Minggu, 31 Mei 2026

Cara Masuk Forbes 30 Under 30

They won't. Eliminating the financial category means eliminating the biggest profit potential. Their accountant will scream! 

I don't have that antipathy for "30 under 30" type lists. It's cool to recognize up-and-coming types. And a lot of the criticism is just jealousy.

But they should get rid of finance categories, as that's an area where both "innovation" and "inexperience" are huge red flags.

—@TheStalwart, 14 Januari 2023


Ribut-ribut soal 30 Under 30 kayaknya belum rampung, ya. 

Sambil nunggu udud habis, aku terpikir untuk melanjutkan ocehan tempo hari. Agar kita [lebih] tahu apa sebenarnya acara itu.

Mari kita mulai dengan fakta ini. Umpama kamu anak miskin yang berhasil sukses pada usia 27 tahun, dan kesuksesan itu terjadi berkat usahamu sendiri, dan kesuksesanmu diakui secara luas... apakah kamu bisa masuk 30 Under 30? Kemungkinan besar tidak! 

Kenapa? Inilah masalahnya!

Yang jarang dipahami kebanyakan orang, 30 Under 30 sebenarnya bukan “panggung prestasi" (achievement), melainkan lebih sebagai sarana public relation. Karenanya, sistem yang digunakan untuk menyusun daftar itu lebih pada referensi, sistem jejaring, koneksi, dan semacamnya.

Setidaknya ada 3 cara untuk bisa masuk 30 Under 30. 

Pertama, dengan melamar langsung. Ya, kamu bisa mengirim lamaran ke Forbes agar masuk daftar 30 Under 30. Forbes sendiri mengakui, tiap tahun ada ribuan orang yang melamar agar masuk daftar itu. 

Tapi sebaiknya lupakan saja.

Ya, sebaiknya lupakan saja cara itu, karena biasanya cuma sia-sia. Sumber daya Forbes tidak akan bisa memverifikasi ribuan data pelamar yang masuk, padahal 30 Under 30 adalah pertaruhan uang yang sangat besar. Mereka tidak akan membuang-buang waktu dan energi secara percuma.

Cara kedua adalah melalui referensi. Seseorang mereferensikan namamu ke Forbes, untuk masuk daftar 30 Under 30. 

Semakin kuat posisi orang yang mereferensikanmu, semakin besar kemungkinanmu untuk masuk daftar itu—dengan catatan, kamu punya sesuatu yang layak diwartakan.

Yang disebut “kuat” dalam hal ini adalah orang yang memiliki hubungan khusus dengan Forbes. Inilah kenapa ada yang mengatakan, “All these 30 under 30 and 40 under 40 are awarded based on ‘network’. It has absolutely nothing to do with merit...” 

Karena begitulah sistemnya.

Mari gunakan ilustrasi sederhana [dan yang biasa terjadi], agar lebih mudah dipahami. 

Umpamakan saja kamu membangun startup yang punya potensi sukses, hingga ada investor masuk.

Investormu lalu menghubungi Forbes, dan meminta mereka memasukkan namamu dalam daftar 30 Under 30.

Forbes adalah sarana public relation yang sangat efektif di dunia bisnis. Karenanya, orang-orang semacam investor pasti punya koneksi khusus dengan Forbes. Jika mereka merekomendasikan namamu agar masuk 30 Under 30, misalnya, kemungkinan besar kamu akan masuk.

Bisa jadi, dan biasanya, investormu tidak memberitahukan apa pun kepadamu terkait hal tadi. Tahu-tahu saja kamu dapat pemberitahuan dari Forbes bahwa kamu masuk sebagai kandidat daftar mereka. Kamu girang, berpikir bahwa startup-mu diam-diam telah dikenal dunia internasional.

Dalam hal ini, permainannya sederhana. Investor memasukkan uangnya ke dalam bisnismu, dan berharap profit. Cara agar bisnis atau startup-mu cepat menangguk keuntungan adalah dengan mendongkrak popularitasnya, dengan menempatkan namamu di Forbes. Bisa memahami cara mainnya?

Jadi, kalau kamu, misalnya, ditanya, “Apakah kamu membayar untuk masuk 30 Under 30?” Tentu kamu akan menjawab, “Tidak!” 

Investormu yang mengurus hal-hal semacam itu, dan kamu tahunya tinggal beres. Muncul di panggung, tersenyum lebar, foto-foto, ngoceh sekadarnya... anything.

Cara kedua tadi, yaitu direferensikan investor, bisa jadi cara termudah untuk masuk 30 Under 30. Karenanya, selama ini kita mungkin sering mendapati nama-nama asing di daftar itu, dan berpikir, “Orang-orang ini siapa, ya? Ooh, pendiri startup baru, pantesan aku tidak tahu...”

