Sabtu, 20 April 2024

Keseimbangan Alam Semesta

Banyak orang—dari awam sampai ilmuwan—bertanya-tanya mengenai keberadaan peradaban-peradaban maju di masa lalu (termasuk bangunan sampai teknologi), yang bahkan lebih maju dibanding zaman sekarang. Mengapa, dan bagaimana, keanehan semacam itu bisa terjadi?

Orang zaman kuno bisa membangun Piramida Giza, Stonehenge, sampai Borobudur. Orang zaman sekarang belum tentu bisa melakukan hal serupa. Di Baghdad, ada penemuan baterai berusia ribuan tahun. Sementara di Gabon, ada temuan reaktor nuklir yang telah beroperasi 500 ribu tahun.

Bagaimana orang-orang kuno yang hidup ribuan tahun lalu bisa melakukan dan menghasilkan sesuatu yang tidak/belum bisa dilakukan orang zaman sekarang? Bagaimana mereka di zaman kuno bisa mencapai peradaban hebat yang belum bisa dicapai orang zaman sekarang?

Sekarang kita tahu jawabannya. 

Thanos.

Ribuan tahun lalu, manusia telah mencapai puncak peradaban, tapi terlalu banyak populasi. Lalu Thanos muncul dengan Infinity Stones, dan memusnahkan semuanya, sementara Avengers belum lahir. Lalu peradaban kembali dibangun dari nol...

Ya tentu saja gak gitu, sih.

Cuma, soal kelebihan populasi itu kemungkinan memang menjadi penyebab hancurnya peradaban-peradaban masa lalu. Meski ukuran "banyak populasi" itu juga relatif, dalam arti berbeda dengan ukuran "banyak populasi" di masa kini.
Satu contoh yang gamblang adalah lenyapnya Suku Maya.

Suku Maya telah diakui sebagai pembangun peradaban hebat, yang bahkan membuat orang modern takjub, karena Suku Maya membangun peradaban hebat itu ribuan tahun lalu. And then, Suku Maya lenyap... tanpa bekas.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan kebingungan—bukan hanya karena kehebatan peradaban Suku Maya, tapi juga soal lenyapnya mereka. Ke mana orang-orang (yang jumlahnya tentu banyak) itu hilang? Mengapa mereka lenyap begitu saja, meninggalkan temuan-temuan hebat yang mengagumkan?

Sebegitu misterius soal itu, sampai ada orang-orang yang percaya bahwa Suku Maya diculik alien, karena mereka (alien) ingin mendapatkan pengetahuan-pengetahuan hebat yang dimiliki Suku Maya.

Tapi, sekali lagi, yang terjadi sesungguhnya tentu tidak begitu.

Belakangan, setelah bertungkus lumus puluhan tahun dalam penelitian panjang bercampur rasa penasaran yang akademis dan environmental, para ilmuwan akhirnya mengetahui penyebab musnahnya Suku Maya. Dan ternyata penyebabnya "sepele".

Paceklik! Gagal panen!

Owalaaaah...

Kita yang hidup di zaman sekarang mungkin menertawakan penyebab itu—paceklik—karena kita kini hidup dengan makanan berlimpah. Tapi ribuan tahun lalu, gagal panen bisa memusnahkan ribuan orang, ketika (sisa) makanan yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan populasi.
Kelebihan populasi telah melenyapkan Suku Maya. Dengan kemajuan dan kehebatan yang mereka miliki, di zamannya, mungkin mereka tidak pernah terpikir bahwa suatu saat bencana paceklik terjadi, dan akan melenyapkan mereka. 

Well, persis seperti yang sekarang kita alami.

Bahkan, jika kita mau mempelajari bencana banjir besar ribuan tahun lalu—yang melenyapkan setengah populasi dunia di masa itu—sebenarnya inti masalahnya juga kelebihan populasi. Meski legenda dan berbagai mitologi kemudian "membelokkan" asal usul bencana itu.

