Senin, 20 Juli 2020

Selera, dari Musik Sampai Humor

Perbedaan yang sulit dijembatani mungkin perbedaan selera humor, 
karena itu jenis perbedaan yang (sering kali) sulit dijelaskan.


Di antara banyak perbedaan yang bisa terjadi pada orang per orang adalah selera. Dari selera musik, film, sampai selera humor. Dan selera, sebagaimana kita tahu, sangat subjektif. Sesuatu yang bagi kita “hebat”, bisa jadi “buruk” bagi orang lain. Atau sebaliknya. Meski, pada hal-hal tertentu, selera banyak orang bisa sama dan selaras.

Banyak orang, misalnya, menyukai musik Linkin Park. Saya juga termasuk penyuka Linkin Park, karena memang musiknya asyik dinikmati. Sejauh ini, sepertinya saya belum pernah menemukan orang yang tidak suka Linkin Park. Kapan pun orang mendengar musik Linkin Park, biasanya dia akan ikut menikmati, karena beat-nya enak di telinga. Artinya, bisa jadi, rata-rata orang punya selera serupa pada musik Linkin Park—meski bukan berarti semua orang pasti suka.

Beda soal dengan musik-musik yang lebih “spesifik”, misalnya musik klasik. Ada sebagian orang menyukai musik klasik, tapi sebagian lain tidak suka. Biasanya, mereka yang tidak suka bukan karena menilai musik itu jelek atau buruk, tapi semata-mata tidak paham di mana keindahannya, sehingga tidak bisa menikmati. Dengan kata lain, bukan seleranya.

Karena kenyataan itu, biasanya penikmat musik klasik sengaja menikmati musik-musik sejenis itu saat sendirian. Karena mereka sadar bahwa selera mereka terhadap musik klasik belum tentu bisa dinikmati orang lain.

Selain musik, selera film orang per orang juga bisa berbeda. Film Avengers atau seri tokoh-tokoh superhero Marvel, sebagai misal, adalah jenis film yang digemari banyak orang di dunia. Cuma film Avengers yang sampai diputar kala subuh di Indonesia, saking besarnya antusiasme penonton terhadap film tersebut. Artinya, rata-rata orang menyukai film serupa—meski bukan berarti semua orang pasti suka.

Beda soal dengan film-film yang lebih “spesifik”, yang kadang hanya bisa dinikmati sebagian orang. Sebagai contoh, kita bisa melihat film-film yang disutradarai Quentin Tarantino, dan, di lain sisi, film-film yang disutradarai Michael Bay.

Quentin Tarantino adalah sutradara yang mendapat aneka puja-puji seolah dia nabi yang turun dari langit Hollywood. Apa pun jenis pujian yang melekat pada film, juga melekat pada Tarantino. Film-filmnya disebut masterpiece. Ada banyak orang menggilai, bahkan merasa hidupnya sia-sia jika belum mengkhatamkan film-film Tarantino. Kill Bill, Pulp Fiction, Reservoir Dogs, Django Unchained, The Hateful Eight, Inglourious Basterds, Death Proof, sebut lainnya.

Tapi bukan berarti semua orang pasti menyukai film-film Tarantino. Saya termasuk di antaranya. Jujur saja, saya kurang mampu menikmati film-film Tarantino. Kill Bill, sebagai contoh, adalah film yang konon wajib ditonton sebelum mati. Tapi jujur saja, saya tidak paham di mana menariknya film itu. Tentu bukan karena Kill Bill—atau film-film lain Tarantino—yang buruk, tapi semata karena film-film itu bukan selera saya.

Di sisi lain, Michael Bay adalah sutradara Hollywood yang kerap diejek “kacangan”, karena film-filmnya cuma berisi ledakan, ancur-ancuran, ngomong sedikit, ledakan lagi, kejar-kejaran, ledakan lagi, gedebak-gedebuk, ledakan lagi, dan begitu seterusnya. Karena itulah banyak orang mencibir film-film Michael Bay, sebab hanya mengandalkan adegan ledakan dan ancur-ancuran tanpa henti.

Meski begitu, banyak yang sangat menggemari film-film Michael Bay, dan saya termasuk di antaranya. Apa pun film yang dibuat Michael Bay, saya selalu bergairah menontonnya! Itu jenis film yang mampu membuat saya terpesona, tercengang, tertawa, dan sangat terhibur. Menyaksikan adegan laga penuh ledakan, kejar-kejaran, mobil yang saling bertabrakan, hingga gedung-gedung yang hancur berantakan, adalah kenikmatan luar biasa.

The Island dan 6 Underground adalah dua film Michael Bay yang sangat saya suka. Sebegitu suka, sampai saya menonton film itu berulang-ulang tanpa bosan. Karenanya, kalau ada orang yang tidak suka, saya pikir yang bermasalah bukan filmnya, tapi karena seleranya yang berbeda.

Setelah musik dan film, selera lain yang populer dan juga kerap berbeda adalah selera baca. Dulu, waktu saya rutin merilis daftar buku terbaik tiap akhir tahun di blog ini, saya selalu menyatakan bahwa buku-buku itu terbaik menurut saya, namun saya tidak merekomendasikannya. Karena saya sadar, selera baca orang per orang bisa berbeda. Yang “terbaik” bagi saya belum tentu pula bagi orang lain.

Novel Harry Potter, sebagai contoh, adalah jenis bacaan yang disukai jutaan orang di dunia, bahkan dari segala usia, dari anak-anak sampai kakek-nenek. Hanya novel Harry Potter yang mampu membuat banyak orang rela antre sejak tengah malam di depan toko buku, demi menunggu peluncurannya pada pukul 08.00 pagi. Di dunia buku, itu jenis prestasi yang belum tentu akan terjadi lagi dalam satu abad mendatang.

Sebagai penggemar Harry Potter, saya menganggap novel itu sangat hebat. Dan tidak mengejutkan, karena nyatanya ada jutaan orang di luar sana yang sama menggemari Harry Potter. Saya bahkan sempat berpikir seluruh umat manusia menyukai Harry Potter.

Tapi apakah memang begitu kenyataannya? Ternyata tidak. Di Twitter, saya pernah mendapati orang yang menulis di bio-nya, kira-kira seperti ini, “Penyuka semua jenis novel, kecuali novel tentang penyihir cilik berkaca mata yang kisahnya aneh dan tak masuk akal”.

Siapa pun paham bahwa “penyihir cilik berkaca mata” yang tertulis di situ merujuk pada Harry Potter. Dan kenyataan itu menyadarkan saya bahwa sesuatu yang disukai jutaan orang bukan berarti semua orang pasti suka. Karena selalu ada kemungkinan orang yang punya selera berbeda. Dalam hal ini tentu bukan novel Harry Potter yang buruk, tapi kebetulan saja selera orang itu tidak nyambung ke kisahnya.

Terakhir, selera yang juga populer dan kerap berbeda adalah selera humor. Seperti kita tahu, ada jenis humor yang bisa dipahami (dan dinikmati) semua orang, namun ada pula jenis humor yang hanya bisa dipahami (dan dinikmati) sebagian orang.

Humor yang bisa dipahami semua orang bisa ditandai dengan mudah; kapan pun disebut atau diceritakan, orang akan tertawa. Sebaliknya, humor yang hanya dipahami sebagian orang, kadang bermasalah. Ketika disebutkan atau diceritakan, belum tentu semua orang akan paham. Alih-alih tertawa, mereka justru bisa bingung, salah paham, atau—dalam skala ekstrem—sampai marah dan tersinggung. Humor semacam itu biasanya humor internal, yang memang hanya dipahami (dan dinikmati) kalangan terbatas.