Selain contoh investor yang mereferensikan namamu, ada cara mudah lain untuk masuk 30 Under 30. Yaitu direferensikan ayahmu! 

Tentu saja, dengan catatan kalau ayahmu adalah pejabat berpengaruh, atau pengusaha besar yang biasa dinner dengan orang-orang Forbes!

Selain 2 cara tadi, ada cara ketiga untuk masuk 30 Under 30, yaitu dengan melakukan sesuatu yang luar biasa, yang berdampak positif pada banyak orang, sebegitu luar biasa hingga Forbes mau tak mau harus melihat dan memilihmu. Tapi, jujur saja, ini cara yang sangat, sangat sulit.

Di luar negeri, acara penganugerahan 30 Under 30 dihadiri para pengusaha dan selebritas. Berapa harga undangannya? Lima ribu dolar untuk kursi VIP! 

Acara itu serupa meja kasino, dan sederet nama dalam daftar adalah kartu yang dipegang, sementara dadu nasib dilempar ke arena.

Omong-omong, tempo hari JP Morgan dapat apes, karena megang kartu yang salah!

Bukan hanya JP Morgan yang pernah ketiban sial semacam itu—investor lain juga pernah mengalaminya. Tapi tidak apa-apa. Karena selalu ada “kartu-kartu baru” yang bisa dimainkan.

They should just start preemptively arresting anyone on the Forbes 30 Under 30. —@ChrisJBakke, 12 Januari 2023.

Sampai di sini, sudah mulai paham permainannya?

PS:

Sejujurnya, aku tidak nyaman menulis ocehan ini, karena bisa jadi akan mematikan impian beberapa orang yang mungkin berharap masuk 30 Under 30. Karenanya, jangan terlalu pedulikan ocehan ini, dan lanjutkan saja impianmu, kalau kamu memang mampu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2023.

Kesibukan

Manusia adalah makhluk sosial, kata teori yang telah menjelma dogma. Mari sepakati saja teori—atau dogma—itu benar, karena nyatanya kita memang sesekali butuh berinteraksi dengan orang lain, berkomunikasi, ngobrol-ngobrol ringan sambil bercanda dan tertawa-tawa.

Ngobrol dengan tetangga, misalnya, itu bagus. Selain bagian dari sosialisasi, ngobrol dengan orang lain—dalam hal ini tetangga—juga membantu mengaja kesehatan mental kita, kalau dilakukan sesekali. Tapi kalau setiap hari ngobrol terus dengan tetangga, itu tidak bagus lagi.

Bertemu dan mengobrol dengan tetangga seminggu sekali, misalnya, itu punya manfaat; dari sekadar sosialisasi, mengetahui kabar tetangga, sampai menyehatkan mental. Tapi kalau harus ngobrol dengan tetangga setiap hari, itu justru negatif, karena bisa menjadi penyakit sosial.

Teorinya sederhana saja; kalau orang bisa menghabiskan banyak waktu untuk ngobrol setiap hari, hampir bisa dipastikan mereka tidak punya kesibukan. Dan orang yang paling rentan tergelincir membicarakan atau melakukan hal-hal sia-sia adalah orang yang tak punya kesibukan.

Kesibukan—meski mungkin terdengar tidak nyaman di telinga—mampu menjaga kita dari kemungkinan melakukan hal-hal negatif atau sia-sia. Orang yang sibuk belajar atau sibuk bekerja, pasti malas ngurusin hal-hal tak bermanfaat. Beda dengan orang yang tak punya kesibukan.

Akar

Tunjukkan padaku pohon tanpa akar, dan akan kukatakan kepadamu itulah keajaiban. Atau kemustahilan. Segalanya bermula dari akar.

Kadang-kadang akar tumbuh tanpa benih, meski tidak setiap benih pasti bertumbuh. Apa pun, aku percaya semua pohon ditunjang akar.

Yang merisaukan, kita menebang pohon yang mengganggu dan melupakan akarnya. Lalu akar kembali menumbuhkan pohon sama, dan cerita berulang.

Kita tak akan bisa melenyapkan apa pun, tanpa menghilangkan akarnya, Seperti kanker yang berkecambah, semuanya berasal dari sel akar kecil.

Dan sekarang aku berpikir, jangan-jangan kita semua juga terjebak dan terperangkap dalam sesuatu yang telah ditumbuhkan akar kita...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Oh dan Ouh

Ternyata, "Oh" dan "Ouh" itu beda. Setidaknya selisih satu huruf. #FaktaPentingSekali


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Menjelang Akad

Menjelang akad nikah, seorang pria berkata, "Eh, sebentar. Sepertinya ada yang ketinggalan. Oh, ya ampun, hati saya tertinggal di rumah!"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Bahkan Tumbuhan

Bahkan tumbuhan pun kadang tidak adil. Ada bunga matahari, tapi tak ada bunga bulan. Kata mereka, "Karena bulan tertusuk ilalang."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Agustus 2012.

