Sabtu, 25 Agustus 2018

Takdir Burung-burung

Takdir dan kepastian adalah kerlip bintang di kegelapan.


Jutaan tahun lalu, bumi adalah kawasan hijau dengan pohon-pohon menjulang tinggi ke langit. Daratan adalah tanah subur yang membentang luas tak terbatas, sementara lautan begitu bersih. Pada masa itu, hewan-hewan dapat tumbuh hingga luar biasa besar, karena tempat hidup mereka memungkinkan untuk itu. Merekalah penguasa bumi di zamannya, jauh sebelum kemunculan manusia.

Di daratan, masa itu, ada argentinosaurus, hewan dengan panjang 45 meter, dan berat sekitar 95 ton, atau 30 kali berat gajah Afrika sekarang. Makhluk itu hidup pada masa Cretaseous (sekitar 100 juta tahun lalu), dan menjadi salah satu hewan darat terbesar.

Tetapi argentinosaurus bukan yang terbesar, karena masih ada giganotosaurus. Sebagaimana namanya, giganotosaurus adalah hewan darat terbesar dalam arti sebenarnya, bahkan predator darat terbesar yang pernah ada. Struktur tubuh hewan itu mirip Tyrannosaurus-rex. Tetapi T-rex lebih pendek, karena panjang tubuhnya “cuma” sekitar 9 meter, sedangkan giganotosaurus dewasa bisa mencapai panjang 13 meter. Raksasa mengerikan itu hidup berkelompok, dan biasa memangsa hewan besar lain semisal argentinosaurus dewasa.

Sementara itu, di laut ada liopleurodon, makhluk yang disebut predator laut terbesar sepanjang masa. Hewan itu memiliki gigi sepanjang 30 cm, dan tengkorak sepanjang 5 meter. Panjang tubuhnya mencapai 25 meter. Makanannya adalah paus dan berbagai makhluk berdaging lainnya.

Masih di laut, ada pula megalodon, hiu purba yang menjadi nenek moyang hiu modern. Berbeda dengan hiu zaman sekarang yang besarnya tidak seberapa, megalodon memiliki ukuran raksasa. Megalodon kecil memiliki panjang sekitar 6 meter, sedangkan megalodon dewasa mencapai panjang 18 meter atau sebesar kapal.

Jika di darat dan di laut ada hewan-hewan besar, begitu pula di udara. Pada masa jutaan tahun lalu, bumi pernah menyaksikan raksasa-raksasa terbang, salah satunya ornithocheirus. Hewan itu merupakan makhluk terbesar yang pernah terbang. Sayapnya saja, dari ujung ke ujung, mencapai panjang 46 kaki atau 18 meter—cukup untuk menampung dua mobil besar.

Bagaimana makhluk sebesar itu bisa terbang? Kemampuan terbang ornithocheirus dimungkinkan karena tubuhnya berongga, sehingga mudah untuk terbang. Ornithocheirus inilah yang menjadi leluhur burung-burung yang bisa terbang pada masanya.

Sebagaimana pada masa sekarang, jutaan tahun lalu juga ada burung yang bisa terbang, namun ada pula burung yang tidak bisa terbang. Burung-burung yang bisa terbang—semisal ornithocheirus dan keturunannya—biasa bertengger di pepohonan, lalu terbang melintasi darat dan laut, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sementara burung-burung yang tidak bisa terbang hanya berjalan di tanah.

Lalu, suatu ketika, bencana mahadahsyat terjadi.

Enam puluh enam juta tahun lalu—saat hewan-hewan besar masih menjalani kehidupan seperti biasa—tiba-tiba meteor raksasa jatuh menghantam bumi, dan efeknya sangat... sangat mengerikan.

Meteor seluas 9 mil itu menghantam bumi, tepatnya di tepi pantai Meksiko (sekarang), dan tumbukannya yang sangat keras menghasilkan sembilan kali energi bom nuklir. Panas yang luar biasa itu memicu kebakaran dahsyat di seluruh bumi, dan kehancuran yang ditimbulkannya memusnahkan makhluk-makhluk yang hidup pada masa itu. Hutan-hutan yang semula tumbuh subur berubah menjadi kawasan neraka.

Argentinosaurus, giganotosaurus, dan hewan-hewan darat besar lain, punah. Apalagi cuma Tyrannosaurus-rex yang besarnya “tidak seberapa”. Liopleurodon, megalodon, dan hewan-hewan raksasa lain di laut ikut musnah, karena pada waktu itu laut berubah menjadi kawah membara. Begitu pula spinosaurus, theropoda terbesar, punah. Sarcoshucus, amfibi terbesar, punah. Termasuk ornithocheirus dan burung-burung terbang lainnya, ikut punah.

Itu menjadi akhir kisah para dinosaurus, sekaligus menjadi awal perubahan besar yang terjadi di bumi dan makhluk-makhluk lain yang masih bertahan hidup di dalamnya.

Seiring hutan-hutan di seluruh kawasan bumi musnah terbakar, hewan-hewan terbang yang biasa bertengger di pohon ikut punah. Satu-satunya jenis burung yang selamat dari kehancuran zaman itu hanyalah spesies yang tidak bisa terbang, dan biasa tinggal di tanah. Berdasarkan penelitian, para ilmuwan meyakini bahwa burung yang tidak bisa terbang itulah yang kemudian menjadi nenek moyang burung-burung di masa sekarang.

Dr. Regan Dunn, peneliti dan palaeontolog dari Field Museum, Chicago, menyatakan, “Melihat jejak fosil tanaman dan burung, ada banyak bukti yang memperlihatkan bahwa kanopi hutan runtuh. Burung yang bisa terbang punah, karena tidak ada lagi tempat bertengger.”

Perlu waktu ratusan hingga ribuan tahun bagi hutan untuk pulih kembali. Jejak fosil yang ditemukan di Selandia Baru, Jepang, Eropa, dan Amerika Utara, menunjukkan bukti deforestasi massal. Untuk hal itu, Dr. Daniel Field, dari University of Bath, menyatakan, “Kami menyimpulkan bahwa hilangnya hutan akibat hantaman meteor tersebut menjelaskan mengapa burung-burung arboreal tidak mampu bertahan hidup pada peristiwa kepunahan.”

Nenek moyang burung arboreal tidak bergerak ke arah pohon, sampai hutan benar-benar pulih.

“Saat ini,” lanjut Dr. Daniel Field, “burung merupakan kelompok hewan vertebrata teresterial yang paling beragam, dan tersebar luas di seluruh dunia—ada sekitar 11 ribu spesies hidup. Hanya segelintir garis keturunan mereka yang berhasil selamat dari kepunahan massal 66 juta tahun lalu. Dan semua keanekaragaman burung hidup yang ada saat ini bisa ditelusuri kembali ke nenek moyang yang selamat.”

Jadi, burung-burung yang saat ini bisa terbang, sebenarnya keturunan burung-burung yang tidak bisa terbang. Artinya, mereka memiliki kemampuan terbang—sebagaimana yang kita saksikan sekarang—bukan karena faktor keturunan atau mewarisi kemampuan dari leluhurnya, melainkan hasil pembelajaran. Karena nenek moyang mereka tidak bisa terbang.

Kemampuan terbang jelas bukan kemampuan remeh, buktinya manusia—dengan kekuatan tubuhnya—tidak bisa melakukannya, bahkan sampai sekarang. Tentu butuh waktu sangat lama bagi burung-burung yang semula tidak bisa terbang untuk memiliki kemampuan terbang. Mereka tidak hanya mengasah kemampuan terbang, tapi juga mengubah struktur tubuh mereka agar memungkinkan terbang.

Jangankan burung-burung yang merupakan keturunan langsung burung yang tidak bisa terbang, bahkan burung-burung yang merupakan anak dari induk yang bisa terbang pun, butuh latihan dan pembelajaran—bahkan paksaan—untuk bisa terbang.

Di zaman sekarang, misalnya, kita mengenal elang sebagai hewan terbang yang perkasa di udara. Burung itu bisa terbang dan melayang sampai berjam-jam, kemudian melesat secepat kilat saat menghadapi bahaya, atau saat menerkam mangsa. Jelas, elang adalah burung dengan kemampuan terbang luar biasa.

Tetapi, kemampuan terbang elang tidak diperoleh sebagai warisan atau karena keturunan, melainkan lebih karena pembelajaran. Anak-anak elang, sebagaimana anak-anak menusia, lebih suka menjadi anak manja, yang ingin menikmati kehidupan seenaknya.

Saat mulai tumbuh, anak-anak elang lebih suka menghabiskan keseharian di sarang mereka yang nyaman di atas gunung, atau mengorek-ngorek tanah mencari cacing. Mereka punya sayap, sebagaimana induknya, tapi malas terbang. Karena terbang bukan pekerjaan mudah, itu membutuhkan energi dan usaha luar biasa. Anak-anak elang malas melakukannya.

Dalam hal itu, induk elang sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Induk elang tahu, bahwa takdir tidak diberikan, tapi dibangun—dari usaha, latihan, pembelajaran, jatuh dan bangun. Jadi, setiap pagi, setelah memberikan sarapan untuk anak-anaknya, induk elang akan menendang sang anak dari sarang mereka, dan membiarkannya jatuh dari ketinggian.

Anak elang, yang tidak bisa terbang, tentu ketakutan saat tubuhnya meluncur ke bawah dengan cepat. Melihat hal itu, induk elang segera melesat menuju anaknya, dan menangkapnya sebelum tubuh sang anak menghantam tanah. Lalu hal sama diulangi. Induk elang membawa sang anak kembali ke sarang di ketinggian, membiarkannya istirahat sebentar, lalu kembali menendangnya keluar dari sarang.

