Minggu, 20 Juni 2021

Noffret’s Note: Ojol

Aku pernah baca cerita seseorang di blog, terkait ojek online (ojol). Ceritanya, dia mau pulang, butuh ojol, tapi ponselnya eror, jadi gak bisa mesan ojol. Dia lalu masuk minimarket, beli aqua (sebagai dalih), lalu minta tolong kasir minimarket agar memesankan ojol untuknya.

Sayang, kasir minimarket tidak bisa membantu, karena di ponselnya tidak ada aplikasi ojol semacam Gojek atau lainnya.

Orang tadi kecewa, dan makin pusing. Akhirnya dia masuk kafe, dengan harapan orang-orang di kafe ada yang bisa membantunya memesan ojol pakai ponsel mereka.

Orang tadi memesan sesuatu di kafe. Di sana ada 5 tamu, dan 2 orang petugas kafe. Orang tadi menemui satu per satu tamu di kafe itu, meminta tolong memesankan ojol, tapi tidak ada satu pun yang bisa—termasuk 2 petugas kafe. Mereka semua tidak memakai aplikasi ojol di ponsel!

Orang tadi makin stres, dan marah. Di blognya, dia menulis kira-kira seperti ini, "Aku tidak percaya mereka semua tidak pakai aplikasi ojol di ponselnya! Hari gini, apa kalian percaya ada orang yang sama sekali tidak pakai aplikasi ojol?"

Dalam hati, aku menjawab, "Aku percaya."

Ya, aku percaya bahwa hari gini ada orang-orang yang tidak pernah memakai ojol, hingga di ponsel mereka tidak terinstal aplikasi semacam itu. Aku percaya bahwa meski ada jutaan orang yang menggunakan ojol, bukan berarti SEMUA orang pasti begitu.

Ini kebenaran yang sederhana.

Orang tadi menatap/menilai orang-orang lain dengan kacamata pengguna ojol. Dia mungkin setiap hari menggunakan ojol, dan memesan ojol lewat ponselnya. Sebegitu intim dia dengan ojol, hingga dia sulit percaya bahwa ada banyak orang yang sama sekali tidak pernah menggunakan ojol.

Aku percaya bahwa di luar sana ada orang-orang yang, meski mungkin gaul dan modern serta akrab dengan teknologi, tapi sama sekali tidak pernah menggunakan ojol, dan tidak menginstal aplikasi semacam itu di ponselnya.

Aku salah satunya. Tidak ada aplikasi ojol apa pun di ponselku.

Kalau ditanya kenapa aku tidak menginstal aplikasi ojol di ponsel, jawabannya sederhana; karena memang tidak butuh.

Aku punya motor di rumah, dan jarang dipakai. Jadi kalau ingin keluar ke tempat yang dekat, mending pakai motor sendiri daripada naik ojol. Lebih bebas dan nyaman.

Kalau ditanya, apakah aku pernah naik ojol? Pernah, satu kali, dalam kondisi darurat, dan dipesankan teman lewat ponselnya. Bisa jadi, itu menjadi pengalaman pertama sekaligus terakhir. Aku sama sekali tidak nyaman. Karena driver-nya terus menerus ngoceh sepanjang perjalanan!

Waktu itu, sejak aku duduk di jok motor dan mulai melaju, driver ojol ngoceh tanpa henti. (Belakangan aku tahu, itu rupanya kebiasaan hampir semua driver ojol di mana pun).

Jadi, sepanjang perjalanan waktu itu, aku seperti mendengarkan radio rusak yang suaranya tidak jelas.

Yang membuatku tidak nyaman sebenarnya bukan semata ocehannya, melainkan dampaknya. Selama berkendara, konsentrasi driver terpecah antara fokus pada jalan di depan, dan fokus pada ocehannya. Akibatnya, dia berkendara dengan berbahaya, bahkan sampai melanggar lampu merah.

Perlu kukatakan di sini, driver yang semacam itu tentu tidak semuanya, dan kebetulan saja aku mungkin apes dapat driver yang kurang hati-hati berkendara, karena terlalu banyak ngoceh sepanjang perjalanan. Yang jelas, pengalaman pertama itu membuatku trauma dengan ojol.

Banyaknya driver yang suka ngoceh sepanjang perjalanan—berdasarkan yang kubaca-baca selama ini di TL—mungkin dilatari karena ingin memberikan kesan baik dan ramah pada penumpang. Sayangnya, keinginan baik itu bisa berbahaya kalau tidak diikuti kehati-hatian selama berkendara.

Dalam hal ini, aku justru lebih suka naik ojek atau taksi—atau apa pun—yang driver-nya fokus pada jalan raya, dan tidak banyak omong! Cukup diam saja, berkendaralah dengan baik, fokus pada jalan di depan, dan antarkan aku sampai tujuan... maka aku akan memberikan bintang lima!

Tampaknya, para driver ojol perlu memahami bahwa TIDAK SEMUA ORANG SUKA NGOBROL MBAH-MBUH, apalagi dalam perjalanan naik motor di jalan raya yang ramai dan bising. Itu sangat tidak nyaman! Kalau mau ngobrol mbah-mbuh, mending kita mampir ke warung sambil minum teh dan udud!

Driver ojol dan penumpang biasanya dua orang asing yang hanya bertemu beberapa menit (sepanjang perjalanan). Ketika dua orang asing bercakap-cakap dalam waktu yang relatif singkat, kira-kira sepenting apa percakapan itu?

Ini berbeda kalau misal dua orang teman yang memang akrab.

Kalau sepasang teman (dalam arti saling kenal) naik motor berboncengan sambil ngobrol, percakapan mereka adalah percakapan antarteman—bukan percakapan di antara dua orang asing. Mungkin sama-sama mbah-mbuh, tapi mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang asing; kedekatan.

So, jika aku ditanya seperti apa "driver ojol ideal", maka jawabanku adalah driver yang fokus pada perjalanan, berkendara dengan baik, tidak banyak omong, dan tanggap dengan kebutuhan penumpang. Sudah, itu saja sudah cukup, dan penumpang pasti akan memberikan bintang lima.

Jika kelak perusahaan ojol mampu memberi jaminan semacam itu (driver yang fokus pada kerjanya, dan tidak banyak ngoceh-tidak-penting selama bekerja), mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menggunakan ojol. Untuk saat ini, aku lebih memilih memacu motorku sendiri. Lebih nyaman!

((((Disclaimer)))))*

Ocehan ini ditulis bocah yang jarang keluar rumah, punya motor tapi jarang dipakai, dan tidak suka ngoceh-tidak-jelas dengan orang asing. Karenanya, sudut pandang ini bisa jadi (dan hampir pasti) akan berbeda dengan kebanyakan orang lain.

*Koyo opo wae.

....
....

Nyambung ocehanku semalam, ini salah satu hal yang kuhindari dari aktivitas "ngoceh-tidak-jelas" dengan orang asing, khususnya driver ojol. Karena ngobrol-tidak-jelas dengan orang asing bisa berujung eksploitasi (selain kurangnya fokus dalam berkendara).


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12-13 September 2019.

Serigala Berbulu Penipu

Kalau orang asing berbuat jahat kepadamu, kau akan bisa "memaklumi", karena di dunia ini nyatanya memang ada orang-orang jahat. Tapi kalau orang yang kau anggap teman diam-diam berbuat kejahatan kepadamu, kau akan sulit menerima, karena kau mendapati kejahatan dan pengkhianatan.

Orang paling berbahaya bukan orang asing yang menodongkan senjata kepadamu—itu mudah dihadapi, kau bahkan bisa menghajarnya, dan dunia tidak akan menyalahkanmu. Yang berbahaya sekaligus menjijikkan adalah orang yang mengaku temanmu, tapi diam-diam melakukan kejahatan kepadamu.

Dan "serigala berbulu teman" semacam itu tidak hanya ada di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Setidaknya, aku telah mengalaminya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Desember 2019.

Bersih-Bersih Tab Likes

Lagi pengin bersih-bersih tab Likes di Twitter, biar gak terlalu banyak. Tapi ternyata kok gak bisa sampai ke tahun-tahun lalu, ya? Terus ini gimana cara membersihkannya?

Emang tab Likes dibersihkan biar apa? Ya biar yang gak penting atau sudah kedaluwarsa bisa dihapus, biar gak numpuk-numpuk. Kalau jumlah arsip di tab Likes gak terlalu banyak, kita mudah mencari arsip-arsip yang dibutuhkan.

Sebagian orang kadang menilai seseorang berdasarkan tab Likes-nya di Twitter. Ya mungkin ada benernya. Tapi kalau orang mencoba membuka tab Likes di akunku, kira-kira apa kesimpulannya? Wong random gak jelas gitu.

Waktu buka Twitter, aku sering tergoda memasukkan tweet, thread, meme, atau apa pun yang unik atau bermanfaat, yang sekiranya "layak disimpan". Mungkin orang lain gitu juga, sih. Waktu nyimpan, enak. Giliran mau beres-beres, ternyata agak repot.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 Desember 2019.

Bersiap Menikmati Malam Minggu

Sedang bersiap-siap menikmati malam Minggu yang menyenangkan dengan... teh hangat, udud, dan buku yang bagus.

Ingin membahas agresi militer Belanda bersamamu. Apppeeeuuuhhh...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Januari 2020.

Mobil Nasional

Tiba-tiba ingat. Dulu ada mobil buatan Indonesia bernama Tawon, yang disebut "mobil nasional". Lalu muncul lagi "mobil nasional" bernama Esemka. Terakhir, ada "motor nasional" bernama Gesits, yang beritanya pernah heboh. Kesamaan semuanya; sampai sekarang tidak ada yang jelas.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Desember 2019.

Kamis, 10 Juni 2021

Amarah, Luka, dan Kutukan

Barusan baca ini di The Conversation. Meski pahit, sering kali kenyataannya memang setragis ini. Mengapa anak dari keluarga miskin cenderung akan tetap miskin ketika dewasa.

Salah satu kutipan dari artikel tadi:

"Anak-anak dari keluarga miskin mengaku bahwa orang tua mereka cenderung mudah marah dan memberi hukuman saat tahu anaknya menghadapi masalah ketimbang memiliki kesempatan untuk bercerita mengapa masalah itu bisa terjadi..."

Anak-anak dari keluarga miskin—dan aku termasuk di dalamnya—rata-rata memang punya orang tua pemarah, bahkan tak jarang juga kejam pada anak-anaknya. Saat aku ngobrol dengan teman-temanku yang berlatar belakang serupa, mereka juga mengakui hal yang sama; orang tua mereka pemarah.

Belakangan, seiring makin dewasa, aku memahami bahwa kecenderungan mudah marah itu karena tekanan hidup yang berat. Kemiskinan, ditambah beban anak-anak, menjadikan sumbu emosi mereka sangat pendek dan mudah meledak. Kenakalan anak yang tak seberapa bisa membuat mereka stres.

Artikel di The Conversation menyatakan bahwa anak-anak dari keluarga miskin cenderung akan miskin ketika dewasa—sama seperti orang tuanya—dan kenyataan itu tak bisa dilepaskan dari latar belakang keluarga, pola asuh, pergaulan, lingkungan, dan sebagainya. Tapi itu belum semuanya.

Sekarang aku ingin menambahkan sesuatu yang tak diungkap artikel di The Conversation. Berdasarkan pengamatan dan pengakuan antarteman, anak-anak dari keluarga miskin juga rentan mengalami masalah emosi yang mengkhawatirkan. Dari rendah diri akut sampai ditikam depresi.

Sebagian temanku memiliki latar belakang serupa denganku—kemiskinan, kepahitan, luka, orang tua kurang pendidikan dan pemarah—dan kami bisa berteman dekat karena kesamaan itu. Ajaibnya, kami juga seperti "orang-orang kembar" dengan sifat, pola pikir, dan kepribadian yang sama!

Kami termasuk orang-orang beruntung, karena bisa keluar dari jerat kemiskinan. Dengan kata lain, kami berhasil mematahkan tesis yang tertulis di artikel The Conversation tadi, dan bisa jadi kami minoritas. Tetapi, bahkan seperti itu pun, bukan berarti masalah kemudian selesai.

