Selasa, 24 Desember 2019

Percakapan Sunyi Dua Lelaki

Yang paling bertanggung jawab atas kerusakan bumi bukan hanya mereka
yang memperkosa alam, tapi juga mereka yang "jualan dusta perkawinan".
@noffret


“Pernikahan akan menjadi kejahatan, jika kulakukan. Kejahatan pada diriku sendiri, kejahatan pada pasanganku, juga kejahatan pada anak yang mungkin kumiliki.” Setelah terdiam sejenak, dia melanjutkan, “Aku telah menjadi korban pernikahan, dan aku tidak mungkin melakukan hal serupa pada orang lain—pasangan, dan anak yang mungkin kumiliki.”

Fandi adalah salah satu teman saya, dan kami telah menjalin pertemanan sejak bertahun lalu. Dulu, kami pernah bekerja bersama, di tempat ini. Seperti saya, dia berasal dari keluarga miskin. Ketika dulu saya sering bekerja lembur sampai pukul 02.00 dini hari, Fandi juga ikut lembur sampai dini hari.

Selama beberapa tahun, kami menikmati kebersamaan dari pagi sampai dini hari. Itu bukan hanya kebersamaan dua orang yang bekerja di tempat sama, tapi juga kebersamaan yang mengeratkan kami sebagai teman. Setiap hari, seiring bekerja, kami saling bercakap, bercanda, saling curhat, menikmati tawa dan kesedihan bersama. Dia tahu semua hal tentang saya, sebagaimana saya tahu semua hal tentang dirinya.

Perjalanan hidup kemudian memisahkan kami. Saya mengejar mimpi-mimpi saya, dan tak lama kemudian Fandi juga keluar dari sana, untuk mencoba peruntungan nasib di tempat lain.

Ada waktu-waktu yang sangat lama, ketika kami sama sekali tidak pernah bertemu—karena waktu itu kami terpisah di tempat yang saling berjauhan—namun kemudian kami pulang. Setelah itu, kami kembali menjalin pertemanan, menyambung tali yang dulu pernah kami miliki. Dalam waktu singkat, kami kembali akrab dan dekat. Sejak itu, saya sering dolan ke rumahnya, mengobrol panjang, tentang banyak hal.

Dulu, waktu saya mulai sering dolan ke rumahnya, dia pernah bertanya, “Apakah kamu juga mengunjungi teman-teman yang lain?” (Maksudnya, teman-teman yang dulu pernah bekerja bersama kami).

Saya menggeleng. “Sebenarnya, aku ingin dolan ke rumah mereka, menjalin kedekatan seperti dulu. Tapi mereka telah menikah, dan aku selalu khawatir kedatanganku akan mengganggu. Bagaimana pun, orang yang sudah berkeluarga menjalani kehidupan yang berbeda dengan orang yang masih lajang seperti kita.”

Fandi berkata dengan pahit, “Aku memahami maksudmu. Jangankan cuma teman, bahkan adik pun bisa berubah setelah menikah. Ketika adik-adikku menikah, aku bukan hanya kehilangan mereka, karena kini hidup dengan keluarga masing-masing, tapi juga karena merasa mereka telah menjadi orang lain.”

Fandi tinggal bersama ibunya yang sudah tua, dan seorang adik perempuan yang invalid. Fandi punya dua adik lain—laki-laki dan perempuan—namun keduanya telah menikah, dan tinggal bersama keluarga masing-masing. Secara terang-terangan, khususnya kepada saya, Fandi mengaku tidak berniat menikah. Karena menikah, sebagaimana yang ia katakan, “adalah sebentuk kejahatan yang tidak mungkin kulakukan.”

Fandi adalah anak pertama dari empat bersaudara. Latar belakang kemiskinan tidak hanya membuatnya menghadapi hidup yang pahit, tapi juga kenyataan yang sangat menyakitkan. Kedua orang tuanya pemarah, dan sejak kecil Fandi telah kenyang dengan segala bentuk kekerasaan dari mereka.

Dulu, bertahun lalu, kami pernah membincangkan hal itu, suatu hari, saat jam istirahat kerja, dan saya berkata kepadanya, “Aku bisa merasakan amarah dan luka yang kamu rasakan. Mungkin, orang tua kita pemarah bahkan kejam karena terlalu frustrasi menghadapi kenyataan hidup. Dan kitalah yang menjadi korbannya.”

