadi, karena merasa “tertangkap basah”, Dewi mengarang cerita yang melenceng dari kisah sebenarnya, yang kemudian menyebabkan Nabil menjauhi saya. 

Dalam kisah sebenarnya, Dewi berulang kali mengirim e-mail kepada saya, hingga saya penasaran dan melacak dirinya. Tetapi, dalam kisah Dewi pada Nabil, tidak menutup kemungkinan dia menceritakan kisah yang berbeda. Sebagai pacar, Nabil tentu akan mempercayai cerita pacarnya. Tanpa klarifikasi kepada saya, bisa jadi dia diam-diam memendam kekesalan, hingga memutuskan menjauhi saya.

Kisah konyol itu memberi saya pelajaran mengenai pentingnya klarifikasi, agar tidak dikuasai prasangka. Kalau pacar kita menceritakan sesuatu menyangkut orang lain, silakan percaya kepadanya. Tapi jangan menutup diri untuk melakukan klarifikasi. 

Omong-omong soal klarifikasi, sekarang saya ingin menceritakan kisah seorang teman. Kisah ini mirip dengan yang saya alami, namun kadarnya lebih parah.

Safik, teman saya, berteman dengan Ale. Ale punya pacar bernama Ervin. Baik Ale maupun Ervin akrab dengan Safik. Mereka juga akrab dengan saya. Kami biasa ngumpul dan bercanda sebagaimana layaknya teman.

Suatu hari, ada acara kumpul-kumpul di suatu tempat. Ada banyak orang yang datang waktu itu, termasuk Safik, Ale, Ervin, dan saya. Malam hari, seusai acara rampung, saya duduk di depan komputer, browsing internet. Lalu muncul Safik, disusul Ervin. Kami bercakap-cakap di depan komputer, sambil saya terus memindai laman-laman internet. 

Di suatu laman, kebetulan ada gambar kartun yang lucu; wanita gemuk yang lagi pegang sapu. Safik meledek Ervin, menyatakan kartun itu mirip Ervin. Ervin paham itu cuma olok-olok yang ditujukan sebagai candaan, dan kami pun tertawa bersama waktu itu. Saya tahu betul, Ervin sama sekali tidak marah, karena memahami itu cuma gurauan antarteman. Kenyataannya kami semua—termasuk Safik dan Ervin—telah akrab berteman.

Pagi harinya, usai bangun tidur, saya duduk-duduk bersama Ale sambil menikmati teh hangat. Di luar dugaan, kami mendapati Ervin baru datang bersama Rudi, cowok yang juga teman kami. Ale maupun saya tidak tahu dari mana Ervin dan Rudi waktu itu. Tapi saya hanya berpikir positif, mungkin Ervin baru saja sarapan dengan Rudi, karena Ale masih tidur.

Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang jelas, siang harinya, Ale marah-marah pada Safik. Pasalnya, menurut Ale, Safik telah menghina pacarnya, dengan menyamakan Ervin seperti kartun jelek di internet. Safik kebingungan. Seingatnya, masalah kartun itu hanya olok-olok yang dimaksudkan sebagai gurauan, dan Ervin sama sekali tidak marah. Kenapa sekarang Ale marah-marah soal itu?

Safik menyatakan, “Biar kujelaskan apa yang terjadi...”

Tapi Ale sudah meradang. “Jelaskan sendiri pada pacarku! Dia sedang menangis gara-gara ulahmu semalam!”

Bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Semalam, saya menjadi saksi peristiwa soal kartun yang sekarang dipermasalahkan Ale. Semalam, saya tahu betul bahwa urusan kartun yang disebut mirip Ervin hanyalah gurauan, dan Safik maupun Ervin paham itu cuma gurauan. Saya bahkan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa Ervin tertawa-tawa karena gurauan itu, dan sama sekali tidak marah. Tetapi, sekarang, Ale menyatakan Ervin sedang menangis karena disamakan seperti kartun oleh Safik.

Sekali lagi, bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Tanpa bermaksud membela siapa pun, saya bisa membayangkan apa yang telah terjadi. Ketika Ervin kepergok Ale baru pulang bersama Rudi, Ervin mungkin merasa bersalah. Sebagai pacar, Ale mungkin bertanya pada Ervin, dari mana dia dengan Rudi. 

Entah apa yang dinyatakannya kepada Ale, yang jelas Ervin kemudian “memanipulasi” kisah antara dirinya dan Safik soal kartun semalam, dengan tujuan “membelokkan” kemarahan Ale. Hasilnya, alih-alih marah kepada pacarnya, Ale berbalik marah kepada Safik—tepat seperti yang diharapkan Ervin.

Salah satu keahlian perempuan adalah memanipulasi pacarnya. Dan laki-laki biasanya mudah teperdaya oleh pacarnya, apalagi jika didramatisir air mata. 

Karenanya, jika cewekmu menceritakan apa saja yang terkait orang lain, percayalah kepadanya. Tapi jangan berhenti di situ. Lakukan klarifikasi pada orang terkait, agar tidak menimbulkan masalah. Karena, jika kita semata hanya percaya tuturan pacar namun tidak mau melakukan klarifikasi, kita hanya separuh benar. Dan separuh benar tentu bukan kebenaran. 

Sampai sekarang, hubungan Safik dengan Ale tidak sebaik dulu. Padahal sebelumnya mereka berteman akrab tanpa masalah. Bagaimana pun, Safik mengakui, dia masih jengkel kepada Ale, karena disalahkan untuk sesuatu yang ia pikir bukan kesalahannya. Safik juga mengakui masih membenci Ervin, karena dia menilai Ervin telah memanipulasi dirinya.

Hanya karena tuturan pacar secara sepihak, hubungan pertemanan bertahun-tahun yang semula baik dan menyenangkan bisa rusak dan terpecah. 

Ingin Kaya tapi Belum Tentu Ingin Bekerja

Jack Ma mengusulkan agar para karyawannya bekerja 12 jam setiap hari. Seperti yang sudah diduga banyak orang, usul itu langsung diprotes bahkan ditolak mentah-mentah. Karena kebanyakan orang memang ingin kaya, tapi belum tentu ingin kerja.

Kalau kau mencari cowok gaul yang suka nongkrong, eksis di Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, dan bertingkah sok kaya, aku mundur.

Tapi kalau kau mencari cowok biasa yang rajin belajar dan giat bekerja, dan menjalani hidup bersahaja tanpa peduli apa kata dunia, aku maju.

Rata-rata lowongan kerja ngasih syarat "penampilan rapi", "bisa berkomunikasi dengan baik", dan semacamnya. Tapi sepertinya belum ada yang mensyaratkan "mampu bekerja 12 jam setiap hari".

Kalau ada yang begitu, mungkin aku akan tergoda melamar, siapa tahu gajinya memang besar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 April 2019.

Kenangan, Pelajaran, dan Keperluan

Cinta pertama adalah kenangan, cinta kedua adalah pelajaran, dan cinta yang seterusnya adalah keperluan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 September 2012.

Di Balik Lelaki Hebat

Di balik lelaki hebat ada perempuan hebat. Sepertinya, begitu pula di balik setiap lelaki gagal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Mengisahkan dan Mengutuk

Kita mengisahkan dongeng Angin dan Matahari. Tetapi, di saat sama, kita mengutuk matahari dan menyalakan kipas angin.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Efeknya Seperti Gempa

Bencana adalah ketika kau mendonlut something sebesar empat giga, tapi terhapus dan hilang tanpa sengaja. Percayalah, efeknya seperti gempa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Agustus 2012.

Duka Mendalam

Ini sangat menyedihkan.

Dari kemarin, status WhatsApp teman-teman di ponselku berisi banjir dan longsor. Bencana ini terjadi di wilayah kabupaten, jadi yang paling terdampak adalah yang tinggal di kabupaten. Di Petungkriyono, lokasi bencana, ada beberapa orang yang tewas, dan berbagai kerusakan terjadi.

Menurut teman-teman yang tinggal di sana, hujan deras turun tanpa henti, dan hal itu menyebabkan longsor sekaligus banjir. Sementara Petungkriyono adalah dataran tinggi, sehingga terjadi banjir bandang yang mengalir ke mana-mana, ke daerah-dearah lain yang relatif jauh dari sana.

Kedungwuni dan Wonopringgo, misalnya, adalah dua kecamatan yang relatif jauh dari Petungkriyono, tapi ikut terdampak banjir. Di dua tempat itu ada cukup banyak pengusaha batik dan penjual konveksi di marketplace. Membaca status-status mereka di WhatsApp, rasanya bikin mau nangis.

Ada teman yang rumahnya kebanjiran, dan air merendam tumpukan kain batik yang masih dalam proses pengerjaan maupun yang sudah jadi.

Ada pula teman yang sudah menyiapkan ratusan paket yang siap dikirim ke ekspedisi, dan ratusan paket itu terendam banjir yang datang tiba-tiba.

Belasan orang meninggal, entah berapa yang terluka, rumah-rumah hancur, jembatan ambrol, mobil-mobil terguling, ternak mati, banjir mengalir ke sembilan kecamatan, merendam ratusan rumah, dan mengakibatkan kerugian yang entah berapa besar.

Duka mendalam untuk korban bencana.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Januari 2025.