Humor ala Raditya Dika, misal, khususnya dalam buku Kambing Jantan, adalah jenis humor yang bisa dipahami semua orang, khususnya lagi orang-orang yang seusia dengannya. Siapa pun akan tertawa saat membaca buku itu, karena humor di dalamnya memang mudah dipahami. Adegan-adegan lucu (atau bodoh) yang ditulis Raditya Dika sangat mudah dibayangkan, dan pembaca langsung paham di mana lucunya.

Tapi ada pula jenis humor yang kadang sulit dipahami, dan hanya orang-orang yang “paham” yang bisa tertawa. Dalam hal ini, saya bisa mencontohkan humor yang kerap terselip dalam novel-novel Sidney Sheldon atau John Grisham. Novel-novel mereka dikenal sebagai novel-novel serius. Tetapi, bagi yang paham, ada banyak humor yang terselip (atau sengaja diselipkan) dalam kisah Sheldon atau Grisham, yang membuat cekikikan pembaca yang paham.

Grisham maupun Sheldon punya celetukan-celetukan yang “konyol atau gila” dalam novel-novel mereka, dan celetukan-celetukan gila itu kerap membuat pembaca cekikikan—sekali lagi, bagi yang paham kalau celetukan itu konyol. [Grisham maupun Sheldon sama-sama mengakui kalau celetukan-celetukan dalam narasi novel mereka memang dimaksudkan sebagai humor gelap].

Hal serupa saya dapatkan dalam tulisan-tulisan AS Laksana di edisi Minggu Jawa Pos. AS Laksana kerap menyelipkan celetukan-celetukan yang, bagi saya, konyol atau lucu, dan saya selalu cekikikan dibuatnya. Meski, dalam hal ini, saya tidak yakin apakah AS Laksana memang memaksudkannya sebagai humor atau tidak. Karena AS Laksana, sejauh yang saya tahu, tidak pernah menyatakan celetukan-celetukannya sebagai humor. Tetapi, sebagai pembaca, saya menangkapnya sebagai humor, dan saya menikmatinya.

Humor-humor yang hanya dipahami sebagian orang ini mungkin serupa dengan humor internal, yang biasanya hanya dipahami di lingkungan pergaulan kita.

Biasanya, kita punya teman-teman sepergaulan yang punya humor tertentu, dan masing-masing orang paham itu humor, serta sama-sama tahu di mana letak lucunya. Tetapi humor internal kadang bisa bermasalah ketika dikeluarkan di luar lingkungan pergaulan kita. Karena belum tentu orang-orang lain akan paham—namanya juga humor internal.

Lingkungan pergaulan saya, misalnya, biasa menggunakan istilah-istilah ilmiah untuk humor, dan kami sama-sama paham di mana lucunya. Seperti istilah “registrasi”, “quo vadis”, “akademis”, “environmental”, “moratorium”, dan seterusnya. Istilah-istilah itu sebenarnya punya arti masing-masing yang dipahami semua orang, dan sama sekali tidak lucu—wong itu istilah-istilah ilmiah. 

Namun, di lingkungan pergaulan saya, istilah-istilah itu kerap digunakan sebagai humor, dan kami sama-sama paham letak lucunya, hingga bisa cekikikan.

Kalau ada teman melakukan sesuatu yang keliru, misalnya, dan kami ingin menegur dengan santai, biasanya kami akan mengatakan, “Benar-benar perbuatan yang tidak mencerminkan registrasi!” Lalu kami cekikikan; pihak yang menegur maupun yang ditegur bisa sama-sama tertawa, karena kami paham di mana letak lucunya.

Kalau ada teman ngajak makan di suatu tempat, karena menurutnya makanannya sangat enak, tapi menurut saya ternyata biasa-biasa saja, saya tidak bilang makanan itu “biasa-biasa saja”, tapi mengatakan, “Ini makanan yang sangat quo vadis.” Lalu kami sama-sama cekikikan. Teman saya paham di mana lucunya, juga paham yang saya maksudkan.

Misal lagi, ketika Marlboro Black baru muncul, seorang teman menawari saya. Ketika pertama kali melihat rokok itu, saya terpesona. Marlboro Black isi 20 batang dikemas dalam bungkus yang elegan—beda dengan bungkus rokok lain—dan masing-masing batang rokoknya juga memiliki lubang di bagian gabus (filter). Ketika melihat rokok itu, spontan saya nyeletuk, “Benar-benar rokok yang akademis!”

Celetukan itu tentu saja bersifat humor, dan kami sama-sama cekikikan, karena paham letak lucunya. Nyatanya Marlboro Black juga tidak dilengkapi footnote atau daftar pustaka!

Sayangnya, humor internal—seperti yang saya contohkan tadi—belum tentu bisa dipahami orang-orang di luar kalangan kami. Di blog, misalnya, saya kadang menyebut-nyebut istilah “environmental”, semata-mata karena menganggap istilah itu unik dan bisa dipakai untuk lucu-lucuan, khususnya terkait konteks yang saya tulis. Tetapi, sejujurnya, saya tidak yakin pembaca tulisan tersebut akan paham bahwa itu sebenarnya humor. (Puji Tuhan kalau ternyata ada yang paham, dan ikut cekikikan).

Begitu pun saat saya membawa “istilah-istilah humor” itu ke Twitter, bisa jadi orang tidak paham bahwa sebenarnya saya memaksudkannya sebagai humor. Apalagi ditambah image saya selama ini yang mungkin serius. Karenanya, ketika saya menyebut istilah “environmental” atau “akademis”, bisa jadi istilah itu akan dipahami sebagaimana arti sebenarnya yang serius—padahal itu cuma cara saya menertawakan sesuatu.

Di Twitter, misalnya, saya pernah menulis tweet, “Berbukalah sesuai prinsip-prinsip environmentalisme.” Lalu saya cekikikan sendiri. Tapi belum tentu orang lain akan paham bahwa itu lucu, dan bisa jadi akan menilai tweet saya secara serius.

Belakangan saya sadar, humor-humor internal semacam itu mestinya tidak saya keluarkan di sembarang tempat yang belum tentu semua orang akan paham, bahkan berpotensi menimbulkan salah paham. Kalau saya menegur teman sepergaulan, “Ngene iki ora ilmiah, juga ora akademis,” kami akan sama-sama cekikikan dan sama-sama paham itu humor. Tapi kalau kalimat yang sama saya katakan pada sembarang orang, bisa jadi timbul salah paham.

Selera, dari musik sampai humor, tampaknya memang bisa sangat subjektif, khas manusia.

Bumi Sedang Membersihkan Diri

Pemerintah berusaha “ngadem-ngademi” kita bahwa mereka akan mampu menjinakkan wabah corona di Indonesia, bahwa kita tidak perlu khawatir, dan bahwa semua akan baik-baik saja.

Sementara itu, jumlah orang yang terinfeksi virus corona saat ini telah mencapai angka 1 juta!

Media-media di Indonesia telah mendapat “memo” yang isinya kira-kira, “Jaga berita kalian, biar masyarakat tidak panik.”

Imbauan yang bagus. Tapi imbauan semacam itu juga bisa menjauhkan kita dari realitas—menyangka semua hal akan baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak.

Manusia akan (lebih) waspada, jika diberi tahu kemungkinan bahaya. Jika yang diberitakan adalah hal-hal sebaliknya, mereka akan terlena.

Jauh lebih baik mengatakan hal buruk yang memang (mungkin akan) terjadi, daripada mengatakan “semua akan baik-baik saja” padahal ngapusi.

Dunia, saat ini, sedang menghadapi kabar buruk. Selain jumlah penderita corona yang telah mencapai 1 juta orang, riset para ilmuwan menunjukkan sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Bahkan dalam prediksi yang paling pesimistis, akan ada 0,01 populasi bumi yang akan terinfeksi.