Bertahun kemudian, ketika kami bercakap-cakap di rumahnya, Fandi mengatakan, “Sekarang aku memahami maksudmu bertahun lalu. Keras dan kejam bisa jadi sifat atau pembawaan orang per orang. Tetapi, bagaimana pun, kenyataan hidup yang sangat menekan bisa mengubah kepribadian orang, hingga menjadi keras dan kejam. Itulah yang terjadi pada orang tuaku. Mereka tak mampu melawan tekanan hidup. Dan sebagai akibatnya, aku menjadi korban frustrasi mereka.”

Malam itu, ketika kami bercakap-cakap sambil menikmati teh hangat dan udud, Fandi menyatakan, “Hidup bisa begitu mengerikan, kalau dipikir-pikir. Orang tuaku miskin—dan mereka sadar kalau mereka hidup serba kekurangan—tapi mereka memiliki lima anak! Apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa menghidupi lima anak bisa membuat mereka frustrasi? Rumah kami yang sempit bahkan tidak mampu menampung keluarga kami, sementara penghasilan mereka yang pas-pasan tidak sanggup menghidupi kami!”

Saya bertanya hati-hati, “Kamu pernah bertanya pada orang tuamu, kenapa mereka punya lima anak, padahal mereka sadar hidup berkekurangan?”

Di luar dugaan, Fandi tersenyum. “Bahkan tanpa bertanya, aku sudah tahu jawabannya. Seperti yang sering kamu tulis di blog, orang tuaku—juga jutaan orang lain—adalah korban doktrinasi terkutuk yang menipu mereka. Mereka ditipu bahwa penikahan akan membuat bahagia, dan mereka pun menikah tanpa persiapan dan kesadaran. Mereka ditipu bahwa punya anak-anak akan melapangkan rezeki, dan mereka pun punya banyak anak tanpa pikir panjang lagi. Hasilnya adalah keluarga kami yang miskin, anak-anak tanpa masa depan, dan luka serta penderitaan yang kualami.”

Sesaat, kami terdiam. Kemudian Fandi meneruskan, perlahan, “Aku senang bisa mengatakan ini kepadamu, tanpa khawatir dihakimi, tanpa khawatir diceramahi macam-macam, yang lagi-lagi cuma doktrin tak masuk akal.”

Saya jadi tertarik, “Kamu pernah mengatakan yang barusan kamu katakan kepada orang lain?”

“Pernah,” jawab Fandi. “Ada tetanggaku yang suka menyuruh-nyuruhku cepat kawin, dengan segala macam alasan; karena aku telah dewasa, karena adik-adikku sudah kawin, dan segala macam provokasi lain. Karena muak dan bosan, aku pernah berkata kepadanya bahwa aku tidak berniat kawin, dan kukatakan sesuatu yang tadi kukatakan kepadamu. Lalu dia berceramah macam-macam—khas orang-orang sok pintar. Dia mengatakan bahwa menikah akan melancarkan rezeki, bahwa aku tidak perlu khawatir punya anak, karena setiap anak membawa rezeki sendiri. Ironisnya, dia pede mengatakan semua itu, padahal hidupnya sendiri menyedihkan.”

Setelah mengisap rokoknya, Fandi kembali berkata, “Aku benar-benar tidak berminat menikah, karena menyadari bahwa pernikahan akan mendatangkan lebih banyak mudarat daripada manfaat bagiku. Aku harus merawat ibu dan adikku, karena adik-adikku yang lain sudah sibuk dengan keluarga serta urusan masing-masing. Aku juga menyadari kehidupanku masih berat. Jika aku menikah, aku hanya akan mengulang kejahatan yang dilakukan orang tuaku. Jika aku menikah, aku hanya akan melahirkan anak-anak terluka seperti yang kualami dulu.”

Yang dikatakan Fandi memang benar. Konsep pernikahan di lingkungan kita memiliki arti “menciptakan keluarga baru”. Artinya, ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan menikah, mereka akan dituntut untuk punya anak. Jika tidak, setumpuk tuduhan bisa dilemparkan untuk mereka. Dari tuduhan impoten (hingga tidak bisa membuahi), sampai tuduhan mandul (hingga tidak bisa hamil).

