Minggu, 31 Juli 2011

By The Way…

Yang paling mengerikan bukan kesalahan atau kekeliruan.

Yang mengerikan adalah kedangkalan dalam memahami kebenaran—pikiran yang dangkal sehingga mudah menyalahkan.

Senin, 25 Juli 2011

Wanita yang Ingin Membesarkan Payudara

Ketergesa-gesaan dan kedangkalan adalah penyakit batin abad 20.
—Alexander Solzhenitsyn


Ini kisah yang terjadi di Yahoo! Answer beberapa tahun yang lalu. Seperti kita tahu, Yahoo! Answer adalah tempat berkumpul untuk saling bertanya-jawab, berbagi ilmu dan pengetahuan. Melalui Yahoo! Answer, kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ingin kita tahu jawabannya, dan melalui forum itu pula kita dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada, sesuai pengetahuan dan kemampuan kita.

Nah, suatu hari, ada seorang anggota forum yang mengajukan pertanyaan tentang cara membesarkan payudara. Tentu saja orang yang mengajukan pertanyaan tersebut seorang wanita. Berdasarkan memori saya, berikut inilah pertanyaan yang dia tulis waktu itu:

Ada yang tahu nggak, gimana cara membesarkan payudara yang aman? Soalnya saya merasa payudara saya kurang besar, atau kurang sesuai dengan perkembangan usia saya.

Coba lihat dan perhatikan pertanyaan di atas. Dengan sepenuh objektivitas, kita tentunya dapat menilai bahwa pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang wajar, netral, sah, bahkan manusiawi. Seorang wanita yang merasa payudaranya kurang besar ingin membesarkan payudaranya. Itu normal—ditinjau dari sudut pandang apa pun.

Atas pertanyaan tersebut, teman-teman di Yahoo! Answer pun kemudian mulai memberikan jawabannya. Jawaban yang diberikan tentu jawaban-jawaban yang relevan dengan pertanyaan di atas—mulai cara yang alami semisal senam, sampai penggunaan obat-obatan tertentu, bahkan ada yang menawarkan cara operasi plastik dan penggunaan silikon.

Sampai di situ, semuanya berjalan normal—dan manusiawi. Apa pun jawabannya, semuanya relevan dengan pertanyaan di atas.

Tapi kemudian muncul seseorang—kita sebut saja—bernama X. Si X ini sudah dikenal sebagai “biang kerok” di sana. Bukannya memberikan jawaban yang relevan atas pertanyaan tadi, si X justru mengajukan tuduhan-tuduhan tak berdasar dengan dalih agama, dan berkhotbah macam-macam dengan menyitir ayat-ayat suci dan hadist Nabi.

Menurut X, wanita di atas yang ingin membesarkan payudaranya itu adalah wanita yang tidak taat dalam beragama, tidak mensyukuri pemberian Tuhan, dan bla-bla-bla, dan X pun kemudian memuntahkan nasihat-nasihat tentang ajaran agama, tentang perlunya kita mengetahui perjalanan hidup tokoh-tokoh teladan yang tidak pernah mempersoalkan bentuk tubuh, tentang ancaman neraka bagi para wanita yang… bla-bla-bla…

Omigoooooddd, selalu ada orang-orang seperti ini di mana-mana, bahkan di forum netral seperti Yahoo! Answer sekalipun. Orang-orang seperti itu memiliki ciri khas yang sama, yakni tidak bisa membedakan konteks. Akibatnya, di mana pun dia muncul, selalu saja “salah alamat”, dan membuat orang-orang lain di sekelilingnya jadi ilfil.

Sampai di sini, saya perlu menegaskan bahwa saya tidak anti agama. Lihatlah konteksnya. Yang saya maksudkan di sini adalah, wanita yang ingin membesarkan payudara bukanlah wanita yang bisa langsung dicap sebagai wanita rusak yang tidak menjalankan ajaran agamanya. Bahwa wanita yang ingin membesarkan payudara tidak secara otomatis dapat divonis sebagai wanita yang tidak mensyukuri pemberian Tuhan. Sekali lagi, lihatlah konteksnya.

Ini kisah manusia yang sangat manusiawi. Wanita yang ingin membesarkan payudara itu normal. Netral. Sah. Tidak ada yang salah di sini—karena itu sangat manusiawi. Jadi kenapa wanita yang normal seperti itu langsung dituduh sebagai wanita rusak, sehingga langsung dimuntahi ceramah-ceramah agama segala macam?

Keinginan untuk cantik adalah keinginan normal setiap wanita, dan keinginan semacam itu adalah hal wajar, dan manusiawi. Karenanya, ketika seorang wanita merasa ingin membesarkan payudaranya, itu bukan dilandasi karena tidak mau menjalankan agamanya atau karena ingin menentang kehendak Tuhan, tetapi semata-mata karena ingin bisa tampil (lebih) cantik. Apa salahnya…???

Jangankan naluri untuk cantik, bahkan naluri untuk narsis pun sesuatu yang manusiawi. Dan, sekali lagi, itu sah! Kecantikan selalu berhubungan dengan naluri narsis. Jika naluri narsis fisikal dianggap sebagai penentangan terhadap ajaran agama, maka narsis psikologis berupa kesukaan menyemburkan nasihat-nasihat agama juga merupakan penentangan terhadap ajaran agama.

Endapkan fakta itu sejenak.

Jika kita mau jujur pada diri sendiri, kita akan sampai pada kesadaran bahwa kepuasan yang kita rasakan setelah menyemburkan nasihat-nasihat itu adalah sebentuk narsis psikologis, sebentuk upaya kita dalam menunjukkan kepada orang lain bahwa kita adalah orang yang (lebih) tahu ajaran agama. Intinya, sama-sama narsis!

Orang yang sangat suka menasihati orang lain berdasarkan ajaran agama biasanya berdalih bahwa agama mengajarkan kita saling menasihati. Of course! Agama memang mengajarkan kita saling nasihat-menasihati di dalam kebaikan. Tapi lihatlah konteksnya. Artinya, tidak semua nasihat yang baik harus berupa ayat-ayat suci.

Sebagaimana contoh di atas tadi. Wanita yang ingin membesarkan payudaranya sama sekali tidak bertujuan untuk menentang ajaran agama. Karenanya, jika kita memberikan jawaban yang baik untuknya atas hal yang berhubungan (relevan) dengan pertanyaannya, maka itu pun sudah merupakan “nasihat-menasihati dalam hal kebaikan”. Untuk kesejuta kalinya, lihatlah konteksnya!

Ehmm, saya sendiri bukan orang yang narsis. Saya bahkan benci kamera. Tetapi, meski begitu, saya tetap manusia yang manusiawi. Saya ingin kulit saya lebih mulus, saya ingin lebih tampan, saya ingin perut saya selalu rata, dan lain-lain. Apakah karena keinginan-keinginan yang manusiawi itu kemudian menjadikan saya sebagai penentang kehendak Tuhan dan pendusta agama…??? Oh, come on, yang benar saja!

Jadi, marilah kita tempatkan ajaran agama sesuai proporsinya. Yaitu di dalam diri kita, dan bukan di luar kita. Agama adalah representasi hidup manusia, dan bukan sarana unjuk diri di hadapan orang lain. Fungsi penting dan mendasar agama bagi manusia adalah untuk memperbaiki diri, dan bukan senjata untuk memaksakan sesuatu kepada orang lain.

Di sekeliling kita, tidak sedikit orang yang dijauhi bahkan dikucilkan dari pergaulan karena kesalahan dalam memahami persoalan ini. Orang-orang semacam itu biasanya sangat hobi menyemburkan nasihat dan petuah-petuah agama tanpa melihat konteksnya. Akibatnya, orang-orang di sekelilingnya pun jadi tidak nyaman, dan kemudian memilih untuk menjauh dari orang bersangkutan.

George Bernard Shaw, penulis terkenal Inggris kelahiran Irlandia, juga pernah mengalami hal semacam itu ketika dulu masih kuliah. Karena baru kenal agama, dia pun jadi “genit”—persis seperti bocah yang baru bisa pencak silat. Kemana-mana penginnya pamer jurus.

Jadi, kemana pun Bernard Shaw ikut ngumpul dengan teman-temannya di kampus, selalu saja keluar petuah-petuah agama dari mulutnya. Tujuan Bernard Shaw mungkin baik, yakni untuk menyebarkan kebaikan pada teman-temannya. Tetapi, teman-temannya justru menjauh darinya. Perlahan namun pasti, setiap kali Bernard Shaw muncul, teman-temannya akan menyingkir satu per satu.

Ketika sadar dia mulai tidak punya kawan, Bernard Shaw menemui dosennya untuk mengadukan permasalahannya.

Untungnya, si dosen orang yang bijak. Dia menyatakan pada Bernard Shaw yang waktu itu masih remaja, “Bernard, tujuanmu mungkin baik, tapi teman-temanmu jadi tidak nyaman, karena kau sering mengeluarkan nasihat dan petuah agama secara tidak relevan. Hal itu, mungkin tanpa kausadari, menjadikan mereka merasa lebih rendah darimu, dan itulah kenapa mereka lebih memilih menjauh darimu.”

Untungnya, Bernard Shaw orang yang berjiwa besar. Dia mematuhi saran dosennya, dan sejak itu dia mulai belajar untuk menahan mulutnya, dan tidak sembarangan lagi menyemburkan petuah-petuah agama secara tidak relevan seperti sebelumnya.

Ketika dia mampu melakukan hal itu, dia tidak hanya menyelamatkan persahabatannya dengan teman-temannya, tetapi juga menyelamatkan dirinya sendiri. Kelak, ketika dia akhirnya menjadi penulis besar dunia, Bernard Shaw menyadari bahwa petuah dan nasihat yang murahan itu memuakkan. Hasilnya, dia pun mampu menulis dengan objektif, tulisan-tulisannya sangat jernih… dan selanjutnya adalah sejarah.

In the end, agama adalah sekumpulan nilai luhur. Dan nilai luhur itu akan berubah menjadi barang murahan jika kita mengobralkannya di pinggir-pinggir jalan.

Kebiasaan Buruk Cewek yang Tidak Disukai Kebanyakan Cowok, tapi Jarang Dipahami apalagi Disadari Cewek

Sok jaim.