Resep Lucu

Baca resep kok lucu sekali. "Wanita hamil yang perokok sebaiknya hamilnya dihentikan dulu, biar aktivitas merokoknya tidak terganggu."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Galau Sendiri

Dan kerinduan cinta manakah yang ingin kaulupakan? 

Dan kelembutan hening manakah yang ingin kautinggalkan? 

Dan keindahan kekasihmu manakah yang ingin kaudustakan? 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 September 2012.

Mengapa Kita

Jika Tuhan menginginkan kita menjadi diri sendiri, mengapa kita harus mati-matian menentang-Nya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Agustus 2012.

Mangan Ngendi

Terus aku kudu mangan ngendi iki, jam segini?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Januari 2012.

Raker!

Iya!

Sabtu, 30 Mei 2026

Permainan di Balik Bisnis Media

Baru tau kalo 30 under 30 tuh ada feenya, ya. Wa kira murni karena prestasi/achievement. My whole life is a lie. —@ezash, 12 Januari 2023.


Jika kita melihat hal ini dalam cakupan lebih luas, coba pikirkan koran-koran harian yang harganya cuma seribu atau dua ribu rupiah. Di setiap kota pasti ada, kan? 

Coba pikirkan, mungkinkah koran-koran itu bisa balik modal dengan harga segitu?

Koran-koran lokal itu membutuhkan biaya besar untuk pencetakannya, sementara harga jualnya sangat rendah, itu pun yang terjual tidak seberapa.

Ini bahkan belum bicara biaya operasional, gaji wartawan, dll. Jadi, bagaimana atau dari mana koran-koran itu dapat uang untuk menjalankan bisnisnya, dan, di saat sama, juga menghasilkan keuntungan agar bisnis terus tumbuh?

Pertanyaan sejuta dolar!

Pendapatan dari iklan komersial? Matematika menolaknya! Coba hitung saja.

Aku bisa menjelaskan soal itu panjang lebar, tapi sejujurnya tidak nyaman... karena, bisa jadi, uraiannya akan lebih mengejutkan [sekaligus mencengangkan] daripada fakta 30 Under 30 yang kini terkuak.

....
....

Sepertinya tidak adil kalau ocehannya aku potong di situ. Jadi, omong-omong soal terkuak...

Sambil nunggu udud habis.

Dulu, pada era 2000-an, ada majalah bisnis yang ditujukan untuk anak muda. Sebut saja Majalah X. Karena ditujukan untuk anak muda, isi majalah itu pun sangat trendi, bahkan orang-orang yang menghiasi sampul majalah itu rata-rata anak muda yang [kebetulan] berbisnis.

Di masa itu, aku menjalankan bisnis yang punya keterkaitan dengan media. Jadi aku relatif kenal dengan para “mastermind” di balik media-media era itu. 

Suatu waktu, Majalah X menemuiku, dan—boleh percaya boleh tidak—menawariku untuk jadi sampul majalah mereka.

Aku bertanya, “Jika aku bersedia menjadi sampul majalah kalian, apa yang akan kudapatkan?” 

Mereka spontan menjawab, “Eksposur!” 

Itu benar. Jadi sampul majalah X artinya akan terekspos ke seluruh Indonesia, dan itu jelas berdampak bagus untuk bisnis. Permainan sederhana.

Siapa pun yang mengenal bisnis media pasti memahami bahwa ini adalah permainan sederhana—setepatnya, permainan sederhana dalam skala raksasa. 

Seperti Majalah X tadi. “Jadilah sampul majalahku, dan itu akan jadi promosi yang sangat bagus untuk bisnismu.” Sesederhana itu.

Tapi tidak ada makan siang gratis, tentu saja. Jika waktu itu aku bersedia menjadi sampul majalah mereka, aku harus membayar sejumlah uang [yang untuk ukuran waktu itu relatif besar]. Sebenarnya, dari segi bisnis, itu tidak masalah, tapi aku jadi merasa “membohongi diri sendiri”.

Maksudku begini. Kalau kamu muncul di sampul majalah karena bisnis atau prestasimu, dan untuk hal itu kamu tidak perlu membayar sama sekali—dalam arti murni sebagai apresiasi karena pencapaian/prestasimu—kamu pasti akan bangga. Tapi beda cerita kalau kamu harus bayar, kan?

Kalau kamu harus bayar untuk jadi sampul majalah, di mana unsur kebanggaannya? Wong bayar, kok! Siapa pun juga bisa! 

