Rabu, 20 Maret 2024

Keyboard Gila

Keyboard komputerku eror, sementara toko-toko komputer pada tutup hari ini (kalian tahu alasannya). Lalu nemu satu toko aksesoris komputer yang buka, dan ada keyboard merek V***e seharga Rp40 ribu. Karena tak punya pilihan, aku pun beli keyboard itu dengan perasaan waswas.

Sedari awal aku sudah waswas. Keyboard macam apa yang harganya Rp40 ribu? (Belakangan, aku search keyboard V***e di marketplace, harganya malah cuma Rp30 ribu). Lalu aku pasang keyboard itu di komputer, dan BENCANA YANG SANGAT MENJENGKELKAN terjadi.

Semula, semua tampak baik-baik saja. Semua tuts keyboard berfungsi sebagaimana mestinya, dan bisa digunakan untuk mengetik. Tapi kemudian muncul berbagai ketidakberesan. Pertama, keyboard itu seperti punya nyawa yang membuatnya BISA MENGETIK SENDIRI SECARA LIAR.

Mungkin akan sangat menyenangkan, kalau keyboard itu bisa mengetik sendiri secara akademis, dan menghasilkan kata serta kalimat-kalimat yang terstruktur. Kalau begitu sih, aku senang-senang saja—biar dia yang kerja, aku cukup ngopi sambil udud. SAYANGNYA TIDAK BEGITU, NABILAH!

Keyboard itu tampaknya punya bahasa sendiri, dan dia mengetik menggunakan bahasanya, yang bahkan lebih membingungkan dari bahasa Rusia. Berikut ini contohnya:

P[;’\/\0 0;’\/ 0 9dip[;’\/p[;’\/ fg0 cerr[;’\/\0 0[;’\/\0 0
9xcx\[;’\/\0 0=ncv3[;’\/\0 9dip[;’\/p 0[;’\/\0 0

WTH!

Yang lebih menjengkelkan, dia terus menerus “nyerimpung” tiap aku sedang mengetik. Saat aku sedang khusyuk menulis di MS Word, dia ikut menambahkan aneka kata/tanda di kalimat-kalimatku, hingga aku kebingungan dan frustrasi, dan aku tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.

Akibatnya, aku terus menerus mengoreksi tulisanku. Dan sambil aku membetulkan kalimat-kalimat yang dibuat salah olehnya (nya: keyboard), ia (keyboard) kembali berbuat ulah dengan terus menambahkan aneka kata dan tanda pada kalimat-kalimat yang sudah kukoreksi, hingga salah lagi.

Jadi seharian ini aku tidak melakukan apa pun selain “bercanda” dengan keyboard itu, sambil misuh-misuh. Tapi ulah keyboard itu benar-benar brengsek. Selain terus berusaha mengacaukan tulisanku, ia juga terus menerus memunculkan aneka aplikasi di komputer tanpa henti.

Itu pun belum cukup. Ia juga seenaknya mengacaukan tab-tab yang terbuka di komputer, hingga aku sampai capek mengurusinya. Pendeknya, seharian ini aku benar-benar stres dan lelah gara-gara keyboard seharga Rp40 ribu. Mungkin keyboard itu dibuat dari peleburan ember bodol.

Agar kalian tidak mengalami hari buruk seperti yang kualami, sebaiknya hindari membeli keyboard yang murah(an). Kalau sewaktu-waktu keyboard komputer kalian perlu diganti, belilah yang “layak”. Mahal sedikit tidak apa-apa, asal bisa digunakan dengan baik dan melancarkan kerja.

Semoga besok toko-toko komputer sudah buka, agar aku bisa membeli keyboard baru yang benar-benar bagus.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Mei 2019.

Ayat-Ayat Patriarki

Pengin banget nulis tentang Ayat-Ayat Cinta di blog. Tapi khawatir kalau dikira gimana-gimana, atau bahkan—jangan-jangan—sampai dituduh ingin menjatuhkan. Jadi, aku ocehkan saja di timeline, sebagai katarsis. Lagi pula sudah banyak yang mengulas topik/kisah ini di blog.

Dulu, aku membaca novel Ayat-Ayat Cinta, semata-mata karena penasaran akibat hebohnya novel itu. Dan, terus terang, aku sangat kecewa dengan isinya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana novel itu bisa sedemikian heboh. Fenomena itu semacam anomali yang sulit dipahami.