Kisah banjir besar tidak hanya dimiliki agama-agama samawi, tapi juga oleh berbagai peradaban dan bangsa di dunia, dengan aneka kisah di dalamnya. Di dalam agama tentu terkait kisah Nabi Nuh yang umatnya diazab dengan banjir besar. Tapi itu hanya satu kisah, masih banyak lainnya.

Dalam legenda Sumeria, bencana banjir besar diceritakan terkait orang bernama Ziusudra dan Enki. Di Babilonia, kisah banjir besar diceritakan dalam epos Gilgames, yang mengisahkan seseorang bernama Ea. Di Akkadia, banjir besar dikisahkan dalam epos Atrahasis, dan seterusnya.

Hampir semua bangsa di muka bumi punya kisah tentang bencana banjir besar yang menghancurkan peradaban dan melenyapkan lebih dari setengah populasi di masa itu. Semuanya dituturkan dengan kisah beragam, tapi intinya sama: Bencana besar itu "menyeimbangkan" alam semesta.

Karenanya, ketika menyaksikan Avengers: Infinity Stones, aku benar-benar takjub pada penulis kisahnya. Kalimat-kalimat yang diucapkan Thanos itu sebenarnya diambil dari manuskrip-manuskrip kuno. Bahkan misi Thanos sebenarnya "rekaman pengetahuan dari masa ribuan tahun lalu".


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Mei 2019.

Infinity Stones dan Utopia

Kerusakan bumi, polusi udara, rusaknya habitat, aneka wabah, sempitnya lapangan kerja, kelaparan, pengangguran, kebodohan, kehidupan yang makin berat—intinya semua masalah di dunia—bisa diselesaikan dengan sederhana.

Kumpulkan Infinity Stones, dan lakukan yang harus kaulakukan.

Infinity Stones terdiri dari enam elemen, yaitu Ruang (Space), Realitas (Reality), Kekuatan (Power), Jiwa (Soul), Pikiran (Mind), dan Waktu (Time).

Saat enam batu dengan kekuatan masing-masing itu dikumpulkan, keajaiban terjadi. Bagaimana kalau batu-batu itu kumpulan manusia?

Apa yang sekiranya akan terjadi jika ada sekumpulan manusia yang memiliki kemampuan luar biasa seperti Infinity Stones—kau bisa membayangkan analogi kekuatan mereka masing-masing—dan berpikir seperti Thanos?

Benar sekali, bahkan Avengers yang kuat pun tidak mampu mengatasi.

Tapi Thanos tak boleh menang dan Avengers tak boleh kalah, tentu saja, karena itu akan melukai keyakinanmu. Jadi, agar hatimu adem dan kau tetap punya harapan, kau diberi janji bahwa kelak Thanos akan kalah setelah Satria Piningit... maaf, setelah Captain Marvel, datang ke bumi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Maret 2019.

Hari Bumi

Selamat #haribumi

Sudah saatnya kita menyadari bahwa bumi bukan surga, dan manusia tidak bisa terus bereproduksi seenaknya. Karena semakin banyak manusia, semakin berat beban bumi. 

Nyanyian Bumi » http://bit.ly/15Zqqqp 

Menunggu Kepunahan Manusia » http://bit.ly/133XjvI 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 April 2019.

Ingin Musnah

Kadang-kadang aku ingin musnah jadi debu dalam jentikan Thanos.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 April 2019.

Film-film Bagus di 2019

Tiga film yang paling kutunggu tahun ini:
Avengers: Endgame
Angel Has Fallen
It II

Kebanyakan orang menunggu-nunggu Avengers: Endgame tentu karena ingin tahu bagaimana akhir kisah seri ini. Ada banyak spekulasi menarik dan menggelisahkan seputar akhir film ini, dan aku juga penasaran setengah mati.

Yang membuat akhir kisah Avengers: Endgame sulit ditebak, karena sebagian superhero Avengers mati. Jika mereka "dipaksa" bangkit (hidup kembali), artinya sekian juta orang lain juga akan hidup kembali. Memang akan menyenangkan penonton, tapi itu jelas bukan "tipe Hollywood".

Dalam bayanganku (yang tentu bisa keliru), Russo Bersaudara akan mengakhiri seri Avengers "secara adil". Thanos mungkin memang akan dibiarkan kalah, tapi mereka yang telah mati akan tetap mati. (Meski ending semacam ini akan memunculkan banyak pertanyaan lain).

