Rabu, 25 Mei 2011

Menyentuh Keabadian

Cinta yang tersembunyi, yang rahasia,
selalu lebih kuat kuasanya
dibanding cinta yang berteriak
di alam semesta. Di jalan cinta yang sunyi,
hati manusia
menyentuh arti kesejatian, inti keabadian.



Kau duduk di situ, dan mengenang kembali, tentang suatu waktu ketika mengenal sesosok lelaki yang istimewa dalam hidupmu—sesosok lelaki yang memenuhi khayalan-khayalan indahmu, sesosok lelaki yang memenuhi angan-angan dan mimpimu.

Mungkin kau bertemu dengannya saat masih SMA, atau saat kuliah di kampus yang sama. Kau mendapatkan lelaki itu hadir dalam hidupmu, menjadi orang yang dekat denganmu, dan kalian saling akrab, dekat, namun... tak pernah lebih dari itu. Kau menikmati saat-saat bersamanya, meresapi debar kebahagiaan yang kaurasakan saat di dekatnya, namun... tak pernah lebih dari itu. Kau tak pernah tahu bagaimana hati lelaki itu, sedekat apa pun kau dengannya, seakrab apa pun kau bersamanya.

Kau merasakan suatu perasaan lembut dalam hatimu kepada lelaki itu, namun sekali lagi, kau tak pernah tahu isi hati lelaki itu. Dan kau memendamnya dalam batin, bersama rahasia-rahasiamu yang lain.

Sebagai perempuan, kau tahu telah jatuh cinta kepada lelaki itu—suatu perasaan cinta yang lembut, yang hanya dapat dirasakan oleh hati perempuan. Namun selama lelaki yang kaucintai tak pernah menyatakan cintanya kepadamu, kau pun tahu sebaiknya memendam perasaan cinta itu di lubuk terdalam batinmu.

Kau menunggu—kau mencoba menunggu—namun kemudian waktu memisahkanmu dari lelaki itu—dan kau kehilangan—merasa sangat kehilangan—namun kau tahu bayangan lelaki itu akan menjadi bayang abadi dalam dinding-dinding kehidupanmu.

Dan waktu-waktu berlalu. Waktu-waktu yang mencoba membawamu kepada angan yang baru—kehidupan yang baru—namun bayangan lelaki itu tetap tak pernah mampu kauhapuskan, tak pernah mampu kaulupakan. Kau tahu masih mencintainya—namun kau tak pernah tahu bagaimana hatinya—dan kini kau berpisah dengannya.

Sampai kemudian kau menikah dengan seseorang yang dipilihkan untukmu, dan kau tak mampu menolaknya. Lebih dari itu, kau pun tak ingin lagi terbenam dalam harapan semu pada lelaki impianmu, karena dia tak pernah membukakan isi hatinya kepadamu.

Terkadang ada batas yang harus dipastikan antara kenyataan dan imajinasi—khayalan dan kenyataan—dan kau tahu kinilah saatnya harus mulai menciptakan batas yang nyata. Lelaki dari masa lalu itu hanyalah bagian dari khayalan—ilusi, imajinasi—sementara kehidupan sekarang adalah realitas yang nyata—suatu kenyataan yang harus kauhadapi.

Maka kau pun menikah dengan lelaki lain itu, dan kau hidup bersamanya, memiliki anak-anak, membangun keluarga... dan bayangan lelaki yang pernah menjadi impianmu itu pun perlahan-lahan mulai memudar dari dalam kenangan dan hatimu.

Sebagai perempuan, kau pun menyadari bahwa cinta di hatimu mudah ditumbuhkan oleh sikap yang halus, tutur kata lembut, dan itulah yang telah dilakukan oleh suamimu kepadamu. Kau mencintainya—mencintai suamimu—dan kau ingin menjadi pasangan terbaik bagi lelaki yang kini menjadi penopang hidupmu.

Namun, sebagai perempuan pula, kau pun tahu ada bagian hatimu yang lain—suatu bagian kecil di dalam hati seorang perempuan—yang tak pernah bisa mati karena detak-detak halus dari perasaan mencintai—kepada seorang lelaki—bertahun-tahun yang lalu, sebelum kau mengenal dan sebelum kau hidup bersama suamimu yang sekarang. Kau tak pernah dapat mengingkari kenyataan kecil dari sebuah cinta yang amat rahasia—sebuah cinta yang jauh tersembunyi di balik relung hatimu—kepada sebuah sosok dari masa lalu...

Tahun-tahun terus berlalu, dan kau telah menjalani hidup yang baru—sebagai seorang istri bagi suamimu, seorang ibu bagi anak-anakmu.

Sampai kemudian, setelah bertahun-tahun tak pernah bertemu, suatu hari kau berjumpa kembali dengan lelaki dari masa lalu itu—di sebuah lorong swalayan—saat kau tengah berbelanja dengan anak-anakmu.

Kau melihatnya, dan dia tersenyum kepadamu. Dan meski bertahun-tahun tak pernah bertemu, kalian langsung saling mengenali, saling menyapa dengan penuh kerinduan, dan sekali lagi kau merasakan suatu debar yang pernah kaurasakan bertahun-tahun yang lalu. Suatu debar yang tak pernah dapat kauungkapkan dengan kata-kata... Namun, sekali lagi, kau pun tak bisa tahu isi hati lelaki itu.

Pesona lelaki yang dulu pernah menyentuh inti kedalaman jiwamu itu masih dapat kaurasakan getarannya, dan kau bertanya-tanya sendiri dalam hatimu—mengapa kau bisa merasakan perasaan semacam itu?

Ada cinta yang begitu kecil—sedemikian kecilnya hingga letaknya begitu tersembunyi di hatimu—namun cinta yang kecil itu selalu berdetak... berdetak... dan tak pernah mati, hingga terkadang kau berpikir cinta yang begitu kecil itu sesungguhnya cinta yang begitu besar—hanya saja dalam bentuk yang amat tersamar.

Dan tahun-tahun terus berganti, anak-anakmu semakin tumbuh besar dan dewasa. Sebagian telah kuliah, sebagian yang lain telah menikah dan memberikanmu cucu-cucu yang amat kausayangi.

Suamimu makin beranjak tua dan mulai sakit-sakitan, sampai kemudian meninggal dunia di suatu malam yang kauiringi dengan tangis duka dan rasa kehilangan. Kau tahu kau mencintai suamimu—dan kau makin menyadari perasaan cinta itu saat menatap jasad suamimu yang telah terbujur kaku.

Sering kali, kita baru menyadari besarnya cinta yang kita miliki setelah orang yang kita cintai tak ada lagi—dan begitu pula denganmu. Kau merasa kehilangan—merasa amat kehilangan—dan kalau saja waktu dapat berputar kembali ke masa lalu, rasanya kau pun ingin memberikan cinta yang lebih besar untuk suamimu.

Beberapa tahun kemudian, kau pun mulai merasakan tubuhmu semakin melemah, dan sakit mulai sering datang menghampiri. Usiamu terus merangkak, rambut di kepalamu mulai memutih, dan kulitmu yang dulu halus lembut telah berganti keriput. Kau menengok hari-harimu yang telah berlalu, dan kau menyaksikan betapa panjangnya waktu yang telah kaulalui.

Kau telah menjalani hidup yang istimewa—sebagai anak kecil yang bahagia, seorang remaja yang dimanja, dan sebagai seorang dewasa yang pernah mengenal sesosok lelaki impian. Dan kau pun pernah merasakan kebahagiaan menjadi istri yang dipuja, menjadi ibu yang amat dicintai... Kau bersyukur telah diberkati sebuah hidup yang panjang dan istimewa—suatu hidup yang penuh suka-duka serta pahit-getir namun terasa penuh makna.

Dan di suatu senja yang indah, kau terbaring di pembaringanmu, dikelilingi anak-anak dan menantu serta cucu-cucumu, dan kemudian... kau menghembuskan napas yang terakhir dengan senyum di bibirmu, dengan tangis orang-orang yang mencintai dan mengasihimu.

Selalu dan selamanya, akan datang suatu saat ketika seorang manusia harus pergi meninggalkan segalanya di dunia—dan begitu pula denganmu. Satu lagi seorang manusia meninggalkan dunia—dan dunia tak lagi memilikimu.

Tahun-tahun terus berganti, dan abad demi abad berlalu. Milenium pun berganti milenium. Tak terhitung lagi berapa panjang waktu yang berjalan, berapa banyak abad yang berganti, berapa banyak milenium yang berlalu, sampai kemudian tiba Hari Kebangkitan, dan kau pun memasuki suatu alam yang baru.

Kemudian, melalui perjalanan panjang penuh liku, penantian panjang yang penuh rindu, kau pun sampai di surga yang telah dijanjikan untukmu. Di sana, kau menyadari semua keindahan dan kebahagiaan dunia yang pernah kaurasakan bagai sebutir atom dibanding kebahagiaan dan keindahan yang kini kauhayati.

Kau menikmati kehidupan yang baru, dalam keabadian, dan kau selalu suka berjalan-jalan sendirian di taman-taman surga, mencium harum wangi bunga indah yang tumbuh di atas tanah-tanah surgamu, memetik buah-buah kesukaanmu, dan mendengarkan gemericik air mengalir di bawahmu. Kau selalu suka menikmati angin lembut dari kesejukan tempatmu berjalan, dan kau selalu tersenyum saat menyaksikan sekumpulan kupu-kupu indah yang selalu mengikutimu kemana pun kau melangkah.

Dan tanpa pernah kausangka, saat kau tengah berjalan-jalan di taman keindahan itu, kau bertemu kembali dengan sosok lelaki yang pernah menjadi impianmu di kehidupan dunia, sekian abad, sekian milenium yang lalu...

Kau menyaksikannya berjalan sendirian, jauh di depanmu, namun kau langsung mengenalinya, dan kau pun menyaksikan sekumpulan kupu-kupu indah yang juga mengikuti di sekitarnya.

Kalian saling mendekat, saling tersenyum dan saling mengenali—dan sekali lagi, debar-debar keindahan yang pernah kaurasakan dalam hatimu itu berdetak kembali. Hanya... kali ini tak ada lagi yang tertutup bagi pandanganmu, dan kau pun tahu isi hati lelaki itu.

Suatu senja yang indah di surga. Bunga-bunga harum bermekaran, gemericik air di bawah kakimu terasa menyejukkan, dan kupu-kupu di antara kalian saling menyapa begitu mesra, seperti hatimu yang menyapa hati lelaki itu dengan penuh kerinduan. Dan saat bibir-bibir kalian saling tersenyum dalam kebisuan, kalian pun sama-sama menyadari, bahwa hati kalian telah menyentuh inti keabadian.

Agatha Christie dan Gurunya



Kita pasti mengenal nama penulis cerita detektif paling terkenal di dunia, Agatha Christie. Meski dia telah meninggal dunia lebih dari dua puluh tahun yang lalu, tetapi sampai hari ini buku-buku karyanya masih terjual dan masih diburu orang. Saat ini, buku-buku karya Agatha Christie telah terjual lebih dari dua miliar eksemplar di seluruh dunia.

Kalau membaca data itu, kita tentu tak perlu lagi menyangsikan kehebatan Christie dalam menulis.