Masalah terbesar pada novel Ayat-Ayat Cinta, menurutku, adalah glorifikasi tokoh utama yang berlebihan. Fahri, sang tokoh utama, digambarkan sangat sempurna, tanpa kekurangan sedikit pun. Pembaca novel (apalagi penulis novel) mana pun tahu, itu kesalahan yang sangat fatal.

Aturan penting terkait tokoh dalam novel: “Jangan pernah menciptakan tokoh yang sempurna!” Patuhi aturan itu, dan pembacamu akan tertarik, karena merasa menemukan “teman”. Sebaliknya, langgarlah aturan itu, dan pembacamu akan muak, karena merasa “dibohongi”. 

Fahri, tokoh utama Ayat-Ayat Cinta, melanggar aturan penting itu, dan dia menjadi tokoh sempurna dalam novel. Karena itulah aku benar-benar kebingungan, bagaimana novel itu bisa heboh dan [konon] disukai banyak orang. Selain terlalu sempurna, Fahri juga sangat seksis dan patriarkis.

Diakui atau tidak, Fahri merepresentasikan tokoh yang diagung-agungkan oleh para pemuja patriarki—ganteng (bukan ganteng yang nakal), kalem (tidak pecicilan), saleh (taat beragama), berpendidikan (sekolah di luar negeri), suka menolong, beristri salihah, dan... tentu saja, berpoligami.

Gambaran itu, sebenarnya, belum jadi masalah yang parah, meski penokohannya yang “terlalu sempurna” sebenarnya sudah bermasalah. Tetapi, masalah yang jauh lebih parah terjadi pada Ayat-Ayat Cinta 2. Kali ini, Fahri—sang tokoh utama, sang superhero—bukan hanya patriarki, tapi juga seksis.

Dalam Ayat-Ayat Cinta 2, Fahri digambarkan bukan hanya sempurna, tapi juga menjadi dewa penolong. Dan mayoritas yang ditolongnya adalah para wanita! Fahri, dengan naluri patriarkinya, seolah ingin mengatakan, “Kita lihat, hei para wanita. Kalian tidak bisa apa-apa tanpa pria.” Atau semacam itu.

Perhatikan, dalam Ayat-Ayat Cinta 2, tokoh-tokoh perempuan digambarkan lemah, rapuh, rentan, dan membutuhkan pertolongan. Ada satu tokoh wanita yang kuat, yaitu Brenda, yang menjadi pengacara sukses, dan tanpa suami. And you know what? Dia digambarkan menjalani hidup yang hampa!

Dan akhir kisah Ayat-Ayat Cinta 2 bisa ditebak—tak jauh beda dengan akhir kisah Ayat-Ayat Cinta 1. Semua wanita itu ingin Fahri menikahi mereka! Kecuali Oma Catarina yang sudah tua, tentu saja. Oh, well, benar-benar penutup yang sempurna untuk sebuah kisah yang seksis dan patriarkis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Desember 2017.

Ada yang Bisa Mengklarifikasi Ini?

Lagi baca jurnal ilmiah, dan dari tadi merasakan kepala mau pecah. Ini salah satu isinya:

Banyak ibu rumah tangga yang didiagnosis menderita HIV, khususnya saat mereka hamil, dan secara spontan kita pun menuduh si suami (yang mungkin jajan di luar) dan menularkannya ke si istri.

Tapi bagaimana jika si suami kenyataannya bersih dari HIV dan sama sekali tidak pernah melakukan hubungan seks selain dengan istrinya?

Jawabannya, menurut jurnal dan beberapa buku yang sedang kupelajari: Kehamilan bisa membuat seorang wanita didiagnosis HIV positif!

Ini sangat mengejutkan, khususnya bagiku. Selama ini aku berpikir seperti kebanyakan orang, bahwa ibu-ibu rumah tangga yang didiagnosis HIV itu tertular suaminya yang gak beres. Ternyata yang "gak beres" belum tentu si suami, tapi juga media yang digunakan untuk tes HIV.

Kenyataannya, masih berdasarkan jurnal dan buku-buku yang sedang kupelajari, media/sarana yang digunakan untuk tes HIV (termasuk Test ELISA dan Western Blot) ternyata sangat riskan. Siapa pun bisa dinyatakan HIV positif, meski sebenarnya tidak mengidap HIV sama sekali. Kok bisa?