Ada sesuatu di dalam diri kami—aku biasa menyebutnya "amarah dan luka"—yang sulit dipahami orang-orang lain. Sebentuk trauma psikologis yang hanya dapat dipahami orang-orang dengan latar belakang sama, yang membuat kami berpikir bahwa kemiskinan adalah kutukan mengerikan.

Mungkin lebih lengkap (dan lebih adil) jika aku mengatakan, "Kemiskinan dan kebodohan adalah kombinasi yang mampu menciptakan kutukan mengerikan."

Dan kami adalah anak-anak yang dikutuk oleh dua hal itu, yang membuat kami sangat marah pada dunia, dengan penuh amarah dan luka.

Ada anak-anak dari keluarga miskin, tapi memiliki jiwa yang sehat, dan dapat menjalani kehidupan dengan sama sehat. Bisa jadi, karena orang tua mereka relatif berpendidikan, sehingga bisa menerapkan pola asuh yang juga relatif baik. Mereka miskin, tapi setidaknya cukup beruntung.

Bahkan, sebagai sesama anak miskin, aku iri pada mereka yang seperti itu. Kami sama-sama menghadapi beban kemiskinan, khususnya di saat masih kecil, tapi setidaknya mereka beruntung karena memiliki orang tua yang bisa dipercaya dan diandalkan (karena relatif berpendidikan).

Berdasarkan refleksi pribadiku, tidak ada yang lebih merusak manusia selain kemiskinan yang bercampur kebodohan. Bahkan jika kau mampu keluar dari kondisi semacam itu, bekasnya akan tergurat dalam batinmu—sebentuk luka dan amarah yang kau tidak tahu bagaimana cara menghapusnya.

Kadang-kadang, dengan perasaan getir, aku berpikir bahwa anak-anak miskin yang tetap miskin saat dewasanya justru lebih baik... karena mereka "tidak menyadari apa yang telah terjadi, dan bisa tenang menjalani kehidupan". Tidak ada kegelisahan, tidak ada amarah, tidak ada luka.

Yang paling menyakitkan adalah ketika kau menyadari apa yang sebenarnya terjadi—hal-hal yang telah merusakmu sebegitu dalam—dan... akhirnya, kau pun akan memahami mengapa di dunia ini ada Thanos, Magneto, dan En Sabah Nur. Kesadaran bisa menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan.

Dalam bahasa filosofis, yang melukaimu sebenarnya bukan kemiskinan dan kebodohan... tapi kesadaran terkait keduanya.

Kalau ocehan ini aku lanjutkan, bisa jadi sampai subuh nanti belum juga selesai. Jadi cukup saja sampai di sini. Sebagai penutup, aku ingin mengakui sesuatu...

Aku belajar sangat keras, bukan karena ingin pintar. Tapi karena menyadari betapa merusaknya dampak kebodohan.

Aku bekerja sangat keras, bukan karena ingin kaya. Tapi karena tahu betapa mengerikannya dampak kemiskinan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Desember 2019.

Wanita di Jalan Raya

Tadi, dalam perjalanan pulang, ada dua cewek ABG boncengan naik motor matik, melaju di depanku. Lumayan kencang, dan kami di jalan satu arah. Di pertigaan jalan, tiba-tiba cewek itu menyalakan sein kanan, dan langsung belok kanan. Mati-matian aku ngerem, agar tidak nabrak mereka.

Tapi peristiwa itu rupanya belum selesai. Begitu cewek ABG tadi belok kanan, sebuah Yaris melaju ke arah mereka. Yaris itu mungkin kaget, karena tiba-tiba ada motor di depannya, dan tidak mampu mengerem. Lanjutannya tak perlu kujelaskan, kalian bisa membayangkannya sendiri.

Sebagian orang mengira bahwa menyalakan lampu sein saja sudah cukup. Mereka merasa tak perlu melihat spion apalagi menengok ke belakang. Mungkin benar, kalau mereka menyalakan sein sejak 10 meter sebelum belok. Tapi kalau beloknya mendadak, mbok lihat spion dulu. Apa susahnya?

Tanpa bermaksud misoginis (misoginis kuwi opo?), hal-hal kayak gitu lebih sering dilakukan perempuan daripada laki-laki. Setidaknya berdasarkan pengalaman pribadi. Saat berkendara di jalan raya, perempuan seperti merasa jalan raya itu miliknya. Akibatnya kurang hati-hati.

Selain kurang hati-hati, perempuan juga kurang tepo sliro pada kendaraan lain (mungkin karena menganggap jalan raya miliknya). Sifat tercela ini akan sangat tampak, kalau kita berhenti di tengah jalan, dengan maksud untuk menyeberang. Pengendara perempuan tidak (pernah) peduli!

Kalau ke rumah ortu, aku harus masuk gang di kanan jalan. Biasanya, aku akan menghentikan kendaraan di tengah jalan, dengan sein kanan menyala, menunggu lalu lintas dari depan sepi. Biasanya pula, pengendara laki-laki akan tepo sliro, mereka akan melambatkan laju kendaraan.

Rata-rata pengendara laki-laki paham; kalau ada kendaraan di depan yang mau menyeberang, mereka akan melambatkan laju kendaraannya, memberi kesempatan pada orang lain untuk menyeberang. Tapi pengendara perempuan... tidak! Bahkan tidak pernah! Setidaknya, aku belum pernah melihat!

Sudah jutaan kali aku menghitung. Tiap kali aku akan menyeberang jalan, pengendara laki-laki akan melambatkan lajunya, bahkan sampai menghentikan kendaraannya, memberiku kesempatan untuk menyeberang. Tapi pengendara perempuan terus saja melaju kencang, tanpa tepo sliro.

Soal ini, dan soal belok mendadak tadi, sebenarnya cuma secuil masalah yang biasa ditunjukkan perempuan saat berkendara di jalan raya. Tentu tidak semua wanita begitu. Tapi banyak yang begitu. Mereka seperti berpikir jalan raya adalah miliknya, dan persetan dengan orang lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Agustus 2020.

Ternyata Nabilah Kuliah di UPH

Baru tahu kalau Nabilah ternyata kuliah di UPH. Selama ini aku ngira dia kuliah di UI. 

Untung aku belum sempat daftar ke UI. Apeuh.

OTW daftar kuliah di UPH. Apppeeeeeuuuhh...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Mei 2020.

Noffret’s Note: Cuaca Gak Jelas

Cuaca gak jelas, ditambah wabah gak jelas, dan sekarang badanku kerasa gak jelas, akhirnya cokelat hangat diganti jahe hangat.

Gak apa-apa, yang penting tetap hangat. Apeu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 April 2020.

Mimpi Buruk Corona

Kasus corona di Indonesia akhirnya tembus 100 ribu. Ini seperti mimpi buruk yang benar-benar jadi kenyataan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Juli 2020.

Selasa, 01 Juni 2021

Kebangsatan Struktural dan Sistemik

Lagi nunggu seseorang untuk makan siang bareng. Iseng buka Twitter, ternyata ribut-ribut kemarin belum selesai. 

Dan karena aku juga kebetulan lagi selo, jadi gatel ingin ikut ngoceh.

Orang mau punya anak atau tidak, sebenarnya hak dan pilihan masing-masing. Karena adanya "hak dan pilihan" itulah, lalu muncul tanggung jawab. Karenanya, hal penting terkait ini sebenarnya bukan apakah seseorang mau punya anak atau tidak, tapi kesadaran diri.

Tidak usah sampai punya anak, wong menikah pun sebenarnya butuh kesadaran diri. Sampai sekarang aku tidak/belum menikah juga karena dilatari hal itu; karena sadar belum layak melakukannya. Daripada nantinya malah menelantarkan pasangan (dan anak), aku memilih menahan diri.

Yang susah, kita hidup di tengah masyarakat yang suka rese. Orang tidak/belum menikah karena sadar belum layak melakukan, malah dinyinyiri dan terus-terusan ditanya kapan kawin. Sementara yang sudah menikah, dinyinyiri dan terus menerus ditanya kapan punya anak.

Bahkan yang sudah punya satu anak pun masih dinyinyiri dan ditanya kapan nambah anak. Masyarakat kita sepertinya belum dapat hidup tenteram kalau belum melihat kita menikah dan punya anak-anak. Kondisi itu menjadikan banyak orang tertekan dan (tanpa sadar) terpaksa melakukan.

Aku percaya, ada banyak orang (laki-laki maupun perempuan) yang sadar mereka belum layak menikah, terlepas apa pun alasannya. Kesadaran itu pun menjadikan mereka damai menjalani hidup meski sendirian (tanpa pasangan). Bagi mereka, tidak apa-apa menjadi lajang, asal hidup damai.

Tapi sistem sosial kita seperti menempatkan para lajang (laki-laki maupun perempuan) di kasta terendah; dianggap belum "sempurna" jika belum menikah. Karenanya, meski mereka—para lajang—hidup bahagia, masyarakat tidak rela. Masyarakat terus menyinyiri kapan mereka menikah.

Di bawah tekanan masyarakat semacam itu, tidak semua orang kuat. Sebagian mereka lalu terpaksa menikah, demi membungkam nyinyiran masyarakat, agar bisa hidup damai.

Tapi mereka salah sangka. Ketika mereka menikah, masyarakat masih nyinyir, kali ini bertanya kapan punya anak.

Ada banyak pasangan yang hanya punya satu anak, meski telah menikah bertahun-tahun. Pasangan semacam itu biasanya memang memilih untuk punya satu anak, biar fokus mendidik dan membesarkannya, atau pun karena alasan lain. Tapi masyarakat sering kali "tidak rela" dan terus nyinyir.

Sekali lagi, di bawah tekanan nyinyiran masyarakat, tidak semua pasangan kuat. Sebagian dari mereka lalu punya beberapa anak, demi membungkam nyinyiran masyarakat. Dan ketika pasangan dengan banyak anak itu menjalani kehidupan susah, apakah masyarakat peduli? Sering kali tidak!

Boro-boro peduli, masyarakat kadang malah menyalahkan, "Sudah tahu hidup susah, tapi punya banyak anak!" Padahal masyarakatlah yang menciptakan kondisi itu. Tapi mereka hanya terus nyinyir, sementara konsekuensi dan tanggung jawabnya ada pada pasangan yang punya anak.

Kita sering meributkan kemiskinan struktural atau kemiskinan sistemik, dan sering lupa bahwa salah satu penyebabnya adalah masyarakat; orang-orang di sekitar kita hidup. Nyinyiran merekalah yang melahirkan sekian juta anak terluka, kelaparan, terpinggirkan, dan dilupakan.

Bisa jadi, kita bagian dari anak-anak itu—yang terlahir untuk tumbuh besar dan dewasa, dan menyadari tak punya privilese, lalu diam-diam mengutuk dunia tidak adil karena orang lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki. Sebagian dari kita bahkan terluka tanpa pernah sembuh.

Kini, bersama kedewasaan dan kematangan nalar, kita mulai sadar apa yang sebenarnya terjadi. Tentang orang tua kita, kondisi hidup yang kita hadapi, dan apa yang mungkin terjadi jika kita mengulang hidup orang tua; menikah dan punya anak. Tapi apakah masyarakat peduli? Tidak.

Masyarakat tidak peduli apa yang kita pikirkan, karena yang mereka pedulikan hanyalah apakah kita menikah dan punya anak-anak atau tidak! Dan mereka selalu punya setumpuk alasan agar kita cepat kawin dan beranak-pinak. Untuk hal itu, mereka bahkan punya setumpuk iming-iming.

"Menikah akan membuatmu bahagia dan lancar rezeki," kata masyarakat. Dan ketika pernikahan kita bermasalah, mereka punya taktik lain, "Cobalah punya anak-anak, karena anak akan bla-bla-bla."

Lalu siklus dimulai. Anak-anak kita mengulang kehidupan kita, dan begitu seterusnya.

Tentu aku percaya, ada banyak pernikahan bahagia, rumah tangga tenteram, dan anak-anak tumbuh dengan baik juga sehat. Tapi akui sajalah, tidak semua pernikahan/keluarga pasti begitu. Kita yang sering meributkan privilese orang lain, biasanya berasal dari keluarga yang bermasalah.

