Rabu, 26 Desember 2012

Kepak Sayap Dalam Sunyi

Hati menari seperti rajawali.
Mengepak sayap dalam sunyi.
@noffret 


Sebelum badai datang mengguncang bumi, sebagian hewan akan mengetahuinya. Burung-burung akan saling bercicit dan terbang menuju ke tempat aman, tikus-tikus akan berlarian tunggang langgang, serigala akan melolong bersahutan, bahkan gajah akan segera mengirimkan pesan infrasonik kepada teman-temannya melalui injakan kaki di tanah. Hewan-hewan itu akan waspada, kalang kabut, panik.

Satu-satunya hewan yang mengetahui kedatangan badai namun tetap tenang hanya rajawali. Bahkan, dibanding lainnya, rajawali menunggu datangnya badai, dan dia bersiap menyongsongnya.

Ketika badai akan menjelang, rajawali akan berdiri dengan tenang, menyiapkan sayapnya, dan memperhatikan angkasa dengan sepasang matanya yang tajam. Ketika akhirnya badai itu datang, rajawali akan mengembangkan sayap... dan dia terbang tinggi menuju langit.

Sementara hewan-hewan di bumi kalang kabut diterjang badai, rajawali mengepakkan sepasang sayapnya, menuju tujuannya. Berbeda dengan teman-temannya yang panik dan ketakutan kepada badai, rajawali justru menggunakan badai untuk membantu tujuannya. Angin yang amat besar itu membantu rajawali terbang dan mengangkasa, menuju tempat yang amat jauh. Sementara yang lain bersembunyi dari badai, rajawali terbang mengatasi badai.

Ketika masih kecil, rajawali tak berbeda dengan burung-burung lainnya. Lemah, dan tak berdaya. Tetapi, berbeda dengan burung lain, rajawali menghadapi hidup dengan visi hebat yang telah ditakdirkan untuknya. Semula, dia memang tidak tahu takdir yang telah disiapkan di pundaknya, tetapi induknya tahu. Dan sang induk akan mengajarnya dengan baik, bahkan keras, hingga si rajawali kecil benar-benar menjadi “raja” dalam hidupnya.

Pada waktu masih kecil, rajawali juga takut terbang. Oh, well, jangan salah sangka. Meski dikaruniai sepasang sayap, tidak semua burung berani terbang. Begitu pula rajawali. Ketika masih anak-anak, rajawali akan berlindung di sarangnya yang nyaman di atas pohon, menikmati makanan yang dibawakan induknya, dan berharap ia dapat menjalani hidup yang nyaman itu seterusnya.

Tetapi, seperti yang disebutkan di atas, induk rajawali tahu takdir anak-anaknya. Jadi, alih-alih memberikan kenyamanan seterusnya untuk sang anak, induk rajawali akan mengajari anaknya terbang. Mula-mula, rajawali yang masih kecil akan ketakutan. Tapi induknya tak peduli. Sang induk akan menendang rajawali kecil dari sarang, tak peduli si rajawali berteriak ketakutan.

Karena belum pernah terbang, rajawali yang masih kecil biasanya akan jatuh karena belum tahu bagaimana menggunakan sayapnya. Dan setiap kali rajawali itu meluncur jatuh, sang induk akan mengejar dan menopang, menyelamatkannya dari benturan. Setelah itu, sang induk akan membawa si rajawali ke sarang, dan kembali menendangnya. Begitu terus-menerus, sampai sang rajawali akhirnya tahu bagaimana menggunakan sepasang sayapnya. Akhirnya, sebagaimana takdirnya, rajawali itu pun tahu cara terbang. Ketika dewasa, dia menjadi satu di antara sedikit burung yang mampu terbang bersama badai.

Rajawali bahkan tahu cara memperbarui diri. Ketika terbang mengangkasa, semua burung harus mengerahkan tenaga yang luar biasa besar, tak terkecuali rajawali. Dalam hal itu, rajawali tahu kapan harus berhenti. Ketika merasakan kekuatan sayapnya mulai berkurang, dia akan mencari tempat yang tenang—biasanya di bukit batu atau puncak tinggi yang hening. Di sana dia akan berdiam diri, beristirahat dalam ketenangan, bersama kesendirian.

Ketika tenaganya kembali pulih, rajawali akan kembali terbang menuju tujuannya. Pada waktu itu, jika badai kebetulan datang, rajawali akan memanfaatkan badai untuk membantunya terbang. Dia akan memperhatikan dari arah mana badai itu akan datang, kemudian menyiapkan diri untuk menyongsongnya. Dan ketika badai itu akhirnya datang mengguncang dataran bumi, rajawali meloncat bersama sayap yang terkepak, dan terbang.

Dalam badai, rajawali bahkan tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk terbang, karena angin yang luar biasa besar itu membantunya untuk terus melayang di angkasa. Yang perlu dilakukan hanyalah mengepakkan sepasang sayapnya, dan mengarahkan tujuannya. Berbeda dengan anak-anak ayam yang lari pontang-panting dan berkotek-kotek ribut, rajawali tersenyum dalam badai, dan terus terbang.

Rajawali tahu ia dilahirkan dengan membawa takdir besar. Ia hidup untuk terbang tinggi, dan ia pun tahu kehidupan bahkan kematian adalah soal pilihan

Dalam kehidupan, rata-rata rajawali akan hidup selama 40 tahun. Tetapi rajawali bisa memilih—mati pada usia 40 tahun, atau melanjutkan hidup lagi hingga berusia 70 tahun. Jika ia memilih mati dalam usia 40 tahun, cerita pun selesai. Ia hanya perlu menunggu waktu itu tiba, kemudian tubuhnya yang perkasa akan segera mati dan menjadi bangkai.

Tetapi, rajawali juga memiliki pilihan lain. Jika ia ingin terus hidup setelah 40 tahun, ia dapat melanjutkan hidup hingga berusia 70 tahun—namun harus menjalani proses yang menyakitkan. Hidup, bahkan kematian, bagi rajawali, adalah soal pilihan.

Ketika seekor rajawali memilih untuk melanjutkan hidup setelah berusia 40 tahun, maka ia harus melakukan proses transformasi tubuh yang amat menyakitkan. Tidak semua rajawali mampu melakukan pilihan itu, sehingga kebanyakan rajawali mati dalam usia 40 tahun. Hanya rajawali perkasa yang mampu memilih melanjutkan hidup hingga berusia 70 tahun. So, setiap rajawali punya pilihan—hidup singkat dan tenang, atau hidup lama namun harus melalui proses menyakitkan.

Pada waktu berumur 40 tahun, paruh rajawali sudah sangat bengkok dan panjang, hingga mencapai lehernya. Kondisi paruh yang sudah tua itu bahkan menyulitkan rajawali untuk makan. Kemudian, cakar-cakarnya juga sudah tidak tajam, karena bertahun-tahun telah digunakan. Selain itu, bulu-bulu pada sayapnya sudah sangat tebal, sehingga ia pun sulit untuk dapat terbang tinggi.

Sebagaimana manusia yang makin renta seiring beranjaknya usia, begitu pun rajawali. Pada usia 40 tahun, rajawali bisa bersiap menyongsong kematian—mungkin berdiam di tempat yang tenang menunggu ajal.

Tetapi, apabila rajawali memutuskan untuk melanjutkan hidup, dia akan hidup 30 tahun lagi, dengan kesegaran dan kemudaan kembali, namun dengan transformasi yang menyakitkan. Mula-mula, si rajawali harus terbang mencari pegunungan yang tinggi. Di sana dia akan membangun sarang di puncak sunyi, untuk memulai hidup yang kedua.

Di sarangnya yang sunyi itu, setiap hari si rajawali akan mematuk-matukkan paruhnya pada bebatuan gunung yang keras, sampai paruhnya terlepas. Proses itu sangat menyakitkan, tak jauh beda kalau manusia membentur-benturkan kepalanya ke tembok hingga otaknya tercecer. Tetapi perjuangan rajawali tidak selesai sampai di situ.

Ketika paruhnya yang tua akhirnya terlepas, rajawali harus menunggu beberapa lama sampai paruhnya yang baru tumbuh dan muncul. Setelah paruhnya muncul, ia akan menggunakan paruhnya yang baru untuk mencabuti cakar atau kukunya satu per satu. Proses itu kembali sangat menyakitkan. Tetapi rajawali akan terus mencabuti semua cakarnya yang tua, hingga semuanya habis, dan ia akan menunggu beberapa lama lagi hingga semua kukunya yang baru tumbuh kembali.

Seiring bergantinya hari, cakar-cakar baru pun kembali tumbuh—cakar-cakar baru yang lebih tajam dan kuat. Setelah semua cakarnya tumbuh lengkap, rajawali akan menggunakannya untuk mencabuti bulu-bulu tubuh dan sayapnya hingga semua rontok dan terlepas. Lagi-lagi itu sangat menyakitkan. Tetapi rajawali akan terus melakukannya hingga tubuh tuanya terbebas dari bulu yang lama. Dan sama seperti sebelumnya, dia harus kembali menunggu hingga bulu-bulu baru tumbuh di tubuh dan sayapnya.

Setelah tubuhnya tertutup oleh tumbuhnya bulu-bulu yang baru, transformasi pun selesai, dan rajawali bisa memulai hidupnya yang baru. Seperti Phoenix yang terlahir kembali dari tumpukan abu, rajawali terlahir kembali setelah menjalani proses transformasi yang menyakitkan. Dan setelah itu ia akan terbang, mengepakkan sayapnya seperti dulu, seperti biasa, dalam keheningan.

Dalam takdir yang dipilihnya sendiri, rajawali mengepakkan sayap dalam sunyi.
 

Selamat Merayakan Hari Tidak Kiamat bagi yang Merayakan

Semoga kita bisa menghayati hidup dengan lebih baik.

Kamis, 20 Desember 2012

10 Buku Terbaik yang Saya Baca Sepanjang 2012

Yang aneh dari buku hebat... ia jarang dikenal.
@noffret


Kita perlu bersyukur, karena kiamat tak terjadi pada tahun ini sebagaimana yang digembar-gemborkan segelintir bocah kurang kerjaan di Hollywood. Karena kiamat tak terjadi, dan kita masih diberi kesempatan hidup, kita pun masih dapat melakukan hal-hal menyenangkan di muka bumi, yang salah satunya membaca buku.

Ada cukup banyak buku bagus yang saya baca tahun ini—fiksi maupun nonfiksi—dan saya patut gembira karena tahun ini jumlah buku yang saya baca mengalami kenaikan. Jika tahun kemarin saya hanya mengkhatamkan 92 judul buku, tahun ini agak meningkat, menjadi 114 judul buku. Ini memang wujud “balas dendam” saya pada tahun kemarin yang mengalami penurunan dalam jumlah bacaan. Semoga tahun depan saya bisa lebih meningkatkannya lagi.

Well, seperti tahun kemarin, saya ingin kembali berbagi pengalaman atas buku-buku terbaik yang saya baca sepanjang tahun ini, siapa tahu bisa menjadi wawasan teman-teman yang ingin menemukan buku “tak dikenal namun mengagumkan”. Daftar berikut tidak saya maksudkan sebagai rekomendasi, namun sebagai apresiasi saya—yang tentu bisa subjektif—atas buku-buku yang saya anggap bagus.

Berikut ini—saya tulis secara alfabetis berdasarkan nama penulisnya—10 buku yang saya anggap terbaik dari 114 buku yang saya baca sepanjang 2012. Silakan disimak.


Charles Dickens: A Christmas Carol

Mencari buku ini, bagi saya, seperti melakukan perburuan harta karun. Saya sudah tahu kehebatan A Christmas Carol sejak bertahun-tahun lalu, dari ulasan-ulasan yang pernah saya baca, bahkan dari film produksi Disney yang mengangkat novel ini menjadi film menawan. Tetapi saya belum pernah membaca novelnya sama sekali. Karenanya, saya pun sampai keluyuran kesana kemari demi bisa mendapatkannya.

Setelah menemukannya, semua upaya yang saya lakukan dalam pencarian rasanya terbayar lunas. A Christmas Carol sangat sederhana, tapi sangat dalam dan mempesona. Tak heran, jika novel yang terbit pada 1843 ini disebut sebagai karya terbesar Charles Dickens. Meski sudah terbit lebih dari 1,5 abad yang lalu, novel ini masih relevan bersama waktu.

(Catatan: A Christmas Carol telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, namun penerjemahan dan editingnya tak bisa dibilang bagus. So, kalau ingin membaca novel ini, sebaiknya carilah yang edisi bahasa Inggris).


Ernest Jones: Dunia Freud

Bagi yang rutin membaca tulisan saya di blog, pasti tahu salah satu nama yang sering saya sebut. Ya, Sigmund Freud. Saya memang banyak mengadopsi pemikiran Freud dalam catatan-catatan saya, khususnya yang berhubungan dengan psikologi manusia. Kita sama-sama sepakat, Freud adalah pemikir besar, khususnya dalam bidang psikoanalisa.

Buku ini, yang merupakan terjemahan The Life and Work of Sigmund Freud, adalah biografi Freud yang tergolong lengkap. Isinya mencakup masa kanak-kanak Freud, hingga ia kuliah, menikah, pergolakan batin dan pemikiran-pemikirannya, sampai masa-masa keemasannya ketika melahirkan karyanya yang terbesar, The Interpretation of Dream.