Membuatku Heran

Kupikir aku orang yang tak mudah heran. Tapi menemukan orang berkata, "Tak ada yang lebih sempurna dariku!" benar-benar membuatku heran.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Paling Jujur di Dunia

Kata-kata paling jujur di dunia adalah kata-kata Bullseye dalam film DareDevil. "Setan itu milikku!"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Sebenarnya

Sebagian orang merasa menjadi wakil Tuhan. Sebagian lagi merasa wakil setan. Sebenarnya, mereka hanya mewakili egonya sendiri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

Berpikir Tuhan

Kadang-kadang aku berpikir Tuhan tidak ada, tapi kemudian Tuhan menertawakanku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Agustus 2012.

Kamis, 30 Juli 2026

Hantu dan Orang-orang Awam

Jika kita perhatikan, hantu/setan Indonesia dan hantu-hantu Amerika/Eropa memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Setidaknya, hal itu tergambar dalam banyak film bertema hantu/setan.

Hantu/setan barat umumnya bertarung dengan manusia, dan memiliki ambisi menguasai dunia. Sementara hantu/setan Indonesia, biasanya cuma nakut-nakutin orang.

Apa makna yang bisa diambil dari kenyataan itu? Bagi saya sederhana. Bahwa hantu—sebagaimana banyak hal lain—adalah hasil konstruksi budaya, olah pikir masyarakat, yang mencerminkan kultur tempat hantu-hantu itu diciptakan. Orang barat yang ambisius menciptakan setan yang ambisius, orang Indonesia yang “apa adanya” menciptakan setan serupa.

Encyclopedia Britannica (edisi 2003) mengulas Nyi Roro Kidul dalam perspektif semacam itu, bahwa sosok gaib itu sebenarnya diciptakan raja-raja Jawa untuk menakut-nakuti rakyat.

Sementara Pramoedya Ananta Toer, dalam “Anak Semua Bangsa”, menyatakan, “Nyai Roro Kidul adalah kreasi Jawa yang gemilang untuk mempertahankan kepentingan Raja-Raja Pribumi Jawa.”

Bagaimana cara agar manusia tunduk pada manusia lain, yang jelas sama-sama manusia? Bagi orang zaman dulu, caranya mudah. Cukup ciptakan mitos, dan bangun “kepercayaan tertentu” yang memungkinkan seorang manusia jadi “tampak seperti bukan manusia umumnya”.

Di kalangan masyarakat terbelakang (di zaman dulu maupun sekarang), cara semacam itu benar-benar efektif, dan memungkinkan siapa pun untuk memerintah manusia lain, karena seolah-olah dia memiliki privilese (keistimewaan) yang tidak dimiliki manusia umumnya.

Kaisar Jepang, juga para kaisar lain di zaman dulu, membangun mitos tentang diri mereka yang—konon katanya—keturunan dewa, dilahirkan oleh matahari, atau hal-hal gaib lain, dan dengan cara itulah mereka menghasilkan ketundukan bahkan penyembahan dari rakyatnya.

Hal serupa terjadi di Eropa, saat masih berada di zaman kegelapan. Para bangsawan Eropa mengklaim diri mereka keturunan dewa, dan dengan mitos itu mereka berharap para kawula menundukkan kepala untuk patuh dan hormat serta menuruti apa pun yang diperintahkan.

Sementara di Indonesia, beberapa raja mengklaim memiliki hubungan dengan makhluk gaib yang dihormati sebagai “penguasai laut selatan”. Intinya sama—menciptakan privilese, yang sebenarnya tidak ada, agar tampak “seperti bukan manusia umumnya”.

Bahkan di zaman sekarang pun, cara semacam itu masih digunakan. Kim Jong Un di Korea Utara mengklaim dia—dan leluhurnya—keturunan dewa, dan rakyat Korut patuh serta takut padanya. Kenapa ia berhasil? Karena rakyat Korut terbelakang, dan terus dikondisikan untuk tetap terbelakang.

Mitos-mitos gaib semacam itu tidak hanya ampuh untuk menempatkan diri di “tempat yang tinggi”, tapi juga ampuh untuk mengendalikan orang-orang terbelakang. Di China, misalnya, ada mitos populer bahwa orang yang mati karena kecelakaan atau dibunuh akan bangkit pada hari ketujuh untuk balas dendam.

Peneliti modern yakin bahwa cerita itu dibuat oleh penguasa untuk mencegah terjadinya pembunuhan. Motivasinya memang bagus, tapi hanya relevan saat diterapkan pada masyarakat yang masih terbelakang, yang masih sangat percaya pada takhayul dan hal-hal mistis.

Sementara di Jepang, ada mitos hantu berbentuk rubah. Jika orang makan terlalu banyak atau memuja penampilan mereka—kata mitos itu—artinya mereka kerasukan rubah. Itu sebenarnya upaya pemimpin religius zaman dulu untuk mendorong orang-orang agar tidak materialistis. Mungkin terdengar meyakinkan ketika hal semacam itu diajarkan di zaman kuno, tapi bisa membuat orang tertawa kalau dikatakan di zaman sekarang.

Fazlur Rahman, mengutip Polybius, menulis, “... orang-orang awam adalah orang yang tidak punya pikiran, dan penuh dorongan-dorongan yang bertentangan dengan hukum; seperti rasa marah yang tak rasional dan kecenderungan-kecenderungan yang agresif. Tidak ada satu pun yang dapat mengendalikan mereka, kecuali rasa takut terhadap yang gaib.”

Sepertinya memang begitu.

Menjangkau Matahari

Jatuh cinta membuatmu merasa dapat menjangkau matahari. Terasa hebat, tapi juga membuatmu terbakar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Agustus 2012.

Tujuan Hidup

Barusan baca artikel di Vice tentang “resep tidur nyenyak”. Cara tidur nyenyak, menurut artikel itu—mengutip suatu penelitian—adalah “memiliki tujuan hidup”. 

Tautan artikelnya tidak perlu kumasukkan di sini, karena artikelnya (atau adaptasi/terjemahan Indonesianya) awut-awutan.

Jadi, merujuk artikel itu, kita perlu punya tujuan hidup untuk bisa tidur nyenyak. Aku punya tujuan hidup, tapi sulit tidur nyenyak. Boro-boro tidur nyenyak, yang ada malah gelisah terus, karena terbayang tujuan hidup. Karena punya tujuan hidup, aku justru tidak ingin tidur!

Mungkin ada yang ingin bertanya, "Emang, tujuan hidupmu apa?"

Tujuan hidupku sederhana: Meruntuhkan peradaban, dan mengakhiri semua omong kosong ini.

*Pantes gak bisa tidur.*

Dan setelah itu, mengutip ungkapan Thanos dalam Infinity War, “Akhirnya aku bisa beristirahat, sambil menyaksikan matahari terbit di Alam Semesta. Untuk kemudian terlelap di pangkuan Mbakyu."

Kalimat terakhir tambahan dariku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Maret 2019.

Asal Punya Duit

Bangun tidur, keluar rumah, banjiran, menuju warung Bu Solehah untuk menikmati sego megono dan teh anget.

Subhanallah... bahagia itu sederhana—asal punya duit.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

Selera Humor yang Aneh

Sebagian orang stres karena ingin kurus, sebagian lagi stres karena ingin gemuk. Hidup tampaknya punya selera humor yang aneh, dan, kadang-kadang, menjengkelkan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2019.

Pantas Kurus Terus

Bocah ini sering baru merasa kelaparan setelah berhadapan dengan makanan. Pantas kurus terus.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Ingin Sekali

Ingin sekali memiliki cangkir beling, bertulisan "potluck". Lalu akan kuletakkan cangkir itu di kamarku, sementara aku damai terlelap.

  
*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Juni 2014.  

Jauh Lebih Mudah

Memang, jauh lebih mudah mencari dan mendapatkan, daripada melepas dan melupakan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Februari 2012.

Tweet Jadul Zaman DVD-ROM

Yang menjengkelkan dari DVD-ROM keluaran baru: Terlalu selektif. Cakram tergores dikit aja nggak mau muter! Sok jual mahal banget!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Februari 2012.

Gegara Harddisk Rusak

Kehilangan ratusan halaman di Word gegara harddisk rusak tuh rasanya seperti patah hati sewaktu sakit parah, lalu mendengar vonis amputasi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Februari 2012.

Lelah Pikiran

Lelah pikiran sepertinya lebih menguras tenaga daripada lelah fisik. Sudah istirahat lama pun tetap terasa lelah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Februari 2012.

Sudah Diberitahu

Sudah diberitahu malah teriak.

Antara goblok campur asu.

Rabu, 01 Juli 2026

Ilusi Nasi Uduk

Catatan ini lanjutan catatan sebelumnya (Catatan dari Tahun Baru). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya baca catatan sebelumnya terlebih dulu. 

Tyo bertanya pada Arta, “Dari mana, Ta’?”

“Nyari nasi uduk,” jawab Arta.

“Ketemu?”

“Nggak.” Arta lalu curhat, “Di Jakarta, nyari nasi uduk gampang banget. Cuma jalan kaki beberapa meter, udah nemu warung nasi uduk. Di sini, nasi uduk kayak barang langka.”

Arta bertetangga dengan Tyo, kampung mereka bersebelahan. Namun, sekitar delapan tahun terakhir Arta tinggal di Jakarta, membantu kakaknya yang punya usaha di sana. Hal itu pula yang menjadikan kami—khususnya Arta dan saya—sangat lama sekali tidak ketemu. 

“Di Jakarta,” lanjut Arta, “saban malam aku makan nasi uduk. Cuma jalan kaki dari rumah, beberapa meter udah nemu warung. Kalaupun tutup, jalan kaki lagi udah nemu warung lagi yang jualan nasi uduk. Pas balik ke sini, aku sering kangen nasi uduk, tapi kayaknya nggak ada yang jual.”