Karenanya, waktu itu Majalah X menawariku jadi sampul mereka, padahal bisnisku juga tidak prestisius-prestisius amat—pokoknya asal aku mau bayar aja udah!

Nah, hal serupa sebenarnya terjadi pada “nominasi atau daftar tertentu” ala media, salah satunya yang kini jadi bahan pembicaraan di Twitter. Dari dulu ya aku paham kalau memang begitu “cara mainnya”. Dan ketika permainan semacam itu akhirnya terkuak, itu bikin malu, kan?

Maksudku begini. Kamu mungkin punya prestasi tertentu yang memang layak dibanggakan atau diwartakan. Jadi kamu lalu masuk “nominasi atau daftar” yang berisi orang-orang berprestasi. Tapi di balik layar, kamu harus bayar. Kamu tidak peduli, toh ini membuatmu bangga.

Jadi, kamu kemudian muncul sebagai salah satu dalam "daftar orang berprestasi", bersama orang-orang berprestasi lainnya. 

Lalu, rahasia di balik layar tadi terkuak. Bahwa kamu ternyata harus bayar untuk bisa masuk dalam daftar itu. Kebanggaan bisa berubah jadi cibiran.

Jika ocehan ini mau dilanjutkan, kita bisa masuk ke relung-relung yang lebih gelap di balik dunia media. 

Pernah menemukan majalah-majalah dewasa dengan sampul wanita-wanita yang berpose seksi? Sebagian wanita itu memang fotomodel, tapi sebagian lain wanita biasa (bukan model).

Dari mana wanita-wanita itu berasal? Bisa dari mana saja. Di mall, di jalan mana pun, di tempat wisata, di hotel, di ruang karaoke, sebut lainnya. 

Mereka dapat tawaran manis, “Kamu mau jadi model sampul Majalah Z?” Hampir semua mereka bersedia—persetan, siapa yang tidak?

Masyarakat awam mungkin membayangkan, wanita-wanita itu jadi sampul majalah, foto-foto seksinya menghiasi lembar-lembar majalah, dapat bayaran besar, lalu populer, lalu jadi fotomodel terkenal, bahkan jadi artis. 

Benarkah begitu? Sayang sekali, aku tidak nyaman menjelaskannya.

Well, semua ini permainan bisnis. Dan menjalankan bisnis media adalah “meletakkan makanan-makanan enak dan lezat di meja prasmanan”, sambil menjaga agar orang-orang (masyarakat luas yang mengonsumsi media) “tidak tahu apa yang terjadi balik dapur”. Sesederhana itu.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, tapi ududku habis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Januari 2023.

Terjebak dalam Rollercoaster

Salah satu hal yang identik dengan internet, tapi jarang dipahami banyak penggunanya, adalah kecepatan. Orang-orang yang bekerja untuk media pasti paham soal ini. Dalam skala tertentu, “kecepatan” di internet bahkan telah melampaui akal sehat, dan menerobos kemustahilan.

Agar ocehan ini lebih mudah dipahami semua orang, kita perlu melihat cara kerja media di internet lebih dulu. Semua media di internet menuntut kecepatan agar selalu up to date. Kecepatan itu tidak hanya akan berpengaruh pada jumlah pembaca, tapi juga reputasi situs di mesin pencari.

Dalam ilustrasi sederhana, semakin banyak dan semakin cepat kita meng-update situs (menggelontorkan banyak tulisan baru), semakin baik posisi situs kita; bagi pembaca, bagi mesin pencari, dan, tentu saja, bagi rekening situs bersangkutan. Ini telah jadi hukum besi media di internet.

Karena latar semacam itu, semua situs—khususnya yang bermodal besar—akan terus memproduksi tulisan baru, dari detik ke detik, tanpa henti. Untuk tujuan tersebut, mereka merekrut banyak jurnalis. Di titik itu, nasib para jurnalis kadang seperti terjebak dalam rollercoaster.

Aku bilang “terjebak”, karena tidak bisa [atau sulit] keluar. Irama kerja yang terus berputar cepat, membawa mereka terayun-ayun dalam tugas demi tugas penulisan tanpa henti. Sebagian jurnalis itu kadang mendapat penghasilan besar, tapi tidak punya kehidupan sama sekali.

Mustahil

Aku benci ngomong mustahil. Tapi sekarang terpaksa mengatakannya. MUSTAHIL!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 September 2012.

Tense

Lawan "past tense" adalah "present tense". Mengapa lawan "perfect tense" adalah... ah, sudahlah!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 September 2012.

