Kamis, 25 Oktober 2018

Erotomania dan Delusi Cinta

Delusi, Ma'am, adalah menganggap bahkan 
meyakini dunia berutang kepadamu, padahal dunia 
sama sekali tidak mengenalmu.


Angelique adalah mahasiswi yang juga bekerja paro-waktu di sebuah kafe. Seperti umumnya wanita lain, Angelique memiliki beberapa teman wanita, juga senang ngerumpi bersama mereka. Dan seperti umumnya wanita lain, Angelique kerap menceritakan pria yang menjalin hubungan cinta dengannya.

Angelique menceritakan pada teman-temannya, bahwa dia menjalin hubungan cinta dengan seorang pria bernama Loic, yang berprofesi sebagai dokter. Seperti umumnya wanita lain, Angelique begitu menggebu saat menceritakan Loic pada teman-temannya, betapa ia sangat mencintai Loic, juga betapa Loic sangat mencintai dirinya. Tapi cinta mereka tak bisa bersatu, karena Loic sudah punya istri.

Karena kenyataan tersebut, teman-teman Angelique memberi saran agar Angelique meninggalkan Loic, dan mencari pria lain yang masih lajang. Tapi Angelique sudah cinta mati kepada Loic. Lebih dari itu, Angelique juga sangat yakin kalau Loic sama cinta mati kepadanya. Bahwa Loic sudah punya istri, itu hanya “kecelakaan”, dan Angelique yakin kalau Loic hanya cinta kepadanya.

“Dia akan menceraikan istrinya demi aku,” yakin Angelique.

Jadi, setiap waktu, Angelique terus asyik menceritakan Loic, pria pujaannya, kepada teman-temannya. Ia begitu yakin bahwa Loic memberi “tanda-tanda” kalau dia sangat memuja Angelique, bahwa Loic menunjukkan “perilaku tertentu” yang membuktikan kalau dia sangat merindukan Angelique, dan lain-lain. Intinya, Angelique selalu bisa “menafsirkan” apa pun terkait Loic, yang semua maknanya hanya satu; bahwa Loic jatuh cinta kepada Angelique.

Kalau Loic terlihat sendirian, Angelique akan menafsirkan kesendirian itu sebagai tanda bahwa Loic sedang ingin menjauhi istrinya, karena dia hanya cinta pada Angelique. Sebaliknya, kalau Loic terlihat bersama istrinya, Angelique akan menafsirkan bahwa itu cara Loic menutupi perasaannya kepada Angelique, dan ingin tetap terlihat normal di depan istrinya.

Intinya, Angelique selalu bisa menemukan “tanda” apa pun terkait Loic, dan ia selalu mengartikannya sebagai tanda bahwa Loic jatuh cinta kepadanya.

Yang mengejutkan dari kisah Angelique adalah... Loic sebenarnya tidak kenal Angelique! Semua yang dikisahkan Angelique kepada teman-temannya hanyalah khayalan atau delusinya sendiri.

Kalau kalian pernah menonton He Loves Me, He Loves Me Not, kalian pasti paham bahwa cerita yang saya tulis adalah kisah film tersebut. He Loves Me, He Loves Me Not menceritakan gangguan psikologis yang dialami si pemeran wanita, Angelique, yang mengalami erotomania—sebentuk delusi bahwa seseorang jatuh cinta kepadanya, padahal orang itu tidak punya perasaan apa pun, bahkan kadang sama sekali tidak mengenalnya.

Terkait Angelique dalam film He Loves Me, He Loves Me Not, dia akhirnya dirawat di rumah sakit jiwa akibat delusinya.

Erotomania menjadikan penderitanya yakin bahwa ada seseorang yang memendam perasaan kepadanya, padahal orang itu sama sekali tidak peduli kepadanya, bahkan kadang sama sekali tidak mengenalnya. Itu mengerikan, jujur saja. Mengerikan bagi si penderita, juga mengerikan bagi orang yang menjadi subjek delusinya.

Kalau kau kebetulan menjadi subjek delusi penderita erotomania, segala tingkah lakumu akan diartikan sebagai tanda bahwa kau jatuh cinta kepadanya, bahwa kau memendam perasaan kepadanya, bahwa kau diam-diam merindukannya, dan lain-lain.

Dia—orang yang menderita erotomania dan menjadikanmu subjeknya—biasanya akan rajin stalking, memperhatikanmu diam-diam, dan apa pun tingkahmu akan diartikan olehnya sebagai wujud atau sinyal bahwa kau jatuh cinta kepadanya.

Dalam konteks kekinian, misal, kau bisa saja iseng menulis tweet di Twitter, “Malam ini ingin tidur agak sore, ah.”

Itu jelas tweet yang netral, tidak mengandung makna apa pun selain bahwa kau ingin tidur agak sore, mungkin karena lelah setelah bekerja seharian. Tetapi, penderita erotomania bisa menjadikan tweet itu sebagai “tanda”, “sinyal”, atau “petunjuk”, bahwa kau jatuh cinta kepadanya. What the hell?

Bagi penderita erotomania yang menjadikanmu sebagai subjeknya, bisa saja tweet itu diartikan, misalnya, “Dia ingin tidur agak sore malam ini, karena malam-malam sebelumnya pasti kurang tidur gara-gara merindukanku.” Dan semacamnya, dan semacamnya, dan semacamnya.

Sebaliknya, kalau kau menulis tweet, “Malam ini tidur agak larut, ah.” Maka penderita erotomania juga bisa menafsirkan tweet-mu sebagai “tanda”, “sinyal”, “petunjuk”, atau taik kucing lainnya, yang intinya bahwa kau sedang “berupaya menunjukkan kepadanya bahwa kau jatuh cinta kepadanya.”

Oleh penderita erotomania, tweet-mu bisa ditafsirkannya menjadi “semacam sinyal bahwa aku merindukanmu, Sayang,” dan semacamnya, dan semacamnya, dan semacamnya, what the fuck is that.

Jadi, kalau kau menjadi subjek delusi penderita erotomania, apa pun tingkahmu atau apa pun yang kautulis, selalu bisa ditafsirkan berbeda olehnya, yang—lagi-lagi—semuanya merujuk bahwa kau jatuh cinta kepadanya, bahwa kau merindukannya diam-diam, bahwa kau tak bisa hidup tanpanya, dan lain-lain, dan sebagainya, dan semacamnya, dan asu seasu-asunya.

Yang mengerikan, kau belum tentu mengenal si penderita erotomania yang mati-matian yakin bahwa kau jatuh cinta kepadanya. Jadi, dia merasa sangat mengenalmu, bahkan yakin kau mencintainya, padahal kau sama sekali tidak mengenalnya. Kalau pun mungkin mengenal, bisa jadi kau hanya mengenal sekilas—mungkin suatu kali pernah bertemu—sudah, hanya itu. Apakah itu tidak mengerikan?

Jadi, bisa saja si penderita erotomania bercerita kepada teman-temannya, “Senang banget, tadi aku ketemu Si A di swalayan. Dia sendirian, tidak bersama istrinya. Dia pasti bermaksud memberitahuku kalau dia memang tidak mencintai istrinya, dan hanya mencintaiku.”

Padahal, bisa jadi Si A sama sekali tidak melihat si penderita erotomania saat ada di swalayan. Kalau pun melihat, bisa jadi dia tidak peduli karena memang tidak kenal, atau tidak terlalu mengenal, atau memang tidak punya perasaan apa pun.

Selain itu, Si A ke swalayan sendirian bisa jadi karena butuh sesuatu yang penting, dan sama sekali tidak berkaitan dengan istrinya. Bisa saja istrinya menunggu di mobil, atau sedang di rumah. Atau bisa saja istrinya sedang di salon, sementara Si A ke swalayan sambil menunggu istrinya selesai perawatan. Sama sekali tidak berkaitan dengan si penderita.

Tetapi, si penderita erotomania bisa mengartikan apa saja, yang intinya bahwa Si A jatuh cinta kepadanya. Ini berbahaya, karena bisa menimbulkan fitnah.

Bayangkan saja kau seorang pria yang sudah punya istri. Diam-diam, ada wanita penderita erotomania yang sangat yakin kau jatuh cinta kepadanya, padahal kau tidak kenal kepadanya, atau kau sama sekali tidak peduli kepadanya. Tetapi, si penderita erotomania sering bercerita kepada orang-orang—khususnya teman-temannya—bahwa kau jatuh cinta kepadanya, bahwa kau ingin menceraikan istrimu demi dirinya, bahwa kau tidak bisa hidup tanpanya, dan semacamnya.

Jika omongan semacam itu sampai ke telinga istrimu—atau setidaknya sampai ke telinga keluargamu—akibatnya bisa runyam. Istrimu bisa menuduhmu macam-macam, padahal kau tidak melakukan kesalahan apa pun.

Atau sebaliknya, kau seorang wanita yang telah bersuami. Diam-diam, ada pria penderita erotomania yang sangat yakin kau jatuh cinta kepadanya, padahal kau tidak kenal kepadanya, atau kau sama sekali tidak peduli kepadanya. Tetapi, si penderita erotomania sering bercerita kepada orang-orang—khususnya teman-temannya—bahwa kau jatuh cinta kepadanya, bahwa kau ingin bercerai dengan suamimu demi dirinya, bahwa kau tidak bisa hidup tanpanya, dan semacamnya.

Sekali lagi, jika omongan semacam itu sampai ke telinga suamimu—atau setidaknya sampai ke telinga keluargamu—akibatnya bisa runyam. Suamimu bisa menuduhmu macam-macam, padahal kau tidak melakukan kesalahan apa pun.

Jangankan terjadi pada orang yang telah bersuami atau telah beristri, bahkan terjadi pada orang yang masih lajang pun akibatnya bisa runyam. Setidaknya, bisa memalukan.

Bayangkan saja, umpama ada penderita erotomania yang yakin bahwa kau jatuh cinta kepadanya. Apa pun yang kaulakukan, ia akan mengartikannya sebagai tanda bahwa kau jatuh cinta kepadanya. Apa pun yang kautulis, ia akan mengartikannya sebagai tanda bahwa kau merindukannya. Apa pun yang kauucapkan, ia akan mengartikannya sebagai tanda bahwa kau tidak bisa hidup tanpanya.

Itu saja belum cukup. Selain “sangat serius” menafsirkan segala tingkah lakumu, penderita erotomania juga tidak malu menceritakan hal-hal yang sebenarnya delusinya sendiri kepada orang lain.

Tidak menutup kemungkinan dia akan bercerita kepada teman-temannya bahwa tadi kalian berkencan (padahal cuma berpapasan sekilas), atau bercerita bahwa kalian telah berjanji untuk sehidup semati (padahal itu cuma delusinya sendiri), dan lain-lain, dan semacamnya, dan sebagainya, dan blah-blah-blah.

Bahkan, umpama kau kebetulan mengetahui kenyataan itu, dan marah hingga mencaci-maki dirinya, penderita erotomania bisa menafsirkan bahwa kemarahan serta caci-makimu sebagai sandiwara, bahwa kau ingin menutupi perasaanmu yang jatuh cinta kepadanya. Apa yang lebih asu dari itu?