Tidak sedikit orang yang sinis terhadap Freud. Bahkan ada yang cukup nekat memburuk-burukkan nama Freud dengan setumpuk tuduhan mengerikan. Tetapi, penilaian parsial kepada Freud benar-benar tak pernah adil jika kita tidak mengetahui latar belakang hidup Freud secara utuh. Di buku ini, kita akan menyaksikan Sigmund Freud bukan hanya tokoh besar dan pemikir yang gelisah. Ia juga pribadi yang rendah hati.


Friedrich Nietzsche: Zarathustra

Pertama kali mengenal Zarathustra, ketika saya kelas 2 SMA, bertahun-tahun lalu. Waktu itu, tanpa sengaja, saya menemukan sebuah buku yang luar biasa tebal di perpustakaan sekolah, dengan judul dan nama penulis yang aneh. Karena penasaran, saya pun meminjamnya, dan membacanya. Itulah kali pertama saya mengenal nama Friedrich Nietzsche, dan kali pertama saya membaca Zarathustra edisi lengkap.

Karena masih bocah (kelas 2 SMA), saya tidak terlalu paham ketika membaca buku itu, meski mengkhatamkannya. Tetapi, walau begitu, saya seperti diberitahu bahwa Friedrich Nietzsche adalah orang yang pemikirannya layak dibaca dan direnungkan. Kenyataannya memang benar. Ketika dewasa, saya tahu dialah satu-satunya orang yang berani berkata blak-blakan bahwa Tuhan sudah mati.

Nah, buku ini—Zarathustra yang saya baca tahun ini—adalah edisi ringkasan, yang jauh lebih tipis dibanding Zarathustra edisi lengkap yang saya baca sewaktu SMA. Buku ini seperti cuilan roti yang diambil dari sepotong roti besar yang sangat lezat. Karenanya, meski secuil, rasanya tetap sangat lezat, dan membikin penasaran serta ketagihan. Isinya sangat... sangat dalam, khas Nietzsche. Zarathustra, dalam bayangan saya, adalah tandingan karya agung Kahlil Gibran, The Prophet. Jika Gibran menulis dengan elegan, Nietzsche menulis dengan gahar.

Seusai mengkhatamkan Zarathustra, dan mencium sampulnya, diam-diam saya berdoa, “Tuhan, tolong ampuni dosa-dosa Nietzsche, kalau memang ada. Meski kadang kurang ajar, tapi dia sangat keren!”


Gilang Pratama: Cuci Otak NII

Gilang Pratama adalah salah satu korban perekrutan NII yang mengangankan membangun negara Islam di Indonesia. Setelah bertahun-tahun bergabung dengan organisasi itu—sehingga tahu seluk beluk NII seutuhnya—Gilang Pratama akhirnya menyadari bahwa organisasi yang mengatasnamakan Islam itu tak lebih dari organisasi mafia pencuci otak yang hanya menginginkan uang dan keuntungan dari para anggotanya.

Buku ini merupakan memoar dan pengakuan blak-blakan penulisnya tentang bagaimana ia direkrut sebagai anggota NII, aktif di dalamnya, hingga “karir”nya mencapai pangkat Juru Doktrin yang bertugas merekrut dan mencuci otak para calon anggota baru. Karenanya, subjudul buku ini adalah Pengakuan Mantan Juru Doktrin NII.

Gilang Pratama mengisahkan, ketertarikannya pada NII karena ingin belajar Islam secara mendalam, karena menyadari dirinya masih sangat awam dalam hal agama. Tetapi keinginan mulia itu disalahgunakan oleh NII yang merekrutnya, hingga ia kemudian terjebak dalam jaring-jaring organisasi underground yang berlimpah kejahatan, pemerasan, pemutarbalikan ajaran agama, bahkan sampai ancaman pembunuhan.

Buku ini tidak hanya memaparkan perjalanan penulisnya dalam organisasi NII, tetapi juga memaparkan bagaimana liciknya NII memutarbalikkan ajaran-ajaran agama demi kebutuhan dan keuntungannya sendiri. Siapa pun yang merasa ingin belajar Islam karena merasa dirinya masih awam, sebaiknya membaca buku ini, agar tidak terjebak dalam rayuan NII. Lebih penting lagi, agar tidak terjebak menjadi orang sok suci yang merasa paling benar sendiri.


Henry D. Aiken: Abad Ideologi

Abad Ideologi adalah album pemikiran bocah-bocah paling mempesona di dunia. Di buku ini, Henry David Aiken mempertemukan silang sengkarut dan perdebatan ideologis abad ke-19 antara Immanuel Kant, Johann Gottlieb Fichte, G.W.F. Hegel, Arthur Schopenhauer, Auguste Comte, John Stuart Mill, Herbert Spencer, Soren Kierkegaard, Ernst Mach, hingga Karl Marx dan Friedrich Nietzsche.

Dunia filsafat abad ke-19 adalah periode paling semarak, eksplosif, dan revolusioner, karena pada masa itu terjadi pembongkaran secara sistematis atas metode dan pandangan filsafat tradisional. Buku ini memaparkan pengaruh pemikiran bocah-bocah keren yang namanya disebut di atas, juga kecenderungan filosofis periode itu atas berbagai dilema filsafat yang kelak mengikutinya.

Henry Aiken menulis buku ini dengan arif dan inspiratif. Saya membacanya sambil melayang penuh orgasmik.


H. P. Blavatsky: The Key to Theosophy

Judul selengkapnya adalah The Key to Theosophy: A Clear Exposition, in the Form of Questions and Answer, of the Ethics, Science and Philosophy for the Study of which the Theosophical Society has been Founded.

H. P. Blavatsky—atau populer disapa Madame Blavatsky—adalah salah satu pemikir wanita paling berpengaruh abad ke-19, serta pendiri teosofi. Buku ini memuat tanya jawab dengan H. P. Blavatsky tentang teosofi dan pernak-perniknya, serta persoalan-persoalan mendalam seputar keyakinan manusia kepada Tuhan dan hal-hal gaib.

Sejujurnya, saya harus membaca buku ini perlahan-lahan agar dapat memahami sepenuhnya. Dan selama membaca, saya benar-benar kagum pada wawasan serta pengetahuan Madame Blavatsky. Wanita itu selalu dapat menjawab semua pertanyaan dengan keluwesan, serta cara menjawab yang elegan.

Buku ini tidak ditujukan untuk orang-orang yang merasa paling suci dan sok benar sendiri. The Key to Theosophy adalah buku yang menggelisahkan pikiran, perjalanan pencarian dari gelap menuju terang, dari kenaifan menuju pemahaman.


Ian F. McNeely & Lisa Wolverton:
Para Penjaga Ilmu Dari Alexandria 

Sampai Internet

Demetrius dari Phaleron (360 SM-280 SM) mungkin tidak terkenal. Tapi dia salah satu orang genius yang pernah dimiliki planet Bumi. Dan, seperti kebanyakan genius lain, Demetrius juga gila. Dia suka mengecat wajahnya seperti Joker dalam film Batman, suka mengecat rambutnya menjadi pirang, suka berselingkuh dengan istri orang, sekaligus menjalani kehidupan homoseksual. Luar biasa genius, juga luar biasa gila.

Tetapi “orang gila” itu memiliki peran penting dalam ilmu pengetahuan. Dialah yang mendirikan perpustakaan Alexandria, yang menjadi perpustakaan paling terkenal di dunia. Demetrius memulai karir akademisnya di Athena, dan menjadi salah satu murid di Lyceum. Lyceum adalah perguruan alam terbuka yang sangat mahsyur, yang didirikan Aristotle. Perguruan itu merupakan cikal bakal lembaga perguruan tinggi yang kita kenal sekarang.

Perjalanan ilmu pengetahuan dari masa lampau membutuhkan waktu berabad-abad hingga sampai di tangan kita hari ini. Dari catatan-catatan di papirus dan daun lontar, ilmu pengetahuan terkumpul di berbagai perpustakaan, tersimpan di biara-biara, dilembagakan berbagai universitas, dipeluk para aktivis republik surat, terkodifikasi dalam disiplin ilmu, dicuci di laboratorium, hingga kemudian tersebar di internet pada zaman kita, dan dapat diakses siapa pun.

Perjalanan yang panjang itu pun membutuhkan ribuan orang tekun di berbagai belahan dunia. Orang-orang tekun itulah yang merawat peradaban serta pengetahuan untuk terus diwariskan kepada generasi setelahnya—hingga sampai pada generasi kita. Tanpa mereka, mungkin hari ini kita tidak pernah tahu siapa Galileo, siapa Marie Curie, Newton, Darwin, hingga Einstein dan Hawking.

Buku ini memaparkan perjalanan panjang ilmu pengetahuan dari masa Alexandria sampai ke zaman kita, serta siapa saja yang berperan di dalamnya. Bagi saya, buku ini semacam “biografi” ilmu pengetahuan. Materi serta cara penyampaian dalam buku ini tergolong berat, tetapi—saya yakin—para kutu buku akan sangat menikmatinya.


John Farndon: 50 Gagasan Luar Biasa

Menemukan buku yang dalam serta penuh wawasan, rasanya seperti menemukan pasangan yang sempurna—elegan, dan tidak membosankan. Buku ini memenuhi kriteria itu. Merupakan terjemahan The World’s Greates Idea, judul lengkap buku ini adalah 50 Gagasan Luar Biasa yang Mengubah Dunia.

Sebagaimana judulnya, buku ini memaparkan ide-ide yang dianggap memiliki pengaruh besar dalam kehidupan dan peradaban manusia. John Farndon, dibantu sekelompok juri lain, mengumpulkan dan menyusun peringkat atas 50 ide besar yang dianggap paling berpengaruh dalam peradaban—dari yang remeh temeh seperti selokan dan roda, dari hukum-hukum fisika sampai matematika, dari marxisme sampai pembebasan budak.

Masing-masing item itu diuraikan dengan mengasyikkan, penuh wawasan, dengan bahasa yang mudah dipahami. Hasilnya, berdasarkan penilaian para juri, ide terbesar yang menempati peringkat teratas karena dianggap paling berpengaruh di dunia, adalah internet. Nomor dua, atau satu peringkat di bawah internet, adalah menulis. Sedangkan peringkat ke-50 alias paling bawah, adalah... perkawinan!

Oh, well, sepertinya nyokap saya perlu membaca buku ini.


Muhidin M. Dahlan, Mujib Hermani (ed.): 
Pleidoi Sastra

Judul selengkapnya adalah Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin. Ini buku terbitan lama (Januari 2004), namun baru saya temukan.

Kipandjikusmin adalah salah satu penulis Indonesia yang misterius. Namanya disebut banyak orang, karyanya dibahas para tokoh terkenal, kontroversi mengenai dirinya menjadi berita nasional, namun sosoknya tak pernah terlihat. Pada 8 Agustus 1968, majalah Sastra yang dipimpin H.B. Jassin memuat salah satu cerpen karya Kipandjikusmin, berjudul “Langit Makin Mendung”. Hasilnya adalah kontroversi sastra terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Cerpen itu dianggap menghina agama, majalah Sastra yang memuatnya kemudian dibredel, dan H.B. Jassin—selaku penanggung jawab pemuatan cerpen tersebut—diajukan ke pengadilan. Sementara itu, tak terhitung banyaknya tokoh terkenal—para sastrawan maupun nonsastrawan—yang berdebat dan berpolemik di media massa seputar cerpen “Langit Makin Mendung”.

Buku ini merekam semua peristiwa itu. Di halaman awal, buku ini memuat cerpen-cerpen karya Kipandjikusmin, termasuk “Langit Makin Mendung”, lalu dilanjutkan wacana dan pendapat serta polemik para tokoh atas cerpen itu. Beberapa tokoh terkenal yang ikut “berperang” dalam polemik itu di antaranya A.A. Navis, Goenawan Mohamad, Sju’bah Asa, Buya Hamka, Taufiq Ismail, Bahrum Rangkuti, Wiratmo Sukito, hingga Yahya Ismail (penulis dari Malaysia).

Di halaman akhir, buku ini memuat pleidoi H.B. Jassin untuk pembelaan cerpen itu, yang dibacakan di depan hakim di pengadilan pada 2 September 1970. Hingga saya menulis catatan ini, siapa sebenarnya Kipandjikusmin belum terungkap. Terlepas dari kontroversinya, buku ini penuh wawasan, khususnya seputar dunia sastra Indonesia.


Peter Tompkinn & Christopher Bird: 
Keajaiban Tumbuhan

Edisi bahasa Inggris buku ini telah menggemparkan ilmuwan dan para akademisi di berbagai belahan dunia. Meski judulnya terdengar ringan, namun isinya benar-benar memukau. Berisi hasil-hasil penelitian mengagumkan seputar dunia tumbuhan, yang belum pernah dibayangkan kebanyakan manusia.

Bertahun-tahun lalu, Charles Darwin telah menyatakan bahwa tumbuhan memiliki inteligensi. Keyakinan itu kemudian ditindaklanjuti Luther Burbank dan para ilmuwan lain, sampai kemudian dua bocah tekun di zaman kita—Peter Tompkinn dan Christopher Bird—melakukan penelitian komprehensif dengan peralatan yang lebih modern, hingga mampu menunjukkan rahasia-rahasia tumbuhan yang sebelumnya tak terbayangkan.

Buku ini tergolong berat. Namun, seperti umumnya buku berat lain, Keajaiban Tumbuhan memberikan kenikmatan luar biasa selama membacanya. Buku ini pun akan mengubah pandangan kita dalam berinteraksi dengan tumbuhan, sekaligus mulai memahami bagaimana alam semesta menyembunyikan rahasia-rahasianya yang menakjubkan.