Itu prediksi paling pesimistis, yang, jika diterjemahkan ke bahasa awam, kira-kira berbunyi, “pasti akan terjadi”. Itu bahkan belum menyinggung herd immunity yang kini menjadi wacana di berbagai negara—karena ketiadaan vaksin—meski mereka tidak akan mengakuinya terang-terangan.

Kita sedang menghadapi bahaya, dan memahami serta menerima kenyataan ini jauh lebih baik, karena memungkinkan kita untuk lebih siap, hati-hati, dan waspada. Jangan terbuai angan-angan kosong seolah badai corona akan berhenti sendiri.

Karena Bumi sedang membersihkan diri.

Di seluruh permukaan bumi, hanya ada secuil tempat yang belum terjamah virus corona, dan tidak ada jaminan tempat-tempat ini akan terus steril seperti sekarang.

Wabah penyakit yang disebabkan virus corona (COVID-19) saat ini menjadi ancaman di hampir semua tempat di dunia. Adakah Tempat di Dunia yang Aman dari Wabah Corona?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 April 2020.

Kebusukan Manusia

Di Indonesia, tenaga medis yang merawat pasien corona ada yang diusir dari tempat tinggalnya, sampai ditolak pemakaman jenazahnya. Di India, tenaga medis yang merawat pasien corona mendapat perlakuan serupa; diusir, sampai diludahi dan dilempari batu.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Perlakuan buruk masyarakat terhadap tenaga medis yang menangani pasien corona, sejauh ini, hanya terjadi di Indonesia dan di India. Sampai saat ini, aku belum menemukan kasus serupa di negara-negara lain (tolong beri tahu jika ada).

Apakah fakta ini menunjukkan sesuatu?

Selain kurangnya empati dan edukasi, aku khawatir bahwa perlakuan buruk/jahat masyarakat terhadap tenaga medis, terkait wabah corona, menunjukkan sesuatu yang mungkin ingin kita sangkal, ingin kita anggap tidak ada, atau bahkan ingin kita tutupi... yakni kebusukan manusia.

Secara alami, manusia sebenarnya punya rasa empati—atau setidaknya bisa mengenal perasaan itu, sebagai makhluk biologis. Dan meski tanpa edukasi, setiap orang waras mestinya bisa memahami bahwa para dokter dan perawat yang sampai meninggal itu karena berupaya menolong sesama.

Fakta bahwa ada orang-orang yang justru mengusir tenaga medis, menolak jenazahnya, meludahi dan melempari mereka dengan batu, dengan alasan mereka merawat pasien corona... itu menunjukkan sesuatu yang mengerikan; ada yang cedera atau bahkan membusuk dalam kemanusiaan kita.

Di hadapan krisis, manusia akan menunjukkan wajah aslinya, dan mungkin kita terkejut.

Sekarang kita menyadari, mereka yang kini menunjukkan wajah aslinya itu selama ini diam-diam hidup bersama kita, mengenakan topeng entah apa, dan kita tidak pernah tahu sosok/watak asli mereka.

Krisis dan bencana yang kini kita hadapi telah menyingkap wajah asli mereka, dan sepertinya kita harus mulai mengakui bahwa manusia memang bukan malaikat. Meski kita mengenal orang-orang baik dan mulia, nyatanya di sekitar kita juga ada orang-orang yang begitu buruk dan busuk.

Dongeng pengantar tidur: Wajah Asli Manusia » https://bit.ly/2tGs3xg


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 April 2020.

Wabah Ini Belum Selesai

Wabah ini belum selesai, dan tampaknya belum akan selesai. Bahkan, bisa jadi, semua kehebohan yang telah terjadi baru foreplay. China telah mengalaminya saat Imlek, dan Indonesia mungkin akan mengalaminya... tak lama lagi.

Saat ini, masyarakat Indonesia yang tinggal di desa atau kota-kota kecil mungkin masih bisa santai, karena kemungkinan terpaparnya bisa dibilang sangat kecil. Tapi saat lebaran, ketika orang-orang yang merantau mulai mudik... aku khawatir wabah sesungguhnya akan terjadi.

Masyarakat Sentinel Utara, yang mengisolasi diri dari dunia luar, menjalani kehidupan damai, sehat, tenteram, dan berumur panjang... selama berabad-abad. Begitu orang dari luar masuk ke dalam komunitas mereka, separuh dari masyarakat di Sentinel Utara tewas.

Sejak itu dan sampai kini, masyarakat Sentinel Utara akan membunuh siapa pun yang mencoba masuk ke wilayah mereka. Karena keterasingan dan kesendirian kadang lebih baik, daripada menerima malapetaka.

Terasing Dalam Sunyi » http://bit.ly/1puvCOM


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Maret 2020.

Pernah Lebih Baik

Gimana rasanya tinggal di Indonesia saat ini?
—@VICE_ID

Pernah lebih baik.
—@noffret


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Juni 2020.

Jumat, 10 Juli 2020

Kartu-Kartu di Meja

Dikandani bocah ora percoyo.


Saat ini, jumlah orang yang terkonfirmasi positif mengidap virus corona (Covid-19) di dunia mencapai 1,8 juta. Sementara yang dinyatakan sembuh cuma sekitar setengah juta (tepatnya 422.572 orang, per Senin 13/4/2020). Bisa melihat sesuatu yang sangat penting di sini?

Jumlah 1,8 juta yang terkonfirmasi positif corona itu benar-benar telah terkonfirmasi—mereka telah melalui tes lengkap yang hasilnya membuktikan bahwa mereka positif corona. Padahal selalu ada kemungkinan orang-orang yang sama positif, tapi tidak/belum terdeteksi.

Artinya, jumlah orang di dunia yang saat ini mengidap virus corona bisa jadi lebih dari 2 juta orang—atau bahkan bisa dua hingga tiga kali lipat dari jumlah yang terkonfirmasi. Dan mereka ada di luar sana, tampak sehat, tidak menunjukkan gejala, juga tanpa pengawasan.

WHO dan para ilmuwan sudah mengonfirmasi bahwa orang bisa mengidap virus corona—dalam arti ada virus corona di tubuhnya—tapi tidak menunjukkan gejala apa pun, dan tetap seperti orang sehat pada umumnya. Bisa jadi karena masih muda, atau imun tubuhnya memang bagus.

Ini benar-benar kondisi yang sangat riskan. Selalu ada kemungkinan kita bertemu, berpapasan, atau bahkan bercakap-cakap dengan orang semacam itu—yang mengidap virus corona tapi tidak menyadari bahwa dia membawa virus itu—lalu kita tertular, dan begitu seterusnya.

Tentu saja ini terdengar menakutkan, tapi kita perlu menyadari, agar lebih berhati-hati. Itulah kenapa kita diminta memakai masker, melakukan social distancing—atau apa pun sebutannya—hingga diimbau agar tidak keluar rumah jika tidak penting-penting amat. Agar aman.

Sekarang, agar ocehan ini lebih ilmiah, mari gunakan data pasti yang telah terkonfirmasi. Ada 1,8 juta orang di dunia yang telah terkonfirmasi mengidap virus corona, dan hanya 400.000-an yang telah sembuh. Artinya, kurang dari separo, bahkan kurang dari sepertiga yang sembuh!

Itu berarti, secara kasar, kalau kau tertular virus corona, kemungkinanmu sembuh kurang dari sepertiga! Dan masih ada orang-orang yang mencoba ngibul mengatakan bahwa virus corona bukan penyakit berbahaya!

Kalau kau terkena, lebih besar kemungkinanmu mati! Tidak berbahaya apaan?