Dalam taraf yang ringan, ucapan yang sering dikatakan penderita erotomania adalah, “Berdasarkan feeling-ku, dia jodohku,” atau, “Berdasarkan feeling-ku, kelak kami akan berjodoh,” atau kalimat delusional semacamnya.

Erotomania adalah gangguan atau masalah psikologis. Sebagaimana masalah psikologis lain, erotomania membutuhkan penanganan tenaga ahli atau berkompeten. Agar masalah atau gangguan itu mendapat penanganan, hal pertama yang harus ada adalah kesadaran si penderita untuk memahami bahwa dia mengalami masalah. Kalau pun si penderita tidak memahami masalahnya sendiri, teman atau orang-orang terdekatnya perlu memberitahu serta menyadarkannya.

Ini tak jauh beda dengan, misalnya, depresi. Penderita depresi baru bisa mendapat penanganan yang tepat jika ia menyadari dirinya bermasalah, lalu mendatangi psikolog/psikiater untuk membantunya.

Jadi, kalau sewaktu-waktu kita mendapati seseorang—misalnya teman—yang sangat menggebu menceritakan “feeling-nya” atau “pengalaman cintanya” dengan seseorang, coba perhatikan apakah dia benar-benar saling kenal dengan orang yang ia ceritakan atau tidak. Kalau pun saling kenal, apakah mereka sebatas kenal ataukah memang menjalin hubungan sebagaimana yang ia ceritakan.

Kalau ternyata kita meragukan ceritanya, langkah terbaik adalah menyadarkannya, sebelum ulahnya menjadi berbahaya (bagi dirinya sendiri, maupun bagi orang yang menjadi subjek delusinya). Ini tak jauh beda kalau kita mendengar teman kita menyatakan ingin bunuh diri atau semacamnya. Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja. Kita perlu membantunya keluar dari masalah yang ia derita, dan salah satunya adalah merujuknya ke psikiater.

Jatuh cinta mungkin menyenangkan. Tapi delusi cinta... itu mengerikan.


Catatan kaki:

Erotomania, atau biasa dikenal dengan sebutan de Clerambault’s syndrome, merupakan bentuk gangguan kepribadian, yang membuat penderitanya memiliki keyakinan (yang merupakan waham atau keyakinan palsu) bahwa ada seseorang yang memendam perasaan cinta kepadanya, atau mungkin memiliki suatu bentuk hubungan dekat/intim.

Erotomania pertama kali ditelaah oleh psikiater asal Prancis, Gaëtan Gatian de Clérambault. Ia menyusun makalah yang membahas gangguan kepribadian ini pada 1921. Walau referensi awal yang sejenis dengan gangguan ini telah ada dalam tulisan Hipocrates, Erasistratus, Plutarch, dan Galen.

Dalam dunia psikiatri, referensi sejenis ada pertama kali pada 1623, dalam risalah berjudul Maladie d’amour ou melancolie erotique, yang ditulis Jacques Ferrand, dan juga disebut sebagai “old maid’s psychosis”, “erotic mania” dan “erotic self-referent delusions”, hingga saat ini disebut erotomania atau de Clerambault’s Syndrome.

Inti utama sindrom ini, si penderita memiliki suatu waham atau delusi keyakinan bahwa ada orang lain yang secara sembunyi-sembunyi memendam perasaan cinta kepadanya.

Penderita erotomania selalu yakin bahwa subjek delusi mereka secara rahasia menyatakan cinta mereka dengan isyarat halus seperti bahasa tubuh, perilaku, atau dengan cara lain semisal tulisan, yang diartikan secara subjektif atau seenaknya oleh si penderita.

Sering kali, orang yang menjadi subjek dalam delusi hanya memiliki sedikit sekali hubungan, atau bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan si penderita. Walau demikian, si penderita tetap percaya bahwa si subjek yang memulai semua hubungan khayal itu. Delusi erotomania sering ditemukan dalam gejala awal gangguan delusional atau dalam konteks skizofrenia.

Terkadang, subjek yang berada dalam delusi si penderita tidak pernah ada di dunia nyata. Namun, yang lebih sering terjadi, subjek adalah figur publik atau orang yang terkenal di lingkungan masyarakat.

Erotomania juga disebut sebagai penyebab perilaku stalking, yaitu bentuk perilaku memperhatikan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang diperhatikan, lalu perlahan melakukan upaya pendekatan yang bersifat mengganggu, biasanya dengan obsesi bahwa korban (subjek delusinya) adalah orang yang perlu ditolong atau semacamnya.

Selain itu, erotomania juga disebut sebagai penyebab bentuk tindakan yang mengganggu orang lain.

Kebenaran Paling Tua di Dunia

Apakah manusia tertarik pada kebenaran? Jawabannya tidak! Karena otak manusia tidak didesain untuk tertarik pada fakta, melainkan pada rumor, kehebohan... dan, tentu saja, hal-hal yang sesuai harapannya.

Mengapa kisah Cinderella abadi dari zaman ke zaman? Karena ia merepresentasikan harapan atas kebenaran mayoritas manusia. Jika Cinderella mati menderita di akhir kisah, cerita tentangnya akan ditinggalkan.

Bukan hanya Cinderella, film-film atau kisah apa pun dibuat dengan mengacu garis yang sama. Pahlawan harus menang, penjahat harus kalah, dan “kebenaran” yang dipercaya manusia harus diwujudkan, agar mereka puas.

Bagaimana cara memikat orang agar tertarik kepadamu? Gampang! Cari tahu apa yang diyakininya, lalu sodorkan sesuatu yang tepat seperti keyakinannya. Peduli setan kalau kau berbohong, yang jelas dia akan tertarik.

Kalau kita mau memperhatikan, jualan yang paling laku dan paling laris bukan jualan sesuatu yang berwujud, tapi justru sesuatu yang TIDAK berwujud. Karena sesuatu yang tidak berwujud lebih mudah “dikemas”.

Kebenaran paling tua sepanjang zaman: Manusia tidak percaya pada kebenaran. Mereka hanya percaya pada hal-hal yang ingin mereka percaya sebagai kebenaran. Pahit dan ironis, memang, tapi begitulah kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 September 2018.

Membahas Hal-hal Penting

“Ini penting.”

*Echo*

Sabtu, 20 Oktober 2018

Kencing di Ruang Tamu

Tiga hal yang paling merusak buku: 
1) Rayap; 2) Air; 3) Orang yang suka pinjam buku 
tapi tidak dibaca, malah bukunya hilang.


“Apakah kamu pernah kencing di ruang tamu?”

Pertanyaan itu diajukan Lukman, seorang teman, dan saya pun menjawab, “Tidak—belum pernah. Yeah, aku mungkin gila. Tapi belum segila itu.”

“Aku pernah,” sahut Lukman sambil tersenyum.

“Pernah apa?” tanya saya bingung.

“Aku pernah kencing di ruang tamu,” jawab Lukman menjelaskan. Nadanya begitu bangga, seolah pengakuan itu akan membuatnya meraih Nobel.

Saya makin bingung. “Kenapa kamu kencing di ruang tamu, Luk?”

“Kampungku kena banjir, dan rumahku terendam.” Kali ini nadanya terdengar dramatis, seolah banjir zaman Nabi Nuh tidak ada apa-apanya dibanding banjir yang melanda kampungnya.

Kawasan pesisir memang sering dilanda banjir, khususnya banjir rob, dan rumah Lukman termasuk daerah pesisir. Karenanya, banjir bisa dibilang sudah bolak-balik menyambangi tempat tinggal Lukman, merendam rumahnya dan rumah-rumah tetangga. Karena banjir rob, banjir yang datang pun bisa sewaktu-waktu, dan tidak tergantung ada hujan atau tidak. Karena memang bukan banjir air hujan.

Orang-orang di daerah pesisir Pantura saat ini terus menerus waspada, karena setiap saat—tak peduli pagi, siang, sore, malam—banjir bisa datang. Yang memprihatinkan, banjir yang datang tampaknya makin hari makin tinggi.

“Di masa lalu,” ujar Lukman, “banjir yang datang paling setinggi mata kaki. Selama waktu-waktu itu, kami (warga di tempatnya) sudah terbiasa dengan banjir rob. Kami pikir, tidak apa-apa, paling banjir semata kaki. Tetapi, makin ke sini, banjir yang datang makin tinggi. Dari mata kaki, naik hingga bawah lutut, lalu selutut. Lalu naik lagi hingga setinggi paha orang dewasa, dan kadang-kadang bisa sampai perut.”

Seperti yang disebut tadi, banjir yang datang bukan banjir dari hujan, melainkan dari rob. Jadi, tak peduli siang sedang panas sekali pun, banjir bisa datang. Karena air datang dari pantai. Ketika ombak sedang besar, air pantai akan merayap naik menuju daratan, atau keluar dari rembesan tanah di mana pun. Dibanding banjir biasa (banjir karena air hujan), banjir rob lebih sulit dihadapi, karena ia seperti “musuh dalam selimut”—datang menikammu ketika kau mengira ia tidak akan menikam.

Lukman, teman saya, hidup sendirian di rumah. Bertahun lalu, dia membeli rumah itu karena harga yang menurutnya murah, dan belum terjadi rob seperti sekarang. Selama beberapa tahun tinggal di sana, Lukman merasa baik-baik saja. Tapi kini rob kerap datang, dan dia merasa kerepotan.

“Capek, ngurus banjir terus,” ujarnya.

Lukman punya banyak buku di rumahnya, yang ia beli sedikit demi sedikit, kalau pas punya duit. Karena telaten, Lukman juga membuat rak-rak untuk buku-bukunya. Seperti umumnya rak lain, rak buku itu bersusun meninggi. Lebarnya 1,5 meter, dengan tinggi sekitar 2 meter. Di rak-rak itu, Lukman meletakkan buku-bukunya dengan penuh kasih.

Terakhir yang saya lihat, ada tiga rak di rumah Lukman, semuanya penuh buku. Sepertinya Lukman sudah perlu membuat rak baru untuk menampung buku-buku lain yang belum sempat masuk rak. Belakangan, kisah terkait rak buku itulah yang membuat Lukman sampai kencing di ruang tamu.

Lukman menceritakan, “Dulu, waktu banjir masih semata kaki, aku hanya perlu mengosongkan rak paling bawah. Tapi ketika banjir makin tinggi, aku harus pula mengosongkan rak di atasnya, dan begitu seterusnya.”

Masing-masing rak buku di rumah Lukman memiliki 7 susun atau 7 tingkat, dengan susun/tingkat terbawah hanya sekitar 10 cm dari lantai. Mula-mula, ketika banjir masih cetek, Lukman hanya menyelamatkan buku-bukunya yang ada di rak terbawah. Biasanya, ia pindahkan buku-buku dari rak terbawah ke tempat lain yang sekiranya aman dari banjir.