Sekali lagi, anak elang jatuh meluncur ke bawah. Tetapi, kali ini, dia mulai berusaha menggerakkan sayapnya, dengan harapan tidak mati menghantam tanah. Saat anak elang hampir tewas di bawah, induk elang melesat dan kembali menangkapnya. Lalu hal sama diulangi, setiap hari, sampai si anak—yang semula manja dan tak bisa terbang—berubah menjadi makhluk perkasa yang mampu terbang berjam-jam di udara.

Jika anak elang, yang jelas dilahirkan dari induk perkasa yang bisa terbang saja membutuhkan latihan dan pembelajaran untuk bisa terbang, apalagi burung-burung di masa lampau yang merupakan keturunan burung tak bisa terbang? Mereka tentu menjalani proses latihan dan pembelajaran berkali lipat lebih keras dari yang dijalani anak-anak elang.

Sebagian burung dilahirkan induk yang tak bisa terbang, tapi mereka bisa terbang karena latihan dan pembelajaran. Sebagian lagi dilahirkan induk yang bisa terbang, tapi mereka harus jatuh bangun dan bekerja keras untuk bisa terbang. Karena takdir hebat memang tidak disuguhkan di atas nampan emas, tapi diberikan bersama cucuran keringat.

Satu-satunya Orang yang Bisa Mengalahkan Thanos

Sekelompok bocah berkumpul, membahas Avengers: Infinity Stones. Topik percakapan tertuju pada Thanos, satu-satunya villain yang mampu mengalahkan Avengers.

Salah satu bocah berkata, “Hulk yang kuat saja kalah, saat bertarung dengan Thanos.”

“Thor, juga Loki, mereka sama kalah,” sambung bocah lain. “Iron Man juga tidak berkutik saat berhadapan dengan Thanos.”

Bocah teman mereka mengangguk-angguk, lalu berkata, “Kayaknya, meski dikeroyok semua superhero, Thanos memang tak terkalahkan. Doctor Strange, Black Panther, Captain America, Spider-Man, Black Widow, Vision, dan lain-lain, semuanya sangat tangguh dengan kekuatan masing-masing. Tapi mereka semua kalah!”

Bocah-bocah itu terdiam, seperti merenungkan kenyataan yang sulit dipahami di alam semesta.

Setelah cukup lama terdiam, bocah ini berkata perlahan-lahan, “Sepertinya, satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Thanos cuma mbakyuku.”

“KOK BISAAAA?” teriak bocah-bocah lain.

“Iya, soalnya di dunia ini tidak ada yang mengalahkan mbakyuku.”

Bocah-bocah lain mimisan.

Berarti Kamu Urf

Oooh, berarti kamu urf.

Selasa, 21 Agustus 2018

10 Jawaban Mematikan untuk Pertanyaan “Kapan Kawin?”

Lain kali, kalau ada orang yang masih nekat bertanya kapan kawin 
kepadaku, aku akan menjawab, "Kamu kok mengurusi selangkanganku. 
Emang selangkanganmu kenapa?"


Di antara “masalah sosial” yang kerap dihadapi para lajang atau orang-orang yang belum menikah, adalah pertanyaan “kapan kawin?” yang biasa dilontarkan para idiot, imbisil, dan orang-orang yang mengalami keterbelakangan mental.

Memang, ada kalanya orang-orang waras—dalam arti bukan idiot, bukan imbisil, juga bukan orang dengan keterbelakangn mental—sesekali bertanya “kapan kawin?” kepada kita, dan mereka menanyakan hal itu sebagai bentuk ketulusan atau kepedulian. Mereka juga hanya bertanya sesekali, bukan terus menerus. Biasanya, orang-orang semacam itu adalah orang-orang terdekat kita, seperti bibi, tante, sahabat, atau semacamnya.

Kalau bibi atau tante kita bertanya dengan simpatik, “Nak, kenapa sampai sekarang belum menikah?”, atau bertanya secara langsung, “Kapan kamu akan menikah?”, kita bisa menjawab pertanyaan tulus itu dengan jawaban atau respons yang sama tulus.

Misal, kita bisa menjawab, “Doakan saja, Tante, semoga dalam waktu dekat ini.” Atau, kita bahkan bisa menjawab secara terbuka, “Sebenarnya, saya sudah ingin menikah, tapi Tuhan tampaknya belum mempertemukan dengan jodoh yang tepat.”

Mereka orang-orang terdekat kita, dan bertanya kepada kita semata-mata karena perhatian, karena ketulusan. Karena mereka bertanya dengan tulus, kita pun wajib menjawab dengan sama tulus.

Tetapi, di luar orang-orang tulus tersebut, ada orang-orang yang hobi bertanya “kapan kawin?” kepada kita, dan mereka mengajukan pertanyaan itu bukan karena perhatian atau ketulusan, melainkan karena berbagai hal lain—karena ketololan, karena kegatelan, karena berharap semua orang sama seperti dirinya, atau bahkan karena kedengkian.

Oh, well, di sekeliling kita banyak orang yang telah menikah, dan mereka menyesal diam-diam. Mereka menyesali pernikahannya, karena merasa “tertipu”—dengan berbagai sebab dan alasan. Tapi mereka tidak bisa mengakui kenyataan itu. Karena malu. Juga karena tidak enak pada pasangan serta lingkungan. Mereka adalah orang-orang yang tidak bahagia menjalani kehidupan—sebegitu tidak bahagia, hingga sangat ingin dianggap bahagia.

Ingat-ingatlah selalu kenyataan penting ini. Perbedaan fundamental antara orang bahagia dan tidak bahagia adalah... orang yang tidak bahagia akan berusaha membuktikan bahwa dia bahagia. Sedangkan orang yang benar-benar bahagia tidak peduli pendapat orang lain!

Sebegitu penting kenyataan ini, hingga saya merasa perlu mengulangi dengan cetakan tebal. Orang yang tidak bahagia akan berusaha membuktikan kalau dia bahagia. Sedangkan orang yang benar-benar bahagia tidak peduli orang lain menganggapnya bahagia atau tidak! Karena kebahagiaan tidak butuh pembuktian!

Karena itu, orang-orang yang tidak bahagia dalam perkawinan mereka sangat mudah dikenali. Misalnya, mengunggah foto dengan pasangan di media sosial, sok mesra, lalu menambahinya dengan kalimat mengejek orang lain yang belum menikah. Misalnya, “Yang jomblo jangan baper, ya.”

Itu contoh bagaimana orang yang tidak bahagia dalam perkawinannya, ingin diakui dan dianggap bahagia. Mereka ingin membuktikan—pada diri sendiri dan kepada orang lain—bahwa mereka bahagia. Fakta bahwa mereka ingin membuktikan kalau mereka bahagia, justru menunjukkan kalau mereka sebenarnya tidak bahagia! Karena, sekali lagi, kebahagiaan tidak butuh pembuktian!

Perhatikan sekelilingmu, amati kawan-kawanmu, di dunia nyata maupun di dunia maya. Oh, well, kau bahkan bisa mengamati (introspeksi) dirimu sendiri. Orang yang benar-benar bahagia terlihat santai, tidak mengusik orang lain, dan menjalani kehidupan tanpa usaha merendahkan (dalam contoh mudah; mengejek) orang lain. Orang yang bahagia tidak punya keinginan mengusik orang lain. Itu hukum psikologi paling tua di dunia!

Sebaliknya, orang yang tidak bahagia, menjalani kehidupan dengan pola sebaliknya. Mereka gersang di dalam, tidak merasakan kebahagiaan. Akibatnya, mereka bukan menikmati kehidupannya sendiri (karena memang tidak menyenangkan), tapi berusaha mengusik kehidupan orang lain.

Terkait orang yang tidak bahagia dalam pernikahan, modus yang biasa digunakan untuk menutupi ketidakbahagiaan adalah suka mengejek orang-orang lain yang belum menikah. Oh, hell, jangan tertipu dengan gaya mereka!

Mereka sebenarnya gersang di dalam—menyesali keputusannya menikah, tapi tidak bisa mengakui kenyataan itu terang-terangan. Karena kenyataan itu pula, mereka pun mendengki pada orang-orang yang belum menikah, yang dapat menjalani kehidupan dengan lebih bebas dan bahagia. Sebagai kompensasi, mereka pun mengejek dan merendahkan orang-orang yang belum menikah, dengan suka nyinyir, “Kapan kawin?”

Pertanyaan itu—“kapan kawin?”—sebenarnya cara mereka menutupi ketidakbahagiaan yang mereka rasakan, sambil berusaha menunjukkan kalau mereka bahagia.

Ketika mereka bertanya “kapan kawin?”, sebenarnya mereka ingin mengatakan, “Aku lebih baik darimu, karena aku sudah punya pasangan, dan kamu belum.” Itu upaya mereka untuk membuktikan—pada diri sendiri dan orang lain—bahwa mereka bahagia. Dan kalau orang berusaha membuktikan dirinya bahagia, artinya dia tidak bahagia!

Jadi, sebenarnya kasihan sekali orang-orang yang suka nyinyir “kapan kawin?”, yang ada di sekeliling kita. Mereka sebenarnya orang-orang tidak bahagia, yang diam-diam menyesali perkawinannya, tapi tidak bisa apa-apa. Kasihan, tapi juga menjengkelkan!

Mereka menjalani kehidupan tidak bahagia, lalu ingin membuktikan bahwa mereka bahagia, sambil berharap kita juga menjalani kehidupan tidak bahagia seperti mereka! Itu, kan, bangsat! Sudah rusak, keblangsak, masih berusaha merusak!

Ada kalanya, orang-orang imbisil semacam itu perlu diberi pelajaran, agar sedikit sadar. Selama ini, mungkin ada banyak orang yang kebingungan saat ditanya “kapan kawin?” oleh keparat-keparat itu. Jadi, berikut ini, saya tuliskan sepuluh jawaban mematikan untuk menjawab pertanyaan busuk mereka.

