Seminggu setelah lebaran, saya mampir ke tempat Badu, seorang teman yang bekerja sebagai pemulung. Biasanya, kalau saya dolan ke rumahnya malam hari, kami mengobrol sambil Badu menata hasil memulung seharian.
Badu punya jadwal kerja mirip karyawan, tapi dia bukan karyawan. Setiap pagi, Badu berangkat dari rumahnya sambil membawa karung, berkeliling ke sana kemari, mencari barang apa pun di tempat sampah yang sekiranya bisa ia kilokan. Siang hari, dia pulang ke rumah untuk makan siang, sambil mengosongkan isi karung, lalu pergi lagi untuk memulung sampai sore atau menjelang magrib.
Jadwal kerjanya mirip karyawan, tapi dia bukan karyawan. Karena Badu tidak kenal THR atau tunjangan hari raya, juga tidak punya libur lebaran. Ia hanya libur di hari pertama lebaran, kemudian besoknya sudah kembali memulung. Karena, “kalau aku tidak kerja (memulung), aku tidak makan.”
Malam itu, saat saya mampir ke rumahnya, Badu baru selesai menata barang-barang hasil memulungnya. Tumpukan kardus dan tumpukan plastik telah dipisahkan, sudah diikat rapi, dan besok tinggal dibawa ke pengepul.
Kami pun mengobrol santai seperti biasa, sambil menikmati udud. Ketika obrolan sampai pada topik lebaran, Badu berkata, “Setiap kali lebaran, aku selalu senang, tapi juga tertekan.”
Badu senang saat lebaran tiba, karena mendapat zakat, yang memungkinkan keluarganya menikmati makanan enak setahun sekali. Tapi Badu juga tertekan, karena datangnya lebaran sering kali menjadi awal kenaikan harga-harga barang, khususnya makanan. Badu telah mengalami hal itu selama bertahun-tahun, dan merasakan hidupnya makin tercekik setiap kali lebaran datang.
Agar kalian paham apa yang terjadi, khususnya pada orang-orang miskin seperti Badu, izinkan saya menjelaskan.
Ketika Ramadan datang, belanja orang Islam meningkat, khususnya belanja makanan. Itu fenomena yang terjadi secara luas di berbagai wilayah Indonesia, meski dengan intensitas yang bervariasi antardaerah. Orang-orang Islam butuh berbuka puasa, baik yang sendirian, bersama keluarga, ataupun yang bukber dengan teman-teman. Dan belanja makanan selama Ramadan bukan hanya untuk berbuka, tapi juga untuk makan malam, dan untuk sahur. Peredaran uang makin banyak, roda ekonomi berputar.
Sebagian orang, dengan nada mengglorifikasi, kerap menyatakan bahwa fenomena yang terjadi itu “berkah Ramadan”—bukti kaum muslim berkontribusi pada peningkatan ekonomi. Tetapi, jika dicermati lebih dalam, femomena yang terjadi selama Ramadan sebenarnya membentuk akumulasi tekanan harga yang bersifat laten—yang saya analogikan sebagai “bom waktu”.
Sebulan penuh orang-orang Islam membelanjakan banyak uang untuk makanan. Uang yang beredar semakin banyak, konsumsi meningkat, permintaan naik, dan hukum ekonomi merayap diam-diam. Puncaknya terjadi ketika lebaran tiba. Gaji dan THR dibagikan, orang-orang memegang banyak uang. Ditambah liburan saat lebaran, mereka punya banyak kesempatan sekaligus dorongan untuk membelanjakan uangnya. Dan bom waktu yang mulai berdetak saat Ramadan terus menuju titik ledak.
Apa yang biasanya terjadi ketika lebaran datang? Ya, harga-harga barang cenderung naik tajam, khususnya makanan!
Selama seminggu lebaran, kenaikan harga itu mungkin belum terasa, karena orang-orang masih memegang banyak uang. Tapi setelah lebaran berlalu, dan uang THR makin menipis, sebagian harga tidak sepenuhnya kembali ke level pra-Ramadan. Dalam literatur ekonomi, fenomena itu disebut “seasonality in inflation”, yaitu pola kenaikan harga yang berulang pada periode tertentu akibat faktor musiman seperti hari besar keagamaan, yang salah satu contohnya adalah Ramadan sampai lebaran.
Para pedagang sering menyatakan bahwa kenaikan harga terjadi karena lebaran. Tetapi, ketika lebaran telah berlalu, “harga lebaran” itu tetap bertahan. Harga-harga makanan yang telanjur naik sering kali sulit turun kembali, meski awalnya berdalih “harga lebaran”. Mengapa fenomena itu terjadi? Jawabannya, dalam perspektif saya, adalah bom waktu yang telah berdetak sejak awal Ramadan.
Ketika Ramadan tiba, konsumsi naik, permintaan naik, dan itu berdampak pada distribusi logistik yang padat, hingga biaya bahan baku yang naik. Dalam contoh mudah, para petani tidak bisa menaikkan jumlah panen seketika hanya karena permintaan naik seketika. Konsekuensinya, harga naik.