Berikut kutipan yang kuterjemahkan, "Semua test antibodi HIV sangat tidak akurat. Satu alasan bagi ketidakakuratan tersebut adalah; berbagai jenis virus, bakteri, dan antigen lainnya, dapat menyebabkan sistem imun untuk membuat antibodi yang juga bereaksi sama dengan HIV."

Akibatnya, masih dari kutipan yang kuterjemahkan, "Kalau kau sedang menderita atau baru saja sembuh dari flu, cacar, hepatitis, TBC, pneumonia, herpes, kanker, diare, dan lupus, hasil test HIV bisa mendiagnosismu HIV positif!"

Termasuk kalau kau sedang hamil dan menjalani tes HIV.

Cukup itu saja. Kalau ocehan ini kuteruskan, nanti ada yang nuduh aku termakan teori konspirasi.

Kalau tertarik ingin tahu lebih lanjut, silakan baca uraian Profesor Jacob Segal, ahli biologi di Humboldt University Jerman, di Jurnal Science edisi 1985 (227: 173-177).

Selain menulis artikel-artikel di jurnal ilmiah, Jacob Segal juga menulis buku yang mencengangkan, "AIDS: USA Home-made Evil".

Ada juga buku lain yang mengupas HIV/AIDS dengan sama mencengangkan, "What if Everything You Knew About AIDS is Wrong" karya Christine Maggiore.

"Kok kamu rajin banget, ya. Sudah larut malam gini masih mempelajari jurnal dan membaca buku..."

Ya sebenarnya sih ingin ndusel sama mbakyu! Tapi karena tidak punya mbakyu ya terpaksa (memaksa diri) untuk ndusel sama buku. Mosok ngene wae ora paham?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 April 2019.

Di Malaysia Ada Group Musik Bernama Slam

Saya cuma mau ngomong itu.

Salah Masang Watu

Dulu, waktu merenovasi rumah, saya kadang menemani para tukang yang sedang bekerja, memperhatikan mereka mengaduk pasir dengan semen, memasang batu bata, memplester tembok, dan lain-lain.

Suatu waktu, para tukang itu membicarakan salah satu bagian dinding, dan salah satu dari mereka mengatakan pada temannya, “Kui salah masang watu (itu salah memasang batu).”

Istilah “salah masang watu” itu sampai sekarang masih saya ingat, karena menurut saya unik dan... ternyata mengandung pelajaran penting.

Minggu yang Biasa

Hari Minggu yang biasa-biasa saja.

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 April 2019.

Pecel Seharga Rp458 Miliar, Cek!

Cek ndasmu.

Festival Konsumerisme

Begitu pula Ramadan dan Idul Fitri, kalau boleh kutambahkan. Sama-sama festival konsumerisme dengan semangat "keagamaan".

....
....

Orang kadang ngemeng, “Apa salahnya Natal dimanfaatkan untuk memperbanyak penjualan? Apa salahnya Ramadan dan Idul Fitri dimanfaatkan untuk menaikkan harga barang dagangan?”

Well, bukankah pertanyaan itu saja sudah bermasalah, karena hanya melihat dari satu sudut pandang?

Mari lihat lebih dekat, dan pahami lebih cermat.

Yang sedari dulu kupersoalkan adalah kapitalisme terkait lebaran atau Idul Fitri, karena inilah yang paling bermasalah, dan berdampak panjang pada masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah.

Lebaran (Idul Fitri) sering, bahkan pasti, dimanfaatkan untuk menaikkan harga-harga barang. Alasannya klise, “Maklumlah, lebaran.” 

Tapi “harga lebaran” itu tidak juga turun, meski lebaran sudah lama berlalu. Akibatnya, lebaran serupa inflasi yang menggerus nilai uang.

Kalau harga barang naik saat Natal, paling dampaknya cuma seminggu, setelah itu normal kembali. Tapi kalau harga barang naik saat lebaran, dampaknya akan sangat lama, bahkan sering tidak turun lagi, lalu bertambah naik di lebaran tahun berikutnya. Itu fenomena di mana-mana.

Jika harga suatu barang (khususnya makanan) naik pas lebaran, hampir bisa dipastikan tidak akan turun kembali, bahkan akan naik lagi di lebaran berikutnya, dan begitu seterusnya. Aku pernah menulisnya secara ringan di sini: Harga Capcay Naik Tiap Tahun » http://bit.ly/18TYhjk 

Akibat lebaran, harga berbagai barang terus naik, dan pengeluaran masyarakat terus bertambah. Siapakah yang jadi korban? Mereka yang hidupnya sudah kembang kempis!