Saya sebut “jawaban mematikan”, karena jawaban-jawaban berikut ini akan membungkam mulut mereka, dan—kita berharap—mereka mulai menyadari masalahnya sendiri, bukannya terus mengusik kehidupan orang lain. Kalian bisa mengingat-ingat jawaban berikut ini, kapan pun ditanya “kapan kawin?”

1. Kapan kawin?

Sebenarnya, siapakah yang menjalani hidupku? Aku... atau kamu? Kamu punya hidup yang kamu jalani, sebagaimana aku juga punya hidup yang kujalani. Aku tidak mengusik hidupmu—misal menyuruh-nyuruhmu bercerai—tapi kenapa kamu suka mengusik hidupku? Jalani saja hidupmu dengan baik, sebagaimana aku akan berusaha menjalani hidupku dengan baik. Soal kapan aku kawin, itu urusanku, bukan urusanmu.

2. Kapan kawin?

Kamu ibuku, pacarku, kakakku, atau bagaimana? Apakah kamu merasa menghidupiku selama ini? Kenapa kamu merasa punya hak untuk mencampuri dan menentukan hidupku? Soal kapan aku kawin, atau bahkan aku akan kawin atau tidak, itu urusanku. Kenapa kamu yang repot?

3. Kapan kawin?

Terus terang, aku tidak tahu kapan aku akan kawin. Karena kawin adalah urusan jodoh, dan jodoh—sebagaimana maut serta rezeki—adalah urusan Tuhan. Jadi, tolong kamu tanyakan pada Tuhan, kapan aku akan kawin. Dan sebelum kamu mendapatkan jawaban dari Tuhan, tutuplah cocotmu.

4. Kapan kawin?

Kamu tahu perbedaan orang yang bahagia dan sengsara dalam perkawinannya? Orang yang bahagia menikmati perkawinannya, dan tidak suka mengusik hidup orang lain. Sebaliknya, orang yang sengsara dan menyesali perkawinannya, sangat suka mengusik kehidupan orang lain, di antaranya suka bertanya “kapan kawin?”. Jadi, kamu ingin melihatku sengsara sepertimu, atau bagaimana?

5. Kapan kawin?

Orang yang berani menyuruh orang lain melakukan sesuatu, juga harus berani bertanggung jawab. Kamu menyuruh-nyuruhku cepat kawin dengan suka bertanya “kapan kawin?”. Kalau aku menuruti permintaanmu, dan kawin sekarang, lalu perkawinanku sengsara, apakah kamu bersedia bertanggung jawab? Kalau sekadar mbacot tanpa tanggung jawab, anjing pun bisa!

6. Kapan kawin?

Kamu bertanya kepadaku, kapan aku akan kawin. Agar adil, izinkan aku bertanya kepadamu, “Apakah perkawinanmu bahagia?” (Perhatikan mukanya, dan kita akan melihat mukanya langsung berubah).

7. Kapan kawin?

Jangan membohongi dirimu sendiri. Aku tahu, hidupmu sengsara, perkawinanmu menyedihkan, dan kamu diam-diam menyesali perkawinanmu. Tapi kamu tidak bisa mengatakan itu terang-terangan, kan? Kamu malu, atau mungkin tidak enak, jika mengatakan kenyataan yang kamu hadapi.

Jadi, kamu bertanya-tanya “kapan kawin?” untuk menutupi perasaanmu sendiri, karena itu caramu untuk merasa lebih baik. Kalau boleh menyarankan, jauh lebih baik kamu benahi perkawinanmu, daripada mengusik kehidupan orang lain dengan suka bertanya “kapan kawin?”

8. Kapan kawin?

APA? KAMU INGIN MELIHATKU SENGSARA, MENDERITA, DAN MENYESAL DIAM-DIAM SEPERTIMU? KAMU INGIN AKU CEPAT TUA DAN MENYEDIHKAN SEPERTIMU? OH, HELL, YANG BENAR SAJA! KEBLANGSAK KOK NGAJAK-NGAJAK!

9. Kapan kawin?

Aku akan kawin, sialan! Tapi bukan karena disuruh atau ditanya-tanya kamu. Aku akan kawin semata-mata karena kehendak, pilihan, dan kesadaranku sendiri. Jadi, kenapa tidak kamu tutup saja cocotmu yang menyedihkan itu?

10. Kapan kawin?

Begini, persetan. Mungkin selama ini tidak ada yang memberitahumu, bahwa hidup adalah soal pilihan. Begitu pula soal kawin. Karenanya, apakah aku akan kawin atau tidak, atau apakah aku akan cepat kawin atau tidak, itu pilihanku.

Sebagaimana kamu memilih buru-buru kawin, aku juga punya hak untuk memilih tidak cepat-cepat kawin. Ini aturan yang fair—hidup adalah soal pilihan, dan masing-masing bertanggung jawab pada pilihan yang kita ambil. Jadi, tutuplah cocotmu yang busuk, dan berhentilah bertanya kapan-fucking-kawin!

Tipuan Paling Murahan

Dari dulu orang-orang yang sudah menikah bisa bebas "menipu" orang-orang lain yang belum menikah, dengan iming-iming bahagia, lancar rezeki, dan taik kucing lainnya. Sekarang para penipu itu harus mulai sadar, bahwa tipuan mereka terdengar sangat murahan.

....

Ada yang bertanya-tanya, "Kenapa sih, sekarang banyak orang yang meributkan pernikahan?"

Lhoh, yang mulai duluan, siapa? Dari dulu, orang-orang yang sudah menikah merasa bebas mem-bully dan menipu orang-orang lain yang belum menikah. Sekarang kenyataan berbalik kepada mereka.

....

Mestinya, orang tua atau orang-orang yang telah menikah memberitahu, "Menikah tidak semudah dan seindah yang kaubayangkan. Memang ada senangnya, tapi juga ada sengsaranya."

Tapi apakah mereka mengatakan itu? Tidak, mereka justru membual tentang kebahagiaan, lancar rezeki, etc.

....

Kenapa orang-orang berusaha menipu dengan mengatakan bahwa menikah itu indah, bahagia, lancar rezeki, dan taik kucing lainnya?

Jawabannya sederhana. Karena kalau mereka mengatakan realitas perkawinan yang sesungguhnya, tidak akan ada yang tertarik menikah! Did you see that?

....

Lebih dari 100 teman pernah memberi undangan pernikahan kepadaku, dan aku berkata pada mereka, "Jika kelak pernikahanmu bahagia, tolong ceritakan kepadaku. Tapi jika tidak, jangan katakan apa pun."

Sampai saat ini, tidak ada yang mengatakan apa pun » http://bit.ly/2mFb9dg 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Februari 2018.

Berapa Fathom?

Dan sementara jutaan orang lain sibuk mengurusi selangkangan, sibuk mengomentari kehidupan orang lain, sibuk pamer dan merasa paling hebat hanya karena punya pasangan, ada orang-orang yang bekerja dalam sunyi menghitung fathom.

Terpujilah mereka... oh, well, terpujilah mereka.

Rabu, 15 Agustus 2018

Merenung di Dapur

Seekor tikus masuk perangkap gara-gara tergoda sepotong tulang ayam. 
Tiga hari kemudian, tikus mati dalam perangkap, dengan tulang ayam yang 
masih utuh, tak mampu ia habiskan. Kupikir, begitu pula nafsu manusia.


Salah satu kesenangan kecil dalam keseharian saya adalah merenung di dapur. Kadang-kadang, kalau sedang ingin santai, saya ke dapur dan membuat kopi, lalu duduk menyeruput kopi sambil merokok. Rasanya nikmat sekali. Sendiri di dapur yang hening, ditemani kopi dan rokok.

Karena berada di dapur, cakrawala pandang saya pun terbatas—hanya seluas dapur. Yang saya lihat hanya hal-hal yang biasa ada di dapur, dari gelas dan piring dan sendok, kompor, tabung gas, termos, panci, dan semacamnya. Biasanya, kalau sedang iseng, saya memfokuskan pikiran pada salah satu benda tersebut, dan memikirkannya. Yeah, namanya juga lagi iseng.

Di dapur rumah saya ada jebakan tikus berbentuk kurungan. Kadang-kadang memang ada tikus kurang kerjaan yang berkeliaran di rumah, dan—mungkin karena kurang kerjaan—tingkahnya sering menjengkelkan. Menggerogoti apa saja, atau melakukan hal-hal meresahkan. Karena terganggu, saya pun menjebak mereka dengan perangkap yang saya siapkan di dapur.

Perangkap berbentuk kurungan itu tidak terlalu luas. Panjangnya cuma sekitar 20 cm, dengan lebar dan tinggi sekitar 10 cm. Dilengkapi pintu yang dapat menutup sendiri, saat ada tikus yang terjebak masuk. Pada kurungan perangkap, biasanya saya pasangi umpan berupa daging sisa saya makan, atau bahkan gorengan. Dengan umpan itu, tak terhitung banyaknya tikus yang pernah terjebak dan terperangkap dalam kurungan. Biasanya nasib mereka pun selesai.

Suatu siang, saat saya sedang ingin merenung di dapur, perangkap kurungan di sana telah mendapatkan seekor tikus yang juga terjebak di dalam. Pikiran saya pun terfokus pada kurungan itu, dan memikirkan tikus di dalamnya.

Saya bertanya-tanya, kenapa tikus-tikus bisa dijebak dengan mudah? Kurungan yang menjebak dan memerangkap mereka sangat sederhana—hanya berupa kurungan besi berukuran sempit yang dipasangi umpan di dalamnya. Kenapa mereka bisa begitu mudah terjebak, hingga tak bisa keluar?

Selama ini, tak terhitung tikus di rumah saya yang terjebak masuk ke dalam perangkap kurungan. Sering kali, saya lihat ada tikus-tikus yang sempat menyaksikan temannya berada di dalam kurungan. Artinya, tikus-tikus itu telah melihat teman-teman mereka yang pernah terjebak di dalam perangkap, tanpa bisa keluar. Yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa mereka tidak belajar dari pengalaman?