Sangat Pahit

Seperti obat, sesuatu yang menyembuhkan kadang-kadang sangat pahit.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Dan Kerusakan

Entah bagaimana kalimat awalnya, aku lupa, tapi inilah kalimat akhirnya, "Dan kerusakan telah terjadi."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Terus Aku Kudu Piye?

"Kita putus!" jerit si cewek. | "Ya," sahut cowoknya kalem. | "Ya...? Gitu aja?!" | "Terus aku kudu piye? Apa aku harus bilang 'Wow', gitu?"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 September 2012.

Blogger dan Laptop

Ada masalah apa sebenarnya antara Blogger dengan laptopku? Mereka sepertinya kok bermusuhan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 September 2012.

Nggak Tidur

Alamat nggak akan tidur seharian nih.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Membayangkan

Membayangkan, mungkin akan seperti inilah hari-hari "kelak" nanti, di waktu pagi. Bedanya mungkin hanya ketiadaan sunyi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Di Friendster

Jadi, apa yang mereka lakukan sekarang di Friendster?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Jumat, 01 Mei 2026

Lebaran dan Keadilan Ekonomi

Seminggu setelah lebaran, saya mampir ke tempat Badu, seorang teman yang bekerja sebagai pemulung. Biasanya, kalau saya dolan ke rumahnya malam hari, kami mengobrol sambil Badu menata hasil memulung seharian.

Badu punya jadwal kerja mirip karyawan, tapi dia bukan karyawan. Setiap pagi, Badu berangkat dari rumahnya sambil membawa karung, berkeliling ke sana kemari, mencari barang apa pun di tempat sampah yang sekiranya bisa ia kilokan. Siang hari, dia pulang ke rumah untuk makan siang, sambil mengosongkan isi karung, lalu pergi lagi untuk memulung sampai sore atau menjelang magrib. 

Jadwal kerjanya mirip karyawan, tapi dia bukan karyawan. Karena Badu tidak kenal THR atau tunjangan hari raya, juga tidak punya libur lebaran. Ia hanya libur di hari pertama lebaran, kemudian besoknya sudah kembali memulung. Karena, “kalau aku tidak kerja (memulung), aku tidak makan.”

Malam itu, saat saya mampir ke rumahnya, Badu baru selesai menata barang-barang hasil memulungnya. Tumpukan kardus dan tumpukan plastik telah dipisahkan, sudah diikat rapi, dan besok tinggal dibawa ke pengepul. 

Kami pun mengobrol santai seperti biasa, sambil menikmati udud. Ketika obrolan sampai pada topik lebaran, Badu berkata, “Setiap kali lebaran, aku selalu senang, tapi juga tertekan.” 

Badu senang saat lebaran tiba, karena mendapat zakat, yang memungkinkan keluarganya menikmati makanan enak setahun sekali. Tapi Badu juga tertekan, karena datangnya lebaran sering kali menjadi awal kenaikan harga-harga barang, khususnya makanan. Badu telah mengalami hal itu selama bertahun-tahun, dan merasakan hidupnya makin tercekik setiap kali lebaran datang.

Agar kalian paham apa yang terjadi, khususnya pada orang-orang miskin seperti Badu, izinkan saya menjelaskan.

Ketika Ramadan datang, belanja orang Islam meningkat, khususnya belanja makanan. Itu fenomena yang terjadi secara luas di berbagai wilayah Indonesia, meski dengan intensitas yang bervariasi antardaerah. Orang-orang Islam butuh berbuka puasa, baik yang sendirian, bersama keluarga, ataupun yang bukber dengan teman-teman. Dan belanja makanan selama Ramadan bukan hanya untuk berbuka, tapi juga untuk makan malam, dan untuk sahur. Peredaran uang makin banyak, roda ekonomi berputar.

Sebagian orang, dengan nada mengglorifikasi, kerap menyatakan bahwa fenomena yang terjadi itu “berkah Ramadan”—bukti kaum muslim berkontribusi pada peningkatan ekonomi. Tetapi, jika dicermati lebih dalam, femomena yang terjadi selama Ramadan sebenarnya membentuk akumulasi tekanan harga yang bersifat laten—yang saya analogikan sebagai “bom waktu”.

Sebulan penuh orang-orang Islam membelanjakan banyak uang untuk makanan. Uang yang beredar semakin banyak, konsumsi meningkat, permintaan naik, dan hukum ekonomi merayap diam-diam. Puncaknya terjadi ketika lebaran tiba. Gaji dan THR dibagikan, orang-orang memegang banyak uang. Ditambah liburan saat lebaran, mereka punya banyak kesempatan sekaligus dorongan untuk membelanjakan uangnya. Dan bom waktu yang mulai berdetak saat Ramadan terus menuju titik ledak.

Apa yang biasanya terjadi ketika lebaran datang? Ya, harga-harga barang cenderung naik tajam, khususnya makanan! 

