Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 Agustus 2026

Waktu Berlalu

Coba perhatikan sebongkah es batu yang mengambang di dalam segelas air. Selama kita menatapnya, hampir tidak ada perubahan yang bisa ditangkap mata. Es itu tampak tetap sebesar tadi. Permukaannya masih keras. Bentuknya hampir sama. Kita bahkan mungkin mulai bertanya-tanya apakah es benar-benar sedang mencair.

Lalu ponsel berbunyi, dan kita bercakap-cakap dengan seseorang di telepon. Perhatian kita pun berpindah beberapa menit. Ketika pandangan kembali ke gelas, es itu sudah jauh mengecil, bahkan mungkin telah hilang sama sekali. Padahal proses mencairnya tidak pernah dipercepat. Yang berubah hanyalah cara kita mengamatinya.

Banyak hal dalam hidup bekerja dengan cara yang sama. Kita hampir tidak pernah merasakan waktu sedang berlalu. Kita baru menyadarinya ketika hasilnya sudah tidak bisa dibatalkan.

Saat menjalani hari demi hari, waktu terasa begitu biasa. Hari Senin datang, disusul Selasa, lalu Rabu. Masing-masing berlangsung selama dua puluh empat jam yang tampaknya cukup panjang. Kita bekerja, makan, membuka ponsel, berbincang, beristirahat, lalu tidur. Besok pagi semuanya dimulai lagi. Dari dalam proses itu, hidup terasa berjalan dengan kecepatan yang wajar, bahkan kadang terasa lambat.

Karena itulah muncul keyakinan yang sangat menggoda: satu hari tidak akan membuat perbedaan. Satu hari lagi menunda menulis. Satu hari lagi menunda belajar. Satu hari lagi menunda menemui orang tua. Satu hari lagi menunda menjaga kesehatan. Yang kita pinjam selalu hanya hari ini. Tidak pernah terdengar berbahaya.

Masalahnya bukan pada satu hari. Masalahnya terletak pada cara otak memperlakukan waktu. 

Ketika menjalani hidup, kita memandang waktu dalam satuan eceran (harian). Yang terlihat hanyalah hari ini. Besok masih ada. Minggu depan masih tersedia. Tahun depan masih tampak jauh. Karena setiap hari terlihat utuh dan penuh, kita merasa memiliki persediaan yang melimpah. Rasanya seperti memiliki dompet yang masih berisi banyak uang receh. Mengeluarkan satu keping tidak terasa mengurangi apa pun.

Namun, ingatan manusia tidak menyimpan kehidupan dalam bentuk eceran. Tidak ada orang yang mengingat dengan jelas apa yang ia lakukan pada hari Kamis, tanggal tertentu, tiga tahun yang lalu. Yang diingat adalah sesuatu yang jauh lebih besar: tiga tahun telah lewat.

Di situlah ilusi bekerja dengan sangat rapi. Saat menjalani waktu, kita menghitung hari. Saat mengenangnya, kita menghitung tahun.

Akibatnya, ribuan keputusan kecil yang tampak sepele ketika diambil berubah menjadi satu kesimpulan besar ketika dipandang dari belakang. Kita tidak berkata, "Aku kehilangan tiga ratus empat puluh tujuh hari." Kita berkata, "Aku kehilangan satu tahun." Kita tidak mengingat ratusan malam ketika memilih menunda. Kita hanya melihat bahwa usia bertambah, sementara hidup hampir tidak berubah.

Perbedaan antara “eceran” (harian) dan “grosir” (tahunan) itulah yang sering luput dari perhatian. Satu hari memang kecil. Tetapi hidup tidak pernah menagih dalam satuan hari. Ia selalu menagih dalam satuan tahun.

Saya merencanakan menulis buku baru sejak lima tahun yang lalu. Tidak pernah sehari pun saya berkata, "Aku akan membuang lima tahun hidupku." Yang terjadi jauh lebih sederhana. Hari ini terlalu lelah. Besok saja. Minggu ini banyak urusan. Bulan depan suasana mungkin lebih tenang. 

Setiap alasan terdengar masuk akal jika berdiri sendiri. Tidak ada keputusan yang tampak fatal. Lima tahun kemudian, buku yang ingin saya tulis masih berada di dalam kepala. 

Begitu pula dengan hubungan antarmanusia. Tidak banyak anak yang sengaja memutuskan untuk kehilangan kesempatan berbincang dengan ayah atau ibunya. Yang terjadi hanyalah penundaan kecil yang terus berulang. Nanti saja menelepon. Minggu depan saja berkunjung. Setelah pekerjaan selesai. Setelah keadaan lebih longgar.

Lalu suatu hari, kesempatan itu benar-benar hilang. Bukan karena satu keputusan besar, tapi karena terlalu banyak keputusan kecil yang dianggap tidak berarti.

Penyesalan hampir selalu memiliki pola yang sama. Ia jarang berasal dari satu kesalahan dramatis. Ia lebih sering tumbuh dari akumulasi hal-hal yang terus ditunda.

Yang membuat penyesalan terasa menyakitkan adalah kenyataan bahwa semuanya tampak sangat masuk akal ketika sedang dijalani. Tidak ada alarm yang berbunyi saat kita memutuskan menunda sehari. Tidak ada tanda bahaya yang muncul ketika kita berkata, "Masih ada waktu."

Alarm itu baru terdengar ketika waktu sudah berubah menjadi masa lalu. Barulah kita melihat bahwa yang hilang bukan satu sore, tapi bertahun-tahun kemungkinan.

Ada paradoks yang menarik tentang usia. Ketika berumur empat belas tahun, empat tahun terasa seperti keabadian. Ketika berumur empat puluh tahun, empat tahun terasa seperti musim yang lewat begitu saja. Semakin panjang hidup dijalani, semakin pendek potongan waktu terasa dari belakang. Karena itulah banyak orang tua berkata bahwa hidup berjalan sangat cepat. Bukan karena jam berdetak lebih cepat, tetapi karena cara otak menyusun kenangan berubah. 

Mungkin karena itu pula nasihat tentang menghargai waktu sering gagal menyentuh orang yang masih muda. Mereka mendengar kalimatnya, tetapi belum mengalami ilusi itu sendiri. Mereka masih melihat hari-hari sebagai sesuatu yang panjang. Mereka belum pernah menoleh ke belakang dan terkejut melihat satu dekade lenyap hampir tanpa suara.

Padahal waktu tidak pernah berubah sifat. Yang berubah hanyalah posisi kita terhadapnya. Selama berada di dalam arus, ia tampak tenang. Begitu kita menoleh ke belakang, kita baru sadar betapa jauhnya arus telah membawa kita.

Persoalannya, sering kali, bukan apakah kita memiliki cukup waktu. Sebagian besar orang, pada titik tertentu, pernah memiliki waktu yang cukup. Persoalannya adalah kita terus menganggap setiap hari sebagai unit yang berdiri sendiri, padahal kehidupan sedang menggabungkan semuanya menjadi satu cerita besar.

Setiap hari yang tidak dipakai membangun sesuatu akan bergabung dengan hari-hari lain menjadi satu tahun yang kosong. Setiap pertemuan dengan orang tua yang terus ditunda akan bergabung dengan pertemuan lain yang tidak pernah terjadi. Setiap lembar yang tidak ditulis akan bergabung dengan lembar-lembar lain yang tidak pernah lahir.

Tidak ada satu hari yang mampu menghancurkan masa depan. Tapi masa depan dibangun oleh kumpulan hari yang tampaknya tidak penting.

Es di dalam gelas tidak pernah tiba-tiba mencair. Ia kehilangan dirinya setetes demi setetes. Begitu pun waktu. Tidak ada hari yang cukup besar untuk mencuri hidup kita. Yang melakukannya adalah ribuan hari kecil yang kita anggap terlalu sepele untuk dijaga.

Waktu terasa lambat ketika sedang kita jalani, tapi terasa sangat cepat ketika sudah jadi kenangan. Kita melihat hidup seperti orang yang menghitung uang receh ketika membelanjakannya, lalu terkejut ketika melihat jumlah akhirnya.

Dan pada titik tertentu, setiap orang akan memahami sesuatu yang terlambat dipelajari: kita tidak pernah benar-benar kehilangan tahun. Kita kehilangan hari-hari yang dulu kita anggap tidak penting, lalu hari-hari itu diam-diam membentuk tahun yang tidak akan pernah kembali.

Pertumbuhan

Manusia tidak mudah melepaskan sesuatu hanya karena kenyataan sudah membantahnya. Isi kepala sering memperoleh perlakuan yang lebih istimewa daripada fakta di depan mata. Ketika keduanya bertabrakan, kita cenderung memperbaiki cara melihat kenyataan lebih dulu sebelum bersedia memperbaiki keyakinan sendiri. Kenyataan dipaksa menunggu sampai ego selesai bernegosiasi.