Inner Beauty

 Waktu untuk berbahagia itu sekarang, tempat untuk berbahagia itu di sini,
dan cara untuk berbahagia adalah dengan membuat orang lain bahagia.
Taylor Coleridge


Ada tiga hal penting dalam hidup ini. Yang pertama adalah kebaikan hati, yang kedua adalah kebaikan hati, dan yang ketiga adalah kebaikan hati juga.

Kata Mother Teresa, “Tebarkan cinta kemana pun kau pergi; pertama-tama di dalam rumahmu sendiri. Berikan cinta kepada anak-anakmu, kepada istri atau suamimu, kepada seorang tetangga sebelah rumah… Jangan pernah membiarkan seseorang datang kepadamu lalu pergi begitu saja tanpa merasa lebih bahagia dan lebih baik. Jadilah ekspresi hidup dari kebaikan hati Tuhan; kebaikan hati di wajahmu, kebaikan hati di matamu, kebaikan hati dalam senyumanmu, kebaikan hati dalam salam hangatmu.”

....
....

Waktu untuk berbahagia itu sekarang, tempat untuk berbahagia itu di sini, dan cara untuk berbahagia adalah membuat orang lain berbahagia.

Touch of Love

Kita semua membutuhkan cinta.
Aku tidak tahu apa yang lebih baik dari hal itu.
Paul McCartney


Apakah kita masih ingat bahwa satu-satunya milik kita yang tidak akan berkurang sedikit pun meski kita memberikannya kepada orang lain adalah cinta?

Apakah kita masih ingat bahwa satu-satunya milik kita yang pasti tidak ditolak oleh orang lain adalah ketika kita memberikan cinta?

Apakah kita masih ingat bahwa energi terbesar adalah energi cinta yang seolah sanggup menggerakkan segalanya?

Dan... apakah kita masih ingat bahwa hanya dengan cinta saja kita bisa memperoleh semua yang kita inginkan?

Naungan Sejuk Keteduhan



Perjalanan hidup yang terkadang begitu berat dan melelahkan ini sering kali menyadarkan kita akan arti pentingnya kehadiran orang lain. Keberadaan sahabat di sekeliling kita bisa memberikan motivasi saat kita mulai menyerah, meringankan beban batin saat kita dirundung duka, serta melengkapi kebahagiaan saat kita meraih cita-cita.

Begitu pentingnya orang lain dan arti persahabatan ini, sampai-sampai Samuel Johnson menyatakan, “Saya menganggap hari dimana saya tak berhasil membina suatu persahabatan baru sebagai hari yang hilang percuma… dan membiarkan persahabatan mati serta mendiamkannya jelas tidak bijaksana. Itu berarti dengan sengaja kita membuang satu hal yang sebenarnya bisa merupakan hiburan dalam perjalanan hidup yang meletihkan ini.”

Karena besarnya makna persahabatan pula yang membuat Kahlil Gibran menulis dalam salah satu prosa puitisnya, “Persahabatan adalah pemenuhan kebutuhan jiwa. Ladang hati yang dengan kasih kalian taburi dan kalian pungut buahnya dengan penuh rasa terima kasih. Naungan sejuk keteduhan, api unggun kehangatan jiwa. Karena kalian menghampiri di kala hati gersang kelaparan, dan mencarinya di kala jiwa perlu kedamaian.”

Jadilah sahabatku.


Jumat, 15 Juli 2011

Ah, ABG Zaman Sekarang…

*pusingcampurmupeng*

Gibran, Sang Lajang

Rahasiakanlah dirimu, Cintaku.


Kahlil Gibran seorang pria romantis, meski dia tak menikah sampai mati. Sepanjang hidupnya, ada tiga wanita yang sangat dicintai Gibran, yaitu Wardah al-Hani, Mary Hasskel, dan May Ziadah.

Dengan ketiga wanita itu, Gibran menjalin hubungan yang unik, sekaligus misterius. Di antara ketiganya pula, publik hanya mengenal Mary Hasskel—sedang keberadaan Wardah al-Hani dan May Ziadah tak pernah terungkap ke publik, hingga akhir hayat Gibran.

Nama Wardah al-Hani pertama kali dikenal publik ketika Gibran menuliskannya dalam sebuah prosa. Meski Gibran tidak pernah menyatakan bahwa Wardah al-Hani adalah tokoh nyata, tetapi penggambaran Gibran atas wanita itu dalam kisahnya membuat para pembacanya meyakini kalau wanita itu benar-benar ada.

Lebih dari itu, para pemuja Gibran bahkan meyakini bahwa Wardah al-Hani inilah cinta pertama Gibran—cinta dengan akhir sad ending yang kelak menjadikan Gibran seperti tak bisa jatuh cinta lagi. Sampai akhir hayatnya, Gibran tak pernah mengkonfirmasi keberadaan atau siapa sesungguhnya Wardah al-Hani, tetapi publik pecintanya tetap yakin bahwa dia wanita yang menjadi cinta pertama Gibran.

Yang kedua, May Ziadah, adalah wanita yang mampu membuat Gibran jatuh cinta, tetapi publik juga tak pernah tahu siapa sesungguhnya wanita ini. Jangankan orang lain, bahkan Gibran sendiri tidak tahu seperti apa wanita itu.

Awal hubungan Gibran dengan May Ziadah adalah ketika May mengirim surat kepada Gibran, karena terpesona dengan karya-karya Gibran. Karena isi surat May yang istimewa, Gibran pun membalasnya—dan setelah itu keduanya rajin berkirim surat, sampai beberapa tahun. Di dalam surat-surat itulah, keduanya saling menyatakan cinta, dan Gibran bahkan menyebut surat-surat May sebagai “nyala api biru di hatiku”.

Ketika Gibran wafat, keluarganya menemukan tumpukan surat-surat itu, lalu berusaha melacak ke alamat May Ziadah. Surat-surat Gibran di tempat May Ziadah juga masih terkumpul rapi—dan kemudian surat-surat keduanya dikodifikasi dan diterbitkan. Dalam edisi bahasa Inggris, kumpulan surat-surat cinta keduanya diterbitkan dalam buku berjudul “Beloved Prophet”.

Tetapi sampai surat-surat itu dibukukan pun, sosok May Ziadah tak pernah dilihat atau diketahui publik—sehingga keberadaannya sama misteriusnya dengan sosok Wardah al-Hani yang diyakini sebagai cinta pertama Gibran.

Wanita ketiga, Mary Hasskel, adalah satu-satunya cinta Gibran yang dikenal dan diketahui sosoknya oleh publik. Hasskel adalah wanita Amerika yang bisa dibilang ikut mempengaruhi kehidupan Gibran dan karya-karyanya. Hasskel pula yang berjasa besar dalam memperkenalkan Kahlil Gibran ke publik dunia melalui lukisan-lukisannya.

Ketika pertama kali mereka bertemu, Gibran masih seorang pemuda miskin. Pekerjaannya sebagai pelukis dan penulis waktu itu belum memberikan uang yang cukup untuknya, sehingga hidupnya pun pas-pasan. Hasskel meyakini bakat Gibran—khususnya dalam seni lukis—dan Hasskel pun membiayai acara-acara pameran lukisan untuk Gibran.

Melalui pameran-pameran yang diselenggarakan Hasskel, Gibran dapat menjual lukisan-lukisan karyanya dan berhasil mengumpulkan cukup banyak uang. Setelah itulah Gibran kemudian bisa menulis dengan tenang karena hidupnya sudah cukup nyaman—dan dari situ pula ia kemudian melahirkan karya-karya besar semacam “The Prophet” yang mengguncangkan dunia.

Bagi Gibran sendiri, Mary Hasskel adalah wanita tempatnya mendapatkan kasih sayang. Secara usia, Hasskel lebih tua dibanding Gibran, dan sepertinya Gibran menjadikan keberadaan Hasskel lebih dari seorang kekasih yang dicintai, tetapi juga sebagai kakak atau ibu yang ia hormati. Hasskel mengetahui kenyataan itu, dan ia pun menjalankan perannya dengan baik—meski dalam hati ia menyimpan perasaan cinta kepada Gibran.

Suatu malam, Mary Hasskel berbincang secara intim dengan Kahlil Gibran, dan mereka membicarakan tentang cinta dan pernikahan.

“Kahlil,” ujar Mary Hasskel, “selama bersamamu, aku belum pernah melihat seorang wanita pun yang dekat denganmu.”

“Oh, Mary,” sahut Gibran, “kaulah yang paling dekat denganku.”

“Maksudku, tidakkah kau ingin menikah dengan seseorang—menjalani hidup berkeluarga sebagaimana laki-laki umumnya?”

Gibran tersenyum. Setelah mengisap rokoknya, dia berkata, “Aku ini seorang seniman, Mary. Hidupku hanya untuk menulis dan melukis. Kau tahu, kerjaku tidak bisa dibatasi waktu atau memiliki jadwal tetap seperti orang-orang lain. Jika memiliki istri dan keluarga, aku khawatir akan sering menelantarkan mereka karena aku akan lebih mencurahkan pikiran dan hatiku untuk pekerjaanku daripada untuknya.”

“Kahlil, kau terlalu jahat pada dirimu sendiri. Kau tentunya tak seburuk itu.”

“Kau baik sekali, Mary. Tetapi aku lebih suka menahan naluri manusiaku daripada harus menyakiti perasaan istriku, atau anak-anakku. Setelah menikah dan berkeluarga, aku tentunya harus membagi diriku—hati, jiwa, pikiran—untuk istri dan anak-anakku. Rasanya aku tidak mampu melakukannya, karena bahkan aku merasa masih kekurangan waktu untuk mengurusi diriku sendiri.”

“Kau tahu, Kahlil, perspektif orang biasanya akan berubah setelah melakukannya. Maksudku, kau berpikir seperti itu karena kau masih melajang. Tetapi, setelah menikah dan berkeluarga, kau pun akan tahu bahwa ternyata kau bisa membagi perhatianmu untuk mereka.”

Gibran terdiam. Mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan-lahan. Setelah itu dia berbisik, “Aku boleh menceritakan sesuatu?”

“Aku mendengarkan.”