Orang kadang sinis dan mengatakan, "Ocehan orang yang tak pernah miskin tidak perlu didengarkan, karena cuma omong-kosong." Kalau ada yang berpikir begitu, percayalah, aku pernah miskin, bahkan mungkin lebih miskin darimu. Jadi aku tahu, benar-benar tahu, apa yang kuocehkan.

Jadi, apakah sebagian kita tidak boleh menikah dan punya anak, atau bagaimana? Bukan boleh atau tidak boleh, karena menikah dan punya anak adalah soal pilihan. Karena ia pilihan, setiap orang bertanggung jawab pada pilihannya. Dan tanggung jawab butuh kesadaran. Sesederhana itu

Waduh, kurang titik.

Ulangi, deh.

Sesederhana itu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Juli 2020.

Dark Joke Pernikahan

Wanita ini menyaksikan pernikahan dua kakaknya yang tidak bahagia, hingga ia memutuskan tidak menikah.

Aku telah menyaksikan yang jauh lebih mengerikan dari yang ia saksikan, dan karena itulah aku tertawa tiap mendengar iming-iming indahnya pernikahan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Oktober 2019.

Kasus-Kasus Kejahatan yang Aneh

Tempo hari ada kasus penyiraman air keras di Jakarta, dengan pelaku satu orang dan korban beberapa orang. Sekarang ada kasus pelemparan sperma di Tasikmalaya, dan lagi-lagi pelakunya satu orang, sementara korbannya beberapa orang.

Kedua pelaku kejahatan itu telah tertangkap. Sebagian kita mungkin bertanya-tanya, apa motivasi para pelaku melakukan kejahatan semacam itu?

Dari berita-berita yang kubaca, tidak ada penjelasan soal motivasi, padahal itu hal sangat penting terkait kasus kejahatan mereka.

Dalam pikiranku, motivasi kedua pelaku kejahatan itu adalah dominasi—suatu upaya mendominasi orang(-orang) lain yang dilatari rendahnya penilaian diri, atau bahkan kebencian pada diri sendiri. Mereka tidak mendapat keuntungan apa pun, selain kepuasan mendominasi.

Kasus-kasus semacam pembunuhan berencana, perampokan, pembegalan, dan semacamnya, mudah dipahami—karena si pelaku mendapat keuntungan yang jelas. Tapi kasus-kasus yang tidak menghasilkan keuntungan jelas pada si pelaku, biasanya dilatari masalah/kelainan psikologis.

Selama ini, misalnya, aku lebih percaya bahwa kasus perkosaan sebenarnya bukan dilatari motivasi "memuaskan nafsu pada si korban", tapi dilatari "keinginan mendominasi orang lain (korban)". Kalau kau laki-laki, dan waras, kau akan paham maksudku.

Karenanya, aku lebih percaya bahwa perkosaan sebenarnya bukan kejahatan yang dilatari oleh nafsu seks, tapi dilatari nafsu mendominasi. Laki-laki waras mana pun tentunya dapat berpikir, "Apa enaknya seks yang dilakukan dengan paksaan, dan buru-buru karena khawatir tertangkap?"

Jika memang pelaku perkosaan menikmati aktivitas perkosaan yang ia lakukan, maka kesimpulannya jelas; dia tidak waras atau mengidap kelainan. Itu sebelas dua belas dengan kelainan lain semisal sadisme, nekrofilia, paedofilia, zoofilia, beastiality, dan semacamnya.

Apakah kau bernafsu pada mayat, hingga ingin bercinta dengannya? Jawabannya tentu tidak. Tapi penderita nekofilia, ya—mereka bernafsu. 

Apakah kau bernafsu pada hewan, hingga ingin ngeseks dengannya? Jawabannya sama, tidak. Tapi penderita beastiality, ya—mereka horny pada hewan.

Pertanyaan sama bisa diajukan; apakah kau bisa bernafsu pada perempuan, hingga ingin memperkosanya saat itu juga? 

Jika jawabanmu tidak, kau tergolong laki-laki normal. Tapi jika jawabanmu ya, sebaiknya segera mencari pertolongan ahli yang berkompeten, karena itu tidak normal.

Bahkan tanpa harus menyinggung moral atau agama, kita sudah melihat bahwa perkosaan sebenarnya terjadi bukan karena pakaian si korban, tapi karena kelainan si pelaku. Yang jadi masalah, para penderita kelainan sering kali sulit mengakui apalagi menyadari kelainan yang diidapnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 November 2019.

Kecewa Nonton Parasite

Sejak awal, sejak ribut-ribut kehebohan soal Parasite sekian waktu lalu, saya sudah apatis dan benar-benar tidak tertarik dengan film itu. Saya yakin, isi film itu tidak akan cocok bagi saya. 

Lebih dari itu, saya sudah berkali-kali kecewa nonton film yang dihebohkan banyak orang. Hereditary, Us, Midsommar, dan lain-lain, dan lain-lain. Film-film itu heboh, dibicarakan banyak orang, bahkan sampai ndakik-ndakik, tapi saya kecewa ketika menontonnya. Film-film itu sama sekali bukan jenis favorit saya, dan saya merasa buang-buang waktu.

Jadi, ketika Parasite sama bikin heboh, saya benar-benar tidak tertarik. Bahkan sebelum menontonnya, saya sudah yakin akan kecewa jika nonton.

Lalu TransTV ikut menghebohkan film itu, dengan memutarnya di malam Valentine. Berita soal itu wira-wiri di timeline Twitter, dan saya terus menerus terpapar kehebohan Parasite yang akan tayang di TransTV. Sampai seperti itu, saya tetap tidak tertarik menonton.

Yang membuat saya mulai terusik dan penasaran adalah ketika ada perbincangan soal “adegan di sofa”. Admin akun Twitter TransTV menyatakan bahwa adegan itu “sudah jelas akan dipotong”. Pernyataan itu memantik rasa penasaran saya. Okelah, saya tidak tertarik dengan Parasite sebagai film. Tapi saya tertarik dengan “adegan di sofa”.

Jadi, saya pun akhirnya nonton film itu. Tidak di TransTV, tentu saja, demi bisa melihat “adegan di sofa”. Saya nonton Parasite dari awal sampai akhir, mencoba menghayatinya. Sampai adegan di sofa terlewati begitu saja, karena nyatanya biasa-biasa saja.

Akhirnya, ketika film itu benar-benar usai, saya bengong. 

Bengong, karena film kayak gitu aja bikin heboh berjuta umat. Dibanding kehebohan yang ditimbulkan, film itu benar-benar B aja. Dan saya, sebagaimana sudah saya perkirakan, benar-benar kecewa wawa wawa.

Noffret’s Note: Déjà vu

Catatan ini menguraikan déjà vu dengan bahasa sederhana, hingga mudah dipahami. Lumayan panjang. Tapi kalau kamu mau membaca sampai akhir, akan ada "plot twist" yang mencengangkan!


Istilah déjà vu pertama kali diperkenalkan Emile Boirac, psikolog Prancis yang mempelajari fenomena tersebut pada 1876.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Mei 2020.

Kamis, 20 Mei 2021

Cerita Lebaran

Baru kemarin lebaran, sudah mau lebaran lagi. 
Aku kelamaan tidur, atau bagaimana ini?


Salah satu kegiatan saya di saat lebaran adalah mengantar atau menemani ibu ke rumah famili. Baik famili dari pihak almarhum ayah maupun famili dari pihak ibu. Tidak terlalu banyak, tapi juga tidak bisa dibilang sedikit. Untuk keperluan silaturahmi itu, setidaknya kami butuh waktu sekitar seminggu.

Namanya silaturahmi antarfamili, kami pun mengobrol akrab, membicarakan hal-hal di seputar keluarga kami, khususnya dalam suasana lebaran. Ada yang bercerita tentang banjir di kompleks tempat tinggalnya, ada yang cerita tentang anggota keluarga yang tidak bisa mudik karena ada larangan, sampai ada pula famili yang bercerita tentang rencana menikahkan anaknya. Dan lain-lain semacam itu.

Di antara banyak cerita yang saya dengar selama mengunjungi para famili, ada satu cerita yang saya anggap menarik, karena mengandung “plot twist”.

Pada hari keempat lebaran, saya dan ibu mengunjungi salah satu famili yang rumahnya dekat jalan raya. Famili yang kami kunjungi itu punya anak, bernama Diki. Dalam keseharian, Diki suka otak-atik motor. Karena tidak punya tempat khusus untuk hal itu, dia pun mengotak-atik motornya di depan rumah. Yang diotak-atik ya motornya sendiri.

Pada lebaran hari kedua, siang menjelang sore, Diki sedang asyik dengan motornya di depan rumah. Lalu muncul seorang pria mengendarai motor, dan seketika berhenti ketika melihat Diki. Pria itu turun, dan bertanya pada Diki, “Mas, sini bengkel, ya?”

Ketika mendapat pertanyaan itu, yang ada dalam pikiran Diki adalah; pria itu mungkin sedang butuh bengkel untuk membetulkan sesuatu pada motornya, tapi di mana-mana bengkel motor tutup karena sedang suasana lebaran. Jadi, dengan itikad baik—siapa tahu bisa membantu—Diki menjawab, “Ya.”

Pria asing itu lalu bertanya, “Bisa memasang paking knalpot?”

Sekali lagi Diki menjawab, “Ya.”

Pria itu kelihatan lega.

Packing atau paking knalpot adalah benda berbentuk lingkaran (seperti cincin, tapi berukuran lebih besar) yang dipasang pada ujung knalpot, sebelum dipasang ke mesin motor. Salah satu fungsinya untuk meredam suara knalpot. Sebagian bengkel motor biasa menyebutnya perpak (verpak).

Fungsi paking atau perpak adalah “menutup lubang” antara knalpot dengan mesin motor, hingga benar-benar rapat. Tanpa paking, suara knalpot akan terdengar kasar, karena “bocor”. Seiring waktu, paking knalpot juga akan aus, dan suara knalpot akan makin kasar, sehingga perlu diganti paking yang baru. 

Harga paking knalpot tidak mahal, tergantung jenis motor, namun fungsinya tergolong penting. Karena ia menutup lubang antara knalpot dengan mesin, dan meredam suara bising. 

Sebenarnya, cara memasang paking knalpot tidak sulit, asal kita punya kunci atau obeng yang pas. Sayang, tidak semua orang punya alat-alat mekanik semacam itu, sehingga lebih memilih menyerahkan urusan tersebut pada bengkel. Sepertinya, hal itu pula yang terjadi pada pria asing yang mendatangi Diki tadi.

Diki menghidupkan mesin motor pria asing itu, dan mendengar suara knalpot yang keras sekaligus kasar. Dia tahu kalau paking knalpot motor itu memang perlu diganti. Jadi, dia pun melepas knalpot, mencopot paking yang lama—yang sudah aus—lalu mengganti dengan paking baru yang telah disiapkan si pemilik motor. Bagi Diki, itu pekerjaan mudah, dan dalam beberapa menit sudah selesai.

Setelah urusan itu beres, pria asing tadi bertanya berapa biayanya, khas orang menanyakan biaya pada pekerja di bengkel. 

Karena tujuan awalnya hanya sekadar membantu, Diki menjawab, “Tidak usah, Mas.”

Tapi pria tadi memaksa, hingga akhirnya Diki menyatakan, “Ya sudah, seikhlasnya saja.”

Pria itu menyerahkan selembar uang, mengucapkan terima kasih, lalu pergi.

Lalu di mana plot twist-nya?

Plot twist-nya terjadi ketika saya dolan ke rumah seorang teman, bernama Lukman. Dalam rangka lebaran, saya mengunjunginya, dan Lukman menceritakan pengalaman yang, menurutnya, aneh.

“Seumur-umur,” kata Lukman, “aku baru kali itu menemukan bengkel yang tidak mau dibayar.”

Lalu Lukman menceritakan. Sehari menjelang lebaran, motor miliknya bermasalah, yaitu suara knalpotnya lebih bising hingga tidak nyaman dikendarai, karena bisa mengganggu orang lain. Lukman tahu, masalah itu disebabkan paking knalpot yang aus, dan perlu diganti. Jadi, dia pun ke toko onderdil motor, dan membeli paking. Yang jadi masalah, dia kesulitan menemukan bengkel motor untuk memasangkannya.