Saya semakin melihat bahwa rasa "sudah tahu" memiliki daya tarik yang luar biasa. Ia memberi ketenangan tanpa perlu membuktikan dirinya benar. Begitu perasaan itu hadir, pikiran mulai berubah fungsi. Informasi baru tidak lagi dicari untuk memperbaiki pemahaman, tetapi untuk mempertahankan pemahaman yang sudah ada. Semakin lama seseorang hidup dengan keyakinan tertentu, semakin besar godaan untuk menganggap setiap pertanyaan baru sebagai gangguan, bukan kesempatan.

Keadaan itu menjelaskan mengapa pengalaman tidak selalu membuat seseorang bertumbuh. Pengalaman memang bertambah setiap tahun, tetapi cara membacanya bisa berhenti berkembang jauh lebih awal. Dunia terus berubah, sedangkan isi kepala diam-diam menuntut dunia agar tetap sesuai dengan peta lama yang terasa nyaman.

Rasa ingin tahu bekerja dengan arah yang berlawanan. Ia memaksa seseorang meragukan petanya sendiri sebelum meragukan kenyataan. Pekerjaan itu melelahkan karena setiap pertanyaan baru selalu mengandung satu pengakuan yang tidak enak didengar: “selama ini aku belum melihat seluruhnya.”

Pertumbuhan memang tidak dimulai ketika kita menemukan jawaban baru. Ia dimulai ketika keyakinan lama akhirnya kehilangan hak istimewanya.

Kegilaan Geometris

Ketika kita berdiri di tengah ruangan yang dikelilingi belasan cermin distorsi, kita akan melihat diri sendiri memanjang di satu sudut, melebar secara menggelikan di sudut lain, dan mendadak mengecil di cermin ketiga. Setiap cermin memantulkan siluet yang berbeda, tergantung lengkungan kacanya. 

Menuntut diri kita untuk mengubah bentuk nyata kita agar selaras dengan pantulan di setiap permukaan kaca tersebut adalah kegilaan geometris. Cermin itu tidak menggambarkan siapa kita; mereka hanya menggambarkan cacat bentuk permukaannya sendiri.

Catatan dan Dokumentasi

Secara pribadi, aku juga mikirnya kayak gini. Sesuatu yang disebut "sihir" itu sebenarnya hal-hal yang tidak/belum dipahami orang pada zamannya.

Dan makhluk-makhluk mitologi lahir karena orang-orang [khususnya zaman dulu] suka membesar-besarkan hal aneh yang mereka lihat/dengar.

Berdasarkan sejarahnya, makhluk-makhluk aneh yang belakangan jadi mitologi semacam manticore, centaurus, atau unicorn, itu bukan lahir dari ruang hampa. Tapi lahir karena orang zaman dulu melihat hewan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, lalu membesar-besarkannya.

Jadi, selalu ada kemungkinan kalau peristiwa-peristiwa aneh atau kemampuan-kemampuan aneh yang terjadi pada masa lalu, yang belakangan diklaim sebagai sihir, sebenarnya hal-hal biasa tapi terlihat luar biasa pada zaman itu, dan kemudian orang-orang membesar-besarkannya.

Wong sampai detik ini aja, aku masih takjub pada kemampuan AI atau ilusi optik yang dihasilkan billboard 3D. Itu bahkan aku tahu cara kerjanya, tapi aku tetap tercengang setiap kali menyaksikan keajaiban yang mereka hasilkan, sampai aku berpikir, "Ini benar-benar tak masuk akal."

Jika, umpamakan saja, aku "membesar-besarkan" kemampuan AI atau billboard 3D hingga terdengar berbeda jauh, apakah orang-orang akan percaya? Tidak, mereka akan tertawa!

Kenapa? Karena zaman yang sekarang kita alami berbeda jauh dengan zaman ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu.

Catatan dan dokumentasi! Itulah inti masalahnya!

Jika sekarang, entah bagaimana, terjadi bencana atau sistem tunggal pemerintahan dunia yang menghancurkan seluruh catatan dan dokumentasi yang dapat ditemukan di zaman sekarang, aku akan bisa ngibul pada generasi yang akan datang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Desember 2024.

Kabut Hidup

Lampu kecil yang berkedip di layar sering lebih cepat membuat panik daripada masalah yang sebenarnya. Begitu muncul tanda peringatan, kepala segera bekerja: pasti ada yang salah. Kebiasaan itu terbentuk karena kita hidup di tengah perangkat yang dirancang untuk memberi sinyal ketika terjadi gangguan. Baterai merah berarti harus diisi. Ikon silang berarti koneksi terputus. Notifikasi gagal berarti proses berhenti. Pelan-pelan cara berpikir itu masuk ke wilayah yang sama sekali berbeda.

Saat hidup terasa kabur, kita buru-buru menyimpulkan bahwa keputusan kita pasti keliru. Ketika hasil belum tampak, kita menganggap langkah sebelumnya salah hitung. Rasa cemas diperlakukan seperti alarm objektif, seolah emosi memiliki akses langsung pada kebenaran. Padahal emosi lebih sering berbicara tentang rasa aman daripada tentang fakta.

Kepala kita tampaknya memiliki kebiasaan aneh: mencampuradukkan ketidaknyamanan dengan kesalahan. Begitu suasana berubah asing, otak segera mengajukan tuduhan kepada diri sendiri. Jarang sekali ia lebih dulu mempertimbangkan kemungkinan bahwa keadaan memang sedang menuntut lintasan yang berbeda.

Ini bukan sekadar soal keberanian. Yang bekerja jauh lebih dalam adalah cara manusia membaca sinyal. Pikiran menyukai kepastian, karena kepastian menghemat energi. Sesuatu yang sudah dikenali tidak perlu dianalisis terus-menerus. Sebaliknya, ketidakpastian memaksa otak tetap siaga. Tubuh mengeluarkan respons seolah sedang menghadapi ancaman, meskipun yang sebenarnya terjadi hanyalah informasi yang belum lengkap.

Kesalahan muncul ketika sensasi biologis itu dianggap sebagai bukti logis. Jantung berdebar, lalu kita menyimpulkan keputusan salah. Tidur tidak nyenyak, lalu kita menganggap masa depan sedang runtuh. Padahal tubuh hanya sedang bereaksi terhadap wilayah yang belum dikenalnya.

Mungkin itulah warisan dunia modern yang jarang dibicarakan. Hampir semua sistem yang kita gunakan sekarang dibangun agar dapat diprediksi. Paket dapat dilacak. Kendaraan ojol memiliki estimasi waktu tiba. Saldo berubah dalam hitungan detik. Kita jadi terbiasa hidup bersama kepastian mikro. Tanpa sadar, kepala mulai menuntut agar seluruh kehidupan mengikuti standar yang sama. Sedikit saja muncul ruang kosong yang tidak dapat diprediksi, kita menganggap sistemnya rusak.

Padahal hidup tidak pernah bekerja seperti aplikasi yang memberi pembaruan status setiap beberapa menit. Sebagian besar keputusan penting justru bergerak dalam keadaan yang tidak memberi konfirmasi apa pun. Tidak ada indikator bahwa suatu hubungan akan berhasil. Tidak ada grafik yang memastikan pekerjaan baru akan membawa hasil. Tidak ada sertifikat yang menjamin pilihan hari ini akan terasa benar lima tahun mendatang.

Ketenangan tampaknya tidak lahir ketika kabut menghilang. Yang berubah justru cara kita memperlakukan kabut itu sendiri. Ia berhenti dibaca sebagai pesan bahwa kita sedang gagal bernavigasi. Ia kembali menjadi apa adanya: keadaan alam.

Sisanya tinggal terus berjalan, meski pandangan belum jauh.

Kamis, 30 Juli 2026

Hantu dan Orang-orang Awam

Jika kita perhatikan, hantu/setan Indonesia dan hantu-hantu Amerika/Eropa memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Setidaknya, hal itu tergambar dalam banyak film bertema hantu/setan.

Hantu/setan barat umumnya bertarung dengan manusia, dan memiliki ambisi menguasai dunia. Sementara hantu/setan Indonesia, biasanya cuma nakut-nakutin orang.

Apa makna yang bisa diambil dari kenyataan itu? Bagi saya sederhana. Bahwa hantu—sebagaimana banyak hal lain—adalah hasil konstruksi budaya, olah pikir masyarakat, yang mencerminkan kultur tempat hantu-hantu itu diciptakan. Orang barat yang ambisius menciptakan setan yang ambisius, orang Indonesia yang “apa adanya” menciptakan setan serupa.

Encyclopedia Britannica (edisi 2003) mengulas Nyi Roro Kidul dalam perspektif semacam itu, bahwa sosok gaib itu sebenarnya diciptakan raja-raja Jawa untuk menakut-nakuti rakyat.

