Sabtu, 20 November 2021

Pelajaran Komunikasi yang Tidak Diajarkan Kuliah Komunikasi

Ada sebagian orang yang mengira bahkan menuduhku
tidak mau berkomunikasi, padahal mereka tidak pernah
mengajakku komunikasi. Lucu, ya?


Banyak orang suka makan pizza, dan memancing ikan dengan pizza. Orang semacam itu berpikir, “Karena aku suka pizza, ikan juga pasti akan suka pizza.” Apakah dia lalu mendapat ikan dari pancingannya? Tidak! Karena ikan tidak berpikir seperti dirinya—ikan tidak makan pizza!

Saya suka merokok. Karena suka merokok, saya pun berpikir menawarkan rokok pada kucing, agar dia mau “ngobrol” dengan saya. Apakah upaya saya akan berhasil? Kemungkinan besar tidak, karena kucing tidak berpikir seperti saya. Kucing lebih tertarik pada ikan asin daripada rokok, semahal apa pun!

Dua ilustrasi di atas menunjukkan “cara berkomunikasi” yang salah kaprah, tapi anehnya dilakukan—dan terus dilakukan—jutaan orang di mana-mana. 

Di Twitter, sering ada meme terkait utang. Meme itu berupa percakapan antarteman (biasanya screen capture WhatsApp), yang isinya kira-kira seperti ini:

“Gimana kabarnya, bro? Tambah sukses saja sekarang.”

“Berapa?” 

“Duh, jangan nuduh gitu, lah. Aku cuma ingin menanyakan kabarmu.”

“Berapa?”

“Kok sinis amat sih, sekarang? Ditanya kabar malah nuduh aku mau ngutang.”

“Berapa?”

“Umm... lima ratus ribu, deh. Bulan depan aku kembalikan.”

Meme itu seolah ingin mengatakan, “Aku tahu kamu mau berutang, jadi tidak usah banyak tingkah dan banyak bacot. Langsung saja katakan maksudmu mau berutang, agar tidak perlu membuang-buang waktuku!”

Terkait komunikasi, saya punya “pegangan pribadi”. Orang cerdas suka to the point, orang tolol suka mutar-mutar. Ketika berkomunikasi, orang cerdas memprioritaskan hal-hal penting, sementara hal-hal tidak penting dibicarakan belakangan. Sebaliknya, orang tolol justru mengedepankan hal-hal tidak penting lebih dulu, sementara hal yang penting justru disampaikan belakangan.

Ketika orang cerdas punya kepentingan dengan orang lain, dia akan menemui orang itu, dan langsung mengatakan maksudnya—dia meletakkan hal penting di bagian depan. Setelah kepentingan itu ia sampaikan dan selesai dibicarakan, barulah ia dan lawan bicaranya membicarakan hal-hal lain yang tidak lebih penting.

Orang tolol sebaliknya. Ketika orang tolol punya kepentingan dengan orang lain, dia akan menemui orang itu, lalu berbasa-basi, ngalor-ngidul membicarakan hal-hal tidak jelas dan tidak penting, dan—setelah dia dan lawan bicaranya kelelahan ngobrol—barulah dia menyampaikan maksud kepentingannya menemui orang itu.

Saya lebih suka dengan orang jenis pertama; yang langsung menyampaikan maksudnya, mengedepankan hal-hal penting lebih dulu, dan baru setelah itu mengurus/membicarakan hal-hal yang tidak lebih penting. Bagi saya, orang semacam itu biasanya cerdas dan efektif, tidak banyak tingkah dan tidak banyak bacot; jenis orang yang biasanya cocok dengan saya.

Sebaliknya, saya sering tidak cocok dengan orang jenis kedua; yang datang menemui saya, mengajak ngobrol ngalor-ngidul tidak jelas, lalu—setelah saya kelelahan dan nyaris mati bosan melayani percakapan dengannya—dia baru menyampaikan maksud atau tujuannya. Benar-benar tidak efektif! Kenapa dia harus membuang-buang banyak waktu, jika bisa menyampaikannya sejak awal?

Terkait hal ini, ada kisah yang tak pernah saya lupakan, yang menunjukkan betapa “mengerikan” dampak yang bisa ditimbulkan dari percakapan yang tidak efektif.

Saya punya teman yang memimpin institusi semacam think tank. Sebut saja namanya Adam. Kami sebenarnya berteman sejak lama, tapi, karena kesibukan masing-masing, kami jarang berkomunikasi. 

Suatu hari, bertahun lalu, Adam menghubungi saya, mengatakan ingin ketemu dan ngobrol-ngobrol. Saya menyambut dengan baik, dan kami kemudian mengobrol di rumah saya sampai larut malam, seperti umumnya teman.

Dalam percakapan itu, setelah kami mengobrol ngalor-ngidul dan bercanda tentang banyak hal, Adam menceritakan bahwa organisasinya sedang berusaha memenangkan tender untuk suatu proyek. Dia mengatakan, “Kami sedang membutuhkan orang yang bisa mengerjakan sesuatu dengan cepat, karena salah satu faktor yang dipertaruhkan di sini adalah waktu penyelesaiannya.”