Selama seminggu lebaran, kenaikan harga itu mungkin belum terasa, karena orang-orang masih memegang banyak uang. Tapi setelah lebaran berlalu, dan uang THR makin menipis, sebagian harga tidak sepenuhnya kembali ke level pra-Ramadan. Dalam literatur ekonomi, fenomena itu disebut “seasonality in inflation”, yaitu pola kenaikan harga yang berulang pada periode tertentu akibat faktor musiman seperti hari besar keagamaan, yang salah satu contohnya adalah Ramadan sampai lebaran.

Para pedagang sering menyatakan bahwa kenaikan harga terjadi karena lebaran. Tetapi, ketika lebaran telah berlalu, “harga lebaran” itu tetap bertahan. Harga-harga makanan yang telanjur naik sering kali sulit turun kembali, meski awalnya disebut “harga lebaran”. Mengapa fenomena itu terjadi? Jawabannya, dalam perspektif saya, adalah bom waktu yang telah berdetak sejak awal Ramadan.

Ketika Ramadan tiba, konsumsi naik, permintaan naik, dan itu berdampak pada distribusi logistik yang padat, hingga biaya bahan baku yang naik. Dalam contoh mudah, para petani tidak bisa menaikkan jumlah panen seketika hanya karena permintaan naik seketika. Konsekuensinya, harga naik. 

Tapi kenaikan saat Ramadan belum terasa, karena “bom waktu” masih di angka awal. Kebanyakan pedagang juga belum menaikkan harga barang mereka, karena kenaikan “harga kulakan” masih sebatas beberapa rupiah. Seiring waktu, mendekati lebaran, distribusi logistik makin padat, permintaan konsumsi makin meningkat—ingat ketupat dan opor ayam hingga hidangan lebaran—dan bom waktu yang mulai menyala sejak Ramadan pun meledak! 

Harga-harga makanan naik secara luas!

Seperti yang saya sebut tadi, kenaikan harga—khususnya makanan—selama lebaran belum terasa, karena rata-rata orang masih memegang banyak uang, dan memaklumi kenaikan harga karena lebaran. Tapi ketika lebaran berlalu, “harga lebaran” itu tidak kunjung turun. Mengulang pertanyaan tadi; kenapa? 

Bagi saya, jawabannya sangat gamblang; karena permintaan terhadap makanan cenderung bersifat inelastis terhadap harga, sehingga kenaikan harga tidak diikuti penurunan konsumsi yang signifikan. Dalam bahasa awam, orang tetap butuh makan meski harganya naik! 

Setelah lebaran berlalu, banyak penjual makanan yang mempertahankan “harga lebaran”. Ada dua alasan dalam hal ini; pertama karena masih laku, dan kedua karena struktur pasar yang berubah! Dalam ilmu ekonomi, itu disebut price stickiness; pedagang enggan menurunkan harga karena konsumen masih mau beli, ditambah biaya produksi yang sudah telanjur naik akibat struktur pasar yang berubah sejak Ramadan. 

Di sisi lain, orang-orang tetap beli makanan, karena memang butuh makan! Dalam beberapa kasus, harga baru kemudian jadi referensi (baseline) baru. Ekspektasi pasar berubah, orang-orang perlahan “terbiasa” dengan harga baru. Itu, kan, yang kita alami setiap usai lebaran? 

Harga-harga bahan baku memang cenderung turun setelah Ramadan dan lebaran berlalu. Badan Pusat Statistik mengonfirmasi hal itu. Tetapi, dalam banyak kasus, harga makanan jadi (siap saji) tidak sepenuhnya mengikuti penurunan tersebut. Kenyataan itu memang tidak terjadi di semua tempat, tapi terjadi di banyak tempat. Perhatikan irisannya.

Sebagai catatan, harga mi tektek yang biasa lewat di tempat saya, naik seribu. Harga capcay dan mi ayam langganan saya, naik dua ribu. Sementara harga martabak naik tiga ribu, ayam geprek naik dua ribu, dan itu baru sekadar contoh. Kenaikan harga-harga itu dimulai sejak lebaran, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda penurunan. Berdasarkan kenaikan yang telah terjadi sejak beberapa lebaran sebelumnya, harga-harga yang naik itu biasanya tidak akan pernah turun. Yang terjadi justru akan kembali naik saat lebaran datang lagi di tahun berikutnya. 

Jika harga naik menjelang lebaran, kemudian turun ke harga normal setelah lebaran usai, itu disebut fluktuasi. Tapi jika harga naik menjelang lebaran, dan kenaikan harga itu tetap bertahan—tidak turun ke harga normal—padahal lebaran sudah lama usai, itu apa namanya kalau bukan inflasi? Definisi formal dan statistik mungkin dapat dipakai sebagai “tameng intelektual”, tapi apa artinya definisi formal dan statistik ketika realitas menunjukkan kebalikannya?