Setelah Avengers; Endgame, film lain yang juga sangat kutunggu-tunggu adalah Angel Has Fallen, yang akan jadi seri ketiga setelah Olympus Has Fallen dan London Has Fallen. Itu jenis film yang selalu ingin kutonton. Benar-benar puas menyaksikannya!

Menyaksikan adegan ancur-ancuran dalam film selalu menyenangkan bagiku, apalagi adegan ancur-ancuran itu terjadi di pusat kekuasaan dunia! Amerika dan Inggris diserang habis-habisan, gila-gilaan, tepat di jantung kekuasaan mereka—well, kapan Indonesia bikin film kayak gitu?

Dan akhirnya, film yang paling ingin kutonton, di atas yang lainnya, adalah It II. Sepertinya hidupku belum tenteram sebelum menyaksikannya (tolong tidak usah tanya kenapa). Menurut desas-desus, film ini tayang 2019, dan semoga desas-desus itu memang benar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 April 2019.

Obat Stres

Ketika stres, sebagian orang jadi gak doyan makan, sementara sebagian lain makannya tambah banyak. Kenapa kok bisa beda gitu, ya? Padahal sama-sama stres. Omong-omong, aku termasuk yang pertama, yang gak doyan makan kalau lagi stres. Mau makan apa aja rasanya males.

Akibat stres bisa berbeda orang per orang; ada yang gak doyan makan, ada pula yang malah makannya tambah banyak. Bagaimana dengan obat stres? Kemungkinan besar juga berbeda. Ada yang mengobati stres dengan traveling, ngumpul dengan teman-teman, dan lain sebagainya.

Kalau aku simpel saja. Kalau lagi stres, biasanya lebih suka sendirian, mengisi waktu dengan hal-hal yang disukai; baca buku, nonton film bagus, semacam itu. Kalau beda dengan caramu, ya tidak apa-apa. Wong nyatanya kita memang punya cara berbeda untuk menangani stres, kan?

Ada orang bilang, stresnya mereda setelah rajin berdoa. Ya bagus itu. Cuma, cara yang bagus menurutmu, belum tentu bagus pula untuk orang lain. Karena obat stresmu belum tentu sama manjur untuk jadi obat stres orang lain. Jadi santai saja, tak perlu memaksakan caramu ke orang lain. 

Punya Simpanan

Lapar larut malam tapi malas keluar. Untung punya simpanan:
Mi instan ✖
Telur asin ✔


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 April 2019.

Sampah

Sampah pun laris di hari-hari kemarin.

Hari Mbuh.

Hari yang mbuh.

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Mei 2019.

Bdg

Bgst.

Rabu, 10 April 2024

Genosida Kucing di Australia

Australia sedang melakukan perburuan dan pembunuhan massal pada kucing-kucing liar yang dianggap telah sangat meresahkan. Selain jumlahnya yang luar biasa besar, kucing-kucing itu telah mengacaukan habitat. Upaya pembunuhan tergolong sadis, dari penembakan sampai peracunan.

Para penyayang binatang pun protes. Mereka mengusulkan agar perburuan/pembunuhan yang dilakukan lebih berperikucingan, salah satunya dengan cara sterilisasi. Dengan cara itu, menurut mereka, kucing-kucing tak bisa lagi bereproduksi hingga jumlahnya turun, dan masalah pun selesai.

Sterilisasi terhadap kucing yang kini meresahkan Australia memang terdengar seperti solusi yang baik, tapi juga mengandung masalah laten. Ketika kucing disterilkan, mereka memang tidak bisa lagi bereproduksi, tapi usianya akan lebih panjang. Hal ini berlaku pada semua makhluk.

Para ilmuwan telah mengetahui, bahwa cara pasti untuk panjang umur adalah sterilisasi (menghilangkan kemungkinan bereproduksi). Saat makhluk hidup disterilisasi, angka harapan hidupnya naik secara drastis! Hal ini tidak hanya berlaku pada hewan, tapi juga pada manusia.