Ketika dia mengatakan itu, dia menatap mata saya, seperti “mengirim kode” bahwa dia ingin saya membantunya. Saya memahami maksud “kode” itu, tapi juga ragu-ragu. Waktu itu, saya berpikir, “Apa iya, Adam ingin aku membantunya?”

Waktu itu pula, saya sebenarnya ingin mengatakan pada Adam, bahwa saya mungkin bisa membantunya—tapi saya juga ragu-ragu. Karena, kalau saya mengajukan diri dan ternyata Adam tidak menginginkan saya, bisa jadi itu akan menempatkan Adam pada posisi dilematis. Jika saya telanjur mengajukan diri, sementara Adam ternyata tidak menginginkan saya; itu akan membuatnya serbasalah. Lebih dari itu, saya juga khawatir akan mengecewakan Adam; belum tentu saya orang yang tepat untuk membantunya.

Jadi, akhirnya saya pun hanya diam, dan malah berkata, “Semoga kamu menemukan orang yang tepat.”

Sampai kami kemudian berpisah, waktu itu, Adam tidak mengatakan apa pun, selain hanya menceritakan hal tadi, dan berhenti di situ. Dia tidak meminta saya, dan akhirnya saya pun makin yakin kalau Adam memang tidak menginginkan saya membantunya—dia hanya ingin bercerita.

Sekitar dua minggu setelah itu, ada teman lain menghubungi saya. Namanya Safik. Di telepon, dia berkata, “Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.” 

Orang yang ingin ia kenalkan adalah kakak iparnya. Namanya Fandi. Ketika kami—saya, Safik, dan Fandi—bertemu di rumah saya, Safik menjelaskan maksud dia mengenalkan Fandi kepada saya. Setelah itu, Fandi “mengambil alih”—dia berbicara dengan sangat efektif, mengatakan maksudnya dengan jelas, hingga saya benar-benar paham.

Lalu dia menyodorkan sebuah dokumen. “Kalau kamu diminta menyelesaikan ini, kira-kira berapa lama waktu yang kamu butuhkan?”

Saya melihat-lihat dokumen itu sekilas, lalu menjawab, “Mungkin sebulan.”

Fandi mengangguk puas. “Kalau aku memintamu membantuku menangani hal ini, kamu bersedia?”

Dengan nada bercanda, saya menjawab, “Kamu harus merayuku, agar aku bersedia.”

Singkat cerita, saya benar-benar membantu Fandi menangani proyek itu.

Belakangan, itu menjadi masalah antara saya dengan Adam. Karena, institusi Adam ternyata terlibat dalam tender yang sama, yang juga diperebutkan perusahaan Fandi. Dalam tender itu, Fandi mengajukan waktu pengerjaan satu bulan—seperti yang saya janjikan kepadanya—sementara Adam mengajukan waktu pengerjaan lima bulan. Singkat cerita, perusahaan Fandi memenangkan tender itu.

Ketika Adam tahu siapa orang yang membantu Fandi, dia ngamuk.

Saya masih ingat, waktu itu, ketika dia “melabrak” saya, dan menuduh saya tidak mau membantu dia, tapi malah membantu orang yang tidak saya kenal.

“Aku mendatangimu lebih dulu,” kata Adam waktu itu. “Aku mendatangimu, berharap kamu mau membantuku. Kita telah berteman bertahun-tahun, tapi kamu malah membantu orang lain yang tidak kamu kenal!” (Catatan: Adam dan Safik tidak saling kenal).

Saya berusaha menjelaskan, “Ketika kamu datang, kamu hanya bercerita. Kamu sama sekali tidak memintaku! Kamu hanya menjelaskan bahwa kamu sedang berusaha memenangkan tender. Apakah kamu mengatakan butuh bantuanku? Tidak! Apakah kamu memintaku agar aku membantumu? Juga tidak! Memangnya apa yang kamu harapkan?”

Adam masih marah. “AKU SUDAH MEMBERIKAN KODE KALAU AKU BUTUH BANTUANMU!”

“PERSETAN DENGAN KODE! AKU TIDAK BERKOMUNIKASI DENGAN CARA TOLOL SEMACAM ITU!” Saya menyulut rokok, lalu berkata dengan nada lebih rendah, “Kalau saja waktu itu kamu mengatakan dengan jelas bahwa kamu butuh bantuanku, aku akan senang hati membantu. Tapi kamu tidak mengatakan apa pun, dan aku juga tidak berani menawarkan diri, karena khawatir mengecewankanmu. Dulu, ketika kamu menceritakan soal tender itu, aku memang sempat ingin menawarkan untuk membantu. Tapi aku ragu-ragu. Karena, kalau ternyata kamu tidak menginginkan aku membantumu, itu bisa menempatkanmu pada posisi serbasalah. Jadi, aku memilih diam, dan menyimpulkan kalau kamu tidak butuh bantuanku.”