Bahkan itu belum seluruhnya. Karena bahkan kau telah dinyatakan sembuh, selalu ada kemungkinan “bekas” (kerusakan) tertinggal di tubuhmu, meski tak terlihat. Perlahan namun pasti, para peneliti di berbagai negara terus mendapati temuan-temuan baru yang membuktikan hal ini.

Jadi, kita mendapati sesuatu yang sangat serius, sekaligus berbahaya, saat ini. Dari virusnya, cara penularannya yang masif, kemungkinan carrier (pengidap tanpa gejala hingga menularkan ke orang lain) yang tak terdeteksi, sampai dampak yang terjadi pada pasien sembuh.

Di atas semua itu, kita menghadapi masalah lain; belum ada vaksin atau obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan!

(Itulah kenapa, para pasien corona yang sembuh dimungkinkan terkena dampak lain di tubuhnya, karena penyembuhannya memang tanpa obat atau vaksin).

Sudah melihat jalinan masalah yang rumit di sini? Tapi itu saja belum cukup. Ada banyak kartu yang harus diletakkan di meja, agar kita benar-benar bisa melihat keseluruhan masalahnya. Karena dunia tidak seindah yang mungkin kita bayangkan, dan ada terlalu banyak kepentingan.

Selain mengancam kesehatan umat manusia, wabah virus corona juga mengancam perekonomian. Kita sedang memasuki resesi global, karena hampir semua bisnis terhenti, sebagian usaha gulung tikar, PHK terjadi di mana-mana, dan orang-orang (makin) sulit mendapat uang untuk makan.

Menghadapi wabah saja, dunia sudah berdarah-darah, dan wabah itu masih ditambah dengan resesi. Ini dua hal yang jelas tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Resesi baru bisa diatasi, setelah wabah selesai. Dan wabah baru bisa diatasi, setelah ada vaksin!

Pertanyaannya, kapan vaksin akan ditemukan? Tidak ada yang tahu! Hanya ada prediksi-prediksi, ramalan-ramalan, bahkan isu-isu—"konon katanya perusahaan anu telah berhasil memproduksi vaksin". Tapi tidak ada kejelasan nyata bahwa vaksin atau obat telah ditemukan.

Jadi, saat ini, dunia sedang dalam kondisi koma—hidup tidak, mati pun tidak—dan tidak ada yang bisa mengatakan kapan kondisi koma ini akan berakhir. Yang mengerikan, kondisi koma ini tidak sekadar koma, tapi diam-diam menggerogoti kesehatan, ekonomi, hingga kehidupan luas.

Kita telah melihat statistik nyata yang membuktikan hanya ada (kurang dari) sepertiga pasien corona yang sembuh. Sementara korban-korban di seluruh dunia terus berjatuhan. AS sudah menjadi ladang kematian. Ekuador terpaksa menumpuk mayat di jalanan. Begitu pun Italia, Iran....

Tapi masalah kita saat ini tidak sebatas itu. Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana IMF, tempo hari ngemeng bahwa dampak kejatuhan ekonomi akibat wabah corona saat ini akan menyebabkan setengah dari populasi dunia jatuh ke dalam kemiskinan. Setengah dari populasi dunia!

Entah dia ngibul atau benar adanya—namanya juga IMF, dan kita tahu mereka selalu punya kepentingan—yang dikatakan Kristalina Georgieva itu bisa menjadi warning, bahwa kondisi wabah saat ini bukan sesuatu yang bisa disepelekan seperti yang diocehkan Denny Siregar.

Sekarang, mengacu pada omongan IMF—bahwa setengah populasi dunia akan jatuh miskin begitu wabah ini selesai—kita seperti melihat bayang-bayang gelap di depan. Karena bahkan jika wabah corona saat ini teratasi dan selesai, kita masih akan menghadapi masalah besar; resesi global.

Dalam hal ini, selalu ada kemungkinan IMF akan mengail di air keruh—memaksakan utang baru pada negara-negara yang jatuh akibat wabah corona, dan saat ini pun telah (mulai) terjadi. Itu artinya... apakah kau bisa melanjutkannya sendiri? Ini benar-benar jelas dan gamblang!

Sekarang kita sampai pada sesuatu yang sangat krusial dari ocehan mbuh ini; apa kira-kira yang ada dalam pikiran para penentu kebijakan saat ini, terkait wabah corona yang sedang terjadi?

Jika berkaca pada negara kita sendiri, kemungkinannya agak suram, seperti yang kita tahu.

Ketika Wuhan menjadi episentrum wabah corona, apa yang dilakukan pemerintah China? Mereka langsung melakukan lockdown, mengatasi seefektif mungkin, dan Wuhan kini sembuh.

Pemerintah China berhasil melakukan “keajaiban” itu, karena mereka memang memiliki kemampuan memadai.

Pemerintah kita mungkin menyadari tidak memiliki kemampuan seperti pemerintah China. Karenanya, alih-alih mencontoh China yang sukses, pemerintah kita lebih cenderung berkaca pada India, yang program lokcdown-nya bisa dibilang gagal total. Atau Filipina, yang agak-agak anu.

Jika kita flashback ke belakang, kita melihat bahwa sejak awal pemerintah kita terlihat sangat ragu-ragu, sekaligus berusaha "ngadem-ngademi" seolah wabah corona adalah hal sepele. Sikap pemerintah sangat bimbang; antara mengurusi kesehatan, atau menyelamatkan ekonomi.

Dan sikap bimbang itu sampai sekarang jelas terlihat. Dari ribetnya birokrasi PSBB sampai keraguan antara melarang dan membolehkan mudik. Padahal, kalau pemerintah tegas MELARANG mudik, orang-orang juga tidak akan mudik. Bagaimana pun, sebagian besar mereka sadar bahayanya.

Tapi pemerintah hanya mengimbau, mengimbau, dan mengimbau. Baru kemarin, Menhub bahkan berencana menaikkan tarif tol dan tiket pesawat, dengan alasan “agar orang malas mudik”. Kok tanggung amat? Kenapa tidak dilarang sekalian? Bukankah pemerintah bisa melarang?

Dan nyatanya pemerintah kita memang bimbang, antara menyelamatkan kesehatan dan menyelamatkan ekonomi.

Bagaimana pun, pemerintah juga punya kepentingan; ingin ekonomi tetap berjalan, hingga membiarkan mudik, meski sebenarnya sangat riskan bagi kesehatan/keselamatan semua orang.

Bisa jadi, yang bimbang seperti itu bukan hanya pemerintah kita, tapi juga pemerintah di negara-negara lain, khususnya yang sadar tidak memiliki kemampuan melakukan lockdown (atau tindakan tegas lain), dan khawatir kalau-kalau malah semakin memperbesar masalah.

Jadi, inilah yang kita hadapi sekarang. Hidup di dunia yang sedang koma, dengan pemerintah yang bimbang, sementara ekonomi makin tidak jelas, bisnis gulung tikar, ribuan orang kena PHK, makin sulit dapat uang, sementara kita tidak tahu kapan semua ini akan berakhir.

Dan ketika wabah ini berakhir... kita masih akan dihadapkan kenyataan suram, seperti yang dikatakan Direktur IMF, bahwa “setengah populasi dunia akan jatuh miskin”.

Apakah masalah kita cukup sampai di situ? Oh, tidak! Kita masih punya masalah lain, yang sama mengkhawatirkan.

Sementara korban-korban wabah corona terus berjatuhan, rumah sakit kian penuh, dan dokter serta perawat ikut jadi korban hingga jumlah mereka terus berkurang... di sisi lain vaksin belum juga ditemukan... apa yang sekiranya dipikirkan oleh para pemegang dan penentu kebijakan?