Karenanya, meski sepasang suami istri bisa saling menyadari bahwa mereka belum mampu menghidupi anak, bisa jadi lingkungan—termasuk orang tua masing-masing—akan menekan. Dibutuhkan mental yang sangat kuat untuk mampu bertahan dari tekanan semacam itu, dan banyak pasangan suami istri terpaksa punya anak, demi membungkam cocot-cocot terkutuk di sekitarnya.

“Tidak menikah adalah pilihan terbaik bagiku,” ujar Fandi. “Saat ini, dengan memilih tidak menikah, aku hanya menghadapi orang-orang yang menyuruhku menikah. Dan aku mampu menghadapinya, karena hanya melibatkanku sendirian. Jika aku menikah, yang artinya aku punya pasangan, akan datang berbagai tuntutan lain, khususnya tuntutan agar punya anak. Mungkin aku sanggup bertahan, tapi bagaimana dengan pasanganku?”

Saya bertanya, “Ibumu... pernah menyuruhmu agar menikah?”

“Dulu, ya,” jawab Fandi. “Tapi sekarang tidak lagi. Dia tentu sadar. Kalau aku menikah, tidak ada lagi yang akan merawatnya. Sekarang dia telah melihat. Bahwa ketika anak-anaknya menikah, mereka akan sibuk sendiri dengan keluarganya.”

Sesaat kami terdiam.

Fandi kemudian berkata, dengan nada amarah yang jelas terdengar, “Tragis, kalau dipikir-pikir. Orang menikah, lalu punya anak-anak, dan berharap anak-anaknya segera menikah, juga berharap kelak akan ada yang merawat ketika mereka tua. Tentu tidak masalah, jika kita memang bisa menghidupi anak secara baik, dan anak-anak kita bisa hidup secara layak. Tapi bagaimana jika tidak? Bukankah itu perilaku egois? Kita punya anak, dengan harapan agar kelak ada yang merawat. Sementara kita tidak bisa menghidupi anak secara layak. Apa namanya jika bukan sikap egois, eksploitasi, bahkan kejahatan?”

“Karena itulah aku tidak berminat menikah,” lanjut Fandi. “Karena, jika aku menikah, artinya aku akan melanjutkan kejahatan yang dilakukan orang tua kepadaku. Aku menyadari hidupku belum jelas, dan aku tidak akan berspekulasi, khususnya untuk keputusan yang melibatkan orang lain, seperti menikah. Jika aku menikah dan harus menjalani kehidupan seperti orang tuaku, aku hanya akan mewariskan kejahatan pada anak-anakku. Mereka akan mengulangi kehidupan penuh luka seperti yang kualami, mereka akan mengutuk hidupnya seperti yang kulakukan. Aku akan merasa sangat jahat jika sampai melakukannya.”

Saya berkata perlahan, “Sayangnya, masyarakat kita tidak berpikir seperti itu...”

“Itulah yang membuatku heran,” sahut Fandi. “Mereka telah melihat dan mengalami sendiri, bahwa penikahan—dan kehidupan yang mereka jalani—meleset dari doktrin-doktrin yang telah menipu mereka. Tapi mereka justru mengulang doktrin-doktrin itu kepada orang lain, menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah dan punya anak. Kenapa mereka tidak introspeksi—bertanya pada diri sendiri, kenapa kehidupan mereka tidak sesuai dengan doktrin-doktrin yang pernah mereka dengar?”

Saya mengisap rokok, lalu berkata, “Sebenarnya, bisa jadi mereka tahu. Mereka tahu telah tertipu. Mereka tahu bahwa pernikahan tidak seindah doktrin yang biasa mereka dengar. Mereka tahu bahwa punya anak-anak mendatangkan beban luar biasa besar, khususnya kalau hidup mereka pas-pasan.”

“Kalau mereka tahu, kenapa mereka malah berusaha menipuku?”

Dengan senyum getir, saya menjawab, “Karena begitulah Homo sapiens.”

....
....

Kemampuan memahami mungkin terdengar bijaksana. Tetapi, pada satu titik, “kemampuan memahami” akan melemparkan kita pada kesadaran yang mengerikan. Misalnya, “memahami” kenapa Hitler melakukan genosida pada Yahudi. Atau “memahami” kenapa ada orang-orang yang ingin melenyapkan separo isi bumi.