Sebagian orang mungkin berpikir, “Lhah, namanya juga tikus. Mereka makhluk yang bodoh, kan?”

Salah!

Sebaliknya, tikus termasuk hewan pintar. Keparat-keparat kecil itu tahu bagaimana cara mencari makanan, dan mereka akan menemukannya. Bukan hanya pintar, mereka juga makhluk yang tekun. Jika makanan yang mereka tuju ada di dalam lemari, misalnya, mereka tidak keberatan mengerat kayu lemari demi bisa membuat lubang.

Percaya atau tidak, tikus adalah salah satu hewan yang mirip manusia. Karena “kemiripan” itu pula, eksperimen-eksperimen di laboratorium sering menggunakan tikus sebagai hewan percobaan. Mereka—maksud saya tikus-tikus—bukan hewan bodoh. Berdasarkan otak yang mereka miliki, seharusnya mereka dapat berpikir lebih pintar. Bahkan, berdasar penelitian terbaru, otak tikus masih berfungsi (masih hidup) ketika tubuh mereka sudah mati (secara klinis).

Karena itulah, saya heran setengah mati mendapati tikus-tikus yang terus terjebak masuk ke dalam kurungan perangkap, seolah mereka tidak bisa berpikir, seolah mereka tidak pernah menyaksikan temannya yang lebih dulu terjebak dan tak bisa keluar. Itu mengherankan, dan saya bertanya-tanya.

Jika saya menempatkan diri pada tikus, dan mencoba berpikir seperti tikus, saya membayangkan tikus-tikus terjebak masuk ke dalam perangkap karena mereka menatap kurungan di depannya tidak dengan perspektif yang utuh. Mereka hanya melihat makanan (umpan yang dipasang di dalam kurungan), dan hanya berpikir mendapatkan makanan tersebut.

Tikus-tikus itu tidak memikirkan makanan di hadapannya dengan perspektif yang utuh. Mereka tidak memikirkan mengapa makanan ada di tengah-tengah kurungan sempit. Mereka tidak menganalisis kenapa kurungan hanya memiliki satu pintu, dan tidak ada pintu samping atau pintu belakang. Mereka tidak bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika satu-satunya pintu itu menutup, ketika mereka ada di dalam kurungan.

Mereka tidak berpikir dengan perspektif yang utuh.

Dan itulah kesalahan terbesar mereka.

Tikus-tikus yang akhirnya terjebak itu berpikir dalam jangka pendek—yang penting mendapatkan sesuatu yang ada di sana (makanan), tanpa menyadari bahwa makanan itu hanya umpan. Jadi, ketika mereka mencoba masuk ke dalam kurungan untuk menyentuh makanan di dalamnya, seketika pintu kurungan menutup. Dan mereka tidak bisa keluar. Karena tidak ada pintu lain. No where to run.

Perspektif yang utuh—tampaknya itulah masalah terbesar yang kerap dialami tikus... juga manusia. Saat menghadapi sesuatu, mereka tidak sempat memikirkan dalam skala luas atau jangka panjang, karena hanya fokus pada skala sempit atau jangka pendek. Padahal, hidup tidak sesempit itu, dan kehidupan juga tidak sesingkat itu.

Kalau saja tikus-tikus mau memandang dalam perspektif yang utuh, mereka akan selamat. Setidaknya, mereka akan berpikir, kira-kira seperti ini, “Aku memang menginginkan makanan di dalam kurungan. Tetapi, kalau kuperhatikan, kurungan itu sempit, dan hanya memiliki satu pintu yang dapat dilewati. Bagaimana kalau aku sedang ada di dalam, lalu pintu menutup? Aku pasti akan terkurung di sana, dan tak bisa keluar.”

Sejenak, tikus mungkin bisa mengitari kurungan, untuk memastikan bahwa kurungan tersebut memang tidak memiliki pintu lain. Setelah itu, dia pun yakin bahwa kurungan memang hanya memiliki satu pintu.

Jadi, dia pun berpikir, “Sekarang aku yakin, kurungan ini memang hanya memiliki satu pintu. Makanan di dalam kurungan memang tampak menggiurkan. Tetapi, bagaimana nasibku kalau aku sedang meraih makanan di dalamnya, lalu pintu kurungan menutup? Kenikmatan makanan di dalam kurungan jelas tak sepadan dengan kehidupanku. Jauh lebih baik aku menahan lapar tapi bebas, daripada mendapat makanan tak seberapa tapi aku terkurung.”

Dia juga bisa mengingat teman-temannya, yang pernah terlihat masuk kurungan, dan berpikir, “Teman-temanku yang pernah kulihat masuk ke dalam kurungan, sekarang tidak ada kabarnya. Aku tidak tahu di mana mereka. Aku masih ingat, beberapa temanku ada dalam kurungan dan tak bisa keluar, karena pintu kurungan menutup saat mereka ada di dalam. Itulah yang paling kukhawatirkan. Teman-temanku juga pasti berpikir ingin mengambil makanan di dalam kurungan. Tapi mereka tidak sempat memikirkan apa yang mungkin terjadi jika pintu kurungan menutup.”

Sampai di situ, tikus (seharusnya) bisa mengambil kesimpulan, “Artinya, kurungan berisi makanan ini sebenarnya perangkap, sebuah jebakan.”

Jika sampai pada kesimpulan semacam itu, dia pun selamat. Dia telah mendapatkan pencerahan yang tidak didapat teman-temannya—sesama tikus—yang telah terjebak dan kini hilang entah ke mana.

Kesimpulan yang baik dihasilkan oleh analisis yang baik. Analisis yang baik dihasilkan oleh pemikiran yang baik. Pemikiran yang baik dihasilkan oleh proses pembelajaran yang baik. Dan proses pembelajaran yang baik dihasilkan oleh ketekunan.

Tikus adalah hewan yang tekun. Saat mereka sedang mengerat atau menggerogoti sesuatu, mereka akan tekun melakukannya, hingga tujuan mereka tercapai. Kayu sekeras apa pun bisa berlubang, jika tikus menghendaki berlubang. Mereka hewan-hewan tekun, dan dilengkapi gigi-gigi kuat untuk mengerat. Sayang, mereka tidak menggunakan ketekunan yang sama untuk belajar.

Oh, well, tikus-tikus itu tidak belajar.

Mereka bahkan tidak belajar dari pengalaman.

Hari ini ada tikus yang masuk kurungan perangkap, dan besok ada lagi tikus yang masuk perangkap. Lalu besoknya lagi ada tikus lain masuk perangkap. Bagaimana bisa setiap hari ada tikus masuk perangkap, padahal kurungan yang digunakan sama, dan umpan di dalamnya juga serupa? Karena mereka tidak belajar dari pengalaman.

Mereka telah menyaksikan satu per satu temannya masuk ke dalam kurungan perangkap, dan tak bisa keluar. Tetapi, bukan belajar dari kenyataan pahit itu, mereka justru ikut-ikutan terperangkap! Mereka tidak belajar. Oh, well, mereka tidak pernah belajar!

Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, yaitu makanan di dalam kurungan, tanpa sempat memikirkan hal-hal yang tak terlihat. Seperti kemungkinan tak bisa keluar, hilangnya kebebasan, hingga selesainya riwayat hidup karena terjebak dalam perangkap. Hanya karena umpan tak seberapa, kehidupan mereka selesai.

Begitulah manusia... eh, maaf, begitulah tikus-tikus. Mereka rakus setiap kali melihat sesuatu yang diinginkan, hingga lupa menggunakan pikiran.

Meski begitu, tikus-tikus tak pernah habis. Hari ini terjebak masuk kurungan, besok ada lagi, dan begitu seterusnya. Mereka tak pernah habis. Mengapa? Para ilmuwan di laboratorium tahu jawabannya. Karena, sebagaimana manusia, tikus-tikus sangat cepat berkembang biak.

Suami, Istri, dan Kekacauan Doktrin

Rupanya lagi viral di medsos dan situs berita, tentang suami yang ngasih uang belanja 5 ribu per hari untuk istri, dan mengeluhkan istrinya yang "tidak bersyukur pada pemberian suami."

Ah, itu mungkin hoax. Katanya kan menikah membuatmu bahagia, tenteram, dan lancar rezeki?

....

Wanita didoktrin agar menjadi "istri yang bersyukur pada suami."

Tetapi, pria didoktrin agar "menikah sebelum mapan".

Dan ketika perkawinan terjadi, kita diberitahu bahwa menikah akan membuatmu bahagia, tenteram, dan lancar rezeki. Mohon maaf, terus terang aku ingin tertawa.

....

Kalau wanita didoktrin agar "bersyukur pada suami", mestinya pria didoktrin agar "menikah setelah mapan". Itu baru adil.

Logika mudah: Kalau seorang istri diberi uang belanja 5 ribu per hari, dan si suami meminta masakan rendang serta opor ayam, bagaimana istri bisa bersyukur?

....

Masalah pernikahan adalah kontradiksi doktrin yang saling tidak nyambung, bahkan menggelikan, sekaligus ketidakadilan dalam relasi pria-wanita. Dalam pernikahan (merujuk doktrin yang biasa kita dengar), suami seolah berhak ngapain aja, sementara istri harus patuh dan bersyukur.

....

Coba perhatikan doktrin-doktrin perkawinan di sekitar kita. Kepada pria, semuanya terdengar mudah, misal, "Menikah tidak perlu menunggu mapan."

Seiring dengan itu, doktrin-doktrin kepada wanita umumnya dimulai kata "harus". Misal, "Istri harus bersyukur pada suami."

Timpang.

....