Sebagian orang curiga, bahwa pemerintah-pemerintah di dunia saat ini diam-diam menjalankan sesuatu yang berbahaya; herd immunity. Di hadapan kenyataan bahwa tidak ada vaksin untuk mengatasi wabah, kita semua akan dibiarkan untuk “bertarung dan menang... atau kalah”.

Kecurigaan terhadap kemungkinan herd immunity itu juga masuk akal. Pertama, karena ketiadaan vaksin; kedua, karena korban terbesar wabah corona adalah para lansia atau orang-orang yang kondisi fisiknya lemah—dengan kata lain “tidak produktif”. Did you see that?

Jika ini benar, maka kita sedang kembali ke era kegelapan, di mana yang kuat akan menang dan yang lemah akan punah. Bedanya, kali ini, kita tidak bertarung dengan sesama manusia, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya, karena tak terlihat; virus.

Bagi yang mungkin belum tahu apa itu herd immunity, catatan ini bisa dibaca. Isinya menguraikan herd immunity dengan bahasa sederhana, hingga mudah dipahami siapa pun.

Apa yang Disebut Herd Immunity? » https://bit.ly/2Du7R6u


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 April 2020.

Kekhawatiranku Kini Terbukti

Barusan ngobrol sama teman di telepon. Dia tanya dengan heran, "Kamu benar takut tertular corona?"

Dengan serius, aku menjawab, "Kalau kamu tidak takut tertular corona, artinya kamu tidak tahu apa-apa! Kamu pikir corona cuma 'flu ringan' seperti yang kamu baca di berita-berita?"

Kau tertular corona, masuk rumah sakit dan diisolasi sambil memperkuat imunitas tubuh, lalu corona hilang sendiri? Kalau masih mengira atau berpikir seperti itu, kau perlu belajar lebih banyak! Tanpa bermaksud menakuti, wabah ini tidak seringan yang mungkin dipikir orang-orang.

Yang paling kurisaukan sebenarnya bukan tertularnya, tapi dampak yang ditimbulkannya. Tertular corona mungkin tidak menimbulkan kesakitan (secara fisik), tapi bagaimana dengan dampak yang ditimbulkannya? Tidak tahu soal ini, membuktikan bahwa kita perlu belajar lebih banyak.

Ada banyak hal yang ingin kuocehkan soal ini, sebenarnya, tapi mungkin waktunya belum tepat. Yang bisa kukatakan sekarang hanyalah, jangan anggap remeh wabah ini. Kau tidak tahu apa yang sekarang kauhadapi, dan satu-satunya cara aman yang bisa dilakukan hanyalah HATI-HATI.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Maret 2020.

Dunia Sedang Koma

Saat ini, kayaknya semua orang memang terdampak wabah corona, tak peduli kaya atau miskin, meski kadarnya mungkin berbeda-beda. Karena hampir semua bisnis berhenti, dan ekonomi jalan di tempat. Meski mungkin terdengar mengkhawatirkan, nyatanya resesi global sudah di depan mata.

Tempo hari, para pekerja/jurnalis Viva mengeluhkan gaji yang terlambat dibayar, imbas wabah corona. Padahal Viva Group adalah perusahaan besar yang membawahi banyak media. Jika perusahaan sebesar itu saja terdampak sampai kesulitan membayar gaji karyawan, kita pantas khawatir.

Nyatanya wabah/pandemi yang terjadi saat ini memang tidak main-main. Khususnya dalam menghancurkan perekonomian, dan, dalam skala lebih luas, kehidupan manusia. Karena semua negara—dan para ekonom mereka—tidak tahu apa yang dihadapi, jadi semua strategi apa pun akan mentah.

Jika resesi terjadi karena masalah politik, konflik atau peperangan, kita tahu apa masalahnya, dan secepat mungkin akan bisa membereskan, bahkan mengukur kapan selesainya. Tapi wabah yang saat ini terjadi, tidak ada satu orang pun yang bisa mengatakan kapan akan selesai.

Saat ini, seluruh dunia bergantung pada para ilmuwan yang sedang berusaha menemukan vaksin untuk corona-baru. Sementara para ilmuwan tidak bisa menjamin kapan mereka akan berhasil menemukan/menciptakannya. Ini benar-benar kondisi yang mengerikan. Karena dunia seperti sedang koma.

Hari-hari ini, kapan pun bertemu orang lain, yang kudengar hanyalah keluhan, kondisi ekonomi yang tidak jelas, keuangan yang morat-marit, kehidupan makin berat. Bahkan tanpa wabah corona pun sebenarnya kehidupan sebagian mereka sudah berat. Dan mereka pantas mengeluh, tentu saja.

Saat ini, hanya segelintir bisnis yang masih jalan, dan hanya berkisar pada makanan, obat-obatan, serta kebutuhan sehari-hari. Lainnya... kolaps. Bahkan Luna Maya pun mengeluh. Gara-gara wabah corona, katanya, dia kesulitan bayar cicilan! Bahkan Luna Maya kesulitan bayar cicilan!

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, dan mungkin akan selesai tahun 2943. Tapi karena cokelat hangatku sudah tandas dan ududku hampir habis, cukup sampai di sini.

Terakhir, ingat kata-kata ini: Begitu wabah ini selesai, setengah populasi bumi akan "lenyap".


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 April 2020.

Orang Pertama yang Terjangkit Corona

Mungkin ada orang di sini yang juga bertanya-tanya soal ini?

Virus corona yang saat ini menjadi pandemi di dunia, bernama SARS-CoV-2, yang memicu penyakit yang disebut COVID-19.

Siapa Orang Pertama di Dunia yang Terjangkit Virus Corona? » https://bit.ly/2W5pwb3

Besok, atau mungkin entah kapan—kalau pikiranku lagi fresh—akan kulanjutkan catatan ini dengan menunjukkan akan ke mana semua ini menuju.

Kita telah menyaksikan sesuatu yang besar sekaligus gamblang—sebegitu besar dan gamblang, sampai kita tidak menyadari apa yang kita saksikan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 April 2020.

Tagar yang Membingungkan

(((( jkwbentengcoronaNKRI )))) Benar-benar tagar yang membingungkan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 April 2020.

Rabu, 01 Juli 2020

Bisa Ngomong Baik-Baik, Malah Pakai Kode-Kode Rumit

Ada orang-orang yang, entah apa isi otaknya,
suka mempersulit diri, lalu pusing dan stres sendiri,
lalu menyalahkan orang lain karena dianggap mempersulit mereka.
Padahal diri mereka sendiri yang mempersulit diri.


Salah satu pertengkaran saya dengan mantan pacar (yang waktu itu masih jadi pacar saya) berawal dari hal sepele. Hari itu kami meninggalkan kampus sekitar pukul 11.00, dan pulang ke rumah saya. Kami mengobrol seperti layaknya sepasang pacar. Sekitar zuhur, ada telepon yang masuk, dan saya meninggalkannya sejenak untuk menerima panggilan tersebut.

Telepon siang itu terkait pekerjaan, dan saya bercakap-cakap dengan si penelepon cukup lama. Setelah itu, saya kembali ke ruang depan, dan menemui pacar yang masih duduk manis di sofa. Dia berkata, “Perutku sakit.”

Waktu itu pikiran saya masih terpecah, antara urusan pekerjaan yang baru saya percakapkan di telepon, dan pacar saya. Ketika dia mengatakan perutnya sakit, saya menawarkan balsem. Tapi dia malah menunjukkan muka cemberut. Saya menawari apakah dia mau berbaring, dia tetap cemberut.