Para kasim (pembantu di istana zaman Tiongkok kuno) menjalani sterilisasi untuk bisa bekerja di istana. Mereka memang tak bisa lagi bereproduksi, tapi usianya meningkat drastis hingga bisa mencapai 100 tahun—hampir dua kali lipat dari usia rata-rata manusia di zaman itu.

Di sisi lain, cara pasti cepat tua (dengan kata lain; cepat mati) adalah dengan punya anak. Ini sangat mudah dibuktikan. Kalau kau lajang (atau sudah menikah tapi tidak/belum punya anak) dan kau punya teman sebaya yang sudah punya anak, temanmu pasti tampak lebih tua darimu.

Bahkan, setiap kali seorang wanita melahirkan anak, usia biologisnya akan bertambah 9 tahun. (Usia biologis itu usia yang terkait kondisi tubuh, bukan usia yang didasarkan kalender). Karenanya, wanita yang punya lebih dari satu anak biasanya sangat cepat bertambah tua.

Apa yang bisa disimpulkan dari fakta-fakta ini? Bagiku sederhana; begitulah cara evolusi menjebak kita!

Yang diinginkan evolusi hanya satu: Kau kawin agar bisa beranak pinak! Setelah itu terjadi, evolusi tidak membutuhkanmu lagi, karena itulah kau segera menua, dan lalu mati.

Kenyataan ini terjadi pada semua makhluk hidup, termasuk pada kucing-kucing liar yang kini sedang menghadapi genosida di Australia. Bedanya, kucing-kucing itu—dan hewan-hewan lain, tentu saja—tidak menyadari apa yang terjadi pada mereka, karena memang tidak punya akal pikiran.

Akal budi dan pikiran, itulah yang membedakan manusia dengan binatang, yang memampukan manusia untuk pede menempatkan diri sebagai "pemimpin di muka bumi", khalifah fil ardh—oh, well.

Dan "pemimpin di muka bumi" ini, sayangnya, ternyata sama-sama tolol dan tunduk pada evolusi.

Kawin dan beranak-pinak adalah tuntutan evolusi. Dan manusia, makhluk yang berakal ini—sang "pemimpin di muka bumi"—justru mengarang-ngarang dalih dan doktrinasi yang mengglorifikasi kawin dan beranak-pinak... sambil gembar-gembor menentang teori evolusi. 

Oh, well, pecah ndase.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Mei 2019.

Hidup Begitu Sederhana

Hidup begitu sederhana, yang ndakik-ndakik cuma doktrinnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Mei 2019.

Sambutan-sambutan

Sesuatu yang biasanya ada dalam acara apa pun, tapi biasanya juga tidak diminati siapa pun: Sambutan-sambutan.

Ini aku lagi "terjebak" dalam suatu acara, dan dari tadi "sambutan-sambutan" gak habis-habis. Orang-orang terlihat bosan, sementara yang ngasih sambutan juga terlihat gak semangat. Dan aku berpikir, "Untuk apa semua ini, ya Allah?"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 April 2019.

Dan Seterusnya dan Seterusnya

Ketika tangan dan seterusnya dan seterusnya, ketika kaki dan seterusnya dan seterusnya, ketika mulut dan seterusnya dan seterusnya, ketika kangeuuun dan seterusnya dan seterusnya, ketika emessshhh dan seterusnya dan seterusnya....

Selamat Idulfitri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Juni 2019.

Beda Orang Tolol dan Orang Cerdas

Orang yang sering atau terbiasa menulis karya ilmiah pasti tahu—bahkan hafal—bahwa salah satu hal penting yang harus selalu dilakukan adalah menggunakan diksi atau pilihan kata denotatif (bermakna harfiah), bukan menggunakan kata konotatif (bermakna kiasan).

Karenanya, semakin sering atau semakin lama seseorang berkutat dengan hal-hal ilmiah, ia pun semakin dekat dengan realitas, dan, sebaliknya, semakin berjarak dari hal-hal yang tidak realistis (khususnya, dalam hal ini, penggunaan diksi atau kata-kata yang biasa dipakai).