Bengkel semakin sulit ditemukan saat lebaran tiba. Hari pertama lebaran, Lukman hanya berkeliling jalan, mencari bengkel yang mungkin bisa ditemukan, untuk memasang paking agar suara knalpotnya tidak bising. Tapi tidak ada satu pun bengkel yang ia temukan, karena semua orang waktu itu pasti sedang merayakan lebaran.

Lukman agak stres, karena dia butuh motor untuk urusan silaturahmi keluarga ala lebaran, tapi motor itu sangat tidak pantas diajak silaturahmi, karena suaranya mengerikan.

Memasuki lebaran hari kedua, Lukman kembali keliling jalan, mencari bengkel yang mungkin ada, agar dia bisa segera silaturahmi ke para famili dengan nyaman. Tapi tempat-tempat yang biasa terdapat bengkel, waktu itu kosong. Lukman terus mencari, menelusuri jalanan ramai maupun jalanan sepi, sampai sangat jauh dari tempat tinggalnya. 

Lalu siang menjelang sore, Lukman mendapati seorang pria sedang mengutak-atik motor di depan rumah, di dekat jalan raya. Dia sangat bersuka cita, karena akhirnya menemukan bengkel yang buka.

“Jadi,” kata Lukman, “aku pun segera berbelok ke sana, mendatangi bengkel itu, dan kebetulan orangnya bisa memasang paking knalpot. Aku benar-benar lega waktu itu.”

Lalu ia melanjutkan, “Ketika akhirnya paking knalpot selesai dipasang, dan suara motorku kembali normal, aku tanya berapa biayanya. Tapi anehnya dia tidak mau dibayar. Sampai akhirnya aku memaksa dia menerimanya. Bagaimana pun, aku sangat bersyukur karena menemukannya. Seumur-umur, baru kali itu aku menemukan ada bengkel yang tidak mau dibayar. Padahal biasanya bengkel-bengkel justru menaikkan harga ketika buka di hari lebaran.”

Ketika mendengar cerita itu, saya pun teringat cerita Diki sebelumnya, tentang seorang pria yang mendatanginya, dan memintanya untuk mengganti paking knalpot. Jadi, saya mengonfirmasikan hal itu ke Lukman. Saya tanya di mana tempat dia menemukan bengkel itu, dan seperti apa ciri-ciri orang yang membantunya.

Lukman menjelaskan lokasi bengkel tadi, dan tempatnya pas di rumah Diki. Ketika Lukman menyebutkan ciri-cirinya, saya pun tahu itu Diki.

Lalu Lukman bertanya, “Ada bengkel yang buka di hari raya, dan kebetulan sangat membantu mengatasi masalahku. Tapi dia tidak mau dibayar, sampai aku memaksa membayarnya. Menurutmu kenapa, kira-kira?”

Sambil menahan senyum, saya menjawab, “Menurutku, tempat yang kamu datangi itu bukan bengkel.”

Yang Benar di Masa Lalu Belum Tentu Benar di Masa Sekarang

Ada hal-hal yang sebenarnya buruk bahkan jahat, tapi dianggap baik atau biasa, semata-mata karena orang-orang terus dan terus dan terus melakukannya. Sebegitu sering hal-hal buruk atau jahat itu dilakukan banyak orang, akhirnya jadi terkesan biasa... padahal buruk dan jahat.

Kita mengenal kebiasaan buruk zaman kuno yang disebut “budaya jahiliyah”, yaitu hal-hal yang dianggap buruk oleh orang-orang beradab. Di antara kebiasaan atau budaya jahiliyah adalah mengubur anak perempuan hidup-hidup, sampai kawin mawin (poligami) tanpa batas. 

Di masa jahiliyah, mengubur anak perempuan hidup-hidup tidak dianggap buruk. Kenapa? Karena ada banyak orang yang melakukan, dan sistem sosial di masa itu memang mengizinkannya, karena anak perempuan dianggap kutukan, dan memilikinya dianggap beban. 

Di masa beradab sekarang, mengubur anak perempuan—atau anak laki-laki—hidup-hidup bukan hanya sebentuk perbuatan tak bermoral, tapi juga kejahatan. Perbuatannya sama (mengubur anak hidup-hidup, apa pun alasannya), tapi sistem nilai sudah berubah lebih beradab.

Dari contoh itu saja, kita melihat bahwa sesuatu yang di masa lalu dianggap benar atau biasa, belum tentu relevan jika diterapkan di masa sekarang. Begitu pula mengawini banyak perempuan sekaligus, di masa jahiliyah mungkin biasa, tapi tidak di masa beradab sekarang.

Dan hal-hal semacam itu tidak hanya sebatas mengubur anak atau poligami tanpa batas, tapi juga mencakup hal-hal lain. Ada banyak hal yang mungkin tampak benar atau biasa ketika dilakukan di masa lalu, tapi kini dianggap tidak beradab. Salah satunya bertanya, “Kapan kawin?”

Di masa lalu, setidaknya di masa leluhur kita, bertanya “kapan kawin?” atau “kapan punya anak?” mungkin dianggap benar atau biasa. Tetapi, di zaman sekarang, pertanyaan semacam itu sudah dianggap tidak sopan sekaligus tidak beradab. Itu serupa dengan kebiasaan jahiliyah!

Faktanya, hampir tidak ada orang yang senang atau nyaman ketika ditanya “kapan kawin?” atau “kapan punya anak?”. Karena pertanyaan itu memang tidak beradab, sekaligus sudah tidak relevan di zaman sekarang. Kapan kawin atau kapan punya anak adalah hal privat orang per orang. 

Senang

Senang melihat wanita-wanita yang malam Minggu bisa asyik ngetwit.

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Juni 2020.

Noffret’s Note: Misleading

Masalah di Twitter dari dulu tampaknya memang konteks. Ruang di Twitter sangat terbatas, dan kita tidak mungkin menjelaskan maksud secara detail tiap kali menulis teks. Jika orang lain menangkapnya secara keliru, yo wis, hasilnya misleading.

Seperti twit ini, misalnya. Sebagian orang mungkin mengira aku sedang membicarakan twitku sendiri, yang dipahami orang lain secara keliru. Padahal tidak begitu. Aku sedang membicarakan twit orang lain yang disalahpahami orang lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Juli 2020.

Noffret’s Note: DM

Beberapa waktu terakhir DM-ku terbuka, dan aku telah berusaha membalas pesan-pesan yang masuk, sebaik yang aku bisa. Khususnya untuk pesan-pesan yang memang membutuhkan jawaban/balasan. Aku tidak mungkin membalas semuanya, jadi mohon maaf kalau kebetulan DM-mu tidak terbalas.

Hal-hal sederhana yang bersifat umum, yang bisa dibicarakan secara terbuka, mestinya tidak perlu menggunakan DM, tapi cukup lewat reply atau mention. Itu lebih memudahkan si pengirim maupun si penerima, karena pesan akan lebih mudah terlihat, karena tidak menumpuk di boks DM.

Hari ini DM kututup lagi seperti semula. Sila gunakan reply atau mention atau fitur lain yang disediakan Twitter secara terbuka, jika ada yang ingin disampaikan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Mei 2020.

Senin, 10 Mei 2021

Hikmah Pandemi

Suwi-suwi, dirasak-rasakke, corona iki pancen asu.
Banyak urusan terhambat gara-gara corona. Banyak hal 
terpaksa mandeg gara-gara corona. Sampai aku mau cek 
ke dokter aja harus batal gara-gara corona.


Kita sering diajar agar menemukan hikmah di setiap hal yang kita hadapi, termasuk musibah. Bahkan ada pepatah terkenal, “Selalu ada hikmah di balik musibah”—meski yo mbuh kabeh.

Saya menyebut “mbuh kabeh”, karena pencarian hikmah di balik hal-hal [tidak mengenakkan] yang kita hadapi—wabilkhusus musibah—sebenarnya upaya manusiawi untuk ngadem-ngademi diri sendiri. Kita tertekan menghadapi masalah atau musibah, dan insting manusiawi kita menuntun untuk mencari “hikmah” di balik masalah atau musibah itu, yang sebenarnya adalah cara kita menenangkan diri sendiri atau ngadem-ngademi ati.

Dengan kata lain, masalah/musibah yang kita hadapi sebenarnya belum tentu atau bahkan tidak mengandung hikmah apa-apa. Tapi kita berusaha [bahkan memaksa] menemukannya, sehingga akhirnya “menemukannya”. Temuan hikmah atas masalah/musibah itu pun biasanya relatif dan subjektif, karena memang merupakan refleksi pikiran dan pengalaman orang per orang.

Contoh. Si A mengalami kecelakaan di jalan. Bagi kita, Si A mengalami kecelakaan di jalan—titik. Tapi Si A bisa jadi tidak mau menerima realitas itu begitu saja. Fakta bahwa dia mengalami kecelakaan di jalan, bagi Si A, pasti mengandung hikmah tertentu, dan ia merasa harus menemukannya. Itu insting alami Homo sapiens dalam bertahan hidup—ia butuh ngadem-ngademi diri sendiri.

Karena Si A mencari “hikmah” di balik peristiwa kecelakaan yang dialaminya, dia pun akhirnya menemukan—atau setidaknya, dia merasa begitu. Dan apa hikmah dari kecelakaan itu? Yang paling tahu tentu Si A, karena dia yang mengalami kecelakaan, dan dia pula yang berusaha mencari hikmahnya. Mungkin subjektif bagi kita, tapi mungkin pula tidak bagi Si A. Karena begitulah “hikmah” bekerja—ia menenangkan hati si pencari.

Sekarang, dunia sedang menghadapi pandemi global, termasuk Indonesia. Setelah muncul di Wuhan, virus tak kasatmata bernama Covid-19 mengalir ke mana-mana, ke segala penjuru dunia, menyentuh hampir semua tempat di muka bumi. Cina, khususnya Wuhan, pernah lumpuh. Lalu Amerika runtuh. Belakangan, India yang berantakan. Dan perjalanan virus itu sepertinya belum akan selesai.

Indonesia juga termasuk negara yang diamuk pandemi, dan kita sudah hidup bersama virus tak terlihat itu lebih dari setahun. Lebaran tahun kemarin, kita sudah berhadapan dengan Covid-19. Lebaran tahun ini, kita masih berhadapan dengan virus yang sama. Dan ada kemungkinan—meski kita tidak berharap—lebaran tahun depan juga masih sama.

Sekarang, mari kita bertanya—menanyakan pada diri sendiri—apa hikmah di balik pandemi yang kini kita hadapi? Sedikit maksa tidak apa-apa, karena “hikmah” biasanya baru ditemukan setelah kita sedikit maksa menemukannya. 

Hikmah pandemi—kalau kita benar-benar menemukannya—bisa jadi, dan hampir pasti, akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. Karena kehidupan yang kita hadapi memang berbeda, dengan latar sosial dan aktivitas berbeda. 

Bagi saya, yang tinggal di kota kecil, sebenarnya pandemi tidak terlalu memberi dampak yang besar. Dulu, waktu ribut-ribut pandemi baru terdengar, Pekalongan memang sempat menunjukkan “kehati-hatian”, sampai pernah ada jam malam segala. Tapi setelah itu, semuanya kembali tampak biasa-biasa saja. Meski sewaktu-waktu Satpol PP terlihat melakukan razia masker atau membubarkan kerumunan.

Nyatanya, kasus kematian akibat Covid-19 di Pekalongan memang sangat rendah, dibanding, misalnya, Jakarta. Karenanya, yang dihadapi orang-orang di kota besar, terkait pandemi, pasti berbeda dengan yang dihadapi orang-orang di kota kecil. Di Jakarta, tingkat kewaspadaan terhadap pandemi—sekaligus dampaknya—pasti lebih tinggi dibanding tingkat kewaspadaan dan dampak pandemi di Pekalongan, atau kota-kota kecil semacamnya.

Jadi, bagi saya, apa hikmah di balik pandemi yang sekarang kita hadapi? Jawabannya mungkin terdengar maksa, atau bahkan subjektif, tapi ya tidak apa-apa. Toh kalian juga bisa melakukan hal serupa.

Hikmah pertama yang paling terasa bagi saya adalah dampak positif larangan mudik.