‏Perkawinan adalah hubungan setara antara pria dan wanita, berdasarkan komitment dan kerelaan, dan bukan perbudakan antarmanusia. Sementara ketimpangan doktrin di sekitar kita tampaknya menempatkan pernikahan sebagai semacam legalisasi perbudakan berdasar relasi kuasa.

....

Pertanyaan yang harus ditanyakan setiap pria terhadap diri sendiri, "Jika aku wanita, apakah aku akan bersyukur memiliki suami sepertiku?"

Jika jawabannya "ya", tanyakan sekali lagi, dan jangan berhenti. Jika jawabannya "tidak", maka tutuplah mulutmu dan sibuklah perbaiki diri.

....

Tetapi, tentu saja, rangkaian tweet ini sama sekali tidak bisa dipercaya. Karena manusia memang sulit menerima kebenaran yang pahit, dan lebih mudah menerima bualan kosong meski jelas-jelas dusta.

Manusia tidak percaya pada kebenaran. Manusia hanya percaya pada yang ingin dipercaya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Mei 2018.

Tidak Sedang Mengeluh

Memasuki waktu Indonesia bagian keluyuran nyari makan.

"Makanya nikah, biar ada istri yang memasak dan bla-bla-bla."

Aku tidak sedang mengeluh, dan aku juga tidak butuh saran atau solusi. Lagi pula, kenapa saran dan solusimu selalu itu-itu saja? Kreatif dikit napa?

....

Kalau semua masalah setiap manusia bisa diselesaikan dengan menikah, mestinya tidak ada pasangan bermasalah. Sama juga, misalnya, kalau orang menikah dijamin pasti tenteram, bahagia, dan lancar rezeki, tentu tidak akan ada orang bercerai. Kalau mau ngibul, mbok mikir dikit napa?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Mei 2018.

Jumat, 10 Agustus 2018

Mariah Carey, Jerry Yan, dan Trauma Masa Lalu

Sebagai orang yang merasa sering terhakimi dan sulit menemukan 
orang lain yang bisa memahami, aku menyadari pelajaran penting 
dalam hidup: Kita tidak menjalani kehidupan orang lain. Karenanya, 
kita tidak bisa merasa lebih tahu tentang kehidupan orang lain.


Kita tentu mengenal Mariah Carey, penyanyi terkenal yang telah menghasilkan album laris dan lagu-lagu yang dihafalkan jutaan orang di dunia. Dari kesuksesannya sebagai penyanyi, Mariah Carey tentu memiliki kekayaan luar biasa, dan memang begitu kenyataannya. Tetapi, ada fakta pahit yang mungkin jarang diketahui dunia, terkait Mariah Carey.

Selama bertahun-tahun, meski telah sukses dan kaya-raya, Mariah Carey tidak pernah mau mengeluarkan uang untuk membeli baju baru! Alasannya? Trauma masa lalu!

Jauh sebelum dikenal sebagai penyanyi, Mariah Carey menjalani kehidupan yang amat miskin dan pahit. Selama waktu-waktu itu, jangankan membeli baju baru, bahkan untuk makan sehari-hari pun keluarganya kesusahan. Karenanya, bersama kemiskinan yang membelit, Mariah Carey hanya mampu membeli baju-baju bekas. Kenyataan itu telah dimulai sejak ia kecil hingga tumbuh besar. Mariah Carey tidak pernah menikmati bagaimana rasanya memakai baju baru.

Belakangan, tanpa disadari, pengalaman pahit itu lalu menjadi pisau yang menikam jantung kesadaran Mariah Carey, dengan begitu dalam. Ketika ia berhasil menjadi penyanyi sukses yang mampu menghasilkan uang sangat banyak, tikaman trauma dari masa lalu tidak mampu ia lepaskan. Ia tidak pernah mau membeli baju baru, meski sebenarnya mampu.

Pada awal kariernya, Mariah Carey tampil dengan baju-baju bekas, meski kondisi baju bekas itu tentu jauh lebih baik dibanding baju bekas yang ia pakai ketika masih miskin. Dunia tidak pernah menghiraukan itu, karena orang-orang tentu tidak sempat berpikir apakah baju yang dikenakan Mariah Carey tergolong baru atau bekas. Mereka hanya menatap sosok Mariah Carey, dan menikmati suaranya.

Seiring makin berkembang kariernya, Mariah Carey mulai dituntut untuk berpenampilan lebih baik, dan itu artinya dia harus membeli baju baru. Tapi Mariah Carey bergeming. Dia tidak mau membeli baju baru. Setiap kali diminta manajernya agar mengeluarkan uang untuk membeli baju baru, Mariah Carey teringat masa lalunya, ketika mengalami kehidupan yang amat pahit, bersama kelaparan dan kekurangan, dan dia merasa berat jika harus mengeluarkan uang untuk “sekadar” membeli baju baru.

Yang dialami Mariah Carey adalah sebentuk trauma yang sulit dipahami orang lain. Itu seperti orang yang pernah kecemplung sumur, lalu trauma dan ketakutan setiap kali melihat sumur—sebentuk ketakutan yang sulit dipahami orang lain.

Menghadapi sikap Mariah Carey, akhirnya sang manajer mengubah taktik. Dia tidak lagi memaksa Mariah Carey untuk membeli baju baru, tapi sang manajer yang membelikannya. Setelah itu, Mariah Carey tinggal mengenakan baju-baju yang disediakan manajernya.

Hal itu berlangsung bertahun-tahun, dan dunia tak pernah tahu. Baru belakangan Mariah Carey “punya keberanian” datang ke toko atau butik, membeli baju baru yang ia lakukan sendiri.

Sebagian orang mungkin bisa mencibir Mariah Carey, atau bahkan menganggapnya kampungan. Tapi begitulah perbedaan antara “yang mengalami” dan “yang tidak mengalami”.

Orang yang tidak pernah kecemplung sumur, sering kali memang sulit memahami trauma serta ketakutan orang yang pernah kecemplung sumur. Orang yang tidak pernah mengalami luka, bisa mudah menjadikan trauma dan luka orang lain sebagai bahan bercanda, tanpa menyadari betapa dalam luka yang mereka rasakan.

Contoh lain menyangkut trauma masa lalu adalah Jerry Yan, aktor yang sangat terkenal setelah membintangi drama Meteor Garden. Dia juga mengalami trauma masa lalu atas kehidupan pahit yang dijalaninya.

Dalam drama Meteor Garden maupun dalam kehidupan nyata, Jerry Yan adalah sosok pemarah, kasar, dan mudah meledak. Hal itu dinyatakan sendiri oleh Jerry Yan. Kepada Jayne Star, dia mengatakan secara jujur, “Aku sangat pemarah, dan mudah marah oleh apa pun.”

Jauh sebelum terkenal sebagai aktor Taiwan, Jerry Yan menjalani kehidupan miskin dan berkekurangan. Ia dibesarkan oleh ibunya. Hidup miskin, berkekurangan, serta hanya memiliki orang tua tunggal, menjadikan Jerry Yan sangat rendah diri. “Aku tumbuh dengan rasa percaya diri yang amat minim,” ujarnya. Dan kenyataan itu membuatnya lebih memilih menjauh dari teman-temannya.

Sebegitu rendah kepercayaan dirinya, waktu itu, sampai dia tidak pernah percaya setiap kali ada teman wanita yang mencoba mendekati. “Aku berpikir mereka hanya ingin mengganggu dan mengolok-olokku.”

Titik balik kehidupan pribadi Jerry Yan mulai terjadi, ketika dia diminta tampil di depan publik, untuk suatu acara di sekolah. Waktu itu, dengan segala perasaan rendah diri yang dialami, Jerry Yan sama sekali tidak berani, bahkan ketakutan, ketika diminta tampil di depan orang banyak. Tetapi, belakangan, dia mengatakan, “Dari situlah aku mulai bertekad, dan merasa perlu untuk membuktikan diri.”

Jerry Yan juga mencoba aktif di sekolah, dengan bergabung ke klub basket. Dia bisa bermain dengan baik, tetapi belum mampu mengelola amarahnya yang mudah meledak. “Setiap kali bertanding basket dan kalah, aku akan marah,” ujarnya.

Sikap kasar dan mudah marah tidak hanya ditunjukkan Jerry Yan di sekolah, tapi juga di rumah. Saat ibunya jatuh sakit, dia bukan menenangkan atau mencoba membantu apa yang bisa dilakukan, tetapi—seperti yang dikatakannya sendiri—“aku justru memarahinya, dan bertanya kepadanya kenapa tidak pergi ke dokter.”

Belakangan, Jerry Yan menyadari bahwa ibunya tidak mampu ke dokter, karena kondisi kemiskinan mereka. Tetapi, waktu itu, bersama pribadinya yang rendah diri dan frustrasi menghadapi hidup, Jerry Yan tidak mampu berpikir bijak. Yang dia tahu hanyalah marah. Marah pada hidup, marah pada dunia, marah pada takdir, marah pada orang tua, marah pada diri sendiri, marah pada segala kemiskinan dan kepahitan yang merusaknya.

Dengan sikap kasar dan mudah marah semacam itu, Jerry Yan pun sulit menjalin hubungan dengan orang lain, dan memang begitu kenyataannya. Orang-orang hanya tahu bahwa Jerry Yan mudah marah, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya, “Kenapa Jerry Yan mudah marah?”

Empati bukan sifat alami manusia.

Bertahun-tahun kemudian, ketika akhirnya ia mewujud sebagai aktor paling terkenal di Taiwan, dan jutaan orang mengidolakannya, Jerry Yan tetap belum mampu melepaskan dirinya yang dulu. Hanya tampilan fisiknya yang berubah... tapi tidak pribadi di dalamnya.