Tapi kenaikan saat Ramadan belum terasa, karena “bom waktu” masih di angka awal. Kebanyakan pedagang juga belum menaikkan harga barang mereka, karena kenaikan “harga kulakan” masih sebatas beberapa rupiah. Seiring waktu, mendekati lebaran, distribusi logistik makin padat, permintaan konsumsi makin meningkat—ingat ketupat dan opor ayam hingga hidangan lebaran—dan bom waktu yang mulai menyala sejak Ramadan pun meledak!
Harga-harga makanan naik secara luas!
Seperti yang saya sebut tadi, kenaikan harga—khususnya makanan—selama lebaran belum terasa, karena rata-rata orang masih memegang banyak uang, dan memaklumi kenaikan harga karena lebaran. Tapi ketika lebaran berlalu, “harga lebaran” itu tidak kunjung turun. Mengulang pertanyaan tadi; kenapa?
Bagi saya, jawabannya sangat gamblang; karena permintaan terhadap makanan cenderung bersifat inelastis terhadap harga, sehingga kenaikan harga tidak diikuti penurunan konsumsi yang signifikan. Dalam bahasa awam, orang tetap butuh makan meski harganya naik!
Setelah lebaran berlalu, banyak penjual makanan yang mempertahankan “harga lebaran”. Ada dua alasan dalam hal ini; pertama karena masih laku, dan kedua karena struktur pasar yang berubah! Dalam ilmu ekonomi, itu disebut price stickiness; pedagang enggan menurunkan harga karena konsumen masih mau beli, ditambah biaya produksi yang sudah telanjur naik akibat struktur pasar yang berubah sejak Ramadan.
Di sisi lain, orang-orang tetap beli makanan, karena memang butuh makan! Dalam beberapa kasus, harga baru kemudian jadi referensi (baseline) baru. Ekspektasi pasar berubah, orang-orang perlahan “terbiasa” dengan harga baru. Itu, kan, yang kita alami setiap usai lebaran?
Harga-harga bahan baku memang cenderung turun setelah Ramadan dan lebaran berlalu. Badan Pusat Statistik mengonfirmasi hal itu. Tetapi, dalam banyak kasus, harga makanan jadi (siap saji) tidak sepenuhnya mengikuti penurunan tersebut. Kenyataan itu memang tidak terjadi di semua tempat, tapi terjadi di banyak tempat. Perhatikan irisannya.
Sebagai catatan, harga mi tektek yang biasa lewat di tempat saya, naik seribu. Harga capcay dan mi ayam langganan saya, naik dua ribu. Sementara harga martabak naik tiga ribu, ayam geprek naik dua ribu, dan itu baru sekadar contoh. Kenaikan harga-harga itu dimulai sejak lebaran, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda penurunan. Berdasarkan kenaikan yang telah terjadi sejak beberapa lebaran sebelumnya, harga-harga yang naik itu biasanya tidak akan pernah turun. Yang terjadi justru akan kembali naik saat lebaran datang lagi di tahun berikutnya.
Jika harga naik menjelang lebaran, kemudian turun ke harga normal setelah lebaran usai, itu disebut fluktuasi. Tapi jika harga naik menjelang lebaran, dan kenaikan harga itu tetap bertahan—tidak turun ke harga normal—padahal lebaran sudah lama usai, itu apa namanya kalau bukan inflasi? Definisi formal dan statistik mungkin dapat dipakai sebagai “tameng intelektual”, tapi apa artinya definisi formal dan statistik ketika realitas menunjukkan kebalikannya?
Saya sengaja menulis dan mempublikasikan catatan ini jauh setelah lebaran, agar kita semua melihat realitasnya di lapangan, dan agar catatan ini tidak cuma menjadi omong kosong akademis.
Ekonomi memiliki prinsip dasar; kenaikan permintaan akan mendorong kenaikan harga, terutama ketika penawaran tidak bisa menyesuaikan dengan cepat. Dan ketika harga makanan naik, ia sulit turun kembali, karena orang akan tetap beli! Ini adalah implikasi langsung dari mekanisme pasar dasar.
Sekian tahun lalu, ketika saya pertama kali membahas soal ini di blog dan di Twitter, ada beberapa media yang meng-counter dengan menyatakan bahwa yang terjadi selama Ramadan dan lebaran bukan inflasi, karena sifatnya sementara.
Kalau benar sementara, mestinya harga akan kembali ke titik awal setelah lebaran usai. Faktanya, dalam sejumlah kasus—seperti yang saya alami—harga menetap lebih tinggi, khususnya harga makanan. Ekonomi menyebutnya downward price rigidity (harga yang sulit turun).
“Kenaikan harga-harga barang, khususnya makanan, setelah lebaran, itu bagus, karena ekonomi bergerak,” kata para analis di YouTube.