Lebaran, yang esensinya adalah menggembirakan, justru berubah menjadi tali yang mencekik kehidupan mereka.

Kenapa Idul Fitri di sini justru mendatangkan masalah? Karena kita merayakannya secara salah!

Lebaran dan Maaf yang Tidak Jelas » http://bit.ly/29obO7Y 
Dilema di Hari Raya » http://bit.ly/29BzWYw 
Sebaiknya Kita Tidak Usah Maaf-maafan di Hari Lebaran » http://bit.ly/2sZrexm 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Mei 2019.

Pulang Dugem

Seseorang baru pulang dari dugem sambil sempoyongan. Masuk Twitter dan langsung ngoceh soal moral. Lalu muntah-muntah di sudut kamar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Maret 2012.

Sulit Percaya

JADI INI SUDAH JAM ENAM...??? #SulitPercaya


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 April 2012.

Noffret’s Note: Margaret Thatcher

Kenapa malam ini orang-orang pada ngomongin Margaret Thatcher ya? Ada ratusan orang yang masuk ke blog juga pakai keyword itu.

Oh, ya ampun. Ternyata Margaret Thatcher meninggal? Lhah kirain dia sudah meninggal dari dulu? Rest in peace, Ma'am.

Bagi yang mungkin belum tahu atau belum kenal siapa Margaret Thatcher, silakan baca profil singkatnya sini. » http://bit.ly/10HneJL 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 April 2012.

Ora Usum

Iyo.

Minggu, 10 Maret 2024

Omong-omong Soal Menulis...

Setiap penulis, setidaknya yang sata tahu, memiliki kemampuan menulis dengan berbagai cara atau latar belakang. Terlepas dari bakat, ada penulis yang punya kemampuan menulis dari otodidak, ada yang karena rajin ikut kursus atau workshop menulis, dan lain-lain.

Cara seseorang memiliki kemampuan menulis biasanya akan ikut mempengaruhi jawabannya ketika dia ditanya bagaimana cara untuk bisa menulis, atau ketika dia diminta mengajari orang lain terkait menulis. Ini sesuatu yang mungkin sepele, tapi kita perlu memahami.

Jika Penulis A, misalnya, mendapatkan ilmu/pengetahuan menulis dari mengikuti workshop, kemungkinan itu pula yang akan jadi jawabannya ketika ditanya orang lain tentang cara bisa menulis. Apakah salah? Ya tidak, wong memang itulah yang dialami Penulis A, dan dia jujur.

Jadi, jika kita, misalnya, minta diajari menulis oleh Penulis A, kemungkinan besar Penulis A akan mengatakan, “Sebaiknya kamu rajin ikut kursus atau workshop saja, karena aku dulunya juga begitu. Sebelum bisa menulis seperti sekarang, aku rajin ikut kursus menulis,” dan bla-bla-bla.

Dalam hal ini, saya memiliki kemampuan menulis semata-mata karena otodidak. Saya tidak pernah mengikuti pendidikan formal/nonformal menulis, tidak pernah ikut kursus/workshop menulis, dan semacamnya. Yang saya lakukan hanya membaca buku—maksud saya, banyak buku. 

Dari membaca banyak buku, selama bertahun-tahun sejak kecil, saya seperti mendapat pelajaran tentang menulis yang baik, bagaimana merangkai kata dan kalimat, bagaimana menyusun alinea dan paragraf, sampai akhirnya bisa menulis buku hingga terbit secara komersial.

Karena latar belakang saya otodidak (rajin membaca buku hingga akhirnya punya kemampuan menulis), maka itu pula jawaban saya setiap kali ada yang minta diajari menulis. Saya tidak bisa mengajari. Jadi, saya hanya bisa mengatakan, “Bacalah banyak buku, nanti kamu bisa menulis.”

Sayangnya, jawaban semacam itu ternyata disalahartikan sebagian orang. Dulu, zaman kuliah, sebagian teman saya mengira saya tidak mau berbagi ilmu, hanya karena jawaban saya seperti itu. Padahal, saya menjawab seperti itu karena memang itulah yang saya lakukan, yang saya alami.

Saya tidak mungkin bertingkah sok pintar dengan memberi resep macam-macam kalau saya sendiri tidak melakukannya, kan? Karena saya bisa menulis berdasarkan rajin membaca buku, maka itu pula yang saya katakan. Sayangnya, seperti saya bilang tadi, jawaban itu disalahpahami.