Sementara Pramoedya Ananta Toer, dalam “Anak Semua Bangsa”, menyatakan, “Nyai Roro Kidul adalah kreasi Jawa yang gemilang untuk mempertahankan kepentingan Raja-Raja Pribumi Jawa.”

Bagaimana cara agar manusia tunduk pada manusia lain, yang jelas sama-sama manusia? Bagi orang zaman dulu, caranya mudah. Cukup ciptakan mitos, dan bangun “kepercayaan tertentu” yang memungkinkan seorang manusia jadi “tampak seperti bukan manusia umumnya”.

Di kalangan masyarakat terbelakang (di zaman dulu maupun sekarang), cara semacam itu benar-benar efektif, dan memungkinkan siapa pun untuk memerintah manusia lain, karena seolah-olah dia memiliki privilese (keistimewaan) yang tidak dimiliki manusia umumnya.

Kaisar Jepang, juga para kaisar lain di zaman dulu, membangun mitos tentang diri mereka yang—konon katanya—keturunan dewa, dilahirkan oleh matahari, atau hal-hal gaib lain, dan dengan cara itulah mereka menghasilkan ketundukan bahkan penyembahan dari rakyatnya.

Hal serupa terjadi di Eropa, saat masih berada di zaman kegelapan. Para bangsawan Eropa mengklaim diri mereka keturunan dewa, dan dengan mitos itu mereka berharap para kawula menundukkan kepala untuk patuh dan hormat serta menuruti apa pun yang diperintahkan.

Sementara di Indonesia, beberapa raja mengklaim memiliki hubungan dengan makhluk gaib yang dihormati sebagai “penguasai laut selatan”. Intinya sama—menciptakan privilese, yang sebenarnya tidak ada, agar tampak “seperti bukan manusia umumnya”.

Bahkan di zaman sekarang pun, cara semacam itu masih digunakan. Kim Jong Un di Korea Utara mengklaim dia—dan leluhurnya—keturunan dewa, dan rakyat Korut patuh serta takut padanya. Kenapa ia berhasil? Karena rakyat Korut terbelakang, dan terus dikondisikan untuk tetap terbelakang.

Mitos-mitos gaib semacam itu tidak hanya ampuh untuk menempatkan diri di “tempat yang tinggi”, tapi juga ampuh untuk mengendalikan orang-orang terbelakang. Di China, misalnya, ada mitos populer bahwa orang yang mati karena kecelakaan atau dibunuh akan bangkit pada hari ketujuh untuk balas dendam.

Peneliti modern yakin bahwa cerita itu dibuat oleh penguasa untuk mencegah terjadinya pembunuhan. Motivasinya memang bagus, tapi hanya relevan saat diterapkan pada masyarakat yang masih terbelakang, yang masih sangat percaya pada takhayul dan hal-hal mistis.

Sementara di Jepang, ada mitos hantu berbentuk rubah. Jika orang makan terlalu banyak atau memuja penampilan mereka—kata mitos itu—artinya mereka kerasukan rubah. Itu sebenarnya upaya pemimpin religius zaman dulu untuk mendorong orang-orang agar tidak materialistis. Mungkin terdengar meyakinkan ketika hal semacam itu diajarkan di zaman kuno, tapi bisa membuat orang tertawa kalau dikatakan di zaman sekarang.

Fazlur Rahman, mengutip Polybius, menulis, “... orang-orang awam adalah orang yang tidak punya pikiran, dan penuh dorongan-dorongan yang bertentangan dengan hukum; seperti rasa marah yang tak rasional dan kecenderungan-kecenderungan yang agresif. Tidak ada satu pun yang dapat mengendalikan mereka, kecuali rasa takut terhadap yang gaib.”

Sepertinya memang begitu.

Rabu, 01 Juli 2026

Komunikasi dan Asumsi

Percakapan gagal lebih sering disebabkan oleh asumsi daripada perbedaan pendapat. Kita mengira orang lain sudah tahu apa yang kita maksud, memahami konteks yang kita bawa, atau menangkap isyarat yang menurut kita sangat jelas. Kenyataannya, mereka tidak pernah tinggal di dalam kepala kita. Mereka hanya menerima potongan-potongan informasi yang berhasil keluar melalui kata-kata, ekspresi wajah, atau tindakan. Sisanya harus mereka tebak sendiri.

Kesalahan itu muncul hampir di semua hubungan. Atasan kesal karena bawahan “tidak peka”, padahal instruksinya terlalu umum. Pasangan kecewa karena ulang tahun dilupakan, padahal keinginannya hanya disampaikan lewat sindiran beberapa minggu sebelumnya. Seorang teman mendadak menjaga jarak karena merasa diabaikan, sementara yang lain sama sekali tidak sadar telah melakukan sesuatu yang menyinggung. Kedua orang itu membawa cerita yang berbeda, seolah-olah mereka sedang mengingat dua kejadian yang memang tidak sama.

Otak manusia punya kebiasaan aneh. Setelah memahami sesuatu, kita lupa bagaimana rasanya ketika belum memahami hal itu. Psikologi menyebutnya curse of knowledge. Pengetahuan yang sudah kita miliki membuat kita melebih-lebihkan apa yang seharusnya diketahui orang lain. Penulis menganggap tulisannya sudah jelas. Guru mengira penjelasannya sederhana. Ahli lupa bahwa istilah yang diucapkannya sehari-hari terdengar asing bagi orang yang baru belajar.

Saya pernah membantu seseorang merakit meja komputer yang baru dibeli. Saya berkata, “Bagian itu dipasang seperti biasa.” 

Dia hanya memandangi papan-papan kayu yang berserakan di lantai, kemudian bertanya bingung, “Seperti biasa bagaimana?” 

Saya melupakan sesuatu di situ. Bagi orang yang pernah apalagi terbiasa mengerjakan sesuatu, langkah berikutnya tampak mudah. Bagi orang yang baru pertama kali melakukannya, langkah berikutnya adalah tanda tanya.

Mungkin karena itulah komunikasi yang baik sering terdengar sedikit berlebihan. Orang yang benar-benar ingin dipahami rela mengulang, memperjelas, bahkan memeriksa apakah lawan bicaranya menangkap maksud yang sama. Bukan karena meremehkan kecerdasan orang lain, tetapi karena sadar setiap kepala membawa peta yang berbeda. Satu kalimat yang tampak lurus saat keluar dari mulut bisa berbelok jauh ketika tiba di telinga orang lain.

Lain kali ketika muncul keinginan berkata, “Harusnya dia mengerti,” saya ingin berhenti sebentar pada kata “harusnya”. Kata kecil itu sering menyembunyikan harapan yang tidak pernah benar-benar diucapkan.

Komunikasi

Setiap orang mestinya menyadari kebenaran sederhana ini, bahwa satu-satunya cara berkomunikasi yang baik dan sehat dengan orang lain adalah dengan cara berkomunikasi!

Dan yang disebut komunikasi adalah menggunakan bahasa yang bisa dipahami bersama, tanpa menimbulkan salah paham. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Agustus 2021.

Selasa, 30 Juni 2026

Nasihat Perkawinan

Perkawinan adalah hal biasa, karena dilakukan miliaran orang di dunia. Karenanya, tidak usah menganggap kamu lebih tinggi atau lebih mulia dari orang yang tidak/belum menikah. Sekali lagi, perkawinan adalah hal biasa, itu sesuatu yang dilakukan oleh hampir semua manusia. Menjadi istimewa, karena kamu—dan masyarakatmu—menganggapnya istimewa.

Dan tak perlu buru-buru memuji pasanganmu setinggi langit, karena pasanganmu juga manusia biasa—sama sepertimu, sama seperti pasangan orang-orang lainnya. Lebih dari itu, tak perlu buru-buru memuji pasanganmu kalau kamu baru menikah tiga hari dengannya. Tunggu sampai kamu bersamanya tiga tahun, atau tiga puluh tahun, dan ucapkan pujianmu di depan pasanganmu—bukan di depan orang lain. 

Orang yang berhak mendengar pujianmu terhadap pasanganmu bukan tetanggamu, bukan teman-temanmu, bahkan bukan orang tuamu, tapi pasanganmu sendiri. Jika dia baik, dialah yang paling berhak mendengar pujian darimu. Jadi sampaikan pujianmu kepadanya, dan tidak usah pamer di depan orang lain, karena orang lain juga memiliki pasangannya sendiri.

Salah satu kebiasaan buruk adalah hobi memuji pasangan di depan orang lain, tapi suka bermuka masam dan pelit pujian pada pasangannya sendiri. 

Jika perkawinanmu bahagia, nikmatilah bersama pasanganmu, bersama keluarga dan anak-anakmu. Syukurilah hidupmu—tapi tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain. 

Karena, kalau kamu memamerkan kebahagiaanmu kepada orang lain yang kebetulan menderita, upaya pamermu akan menyakiti perasaannya. Kalau kamu pamer kebahagiaanmu kepada orang lain yang juga bahagia, kalian hanya akan terjebak dalam perlombaan ujub dan riya. Tidak ada gunanya—sungguh tak ada gunanya.