Secara keseluruhan, buku ini benar-benar hebat. Setiap bab dan halamannya akan membuat kita terpesona, dan memberikan kenikmatan tersendiri. Menyetubuhi buku ini, bagi saya, seperti menikmati ledakan orgasme tanpa henti. Terpujilah Peter Tompkinn dan Christopher Bird untuk karya agung mereka dalam buku ini.

Sampai jumpa di daftar 10 Buku Terbaik tahun depan!
 

Lecet

Seorang bocah menangis sambil mengelus-elus luka lecet di kakinya. Luka lecet itu tampaknya sudah mengering, tak lama lagi pasti akan sembuh, dan bekasnya akan hilang. Tapi bocah itu terlihat menangis sedih.

Seorang tetangga yang menyaksikan itu menegur dengan heran, “Kamu ngapain, kok nangis gitu?”

“Aku menangisi lecet ini,” sahut si bocah dengan lugu.

“Jadi, kenapa kakimu lecet?”

Si bocah menceritakan, “Seminggu lalu, aku kan jalan-jalan pakai sandal. Karena nggak terbiasa, jadinya kakiku lecet.”

Si tetangga memperhatikan luka lecet itu. “Tapi… lecet di kakimu kan udah mau sembuh, tuh. Kenapa kamu nangis?”

“Justru itu!” jerit si bocah. “Aku nangis, karena lecet ini udah mau sembuh!”

“Lho?” Si tetangga bengong. “Kamu nangis justru karena lecetmu mau sembuh? Kok bisa?”

“Iya!” jawab si bocah sambil mau nangis lagi. “Lecet di kaki ini terjadi waktu aku jalan-jalan sama orang yang kusayangi. Nggak lama lagi lecet ini akan sembuh dan bekasnya akan hilang. Itu bikin aku sedih, karena nggak punya lagi kenangan dengan orang yang aku sayang.” Kemudian, sambil mengelus-elus luka lecetnya, bocah itu berkata perlahan-lahan, “Padahal cuma lecet ini yang bikin aku ngerasa punya kenangan sama dia. Fu… fu… fu…”

Drama Sore Hari

Di lokasi syuting, sore hari, adegan keempat belas dalam sebuah skrip sinetron.

Para kru telah bersiap di tempatnya masing-masing, kameramen telah menyalakan kamera, para pemain telah siap berakting, dan sutradara telah duduk di singgasananya. Sementara lokasi pengambilan gambar juga telah diset sebagaimana yang tertulis dalam naskah skenario. Acara syuting itu sejauh ini lancar-lancar saja, dan semua kru sudah senang. Sebuah stasiun televisi sudah siap menayangkan sinetron mereka.

Sutradara mengangkat tangan, memberi tanda para pemain untuk masuk ke set adegan. Dua orang pemain—satu lelaki dan satu perempuan—telah bersiap di tempatnya, dan adegan itu pun dimulai….

Si pemain lelaki berkata sambil tersenyum, “Aku pulang, ya.”

“Ya,” jawab si perempuan dengan manis.

Adegan itu terlihat natural, bahkan indah. Tetapi sutradara langsung berteriak, “CUT…!”

Semua kru menghentikan aktivitasnya. Para pemain menengok ke arah sutradara, dan mereka tahu sesaat lagi si sutradara akan menyemburkan amarah.

“Apa yang kalian lakukan?!” sembur sutradara pada kedua pemain tadi. “Kalian tidak menghafal skrip?!”

Si pemain lelaki mencoba menjawab, “Kami menghafal skrip…”

“Persetan!” potong sutradara. “Kalau kau membaca skrip dengan baik, tentunya kau ingat adegan yang seharusnya kaulakukan!”

“Uh, bukannya tadi saya melakukan sesuai skrip?”

Si sutaradara menjawab dengan jengkel, “Kau melakukan seperti yang tertulis dalam skrip, tapi seharusnya simpan saja senyummu! Tentunya kau tahu dalam adegan ini kalian sedang marahan, dan kau pamit kepada pacarmu dengan muka masam!” Kemudian, sutradara beralih pada pemain perempuan, “Dan kau, bagaimana bisa kau bersikap sangat manis kepadanya? Kalian sepasang pacar yang sedang marahan!”

Si perempuan menjawab spontan, “Tapi kami tidak sedang marahan.”

“Persetan apa yang kalian lakukan!” raung sutradara. “Lakukan sesuai yang tertulis dalam skrip, dan lupakan kisah cinlok kalian!” Setelah itu dia memberi perintah pada semuanya, “Re-take!”

Adegan itu pun diulang. Re-take, pengambilan gambar ulang, adalah makanan pokok dalam aktivitas syuting. Semakin tolol pemainnya, re-take biasanya akan semakin lama karena harus diulang-ulang akibat terjadi kesalahan. Karenanya, mendapatkan pemain tolol adalah mimpi buruk para kru film. Tapi kedua pemain yang sekarang menjalani re-take tidak termasuk dalam kategori tolol—mereka pemain-pemain hebat.

Sutradara memberikan tanda, “Camera… action!”

Si pemain lelaki berkata seperti tadi, sambil tersenyum, “Aku pulang, ya.”

Dan si perempuan tetap menjawab dengan manis, “Ya.”

Sekali lagi, adegan itu terlihat natural, bahkan indah. Tetapi, lagi-lagi sutradara langsung berteriak, “CUT…!”

Dengan suara meraung, sutradara berteriak pada kedua pemain itu, “Demi Tuhan, apa yang kalian lakukan…?!”

Si pemain lelaki mencoba menjawab, “Kami…”

“Tadi sudah kuingatkan, kalian adalah pasangan yang sedang marahan!” raung sutaradara. “Kau pamit dengan muka masam, dan pacarmu menjawab dengan lebih masam—itu yang tertulis dengan gamblang dalam skenario! Tapi kalian malah berakting seperti sepasang ABG baru jadian!”

Si perempuan menjawab, “Kami bukan ABG.”

“Aku tahu, sialan!” jawab sutaradara makin murka. “Itulah yang membuatku heran, kenapa kalian bertingkah seperti ABG! Kalau membaca skrip dengan baik, mestinya kalian ingat, dalam adegan ini kalian sedang marahan! Jadi, kalian sebenarnya membaca skrip atau tidak?”

“Kami membacanya,” jawab si pemain lelaki mantap.

Lalu adegan itu pun diulang, diulang lagi, dan diulang lagi. Sampai berkali-kali re-take, adegan yang seharusnya mudah itu—entah kenapa—tidak juga sesuai dengan keinginan sutradara, karena dinilai melenceng dari yang tertulis dalam skenario. Ketika telah mengalami belasan kali re-take, si sutradara merasa kehabisan kesabaran. Setelah mengamuk dan menyemburkan kemarahan, ia memerintahkan untuk rehat sebentar.

Pada waktu break itulah, pemain lelaki dan pemain wanita menyendiri di satu sudut lokasi, dan mereka tampak bercakap-cakap.

Si lelaki berkata, “Bagaimana kalau kita tinggalkan sinetron sialan ini?”

“Apa maksudmu?” sahut si perempuan.

“Maksudku, maukah kau menikah denganku?”

Si perempuan tersenyum malu. Lalu dengan perlahan dia menjawab, “Ya, aku mau.”

Sejak itu, keduanya tidak pernah lagi main sinetron. Tetapi, bagi mereka, hidup di dunia nyata jauh lebih indah dibanding dalam sinetron. Di dunia nyata, kau bisa menjadi dirimu sendiri, berbuat dan bertingkah laku sesuai karaktermu yang asli, dan tidak ada siapa pun yang berhak menentukan apa yang harus kaupilih atau kaulakukan. Di dunia nyata, kau tidak perlu beradegan seperti dalam drama.

Ada banyak hal yang jauh lebih menakjubkan di dunia nyata, dan sepasang lelaki perempuan itu sampai hari ini merasa heran karena ada banyak orang yang lebih suka menjalani hidupnya seperti dalam sinetron.

Kamis, 13 Desember 2012

Bulan di Mimpiku

Semalam aku bermimpi tentang bulan.
Mendengarkan ceritanya yang membuatku tersenyum.
Masih ingin bersamanya, tapi aku terbangun.
@noffret 


Dalam tidurku yang gelisah di suatu malam, aku bermimpi tentang Bulan. Rasanya, dalam mimpi itu, kami duduk berdekatan, dan Bulan mewujud sesosok wanita. Dengan keindahan sempurna. Aku tak tahu di tempat mana kami bertemu, tapi aku masih ingat di sana hanya ada keheningan dan kesunyian. Bahkan angin pun tak ada. Dan kami bercakap-cakap dengan berbisik, namun saling mendengar dengan jelas.

Dalam mimpi itu, aku masih ingat, aku berkata kepadanya, “Mungkin aku terlalu naif. Tapi aku sama sekali tak menyangka kau seorang wanita.”

Bulan tersenyum.

Untuk sesaat, aku bingung mau mengatakan apa lagi. Jadi kuedarkan pandanganku ke sekeliling, dan mendapati tempat yang luar biasa hening… luar biasa sunyi. Itu tempat paling hening yang pernah kusaksikan, keadaan paling sunyi yang pernah kurasakan. Jadi itulah yang kemudian kukatakan kepadanya, “Tempat ini sangat hening.”

Sekali lagi Bulan tersenyum. Dan menyahut, “Kuharap kau suka.”

“Aku suka sekali,” jawabku jujur. “Aku belum pernah merasakan hening yang lebih damai dari tempat ini. Well, bagaimana rasanya tinggal di sini?”

“Bagiku menyenangkan.”

“Aku bisa membayangkannya. Sudah berapa lama kau di sini?”

“Kau mempertanyakan relativitas waktu,” jawab Bulan. “Mungkin kau lupa, di sini tidak ada jam, hari, tanggal, tahun, atau hitung-hitungan waktu seperti di tempatmu.”

Aku terdiam sesaat mendengar jawaban itu. Kemudian aku bertanya, “Kalau boleh tahu, apakah kau tidak kesepian? Maksudku, well… kau tinggal sendirian di sini, tanpa ada siapa pun yang bisa diajak bicara. Kau tak pernah terpikir untuk bergabung dengan kehidupan manusia di Bumi? Yeah, maksudku, sebagai manusia, aku tetap merasa butuh berinteraksi dengan sesama, meski aku juga mencintai keheningan. Memiliki teman bicara, atau semacamnya.”

Kali ini Bulan yang terdiam sesaat. Lalu, dengan suara lirih ia berkata, “Di waktu lampau, sebenarnya, aku pernah turun ke Bumi, ke tempatmu para manusia.”

Aku terkejut. “Sungguh?”

“Ya.” Bulan mengangguk. “Waktu itu, aku juga sempat terpikir seperti yang baru kaukatakan. Mungkin sangat menyenangkan jika aku turun ke Bumi, dan bisa bercakap-cakap dengan manusia. Jadi aku pun meninggalkan tempat ini, dan turun ke sana. Tetapi, kemudian, keberadaanku di Bumi waktu itu menjadi kesalahan terbesar yang pernah kulakukan.”

“Apa yang terjadi?”

Hening menyelimuti kami sesaat, karena Bulan terdiam. Menundukkan wajah. Aku menunggu. Bahkan jika harus menunggu seabad pun aku tak peduli, pikirku waktu itu.

Tapi aku tak perlu menunggu sampai satu abad, karena Bulan kembali menatapku, dan berkata perlahan-lahan, “Di Bumi, aku terkejut mendapati banyaknya kejahatan, nafsu, iri hati, kedengkian, serta kemunafikan. Selain itu, yang paling membuatku risih—dan yang membuatku meninggalkan Bumi—ada banyak lelaki yang tergila-gila kepadaku. Itu… itu sangat menyusahkanku, kalau kau tahu maksudku.”

“Kau sangat menawan, wajar kalau mereka begitu.”

“Aku tahu,” ujar Bulan tanpa nada angkuh, “dan aku bisa memahami kenyataan itu. Tetapi, ada satu lelaki yang sangat… oh, bagaimana aku harus menyatakannya? Maksudku, dia sangat… sangat keterlaluan.”

Aku benar-benar penasaran sekarang. “Apa yang dilakukannya?”

“Beberapa lelaki yang mendekatiku di Bumi melakukannya secara wajar dan biasa—seperti umumnya interaksi manusia lelaki dan wanita. Tetapi lelaki yang satu itu sangat… sangat keterlaluan. Sejak mengenalku, dia terus mengikutiku ke mana pun aku melangkah, menuju ke mana pun aku pergi, dan tak pernah berhenti menggangguku. Kau tahu bagaimana tidak nyamannya keadaan seperti itu.”

Aku mengangguk.

“Dan dia mengirimkan banyak puisi cinta,” lanjut Bulan.

Aku menyahut sambil mencoba bercanda, “Kedengarannya romantis.”

“Tidak, jika kau melihat kisahnya. Pada waktu itu, ada banyak lelaki yang juga mendekatiku, dan mereka juga mengirimiku banyak puisi cinta. Puisi-puisi mereka sangat indah, dengan kata-kata yang sangat tertata, halus, lembut, dan menyentuh. Tetapi aku tahu tak mungkin membalas cinta satu pun dari mereka, karena aku tidak ditakdirkan menikah. Nah, lelaki ini—lelaki yang sangat keterlaluan tadi—mengirimkan banyak puisi cinta, namun puisinya paling buruk di antara lainnya.”