Dengan segala keluguan, saya hanya berpikir bahwa dia mungkin tidak enak badan, jadi mood-nya rusak, dan mukanya cemberut. Setelah itu dia minta diantar pulang. Sekali lagi, dengan segala keluguan, saya menuruti permintaannya. Namun, saya menawarkan agar kami makan siang dulu. Dia langsung setuju.

Usai makan siang, dia tidak jadi minta diantar pulang, dan kami kembali ke rumah saya, dan kali ini wajahnya terlihat ceria, dan perutnya tak sakit lagi. Bahkan sampai di situ, saya masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi.

Belakangan, ketika kami bertengkar karena sesuatu, pacar saya menuduh saya tidak peka, dan dia menggunakan peristiwa tadi sebagai salah satu contoh “betapa tidak pekanya saya”. Jadi, waktu dia mengatakan “perutnya sakit”, sebenarnya bermaksud mengatakan bahwa dia lapar. Tapi saya tidak juga mengajaknya makan, sampai akhirnya dia minta diantar pulang.

Mendengar penjelasan itu, saya tercengang campur jengkel. Jadi, selama kami bersama dari waktu ke waktu, pacar saya sering mengirim kode-kode tertentu—semisal ucapan sakit perut tadi—tapi saya tidak juga paham. Dan karena itu, menurutnya, saya tidak peka. 

Saya balik bertanya, kenapa dia tidak mengatakan maksudnya dengan jelas saja? Bukankah itu lebih mudah? Alih-alih mengatakan sakit perut padahal kelaparan, saya pikir jauh lebih baik kalau dia mengatakan, “Aku lapar, ayo kita cari makan” (atau varian kalimat lain yang dia suka).

Dengan perkataan yang jelas dan gamblang semacam itu, saya akan langsung paham, dan langsung memenuhi permintaannya. Sekali lagi, bukankah itu lebih baik dan lebih mudah?

Tapi tampaknya ada banyak orang, khususnya wanita, yang menderita “sindrom” semacam itu. Alih-alih menggunakan bahasa yang lugas, jelas, dan sederhana, mereka justru menggunakan cara yang sulit, rumit, dan punya kemungkinan besar gagal—lalu jengkel sendiri dan menuduh orang lain tidak peka.

Beberapa tahun lalu, saya mengenal seorang wanita di Twitter, yang belakangan bahkan saya jumpai di dunia nyata. Sejak pertama kali saling kenal, kami sama-sama merasa nyaman. Wanita ini begitu apa adanya, tidak sok jaim, dan dalam waktu singkat kami sudah mengobrol panjang lebar lewat e-mail (waktu itu Twitter masih terbatas 140 karakter, dan fasilitas DM juga masih sangat terbatas).

Di Twitter, kami juga sering berkomunikasi dan bercanda. Dia kuliah di Yogya, dan singkat cerita kami janjian untuk ketemu.

Suatu hari, menggunakan travel, saya datang ke Yogya, dan langsung sampai di alamat yang dia berikan. Lalu kami menikmati kebersamaan di Yogya, hingga tiga hari. Sejak hari pertama, dia mengajak saya jalan-jalan, ke Malioboro, ke toko buku, ke mal, ke bioskop, ke Starbucks, nonton kabaret, dan lain-lain. Saya asyik-asyik saja menemaninya.

Tapi ada satu hal yang waktu itu sangat mengganggu saya.

Selama kami jalan-jalan, dia selalu berjalan sangat cepat—sebegitu cepat, hingga saya sering tertinggal di belakangnya. Berkali-kali saya meminta agar kami berjalan lebih perlahan, tapi dia seperti tidak peduli. Dia terus berjalan sangat cepat. Akibatnya, tiap kali kami pulang usai jalan-jalan, saya merasa baru berolah raga, bukan seperti baru jalan-jalan.

Lama-lama, karena dongkol dengan hal itu, saya menunjukkan sikap jengkel. Dia juga menunjukkan hal serupa. Kenyataan itu membuat kami “tegang” atau saling tidak nyaman. Belakangan, ketika saya dalam perjalanan pulang, dia mengirim SMS yang menyatakan perasaan atau kejengkelannya.

Saat itulah saya mulai paham kenapa dia berjalan sangat cepat, hingga kami sama-sama jengkel dan tidak nyaman. Rupanya, jalan cepat yang dia lakukan itu “kode”, agar saya “peka” dan menggandeng tangannya!

Ketika kesadaran itu hinggap di pikiran saya, rasanya ingin membanting ponsel saking jengkelnya. Kenapa dia tidak mengatakan terus terang saja? Kenapa harus pakai jalan cepat yang membuat kami sama-sama kelelahan dan saling jengkel dan tidak nyaman? Kenapa dia tidak memberitahukan saja maksudnya dengan jelas, agar saya bisa langsung paham keinginannya?

Karena sama-sama jengkel, kami tidak pernah lagi berkomunikasi sejak itu. Dia mungkin jengkel karena saya “tidak peka”. Sementara saya jengkel karena dia harus mempersulit sesuatu yang seharusnya sangat sederhana.

Semula, saya pikir hanya kaum wanita yang melakukan hal tolol dengan kode-kode semacam itu. Ternyata, kaum pria juga melakukannya, dan saya benar-benar tidak habis pikir ketika mendapatinya.

Untuk suatu keperluan, saya pernah mengundang beberapa tukang batu ke rumah. Mereka sempat bekerja di rumah saya hingga hampir sebulan. Selama itu, saya biasa menyediakan makanan dan minuman untuk mereka, lengkap dengan teko penuh teh dan gula di sebuah wadah. Mereka bebas bikin teh sendiri, dengan gula sesuai selera mereka sendiri.

Suatu siang, ketika saya sedang membaca buku, para tukang batu itu terdengar saling ribut dengan temannya. Mereka menyebut-nyebut “pabrik gula tutup”, “gudang gula terbakar”, dan semacamnya. Saya sama sekali tidak paham, saat mendengar celoteh-celoteh itu—saya pikir mereka sedang saling bercanda dengan temannya.

Belakangan, ketika saya mendatangi tempat mereka bekerja, saya mengecek teh di teko dan gula di wadahnya. Para tukang batu itu hanya memandangi saya, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Saya mendapati wadah gula kosong. Jadi saya pun mengambil gula dari lemari, dan menuangkannya ke wadah gula. Setelah itu, para tukang batu segera bikin teh. Akhirnya saya paham bahwa ribut-ribut soal “pabrik gula tutup” dan “gudang gula terbakar” tadi dimaksudkan sebagai kode untuk memberi tahu saya bahwa gula di wadah sudah habis.

Setelah menyadari hal itu, saya berkata pada mereka, “Lain kali, kalau butuh sesuatu, tolong langsung katakan saja dengan jelas.”

Peristiwa itu sangat membingungkan saya. Apa susahnya ngomong baik-baik, misalnya, “Kami mau bikin teh, tapi gula di wadah pas habis.” Mudah, sederhana, dan saya akan langsung paham, hingga bisa segera memenuhi permintaan atau kebutuhan mereka.

Tapi alih-alih menggunakan cara yang mudah dan sederhana semacam itu, mereka justru menggunakan cara yang rumit, melalui kode dan metafora—sebelas dua belas dengan mantan pacar saya yang mengatakan perutnya sakit padahal lapar, atau wanita di Yogya yang sampai jalan cepat dan membuat kami sama-sama kelelahan padahal cuma ingin ngomong, “Tolong gandeng aku.”

Sejujurnya, saya tidak pernah paham dengan hal-hal semacam itu. Komunikasi adalah upaya menyampaikan maksud kita, agar orang lain bisa memahami. Agar orang lain bisa memahami maksud kita dengan baik, dan tidak salah paham, mestinya kita harus menyampaikan maksud dengan jelas, sederhana, dan mudah dipahami. Jika kita mengatakan sesuatu tapi malah mutar-mutar dan menggunakan aneka metafora, itu berkomunikasi atau baca puisi?