Lalu, seiring waktu, banjir yang datang makin tinggi. Kali ini, tiap banjir datang, Lukman harus menyelamatkan buku-bukunya di rak terbawah dan rak kedua dari bawah. Sampai cukup lama, banjir hanya sampai di tingkat itu, dan selama itu pula Lukman sukses menyelamatkan buku-bukunya dari terjangan air.

Lalu tiba hari paling sial dalam hidup Lukman.

Tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba banjir datang. Banjir rob, seperti biasa. Lukman mengira itu banjir seperti biasa, yang tingginya “tidak seberapa”. Lukman juga telah menyingkirkan buku-bukunya dari rak-rak terbawah, sehingga tidak terlalu panik.

Tapi rupanya ia salah sangka. Banjir rob kali ini terus meninggi. Mula-mula, banjir hanya sampai rak buku terbawah. Lukman cuma cengar-cengir. Lalu naik ke rak kedua dari bawah. Lukman masih pede. Tetapi, oh sialan, banjir itu terus meninggi. Tiba-tiba, banjir yang tampak damai dan tenteram tanpa gejolak itu sampai di rak ketiga dari bawah, dan Lukman lintang pukang menyelamatkan buku-bukunya.

Buku-buku di rak tiga dari bawah sudah terendam banjir, dan Lukman menceritakan, “Aku menyelamatkan buku-buku itu sambil misuh-misuh tanpa henti!”

Secepat apa pun Lukman memberesi buku-bukunya, banjir tampaknya meninggi lebih cepat. Dalam sekali kayuh (maksudnya dalam sekali usaha penyelamatan buku-bukunya dari rak), Lukman bisa merengkuh 20-an buku di antara ratusan buku lain. Seiring dengan itu, banjir yang merendam rumahnya terus meninggi tanpa peduli. Akibatnya, meski Lukman sudah sekuat tenaga menyelamatkan buku-bukunya, sebagian besar tetap terkena serangan air.

Setelah mengosongkan semua rak ketiga dari bawah, dan telah menaruh buku-bukunya di tempat yang ia pikir aman, Lukman berpikir, “Bagaimana kalau ternyata banjir ini masih akan meninggi?”

Maka Lukman pun memutuskan untuk juga mengosongkan rak-rak keempat dari bawah, sebagai antisipasi. Mumpung belum kena air, pikirnya. Dalam waktu singkat, rak buku di tingkat 4 pun kosong. Sekarang Lukman bisa sedikit bernapas lega.

Seperti yang ia khawatirkan, banjir kali ini memang terus meninggi. Setelah menenggelamkan rak ketiga dari bawah, air masih terus naik hingga sampai di rak keempat. Lukman bersyukur telah mengosongkan rak-rak itu, dan, “aku bisa bikin kopi, lalu udud sambil memikirkan apa yang harus kulakukan.”

Ketika ia sedang menikmati udud, sesuatu yang tak disangka-sangka terjadi. “Aku melupakan hukum fisika,” ujar Lukman.

Rak-rak buku di rumah Lukman terbuat dari kayu dan tripleks. Ketika banjir makin meninggi, rak-rak itu harus berhadapan dengan tekanan air yang makin meningkat. Pada titik tertentu, rak-rak itu kehilangan berat karena bagian bawahnya telah dikosongkan... dan rak-rak itu ambruk bersama buku-buku di dalamnya. Ratusan buku Lukman terendam air dalam seketika.

“Aku misuh-misuh sepanjang malam,” ujar Lukman menceritakan.

Ketika mendapati buku-buku kesayangannya terendam banjir, Lukman merasa tidak berdaya. “Bagaimana pun, aku makhluk fana,” kata Lukman. “Aku sudah berusaha sekuat tenaga menyelamatkan buku-buku dari rak terbawah, memindahkannya ke tempat kering agar tak kena banjir. Tapi sekarang justru buku-buku lain, yang jumlahnya jauh lebih banyak, terendam banjir. Dan aku tidak bisa apa-apa.”

Waktu itu, Lukman bukan hanya marah mendapati buku-bukunya terendam banjir akibat rak-rak yang ambruk, tapi juga merasa tak berdaya. Dia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan buku-buku itu, menyisihkan uang sedikit demi sedikit, menjaga dan merawat buku-buku sekuat tenaga dan penuh kasih. Tetapi, sekarang, banjir menghancurkan semuanya dalam sekejap.

Dengan hati hancur, Lukman memandangi buku-bukunya di antara air yang menggenang. Dia berusaha menyelamatkan buku-buku yang basah kuyup dengan perasaan ingin menangis, ingin murka pada banjir, ingin berteriak sekeras-kerasnya, ingin misuh dan mengabsen semua binatang yang ia ingat. Tapi ia juga kebelet kencing.

“Jadi, aku punya ide cemerlang,” kata Lukman. “Aku lalu kencing di ruang tamu.”

Biasanya, meski banjir, Lukman tetap mematuhi adab atau norma, yang salah satunya buang air kecil di tempatnya. Tetapi, waktu itu, banjir yang tinggi telah merendam semua bagian rumah, termasuk kamar kecil. Sementara Lukman sudah sangat kebelet, jadi tidak sempat memikirkan tempat lain yang “strategis” untuk buang air kecil. Jadi, seperti yang diceritakan, Lukman akhirnya kencing di ruang tamu.

Ketika kencing di ruang tamu, Lukman menceritakan, dia tiba-tiba tertawa dengan ulah yang sedang dilakukannya, dan Lukman menertawakan dirinya sendiri, menertawakan nasibnya, menertawakan buku-bukunya yang terendam air, menertawakan banjir, menertawakan kehidupan dan seisinya.

“Aku merasa telah mendapat pencerahan batin, bahwa semua itu—banjir, buku-buku milikku yang terendam, dan segala macam persoalan—benar-benar fana. Kencing di ruang tamu membawaku pada kesadaran yang luar biasa.” Lukman mengatakan itu dengan nada seorang filsuf yang baru menemukan inti kehidupan, hingga Black Hole di angkasa tampak seremeh lubang semut di depan rumahnya, dan dentuman Big Bang hanyalah mercon mainan anak-anak.

“Sekali-sekali kamu perlu kencing di ruang tamu,” ujar Lukman serius, seolah sedang menasihati saya tentang jalan hidup yang benar.

Lalu Lukman menjelaskan, “Selama ini, aku selalu mengkhawatirkan buku-buku milikku, mengkhawatirkan banjir yang datang sewaktu-waktu, mengkhawatirkan rumah yang kutinggali, mengkhawatirkan banyak hal. Ketika melihat rak-rak bukuku ambruk dan menenggelamkan buku-buku di dalamnya, aku merasa hancur. Itu seperti menyaksikan sesuatu yang kamu cintai direnggut dari kehidupan. Aku sempat berpikir mungkin aku akan gila setelah itu.

“Tetapi, saat kemudian kencing di ruang tamu, entah kenapa aku bisa melihat semua itu dengan pikiran berbeda. Bahwa aku bisa menertawakan semuanya, bahwa aku masih hidup, bahwa aku bisa mengumpulkan uang lagi untuk membeli banyak buku lagi, bahwa aku masih bisa bertahan menghadapi banjir yang sewaktu-waktu datang, bahwa aku masih waras dan bisa berpikir dengan baik, bahwa aku masih punya kesempatan untuk memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya, bahwa aku masih hidup dan sehat sehingga bisa terus belajar dan bekerja.

“Karena itulah, seperti yang kubilang tadi, aku merasa menemukan kesadaran, atau bahkan pencerahan, saat kencing di ruang tamu. Karena air kencingku di tempat itu pun akhirnya akan hilang bersama banjir yang surut, tanpa bekas, tanpa meninggalkan apa pun. Kupikir, itulah kesadaran terbaik, bahwa kita tak perlu terlalu terikat pada hal-hal yang kita miliki. Seperti buku-buku milikku yang kini hilang karena hancur oleh air, dan aku bisa menertawakannya.”

Saya manggut-manggut, dan merasa mendapat pelajaran berharga. Tetapi, sejujurnya, saya belum mampu ke tingkat kesadaran Lukman. Karena, bagaimana pun, saya masih malu untuk kencing di ruang tamu.

Percakapan yang Quo Vadis

Dua bocah bercakap-cakap. Salah satu dari mereka curcol, “Aku kangen banget sama mbakyuku.”

“Mbakyumu siapa?” sahut bocah temannya.

“Mbakyuku Nabilah.”

“Lhoh, kan, Nabilah bukan mbakyu?”

“Iya, ya.”

Lalu mereka mengheningkan cipta.

Polemik

Yang ribut cuma satu orang kok polemik.

Senin, 15 Oktober 2018

Hidup Terlalu Singkat untuk Membaca WhatsApp

Dulu, aku pernah heran pada orang-orang yang masih pakai pager, 
ketika ponsel sudah jadi barang umum. Kini, orang-orang heran karena 
aku tidak pakai WhatsApp dan masih mengandalkan SMS.

Untuk benar-benar memahami sesuatu, sepertinya kita memang 
harus mengalaminya terlebih dulu.


“Mengapa kamu tidak memakai WhatsApp?” Itu pertanyaan yang sering saya terima dari orang-orang yang mengenal saya di dunia nyata. Mirip saat BlackBerry (BB) sedang populer dulu, banyak yang bertanya nomor BBM. Belakangan, setelah BB tidak lagi populer, yang ditanyakan adalah nomor WhatsApp (WA).

Dulu, saat musim BlackBerry, saya biasanya menjawab, “Maaf, aku tidak pakai BB,” setiap kali ditanya nomor BBM. Kini, saya juga menjawab dengan kalimat senada setiap kali ditanya nomor WA, “Maaf, aku tidak pakai WhatsApp.”

Alasan kenapa saya kukuh tidak mau menggunakan WhatsApp dan semacamnya, karena saya merasa tidak punya waktu.

Aplikasi-aplikasi yang ditujukan untuk komunikasi—semisal WhatsApp—kerap digunakan untuk hal-hal yang—menurut saya—tidak penting, tidak bermanfaat, tidak berfaedah, tidak akademis, dan tidak enviromental.

Sudah sering saya mendengar teman yang mengeluh karena mendapati banyak pesan menumpuk di WhatsApp. Bukan puluhan, tapi ratusan. Itu baru WhatsApp. Belum pada aplikasi lain sejenis, yang ia pakai di ponselnya.

Kegiatan teman-teman saya seusai bangun tidur adalah membuka ponsel, dan mengecek pesan-pesan yang masuk di aneka aplikasi yang mereka gunakan. Kadang sampai berjam-jam, karena harus membalas pesan-pesan tersebut. Itu pun belum cukup. Sehari-hari, mereka tampaknya terus sibuk dengan ponsel, mengurusi pesan yang masuk di WhatsApp, di Line, di BBM, di berbagai sarana komunikasi lain. Akibatnya, mereka tak pernah bisa lepas dari ponsel.

Yang bekerja tidak fokus pada pekerjaan, karena diganggu ponsel. Yang duduk-duduk di taman tidak bisa menikmati keindahan sekelilingnya, karena perhatian terus tersita ke ponsel. Yang beristirahat tidak bisa tenang dan nyaman, karena pikirannya terus tertuju ke ponsel. Bahkan yang punya anak-anak sampai menelantarkan anak-anaknya, karena ponsel terus menerus menyita perhatian.