Aku masih mendengarkan.

“Dan dia tak pernah berhenti mengirimkan puisi-puisinya yang buruk itu,” lanjut Bulan. “Seiring dengan itu, dia terus mengikuti langkahku, ke mana pun aku pergi. Yang paling mengganggu, dia juga tak pernah berhenti menanyakan bagaimana pendapatku tentang puisi-puisinya. Bagaimana cara manusia mendefinisikan sikap dan perilaku semacam itu? Tidak tahu malu?”

“Like that.”

“Dia tidak tahu malu, dan sejujurnya aku sangat malu dengan perilakunya,” tutur Bulan dengan wajah sedih. “Mungkin dia lelaki yang baik. Tetapi sikap dan perilakunya, serta agresivitasnya yang keterlaluan membuatku memilih untuk menjauhinya.”

“Dan dia juga menjauh darimu?”

“Sayangnya tidak. Seperti yang kubilang tadi, dia terus menanyakan bagaimana pendapatku tentang puisi-puisinya yang terus ia kirimkan untukku. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku menerima banyak puisi lain yang jauh lebih indah dari puisinya, yang dikirimkan para lelaki yang tahu sopan santun. Dan para lelaki yang sopan itu tidak pernah menanyakan bagaimana pendapatku tentang puisi mereka. Tetapi lelaki yang satu itu… oh, dia benar-benar keterlaluan. Puisinya sangat buruk, tetapi dia tanpa malu terus menanyakan bagaimana pendapatku.”

“Jadi, apa yang kemudian kaulakukan?”

Bulan kembali menunduk. Terdiam beberapa saat. Dan aku menunggu. Lalu ia kembali mengangkat wajahnya, menatapku, dan berkata perlahan-lahan seperti tadi. “Manusia memiliki pepatah bahwa kesabaran kadang ada batasnya. Begitu pun aku pada waktu itu. Menghadapi lelaki itu, kesabaranku rasanya terkuras. Semula, aku tidak mau memberikan pendapat apa pun atas puisi-puisinya, karena aku tidak mau menyinggung perasaannya. Tetapi, karena dia terus memaksa, dan kesabaranku telah habis, akhirnya aku pun jujur menjawab, dan menyatakan kepadanya bahwa puisinya sangat buruk.”

“Dan…?”

“Dan dia marah-marah,” jawab Bulan dengan wajah terluka. “Dia marah-marah karena aku menyatakan jawaban yang jujur kepadanya. Mungkin aku bisa membohonginya, dan menyatakan bahwa puisinya sangat indah. Tetapi, kupikir, itu tidak akan membuatnya belajar, malah sebaliknya akan membuatnya besar kepala. Lagi pula, bukankah dia sendiri yang meminta dan memaksaku memberikan pendapat atas puisinya? Tanpa malu, dia terus memaksaku memberikan pendapat atas puisinya. Dan ketika pendapat yang jujur itu kukatakan, dia tidak terima.”

Mendengar penjelasan itu, aku bisa memahami mengapa wajah Bulan tampak sangat sedih. Dia pasti ada di antara dilema. Dia bisa saja memberikan jawaban bohong kepada lelaki itu, dan menyatakan bahwa puisinya sangat indah. Tetapi, Bulan pasti khawatir pujian itu justru akan menjerumuskan si lelaki ke dalam kepongahan, sekaligus khawatir si lelaki menganggap pernyataan itu sebagai penerimaan Bulan pada dirinya.

Dengan memberikan jawaban jujur kepada si lelaki, dan menyatakan bahwa puisinya memang buruk, Bulan tentu berharap si lelaki mau menyadari bahwa dia masih harus banyak belajar, dan jawaban itu pun pasti dimaksudkan agar si lelaki menjauh dan tidak mengganggunya lagi. Oh, well, kau tidak bisa merayu wanita dengan puisi yang buruk, dan berharap dia jatuh cinta kepadamu.

“Apa yang kemudian terjadi setelah itu?” tanyaku.

Bulan menjawab, “Seperti yang kubilang tadi, lelaki itu tidak terima dan marah-marah. Karena mungkin dia memang tidak tahu malu, dia mengumbar kemarahannya di mana-mana. Dia mencaci-maki aku, memburuk-burukkan namaku, dan menimpakan setumpuk tuduhan tak masuk akal, seolah-olah aku sangat rendah dan hina.”

Kemudian, dengan nada suara agak meninggi, Bulan melanjutkan, “Dia sendiri yang mendekatiku. Dia sendiri yang mati-matian mengirimkan puisi-puisi itu untukku. Dia sendiri pula yang terus memaksaku memberikan pendapat atas puisi-puisinya. Tetapi, ketika keinginannya kukabulkan, dia tidak terima. Itu seperti kau berdiri di hadapan cermin, dan cermin memantulkan bayangan yang jujur, tapi kemudian kau tidak terima ketika menyaksikan bayanganmu sendiri, lalu kaupecahkan cermin itu. Alangkah anehnya manusia!”

Melihat kedukaan di wajahnya, rasanya aku ingin menggenggam tangannya yang halus. Tapi aku ragu. Jadi, aku pun hanya diam, dan menatap wajahnya, menunggu dia kembali berbicara.

“Kenyataan itulah yang kemudian membuatku trauma,” lanjut Bulan. “Aku menyesal telah turun ke Bumi. Di sana aku memang menemukan teman, dan bisa berbicara satu sama lain. Tetapi, di sana pula aku terluka. Sejak itu, aku pun kembali ke tempatku semula. Di sini memang tidak ada apa pun atau siapa pun, selain hening dan sunyi. Di sini aku memang sendirian. Tetapi di sini aku tidak memiliki masalah apa pun. Di sini aku bebas menjadi diriku sendiri, menikmati kesendirian yang memang menjadi kesenanganku. Kupikir, kau pun tahu perbedaan antara kesepian dan kesendirian.”

“Aku tahu,” jawabku. “Kesendirian adalah kondisi seorang diri yang kita inginkan. Kesepian adalah kondisi terasing yang tidak kita harapkan. Kau bisa sendirian tanpa kesepian, karena kesendirian memang bukan kesepian.”

Bulan tersenyum. “Aku senang ada yang memahamiku.”

Aku membalas senyumnya. Pada waktu itu, aku bermaksud ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tapi kemudian aku terbangun dari tidur. Dan mimpi itu pun selesai sampai di sana.

Di kejauhan, terdengar lolong serigala.
 

Siapakah Hoeda Manis?

Hoeda Manis adalah teman Lalalu.

Siapakah Lalalu? Oh, dia bukan siapa-siapa, sama seperti saya.

Lupakan saja.

Senin, 10 Desember 2012

Perbudakan di Zaman Kita

“Mental pemimpin Indonesia itu mental calo.”
Ribka Tjiptaning


Jika judul post ini dianggap bombastis, coba bandingkan dengan judul ini: “Indonesian maids now on SALE!!!” Kemudian, di bawah judul itu, terdapat kalimat berikut, “Fast & Easy Application!! Now your housework and cooking come easy. You can rest and relax, Deposit only RM 3,500! Price RM 7,500 nett.” (Ditranksrip sesuai aslinya).

Judul dan kalimat di atas terdapat dalam iklan yang muncul di kawasan Chow Kit, Malaysia, pada Oktober 2012 lalu. Dalam iklan itu juga dilengkapi contact person, plus nomor-nomor telepon yang bisa dihubungi. Dan, seperti yang tertera dalam iklan tersebut, yang dijual adalah para tenaga kerja Indonesia (TKI), yang tentu saja manusia. Yang mengejutkan, dan yang memilukan, manusia-manusia yang disebut TKI itu dijual dengan harga diskon!

Satu bulan setelah geger iklan “penjualan” TKI di Malaysia, hal yang lebih parah terjadi di Singapura. Pada November 2012, di Bukit Timah Plaza, Singapura, dipasang neon box dan reklame yang isinya tak jauh beda dengan di Malaysia, yakni penjualan TKI. Yang memilukan, para TKI yang “dijual” itu dibariskan di sebuah ruangan khusus, dengan seragam khusus, menunggu peminat datang “membeli” mereka. Sementara pembeli yang datang bisa memilih TKI mana yang mereka minati.

Oh, well, itu belum semuanya. Sekarang hal terburuknya. Agen yang menjual para TKI di Bukit Timah Plaza itu merayu para pembeli dengan menyatakan bahwa mereka bisa mendapatkan para TKI di sana dengan “potongan harga”, yakni tidak perlu membayar gaji mereka selama enam bulan!

Setelah “penjualan” di Bukit Timah Plaza dinilai sukses, berbagai mall di Singapura pun menggelar hal serupa. Mereka menyediakan ruang khusus untuk “menjual” para TKI, dilengkapi dengan papan reklame yang menarik minat—persis reklame penjualan mobil di mall-mall Indonesia.

Menyaksikan para TKI yang duduk berjajar menunggu pembeli di sana, mau tak mau akan mengingatkan kita pada era perbudakan di zaman pertengahan, ketika manusia hasil pampasan perang diperjualbelikan sebagai budak. Di zaman pertengahan yang primitif, kau bisa melakukan invasi ke wilayah mana pun, lalu merampas kebebasan pihak yang kalah, dan menjual mereka sebagai budak. Sekarang, di zaman modern, hal tak jauh beda kembali terjadi.

So, di zaman kita, praktik perbudakan belum menjadi sejarah, karena komodifikasi manusia masih terjadi. Hanya saja, pihak yang menjadi “budak” dalam hal ini adalah manusia-manusia Indonesia, yang mungkin saudara, teman, atau tetangga kita.

Nasib TKI memang telah menjadi berita basi. Tetapi rupanya Indonesia belum kenyang menelan berita basi itu, sehingga pemerintah seperti cuek beibeh dengan nasib mereka, dan berita basi itu terus terjadi, berulang, dan terus berulang. Kita sudah tak bisa lagi menghitung berapa banyak TKI yang disiksa, diperkosa, dibunuh, dijual ke tempat pelacuran, atau dihukum di luar negeri dengan berbagai alasan. Tetapi, entah mengapa, pengiriman TKI ke luar negeri tak pernah berhenti.

Berita tentang TKI mungkin memang berita basi, dan ruwetnya persoalan ini seruwet benang kusut. Orang-orang rela menjadi TKI, meninggalkan kampung halaman dan keluarga mereka, lalu pergi ke negeri jauh untuk mencari uang, karena menghadapi himpitan hidup. Kemiskinan, kurangnya pendidikan, sempitnya lapangan kerja di negeri sendiri, semuanya itu dicampur berbagai hal di sana-sini—dari kebijakan pemerintah, sampai para calo yang memanfaatkan peluang.

Pemerintah lebih sibuk mengundang investor daripada membuka lapangan kerja, sehingga orang Indonesia semakin kesulitan mendapat lapangan pekerjaan di negeri sendiri. Seiring dengan itu, pemerintah Indonesia juga mendukung keberadaan TKI, karena mereka mendatangkan devisa bagi negara. Di tengah-tengah kebijakan itu, berbagai kemiskinan dan keterbelakangan menjadi wabah di mana-mana. Maka kisah tragis para TKI pun seperti cerita bersambung dari seri ke seri.

Memang, dalam hal TKI, pemerintah Indonesia telah mengadakan perjanjian dengan berbagai negara penerima TKI menyangkut nasib mereka. Dengan Malaysia, misalnya, pemerintah Indonesia telah menyepakati MoU mengenai rekruitmen dan penempatan kerja di sana, yang ditandatangani pada 2006. Lima tahun kemudian, pada 2011, kedua negara melakukan amandemen terhadap MoU tersebut terkait hak-hak TKI, yang di dalamnya termasuk masalah gaji, kontrak kerja, dan hari libur.

Di atas kertas, MoU itu menjadi protokol yang menaungi kedua negara untuk menyepakati satu mekanisme bersama, yang berkaitan dengan TKI. Ketika terjadi masalah-masalah yang menimpa TKI seperti pada akhir 2011, misalnya, Indonesia pun segera memutuskan untuk melakukan moratorium atau penghentian sementara penempatan TKI sektor informal ke Malaysia. Dalam catatan Kementerian Luar Negeri, sejak amandemen MoU di atas, dan sejak adanya moratorium, hanya ada 64 TKI yang secara resmi lolos seleksi dan dikirim ke Malaysia.

Tetapi, sekali lagi, itu hanya ada di atas kertas. Dalam realitas, kemiskinan dan himpitan hidup mencekik jutaan orang tanpa henti. Dan karena cekikan kemelaratan itu, orang-orang pun menerobos birokrasi resmi, mencari segala cara untuk dapat menjadi TKI karena sempitnya lapangan kerja di negeri sendiri.

Kenyataan itu kemudian dimanfaatkan para calo dan orang-orang tak bertanggung jawab, yang kemudian memfasilitasi mereka untuk menjadi TKI ilegal. Dan selanjutnya adalah kisah-kisah memilukan yang menghiasi headline koran dan layar televisi kita, yang salah satunya iklan penjualan TKI seperti yang digambarkan di atas.

Nova Riyanti Yusuf, Wakil Ketua Komisi IX DPR, menyatakan, “Iklan tersebut jelas merupakan justifikasi bentuk perbudakan baru, di mana TKW diperdagangkan seperti sebuah barang. Apa pun modus oknum pembuat iklan tersebut, oknum itu telah menginjak bom waktu, yaitu menghina harga diri bangsa Indonesia.”