Dulu, tiap kali lebaran akan datang, jalan-jalan utama di Pekalongan akan banyak disekat atau bahkan ditutup, untuk memudahkan laju para pemudik. Selalu ada banyak pemudik yang melewati Pekalongan tiap lebaran menjelang, sehingga banyak jalan raya yang tiba-tiba penuh sesak dengan bus, mobil-mobil pribadi, sampai para pengendara motor dengan tas-tas ransel besar. Mereka semua akan mudik ke tempat tinggal masing-masing, dan kebetulan melalui rute lewat Pekalongan.

Karena banyaknya pemudik yang lewat, banyak jalan utama di Pekalongan yang sengaja disiapkan untuk memuluskan perjalanan mereka. Misal, perempatan-perempatan jalan akan “dinonaktifkan”. Jalan raya-jalan raya yang tidak dilalui para pemudik akan ditutup, sehingga tidak ada lagi persimpangan di perempatan. Semua kendaraan pemudik bisa “bablas” dengan leluasa melewati perempatan demi perempatan. 

Untuk memastikan pengaturan itu berjalan dengan baik, pos-pos polisi dibangun di banyak tempat, dan banyak petugas yang berjaga di sepanjang jalan.

Dari sisi pemudik, pengaturan semacam itu sangat membantu mereka. Tetapi, dari sisi warga lokal yang hidup di Pekalongan, pengaturan semacam itu sangat membingungkan, bahkan menjengkelkan. Bagi pebisnis yang butuh mobilitas tinggi, pengaturan/penutupan jalan itu juga sangat merugikan. Karena kami tidak bisa ke mana-mana secara leluasa. Mau ke tempat A, jalan raya disekat. Mau ke tempat B, jalan raya ditutup. Selama pengaturan itu, saya bahkan tidak bisa ke rumah orang tua, karena harus melewati jalan utama, dan jalan utama selalu ditutup menjelang lebaran, karena dilewati pemudik.

Pekalongan benar-benar berubah di masa-masa itu, ketika ribuan pemudik melewati jalan-jalan di kota kami. Kota yang biasanya tenang dan biasa-biasa saja, berubah menjadi kota yang sangat sibuk. Ribuan kendaraan melaju nyaris tanpa henti, dari pagi sampai pagi lagi. Pos-pos polisi tampak sibuk. Ada yang menangani kecelakaan pemudik, ada yang mengatur lalu lintas yang semrawut, sementara petugas lain—melalui pengeras suara—tak henti mengingatkan pemudik agar hati-hati. 

Dan semua kehebohan itu telah dimulai sejak pertengahan Ramadan sampai, setidaknya, sebulan setelah lebaran. Artinya, mobilitas warga lokal terhambat sampai sekitar satu bulan!

Kini, dengan adanya pandemi, mudik dilarang. Tanpa mengurangi simpati kepada mereka yang terhalang aturan itu—dan bisa jadi bersedih hati—saya ingin mengakui bahwa larangan mudik itu membawa hikmah bagi warga seperti saya. Dengan adanya larangan mudik, Pekalongan tetap menjadi kota yang biasa, seperti biasa. Menjelang lebaran, tidak ada lagi jalan-jalan raya yang disekat atau ditutup, dan warga lokal bisa bebas bergerak menjalankan aktivitas dan kesibukan masing-masing.

Itu hikmah pertama dari pandemi yang saya rasakan, khususnya terkait lebaran. Hikmah kedua dan seterusnya, sebaiknya tidak usah saya ungkapkan, karena bisa jadi isinya tidak ingin kalian dengar.

Malena, Malena

Apakah kau mengenal Renato Amoroso? Mungkin tidak, karena dia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah bocah yang tidak pernah dilihat siapa pun, yang sering kali sulit berkata-kata, dan menyimpan terlalu banyak hal di kepalanya. Renato Amoroso adalah bocah dalam film Malena.

Untuk kesekian kali, tadi, aku menonton Malena, dan menyaksikan keindahan Monica Bellucci, juga melihat diriku sendiri dalam wujud Renato Amoroso. Dia jatuh cinta pada Malena, wanita yang lebih tua, dan dalam khayalnya dia berkata, “Tunggu sampai aku beranjak dewasa.”

Tapi Renato tak pernah dewasa, tentu saja—karena dia adalah bocah. Seorang bocah yang sendirian ke mana-mana, bersama sepedanya yang setia, dan memendam perasaan yang tak pernah ia ungkapkan kepada siapa pun. Bahwa dia selalu menjadi bocah, dan jatuh cinta pada Malena.

Di akhir film, dalam solilokui, Renato berbisik, “Kupacu sepedaku sekuat tenaga, layaknya sedang melarikan diri. Dari masa lalu, dari keluguan, dari dirinya.”

Tapi dia tahu tak pernah bisa melarikan diri; dari masa lalunya, dari keluguannya, karena dia akan selalu menjadi bocah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Juni 2020.

Optimus Prime Naik Dinosaurus

Menyaksikan hal itu, jiwa bocahku bergetar.

Michael Bay mungkin wali.

Noffret’s Note: Kismis

Memasuki waktu Indonesia bagian mencemplungkan butir-butir kismis ke dalam cokelat hangat, lalu udud dengan nikmat...

Baru tahu kalau ternyata banyak orang, khususnya di Twitter, yang tidak suka kismis. Padahal enak, menurutku. Apalagi kalau dicemplungkan ke cokelat hangat, lalu dikunyah bersama cairan cokelat yang kental. 

Ditambah udud, tentu saja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26-27 September 2020.

Noffret’s Note: Bu Tejo

"Bu Tejo adalah kita."

Hahaha... jangan suka generalisasi gitu, lah. Kalau kamu merasa seperti itu, bukan berarti semua orang pasti seperti kamu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Agustus 2020.

Sabtu, 01 Mei 2021

Cinta di Kota Kecil

Kita punya sejuta alasan untuk jatuh cinta. 
Tapi sering kali hanya satu yang masuk akal.


Orang yang tinggal di kota besar (misal Jakarta) umumnya memiliki gaya hidup dan cara berpikir yang berbeda, dibanding orang yang tinggal di kota kecil (misal Pekalongan). Ini tentu alamiah, karena orang yang tinggal di kota besar menghadapi tantangan yang berbeda—biasanya lebih besar—dibanding orang yang tinggal di kota kecil. 

Bukan hanya cara berpikir, bahkan ciri fisik sampai kebiasaan dan gaya hidup pun sering kali juga berbeda. Di media sosial, misalnya, saya bisa tahu mana wanita yang tinggal di kota besar dan mana wanita yang tinggal di kota kecil, karena perbedaannya sangat terlihat—setidaknya di mata saya. 

Omong-omong soal media sosial, saya jadi membayangkan. Andaikan kita—atau saya, deh—jatuh cinta pada seorang wanita yang saya lihat di media sosial, dan kebetulan dia tinggal di Jakarta, misalnya, sejuta tanda tanya akan berseliweran di benak saya. 

Andai dia menerima saya sebagai pacar, mungkin masalahnya belum terlalu terlihat, selain masalah LDR karena jarak yang jauh; dia di Jakarta, saya di Pekalongan. Tapi jika sudah sampai pada tahap yang lebih serius—saat kami sepakat dan mantap untuk menikah—masalah besar bisa terjadi. Karena dalam hal ini bukan hanya dua orang yang akan disatukan, tapi juga dua kebiasaan, dua cara berpikir, dan dua gaya hidup.

Seperti yang disebut tadi, gaya hidup orang yang tinggal di kota besar berbeda dengan gaya hidup orang yang tinggal di kota kecil. Pacar saya, yang tinggal di Jakarta, tentu memiliki gaya hidup yang jelas berbeda dibanding saya yang tinggal di Pekalongan. Masalah pertama; maukah dia tinggal di rumah saya [maaf, rumah kami], di Pekalongan, yang jelas jauh berbeda dengan Jakarta?

Orang yang semula tinggal di kota besar, lalu pindah ke kota kecil, itu serupa ikan yang semula hidup di lautan pindah ke akuarium. Perbedaannya sangat terasa. Di Jakarta, aneka fasilitas tersedia. Di Pekalongan, belum tentu. Bioskop, sebagai contoh. Saat saya menulis catatan ini, di Pekalongan [sedang] tidak ada bioskop—semula ada, di swalayan, tapi swalayan ini kebakaran, dan sampai sekarang belum ada bioskop lagi.

Itu baru satu hal, masalah pertama: Maukah pacar [atau calon istri] saya tinggal di Pekalongan, di rumah yang saya bangun untuk hidup kami? Ah, ya, saya punya rumah yang layak untuk ditinggali, dan dia tinggal masuk—dan menjadi ratu di dalamnya—tanpa harus repot mikir KPR. Masalahnya cuma, dia mau atau tidak?

Bahkan jika dia bersedia, kami masih harus menghadapi masalah selanjutnya; kebiasaan dan gaya hidup.

Seperti yang disebut tadi, orang yang tinggal di kota besar lalu pindah ke kota kecil seperti ikan di laut pindah ke akuarium. Orang yang tinggal di kota besar biasanya juga punya hobi ala orang kota besar. Misalnya traveling. Jika kebetulan pacar (calon istri) saya juga begitu, benturan kebiasaan akan terjadi. Dia biasa keluyuran ke mana-mana, saya biasa damai tinggal di rumah.

Saya orang rumahan, yang tenteram tinggal di rumah. Jika punya mbakyu (maksudnya punya istri), saya ingin tetap seperti itu; damai di rumah. Kalau pun keluar, paling ke swalayan untuk belanja kebutuhan tertentu. Bahkan salah satu alasan besar saya mau punya pasangan—hingga bersedia menikah—karena tidak ingin keluar rumah untuk cari makan!

Mungkin saya termasuk pria “kuno”, dan sejujurnya saya sangat mengharapkan pasangan yang pintar masak, lebih spesifik; memasak masakan tradisional! 

Masalah yang saya hadapi setiap hari adalah urusan mencari makan. Untuk makan, saya harus keluar rumah, dan itu artinya harus berurusan dengan kemacetan, aneka kegilaan di jalan, atau bahkan hujan. Dan saya harus menghadapinya setiap hari, setiap malam. 

Tolong tidak usah menyarankan pesan makanan ala GoFood—saya punya pertimbangan sendiri kenapa tidak pernah tertarik melakukannya. 

Jika kelak menikah, saya ingin masalah sehari-hari itu hilang. Artinya, saya bisa makan di rumah tanpa harus repot keluyuran. Dan untuk memenuhi hal itu, solusinya sederhana; saya harus punya istri yang pintar masak! 

Setiap orang punya hak menentukan kriteria ideal pasangannya masing-masing, dan itulah kriteria ideal pasangan yang saya harapkan. Tipe mbakyu, dan pintar masak! Sudah, itu saja. 

Bertolak dari pemikiran-pemikiran itu, saya jadi apatis untuk menjalin hubungan serius dengan wanita yang tinggal di kota besar, yang biasa menjalani gaya hidup ala orang kota besar. Karena bahkan umpama dia mau tinggal bersama saya di kota kecil, saya khawatir akan membuatnya tertekan, karena serupa pindah dari laut ke akuarium. Mungkin saya bahagia bersamanya, tapi dia belum tentu.

So, saya pikir, jauh lebih baik jika saya menemukan pasangan yang tinggal sekota. Selain jarak yang lebih mudah dijangkau, urusan selanjutnya juga lebih mudah, karena kami memiliki latar belakang yang sama, kebiasaan serta gaya hidup yang sama, sebagaimana umumnya orang yang tinggal di kota kecil. Saat akhirnya kami tinggal bersama, tidak ada “kekagetan” apa pun, karena nyatanya sejak dulu sudah tinggal di sini.

Mungkin, suatu hari kelak, entah di mana, saya akan menemukan pasangan seperti yang ada dalam bayangan; tipe mbakyu, dan pintar masak. Saat itu terjadi, saya akan tahu bahwa dialah yang saya tunggu. Dan mungkin saya akan menyatakan cinta, mengajaknya menikah, lalu kami tinggal bersama. Menjalani kehidupan bersahaja, seperti umumnya orang di kota kecil.

Saya tidak berani percaya bahwa menikah akan menjamin kebahagiaan. Tapi hidup bersama mbakyu yang pintar masak artinya menyelesaikan masalah saya yang terbesar. Dan itu saja sudah cukup.