Sebaliknya, jika perkawinanmu sengsara, benahilah bersama pasanganmu, bersama keluargamu. Pelajari kekeliruanmu, dan—sekali lagi—tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain. Perkawinanmu adalah milikmu. 

Doktrin yang Menipu

Ada seorang pria dan seorang wanita yang hidup sendiri-sendiri, dan mereka bisa menikmati kehidupan dengan baik, tanpa kekurangan.

Lalu keduanya bertemu dan menikah. Setelah itu, kehidupan jadi terasa sangat berat dan serba kekurangan.

Diam-diam, realitas itu ada di mana-mana.

Si A punya penghasilan sendiri, begitu pula Si B. Mereka berpikir bisa menggabungkan penghasilan jika menikah, sehingga hidup akan berkecukupan.

Anehnya, begitu pernikahan terjadi, hidup terasa sempit. Penghasilan yang dikira cukup ternyata tak pernah cukup dan terus kurang.

Banyak temanku mengalami kenyataan ini. Sebagian mereka mengaku terang-terangan, sebagian lain sambil malu-malu. Yang jelas, mereka sama-sama menghadapi kenyataan serupa.

Dalam pikiranku, kenyataan aneh itu sebenarnya logis. Saat masih lajang, masing-masing orang hanya mencukupi kebutuhan pribadi. Ketika menikah, mereka punya anak, dan kebutuhan jelas bertambah. Jatah untuk dua orang sekarang harus dibagi lebih banyak. Hasilnya jelas: Tidak cukup.

Tapi doktrin kadang membutakan mata dan pikiran banyak orang. Meski realitasnya begitu jelas, mereka masih memaksa untuk percaya bahwa "anak punya rezeki sendiri", atau "banyak anak banyak rezeki".

Faktanya, banyak pasangan terjerat utang, anak telantar, kelaparan, di mana-mana.

Yang menyedihkan, sering ada orang yang sok mengatakan, "Kalau dipikir-pikir, penghasilanku tidak akan cukup untuk menghidupi keluarga. Tapi ndilalah ada saja rezekinya."

Terdengar familier? Meski mungkin terdengar hebat, aku tahu itu cara orang "ngadem-ngademi" diri sendiri.

Yang paling buruk dari semua ini adalah orang-orang yang hobi ngutang pada yang masih lajang, sambil menyuruh-nyuruh cepat kawin.

"Menikah akan melancarkan rezeki," kata mereka.

Kalau melancarkan rezeki, kenapa kau berutang? Sudah begitu, utangnya gak dibayar-bayar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Maret 2019.

Hukum Psikologi Tertua di Dunia

Antara ingin tertawa campur sedih campur ingin marah, tiap ketemu orang yang merasa lebih tahu kehidupan orang lain, lalu menyuruh-nyuruh orang lain agar melakukan sesuatu, karena menurutnya itu hal baik. Misalnya... menyuruh orang lain cepat menikah, atau cepat punya anak.

Yang ironis terkait hal ini adalah, orang yang paling rajin mengurusi hidup orang lain (dalam hal ini menyuruh cepat kawin atau cepat punya anak) biasanya justru tidak bisa mengurus hidupnya sendiri, dan menjalani kehidupan tidak bahagia, campur keblangsak dan menyedihkan.

Kalau ada teman atau tetanggamu yang doyan menyuruh-nyuruhmu cepat menikah, cobalah perhatikan. Aku berani betaruh, dia menjalani perkawinan yang tidak bahagia, yang membuatnya tertekan. Dan mereka yang menyuruh-nyuruhmu cepat punya anak biasanya juga menjalani hidup keblangsak.

Manusia, siapa pun dia, tidak bisa—dan tidak akan bisa—melanggar hukum psikologi tertua di dunia: Orang yang bahagia dengan hidupnya tidak punya keinginan ngerusuhi (sok mengurus) hidup orang lain. Kalau kau bahagia, kau akan nyaman dengan diri sendiri, dan tak peduli orang lain.

Ini bukan doktrin omong kosong, tapi kebenaran yang bisa dibuktikan kapan pun, di mana pun, pada siapa pun. Setiap kali kau menemukan orang yang ngerusuhi hidupmu dan merasa lebih tahu tentang hidupmu, kau bisa yakin dia orang menyedihkan, yang menjalani hidup tanpa kedamaian.

Orang yang bahagia dalam hidupnya tentu punya kepedulian pada orang lain—perhatikan, "kepedulian"—bukan ngerusuhi hidup orang lain. Orang yang bahagia bahkan punya kepedulian tinggi pada orang lain. Mereka peduli, bukan ngerusuhi kehidupan orang lain. Kau tentu tahu perbedaannya.

Jika ingin mendalami lebih lanjut ocehan ini, silakan baca catatan berikut:

Kebahagiaan Tak Butuh Pengakuan » https://bit.ly/2XYFF1c 

Tipuan Paling Tolol » https://bit.ly/2TIfmxQ 

Pernikahan itu baik. Yang buruk adalah orang yang suka menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Maret 2019.

Senin, 29 Juni 2026

Saat Tergelap dalam Hidup

Kamu itu ga sendiri, cari teman untuk bicara, kalo bisa tenaga berpresional. untuk suicide survivor, terima kasih untuk tidak pernah menyerah —@hati2dimedsos, 28 Januari 2019.


Orang-orang yang menghadapi kemalangan, kesepian, dan kebingungan—yang belakangan memutuskan bunuh diri—kerap dinasihati agar mencari teman bicara. Nasihat itu baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, bagi orang bersangkutan, “mencari teman bicara” sering nyaris mustahil.

Saat kita menemui seseorang—teman, atau siapa pun—dan berharap dia mau mendengarkan kita, belum tentu harapan itu terwujud. Bisa jadi, orang yang kita harap mau mendengarkan justru berceramah, menghakimi, atau menggampangkan beban pikiran kita, atau mendengarkan tapi tak peduli.

Saran agar menemui profesional juga saran yang baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, tidak semua orang—khususnya yang bertendensi bunuh diri—tahu hal itu. Kalau pun tahu, belum tentu dia punya biaya. Kalau pun tahu dan punya biaya, belum tentu dia mau melakukannya.

Sebenarnya, yang paling diinginkan seseorang yang sedang menghadapi “kegelapan hidup” adalah seseorang—kalau bisa yang ia kenal dan percaya—yang benar-benar mau mendengarkan dan menunjukkan kepedulian. Tetapi, demi Tuhan, menemukan orang semacam itu sulitnya luar biasa.

Ada jutaan orang yang tahu cara menasihati, tapi sulit menemukan satu saja yang benar-benar peduli. Ada jutaan orang yang siap menjadi temanmu saat kau tertawa, tapi sulit menemukan satu saja yang menemanimu saat menangis. Terdengar muram, memang. Tapi itulah kenyataannya.

Ada banyak orang yang mendekat dan siap menjadi temanmu saat kau mendapat kesenangan dan bergelimang uang, tapi banyak pula yang menjauh dan berpaling darimu saat kau menghadapi masalah dan butuh pertolongan. Terdengar suram, memang. Tapi itu realitas di sekitar kita.

Aku pernah menghadapi saat-saat tergelap dalam hidup, dan akhirnya menyadari sesuatu yang benar-benar pahit: Tidak ada siapa pun yang bisa kuandalkan di dunia ini, selain diri sendiri. Mungkin terdengar angkuh. Tapi untung aku berpikir seperti itu, bukan malah menenggak arsenik.

Kepedulian dan kemampuan mendengarkan itu mudah dikatakan, tapi sulit ditemukan—khususnya oleh orang yang benar-benar membutuhkannya. Itulah kenapa, sejujurnya, aku tidak heran dengan orang bunuh diri, karena aku benar-benar memahami yang dirasakannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

Senin, 01 Juni 2026

Lakukan Sesuatu, Kerjakan dengan Baik

Bertahun-tahun lalu, aku menemukan kalimat di buku, yang belakangan tak pernah kulupakan. Kalimat itu berbunyi, “Kalau kamu bekerja dengan baik, sebegitu baik hingga tak ada orang lain yang mampu menyamai, dan kamu tinggal di puncak gunung, orang-orang akan berdatangan kepadamu.”

Kalimat itu tentu filosofis, dan tidak harus diartikan literal. Aku juga lebih suka mengartikannya secara sederhana, bahwa yang penting mengerjakan pekerjaan kita, sebaik kita mampu, setelah itu meyakinkan diri, “Tidak perlu khawatir soal rezeki, karena sudah ada yang mengatur.”

“Tidak perlu khawatir soal rezeki” itu sebenarnya kalimat tawakal. Dan tawakal baru dilakukan setelah mengerjakan sesuatu, mengusahakan dan mengupayakan sesuatu. Kalau tidak melakukan apa-apa tapi pede dan yakin “tidak perlu khawatir soal rezeki”, itu namanya panjang angan-angan.