Sejak itu dan seterusnya, setiap kali butuh sesuatu, Adam akan mengatakannya secara jelas kepada saya. Dia akhirnya memahami pola komunikasi yang efektif; nyatakan dengan jelas maksud dan tujuan, kedepankan hal-hal penting lebih dulu, dan pastikan lawan bicara benar-benar paham maksudmu. Dalam konteks Adam, memahami pola komunikasi yang efektif semacam itu menyelamatkannya dari kerugian besar.

Dalam keseharian, dalam kehidupan yang lebih luas, banyak orang berkomunikasi dengan pola yang tidak efektif—yang dituju adalah Z, tapi mutar-mutar, membicarakan A sampai Y terlebih dulu, dengan basa-basi berbusa-busa. Setelah percakapan jadi tidak menarik karena telah menghabiskan banyak waktu, mereka baru masuk ke tujuan inti. Itu, saya pikir, berasal dari kebiasaan Homo sapiens yang doyan ngobrol ngalor-ngidul tidak jelas—warisan dari zaman nenek moyang yang tinggal di gua purba. 

Mungkin hal semacam itu bisa diterapkan pada sebagian orang—dengan dalih “sopan santun”—tapi jelas tidak akan bisa diterapkan pada semua orang. Bahkan, dalam kasus tertentu, pola komunikasi ngalor-ngidul semacam itu bisa terkesan menjebak. Serupa dengan meme soal utang tadi. 

Kalau kita datang pada seseorang dengan tujuan untuk berutang, tapi mengajaknya ngobrol ngalor-ngidul lebih dulu, dia bisa saja merasa “tertipu” atau terjebak. Dia akan berpikir, “Asu! Ngajak ngobrol panjang lebar, ternyata ujung-ujungnya mau ngutang!”

Saya termasuk yang membenci “jebakan” semacam itu, karena memunculkan kesan tidak menyenangkan, yang menyadarkan saya bahwa percakapan panjang lebar itu ternyata tidak tulus, karena ujung-ujungnya adalah ngutang. Jauh lebih baik kalau orang mengatakan maksudnya terlebih dulu, baru setelah itu kami membicarakan hal-hal lain, sehingga percakapan yang terjadi benar-benar tulus, bukan karena tendensi tertentu.

Di atas semua itu, selalu pahami lawan bicara yang kita hadapi. Kalau kita “berbicara” dengan ikan, pastikan umpan yang kita gunakan benar-benar tepat. Karena ikan lebih suka cacing, meski mungkin kita tergila-gila pada pizza. Dan, omong-omong, kucing tidak merokok, ia lebih suka ikan asin!

Pilihan Hati

Kenapa banyak laki-laki yang pacaran dengan perempuan cantik, tapi menikah dengan perempuan biasa? Dan kenapa banyak pula perempuan yang pacaran dengan laki-laki ganteng, tapi menikah dengan laki-laki sederhana?

Teguh (vokalis Vagetoz) ditanya Ruri (vokalis Repvblik), mengenai kriteria perempuan yang ingin ia nikahi. Dan ini jawaban Teguh, “Di zaman sekarang tuh gampang-gampang susah [mencari jodoh]. Apalagi yang gaul-gaul gitu, enggak masuk untuk saya." 

Laki-laki matang—Teguh berusia 38 tahun saat itu—rata-rata memang memiliki kriteria berbeda dengan laki-laki yang lebih muda [berusia 20-an]. Ini rahasia umum yang kita semua tahu. Pasangan yang ingin kita pacari bisa berbeda dengan yang ingin kita nikahi. 

Saat masih remaja, dan hubungan sebatas pacaran, kriteria kita mungkin sangat fisikal dan artifisial. Yang cowok ingin cewek cantik, dan begitu pula sebaliknya. Tapi seiring usia makin matang, dewasa, dan mulai terpikir pernikahan, kriteria pasangan biasanya berubah.

Yang dipikirkan laki-laki ketika ingin menikah, biasanya, tidak sekadar apakah si perempuan cantik atau tidak. Sebagaimana yang dipikirkan perempuan ketika ingin menikah juga di antaranya, “Apakah dia baik dan bertanggung jawab?” Dan pertanyaan lain serupa.

“Yang gaul-gaul”—meminjam ungkapan Teguh Vagetoz—mungkin tampak menarik saat kita masih belia. Tapi hubungan yang dewasa, lebih spesifik pernikahan, tidak sekadar dibangun dengan “yang gaul-gaul”, tapi lebih pada kesadaran, kematangan, dan tanggung jawab.

Kita ingin “yang gaul-gaul” ketika masih belia, karena orientasi kita masih sebatas pacaran, dan pacaran adalah aktivitas kita di luar (di hadapan mata orang-orang lain). Kita butuh “kebanggaan”—pacar kita cakep atau semacamnya; orientasinya masih fisikal dan artifisial.