Sementara Ribka Tjiptaning, Ketua Komisi IX DPR, mengamati persoalan ini secara lebih mendalam. Menurutnya, pelecehan dan kekerasan verbal maupun nonverbal yang dialami TKI adalah sebuah akibat. “Pertanyaannya, apa akar penyebabnya?” ujar Ribka Tjiptaning. “Mari kita ajak pemerintah untuk introspeksi diri sebagai penyelenggara negara.”

Lebih jauh, dia juga menyatakan, “Selama aparat pemerintah Indonesia masih bermental calo, maka masalah TKI akan terus ada. Selain itu, selama pemerintah tidak ada niatan untuk membuka lapangan pekerjaan di dalam negeri, masalah ini pun tak kan selesai. Pemerintah lebih cenderung menjadi calo-calo untuk merayu investor, ketimbang memikirkan pembangunan industri berbasis tenaga kerja.”

Urusan TKI adalah urusan ruwet seperti benang kusut. Selain dibelit berbagai masalah yang harus dihadapi di luar negeri, para TKI juga menghadapi masalah yang dibuat oleh negerinya sendiri. Berdasarkan data Migran Care, dana konsorsium asuransi TKI per tahun mencapai Rp. 84 miliar. Tetapi, yang bisa diklaim oleh TKI hanya Rp. 4 miliar. Jadi kemana yang Rp. 80 miliar?

Karena kenyataan memilukan itu pula, Ribka Tjiptaning dengan jengkel menyatakan, “Kalau perlu KPK turun tangan untuk mengaudit dana konsorsium asuransi TKI, ke mana larinya dana sebanyak itu?”

Sensitifitas pemimpin negeri kita mungkin memang sudah mati rasa. Atau mungkin mereka terlalu sibuk mengurus dirinya sendiri, sehingga terlupa pada rakyat yang dulu telah memilih mereka menjadi pemimpin.

Sementara sebagian rakyat Indonesia yang menjadi TKI diperbudak, disiksa, diperkosa, dan dibunuh, sebagian pemimpin kita malah sibuk kawin, sibuk shopping, sibuk jalan-jalan ke luar negeri, atau sibuk menyanyi. Oh, well, sebagian yang lain bahkan sibuk korupsi dan memperkaya diri. Mau dibawa ke manaaa negeri ini...???

Tribute to Twilight

Satu perempuan. Dicintai dua lelaki.

Lelaki pertama jelmaan vampir.

Lelaki kedua serigala jejadian.

Cinta selalu tahu menemukan kisah.

….
….

Yang paling aneh sekali pun.

Kamis, 06 Desember 2012

Bokep dan Rahasia Alam Semesta (4)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Dalam tataran pemikiran yang lazim, nafsu seks adalah modal manusia untuk tertarik pada lawan jenis, saling jatuh cinta, untuk kemudian berpasangan dan berketurunan. Karena itu, nafsu seks yang besar bukan masalah bagi orang dewasa yang telah matang jiwa raga, serta telah siap untuk menikah, sehingga bisa menyalurkan nafsu seks pada pasangannya. Tetapi, sekali lagi, kita terbentur pada pertanyaan, “Mengapa nafsu seks yang besar justru ada di tangan remaja?”

Para remaja, kita sama-sama tahu, adalah manusia yang belum matang. Mereka masih labil, belum bisa bersikap dan berbuat bijaksana, bahkan belum siap untuk menikah dan memiliki pasangan. Kenapa mereka dianugerahi nafsu seks yang sedemikian besar sekaligus kemampuan untuk melakukannya? Untuk apa, atau apa manfaatnya, kemampuan serta nafsu seks itu bagi remaja?

Saya kerap kali membayangkan. Jika para remaja tidak dianugerahi nafsu seks yang begitu besar, maka semua kerusakan yang terjadi di dunia remaja dapat dihilangkan, atau setidaknya ditekan. Penjualan film bokep, pembuatan video porno amatir, hingga kenakalan-kenakalan lain yang biasa terjadi di dunia remaja, semuanya hampir bisa dijawab karena dilatarbelakangi nafsu seks mereka. Bahkan, saya curiga, sekian banyak aktivitas tawuran antara remaja juga dilatarbelakangi libido mereka yang masih menggelegak.

Sigmund Freud bahkan menyatakan semua aktivitas yang dilakukan manusia didasari oleh libido. Libido, yang dimaksud Freud, tentu nafsu seks. Dan saya pun sepakat dengannya, bahwa film-film bokep, aktivitas pacaran, sampai keasyikan telanjang dan ngomongin hal-hal berbau seks, didasari oleh libido yang kita miliki. Tetapi, rupanya Freud telah memikirkan hal itu secara lebih mendalam. Ia menyebut “semua aktivitas”. Artinya, bagi Freud, segala macam aktivitas manusia—dari bangun tidur sampai mau tidur lagi—didasari oleh libido.

Pernyataan Freud itu pernah membuat saya tidak bisa tidur. Freud adalah salah satu pemikir—khususnya dalam bidang psikoanalisa—paling hebat yang pernah dimiliki planet ini. Karenanya, statemen yang pernah keluar dari mulutnya, atau yang pernah ditulisnya, tentu bukan statemen main-main. Dan jika Freud menyatakan “semua aktivitas” manusia didasari oleh libido, maka tentunya Freud memiliki dasar bagi pernyataan itu. Tapi apa dasarnya…?

Pencarian saya untuk pertanyaan-pertanyaan di atas kemudian membawa saya pada sesuatu yang disebut “transmutasi seks” (sex transmutation). Dan, sejauh ini, transmutasi seks itulah satu-satunya jawaban yang saya anggap paling masuk akal untuk menjawab alasan mengapa alam semesta menganugerahi nafsu seks yang besar kepada manusia, khususnya para remaja.

Transmutasi adalah “perubahan atau pemindahan suatu unsur atau suatu bentuk energi, menjadi unsur lainnya”. So, transmutasi seks adalah pengalihan energi seks untuk mewujudkan energi lainnya.

Energi seks adalah energi yang besar. Ia laksana air yang mengalir deras. Jika aliran itu dibiarkan, ia akan mengalir ke mana-mana. Jika dibendung, aliran air itu mungkin akan berhenti sesaat, tetapi kemudian pada akhirnya akan membludak. Satu-satunya cara terbaik untuk menangani aliran air deras itu adalah mengubahnya menjadi energi. Misalnya menjadikannya energi listrik bertenaga air.

Nah, transmutasi seks tak jauh beda dengan itu. Jika nafsu seks dibiarkan, ia akan mengalir kemana-mana—ke bokep, ke pacaran, ke video porno, dan lain-lain. Jika dibendung, nafsu seks mungkin akan tertahan sebentar, tetapi pada akhirnya ia akan meledak dan membludak keluar. Satu-satunya cara sehat menangani nafsu seks adalah mentransmutasikannya ke hal-hal lain.

Napoleon Hill, dalam Think and Grow Rich, menulis deskripsi penting mengenai hal tesebut. “Hasrat keinginan seksual,” tulis Napoleon Hill, “adalah yang paling kuat di antara semua keinginan manusia. Jika terdorong oleh keinginan ini, manusia bisa mengembangkan imajinasi yang paling tajam, keberanian, kekuatan kemauan, ketekunan, dan semua kemampuan kreatif yang tidak mereka ketahui pada saat-saat lainnya. Sedemikian kuat dan berpengaruhnya keinginan untuk kontak seksual, sehingga manusia begitu berani mempertaruhkan jiwa dan reputasi untuk memenuhinya. Kalau dikendalikan dan diarahkan kembali sepanjang jalur yang lain, kekuatan yang memberikan motivasi ini menjaga semua atribut ketajaman imajinasi, keberanian, dan sebagainya, yang bisa digunakan sebagai daya kreatif yang kuat dalam kesusastraan, seni, atau dalam profesi lainnya, yang tentu saja termasuk pengumpulan kekayaan.”

Ketika menulis buku Think and Grow Rich, Napoleon Hill mempelajari kehidupan ribuan orang kaya dan berhasil di dunia ini secara langsung—melalui observasi dan wawancara-wawancara. Dan ia menemukan, sebagaimana yang ditulisnya dalam buku tersebut, “Orang-orang yang telah mencapai prestasi tertinggi adalah mereka yang hakikat seksualnya telah berkembang begitu tinggi, yaitu orang yang telah mempelajari seni transmutasi seks.”

Di dalam bukunya tersebut, Napoleon Hill bahkan memberikan contoh siapa saja tokoh-tokoh hebat dunia ini yang berhasil mencapai prestasi gemilang karena kemampuan mereka melakukan transmutasi seks. Dalam penelitian Hill, beberapa tokoh itu adalah Thomas Alva Edison, Thomas Jefferson, George Washington, William Shakespeare, Ralph Waldo Emerson, Abraham Lincoln, Enrico Caruso, Woodrow Wilson, Elbert Hubbard, hingga Andrew Jackson. (Jika belum kenal nama-nama itu, silakan lacak mereka di Google atau Wikipedia).

Bahkan—kali ini menurut Sigmund Freud—kemampuan hebat yang dimiliki Leonardo DaVinci, sehingga ia dikenal sebagai manusia paling genius di muka bumi, juga karena didasari kemampuan Leonardo dalam mengubah nafsu seksnya menjadi energi untuk berpikir.

Jadi, mengapa nafsu seks yang amat besar dianugerahkan kepada para remaja? Sekarang saya mulai melihat kerangka yang dirahasiakan alam semesta.

Jika nafsu seks yang besar diberikan pada orang dewasa atau orang-orang tua, hal itu sudah tak hebat lagi, karena mereka bisa menyalurkannya dengan mudah pada pasangannya. Nafsu seks yang amat besar sengaja dianugerahkan kepada para remaja, agar mereka mencari cara menyalurkan nafsu itu kepada hal lain yang tak ada hubungannya dengan seks. Jika mereka berhasil menemukannya, mereka akan mencapai kehebatan dan kebesaran tak terbayangkan.

Seks adalah energi terbesar yang dimiliki manusia. Dan sekarang saya tahu, bahwa energi itu tidak dianugerahkan alam semesta kepada manusia untuk urusan kawin semata-mata, tetapi juga ditujukan untuk sesuatu yang tidak kalah mulia, yaitu untuk mencapai takdir rahasia yang disembunyikan dari pemiliknya, untuk menggapai puncak tertinggi yang dapat diraih seorang manusia.
 

Bokep dan Rahasia Alam Semesta (3)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Pertanyaannya, sekali lagi, mengapa alam semesta meletakkan sebuah granat aktif di tangan seorang bayi? Mengapa remaja yang masih sangat labil justru dikaruniai kemampuan hebat dalam nafsu dan ereksi?

Remember, seks adalah godaan terbesar manusia. Ketika seseorang sedang bernafsu—tak peduli sebesar apa pun—dia tidak akan mampu melakukannya jika organ tubuhnya (lebih khusus lagi; organ seksnya) tidak mendukung. Contoh paling mudah, orang yang menderita impotensi atau disfungsi ereksi. Dalam kasus semacam itu—yang biasanya dialami orang dewasa atau orang tua—seseorang tidak bisa melakukan aktivitas seks karena organ seksnya tidak berfungsi.

Kenyataan itu berbeda dengan yang terjadi pada remaja. Pada remaja, mereka memiliki nafsu seks yang menyala-nyala, sekaligus kemampuan melakukannya, karena organ seks mereka juga mudah membara. Artinya, godaan seks jauh lebih besar dialami remaja dibanding pada orang dewasa atau orang tua. Yang merisaukan, dalam hal ini, kaum remaja masih sangat labil. Ketika nafsu seksnya menyala dan organ seks mereka membara, kira-kira apa atau bagaimana yang mereka lakukan?

Jawabannya pun segera tergambar jelas di depan mata kita—dari aktivitas pacaran, nonton bokep, sampai memposting foto-foto telanjang. Dan dari situ, kita kembali berhadapan dengan pertanyaan penting, “Mengapa alam semesta melakukan kekeliruan semacam itu?”

Seperti yang telah disinggung di atas, makalah-makalah kedokteran dengan jelas menyebutkan bahwa tingkat ereksi seorang pria mencapai tingkat tertinggi ketika masih remaja, dan akan menurun seiring bertambahnya usia. Bukankah, jika dipikirkan secara mendalam, kenyataan itu sebenarnya terbalik sekaligus berbahaya?

Kemampuan ereksi yang hebat mungkin tidak jadi masalah jika dimiliki orang dewasa yang telah menikah atau memiliki pasangan, karena nafsu seks bisa disalurkan pada pasangannya. Tapi kenapa justru nafsu seks yang amat besar semacam itu dimiliki kaum remaja, yang tentunya belum cukup umur dan belum memiliki pasangan? Tidakkah alam semesta memikirkan kenyataan itu…?

Di antara banyak hal lain yang saya pikirkan, kenyataan itu menjadi salah satu hal yang pernah saya pikirkan hingga bertahun-tahun. Selama bertahun-tahun, saya mencari jawaban yang sekiranya masuk akal, mengapa alam semesta sampai melakukan kekeliruan yang amat berbahaya dalam kehidupan umat manusia. Mengapa nafsu dan kemampuan seks yang besar justru dianugerahkan kepada para remaja?