Bagi “orang ilmiah”—maksudnya, orang yang terbiasa berpikir ilmiah—ya berarti ya, dan tidak berarti tidak. Orang semacam itu bisa dongkol dan bosan kalau menghadapi orang yang menjawab “ya” padahal maksudnya tidak, atau menjawab “tidak” padahal maksudnya “ya”.

Kalau kamu perempuan, dan kebetulan pacaran dengan orang yang kamu yakini cerdas, biasakan untuk berbicara apa adanya, bukan menggunakan kode-kode tolol yang biasa dilakukan perempuan saat berpacaran. Pacarmu bisa bosan kalau kamu pakai kode-kodean.

“Tapi cowok mestinya harus ngertiin cewek, dong!” Ya kalau begitu, kamu harusnya pacaran dengan cowok tolol! Atau, kalau beruntung, mestinya kamu pacaran dengan Albus Dumbledore atau Doctor Strange, yang bisa membaca pikiranmu tanpa harus ada penjelasan kata-kata.

Nyatanya, kita memang bisa menilai tingkat intelegensi seseorang dari sikap atau kata-katanya. Orang-orang cerdas bersikap dan berbicara secara langsung dan lugas, orang-orang tolol suka bicara mutar-mutar tidak jelas. 

Menghadapi Hal Serius

"Bagaimana cara terbaik menghadapi sesuatu yang sangat serius?" 

"Tertawa saja, tapi tetap anggap hal itu serius." 

—Nasihat yang bagus!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Maret 2012.

Terlelap dan Terjaga

Orang-orang terlelap di dunia nyata, dan terjaga di dunia maya. Udara telah menjadi bagian virtual, dan kehidupan cuma segaris pita digital.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Maret 2012.

Definisi Pagi

Pagi adalah definisi bagi orang yang baru bangun tidur,


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 April 2012.

Kayak Nggak Ada Kerjaan Lain Aja

Pemberitahuan di Facebook: "Si X mengajak Anda untuk bermain FarmVille 2." 

Kok kayak nggak ada kerjaan lain yang bermanfaat aja!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Maret 2012.

Simpulkan

Bisa dipastikan, tiap malam Minggu pengunjung blogku berkurang sampai seribuan. Hmm, ada seribuan orang yang lebih suka pacaran daripada....

Mari kita simpulkan. Orang yang sering tidak muncul di timeline pada malam Minggu berarti sudah punya pacar. #NgomongSendiri


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 April 2012.

Senin, 01 April 2024

Orang Gila Ngaku Waras

"Kamu kalau ngoceh panjang-panjang gitu, sambil buka buku, ya?"

Hahahaaaaa, ya nggak, laaaah. Wong ngoceh kok buka buka. Kalau sambil buka buku itu namanya presentasi, bukan ngoceh!

....
....

Sedari dulu aku "kagum" pada orang gila yang bisa ngoceh apa saja di mana saja, tanpa peduli lingkungannya. Aku ingin bisa seperti itu, tapi terbentur masalah kewarasan—orang-orang menganggapku waras—jadi aku tidak bisa ngomong sendiri seperti orang gila. 

Belakangan, aku menyadari, media sosial—khususnya Twitter—memungkinkanku melakukan sesuatu yang sedari dulu ingin kulakukan; ngoceh sendiri tentang apa saja, tanpa peduli lingkungan. Ini menyenangkan, setidaknya bagiku, karena rasanya "melegakan"—kalau kau paham maksudku.

Dulu, tiap kali melihat orang gila yang lagi ngoceh sendiri, aku pasti akan duduk tak jauh dari tempatnya, dan khusyuk mendengarkannya. Bagiku, mendengarkan orang gila yang ngoceh sendiri lebih menyenangkan, daripada mendengarkan orang waras ngoceh. Orang gila lebih jujur!

Orang gila tidak akan berbohong kepadamu, tidak akan berusaha membuatmu terkesan, tidak akan berpikir untuk memanipulasimu—mereka tidak punya pretensi atau tendensi apa pun—karena mereka bahkan tidak peduli kau mendengarkannya atau tidak. Aku suka orang gila!