Karenanya, meski telah sukses dan kaya-raya, Jerry Yan lebih memilih menjalani kehidupan sederhana—bahkan amat sederhana untuk ukurannya. Di kehidupan nyata, dia jauh dari kesan mewah dan glamor. Sementara aktor-aktor lain tinggal di rumah megah, dia hidup di rumah sederhana. Sementara aktor-aktor lain biasa mengendarai mobil mahal, dia lebih suka naik sepeda atau mengendarai mobil lamanya yang tidak bisa dibilang bagus. Padahal, dia salah satu aktor berpenghasilan tertinggi di Taiwan.

Kondisi yang dialami Jerry Yan tak jauh beda dengan kondisi yang dialami Mariah Carey. Mereka sama-sama ditikam trauma masa lalu, sebentuk trauma yang sulit dipahami orang lain. Sebagian orang mengatakan bahwa kemiskinan adalah anugerah tersembunyi. Tetapi, kenyataannya—bagi sebagian lain—juga menjadi racun yang merusak manusia dari dalam, hingga menimbulkan efek kerusakan yang sangat... sangat mengerikan.

Bahkan meski telah terkenal, sukses, kaya-raya, dan menjalani kehidupan berkelimpahan, Jerry Yan belum bisa melepaskan masa lalu seutuhnya. Ia mengaku sering kesulitan saat ingin menyatakan perasaan kepada orang-orang yang ia sayangi. “Aku sulit mengekspresikan perasaanku pada seseorang.” Karena yang ia tahu hanya marah... dan marah. Latar belakang itu pula yang menjadikannya sulit menjalin hubungan dekat dengan seseorang.

....
....

Kemampuan berempati bukan kemampuan alami—itu sesuatu yang dipelajari—karena manusia memang tidak lahir dengan kemampuan berempati pada orang lain. Sebaliknya, kemampuan menghakimi juga bukan kemampuan alami, karena manusia tidak lahir dengan kemampuan menghakimi orang lain. Tetapi, ironisnya, kebanyakan manusia lebih tahu dan lebih mampu menghakimi, daripada berempati.

Ada yang ironis dalam kehidupan kebanyakan kita. Bahwa kita rupanya lebih rajin belajar menghakimi, dan bukan belajar berempati. Akibatnya, keahlian kita yang paling tampak dalam menghadapi manusia lain adalah kemampuan menghakimi. Padahal, sebagaimana kemampuan menghakimi yang butuh dipelajari, kemampuan berempati juga bisa dipelajari.

Saat menghadapi orang mudah marah, misalnya, kita lebih mudah menghakiminya “bangsat pemarah”, daripada mencoba berempati dan menanyakan, “kenapa dia mudah marah?”

Saat menghadapi orang yang tampak suka menyendiri, kita lebih mudah menghakiminya “orang sombong yang tak mau bergaul”, daripada mencoba berempati dan menanyakan, “kenapa dia lebih suka menyendiri?”

Ada banyak moment yang memungkinkan kita untuk menghakimi atau untuk berempati, tetapi—ironisnya—kita lebih sering memilih untuk menghakimi. Padahal, kita tidak tahu seperti apa yang dirasakan Mariah Carey saat tersiksa setiap kali melihat baju baru, kita tidak tahu seperti apa yang dirasakan Jerry Yan saat menyaksikan teman-temannya mudah bergaul, sebagaimana kita tidak tahu yang dirasakan orang-orang lain di sekeliling hidup kita.

Khilaf Bersamamu

Kadang-kadang aku ingin khilaf bersamamu.

Tapi benar bersamamu saja sulitnya luar biasa... apalagi khilaf bersama.

Demam

“Apakah kau pernah demam?” tanya seorang bocah.

Saya menjawab, “Tentu saja aku pernah demam.”

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Yeah, bagus. Karena hidup ini sungguh sia-sia jika kita tidak pernah demam.”

Saya tersenyum. Tapi diam-diam bersyukur karena pernah demam.

Minggu, 05 Agustus 2018

Kepencet Akun Porno

Jika sewaktu-waktu aku kedapatan mem-follow atau 
memfavoritkan akun tertentu, dan ada yang mencoba mempertanyakan, 
aku akan menjawab, "Ya, aku memang mem-follow akun itu 
(atau memfavoritkan tweet dari akun itu). Ada masalah?" 
Wong paling mem-follow akun saja kok bingung.


Di Twitter, ada fenomena konyol yang sebenarnya juga memalukan, yaitu orang-orang yang dikenal alim dan agamis, lalu ketahuan mem-follow atau memfavoritkan akun porno. Kejadian konyol itu sudah terjadi berkali-kali, menimpa banyak orang, dari rakyat biasa sampai pejabat dan orang-orang terkenal.

Seperti kita tahu, di Twitter ada banyak akun porno, dari yang sekadar hobi ngomongin seks di timeline, posting foto-foto bugil, video-video seks, dan lain-lain semacamnya. Akun-akun semacam itu digemari sebagian orang, dan karena itu pula akun-akun porno di Twitter terus eksis.

Orang-orang yang dikenal alim dan agamis tentu tidak akan mem-follow akun-akun porno semacam itu, atau memfavoritkan tweet-tweet mereka yang vulgar. Tapi realitas berkata lain. Berkali-kali, orang yang dianggap alim dan agamis ketahuan mem-follow akun-akun porno, atau ketahuan memfavoritkan tweet-tweet porno.

Karena hal itu dilakukan orang-orang yang dikenal alim dan agamis, para pengguna Twitter pun tertarik perhatiannya. Mereka tentu heran, karena mendapati orang yang biasa ngetwit ayat-ayat suci, tiba-tiba mem-follow akun porno. Atau orang yang saban hari ngoceh soal agama, tiba-tiba ketahuan memfavoritkan tweet foto bugil atau video ngewe.

Mendapati hal semacam itu, biasanya para pengguna Twitter akan melakukan klarifikasi pada yang bersangkutan, yang isinya kira-kira mempertanyakan, “Elu bener mem-follow akun porno apa gimana, tong?”

Biasanya pula, pihak yang bersangkutan akan mengajukan dalih atau alasan, yang belakangan terdengar klise. Mereka biasanya mengatakan, “Wah, saya tidak tahu,” atau, “Akun saya di-hack!” atau, “Entah ya, tiba-tiba tweet porno itu muncul di timeline saya,” dan sederet alasan lain yang intinya memberitahu bahwa mereka—yang alim dan agamis itu—tidak akan mem-follow akun porno, dan tidak akan memavoritkan tweet berisi foto ngewe.

Terus terang, saya tidak tahu apakah kasus itu benar-benar terjadi karena “di-hack”—sebagaimana kata mereka—ataukah sebenarnya mereka memang mem-follow akun porno secara sengaja, lalu berdalih akunnya di-hack setelah ketahuan. Yang membuat saya heran, KENAPA SEMUA ORANG YANG KETAHUAN MEM-FOLLOW AKUN PORNO DI TWITTER SAMA-SAMA MENGAKU AKUNNYA DI-HACK?

Mengaku “akun di-hack” memang terdengar mudah. Bahwa kalau akun seseorang di-hack, maka si peretas akan dapat melakukan apa pun lewat akun tersebut, termasuk mem-follow akun porno atau memfavoritkan tweet foto bugil. Tetapi, alasan “akun di-hack” itu sebenarnya aneh, untuk tidak menyebut tak masuk akal. Masak iya orang mau susah-payah meretas akun Twitter seseorang—yang pasti sangat sulit—hanya untuk sekadar mem-follow satu dua akun porno?

Ada juga orang yang ketahuan mem-follow beberapa akun porno, atau memfavoritkan beberapa tweet porno. Lalu, saat ketahuan orang lain, dia menjawab, “Maaf, kepencet, tidak sengaja.”

“Kepencet, tidak sengaja”, tapi akun porno yang di-follow jumlahnya bejibun. “Kepencet, tidak sengaja”, tapi foto bugil yang difavoritkan sangat banyak. Hebat sekali orang semacam itu. Wong “tidak sengaja” saja bisa begitu, apalagi kalau “sengaja”?

Sebenarnya, secara pribadi, saya tidak mempersoalkan orang lain, siapa pun, yang mem-follow akun porno, atau memfavoritkan tweet berisi foto/video ngewe. Karena nyatanya di Twitter memang ada akun-akun khusus yang berisi hal-hal semacam itu.

Yang saya pikirkan... kenapa banyak orang yang tampaknya selalu berusaha mengelak—tidak mau mengakui—ketika ia ketahuan mem-follow akun porno, atau ketahuan memfavoritkan tweet porno?

Terus terang, dulu saya pernah mem-follow akun fotomodel Wulan Ekarina. Saya mem-follow akun dia di Twitter, semata-mata karena waktu itu dia kerap mengunggah foto-foto telanjangnya. Sebagai model yang cantik rupawan, foto-foto Wulan Ekarina tidak hanya indah, tapi... ya indah, namanya juga foto telanjang. Dan, persetan, saya senang melihatnya.

Saya terus terang mengakui hal ini, karena tidak ingin munafik. Bahwa saya menyukai wanita cantik, jelas! Apalagi wanita cantik seperti Wulan Ekarina. Dan ketika dia mengunggah foto-foto indahnya di Twitter, saya pun tidak punya alasan untuk tidak mem-follow akunnya. (Belakangan, akun Wulan Ekarina tidak ada lagi di Twitter.)

Kalau saja ada orang mempertanyakan hal itu, saya akan menjawab dengan jujur, bahwa saya memang mem-follow akun wanita itu. Saya tidak akan berdalih “khilaf”, “kepencet”, atau “di-hack”, atau alasan tolol lainnya. Saya akan mengatakan, “Ya, aku memang mem-follow akun dia. Ada masalah?”

Mem-follow akun mana pun di Twitter sama sekali bukan masalah, asal kita biasa berlaku jujur dan tidak munafik. Masalah mulai terjadi, ketika kita berusaha mengesankan diri begitu alim, begitu agamis, begitu suci, begitu tanpa dosa, lalu ketahuan mem-follow akun-akun porno, atau memfavoritkan tweet-tweet ngewe.