Ekonomi memang bergerak, fellas, tapi manfaatnya tidak merata. Yang menikmati lonjakan konsumsi adalah pelaku usaha, sementara beban ditanggung konsumen, terutama yang miskin! Did you see that? Pendekatan yang terlalu normatif dalam buku teks sering kali tidak sepenuhnya menangkap kompleksitas realitas di lapangan!
“Penyebab inflasi bukan Ramadan dan lebaran, tapi faktor lain semisal BBM atau kebijakan moneter,” ujar mahasiswa ekonomi.
Benar! Tapi Ramadan dan lebaran memperparah tekanan tersebut, karena menjadi pendorong (katalisator) yang mempercepat dan memperkuat tekanan kenaikan harga. Itu adalah pola berulang yang ikut mendorong inflasi dan berpotensi memperlebar tekanan ketimpangan, sekaligus memperburuk beban kelompok rentan!
Sekali lagi, kembali ke ilmu ekonomi. Ketika permintaan naik sementara penawaran tidak bisa langsung menyesuaikan, harga cenderung naik. Ramadan dan Idul Fitri adalah contoh nyata kondisi itu. Permintaan makanan meningkat tajam dalam waktu singkat, sementara kapasitas produksi dan distribusi tidak berubah secara instan. Akibatnya, kenaikan harga bukan anomali, tapi konsekuensi logis dari mekanisme pasar.
Persoalannya bukan di situ. Masalah muncul ketika harga yang sudah naik tidak kembali ke level semula setelah permintaan normal kembali. Kenyataan itu menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak sepenuhnya bersifat sementara, tapi mencerminkan penyesuaian struktur harga. Dampaknya tidak merata. Kelompok berpenghasilan rendah, yang sebagian besar pengeluarannya untuk makanan, akan merasakan penurunan daya beli secara langsung.
Jadi, dalam praktiknya, siklus Ramadan-Idul Fitri bukan hanya memicu kenaikan harga jangka pendek, tapi juga berkontribusi pada tekanan inflasi, dengan beban terbesar ditanggung kelompok paling rentan atau kaum dhuafa.
Saya sepakat bahwa Ramadan dan Idul Fitri memang mendorong aktivitas ekonomi. Tapi tanpa pengelolaan distribusi dan stabilisasi harga yang memadai, dampaknya tidak akan adil. Dalam praktiknya, pemerintah memang biasanya melakukan intervensi melalui operasi pasar, subsidi, atau pengendalian distribusi. Tapi efektivitasnya sering kali terbatas dalam menahan tekanan harga secara menyeluruh. Sementara kenaikan harga yang terjadi—dan sering kali bertahan—secara nyata memperberat beban kelompok miskin. So, ini bukan sekadar fenomena budaya atau “berkah Ramadan”, tapi persoalan keadilan ekonomi!
Inflasi makanan bukan sekadar angka, tapi tekanan hidup bagi kelompok rentan. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik, proporsi pengeluaran rumah tangga miskin sebesar 50–60% untuk biaya makan, rumah tangga menengah sekitar 30–40%, sementara rumah tangga kaya mengeluarkan biaya makan yang jauh lebih kecil dari penghasilan. Statistik itu sejalan dengan prinsip Engel’s Law, bahwa proporsi pengeluaran untuk makanan akan menurun seiring meningkatnya pendapatan.
Ketika harga makanan naik, orang kaya cuma mikir, “Lhah, paling naik beberapa ribu.” Bagi mereka, itu kenaikan yang tak seberapa, karena penghasilan mereka jauh lebih besar dibanding pengeluaran untuk makan yang hanya sekian persen. Tapi bagi orang miskin, kenaikan beberapa ribu adalah cekikan yang makin kuat di leher mereka!
“Di ujung gang sana, ada penjual soto,” ujar Badu. “Dulu, harga seporsi cuma delapan ribu. Semangkuk soto itu biasanya untuk lauk makan kami bertiga—aku, ibuku, dan adikku. Saban lebaran, harganya naik. Dari delapan ribu jadi sepuluh ribu. Terus naik lagi jadi sebelas ribu, tiga belas ribu, hingga sekarang lima belas ribu. Lebaran tahun ini juga pasti akan naik lagi. Tapi penghasilanku dari dulu cuma segitu-gitu aja, nggak naik sama sekali.”
Harga-harga makanan naik setiap lebaran, dan sebagian kenaikan harga itu tetap bertahan setelah lebaran usai, karena para pedagang ditekan struktur pasar yang berubah, sementara orang-orang tetap butuh beli makanan. Orang kaya butuh makan, orang miskin juga butuh makan. Kenaikan harga bagi orang kaya cuma membuat mereka tertawa, kenaikan harga bagi orang miskin membuat mereka makin menderita. Dan pola itu terus terjadi dari tahun ke tahun, setiap kali Ramadan dan lebaran tiba.
Puasa Ramadan mendidik kita untuk memahami penderitaan orang-orang miskin. Lebaran jadi waktu merayakan kemenangan atas hawa nafsu. Dan setelah lebaran usai... orang-orang miskin kembali tertindas.