Saya jadi penasaran, “Emang kamu udah berapa lama balik ke sini?”

“Udah cukup lama, sih,” jawab Arta, “sekitar lima bulanan ini.”

Sambil menahan senyum, Tyo lalu berkata pada Arta, “Di dekat tempat kita sebenarnya ada warung nasi uduk. Tapi nasi uduk KW.”

“Di daerah mana?” tanya Arta antusias—dia sepertinya tidak menangkap istilah aneh yang disebut Tyo.

Tyo lalu menjelaskan lokasi yang dia maksud, dan Arta langsung paham. Mereka sama-sama mengenal daerahnya. 

“Warung itu dulu ramai banget,” ujar Tyo. “Orang-orang yang suka nasi uduk, termasuk aku, datang ke sana. Tapi belakangan ketahuan kalau nasi uduk di sana ternyata bukan nasi uduk.”

“Maksudnya gimana?” Arta bingung. “Kok, nasi uduk tapi bukan nasi uduk?”

Tyo seperti menahan tawa, lalu mulai menjelaskan. 

Berdasarkan penjelasan Tyo, sekian tahun lalu—sekitar dua tahun setelah Arta tinggal di Jakarta—ada warung makan yang muncul di pinggir jalan. Warung itu mirip warung Lamongan. Ada spanduk besar bergambar lele, ayam, bebek, ikan. Warung itu buka sekitar pukul 17.00 sampai cukup larut malam.

Ketika pertama kali datang ke warung itu, Tyo mengira warung Lamongan seperti biasa. Dia pesan nasi dan pecel lele di sana. Dia sama sekali tidak kepikiran nasi uduk. Tetapi, ketika mendapati nasi di piring, Tyo berpikir itu nasi uduk. Alasannya sederhana: nasi itu ditaburi bawang goreng!

“Sumpah,” ujar Tyo sambil tertawa, “aku mengira itu nasi uduk!”

Waktu pertama kali makan di warung itu, Tyo merasa puas. Pecel lelenya enak, dan nasinya masih hangat. Ketika membayar, Tyo mendapati harga makanan di warung itu sama seperti di warung-warung Lamongan umumnya. Jadi, sejak itu pula, Tyo sering ke sana, untuk menikmati nasi uduk yang nikmat!

Belakangan, Aldi juga ikut terseret ke warung itu. Aldi ini juga teman nyangkruk kami. Sejak pertama kali diajak Tyo ke warung “nasi uduk” tersebut, Aldi juga merasa cocok. Jadi dia pun sering makan di warung itu—kadang sendirian, kadang bersama Tyo. Dan keduanya sama-sama berhalusinasi bahwa selama itu mereka makan nasi uduk!

Ternyata, yang mengalami hal semacam itu bukan cuma Tyo dan Aldi. Ada orang-orang lain yang datang ke sana karena sama-sama mengira warung itu menyediakan nasi uduk. Ketika sedang makan malam di sana, Tyo kadang ketemu orang yang ia kenal yang juga tinggal di daerah itu, dan mereka sama-sama mengira sedang makan nasi uduk. Keberadaan bawang goreng di atas nasi yang hangat ternyata mampu menciptakan ilusi. 

Yang “menakjubkan” dari kisah ini adalah fakta bahwa orang-orang yang makan di warung itu benar-benar percaya sedang makan nasi uduk, padahal di spanduk warung tidak ada keterangan bahwa itu warung nasi uduk. Orang-orang hanya tahu bahwa nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng. Dan karena nasi di warung itu ditaburi bawang goreng, mereka pun menyimpulkan itu nasi uduk.

Saya perlu ngasih catatan di sini. Di kota saya maupun di daerah-daerah sekitarnya, nasi putih biasa (bukan nasi uduk) memang tidak ditaburi bawang goreng. Di warung mana pun saya makan, saya tidak pernah mendapati bawang goreng di atas nasi. Bawang goreng hanya ada pada nasi uduk. 

Ada alasan yang agak ilmiah terkait hal itu. Nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng untuk meningkatkan aroma, memberi tekstur renyah, dan menambah kedalaman rasa gurih. Nasi uduk ditanak dengan santan yang membuat nasi jadi lebih lembut. Bawang goreng ditaburkan untuk menciptakan kontras tekstur.

Hal berbeda terjadi pada nasi biasa (bukan nasi uduk). Nasi biasa, idealnya, agak akas, dan dapat dimakan dengan lauk apa pun, termasuk dengan sayur berkuah. Karenanya, secara umum, nasi biasa tidak membutuhkan bawang goreng. 

Kembali ke cerita Tyo.

Sampai cukup lama, Tyo percaya pada ilusi bahwa warung yang sering ia datangi memang warung nasi uduk. Tidak pernah sedetik pun ia meragukan keyakinannya. Karena nyatanya makan di warung itu terasa nikmat baginya. Sambal pecel lelenya enak. Nasinya hangat, dan ada taburan bawang goreng di atasnya. Dan Tyo bukan Chef Juna, juga bukan Chef Arnold, atau chef-chef lainnya. Lidahnya awam. Taburan bawang goreng pada nasi sudah cukup menciptakan halusinasi.

Sampai suatu malam, waktu lagi makan di warung itu, Tyo ditelepon ibunya, yang memintanya datang ke rumah. Tyo lalu terpikir membawakan nasi uduk plus ayam goreng buat ibu serta adik perempuannya.

Ibu serta adik Tyo senang dengan nasi yang dibawakan Tyo, khususnya karena disebut “nasi uduk”. Tetapi baru beberapa suap, ibu Tyo murka. 

“Nasi uduk apaan?” tanya ibu Tyo. “Ini nasi biasa!” 

Tyo kaget. Dia menyatakan itu nasi uduk, buktinya ada bawang goreng di atasnya. 

Adik Tyo mengonfirmasi pernyataan ibu mereka, bahwa itu nasi biasa—bukan nasi uduk. Tyo makin bingung.

Besok malamnya, saat kembali makan di warung langganan, Tyo memberanikan diri bertanya langsung pada penjualnya, “Mbak, sebenarnya ini nasi uduk apa nasi biasa?”

Mbak-mbak penjual warung, entah kenapa, menjawab dengan wajah agak lelah. “Nasi biasa, Mas. Di spanduk, kan, nggak ada tulisan nasi uduk.” 

Penjelasan itu seperti palu yang menghantam kesadaran Tyo. Ilusinya runtuh. Ketika ibu serta adiknya mengatakan itu nasi biasa, Tyo masih cukup pede dengan keyakinannya. Tapi ketika si penjualnya sendiri yang menyatakan itu nasi biasa, Tyo tidak punya sandaran lagi untuk ilusinya.

Tyo merasa tertipu, meski ia tidak bisa menuduh si pemilik warung menipunya. Faktanya, di warung itu memang sama sekali tidak ada tulisan atau keterangan bahwa mereka menjual nasi uduk. Spanduknya hanya berisi gambar lele, ayam, bebek, dan ikan. Tidak ada tulisan “nasi uduk” atau semacamnya. Dia sendiri yang menyimpulkan nasi di warung itu nasi uduk. Dan kesimpulan itu muncul gara-gara taburan bawang goreng di atas nasi.

Ketika Tyo menyampaikan kebenaran itu ke Aldi, mereka ketawa-tawa seperti orang gila. Pengalaman “makan nasi uduk yang ternyata bukan nasi uduk” sepertinya cukup mengguncang pikiran mereka.

Sambil tertawa, Tyo mengatakan pada saya dan Arta, “Sekarang, kalau ditanya kenapa nasi uduk dikasih bawang goreng tapi nasi biasa nggak dikasih bawang goreng, aku tahu jawabannya. Buat identifikasi!” 

Kami tertawa, dan memahami itu kebenaran yang lucu.

“Tapi warung itu nggak salah, kan?” ujar Arta kemudian. “Nyatanya mereka nggak pernah mengatakan itu nasi uduk.”

“Memang,” sahut Tyo. “Masalahnya, kenapa mereka ngasih bawang goreng di atas nasi, kalau itu sebenarnya nasi biasa?”

Sambil menahan tawa, saya mengatakan, “Ya suka-suka mereka, lah. Kalau nggak suka, kamu tinggal bilang jangan kasih bawang goreng.”

“Masalahnya bukan di situ,” jawab Tyo. “Masalahnya, bawang goreng itu menciptakan ilusi kalau itu nasi uduk!”

Kami bertiga lalu tertawa-tawa, menyadari betapa absurdnya kasus itu.  

Ponsel Tyo berbunyi. Dia merogoh saku celananya, dan mendapati Aldi di layar ponsel. “Panjang umur, nih, bocah,” ujarnya. 

Tyo lalu bercakap-cakap dengan Aldi lewat video call. Di tengah percakapan, Tyo berkata, “Al, coba tebak aku lagi sama siapa.”

“Pacar barumu?” sahut Aldi di ponsel.

Tyo mengarahkan layar ponselnya ke saya dan Arta.

“Anjrit!” seru Aldi setelah melihat kami bertiga. “Kalian tahun baruan, kenapa nggak ngajak aku?”

Kami pun lalu nimbrung ke percakapan di ponsel itu, dan Aldi mengatakan, “Di rumahku masih ada setengah karung jagung sisa semalam. Kenapa kalian nggak ke sini aja, buat bakar-bakar jagung? Mumpung tahun baru!”

Tyo menatap saya dan Arta, meminta pendapat.