“Dulu, aku memiliki kawan-kawan dan sahabat yang hebat. Mereka orang-orang istimewa dengan pikiran dan hati yang sama istimewanya. Mereka memiliki impian, visi, serta cakrawala tak terbatas. Kau tahu siapa mereka—nama mereka terlalu terkenal untuk diabaikan. Lalu suatu hari mereka berpikir untuk menikah dan berkeluarga—dengan pola pikir seperti yang tadi kaukatakan kepadaku. Dengan sepenuh keyakinan, mereka pun menikah dan yakin akan dapat membagi dirinya untuk keluarganya, juga untuk visi yang dicintainya…”

Gibran menyedot asap rokoknya kembali, lalu melanjutkan, “Tapi kemudian hidup dan visi mereka selesai ketika pernikahan itu terjadi. Orang-orang yang dulu kukenal hebat dan istimewa itu berubah menjadi orang-orang biasa yang kini sibuk dengan dunia kecilnya—istri dan anak-anaknya dan kebutuhan hidup mereka—hingga lupa sama sekali pada visi serta impian besar mereka sebelumnya. Mereka bukan lagi orang hebat yang dulu kukenali—mereka kini adalah seorang suami dan ayah yang kehabisan waktu untuk mencari nafkah dan mengurusi keluarganya. Dunia tidak berubah, Mary, tetapi merekalah yang berubah.”

“Kahlil, tidak semuanya seperti itu, kan?”

“Mungkin tidak—tapi sayangnya semua yang kukenal mengalami hal sama seperti itu. Tentu saja aku tidak menyalahkan mereka—karena hidup masing-masing orang adalah pilihan yang diambilnya. Hanya saja, aku khawatir akan mengalami hal sama. Jika aku menikah, aku khawatir akan terlalu mencintai keluargaku hingga meninggalkan visi dan impianku. Dan jika aku masih mencintai visi serta impianku, aku khawatir akan menelantarkan keluargaku.”

Melihat wajah Gibran yang keruh, Mary menyentuh tangan Gibran lalu menggenggamnya. Dan dengan berbisik, Gibran menyatakan, “Itulah kenapa aku tetap mempertahankan kesendirianku. Aku mencintai kesunyian ini, dan aku ingin tetap jatuh cinta kepada keheningan…”

….
….

Sampai akhir hayatnya, Kahlil Gibran tetap melajang. Dia tidak memiliki istri dan anak-anak, tetapi dia meninggalkan anak-anak ruhani yang luar biasa, serta berjuta-juta orang yang mencintai dan mengaguminya. Karya-karyanya menjadi anak-anak yang abadi, dan jutaan orang yang mencintai karyanya menjadi mempelai di jiwanya.

Hari ini, saya telah membaca “The Prophet” dan “The Madman” yang ditulis Gibran, lebih dari empat puluh kali—dan saya tak pernah berhenti terpesona oleh isinya. Hari ini pun saya membayangkan, kalau saja Gibran menikah dan berkeluarga, mungkin dia tak akan punya waktu melahirkan karya-karya besar itu, karena sudah terlalu sibuk mencintai istri dan anak-anaknya.

Hidup adalah soal pilihan. Menikah atau melajang adalah hak setiap orang. Tetapi, saya meyakini, dunia patut berterima kasih atas pilihan yang diambil Kahlil Gibran.

Harga Capcay Naik Tiap Tahun (3)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Jadi, saya pikir, jika hal seperti ini terus diteruskan setiap kali lebaran datang, maka akan tiba suatu masa di mana harga seporsi capcay sebesar satu juta rupiah!

Well, pikir saya lagi, masalah ini sudah seharusnya dibicarakan secara ilmiah dan akademis, karena kenaikan harga capcay ini sudah tak bisa dinalar akal sehat.

Kalau suatu kenaikan harga terjadi karena adanya kenaikan harga BBM, misalnya, kita masih bisa memaklumi. Sekali harga BBM naik, ia sulit turun kembali. Karenanya sangat wajar jika suatu harga barang (khususnya yang menggunakan BBM) ikut naik begitu harga BBM naik, dan kemudian harganya tidak turun lagi. Itu wajar, sesuai hukum alam, sesuai teori ekonomi, tidak menyalahi sunnatullah.

Tetapi jika suatu harga (khususnya lagi harga capcay) yang naik karena beralasan “maklumlah, lebaran”, dan kemudian kenaikan harga itu tidak pernah turun lagi, bahkan terus naik seiring datangnya waktu lebaran selanjutnya, dan terus begitu seterusnya… di mana letak logikanya?

Jika kenaikan harga disebabkan karena adanya lebaran, yang mungkin disebabkan harga-harga bahan baku naik pada waktu lebaran, maka tentunya kenaikan harga itu harus turun kembali setelah lebaran berlalu—karena harga bahan baku toh tentunya juga sudah turun.

Jadi, apa yang menyebabkan harga capcay tidak turun dari kenaikan harganya setelah lebaran…?

Dari pertanyaan ini, saya bisa mengajukan tiga jawaban.

Jawaban pertama, kita bisa mengacu pada teori para pakar ekonomi. Bahwa permintaan yang tinggi terhadap suatu komoditas akan mengakibatkan harga meningkat. Well, mungkin peminat capcay tetap saja tidak berkurang, meski harganya terus dinaikkan, jadi harga capcay pun bisa terus asyik naik setiap tahun.

Jawaban kedua, kita mengacu pada teori para pakar sosial, yang menyatakan bahwa suatu momen besar (semisal lebaran) memang sering digunakan (baca: dimanfaatkan) secara eksploitatif. Para pedagang akan menaikkan harganya, bisnis angkutan akan menaikkan tarifnya, hotel dan motel dan losmen dan penginapan dan apa saja akan menaikkan covercharge-nya, dan Mister X si penjual capcay akan menaikkan harga capcay-nya. Persoalan apakah kemudian harga yang naik di waktu lebaran itu akan turun kembali seusai lebaran, jawabannya mengacu kembali pada hukum ekonomi.

Nah, jawaban ketiga, yang paling menggelisahkan, adalah jawaban para filsuf dan psikolog, yang menyatakan bahwa manusia adalah pemangsa manusia lainnya. Seperti yang diistilahkan Thomas Hobbes, homo homini lupus—manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

Kita stuck objek pembahasan ini pada topik naiknya harga capcay.

Kenapa harga capcay bisa naik? Ketika harga BBM naik, harga capcay ikut naik. Kita bisa memaklumi, karena itu wajar, sehat, logis, sesuai sunnatullah. Kalau kita mau menyalahkan, salahkan pemerintah!

Tetapi jika kenaikan harga capcay terjadi pada waktu lebaran, dan kenaikan itu beralasan karena suasana lebaran, tetapi kemudian harga yang naik itu tidak turun kembali ke harga yang wajar meski lebaran telah lama berlalu… saya jadi berpikir, bahwa sebaiknya kita tidak perlu merayakan lebaran—demi tetap menjaga agar harga capcay (dan juga harga barang-barang lainnya) tetap wajar dan masuk akal, agar masyarakat tidak diam-diam mengutuk lebaran.

Harga Capcay Naik Tiap Tahun (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Setiap tahun—saya ulangi, setiap tahun—harga capcay selalu saja naik. Kadang naiknya cuma seribu perak. Kadang dua ribu. Kadang tiga ribu. Sintingnya, kadang pula sampai empat ribu. Yang menjadi masalah, jika satu penjual capcay menaikkan harganya, maka penjual lain akan ikut menaikkan harga capcay mereka.

Nah, setelah melakukan penelitian yang amat rumit sekaligus nyaris membuat saya gila, akhirnya tertemukanlah fakta bahwa penyebab naiknya harga capcay adalah… lebaran!

Jadi, setiap kali lebaran datang, harga capcay akan naik. Pertama kali mendapati kenyataan ini, saya belum paham. Beberapa tahun yang lalu, seusai lebaran, saya membeli capcay di tempat Mister X. Sewaktu pelayan di sana menyodorkan bungkusan capcay dan saya membayarnya, si pelayan berfatwa, “Harganya naik, nih, Mas. Maklumlah, lebaran.”

Saya pun memaklumi. Tidak ada apa pun yang tidak dapat dimaklumi pada suasana lebaran. Termasuk kenaikan harga capcay. Jadi saya memaklumi kenaikan harga itu, dan berpikir bahwa harganya akan turun kembali setelah suasana lebaran berlalu. Waktu itu, kenaikan harganya cuma seribu perak.

Berbulan-bulan kemudian, setelah suasana lebaran benar-benar sudah tidak lagi terasakan, harga itu tidak juga turun. Kenaikan harga yang disebut “harga lebaran” itu tetap saja berlaku di waktu yang jelas-jelas tidak memiliki sangkut paut dengan lebaran.

Waktu itu saya tetap berusaha memaklumi. Toh hanya seribu perak ini, pikir saya. Ya, ya, meski kalau dihitung-hitung, seribu perak kali seratus juga seratus ribu!

Nah, lebaran tahun berikutnya, hal yang sama terjadi. Lagi-lagi si pelayan berfatwa, “Harganya naik, nih, Mas. Maklumlah, lebaran.”

Saya tetap belum paham. Dan dengan segala pemakluman seorang Muslim di waktu lebaran, saya pun memaklumi kenaikan harga itu. Kali ini, harganya naik dua ribu perak. Apalah arti dua ribu perak di hari lebaran, pikir saya dengan arif dan bijaksana.

Tetapi segala kearifan dan kebijaksanaan itu langsung lenyap dari diri saya, ketika mendapati fakta bahwa harga yang naik dua ribu perak itu tetap saja berlaku setelah lebaran lama berlalu. Waktu membayar capcay yang harganya sudah naik itu, saya memang diam saja—tidak komplain—tapi dalam hati ngedumel tidak ikhlas. Saya merasa telah dibodohi.

Gebleknya, kejadian semacam itu tetap saja terjadi pada lebaran selanjutnya. Setelah dua kali naik pada dua kali lebaran, harga capcay naik lagi di lebaran berikutnya. Dan kali ini kenaikan harganya tidak tanggung-tanggung. Empat ribu!

Ketika hal itu terjadi, cukup banyak pelanggan yang protes, termasuk saya. Akhirnya kenaikan harganya diturunkan, jadi tiga ribu perak. Tetapi kenaikan tiga ribu perak itu tetap saja seperti kenaikan-kenaikan harga sebelumnya—tetap saja dipertahankan—meski tidak lagi dalam suasana lebaran. Dan, kemudian, pada waktu lebaran selanjutnya lagi, harga capcay naik lagi.

Lanjut ke sini.