Tetapi, sebagaimana para penulis lainnya, Agatha Christie juga pernah mengalami masa-masa pembelajaran dimana dia masih ‘tertatih-tatih’ dalam menulis, dan hasil tulisannya masih jelek. Saat pertama kali menulis, dia bahkan tak berani mengirimkannya ke penerbit mana pun, karena dia sendiri sudah bisa menilai karyanya itu jelek.

Tetapi untunglah waktu itu Agatha Christie memiliki seorang tetangga yang telah menjadi penulis novel terkenal, bernama Eden Phillpotts. Jadi dia sering membawa karya-karyanya kepada Phillpots.

Meski tahu bahwa karya Christie waktu itu tak terlalu bagus, Phillpots juga tahu perempuan itu punya potensi. Dia sama sekali tak mengkritik ataupun mengajari Christie meskipun dia seorang penulis hebat—Phillpots lebih memberikan pujian dan dorongan semangat agar Christie terus menulis.

Dan begitulah, pada tahun-tahun selanjutnya, ketika kemahsyuran Agatha Christie telah jauh melampaui kemahsyuran Philpotts, Christie menggambarkan bagaimana Philpotts memberikan taktik dan simpati yang sangat dibutuhkan untuk mempertahankan keyakinan dirinya sebagai penulis pemula.

“Saya mengagumi pengertiannya,” kata Agatha Christie, “yang diberikannya hanya dorongan, bukan kritikan.”

Dan saat Philpotts meninggal pada tahun 1960, Christie menulis, “Untuk kebaikannya pada saat saya masih seorang gadis muda yang baru mulai menulis. Saya akan selalu merasa berterima kasih padanya.”


Open Mind



Socrates pernah mengungkapkan suatu jalan menuju keterbukaan pikiran dengan sangat gamblang. Katanya, “Bagi saya, segala yang saya ketahui justru adalah segala yang tidak saya ketahui sama sekali.”

Ungkapan itu juga merupakan suatu bentuk kerendahhatian, dimana dia tak mau menjadi orang yang sok tahu atau selalu merasa mengerti.

Dan berapa banyak dari kita yang lebih memilih untuk tinggi hati, untuk terbiasa mengatakan ‘Saya tahu’ atau ‘Saya mengerti’? Kita lebih terbiasa untuk mendengar ‘siapa’ yang mengatakan daripada ‘apa’ yang dikatakan. Padahal, mutiara tetaplah mutiara meskipun ada di dalam comberan, dan kotoran tetaplah kotoran meski ada di dalam mangkuk emas.

Antonie Gilly adalah seorang juru masak terkenal dari Prancis. Ia sering didatangi orang-orang yang ingin menceritakan pengalaman mereka dalam memasak. Suatu hari, seorang ibu datang kepadanya hanya untuk menceritakan bagaimana dia memasak telur dadar.

Sebagai juru masak kaliber internasional, Antonie Gilly tentu telah tahu bagaimana cara membuat telur dadar dalam ratusan versi. Tapi dia tidak menampik ibu itu, dan justru mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Setelah ibu itu selesai bercerita dan berlalu, Antonie Gilly tersenyum dan mengatakan, “Anda tahu, saya belum pernah menggunakan teknik-teknik yang digunakan ibu tadi. Ia membuat telur dadar dengan caranya yang sangat unik. Tampaknya cara tersebut cukup masuk akal dan menghemat waktu serta tenaga. Saya akan mempraktekkan teknik yang dikembangkan ibu tadi.”

Inilah yang membedakan antara seorang koki hebat, yang bersedia menerima pandangan orang lain, dan koki biasa, yang sering kali merasa sudah tahu segalanya.


Jumat, 20 Mei 2011

Jilbab Maria Ozawa

Beberapa tahun yang lalu, ketika Maria Ozawa masih ngetop-ngetopnya dan menjadi buah bibir, lalu lintas internet di seluruh dunia meningkat drastis sehingga jauh lebih padat dibanding waktu-waktu sebelumnya.

Peningkatan besar-besaran jumlah pengakses internet itu karena bertebarannya foto-foto serta film-film Maria Ozawa yang bisa di-download melalui situs-situs tertentu—dan bocah-bocah dari seluruh dunia pun “berebutan” mengunduhnya. Sebuah situs porno Jepang bahkan menyatakan di laman webnya, bahwa dalam satu hari mereka mengunggah foto-foto Maria Ozawa tiga hingga lima kali, karena banyaknya jumlah pengakses web tersebut. Kenyataan ini merupakan rekor tersendiri dalam industri bokep dunia, khususnya di Asia.

Sampai kemudian, entah bagaimana asal-usulnya, muncul foto-foto baru Maria Ozawa, namun kali ini jauh lebih sopan, bahkan terkesan “salikhah”. Foto-foto itu menampilkan Maria Ozawa mengenakan jilbab, dengan busana tertutup khas muslimah. Foto-foto “unik” ini banyak bertebaran di web dan blog-blog Indonesia.

Tentu saja foto-foto Maria Ozawa berjilbab itu kemungkinan besar rekayasa montase, tetapi yang jelas hasilnya benar-benar “mulus”—dalam arti jilbab itu benar-benar pas di wajah Maria Ozawa. Karenanya, jika foto-foto tersebut ditunjukkan pada orang yang sama sekali tidak mengenal Maria Ozawa, dia pasti akan terkecoh dan langsung terkesan. Bisa jadi dia akan menganggap itu foto wanita muslimah yang benar-benar salikhah.

Nyokap saya sendiri juga terkecoh pada hal tersebut. Karena iseng, saya dulu pernah menjadikan foto Maria Ozawa berjilbab itu sebagai wallpaper ponsel. Tanpa sengaja, nyokap melihat tampilan tersebut, dan langsung tertarik. Dipandanginya foto Maria Ozawa di ponsel itu, kemudian bertanya, “Da’, ini Siti Nurhaliza, ya?”

Secara nyokap memang fans berat Siti Nurhaliza. Dan kalau diperhatikan, Maria Ozawa yang berjilbab itu memang sedikit mirip dengannya. Tapi saya sudah keburu menjawab jujur, “Uh, bukan. Itu… itu Maria Ozawa.”

Sepertinya nyokap tidak mengenal nama itu. “Artis Malaysia juga, ya?” tanyanya.

Dalam hati saya bersyukur nyokap tidak mengenal Maria Ozawa. Karenanya, agar tidak memperpanjang urusan, saya pun menjawab, “Iya, artis Malaysia.”

Lalu nyokap memandangi foto itu dengan kekaguman yang nyata. “Cantik sekali, ya. Namanya juga indah—Maria Ozawa. Agak-agak mirip dengan Siti Nurhaliza.”

Hah, bukannya itu jauh banget, pikir saya.

Lalu nyokap menyatakan harapannya, “Da’, semoga istrimu kelak seperti ini, ya.”

Seperti Maria Ozawa??? Semoga saja harapan nyokap tidak terkabul! :D

Betewe, jika nyokap teringat pada Siti Nurhaliza setelah menyaksikan foto Maria Ozawa berjilbab, saya justru teringat pada Siti Musdah Mulia.

Pada suatu waktu, Siti Musdah Mulia pernah menyatakan bahwa jilbab sesungguhnya bukan tradisi Islam, melainkan hanya tradisi Arab. Karenanya, menurut intelektual wanita ini, perempuan Islam boleh tidak berjilbab. Jika jilbab dikatakan sebagai identitas, maka ia sesungguhnya identitas Arab, dan bukan identitas Islam. Tesisnya tersebut didasarkan pada fakta turunnya Islam di tanah Arab, sehingga budaya Arab ikut teradopsi ke dalam Islam.

Karena pernyataannya tersebut, wanita yang memiliki gelar Profesor Doktor dan MA ini dicaci dan dihujat, bahkan dikafir-kafirkan oleh sebagian orang Islam sendiri. Tetapi, sebagaimana orang hebat lainnya, Siti Musdah Mulia bergeming—tidak goyah sedikit pun dalam keyakinan tesisnya. Bahkan, setelah itu, dia terus menggulirkan pemikiran-pemikirannya yang—entah mengapa—selalu saja membuat orang-orang Islam di Indonesia jadi kalang kabut.

Kontroversi paling mutakhir menyangkut Siti Musdah Mulia adalah ketika Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi digulirkan. Dia menjadi salah satu tokoh yang secara terang-terangan menolak keras undang-undang tersebut. Sebagaimana para intelektual lainnya, dia juga mengajukan penolakannya pada RUU itu berdasarkan pemikiran intelektual, dan bukan semata karena tendensi emosi.

Tetapi, sekali lagi, upaya wanita ini dihadang caci-maki, hujatan, serta pengkafiran. Pada waktu-waktu itu, di hampir semua web dan blog yang mengulas tentangnya berisi komentar-komentar pedas dan “mengerikan” yang isinya penghujatan atas Siti Musdah Mulia.

Ketika kemudian diwawancarai di acara Mata Najwa di televisi, Siti Musdah Mulia menyatakan dengan nada menyayangkan, “Undang-undang ini diberi nama Anti Pornografi dan Pornoaksi. Akibatnya, orang yang menolak undang-undang tersebut langsung dianggap atau dituduh mendukung pornografi dan pornoaksi. Padahal tidak sesederhana itu masalahnya.”

Di sinilah urat akarnya—“Tidak sesederhana itu masalahnya.”

Jika saya membungkus sebuah bom waktu yang saya kemas dalam sebuah kotak indah bertatahkan mutiara, dan saya memberikannya kepadamu, apakah kau akan menerimanya…?

Orang yang hanya melihat bungkusnya (kotak indah berhiaskan mutiara), pasti akan langsung menerimanya dengan senang hati—tanpa tahu bahwa kotak indah itu membahayakan kehidupannya. Tetapi, orang yang tahu bahwa di dalam kotak indah itu ada sebuah bom waktu yang setiap saat dapat meledak, pasti akan menolaknya. Buat apa memiliki kotak indah berhias mutiara jika kehidupan menjadi taruhannya?

Ini persoalan kesan—persoalan identitas. Sebagaimana jilbab yang dikenakan Maria Ozawa tidak serta-merta menjadikannya seorang muslimah, begitu pula identitas lainnya. Saya tahu siapa Maria Ozawa, dan saya tidak akan mau menjadi suaminya, meski dia tampak salikhah dengan tampilan jilbab dan busana muslimahnya. Sebaliknya, nyokap saya tidak mengenal Maria Ozawa, sehingga “tanpa dosa” sampai mendoakan anaknya memiliki istri seperti dia.

Persoalan identitas adalah persoalan yang rawan, karena ia mengaburkan batas-batas logika. Karena identitas, orang rela menyabung nyawa untuk berperang dengan orang lainnya. Karena identitas, orang kadang terjebak pada pengkultusan yang bahkan tak masuk akal. Dan karena identitas pula, orang sering keliru memahami apa yang sesungguhnya ada di balik identitas itu.

Tidak selamanya yang ada di atas nampan itu emas, dan tidak selamanya yang terbungkus beludru itu intan. Artinya, identitas adalah kemasan, sedang apa yang ada di balik identitas itulah isi atau esensinya. Sekali lagi, Maria Ozawa tidak serta-merta menjadi wanita yang salikhah, meski dia mengenakan jilbab dan busana muslimah—karena itu hanya kemasan yang membungkusnya.