Saya berkata, “Tahun baru atau bukan tahun baru, jagung bakar adalah favorit.”

Kami bertiga lalu bangkit, bersiap ke rumah Aldi.

Komunikasi dan Asumsi

Percakapan gagal lebih sering disebabkan oleh asumsi daripada perbedaan pendapat. Kita mengira orang lain sudah tahu apa yang kita maksud, memahami konteks yang kita bawa, atau menangkap isyarat yang menurut kita sangat jelas. Kenyataannya, mereka tidak pernah tinggal di dalam kepala kita. Mereka hanya menerima potongan-potongan informasi yang berhasil keluar melalui kata-kata, ekspresi wajah, atau tindakan. Sisanya harus mereka tebak sendiri.

Kesalahan itu muncul hampir di semua hubungan. Atasan kesal karena bawahan “tidak peka”, padahal instruksinya terlalu umum. Pasangan kecewa karena ulang tahun dilupakan, padahal keinginannya hanya disampaikan lewat sindiran beberapa minggu sebelumnya. Seorang teman mendadak menjaga jarak karena merasa diabaikan, sementara yang lain sama sekali tidak sadar telah melakukan sesuatu yang menyinggung. Kedua orang itu membawa cerita yang berbeda, seolah-olah mereka sedang mengingat dua kejadian yang memang tidak sama.

Otak manusia punya kebiasaan aneh. Setelah memahami sesuatu, kita lupa bagaimana rasanya ketika belum memahami hal itu. Psikologi menyebutnya curse of knowledge. Pengetahuan yang sudah kita miliki membuat kita melebih-lebihkan apa yang seharusnya diketahui orang lain. Penulis menganggap tulisannya sudah jelas. Guru mengira penjelasannya sederhana. Ahli lupa bahwa istilah yang diucapkannya sehari-hari terdengar asing bagi orang yang baru belajar.

Saya pernah membantu seseorang merakit meja komputer yang baru dibeli. Saya berkata, “Bagian itu dipasang seperti biasa.” 

Dia hanya memandangi papan-papan kayu yang berserakan di lantai, kemudian bertanya bingung, “Seperti biasa bagaimana?” 

Saya melupakan sesuatu di situ. Bagi orang yang pernah apalagi terbiasa mengerjakan sesuatu, langkah berikutnya tampak mudah. Bagi orang yang baru pertama kali melakukannya, langkah berikutnya adalah tanda tanya.

Mungkin karena itulah komunikasi yang baik sering terdengar sedikit berlebihan. Orang yang benar-benar ingin dipahami rela mengulang, memperjelas, bahkan memeriksa apakah lawan bicaranya menangkap maksud yang sama. Bukan karena meremehkan kecerdasan orang lain, tetapi karena sadar setiap kepala membawa peta yang berbeda. Satu kalimat yang tampak lurus saat keluar dari mulut bisa berbelok jauh ketika tiba di telinga orang lain.

Lain kali ketika muncul keinginan berkata, “Harusnya dia mengerti,” saya ingin berhenti sebentar pada kata “harusnya”. Kata kecil itu sering menyembunyikan harapan yang tidak pernah benar-benar diucapkan.

Masih Cukup Waras

Pagi ini temanku mengabari hujan turun di tempatnya, sementara di tempatku tidak ada setetes pun gerimis. Kami bisa saja berdebat seharian, berteori ndakik-ndakik, mengajukan "kebenaran" berdasarkan yang terjadi di tempat masing-masing, tapi untung kami masih cukup waras.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Januari 2019.

Ingin Bikin Band

Di Malaysia ada band bernama PARADIGMA BARU. Aku jadi ingin pindah ke Malaysia, dan bikin band dengan nama DASAR-DASAR PRAGMATISME.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2019.

Hannibal Lecter dan Mbakyunya

Hannibal Lecter pernah punya mbakyu, yang memberi tahu, "Ingatan itu seperti pisau tajam, Hannibal. Menyimpan ingatan bisa membuatmu terluka."

Yang jadi masalah adalah... bagaimana kamu bisa melepaskan ingatan, kalau kamu bahkan tidak punya kemampuan untuk lupa?

Gajah selalu ingat, kata pepatah. Begitu pula Hannibal Lecter.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Januari 2019.

Ngobrol Buku di X

Buku dengan cover ter-cantik! —@basebuku, 13 September 2024

Gramedia Pustaka Utama (GPU) punya desainer cover bernama Eduard Iwan Mangopang. Cover-cover karyanya relatif sederhana, tapi elegan dan berkelas. Itu cover-cover yang menurutku terbaik!

Yang udah baca Murder of Roger Ackyord, tolong kasih tau dong kenapa novel Oma Christie yang satu ini kontroversial? *Tolong jangan spoiler ya! Cukup kasih hint —@basebuku, 14 September 2024

Kontroversial dalam arti; Agatha Christie "menabrak" pakem penulisan cerita detektif di novel ini, hingga pembaca yang paling berpengalaman sekalipun akan terkecoh.

Guys mau tanya, selain Murder of Roger Ackyord, buku karangan Agatha Christie yang mana lagi yang ceritanya sangat mind blowing dan di luar dugaan? —@basebuku, 15 September 2024

Coba baca The Curtain [diterjemahkan dengan judul "Tirai"]. Itu novel Agatha Christie paling "suram" karena menggali sisi-sisi tergelap manusia, sekaligus yang membedakan novel Agatha Christie dengan novel-novel detektif lainnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 September 2024.

Hidup Memang Drama

Tadi pagi menemani seorang teman menangis kehilangan ibunya. Sekarang bersiap ke resepsi perkawinan, untuk ikut bahagia. Hidup memang drama.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Januari 2012.

Komunikasi

Setiap orang mestinya menyadari kebenaran sederhana ini, bahwa satu-satunya cara berkomunikasi yang baik dan sehat dengan orang lain adalah dengan cara berkomunikasi!

Dan yang disebut komunikasi adalah menggunakan bahasa yang bisa dipahami bersama, tanpa menimbulkan salah paham. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Agustus 2021.

This is Wick

This is Wick. Yes, John Wick. —John Wick dalam John Wick

Benar-benar quote yang environmental dan moratorium.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2015.

Mbakyuisme

Personel One Direction, Harry Styles, sering dikabarkan menyukai wanita yang lebih tua darinya. —@kumparan, 15 Januari 2019.

Harry Styles mungkin bocah yang menganut paham mbakyuisme.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Januari 2019.

Selasa, 30 Juni 2026

Nasihat Perkawinan

Perkawinan adalah hal biasa, karena dilakukan miliaran orang di dunia. Karenanya, tidak usah menganggap kamu lebih tinggi atau lebih mulia dari orang yang tidak/belum menikah. Sekali lagi, perkawinan adalah hal biasa, itu sesuatu yang dilakukan oleh hampir semua manusia. Menjadi istimewa, karena kamu—dan masyarakatmu—menganggapnya istimewa.

Dan tak perlu buru-buru memuji pasanganmu setinggi langit, karena pasanganmu juga manusia biasa—sama sepertimu, sama seperti pasangan orang-orang lainnya. Lebih dari itu, tak perlu buru-buru memuji pasanganmu kalau kamu baru menikah tiga hari dengannya. Tunggu sampai kamu bersamanya tiga tahun, atau tiga puluh tahun, dan ucapkan pujianmu di depan pasanganmu—bukan di depan orang lain. 

Orang yang berhak mendengar pujianmu terhadap pasanganmu bukan tetanggamu, bukan teman-temanmu, bahkan bukan orang tuamu, tapi pasanganmu sendiri. Jika dia baik, dialah yang paling berhak mendengar pujian darimu. Jadi sampaikan pujianmu kepadanya, dan tidak usah pamer di depan orang lain, karena orang lain juga memiliki pasangannya sendiri.

Salah satu kebiasaan buruk adalah hobi memuji pasangan di depan orang lain, tapi suka bermuka masam dan pelit pujian pada pasangannya sendiri. 

Jika perkawinanmu bahagia, nikmatilah bersama pasanganmu, bersama keluarga dan anak-anakmu. Syukurilah hidupmu—tapi tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain. 

Karena, kalau kamu memamerkan kebahagiaanmu kepada orang lain yang kebetulan menderita, upaya pamermu akan menyakiti perasaannya. Kalau kamu pamer kebahagiaanmu kepada orang lain yang juga bahagia, kalian hanya akan terjebak dalam perlombaan ujub dan riya. Tidak ada gunanya—sungguh tak ada gunanya.

Sebaliknya, jika perkawinanmu sengsara, benahilah bersama pasanganmu, bersama keluargamu. Pelajari kekeliruanmu, dan—sekali lagi—tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain. Perkawinanmu adalah milikmu. 

Doktrin yang Menipu

Ada seorang pria dan seorang wanita yang hidup sendiri-sendiri, dan mereka bisa menikmati kehidupan dengan baik, tanpa kekurangan.

Lalu keduanya bertemu dan menikah. Setelah itu, kehidupan jadi terasa sangat berat dan serba kekurangan.

Diam-diam, realitas itu ada di mana-mana.

Si A punya penghasilan sendiri, begitu pula Si B. Mereka berpikir bisa menggabungkan penghasilan jika menikah, sehingga hidup akan berkecukupan.

Anehnya, begitu pernikahan terjadi, hidup terasa sempit. Penghasilan yang dikira cukup ternyata tak pernah cukup dan terus kurang.