Selain menggunakan kode atau metafora yang sulit dipahami—bahkan rentan menimbulkan salah paham—rupanya ada lagi cara lain melakukan “komunikasi”, yang sama-sama sulit dipahami, bahkan sama-sama rentan menimbulkan salah paham.

Di dunia maya, saya pernah tertarik pada seorang wanita. Kami juga saling follow di Twitter, dan saya pernah beberapa kali membuka percakapan dengannya, khususnya melalui DM Twitter. Responsnya positif. Tetapi, dia selalu menghapus percakapan kami di DM (di masa itu, pesan di DM yang dihapus oleh salah satu pihak akan ikut menghapus pesan di boks DM lawan bicara).

Saya paham tujuan wanita itu menghapus percakapan kami di DM, yaitu agar saya (lebih) agresif mendekatinya, hingga langsung menemuinya. Tetapi menghapus percakapan kami di DM justru menjadi kesalahan terbesarnya!

Saya sering mengalami kesulitan saat ingin membuka komunikasi dengan orang lain, terkhusus dengan wanita yang membuat saya tertarik. Dengan adanya komunikasi di DM, setidaknya saya akan terbantu saat ingin melanjutkan percakapan di lain waktu, karena bisa nyambung dari percakapan sebelumnya. Tapi dia justru menghapusnya, dan saya pun berhenti!

Di catatan tempo hari, saya menyatakan; jika responsmu baik, saya akan melanjutkan; jika responsmu tidak baik, saya akan berhenti. Sejak itu, saya tidak peduli lagi dengan wanita tersebut. Kalau dia berpikir saya akan agresif dan mengejar-ngejarnya, dia jelas salah sangka.

Sejak itu pula, dia sering menulis tweet di Twitter yang nadanya “memancing” saya agar (terus) mendekatinya. Tapi saya tidak peduli!

Mungkin karena menyadari upayanya memancing saya lewat Twitter tidak berhasil, dia mencoba melakukan hal lain, tapi yang dilakukannya lagi-lagi kesalahan. Setelah sangat lama kami tidak berkomunikasi, dia malah mengirim kode—sesuatu yang justru membuat saya makin kehilangan selera.

Kode yang dia lakukan adalah terus menerus mengklik tulisan di blog ini, yang berjudul Houdini dan Pintu Tak Terkunci. Kapan pun saya membuka dasbor blog, artikel itu pasti muncul—sesuatu yang jelas tidak wajar.

Ketika saya menyadari kalau artikel itu ternyata diklik oleh wanita tadi, saya mencoba berpikir apa maksudnya, sesuai isi artikel tersebut. Bisa jadi, dia terus menerus mengklik artikel itu untuk mengatakan, “Kamu sebenarnya tidak punya masalah apa pun. Ayo temui aku. Tidak akan ada masalah apa-apa.”

Apakah artinya memang begitu? Saya tidak tahu, wong dia tidak pernah mengatakannya secara jelas, selain hanya terus menerus mengklik tulisan itu setiap hari. Dan kalau pun artinya memang begitu, lalu apa yang harus saya lakukan?

Saya tidak berkomunikasi dengan kode tolol semacam itu!

Akhirnya, ketika sedang jengkel, saya menulis kalimat ini di Twitter, “Kepada seseorang yang tiap hari ‘mengingatkanku’ pada Houdini, aku ingin mengingatkan, hari ini kau belum melakukan sesuatu yang telah kaulakukan berminggu-minggu kemarin. Dan kalau kau berpikir aku tidak tahu siapa dirimu, kau keliru. Oh, ya, persetan denganmu!”

Saya benar-benar tidak habis pikir dengan wanita ini. Dia sudah dewasa, biasa berinteraksi dengan lawan jenis, tapi yang dia lakukan terkait saya adalah kesalahan, kesalahan, dan kesalahan.

Diajak berkomunikasi baik-baik lewat DM Twtter, dia malah menghapus komunikasi kami. Giliran saya berhenti dan tak peduli, dia terus menerus mengirim kode yang justru menjengkelkan. Padahal, kalau saja dia mengatakan, “Ayo kita ketemu,” saya akan datang menemuinya! Mudah, simpel, sederhana, tanpa banyak kode rumit, dan tanpa banyak drama.

Saya tertarik kepadanya, dan itu sudah cukup menjadi alasan saya mau menemuinya. Tapi dia justru mempersulit hal-hal sederhana—sesuatu yang tidak hanya menyulitkan diri saya, tapi juga menyulitkan dirinya sendiri. Sekarang, terus terang, saya sudah tak tertarik.

Saya orang sederhana, dan terbiasa berpikir sederhana. Saya tidak tertarik pada hal-hal rumit, apalagi hal-hal sederhana yang dibikin rumit.

Oh, ya, saya juga tidak punya kepentingan apa pun dengan orang-orang yang hanya saya tahu di dunia maya, wong saya tidak mengenalmu. Tetapi, kalau kau punya kepentingan dengan saya, kau harus mengatakannya secara langsung, jelas, dan gamblang—sebegitu jelas dan gamblang, hingga saya tidak mungkin salah paham.

Kalau kau masih mengandalkan kode-kode dan berharap saya akan peduli, terus terang saya tidak akan peduli. Jangankan peduli, tertarik pun tidak. Dan kau bisa menunggu sampai kiamat.

Noffret’s Note: Tidak Paham

Ada orang-orang yang, entah apa isi otaknya, suka mempersulit diri, lalu pusing dan stres sendiri, lalu menyalahkan orang lain karena dianggap mempersulit mereka. Padahal diri mereka sendiri yang mempersulit diri.

Agar tweet tadi tidak menimbulkan kesalahpahaman, sepertinya aku perlu melanjutkan dan menjelaskan maksudku. Sambil nunggu udud habis.

Mari gunakan contoh.

Si A ingin ketemu Si B. Tapi Si A berharap Si B yang mendekatinya dan mengajaknya ketemuan. Ketika Si B tidak juga mendekati apalagi mengajaknya ketemuan, Si A pusing dan jengkel sendiri.

Aku benar-benar tidak paham dengan hal tolol semacam itu.

Kalau aku memang ingin ketemu seseorang, aku akan mengatakannya secara baik-baik, dan menjelaskan maksudku. Jika dia menerima, aku akan menemuinya. Jika dia menunjukkan sikap negatif—istilah lain untuk penolakan—aku berhenti. Simpel, sederhana, dan tidak ada yang terganggu.

Kalau aku ingin bertemu seseorang, tapi aku berharap orang itu yang mengajakku ketemuan, itu tolol, konyol, sekaligus gila! Aku yang punya keinginan, tapi berharap orang lain yang harus berinisiatif. Dan ketika orang itu tidak juga berinisiatif, aku jadi stres sendiri. Sinting!

Dulu, ada beberapa tukang batu bekerja di rumahku. Suatu hari, mereka mau bikin teh, tapi gula di wadah pas habis. Mereka mungkin bingung, lalu ribut sendiri dengan temannya, “Wah, pabrik gula tutup, nih,” dan semacamnya, yang intinya ingin memberi tahuku bahwa gula habis.

Waktu itu aku sedang membaca buku, dan mendengar omongan mereka, tapi aku sama sekali tidak paham apa maksudnya. Mereka menyebut-nyebut pabrik gula tutup, gudang gula terbakar, dan semacamnya, dan semacamnya. Tapi mereka tidak juga memberitahukan apa maksud kata-kata itu.