Saya tidak ingin mengalami hal semacam itu. Setiap kali bangun tidur, saya ingin melakukan hal lain yang lebih bermanfaat, yang jelas faedahnya. Misal membaca buku. Atau meneruskan pekerjaan kemarin. Atau menyapu rumah. Atau mencuci piring dan gelas kotor. Atau apa pun, yang jelas dan nyata, yang bermanfaat, dan berfaedah. Saya tidak sudi membuang-buang waktu untuk membaca pesan-pesan tidak penting di WhatsApp atau semacamnya!

Itu alasan pertama kenapa saya tidak memakai WhatsApp, dan tidak tertarik menggunakannya. Karena tidak punya waktu, dan tidak sudi membuang-buang waktu. Hidup ini terlalu singkat untuk membaca pesan WhatsApp!

Alasan kedua, karena saya ingin tetap menjadi manusia.

Sudah berkali-kali saya bercakap-cakap dengan seseorang, atau beberapa orang, dan percakapan kami disela oleh ponsel. Mereka terus menerus mengecek ponsel, karena terus menerus ada pesan masuk di WhatsApp dan di berbagai aplikasi lain.

Itu benar-benar sangat mengganggu dan menjengkelkan! Sebegitu menjengkelkan, hingga saya merasa ingin merebut ponsel mereka, dan membantingnya, lalu menginjak-injaknya sampai hancur.

Saya bisa menoleransi orang yang memutus percakapan karena adanya panggilan telepon. Misal kita sedang bercakap-cakap, lalu ada panggilan telepon masuk, dan kau pamit sebentar untuk menerima telepon tersebut, karena siapa tahu itu memang urusan penting yang mendesak. Silakan. Tapi saya benar-benar dongkol setiap kali melihat orang terdistraksi oleh pesan-pesan sepele di ponsel—pesan-pesan tidak penting yang mestinya di buang ke tempat sampah... atau ke dasar neraka.

Dan pesan-pesan sampah itu mengganggu komunikasi manusiawi di antara kami—itulah yang membuat saya sangat jengkel. Sebegitu muak pada aplikasi-aplikasi pesan semacam itu, hingga saya tidak tertarik mencoba.

Setiap kali bercakap-cakap dengan orang lain, saya TIDAK PERNAH mengeluarkan ponsel, kecuali untuk alasan-alasan tertentu yang masuk akal dan penting, semisal untuk memasukkan nomor telepon baru, atau karena ada panggilan telepon, atau bisa pula karena ada SMS yang datang, dan harus dibalas segera.

Sikap itu—tidak pernah mengeluarkan ponsel selama percakapan—saya lakukan, sebagai bentuk penghormatan kepada lawan bicara. Saya ingin dia tahu bahwa saya menghormatinya, bahwa saya menghargai keberadaannya, hingga saya hanya akan fokus kepadanya, tanpa diganggu oleh ponsel! Ketika kami bercakap-cakap, saya ingin dia tahu bahwa saya manusia yang bercakap-cakap dengannya sebagai manusia.

Selama ini, saya memang tidak pernah menegur siapa pun terkait hal tersebut. Setiap kali bercakap dengan teman, lalu mereka terdistraksi oleh ponsel, saya hanya diam—tak pernah sekali pun menegur. Tetapi, mungkin, mereka lama-lama sadar sendiri, karena tidak pernah melihat saya mengeluarkan ponsel setiap kali bercakap dengan siapa pun. Belakangan, orang-orang mungkin tidak enak kalau akan mengeluarkan ponsel saat bercakap-cakap dengan saya.

Saya ingin menjadi manusia, dan tetap menjadi manusia. Yaitu yang bertemu dan bercengkerama dengan sesama, fokus pada orang di depan kita, bercakap dan bercanda serta tertawa bersamanya... tanpa harus diganggu dan disela oleh benda keparat bernama ponsel!

Jika kita tidak bisa melakukan hal sederhana itu—khusyuk saat bersama orang lain—maka kita lebih hina dari binatang, karena binatang bahkan bisa melakukannya!

Saya tidak paham bahasa binatang, tentu saja, tetapi setidaknya saya kerap mengamati binatang-binatang yang sedang bersama temannya. Anjing saling mendusel-duselkan kepala pada temannya, lumba-lumba saling bercengkerama dengan sesama, burung-burung tertawa riang dan saling melempar nyanyian, sementara induk ayam menemani anak-anaknya mencari makan—dan mereka tidak pernah diganggu dering keparat, atau pesan-pesan sampah terkutuk, yang menyela kebersamaan mereka. Jika kita tidak bisa seperti mereka, artinya kita tidak lebih beradab dari mereka.

Disadari atau tidak, kita telah kehilangan kehangatan kemanusiaan, karena tak bisa lagi khusyuk pada orang di dekat kita, karena perhatian dan konsentrasi kita terus menerus dialihkan oleh ponsel yang tak henti memuntahkan sampah.

Kita tidak lagi menikmati keceriaan dan tawa menyenangkan sebagaimana seharusnya manusia, karena kebersamaan kita dengan orang lain telah dipisahkan oleh aneka dering, oleh notifikasi, oleh aneka sampah.

Jadi, ponsel yang saya gunakan setiap hari hanya berfungsi untuk bertelepon dan berkirim SMS. Hanya itu pula cara orang lain bisa menghubungi saya lewat ponsel. Dengan telepon, atau dengan SMS. Dengan dua sarana itu, orang tidak bisa mengirim sampah seenaknya sebagaimana lewat aplikasi semacam WhatsApp. Dan saya merasa nyaman menjalani hidup semacam itu.

Dulu, saya pernah tertarik pada seorang wanita di dunia maya, dan bermaksud menjalin komunikasi secara intens dengannya. Tapi dia menawari agar kami berkomunikasi via WhatsApp. Dan apakah saya lalu memakai WhatsApp? Tidak! Saya berhenti menjalin komunikasi dengannya!

Pas lebaran kemarin, keluarga besar saya bermaksud mengumpulkan semua sanak keluarga dalam satu grup WhatsApp. Mereka menginventarisir semua nomor WhatsApp yang terhubung anggota keluarga, termasuk saya. Dan saya mengatakan kepada mereka, bahwa saya tidak memakai WhatsApp.

Saya berkata, “Kalau kalian perlu saya, silakan telepon atau SMS, dan saya akan datang.”

Di Twitter, saya pernah mendapati tweet, “Apakah kalian pernah tidak menyentuh ponsel sama sekali selama satu jam?”

Saya tersenyum saat membaca tweet itu. Tidak menyentuh ponsel selama satu jam? Saya bahkan sering tidak menyentuh ponsel sama sekali hingga berjam-jam! Dalam kondisi tertentu—misal sedang khusyuk belajar atau sibuk bekerja—saya bahkan tidak menyentuh ponsel sampai berhari-hari, karena dering ponsel saya matikan, hingga saya benar-benar tidak terganggu apa pun.

Saya yang memiliki ponsel, bukan ponsel yang memiliki saya! Sayalah yang punya kuasa dan pilihan untuk menggunakannya, dan bukan ponsel yang berkuasa atas diri saya. Mungkin terdengar sinting, tapi saya nyaman menjalani gaya hidup yang saya pilih sendiri. Tenang, hening, sunyi, tanpa ada gangguan yang tak penting.

Dalam pergaulan sehari-hari, saya memang tidak bisa menghindar dari kemungkinan ditanya nomor WhatsApp atau semacamnya. Sebagian orang mungkin tidak pede kalau ditanya nomor WA, dan menjawab tidak pakai WA (ini mirip fenomena BBM di masa lalu—sebagian orang tidak pede kalau tidak pakai BBM). Tapi saya tidak peduli. Setiap kali ada orang bertanya nomor WhatsApp, saya jujur—dan pede—menjawab, “Aku tidak pakai WhatsApp.”

Kadang-kadang, orang yang bertanya akan bingung, dan kembali bertanya, “Kenapa tidak pakai WhatsApp?”

Biasanya, saya tersenyum, dan menjawab, “Karena hidup ini terlalu singkat untuk membaca WhatsApp.”

Sebagai manusia, saya tentu senang berkomunikasi dengan teman-teman, mengobrolkan hal-hal ringan yang menyenangkan, sambil bercanda dan tertawa. Tapi saya hanya mau melakukannya secara langsung, face to face, bukan melalui sarana pesan seperti WhatsApp!

Saat mengobrol dengan teman secara langsung, saya bisa melihat wujudnya secara utuh, ekspresinya, sikapnya, tawa dan senyumnya—sebagaimana dia bisa melihat hal sama pada diri saya. Persentuhan manusiawi semacam itu tidak bisa diwakili teknologi semacam WhatsApp atau semacamnya. Apalah arti ikon senyum, dibandingkan melihat langsung senyum teman kita? Apalah arti ikon tawa, dibandingkan mendengar langsung tawa teman kita?

Percakapan langsung adalah pertemuan yang intens, dalam arti memiliki waktu terbatas. Seasyik apa pun kami mengobrol, pada akhirnya kami harus berpisah. Perpisahan itu menerbitkan kerinduan manusiawi, hingga kami ingin bertemu kembali.

Kenyataan semacam itu tidak terjadi saat bercakap melalui WhatsApp atau aplikasi lain, karena tidak ada batas waktu, tidak ada perasaan intens, dan pesan-pesan sampah di WhatsApp bisa datang kapan saja tanpa peduli waktu. Akibatnya, kita merasa terus berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, tapi sebenarnya kering, sendirian, dan kesepian. Karena nyatanya yang kita lakukan hanya membalas pesan lewat ponsel.

Saya tidak ingin terjebak dalam gaya hidup semacam itu. Sudah sejak lama, saya menerapkan prinsip hidup yang khusyuk. Yaitu fokus dan khusyuk pada apa pun yang kita lakukan.

Saat makan, saya khusyuk pada makanan, tanpa disela dering ponsel, bahkan tanpa bercakap-cakap dengan orang lain! Omong-omong, saya benar-benar benci jika harus bercakap-cakap selagi makan. (Saya tidak mempersoalkan orang lain yang makan sambil bercakap-cakap, tapi saya tidak akan ikut melakukannya. Saya baru akan bercakap-cakap setelah makan selesai.)

Begitu pun saat sedang belajar, atau sedang bekerja, saya akan khusyuk pada yang saya lakukan. Saat bertemu dan bercakap-cakap dengan seseorang atau beberapa orang, saya akan khusyuk pada percakapan, bukannya terus menerus terdistraksi oleh ponsel.

Karena hidup ini begitu singkat. Dan saya tidak ingin menyia-nyiakannya untuk hal-hal tidak penting, semisal tumpukan sampah di WhatsApp.

Evolusi

“Jika manusia memang hasil evolusi, kenapa kita sekarang tidak berevolusi?”

Pertanyaan salah!