Jika kita menggunakan perspektif biologi, kita akan diberitahu bahwa kemampuan fisik manusia memang akan mencapai tingkatnya yang tertinggi ketika ia masih muda. Begitu pula dalam kemampuan ereksi dan nafsu seks. Itu tak ubahnya seperti motor atau mobil. Ketika kita membeli kendaraan baru, kendaraan itu butuh waktu untuk mencapai tingkat terbaiknya. Beberapa bulan setelah dikendarai, kendaraan baru itu pun akan semakin lancar dan semakin nyaman digunakan. Tetapi, setelah bertahun-tahun dipakai, kendaraan yang semula hebat itu akan mulai aus. Begitu pula tubuh manusia.

Jika kita menggunakan perspektif medis, penjelasannya juga tak jauh beda. Tubuh manusia tidak selamanya fit. Di waktu-waktu tertentu, kita akan mengalami lelah dan jatuh sakit, dan kita pun membutuhkan obat, yang biasanya berbentuk zat kimia. Usia yang semakin menua—ditambah menumpuknya zat kimia di tubuh kita—mau tak mau akan mempengaruhi tingkat kemampuan dan kekuatan yang kita miliki. Ketika usia semakin bertambah, kemampuan dan kekuatan kita akan menurun.

Dua penjelasan itu tentu saja logis dan masuk akal. Tapi tetap belum mampu menjawab pertanyaan di atas. Sekali lagi, nafsu seks yang amat besar pada remaja sama berbahayanya dengan granat aktif di tangan seorang bayi. Tetapi kenapa justru kenyataan semacam itu yang terjadi?

Lanjut ke sini.

Bokep dan Rahasia Alam Semesta (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Berdasarkan kenyataan itu, “wajar” pula kalau aktivitas pacaran atau bahkan seks bebas paling banyak dilakukan para remaja, karena pada masa itu mereka sedang berada dalam tahap “paling panas”, secara biologis maupun psikologis. Aktivitas pacaran—terlepas bagaimana kita mendefinisikannya—banyak dijadikan sebagai semacam “penyaluran” nafsu yang meledak-ledak. Sekali lagi, saya tidak sedang bicara moral—saya sedang bicara fakta.

Ketertarikan pada lawan jenis secara menggebu-gebu, aktivitas pacaran, hingga kecenderungan terhadap film bokep, adalah sedikit di antara “hal-hal panas” yang bisa dikatakan dekat dengan kehidupan remaja. Bahkan, ketika film bokep dianggap “membosankan”, sebagian remaja bikin film bokep sendiri secara amatiran. Menurut Sonny Set, film bokep amatiran semacam itu jumlahnya telah mencapai ribuan.

Namun itu belum semuanya. “Panas”nya dunia remaja di era sekarang juga telah mendapatkan fasilitas-fasilitas hebat yang tidak pernah dikenal remaja-remaja zaman dulu. Di masa sekarang, anak-anak remaja bisa melampiaskan nafsunya dengan berbagai sarana yang ada—dari kamera ponsel untuk membuat bokep amatir, film-flm porno yang bebas diunduh di internet, hingga kebebasan di situs jejaring sosial.

Siapa pun yang suka keluyuran di Facebook atau Twitter, pasti tahu banyaknya group atau orang per orang yang hobi memamerkan foto-foto telanjangnya. Di Facebook, ada group-group tertutup yang masing-masing anggotanya bebas memposting foto-foto telanjang mereka. Di Twitter, tak terhitung banyaknya orang—lelaki maupun perempuan—yang enjoy memposting foto-foto panasnya sebagai sarana berkenalan dengan sesama pecinta ketelanjangan.

(Tolong tidak usah repot-repot menghubungi saya untuk menanyakan alamat group atau akun Twitter tersebut, karena saya tidak akan menjawabnya).

Ketika menyaksikan semua itu, saya tertegun. Menemukan website yang menjual bokep dalam harddisk satu tera saja sudah membuat saya takjub. Tapi “ketakjuban” saya ketika menyaksikan orang-orang asyik telanjang di Facebook atau Twitter benar-benar tak pernah saya bayangkan.

Kita tentu bisa mengajukan pertanyaan klise, “Mengapa mereka bisa segila itu?”

Jika saya perhatikan, semua “kegilaan” yang terjadi itu kebanyakan dilakukan para remaja, atau anak-anak muda. Sejauh ini, saya belum pernah menemukan kakek-kakek atau nenek-nenek yang memposting foto telanjang mereka. Dan para remaja yang asyik memposting foto-foto telanjangnya itu bisa berdasar karena narsis, bisa pula karena semacam eksibisionis. Yang jelas, hal itu telah menjadi salah satu penyaluran “nafsu” mereka yang meledak-ledak.

Ketika menyaksikan semuanya itu, saya sering kali berpikir bahwa alam semesta telah melakukan “kekeliruan” berbahaya.

Seperti yang telah disebutkan di atas, nafsu seks seseorang bisa dibilang tak pernah mati sampai usia berapa pun. Tetapi, kemampuan melakukannya (dalam contoh yang gampang; ereksi) mencapai tingkat paling hebat ketika seseorang masih remaja. Bukankah ini semacam kekeliruan yang sengaja dilakukan alam semesta?

Ketika seseorang masih puber atau remaja, secara umum dia belum bisa berpikir dan bersikap secara matang atau dewasa—namanya juga masih remaja. Artinya, remaja adalah usia yang labil, jauh dari sikap bijaksana. Tapi kenapa alam semesta mengaruniai nafsu seks yang luar biasa besar semacam itu untuk orang yang jelas-jelas masih labil dan baru puber?

Dalam bayangan saya, nafsu seks yang meledak-ledak pada diri remaja tak jauh beda dengan granat aktif di tangan seorang bayi. Berbahaya—sangat berbahaya.

Lanjut ke sini.

Bokep dan Rahasia Alam Semesta (1)

Kepuasan hidup, kau tahu, tak bisa diukur
dari berapa banyak koleksi bokepmu.
@noffret


Dalam kehidupan banyak orang—khususnya kaum lelaki—bokep memiliki tempat yang cukup spesial. Khususnya bagi yang masih remaja atau anak muda. Statistik terbaru bahkan menyebutkan bahwa 97 persen remaja SMP dan SMA di Indonesia pernah melihat bokep. Saya tidak bermaksud membicarakan moral. Saya sedang bicara fakta. Dan, sejujurnya, saya tidak terkejut mendapati fakta itu.

Negeri yang kita tinggali ini—dan mungkin sebagian masyarakatnya—bisa saja bertingkah sok alim dan sok suci, tetapi fakta selalu berbicara lebih keras dibanding slogan dan pencitraan. Berbagai upaya dilakukan untuk memblokir situs porno dari akses internet masyarakat, tetapi—bagi banyak orang—pemblokiran semacam itu hanya sebentuk pemubaziran, atau bahkan semacam kemunafikan. 

Saya masih ingat, dulu ketika masih remaja, kadang keluyuran ke Glodok untuk mencari VCD bokep. Oh, well, pemerintah Indonesia, bahkan Gubernur DKI Jakarta, tahu peredaran bokep di sana, jadi saya tidak malu mengakui kalau saya juga kadang keluyuran ke sana. Lebih dari itu, ada banyak orang selain saya yang juga mendatangi tempat itu.

Dulu, ketika pertama kali membeli bokep di sana, per keping VCD dijual seharga dua belas ribu perak. Beberapa waktu kemudian, harga itu turun, menjadi sepuluh ribu perak per keping. Lalu turun lagi menjadi lima ribu, hingga akhirnya sepuluh ribu perak dapat tiga keping. Sekarang era VCD sudah berlalu, dan cakram DVD menggantikannya. Saya tidak tahu berapa harganya, karena tak pernah lagi keluyuran ke sana.

Sekarang, orang tidak perlu susah-susah mendapatkan bokep, karena internet mampu memberikannya tanpa harus keluar rumah. Silakan saja situs-situs porno diblokir, tapi industri pornografi bagaikan aliran air—ia selalu mampu menyelusup melalui celah-celah sesempit apa pun. Memblokir situs porno, seperti yang dituliskan di atas, adalah pekerjaan sia-sia, tanpa membenahi moral masyarakat pengaksesnya terlebih dulu.

Di internet, seperti yang kita tahu, ada ribuan situs yang menawarkan film bokep. Seseorang bisa menjadi member dengan membayar iuran yang disepakati, dan kemudian bebas mengunduh film sebanyak apa pun—dengan identitas anonim. Jika ingin gratisan, ribuan situs serupa juga menyediakannya. Jika tidak ingin repot men-download, orang dapat membeli yang sudah “matang” alias dalam bentuk cakram DVD.

Belum lama, saya “kesasar” ke sebuah situs yang menawarkan bokep yang telah dikemas dalam sebuah harddisk eksternal atau portabel. Di masa sekarang, harddisk tidak lagi berukuran besar sehingga sulit dibawa-bawa. Keberadaan harddisk eksternal yang ramping bahkan kecil telah melakukan revolusi dalam hal penyimpanan data. Selain itu, harddisk eksternal juga memiliki kapasitas ruang penyimpanan dalam jumlah raksasa. Ukurannya tidak lagi mega atau giga, tapi sudah tera. Bagi yang mungkin belum tahu, satu tera sama dengan seribu giga.

Nah, di situs itu, saya melongo mendapati tawaran bokep yang telah dikemas dalam harddisk berbagai ukuran—rata-rata berkapasitas satu tera, dan berisi ribuan judul bokep yang isinya bisa dipesan. Melihat trafik yang tinggi di situs tersebut, hampir dapat dipastikan pengunjungnya cukup banyak, begitu pula peminat dan pembelinya. Industri pornografi, kau tahu, setua umur manusia.

Mengapa orang menyukai bokep? Jika statistik menyatakan bahwa penonton bokep sebagian besar lelaki, maka psikologi dapat menjawabnya cukup mudah. Lelaki senang menonton bokep, karena mereka makhluk visual. Itulah kenapa lelaki selalu cenderung dengan wanita cantik, karena indra visual mereka yang lebih banyak berbicara. Dalam hal ini, bokep memanjakan indra visual lelaki.

Wanita juga menyukai hal-hal indah—dalam banyak hal, mereka bahkan memuja keindahan. Tetapi dalam konteks ketertarikan pada lawan jenis, wanita (disadari atau tidak) lebih mengandalkan hal lain selain visual—bisa pendengaran, perasaan, ataupun faktor lain. Ada banyak wanita yang jatuh cinta karena ketertarikan fisik, tetapi jauh lebih banyak wanita yang jatuh cinta karena hal-hal di luar ketertarikan fisik.

Back to bokep.

Berdasarkan statistik pula, konsumen terbesar bokep adalah kaum remaja—atau mereka yang baru puber. Itu bisa dimaklumi, karena usia puber adalah usia ketika seseorang sedang “panas-panasnya”. Bahkan, menurut makalah-makalah kedokteran yang saya baca, lelaki paling mudah ereksi ketika ia masih puber atau remaja. Seiring bertambah usianya, tingkat kemampuan ereksi pria akan menurun, dan terus menurun—meski nafsu seks mereka mungkin tidak pernah mati.

Lanjut ke sini.
 

Ayat-ayat Lelaki

Kalau engkau bisa menemukan wanita yang dewasa, atau masih belia namun mampu bersikap dewasa,

yang menarik bagimu secara fisik maupun psikis,

yang belum memiliki pasangan namun mampu bersikap elegan, dan tidak menunjukkan hasratnya yang menggebu ingin punya pacar atau ingin kawin,

yang membuatmu jatuh cinta karena kedewasaannya,

yang menerima cintamu karena pertimbangan dewasa pula,

yang bisa membawamu menjadi pribadi lebih baik tanpa memintamu berubah menjadi sosok lain,

yang dapat menyatakan rindu kepadamu tanpa membuatmu bosan,

dan kalian bisa menjalani cinta yang indah tanpa terjebak menjadi norak,

maka ketahuilah demi langit dan bumi, kau sungguh lelaki yang sangat beruntung dan terberkati.

Drama

Ya sudah, gitu aja.

Sabtu, 01 Desember 2012

Merasa… apa, ya? Ya gitu, deh!

Kita menafsirkan sesuatu berdasarkan interpretasi, persepsi, 
atau bahkan asumsi. Yang jadi masalah, di mana tempat kita berdiri?
@noffret


Saya tuh mungkin suka ge-er, atau terlalu pede. Dan gara-gara suka ge-er pula, saya kadang jadi pusing sendiri. Misalnya, ketika membaca suatu posting di blog, atau menikmati timeline di Twitter, saya menemukan kata-kata atau kalimat yang saya pikir ditujukan untuk saya. Kalimat itu kadang membuat tersanjung, tapi kadang pula membuat saya tersindir.

Padahal, belum tentu juga si penulis kalimat itu memang menujukannya untuk saya. Karena, boro-boro menujukannya secara khusus, bisa jadi si penulis kalimat itu sama sekali tidak mengenal saya. Kalau pun dia mengenal, bisa jadi dia sama sekali tidak ingat saya ketika menulis kalimat itu. Tetapi, seperti yang dibilang tadi, saya tuh suka ge-er, atau terlalu pede.

Dulu saya tidak menyadari kecenderungan yang tidak beres itu—yakni suka ge-er atau terlalu pede. Akibatnya, saya jadi seperti anak kecil, atau orang dewasa yang kurang waras. Kalau menemukan tulisan yang tampaknya memuji, efeknya bisa membuat saya senyum-senyum sendiri. Sebaliknya, kalau menemukan tulisan yang kelihatannya menyindir, efeknya bisa membuat saya murung atau marah-marah sendiri.