“Manusia” dan “bukan manusia” adalah konsep paling tua dalam sejarah manusia. Konsep itu pula yang melahirkan tokoh-tokoh sejarah dengan jejak panjang penuh darah. Mungkin mereka memang jahat, sebagaimana yang ditulis tinta sejarah. Tapi bagaimana kalau, ternyata, mereka sudah terlalu muak menghadapi orang-orang yang “belum menjadi manusia”—dari sudut pandang atau perspektif mereka?

Seperti kita, di zaman ini. Sebagian orang saat ini telah sampai pada kesadaran bahwa menikah adalah soal pilihan, bahwa punya anak-anak adalah soal pilihan. Kesadaran itu secara tak langsung akan menafikan—untuk tidak menyebut menihilkan—konsep-konsep doktrinasi terkait perkawinan dan kepemilikan anak.

Konsekuensinya, mereka akan muak setiap kali diprovokasi cepat menikah dan punya anak, dan mereka akan menilai orang-orang yang memprovokasi mereka sebagai “makhluk lain” yang tidak seperti mereka.

Bisa melihat yang saya maksud?

Karenanya, kemampuan memahami—dan berempati—mestinya tidak hanya dimiliki oleh satu pihak, tapi harus dari dua pihak.

Yang menikah dan punya anak harus bisa memahami orang lain yang memilih tidak menikah atau tidak punya anak, dan begitu pula sebaliknya. Karena, jika tidak, kita sedang berusaha menjadikan sebagian kita sebagai bukan manusia. Dan jika kenyataan semacam itu telah terjadi... kita sedang mengundang petaka.

Evolusi Pecah Ndase

Beberapa orang, mungkin karena merasa sangat pintar, kadang berkata dengan songong, “Kalau memang manusia adalah hasil evolusi, kenapa kita sekarang tidak berevolusi?”

Pertanyaannya saja sudah salah!

Fakta bahwa kau ngebet kawin dan ngebet beranak-pinak, dengan jelas membuktikan bahwa kau berevolusi. Fakta bahwa kau suka nyinyir pada orang lain agar cepat kawin dan cepat beranak-pinak, dengan gamblang menunjukkan kalau kau berevolusi.

Tujuan evolusi adalah mempertahankan spesies agar tidak punah, sekaligus memperbaiki spesies agar berkembang. Sesederhana itu. Dan untuk tujuan tersebut, evolusi menggunakan segala cara agar kau terus mempertahankan spesiesmu, salah satunya dengan iming-iming selangkangan... dan kau terjebak! Sudah paham?

Lalu kau ngebet kawin. Oh, well, tentu saja kau bisa mengajukan setumpuk alasan yang terdengar mulia sebagai alasan kawinmu. Dari alasan “tak perlu nunggu mapan untuk kawin” sampai alasan klise yang terdengar ndakik-ndakik. Tapi apa pun alasanmu, evolusi sudah menang. Kau terjebak, kawin, dan beranak-pinak.

Dan, omong-omong, apa yang biasa kaukatakan pada orang-orang? “Tidak masalah kalau aku menderita, asal anak-anakku menjadi orang sukses.”

Kedengarannya mulia sekali... tapi itulah tujuan evolusi! Pertama, agar kau beranak-pinak, demi mempertahankan spesies—atau keturunan, menurut istilahmu. Kedua, agar spesies keturunanmu lebih baik darimu. Ini bahkan terdengar lebih biologis daripada filosofis, dan kau masih bertanya-tanya di mana bukti evolusi.

Pecah ndase!

Noffret’s Note: Jumat Berkah

Dari dulu aku bertanya-tanya, orang-orang yang nge-tweet tagar #JumatBerkah itu Jumatnya seperti apa? Karena Jumat yang kualami selama ini biasa-biasa saja, bahkan sering ada masalah yang muncul di hari Jumat. Aku ingin sekali menikmati "Jumat Berkah", tapi entah kapan datangnya.