Jadi kalau ada orang kena PHK, atau pada orang yang tidak melakukan apa-apa, jangan katakan “tidak perlu khawatir soal rezeki” kepadanya. Karena itu sama artinya mengajarkan tuulul amal. Yang dibutuhkan korban PHK dan pengangguran adalah semangat untuk memulai berusaha kembali.

Rezeki baru datang setelah ada usaha dan upaya, bahkan jika upaya kita tampak sangat bodoh di mata manusia. Misalnya jualan bensin eceran di samping SPBU, atau jualan es teh di kala hujan. Karena itu lebih menarik datangnya rezeki, daripada bermalas-malasan sambil mengkhayal.

Lakukan sesuatu, kerjakan sebaik mungkin, sebaik yang kamu bisa. Semakin baik kamu mengerjakannya, semakin sedikit yang mampu menyamai. Setelah itu, bahkan umpama kamu tinggal di puncak gunung, rezeki akan datang kepadamu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Desember 2024.

Sejak Kapan?

[Konteks: Ocehan ini terkait kasus pembunuhan yang pernah menggemparkan Indonesia, sekian waktu lalu.]

Ingin sekali meminjam optimisme Kurawa, dan berharap “kasus ini akan terungkap seterang-terangnya”. Tetapi, sayang, optimisme saja kadang tidak cukup. Kita akan menghadapi dinding tebal.

Bagaimana melihat dan memahami kasus yang rumit dan tak masuk akal? 

Ada cara yang sederhana. Singkirkan semua narasi, cerita, dan susunan latar yang tak masuk akal... lalu lihat dan perhatikan sisanya. 

Sambil nunggu udud habis...

Sambil nunggu udud habis, aku teringat salah satu film yang dibintangi Bruce Willis, A Good Day to Die Hard. 

John McClane (Bruce Willis) pergi ke Moskow untuk menemui putranya, Jack McClane (Jai Courtney). Mereka lalu bersua tanpa sengaja dalam sebuah petualangan gila.

Jack, sang anak, ternyata telah menjadi agen CIA, dan waktu itu sedang dalam misi penyelamatan seorang ilmuwan di sana. Jack bertemu John, ayahnya, di tengah jalan, ketika sedang kejar-kejaran mobil dengan musuh yang tidak ia pahami. Ayah dan anak itu lalu saling membantu.

Tak jauh beda dengan anaknya, John McClane bekerja sebagai polisi LAPD, tapi telah pensiun. Dan John, dengan segala pengalamannya, lebih matang dalam menghadapi masalah yang mereka hadapi. 

Sampai mereka akhirnya tiba di suatu plot twist yang benar-benar mengejutkan Jack, si anak.

Jack mendapat misi rahasia CIA untuk menyelamatkan seorang pria, dan membawanya keluar dari Rusia, karena diincar para penjahat di sana. Tetapi, ternyata, pria yang ia selamatkan itulah penjahat sesungguhnya. 

Ketika akhirnya menyadari apa yang telah terjadi, Jack ternganga.

Dalam keterkejutan, setelah memahami inti masalah yang dihadapinya, Jack berkata dengan nada tak percaya, “Jadi, semua ini soal uang?” 

Dan ayahnya menjawab, “Sejak kapan semua ini bukan soal uang?”


*) Dikutip dari timeline @noffret, 21 Juli 2022.

Minggu, 31 Mei 2026

Cara Masuk Forbes 30 Under 30

They won't. Eliminating the financial category means eliminating the biggest profit potential. Their accountant will scream! 

I don't have that antipathy for "30 under 30" type lists. It's cool to recognize up-and-coming types. And a lot of the criticism is just jealousy.

But they should get rid of finance categories, as that's an area where both "innovation" and "inexperience" are huge red flags.

—@TheStalwart, 14 Januari 2023


Ribut-ribut soal 30 Under 30 kayaknya belum rampung, ya. 

Sambil nunggu udud habis, aku terpikir untuk melanjutkan ocehan tempo hari. Agar kita [lebih] tahu apa sebenarnya acara itu.

Mari kita mulai dengan fakta ini. Umpama kamu anak miskin yang berhasil sukses pada usia 27 tahun, dan kesuksesan itu terjadi berkat usahamu sendiri, dan kesuksesanmu diakui secara luas... apakah kamu bisa masuk 30 Under 30? Kemungkinan besar tidak! 

Kenapa? Inilah masalahnya!

Yang jarang dipahami kebanyakan orang, 30 Under 30 sebenarnya bukan “panggung prestasi" (achievement), melainkan lebih sebagai sarana public relation. Karenanya, sistem yang digunakan untuk menyusun daftar itu lebih pada referensi, sistem jejaring, koneksi, dan semacamnya.

Setidaknya ada 3 cara untuk bisa masuk 30 Under 30. 

Pertama, dengan melamar langsung. Ya, kamu bisa mengirim lamaran ke Forbes agar masuk daftar 30 Under 30. Forbes sendiri mengakui, tiap tahun ada ribuan orang yang melamar agar masuk daftar itu. 

Tapi sebaiknya lupakan saja.

Ya, sebaiknya lupakan saja cara itu, karena biasanya cuma sia-sia. Sumber daya Forbes tidak akan bisa memverifikasi ribuan data pelamar yang masuk, padahal 30 Under 30 adalah pertaruhan uang yang sangat besar. Mereka tidak akan membuang-buang waktu dan energi secara percuma.

Cara kedua adalah melalui referensi. Seseorang mereferensikan namamu ke Forbes, untuk masuk daftar 30 Under 30. 

Semakin kuat posisi orang yang mereferensikanmu, semakin besar kemungkinanmu untuk masuk daftar itu—dengan catatan, kamu punya sesuatu yang layak diwartakan.

Yang disebut “kuat” dalam hal ini adalah orang yang memiliki hubungan khusus dengan Forbes. Inilah kenapa ada yang mengatakan, “All these 30 under 30 and 40 under 40 are awarded based on ‘network’. It has absolutely nothing to do with merit...” 

Karena begitulah sistemnya.

Mari gunakan ilustrasi sederhana [dan yang biasa terjadi], agar lebih mudah dipahami. 

Umpamakan saja kamu membangun startup yang punya potensi sukses, hingga ada investor masuk.

Investormu lalu menghubungi Forbes, dan meminta mereka memasukkan namamu dalam daftar 30 Under 30.

Forbes adalah sarana public relation yang sangat efektif di dunia bisnis. Karenanya, orang-orang semacam investor pasti punya koneksi khusus dengan Forbes. Jika mereka merekomendasikan namamu agar masuk 30 Under 30, misalnya, kemungkinan besar kamu akan masuk.

Bisa jadi, dan biasanya, investormu tidak memberitahukan apa pun kepadamu terkait hal tadi. Tahu-tahu saja kamu dapat pemberitahuan dari Forbes bahwa kamu masuk sebagai kandidat daftar mereka. Kamu girang, berpikir bahwa startup-mu diam-diam telah dikenal dunia internasional.

Dalam hal ini, permainannya sederhana. Investor memasukkan uangnya ke dalam bisnismu, dan berharap profit. Cara agar bisnis atau startup-mu cepat menangguk keuntungan adalah dengan mendongkrak popularitasnya, dengan menempatkan namamu di Forbes. Bisa memahami cara mainnya?

Jadi, kalau kamu, misalnya, ditanya, “Apakah kamu membayar untuk masuk 30 Under 30?” Tentu kamu akan menjawab, “Tidak!” 

Investormu yang mengurus hal-hal semacam itu, dan kamu tahunya tinggal beres. Muncul di panggung, tersenyum lebar, foto-foto, ngoceh sekadarnya... anything.

Cara kedua tadi, yaitu direferensikan investor, bisa jadi cara termudah untuk masuk 30 Under 30. Karenanya, selama ini kita mungkin sering mendapati nama-nama asing di daftar itu, dan berpikir, “Orang-orang ini siapa, ya? Ooh, pendiri startup baru, pantesan aku tidak tahu...”

Selain contoh investor yang mereferensikan namamu, ada cara mudah lain untuk masuk 30 Under 30. Yaitu direferensikan ayahmu! 

Tentu saja, dengan catatan kalau ayahmu adalah pejabat berpengaruh, atau pengusaha besar yang biasa dinner dengan orang-orang Forbes!

Selain 2 cara tadi, ada cara ketiga untuk masuk 30 Under 30, yaitu dengan melakukan sesuatu yang luar biasa, yang berdampak positif pada banyak orang, sebegitu luar biasa hingga Forbes mau tak mau harus melihat dan memilihmu. Tapi, jujur saja, ini cara yang sangat, sangat sulit.

Di luar negeri, acara penganugerahan 30 Under 30 dihadiri para pengusaha dan selebritas. Berapa harga undangannya? Lima ribu dolar untuk kursi VIP! 