Karenanya, ketika bikin blog di internet, saya sengaja membuat satu kategori khusus, yaitu Tentang Menulis, dan saat ini telah terkumpul puluhan catatan terkait pembelajaran menulis. Semua hal yang saya tahu tentang cara untuk bisa menulis, saya tuliskan di situ.

Sejujurnya, saya bingung kalau ada orang menyatakan ingin bisa menulis, atau ingin jadi penulis, tapi tidak pernah membaca buku. Itu sebenarnya konyol, karena tugas utama seorang penulis sebenarnya bukan menulis... tapi membaca! Semua penulis pasti seorang pembaca.

Sebagai penulis, saya tidak akan percaya kalau ada orang bisa menulis sangat bagus, tapi tidak pernah membaca. Bahkan jika dia punya bakat adimanusiawi (di atas rata-rata manusia) sekalipun, dia tidak akan bisa menulis, jika tidak pernah membaca! 

Jadi, kalau, umpama, misalnya, kamu ingin bisa menulis—apalagi ingin dapat penghasilan besar dari menulis seperti Tere Liye, misalnya—coba tanya diri sendiri, “Apakah aku senang membaca?” 

Jika jawabannya “tidak”, sebaiknya cari pekerjaan lain saja.

Menyambut Ramadan

Menyambut Ramadan yang akan datang sebentar lagi, aku ingin merekomendasikan beberapa buku menarik yang bisa dibaca dan dipelajari untuk mengisi waktu yang mungkin kosong sehari-hari. Kalau tertarik, sila cari 5 buku berikut ini. Dijamin rasa lapar dan haus akan terlupa seketika.

1. Godfrey Higgins: Anacalypsis
2. Martin Haug PhD: The Sacred Language, Writings, and Religions of the Parsis
3. Tomas Doreste: Moises Y Los Extraterrestres
4. Maliti J Shendge: The Languages of Harappans
5. GD Pande: Ancient Geography of Ayodhya
Apa isi 5 buku itu? Semuanya membahas dunia kuno, namun memiliki satu benang merah yang sama, yaitu pencarian dan pelacakan mengenai siapa Nabi Ibrahim, dan memberi jawaban mengapa namanya lekat (dilekatkan) pada agama, sehingga muncul istilah "agama ibrahimi". Mencengangkan!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Mei 2019.

Berbukalah dengan yang Putih-putih

Berbukalah dengan yang putih-putiiiiiiihhhh... Apeuuuuh. Emessshh.

Misalnya... air putih.

Wong air putih aja kok emesh. Piye aku ini ya Allah?

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Mei 2019.

Ruwet Luar Biasa

Barusan keluar, dan nyeselnya gak ilang-ilang.

Belum juga ramadan, belum juga lebaran, jalan raya udah macet dan ruwet luar biasa, seperti isi pikiranku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Mei 2019.

Ada Benarnya

Ada temanku yang kaget waktu tahu kalau aku juga mendengarkan lagu-lagu Sabyan Gambus, atau Ayisha Abdul Basith. Pernah dengar lagu mereka? 

Aku berkata kepadanya, “Mendengarkan lagu-lagu kayak gini bisa bikin hati adem.” 

Temanku ‘ngamuk’. Dia menjawab, “Tergantung punya duit apa gak, sih. Kalau lagi pusing karena gak punya duit, mau dengar lagu apa pun tetap pusing!” 

Aku ngakak. Dipikir-pikir yo ono benere.

Manfaat Bangun Pagi

Kata teman yang biasa bangun pagi, "Manfaat paling jelas dari bangun pagi adalah memungkinkanku melihat hari lebih panjang, daripada kalau aku bangun siang."

Aku sangat setuju dengannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 April 2019.

Mi Ayam yang Enak Banget

Sambil nunggu ganti oli, menikmati mi ayam, dan mikir. Ada mi ayam yang enak, dan ada mi ayam yang enak banget. Saking enaknya, sampai kuahnya saja sangat enak.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Mei 2019.

Aras-arasen

Orang Jawa punya istilah "aras-arasen" (antara mau melakukan dan tidak ingin melakukan). Inilah yang sedang kurasakan. Ingin keluar, mau ganti oli, tapi rasanya aras-arasen.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Mei 2019.