Pertanyaan pentingnya adalah, manakah yang sesungguhnya ingin kita pilih, ingin kita miliki? Bungkus atau kemasannya, ataukah isinya? Semata identitasnya, ataukah esensinya?

Di sinilah perlunya kesadaran untuk tidak mudah emosi apalagi menghidupkan fanatisme yang membuta dalam menghadapi sesuatu hanya karena “tampaknya” atau karena “kemasannya”. Di sini pulalah pentingnya arti pembelajaran, agar kita tahu apa yang sesungguhnya kita pilih dan inginkan—bukan karena terkecoh oleh penampilan dan penampakan identitasnya, melainkan karena kesadaran dan pengetahuan atas apa yang ada di balik identitas itu.

Sepertinya amat konyol jika kita membangga-banggakan sebuah kotak emas berhiaskan mutiara, tapi ternyata ada bom waktu yang siap meledakkan kepala kita. Karenanya, jika ada orang yang kemudian mengingatkan bahaya itu, sebaiknya kita periksa isi kotak itu terlebih dulu, dan bukannya buru-buru menghujat atau mengkafir-kafirkannya.

Persoalan manusia adalah persoalan ego—dan ego inilah sumbu paling panas yang mudah terbakar oleh fanatisme, dan fanatisme selalu berhubungan dengan identitas. Manusia mudah terbakar ketika bersinggungan dengan persoalan identitas. Karena itu pula, tidak sedikit orang-orang licik yang sengaja memanipulasi identitas itu demi menggulirkan sesuatu yang diinginkannya, demi memperoleh dukungan massa atas kepentingannya.

Konsekuensi buruknya, orang yang mengetahui kelicikan itu justru menjadi pihak yang dimusuhi hanya karena ia berusaha mengingatkan bahwa ada sesuatu yang busuk di dalam identitas yang tampak indah itu. Sayangnya, orang-orang yang benar-benar tahu semacam itu biasanya bukan bagian dari massa, sehingga ia kalah jumlah dan kalah suara.

Melalui paragraf terakhir ini, saya ingin siapa pun tahu, bahwa saya tidak sedang membela Siti Musdah Mulia. (Lagian saya ini siapa, kok berani-beraninya membela wanita sekaliber dia?). Saya hanya sedang mengajak siapa pun untuk mengenali dan menggali esensi sebelum memuja identitas, mempelajari dan memahami isi sebelum menyanjung dan mendukung bungkus. Karena… Maria Ozawa tetap saja bintang bokep meski ia tampil mengenakan jilbab.

Pap Smeap



“Apakah maksud Anda ‘pap smear’?”

“Tidak, maksud saya memang ‘pap smeap’.”

“Begitu. Jadi, apa ‘pap smeap’ itu?”

“Itulah masalahnya. Saya juga tidak tahu.”


Kidung Kehidupan



Saya memang tidak yakin bahwa semua orang yang bahagia adalah orang yang murah hati. Tetapi saya begitu meyakini bahwa orang yang murah hati pastilah bahagia.

Kita perlu selalu mengingat bahwa kita tidak harus bahagia terlebih dulu untuk menjadi murah hati, tetapi kemurah-hatian kita akan menghasilkan kebahagiaan, pada orang lain dan juga bagi diri kita sendiri. Apabila kita mampu memberikan sedikit saja dari yang kita miliki kepada seseorang yang membutuhkan, maka kita tidak hanya akan memperoleh kebahagiaan, tetapi juga kesadaran bahwa hidup tidak menjadi jauh lebih baik daripada kepuasan di dalam hati yang kita alami.

Hidup ini memang tidak selamanya diukur hanya berdasarkan lamanya, melainkan juga berdasarkan besarnya sumbangan yang kita berikan pada kehidupan.


Minggu, 15 Mei 2011

Note from Biek Island

Dengan kasih, untuk j.w


Tidak jauh dari Teluk Casablanca yang tidak terkenal, ada sebuah gundukan dataran yang lebih tidak terkenal. Tidak terlalu luas, juga tidak terlalu sempit. Tidak terlalu subur, pun tidak terlalu gersang. Itulah Pulau Biek—atau yang dalam beberapa literatur disebut Biek Island.

Orang yang pertama kali menyebutkan keberadaan pulau tak dikenal ini adalah Jason Wiraatmadja, seorang bocah Indonesia yang kuliah di Amrik—tepatnya di KSU, Manhattan. Tetapi Jason pun mendengar tentang pulau itu dari seseorang, ketika dia sedang menikmati teh di Kantin Balbeek.

Di wilayah pedesaan Manhattan, ada sebuah kampus tua yang terhormat bernama Kansas State University. Bocah-bocah Indonesia yang kuliah di sana sering membandingkan KSU dengan UI Depok—mungkin karena kemiripan geografisnya. Tidak jauh dari kampus itu, ada sebuah kafe bernama Balbeek, yang dimiliki warga Amrik peranakan India. Bocah-bocah KSU sering menyebut kafe itu dengan sebutan Kantin Balbeek.

Suatu hari, selepas kuliah sore, Jason mendatangi Kantin Balbeek untuk menikmati teh sambil membaca buku—hal umum yang biasa dilakukan bocah-bocah KSU. Pada waktu itulah, tanpa sengaja, Jason mendengar percakapan beberapa orang tentang keberadaan Biek Island.

“Jadi, secara geografis, pulau itu masuk wilayah mana?” itu ucapan pertama yang didengar Jason menyangkut Biek Island.

Kemudian, terdengar jawabannya, “Pulau itu tidak masuk wilayah mana pun. Tetapi setiap orang bisa mengklaimnya.”

“Setiap orang? Jadi kita bisa datang ke sana dengan kapal ala perompak Karibia?”

Terdengar tawa sumbang. Lalu,

“Ya. Jika tidak ada satu pihak pun yang mengklaim pulau tersebut, maka setiap orang yang menginginkan bisa mengklaimnya.”

“Well, pulau ini... tepatnya dimana?”

Seseorang membisikkan sesuatu—dan naluri Jason mulai tergelitik.

Keesokan harinya, Jason tidak masuk kuliah, karena menghabiskan waktunya di perpustakaan kampus untuk mencari apa pun tentang Biek Island. Ada yang menarik tentang pulau itu, pikirnya. Maka, selama berjam-jam dia menelusuri entri demi entri di komputer kampus untuk melacak pulau asing tersebut—hingga kesibukannya hari itu menarik perhatian Mrs. Davis.

Mrs. Hannah Davis adalah pustakawati kampus yang tekun—dan dia telah terbiasa menyaksikan Jason sibuk di perpustakaannya. Selama ini, Mrs. Davis mengenal Jason sebagai mahasiswa yang senang menelusuri literatur, dan Mrs. Davis mengagumi semangatnya. Tetapi, kali ini kesibukan bocah itu tidak seperti biasanya. Di matanya hari itu, Jason tampak terlalu sibuk dan terlalu bersemangat.

“Ada yang bisa kubantu, Jason?” sapa Mrs. Davis sambil mendekati Jason yang waktu itu sedang duduk di depan layar komputer, dengan dikelilingi tumpukan buku di kanan kirinya.

“Oh, eh, Mrs. Davis, Anda baik sekali.” Jason tergagap. “Saya tidak tahu Anda di situ.”

Mrs. Davis tersenyum hangat. “Kau tampak sibuk sekali sejak tadi. Apa yang kaucari kali ini, eh? Tambang berlian?”

“Sepertinya Anda mampu membaca pikiran, Mrs. Davis,” sahut Jason membalas senyum si penjaga perpustakaan. “Anda pernah mendengar tentang Biek Island?”

“Biek Island...?”

“Ya, itulah yang saya cari sejak tadi. Anda belum pernah mendengarnya?”

“Apakah itu semacam pulau berisi tambang berlian?”

Jason tertawa. “I don’t know—itulah yang ingin saya tahu. Tapi sepertinya isi perpustakaan ini tidak memuat tentang Biek Island. Saya sudah menelusuri empat ribu tujuh ratus entri sampai saat ini, tapi tidak satu pun entri yang memuat kata Biek Island.”

“Kenapa tidak mencoba Google Earth? Siapa tahu Uncle Google sudah lebih maju dalam hal ini?”

Jason mengerutkan keningnya. “Itu pula yang membuat saya bingung. Google Earth juga tidak mendeteksi keberadaan pulau ini.”

Sekarang Mrs. Davis duduk di dekat Jason, di depan layar komputer, dan dia ikut mengerutkan keningnya. “Boleh tahu dari mana kau mendengar tentang pulau itu—Biek Island?”

“Saya tidak sengaja mendengarnya. Di Kantin Balbeek—maksud saya, di Balbeek Cafe—kemarin waktu saya minum teh di sana.”

“Begitu. Dan ada sesuatu yang menggelitikmu untuk mengetahui lebih lanjut tentang pulau itu?”

“Ya, dan itulah yang sekarang saya lakukan.”

“Biek Island, ya,” gumam Mrs. Davis sambil masih mengerutkan keningnya. “Eh, kalau Google Earth tidak mendeteksi keberadaan pulau itu—apakah kau yakin kalau Biek Island memang sebuah pulau? Maksudku, apakah kau benar-benar yakin itu nama suatu tempat?”

“Itu sempat terpikir oleh saya, Mrs. Davis.” Dan setelah terdiam sesaat, Jason melanjutkan, “Pada mulanya saya juga ragu, jangan-jangan Biek Island bukan nama suatu pulau atau nama tempat. Tapi lalu saya menemukan ini.”

Jason mengambil sebuah buku di dekat layar monitor, dan memperlihatkannya kepada Mrs. Davis. Buku itu tidak terlalu tebal, tetapi sudah kusam dan judulnya pun sudah nyaris hilang. Tapi mata Mrs. Davis masih dapat membacanya dengan jelas.

“The Dark Island,” ucap Mrs. Davis perlahan, membaca judul yang tertera di sampul buku itu. “Tapi, Jason, buku ini tidak menyebut nama Biek Island?”

“Begitulah. Buku itu tidak secara eksplisit menyebutkan nama Biek Island, tapi deskripsi yang tertulis di dalamnya menyerupai bayangan saya tentang Biek Island. Secara tersirat, buku ini menyebutkan kalau Biek Island adalah sebuah pulau—sebuah tempat—hanya saja buku ini menyebutnya ‘Dark Island’.”

Mrs. Davis mengangguk-angguk. “Jadi, pulau ini semacam tanah kegelapan, eh?”

Jason memahami canda itu, dan dia pun tersenyum. “Moreless. Saya pikir juga begitu—well, saya sebenarnya berencana menggunakan kata kunci yang terdapat dalam buku itu untuk melacaknya melalui search engine.”

“Buku ini memuat kata kunci?”

“Ya. Ada kata-kata tertentu yang tidak biasa menyangkut pulau ini—dan mungkin kata kunci itu bisa digunakan untuk melacaknya lebih jauh. Anda tahu, setiap kali sebuah deskripsi ditulis mengenai sebuah pulau, maka isinya akan berkisar pada tanah bumi, flora, fauna, atau semacamnya—dalam bentuk yang wajar. Tetapi ada yang tidak lazim di buku ini. Di situ tertulis, bahwa Dark Island menarik perhatian orang karena di sana banyak.... well, flèur l’epàc”

“Flèur l’epàc...?” Mrs. Davis kembali mengerutkan keningnya—kali ini lebih dalam.