Harga Capcay Naik Tiap Tahun (1)

Salah satu masalah besar yang dihadapi negeri ini adalah harga capcay yang naik tiap tahun. Benar, negeri ini memang telah memiliki setumpuk masalah besar, dari masalah korupsi yang puluhan tahun tetap saja menggurita, pengangguran dan kemiskinan di mana-mana, bencana yang terus saja terjadi, sampai pada hal-hal rutin tapi mengganggu yang terjadi setiap hari.

Tetapi, menurut saya, harga capcay yang naik setiap tahun juga merupakan masalah besar negeri ini—suatu masalah nasional. Kenapa? Karena saya suka capcay! :D

Tidak jauh dari tempat saya tinggal, ada penjual capcay yang digemari banyak orang—salah satunya saya. Kalau sedang malas makan (dan saya memang sering malas makan), biasanya capcay akan jadi pilihan terbaik. Jadi saya pun sering datang ke tempat penjual capcay itu, dan membeli satu porsi, plus emping satu bungkus.

Capcay di tempat ini paling enak, menurut lidah saya. Dan, sepertinya, juga menurut lidah orang lain. Buktinya, setiap kali saya datang untuk beli capcay, hampir bisa dipastikan harus ngantri. Capcay di tempat ini memang terkenal enak, sehingga banyak orang rela antri untuk dapat menikmatinya. Agar memudahkan cerita, kita sebut saja capcay yang enak ini dengan sebutan “capcay Mister X”.

Abigail, tetangga saya yang agak sinting, pernah mengajukan teori sinting tentang mengapa capcay Mister X bisa enak dan digemari banyak orang. Suatu malam, ketika saya sedang melangkah sendirian sambil menenteng sebungkus capcay untuk saya nikmati di rumah sambil nonton pelem, Abigail nyamperin saya dari teras rumahnya.

“Hei, fella,” serunya. “Kamu baru dari Mister X, ya?”

“Ya, folk.” Saya mengangguk dengan sopan, sebagaimana seharusnya sikap seorang yang baik kepada tetangganya.

Tetapi Abigail ini termasuk tetangga yang sinting. Dia tahu saya baru membeli capcay. Dan dengan muka yang sinting, dia berujar dengan jumawa, “Fel, kamu tahu kenapa capcay Mister X selalu enak?”

Saya pikir Abigail akan mengeluarkan teori-teori kuliner tingkat tinggi yang ia warisi dari nyokapnya. Jadi saya pun langsung tertarik, dan menyahut, “Ya, folk, kenapa?”

“Karena Mister X selalu bersin-bersin sewaktu memasak capcay-nya!”

Anjrit…!!!

Tentu saja Abigail ngawur! Dan saya tidak percaya seribu persen! Nyatanya, Abigail sendiri sangat suka capcay made in Mister X.

Yang benar, capcay Mister X enak karena menggunakan daging ayam kampung. Itu yang pertama. Yang kedua, kuahnya sangat sedap. Ketiga, capcay-nya menggunakan sayuran yang benar-benar segar. Keempat, Mister X menggunakan bumbu-bumbu tertentu yang mungkin tidak diketahui para penjual capcay lainnya, sehingga dapat menghadirkan capcay yang benar-benar lezat. Dan terakhir, yang merupakan faktor paling penting, harganya sangat mahal!

Faktor terakhir itulah yang sekarang ingin saya bahas, agar pemerintah Indonesia mau memperhatikan masalah yang sangat membahayakan stabilitas nasional ini. Halah!

Lanjut ke sini.

Baghal dari Matahari



Baghal meninggalkan kampung halamannya di bumi, untuk terbang ke matahari. Dia percaya bahwa dia dapat hidup di matahari, menahan panasnya, menahan derasnya.

Maka dia pun pergi—meninggalkan kawan-kawan, sahabat, para tetangga, serta kampung halamannya tercinta. Ketika pergi, Baghal adalah manusia.

Beberapa tahun kemudian, Baghal kembali ke kampung halamannya, dan orang-orang di sana kaget, karena dia masih hidup. Menurut para tetangganya, kemungkinan besar Baghal sudah mati terbakar di matahari. Tapi tidak, dia hidup. Dan itu ajaib. Jadi para tetangga pun takjub. Dan heran.

Lalu Baghal pergi lagi ke matahari, kali ini ia berpamitan pada para tetangganya. Para tetangga melepas kepergian Baghal dengan masygul, karena baru sadar bahwa ternyata ada manusia yang bisa hidup di matahari tanpa merasakan panasnya. Dan, kali ini, Baghal berangkat meninggalkan kampung halamannya dengan dada terbusung, karena merasa sebagai manusia yang tidak umumnya manusia.

Bertahun-tahun kemudian, Baghal pulang lagi ke kampungnya dan selama beberapa saat tinggal di sana. Kali ini, para tetangga sudah tidak kaget lagi. Mereka sudah percaya kalau Baghal memang bisa hidup di matahari. Tetapi, para tetangga berpikir—atau merasa—kalau Baghal sekarang sudah tidak mirip manusia lagi. Jadi, baik Baghal sendiri atau para tetangganya, sama-sama merasa ia bukan manusia, namun dalam konteks berbeda.

Lalu Baghal pergi lagi. Ke matahari. Konon kabarnya di sana ia kawin. Entah dengan siapa. Menurut kabar dia kawin dengan manusia setengah monster. Atau peri keparat. Atau bidadari bangsat. Entahlah.

Yang jelas, tidak lama setelah itu, Baghal pulang lagi ke kampung halamannya, dan dia semakin tidak tampak manusia. Mungkin sudah terpengaruh oleh peradaban matahari. Atau mungkin pula karena sudah terkontaminasi oleh cumbuan si keparat yang menjadi pasangannya di sana.

Jadi si Baghal sekarang telah menjadi keparat.

Itu kesimpulan beberapa orang di kampungnya—karena mereka menyaksikan Baghal memang telah begitu. Baghal, kata mereka, melakukan agresi pada para tetangganya, teman-temannya, dan orang lainnya yang bisa ia jangkau. Jadi begitulah. Sebuah agresi monster dari matahari mulai turun ke bumi. Orang-orang tua bilang itu tanda kiamat semakin dekat. Tapi orang-orang muda punya opini berbeda. Entahlah.

Tapi yang jelas Baghal sekarang sudah bangsat. Dan karena itu orang-orang mulai mengutuknya. Kutukan itu berbunyi, “Semoga ia terbakar di matahari, dan tak akan pernah bisa pulang lagi!”


ditulis di bawah matahari, dibaca orang-orang di bumi,
semoga catatan ini menjadi noktah bersegel darah.


Penyakit Paling Mengerikan



Pada suatu malam, Dr. Bernie S. Siegel, pengarang buku “Peace, Love and Healing”, menerima telepon dari seorang temannya yang berbicara dengan nada sinting. “Tak ada gunanya lagi aku hidup,” katanya, “aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padamu karena aku akan bunuh diri.”

Tanpa menunggu, Dr. Siegel langsung menyambung. “Kalau begitu, aku tidak akan pernah bisa lagi berbicara denganmu.”

Anehnya, sang teman tadi kemudian mulai tertawa kecil. Bukannya menembak dirinya sendiri sebagaimana yang ia rencanakan, ia malah memutuskan untuk pergi ke tempat Dr. Siegel untuk ngobrol dari hati ke hati.

Penyakit paling mengerikan saat ini bukanlah lepra, melainkan perasaan tak diinginkan, ditinggalkan, dan dilupakan. Dan salah satu cara membantu orang lain untuk merasa berharga dalam hidupnya adalah dengan membantu mereka untuk merasa bahwa mereka diinginkan, dibutuhkan, dan dicintai.


Jumat, 08 Juli 2011

Sekolah Bukan Komplek Prostitusi

Apa ruginya negeri ini jika semua sekolah dan universitas,
sebagaimana yang kita kenal selama ini, dibubarkan saja...
Andrias Harefa


Ini kisah usang yang telanjur terkenal, membuat gempar, tapi kemudian dilupakan. Ini kisah paling memalukan dalam sejarah pendidikan nasional—setidaknya kisah yang sempat diketahui publik, karena masih adanya orang-orang yang punya nurani.

Saya sendiri mengetahui kisah ini pertama kali di blognya Vicky Laurentina, yang menulis post khusus mengenai kisah itu untuk mendukung Gerakan Indonesia Jujur—beberapa waktu yang lalu. Karena kisah dalam post itu benar-benar membuat dongkol, saya sampai meninggalkan komentar “ngablak” di sana—komentar paling ngablak yang pernah saya tulis di blog orang.

Oh ya, kalian pasti tahu kisah ini—kasus Bu Siami yang didemo dan diusir para tetangga dan warga kampungnya, karena melaporkan guru anaknya ke Dinas Pendidikan Nasional, lantaran guru tersebut menyuruh anak Bu Siami untuk membantu memberikan contekan pada teman-teman sekelasnya agar murid-murid di sekolah itu lulus ujian. Inti busuknya adalah; seorang guru mendidik muridnya untuk menjadi penjahat, dengan tujuan agar semua murid di sekolahnya lulus ujian.

Dari postingnya Dokter Vicky, saya kemudian menelusuri kisah tersebut ke web dan blog-blog lain untuk mengetahui secara lebih jelas mengenai kasusnya. Dan semakin lama kepala saya makin pening. Dari blog ke blog, inti semua kisah itu sama—bahwa sebuah kejahatan paling memalukan sedang terjadi dalam sistem pendidikan Indonesia, bahwa ada guru yang mengajarkan murid-muridnya untuk melakukan kejahatan demi tujuan yang diinginkan.

Jadi, seperti yang kita tahu, berita itu pun heboh beberapa waktu yang lalu. Tetapi, salah satu kebiasaan buruk negeri ini yang tidak juga berubah adalah mudah heboh, tapi juga mudah lupa. Baru kemarin-kemarin kasus itu heboh, dan kita meributkannya di mana-mana. Tetapi, baru beberapa waktu berselang, kita sudah lupa. Mungkin bahkan kita sudah tak ingat Bu Siami itu siapa.