Tetapi ketika berpikir tentang pernikahan, seketika orientasi kita berubah, karena pernikahan adalah aktivitas yang kita lakukan di dalam (maksudnya di dalam rumah, di ruang privat). Yang kita cari bukan lagi sebatas kebanggaan artifisial, tapi kedamaian dan ketenteraman.

Syukur alhamdulillah kalau pasangan kita cakep sekaligus bertanggung jawab dan menenteramkan hati. Tapi jika pilihannya adalah cakep ATAU menenteramkan, orang waras mana pun akan memilih yang kedua. Buat apa cakep, kalau saban hari ngajak ribut dan bertengkar?

“Di zaman sekarang tuh gampang-ampang susah [mencari jodoh]. Apalagi yang gaul-gaul gitu, enggak masuk untuk saya," kata Teguh Vagetoz. 

Begitu pula menurut saya. “Yang gaul-gaul” juga tidak cocok buat saya, karena yang saya rindukan adalah sosok mbakyu. Appeeeeuuuu...

Kesalahan di Masa Muda

"Aku melakukan kesalahan di masa muda," katanya, "dan sekarang aku terbangun setiap pagi di sampingnya."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Dan Malam

Dan malam menjebak kegelapan, gelepar teriak di antara jerat laba-laba.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Melihat Segi Baiknya

"Melihat segi baiknya" itu sulit dilakukan, kalau kenyataannya memang tidak ada segi baiknya. Dan... apa sih definisi segi?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Rabu, 10 November 2021

Perempuan, Pernikahan, dan Patriarki

Aku suka—dengan kadar yang membuat otakku terusik dan ingin ngoceh—tagline film Kim Ji-young: Aku adalah seorang anak. Seorang istri. Seorang ibu. Tapi di atas semua itu, aku adalah seorang perempuan.

Mumpung sudah mandi, aku ingin ngoceh. Sekalian mumpung TL mulai sepi.

Berdasarkan data Mahkamah Agung, antara 2005-2010, satu dari sepuluh pasangan suami istri di Indonesia bercerai. Satu dari sepuluh! Jika ada seribu pernikahan, seratus di antaranya bercerai. Itu pun yang tercatat.

Bukan ending yang tepat untuk “and they lived happily ever after”.

Dari kasus-kasus perceraian yang terjadi, sebagian besar—mencapai 70 persen dari semua kasus—gugatan perceraian diajukan pihak istri. Angka itu naik jadi 80 persen saat memasuki periode 2010-2015. 

Pernikahan akan membuatmu bahagia, katanya. Oh, well, statistik bahagia!

Mengapa ada banyak wanita (istri) menggugat cerai suaminya, padahal—jika dipikir menggunakan pola pikir standar masyarakat kita—perkawinan justru memungkinkannya hidup nyaman karena adanya nafkah yang terjamin? 

Dalam teori memang iya, tapi dalam realitas... tidak.

Terkait perkawinan, masalah kita adalah doktrin yang penuh omong kosong! Perkawinan disodor-sodorkan ke muka kita sebagai dongeng khayalan sorga, padahal ia adalah hubungan yang bisa saja penuh konflik, penuh kerja keras, serta modal dan kesadaran dan kearifan dan tanggung jawab.

Menjalin hubungan—dalam hal ini menikah—artinya bekerja keras untuk kelangsungan hubungan itu. Dan kerja keras itu harus dari dua pihak, suami dan istri. Untuk bisa memberikan “kerja keras” yang cukup, artinya keduanya harus sama-sama mampu melakukan. Plus dengan tanggung jawab.

Sebagai bocah, aku ingin mengakui secara jujur bahwa aku tidak/belum berminat menikah, karena tidak akan punya waktu mengurusi pernikahan yang, kenyataannya, membutuhkan kerja keras dan tanggung jawab. 

Kembali ke urusan perceraian di Indonesia, yang datanya sangat jelas menunjukkan betapa mereka sungguh bahagia—oh, well, bahagia!

Satu dari sepuluh pernikahan berakhir perceraian, itu pun yang terdata di MA. Padahal yang bercerai diam-diam tanpa terdata tentu juga sangat banyak.

Jadi, mengapa ada banyak wanita (mencapai 80 persen dari semua kasus perceraian) yang menggugat cerai suaminya? 

Jawabannya sangat sederhana, karena—dalam kultur patriarki, seperti di Indonesia—wanita akan menanggung beban luar biasa ketika memasuki pernikahan.

Ketika masih lajang, wanita hanya menjadi dirinya sendiri, dan hanya mengurus hidupnya sendiri—atau mungkin hal lain, semisal keluarganya. Bebannya bisa dihitung, dan bisa ditanggung dengan cukup mudah. Selama dia melakukannya dengan baik, bisa dibilang tidak ada masalah.

Tapi ketika menikah, beban wanita akan bertumpuk-tumpuk. Dari menjadi istri (untuk suaminya), menjadi ibu (untuk anak-anaknya), menjadi anak (bagi orang tuanya), menjadi individu (bagi lingkungan sosialnya), sampai menjadi “pembantu” (untuk rumah tangganya).