Well, sebenarnya, saya menulis catatan ini karena gatal. Tempo hari, di timeline Twitter, saya menemukan capture tweet-tweet ini. Untuk melihat aslinya, kalian bisa klik di sini.


Seperti yang kita lihat dari capture tweet tersebut, orang bisa sangat munafik di Twitter. Mengesankan dirinya agamis, tapi juga ketahuan kalau aslinya brengsek. Ketika orang semacam itu ketahuan belangnya, dia pun malu. Karenanya, begitu ketahuan, akunnya langsung hilang.

Sebenarnya, yang dipersoalkan dalam capture itu bukan tweet-nya, melainkan ketidakjujuran atau kemunafikannya. Itulah alasan yang mendasari kenapa ada orang yang dicerca gara-gara mem-follow akun porno, sementara sebagian orang lain—yang sama-sama mem-follow akun serupa—dibiarkan dan tidak dipersoalkan.

Kalau kau tidak pernah sok alim, tidak pernah sok agamis, tidak pernah sok suci, lalu ketahuan mem-follow akun porno, atau memfavoritkan tweet-tweet ngewe, orang juga tidak akan mempersoalkan. Sesama orang normal tahu, bahwa kita memang suka hal-hal semacam itu. Asal kau tidak mengganggu orang lain atau menimbulkan ketidaknyamanan orang lain, mereka juga tidak akan mengusikmu.

Tetapi, kalau cocotmu sok alim, tingkahmu sok suci, tweet-tweet-mu doyan ngoceh soal agama, lalu ketahuan mem-follow akun porno atau ke-gap memfavoritkan tweet ngewe, orang-orang akan meributkanmu. Itu jelas, karena mereka akan merasa telah dibohongi olehmu, dibodohi oleh sikap munafikmu. Mereka jelas marah, dan akan mencercamu.

Oh, jangan salah paham. Saya tidak bermaksud menyatakan agar kau berhenti menjadi orang alim, atau berhenti menjadi orang agamis. Yang saya maksudkan, jadilah orang alim dan agamis yang tidak hanya sebatas di Twitter.

Kalau kau benar-benar alim, bagus! Kau punya pilihan hidup yang baik, dan para malaikat akan menjaga langkahmu. Dunia selalu membutuhkan orang-orang alim sepertimu, yang tidak hanya alim dalam kata-kata, tapi juga dalam pikiran dan perbuatan. Kehidupan selalu membutuhkan orang-orang alim sepertimu, yang tidak hanya pintar menasihati orang lain, tapi juga pintar menasihati diri sendiri. Teruslah menjadi orang alim, karena itu pilihan yang baik.

Kalau kau benar-benar agamis, tayyib! Kau punya pilihan hidup yang baik, dan Tuhan akan menaungi hidupmu. Dunia senantiasa membutuhkan orang-orang agamis sepertimu, yang menggunakan agama untuk kemaslahatan masyarakat, dan bukannya untuk merusak. Umat manusia selalu membutuhkan orang-orang agamis sepertimu, yang mengajarkan agama untuk menyatukan, dan bukan malah mencerai-beraikan. Teruslah menjadi orang agamis, karena itu pilihan yang mulia.

Dan sewaktu-waktu kau mendapati akun porno di Twitter, atau kebetulan mendapati tweet-tweet ngewe di timeline-mu, ingat-ingatlah untuk tidak mem-follow atau memfavoritkan, karena dampaknya bisa merusak. Tidak hanya merusak dirimu, tapi juga merusak kepercayaan orang lain terhadapmu.

Noffret’s Note: Severus Snape

Siapakah tokoh terbaik dalam kisah Harry Potter? Menurutku, Severus Snape. Dia orang baik yang "terbaik"; orang baik yang tidak ingin diketahui sebagai orang baik. Snape, dengan tingkahnya yang menyebalkan, memberitahu kita, "Jangan menghakimi orang lain karena penampilannya."

Ketika Dumbledore bersepakat dengan Snape tentang cara mengalahkan Voldemort, yang dalam hal itu Snape harus membunuh Dumbledore, dia berkata, "Dengan satu syarat, Dumbledore, jangan pernah katakan ini pada orang lain." Dia melakukan sesuatu yang mulia, tanpa orang lain tahu.

Kalimat percakapan itu sebenarnya kurang lengkap. Selengkapnya, Severus Snape berkata, "Dengan satu syarat, Dumbledore, jangan pernah katakan ini pada orang lain." Dan Albus Dumbledore menyahut, "Bahwa aku tidak akan pernah mengungkapkan sisi terbaik dirimu, Severus?"

Sepanjang kisah Harry Potter, dari awal sampai menjelang akhir, jutaan orang di dunia menganggap Snape sebagai orang jahat, dan membencinya. Sampai kemudian kita mendapati siapa dia sebenarnya, dan menyadari dia sosok yang mulia. "Don't judge a death eater by its dark mark."

Semua tokoh dalam kisah Harry Potter memang sangat menakjubkan, bahkan tokoh yang bisa dibilang tidak penting sekali pun. Dan semua itu dirangkum dalam wasiat Dumbledore kepada Harry Potter, "Pada akhirnya, pilihan kitalah yang menentukan siapa sebenarnya kita, Harry."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Juni 2018.

Ngib

Ooohhh....

Rabu, 01 Agustus 2018

Rumah Kartu Kebenaran

Kadang-kadang memang ada sejenis kebenaran yang 
membingungkan, yang sulit kita katakan, dan kita memilih diam. 
Sampai kemudian ada orang lain mengatakannya, 
dan kita diam-diam menyetujuinya.


“Ada jenis kebenaran yang kita tahu benar, tapi kita sulit menjelaskannya kepada orang lain, karena mereka tidak akan percaya.”

Kalimat itu bukan diucapkan seorang filsuf, tapi oleh seorang teman yang menjadi jurnalis investigasi. Dia membuka ponsel, searching ke Google, lalu menunjukkan foto seorang wanita.

Wanita dalam foto itu dikenal oleh masyarakat Indonesia, dan terkenal dengan penampilannya yang glamor. Wanita itu sering terlihat mengendarai mobil sport—konon koleksi mobil sport miliknya bahkan lebih dari satu. Segala hal terkait wanita itu adalah kemewahan, yang benar-benar menunjukkan kalau dia kaya-raya.

Teman saya berkata, “Sejak lama aku tahu wanita ini tidak sekaya yang dia tunjukkan. Tapi jika aku mengatakan hal itu, belum tentu orang-orang akan percaya.”

Belakangan, wanita itu tersandung kasus, dan akhirnya terbukti kalau semua kekayaan dan kemewahan yang ia tunjukkan selama ini cuma “tempelan”. Mobil-mobil sport itu bukan miliknya, dan sebagian besar penampilan glamor yang ia tunjukkan ternyata imitasi. Jika rajin membaca berita, kalian tahu siapa wanita yang saya maksud.

“Itu jenis kebenaran yang kita tahu benar,” ujar teman saya, “tapi orang-orang tidak akan percaya kalau kita mengatakannya.”

Saya menjawab, “Sekarang mereka akan percaya.”

Dia tersenyum. “Ya, karena ada kasus yang terjadi, yang membukakan kebenaran terkait hal itu. Sering kali, orang baru percaya suatu kebenaran, ketika kebenaran itu dibukakan secara telanjang.”

Percakapan itu mengingatkan saya pada wanita lain, yang sama-sama “fenomenal”. Seperti umumnya wanita mana pun yang biasa disorot kamera dan menjadi bahan pemberitaan, wanita ini pun biasa berpenampilan mewah, bahkan mengundang perhatian. Suatu hari, dia diberitakan terlibat prostitusi bertarif ratusan juta, dan konon telah menjalani profesi itu cukup lama. Artinya, jika berita itu benar, wanita ini tentu sudah kaya-raya.

Faktanya, bertepatan dengan munculnya berita tersebut, wanita ini sedang berusaha menjual kalung untuk membeli susu buat anaknya! Bagaimana bisa seorang wanita yang diberitakan “bertarif ratusan juta”, diam-diam kesusahan mendapat uang, sampai menjual kalung miliknya?

Awak media—yang sekarang menjelma burung-burung nasar—langsung menyorot habis-habisan kasus prostitusi itu, karena berita itu mudah dijual, karena menarik perhatian. Sebegitu fokus mereka pada isu yang jelas-jelas tolol dan tak masuk akal itu, sampai mereka meluputkan fakta penting terkait orang yang mereka beritakan. Berita dan fitnah kini nyaris tak ada batas, eh?

Masyarakat, umumnya, mendapatkan berita dan wawasan—hampir tentang segala hal—dari media-media yang mereka baca. Media-media menyuguhkan berita dan segala macam informasi berdasarkan sumber yang mereka dapatkan. Masalah mulai terjadi, ketika hanya ada satu sumber, atau sumber yang diakses awak media ternyata tidak kredibel. Dalam bahasa telanjang; tidak terpercaya.

Era internet dan tumbuhnya media daring memang memudahkan pekerjaan awak media, karena mereka bisa ngoceh apa pun untuk berita apa pun—bahkan jika mereka tidak paham tentang berita yang mereka tulis—karena ruang (space) selalu tersedia untuk ocehan mereka. Kenyataan itu jelas berbeda ketika jurnalisme hanya diwadahi koran atau majalah kertas dengan ruang terbatas.

Sayangnya, kemudahan itu juga menjadikan sebagian awak media bekerja seenaknya. Apa saja yang mereka terima, langsung ditelan mentah-mentah, lalu disodorkan kepada masyarakat pembaca secara mentah-mentah pula. Itu saja belum cukup, karena mereka bahkan bisa mengarang judul-judul bombastis, yang seolah menekankan penting serta benarnya berita yang mereka tulis.