Tiga puluh delapan tahun yang lalu, Ivan Illich, seorang pemikir radikal, menulis sebuah buku yang menganjurkan masyarakat dunia untuk mulai melakukan ‘re-sekolah-isasi masyarakat’ (deschooling society). Sekarang, dalam konteks berbeda, kita menyaksikan kembali aktualitas pemikiran Illich, bahwa sekolah bukanlah satu-satunya tempat belajar. Atau, dalam kasus Bu Siami, sekolah bukanlah satu-satunya tempat belajar yang baik.

Sekolah telah berubah fungsinya, dari tahun ke tahun, dan lembaga pendidikan yang diharapkan menjadi sarana pembelajaran itu telah berubah fungsi menjadi sarana pemerataan. Jutaan murid yang masuk ke sekolah-sekolah mana pun akan dipaksa untuk mengikuti sistem yang diberlakukan—tanpa mau menyadari bahwa masing-masing manusia adalah makhluk yang berbeda, baik dalam kemampuan maupun latar belakang.

Pendidikan, yang merupakan terjemahan Education dalam bahasa Inggris, memiliki akar pada kata Yunani, Educo, yang berarti Mengeluarkan. Artinya, fungsi paling mendasar dari sebuah pendidikan—apa pun bentuknya, termasuk sekolah—adalah ‘mengeluarkan’, yakni mengeluarkan potensi yang ada pada masing-masing anak didik.

Tetapi di situlah letak masalah sekolah-sekolah kita selama bertahun-tahun. Sekolah dan sistem yang disebut pendidikan itu bukannya ‘mengeluarkan’ potensi yang dimiliki masing-masing anak didiknya, tetapi malah sibuk ‘memasukkan’ apa saja yang dapat mereka jejalkan ke dalam pikiran anak didik—dari kurikulum, buku bacaan, sistem yang disamaratakan, sampai bentuk ujian yang dinasionalkan.

Murid-murid sekolah di zaman sekarang menghadapi sekian banyak tuntutan tak masuk akal untuk alasan ‘pendidikan’—hingga sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi, kesibukan mereka hanya berkutat pada urusan dan tugas sekolah. Begitu banyaknya tekanan sekolah di masa sekarang, hingga seorang anak Sekolah Dasar tidak kalah sibuk dibanding seorang Presiden.

Dalam wawancara dengan SCTV pada 7 Februari 1999, Romo Mangun Wijaya menyatakan, “Selama tiga puluh dua tahun, anak-anak dipenjara oleh sistem pendidikan yang diselenggarakan melalui sekolah formal.”

Romo Mangun menyatakan hal itu sepuluh tahun yang lalu. Tetapi dalam sepuluh tahun terakhir, sistem pendidikan nasional bukannya makin baik tetapi makin buruk. Terakhir, hal paling memilukan dari tragedi sekolah formal Indonesia adalah sistem ujian nasional, yang seolah-olah dianggap dewa—satu-satunya penentu kelulusan, dan dianggap pintu suci kesuksesan.

Ujian nasional adalah tragedi pendidikan Indonesia, karena ujian ini kemudian menjadi akar segala macam masalah, bahkan kejahatan, sebagaimana yang kemudian muncul dalam kasus Bu Siami. Saya percaya bahwa apa yang menimpa Bu Siami hanyalah kasuistis. Artinya, masih banyak kasus lain yang serupa namun tak terungkap ke publik, apa pun alasannya.

Sekarang, sambil menulis catatan ini, saya tergoda untuk membandingkan sekolah formal kita dengan komplek prostitusi. Tanpa bermaksud kurang ajar, sistem pendidikan yang tidak benar—hanya semata bertujuan nilai atau kelulusan—tidak ada bedanya dengan proses bisnis di komplek prostitusi.

Ketika seseorang berniat menyalurkan hasratnya di komplek prostitusi, apa yang ada di dalam pikirannya? Benar, semata ejakulasi. Seseorang masuk ke komplek prostitusi, memilih yang diinginkan, kemudian melepaskan hasrat dan tujuan untuk ejakulasi. Tidak ada proses di sini, selain mungkin sedikit negosiasi dan haha-hihi. Begitu ejakulasi selesai, orang pun kabur dari sana dengan perasaan lega.

Sekarang, dalam konteks sekolah dan pendidikan formal, proses dangkal semacam itu juga terjadi. Seseorang masuk sebagai murid di sekolah, dan kemudian diindoktrinasi bahwa satu-satunya tujuan mereka belajar adalah agar punya nilai tinggi dan lulus ujian nasional. Dan, demi tujuan itu, seorang murid bebas melakukan segala cara dan upaya, bahkan kemudian seorang guru pun merasa tak tabu untuk mengajarkan kejahatan demi tujuan yang sama.

Tidak ada proses pembelajaran di sana. Tak ada lagi ajakan pada murid untuk mencintai proses pembelajaran, untuk memahami bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk belajar, untuk menghayati bahwa hal paling mendasar dalam hidup adalah memahami bahwa manusia ditentukan oleh perjalanan belajarnya. Sama seperti tujuan si hidung belang masuk ke komplek prostitusi, murid-murid sekolah di zaman sekarang diajarkan cara masturbasi.

Sekolah dan sistem pendidikan formal telah tercerabut dari akarnya. Sekarang, yang paling penting bahkan paling mulia dalam sistem pendidikan kita bukan lagi proses pembelajaran, melainkan nilai, nilai, nilai, nilai, dan kemudian lulus ujian nasional—bagaimana pun caranya.

Ketika tingginya nilai dan kuantitas kelulusan ujian menjadi standar bahkan tujuan, maka semua yang terlibat di dalamnya telah melepaskan apa yang paling hakiki dari pendidikan. Sama sebagaimana tujuan ejakulasi di komplek prostitusi yang tidak melibatkan proses kasih sayang, tujuan lulus ujian di sekolah yang tidak jujur juga tidak melibatkan proses pembelajaran.

Winarno Surakhmad, seorang pemikir pendidikan Indonesia, menulis di harian Kompas edisi 3 Februari 2000, “Apakah sumbangan pendidikan sejauh ini? Nihil...! Sekarang ini hampir tidak ada sisa pengaruh yang menunjukkan bahwa bangsa ini telah (pernah) besar atau dibesarkan oleh pendidikan di masa lalu.”

Sekolah, di zaman ini, telah menjadi tempat untuk memasukkan anak-anak manusia dalam mengenali pendidikannya. Karenanya, jika sekolah yang sekarang fungsinya begitu vital bagi pembangunan manusia itu telah kehilangan akar kesadarannya yang luhur, maka sekolah sebenarnya sedang melakukan proses penciptaan robot-robot bernyawa, sosok-sosok manusia yang mulai kehilangan kemanusiaannya.

Jika memang tidak mungkin membubarkan sekolah sebagaimana yang diserukan Andrias Harefa dan para pemikir lainnya, maka sekolah harus dikembalikan pada fungsi dasarnya, yakni untuk mencerdaskan anak didiknya, untuk mengajarkan pada mereka tentang pentingnya proses pembelajaran, proses pembelajaran, proses pembelajaran…

Tanpa kesadaran bahwa proses pembelajaran adalah fungsi penting pendidikan, maka ujian nasional akan terus menciptakan tragedi. Dan tanpa integritas, kejujuran, serta nilai-nilai moral, maka sekolah tak ada bedanya dengan komplek prostitusi.

Dari Raja-raja Jawa, Sampai Winnie the Pooh



Post tanya-jawab seputar buku berikut ini saya ambil secara acak dari tumpukan email yang ada di inbox. Kebetulan kok isinya beragam. Buat teman-teman yang pertanyaannya belum muncul juga, silakan tunggu di post tentang buku berikutnya ya.

***


Saya mahasiswa yang sedang dalam proses menulis tesis tentang sejarah kerajaan di Indonesia, khususnya di Jawa. Saat ini sedang terbentur pada literatur yang digunakan, khususnya literatur yang secara khusus membahas raja-raja yang pernah berkuasa di Jawa. Sulit sekali menemukan buku yang membahas hal tersebut dalam bahasa Indonesia, padahal ini menjadi salah satu syarat dalam penulisan tesis saya.

Selama ini, saya memang sudah menemukan beberapa buku berbahasa Indonesia yang membahas topik di atas, tapi tidak ada satu pun yang memenuhi standar penulisan tesis (judul-judul buku terlampir). Apakah memang buku yang saya cari tersebut tidak ada? Atau, kalau memang ada, tolong disebutkan data lengkapnya, ya (judul, pengarang, sekilas isi, dan penerbitnya).


Setidaknya ada satu buku yang bisa kamu cari. Judulnya “The History of Javanese Kings: Sejarah Raja-raja Jawa”. Meski judulnya menggunakan bahasa Inggris, tapi buku itu murni berbahasa Indonesia, dan ditulis orang Indonesia—nama penulisnya Dr. Purwadi, M.Hum. Buku itu diterbitkan oleh Penerbit Ragam Media.

Buku ini sangat lengkap pembahasannya—mulai dari masa Sri Maharaja Rakai Ratu Sanjaya di era 732 Masehi, sampai masa kehidupan Prabu Dewata Cengkar, Airlangga, Kertajaya, Jayakatwang, Ken Arok, Kertanagera, hiruk-pikuknya Majapahit, peran Gajah Mada dalam penyatuan nusantara, sampai zaman Pati Unus, Sultan Hadiwijaya, Dinasti Amangkurat, dan Mangkunegara.

Saya tidak menjamin buku yang saya sebutkan di atas akan memenuhi standar penulisan tesis, tapi setidaknya buku itu jauh lebih baik, lebih lengkap, dan lebih berkualitas dibanding judul-judul buku yang telah kamu peroleh (yang ditolak supervisor tesismu). Bahkan, kalau saya menjadi supervisormu (ya, ya, tentu saja ini ngayal!) saya akan mengizinkan dengan senang hati kalau buku tersebut dijadikan salah satu rujukanmu.


Dulu, waktu masih tinggal di Amrik semasa kuliah, saya banyak membaca novel-novel thriller-nya Dean Koontz, bahkan sangat menggemarinya. Sepulang ke Indonesia, saya kesulitan sekali mencari buku-bukunya Dean Koontz.

Apakah memang Koontz tidak masuk ke Indonesia? Menurut saya kok aneh, karena Koontz juga penulis bestseller New York Times. Kalau Sidney Sheldon, John Grisham, Marry Higgins Clarks dan lain-lain bisa masuk ke Indonesia, kenapa tidak ada karya Dean Koontz yang diterjemahkan ke Indonesia? Atau jangan-jangan saya yang nggak tahu?