Menghadapi beban luar biasa semacam itu, mungkin tidak akan terlalu bermasalah jika suaminya baik, penuh pengertian, sekaligus punya penghasilan cukup. Artinya, beban-beban tadi akan dipikul bersama, sehingga tidak ada salah satu yang [terlalu] keberatan menanggungnya.

Masalah mulai terjadi, ketika beban rumah tangga—seperti yang disebut tadi—hanya dipikul satu pihak, dalam hal ini pihak istri. Itulah yang melatari kenapa banyak sekali wanita yang sampai memilih bercerai. Karena mereka sadar, hidup sendiri jauh lebih mudah daripada bersuami.

Ada fakta lain yang mungkin jarang diperhatikan kebanyakan orang terkait hal ini. Ketika seorang wanita menikah, ia tidak hanya berpotensi menghadapi tumpukan beban dari rumah tangganya, tapi juga berpotensi kehilangan pekerjaan yang telah ia miliki ketika masih lajang.

Ada banyak wanita yang semula punya pekerjaan dengan gaji lumayan, ketika masih lajang, terpaksa harus kehilangan pekerjaan itu ketika menikah—karena ada perjanjian dengan pihak perusahaan bahwa hubungan kerja akan berhenti, begitu si wanita menikah.

Memang tidak semua perusahaan menerapkan kebijakan semacam itu, tapi ada, banyak mungkin banyak. Ironisnya, perusahaan yang menerapkan kebijakan semacam itu adalah mereka yang mempekerjakan para wanita dengan pendidikan minim. Contoh mudah, misalnya, SPG. 

Dalam pikiranku, itu semacam “jebakan maut” yang melemparkan wanita ke dalam mulut buaya. Kau menikah, pekerjaanmu hilang. Dan itu artinya, kau akan bergantung (secara khusus dalam hal ekonomi) pada suamimu. And you know what? Kultur patriarki akan bertepuk tangan!

Di dalam kondisi semacam itu, ada banyak wanita yang merasa tidak punya pilihan. Mereka sudah terjebak dalam perkawinan—dan bergantung pada suami (khususnya dalam hal ekonomi)—hingga mereka pun terpaksa menanggung beban-beban luar biasa tanpa henti. Bahkan kadang sampai mati.

Sekarang kita bisa membayangkan wanita-wanita dari golongan menengah ke bawah, dengan pendidikan minim, kesadaran minim, masuk dalam perangkap pernikahan... dan mereka merasa tak punya pilihan lain selain menerima takdir sebagai budak ketidakadilan sistem sosial dan patriarki.

Sudah melihat bagaimana semua perangkap ini disiapkan untuk menjebakmu bulat-bulat? Kita, sebenarnya, tidak hidup di dunia yang adil. Kita hidup di dunia yang dirancang oleh sebagian pihak untuk memangsa pihak lain. Dan untuk menguatkan hal itu, mereka mengarang doktrin.

Menikah akan membuatmu tenteram, bahagia, dan lancar rezeki—katanya.

Kenapa mereka tidak pernah mengatakan hal lain, selain mengulang-ulang bualan itu? Kenapa mereka tidak pernah mengatakan banyaknya beban dan tanggung jawab, kesadaran dan kearifan? Tanya kenapa!

Karena mereka memang tidak ingin kau tahu. Karena begitu kau tahu seperti apa sebenarnya perkawinan, kau akan berpikir seribu kali untuk menikah. Karena jika mereka mengatakan isi pernikahan secara jujur dan apa adanya, kau akan tahu bahwa mereka sebenarnya tidak bahagia.

Secara ilmiah, perkawinan akan bahagia, jika—dan hanya jika—dilihat dari perspektif biologi. Karena itulah tujuan perkawinan, untuk bereproduksi, dan meneruskan evolusi. Tidak usah manusia, bahkan binatang pun tahu hal itu—meski mereka tidak memakai doktrin macam-macam.

Tetapi, kehidupan manusia tidak bisa hanya dilihat dari satu perspektif. Karenanya, jika perkawinan manusia dilihat/dipelajari menggunakan perspektif biologi, psikologi, sosiologi, filsafat, bahkan matematika, dan semua perspektif itu digabung jadi satu, hasilnya bisa mengerikan.

Berdasarkan gabungan perspektif tadi, aku percaya (secara akademis) bahwa manusia lebih mungkin tertekan dan menderita dalam perkawinan, daripada sebaliknya. Karenanya, dalam perspektifku sebagai bocah, orang bahagia dalam perkawinan itu kasuistis—karena seharusnya tidak!

Selama ini, orang-orang mungkin berpikir bahwa pasangan yang bercerai itu kasuistis, sebagaimana pasangan yang tertekan dalam rumah tangganya juga kasuistis. Padahal sebaliknya, mereka justru bagian dari kemungkinan wajar dan alamiah—karena memang begitulah perkawinan!