Acara itu serupa meja kasino, dan sederet nama dalam daftar adalah kartu yang dipegang, sementara dadu nasib dilempar ke arena.

Omong-omong, tempo hari JP Morgan dapat apes, karena megang kartu yang salah!

Bukan hanya JP Morgan yang pernah ketiban sial semacam itu—investor lain juga pernah mengalaminya. Tapi tidak apa-apa. Karena selalu ada “kartu-kartu baru” yang bisa dimainkan.

They should just start preemptively arresting anyone on the Forbes 30 Under 30. —@ChrisJBakke, 12 Januari 2023.

Sampai di sini, sudah mulai paham permainannya?

PS:

Sejujurnya, aku tidak nyaman menulis ocehan ini, karena bisa jadi akan mematikan impian beberapa orang yang mungkin berharap masuk 30 Under 30. Karenanya, jangan terlalu pedulikan ocehan ini, dan lanjutkan saja impianmu, kalau kamu memang mampu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2023.

Kesibukan

Manusia adalah makhluk sosial, kata teori yang telah menjelma dogma. Mari sepakati saja teori—atau dogma—itu benar, karena nyatanya kita memang sesekali butuh berinteraksi dengan orang lain, berkomunikasi, ngobrol-ngobrol ringan sambil bercanda dan tertawa-tawa.

Ngobrol dengan tetangga, misalnya, itu bagus. Selain bagian dari sosialisasi, ngobrol dengan orang lain—dalam hal ini tetangga—juga membantu mengaja kesehatan mental kita, kalau dilakukan sesekali. Tapi kalau setiap hari ngobrol terus dengan tetangga, itu tidak bagus lagi.

Bertemu dan mengobrol dengan tetangga seminggu sekali, misalnya, itu punya manfaat; dari sekadar sosialisasi, mengetahui kabar tetangga, sampai menyehatkan mental. Tapi kalau harus ngobrol dengan tetangga setiap hari, itu justru negatif, karena bisa menjadi penyakit sosial.

Teorinya sederhana saja; kalau orang bisa menghabiskan banyak waktu untuk ngobrol setiap hari, hampir bisa dipastikan mereka tidak punya kesibukan. Dan orang yang paling rentan tergelincir membicarakan atau melakukan hal-hal sia-sia adalah orang yang tak punya kesibukan.

Kesibukan—meski mungkin terdengar tidak nyaman di telinga—mampu menjaga kita dari kemungkinan melakukan hal-hal negatif atau sia-sia. Orang yang sibuk belajar atau sibuk bekerja, pasti malas ngurusin hal-hal tak bermanfaat. Beda dengan orang yang tak punya kesibukan.

Sabtu, 30 Mei 2026

Permainan di Balik Bisnis Media

Baru tau kalo 30 under 30 tuh ada feenya, ya. Wa kira murni karena prestasi/achievement. My whole life is a lie. —@ezash, 12 Januari 2023.


Jika kita melihat hal ini dalam cakupan lebih luas, coba pikirkan koran-koran harian yang harganya cuma seribu atau dua ribu rupiah. Di setiap kota pasti ada, kan? 

Coba pikirkan, mungkinkah koran-koran itu bisa balik modal dengan harga segitu?

Koran-koran lokal itu membutuhkan biaya besar untuk pencetakannya, sementara harga jualnya sangat rendah, itu pun yang terjual tidak seberapa.

Ini bahkan belum bicara biaya operasional, gaji wartawan, dll. Jadi, bagaimana atau dari mana koran-koran itu dapat uang untuk menjalankan bisnisnya, dan, di saat sama, juga menghasilkan keuntungan agar bisnis terus tumbuh?

Pertanyaan sejuta dolar!

Pendapatan dari iklan komersial? Matematika menolaknya! Coba hitung saja.

Aku bisa menjelaskan soal itu panjang lebar, tapi sejujurnya tidak nyaman... karena, bisa jadi, uraiannya akan lebih mengejutkan [sekaligus mencengangkan] daripada fakta 30 Under 30 yang kini terkuak.

....
....

Sepertinya tidak adil kalau ocehannya aku potong di situ. Jadi, omong-omong soal terkuak...

Sambil nunggu udud habis.

Dulu, pada era 2000-an, ada majalah bisnis yang ditujukan untuk anak muda. Sebut saja Majalah X. Karena ditujukan untuk anak muda, isi majalah itu pun sangat trendi, bahkan orang-orang yang menghiasi sampul majalah itu rata-rata anak muda yang [kebetulan] berbisnis.

Di masa itu, aku menjalankan bisnis yang punya keterkaitan dengan media. Jadi aku relatif kenal dengan para “mastermind” di balik media-media era itu. 

Suatu waktu, Majalah X menemuiku, dan—boleh percaya boleh tidak—menawariku untuk jadi sampul majalah mereka.

Aku bertanya, “Jika aku bersedia menjadi sampul majalah kalian, apa yang akan kudapatkan?” 

Mereka spontan menjawab, “Eksposur!” 

Itu benar. Jadi sampul majalah X artinya akan terekspos ke seluruh Indonesia, dan itu jelas berdampak bagus untuk bisnis. Permainan sederhana.

Siapa pun yang mengenal bisnis media pasti memahami bahwa ini adalah permainan sederhana—setepatnya, permainan sederhana dalam skala raksasa. 

Seperti Majalah X tadi. “Jadilah sampul majalahku, dan itu akan jadi promosi yang sangat bagus untuk bisnismu.” Sesederhana itu.

Tapi tidak ada makan siang gratis, tentu saja. Jika waktu itu aku bersedia menjadi sampul majalah mereka, aku harus membayar sejumlah uang [yang untuk ukuran waktu itu relatif besar]. Sebenarnya, dari segi bisnis, itu tidak masalah, tapi aku jadi merasa “membohongi diri sendiri”.

Maksudku begini. Kalau kamu muncul di sampul majalah karena bisnis atau prestasimu, dan untuk hal itu kamu tidak perlu membayar sama sekali—dalam arti murni sebagai apresiasi karena pencapaian/prestasimu—kamu pasti akan bangga. Tapi beda cerita kalau kamu harus bayar, kan?

Kalau kamu harus bayar untuk jadi sampul majalah, di mana unsur kebanggaannya? Wong bayar, kok! Siapa pun juga bisa! 

Karenanya, waktu itu Majalah X menawariku jadi sampul mereka, padahal bisnisku juga tidak prestisius-prestisius amat—pokoknya asal aku mau bayar aja udah!

Nah, hal serupa sebenarnya terjadi pada “nominasi atau daftar tertentu” ala media, salah satunya yang kini jadi bahan pembicaraan di Twitter. Dari dulu ya aku paham kalau memang begitu “cara mainnya”. Dan ketika permainan semacam itu akhirnya terkuak, itu bikin malu, kan?

Maksudku begini. Kamu mungkin punya prestasi tertentu yang memang layak dibanggakan atau diwartakan. Jadi kamu lalu masuk “nominasi atau daftar” yang berisi orang-orang berprestasi. Tapi di balik layar, kamu harus bayar. Kamu tidak peduli, toh ini membuatmu bangga.

Jadi, kamu kemudian muncul sebagai salah satu dalam "daftar orang berprestasi", bersama orang-orang berprestasi lainnya. 

Lalu, rahasia di balik layar tadi terkuak. Bahwa kamu ternyata harus bayar untuk bisa masuk dalam daftar itu. Kebanggaan bisa berubah jadi cibiran.

Jika ocehan ini mau dilanjutkan, kita bisa masuk ke relung-relung yang lebih gelap di balik dunia media. 

Pernah menemukan majalah-majalah dewasa dengan sampul wanita-wanita yang berpose seksi? Sebagian wanita itu memang fotomodel, tapi sebagian lain wanita biasa (bukan model).

Dari mana wanita-wanita itu berasal? Bisa dari mana saja. Di mall, di jalan mana pun, di tempat wisata, di hotel, di ruang karaoke, sebut lainnya. 

Mereka dapat tawaran manis, “Kamu mau jadi model sampul Majalah Z?” Hampir semua mereka bersedia—persetan, siapa yang tidak?

Masyarakat awam mungkin membayangkan, wanita-wanita itu jadi sampul majalah, foto-foto seksinya menghiasi lembar-lembar majalah, dapat bayaran besar, lalu populer, lalu jadi fotomodel terkenal, bahkan jadi artis. 

Benarkah begitu? Sayang sekali, aku tidak nyaman menjelaskannya.

Well, semua ini permainan bisnis. Dan menjalankan bisnis media adalah “meletakkan makanan-makanan enak dan lezat di meja prasmanan”, sambil menjaga agar orang-orang (masyarakat luas yang mengonsumsi media) “tidak tahu apa yang terjadi balik dapur”. Sesederhana itu.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, tapi ududku habis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Januari 2023.