Dean Koontz memang sedikit perkecualian. Jika menengok daftar karyanya yang sudah puluhan, rasanya memang aneh kalau tidak ada satu pun yang masuk ke Indonesia. Tapi sebenarnya hal tersebut terjadi bukan karena kualitas karya Koontz, tapi pada prosedur pembelian hak cipta karyanya.

Yang pernah saya dengar, agen penerbit Dean Koontz mematok harga yang sangat tinggi untuk pembelian hak cipta karya Koontz. Akibatnya, mungkin, penerbit-penerbit di Indonesia agak keberatan. Tapi karya Koontz di Indonesia bukan tidak ada sama sekali, lho. Ada beberapa karyanya yang sekarang sudah masuk ke Indonesia, salah satunya yang berjudul ‘Relentless’ (diterjemahkan menjadi ‘Tak Kenal Ampun’).


Ada yang bilang kalau Agatha Christie (penulis novel-novel detektif) juga menulis novel roman. Apakah ini benar? Kalau benar, apakah roman karya Agatha Christie juga diterjemahkan ke bahasa Indonesia?

Benar, Agatha Christie juga menulis novel-novel roman, tapi menggunakan nama pena ‘Mary Wesmacott’. Sejauh yang saya tahu, novel-novel roman Agatha Christie belum masuk ke Indonesia.


Banyak teman di milis yang sedang meributkan soal kemungkinan Stephen King (penulis horor terkenal) terlibat dalam konspirasi pembunuhan John Lennon. Fakta itu terdapat dalam sebuah buku terjemahan yang saat ini sedang ‘in’ di beberapa milis. Apakah kamu percaya?

Tidak—sedikit pun. Saya tak habis pikir kenapa buku itu bisa dijadikan rujukan banyak orang dalam membangun “teori”. Sori, saya tidak bisa menyebutkan judul buku yang sedang kita bincangkan itu di sini, tetapi kita perlu tahu bahwa di Amerika sendiri, buku itu masuk dalam list “garbage”—kalian tahu apa maksudnya.

Di Indonesia sendiri, buku itu diterjemahkan dengan dibubuhi tagline bahwa seluruh isi buku tersebut hanya bersifat “hiburan”. Itulah kenapa saya sama sekali tak habis pikir, buku yang nyata-nyata disebut “hiburan” itu masih saja dijadikan rujukan untuk teori-teori konspirasi yang (sepertinya) makin spektakuler. In fact, saya telah membaca buku itu dari halaman awal sampai halaman akhir, dan tidak ada satu halaman pun yang bisa saya percaya. Sekali lagi, itu buku hiburan.


Saya baru tahu kalau “Winnie-the-Pooh” dulunya adalah sebuah buku. Apakah ini benar? Kalau memang berasal dari buku, siapa penulis kisah Winnie-the-Pooh? Dan apakah bukunya tersedia dalam bahasa Indonesia?

Winnie-the-Pooh memang berasal dari buku karya A. A. Milne, dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1926. Judulnya “Winnie-the-Pooh”. Dua tahun kemudian muncul buku lanjutannya, berjudul “The House at Pooh Corner”, yang terbit pada tahun 1928. Saya tidak tahu apakah bukunya (masih) tersedia di Indonesia, mengingat tahun terbitnya sudah puluhan tahun yang lalu.


Tujuan yang Terencana

Kalau pikiran memiliki tujuan yang jelas, ia dapat memusatkan dan mengarahkan kita, serta memusatkan dan mengarahkan kembali pada tujuan yang diinginkan. Kalau tidak memiliki tujuan yang jelas, energinya menjadi terhambat, persis seperti orang dengan gergaji mesin yang besar dan hebat tapi tidak mengerti apa yang harus digergajinya.

Perbedaan kemampuan orang untuk mencapai keberhasilan pribadinya secara langsung dipengaruhi oleh tujuannya. Penelitian pada lulusan Yale University pada tahun 1953 menunjukkan hal itu dengan jelas. Lulusan yang diwawancarai ditanya apakah mereka memiliki sekumpulan tujuan khusus dan jelas yang terencana untuk meraih keinginan mereka. Hanya 3 persen yang telah melakukannya.

Dua puluh tahun kemudian, pada 1973, penelitian kembali dilakukan terhadap para lulusan itu. Mereka menemukan fakta bahwa hanya yang 3 persen itulah yang memiliki kemakmuran yang melebihi gabungan 97 persen lulusan lainnya.

Para peneliti juga menemukan perbedaan lain, bahwa bukan hanya kemakmuran saja yang diperoleh oleh golongan yang 3 persen itu, tetapi juga perasaan bahagia dan keceriaan hidupnya. Ini benar-benar merupakan fakta ilmiah dari pentingnya kekuatan penetapan tujuan yang terencana.

Bagaimana Memunculkan Energi

Untuk memulai sesuatu, kita tidak perlu menunggu waktu atau keadaan yang tepat. Karena “waktu yang tepat” tidak pernah muncul, ia diciptakan. Manusia bisa diibaratkan dengan sebuah mesin, yang bisa menjadi aus dan cepat rusak jika kurang dipakai. Di SMA, kita pernah mempelajari bahwa energi kinetis ada kaitannya dengan gerak. Hal yang sama juga berlaku dengan manusia—energinya akan muncul jika dipakai.

Sekali lagi, energi akan muncul jika dipakai, dan bukan apabila waktu atau keadaan sudah tepat. Kalau kita menunggu keadaan atau waktu terlebih dulu untuk menggerakkan energi yang kita miliki, maka selamanya energi tidak akan muncul. Ia hanya akan muncul jika dipakai.

Seorang penulis yang menunggu waktu yang tepat untuk memulai tulisannya, tidak akan bisa memunculkan energinya. Energinya baru akan muncul jika ia sudah duduk di belakang meja dan siap menulis, atau ketika jarinya sudah siap mengetik di atas mesin ketik atau keyboard komputer. Ketika ia memulai pekerjaannya, saat itulah energinya baru muncul. Hal itu juga berlaku pada apa pun yang ingin kita kerjakan dalam kehidupan ini.

Mulailah yang harus dikerjakan, dan teruslah bergerak, tak perlu menunggu waktu atau tempat serta keadaan yang tepat. Apabila kita bergerak, energi pun akan muncul dan mendukung tujuan kita.

Mulailah Memulai

Sukses diawali oleh harapan kita, dipengaruhi 
oleh persepsi kita, dan ditentukan oleh reaksi kita.
Art Mortell


Untuk meraih yang kita inginkan dalam hidup, yang pertama kali harus dilakukan adalah memulainya. Semua kemenangan didahului dengan memulai. Bagian yang paling sulit selalu adalah memulai. Maka, sesuatu yang telah dimulai adalah sama dengan sudah lebih dari separuh terselesaikan.

Izinkan saya menjelaskannya. Memulai, yakni mengambil langkah pertama, akan menghasilkan momentum, energi emosional, anjuran dari dalam, yang memotivasi kita untuk mengambil langkah yang lain lagi, lalu langkah berikutnya lagi, berikutnya lagi, dan seterusnya. Momentum itu—saat memulai—akan terus berlangsung sampai tugas kita terselesaikan. Karenanya, sesuatu yang telah dimulai sama dengan lebih dari setengah telah terselesaikan.

Penyair dan pengarang novel terkenal Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, sudah mengatakan hal itu saat ia menulis, “Apa pun yang bisa kaulakukan atau impikan, kau bisa memulainya. Keberanian mengandung kegeniusan, kuasa dan keajaiban, di dalamnya.”

Wasiat Guruku

Ide-ide besar, cita-cita, dan impian-impian besar, selalu menuntut dan membutuhkan perjuangan serta pengorbanan yang besar. Dan orang besar adalah orang yang mampu mewujudkan ide dan impian menjadi kenyataan.

Pengorbanan adalah konsekuensi dari perjuangan, dan kegagalan adalah risiko dari pengorbanan. Tapi jangan pernah takut gagal, karena sesungguhnya kegagalan yang paling gagal adalah jika kita tak pernah gagal. Sebab yang jadi ukuran kualitas seseorang bukanlah berapa kali ia gagal, tapi berapa kali ia bangkit dari kegagalan. Lebih baik gagal karena berusaha, daripada tidak pernah gagal karena tidak pernah berusaha.

Maka jadilah orang besar dengan jiwa yang besar. Jiwa yang besar akan melahirkan pemikiran yang besar. Pemikiran yang besar akan menuntun tindakan yang besar, dan tindakan yang besar selalu mendatangkan hasil yang besar.

Jumat, 01 Juli 2011

Jodoh

—ditulis dengan senyum untuk Dianita,
yang suka bilang, “Sekali-sekali kamu nulis soal jodoh, dong.”


Ketika saya masih kecil—maksud saya, masih keciiiiil sekali—ada sebuah group musik dangdut bernama ‘Manis Manja Group’. Di dalam group ini tergabung empat orang pesinden dangdut paling okay bohay pada zaman itu, yakni Ine Chintya, Yulia Citra, Kitty Andriani, dan Lilis Karlina.

(Deskripsi di atas hanya berdasarkan memori masa kecil saya. Karenanya, kalau ternyata terdapat kekeliruan, tolong dikoreksi).

Nah, ada satu lagu milik ‘Manis Manja Group’ yang pernah sangat populer, berjudul “Jodoh”. Sebegitu populernya, hingga saya yang waktu itu masih kanak-kanak ikut hafal liriknya, dan hingga hari ini masih terkenang-kenang pada refrainnya. Refrain lagu itu berbunyi, “Joooodoh… tak usah dicari-cari, tak usah dinanti-nanti…”

Jadi, waktu itu, kalau pas lagi pengin nyanyi atau bersenandung, saya pun tidak jarang mendendangkan lagu itu. Lama-lama, sambil menyanyikan lagu yang asyik itu, saya mikir, “Kok, jodoh tak usah dicari-cari, tak usah dinanti-nanti? Lalu bagaimana orang bisa mendapatkan jodohnya?”

Karena otak bocah saya waktu itu tidak sanggup menemukan jawaban atas kebingungan tersebut, saya pun bertanya pada nyokap, “Mah, kalau jodoh tak usah dicari-cari dan tak usah dinanti-nanti, lalu gimana orang-orang bisa dapet jodoh? Apa jodoh tuh turun dari langit?”

