Salah satu hal yang identik dengan internet, tapi jarang dipahami banyak penggunanya, adalah kecepatan. Orang-orang yang bekerja untuk media pasti paham soal ini. Dalam skala tertentu, “kecepatan” di internet bahkan telah melampaui akal sehat, dan menerobos kemustahilan.
Agar ocehan ini lebih mudah dipahami semua orang, kita perlu melihat cara kerja media di internet lebih dulu. Semua media di internet menuntut kecepatan agar selalu up to date. Kecepatan itu tidak hanya akan berpengaruh pada jumlah pembaca, tapi juga reputasi situs di mesin pencari.
Dalam ilustrasi sederhana, semakin banyak dan semakin cepat kita meng-update situs (menggelontorkan banyak tulisan baru), semakin baik posisi situs kita; bagi pembaca, bagi mesin pencari, dan, tentu saja, bagi rekening situs bersangkutan. Ini telah jadi hukum besi media di internet.
Karena latar semacam itu, semua situs—khususnya yang bermodal besar—akan terus memproduksi tulisan baru, dari detik ke detik, tanpa henti. Untuk tujuan tersebut, mereka merekrut banyak jurnalis. Di titik itu, nasib para jurnalis kadang seperti terjebak dalam rollercoaster.
Aku bilang “terjebak”, karena tidak bisa [atau sulit] keluar. Irama kerja yang terus berputar cepat, membawa mereka terayun-ayun dalam tugas demi tugas penulisan tanpa henti. Sebagian jurnalis itu kadang mendapat penghasilan besar, tapi tidak punya kehidupan sama sekali.
