Baru tau kalo 30 under 30 tuh ada feenya, ya. Wa kira murni karena prestasi/achievement. My whole life is a lie. —@ezash, 12 Januari 2023.
Jika kita melihat hal ini dalam cakupan lebih luas, coba pikirkan koran-koran harian yang harganya cuma seribu atau dua ribu rupiah. Di setiap kota pasti ada, kan?
Coba pikirkan, mungkinkah koran-koran itu bisa balik modal dengan harga segitu?
Koran-koran lokal itu membutuhkan biaya besar untuk pencetakannya, sementara harga jualnya sangat rendah, itu pun yang terjual tidak seberapa.
Ini bahkan belum bicara biaya operasional, gaji wartawan, dll. Jadi, bagaimana atau dari mana koran-koran itu dapat uang untuk menjalankan bisnisnya, dan, di saat sama, juga menghasilkan keuntungan agar bisnis terus tumbuh?
Pertanyaan sejuta dolar!
Pendapatan dari iklan komersial? Matematika menolaknya! Coba hitung saja.
Aku bisa menjelaskan soal itu panjang lebar, tapi sejujurnya tidak nyaman... karena, bisa jadi, uraiannya akan lebih mengejutkan [sekaligus mencengangkan] daripada fakta 30 Under 30 yang kini terkuak.
....
....
Sepertinya tidak adil kalau ocehannya aku potong di situ. Jadi, omong-omong soal terkuak...
Sambil nunggu udud habis.
Dulu, pada era 2000-an, ada majalah bisnis yang ditujukan untuk anak muda. Sebut saja Majalah X. Karena ditujukan untuk anak muda, isi majalah itu pun sangat trendi, bahkan orang-orang yang menghiasi sampul majalah itu rata-rata anak muda yang [kebetulan] berbisnis.
Di masa itu, aku menjalankan bisnis yang punya keterkaitan dengan media. Jadi aku relatif kenal dengan para “mastermind” di balik media-media era itu.
Suatu waktu, Majalah X menemuiku, dan—boleh percaya boleh tidak—menawariku untuk jadi sampul majalah mereka.
Aku bertanya, “Jika aku bersedia menjadi sampul majalah kalian, apa yang akan kudapatkan?”
Mereka spontan menjawab, “Eksposur!”
Itu benar. Jadi sampul majalah X artinya akan terekspos ke seluruh Indonesia, dan itu jelas berdampak bagus untuk bisnis. Permainan sederhana.
Siapa pun yang mengenal bisnis media pasti memahami bahwa ini adalah permainan sederhana—setepatnya, permainan sederhana dalam skala raksasa.
Seperti Majalah X tadi. “Jadilah sampul majalahku, dan itu akan jadi promosi yang sangat bagus untuk bisnismu.” Sesederhana itu.
Tapi tidak ada makan siang gratis, tentu saja. Jika waktu itu aku bersedia menjadi sampul majalah mereka, aku harus membayar sejumlah uang [yang untuk ukuran waktu itu relatif besar]. Sebenarnya, dari segi bisnis, itu tidak masalah, tapi aku jadi merasa “membohongi diri sendiri”.
Maksudku begini. Kalau kamu muncul di sampul majalah karena bisnis atau prestasimu, dan untuk hal itu kamu tidak perlu membayar sama sekali—dalam arti murni sebagai apresiasi karena pencapaian/prestasimu—kamu pasti akan bangga. Tapi beda cerita kalau kamu harus bayar, kan?
Kalau kamu harus bayar untuk jadi sampul majalah, di mana unsur kebanggaannya? Wong bayar, kok! Siapa pun juga bisa!
Karenanya, waktu itu Majalah X menawariku jadi sampul mereka, padahal bisnisku juga tidak prestisius-prestisius amat—pokoknya asal aku mau bayar aja udah!
Nah, hal serupa sebenarnya terjadi pada “nominasi atau daftar tertentu” ala media, salah satunya yang kini jadi bahan pembicaraan di Twitter. Dari dulu ya aku paham kalau memang begitu “cara mainnya”. Dan ketika permainan semacam itu akhirnya terkuak, itu bikin malu, kan?
Maksudku begini. Kamu mungkin punya prestasi tertentu yang memang layak dibanggakan atau diwartakan. Jadi kamu lalu masuk “nominasi atau daftar” yang berisi orang-orang berprestasi. Tapi di balik layar, kamu harus bayar. Kamu tidak peduli, toh ini membuatmu bangga.
Jadi, kamu kemudian muncul sebagai salah satu dalam "daftar orang berprestasi", bersama orang-orang berprestasi lainnya.
Lalu, rahasia di balik layar tadi terkuak. Bahwa kamu ternyata harus bayar untuk bisa masuk dalam daftar itu. Kebanggaan bisa berubah jadi cibiran.
Jika ocehan ini mau dilanjutkan, kita bisa masuk ke relung-relung yang lebih gelap di balik dunia media.
Pernah menemukan majalah-majalah dewasa dengan sampul wanita-wanita yang berpose seksi? Sebagian wanita itu memang fotomodel, tapi sebagian lain wanita biasa (bukan model).
Dari mana wanita-wanita itu berasal? Bisa dari mana saja. Di mall, di jalan mana pun, di tempat wisata, di hotel, di ruang karaoke, sebut lainnya.
Mereka dapat tawaran manis, “Kamu mau jadi model sampul Majalah Z?” Hampir semua mereka bersedia—persetan, siapa yang tidak?
Masyarakat awam mungkin membayangkan, wanita-wanita itu jadi sampul majalah, foto-foto seksinya menghiasi lembar-lembar majalah, dapat bayaran besar, lalu populer, lalu jadi fotomodel terkenal, bahkan jadi artis.
Benarkah begitu? Sayang sekali, aku tidak nyaman menjelaskannya.
Well, semua ini permainan bisnis. Dan menjalankan bisnis media adalah “meletakkan makanan-makanan enak dan lezat di meja prasmanan”, sambil menjaga agar orang-orang (masyarakat luas yang mengonsumsi media) “tidak tahu apa yang terjadi balik dapur”. Sesederhana itu.
Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, tapi ududku habis.
*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Januari 2023.