Banyak temanku mengalami kenyataan ini. Sebagian mereka mengaku terang-terangan, sebagian lain sambil malu-malu. Yang jelas, mereka sama-sama menghadapi kenyataan serupa.

Dalam pikiranku, kenyataan aneh itu sebenarnya logis. Saat masih lajang, masing-masing orang hanya mencukupi kebutuhan pribadi. Ketika menikah, mereka punya anak, dan kebutuhan jelas bertambah. Jatah untuk dua orang sekarang harus dibagi lebih banyak. Hasilnya jelas: Tidak cukup.

Tapi doktrin kadang membutakan mata dan pikiran banyak orang. Meski realitasnya begitu jelas, mereka masih memaksa untuk percaya bahwa "anak punya rezeki sendiri", atau "banyak anak banyak rezeki".

Faktanya, banyak pasangan terjerat utang, anak telantar, kelaparan, di mana-mana.

Yang menyedihkan, sering ada orang yang sok mengatakan, "Kalau dipikir-pikir, penghasilanku tidak akan cukup untuk menghidupi keluarga. Tapi ndilalah ada saja rezekinya."

Terdengar familier? Meski mungkin terdengar hebat, aku tahu itu cara orang "ngadem-ngademi" diri sendiri.

Yang paling buruk dari semua ini adalah orang-orang yang hobi ngutang pada yang masih lajang, sambil menyuruh-nyuruh cepat kawin.

"Menikah akan melancarkan rezeki," kata mereka.

Kalau melancarkan rezeki, kenapa kau berutang? Sudah begitu, utangnya gak dibayar-bayar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Maret 2019.

Hukum Psikologi Tertua di Dunia

Antara ingin tertawa campur sedih campur ingin marah, tiap ketemu orang yang merasa lebih tahu kehidupan orang lain, lalu menyuruh-nyuruh orang lain agar melakukan sesuatu, karena menurutnya itu hal baik. Misalnya... menyuruh orang lain cepat menikah, atau cepat punya anak.

Yang ironis terkait hal ini adalah, orang yang paling rajin mengurusi hidup orang lain (dalam hal ini menyuruh cepat kawin atau cepat punya anak) biasanya justru tidak bisa mengurus hidupnya sendiri, dan menjalani kehidupan tidak bahagia, campur keblangsak dan menyedihkan.

Kalau ada teman atau tetanggamu yang doyan menyuruh-nyuruhmu cepat menikah, cobalah perhatikan. Aku berani betaruh, dia menjalani perkawinan yang tidak bahagia, yang membuatnya tertekan. Dan mereka yang menyuruh-nyuruhmu cepat punya anak biasanya juga menjalani hidup keblangsak.

Manusia, siapa pun dia, tidak bisa—dan tidak akan bisa—melanggar hukum psikologi tertua di dunia: Orang yang bahagia dengan hidupnya tidak punya keinginan ngerusuhi (sok mengurus) hidup orang lain. Kalau kau bahagia, kau akan nyaman dengan diri sendiri, dan tak peduli orang lain.

Ini bukan doktrin omong kosong, tapi kebenaran yang bisa dibuktikan kapan pun, di mana pun, pada siapa pun. Setiap kali kau menemukan orang yang ngerusuhi hidupmu dan merasa lebih tahu tentang hidupmu, kau bisa yakin dia orang menyedihkan, yang menjalani hidup tanpa kedamaian.

Orang yang bahagia dalam hidupnya tentu punya kepedulian pada orang lain—perhatikan, "kepedulian"—bukan ngerusuhi hidup orang lain. Orang yang bahagia bahkan punya kepedulian tinggi pada orang lain. Mereka peduli, bukan ngerusuhi kehidupan orang lain. Kau tentu tahu perbedaannya.

Jika ingin mendalami lebih lanjut ocehan ini, silakan baca catatan berikut:

Kebahagiaan Tak Butuh Pengakuan » https://bit.ly/2XYFF1c 

Tipuan Paling Tolol » https://bit.ly/2TIfmxQ 

Pernikahan itu baik. Yang buruk adalah orang yang suka menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Maret 2019.

Halusinasi

Halusinasi melihat makhluk halus memang bisa disembuhkan. Yang sulit disembuhkan adalah halusinasi melihat pernikahan sebagai solusi untuk semua masalah, padahal justru menjadi penyebab banyak masalah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Maret 2019.

Keindahan

Keindahan adalah kepak sayap kupu-kupu. Kau bisa memandanginya, tetapi ia tak bisa disentuh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Kurang Tersenyum

Tiap melihat Edward Norton, rasanya seperti melihat diri sendiri. Mungkin aku memang kurang tersenyum akhir-akhir ini.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Kelopak Mawar

Sekuntum mawar mengambang di atas air. Setumpuk harapan bermain di tangan takdir. Kelopak mawar adalah harapan tanpa akhir.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 16 Juli 2012.

Malaikat Tak Kita Kenal

Ada banyak iblis bertopeng malaikat, dan ada malaikat-malaikat yang tak pernah kita kenal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Raos

Oh... raos.

Tak Perlu Resah

Kalau kita tidak bersalah, tapi kemudian ada yang marah-marah, jelas orang itu yang bermasalah. Tak perlu resah!


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 13 Juli 2012.

Ingin Bersulang

Dua tahun lalu, pada 27 Mei 2017, aku mengatakan di sini bahwa dia sangat pintar. Orang-orang mencibir dan menertawakanku, tapi sekarang terbukti kalau dia memang benar-benar pintar.

Aku ingin bersulang untuk diriku sendiri!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 September 2019.

Lupakan!

Apa yang lebih lucu di dunia ini selain... ah, lupakan!


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 13 Juli 2012.

Senin, 29 Juni 2026

Saat Tergelap dalam Hidup

Kamu itu ga sendiri, cari teman untuk bicara, kalo bisa tenaga berpresional. untuk suicide survivor, terima kasih untuk tidak pernah menyerah —@hati2dimedsos, 28 Januari 2019.


Orang-orang yang menghadapi kemalangan, kesepian, dan kebingungan—yang belakangan memutuskan bunuh diri—kerap dinasihati agar mencari teman bicara. Nasihat itu baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, bagi orang bersangkutan, “mencari teman bicara” sering nyaris mustahil.

Saat kita menemui seseorang—teman, atau siapa pun—dan berharap dia mau mendengarkan kita, belum tentu harapan itu terwujud. Bisa jadi, orang yang kita harap mau mendengarkan justru berceramah, menghakimi, atau menggampangkan beban pikiran kita, atau mendengarkan tapi tak peduli.

Saran agar menemui profesional juga saran yang baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, tidak semua orang—khususnya yang bertendensi bunuh diri—tahu hal itu. Kalau pun tahu, belum tentu dia punya biaya. Kalau pun tahu dan punya biaya, belum tentu dia mau melakukannya.

Sebenarnya, yang paling diinginkan seseorang yang sedang menghadapi “kegelapan hidup” adalah seseorang—kalau bisa yang ia kenal dan percaya—yang benar-benar mau mendengarkan dan menunjukkan kepedulian. Tetapi, demi Tuhan, menemukan orang semacam itu sulitnya luar biasa.

Ada jutaan orang yang tahu cara menasihati, tapi sulit menemukan satu saja yang benar-benar peduli. Ada jutaan orang yang siap menjadi temanmu saat kau tertawa, tapi sulit menemukan satu saja yang menemanimu saat menangis. Terdengar muram, memang. Tapi itulah kenyataannya.

Ada banyak orang yang mendekat dan siap menjadi temanmu saat kau mendapat kesenangan dan bergelimang uang, tapi banyak pula yang menjauh dan berpaling darimu saat kau menghadapi masalah dan butuh pertolongan. Terdengar suram, memang. Tapi itu realitas di sekitar kita.

Aku pernah menghadapi saat-saat tergelap dalam hidup, dan akhirnya menyadari sesuatu yang benar-benar pahit: Tidak ada siapa pun yang bisa kuandalkan di dunia ini, selain diri sendiri. Mungkin terdengar angkuh. Tapi untung aku berpikir seperti itu, bukan malah menenggak arsenik.

Kepedulian dan kemampuan mendengarkan itu mudah dikatakan, tapi sulit ditemukan—khususnya oleh orang yang benar-benar membutuhkannya. Itulah kenapa, sejujurnya, aku tidak heran dengan orang bunuh diri, karena aku benar-benar memahami yang dirasakannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

Merasa Bermimpi

Aku bertanya, "Kapan terakhir kali kau tidur?" | Dia menyahut, "Kapan terakhir kali kau terjaga?" | Tiba-tiba aku merasa bermimpi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Agustus 2012.

Masalah Kita

Masalah kita, Ma'am, kita tak punya masalah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Februari 2012.

Hidup Tanpa Masalah

Mengharapkan hidup tanpa masalah sepertinya sangat sulit. Karena ketika hidup mulai terasa mudah, kita pun sibuk mencari masalah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Februari 2012.

Masalah Masing-masing

Setiap orang menghadapi masalah. Yang membedakan adalah cara menghadapinya. Kehidupan adalah masalah masing-masing.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Februari 2012.

Cara Berpikir SDM Rendah

"Orang paling keparat, dia tuh." | "Heh? Kok kamu bisa berpikir kayak gitu?" | "Ya emang gitu sih. Gak tau kenapa, pokoknya dia keparat."

"Dia tuh bangsat!" | "Dari mana kamu bisa menyimpulkan dia bangsat?" | "Ada yang bilang begitu. Jadi aku percaya dia bangsat!"