“Anda sepertinya mengenali frasa itu?”

“Itu bukan frasa biasa, Jason. Perhatikan komposisi frasanya—itu bukan istilah Prancis murni—itu frasa asing yang disamarkan dalam bahasa Prancis.” Lalu Mrs. Davis membisikkan sesuatu yang hanya didengar oleh Jason.

Jason meraih mouse di samping layar monitor, membuka search engine, dan mengetikkan Flèur l’epàc sebagai kata kunci. Dan ketika ia menekan Enter di keyboard, hanya sedikit link yang tersedia. Jason meng-klik link teratas, membuka dan membaca isinya... dan terpana.

Detik itu dia seperti diberitahu, dunia yang dilihatnya tidak akan pernah sama.



Sepuluh Pecahan

1. Persiapan pertemuan.

2. Tempat yang diharapkan.

3. Pengingkaran perasaan.

4. Kemampuan bertahan.

5. Air mata dan senyuman.

6. Menarik napas sejenak.

7. Perbedaan yang sama/mirip.

8. Pilihan atas penderitaan.

9. Kehilangan yang disepakati.

0. Aturan yang diciptakan.

Hidupmu adalah Pilihanmu

Apabila ada sesuatu yang tidak kita inginkan atau tidak kita sukai dalam hidup ini, jangan pernah mengkhawatirkannya, apalagi sampai membicarakannya. Energi yang kita miliki akan terbuang percuma kalau terus khawatir dan berbicara tentang ketidaksukaan.

Kalau kita tidak menginginkan hidup yang kacau atau hubungan yang berantakan, jangan pernah mengkhawatirkan hidup yang kacau atau hancurnya hubungan yang kita miliki dengan seseorang. Ini berkaitan dengan ‘gambar mental’ (alam bawah sadar) yang selalu mewujudkan apa pun yang kita masukkan ke dalamnya.

Karenanya, upayakan untuk selalu berpikir benar, dan masukkan sebanyak-banyaknya harapan hidup yang baik, sebagaimana yang kita inginkan. Usahakan untuk selalu berpikir tentang harapan yang kita tuju. Pikiran akan mendorong sikap. Sikap akan mendorong perbuatan. Perbuatan akan menciptakan realitas.

Barangkali seseorang bisa mengatakan, “Lho, aku berpikir begitu karena hidupku kacau!”

Sebenarnya, hidupmu kacau karena kau berpikir begitu.

Sebuah Titik

Sebuah lagu dapat membahagiakan hati.
Sekuntum bunga dapat menyegarkan taman.
Sebatang pohon dapat berkembang menjadi hutan.
Sebuah sentuhan dapat menunjukkan kepedulian.
Sebuah senyuman dapat memulai persahabatan.
Sebuah jabat tangan dapat mempererat persaudaraan.
Sebuah lilin mampu menghilangkan kegelapan.
Sebuah bintang dapat memandu kapal di tengah lautan.
Sebuah tawa mampu menyegarkan jiwa.
Sebuah suara dapat mengubah suatu bangsa.
Sebuah kata dapat memulai doa.
Sebuah doa dapat menenteramkan kehidupan.
Sebuah kehidupan dapat membuat perbedaan.
Sebuah harapan dapat memulai semangat perjuangan.
Sebuah ide... dapat mengubah dunia.

Berpikir di Facebook

Orang yang banyak bicara tidak punya waktu untuk berpikir.
—Karl H. Pickel

Kebaikan dalam kata-kata menciptakan rasa percaya diri, kebaikan
dalam berpikir menciptakan kedalaman.
—Anthony deMello

Berpikir adalah pekerjaan terberat, karena itulah sedikit sekali
orang yang mau menggunakan otaknya.
—Henry Ford

Ternyata, banyak orang lebih cepat mati ketimbang berpikir.
—Bertrand Russel

Manusia hampir tak pernah memanfaatkan kemerdekaan
yang mereka miliki, yaitu kemerdekaan berpikir. Sebagai gantinya
mereka menuntut kemerdekaan berbicara.
—Soren Kierkegaard

Berpikir adalah pekerjaan paling sulit di dunia. Sebegitu sulitnya,
hingga kebanyakan manusia lebih memilih mati dibanding melakukannya.
—Hazrat Inayat Khan


Facebook bertanya, “Apa yang Anda pikirkan?”

Post yang Kutulis dengan Kepala Terasa Mau Pecah

Wanita suka dirayu.

Tetapi Adam terjatuh karena rayuan Hawa.

….
….

Alam semesta memang punya selera humor yang aneh.

Eulog



Ketika mendengar seorang kenalan, sahabat, tetangga atau kerabat kita yang meninggal dunia, biasanya yang kemudian meluncur dari bibir kita adalah ucapan berduka. Setelah itu, kita pun biasanya jadi teringat segala kebaikan orang yang telah meninggal itu; tentang keramahannya, tentang sifat pemurahnya, tentang kesetiaannya, dan tentang segala hal baik dari orang itu. Dan kita pun memujinya.

Saya belum pernah mendengar ada orang yang menjelek-jelekkan seseorang yang baru saja meninggal. Selalu terdengar pujian untuk orang yang telah meninggal, dan agama pun memang mengajarkan hal itu. Tetapi, apakah kita harus selalu menunggu seseorang meninggal terlebih dulu hanya untuk memujinya?

Rasanya, segala pujian itu akan lebih berharga ketika disampaikan pada saat orang tersebut masih hidup.


Rabu, 11 Mei 2011

Obrolan Ibu-ibu Horor

Saya baru tahu kalau ternyata obrolan para ibu yang lagi ngerumpi bisa lebih mengerikan dari horornya Alfred Hithcock. Suer, saya sampai merinding sekujur tubuh waktu tanpa sengaja mendengar apa yang mereka obrolkan.

Siang itu saya masuk ke rumah makan yang belum pernah saya masuki, karena kebetulan sedang ada urusan di daerah itu. Rumah makan ini berdampingan dengan sebuah rumah sakit, dan tanpa prasangka apa pun saya masuk ke sana karena sudah lapar. Sampai pelayan rumah makan menghidangkan pesanan saya, semuanya berjalan baik-baik saja. Hingga kemudian muncul beberapa ibu-ibu yang masuk ke sana, dan… taraaa…!

“Jadi anaknya perempuan?” terdengar suara seorang dari mereka.

“Iya, perempuan,” sahut yang lainnya, “padahal Jeng Vika tuh pengin sekali dapet anak laki-laki.”


Lalu yang lain lagi menyahut dengan suara yang terdengar bijaksana, “Yang penting semuanya lancar—anaknya selamat, ibunya selamat.”


Saya masih duduk membelakangi mereka, waktu ibu-ibu itu masuk ke rumah makan yang pada mulanya sepi. Tanpa harus menengok, saya tahu ibu-ibu yang baru masuk itu ada lima orang.

Kelima ibu-ibu itu lalu duduk mengelilingi meja yang tak jauh dari tempat duduk saya. Mereka memesan minuman, beberapa juga memesan nasi, sementara yang lain hanya ingin ngemil. Sambil minum-minum dan ngemil itulah kemudian obrolan yang amat mengerikan mulai terdengar—dan saya jadi merinding disko sambil berusaha menghabiskan makan.

Jadi, kelima ibu-ibu itu mungkin baru saja dari rumah sakit karena seorang famili yang baru melahirkan. Karena suasananya masih suasana kelahiran anak, maka topik obrolan mereka pun jadi seputar proses melahirkan, dan hal-hal terkait lainnya—tak peduli waktu itu mereka ada di rumah makan, dan ada seorang cowok culun yang sedang makan sendirian.

“Eh, Jeng, apa bener kalau ngelahirin sama bidan tuh katanya veggy kita nggak dijahit?” suara seorang dari mereka—terdengar penasaran namun elegan.

“Ya nggak mesti,” ujar lainnya, dengan suara yang terdengar penuh pengalaman. “Dijahit enggaknya itu kan tergantung kondisi, ya. Ada juga bidan yang tetap ngejahit veggy sehabis ngelahirin, kok. Saya aja dulu dapet dua jahitan, padahal ngelahirin sama bidan tuh.”

Nasi dalam mulut saya seperti mulai sulit ditelan.

“Uh, Jeng,” terdengar suara lainnya lagi, “soal dijahit apa enggaknya itu kan juga tergantung pada veggy kita—digunting apa enggak. Kalau veggy digunting ya mesti dijahit lah, masak udah digunting terus dibiarin aja.”

Veggy digunting…??? Mendengar veggy dijahit saja saya sudah merinding—lha ini veggy digunting…? Dan mereka membicarakan hal itu dengan sangat santai, seolah sedang mengobrolkan harga cabai. Apa sebenarnya yang saya dengar ini…?

Karena takjub dan bingung mendengar hal barusan, beberapa percakapan setelahnya terlewat dari pendengaran saya, hingga…

“Wah, Jeng, kalau saya sih lebih suka digunting aja. Robekannya tuh lebih rapi. Beda banget kalau robek sendiri tuh, kadang robeknya nggak beraturan.”

“Saya sih sebenarnya nggak masalahin ya, mau digunting apa robek sendiri. Cuma waktu dijahitnya itu lho, uh… rasanya sakit sekali.”

“Sama, Jeng, saya juga suka ngeri kalau dengar istilah dijahit sesudah ngelahirin. Pas kelahiran anak saya kemarin, kebetulan ari-arinya putus dan ketinggalan. Mulanya dicoba diambil pakai tangan, tapi nggak berhasil. Akhirnya dikuret. Kan dibius tuh. Eh, waktu bangun rasanya jadi lega sekali, karena nggak ngerasain sakitnya dijahit.”

“Yah, Jeng, kalau saya udah bisa dibilang nggak ngerasain apa-apa waktu dijahit tuh, soalnya udah ngerasa sakit banget waktu ngelahirin, jadi sakitnya dijahit udah nggak kerasa lagi. Saya malah sampai ketiduran waktu lagi dijahit.”

Ketiduran sewaktu dijahit…? Oh my gosh, apa sebenarnya yang saya dengar ini???

“Eh, Jeng, kata famili saya yang di Amrik ya, di sana dokternya asyik-asyik tuh.”

“Asyik-asyik gimana, Jeng?”

“Gini, mereka tuh katanya makai cara yang lebih alami waktu ngebantu ibu yang lagi melahirkan, jadi prosesnya lebih mudah. Kalau nggak salah, katanya mereka ngolesin minyak gitu ke veggy, jadi lebih elastis dan nggak perlu digunting, dijahit atau diobras.”

“Wah, Jeng, Amrik telat tuh. Saya mah udah diajari metode kayak gitu sejak dulu.”

“Jeng Sita ngolesin minyak ke veggy?”

“Uh, bukan gitu. Cuma, setelah memasuki bulan kedelapan, saya biasanya meminum satu sendok minyak kelapa murni setiap hari, sampai waktunya ngelahirin. Itu resep yang cespleng lho, Jeng, karena hasilnya emang udah terbukti. Saya nggak pernah ngalamin masalah sewaktu melahirkan—mudah, normal dan lancar, juga nggak perlu digunting atau diobras.”