Ini seperti membayangkan persentase kemungkinan munculnya tiga titik dalam sebuah dadu, tapi kita melipatgandakannya beberapa kali (karena banyaknya perspektif yang digunakan). Hasilnya sama, tetap bisa diprediksi, meski dalam kelipatan. Data cerai di MA dengan jelas membuktikan!

Kesimpulannya—dan kau boleh tidak sepakat, tentu saja—kalau kau tertekan dan tidak bahagia dalam perkawinan, itu wajar dan alamiah. Karena memang begitulah perkawinan! Sebaliknya, kalau kau bahagia dalam perkawinan, kau termasuk bagian yang sangat sedikit, karena kasuistis.

Makanya, aku benar-benar ingin tertawa [campur ingin muntah karena sangat bosan] tiap kali mendengar doktrin perkawinan yang jelas omong kosong itu. Kita tidak bisa mengubah api kehilangan panasnya hanya dengan terus menerus mengatakannya dingin—kecuali kau Nabi Ibrahim!

Terkait perkawinan, kita tidak bisa mengubahnya menjadi sorga-tanpa-masalah hanya dengan terus menerus mendoktrinkannya begitu, karena realitasnya memang tidak begitu! Dan orang-orang yang belum menikah mestinya diberi tahu kenyataannya, bukan malah dikibuli serta ditipu.

Akhirnya, menikah adalah soal pilihan. Kalau kau memang memilih menikah, maka menikahlah. Selama kau memahami konsekuensi dan tanggung jawab pernikahan, dan bersedia menanggungnya dengan baik serta penuh kesadaran dan kearifan, bersama pasanganmu, kau tentu berhak melakukannya.

Dan setelah menikah, tutuplah mulutmu. Tidak usah repot menyuruh atau memprovokasi orang-orang lain agar cepat menikah sepertimu. Oh ya, dan tidak usah petantang-petenteng hanya karena kau telah menikah—karena menikah hanyalah soal pilihan. Itu sesuatu yang sangat, sangat biasa!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 November 2019.

Dua Buku Berbeda

"Kalau kau ingin membaca cinta dan perkawinan," kata orang bijak, "bacalah dua buku yang berbeda." | Aku menuruti nasihatnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 September 2012.

Rindu Menjelang

Entah sudah berapa lama aku tak melihat hujan. Dan sekarang ia datang. Rasanya seperti rindu menjelang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 September 2012.

Berubah

"Kau boleh berubah karena aku, dan itu hakmu," ujar si laki-laki. "Tetapi, demi Tuhan, tolong jangan paksa aku berubah karenamu." | The End.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 September 2012.

Belajar Apeuh

Dari pernikahan Rizki D'Academy dan Nadya Mustika Rahayu, kita bisa belajar bahwa...

... bahwa appeeeuuuh?

(Ya sono baca beritanya.)


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 September 2020.

Senin, 01 November 2021

Bukan Pacar yang Baik

Akhir pekan, dan tak punya pacar.
Aku bersyukur, karena bisa menggunakan akhir pekan 
untuk hal-hal yang lebih baik dan lebih bermanfaat.


Keputusan-keputusan [besar] yang kita lakukan dalam hidup, biasanya terkait dengan cara kita berpikir. Cara kita berpikir biasanya terkait dengan kepribadian yang kita miliki. Dan kepribadian yang kita miliki biasanya terkait dengan realitas/pengalaman hidup yang kita jalani. 

Di antara keputusan-keputusan besar yang kita lakukan dalam hidup, salah satunya adalah menjalin hubungan dengan seseorang, entah pacaran atau menikah. Meski semua orang mungkin butuh memiliki hubungan dengan seseorang, tapi cara kita melakukannya bisa berbeda.

Sebagian orang memutuskan pacaran, entah serius atau sekadar pacaran, biasanya karena memiliki modal paling penting untuk melakukannya: Waktu. Orang-orang itu pun bisa menjalani aktivitas pacaran dengan relatif baik, karena mereka punya modal yang paling utama: Waktu.

Mungkin ini jarang dipahami kebanyakan orang. Modal utama pacaran itu sebenarnya bukan uang, tapi waktu. Semakin lama dan semakin intens pacaran yang dilakukan, semakin banyak pula waktu yang akan dihabiskan.

Modal paling penting dalam pacaran adalah waktu, karena pacaran—setidaknya dalam pikiran saya—adalah aktivitas yang sangat menghabiskan waktu. Dari sekadar say hello pada pacar via ponsel, chatting berjam-jam, menanyakan kabar setiap saat, sampai aktivitas ketemuan yang bisa lama sekali.