Mungkin ini tak jauh beda dengan orang-orang yang naik haji, lalu pulang & menceritakan "pengalaman menakjubkan" selama berhaji, sampai kemudian muncul seorang bocah yang mencoba membuktikan pengalaman itu. Dan inilah hasilnya: Teman Saya Kapok Naik Haji » http://bit.ly/2flPP5N

Selain eufemisme, hal lain yang lekat dengan masyarakat umum di Indonesia memang konformitas—upaya untuk sama dengan kebanyakan orang. Sebagian pihak mengartikan konformitas sebagai “kemunafikan sosial”. Jika mayoritas mengatakan A, kita merasa perlu untuk juga mengatakan A.

Orang tidak mungkin mengatakan "kapok naik haji" terang-terangan, karena mayoritas yang lain mengatakan naik haji begitu "menakjubkan". Sama halnya, orang tak mungkin mengatakan "menikah membuatnya menyesal", karena mayoritas mengatakan "menikah begitu indah". Itulah konformitas.

Tentu saja banyak orang naik haji yang memang mengalami hal-hal menakjubkan, tapi tentu tidak semua. Begitu pula, banyak orang yang menikah dan bahagia, tapi—sekali lagi—tentu tidak semua. Sayangnya, tidak semua orang punya keberanian untuk mengatakan kejujuran secara apa adanya.

Menabung bertahun-tahun demi bisa naik haji, mengumpulkan uang sampai puluhan juta, lalu harus menunggu lagi bertahun-tahun. Ketika berangkat, diantar orang sekampung, lalu pulang disambut meriah. Dalam kenyataan semacam itu, mungkinkah orang berani mengatakan "kapok naik haji"?

Sama saja, orang montang-manting cari pasangan, menabung bertahun-tahun demi bisa menikah. Prosesnya lama, dari lamaran sampai resepsi. Ketika menikah, orang sekampung ikut merayakan. Setelah itu, mungkinkah orang berani mengatakan "menikah ternyata tak seindah yang kubayangkan"?

Aku sadar, mengatakan semua ini akan menempatkanku pada posisi yang berseberangan dengan (keyakinan) mayoritas. Tetapi harus ada yang mengatakannya!

Dan begitu kau memahami bahwa aku berseberangan dengan mayoritas, setidaknya kau mulai menyadari adanya fasisme dalam konformitas.

NN (Nambah Ngoceh):

Kadang, saat baru ngepost catatan baru di blog, aku menerima e-mail yang kira-kira isinya, "Maaf, saya tidak setuju dengan tulisanmu yang baru."

Biasanya, sambil tersenyum, aku menulis jawabannya, "Tak perlu khawatir. Saya juga tidak meminta persetujuanmu."

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Maret 2019.

Mapan Sebelum Menikah

Jadi gini. Kalau ada lelaki yang mengatakan kepadamu agar segera menikah tanpa menunggu mapan... maka inilah saranku: Jangan menikah dengannya!

"Mapan" untuk menikah itu relatif. Tidak harus kaya-raya. Intinya adalah bisa menghidupi keluarga secara layak dan tidak berkekurangan, serta tidak merepotkan orang lain (orangtua, saudara, mertua, dan seterusnya).

Cara mudah untuk mengetahui kita sudah mapan atau belum adalah dengan melihat diri sendiri. Jika kita belum bisa menghidupi diri sendiri secara layak, artinya belum mapan. Sesederhana itu. Kalau menghidupi diri sendiri saja masih kepayahan, ngapain sok mau menghidupi anak orang?

"Tapi menikah itu kan diwajibkan agama!"

Tolong tidak usah ngotot! Kalau mau ngemeng agama (Islam), hukum menikah ada lima. Wajib, sunah, makruh, mubah, dan haram. Hukum menikah tergantung pada pelakunya, bukan pada pernikahannya.

Yang selama ini tidak pernah dikatakan adalah hukum yang haram. Jika perkawinanmu berpotensi mendatangkan lebih banyak mudarat daripada manfaat, maka kau tergolong orang yang haram menikah. Jadi tidak usah sok hanya karena menikah!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Februari 2018.

Bebernya

Oh... bebernya.

Senin, 16 Desember 2019

Bidadari Bersayap Darah

“Kau tidak bisa menegakkan keadilan, Pak Hakim.
Biar aku saja.”
Riley North, Peppermint


Karier Hakim James Stevens berakhir mengerikan. Wajahnya babak belur dan berdarah, kedua tangannya dipaku pada meja, mulutnya tertutup lakban, sementara tubuhnya terlilit kabel yang terhubung dengan bom.