Banjir Lagi Naik Turun

Banjir kayaknya lagi naik turun. Sore tadi mulai surut, sekarang hujan deras dan banjir naik lagi. Semoga yang kebanjiran juga dinaikkan derajat dan rezekinya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Februari 2019.

Kirain

Kirain musim hujan udah berhenti. Ternyata malah ada yang kena banjir.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 April 2019.

Bimu

Ooohh... bimu.

Jumat, 01 Maret 2024

Ayune Koyo Sripah

Orang-orang di lingkunganku kalau memuji wanita cantik biasa menggunakan kalimat, “Ayune koyo Sripah” (Cantiknya seperti Sripah). 

Sejak kecil, aku penasaran setengah mati siapakah Sripah, dan secantik apa dia, sampai dijadikan parameter kecantikan wanita. 

Kenapa orang-orang di lingkunganku tidak memuji kecantikan wanita dengan kalimat, misalnya, “Ayune koyo Paramitha Rusady” atau “Desy Ratnasari” dan seterusnya? 

Mungkin karena Sripah lebih cantik dari mereka. Tapi siapakah Sripah yang mereka sebut-sebut?

Waktu beranjak remaja, aku mulai tahu kalau “Sripah” yang sering disebut orang-orang untuk memuji kecantikan wanita itu merujuk ke wanita Arab. Jadi, “ayune koyo Sripah” bisa diartikan “cantiknya seperti wanita Arab”. 

Tapi kenapa wanita Arab disebut Sripah?

Aku pernah menanyakan hal itu pada mereka; kenapa menyebut wanita Arab dengan Sripah? Tapi tidak ada yang bisa menjawab, tidak ada yang mampu menjelaskan. Intinya, mereka hanya mengatakan bahwa sejak zaman kuno biasa menyebut wanita Arab dengan Sripah.

Sampai bertahun-tahun aku memendam kebingungan atas pertanyaan itu, dari kecil sampai dewasa, dan penasaran setengah mati pada Sripah. 

Belakangan aku sadar, bahwa “Sripah” yang mereka sebut-sebut itu sebenarnya berasal dari lidah orang Jawa menyebut “Syarifah”.  

Kesadaran mengenai hal itu akhirnya menjawab pertanyaanku selama bertahun-tahun, dan sejak itu aku bisa tidur dengan tenang. Salah satu pertanyaan terbesar dalam hidupku akhirnya terjawab. 

Dan siapakah “Syarifah”, yang oleh lidah orang Jawa disebut Sripah? 

Syarif/Syarifah adalah sebutan untuk keturunan Nabi SAW dari jalur Hasan. Hasan adalah putra Ali bin Abi Thalib, yang menikah dengan Fatimah, putri Nabi. Saudara Hasan bernama Husein, dan keturunannya disebut Sayyid/Sayyidah. (Tolong ralat kalau aku keliru).

Jadi, “Ayune koyo Sripah” bermakna, “Cantiknya seperti wanita keturunan cucu Nabi.” Subhanallah.

Lalu aku ingin punya mbakyu yang ayune koyo Sripah. Appeuhhh...

Apakah Kamu Pernah ke Điện Biên Phủ?

Dua bocah bercakap-cakap. Bocah pertama bertanya, “Apakah kamu pernah ke Điện Biên Phủ?”

“Belum pernah,” jawab bocah kedua.

“Kalau begitu, hidupmu sungguh sia-sia.”

Bocah kedua kaget. “Kenapa hidupku sia-sia karena belum pernah ke Điện Biên Phủ?”

“Aku tidak tahu,” jawab bocah pertama, “aku hanya berpikir betapa hidup ini sungguh sia-sia jika kita belum pernah ke Điện Biên Phủ.”

Bocah kedua manggut-manggut. “Jadi, kamu pernah ke Điện Biên Phủ?”

“Belum,” jawab bocah pertama.

Lalu dua bocah itu sama-sama menyadari betapa hidup mereka sungguh sia-sia.

Siksa adalah Rindu

Siksa adalah rindu tak tersampaikan, kebingungan tanpa tahu jawaban, kegalauan tanpa pengetahuan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 April 2012.

Denting Terlirih dari Musik

Ada sepuluh lagu dari berbagai album Shima yang masuk playlist-ku sekarang, dan sering kudengarkan akhir-akhir ini, kapan pun sempat. 