Dalam hati saya mencatat ucapan itu—kalau-kalau kelak diperlukan.

“Apa iya, Jeng?”

“Iya, itu resep dari emak saya yang didapet dari emaknya dulu. Emaknya dulu itu mungkin juga dapet resep itu dari emak-emaknya dulu.”

Dan dalam hati saya membayangkan, bahwa emaknya yang paling dulu itu mendengar resep tersebut dari suaminya, yang tanpa sengaja mendengar resep itu dari ibu-ibu yang lagi ngobrol, ketika sedang makan siang sendirian di rumah makan di samping rumah sakit.

Khayalan nakal saya terhenti ketika serombongan ibu-ibu lain terdengar masuk ke rumah makan itu. Kali ini jumlahnya cuma empat orang, tapi suara mereka terdengar lebih heboh dibanding ibu-ibu yang tadi.

“Denger-denger, dapet jahitan berapa, katanya?” terdengar suara seorang di antara mereka.

“Empat.”

“EMPAT…???” terdengar pekikan terkejut dari ibu-ibu itu.

Saya tidak paham mengapa mereka harus terkejut mendengar jahitan berjumlah empat itu—dan sumpah mati saya tidak ingin paham.

Buru-buru saya bangkit dari tempat duduk, membayar biaya makan, dan secepatnya kabur dari sana. Hampir bisa dipastikan ibu-ibu yang baru datang itu akan memiliki obrolan yang lebih horor dibanding ibu-ibu yang tadi. Dan rasanya saya tidak akan sanggup mendengarnya.

Psychoself

Orang tidak peduli seberapa banyak yang kita ketahui hingga mereka yakin kita peduli. Bagaimana kita melihat diri sendiri adalah ego kita, bagaimana orang lain melihat diri kita adalah kepribadian kita.

Kita sering kali menilai diri kita dari apa yang kita pikir bisa kita lakukan, sedangkan orang lain sering kali menilai diri kita dari apa yang telah kita lakukan.

Jadi…?

Belajar Bijak



Bagaimana bersikap bijak dalam menghadapi hidup?

Epictetus, seorang filsuf besar, punya nasihat yang bagus sekali untuk direnungkan. Katanya, “Ingatlah, dalam kehidupan ini kau perlu bersikap seperti di dalam sebuah pesta. Jika sesuatu ditawarkan kepadamu, maka ulurkanlah tanganmu dan ambillah sepotong dengan sopan. Kemudian teruskanlah hal itu kepada orang di sebelahmu, jangan ditahan. Atau, jika ia belum sampai kepadamu, maka jangan perlihatkan betapa kau sudah tidak sabar untuk mengambilnya. Tunggulah sampai hal itu tiba di hadapanmu. Begitu pulalah hendaknya sikapmu terhadap anak-anak, istri, pekerjaan dan kekayaan.”

Kalau memang kehidupan adalah pesta dimana banyak makanan disediakan untuk diambil, maka kita memang berhak untuk mengambil yang mana pun. Tetapi, kalau kita mengambil semuanya, kita justru akan sakit perut!


Pergi ke Sebuah Huruf

Lebih dari yang kupikirkan, ternyata lebih sulit dari yang pernah kubayangkan.

Rahasia Kecil Alam Semesta (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Selain Disney, tak terhitung banyaknya orang-orang lain yang juga mengalami kenyataan yang sama. Mereka berawal dari kemiskinan, kemudian sukses ketika masih muda, lalu hancur ketika berusia 30 tahun. Sebagian dari mereka berhasil bangkit lagi dan membangun kesuksesan yang jauh lebih besar, sedang sebagian yang lain benar-benar hancur dan karam.

Pertanyaannya, sekali lagi, mengapa…? Mungkin hal ini masih akan menjadi rahasia kecil alam semesta di antara rahasia-rahasia besar lain yang masih disimpannya.

Nah, jika saya mengamati dan mempelajari kenyataan ini, ternyata yang tersandung pada angka tiga bukan hanya terbatas pada kesuksesan sebagaimana yang terjadi pada kasus-kasus di atas. Dalam banyak hal lain, dalam hidup ini, ada berbagai macam hal yang (sepertinya) juga tersandung pada angka tiga. Perkawinan, misalnya.

Saya belum pernah menikah, jadi saya tidak tahu seperti apa dan bagaimana romantika orang yang sudah menikah dan berumahtangga. Tetapi, saya terus-menerus melihat kenyataan aneh ini. Orang-orang yang menikah (berdasarkan yang saya dengar, amati, dan pelajari) akan mencapai “ujian” pertamanya pada waktu tiga hari setelah menikah.

Jika “ujian pertama” ini beres, dan kedua orang yang menikah itu masih “asyik-asyik saja” setelah tiga hari, maka mereka akan menemui ujian berikutnya, yakni setelah waktu pernikahan mencapai tiga minggu. Jika dalam waktu tiga minggu masih beres, ujian berikutnya setelah tiga bulan. Jika dalam waktu tiga bulan ini pun tetap masih beres, maka ujian terbesar yang akan dialami adalah ketika mencapai tiga tahun usia pernikahan.

“Waktu berumahtangga yang paling sulit kurasakan,” kata banyak teman saya yang sudah menikah, “adalah ketika mencapai waktu tiga tahun.”

Menurut mereka, tiga tahun setelah hari pernikahan adalah waktu yang benar-benar tepat untuk disebut sebagai “badai ujian”. Di waktu-waktu inilah, katanya, segala hal yang buruk sepertinya terjadi secara bersamaan—dari yang remeh dan sepele seperti urusan ekonomi, sampai masalah yang cukup serius seperti tingkat kesetiaan pasangan. Semuanya seperti terjadi pada masa-masa tiga tahun ini.

Lalu bagaimana jika “waktu ujian” setelah tiga tahun itu berhasil terlewati? Para psikolog yang mengkhususkan diri pada bidang perkawinan memiliki sebuah rumus yang disebut “7-year-itch-effect”—atau tujuh tahun masa perkawinan. Angka 7 yang ada di dalam rumus itu diambil dari perhitungan 3 + 3 + 1. Tiga tahun, plus tiga tahun lagi, plus satu tahun berikutnya.

Lawrence A. Kurdek, seorang psikolog dari Department of Psychology of Wisconsin University, menyatakan bahwa pada masa-masa inilah sering kali timbul perselisihan yang tajam antara suami dengan istri, yang tidak jarang berakhir dengan perceraian—atau setidaknya hubungan yang tidak lagi harmonis.

Ini aneh—apa sebenarnya yang telah terjadi…?

Mungkin (sekali lagi, mungkin!) waktu tiga tahun dalam perkawinan adalah masa transisi dari mimpi-mimpi indah pra-perkawinan kepada realitas pasca-perkawinan. Karenanya, mereka yang berhasil melewati masa transisi ini biasanya akan stabil dalam kehidupan mereka setelahnya, sedangkan mereka yang tidak berhasil biasanya akan memilih bercerai karena tidak tahan “menanggung ujian”. Mungkin karena itu pulalah kemudian usia lima tahun dalam perkawinan dirayakan sebagai ulang tahun yang istimewa.

Yang saya paparkan di sini, sebagaimana yang sudah kaubaca di atas, baru dua hal—kesuksesan pribadi, dan keberhasilan melanggengkan perkawinan. Tetapi, sesungguhnya, masih banyak hal lain yang selalu, selalu, dan selalu saja, tersandung pada angka tiga. Saya sengaja menyebutnya “tersandung”, karena orang bisa bangkit lagi dari ketersandungan itu, atau tetap jatuh dan tak bisa (atau tak mau) bangkit lagi setelah tersandung.

Saya bisa menyebutkan tujuh hal lain yang selalu tersandung pada angka tiga—selain hal di atas—tetapi biarlah kau menemukannya sendiri, agar ia benar-benar milikmu. Kalau kau berhasil menemukannya, ambillah sebagai pelajaran. Kalau kau tidak berhasil menemukannya, yeah, anggap saja ini permainan kecil di antara kita.

Rahasia Kecil Alam Semesta (1)

Manusia adalah alam semesta di dalam dirinya sendiri.
—Bob Marley


Saya tidak tahu bagaimana sebenarnya aturan main yang digunakan alam semesta dalam mempermainkan orang-orang yang hidup di dalamnya. Tetapi, setiap kali saya mencoba mencari rahasia permainannya, saya selalu saja tersandung pada fakta yang berhubungan dengan angka tiga. Bisa tiga puluh, tiga tahun, tiga angka, atau yang lainnya—selalu saja berhubungan dengan tiga.

Konon, orang-orang yang hidup di surga kelak akan berusia 33 (tiga puluh tiga) tahun. Untuk hal ini, saya pikir, mungkin karena usia 33 tahun adalah puncak keindahan dan kematangan manusia—saya pikir begitu—dan saya percaya berdasarkan apa yang selama ini saya pelajari. Tetapi pemahaman saya hanya sebatas itu. Di luar hal itu, fakta-fakta yang berhubungan dengan tiga tetap menjadi misteri.

Jangan salah paham. Saya tidak bermaksud membicarakan numerologi. Ini bahkan lebih rumit dari aturan main dalam angka yang ada dalam numerologi. Coba sajalah perhatikan dirimu sendiri, atau kawan-kawanmu, atau lingkungan sekitarmu, dan—kalau cukup peka—kau akan mendapati hal-hal “aneh” yang berhubungan dengan tiga, sebagaimana yang saya maksudkan di atas.

Ada cukup banyak penelitian yang menyebutkan bahwa jika seseorang telah sukses atau berhasil menjadi jutawan sebelum berusia 30 tahun, maka kesuksesan orang itu akan hancur ketika usianya mencapai 30 tahun, hampir 30 tahun, atau beberapa tahun setelah dia berusia 30 tahun. Jika dia ingin sukses kembali, dia harus memulainya dari awal lagi.

Tentu saja kita boleh percaya atau tidak dengan hal itu, tetapi saya percaya sepenuhnya—karena saya telah mengalaminya!

Pertanyaannya, kenapa 30 tahun? Mungkin usia 30 tahun adalah masa transisi seorang manusia—dari usia “hampir dewasa” menjadi “dewasa sepenuhnya”. Itu asumsi saya, tetapi saya tidak yakin kalau itulah yang dijadikan aturan main alam semesta. Dari banyak biografi orang sukses yang pernah saya baca, anehnya, saya juga mendapati fakta misterius itu. Tak terhitung banyaknya anak-anak muda yang sukses dan berhasil dan kaya-raya sebelum berusia 30 tahun—kemudian hancur ketika mereka memasuki usia 30 tahun.

Mereka yang hancur ini, memang harus mulai kembali dari bawah, dari nol, dari awal lagi. Mereka yang berhasil biasanya akan dapat membangun kesuksesan yang jauh lebih besar dari kesuksesan yang pernah diraihnya, dan mereka yang tidak berhasil akan kandas dan karam untuk waktu yang sangat lama.