Di hadapannya, Riley North berdiri, menatapnya, dan berkata perlahan, “Berapa kali kau mengkhianati sumpahmu, Pak Hakim? Kau sangat korup, dan membuatku muak.”

Hakim James Stevens tak bisa menjawab, selain hanya menatap Riley North, dengan pandangan penuh amarah dan ketakutan.

Riley North melanjutkan, “Begini saja. Kalau kau bisa menyebutkan namaku, akan kubiarkan kau hidup. Kau bisa makan lewat selang selama hidupmu, tapi kau masih hidup. So, kau masih ingat namaku?”

Ekspresi Hakim Stevens bercampur antara tangis, amarah, dan ketakutan, tapi dia tidak bisa mengingat siapa nama wanita di hadapannya. Ada terlalu banyak nama, banyak kasus, banyak vonis, dan dia tidak ingat siapa wanita ini—salah satu orang yang pernah duduk di persidangannya—entah apa kasusnya. Persetan, Hakim James Stevens tidak ingat!

Riley North habis kesabaran. Maka dia pun pergi, dan membiarkan Hakim Stevens tetap terikat di kursinya, dengan kedua tangan masih terpantek pada meja, dan kabel bom masih melilit tubuhnya. Seratus meter dari rumah sang Hakim, Riley North meledakkan bom yang ia pasang di sana, dan tubuh Hakim James Stevens hancur bersama rumahnya yang meledak.

Pembantaian yang merupakan pembalasan dendam mengerikan itu berawal dari peristiwa lima tahun sebelumnya.

Lima tahun sebelumnya, Riley North adalah wanita bahagia, dengan sebuah keluarga. Hidupnya tidak mewah, tapi dia memiliki suami dan anak perempuan yang dicintainya. Mereka tinggal di rumah kontrakan yang nyaman. Chris North, suaminya, punya usaha bengkel, sementara Riley bekerja kantoran. Anak mereka masih kecil, dan baru sekolah di SD.

Chris North memiliki teman, bernama Mickey. Suatu hari, Mickey mendengar akan ada transaksi narkoba yang akan dilakukan anak buah Diego Garcia. Mickey mengajak Chris untuk merampok transaksi itu, agar bisa mendapat uang banyak dalam waktu singkat.

Semula, Chris sempat tertarik dengan tawaran itu, tapi belakangan ia membatalkan. “Aku tidak mau, risikonya tak sepadan,” ujar Chris lewat ponsel.

Kabar mengenai rencana Mickey untuk merampok ternyata terdengar oleh Diego Garcia, bos mafia yang dijuluki “Si Pemenggal” karena kekejamannya. Dia senang memenggal kepala siapa pun yang dianggapnya layak, dan dia tidak punya maaf. Termasuk pada Mickey... dan Chris North.

Mickey memang batal merampok. Tapi Diego Garcia tak punya maaf. Jadi, Mickey lalu diculik dan dipenggal, karena “punya rencana merampok Diego Garcia”. Kalau kau berurusan dengan Si Pemenggal, bahkan baru berencana saja bisa membuatmu terbunuh.

Nasib serupa dialami Chris North, suami Riley. Meski dia sudah membatalkan dan tidak mau terlibat, tapi Diego Garcia juga tidak punya maaf untuknya. Bos mafia itu bahkan mengirim tiga anak buahnya untuk membantai keluarga Chris di hadapan umum, agar “menjadi pelajaran bagi yang lain”.

Dan itulah yang lalu terjadi.

Malam itu, Chris dan Riley sedang berusaha menggembirakan anak perempuan mereka, yang sedang berulang tahun. Mereka ada di tempat karnaval, dan mereka berfoto-foto, juga menikmati es krim. Di tengah keramaian, tiba-tiba, senjata memberondong tubuh ketiganya.

Riley North, yang berjalan terpisah dari suami dan anaknya, sempat melihat wajah orang-orang yang memberondongkan senjata dari dalam mobil. Tapi dia ikut tertembak. Bedanya, dia mampu bertahan hidup, sementara suami dan anaknya tewas.

Sejak itu, kehidupan Riley North menjadi jejak darah dan kenangan penuh luka.