Itu pun sering kali masih ditambah dengan aneka hal lain yang sama menguras waktu dan emosi, misal pertengkaran, kecemburuan, merasa diabaikan, dan lain-lain. Semua itu, sekali lagi dalam pikiran saya, sangat... sangat... sangat... menguras waktu, dan kadang juga emosi serta pikiran

Di Twitter, misalnya, sering ada tweet viral soal ini. Salah satunya, yang masih saya ingat, adalah sepasang pacar yang bertengkar gara-gara footstep motor. Berdasarkan yang saya tangkap dari gambar di timeline Twitter, ada cowok “melapor” ke ceweknya, kalau dia sudah pulang (sampai rumah). Sebagai bukti, si cowok melampirkan foto sepeda motor yang parkir di depan rumah.

Di luar dugaan, si cewek malah ngamuk. Dia mencurigai cowoknya barusan memboncengkan seseorang, gara-gara footstep motor yang jatuh (dalam posisi dipijak, bukan dalam posisi berdiri). 

Si cowok menjelaskan panjang lebar, bahwa footstep motor itu memang sudah tidak kencang bautnya, hingga selalu dalam posisi jatuh. Jadi itu bukan karena barusan dia memboncengkan seseorang. Si cowok sampai memvideokan bagaimana dia mencoba memasang footstep dengan benar, tapi jatuh lagi karena memang bautnya sudah kendur.

Akhir kisah, si cowok akhirnya membeli footstep baru untuk ia pasang pada sepeda motornya, agar tidak lagi dicurigai/dicemburui ceweknya.

Ketika mendapati tweet viral itu di Twitter, saya membatin, “Aku tidak akan punya waktu untuk melakukan hal-hal seperti ini. Aku bahkan tidak akan punya kesabaran untuk melakukan hal-hal seperti ini. Eman-eman waktunya!”

Waktu. Itulah modal utama sekaligus paling penting dalam urusan menjalin hubungan dengan seseorang, atau pacaran. Dan saya tidak punya modal utama itu, karena waktu saya sudah habis untuk mengurusi kesibukan saya sendiri. Boro-boro membuang waktu untuk pacaran, saya justru merasa sangat kekurangan waktu.

Itu alasan utama yang membuat saya tidak—atau belum—tertarik pacaran dan menjalin hubungan dengan siapa pun. Karena tidak punya waktu untuk melakukannya. Dan jika saya memaksa melakukannya, saya khawatir hanya akan menyakiti perasaan pacar, karena tak punya waktu untuknya.

Seumur hidup, sampai saat ini, saya hanya pacaran dua kali. Dan dua perempuan yang pernah jadi pacar saya dulu memiliki keluhan yang sama; merasa diabaikan, karena saya hanya punya sedikit waktu untuk mereka. 

Malam Minggu, misalnya, kadang saya tidak mengunjungi mereka. Alasannya sepele; saya lupa atau tidak sadar itu malam Minggu, karena khusyuk belajar atau karena keasyikan bekerja.

Siang harinya, ketika pasangan lain asyik menikmati akhir pekan dengan berkencan, saya juga asyik sendiri dan lupa kalau punya pacar. Kalaupun ingat, saya cuma mengirim pesan ke ponsel pacar, memastikan dia baik-baik saja—lalu melanjutkan kesibukan saya sendiri. 

Memang, pacar saya waktu itu kelihatan baik-baik saja. Tapi diam-diam, sebenarnya, mereka dongkol karena merasa diabaikan.

Pacar saya yang pertama, pernah mengatakan dengan marah, ketika kami bertengkar, “Kamu tahu apa masalahmu? Kamu terlalu sibuk belajar, terlalu sibuk bekerja, sampai lupa kewajibanmu yang lain! Aku pacaran denganmu, tapi aku sering merasa jauh darimu, karena kamu terlalu asyik dengan duniamu sendiri.”

Dia menangis waktu mengatakan itu, dan saya merasa sangat bersalah. Tidak lama setelah itu, kami putus, karena berpikir itu yang terbaik bagi kami.

Pacar saya yang kedua, juga punya keluhan yang sama. Dia masih kuliah, waktu itu, sementara saya sudah drop out dari kampus. Selama pacaran dengannya, kami lebih sering berpisah daripada bersama. Waktu itu, karena tuntutan pekerjaan, saya harus sering bepergian. Kami hanya mengobrol lewat ponsel sewaktu-waktu, kalau saya selo, atau bertukar pesan lewat SMS. 

Selama itu, dia tidak pernah marah, meski diam-diam sebenarnya sangat tertekan. Dan saya baru tahu hal itu, ketika kami menjelang putus.

Setelah dia lulus kuliah dan mulai bekerja, orang tuanya meminta agar dia segera menikah. Dia memberitahu saya, dan saya mengatakan kepadanya, “Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Tidak lama lagi. Setelah urusan ini selesai, kita menikah.”

Dia berkata dengan halus, “Aku percaya kepadamu. Tapi orang tuaku belum tentu.” 

Setelah itu, sambil menahan isak, dia menyatakan sesuatu yang tak pernah saya lupakan. “Kamu tak pernah datang. Kamu terus sibuk dengan urusanmu sendiri, dan selama ini aku percaya kepadamu. Aku tidak pernah marah, meski sangat tertekan, merasa diabaikan, tak dipedulikan, karena aku sangat mencintaimu. Tapi sekarang... aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.”