Sayang, sekarang sulit menemukan orang gila yang ngomong sendiri seperti yang dulu sering kudapati di mana-mana. Aku curiga, ada gerakan diam-diam yang menyingkirkan mereka (orang-orang gila yang suka ngomong sendiri), dan entah dibawa ke mana orang-orang gila itu.

Kadang aku berpikir, masalah "gila" dan "waras" ini hanya soal statistik. Orang-orang waras—atau yang kepedean merasa dirinya waras—kebetulan mayoritas, jadi mereka yang gila pun tersingkir. Coba kalau yang gila lebih banyak, orang-orang sok waras itulah yang akan tersingkir.

Mayoritas orang menjalani kehidupan dengan tekanan demi tekanan, salah satunya tekanan dan nyinyiran orang-orang sekitar. Mereka pecicilan kawin dan beranak pinak demi membungkam mulut orang sekitar, meski untuk itu harus keblangsak. Dan mereka tidak malu menyebut diri waras!
Sementara ada orang-orang yang memilih menjalani kehidupan sesuai pilihannya, tanpa peduli nyinyiran orang-orang sekitar—termasuk tidak buru-buru kawin dan beranak pinak—dan mereka menjalani hidup damai, tenteram, bahagia. Tapi mereka malah dituduh gila karena dinilai berbeda!

Seperti yang dikatakan kebenaran kuno, "Akan tiba suatu masa, ketika kebenaran yang kaugenggam seperti nyala api yang akan membakar tanganmu." 

Dan orang-orang sok waras mengira bahkan meyakini bahwa merekalah yang menggenggam nyala api itu, hingga membakar hidupnya sendiri.

Oh, well.

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 April 2019.

Berbukalah

Berbukalah dengan mbakyumu—kalau punya, tentu saja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Juni 2019.

Butuh Dua Ribu Tahun untuk Sadar

Dua isu yang kencang bergulir di akhir 2022 kemarin adalah resesi ekonomi dan resesi seks. Resesi seks adalah keengganan orang untuk menikah, atau keengganan punya anak untuk pasangan yang menikah. Butuh dua ribu tahun untuk membawa manusia sampai ke titik itu.

Sebenarnya, dari dulu sudah ada orang-orang yang memutuskan untuk tidak menikah. Pertama, tentu saja, karena mereka menyadari bahwa menikah [atau tidak] adalah soal pilihan. Dan mereka memilih untuk tidak menikah karena hal-hal lain yang mereka anggap lebih penting.

Apa “hal lain yang lebih penting dari menikah”? Tolong maafkan jika jawaban saya terdengar kasar. Kalau kamu masih bertanya-tanya “apa hal lain yang lebih penting dari menikah”, artinya kamu “masih terbelakang”, yang meyakini bahwa menikah adalah keharusan mutlak.

Dua ribu tahun yang lalu, Homo sapiens menganggap bahwa menikah adalah tujuan terpenting sebagai manusia. Tapi sekarang, sebagian manusia mulai menyadari bahwa menikah hanyalah satu pilihan di antara pilihan-pilihan lain, dan siapa pun berhak untuk menikah atau tidak.

Tolong Katakan Pada Urepah

Tolong katakan pada urepah urepah urepah, bahwa urepah urepah urepah adalah urepah urepah urepah.

Asu!

Tradisi Tidak Terjamin Benar

Tanggal 31 Desember adalah kepastian. Begitu pun tanggal 1 Januari. Tapi merayakan tahun baru adalah soal tradisi. Artinya, meski kita sama-sama menjalani tanggal 31 Desember dan 1 Januari, kita bebas merayakannya atau tidak, karena itu hanya tradisi.

Dalam pengertian sederhana, tradisi adalah sesuatu yang dilakukan sebagian orang secara turun temurun. Karena dilakukan dari waktu ke waktu itulah, lalu disebut “tradisi”. Tapi tradisi bukan kewajiban. Lebih penting lagi, tradisi tidak terjamin pasti benar, hingga kadang direvisi.