Kebisingan Setahun Sekali

Pemerintah RI sebenarnya punya aturan khusus yang mengatur penggunaan toa masjid. Aturan itu sebenarnya baik. Sayangnya, dalam praktik, aturan itu tidak ditegakkan. Boro-boro ditegakkan, masyarakat bahkan mungkin tidak/belum tahu kalau ada peraturan tentang penggunaan toa.

Di tempat tinggalku saat ini, orang mengaji (membaca Alquran) dari usai tarawih sampai pukul 00.00 tengah malam. Bukan hanya dari satu musala, tapi dari beberapa musala dan masjid. Jadi bisa dibayangkan bagaimana “riuh” suara yang ditimbulkan, dan itu terus terjadi setiap malam. 

Aku tinggal sendirian di rumah. Jadi, meski terganggu oleh kebisingan, bisa dibilang “tidak terlalu masalah”. Tapi bagaimana dengan orang-orang lain yang sedang punya anak kecil atau bayi? Bagaimana pula dengan orang-orang yang sudah sepuh dan butuh istirahat dengan tenang?

Ketika masalah kebisingan diutarakan, banyak orang yang ngeles, “Ah, Ramadan kan setahun sekali.” Sebenarnya, justru karena Ramadan cuma setahun sekali, mestinya bulan itu dijalani sebagai bulan yang khusyuk, bukan malah bulan yang meninggalkan kesan negatif dan mengganggu.

Maafkan aku mengatakan ini. Sudah sering aku mendengar orang yang diam-diam tidak senang dengan kedatangan Ramadan. Mereka muslim. Tapi saat Ramadan datang, mereka tidak senang. Karena Ramadan saat ini telah identik dengan kebisingan dan aneka hal yang mengganggu.

Hanya di bulan Ramadan, orang bisa seenaknya berteriak-teriak di dini hari, menggunakan toa masjid atau musala, dengan alasan membangunkan orang sahur. Hanya di bulan Ramadan, suara petasan terus menerus mengganggu nyaris tanpa henti. Daftarnya masih panjang.

Diakui atau tidak, Ramadan saat ini telah identik dengan kebisingan, polusi suara, dan itu bukan menjadikan masyarakat kian khusyuk beribadah, tapi justru mengganggu ketenangan mereka. Bagaimana bisa khusyuk beribadah, kalau kita terus menerus pekak karena kebisingan? 

Sayangnya, pemerintah seperti abai terhadap masalah ini. Mereka punya aturan yang jelas, tapi tidak menegakkannya, bahkan tidak menyosialisasikannya ke masyarakat. Di sisi lain, masyarakat memilih diam meski mungkin terganggu, karena urusan ini “berkaitan dengan agama”.

Pertanyaan Salah tapi Terus Ditanyakan

Sebenarnya, bercakap-cakap dengan orang lain itu menyenangkan—membicarakan hal-hal sederhana secara jujur dan apa adanya. Karena percakapan tulus semacam itu bisa menjadi kesempatan untuk saling berkaca dan belajar. Sayangnya, menemukan orang semacam itu saja kadang sulit.

Ada terlalu banyak orang yang tampak pintar bergaul, bisa kelihatan ramai dengan siapa saja, mengaku (atau mengira) punya teman di mana-mana, tapi sebenarnya "tidak bisa bergaul". Mereka jenis orang yang mungkin kita kenal, tapi belum tentu ingin kita jadikan teman.

Ciri orang semacam itu bisa dilihat dari kecenderungannya saat berinteraksi dengan orang lain; biasanya mereka merasa punya hak untuk meributkan atau mengintervensi kehidupan orang lain. Contoh paling mudah adalah bertanya "kapan kawin?" atau sampai menyuruh-nyuruh cepat kawin.

Kapan pun aku bertemu dengan orang yang bertanya kapan kawin—apalagi menyuruh-nyuruh cepat kawin, terlepas apa pun dalih dan alasannya—aku akan langsung tahu satu hal; orang itu tidak beradab. Dan aku tidak nyaman berteman dengan orang semacam itu.

Orang-orang beradab juga kadang menyinggung persoalan kawin/menikah dengan temannya, tapi caranya beradab. Yaitu secara pribadi, dalam percakapan tertutup, dan mengatakan/membicarakannya dengan tulus, sehingga orang yang ditanya juga bisa menjawab dengan jujur sekaligus nyaman.

Beda dengan orang-orang tak beradab, yang mungkin biasa kita temukan. Mereka melakukannya di depan orang-orang lain, hingga terkesan ingin "mempermalukan" atau "memojokkan" orang yang ditanya. Dan mereka bisa ditandai dengan satu hal, yaitu menggunakan pertanyaan "kapan?"

Pertanyaan "kapan kawin?" itu PERTANYAAN SALAH! Bahkan salah total! Karena "kapan" adalah pertanyaan sejarah; sesuatu yang lampau, atau yang sudah terjadi. Misalnya, "Kapan hari proklamasi Indonesia?"

Wong kawin belum terjadi, kok ditanya kapan? Lha gimana menjawabnya?

Orang percaya bahwa takdir, maut dan jodoh adalah rahasia Tuhan. Geblegnya, mereka justru mempertanyakan hal itu pada sesama manusia!

Kawin adalah urusan jodoh, dan jodoh adalah rahasia Tuhan. Bertanya "kapan kawin?" sama artinya bertanya "kapan mati?" Tidak ada yang bisa jawab.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, bisa panjang sekali, dan mungkin baru selesai tahun 9633—dan kalian semua pasti sudah mati. Tapi karena cokelat hangat dan ududku sudah habis, cukup sampai di sini.

Pengantar tidur: Pertanyaan Paling Sia-sia di Dunia » http://bit.ly/1IHLlBp


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14-15 April 2020.

Bintang Panas

Sisca Soewitomo telah menciptakan ribuan resep kuliner, dan telah menghasilkan ratusan buku masakan yang dibaca jutaan orang dari tahun ke tahun. Tapi dia tidak mau disebut "chef". Dia lebih suka menyebut dirinya "bintang panas", karena sering berdekatan dengan kompor.

Salut!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2020.

Ada yang Pernah Nyoba?

Karena ingin dapat manfaatnya, aku pernah nyoba mengonsumsi ini. Sayangnya, lidahku menolak karena gak kuat rasanya. 

Ada yang pernah nyoba?


Black garlic atau bawang putih hitam adalah bawang putih biasa yang telah difermentasi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Maret 2020.

Rabu, 21 April 2021

Kaya dan Tampak Kaya

Orang kaya, menurutku, adalah orang yang sehat,
tidak punya utang, dan tidak dikejar cicilan. Itu menurutku. 
Kalau menurutmu beda, ya tidak apa-apa.


Di Twitter, berulang kali muncul kasus aneh, yang viral hingga sampai di timeline saya. Kasusnya bisa dibilang serupa, yaitu orang-orang yang berutang pada teman-teman atau orang-orang yang dikenalnya, dengan berbagai alasan, tapi belakangan tidak membayar utangnya, juga dengan berbagai alasan.

Yang geblek, kisah-kisah itu juga mengungkap bahwa orang yang berutang ternyata menggunakan uang hasil ngutangnya untuk hal-hal konsumtif, semisal untuk pelesir ke luar kota atau luar negeri, lalu memosting foto-fotonya di Instagram, dengan penampilan sok kaya. 

Yang mengkhawatirkan, kasus semacam itu tidak hanya terjadi satu kali dua kali, tapi berkali-kali, dilakukan oleh banyak orang. Artinya, kasus “orang berusaha sok kaya” sudah semacam wabah.

Utang piutang mungkin hal yang umum terjadi dalam interaksi sosial antarteman, karena kadang kita menghadapi kebutuhan mendadak ketika sedang tidak punya uang. Keberadaan teman yang baik—dan kebetulan punya uang—bisa menjadi penolong, dan kita pun berutang pada mereka. Tentu, setelah itu, kita berusaha membayar utang tersebut secepatnya.

Untuk hal semacam itu tentu wajar, dan kita pun bisa jadi tak terlalu mempermasalahkan. Wong nyatanya lagi butuh, dan nyatanya dia juga bertanggung jawab atas piutang yang kita berikan. 

Yang membuat orang-orang murka, hingga menceritakan kisah mereka di Twitter, karena orang yang berutang pada mereka tidak bertanggung jawab. Sewaktu berutang, menggunakan aneka dalih dan alasan, sampai orang yang akan diutangi jadi tidak enak, dan terpaksa memberikan utang yang diminta, meski sebenarnya mereka juga lagi pas-pasan. Eh, giliran utang sudah diberikan, uangnya dipakai untuk bertingkah sok kaya—sambil posting foto-foto hedon di Instagram—sementara utangnya tidak juga dibayar.

Kisah-kisah semacam itu, yang muncul di timeline saya, kadang dilengkapi dengan nama dan foto-foto si pelaku (yang biasanya diambil dari akun Instagram pelaku). Ada yang laki-laki, ada pula perempuan. 

Berdasarkan foto-foto yang saya lihat, mereka yang berutang-tapi-tidak-tanggung-jawab itu rata-rata berpenampilan menarik, dengan gaya seperti orang [yang benar-benar] kaya. Tetapi fakta bahwa mereka sampai berutang demi bisa tampak kaya, menunjukkan kalau mereka sebenarnya tidak kaya. 

Kebutuhan untuk eksis, di zaman ini, tampaknya memang sudah menjadi semacam kebutuhan primer, selain kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Ada banyak orang yang merasa harus selalu eksis, di mana pun, di semua media sosial. Sebegitu ngebet eksis, sampai mereka—sadar atau tak sadar—melakukan aneka upaya yang kadang konyol dan tak masuk akal.

Sering kali saya tidak paham saat mendapati orang-orang yang melakukan hal-hal tertentu, yang ditujukan untuk “sekadar eksis”. Ada orang lagi makan mi instan, lalu merekam aktivitas makannya, sambil berkata dengan jumawa, “Hei, guys, aku lagi makan mi, nih.” 

Apa manfaatnya melakukan hal semacam itu? Lagi pula, apa perlunya dia memberi tahu dunia kalau sedang makan mi instan? Demi Tuhan, mi instan! Memangnya kenapa kalau dia makan mi instan? Apa pentingnya sampai dia merasa perlu memberi tahu siapa pun bahwa dia sedang makan mi instan?

Mungkin saya terlalu lama hidup dalam kesunyian, hingga sering kebingungan dengan tingkah orang-orang di luar sana. Atau mungkin pula karena saya memang kurang gaul, hingga tidak tahu apa itu “eksis”. 

Tapi baiklah, saya akan berusaha memaklumi orang yang merekam adegan dirinya sedang makan mi instan, seolah dia satu-satunya orang di dunia yang makan mi instan. Oke, saya tidak akan mempersoalkan, toh pamer atau ingin eksis adalah hak setiap orang. 

Tapi bagaimana dengan orang-orang tadi—yang hobi ngutang ke orang lain, demi eksis dan bertingkah sok kaya?

Akhirnya saya mulai memahami, kenapa ada orang-orang yang segitu ngebetnya ingin tampak kaya. Wong paling makan mi instan saja dipamerkan, tentu lebih menyenangkan kalau bisa pamer sesuatu yang lebih hebat. Dari pamer barang-barang mahal sampai pamer pelesiran. 

Rajin pangkal pandai, dan pamer pangkal eksis. Semakin rajin kita pamer, semakin cepat kita eksis. Orang mungkin tidak peduli kalau kau makan mi instan, tapi orang-orang mungkin akan tertarik kalau kau pamer naik kapal pesiar.

Kalau memang mampu pamer foto di kapal pesiar, tentu tidak masalah. Sekali lagi, pamer adalah hak setiap orang. Kalau kau memang punya uang untuk membiayai aktivitas pamermu, bahkan iblis di neraka tidak berhak meributkan. Tapi jika dalam aktivitas pamer itu ada orang-orang yang merana karena uang yang mereka pinjamkan tidak dikembalikan... itu tentu mengkhawatirkan. 

Orang mungkin memang berbeda-beda. Ada yang tak peduli dengan penampilan, ada pula yang sangat perhatian pada penampilan. Mereka yang suka pamer agar kelihatan kaya—meski untuk itu harus ngutang sana-sini—pasti termasuk orang yang sangat memperhatikan penampilan. Mungkin, bagi mereka, rasanya menyenangkan kalau dianggap sebagai orang kaya.