Kita masih dan sedang berevolusi. Kalau kau tidak mengalami evolusi apa pun, itu masalahmu.

Sudah Tidak Paham

Bagiku, kata-kata itu sangat dalam.

Rabu, 10 Oktober 2018

Kemanusiaan Retak

Sering kali aku ngeri, melihat dunia, 
dan manusia, akhir-akhir ini.


Dua perempuan remaja berjalan di pinggir jalan raya, salah satu dari mereka memegangi ponsel untuk merekam. Dua remaja itu berjalan sambil berceloteh dan bergaya, dan mungkin berencana mengunggah rekamannya kelak ke YouTube atau media sosial lain. Tetapi, tiba-tiba, muncul pengendara motor dari belakang—dua orang berboncengan—dan salah satu dari mereka merebut ponsel yang sedang dipegangi perempuan tadi.

Si perempuan kaget. Ponselnya sudah berpindah tangan, dan si penjambret bermotor sudah ngebut meninggalkan. Tak peduli sekeras apa pun si perempuan menjerit, percuma, karena yang menjambret ponselnya sudah jauh. Dan tak peduli.

Adegan itu saya temukan dalam video yang muncul di Twitter. Selain video tersebut, ada banyak video lain berisi serupa, baik di Twitter atau media sosial lainnya.

Di YouTube, video semacam itu bahkan banyak sekali, baik dari dalam maupun luar negeri. Rata-rata isinya sama. Seseorang atau dua orang sedang berjalan, lalu muncul pengendara motor berboncengan, dan tiba-tiba menjambret barang orang yang sedang berjalan. Barang yang dijambret bisa ponsel yang sedang dipegang, bisa pula tas yang disampirkan ke pundak.

Yang agak mengerikan, korban penjambretan kadang tidak hanya kehilangan barangnya, tapi juga sampai luka-luka. Dalam sebuah video, saya pernah menyaksikan seorang perempuan sedang berjalan sendirian, lalu muncul pengendara motor berboncengan. Si pengendara motor mencoba menjambret tas si perempuan, tapi rupanya si perempuan sadar. Dia pun berusaha mempertahankan tasnya, hingga tarik-tarikan dengan si penjambret.

Karena si perempuan tetap memegangi tasnya, dia akhirnya terseret oleh tarikan penjambret, seiring laju motor. Perempuan malang itu terseret di aspal, dan si penjambret tidak peduli. Motornya terus melaju. Si perempuan akhirnya melepaskan tasnya, dan si penjambret pergi berlalu. Si perempuan tidak hanya kehilangan tas, tapi juga luka-luka, karena terseret di jalanan.

Itu hanya satu kisah. Di luar kisah itu, masih banyak kisah serupa yang terekam secara live lewat kamera-kamera CCTV, yang lalu rekamannya diunggah di YouTube. Yang mengerikan dari video-video itu, adegan di dalamnya nyata, bukan sekadar trik kamera sebagaimana dalam film action. Karenanya, penjambretan itu nyata, penjambret bangsat semacam itu benar-benar ada, dan si korban benar-benar terseret di aspal dan luka-luka.

Tetapi, bahkan, meski menyadari hal itu pun, saya masih berpikir, “Ah, itu cuma di luar negeri.” Atau, “Ah, itu pasti di luar kota. Di tempatku tidak akan ada kejahatan semacam itu.”

Sampai lama, saya masih berpikir bahwa semua kejahatan di jalanan itu hanya ada di luar negeri, atau di luar kota yang jauh di sana, pendeknya tidak ada di tempat saya tinggal. Seperti umumnya manusia lain, saya punya “kepercayaan semu” bahwa yang buruk-buruk hanya ada di tempat jauh, dan tidak akan terjadi di dekat saya. Sampai suatu hari, kesadaran saya dikejutkan oleh peristiwa nyata, bahwa hal buruk itu benar-benar bisa terjadi di dekat kita.

Suatu siang, saya keluar rumah dengan rencana mengisi bensin motor, lalu menikmati mi ayam di tempat langganan. Saya pun pergi ke pom bensin, yang lokasinya cukup jauh. Saya sedang melaju perlahan, ketika peristiwa itu dimulai.

Waktu itu, saya berada di jalan lurus menuju pom bensin. Sekitar 300 meter dari pom bensin, ada dua cewek remaja sedang melangkah di pinggir jalan. Mereka ada di depan saya. Lalu, tiba-tiba, muncul orang berboncengan motor mendekati mereka, dan menarik tas salah satu cewek tadi. Adegannya mirip seperti yang saya tonton di video. Si cewek berusaha mempertahankan tas miliknya, dan si penjambret terus menarik. Ketika akhirnya si cewek jatuh, tasnya terlepas, dan penjambretnya langsung tancap gas.

Spontan, dua remaja tadi menjerit-jerit. Beberapa orang di sana segera berhenti, dan menolong korban.

Saya terpana menyaksikan itu. Dan kesadaran saya langsung pulih, saat seseorang di samping saya melaju—dia mengendarai Kawasaki Ninja—berteriak, “Jambret!”

Si Ninja lalu mengejar penjambret tadi. Melihat itu, bersama amarah yang tiba-tiba membara, saya terpikir untuk ikut mengejar. Maka saya pun menaikkan kecepatan, dan melaju secepat yang saya bisa.

Peristiwa itu terjadi di jalan yang mempertemukan Pekalongan dan Batang, yang dulu pernah saya ceritakan di sini. Jalanan di sana bukan jalan raya utama, hingga lalu lintas tidak terlalu padat. Jalanan di sana juga mulus, dengan aspal beton yang baru dibangun. Jadi, ngebut di sana bisa dibilang tidak terlalu berbahaya, asal punya nyali.

Penjambret tadi berboncengan. Saya tidak tahu—tidak sempat memperhatikan—motor apa yang mereka kendarai. Tapi Si Ninja, yang mengejar mereka, hanya sendirian, sebagaimana saya juga sendirian. Berdasarkan logika, jika kami melaju dengan kecepatan sama, kami akan bisa menangkap mereka. Bobot kendaraan kami jelas lebih ringan daripada bobot kendaraan mereka.

Semula, Si Ninja ada di depan saya, karena dia melaju lebih dulu. Namun kemudian saya berhasil menyusulnya. Saya sempat menengok ke arahnya, dan dia berteriak, “Di depan!” Maksudnya, tentu saja, “Penjambret keparat itu ada di depan!”

Saya terus melaju, dan sesaat kemudian dua penjambret itu mulai tampak di depan. Saya masih ingat ciri-ciri mereka. Motor mereka melaju sangat cepat, tapi bagaimana pun mereka berboncengan, dan mudah bagi saya untuk menjajari kecepatannya.

Makin dekat, saya makin yakin itu mereka. Saya makin bersemangat, dan laju motor saya makin mendekati laju motor mereka. Beberapa saat, saya sempat menunggu tempat yang tepat, yang relatif sepi, agar “efek kerusakan” yang mungkin terjadi tidak terlalu berbahaya.

Akhirnya, motor kami benar-benar berdekatan. Dalam beberapa detik yang kritis, saya mendekatkan motor ke arah samping mereka, dan menendang belakang motor mereka dengan keras. Dampaknya benar-benar tepat seperti yang saya bayangkan. Motor saya oleng sesaat akibat gerakan itu, sementara motor si penjambret jatuh tanpa bisa dikendalikan. Dua bajingan itu terkapar bersama motor mereka.

Orang-orang di lokasi itu mulai memperhatikan, tapi mungkin masih bingung apa yang terjadi.

Saya menghentikan motor, lalu turun, dan melepas helm. Rencananya, helm itu akan saya hantamkan ke muka penjambret mana pun yang mencoba bangun.

Salah satu penjambret berusaha bangun. Tetapi, sebelum sempat saya melakukan yang ingin saya lakukan, Si Ninja tiba-tiba muncul, dan—ini di luar bayangan saya—dia melaju seperti orang gila, dan menghantamkan motornya ke penjambret yang baru saja berdiri. Akibatnya sangat jelas, penjambret tadi kembali terkapar, kali ini lebih mengenaskan.

Si Ninja menghentikan motornya. Dia turun, dan melangkah dengan amarah yang sangat tampak di wajah.

Sebenarnya, saya sempat berencana pura-pura tak tahu. Kalau Si Ninja mau membantai dua keparat itu, persetan, itu urusannya. Saya mau ke pom untuk ngisi bensin! Oh, hell, ada banyak penjambret kejam di luar sana, yang menjambret orang lain seenaknya, bahkan tak peduli korban mereka tewas atau luka-luka. Kalau sekarang ada dua penjambret yang akan sekarat, persetan dengan mereka!

Tapi orang-orang di sana segera menghalangi Si Ninja. Siapa pun yang ada di sana waktu itu pasti menyadari bahwa Si Ninja siap menumpahkan amarah yang sangat mengerikan. Karenanya, orang-orang berusaha memeganginya.

Menyadari keinginannya tak mungkin dilakukan, Si Ninja makin emosi. Dia terus berusaha mendekati para penjambret dengan marah, dan orang-orang di sana berusaha mengamankan dua penjambret tadi.

Kerumunan orang di sana pun segera tahu, bahwa peristiwa itu terkait penjambretan. Sebagian mereka lalu membawa dua penjambret ke tepian, bersama motor mereka, sementara Si Ninja masih berusaha meraih dua penjambret tadi. Meski dipegangi beberapa orang, Si Ninja masih berusaha merangsek ke para penjambret yang telah diamankan.

Dalam adegan itu, Si Ninja yang emosi sempat mengatakan bahwa adiknya pernah menjadi korban penjambretan. Adiknya, perempuan, sedang naik motor sendirian, ketika tasnya dijambret. Adiknya jatuh dan luka parah, bahkan sampai koma hingga dirawat di rumah sakit cukup lama. Rupanya itu yang menjadikannya dendam.

....
....

Peristiwa itu menyadarkan saya bahwa ada yang retak dalam kemanusiaan kita. Penjambret merasa bebas merebut milik orang lain, dan tak peduli jika korbannya sampai tewas atau luka-luka. Di sisi lain, ada orang yang juga tak peduli jika ada penjambret yang sampai tewas dan luka-luka.

Manusia telah menjadi serigala bagi manusia lain, yang merasa kuat menindas yang lemah seenaknya. Kalau orang bisa seenaknya merebut milik orang lain, seperti kasus penjambretan yang kini marak, artinya ada yang salah dalam kehidupan kita, dalam kemanusiaan kita.

“Jika mata dibalas mata,” kata Gandhi, “semua orang akan buta.”

Sayangnya, tidak semua orang semulia Gandhi. Beberapa orang menyimpan dendam kesumat atas perlakuan buruk dan kejahatan yang pernah menimpanya, dan bertekad untuk membalas, bagaimana pun caranya. Seperti Si Ninja. Dia tentu tahu, dua penjambret tadi belum tentu orang sama yang menjambret adiknya. Tapi dia tidak peduli. Yang dia tahu, adiknya dijambret hingga luka-luka dan koma, dan dia menyimpan dendam untuk semua penjambret di dunia.