Setelah sembuh dari perawatan di rumah sakit, Riley North diminta datang ke kantor polisi, untuk mengenali para tersangka yang membunuh suami dan anaknya. Riley bisa mengenali mereka, dan tiga penjahat itu pun diajukan ke pengadilan.

Seiring bergulirnya kasus, seorang pengacara—yang menjadi pembela anak buah Diego Garcia—mendatangi rumah Riley North, dan menawarkan uang suap. Ia meminta agar Riley tidak melanjutkan penuntutan, “dan kau bisa melanjutkan hidup baru dengan kenangan baru,” kata sang Pengacara.

Riley North marah, dan mengusir pengacara itu. Tapi sang Pengacara menantang, “Kaupikir bisa mendapatkan keadilan? Tidak akan! Kami telah membayar semuanya!”

Ucapan itu terbukti di pengadilan. Ketiga tersangka diajukan ke muka Hakim, dan Riley North menjadi saksi. Tapi pengacara bisa membela kliennya dengan meyakinkan, sementara hakim telah disuap. Hasil akhirnya, pengadilan yang dipimpin Hakim James Stevens itu memutuskan ketiga tersangka tidak bersalah.

Riley North marah, mengamuk, dan Hakim Stevens memutuskan untuk mengirim wanita itu ke Program Kesehatan Mental—semacam karantina untuk orang-orang yang dianggap tidak waras.

Seharusnya semua sandiwara itu berakhir dengan tenang. Pengacara telah menang membela klien-kliennya, Hakim James Stevens telah berhasil menyelesaikan pengadilan dan mengantongi uang suap, Riley North akan menghabiskan hidupnya di tempat pengasingan, dan Diego Garcia tetap menjadi bos mafia yang tak tersentuh. Dia tidak cuma mencengkeramkan kuku di pengadilan, tapi juga di kepolisian.

Sayangnya, Riley North berhasil kabur... dan perjalanan menuju pembalasan dendam mengerikan dimulai.

Waktu itu, Riley North sudah tak punya apa pun. Suami dan anaknya telah tewas, dan dia juga diusir dari rumah kontrakannya karena tak bisa membayar. Sejak itu, orang-orang melupakannya, dan Diego Garcia—beserta semua yang terlibat dalam kasusnya—melanjutkan hidup dengan tenang.

Lima tahun kemudian, Riley North kembali muncul, dan kali ini telah menjadi pribadi yang jauh berbeda. Rupanya, selama menghilang, dia melatih kemampuan fisiknya habis-habisan, dari perkelahian di jalanan sampai pertarungan di atas ring. Dan perempuan yang semula lemah itu kini berubah menjadi petarung tangguh yang mematikan.

Tepat lima tahun sejak menghilang, Riley North mendatangi para pembunuh suami dan anaknya, dan membantai mereka satu per satu. Kemudian, ia menggantung ketiga mayat penjahat itu dengan tubuh terbalik di tempat karnaval, tempat dulu suami dan anaknya terbunuh.

Setelah itu, ia mendatangi pengacara yang dulu mencoba menyuapnya, dan si pengacara belakangan ditemukan tewas di kolam renang rumahnya. Lalu Hakim Stevens tewas dengan tubuh terlilit bom, dan jasadnya tercerai-berai tak karuan.

Tapi dendam Riley North belum selesai. Ia tahu, akar kejahatan yang menimpanya adalah Diego Garcia, sang bos mafia yang tak tersentuh hukum. Karenanya, seperti yang ia katakan pada Hakim Stevens, “Kau tidak bisa menegakkan keadilan, Pak Hakim. Biar aku saja.”

Riley North memulai pembalasan dendamnya dengan mengacaukan bisnis narkoba Diego Garcia. Ketika upaya itu dianggapnya kurang memuaskan, ia pun langsung mendatangi markas Diego Garcia, dan mengamuk serta membantai semua yang ada di sana.

Kali ini, sang bos mafia harus berhadapan dengan bidadari bersayap darah, dengan amarah dari neraka, yang tak bisa dihentikan apa pun... sebelum dendamnya terbalas.

....
....

Hollywood sangat tahu cara membuat film tentang balas dendam, dan menempatkan penontonnya pada posisi dilematis. Seperti dalam Peppermint, yang kisahnya saya uraikan tadi. Kita tahu, yang dilakukan Riley North adalah kesalahan, tapi kita juga seperti dipaksa untuk memaklumi—bahkan memaafkan—yang ia lakukan.