Padahal, sekali lagi, orang yang membuat tulisan itu belum tentu mengenal saya. Dia mungkin menulisnya untuk tujuan lain, atau ditujukan kepada orang lain, dan sama sekali tidak bersangkut paut dengan saya. Lagian saya ini siapa, kok sampai mengkhayalkan orang lain menulis secara khusus untuk saya? Wong saya bukan artis, bukan selebriti, bukan orang terkenal, bukan siapa-siapa.

Oh, well, ini konyol. Dan saya bersyukur, akhirnya saya menyadari bahwa ini konyol. Sejak itu, saya pun selalu berusaha untuk mawas diri, bahwa apa pun yang saya baca—tak peduli menyanjung atau menyindir—belum tentu ditujukan kepada saya, dan biasanya memang begitu.

Lain soal kalau tulisan itu nyata-nyata menyebut nama saya, mungkin saya tetap akan berpikir kalau tulisan itu memang ditujukan buat saya. Tetapi jika dalam tulisan itu sama sekali tak tertulis nama saya, maka saya akan memilih untuk berpikir bahwa tulisan itu memang tidak berhubungan dengan saya, tidak ditujukan untuk saya, dan penulisnya juga belum tentu mengenal saya.

Kedengarannya remeh, eh?

Memang, karena ini berhubungan dengan sifat dasar kita, sebagai manusia, yakni sensitif dengan pujian atau sindiran. Pipi kita memerah ketika mendapat pujian, dan telinga kita memerah ketika merasa tersindir. Entah mengapa, kita sangat sensitif terhadap dua hal itu—pujian dan sindiran. Sebegitu sensitifnya, hingga kadang-kadang kita—khususnya saya—terlalu ge-er atau suka kepedean.

Mengapa kita suka dipuji? Sepertinya tidak perlu dijelaskan, karena anak SD pun tahu jawabannya. Yang perlu kita bicarakan, mungkin, adalah mempertanyakan mengapa kita bisa tersindir.

Jadi, mengapa kita merasa tersindir? Kalau saya melihat diri sendiri, saya tersindir jika mendapati sesuatu—misalnya tulisan—yang tampaknya berhubungan dengan beberapa sifat yang tidak mau saya akui, padahal saya miliki. Sepertinya, orang lain juga akan tersindir karena hal sama, yakni mendapati sesuatu yang tampaknya berhubungan dengan sifat atau karakter yang mereka miliki, namun tidak mereka akui.

Misalnya begini. Saya menghormati orang alim, tapi saya tidak merasa sok alim, dan tidak pernah menunjukkan perilaku atau ucapan yang terkesan sok alim. Jadi, ketika saya mendapati tweet di timeline yang berbunyi, “Gue tuh ilfil sama orang yang sok alim!” maka saya tidak akan tersindir oleh tweet itu. Mengapa? Jelas, karena saya tidak merasa sok alim!

Sebaliknya, orang yang sok alim akan tersindir atau bahkan marah oleh tweet itu, karena dia akan menghubungkan tweet itu dengan sifat yang ia miliki, namun tidak mau ia akui. Padahal, tweet itu belum tentu berhubungan dengan dirinya, dan penulisnya juga belum tentu mengenal dirinya. Tetapi, karena dia merasa memiliki sifat yang tertulis dalam tweet itu, dia pun merasa tersindir.

Apa artinya itu? Jika kita merasa tersindir oleh sesuatu, maka artinya kita memiliki sifat atau karakter yang terdapat dalam sesuatu yang membuat kita tersindir! Dengan kata lain, perasaan tersindir adalah cara alami masing-masing individu untuk membukakan sifatnya yang terselubung. Perasaan tersindir adalah telanjang di depan cermin. Ketika tersindir, kita mulai melihat sifat tersembunyi atau sesuatu yang kita sembunyikan dari orang lain.

Jika kita benar-benar alim—dan tidak sekadar sok alim—kita tidak akan merasa tersindir oleh tweet seperti di atas. KH. Mustofa Bisri, misalnya, adalah orang yang benar-benar alim. Kalau beliau mendapati tweet seperti di atas, saya yakin beliau tidak akan tersindir sama sekali. Ada perbedaan yang sangat jelas, antara “benar-benar alim”, dan “sekadar sok alim”. Orang yang benar-benar alim tidak pernah bertingkah sok alim.

Well, kata-kata memang memiliki efek yang besar bagi masing-masing kita. Ia bisa menginspirasi, membangkitkan semangat, membuka pikiran, menghangatkan hati, namun bisa pula mematikan. Dalam kadarnya yang ringan, kata-kata juga bisa membuat orang merasa tersindir. Dan merasa tersindir, kadang-kadang, bisa membuat orang yang sama sekali tidak saling kenal namun saling membenci.

Sekitar satu tahun yang lalu, saya menemukan sebuah blog milik seorang dokter, setelah searching lewat Google. Saya pun membaca tulisan-tulisan di dalamnya, sampai kemudian menemukan beberapa artikel di dalam blog itu yang membuat saya tersindir habis-habisan.

Karena milik seorang dokter, sebagian besar materi blog itu pun berhubungan dengan kesehatan, dan upaya-upaya menjaga kesehatan. Kebetulan, saya tergolong orang yang tak terlalu peduli pada kesehatan. Karenanya, ketika membaca artikel-artikel dokter tersebut, saya pun jadi tersindir.

Dokter itu seperti tahu kebiasaan orang-orang seperti saya (orang-orang yang tak terlalu peduli masalah kesehatan), dan dia bisa menuliskan hal itu dengan sangat detil, nyaris tepat seperti gaya hidup yang biasa saya jalani. Ketika membacanya, saya jadi berpikir kalau dokter itu menujukan tulisannya buat saya. Bahkan, waktu itu saya sempat berpikir, “Orang ini pasti sedang nyindir saya, nih!”

Kenyataannya, dokter itu sama sekali tidak kenal saya!

Dia tidak mengenal saya, tidak tahu sedikit pun tentang saya, dan dia menulis sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan atau bersangkut paut dengan saya. Tetapi, dengan sangat tolol dan konyol, saya merasa tulisannya ditujukan untuk saya, kemudian merasa tersindir dan jengkel kepadanya!

Kita sensitif, sangat sensitif, pada sindiran. Sebegitu sensitifnya, sampai-sampai kita kadang bertingkah konyol gara-gara merasa tersindir. Yang lebih memalukan, kadang ada orang yang sampai marah-marah dan mencaci-maki seseorang, gara-gara merasa tersindir oleh ucapan atau tulisannya. Padahal, orang yang menulis itu belum tentu kenal dengan orang yang merasa tersindir. Kalau pun kenal, belum tentu dia teringat kepadanya ketika membuat tulisan itu.

Sekarang, ketika mulai menyadari kenyataan ini, saya selalu mewanti-wanti diri sendiri untuk tidak mudah terpengaruh pada apa pun yang saya dengar, lihat, atau baca. Kalau ada tweet yang sepertinya ditujukan kepada saya, atau kalau ada tulisan di blog yang tampaknya berhubungan dengan saya, maka saya akan berusaha ngomong pada diri sendiri, “Hei, Hoeda, memangnya kamu tuh siapa, kok sampai pede dan ge-er berpikir kalau tulisan itu ditujukan untukmu? Orang yang bikin tulisan itu belum tentu tahu atau kenal kamu, jadi ngapain juga kamu merasa terganggu?”

Lagi pula, saya pikir, jika saya merasa tersindir oleh ucapan atau tulisan, maka artinya ada sesuatu dalam diri saya yang memang tidak beres, namun tidak mau saya akui. Daripada marah pada orang yang membuat saya tersindir, sekarang saya memilih untuk introspeksi dan belajar mengakui bahwa saya perlu memperbaiki diri.

Kita semua memiliki hal-hal buruk yang tak pernah kita ungkapkan, bahkan tidak mau kita akui. Dan merasa tersindir adalah kesempatan untuk bercermin, untuk belajar jujur pada diri sendiri.

Omong-omong, tulisan ini tidak bermaksud menyindir siapa pun. Kalau kau merasa tersindir, well... mohon maaf, saya tidak mengenalmu.

Sublim

Ketenangan tak pernah menjadi pilihan.
Magneto kepada Charles Xavier,
dalam X-Men: First Class


Dimulai dari ketiadaan. Awalnya. Tak pernah terpikir akan ada anak-anak tangga, atau lorong-lorong yang harus dilalui, karena biasanya memang tak ada. Jadi langkah-langkah itu pun menuju ke sana. Bahkan menjadi semacam mimpi, atau obsesi, fantasi—whatever. Cermin-cermin di belakang, dan nyanyian-nyanyian, nada-nada indah.

Awalnya—begitulah awalnya. Tapi awal itu ternyata menjadi langkah yang buta. Tak terpikirkan ketika satu anak tangga terlalui, anak-anak tangga lain akan menanti, memanggil-manggil… lalu hutan, belantara, kebingungan, dan terjebak dalam kegelapan. Tak pernah terpikir, tak pernah tahu sebelumnya. Karena biasanya memang tak ada.

Hanya mengejar fantasi, itulah yang terpikirkan. Semula. Dan ketika fantasi itu hampir tercapai, tak ada satu orang pun yang tahu bahwa itu jauh lebih mudah dari yang dibayangkan. Tidak ada yang tahu, bahkan aku. Tetapi justru di sanalah kebingungan dimulai, kegelapan diawali. Lalu mundur ke belakang. Sama. Awalnya.

Kapan itu terjadi? Mungkin sudah lama, atau baru kemarin—entahlah. Sekarang tak penting lagi.

Jadi ketika lembar awal itu dibuka, dan langkah-langkah tak dikenal berdatangan, proses itu telah dimulai. Entah bagaimana prosesnya, awal itu telah memulainya. Seperti bom waktu, digit angka terus bergerak, memuncak, untuk menunggu waktu ledakannya. Tapi tidak meledak. Sebuah aktiklimaks. Atau setidaknya itulah yang mungkin terjadi.

Seperti permainan catur, langkah awal sering kali menentukan—dan langkah awal itu telah dijalankan. Langkah awal yang diyakini, padahal setelah itu akan ada langkah-langkah lain, tak terprediksi, bahkan tak terpahami. Ketika kotak-kotak dibuat, kegelisahan sudah lahir, dan meyakini langkah tarian akan menyelesaikan sebuah lagu ternyata sebuah kesalahan.

Kotak-kotak itu hilang. Atau dihilangkan.

Semula, kotak-kotak itu diletakkan di sana untuk dilihat dan dimasuki ruang-ruangnya. Tetapi, karena kondisi tak memungkinkan, kotak-kotak itu hanya dibiarkan. Setelah waktu berjalan lama, dan kotak-kotak itu kembali teringat, semuanya telah hilang. Atau sebagian telah hilang.

Itu, sesungguhnya, telah menjadi tanda pertama. Tetapi, seperti biasa, manusia perlu pelajaran berulang-ulang.

Lirih

Ya, ya, aku tahu kau membaca blogku.

Tak perlu malu.

Aku akan tetap pura-pura tak tahu.

Jumat, 23 November 2012

Sekerat Kanker, Sesosok Monster

Kita tersenyum ketika mendapatkan.
Tapi sering tak rela ketika kehilangan. Padahal,
yang hilang adalah yang kita dapatkan.
@noffret 


Beberapa minggu ini saya jarang online. Hal itu sangat tampak pada timeline Twitter saya. Kalau biasanya saya menyempatkan diri untuk menulis sesuatu di timeline, beberapa minggu ini sangat jarang sekali. Rasanya tidak ada waktu untuk ngurusin Twitter, karena seorang teman baik saya sedang di ambang maut karena kanker. Untuk menghormati privasinya, saya akan menyebutnya X.

Saya telah berkawan baik dengan X sejak bertahun-tahun lalu. Karena kami tinggal di kota yang berbeda, kami pun jarang bertemu, kecuali untuk urusan mendesak atau penting. Dia juga jarang di rumah karena pekerjaannya. Kadang-kadang, dia mengirimi saya sesuatu sewaktu ada di negeri lain, dan itu pula yang kadang saya lakukan untuknya. Dia salah satu teman terbaik yang saya miliki.

Lima atau enam bulan yang lalu, kami bertemu di suatu acara, dan kami ngobrol dengan asyik. Dia baru pulang dari Kanada, untuk urusan kerja seperti biasa. Waktu itu dia sempat mengeluh, “Akhir-akhir ini aku jadi mudah capek.”

Saya hanya menyahut sambil tertawa, “Semua orang juga akan capek kalau menjalani hidup sepertimu.”

Detik itu, kami sama-sama tidak tahu bahwa keluhan itu adalah awal kelahiran sesosok monster yang kelak akan membuatnya menderita.

Sejak pertemuan itu, kami kembali pada kehidupan dan kesibukan masing-masing. Beberapa kali kami berhubungan via email, dan dia berada jauh dari Indonesia. Sampai kemudian, sekitar dua bulan lalu, dia mengabarkan sesuatu yang sangat mengejutkan. “Aku kena kanker,” katanya lewat telepon.

Dan ganas. Dan dia sekarat.

Kanker itu ada pada tulang kakinya, sedikit di atas lutut. Diagnosis terakhir menyebutkan bahwa kanker itu sudah stadium akut, dan berbahaya, dan satu-satunya solusi medis yang disarankan adalah amputasi. Jika tidak, katanya, kanker itu dikhawatirkan akan terus berkecambah.