Saat kemanusiaan yang retak menjalani kehidupan yang sama retak, korban terakhir adalah nurani yang ikut retak.

Noffret’s Note: Keminggris

Sebagian orang Indonesia (setidaknya yang sering kulihat di Twitter), punya gejala aneh saat bercakap-cakap. Mula-mula, mereka menggunakan bahasa Indonesia. Ketika ada yang menyambar, dan terjadi komunikasi, percakapan lalu berpindah menggunakan bahasa Inggris. Lucu, sebenarnya.

Perpindahan dari Indonesia ke Inggris, biasanya bisa ditandai dari tensi percakapan. Kalau bernuansa santai, mereka konsisten pakai bahasa Indonesia (meski kadang ada yang pakai Inggris). Yang jelas, ketika percakapan "memanas", bahasa Inggris akan makin sering/banyak digunakan.

Gejala semacam itu sebenarnya berbahaya, karena lama-lama bisa mencerabut diri kita dari akar, sekaligus merusak bahasa kita. Ada orang yang biasa menyebut "produk" dengan "prodak" (product). Ketika dia menulis di whiteboard, dia menulisnya "prodak", bukan produk atau product.

Kapan-kapan, kalau ada orang yang menantangku berdebat di Twitter, mungkin aku akan menyatakan, "Aku mau berdebat, asal kita sama-sama menggunakan bahasa Indonesia, dari awal sampai akhir. Siapa pun yang mencoba menggunakan bahasa Inggris (meski satu kata), dia dinyatakan kalah."

Jangan salah paham, aku tidak alergi dengan bahasa asing, termasuk bahasa Inggris. Aku hanya sedang gelisah memikirkan, mengapa ada sebagian orang yang tampaknya selalu maksa pakai Inggris kalau sedang ngomong serius? Wong ngomong pakai bahasa Indonesia saja bisa sama-sama paham.

Kalau pun ingin "keminggris", coba belajar berbahasa Indonesia, tapi menggunakan "logat" (atau conversation) ala Inggris. Itu menjadikan kita makin fasih berbahasa Indonesia, ucapan kita terdengar keren, tapi orang-orang (termasuk yang tidak bisa Inggris) akan paham omongan kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Agustus 2018.

Mbakyu yang Bukan Mbakyu

Seorang teman berkata, “Kamu menulis banyak catatan yang mencitrakan sosok mbakyu sebagai wanita sempurna, penuh kasih, bijaksana, dan berbagai sifat positif lainnya. Aku ingin kamu tahu, aku punya mbakyu—kakak perempuan—tapi terus terang dia tidak memiliki sifat-sifat positif sebagaimana yang kamu citrakan dalam banyak tulisanmu.

“Bukannya penuh kasih, mbakyuku sangat egois. Bukannya bijaksana, mbakyuku sangat tolol dan keras kepala. Secara objektif, aku menyadari mbakyuku memiliki banyak kekurangan, tapi dia tidak mau menyadari kekurangannya. Sebagai orang yang tumbuh bersamanya sejak kecil, aku tahu betul dia beserta sifat-sifatnya, dan mbakyuku sangat jauh dari gambaranmu tentang mbakyu.”

“Kalau begitu,” saya menjawab, “mbakyumu bukan mbakyu. Karena, kenyataannya, seorang perempuan tidak otomatis disebut ‘mbakyu’ hanya karena dia punya adik.”

Jumat, 05 Oktober 2018

Kenikmatan yang Menggigit

“Nemu lapis legit enak di supermarket.”


Di antara banyak makanan nikmat di sekitar kita, lapis legit termasuk di antaranya. Lapis legit juga ada dalam daftar makanan favorit saya. Karena itu, setiap kali belanja ke swalayan, saya biasanya menuju rak kue, dan membeli beberapa lapis legit untuk persediaan sarapan di rumah. Sarapan lapis legit, bersama teh hangat dan sebatang rokok, menjadikan hari saya begitu indah.

Saat sarapan, saya biasanya mengiris beberapa lapis, lalu mengunyahnya dengan nikmat. Sambil menikmati kelembutan lapis legit di mulut, saya sering memandangi irisan kue yang nikmat itu. Lapis legit adalah makanan yang tidak hanya nikmat, tapi juga memiliki wujud elegan. Bahkan melihat bentuknya saja, pikiran waras manusia kemungkinan sudah tahu—atau setidaknya bisa membayangkan—lapis legit memang nikmat.

Di sekitar kita banyak makanan enak atau nikmat, namun belum tentu memiliki wujud elegan seperti lapis legit. Durian, misalnya. Saya juga penggemar durian. Dan saya sepakat durian adalah makanan—dalam hal ini buah—yang sangat nikmat. Tapi wujud durian tidak bisa dibilang elegan. Kulitnya keras, berduri tajam, dan untuk membukanya diperlukan keahlian atau setidaknya kekuatan.

Hal itu jelas berbeda dengan lapis legit. Secara bentuk, lapis legit memiliki wujud elegan. Kebanyakan lapis legit berbentuk kotak atau persegi, dengan permukaan halus dan lembut. Saat ingin menikmati, kita hanya perlu mengiris sesuai kebutuhan. Lalu mengunyah dengan indah. Bahkan menyentuhnya saja, rasanya sudah indah.

Oh, saya suka menyentuh permukaan lapis legit yang halus dan lembut itu, sebelum menikmatinya. Kelembutannya bikin gemezzz.

Seperti yang disebut tadi, saya sering memandangi irisan lapis legit. Bagaimana pun, bentuk lapis legit unik—berlapis-lapis, yang setiap lapisnya ditandai garis lebih gelap. Dulu, waktu pertama kali menyadari hal itu, saya berpikir, “Apakah cara membuat lapis legit memang selapis demi selapis seperti yang terlihat pada wujudnya?”

Didorong penasaran, saya pun mencari tahu, dan menemukan tutorial membuat lapis legit di YouTube. Ternyata, cara membuat lapis legit memang seperti itu. Selapis demi selapis.

Lebih lengkap, saya juga akhirnya tahu apa saja bahan pembuat lapis legit, serta detail pembuatannya.

Lapis legit, seperti bayangan saya semula, dibuat dari tepung terigu, mentega, gula halus, susu bubuk dan susu kental, kuning telur, dan vanili. Saya membayangkan Nabilah juga dibuat dari bahan-bahan serupa itu. Karena saya tidak percaya kalau Nabilah diciptakan dari tanah liat. Dia pasti dibuat dari campuran tepung terigu, gula halus, dan mentega! Pasti!

Oke, saya melantur.

Dalam proses pembuatan, bahan-bahan tadi—maksudnya bahan-bahan pembuat lapis legit—diolah dan dipisah pada wadah sendiri-sendiri, diolah lagi dan dicampur setahap demi setahap, untuk kemudian dimasukkan ke loyang pembuat lapis legit.

Dalam proses pembuatan di loyang, adonan dimasukkan ke loyang sedikit demi sedikit, selapis demi selapis. Untuk setiap lapisan yang ditambahkan, loyang akan dimasukkan ke oven, lalu ditunggu beberapa saat agar adonan matang. Setelah itu, loyang dikeluarkan dari oven, ratakan permukaannya, tambahkan selapis adonan lagi, masukkan ke oven lagi, dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya menjadi lapis legit utuh sebagaimana yang kita kenal.

Jadi, lapis-lapis lembut yang kita lihat pada irisan lapis legit memang menunjukkan proses pembuatannya. Maksud saya, kue yang nikmat itu memang dibuat selapis demi selapis. Padahal, dalam setiap lapis legit terdapat banyak lapisan. Oh, well, bahkan proses pembuatannya pun serumit itu. Pantas nikmatnya luar biasa. Ketika sampai pada pemahaman itu, saya pun berpikir lapis legit adalah karunia alam semesta. Dan penemu lapis legit, siapa pun dia, layak mendapat Nobel.

Kembali ke cerita tadi. Saya sering beli lapis legit setiap ke swalayan, untuk persediaan sarapan. Di swalayan langganan, ada rak khusus berisi aneka macam lapis legit, dalam berbagai kemasan, dengan berbagai rasa. Ada lapis legit konvensional, seperti yang biasa kita kenal. Ada pula lapis legit yang dihiasi butir-butir kismis. Bahkan ada pula lapis legit yang berwarna-warni. Semuanya, tentu saja, nikmat.

Di rak itu, tampaknya ada banyak produsen lapis legit yang saling bersaing untuk mendapat perhatian calon pembeli. Karenanya, pada masing-masing bungkus atau kemasan terdapat aneka tulisan (slogan) yang mungkin ditujukan untuk mengilustrasikan lapis legit yang mereka produksi, sekaligus memikat hati calon pembeli.

Di salah satu kemasan lapis legit, misal, saya mendapati kalimat, “Nikmatnya benar-benar menggigit.”

Oh, well, nikmatnya benar-benar menggigit. Selama beberapa saat, saya memandangi tulisan itu, dan terkesima. “Nikmatnya benar-benar menggigit.”

Selama beberapa saat pula, saya berpikir. Sebenarnya, siapakah yang “menggigit”, terkait hubungan saya dengan lapis legit? Terkait lapis legit, saya pikir sayalah yang menggigit. Karena saya menggigit dan mengunyah lapis legit, bukan sebaliknya. Tapi kenapa lapis legit itu disebut “nikmatnya benar-benar menggigit”? Mungkin akan lebih tepat kalau, misalnya, “Nikmat di setiap gigitan”.

Tapi bodo amat, pikir saya kemudian. Saya pun memasukkan lapis legit itu—yang nikmatnya benar-benar menggigit—ke keranjang belanja. Mau menggigit atau digigit, yang penting nikmat!

Saya kembali memusatkan perhatian ke tumpukan lapis legit di rak swalayan, mencari-cari lapis legit lain yang tampak menggoda, sambil tertarik membaca slogan-slogan yang tertulis di kemasannya. Ada lapis legit yang memiliki slogan, “Nikmat di setiap lapisnya”. Saya berdebar-debar.

Slogan lain di lapis legit lain, “Nikmatnya tak habis-habis.” Saya makin berdebar. Tampaknya semua lapis legit menggunakan istilah “nikmat” sebagai slogan.

Pada sebuah kemasan lain, saya mendapati slogan yang tiba-tiba membuat saya ingin mimisan. Lapis legit itu tampak seperti umumnya lapis legit—berbentuk persegi panjang, dan dikemas plastik tebal tembus pandang. Tapi slogan yang tertulis pada kemasan lapis legit membuat saya terkesima. Bunyinya, “Nikmatnya sampai bikin ngilu”.

(((((Nikmatnya sampai bikin ngilu?)))))

Itu lapis legit atau apa, pikir saya dengan bingung campur penasaran. Tapi slogan yang aneh dan mungkin tidak ilmiah itu berhasil membuat saya tertarik. Didorong penasaran, saya pun memasukkan lapis legit itu ke keranjang belanja. Bodo amat kalau besok ngilu dan pegal-pegal karena makan lapis legit. Yang penting nikmat!