Saya sengaja menulis dan mempublikasikan catatan ini jauh setelah lebaran, agar kita semua melihat realitasnya di lapangan, dan agar catatan ini tidak cuma menjadi omong kosong akademis.

Ekonomi memiliki prinsip dasar; kenaikan permintaan akan mendorong kenaikan harga, terutama ketika penawaran tidak bisa menyesuaikan dengan cepat. Dan ketika harga makanan naik, ia sulit turun kembali, karena orang akan tetap beli! Ini adalah implikasi langsung dari mekanisme pasar dasar.

Sekian tahun lalu, ketika saya pertama kali membahas soal ini di blog dan di Twitter, ada beberapa media yang meng-counter dengan menyatakan bahwa yang terjadi selama Ramadan dan lebaran bukan inflasi, karena sifatnya sementara. 

Kalau benar sementara, mestinya harga akan kembali ke titik awal setelah lebaran usai. Faktanya, dalam sejumlah kasus—seperti yang saya alami—harga menetap lebih tinggi, khususnya harga makanan. Ekonomi menyebutnya downward price rigidity (harga yang sulit turun).

“Kenaikan harga-harga barang, khususnya makanan, setelah lebaran, itu bagus, karena ekonomi bergerak,” kata para analis di YouTube. 

Ekonomi memang bergerak, fellas, tapi manfaatnya tidak merata. Yang menikmati lonjakan konsumsi adalah pelaku usaha, sementara beban ditanggung konsumen, terutama yang miskin! Did you see that? Pendekatan yang terlalu normatif dalam buku teks sering kali tidak sepenuhnya menangkap kompleksitas realitas di lapangan!

“Penyebab inflasi bukan Ramadan dan lebaran, tapi faktor lain semisal BBM atau kebijakan moneter,” ujar mahasiswa ekonomi. 

Benar! Tapi Ramadan dan lebaran memperparah tekanan tersebut, karena menjadi pendorong (katalisator) yang mempercepat dan memperkuat tekanan kenaikan harga. Itu adalah pola berulang yang ikut mendorong inflasi dan berpotensi memperlebar tekanan ketimpangan, sekaligus memperburuk beban kelompok rentan! 

Sekali lagi, kembali ke ilmu ekonomi. Ketika permintaan naik sementara penawaran tidak bisa langsung menyesuaikan, harga cenderung naik. Ramadan dan Idul Fitri adalah contoh nyata kondisi itu. Permintaan makanan meningkat tajam dalam waktu singkat, sementara kapasitas produksi dan distribusi tidak berubah secara instan. Akibatnya, kenaikan harga bukan anomali, tapi konsekuensi logis dari mekanisme pasar.

Persoalannya bukan di situ. Masalah muncul ketika harga yang sudah naik tidak kembali ke level semula setelah permintaan normal kembali. Kenyataan itu menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak sepenuhnya bersifat sementara, tapi mencerminkan penyesuaian struktur harga. Dampaknya tidak merata. Kelompok berpenghasilan rendah, yang sebagian besar pengeluarannya untuk makanan, akan merasakan penurunan daya beli secara langsung.

Jadi, dalam praktiknya, siklus Ramadan-Idul Fitri bukan hanya memicu kenaikan harga jangka pendek, tapi juga berkontribusi pada tekanan inflasi, dengan beban terbesar ditanggung kelompok paling rentan atau kaum dhuafa.

Saya sepakat bahwa Ramadan dan Idul Fitri memang mendorong aktivitas ekonomi. Tapi tanpa pengelolaan distribusi dan stabilisasi harga yang memadai, dampaknya tidak akan adil. Dalam praktiknya, pemerintah memang biasanya melakukan intervensi melalui operasi pasar, subsidi, atau pengendalian distribusi. Tapi efektivitasnya sering kali terbatas dalam menahan tekanan harga secara menyeluruh. Sementara kenaikan harga yang terjadi—dan sering kali bertahan—secara nyata memperberat beban kelompok miskin. So, ini bukan sekadar fenomena budaya atau “berkah Ramadan”, tapi persoalan keadilan ekonomi!

Inflasi makanan bukan sekadar angka, tapi tekanan hidup bagi kelompok rentan. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik, proporsi pengeluaran rumah tangga miskin sebesar 50–60% untuk biaya makan, rumah tangga menengah sekitar 30–40%, sementara rumah tangga kaya mengeluarkan biaya makan yang jauh lebih kecil dari penghasilan. Statistik itu sejalan dengan prinsip Engel’s Law, bahwa proporsi pengeluaran untuk makanan akan menurun seiring meningkatnya pendapatan. 