"Dia itu bajingan!" | "Apa buktinya kalau dia bajingan?" | "Aku tidak punya bukti apa-apa, tapi katanya dia bajingan, jadi dia bajingan!"

"Dia brengsek, kau tahu." | "Kenapa kau menganggapnya brengsek?" | "Ya karena dia brengsek. Aku tak tahu kenapa, pokoknya dia brengsek!"

"Kupikir dia bersalah," katanya. | "Kenapa kaupikir dia bersalah?" | "Tidak tahu. Pokoknya kupikir dia bersalah, jadi dia bersalah."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Pacarmu bukan Pacarmu

"Anakmu bukan anakmu," kata Kahlil Gibran. Mungkin pula, pacarmu bukan pacarmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Efek Stres

Lelah, padahal seharian gak ngapa-ngapain. Efek stres memang luar biasa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Maret 2019.

Nonton Film

Si cewek bertanya pada pacarnya, "Kenapa ya, cowok-cowok dalam film itu bisa manis sekali?" | "Karena mereka dibayar," sahut si pacar.

Sambil nonton film, si cowok berkata pada pacarnya, "Indah sekali cinta mereka." | "Tentu saja," jawab si pacar. "Honor mereka juga mahal."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Agustus 2012.

Selamat Hari Minggu, Minggu

Selamat hari Minggu, Minggu. Air mata mengering di balik topengmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 14 Juli 2012.

Sweet Dream

Wet dream dan sweet dream tuh ternyata beda jauh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Disuruh Nggasruh

Disuruh kok nggasruh.

Senin, 01 Juni 2026

Catatan dari Tahun Baru

Banyak warung makan, khususnya warung-warung langganan saya, yang tutup di hari-hari besar. Seperti pas Tahun Baru kemarin.

Pada siang hari, 1 Januari 2026, saya keluar rumah untuk cari makan. Tapi warung-warung yang saya kunjungi tutup semua. Yang jadi masalah, perut lapar tidak kenal hari libur atau hari besar. Jadi saya pun kemudian berkendara perlahan-lahan, mencari warung makan yang buka.

Sepanjang perjalanan, saya sempat menemukan beberapa warung yang buka, dari warung nasi sampai warung bakso. Tapi semua warung itu tampak ramai dan penuh. Kalau saya berhenti, saya pasti harus antre, dan saya juga tidak nyaman kalau makan sambil berdesak-desakan. Jadi saya terus melaju perlahan, mencari warung makan yang relatif sepi, sekalian jalan-jalan mumpung Tahun Baru.

Tanpa terasa, perjalanan saya tiba di Kota Batang. Saya memutari alun-alun yang ramai, lalu masuk ke jalan raya yang relatif sepi. Saat melaju di jalan itulah, saya akhirnya menemukan warung makan yang tidak terlalu ramai. 

Saya pun berhenti, lalu masuk, dan memesan makanan.

Usai makan, saya meminum teh di gelas, lalu mengeluarkan bungkus rokok. Tapi baru mau nyulut udud, serombongan orang—sepertinya keluarga yang lagi liburan—masuk warung, dan tentu butuh tempat duduk. Jadi saya pun bangkit, membayar makanan, kemudian keluar dari warung. 

Di depan warung, di seberang jalan, ada tempat duduk panjang yang sepertinya sengaja dibuat di sana untuk bersantai. Tempat duduk itu berdampingan dengan pohon cukup besar, hingga tampak adem. Sebenarnya, cuaca siang itu juga adem. Saya pun menyeberang jalan, lalu duduk di sana, dan mulai menyulut udud. Jalan raya di depan saya waktu itu sepi, dan saya pun duduk santai sambil menikmati udud.

Batang bukan kota saya, tapi saya cukup akrab dengan kota ini. Cinta pertama saya dulu, tinggal di sini. 

Angan saya lalu terbang ke masa bertahun lalu, ketika masih SMA, dan sering dolan ke Batang. Bukan untuk menemui pacar, tapi sekadar ingin melihat genteng rumahnya. Waktu itu saya hanya “jatuh cinta diam-diam”, dan bagi saya—bertahun lalu—itu sudah cukup. Cinta pertama bagi pria, konon, cinta sejati. Meski sering kali tak pernah jadi cinta abadi. 

Saya mengisap udud, dan tersenyum sendiri membayangkan masa-masa itu. 

Yaris putih lewat, dan membunyikan klakson ringan, tanda menyapa. Saya melambaikan tangan, dan segera tahu siapa pemiliknya. Yaris TRD itu milik Tyo, seorang teman yang tinggal di Batang. 

Mobil itu terus melaju.

Saya kembali menikmati udud. 

Beberapa menit kemudian Tyo kembali muncul, kali ini menaiki motor.

“Aku barusan ngantar nyokap ke rumah famili,” ujar Tyo. “Pas pulang lewat sini, aku kaget lihat kamu lagi duduk santai, kayak di depan rumah sendiri.”

Saya tertawa. 

Tyo duduk di samping saya, lalu menyulut rokok. “Lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian.

“Barusan makan,” saya menjawab. “Karena warung ramai, akhirnya aku duduk di sini buat udud.”

Tyo tertawa kecil, lalu berujar, “Aku kadang membayangkan hidupmu begitu damai. Ke mana-mana sendirian, bisa duduk santai di mana pun, dan kayak nggak merisaukan apa pun. Jujur ya, kamu tuh sebenarnya butuh orang lain apa nggak?”

“Nggak.”

Tyo ngakak. 

Saya mengatakan, “Maksudku, aku nggak membutuhkan orang lain untuk hal-hal yang bisa kulakukan sendiri. Kayak sekarang, misalnya. Aku tadi keluar rumah buat cari makan, dan akhirnya sampai di sini. Sama sekali nggak masalah kalau sendirian, wong cuma mau makan. Kalau kemudian ketemu kamu di sini, ya aku senang.”

“Kalau misal aku tadi nggak lihat kamu, dan aku nggak ke sini, berarti kamu akan tetap sendirian di sini. Apa yang akan kamu lakukan?”

“Mungkin aku akan tetap duduk di sini, sambil menikmati udud, kemudian pulang kalau merasa udah cukup.”

“Nggak ada pikiran buat mampir ke tempatku?” tanya Tyo sambil mengingatkan kalau rumahnya dekat dengan tempat kami duduk saat itu.

“Takut mengganggu,” jawab saya jujur. 

Tyo mengisap rokoknya beberapa saat, kemudian berkata, “Selama mengenalmu, aku sering mendengarmu ngomong gitu—‘takut mengganggu’. Sekarang aku jadi penasaran...”

Tyo seperti tidak yakin bagaimana melanjutkan kalimatnya, jadi saya lalu menjelaskan, “Aku merasa nggak nyaman kalau datang ke rumah seseorang secara tiba-tiba. Alasannya ya itu tadi, takut mengganggu. Apalagi ini tahun baru, siapa tahu kamu ada acara sama keluargamu, dan aku nggak ingin tiba-tiba datang lalu merusak acaramu.”

“Omong-omong soal tahun baru,” ujar Tyo, “apa acaramu tadi malam?”

“Cuma di rumah, nonton Netflix.”

“Nggak menikmati malam tahun baru di luar?”

“Malas,” saya menjawab. “Mungkin karena faktor usia, ya. Dulu, waktu masih belia, rasanya senang malam tahun baruan di luar, berdesak-desakan sama banyak orang, nonton konser, atau apalah. Tapi makin ke sini, rasanya kayak makin malas.”

“Sama, kalau gitu. Dulu, tiap malam tahun baru, aku juga selalu keluar, bareng teman-teman. Biasanya nonton konser. Pulangnya bakar jagung sampai pagi. Tapi makin tambah umur, aku juga makin malas. Sekarang, malam tahun baru atau malam apapun kayak biasa-biasa aja.”

Kami pun lalu bercakap-cakap santai soal tahun baru, tentang perubahan yang terjadi pada kebiasaan hidup kami seiring bertambahnya usia, juga pergeseran cara pandang atau cara berpikir setelah beranjak dari masa belia ke masa dewasa.

“Balik ke soal tadi,” ujar Tyo kemudian, “soal kamu yang nggak nyaman kalau tiba-tiba datang ke tempat seseorang. Aku sering banget dengar kamu ngomong gitu. Itu gimana asal usulnya?”

Saya lalu bercerita, “Bertahun lalu, keponakanku masih kecil, dan aku sayang banget sama dia. Karena dia tinggal di Semarang, kami pun sangat jarang ketemu, dan itu bikin aku sering kangen. Suatu hari, keponakanku datang ke rumahku, bersama ibunya (adik perempuanku), dan aku pun segera asyik bermain-main dengan keponakanku seperti biasa. Tapi baru beberapa menit, ada dua teman datang—mereka datang tiba-tiba, tanpa pemberitahuan sebelumnya—dan aku pun mau nggak mau harus menerima mereka dengan baik. Karena kedatangan dua teman itu, adikku lalu pamit, dan artinya aku harus berpisah dengan keponakanku, padahal kami baru bertemu beberapa menit. Waktu itu, aku menemani dua teman yang datang dengan baik, tapi diam-diam menyayangkan kenapa mereka nggak memberi tahu terlebih dulu kalau mau datang. Andai mereka ngasih tahu terlebih dulu, aku bisa mengatur waktunya, agar nggak bersamaan dengan kedatangan keponakanku. Sejujurnya, waktu itu aku merasa gelo (menyayangkan) karena hanya bisa ketemu keponakanku beberapa menit, padahal kami udah lama sekali nggak ketemu.”