Berita itu sangat mengejutkan. Kanker, kau tahu, adalah hal terakhir yang ingin saya dengar dari siapa pun. Dan amputasi, demi Tuhan, adalah hal yang sama sekali tidak ingin saya dengar menimpa siapa pun—khususnya kawan baik saya. Tetapi kombinasi yang sangat mengerikan itu—kanker dan amputasi—sekarang saya dengar dari mulut kawan yang sangat saya sayangi, bencana yang menimpanya.

Jadi saya pun berangkat menuju tempatnya dirawat, dan mendapatinya terbaring dengan wajah penuh duka. Tidak ada lagi wajah bersemangat yang biasa saya saksikan, tidak ada lagi sosok penuh energi yang biasa saya kenali. Dia sekarat. Dan sekerat kanker sedang mengancam hidupnya.

Saya duduk di sisi pembaringannya waktu itu, menatap matanya, dan bertanya, “Apa yang bisa kubantu?”

Meski tubuhnya digerogoti kanker, kepalanya masih sehat, dan otaknya masih jernih. Dia menyatakan, “Menurut dokter, aku punya waktu tiga minggu untuk memikirkan kanker sialan ini. Setelah itu, aku harus memilih—hidup dengan kaki diamputasi, atau aku akan mati. So, tolong carikan semua informasi yang sekiranya dapat membantuku. Siapa tahu ada alternatif yang belum diketahui dokter di sini. Bagaimana pun, aku tidak ingin kehilangan kaki.”

Saya memahami maksudnya. Maka, sejak itu, saya pun mulai mengumpulkan semua bahan dan informasi yang bisa saya dapatkan tentang kanker, dan saya benar-benar khusyuk mempelajarinya. Selama beberapa minggu terakhir, saya mempelajari semua hal tentang kanker yang ada di planet ini—buku, makalah, paper, CD—dari pagi sampai pagi lagi, dan rasanya saya jadi mahasiswa kedokteran spesialis kanker. Dalam kesibukan urusan kanker itulah, saya jadi terlupa pada Twitter.

Saya mau melakukan semua itu untuk teman saya, karena saya tahu dia juga akan melakukan hal yang sama jika sayalah yang sekarang ada di posisinya. Saya tidak ingin kehilangan dia.

Hasilnya, berdasarkan yang saya pelajari, waktunya tidak cukup. Sementara saya bersetubuh dengan makalah dan buku-buku, kanker itu terus hidup, berdenyut, dan bergerak. Ia seperti monster yang diam-diam menguasaimu, tanpa kau tahu. Memang ada beberapa alternatif untuk dapat mengalahkan kanker itu tanpa amputasi—dari pengobatan herbal atau alternatif lain yang bisa dicoba—tetapi waktunya sudah mendesak dan tidak cukup.

Itu pula yang saya katakan kepadanya. “Kita terlambat mengetahui kanker itu, dan sekarang kita kehabisan waktu.”

Dia memahami maksudnya. Jadi, sebagaimana yang telah disarankan dokternya, dia pun merelakan kakinya diamputasi. Oh, well, ini mungkin kedengarannya ringan, tetapi percayalah saya menulisnya dengan sedih—sangat sedih.

Satu minggu setelah amputasi itu, saya menemuinya. Dia masih sama seperti dulu, hanya kali ini tak lagi memiliki sebelah kaki. “Jadi, bagaimana kabarmu?”

“Pernah lebih baik.” Dia tersenyum lemah. “Kadang-kadang, aku masih merasakan punya kaki, dan ingin menggerakkannya. Tapi lalu sadar, kakiku sudah tak ada.”

Hal semacam itu memang biasa terjadi pada orang yang baru diamputasi—suatu perasaan ingin menggerakkan bagian tubuh yang baru hilang, karena rasanya organ tubuh itu masih ada di sana. Saraf-saraf tubuh terpusat di otak, dan otak butuh waktu untuk menyadari suatu organ tubuh telah hilang. Karenanya, ketika otak memerintahkan untuk menggerakkan suatu organ, dan ternyata organ itu telah tak ada, kesadaran pasien amputasi seperti terlecut cambuk. Kesedihan. Kehilangan. Perasaan terluka.

“Setidaknya kamu tetap hidup,” hibur saya. “Dan kamu tetap dapat keluyuran ke mana-mana seperti biasa.”

Dia tersenyum. Lalu berkata perlahan-lahan, “Kamu tahu aku tidak memerlukan hiburan semacam itu. Tapi, well, kanker keparat ini, kenapa dia tidak memberitahu kalau sedang menyerang tubuhku?”

“Mungkin ada gejala,” sahut saya, “biasanya disebut gejala kanker. Tapi gejala itu biasanya tidak terlalu tampak, dan kita tidak menghiraukannya. Ingat waktu kamu mengeluh mudah capek tempo hari? Sepertinya itu gejala, tapi mungkin kamu tidak akan meributkannya, bahkan tidak percaya kalau itu gejala kanker.”

“Ya, mungkin begitu.”

....
....

Ya, mungkin begitu. Mungkin begitu pula kanker lain yang mulai menggerogoti diri kita perlahan-lahan, tanpa disadari. Bukan hanya kanker dalam tubuh, tetapi juga kanker dalam kehidupan yang lebih luas. Kita tak pernah tahu ketika sesosok monster tak terlihat memasuki hidup kita, kemudian perlahan-lahan berkecambah dan mulai menggerogoti serta mengisap hidup kita. Perlahan-lahan… tanpa suara… dan kita tak menyadarinya.

Sebagaimana kanker dalam tubuh, kehadiran monster dalam hidup kita sering kali terdeteksi setelah terlambat. Setelah semuanya kacau. Semuanya rusak. Lalu kita sekarat. Dan mati.

Kadang-kadang, alam semesta masih memberikan kesempatan hidup, dan dia mengamputasi monster itu dari hidup kita—dengan berbagai cara yang dilakukannya. Pada waktu itu, kita mungkin merasa kehilangan, sedih, tetapi—di luar pengetahuan kita—begitulah cara alam semesta menyingkirkan monster dari kehidupan kita, agar kita tetap hidup sebagaimana mestinya.

Dan kanker berbahaya dalam hidup kita kadang berbentuk pacar, teman, kebiasaan, gaya hidup, atau apa pun. Ketika kanker mulai masuk dan menyatu dengan hidup kita, sering kali kita tidak menyadarinya. Kita masih merasa sehat, masih tetap hidup, masih tetap menjalani hari-hari sebagaimana biasa. Tetapi kanker itu terus berkecambah, dan tanpa kita sadari terus mengisap hidup kita. Beberapa orang mati akibat kanker itu, beberapa yang lain tetap hidup namun merasa kehilangan karena alam semesta melakukan amputasi terhadap kankernya.

Tiba-tiba saya mulai menyadari, bahwa kehilangan sesuatu dalam hidup kadang-kadang menjadi cara alam semesta untuk memberitahu kita, bahwa dia telah menyelamatkan hidup kita. Kehilangan pacar, kehilangan teman, kehilangan sesuatu, mungkin terasa berat dan menyakitkan. Tetapi kita hidup—tetap hidup. Bahkan, kadang kita bisa hidup lebih baik setelah kehilangan itu. Kanker telah pergi. Alam semesta telah melakukan amputasi.

Sekarang, teman saya telah mulai dapat menerima kenyataan kehilangan kakinya, dan tugas saya mempelajari setumpuk makalah tentang kanker telah selesai. Sekarang saya punya waktu lagi untuk menulis ocehan di Twitter. Sewaktu-waktu saya menyadari ada follower yang menghilang, saya tidak akan merisaukannya. Mungkin, sebaiknya saya justru bersyukur karenanya.
 

Mengapa Steven Seagal Tidak Pernah Kalah dalam Film-filmnya, dan Mengapa-mengapa Lain di Kepala Saya

Pertama kali mengenal nama Steven Seagal adalah ketika menonton Undersiege, film yang kemudian membesarkan nama Seagal. Sebagaimana banyak penonton film, saya juga menilai Undersiege sebagai film bagus. So, ketika Undersiege dibuat sekuelnya, saya pun memastikan diri untuk menonton.

Seusai Undersiege, Steven Seagal juga membintangi film-film lain—hingga di masa sekarang. Entah sudah berapa banyak film yang pernah dibintanginya selama masa-masa itu, namun yang jelas saya cukup banyak menonton filmnya, di antaranya Urban Justice, Today You Die, Shadow Man, Ruslan, Pistol Whipped, Kill Switch, Attack Force, dan puluhan lainnya.

Banyaknya film Steven Seagal yang saya tonton, karena saya penasaran ingin menyaksikan dia sekali-sekali kalah. Tetapi rupanya harapan saya tak pernah terkabul. Di antara puluhan film Seagal yang pernah saya tonton, tidak ada satu pun yang memperlihatkan Steven Seagal kalah, apalagi sampai terbunuh. Artinya, dalam setiap pertempuran, Steven Seagal selalu dan pasti menang.

Mengapa Steven Seagal tidak pernah kalah dalam film-film yang dibintanginya? Tentu saja jawabannya mudah, karena dia menjadi tokoh utama, sekaligus protagonis. Kemudian, belakangan saya tahu, dia juga menjadi produser, bahkan penulis skenario sebagian besar film yang dibintanginya. Artinya, dia bisa memerankan apa saja yang diinginkannya, dengan jalan cerita semustahil apa pun yang dibayangkannya—dan dia selalu menang, alias tak pernah kalah.

Setelah yakin Steven Seagal tak pernah kalah sejak film pertama sampai filmnya yang terbaru, saya pun jadi pesimis bahkan apatis untuk dapat melihat Seagal kalah dalam filmnya. So, ketika mendengar film Machette dirilis, dan dalam film itu Seagal tewas, saya pun langsung tertarik.

Machette adalah film yang dibintangi Danny Trejo, Robert De Niro, Jessica Alba, Don Johnson, Jeff Fahey, Michelle Rodriguez, Lindsay Lohan, dan Steven Seagal. Berbeda dengan film-film Seagal yang lain, dalam film itu ia menjadi penjahat alias antagonis. Dalam film itu memang dikisahkan tokoh yang diperankan Steven Seagal tewas. Tetapi tewasnya benar-benar tidak seperti yang saya harapkan.

Dalam pertempuran hidup-mati antara Danny Trejo dan Steven Seagal, sebilah pedang menusuk perut Seagal. Tapi dia tidak langsung tewas. Sebaliknya, Seagal “mengorek-ngorek” perutnya sendiri dengan pedang itu, alias tidak mau disebut mati terbunuh, dan lebih suka jika orang mengingatnya sebagai “harakiri”. (Untuk lebih memahami maksud saya, ada baiknya untuk menonton filmnya secara langsung).

Ini aneh, pikir saya.

Aneh, karena seolah-olah Steven Seagal memang tidak pernah mau kalah, apa pun dan bagaimana pun kisahnya.

Jadi, mengapa Steven Seagal tidak pernah kalah dalam film-filmnya? Bukan karena ia selalu menjadi protagonis atau sang hero. Bukan karena ia menjadi produser dan penulis skenario filmnya. Bukan pula karena ia tidak ingin mengecewakan para penggemarnya. Steven Seagal tidak pernah kalah dalam film-film yang dibintanginya, karena… itu membuktikan kebenaran teori Freud.

Enough, jawaban itu sudah terlalu panjang, masih banyak pertanyaan lain di kepala saya. So, sekarang tinggalkan Steven Seagal, dan lanjut ke pertanyaan-pertanyaan lain di kepala saya….


Mengapa Saleem Iklim selalu ngotot kalau menyanyi?

Yeah, suka-suka dia, laaah. Orang dia yang nyanyi ini!


Mengapa rambut Leonardo DiCaprio selalu modis?

Dalam film Romeo & Juliet, rambut Leonardo DiCaprio selalu modis, dalam arti terus dalam kondisi enak dilihat (tidak awut-awutan) meski dia jungkir balik tak karuan.

Begitu pun dalam film Titanic. Dalam film itu, Leonardo DiCaprio berdiri di buritan kapal, dan rambutnya tertiup angin. Tapi rambutnya tetap saja modis—enak dilihat, tidak awut-awutan. Dia juga sempat menyelam ke dalam air ketika air laut mulai memasuki Titanic. Tapi meski telah basah kuyup sekali pun, rambutnya tetap saja modis.

Dan saya benar-benar terpesona, sekaligus ingin sekali memiliki rambut seperti itu. Dengan segala kegoblokan, saya menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan dan mencari cara agar bisa memiliki rambut sehebat itu!

Waktu menonton kedua film tersebut, saya masih SMP atau awal SMA. Dan, sebagai cowok culun campur tolol, saya benar-benar tidak paham kalau rambut sialan itu sebenarnya tidak seperti yang saya lihat. Belakangan saya tahu, rambut Leonardo DiCaprio yang selalu modis dalam film itu adalah kerjaan salon. Tiap beberapa menit sekali—selama suting film-film tersebut—rambut Leonardo DiCaprio terus-menerus dibenahi mbak-mbak salon yang telah siap di lokasi suting.

Ketika tahu hal itu, saya misuh-misuh.


Mengapa banyak cewek yang cemburu pada Manohara?

Karena Manohara ada dalam film Titanic. Hingga detik ini saya masih bertanya-tanya, ada hubungan apa antara Manohara dengan Kate Winslet.


Mengapa cewek-cewek suka Justin Bieber?


Karena ingin punya pacar seperti dia.

Salah! Cewek-cewek suka Justin Bieber, justru karena tidak ingin punya pacar seperti dia!

 
;