Orang semacam itu biasanya, dan hampir pasti, bukan orang kaya. Karena orang yang benar-benar kaya justru tidak peduli apakah orang lain menganggapnya kaya atau tidak. Karenanya, lebih banyak orang kaya yang kalem—dalam arti tidak bertingkah macam-macam—daripada orang yang suka pamer apa saja demi tujuan eksis.

Sebagian orang kaya, yang berpikir jauh ke depan, bahkan menyadari bahwa menjadi kaya—dalam hal ini benar-benar telah menjadi orang kaya—membutuhkan biaya yang kadang sangat mahal. Khususnya dalam hal pajak. Orang kaya membayar pajak jauh lebih besar dibanding orang yang tidak kaya.

Tinggal di rumah mewah dan besar, misalnya, harus membayar pajak lebih besar daripada tinggal di rumah sederhana. Mengendarai mobil mahal harus membayar pajak jauh lebih besar, dibanding mengendarai mobil biasa atau bahkan sepeda motor. Apalagi kalau punya mobil banyak. Daftar ini bisa dilanjutkan pada hal-hal lain. Dalam setahun, pajak yang wajib dibayar bisa mencapai puluhan sampai ratusan juta, bahkan miliaran. Itu adalah “ongkos tampak kaya”.

Sebagian mereka pun kemudian berpikir, “Kenapa aku harus menghambur-hamburkan banyak uang, ratusan juta setiap tahun, demi tampak kaya?”

Latar belakang pikiran semacam itu lalu menuntun sebagian mereka untuk mengubah gaya hidup, dan belakangan banyak orang kaya yang menjalani hidup lebih sederhana. Mereka tinggal di rumah nyaman yang sederhana, mereka mengendarai mobil yang sederhana, dan menjalani gaya hidup bersahaja. Hasilnya, mereka tetap kaya, sekaligus tidak perlu membayar pajak ratusan juta. Uang yang tadinya dipakai untuk bayar pajak bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih produktif.

Mungkin kita berpikir, “Kalau menjalani hidup sederhana, nanti tidak kelihatan kaya, dong?”

Kalau kita berpikir seperti itu, kita pasti tidak/belum kaya! Karena orang yang benar-benar kaya tidak lagi peduli dengan urusan “tampak” seperti yang kita kejar mati-matian. Orang yang benar-benar kaya berpikir lebih simpel, “Pokoknya aku kaya, dan bodo amat dengan penilaian orang lain!”

Buah dari Langit

Tiap lihat Jack Ma muncul di timeline, dengan mukanya yang "innocent" itu, aku seperti diingatkan bahwa "wong bejo ngalahke wong pinter" itu benar-benar nyata, bisa terjadi, bahkan dalam skala spektakuler.

Jack Ma adalah contoh nyata "orang beruntung mengalahkan orang pintar".

Jack Ma bisa dibilang orang yang benar-benar sukses tanpa privilese. Latar belakangnya miskin, pendidikannya pas-pasan, penampilannya mungkin tidak meyakinkan, sementara teman-temannya menyepelekan impiannya. Saat membangun Alibaba, dia bahkan tidak bisa bikin alamat e-mail.

Salah satu bacaan favoritku adalah biografi orang-orang sukses, dan aku telah membaca biografi/kisah hampir semua orang yang namanya tercantum di Forbes. Termasuk Jack Ma, tentu saja. Melalui riset dan pembelajaran itu, aku punya gambaran apa penyebab (penting) kesuksesan mereka.

Sebelumnya, mungkin perlu kukatakan. The Conversation pernah merilis artikel ilmiah mengenai penyebab kenapa orang-orang bisa sukses. Yaitu privilese dan kebetulan! Terlepas dari tumpukan buku bisnis dan inspirasional yang pernah kubaca, aku setuju pada isi artikel itu.

Karena nyatanya memang itulah yang terjadi, setidaknya pada daftar orang yang namanya tercantum di Forbes. Tentu saja mereka akan mengatakan bahwa kunci suksesnya adalah kerja keras atau bahkan berdoa. Tapi ujung-ujungnya hanya dua itu tadi; privilese dan/atau kebetulan.

Agar ocehan ini cepat rampung, langsung saja pada Jack Ma, yang sejak tadi ingin kuocehkan.

Jack Ma tidak punya privilese. Aku telah merisetnya habis-habisan, jadi aku tahu betul soal ini. Tapi dia punya satu hal yang mengubah segalanya... kebetulan! Aku menyebutnya "timing".

Timing, waktu yang tepat, itulah "kebetulan luar biasa", hampir menyerupai keajaiban, yang dimiliki Jack Ma, hingga dia menjadi "wong bejo ngalahke wong pinter". Soal kecerdasan, dia bisa dibilang sangat standar, biasa saja. Tapi soal keberuntungan... ya, dia memilikinya.

Dan "kebetulan" yang dialami Jack Ma sebenarnya sangat sederhana. Waktu itu belum ada situs yang membahas produk-produk China di internet, jadi dia membuatnya. Alibaba itulah hasilnya. Sudah, itu saja! Dan hanya "itu saja", dia menjadi miliuner. Karena "timing"-nya sangat tepat.

Jangan salah paham. Ocehan ini tidak bermaksud mengajak siapa pun tidak usah belajar/bekerja/berdoa agar sukses. Tapi menunjukkan sisi lain penyebab kesuksesan yang mungkin belum sempat kita pikirkan. Bagaimana pun, belajar, bekerja, semangat, dan berdoa, tetap saja penting.

Tetapi, sekarang kita tahu, ada 2 hal yang sangat menentukan kesuksesan seseorang. Privilese dan kebetulan. Artinya, kalau memang tidak punya privilese, kita bisa "mengandalkan" kebetulan. Bagaimana caranya?

Menurutku, caranya adalah terus belajar, agar pikiran selalu terbuka.

"Kebetulan" itu "keberuntungan", dan keberuntungan seperti buah dari langit—persis seperti apel Newton.

Saat buah keberuntungan jatuh, hanya pikiran terbuka yang bisa menangkapnya. Tepat sama seperti Newton memahami gravitasi, padahal jutaan orang lain juga kejatuhan apel.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Agustus 2020.

Seminggu Tak Lihat Twitter

Seminggu gak lihat Twitter. Kayaknya aku ketinggalan banyak hal. Mungkin beberapa hari ke depan juga belum tentu bisa masuk Twitter lagi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 September 2020.

Noffret’s Note: Tilik

Dini hari gini orang-orang ternyata lagi ribut film "Tilik", antara yang suka dan gak suka, dengan berbagai alasan panjang lebar.

Sejujurnya, aku termasuk yang gak suka film itu, dan gak tertarik menonton. Alasannya sepele, itu bukan jenis film kesukaanku. Udah, gitu aja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Agustus 2020.

Suara Melengking

Suara anak kecil tuh melengking, khas suara anak-anak. Ketika suara mereka dikeraskan toa, hasilnya sangat memekakkan dan menyakiti telinga orang-orang yang mendengarnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Agustus 2020.

Sabtu, 10 April 2021

Jodoh yang Sempurna

Bibiku bilang, "Tak perlu khawatir, di satu sudut bumi,
kamu akan temukan jodohmu." Kedengarannya indah. 
Masalahnya, bumi tidak punya sudut!


Mencari jodoh bisa jadi hal sulit. Dan mencari jodoh yang sempurna bisa sepuluh kali lebih sulit. Mungkin di luar sana ada orang-orang yang sungguh sempurna—secara fisik, psikis, pendidikan, latar belakang, hingga akhlak. Sempurna, luar biasa, tanpa cela. Yang jadi masalah, orang sempurna seperti itu belum tentu berjodoh dengan kita.

Karenanya, dalam urusan perjodohan—dan menentukan seseorang untuk jadi pasangan—kebanyakan kita lebih cenderung realistis daripada idealis. Karena kita sadar tidak mungkin bisa meraih semuanya, kita pun menentukan skala prioritas. Pada akhirnya, jodoh kita biasanya orang yang memenuhi prioritas tertinggi kita... meski mungkin tidak sempurna.

Contohnya seperti ini. Secara idealis, wanita tentu ingin punya pasangan pria yang ganteng, pintar, kaya, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi wanita juga [akhirnya] menyadari bahwa “idealisme” semacam itu bisa membuatnya sulit menemukan pasangan. Akhirnya, wanita pun menentukan skala prioritas, dan pria yang [akhirnya] dipilih adalah yang memenuhi prioritas tertinggi.

Dalam kualitas ganteng, pintar, dan kaya—sebagai misal—ada wanita yang prioritas tertingginya adalah ganteng. Jadi, bagi wanita ini, asal pasangannya ganteng, ya sudah, itu saja sudah cukup. Soal pintar dan kaya bisa diusahakan sambil jalan. Yang penting dapat pasangan ganteng dulu!
 
Ada pula wanita yang prioritas tertingginya adalah pasangan kaya. Wanita seperti itu biasanya berpikir, “Sebagian besar masalah hidup diselesaikan dengan uang! Bodo amat pasangan ganteng, kalau pusing mikir cicilan saban bulan!” Karena prioritas tertingginya adalah pasangan kaya, wanita ini pun tidak terlalu masalah kalau kebetulan pasangannya tidak ganteng-ganteng amat. Yang penting kaya!

Lalu ada wanita yang berpikir untuk mendapat pasangan cerdas. Alasannya, “Orang-orang sukses biasanya orang-orang cerdas. Jadi kalau aku berpasangan dengan pria cerdas, setidaknya bisa berharap memiliki masa depan yang baik.”

Dari perbedaan prioritas semacam itu, manakah yang benar? Tidak ada yang benar atau salah, wong itu hak masing-masing orang dalam menentukan prioritas pasangan bagi dirinya sendiri. Karena hampir tidak ada orang yang sempurna, maka pasangan sempurna bagi orang per orang adalah sosok yang memenuhi kriteria tertingginya. Dan itu sah sekaligus alamiah.

Hal semacam itu pun terjadi pada pria. Kaum pria tentu mengkhayalkan pasangan wanita yang sempurna; cantik, seksi, pintar masak, salihah, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi pada akhirnya, pria juga akan menentukan skala prioritas terkait wanita yang ingin ia jadikan pasangan, karena menyadari sulitnya menemukan wanita yang benar-benar sempurna seperti yang ia khayalkan.

Ada pria yang prioritas tertingginya adalah cantik/seksi. Karena prioritas tertingginya seperti itu, dia pun cenderung tidak terlalu peduli apakah si wanita pintar masak dan sebagainya. Pokoknya cantik dan seksi! Urusan masak bisa belajar lewat YouTube! Atau pesan GoFood! Bodo amat! Intinya, dia sudah bahagia jika pasangannya cantik, dan dia akan menganggapnya sebagai pasangan yang sempurna.

Pria lain, bisa jadi, ingin punya pasangan yang salihah, dan dia menetapkan hal itu sebagai prioritas tertinggi. Bagi dia, sebagaimana yang dilagukan Rhoma Irama, “Istri salihah adalah perhiasan terindah.” Apalah arti memiliki kekayaan dunia dan seisinya jika tidak memiliki istri salihah? Bagi pria ini, tidak cantik tidak apa-apa. Tidak pintar masak juga tidak apa-apa. Yang penting salihah!

Pria lain lagi, menetapkan pintar masak sebagai prioritas tertinggi dalam memilih jodoh atau pasangan. Tidak terlalu cantik, bagi pria ini, tidak apa-apa, toh bisa melakukan perawatan sambil jalan, dan lama-lama pasangannya makin cantik. Yang penting pintar masak!

Sebagai pria, saya juga punya khayalan mengenai pasangan sempurna. Deskripsinya pasti terdengar klise, karena juga ada dalam khayalan jutaan pria lainnya—dari cantik, seksi, cerdas, pintar masak, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi saya juga menyadari, impian mendapat pasangan semacam itu bisa jadi tidak realistis. Karena belum tentu ada wanita yang komplit seperti itu. Dan kalaupun ada, dia belum tentu mau jadi pasangan saya!

Mari membicarakan soal ini secara ilmiah, agar lebih mudah dipahami.