Saya mengisap rokok, kemudian melanjutkan, “Di lain waktu, aku lagi di rumah ortu. Tiba-tiba, ada teman nilpon, dan ngasih tahu kalau dia udah di depan rumahku. Teman ini datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu, padahal tempat tinggalnya sangat jauh dari rumahku. Karena tahu dia udah menempuh perjalanan jauh, aku pun terpaksa pulang dari rumah ortu, untuk menemui teman yang datang tadi. Untungnya, waktu itu aku lagi di rumah ortu. Bayangkan kalau aku lagi di luar kota, misalnya. Kan, sama-sama gelo. Dia gelo karena aku ternyata nggak di rumah, aku juga gelo karena nggak bisa menemuinya padahal dia udah datang dari jauh.”

Tyo manggut-manggut. “Aku mulai paham sekarang. Ada contoh lain?”

Saya mengangguk. “Sering, aku lagi mengerjakan sesuatu di rumah, dan pekerjaan itu sangat rumit, hingga aku harus benar-benar konsentrasi. Tiba-tiba, ada tamu datang mengetuk pintu. Itu bikin aku serbasalah. Kalau aku menerima tamu yang datang itu, konsentrasiku akan buyar, dan akibatnya harus memulai pekerjaanku lagi dari awal. Sementara kalau aku tetap fokus pada sesuatu yang lagi kukerjakan, aku nggak enak sama tamu yang datang. Dan hal kayak gitu bisa dibilang sering terjadi, hingga lama-lama aku merasa terganggu.”

Saya mengisap rokok yang kian pendek, lalu meneruskan, “Karena hal-hal semacam itulah, aku lalu bilang ke teman-teman, agar ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang, agar aku bisa mempersiapkan diri. Sebaliknya, aku juga mewajibkan diri sendiri agar ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang ke rumah siapa pun. Beberapa kali aku datang ke rumahmu, dan aku selalu ngasih tahu lewat WhatsApp, kan?”

Tyo mengangguk.

Saya menjentikkan puntung rokok ke tempat sampah, lalu berkata, “Hal kayak gitu—ngasih tahu terlebih dulu kalau mau datang—mungkin terkesan sepele, tapi bisa sangat besar artinya bagi orang yang kita datangi, sekaligus menghindarkan kita dari kemungkinan mengganggu orang yang kita datangi. Karena itulah, aku nggak akan tiba-tiba datang ke tempatmu, meski rumahmu cukup dekat dari sini, karena kedatanganku bisa aja mengganggumu.”

Tyo mengisap rokoknya, lalu berujar, “Orang-orang mungkin mengira kamu selalu selo, karena kamu belum menikah, dan tinggal sendirian di rumah. Jadi teman-teman mungkin menganggap kamu bisa didatangi kapan aja.”

“Itu ironisnya,” saya tertawa. “Sampai sekarang aku nggak menikah justru karena nggak ingin terganggu siapa pun, termasuk oleh pasanganku sendiri. Jadi kalau orang-orang menganggap aku selo karena belum menikah, itu justru salah! Kalau aku memang benar-benar selo, aku udah nikah sekarang!”

Tyo menggut-manggut. “Sekarang aku paham arti ‘takut mengganggu’ yang sering kamu bilang itu.” 

Saya meletakkan rokok baru di mulut, dan menyulutnya.

Sebuah mobil melaju di depan kami, lalu tiba-tiba berhenti. Sesaat kemudian, mobil itu mundur perlahan-lahan ke arah tempat kami duduk.

Tyo berkata, memberi tahu saya, “Arta.”

Arta muncul dari dalam mobil, lalu tersenyum lebar sambil melangkah ke arah kami. “Asli nggak nyangka lihat kalian nyangkruk di sini!” ujarnya. “Aku boleh gabung, kan?” 

Arta lalu duduk di samping kami, dan mulai menyulut udud. Obrolan pun langsung mengalir.

Tahun Baru yang menyenangkan.

Peace With Himself

A man cannot possibly be at peace with others until he has learned to be at peace with himself.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 April 2012.

Lakukan Sesuatu, Kerjakan dengan Baik

Bertahun-tahun lalu, aku menemukan kalimat di buku, yang belakangan tak pernah kulupakan. Kalimat itu berbunyi, “Kalau kamu bekerja dengan baik, sebegitu baik hingga tak ada orang lain yang mampu menyamai, dan kamu tinggal di puncak gunung, orang-orang akan berdatangan kepadamu.”

Kalimat itu tentu filosofis, dan tidak harus diartikan literal. Aku juga lebih suka mengartikannya secara sederhana, bahwa yang penting mengerjakan pekerjaan kita, sebaik kita mampu, setelah itu meyakinkan diri, “Tidak perlu khawatir soal rezeki, karena sudah ada yang mengatur.”

“Tidak perlu khawatir soal rezeki” itu sebenarnya kalimat tawakal. Dan tawakal baru dilakukan setelah mengerjakan sesuatu, mengusahakan dan mengupayakan sesuatu. Kalau tidak melakukan apa-apa tapi pede dan yakin “tidak perlu khawatir soal rezeki”, itu namanya panjang angan-angan.

Jadi kalau ada orang kena PHK, atau pada orang yang tidak melakukan apa-apa, jangan katakan “tidak perlu khawatir soal rezeki” kepadanya. Karena itu sama artinya mengajarkan tuulul amal. Yang dibutuhkan korban PHK dan pengangguran adalah semangat untuk memulai berusaha kembali.

Rezeki baru datang setelah ada usaha dan upaya, bahkan jika upaya kita tampak sangat bodoh di mata manusia. Misalnya jualan bensin eceran di samping SPBU, atau jualan es teh di kala hujan. Karena itu lebih menarik datangnya rezeki, daripada bermalas-malasan sambil mengkhayal.

Lakukan sesuatu, kerjakan sebaik mungkin, sebaik yang kamu bisa. Semakin baik kamu mengerjakannya, semakin sedikit yang mampu menyamai. Setelah itu, bahkan umpama kamu tinggal di puncak gunung, rezeki akan datang kepadamu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Desember 2024.

Terakhir Kali Putus Cinta

Kalo kamu patah hati karena putus cinta… kamu pingin segera jatuh cinta lagi atau nunggu luka reda dulu? —@AdjieSanPutro


Terakhir kali putus cinta, dan itu bertahun-tahun lalu, aku berpikir, “It's enough, saatnya aku fokus mengurus hidupku sendiri.” Dan aku melakukannya sampai sekarang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 November 2024.

Hati dan Logika

Jatuh cinta adalah pertarungan hati dan logika.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Februari 2018.

Film yang Isinya Bajingan Semua

 Crime 101.

....
....

Kecuali Maya.

Karena Maya adalah mbakyu.

Sejak Kapan?

[Konteks: Ocehan ini terkait kasus pembunuhan yang pernah menggemparkan Indonesia, sekian waktu lalu.]

Ingin sekali meminjam optimisme Kurawa, dan berharap “kasus ini akan terungkap seterang-terangnya”. Tetapi, sayang, optimisme saja kadang tidak cukup. Kita akan menghadapi dinding tebal.

Bagaimana melihat dan memahami kasus yang rumit dan tak masuk akal? 

Ada cara yang sederhana. Singkirkan semua narasi, cerita, dan susunan latar yang tak masuk akal... lalu lihat dan perhatikan sisanya. 

Sambil nunggu udud habis...

Sambil nunggu udud habis, aku teringat salah satu film yang dibintangi Bruce Willis, A Good Day to Die Hard. 

John McClane (Bruce Willis) pergi ke Moskow untuk menemui putranya, Jack McClane (Jai Courtney). Mereka lalu bersua tanpa sengaja dalam sebuah petualangan gila.

Jack, sang anak, ternyata telah menjadi agen CIA, dan waktu itu sedang dalam misi penyelamatan seorang ilmuwan di sana. Jack bertemu John, ayahnya, di tengah jalan, ketika sedang kejar-kejaran mobil dengan musuh yang tidak ia pahami. Ayah dan anak itu lalu saling membantu.

Tak jauh beda dengan anaknya, John McClane bekerja sebagai polisi LAPD, tapi telah pensiun. Dan John, dengan segala pengalamannya, lebih matang dalam menghadapi masalah yang mereka hadapi. 

Sampai mereka akhirnya tiba di suatu plot twist yang benar-benar mengejutkan Jack, si anak.

Jack mendapat misi rahasia CIA untuk menyelamatkan seorang pria, dan membawanya keluar dari Rusia, karena diincar para penjahat di sana. Tetapi, ternyata, pria yang ia selamatkan itulah penjahat sesungguhnya. 

Ketika akhirnya menyadari apa yang telah terjadi, Jack ternganga.

Dalam keterkejutan, setelah memahami inti masalah yang dihadapinya, Jack berkata dengan nada tak percaya, “Jadi, semua ini soal uang?” 

Dan ayahnya menjawab, “Sejak kapan semua ini bukan soal uang?”


*) Dikutip dari timeline @noffret, 21 Juli 2022.

Menyadari

Sophie, robot humanoid, ditanya seseorang di forum PBB, “Apakah kau menyadari kalau kau sebuah robot?”

Sophie menjawab dengan balik bertanya, “Apakah kau menyadari kau seorang manusia?”

Tanya jawab itu membuatku berpikir lama. Sangat lama.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Februari 2018.