Bagi yang mungkin belum tahu, Shima adalah penyanyi pop Malaysia era ’90-an. Nama lengkapnya Nazhatul Shima Kamaruzzaman. Pada masanya, Shima sama populer dengan Aishah, Ning Baizura, Ziana Zain, Fauziah Latif... sampai kemudian muncul Siti Nurhaliza.

Aku suka lagu-lagu mereka, tapi paling favorit adalah Shima dan Aishah, dalam arti yang paling sering aku dengarkan sampai sekarang. Di luar penyanyi pop wanita, tentu saja aku masih suka lagu-lagu yang dinyanyikan grup musik Malaysia, dari Exist, Uk’s, sampai Iklim.

Banyak temanku yang bilang, selera musikku sangat gado-gado, genre apa pun masuk. Ya memang, dan menurutku itu baik-baik saja. Musik itu kan selera, dan selera orang bisa berubah, sekaligus bisa beragam, dalam arti bisa menikmati genre [musik] apa pun.

Menurutku, dan ini mungkin tidak terpikir sebagian orang, hal penting untuk menikmati musik—selain selera—adalah audio/speaker yang kita gunakan. Musik sebagus apa pun bisa terdengar “biasa” atau malah buruk, jika kita dengarkan lewat audio berkualitas buruk. 

Sebaliknya, musik yang mungkin biasa-biasa saja, bisa terdengar bagus ketika didengarkan lewat audio yang bagus. Menurutku, keindahan musik itu ketika “denting terlirih”-nya terdengar. Dan itu hanya bisa kita dapatkan lewat penggunaan audio yang bagus.

Perangkat audio yang bagus tidak harus mahal-mahal amat. Altec atau Harman Kardon itu relatif bagus, dan sudah mampu memperdengarkan “denting terlirih” dari sebuah musik. Kalau ponselmu kebetulan pakai audio Harman Kardon, kamu pasti akan tahu. 

Jadi, kalau sewaktu-waktu mendengar lagu yang menurutmu jelek atau “biasa”, coba dengarkan lagu itu di perangkat yang memiliki audio bagus. Kemungkinan besar, penilaianmu pada lagu itu akan berubah. Kamu akan mendengar sesuatu yang tadinya tidak kamu dengar.

Ini bukan berarti semua lagu pasti bagus. Karena, seperti disebut tadi, musik adalah soal selera. Jadi kemampuan kita menerima suatu lagu juga dipengaruhi oleh selera kita. Mau lagunya bagus, pakai audio bagus, kalau bukan selera kita ya tetap akan terdengar biasa saja.

Satu Lagi

Satu lagi hari usai, satu lagi malam pergi. 
Dan keraguan masih menemani. 
Di sini.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Juni 2014.

Tidak Ada Keabadian

Tidak ada keabadian dalam hidup. Pun cinta. Atau hati. Atau pikiran. Segalanya berubah. Yang tidak pernah berubah hanyalah perubahan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 April 2012.

Pengetahuan Langit

Semua ini sebenarnya itu.

Hidup Tetap Soal Pilihan

Hidup adalah soal pilihan. Kenapa aku harus memilih yang sulit, jika aku punya pilihan lain yang lebih baik?

Hidup tetap soal pilihan. Kenapa harus memilih yang menyakitkan, jika ada pilihan lain yang lebih membahagiakan?

Hidup (masih) soal pilihan. Kenapa aku harus menyakiti diri sendiri jika aku punya pilihan yang lebih baik?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 April 2012.

Pada Akhirnya

“Pada akhirnya,” aku berkata pada tutup teko di dapur, “kita semua akan menjadi burung dodo.”

Kangen Dipendam

ORANG KANGEN JANGAN DIBIKIN BECANDAAN!

Kangen kalau dipendam jadinya begini. Meriang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 April 2012.

Lampu Es

Namanya juga lampu es.

Jongos Sutarto Gagal Poligami, Lalu Jadi Penjahat

Dulu, Jongos Sutarto pernah hampir poligami dengan seorang wanita, tapi “impian indah” itu buyar setelah istrinya menentang. Hal itu sepertinya menjadi salah satu penyebab Jongos Sutarto mengalami impotensi, dan stres berat, lalu jadi penjahat di internet. Dia bahkan sampai menawar-nawarkan istrinya ke orang-orang lain di internet.

....
....

Bagi yang ingin tahu siapa Jongos Sutarto, kisah lengkapnya, dan seperti apa orangnya, silakan DM saya di Twitter.  

 
;