Terjebak dalam Rollercoaster

Salah satu hal yang identik dengan internet, tapi jarang dipahami banyak penggunanya, adalah kecepatan. Orang-orang yang bekerja untuk media pasti paham soal ini. Dalam skala tertentu, “kecepatan” di internet bahkan telah melampaui akal sehat, dan menerobos kemustahilan.

Agar ocehan ini lebih mudah dipahami semua orang, kita perlu melihat cara kerja media di internet lebih dulu. Semua media di internet menuntut kecepatan agar selalu up to date. Kecepatan itu tidak hanya akan berpengaruh pada jumlah pembaca, tapi juga reputasi situs di mesin pencari.

Dalam ilustrasi sederhana, semakin banyak dan semakin cepat kita meng-update situs (menggelontorkan banyak tulisan baru), semakin baik posisi situs kita; bagi pembaca, bagi mesin pencari, dan, tentu saja, bagi rekening situs bersangkutan. Ini telah jadi hukum besi media di internet.

Karena latar semacam itu, semua situs—khususnya yang bermodal besar—akan terus memproduksi tulisan baru, dari detik ke detik, tanpa henti. Untuk tujuan tersebut, mereka merekrut banyak jurnalis. Di titik itu, nasib para jurnalis kadang seperti terjebak dalam rollercoaster.

Aku bilang “terjebak”, karena tidak bisa [atau sulit] keluar. Irama kerja yang terus berputar cepat, membawa mereka terayun-ayun dalam tugas demi tugas penulisan tanpa henti. Sebagian jurnalis itu kadang mendapat penghasilan besar, tapi tidak punya kehidupan sama sekali.

Jumat, 01 Mei 2026

Lebaran dan Keadilan Ekonomi

Seminggu setelah lebaran, saya mampir ke tempat Badu, seorang teman yang bekerja sebagai pemulung. Biasanya, kalau saya dolan ke rumahnya malam hari, kami mengobrol sambil Badu menata hasil memulung seharian.

Badu punya jadwal kerja mirip karyawan, tapi dia bukan karyawan. Setiap pagi, Badu berangkat dari rumahnya sambil membawa karung, berkeliling ke sana kemari, mencari barang apa pun di tempat sampah yang sekiranya bisa ia kilokan. Siang hari, dia pulang ke rumah untuk makan siang, sambil mengosongkan isi karung, lalu pergi lagi untuk memulung sampai sore atau menjelang magrib. 

Jadwal kerjanya mirip karyawan, tapi dia bukan karyawan. Karena Badu tidak kenal THR atau tunjangan hari raya, juga tidak punya libur lebaran. Ia hanya libur di hari pertama lebaran, kemudian besoknya sudah kembali memulung. Karena, “kalau aku tidak kerja (memulung), aku tidak makan.”

Malam itu, saat saya mampir ke rumahnya, Badu baru selesai menata barang-barang hasil memulungnya. Tumpukan kardus dan tumpukan plastik telah dipisahkan, sudah diikat rapi, dan besok tinggal dibawa ke pengepul. 

Kami pun mengobrol santai seperti biasa, sambil menikmati udud. Ketika obrolan sampai pada topik lebaran, Badu berkata, “Setiap kali lebaran, aku selalu senang, tapi juga tertekan.” 

Badu senang saat lebaran tiba, karena mendapat zakat, yang memungkinkan keluarganya menikmati makanan enak setahun sekali. Tapi Badu juga tertekan, karena datangnya lebaran sering kali menjadi awal kenaikan harga-harga barang, khususnya makanan. Badu telah mengalami hal itu selama bertahun-tahun, dan merasakan hidupnya makin tercekik setiap kali lebaran datang.

Agar kalian paham apa yang terjadi, khususnya pada orang-orang miskin seperti Badu, izinkan saya menjelaskan.

Ketika Ramadan datang, belanja orang Islam meningkat, khususnya belanja makanan. Itu fenomena yang terjadi secara luas di berbagai wilayah Indonesia, meski dengan intensitas yang bervariasi antardaerah. Orang-orang Islam butuh berbuka puasa, baik yang sendirian, bersama keluarga, ataupun yang bukber dengan teman-teman. Dan belanja makanan selama Ramadan bukan hanya untuk berbuka, tapi juga untuk makan malam, dan untuk sahur. Peredaran uang makin banyak, roda ekonomi berputar.

Sebagian orang, dengan nada mengglorifikasi, kerap menyatakan bahwa fenomena yang terjadi itu “berkah Ramadan”—bukti kaum muslim berkontribusi pada peningkatan ekonomi. Tetapi, jika dicermati lebih dalam, femomena yang terjadi selama Ramadan sebenarnya membentuk akumulasi tekanan harga yang bersifat laten—yang saya analogikan sebagai “bom waktu”.

Sebulan penuh orang-orang Islam membelanjakan banyak uang untuk makanan. Uang yang beredar semakin banyak, konsumsi meningkat, permintaan naik, dan hukum ekonomi merayap diam-diam. Puncaknya terjadi ketika lebaran tiba. Gaji dan THR dibagikan, orang-orang memegang banyak uang. Ditambah liburan saat lebaran, mereka punya banyak kesempatan sekaligus dorongan untuk membelanjakan uangnya. Dan bom waktu yang mulai berdetak saat Ramadan terus menuju titik ledak.

Apa yang biasanya terjadi ketika lebaran datang? Ya, harga-harga barang cenderung naik tajam, khususnya makanan! 

Selama seminggu lebaran, kenaikan harga itu mungkin belum terasa, karena orang-orang masih memegang banyak uang. Tapi setelah lebaran berlalu, dan uang THR makin menipis, sebagian harga tidak sepenuhnya kembali ke level pra-Ramadan. Dalam literatur ekonomi, fenomena itu disebut “seasonality in inflation”, yaitu pola kenaikan harga yang berulang pada periode tertentu akibat faktor musiman seperti hari besar keagamaan, yang salah satu contohnya adalah Ramadan sampai lebaran.

Para pedagang sering menyatakan bahwa kenaikan harga terjadi karena lebaran. Tetapi, ketika lebaran telah berlalu, “harga lebaran” itu tetap bertahan. Harga-harga makanan yang telanjur naik sering kali sulit turun kembali, meski awalnya disebut “harga lebaran”. Mengapa fenomena itu terjadi? Jawabannya, dalam perspektif saya, adalah bom waktu yang telah berdetak sejak awal Ramadan.

Ketika Ramadan tiba, konsumsi naik, permintaan naik, dan itu berdampak pada distribusi logistik yang padat, hingga biaya bahan baku yang naik. Dalam contoh mudah, para petani tidak bisa menaikkan jumlah panen seketika hanya karena permintaan naik seketika. Konsekuensinya, harga naik. 

Tapi kenaikan saat Ramadan belum terasa, karena “bom waktu” masih di angka awal. Kebanyakan pedagang juga belum menaikkan harga barang mereka, karena kenaikan “harga kulakan” masih sebatas beberapa rupiah. Seiring waktu, mendekati lebaran, distribusi logistik makin padat, permintaan konsumsi makin meningkat—ingat ketupat dan opor ayam hingga hidangan lebaran—dan bom waktu yang mulai menyala sejak Ramadan pun meledak! 

Harga-harga makanan naik secara luas!

Seperti yang saya sebut tadi, kenaikan harga—khususnya makanan—selama lebaran belum terasa, karena rata-rata orang masih memegang banyak uang, dan memaklumi kenaikan harga karena lebaran. Tapi ketika lebaran berlalu, “harga lebaran” itu tidak kunjung turun. Mengulang pertanyaan tadi; kenapa? 

Bagi saya, jawabannya sangat gamblang; karena permintaan terhadap makanan cenderung bersifat inelastis terhadap harga, sehingga kenaikan harga tidak diikuti penurunan konsumsi yang signifikan. Dalam bahasa awam, orang tetap butuh makan meski harganya naik! 

Setelah lebaran berlalu, banyak penjual makanan yang mempertahankan “harga lebaran”. Ada dua alasan dalam hal ini; pertama karena masih laku, dan kedua karena struktur pasar yang berubah! Dalam ilmu ekonomi, itu disebut price stickiness; pedagang enggan menurunkan harga karena konsumen masih mau beli, ditambah biaya produksi yang sudah telanjur naik akibat struktur pasar yang berubah sejak Ramadan. 

Di sisi lain, orang-orang tetap beli makanan, karena memang butuh makan! Dalam beberapa kasus, harga baru kemudian jadi referensi (baseline) baru. Ekspektasi pasar berubah, orang-orang perlahan “terbiasa” dengan harga baru. Itu, kan, yang kita alami setiap usai lebaran? 