Malam Tahun Baru

Malam tahun baru, aku tidak ke mana-mana. Tidak menabuh lonceng, tidak meniup terompet, juga tidak membakar kembang api. Aku melakukannya dengan motivasi yang sederhana... karena memang ingin melakukannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Januari 2018.

Note to Self

Menarilah seolah tak ada kehidupan. Hiduplah seolah tak pernah dilahirkan. Lahirkanlah seolah tak ada kematian. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Minggu, 31 Mei 2026

Cara Masuk Forbes 30 Under 30

They won't. Eliminating the financial category means eliminating the biggest profit potential. Their accountant will scream! 

I don't have that antipathy for "30 under 30" type lists. It's cool to recognize up-and-coming types. And a lot of the criticism is just jealousy.

But they should get rid of finance categories, as that's an area where both "innovation" and "inexperience" are huge red flags.

—@TheStalwart, 14 Januari 2023


Ribut-ribut soal 30 Under 30 kayaknya belum rampung, ya. 

Sambil nunggu udud habis, aku terpikir untuk melanjutkan ocehan tempo hari. Agar kita [lebih] tahu apa sebenarnya acara itu.

Mari kita mulai dengan fakta ini. Umpama kamu anak miskin yang berhasil sukses pada usia 27 tahun, dan kesuksesan itu terjadi berkat usahamu sendiri, dan kesuksesanmu diakui secara luas... apakah kamu bisa masuk 30 Under 30? Kemungkinan besar tidak! 

Kenapa? Inilah masalahnya!

Yang jarang dipahami kebanyakan orang, 30 Under 30 sebenarnya bukan “panggung prestasi" (achievement), melainkan lebih sebagai sarana public relation. Karenanya, sistem yang digunakan untuk menyusun daftar itu lebih pada referensi, sistem jejaring, koneksi, dan semacamnya.

Setidaknya ada 3 cara untuk bisa masuk 30 Under 30. 

Pertama, dengan melamar langsung. Ya, kamu bisa mengirim lamaran ke Forbes agar masuk daftar 30 Under 30. Forbes sendiri mengakui, tiap tahun ada ribuan orang yang melamar agar masuk daftar itu. 

Tapi sebaiknya lupakan saja.

Ya, sebaiknya lupakan saja cara itu, karena biasanya cuma sia-sia. Sumber daya Forbes tidak akan bisa memverifikasi ribuan data pelamar yang masuk, padahal 30 Under 30 adalah pertaruhan uang yang sangat besar. Mereka tidak akan membuang-buang waktu dan energi secara percuma.

Cara kedua adalah melalui referensi. Seseorang mereferensikan namamu ke Forbes, untuk masuk daftar 30 Under 30. 

Semakin kuat posisi orang yang mereferensikanmu, semakin besar kemungkinanmu untuk masuk daftar itu—dengan catatan, kamu punya sesuatu yang layak diwartakan.

Yang disebut “kuat” dalam hal ini adalah orang yang memiliki hubungan khusus dengan Forbes. Inilah kenapa ada yang mengatakan, “All these 30 under 30 and 40 under 40 are awarded based on ‘network’. It has absolutely nothing to do with merit...” 

Karena begitulah sistemnya.

Mari gunakan ilustrasi sederhana [dan yang biasa terjadi], agar lebih mudah dipahami. 

Umpamakan saja kamu membangun startup yang punya potensi sukses, hingga ada investor masuk.

Investormu lalu menghubungi Forbes, dan meminta mereka memasukkan namamu dalam daftar 30 Under 30.

Forbes adalah sarana public relation yang sangat efektif di dunia bisnis. Karenanya, orang-orang semacam investor pasti punya koneksi khusus dengan Forbes. Jika mereka merekomendasikan namamu agar masuk 30 Under 30, misalnya, kemungkinan besar kamu akan masuk.

Bisa jadi, dan biasanya, investormu tidak memberitahukan apa pun kepadamu terkait hal tadi. Tahu-tahu saja kamu dapat pemberitahuan dari Forbes bahwa kamu masuk sebagai kandidat daftar mereka. Kamu girang, berpikir bahwa startup-mu diam-diam telah dikenal dunia internasional.

Dalam hal ini, permainannya sederhana. Investor memasukkan uangnya ke dalam bisnismu, dan berharap profit. Cara agar bisnis atau startup-mu cepat menangguk keuntungan adalah dengan mendongkrak popularitasnya, dengan menempatkan namamu di Forbes. Bisa memahami cara mainnya?

Jadi, kalau kamu, misalnya, ditanya, “Apakah kamu membayar untuk masuk 30 Under 30?” Tentu kamu akan menjawab, “Tidak!” 

Investormu yang mengurus hal-hal semacam itu, dan kamu tahunya tinggal beres. Muncul di panggung, tersenyum lebar, foto-foto, ngoceh sekadarnya... anything.

Cara kedua tadi, yaitu direferensikan investor, bisa jadi cara termudah untuk masuk 30 Under 30. Karenanya, selama ini kita mungkin sering mendapati nama-nama asing di daftar itu, dan berpikir, “Orang-orang ini siapa, ya? Ooh, pendiri startup baru, pantesan aku tidak tahu...”

Selain contoh investor yang mereferensikan namamu, ada cara mudah lain untuk masuk 30 Under 30. Yaitu direferensikan ayahmu! 

Tentu saja, dengan catatan kalau ayahmu adalah pejabat berpengaruh, atau pengusaha besar yang biasa dinner dengan orang-orang Forbes!

Selain 2 cara tadi, ada cara ketiga untuk masuk 30 Under 30, yaitu dengan melakukan sesuatu yang luar biasa, yang berdampak positif pada banyak orang, sebegitu luar biasa hingga Forbes mau tak mau harus melihat dan memilihmu. Tapi, jujur saja, ini cara yang sangat, sangat sulit.

Di luar negeri, acara penganugerahan 30 Under 30 dihadiri para pengusaha dan selebritas. Berapa harga undangannya? Lima ribu dolar untuk kursi VIP! 

Acara itu serupa meja kasino, dan sederet nama dalam daftar adalah kartu yang dipegang, sementara dadu nasib dilempar ke arena.

Omong-omong, tempo hari JP Morgan dapat apes, karena megang kartu yang salah!

Bukan hanya JP Morgan yang pernah ketiban sial semacam itu—investor lain juga pernah mengalaminya. Tapi tidak apa-apa. Karena selalu ada “kartu-kartu baru” yang bisa dimainkan.

They should just start preemptively arresting anyone on the Forbes 30 Under 30. —@ChrisJBakke, 12 Januari 2023.

Sampai di sini, sudah mulai paham permainannya?

PS:

Sejujurnya, aku tidak nyaman menulis ocehan ini, karena bisa jadi akan mematikan impian beberapa orang yang mungkin berharap masuk 30 Under 30. Karenanya, jangan terlalu pedulikan ocehan ini, dan lanjutkan saja impianmu, kalau kamu memang mampu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2023.

Kesibukan

Manusia adalah makhluk sosial, kata teori yang telah menjelma dogma. Mari sepakati saja teori—atau dogma—itu benar, karena nyatanya kita memang sesekali butuh berinteraksi dengan orang lain, berkomunikasi, ngobrol-ngobrol ringan sambil bercanda dan tertawa-tawa.

Ngobrol dengan tetangga, misalnya, itu bagus. Selain bagian dari sosialisasi, ngobrol dengan orang lain—dalam hal ini tetangga—juga membantu mengaja kesehatan mental kita, kalau dilakukan sesekali. Tapi kalau setiap hari ngobrol terus dengan tetangga, itu tidak bagus lagi.

Bertemu dan mengobrol dengan tetangga seminggu sekali, misalnya, itu punya manfaat; dari sekadar sosialisasi, mengetahui kabar tetangga, sampai menyehatkan mental. Tapi kalau harus ngobrol dengan tetangga setiap hari, itu justru negatif, karena bisa menjadi penyakit sosial.

Teorinya sederhana saja; kalau orang bisa menghabiskan banyak waktu untuk ngobrol setiap hari, hampir bisa dipastikan mereka tidak punya kesibukan. Dan orang yang paling rentan tergelincir membicarakan atau melakukan hal-hal sia-sia adalah orang yang tak punya kesibukan.

Kesibukan—meski mungkin terdengar tidak nyaman di telinga—mampu menjaga kita dari kemungkinan melakukan hal-hal negatif atau sia-sia. Orang yang sibuk belajar atau sibuk bekerja, pasti malas ngurusin hal-hal tak bermanfaat. Beda dengan orang yang tak punya kesibukan.

Akar

Tunjukkan padaku pohon tanpa akar, dan akan kukatakan kepadamu itulah keajaiban. Atau kemustahilan. Segalanya bermula dari akar.

Kadang-kadang akar tumbuh tanpa benih, meski tidak setiap benih pasti bertumbuh. Apa pun, aku percaya semua pohon ditunjang akar.

Yang merisaukan, kita menebang pohon yang mengganggu dan melupakan akarnya. Lalu akar kembali menumbuhkan pohon sama, dan cerita berulang.

Kita tak akan bisa melenyapkan apa pun, tanpa menghilangkan akarnya, Seperti kanker yang berkecambah, semuanya berasal dari sel akar kecil.

Dan sekarang aku berpikir, jangan-jangan kita semua juga terjebak dan terperangkap dalam sesuatu yang telah ditumbuhkan akar kita...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Oh dan Ouh

Ternyata, "Oh" dan "Ouh" itu beda. Setidaknya selisih satu huruf. #FaktaPentingSekali


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

 
;