Belakangan, saat aku mendatangi tempat mereka bekerja, para tukang batu itu cuma memandangiku, tapi tidak ada yang mengatakan atau memberitahukan apa pun.

Aku baru sadar soal gula habis waktu mengecek wadahnya, lalu mengambil gula dari lemari, dan menuangkannya ke wadah gula.

Setelah sadar apa yang terjadi—dan mulai paham apa maksud celoteh mereka tadi—aku akhirnya bilang, “Lain kali, kalau butuh sesuatu, tolong katakan secara jelas, biar aku langsung paham. Tidak usah pakai kode macam-macam.” Dan gula di rumahku cukup untuk 3 bulan ke depan.

Peristiwa itu sangat membingungkanku. Apa susahnya ngomong baik-baik, “Kami mau bikin teh, tapi gula di wadah pas habis.” Simpel, mudah, sederhana, tidak perlu repot mengarang-ngarang kode atau metafora yang sulit, dan aku bisa langsung memenuhi permintaan mereka saat itu juga.

Manusia, dalam perspektifku sebagai bocah, sering mempersulit dirinya sendiri. Sudah diberi anugerah kemampuan berbicara—hingga bisa ngomong secara baik, sopan, dan jelas—malah sibuk mengarang metafora dan membikin aneka kode yang bisa jadi malah membingungkan dan menjengkelkan.

PS:

Kalau mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa selama ini aku sangat jarang/tidak pernah mengajak komunikasi siapa pun di Twitter, jawabannya sederhana; karena aku tidak ingin mengganggu siapa pun, dan karena nyatanya aku tidak punya kepentingan apa pun dengan siapa pun.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Juni 2020.

Persentase dan Kecenderungan Manusia

Yang menjadikan sesuatu wajar/tidak atau normal/tidak bukan jumlah atau kapasitasnya, tapi persentasenya. Melihat jumlah sesuatu terjadi, hanya membutuhkan pengamatan, dan itu mudah. Tapi untuk bisa melihat berapa persentase suatu kejadian, membutuhkan ingatan.

Berapa jumlah kecelakaan yang pernah terjadi di depan rumahmu? Kadang-kadang, sering, atau tidak pernah sama sekali? Jawaban atas pertanyaan itu bisa menunjukkan sesuatu sebagai normal/wajar atau tidak, dan kau membutuhkan ingatan (dan analisis, kalau kau mudah lupa).

Jika kecelakaan memang sering terjadi di depan rumahmu, kau tidak akan heran jika sewaktu-waktu ada kecelakaan lain, karena itu memang hal biasa. Tapi jika kecelakaan jarang atau bahkan tidak pernah terjadi, lalu kecelakaan terus terjadi di depan rumahmu, kau akan heran.

Bisa menangkap maksud ilustrasi yang sangat mudah itu? Sesuatu disebut wajar/normal atau tidak, bukan dari berapa kali ia terjadi, tapi berapa persen ia terjadi. Begitu kita memahami rumus penting ini, kita akan mulai bisa melihat hal-hal yang mungkin tidak dilihat orang lain.

Manusia punya kelemahan khas; terfokus pada hal-hal yang mereka lihat. Padahal, yang kita lihat sering kali tidak penting, karena hal-hal yang kita lihat juga sering kali digerakkan oleh hal-hal yang tidak kita lihat. Yang tidak terlihat itulah yang sebenarnya penting.

Sekadar FYI, bahkan algoritma di balik teknologi-teknologi yang kita gunakan juga dibangun menggunakan konsep ini—persentase dari apa yang mungkin terjadi. Mesin AI Google bisa sangat cerdas, hanya dengan menganalisis hal ini. Dan kenapa kita tidak heran dengan side bar YouTube?

Side bar YouTube adalah contoh paling gamblang terkait hal ini. Buka video apa pun secara acak di YouTube, dan side bar akan memunculkan video-video lain yang "kemungkinan besar juga akan kita tonton". Bagaimana itu bisa terjadi? Karena algoritma YouTube menghitung persentase!

Hanya dengan memahami dan mengingat persentase saja, kita akan bisa memahami banyak hal, termasuk—dan paling penting—kecenderungan manusia. Dan begitu kita memahami kecenderungan manusia, kita pun tahu siapa/seperti apa sebenarnya mereka.

Well, sesuatu yang kutunggu sudah datang. Bye.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 November 2019.

Tempat Tergelap di Neraka

Ada orang-orang yang menyadari bahwa pemerintah saat ini bermasalah, karena merilis aneka aturan bermasalah. Tapi mereka tidak berani bersuara, karena berbagai alasan yang tak mungkin mereka katakan. Dan, omong-omong, itulah "konflik kepentingan" dalam wujud paling samar.

Bertahun lalu, ketika "tokoh-tokoh Twitter"—aku tahu istilah ini sangat konyol—dikumpulkan secara berkala, aku memperhatikan dari waktu ke waktu.

Waktu itu belum ada masalah, dan semuanya tampak baik-baik saja. Tapi aku masih ingat siapa-siapa saja yang "dikumpulkan" waktu itu.

Saat lautan tenang, semua orang akan tampak wajar. Tapi saat lautan bergolak, semua orang akan menunjukkan jati diri masing-masing. Dan itulah yang sekarang terjadi.

Sejak pergolakan terjadi beberapa hari ini, orang-orang yang dulu "dikumpulkan" semuanya diam, memilih aman.

Aku menyadari mereka (mungkin) ada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, nurani mereka menyadari adanya kesalahan. Namun, di sisi lain, mereka tidak mungkin bersuara karena adanya konflik kepentingan. Jadi mereka berusaha bersikap sewajar mungkin, meski sebenarnya tak wajar.

Yang kumaksud dalam ocehan ini bukan mereka yang disebut "kakak pembina", tapi orang-orang biasa yang kebetulan populer di Twitter. Kalau kau punya ingatan dan ketekunan seperti yang kulakukan, kau pun tahu siapa-siapa saja yang kumaksudkan. Twitter ini diam-diam "medan perang".

Ada orang-orang yang sok sinis mengatakan bahwa demonstrasi hari-hari ini "membuat senang segelintir orang". Aku tidak tahu siapa yang mereka maksud.

Tapi aku juga "senang", karena demonstrasi yang terjadi telah mengungkap topeng banyak orang, hingga siapa asli mereka terlihat.

Orang-orang yang dulu sangat cerdas, kritis, dan bersuara lantang terhadap ketidakberesan apa pun, tapi sekarang "tidak melihat" kekacauan dalam RUU yang dirilis DPR/pemerintah, adalah keanehan luar biasa.

Dan percayalah, ada yang menyadari serta mengamati keanehan kalian.

Banyak yang mengatakan, Orde Baru-nya Soeharto adalah "zaman mengerikan" di Indonesia. Itu benar. Namanya juga era diktatorial. Tapi Soeharto melakukan aksinya terang-terangan, hingga orang yang paling tolol pun sadar apa yang terjadi. Hal berbeda terjadi di masa sekarang...

Di masa sekarang, sesuatu yang mirip di era Soeharto akan sama dilakukan, tapi secara diam-diam. Pelajari RUU-RUU yang bermasalah itu, dan kau akan sadar! Karenanya, memilih diam atau bersikap netral di masa seperti sekarang adalah sebentuk kejahatan, jika bukan kebodohan.

“Tempat tergelap di neraka," kata Dante Alighieri, "dicadangkan untuk mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral.”


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 September 2019.

Pesan di Twitter

Di Twitter, ada orang-orang yang sering berpesan, “Wajah jelek bisa diatasi lewat salon atau rajin merawat diri. Tapi kalau kelakuan jelek, bagaimana mengatasinya?”

Yang apes, sudah wajah jelek, kelakuan sama jelek.

 
;