Kalau kita membaca kisah perjalanan hidup orang-orang sukses yang terkenal, kita akan mendapati fakta itu. Walt Disney bisa dijadikan salah satu rujukan kasus yang sangat bagus. Pada masa sekarang, Walt Disney telah menjadi legenda kesuksesan yang sulit ditandingi. Sebelum berusia 30 tahun, Disney telah mencapai kesuksesan dan kekayaan yang luar biasa dari film-film animasi yang diciptakannya. Tetapi ketika dia mencapai usia 30 tahun, semua supremasi kesuksesan dan kekayaannya hancur dan musnah, bagaikan tanpa bekas.

Pada masa-masa kehancurannya, waktu itu, Walt Disney sampai menjadi gelandangan tanpa rumah, karena tidak memiliki uang lagi. Ia tidur di stasiun, makan seadanya, dan jarang mandi—karena tidak mampu membayar untuk masuk kamar mandi umum. Disney harus mencari uang dulu untuk bisa mandi. Di mata orang lain, waktu itu, Walt Disney pastilah tampak seperti gelandangan kere. Tetapi orang ini pernah menjadi jutawan, anak muda sukses yang kaya-raya!

Untungnya, Walt Disney berhasil bangkit lagi dari keterpurukannya. Dengan mengandalkan kemampuan satu-satunya yang dimilikinya—menggambar kartun—Walt Disney kembali membangun puing-puing kehidupannya… dan selanjutnya adalah sejarah.

Disneyland, dunia fantasi terbesar dan termegah di muka bumi yang dibangunnya, telah menjadi saksi betapa Walt Disney berhasil meraih kembali kesuksesan yang pernah dimilikinya, bahkan dalam jumlah berkali-kali lipat. Kesuksesan yang dicapai Disney setelah masa kehancurannya jauh lebih besar dibanding kesuksesan miliknya yang dulu pernah hancur.

Lanjut ke sini.

Kamis, 05 Mei 2011

Lebih Menakjubkan dari Lampu Aladdin



If you really want something and you work hard for it, the universe will conspire to achieve your dream.
—Paulo Coelho


Kita pasti pernah membaca atau mendengar kisah tentang lampu Aladdin. Sebagaimana yang kita tahu, dengan memiliki lampu Aladdin, kita tinggal menggosok lampu itu dan jin di dalamnya akan keluar untuk mengabulkan semua keinginan. Begitu mudah, sekaligus mengagumkan.

Tetapi itu hanya ada di dunia fiksi, di dunia khayalan. Di dunia yang nyata ini, ada kisah yang mirip dengan kehebatan lampu Aladdin, bahkan lebih hebat dan lebih mengagumkan. Inilah kisahnya…

Seratus empat puluh tahun yang lalu, seorang dokter desa yang sudah berusia lanjut pergi ke kota dengan mengendarai kereta kuda. (Waktu itu motor dan mobil belum musim seperti sekarang). Setelah menambatkan kereta kudanya, dengan diam-diam ia menyelinap masuk ke sebuah toko obat lewat pintu belakang, menemui si pelayan toko, dan mulai berbicara serius dengan pelayan toko yang masih muda.

Ceritanya, dokter desa yang tua itu sedang butuh uang, dan ingin menjual ketel miliknya kepada si pelayan toko. Selama lebih dari satu jam, di belakang meja penerimaan resep, dokter tua dan pelayan toko obat itu bercakap-cakap dengan suara rendah. Kemudian, setelah ada kesepakatan, dokter tua itu pun keluar dari toko, menuju keretanya, mengambil sebuah ketel model kuno dan sendok kayu besar (yang digunakan untuk mengaduk isi ketel), dan menaruhnya di bagian belakang toko itu.

Pelayan toko memeriksa ketel sejenak, kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan segulung uang kertas, lalu memberikannya kepada si dokter tua. Segulung uang kertas itu berjumlah lima ratus dolar. Itu adalah jumlah seluruh tabungan si pelayan toko.

Si dokter kemudian menyerahkan secarik kertas yang berisi kata-kata dari suatu resep rahasia. Kelak, kata-kata yang tertulis dalam selembar kertas itu akan bernilai milyaran dolar.

Waktu itu, si pelayan toko sama sekali tidak menyadari betapa ajaibnya resep rahasia yang terdapat dalam kertas itu. Kata-kata yang terdapat dalam kertas itu adalah aturan atau cara-cara untuk mendidihkan air dalam ketel, namun baik pelayan toko maupun si dokter sendiri waktu itu sama sekali tidak tahu bahwa harta yang luar biasa besarnya akan mengalir keluar dari ketel tersebut.

Dokter tua itu pun pergi meninggalkan toko obat dengan hati gembira karena bisa menjual benda itu seharga lima ratus dolar, sedang si pelayan toko mengambil risiko besar dengan mempertaruhkan semua tabungannya hanya untuk membeli secarik kertas dan sebuah ketel tua! Dia tak pernah memimpikan investasinya itu akan membuat ketel itu mengalirkan emas, dan pada suatu hari kelak bahkan akan melampaui kemampuan ajaib lampu Aladdin.

Apa yang sesungguhnya dibeli oleh si pelayan toko itu sebenarnya adalah gagasan dan imajinasi sebuah impian!

Ketel tua, sendok kayu, dan resep rahasia pada selembar kertas itu hanya suatu kebetulan belaka. Kemampuan dahsyat yang muncul dari ketel tua itu mulai diperlihatkan setelah pemiliknya yang baru (si pelayan toko) memikirkan suatu campuran resep lain yang dipikirkannya, yang sama sekali tak diketahui oleh pemiliknya yang lama (si dokter tua yang telah menjualnya).

Resep yang tertulis dalam selembar kertas itu hanya berisi cara-cara penggunaan ketel untuk mendidihkan air, namun si pelayan toko memikirkan suatu resep lain untuk ia campurkan dalam ketel itu, yang kemudian menjadi semacam obsesi baginya. Coba tebak apa kira-kira yang dicampurkan si pelayan toko ke dalam resep yang telah tertulis di kertas itu.

Nah, sekarang kita akan menyaksikan sebuah kisah tentang kenyataan yang lebih ajaib dari dongeng, sebuah kenyataan yang dimulai dari sebuah gagasan, sebuah imajinasi, sebuah impian!

Sekarang kita akan melihat kekayaan besar berlimpah-limpah yang telah dihasilkan oleh gagasan impian tersebut. Kekayaan yang berlimpah-limpah itu mengalir keluar dari ketel tua itu. Kekayaan yang berlimpah-limpah itu masih terus mengalir kepada siapa pun, baik pria maupun wanita yang ikut membagi-bagikan isi ketel itu kepada berjuta-juta orang di dunia ini. Dan kekayaan yang berlimpah-limpah itu pun masih mengalir dan terus mengalir hingga sekarang, hingga hari ini, hingga saya menuliskan kisah ini.

Ketel tua itu sekarang merupakan salah satu konsumen gula yang terbesar di dunia, dan karenanya ketel tua itu memberikan pekerjaan kepada ribuan pria dan wanita yang bekerja di kebun tebu dan di pabrik-pabrik gula serta perdagangan gula.

Ketel tua itu setiap tahun mengkonsumsi jutaan botol kaca, dan itu memberikan pekerjaan kepada banyak orang yang bekerja di pabrik gelas.

Ketel tua itu memberikan pekerjaan kepada para juru tulis, stenografer, perancang iklan, artis, dan ribuan orang lain dalam banyak profesi. Ketel tua itu memberikan kemasyhuran dan kekayaan kepada berpuluh-puluh seniman yang menciptakan gambar-gambar indah untuk melukiskan sesuatu yang dihasilkan ketel tua itu.

Ketel tua itu mengubah sebuah kota yang pada mulanya kecil menjadi sebuah ibu kota bisnis yang sangat menguntungkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan sesuatu yang dihasilkan ketel tua itu pun telah dijadikan bisnis yang praktis bagi begitu banyak orang di muka bumi ini.

Sesuatu yang telah dihasilkan dari ketel tua itu sekarang memberikan keuntungan bagi setiap negara beradab di seluruh dunia, dan kekayaan yang dialirkan dari ketel tua itu terus mengalir tak ada habis-habisnya kepada siapa pun yang mau menyentuhnya.

Kekayaan yang dihasilkan dari aliran ketel tua itu membangun dan memelihara salah satu Perguruan Tinggi yang paling terkemuka di dunia, tempat beribu-ribu anak muda menerima latihan yang penting dan berguna untuk mencapai sukses di masa depan.

Sesuatu yang dihasilkan dari ketel tua itu telah dirasakan dan dinikmati oleh berjuta-juta orang di muka bumi ini, lelaki maupun perempuan, dari berbagai profesi, dari berbagai golongan, dari kaum jetset sampai orang-orang gelandangan. Sesuatu yang dihasilkan dari ketel tua itu juga telah memberikan banyak impian, inspirasi, kenangan, kisah cinta, dan segala cerita yang mungkin dialami manusia.

Apa sebenarnya yang dihasilkan oleh ketel tua yang benar-benar ajaib itu?

Coca-Cola!

Nah, Kawan-kawan, dimana pun kalian tinggal, berapa pun umurmu sekarang, apa pun pekerjaanmu, setiap kali kau melihat tulisan Coca-Cola, maka ingatlah bahwa kerajaan kekayaan yang begitu luas yang telah dihasilkannya itu timbul dari sebuah gagasan dan impian yang muncul dalam benak pikiran si pelayan toko, ketika ia mencampurkan suatu resep lain (soda) ke dalam ketel tua yang telah dibelinya. Dan siapakah nama si pelayan toko itu?

Namanya Asa Candler, sang multi-milyuner Coca-Cola!


Semuanya Membutuhkan Proses



Setiap orang hampir bisa dipastikan kenal dengan pepatah Cina yang mengatakan, “Perjalanan yang paling jauh dimulai dengan satu langkah.”

Pepatah itu telah berumur beribu-ribu tahun, namun kebenarannya tetap berlaku hingga hari ini. Pepatah itu berlaku bagi manusia yang hidup puluhan abad yang lampau, namun tetap sama berlakunya untuk manusia yang hidup hari ini. Perjalanan yang paling jauh dimulai dengan satu langkah.

Apa makna esensialnya? Bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Semuanya membutuhkan proses. Semuanya membutuhkan langkah demi langkah untuk mencapainya.

Perjalanan yang jauh dimulai dengan satu langkah. Kesuksesan yang besar dimulai dengan satu tindakan. Pengetahuan yang luas dimulai dengan satu buku. Kekayaan yang melimpah dimulai dengan beberapa rupiah. Jabatan yang paling tinggi dimulai dengan yang paling rendah. Blog yang hebat dan mengagumkan pun dimulai dengan satu posting.

Semuanya membutuhkan proses, semuanya membutuhkan langkah demi langkah. Namun itu memerlukan langkah yang berkesinambungan. Satu langkah saja tidak cukup, karena satu langkah pertama harus diikuti oleh langkah kedua, ketiga, dan seterusnya. Yang penting, jangan berhenti melangkah, karena hidup yang kita jalani ini pun tak pernah berhenti melangkah.


Kekuatan Keyakinan



John Stuart Mill pernah menulis, “Seseorang dengan keyakinan sama dengan kekuasaan sembilan puluh sembilan orang yang hanya memiliki minat.”

Ada perbedaan yang amat besar antara orang yang hanya memiliki minat dengan orang yang memiliki keyakinan. Itulah tepatnya mengapa keyakinan membuka pintu ke arah kesempurnaan. Keyakinan membawa perintah langsung pada sistem syaraf kita. Ketika kita menyakini sesuatu sebagai kebenaran, maka kita pun dengan sadar memasuki keadaan kebenarannya.