Itu pertama kali saya menyaksikan dia menangis... dan juga terakhir kali. Karena setelah itu, kami putus. Sejak itu, saya bersumpah pada diri sendiri, untuk tidak pernah pacaran lagi.

Saya telah pacaran dua kali, dan telah melakukan kesalahan dua kali. Saya tidak ingin menyakiti perasaan perempuan lain. 

Dalam pikiran saya, pacaran hanya akan mengulang kesalahan saya, dan itu artinya akan ada perempuan lain yang tersakiti. Karena saya belum siap melakukannya, dan memaksa diri melakukannya hanya akan mengulang kesalahan yang sama. Saya bukan pacar yang baik, dan kesadaran itu membuat saya cukup tahu diri.

Saya tidak akan punya waktu menelepon sampai berjam-jam, tidak akan punya waktu membalas chat setiap hari, tidak akan punya waktu rutin mengunjungi atau berkencan, dan itu akan membuat perempuan mana pun yang jadi pacar saya akan tertekan, tersakiti, merasa diabaikan. 

Saya tidak akan mengulang kesalahan yang sama—setidaknya untuk saat ini. Dan itu artinya saya tidak akan memberanikan diri menjalin hubungan dengan perempuan mana pun... meski saya mungkin jatuh cinta kepadanya. Saya akan lebih memilih untuk menahan diri. Karena menjalin hubungan dengannya, hanya akan membuka kemungkinan saya akan menyakitinya. 

Well. 

Selain pacaran, keputusan besar lain dalam hidup biasanya pernikahan (memutuskan untuk menikah). Sama seperti pacaran, saya juga sadar belum mampu melakukannya, dan saya memilih untuk tidak buru-buru melakukan. Itu pula alasan saya menjauhi pacaran, agar juga jauh dari pernikahan.

Saya bukan pacar yang baik, bukan pasangan yang baik. Setidaknya untuk saat ini.

Ketika jatuh cinta, mencintai seseorang, kita pasti berpikir dan berharap yang terbaik untuk orang yang kita cintai. Begitu pun saya. Dan saya tidak yakin bisa menjadi yang terbaik untuk perempuan yang saya cintai. Karenanya, saya pun lebih memilih memendam perasaan diam-diam, mencintainya diam-diam... daripada membuatnya terluka. 

Logika Cinta

"Cinta ini kadang-kadang tak ada logika," kata Agnes Monica. 

Sayang sekali, logikaku tetap jalan meski jatuh cinta.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Februari 2019.

Ora FU Ora Love You

Kirain slogan "ora FU ora love you" itu cuma populer di tempatku. Ternyata juga populer di tempat-tempat lain. 

Itu mitos apa fakta? Kayaknya sih fakta, soalnya dulu aku juga pake FU, dan nyatanya memang gitu. 

Konon, seseorang sudah layak disebut (atau merasa) "tua", kalau sudah tidak pede naik motor semacam FU atau Sonic. Ada benernya juga, kalau dipikir-pikir. Setiap orang (pria) mungkin pede naik CBR, Ninja, atau semacamnya. Tapi tidak setiap orang pede naik FU atau Sonic.

FU atau Sonic memang identik dengan bocah, dan aku bersyukur menjadi bocah. Sampai sekarang aku bahkan masih menunggu Suzuki merilis FU model baru yang benar-benar manis dan elegan, seperti dulu. (Beberapa FU edisi terkini tampak wagu, masih bagus yang model pertama).

Sebagai bocah, aku merasa kebocahanku benar-benar paripurna saat naik FU. Semoga Suzuki membaca ocehan ini dan menjadikanku sebagai Duta FU. Appeeeuuuhh...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Februari 2020.

Nasihat Bagus

Temanku mengatakan, "Belajarlah untuk tidak belajar." Sepertinya dia benar. Seperti nasihat bagus lain, yang sulit adalah melaksanakannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Alasan Putus yang Keren

Sepasang pacar bercakap-cakap.

“Kupikir, sebaiknya kita putus saja.”

“Kenapa?”

“Karena hubungan kita sudah mulai tercerabut dari nilai-nilai humanistik transendental moratorium, sehingga tidak memenuhi standar morfologi eskapisme dan konsep mandatoris yang enviromental.”

“APA ARTINYA ITU?”

“Aku tidak tahu. Tapi pokoknya kita putus dengan alasan itu, biar keren.”

....
....

Lalu salah satu dari mereka curhat ke temannya, “Aku putus dengan pacarku.”

“Kenapa?” tanya si teman, heran.

“Soalnya hubungan kami sudah mulai tercerabut dari nilai-nilai humanistik transendental moratorium, sehingga tidak memenuhi standar morfologi eskapisme dan konsep mandatoris yang enviromental.”

“HAH? MAKSUDNYA GIMANA?”

“Aku juga tidak tahu. Tapi setidaknya kami putus dengan alasan keren.”

 
;