Kenikmatan, tampaknya, tujuan besar manusia fana. Mungkin karena menyadari kefanaan pula, manusia butuh mengecap hal-hal nikmat, sebelum batas kefanaan selesai. Termasuk menikmati kenikmatan lapis legit. Seperti saya. Seperti orang-orang lain yang juga sama menggemari lapis legit. Bahkan sudah diberitahu “bikin ngilu” sekali pun, saya tidak peduli. Yang penting nikmat. Karena saya tahu lapis legit memang nikmat.

Terkait kenikmatan, Jean Webster menyatakan, “Yang terpenting (dalam kehidupan) bukanlah kenikmatan-kenikmatan berskala besar, melainkan bagaimana kita mampu mengeksplorasi (kenikmatan) yang kecil-kecil secara maksimal.”

Esensi kenikmatan, tampaknya, memang bukan pada kenikmatan itu sendiri, melainkan pada bagaimana kita mengeksplorasi dan memahami. Karena kenikmatan, sebenarnya, relatif. Tapi cara kita memahami kenikmatan, itu mutlak.

Seperti lapis legit. Kenikmatan lapis legit sebenarnya relatif. Pertama, tidak semua orang menyukai lapis legit. Kedua, orang yang sama-sama menyukai lapis legit pun bisa memiliki definisi dan skala ukuran berbeda terkait kenikmatan lapis legit. Meski saya menganggap lapis legit nikmat luar biasa, orang lain bisa menganggapnya biasa saja. Artinya, kenikmatan itu relatif.

Tetapi, cara kita memahami kenikmatan, itu mutlak. Dalam arti, hanya diri kitalah yang mampu memahami kenikmatan yang kita eksplorasi, yang kita rasakan, yang kita hayati. Itu jenis kenikmatan yang tidak bisa diganggu gugat. Dalam contoh lapis legit, saya akan tetap menganggap lapis legit sangat nikmat, meski umpama semua teman saya mengatakan sebaliknya. Perspektif kita dalam memahami kenikmatan adalah mutlak, dan tidak bisa diganggu gugat.

Rabi’ah Adawiyah adalah wanita yang membaktikan hidup untuk Tuhan, karena ia pikir dengan cara itulah bisa mengecap dan merasakan kenikmatan. Jadi, meski ada banyak pria tampan, terkenal, dan terhormat, berdatangan ingin meminang Rabi’ah, dia menolak.

Dalam pemahaman dan keyakinan Rabi’ah Adawiyah, kenikmatan tidak didapat dari berpasangan dengan lawan jenis, melainkan saat ia sendirian bersama Tuhan. Itu jenis kenikmatan yang tidak bisa diganggu gugat, karena dia yang memahami, dia yang memilih, dia yang menjalani.

Kahlil Gibran adalah pria yang membaktikan hidup untuk berpikir dan berkontemplasi, karena dengan cara itulah dia mengecap dan merasakan kenikmatan. Jadi, meski ada banyak wanita menarik berusaha meraih hatinya, Kahlil Gibran tidak terpengaruh. Meski sempat dekat dengan beberapa wanita, dia tetap kukuh tidak menikah.

Dalam pemahaman dan keyakinan Gibran, kenikmatan tidak didapat dari menikah dan berkeluarga, melainkan saat khusyuk sendirian, berpikir, dan merenung. Itu jenis kenikmatan yang tidak bisa diganggu gugat, karena dia yang memahami, dia yang memilih, dia yang menjalani.

Karena kenikmatan, selamanya, relatif. Tapi cara kita memahami kenikmatan, itu mutlak.

Daripada Ngebet Nikah, Aku Lebih Suka Meruntuhkan Peradaban

Kalau kau wanita, dan aku tertarik kepadamu, dan kau ingin bertemu... aku akan datang menemuimu. Pertemuan dua orang yang saling tertarik bisa menjadi pertemuan yang menyenangkan.

Tapi kalau kau ingin bertemu dengan harapan agar bisa menikah... mohon maaf, aku tak punya waktu.

Daripada menghabiskan waktu dengan wanita yang ngebet nikah, aku lebih suka menikmati waktu untuk belajar, atau membaca buku, atau bekerja, atau mencuci piring, atau menyapu rumah, atau menikmati teh sendirian sambil udud... atau meruntuhkan peradaban bobrok yang kita jalani.

Apakah aku akan menikah? Aku tidak tahu. Yang jelas, kalau pun menikah, aku HANYA akan menikah dengan wanita yang HANYA ingin menikah denganku, bukan dengan wanita frustrasi-ngebet-nikah yang bersedia menikah dengan siapa pun.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 September 2018.

Noffret’s Note: Thanos

Dalam Avengers: Infinity War, siapakah sebenarnya yang menjadi pahlawan? Bocah-bocah Avengers? Bukan! Pahlawan sesungguhnya adalah Thanos. Hollywood, untuk kesekian kali, "mengerjai" jutaan orang dengan cara yang cerdik, tersamar, sekaligus ironis.

Setiap pahlawan memiliki misi, dan apa misi bocah-bocah Avengers? Nothing! Mereka hanya gedubrak-gedubruk tanpa misi apa pun, selain hanya melawan musuh yang datang. Berbeda dengan Thanos. Dia punya misi yang jelas, dan mengerahkan segala daya demi misinya.

Apa misi Thanos? Mengumpulkan Infinity Stone? Tentu saja bukan! Infinity Stone hanyalah sarana bagi Thanos untuk mewujudkan misinya. Dan dia tidak mengharapkan apa pun, selain keinginan mewujudkan misi yang ia perjuangkan habis-habisan, bahkan siap mati demi misi yang ia yakini.

Jika seseorang memiliki misi yang ia yakini kebenarannya, dan berjuang habis-habisan bahkan rela mati dan menderita, padahal ia tidak mendapatkan apa pun selain kepuasan dan kedamaian hati karena misinya tercapai... itulah pahlawan sejati. Thanos mewujudkan sosok itu.

Tetapi, tentu saja, Hollywood tidak akan menyuguhkan hal itu secara telanjang. Mereka tidak mungkin memperkenalkan Thanos sebagai pahlawan, karena kalian tentu akan marah. Jadi, seperti biasa, Hollywood menyuguhkan yang kalian inginkan... sembari memasukkan pesan diam-diam.

Jadi, sebenarnya, apa misi Thanos? Dan mengapa misi yang ia miliki menjadikannya pahlawan sejati? Tonton sekali lagi Avengers: Infinity War, dan perhatikan dialog per dialog. Tema besar dalam film itu sebenarnya bukan Infinity Stone, tapi Equilibrium.


*) Ditranksrip dari timeline @noffret, 7 Mei 2018.

Senin, 01 Oktober 2018

Percakapan yang Menenangkan

Kadang-kadang aku rindu percakapan yang menenangkan.


Setiap kita biasanya memiliki teman dekat—orang yang sering bercakap-cakap panjang dengan kita, orang yang biasa kita kunjungi atau mengunjungi kita, orang yang kita percayai, yang kita datangi saat butuh bertukar pikir, dan semacamnya. Di antara banyak teman lain, biasanya teman-teman dekat semacam itu bahkan sudah semacam saudara bagi kita.

Setiap orang biasanya memiliki teman dekat. Bahkan saya, yang suka menyendiri, punya teman-teman seperti itu.

Saya beruntung memiliki cukup banyak teman—sebegitu banyak, hingga catatan ini bisa penuh nama-nama mereka, jika saya tuliskan semuanya. Karenanya, tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka semua, saya hanya akan menyebut beberapa nama di sini.

Di antara banyak teman yang dekat dengan saya, dua di antaranya adalah Lukman dan Ishom. Mereka kawan sejak SMP. Pertemanan sejak SMP itu terus berlangsung sampai SMA. Meski kami sekolah di SMA berbeda, kami tetap berteman dan tetap saling mengunjungi. Kami bahkan terus berteman dekat sampai sama-sama lulus SMA, hingga akhirnya dewasa.

Kedekatan antara saya, Ishom, dan Lukman, bahkan sudah seperti saudara. Masing-masing keluarga dan orang tua kami saling mengenali kami sebagai teman anak mereka. Bukan hanya keluarga, bahkan tetangga-tetangga kami juga mengenali masing-masing kami sebagai “temannya si anu”—saking seringnya kami terlihat bersama.

Selama bertahun-tahun, tak terhitung banyaknya moment ketika saya mengunjungi Lukman, lalu mengobrol di rumahnya. Di lain waktu, Lukman tiba-tiba muncul di rumah saya, dan saya selalu senang melihatnya. Yang paling menyenangkan adalah ketika saya sedang ada di rumah Lukman—atau Lukman sedang di rumah saya—lalu Ishom tiba-tiba muncul, lalu kami mengobrol bersama.

Di masa itu belum ada ponsel—setidaknya, rata-rata orang Indonesia belum kenal ponsel. Jadi, saat kami ingin bertemu, tidak ada cara lain selain langsung pergi ke rumah teman yang ingin dikunjungi.

Ada ratusan atau bahkan ribuan malam, ketika saya datang ke rumah Ishom, lalu kami mengobrol sampai larut. Kadang-kadang, saat saya sampai di rumahnya, dia sedang keluar, dan saya menunggu sampai beberapa lama. Kemudian, saat akhirnya Ishom pulang, saya senang melihatnya, sementara dia tersenyum lebar saat melihat saya duduk di depan rumahnya.

Lalu kami bercakap sambil udud dan menyeruput teh. Hanya percakapan biasa, seperti layaknya percakapan antarteman, tapi kami senang menikmatinya.

Percakapan saya dengan Ishom, atau dengan Lukman, bagi saya adalah percakapan-percakapan yang menenangkan. Saat saya sedang galau, sedih, atau stres, saya mendatangi mereka, lalu bercakap-cakap, dan saya merasa tenang. Mereka tidak menasihati saya macam-macam, selain hanya mendengarkan yang saya katakan. Setelah itu, kami mengobrol seperti biasa, dan saya pulang dengan pikiran lebih tenang, dengan hati lebih nyaman.

Ketika SMA, Lukman dan Ishom maupun saya punya teman-teman dekat lain, karena kami memang sekolah di SMA yang berbeda. Meski begitu, hubungan kami tetap dekat seperti semula, dan tak ada yang berubah. Bahkan, kami saling mengenalkan teman-teman kami, hingga jaringan pertemanan kami semakin luas.

Seperti yang pernah diceritakan di sini, saya bersekolah di SMA yang menampung murid-murid dari berbagai etnis. Karenanya, waktu itu teman-teman saya pun multietnis. Di SMA, salah satu teman dekat saya adalah Abdullah. Dia orang Arab, tapi—menurut teman-teman saya—“mirip Londo”.

Ketika saya kenalkan dengan Ishom, dia bilang, “Temanmu itu (Abdullah) mirip anggota New Kids On The Block.” Abdullah tertawa ketika saya katakan itu kepadanya. (Buat generasi 2000-an yang tidak tahu apa itu New Kids On The Block, silakan googling).