Kalau diarahkan secara benar dan efektif, keyakinan dapat menjadi kekuasaan paling kuat untuk membuat kebaikan dan kemajuan dalam hidup kita. Sebaliknya, keyakinan yang membatasi pikiran dan tindakan kita dapat menghancurkan.

Kalau kita dengan yakin mengatakan “Saya bisa”, maka pintu-pintu kemungkinan akan membukakan jalan untuk mewujudkannya. Tetapi kalau kita juga yakin mengatakan “Saya tidak bisa”, maka pintu-pintu kemungkinan pun akan menutup dan membuktikan bahwa kita tidak bisa.

Keyakinan merupakan petunjuk arah dan peta yang memandu kita menuju tujuan, serta memberi kita kepastian pengetahuan bahwa kita akan mencapainya.

Tanpa keyakinan, orang tidak akan punya kekuasaan sama sekali. Mereka seperti kapal motor tanpa motor atau kemudi. Besar dan kuat, namun tak dapat berjalan. Dengan bimbingan keyakinan yang kuat, kita memiliki kebiasaan bertindak dan membentuk dunia yang ingin kita tinggali. Keyakinan membantu melihat apa yang diinginkan, dan mendorong kita meraihnya.


Tekad... Tekad yang Kuat



Siapa yang pernah mengatakan bahwa hidup ini mudah?

Untuk bisa mendapatkan tiket kereta api saja, kita harus antri di belakang puluhan orang lain.

Untuk bisa masuk ke sebuah perguruan tinggi, kita harus menjalani tes bersama ribuan calon mahasiswa yang lain.

Untuk bisa menjadi seorang karyawan pabrik, kita harus bersaing dengan ribuan calon karyawan yang lain.

Untuk bisa menjadi seorang guru atau pegawai, kita harus melalui seleksi yang ketat di antara sekian banyak calon yang lain.

Untuk bisa membangun sebuah usaha, kita harus merintisnya dari bawah, mencari modal dan dukungan finansial, lalu bersaing dengan puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan usaha serupa.

Untuk bisa menggapai cita-cita, kita harus memperebutkannya dari ribuan orang lain yang juga memiliki cita-cita yang sama.

Untuk bisa menjadi pemimpin, kita harus menjadi bawahan terlebih dulu.

Untuk bisa sukses, kita pun harus bekerja keras, membanting tulang, terus belajar, jatuh dan bangun.

Tidak ada yang mudah di dunia ini.

Tetapi, kalau kita telah menyalakan bara api semangat yang menyala-nyala dalam jiwa, dan dengan penuh keyakinan bertekad, “Saya akan mengerjakan itu betapa pun sulit dan beratnya,” maka yakinilah dunia akan mendukung kita, dan alam semesta akan berkonspirasi mencarikan jalan untuk kita.

“Kalau kau tahu kemana akan menuju,” kata para filsuf, “kehidupan akan menunjukkan jalan untukmu.”


Belajar kepada Balon



Kita tentu sering menyaksikan balon-balon gas yang bisa melambung ke angkasa. Balon-balon ini sering terdapat di pinggir-pinggir jalan, dijual untuk anak-anak, atau kadang juga dijadikan hiasan untuk memeriahkan suatu acara.

Kita lihat, balon-balon itu memiliki warna yang bermacam-macam, bahkan terkadang ukuran dan bentuknya pun berbeda-beda. Tetapi balon-balon itu sama-sama bisa melambung dan melayang ke angkasa karena memiliki satu persamaan, yakni adanya gas di dalamnya.

Yang menjadikan balon itu terbang bukan karena balonnya, tetapi karena isinya!

Jadi bukan karena faktor keturunan, bukan karena wajah, bukan karena lingkungan, bukan karena tinggi-rendahnya pendidikan, bukan karena warna kulit, suku, agama, ataupun karena budaya kita.

Yang bisa menjadikan kita naik ke angkasa kesuksesan dalam hidup kita adalah kalau dalam jiwa kita terdapat gas motivasi dan antusiasme yang kuat. Semakin besar motivasi, semakin kuat antusiasme, maka kekuatan kita untuk terbang ke atas pun semakin besar dan semakin kuat. Inilah yang disebut sebagai roh keberhasilan, nyawa dari setiap kesuksesan.

Sebagaimana balon dapat terbang ke udara, siapa pun dapat mencapai hal yang sama—tak peduli apa, siapa, atau bagaimana pun dia. Gas melambungkan balon ke udara, motivasi dan antusiasme membawa manusia menuju puncak pencapaiannya.


Tentukan Tujuanmu



Kalau kita datang ke loket di bandara dan hanya mengatakan, “Saya menginginkan tiket,” apa yang kira-kira akan dilakukan oleh petugas di loket itu? Benar, dia akan menanyakan kemana tujuan kita. Tanpa tujuan yang jelas, kita tidak akan pernah sampai dimana pun.

Di dalam kehidupan yang kita jalani ini, tujuan memegang peranan penting dalam membawa kita. Hidup yang kita ‘naiki’ ini akan terus berjalan, tak peduli apakah kita sudah menetapkan tujuan ataukah belum. Ia terus berjalan, membawa semua ‘penumpangnya’, sampai masa ‘tiket’ yang dimilikinya itu habis.

Dan ketika tiket itu sudah tak lagi berlaku, maka kehidupan ini pun akan ‘menurunkan’ kita, tak peduli kita protes, tak terima, ataupun rela dan ikhlas. Bukankah amat mengerikan jika sewaktu-waktu kita dipaksa ‘turun’ dari ‘pesawat’ kehidupan ini sementara tempat itu bukanlah tujuan kita?

Karenanya, segera tentukan tujuan, agar hidup yang kita tumpangi ini pun membawa kepada tujuan yang kita inginkan.

Tanpa tujuan, kita memang tetap bisa hidup, tetapi hidup akan melindas kita.


Menentukan Peta Hidup



Apakah merencanakan sesuatu itu penting? Rasanya kita sudah tahu jawabannya. Segala sesuatu akan terasa lebih mudah dijalani, jika telah ada rencana matang daripada serba mendadak. Acara bepergian atau berlibur pun perlu rencana yang matang, kan? Begitu pula dengan kehidupan kita ini.

Sudah ada banyak sekali bukti dan hasil penelitian dari banyak lembaga dan para ahli menyangkut hal ini. Pada tahun 1953, Yale University melakukan sebuah penelitian terhadap para alumni seniornya. Para alumni itu diwawancarai, apakah mereka sudah mempunyai rangkaian tujuan hidup yang jelas, yang telah dicatat beserta sebuah rencana untuk mencapai tujuan itu. Yang mengejutkan, hanya ada 3 persen yang telah mencatat tujuan hidup mereka.

Dua puluh tahun kemudian, pada tahun 1973, para alumni tersebut dilacak untuk kembali diwawancarai. Hasilnya diketahui bahwa 3 persen dari mereka dengan cita-cita yang dicatat secara khusus, lebih berhasil jika dibandingkan dengan 97 persen yang lain. Selain itu, mereka juga lebih sukses dalam berbagai bidang dalam kehidupan mereka.

Hari-hari ini, ketika kita mendengar bahwa ada lebih banyak orang yang gagal daripada yang sukses, kita telah mengetahui salah satu jawabannya, yakni karena mereka yang sukses itu telah merencanakan tujuannya jauh-jauh hari, dan mencatat semuanya itu dalam peta hidupnya. Jadi, tidak ada salahnya untuk memulai hal itu, kan?


Minggu, 01 Mei 2011

My Heart’s Diary (4)

Inilah tanganku, rengkuhlah dengan halusnya jemarimu.
Inilah bibirku, ciumlah dengan manisnya kecupanmu.
Inilah mataku, tataplah dengan keteduhan pandanganmu.
Inilah tubuhku, peluklah dengan kelembutan dekapanmu.
Inilah diriku, cintailah jika memang itu hasratmu...

namun kau tak akan pernah memiliki aku,
karena sayap-sayap kematian telah lebih dulu
merengkuhkan jemarinya dalam kehidupanku.

Untuk Jiwa Terkasih


“Kalau kalian ingin melihat seperti apa aslinya seorang laki-laki, lihatlah selagi dia tidur,” ujar si pembicara sambil tersenyum pada peserta perempuan dalam acara seminar itu. “Ekspresi seorang laki-laki ketika sedang tidur akan memperlihatkan siapakah dirinya sesungguhnya…”

Sebenarnya, acara seminar itu tidak secara spesifik membahas psikologi pria, hanya saja topik itu kemudian masuk seiring berjalannya tema yang sedang dibicarakan. Seperti biasa kalau orang asyik mengobrol, suatu topik biasanya akan terkait dengan topik lainnya, sambung-menyambung dengan mengasyikkan—dan begitulah yang terjadi di sana.

Acara seminar itu diadakan di sebuah hotel, dua hari satu malam. Dengan dana sponsor yang melimpah, panitia mampu membooking separuh isi hotel itu untuk kelancaran acara, dan semua peserta pun mendapatkan kamar untuk menginap satu malam. Itu salah satu seminar prestisius yang pernah kuikuti, dan aku menghadirinya bersama seorang perempuan yang waktu itu begitu dekat di hatiku.

Malam itu, aku duduk di sampingnya di salah satu kursi ruang seminar, ketika si pembicara menyatakan kata-kata itu. Dan dia berbisik kepadaku, “Kau setuju dengan pernyataan itu?”

Aku tersenyum, dan balas berbisik, “Tentu saja.”

Pukul sebelas malam, ketika sesi acara berakhir, kami melangkah meninggalkan ruang seminar, dan aku mengantarkannya ke kamarnya. Kami sama-sama letih, dan aku pun ingin segera beristirahat. Kami bercakap-cakap sambil berjalan.

“Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu sekarang,” kataku sambil tersenyum. Waktu itu, kami memang senang bermain ‘tebak pikiran’—dan kami menikmati permainan itu. Rasanya senang sekali ketika kita dapat menebak isi pikiran seseorang dengan tepat, dan itulah yang malam itu kulakukan.

“Oh ya?” Dia tersenyum. “Coba katakan.”

“Kau ingin melihatku selagi tidur.”

Dia tertawa. Aku selalu senang setiap kali mendengarnya tertawa. Rasanya, ada jutaan putik yang mekar di hatiku setiap kali mendengar tawanya. Dia karunia terindah yang pernah kuterima dalam hidup, mimpi di masa kanak-kanakku yang kini terwujud. Kau tahu, setiap anak lelaki mengimpikan datangnya bidadari—dan begitu pula denganku.

Di masa kanak-kanakku yang suram, aku sering kali membayangkan diriku seorang pangeran yang sedang dikutuk dalam tubuh bocah kecil yang dekil. Dan aku membayangkan, suatu hari kelak akan ada sesosok bidadari yang turun dari langit untuk menjumpaiku, melepaskan aku dari kutukan, dan mengubahku menjadi seorang pangeran tampan.