Seperti tradisi merayakan tahun baru. Kita yang hidup di zaman sekarang merayakan tahun baru pada 1 Januari. Tapi 4.000 tahun yang lalu, ketika tradisi itu pertama kali muncul, tahun baru tidak dirayakan pada 1 Januari, melainkan pada pertengahan Maret, saat musim panen tiba.

Penjual Omong Kosong

Akhir-akhir ini ada fenomena munculnya para penjual omong kosong, yang berharap bisa mengkapitalisasi omong kosongnya. Kita tentu ingat seseorang yang disebut ustaz, di Depok, yang konon berhasil menangkap babi ngepet, tapi lalu terungkap kalau dia cuma ngibul, dan dia ditangkap polisi.

Setelah ditangkap polisi, ustaz di Depok itu akhirnya mengaku, babi ngepet yang ia tangkap sebenarnya babi yang ia beli sendiri. Dia juga mengaku, tujuannya bikin hoax itu agar mendapat pengaruh di masyarakatnya, yang bisa jadi ujung-ujungnya adalah upaya kapitalisasi. You know, lah.

Mencari popularitas adalah hak setiap orang, bahkan mengkapitalisasi (mendapatkan keuntungan materi) dari popularitas juga hak setiap orang. Tapi ketika popularitas dibangun dengan omong kosong sambil membawa-bawa simbol agama, masyarakatlah yang kelak dirugikan.

Fenomena ini mengingatkan saya pada fenomena sama, yang terjadi pada awal 2000-an. Di masa itu juga muncul “oknum-oknum ustaz” di berbagai daerah, berpenampilan layaknya orang-orang alim, dan menawarkan sesuatu yang mereka sebut “pengobatan alternatif” dan aneka praktik perdukunan.

“Oknum-oknum ustaz” itu bahkan mengiklankan bisnis mereka (pengobatan alternatif dan praktik perdukunan) melalui media-media cetak—itu era 2000-an, ketika media cetak di Indonesia masih berjaya, dan internet belum semasif sekarang. 

Berapa bujet iklan tahunan mereka? Miliaran!

Sebagai ilustrasi, iklan dengan lebar 10x10 cm di halaman tabloid—yang terbit seminggu sekali—mencapai Rp5 jutaan. Itu setara dengan iklan seperempat halaman majalah ukuran standar (di bagian dalam). Dan ingat, itu nilai uang pada awal 2000-an, yang tentunya jauh lebih besar dibanding Rp5 jutaan di masa sekarang.

Nah, para “oknum ustaz” itu biasa ngiklan seukuran itu, dan terus menerus, tanpa henti, di banyak media (khususnya tabloid dan majalah). Jika seminggu sekali mereka memasang di 10 media saja, artinya mereka harus mengeluarkan 50 juta per minggu, atau 200-an juta per bulan. 

Bisa membayangkan yang saya maksud? Para “ustaz” di masa itu bisa menghasilkan ratusan juta per bulan dari “praktik” yang mereka lakukan, terbukti bisa membayar iklan hingga ratusan juta. Dan dari mana uang yang jadi penghasilan mereka? Tentu saja dari masyarakat yang tergiur!

Tentu tidak masalah jika seorang ustaz memasang iklan besar-besaran, dan menarik tarif mahal dari masyarakat yang membutuhkan jasa mereka, dan terbukti jasa mereka memang memberikan manfaat. Tapi bagaimana jika “jasa” yang mereka berikan ternyata omong kosong?

Yang Bisa Kita Lakukan

Yang bisa kita lakukan bukan menentang perubahan. Tetapi merawat, menjaga, dan melestarikan milik kita agar tidak pudar dan menghilang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 April 2012

Bisa Berubah

Aku belajar bahwa pikiran manusia bisa berubah, sebagaimana hati yang bisa berubah, atau kehidupan yang juga bisa berubah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 April 2012

Pergi ke Hutan

“Mari kita pergi ke hutan,” kataku.

“Ya, mari kita pergi ke hutan,” jawabku.

Hari yang Sangat Biasa

Hari yang sangat biasa, dan aku tak tertarik untuk mendramatisirnya.

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Mei 2019.

Bodo

Iyo.

 
;