Keindahan fisik, kecerdasan, sampai kemampuan dalam bidang tertentu (misal pintar masak), sering kali merupakan hasil proses panjang campur kerja keras. Dan karena kemampuan serta waktu kita terbatas, sering kali pula kita hanya memiliki satu atau dua dari banyak kualitas manusiawi yang biasanya diimpikan banyak orang.

Misalnya begini. Seorang pria mungkin akan dianggap sempurna, jika dia berwajah ganteng, fisik yang atletis, memiliki kecerdasan mengagumkan, pintar bergaul dengan siapa saja, dan, di atas semuanya, juga kaya-raya. Sosok semacam itu kemungkinan besar akan dinilai sempurna, khususnya di mata wanita.

Persoalannya adalah... sangat sulit, bahkan nyaris mustahil, untuk memenuhi kriteria sempurna semacam itu. 

Memiliki fisik atletis itu butuh kerja keras dan proses panjang, latihan tanpa henti, menghabiskan jam-jam melelahkan di gym, sampai menjaga makanan sehari-hari, dan sebagainya, dan sebagainya. Kita memang bisa memfokuskan diri pada pembentukan fisik hingga tampak sempurna—kekar, berotot, dengan perut kotak-kotak, dan kondisi ideal semacam itu bisa terus terjaga—tapi biasanya kita akan kesulitan untuk mengembangkan kelebihan lain. Karenanya, banyak pria yang fisiknya sempurna, tapi kecerdasannya biasa-biasa saja.

Sama seperti membentuk keindahan fisik, memiliki kecerdasan—apalagi di atas rata-rata—juga butuh proses panjang yang melelahkan. Ada ribuan buku yang dibaca, ada segunung pengetahuan yang dipelajari, ada ribuan malam penuh kegelisahan, dan sebagainya, dan sebagainya. 

Dengan segala kerja keras pembelajaran yang melelahkan semacam itu, waktu untuk hal-hal lain jelas akan tersita. Boro-boro meluangkan waktu ke salon atau gym untuk membentuk tubuh, untuk hal-hal lain yang lebih penting semacam makan dan mandi pun kadang sering lupa. Karenanya, orang-orang yang memiliki kecerdasan luar biasa, umumnya memiliki tampilan fisik biasa-biasa saja.

Itu baru dua contoh kelebihan—keindahan fisik atau kecerdasan. Kita bahkan belum membicarakan prestasi atau pencapaian lainnya. Tetapi bahkan untuk memiliki satu kelebihan saja, rata-rata kita sudah kehabisan waktu. Karenanya, secara manusiawi, sangat sulit menemukan orang yang memiliki segalanya—keindahan fisik, kecerdasan otak, serta sederet pencapaian mengagumkan lainnya.

Sebagai pria, saya merefleksikan hal itu pada sosok wanita. Tentu mengagumkan kalau kita—khususnya saya—bisa menemukan wanita yang cantik, cerdas, seksi, dan pintar masak. Tapi masing-masing kelebihan itu—cantik, cerdas, seksi, dan pintar masak—adalah kepemilikan atau pencapaian yang membutuhkan proses panjang. Karenanya sulit—bahkan saya sering skeptis—bisa menemukan wanita yang memiliki semua kualitas/kemampuan tadi.

Di sekitar kita, banyak wanita yang cantik dan seksi, plus berotak cerdas. Tapi mungkin tidak bisa masak. Wajar dan manusiawi. Ada pula yang cerdas dan pintar masak, tapi fisiknya biasa-biasa saja. Sekali lagi, wajar dan manusiawi. Karena setiap kita, nyatanya, tidak bisa memiliki semuanya, karena waktu dan kemampuan kita memang terbatas. 

Pada akhirnya, jodoh atau pasangan sempurna memang bukan sosok sempurna sebagaimana yang kita khayalkan, tapi sosok sempurna sebagaimana yang kita butuhkan. 

Teringat Awkarin

Kemarin diajak teman nonton Hobbs & Shaw. Sepanjang film, selama melihat Hattie Shaw (Vanessa Kirby), aku terus teringat Awkarin, karena menurutku sangat mirip.

Waktu aku bilang ke teman, dia bilang, "Kamu mah lihat siapa pun ingatnya Awkarin."

Ya nggak gitu jugaaaa! Hadeeeeh!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2020.

Ndongeng Extraction

Bocah 1: Jaremu, film Extraction kae lakone sopo, bajingane sopo?

Bocah 2: Bajingan kabeh, ora ono lakone!

Percakapan-Percakapan Sederhana

Aku suka menulis percakapan-percakapan sederhana yang menyenangkan, dengan teman atau dengan orang asing. Ini salah satunya.

Catatan baru: Lelaki Tua dan Bocah » https://bit.ly/2KNailt


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 November 2019.

Baru Sadar Malam Minggu

 Baru sadar ini malam Minggu gara-gara masuk Twitter.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Juli 2020.

Kamis, 01 April 2021

Keping-Keping Peristiwa

Sambil nunggu udud habis.

Ada sopir bus di China yang bunuh diri dengan mengajak 20 penumpangnya. Dia ceburkan bus yang dikendarainya ke danau, hingga tenggelam, dan semua orang di dalamnya tewas. Sebelum itu, dia mengirim "pesan terakhir" ke pasangannya, hingga orang-orang pun tahu dia bunuh diri.

Ketika kabar itu masuk media massa, masyarakat mengutuk sopir bus tersebut. Semua caci-maki berhamburan. 

Tetapi, belakangan terungkap kalau sopir bus itu bunuh diri—dan membawa orang lain turut serta—sebagai bentuk protes atas kemalangan yang menimpanya. Dia butuh publisitas!

Pemerintah menggusur rumah sopir bus tadi, untuk suatu keperluan. Sayangnya, ganti rugi yang diberikan tidak cukup bagi si sopir bus untuk membeli rumah baru. Dia stres, merasa tak berdaya, dan memutuskan bunuh diri. 

Seketika, masyarakat berhenti mengutuk, dan jadi bersimpati.

Setiap peristiwa—yang kita saksikan, kita dengar, kita baca di media, kita tonton di televisi, atau bahkan yang kita alami—sering kali bukan gambaran utuh, melainkan hanya sekeping puzzle. Dan kita baru bisa memahami gambaran utuhnya, jika bisa mengumpulkan semua keping yang ada.

Peristiwa per peristiwa cuma sekeping puzzle, sering kali tidak berdiri sendiri, dan sebenarnya tidak memberi tahu apa-apa, selain hanya kilasan peristiwa itu saja. Untuk tahu gambaran utuhnya, kita harus mencari dan mengumpulkan semua keping puzzle, dan menatanya secara rapi.

Sebuah gambaran utuh kadang memiliki sedikit keping puzzle, sementara gambar utuh lain—karena ukurannya besar—memiliki banyak keping puzzle. Intinya, semakin banyak keping puzzle yang bisa kita cari dan temukan, semakin luas pula pemahaman yang kita dapat. Dan itulah perspektif.

Yang jadi masalah, otak manusia tidak (terbiasa) bekerja dengan cara semacam itu. Alih-alih berpikir rapi dan runtut, otak kita cenderung berpikir acak; keping per keping. Karena memang dasarnya otak kita hanya mampu memikirkan satu hal di satu waktu. Ditambah lupa, tentu saja.

Otak (kebanyakan) kita bahkan semakin “kacau” di zaman sekarang, ketika gelontoran berita berdatangan seperti kilat. Kita jadi lebih mudah teralihkan dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Ditambah kemungkinan lupa, kita semakin kesulitan untuk memahami gambar besar peristiwa.

Di antara seribu berita (peristiwa) yang kita baca, misalnya, kemungkinan kita tidak melihat kesalingterkaitannya, karena aneka macam berita bertumpuk di memori kita, untuk kemudian terlupa. Padahal, dari banyak berita yang kita baca, sering kali saling terkait dan terjalin erat.

“Kelemahan manusiawi” semacam itu sebenarnya berkat bagi manusia, karena memungkinkan kita bisa menjalani kehidupan dengan santai. Satu peristiwa datang, satu peristiwa lewat—begitu saja. Minim stres. Tetapi, seiring dengan itu, kita juga mudah naif dalam memahami sesuatu.

Seperti kasus tempo hari, misalnya, saat seorang anak perempuan di Jakarta membunuh bocah tetangganya, dan menyimpan jasad si bocah dalam lemari, lalu menyerahkan diri ke polisi, serta mengakui perbuatannya dengan santai. Seperti kita tahu kemudian, itu cuma sekeping puzzle.

Karena baru melihat keping puzzle tersebut, kita pun mudah menghakimi anak perempuan itu, bahkan menuduhnya psikopat dan aneka tuduhan lain. Apalagi ada gambar-gambar mengerikan yang ia buat di bukunya. Segala caci-maki kita lancarkan kepadanya, bahkan berharap dia dihukum berat.

Tetapi kemudian muncul keping puzzle lain. Ternyata, anak perempuan itu korban kekerasan seksual orang-orang terdekatnya, dan dia sedang hamil akibat perkosaan yang menimpanya. Ketika keping ini muncul, seluruh perspektif kita berubah.

Cuma 2 keping puzzle, tapi efeknya besar.

Hanya dengan dua keping puzzle, sebuah peristiwa bisa terbalik 180 derajat.

Sekarang bayangkan apa yang sekiranya bisa terjadi, jika kita bisa mengumpulkan seratus keping puzzle, misalnya, untuk melihat sebuah gambaran besar... yang mungkin tidak dilihat orang-orang lain.

Kau akan menjadi orang aneh, tentu saja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Juli 2020.

Simpanse Bernama Oliver

Bertahun-tahun lalu, tepatnya pada 1960, pasangan Frank dan Janet Berger mengadopsi simpanse, yang belakangan mereka namai Oliver. Simpanse itu mereka temukan di pasar gelap di Kongo. Mereka membawa pulang simpanse itu. Semula tidak ada masalah, tapi Oliver tahu ia "anak adopsi".

Seiring perjalanan waktu, Oliver terus tumbuh, dan menunjukkan tanda-tanda ketidakberesan. Dia tampak selalu berusaha mendekati Janet—bukan sebagai “ibu”, tapi sebagai “lawan jenis”. Oliver juga menunjukkan tanda “bernafsu” pada Janet, bahkan belakangan berusaha memperkosa Janet.

Akhirnya, dengan maksud agar tidak terjadi hal-hal lebih jauh, pasangan Berger menyerahkan simpanse tersebut kepada Ralp Helfer, yang lalu membawanya ke Discovery Channel. DC meliput simpanse itu hingga terkenal di dunia, dan menarik perhatian para ilmuwan serta peneliti.

Yang menarik, penelitian para ilmuwan menemukan sesuatu yang aneh pada Oliver. Dia tidak seperti simpanse pada umumnya. Selain ciri fisik, seperti bentuk gigi, mereka menemukan "gen yang tidak biasa", hingga berpikir bahwa Oliver adalah anak "blasteran" simpanse dan manusia.

Waktu mempelajari soal itu, aku berpikir dan lebih percaya kalau Oliver benar-benar simpanse (bukan hasil reproduksi simpanse dan manusia). Cuma mungkin dia mengalami deviasi, yang menjadikannya "tidak mirip simpanse seperti umumnya". Apalagi ditambah dia diadopsi manusia.

Ocehan ini kalau kuteruskan bisa panjang sekali, karena harus ngorek-ngorek ilmu genetika era '70-an. Intinya, sebenarnya aku mau ngemeng, "Kalau ingin mengadopsi anak, sebaiknya lakukan ketika ia masih bayi. Agar ketika ia tumbuh besar, ia akan memandangmu sebagai orang tua."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Desember 2019.

Masalah Tak Selesai

Ada kebenaran dan ada kebenaran-mayoritas. Dan itulah masalah-tak-selesai umat manusia.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 Juli 2020.

Tebak-tebakan Sama Mbakyu

Aku ingin tebak-tebakan sama mbakyuku tentang organ tubuh manusia. Apppeeeuuuuuh...

Mau tidur, tapi teringat twit kemarin, dan cekikikan sendiri; ingin tebak-tebakan soal organ tubuh manusia. Apppeeeeeuuhhh...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22-24 November 2019.

 
;