Mungkin, karena ingin menutup pembicaraan “tingkat tinggi” itu, nyokap hanya menjawab, “Ya.”

Dan saya pun percaya—bahwa jodoh memang turun dari langit. Karena itu saya pun makin senang menyanyikan lagu itu, “Joooodoh… tak usah dicari-cari, tak usah dinanti-nanti…”

Ketika saya puber dan mulai tertarik dengan lawan jenis, saya mulai meragukan kebenaran bahwa jodoh turun dari langit. Ketika SMP, saya menyaksikan teman-teman saya mengejar-ngejar lawan jenis—yang cowok agresif sama cewek, yang cewek sibuk ngerumpi soal cowok. Pas SMA, urusan seputar cowok-cewek makin “parah”—dalam arti sama sekali tidak menunjukkan tesis si ‘Manis Manja Group’ bahwa jodoh turun dari langit.

Kalau jodoh turun dari langit, pikir saya waktu itu, maka seharusnya teman-teman saya tidak perlu mengejar-ngejar lawan jenis untuk bisa berpacaran. Kata ‘Manis Manja Group’, “tak usah dicari-cari, tak usah dinanti-nanti.” Tetapi, kenyataannya, jika kita tidak mencari dan menanti, susah banget mendapatkan pacar!

Ketika mulai kuliah, saya semakin tidak percaya pada lagu di atas, karena pada waktu-waktu itu banyak teman yang curhat tentang kisah cinta mereka yang beraneka ragam—yang semakin menunjukkan bahwa seseorang memang harus mengejar mati-matian untuk mendapatkan pacar atau jodoh. Saya masih ingat, ada teman sekelas saya waktu itu, yang cerita bahwa dia melakukan pedekate sampai satu semester hanya untuk meyakinkan calon pacarnya kalau dia benar-benar serius.

Artinya, seseorang mendapatkan jodohnya dengan usaha, dengan pencarian, dengan penantian, bahkan dengan pengejaran. Jadi apa maksudnya empat cewek manis di atas itu menyanyikan, “Joooodoh… tak usah dicari-cari, tak usah dinanti-nanti…?”

Tentu saja jodoh harus dicari dan dinanti, pikir saya waktu itu.

Sekarang, sambil menulis catatan ini, saya memutar ulang memori saya mengenai kisah-kisah yang berhubungan dengan cinta dan hubungan antarlawan jenis yang pernah dialami kawan-kawan saya. Dan, sambil menulis catatan ini pula, tiba-tiba saya mulai menyadari apa maksud nyanyian di atas.

Saya masih ingat, dulu si A pacaran dengan si B selama bertahun-tahun, tapi kemudian mereka menikah dengan orang lain yang sama sekali tak terduga. Si A menikah dengan si X, sedang si B kawin dengan si Z. Lalu, saya pun masih ingat, si K dulunya termasuk cewek populer di kampus, tapi sampai sekarang masih jomblo. Sedang si G yang dulunya dianggap cowok culun (bahkan pernah disangka homo) sekarang sudah punya tiga anak.

Kemudian, si D dan si W, yang dulu dianggap pasangan paling serasi di kampus, sekarang ternyata sudah kawin sendiri-sendiri dengan orang lain, dan sekarang hidup terpisah sejauh berkilo-kilo meter. Nah, si H kabarnya sudah berumahtangga dengan si R—keduanya dulu satu kampus, satu fakultas, satu angkatan, tapi tidak saling kenal. Mereka bertemu tanpa sengaja di acara kondangan, lalu saling sapa, dan jadi akrab setelah tahu kalau mereka satu kampus. Dan sekarang mereka sudah kawin.

Ini aneh. Ini jodoh. Ini… well, ini sepertinya memang turun dari langit.

Saya sendiri juga mengalami hal yang sama. Saya pernah pacaran dengan seseorang. Kami saling cinta, saling sayang, dan berjanji akan bersama sehidup semati. Baik saya maupun dia sama-sama yakin kalau kami berjodoh. Tapi kemudian hubungan kami bubar di tengah jalan, karena kesibukan masing-masing. Saya sibuk belajar, dia sibuk syuting. Sekarang, mantan pacar saya itu kawin dengan Christian Sugiono.

(Oke, oke, yang barusan itu ngaco! Tolong kalian tidak usah tegang begitu!).

Jadi, apakah jodoh memang turun dari langit? Mungkin saja iya. Kita lihat, ada dua orang yang sebelumnya tak pernah bertemu, tidak saling kenal, dan terpisah jarak ribuan kilometer, tapi kemudian suatu hari mereka bertemu di tempat yang tak terduga, di waktu yang tak disangka, dan setelah itu… nyebar undangan. Dasar jodoh!

Ada juga dua orang yang pada mulanya sudah saling kenal karena pernah satu sekolah. Tapi mereka tidak pernah memendam perasaan apa pun, selain hanya sebagai teman. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, keduanya saling bersua di internet, saling sapa di blog, lalu membangun hubungan yang lebih dekat, dan kemudian menikah. Sekali lagi, dasar jodoh!

Sebaliknya, ada pula dua orang yang sudah bertahun-tahun pacaran, dan dunia pun hampir yakin kalau kedua orang itu pasti akan menikah. Tapi kemudian tersiar kabar kalau kedua bocah itu putus, dan masing-masingnya kawin dengan orang lain yang sama sekali tak disangka-sangka. Oh, jodoh yang aneh!

Memang, jodoh termasuk satu di antara beberapa hal lain yang tak bisa diprediksi. Bisa dibilang kita tak bisa yakin siapa, di mana, dan kapan akan bertemu si Jodoh. Bagi yang sudah punya pacar, mungkin bisa saja memprediksi kalau si pacar sekarang akan menjadi jodohnya. Tapi prediksi bukan kepastian mutlak, karena sifatnya yang memang (hanya) prediktif. Siapa tahu kalau ternyata pacarmu adalah calon jodohku? Hehe…

Kebanyakan orang mungkin berpikir bahwa sosok-sosok yang terbilang “sempurna” akan mudah mendapatkan jodoh. Tetapi, itu pun tidak seratus persen benar, tidak seratus persen terbukti. Saya mengenal cukup banyak lelaki-lelaki “perfect” yang tetap saja melajang karena memang belum ketemu jodoh, saya pun menyaksikan wanita-wanita mengagumkan yang tetap sendirian dan menanti-nanti datangnya jodoh.

Di Yunani zaman dulu, ada seorang cewek bernama Xanthippe, yang tinggal di Athena. Bagi masyarakat Athena waktu itu, Xanthippe adalah cewek yang terbilang “parah”. Secara fisik, dia tidak bisa dibilang cantik. Secara otak, dia juga dianggap tolol. Lebih dari itu, cewek ini juga cerewet, usil, judes, ceriwis, tidak bisa bersikap manis—pendeknya bukan tipe cewek yang akan membuat cowok jatuh hati.

Tetapi, ternyata, cewek “parah” ini mendapatkan jodoh yang luar biasa. Dia menikah dengan Socrates. Iya, Socrates yang itu!

Ketika Socrates kawin dengan Xanthippe, masyarakat Yunani pun gempar! Tapi begitulah jodoh—kadang-kadang memang tak masuk akal. Kita tak pernah bisa memprediksikan nasib seseorang menyangkut jodohnya, kita bahkan kadang tak bisa memprediksi siapa yang kelak akan menjadi jodoh kita. In this case, saya pun tidak yakin kelak akan berjodoh dengan siapa.

Si B, seorang cowok yang saya kenal, saban malam keluyuran ke kafe-kafe dengan harapan bisa ketemu cewek yang diharapkan dapat berjodoh dengannya. Pasalnya, nyokap si B terus-terusan menyinggung soal jodohnya, dan si B sendiri juga sebenarnya ingin segera menikah, lalu hidup tenteram bersama seorang istri. Tetapi, sampai bertahun-tahun keluyuran keluar masuk kafe dan menghamburkan uang tak terhitung banyaknya, si Jodoh tidak juga tertemukan.

Si D sebaliknya. Cowok ini terkenal sebagai “cowok rumahan” karena kegiatannya sehari-hari cuma membaca buku, main game di komputer, nonton bokep, dan punya pekerjaan mapan yang tidak mengharuskannya keluar rumah. Kalau disindir soal pacar, si D akan cengengesan sambil berujar, “Apa enaknya pacaran, sih?” Kebetulan si D hidup sendirian di rumahnya, jadi tidak ada orangtua yang ribut bertanya soal jodoh.

Eh, suatu hari, terjadi sesuatu yang tidak masuk akal. Suatu siang, ketika si D baru saja bangun tidur, pintu rumahnya diketuk orang. Waktu dibuka, ternyata seorang cewek. Muda, dan cantik. Singkat cerita, ternyata si cewek salah alamat. Singkat cerita pula, si D dan cewek itu berkenalan, kemudian akab, dekat, dan… taraaaa, mereka kawin! Waktu saya menulis catatan ini, si D dan istrinya sedang happy, karena tak lama lagi anak pertama mereka akan lahir.

Jadi, sekali lagi, apakah jodoh memang turun dari langit, sehingga tak perlu dicari dan dinanti sebagaimana yang dinyanyikan ‘Manis Manja Group’? Mungkin iya. Hanya saja, kita tak pernah tahu di langit sebelah mana jodoh itu akan turun menemui kita.

Seserpih Nota



Seharusnya aku menulis catatan ini beberapa hari yang lalu, ketika malamnya kau datang menemuiku.

Aku tak pernah membayangkannya, meski mungkin mengharapkannya.

Cerita yang cukup lama, pada malam yang cukup lama.

Entahlah, mungkin karena beberapa hari itu aku berkali-kali datang untuk melihatmu, dan mendapati dindingmu masih sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi. Dan aku berharap kau kembali terlihat, agar aku bisa kembali menyapamu.

Ya, aku mencarimu. Tapi tak tahu apakah aku mampu melewati batas ketakutanku, dan menyeberangi langit dengan membutakan mataku. Mungkin tidak hari ini, tapi aku juga ragu kalau itu pun tak akan terjadi di waktu kapan pun.

Seharusnya aku menulis catatan ini beberapa hari yang lalu, ketika malamnya kau datang menemuiku.