Harga-harga bahan baku memang cenderung turun setelah Ramadan dan lebaran berlalu. Badan Pusat Statistik mengonfirmasi hal itu. Tetapi, dalam banyak kasus, harga makanan jadi (siap saji) tidak sepenuhnya mengikuti penurunan tersebut. Kenyataan itu memang tidak terjadi di semua tempat, tapi terjadi di banyak tempat. Perhatikan irisannya.

Sebagai catatan, harga mi tektek yang biasa lewat di tempat saya, naik seribu. Harga capcay dan mi ayam langganan saya, naik dua ribu. Sementara harga martabak naik tiga ribu, ayam geprek naik dua ribu, dan itu baru sekadar contoh. Kenaikan harga-harga itu dimulai sejak lebaran, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda penurunan. Berdasarkan kenaikan yang telah terjadi sejak beberapa lebaran sebelumnya, harga-harga yang naik itu biasanya tidak akan pernah turun. Yang terjadi justru akan kembali naik saat lebaran datang lagi di tahun berikutnya. 

Jika harga naik menjelang lebaran, kemudian turun ke harga normal setelah lebaran usai, itu disebut fluktuasi. Tapi jika harga naik menjelang lebaran, dan kenaikan harga itu tetap bertahan—tidak turun ke harga normal—padahal lebaran sudah lama usai, itu apa namanya kalau bukan inflasi? Definisi formal dan statistik mungkin dapat dipakai sebagai “tameng intelektual”, tapi apa artinya definisi formal dan statistik ketika realitas menunjukkan kebalikannya?

Saya sengaja menulis dan mempublikasikan catatan ini jauh setelah lebaran, agar kita semua melihat realitasnya di lapangan, dan agar catatan ini tidak cuma menjadi omong kosong akademis.

Ekonomi memiliki prinsip dasar; kenaikan permintaan akan mendorong kenaikan harga, terutama ketika penawaran tidak bisa menyesuaikan dengan cepat. Dan ketika harga makanan naik, ia sulit turun kembali, karena orang akan tetap beli! Ini adalah implikasi langsung dari mekanisme pasar dasar.

Sekian tahun lalu, ketika saya pertama kali membahas soal ini di blog dan di Twitter, ada beberapa media yang meng-counter dengan menyatakan bahwa yang terjadi selama Ramadan dan lebaran bukan inflasi, karena sifatnya sementara. 

Kalau benar sementara, mestinya harga akan kembali ke titik awal setelah lebaran usai. Faktanya, dalam sejumlah kasus—seperti yang saya alami—harga menetap lebih tinggi, khususnya harga makanan. Ekonomi menyebutnya downward price rigidity (harga yang sulit turun).

“Kenaikan harga-harga barang, khususnya makanan, setelah lebaran, itu bagus, karena ekonomi bergerak,” kata para analis di YouTube. 

Ekonomi memang bergerak, fellas, tapi manfaatnya tidak merata. Yang menikmati lonjakan konsumsi adalah pelaku usaha, sementara beban ditanggung konsumen, terutama yang miskin! Did you see that? Pendekatan yang terlalu normatif dalam buku teks sering kali tidak sepenuhnya menangkap kompleksitas realitas di lapangan!

“Penyebab inflasi bukan Ramadan dan lebaran, tapi faktor lain semisal BBM atau kebijakan moneter,” ujar mahasiswa ekonomi. 

Benar! Tapi Ramadan dan lebaran memperparah tekanan tersebut, karena menjadi pendorong (katalisator) yang mempercepat dan memperkuat tekanan kenaikan harga. Itu adalah pola berulang yang ikut mendorong inflasi dan berpotensi memperlebar tekanan ketimpangan, sekaligus memperburuk beban kelompok rentan! 

Sekali lagi, kembali ke ilmu ekonomi. Ketika permintaan naik sementara penawaran tidak bisa langsung menyesuaikan, harga cenderung naik. Ramadan dan Idul Fitri adalah contoh nyata kondisi itu. Permintaan makanan meningkat tajam dalam waktu singkat, sementara kapasitas produksi dan distribusi tidak berubah secara instan. Akibatnya, kenaikan harga bukan anomali, tapi konsekuensi logis dari mekanisme pasar.

Persoalannya bukan di situ. Masalah muncul ketika harga yang sudah naik tidak kembali ke level semula setelah permintaan normal kembali. Kenyataan itu menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak sepenuhnya bersifat sementara, tapi mencerminkan penyesuaian struktur harga. Dampaknya tidak merata. Kelompok berpenghasilan rendah, yang sebagian besar pengeluarannya untuk makanan, akan merasakan penurunan daya beli secara langsung.

Jadi, dalam praktiknya, siklus Ramadan-Idul Fitri bukan hanya memicu kenaikan harga jangka pendek, tapi juga berkontribusi pada tekanan inflasi, dengan beban terbesar ditanggung kelompok paling rentan atau kaum dhuafa.

Saya sepakat bahwa Ramadan dan Idul Fitri memang mendorong aktivitas ekonomi. Tapi tanpa pengelolaan distribusi dan stabilisasi harga yang memadai, dampaknya tidak akan adil. Dalam praktiknya, pemerintah memang biasanya melakukan intervensi melalui operasi pasar, subsidi, atau pengendalian distribusi. Tapi efektivitasnya sering kali terbatas dalam menahan tekanan harga secara menyeluruh. Sementara kenaikan harga yang terjadi—dan sering kali bertahan—secara nyata memperberat beban kelompok miskin. So, ini bukan sekadar fenomena budaya atau “berkah Ramadan”, tapi persoalan keadilan ekonomi!

Inflasi makanan bukan sekadar angka, tapi tekanan hidup bagi kelompok rentan. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik, proporsi pengeluaran rumah tangga miskin sebesar 50–60% untuk biaya makan, rumah tangga menengah sekitar 30–40%, sementara rumah tangga kaya mengeluarkan biaya makan yang jauh lebih kecil dari penghasilan. Statistik itu sejalan dengan prinsip Engel’s Law, bahwa proporsi pengeluaran untuk makanan akan menurun seiring meningkatnya pendapatan. 

Ketika harga makanan naik, orang kaya cuma mikir, “Lhah, paling naik beberapa ribu.” Bagi mereka, itu kenaikan yang tak seberapa, karena penghasilan mereka jauh lebih besar dibanding pengeluaran untuk makan yang hanya sekian persen. Tapi bagi orang miskin, kenaikan beberapa ribu adalah cekikan yang makin kuat di leher mereka!

“Di ujung gang sana, ada penjual soto,” ujar Badu. “Dulu, harga seporsi cuma delapan ribu. Semangkuk soto itu biasanya untuk lauk makan kami bertiga—aku, ibuku, dan adikku. Saban lebaran, harganya naik. Dari delapan ribu jadi sepuluh ribu. Terus naik lagi jadi sebelas ribu, tiga belas ribu, hingga sekarang lima belas ribu. Lebaran tahun ini juga pasti akan naik lagi. Tapi penghasilanku dari dulu cuma segitu-gitu aja, nggak naik sama sekali.” 

Harga-harga makanan naik setiap lebaran, dan sebagian kenaikan harga itu tetap bertahan setelah lebaran usai, karena para pedagang ditekan struktur pasar yang berubah, sementara orang-orang tetap butuh beli makanan. Orang kaya butuh makan, orang miskin juga butuh makan. Kenaikan harga bagi orang kaya cuma membuat mereka tertawa, kenaikan harga bagi orang miskin membuat mereka makin menderita. Dan pola itu terus terjadi dari tahun ke tahun, setiap kali Ramadan dan lebaran tiba.

Puasa Ramadan mendidik kita untuk memahami penderitaan orang-orang miskin. Lebaran jadi waktu merayakan kemenangan atas hawa nafsu. Dan setelah lebaran usai... orang-orang miskin kembali tertindas.

Terpujilah Para Pendaki

Waktu untuk naik gunung jauh lebih lama dibanding waktu berada di puncak gunung. Selalu begitu. Tapi orang-orang terus menaiki gunung.

Semakin ke puncak, oksigen semakin menipis. Orang tak bisa lama-lama di puncak. Kapan pun waktunya harus turun. Untuk tetap hidup.

Yang membuat orang tak pernah bosan naik gunung, mungkin, karena menikmati pendakiannya. Bukan ketika berada di puncaknya. Begitu pun hidup.

Orang bilang, hidup seperti roda. Mungkin pula, hidup seperti naik gunung. Semua orang ingin naik ke atas. Tetapi, pada akhirnya, ia harus turun.

Ketika hidup memaksa kita turun, bukan berarti langkah kita selesai untuk mati. Sering kali, turun adalah kesempatan untuk tetap hidup.

Tentu saja setiap orang berhak untuk tetap berada di puncak gunung. Sampai kapan pun. Tapi ia akan mati perlahan-lahan. Sendirian.

Terpujilah para pendaki, para pencari. Yang gembira saat sampai puncak, tapi selalu ingat untuk turun kembali. Karena ada pendakian lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juni 2013.

 
;