Lalu masyarakat, yang percaya kepada media, menjadikan berita apa pun yang mereka baca sebagai kebenaran. Itu seperti kebenaran yang dibangun dengan rumah kartu. Tidak ada fondasi, dan rapuh.

Tapi masyarakat sering kali tidak peduli apakah yang mereka baca benar atau tidak. Jangankan masyarakat (awam), bahkan awak media yang telah didoktriasi pentingnya klarifikasi dan verifikasi saja sering tak peduli. Padahal, berita baru disebut berita jika telah melewati klarifikasi, dan pengetahuan baru disebut pengetahuan jika telah melewati verifikasi. Tanpa itu, yang kita sebut berita sebenarnya hanya isu. Jika sesuatu masih bersifat isu, kebenarannya patut dipertanyakan.

Di internet, misalnya, ada banyak sumber statistik yang dipercaya banyak orang (khususnya awak media) sebagai sumber rujukan, padahal sumber statistik yang mereka rujuk patut dipertanyakan keabsahannya. Tapi sumber itu tetap dirujuk, semata-mata karena terkenal, atau digunakan banyak orang. Padahal, “terkenal” dan “kredibel” mestinya dua hal berbeda.

Jika ingin contoh, lihatlah Social Blade! Itu salah satu sumber statistik yang kerap dijadikan rujukan, padahal isi statistiknya ngawur-ngawuran. Mereka mengklaim itu estimasi. Bagi saya, itu lebih tepat disebut mark up! Estimasi itu kalau selisihnya cuma 10-20 persen. Kalau selisihnya mencapai 80-90 persen, itu mark up!

Cobalah lakukan kroscek pada nama-nama yang ada di Social Blade (dalam maupun luar negeri), dan tanyakan pada mereka apakah data-data (penghasilan) yang tertulis di Social Blade memang benar. Dan saya berani bertaruh, mereka akan menyangkal data-data itu.

Masalah kita hari ini adalah kesulitan membedakan “yang terkenal” dengan “yang terpercaya”. Padahal kebenaran tidak tergantung seberapa terkenal seseorang atau sesuatu, tapi pada seberapa terpercaya.

Karenanya, menatap hiruk-pikuk di dunia maya—termasuk gelontoran berita yang terus mengalir setiap detik—seperti menatap rumah kartu. Kita yang hidup hari ini tidak lagi kesulitan mendapatkan berita, tapi justru kewalahan menghadapi banyak berita yang datang. Yang masih menjadi soal, berita-berita itu sering seperti rumah kartu—dibangun tanpa fondasi, dikerjakan terburu-buru, hingga hasilnya sangat rapuh. Berita yang rapuh, kebenaran yang rapuh.

Kita telah melewati hal-hal itu, tetapi kita tidak juga belajar. Kasus JIS, misalnya. Atau kasus kopi bersianida. Atau kasus Saracen. Atau sebut lainnya.

Bahkan ketika kasus-kasus itu sedang bergulir dengan panas, setumpuk kejanggalan sudah terlihat. Tapi awak media mungkin terlalu sibuk mengumpulkan sensasi, terlalu pusing mengarang judul yang bombastis, hingga tidak sempat melihat kejanggalan yang seharusnya mereka kejar. Mereka hanya menelan mentah-mentah apa saja yang disodorkan oleh pihak yang mereka sebut “sumber”, lalu menyuguhkannya dengan sama mentah-mentah kepada pembaca. Hasilnya, berita dan fitnah tidak ada bedanya.

Lalu korban berjatuhan. Orang-orang yang belum tentu bersalah, yang mestinya dibela, justru menjadi bulan-bulanan media. Karena awak media telah menjelma burung-burung nasar. Mereka terlalu haus darah... dan sensasi.

Terkait hal itu, setengah tahun lalu saya menghadiri pertemuan dengan para pekerja media (semuanya dari Indonesia), dan akhirnya saya memahami bagaimana “kekacauan dan kegilaan” ini bisa terjadi.

“Kami bekerja dengan sistem deadline yang gila,” ujar seorang dari mereka.

Setelah itu, saya pun mendengarkan bagaimana sistem kerja media kontemporer, khususnya media-media yang hidup di internet. Ternyata, awak media sekarang bukan kesulitan melakukan investigasi untuk berita yang mereka tulis, tetapi kesulitan mendapatkan waktu yang cukup. Mereka menghadapi tuntutan jumlah berita yang harus mereka setor, dan jumlah itu kadang mengharuskan mereka bekerja “asal-asalan”—apa saja ditulis, yang penting menutup kuota (jumlah yang harus mereka setor).

“Dalam tekanan semacam itu, kita kesulitan melakukan investigasi secara layak, karena waktu yang tersedia jelas tidak mencukupi,” papar mereka. “Kita tidak lagi bekerja di media yang terbit harian atau mingguan atau bulanan. Kita kini bekerja di media yang terbit setiap menit, bahkan setiap detik!”

Saya pun akhirnya bisa membayangkan—sekaligus memaklumi—bagaimana kerasnya mereka bekerja, mati-matian menulis apa pun yang bisa mereka raih, demi menutup “kuota harian”. Karenanya pantas, ketika satu berita yang seharusnya dapat ditulis dalam satu artikel bisa menjadi banyak artikel. Yang mestinya cukup ditulis ringkas, bisa sangat panjang dan bertele-tele. Alasannya sepele; kuota!

Secara sederhana, skemanya seperti ini: Perusahaan-perusahaan media daring di Indonesia berupaya menerbitkan berita sebanyak-banyaknya, kalau bisa yang paling cepat atau paling pertama. Dalam mewujudkan hal itu, mereka menekan para pekerja (awak media) untuk menulis sebanyak-banyaknya, sekaligus secepatnya. Jumlah dan kecepatan itu akan berpengaruh pada banyaknya pengunjung.

Banyaknya pengunjung akan berpengaruh pada statistik website. Statistik website akan mempengaruhi algoritma mesin pencari, hingga website bersangkutan akan muncul di halaman pertama untuk setiap pencarian. Setelah itu terjadi, ranking akan naik, reputasi terbentuk, dan... tentu saja, uang datang menggelontor.

Diakui atau tidak, sebagian media daring di Indonesia bekerja dengan skema semacam itu. Karenanya, meski mungkin terdengar kasar, mereka tidak peduli apakah berita yang disodorkan telah memenuhi verifikasi yang layak atau tidak. Karena yang mereka kejar memang bukan itu. Tapi ranking dan reputasi. Tentu saja yang dimaksud “reputasi” di sini adalah reputasi versi mesin pencari, bukan reputasi atas tingkat kepercayaan pembaca pada media yang mereka baca.

Ketika hal semacam itu terjadi, kita pun bertanya-tanya... di manakah kebenaran?

Orang-orang membaca berita, atau apa pun, dengan harapan memperoleh informasi atas hal-hal yang tidak mereka tahu. Jika mereka mendapatkannya di media yang layak dan terpercaya (yang menjalani proses jurnalisme secara benar), tentu informasi itu bermanfaat. Bermanfaat bagi diri sendiri, juga bermanfaat jika mereka menyebarkannya. Tapi bagaimana jika sebaliknya?

Sebagian orang kerap menuduh hoaks disebarkan orang tak bertanggung jawab atau media abal-abal. Padahal, media-media yang sudah terkenal (dalam arti tidak dianggap abal-abal) pun bisa terjebak menyebarkan hoaks—ketika mereka menerbitkan berita tanpa proses verifikasi sebagaimana mestinya. Asal suatu berita keluar dari pihak yang disebut “sumber”, langsung ditulis tanpa proses dan upaya verifikasi. Jika kenyataannya berita dari sumber itu tidak benar, akan disebut apa jika bukan hoaks?

Akhirnya, yang menjadi korban dari sistem kerja jurnalisme semacam itu adalah pembaca, masyarakat yang telanjur percaya pada apa saja yang mereka baca. Media dan para pekerjanya—yang mestinya menjadi saringan untuk memilah mana yang benar dan mana yang keliru—justru tidak menjalankan fungsi penting itu. Alih-alih bekerja sebagai penyaring, mereka justru bekerja seperti ember bocor. Apa saja yang dimasukkan, langsung dialirkan keluar.

Oh, well, jurnalisme sudah hilang, verifikasi dilupakan, dan fitnah yang menyaru berita kini mudah diyakini sebagai kebenaran.

Judul Ini Clickbait, Jangan Diklik

Wong sudah diberitahu jangan diklik, masih juga diklik. Piye karepe? Sudah diberitahu judul tulisan ini clickbait, tapi masih juga diklik.

Jadi, siapa sebenarnya yang tolol? Media-media yang doyan bikin judul clickbait, ataukah kalian yang memang kurang kerjaan?

Noffret’s Note: Sok Suci

Dari dulu, di Twitter ada fenomena aneh yang tak pernah berubah. Ketika seseorang ketahuan mem-follow atau memfavoritkan tweet dari akun porno, dan hal itu dipertanyakan orang lain, si pelaku biasanya menjawab "tidak sengaja", "khilaf", "tidak sadar", "di-hack", dan semacamnya.

Jika sewaktu-waktu aku kedapatan mem-follow atau memfavoritkan akun tertentu, dan ada yang mencoba mempertanyakan, aku akan menjawab, "Ya, aku memang mem-follow akun itu (atau memfavoritkan tweet dari akun itu). Ada masalah?" Wong paling mem-follow akun saja kok bingung.

Bersikap sok alim dan sok suci, sembari mengesankan diri kita tak pernah salah, tak pernah khilaf dan tak pernah berdosa, itu sulit. Sebegitu sulit, hingga aku tidak tertarik mencoba, karena bisa dipastikan akan gagal. Aku lebih memilih menunjukkan diri apa adanya. Lebih mudah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Juni 2018.

 
;