Ketika harga makanan naik, orang kaya cuma mikir, “Lhah, paling naik beberapa ribu.” Bagi mereka, itu kenaikan yang tak seberapa, karena penghasilan mereka jauh lebih besar dibanding pengeluaran untuk makan yang hanya sekian persen. Tapi bagi orang miskin, kenaikan beberapa ribu adalah cekikan yang makin kuat di leher mereka!

“Di ujung gang sana, ada penjual soto,” ujar Badu. “Dulu, harga seporsi cuma delapan ribu. Semangkuk soto itu biasanya untuk lauk makan kami bertiga—aku, ibuku, dan adikku. Saban lebaran, harganya naik. Dari delapan ribu jadi sepuluh ribu. Terus naik lagi jadi sebelas ribu, tiga belas ribu, hingga sekarang lima belas ribu. Lebaran tahun ini juga pasti akan naik lagi. Tapi penghasilanku dari dulu cuma segitu-gitu aja, nggak naik sama sekali.” 

Harga-harga makanan naik setiap lebaran, dan sebagian kenaikan harga itu tetap bertahan setelah lebaran usai, karena para pedagang ditekan struktur pasar yang berubah, sementara orang-orang tetap butuh beli makanan. Orang kaya butuh makan, orang miskin juga butuh makan. Kenaikan harga bagi orang kaya cuma membuat mereka tertawa, kenaikan harga bagi orang miskin membuat mereka makin menderita. Dan pola itu terus terjadi dari tahun ke tahun, setiap kali Ramadan dan lebaran tiba.

Puasa Ramadan mendidik kita untuk memahami penderitaan orang-orang miskin. Lebaran jadi waktu merayakan kemenangan atas hawa nafsu. Dan setelah lebaran usai... orang-orang miskin kembali tertindas.

Tarian Nasib

Seperti nada lagu, hidup adalah tarian nasib, naik dan turun. Napas adalah reffrain di antara intro dan coda.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Oktober 2012.

Apa yang Mereka Lakukan?

Orang-orang yang suka mengatakan, "Tak perlu khawatir soal rezeki, karena sudah ada yang mengatur..." sebenarnya apa yang mereka lakukan selain mengatakan kalimat itu?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 November 2024.

Terpujilah Para Pendaki

Waktu untuk naik gunung jauh lebih lama dibanding waktu berada di puncak gunung. Selalu begitu. Tapi orang-orang terus menaiki gunung.

Semakin ke puncak, oksigen semakin menipis. Orang tak bisa lama-lama di puncak. Kapan pun waktunya harus turun. Untuk tetap hidup.

Yang membuat orang tak pernah bosan naik gunung, mungkin, karena menikmati pendakiannya. Bukan ketika berada di puncaknya. Begitu pun hidup.

Orang bilang, hidup seperti roda. Mungkin pula, hidup seperti naik gunung. Semua orang ingin naik ke atas. Tetapi, pada akhirnya, ia harus turun.

Ketika hidup memaksa kita turun, bukan berarti langkah kita selesai untuk mati. Sering kali, turun adalah kesempatan untuk tetap hidup.

Tentu saja setiap orang berhak untuk tetap berada di puncak gunung. Sampai kapan pun. Tapi ia akan mati perlahan-lahan. Sendirian.

Terpujilah para pendaki, para pencari. Yang gembira saat sampai puncak, tapi selalu ingat untuk turun kembali. Karena ada pendakian lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juni 2013.

Lahir dan Mati

Lahir dan mati adalah kepastian yang tak perlu dirisaukan. Karena yang merisaukan, sering kali, adalah waktu-waktu di antaranya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Maret 2012.

Terbang Tinggi

Terbang tinggi bukan hal sulit. Yang sulit adalah tetap menapak bumi, sementara kau tahu betapa nikmatnya terbang tinggi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Maret 2019.

O Menjadi A

“What doesn’t kill you, makes you stranger.” —Joker.

Hanya dengan mengubah “o” menjadi “a”, Nolan membuktikan dirinya memang genius.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Desember 2012.

Pertempuran Besar

Pertempuran besar selalu terjadi setiap hari di relung-relung keheningan kita. Perang antara kita dan sesuatu yang menyerupai kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Imperfection

Yang agak membingungkan, “imperfection” terdengar elegan. Mungkin definisinya memang seperti itu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Oktober 2012.

Hujan Rindu

Hujan turun di kotaku. Rindu luruh di hatiku. Di kejauhan, bayang-bayang memanggil takdirku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Oktober 2012.

Malam Ramadan

Seorang gelandangan terlelap di trotoar.

 
;