Selain Abdullah, teman dekat lain di SMA adalah Rum. Dengan mereka, saya juga menjalin pertemanan seperti dengan Ishom atau Lukman. Kami saling mengunjungi, dan senang menikmati obrolan serta kebersamaan.

Lulus SMA, saya tidak langsung kuliah, karena tidak ada biaya. Sebagai gantinya, saya bekerja di beberapa tempat, salah satunya di PPNP (tempat pelelangan ikan), menjadi penjaga titipan sepeda motor (dulu pernah saya ceritakan di sini.)

Di tempat itu, saya kenal dan dekat dengan pekerja lain, bernama Miko. Kelak, pertemanan saya dengan Miko juga menjadi pertemanan yang terus berlangsung sampai kami tidak lagi bekerja di PPNP, sampai kami sama-sama kuliah, bahkan sampai kami dewasa. Selama bertahun-tahun, ada banyak waktu ketika Miko dolan ke rumah saya, lalu mengobrol sampai larut malam. Kadang dia sendirian, kadang pula bersama teman-temannya.

Ketika saya mulai kuliah, Miko juga kuliah, tapi beda kampus. Belakangan, teman-teman dekat saya yang lain juga sama-sama kuliah, di kampus berbeda-beda. Melalui jaringan pertemanan itu pula, saya mendapatkan banyak teman baru, hingga pertemanan saya di masa itu merentang dari semua kampus. Selama masa-masa itu, saya bisa masuk kampus mana pun dengan santai, seperti masuk ke kampus saya sendiri, karena selalu ada teman-teman yang saya kenal.

Di kampus sendiri, saya juga mendapat banyak teman, salah satu yang sangat dekat adalah Syarifudin—biasa dipanggil Syarif atau Udin. Seperti pertemanan dengan yang lain, saya sering mendatangi Udin ke rumahnya, atau dia ke rumah saya, lalu kami mengobrol sampai larut malam. Saking seringnya saya ke rumah Udin, sampai orang tua dan kakak-kakaknya mengenal saya.

Selain Udin, ada teman lain yang sama dekat dengan saya, bernama Masruri. Sebenarnya, dia senior saya di kampus. Karenanya, saat butuh teman mengobrol, saya sering datang menemui Udin, atau mendatangi Masruri.

Saat mengobrol dengan mereka, sebenarnya isi obrolan kami biasa-biasa saja—seperti umumnya obrolan antarteman. Dalam arti bukan obrolan ilmiah yang akademis atau enviromental dan moratorium—apa pun artinya.

Tetapi, yang jelas, mengobrol dengan teman dekat—setidaknya bagi saya—seperti terapi yang menenangkan. Kami saling percaya, dan kami saling mencurahkan isi pikiran dengan bebas. Tidak ada keinginan agar mereka mengikuti pikiran saya atau sebaliknya, karena memang begitulah obrolan antarteman. Hanya obrolan yang mengalir, sesekali diselingi canda dan tawa menyenangkan. Dari kedekatan itu pula, kami pun tahu watak masing-masing, dan kami saling berupaya memahami.

Kadang saya butuh saran, dan mereka memberi saran yang mereka tahu, dan saya merasa mendapat pencerahan. Di lain waktu, mereka meminta pertimbangan, dan saya memberi pertimbangan yang saya tahu.

Ada kisah khusus yang menarik soal ini. Masruri punya teman dekat bernama Basith—dia juga senior saya di kampus. Saya biasa memanggilnya Kang Basith, karena dia memang lebih tua dari saya, bahkan waktu itu sudah punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang, Masruri mengunjungi Basith di rumahnya, dan mengajak saya. Kami pun lalu mengobrol di tempat Basith, kadang sampai larut malam.

Di mata saya, Kang Basith adalah sosok orang saleh, sebagaimana Masruri juga orang saleh. Dan menurut “perspektif tombo ati”, berkumpul dengan orang-orang saleh bisa menjadi pengobat keresahan hati. Karenanya, seperti nyanyian tombo ati, “Wong soleh kumpulono.”

Kenyataannya, saya senang tiap diajak Masruri ke rumah Kang Basith. Lalu kami mengobrol hal-hal biasa, tapi kemudian saya merasakan ketenangan saat pulang. Meski mereka senior-senior saya, tapi mereka tidak pernah menunjukkan sikap bahwa mereka lebih tua lalu seenaknya menasihati atau sok tua. Mereka memperlakukan saya sebagaimana memperlakukan teman, hingga saya pun nyaman bersama mereka.

Selain dengan para senior, saya juga menjalin pertemanan dengan banyak yunior saya di kampus. Salah satunya Wawan. Di kampus, dia beberapa tahun di bawah saya, tapi kami bisa berteman dengan nyaman. Dulu, dia sering dolan ke rumah, dan kami biasa mengobrol sambil udud.

Nama-nama teman yang saya sebut di sini—dari masa SMP sampai masa kuliah—adalah orang-orang biasa, sama seperti saya. Kami semua memiliki kelebihan, juga kekurangan. Yang jelas, kami kemudian saling cocok hingga nyaman bersama, dan menjadi teman, hingga menjalin kedekatan. Dan kedekatan bersama teman adalah saat-saat menyenangkan, sebagaimana percakapan dengan mereka bisa menjadi terapi yang menenangkan.

Sayang, tak ada yang abadi di dunia ini, begitu pula kedekatan yang pernah saya miliki bersama mereka. Pada akhirnya, tiba suatu masa ketika masing-masing dari kami memiliki kehidupan sendiri-sendiri, hingga akhirnya kedekatan mulai renggang, dan saya merasa kehilangan.

Ishom, teman dekat sejak SMP, kini telah berkeluarga, dan sudah sangat sibuk dengan keluarganya. Siang bekerja seharian, malam bersama istri dan anak-anaknya. Selain itu, jarak rumah kami juga semakin jauh. Sementara Lukman, yang juga teman dekat dari SMP, kini mengabdikan hidupnya di pesantren, dan sibuk dengan kehidupannya yang sekarang.

Abdullah dan Rum, teman masa SMA, kini telah memiliki kehidupan sendiri-sendiri yang jauh. Abdullah di luar negeri, sementara Rum di luar kota. Sementara Miko, karena pekerjaannya yang sekarang, sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan kami pun makin sulit bertemu. Begitu pula Wawan—dia kini bekerja di luar kota, hingga kami juga sangat jarang ketemu.

Kang Basith, orang saleh yang dulu menjadi teman saya semasa kuliah, sekarang bekerja di Kementerian Agama, dan tentu saja tinggal di Jakarta. Sementara Masruri kini sangat sibuk dengan bisnisnya, dan nyaris tak punya waktu senggang. Tempo hari, kami sempat bertemu, pas saya makan di tempat langganan. Kami pun sempat mengobrol, meski tak bisa lama-lama.

Terakhir, Syarifudin alias Syarif atau Udin, kini tinggal di tempat yang sangat jauh bersama keluarganya. Karenanya, pertemuan kami pun semakin renggang, tak bisa semudah dulu.

....
....

Kini, saat menulis catatan ini, saya seperti melihat waktu yang telah jauh berlalu. Bukan hanya dalam rentang hari atau minggu, tapi tahun demi tahun. Semuanya berubah, termasuk kehidupan kita semua.

Kini, saya pun sering merindukan saat-saat indah seperti dulu, ketika saya masih memiliki teman-teman dekat, ketika kami bisa bercakap-cakap sampai larut malam tanpa harus mengkhawatirkan apa pun, ketika kami bisa mengobrol dan tertawa lepas, ketika saat-saat bersama teman menjadi saat-saat yang menenangkan.

Saya merindukan mereka semua, seperti saya merindukan saat-saat bersama mereka. Saya rindu percakapan menenangkan, ketika dua orang bertemu karena saling percaya, ketika dua orang bercakap tanpa keinginan memaksakan pikiran satu sama lain, ketika dua orang bertemu untuk saling menenangkan, sehingga saat berpisah masing-masing merasakan ketenangan yang nyaman.

Saya merindukan mereka, serta saat-saat bersama mereka. Seperti saya merindukan ketenangan, seusai canda dan tawa yang lepas.

Menghayati Hidup, Melangkah Perlahan

Kata temanku yang terkena masalah jantung, "Kalau orang mengatakan bahwa pikiran mempengaruhi tubuh, itu benar. Stres berkepanjangan bukan hanya merusak hidup kita, tapi juga kesehatan kita. Aku contohnya. Sekarang, aku mulai belajar menata diri, pikiran, dan hidup lebih baik."

Sekarang, nasihat yang sering kuulang pada diri sendiri, "Jangan terburu-buru. Lambatkan langkahmu. Yang paling sehat dan hidup paling lama adalah dia yang paling menghayati hidupnya. Kura-kura bisa hidup sampai umur satu abad bukan karena kuat, tapi karena melangkah perlahan."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Agustus 2018.

Noffret’s Note: Sugar Daddy

Ramai-ramai soal #sugardaddy di Twitter ini membuatku risih. Maksudku, kenapa hal-hal begituan harus diceritakan secara vulgar (dan terkesan penuh kebanggaan) di Twitter? Apa manfaatnya, bagi diri sendiri dan orang lain? Prestise? Oh, come on...

Sejujurnya, aku tidak peduli siapa ngewe dengan siapa. Itu urusanmu pribadi, dan ini negara demokrasi. Cuma, yang membuatku risih, kenapa hal-hal begituan justru (seolah) menjadi kebanggaan semacam prestasi atau pencapaian?

Selama berhari-hari, aku sudah berusaha memikirkan, apa kira-kira pelajaran yang bisa diambil dari ramai-ramai #sugardaddy di Twitter. Tapi sejujurnya aku tidak bisa menemukan pelajaran apa pun, karena itu memang tidak dimaksudkan sebagai pembelajaran, tapi sebagai kebanggaan.

Topik #sugardaddy tidak bisa dibiarkan sebagai narasi tunggal. Harus ada yang memberi perbandingan, agar orang-orang (yang mungkin kurang dewasa) bisa sedikit paham untuk tidak meniru mentah-mentah, apalagi mengimpikan. Karena itu bukan pencapaian yang layak dibanggakan.

Sekali lagi, aku tidak peduli siapa ngewe dengan siapa, karena itu urusanmu pribadi. Aku bukan tipe keparat sok suci yang mudah menghakimi. Tetapi, kalau ngewe (dengan siapa pun, dan dengan motivasi motivasi apa pun), mestinya cukup menjadi urusan pribadi.

Yang paling konyol dan paling tolol terkait #sugardaddy di Twitter mungkin soal t-shirt "yang ada tulisan Original-nya". Tapi semua cerita tentang sugar-fucking-daddy di Twitter memang tolol dan konyol. Tolol karena diceritakan, konyol karena dibanggakan.

Kalau-kalau ada yang tanya, apakah aku berminat menjadi #sugardaddy? Persetan, tidak! Aku seorang bocah, bukan fucking daddy! Aku tidak minat pada cewek yang terlalu banyak tingkah, juga tidak punya waktu untuk mengurusi drama tolol campur konyol. Paling ngewe saja kok ribut.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Juni 2018.

 
;