Waktu yang kembali kuharapkan, untuk menyadarkan diriku sendiri, bahwa waktu pada akhirnya akan berhenti. Di suatu titik. Atau di suatu persimpangan. Ketika tangan tak terlihat—dimana pun itu—mempertemukanku denganmu.

Aku mencari-carimu. Mungkin kau pun tahu. Tapi aku tak pernah tahu akan sampai dimana batas pencarianku. Mungkin akan berlalu seperti dulu, tapi aku tak tahu.

Seharusnya aku tak menulis catatan ini. Karena hanya akan membuatmu bertanya-tanya, dan membuatku mempertanyakan diriku sendiri. Seharusnya mungkin kita tidak bertemu, karena aku takut pada akhirnya kita akan bersama mengutuk waktu.


Intro

Dalam pelukmu aku ingin berteduh, dari lebatnya hujan hidupku.
Dalam hatimu aku ingin berlabuh, dari derasnya badai rinduku.

Kecil, tapi Berarti

Rahasia sukses adalah maksud
tujuan pasti yang dipegang terus-menerus.
—Benjamin Disraeli


Bangunan-bangunan rumah modern saat ini tampak begitu mewah dan megah. Ketika menyaksikan gedung atau bangunan rumah yang indah dan megah itu, kita sering kali lupa bahwa gedung-gedung dan rumah-rumah itu dibangun dan dibuat dengan batu-bata, pasir, semen, kerikil, kapur, dan juga air. Di masa sekarang atau pun lima puluh tahun yang lalu, bahan pembangun rumah atau gedung tetap tak berbeda
.
Seperti halnya gedung atau rumah-rumah yang indah diciptakan dari bahan-bahan yang masing-masingnya tampak tidak berarti, dengan cara yang sama kehidupan yang sukses dibangun.

Ketika melihat orang mengaduk pasir, kita jarang mengingat bahwa adukan pasir itulah yang membangun gedung megah atau rumah yang indah. Tetapi tanpa adukan pasir itu, gedung atau rumah tak akan pernah ada. Begitu pun halnya dengan upaya membangun kehidupan. Setiap kali kita mengerjakan hal-hal kecil yang tampaknya tidak penting, jangan pernah lupakan bahwa upaya sekecil apa pun, selama itu bertujuan untuk membangun hidup, semuanya akan terkumpul dan memberikan arti serta maknanya sendiri.

Kehendak dan Tujuan

Bila seseorang secara tekun dan serius terus berupaya mendekati sasaran tujuannya, maka sasaran tujuan itu pun akan mendekatinya. Hal itu membuat orang bersangkutan tak mau berhenti berupaya sampai ia berhasil mewujudkannya. Hal itu pun terus membuatnya berminat besar, siang dan malam. Jika ada halangan, ia akan mematahkannya. Kalau ia membutuhkan modal, ia akan mencari jalan dan mengembangkannya. Bila sebuah upaya berakhir kegagalan, ia akan mencoba yang lain. Apa pun yang diperlukan akan diupayakannya, sampai ia mendapatkan yang diinginkannya.

Sir Thomas Buxton mengatakan, “Makin lama saya hidup, makin yakinlah saya bahwa perbedaan paling nyata antara sukses dan gagal, antara kuat dan lemah, terletak pada kehendak, ketahanan, dan ketabahan yang tak terkalahkan, suatu tujuan yang sekali ditentukan, lalu... hidup atau mati. Dan tidak ada sikap baik, pendidikan atau kecemerlangan, bakat, kesempatan atau kebudayaan, yang bisa membuat makhluk berkaki dua menjadi manusia, kalau tidak ada kehendak dan tujuannya.”

Tentukanlah tujuan hidupmu, dan hayatilah impian-impianmu.
 

Gambarkan Rencanamu

Ketika kita sudah sampai pada titik dapat mengetahui apa yang kita inginkan, mengapa kita menginginkannya, siapa yang akan membantu kita, dan banyak hal lain, maka bahan paling penting untuk menentukan apakah kita akan berhasil meraih keinginan itu adalah tindakan kita.

Untuk memandu tindakan, kita harus membuat rencana langkah demi langkah. Kalau kita ingin membuat rumah, apakah kita hanya mengambil kayu, beberapa paku dan sebuah palu, gergaji, lalu mulai bekerja secara asal-asalan? Sepertinya tidak. Untuk membangun rumah, kita perlu gambar rencananya (blue print, atau cetak biru). Kita perlu urutan kerja dan suatu kerangka sehingga tindakan-tindakan kita saling melengkapi dan mendukung, sekaligus terarah. Kalau tidak, kita hanya akan menghasilkan tumpukan papan tak beraturan.

Sama halnya dengan hidup kita. Karena itulah, kita perlu rencana dan gambaran yang jelas mengenai hidup seperti apa yang ingin kita bangun, dan kemudian memulainya dengan langkah demi langkah menuju arah pembangunannya. 
 

Yakinilah Tujuanmu

Rahasia besar mendapatkan apa yang kita inginkan dari hidup ini adalah mengetahui apa yang kita inginkan, dan percaya bahwa kita dapat memperolehnya.

Banyak orang yang tidak berhasil meraih harapan dan cita-citanya, bukan karena cita-cita itu terlalu tinggi atau harapan itu terlalu mustahil, tetapi karena orang itu sendirilah yang tidak percaya bahwa ia dapat meraihnya. Jika kita percaya—percaya dengan sepenuh hati dan sepenuh pikiran bahwa kita dapat mencapai sesuatu—maka sesuatu itu pun akan dapat dicapai. Percaya berarti meyakini kebenarannya; percaya berarti mengaktifkan energi tersembunyi kehidupan untuk mewujudkannya.

Napoleon Hill mengatakan hal ini dengan baik saat ia menulis, “Apa pun yang dapat dipercayai oleh pikiran, itu dapat diwujudkan.”
 

Tentukan Perjalananmu

Perjalanan dalam hidup ini tak jauh beda dengan perjalanan yang biasa kita lakukan ke luar kota atau ke luar negeri. Yang pertama dan yang terutama adalah kita harus memiliki tujuan yang pasti; kemana kita akan menuju dalam hidup ini.

Yang barangkali jarang kita sadari adalah; hidup ini terus berjalan dan membawa kita, tanpa peduli kita sudah menetapkan tujuan ataukah belum. Karena itu, kita harus secepat mungkin menetapkan tujuan. Kita harus mengendalikan hidup kita sendiri, karena jika tidak, hiduplah yang akan mengendalikan kita.

Kalau tujuan sudah pasti, kita bisa mulai menentukan arah perjalanan hidup kita, dan kita akan tahu masih lama atau sudah dekatkah tujuan itu. Ini akan memberikan rasa aman dalam diri kita, karena kita akan yakin bahwa kita tidak tersesat. Ingatlah pesan Mark Twain, “Kalau kau tidak tahu kemana akan pergi, mungkin kau akan sampai ke tempat yang salah.”

Temukan Alasanmu

Kalau kita menemukan cukup alasan untuk melakukan sesuatu, maka kita dapat membuat diri kita mampu melakukan apa saja. Kehendak kita melakukan sesuatu merupakan penggerak yang lebih kuat daripada tujuan yang kita kejar.

Kehendak adalah perbedaan antara merasa tertarik, dan bersungguh-sungguh mencapai sesuatu. Kita harus benar-benar bersungguh-sungguh pada apa yang harus kita lakukan dan korbankan untuk meraihnya. Kalau misalnya kita hanya berkata ingin sukses, maka itu adalah tujuan, tetapi tidak begitu bagi otak dan pikiran kita. Kalau kita mengerti mengapa ingin sukses, apa artinya sukses, maka kita akan lebih tergerak untuk meraihnya.

“Mengapa melakukan sesuatu” lebih penting daripada “cara melakukannya”. Kalau kita menemukan “mengapa” yang sangat kuat, kita akan dapat selalu membayangkan “caranya”. Kalau kita memiliki cukup alasan untuk melakukannya, kita dapat melakukan apa saja di dunia.
 

Hayatilah Impianmu

 Penulis terkenal dari Prancis, Honoré de Balzak, yang mengejar impiannya sampai akhir hidupnya, menulis, “Siapa saja yang berhenti bermimpi, siapa saja yang tak mengindahkan keinginannya yang terdalam dalam hidupnya, maka ia telah menjadi orang mati di alam hidup. Jangan biarkan hal ini terjadi padamu. Ubahlah eksistensimu dengan berani menghayati impianmu sepenuhnya, dan biarkan dirimu terseret oleh impian itu.”

Mungkin filsafat itu sekilas terkesan naif. Dan saya sendiri pun mengakui bahwa sampai pada batas tertentu memang demikian. Tetapi, tanpa kenaifan, tanpa kepolosan impian, tidak akan ada kebesaran apa pun yang pernah tercipta di dunia ini.

Tanpa kepolosan impian, Henry Ford tak akan menciptakan mobil, Bill Gates tak akan membuat Windows, Harland Sanders pun tak akan menjadikan KFC dikenal di seluruh dunia. Tanpa kepolosan impian, dunia tak akan mengenal film berwarna, freezer, tustel, mesin cuci, dan manusia pun tak akan pernah bisa terbang, apalagi sampai mendarat di Bulan.

Kepolosan, bahkan kenaifan dalam impian, justru dibutuhkan untuk menghasilkan keajaiban.
 

Mengetuk Pintu Kesempatan



Hari ini, jumlah pengangguran tidak juga berkurang meski banyak perusahaan baru dibangun dan didirikan. Orang-orang yang belum memiliki pekerjaan mengimpikan dapat bekerja, sementara orang-orang yang telah bekerja mengangankan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan penghasilan yang lebih besar.

Semua keinginan itu tentu dapat diwujudkan jika kita mau mencoba, dan mau mencari serta mendapatkannya. Tetapi, ada lebih banyak dari kita yang lebih memilih untuk menunggu datangnya sesuatu yang biasa kita sebut ‘kesempatan’. Sepertinya, kita meyakini betul bahwa suatu saat kesempatan akan datang dan menawarkan miliknya kepada kita, dan kita pun bisa begitu saja mendapatkannya.

Jika keyakinan semacam itu yang masih kita pegang, maka kehidupan kita tidak akan pernah berubah. Kesempatan tidak pernah datang mengetuk pintu kita. Kesempatan hanya menjawab kalau kita datang mengetuk pintunya.


 
;