Dan dia benar-benar datang. Bidadari itu, entah turun dari langit atau muncul dari perut bumi, dia benar-benar datang dalam hidupku. Aku menjumpainya pada suatu waktu, dan kami kemudian saling jatuh cinta. Dia perempuan tercantik yang pernah kutemukan di muka bumi, dan aku yakin dia keluar dari salah satu deret pelangi.

Seperti yang ada dalam bayanganku, dia benar-benar bidadari yang menyentuh hidupku, mengubahku dari katak menjadi pangeran. Bersamanya, aku merasa telah terbebas dari kutukan.

Langkah kami terhenti di depan pintu kamarnya. Kami berdiri berhadapan, dan aku meraih tangannya. Kuberikan duplikat kunci kamarku kepadanya.

“Besok pagi, bangunkan aku,” bisikku, “agar kau bisa melihatku selagi tidur.”

Dia tersenyum, lalu membuka pintu kamarnya. Aku menciumnya sekilas, kemudian melangkah pergi seiring pintu kamarnya yang bergerak menutup.

Keesokan paginya, aku terbangun di atas tempat tidurku. Dia tidak membangunkanku—aku bangun tidur karena suara alarm jam tangan yang ada di dekatku. Tetapi, saat membuka mata, aku melihat dia telah duduk di sofa di dekatku berbaring, cantik seperti biasanya, dan menatapku dengan senyumnya yang cemerlang.

“Hei,” aku menyapa, dan dia tersenyum. Pagi yang indah untukku.

“Aku sudah di sini setengah jam yang lalu,” katanya, “tapi aku tidak ingin membangunkanmu.”

Aku bangkit, dan duduk di atas tempat tidur, dan menikmati binar matanya pagi itu. “Jadi, kau sudah melihatku selagi tidur?”

Dia tersenyum.

“Hmm… jadi penasaran. Coba katakan.”

Dengan suara lirih, dia menjawab, “Kau seperti anak kecil yang rapuh.”

Itulah aku—tak ada definisi yang lebih tepat selain itu. Dan definisi itu seperti lipatan pada sebuah halaman buku tebal, sebuah lipatan pembatas yang meski telah terlewati namun halamannya masih saja terlipat. Suatu bagian dari perjalanan hidup yang panjang, yang meski telah terlalui namun masih saja tergurat bagaikan ukiran.

Tak ada yang bisa kukatakan kepadanya waktu itu, selain, “Beri aku pelukan.”

Dan dia memelukku. Dengan kasihnya. Dengan cintanya. Sang Putri memeluk si Katak yang belum mandi. Di dalam pelukannya waktu itu, aku berharap dia menjadi batu karangku selamanya.

….
….

Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain—dan hingga hari ini, aku masih sesosok anak kecil.

My Heart’s Diary (3)

Soyez-vous l’un a l’autre un monde toujours beau,
Toujours divers, toujours nouveau; Tenez-vous lieu de tout;
comptez pour rien le reste.

My Heart


Di sudut paling dalam di jiwaku, ada sebuah kapal kecil yang terombang-ambing tak tentu arah, mencari tempat untuk berlabuh dan menambatkan jangkar untuk beristirahat. Kapal kecil itu terus bergerak-gerak di ngarai dalam hatiku, tak tahu jalan untuk pulang, bahkan tak tahu berada di mana. Sebuah kapal kecil yang tersesat, karam, dan butuh naungan untuk berlabuh.

Kau datang, menawarkan keajaiban dan hati yang lapang. Seperti yang ada dalam benakmu, kapal kecil di hatiku tahu bahwa kaulah dermaga yang dicarinya, kedamaian yang dinantinya, muara yang ditujunya. Kau datang, dan kapal kecil itu mulai bergerak dengan pasti menuju kedamaian indah di hatimu. Dan kau membiarkan kapal kecil di hatiku untuk berlabuh.

Sudahkah kapal kecil itu berlabuh di hatimu...?

Terima kasih untuk kedamaian, kesetiaan, dan ketulusan hati yang telah kauberikan. Terima kasih untuk senyuman, canda, tawa, juga kemarahan-kemarahan lucu yang pernah kausuguhkan.

Terima kasih untuk bujukan, pujian, juga rayuan dan kerinduan yang kaukirimkan, yang pernah membuatku tersenyum dan memelukmu erat dengan sepenuh kerinduan. Terima kasih untuk dirimu, terima kasih untuk cintamu.

My Heart’s Diary (2)

Jadilah indah di mataku
Jadilah merdu di telingaku

Jadilah lembut di hidupku
Jadilah hening di hatiku

Coda


Mengenalmu adalah mengenal sebuah hidup yang belum pernah kurasakan, yang belum pernah kuhayati. Mengenalmu adalah mengenal salah satu jalan dalam lorong kehidupan, tentang lembutnya kasih, tentang indahnya kisah. Aku merasakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah kualami, meski itu telah berulang kali hadir dalam indahnya mimpi-mimpi. Dan, aku tahu kau pun merasakan sesuatu yang sama, sesuatu yang... kita rasakan bersama.

Ada malam-malam panjang yang pernah kita lalui, hanya berdua, hanya aku, hanya denganmu. Dan kau selalu tak mampu menyembunyikan kebahagiaan sebagaimana aku pun selalu bisa tertawa lepas saat ada di dekatmu. Menembus malam demi malam, tanpa ada seorang pun mempedulikan... waktu itu. Hanya kau, hanya aku, hanya ada waktu itu.

Lalu kau membuatku ingin segera terjaga dari tidur lelapku, dari istirahat lelahku, karena aku tahu setiap pagi adalah perjumpaan denganmu lagi. Kaubawakan aku kesegaran untuk setiap lelah letihku. Kaukirimkan aku kebahagiaan untuk melupakan segala duka masa lalu. Kauberikan aku senyum tulus penuh kasih untuk menghapus setiap laraku. Dan dalam kebersamaan denganmu, aku ingin... ingin sekali menyatakan bahwa kaulah nurani yang penuh kasih itu.

Juga tentang serangkaian kisah yang begitu cepat kita jalin, kita bangun dengan senyum. Menempuh perjalanan jauh, waktu itu, dan kita menikmati setiap jengkalnya. Mendengarkan tawa bahagiamu, meresapi setiap kata manismu, menghayati setiap wangi keindahanmu. Nyanyikanlah untukku tembang kedamaian, sekali lagi. Senandungkan untukku lagu tentang nurani, sekali lagi.

Kau pernah mengobati setiap luka yang menganga dalam jiwa terdalamku. Kau pernah merawatku saat aku jatuh dan kehilangan pegangan untuk tetap berdiri. Kau pernah mengulurkan tanganmu saat aku kehilangan tempat untuk berpijak, dan tersesat dalam kegelapan tanpa tahu arah yang dituju. Kau pernah hadir untuk menenteramkan hatiku, pedih perihku, tangis dan laraku....

Aku yang angkuh, aku yang begitu tegar dan merasa tak pernah terkalahkan, kini ada di depanmu dengan membawa luka yang menganga, batin yang tersiksa. Dan aku jatuh dalam rengkuhmu saat kau menghiburku dengan senyum tulusmu, dengan rengkuh kasihmu.

Apakah kau bidadari yang diturunkan Tuhan untuk mengobati setiap luka dalam jiwaku? Apakah kau mawar dari langit yang sengaja dijatuhkan malaikat untuk menebarkan embun kesejukan dalam kegersangan perasaanku? Apakah kau keindahan dari surga yang ditebarkan untuk mewangikan segala remuk redam dalam relung hatiku?

Aku tak peduli apakah kau bidadari, ataukah mawar, ataukah wangi keindahan. Aku hanya tahu bahwa kaulah yang telah menolongku saat aku terjatuh, bahwa kaulah nurani yang penuh kasih, bahwa karena kaulah aku tetap tegar menghirup napas kehidupan hingga hari ini, hingga kutulis catatan ini.

My Heart’s Diary (1)

Tembang sunyi ini, hatiku, adalah suara yang tak kukatakan,
denting hati yang kunyatakan, nada lagu di larut malam.

Tembang sunyi ini, nadiku, adalah bayang yang kusentuh,
keindahan sunyi yang biasa kurengkuh, pada saat rembulan utuh.

Tembang Sunyi


Aku telah mencari selama hidupku untuk menemukanmu. Kau telah membuatku tersadar. Sebelum kehadiranmu, aku hanyalah lelaki bodoh, manusia liar, sebuah hati yang terluka. Aku belum terjinakkan, tak mempercayai siapa pun dengan hati yang lari ini.

Sekarang aku belajar dalam sekolah cintamu. Yang duduk di kakimu, dan terkadang melangkah di jembatan antara kita. Kau telah membawaku dengan tulus kepada kasih pada diriku sendiri, dan kepada Tuhan. Kau menunggu dengan sabar sampai hatiku bernapas lagi.

Aku seorang lelaki dengan jiwa yang lapar—dan senyum, tawa, ketulusan, serta kebersamaan denganmu membuatku bersyukur. Sekarang aku menunggu kedatangan setiap saat yang sangat indah darimu.

Aku dapat melihat ke dalam matamu dan melihat mataku sendiri. Aku dapat berenang dalam keabadian cinta yang terbuka di antara kita, ketika kau menatap kembali kepadaku dengan kerinduan yang sama. Kau tahu aku tersesat tanpamu di sisiku.

Dulu, aku lelaki yang liar, pria bodoh, manusia padang pasir, yang berpikir bahwa aku sendirian dan harus melakukan semuanya sendiri, berbangga dan berjalan sendirian melawan padang pasir dalam diriku, dan dengan bodohnya berpikir itu tak akan dapat membunuhku.

Dan kemudian oasismu mendekat. Jiwaku meminta kejujuranku. Aku pulang ke rumah untuk mengetahui apa yang telah hilang, untuk menemukan apa yang pura-pura tak kuperlukan.

Jadi kaujinakkan lelaki bodoh ini dengan kelembutan dan kecantikanmu. Kauajarkan kepadaku saat-saat manis dari keberanian untuk mencintai.

Denganmu, aku berjalan keluar dari neraka-neraka yang telah kuciptakan sendiri. Dan anak-anak tertawa, kebun-kebun melambai. Denganmu aku berjalan, menyusuri jalan menuju surga.

Menyentuh Waktu itu

Menyentuh kisah itu adalah menyentuh hadirmu yang tak tergantikan. Menyentuh waktu itu adalah menyentuh kelahiran cinta dalam kehidupan. Aku merindukanmu...

Aku merindukanmu dalam rahasia hati yang tak pernah terucapkan. Aku menyimpanmu di lubuk hati paling dalam, di relung nurani yang tak pernah kubuka, tak pernah kukisahkan—karena aku ingin menikmati sendirian, tanpa ada siapa pun tahu, tanpa ada seorang pun yang mengganggu.

Aku ingin menghayatimu dalam keheningan, karena kau puisi terindah yang ingin selalu kubaca menjelang tidur, karena kau lagu terindah yang selalu kudengar dalam sedih dan bahagiaku... karena kau napas kehidupan yang tak ingin kulepaskan sedetik pun dalam kesadaranku.

Aku menyimpanmu dalam lapis kalbuku yang terdalam, untuk melembutkan setiap lagu yang kutulis, setiap bait puisi yang kulukis—karena kau keindahan kelembutan, karena kau pelangi kehidupan, karena kau sentuhan kasih Tuhan.

 
;