Kita bisa membayangkan posisi Riley North—seorang wanita lemah yang harus berhadapan dengan pengadilan korup, hakim korup, pengacara korup—yang menghasilkan ketidakadilan baginya. Suami dan anaknya tewas, sementara penjahat yang jelas membunuh mereka dibiarkan lepas begitu saja, karena uang membungkam keadilan. Apa yang harus dilakukannya?

Mungkin Riley North bisa pasrah menerima kenyataan, dan menyabarkan diri bahwa semua itu cobaan, ujian, atau sebut apa pun. Lalu dia berusaha melupakan yang telah terjadi, dan berusaha meneruskan kehidupan dengan luka hati yang entah kapan akan sembuh.

Tapi Riley North juga punya pilihan lain—setidaknya, Hollywood memungkinkannya begitu. Alih-alih pasrah dan menerima nasib ketidakadilan yang menikam hidupnya, Riley North memilih untuk membalas dendam. Bukan hanya membalas dendam pada para pembunuh suami dan anaknya, tapi juga membalas dendam pada pengadilan yang korup dan sistem yang korup.

Itulah yang dia lakukan, dan dia benar-benar melakukannya. Setelah semua bajingan tewas bersimbah darah, dia ditangkap, dan tentu akan diajukan ke pengadilan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Tetapi, seorang polisi yang baik hati menemuinya, dan berbisik, “Kau membunuh banyak sekali orang jahat. Kau memberangus bandar narkoba raksasa, dan mengungkap pengkhianat di kantorku. Tak ada polisi yang kukenal yang bisa melakukan semua yang kaulakukan. Well... mari kita katakan saja, sebagian kita tidak ingin keadaan jadi seperti ini.” Lalu, diam-diam, dia menyerahkan kunci borgol yang mengikat tangan Riley North.

Riley North lepas. Ia kembali hilang. Tak ada yang tahu ke mana dan di mana dia sekarang.

Hidup yang Penuh Kegemesan

Emmmeessssshhhh...

Apppeuuuuhhh...

Bocah di Tengah Malam

Bersama seorang bocah, saya duduk di kegelapan tengah malam, berhadapan dengan sebuah tambak—atau mungkin harus saya katakan, bekas tambak.

Jadi, di hadapan kami ada sebuah tambak yang kini tidak aktif. Semula, tambak itu merupakan tambak udang. Namun, setelah wabah rob melanda Pantura, tambak udang itu mengalami masalah. Ketika rob datang dan air membeludak hingga menenggelamkan tambak, udang-udang yang ada di tambak lepas ke mana-mana. Akhirnya, tambak udang itu dinonaktifkan.

Di sebelah tambak adalah jalan kecil, seperti umumnya jalan di perkampungan, dan di sebelah jalan kecil itu ada kebun pisang. Di kebun itu ada beberapa tumpukan batu, yang biasa dijadikan untuk tempat duduk.

Malam itu, saya bersama bocah pemilik tambak udang tadi, duduk-duduk di batu yang ada di kebun pisang. Kami berdua duduk berdampingan, sambil udud di kegelapan, dan mengobrol dengan asyik—seperti umumnya bocah.

Jalan kecil di hadapan kami diterangi lampu yang berdiri di beberapa bagian, sehingga cukup terang. Orang-orang yang berlalu lalang—bersepeda, bermotor, atau berjalan kaki—dapat kami lihat dengan jelas. Tapi orang-orang itu mungkin tidak melihat kami, karena kami ada di kebun pisang remang-remang.

Sekitar pukul 01.00, seorang bocah tampak berjalan kaki sendirian, melangkah di jalan di depan kami. Bocah itu jelas tidak melihat kami, karena dia melangkah begitu saja, menatap lurus ke depan.

Ketika sampai di depan tambak udang, bocah itu tampak berhenti. Kemudian, sambil menatap tambak udang di depannya, bocah itu berkata, “Hei tambak, tambak udang, asu kabeh sak ndunyo!”

Saya dan pemilik tambak seketika bengong sambil menahan tawa.

Ketika bocah tadi sudah pergi dan tak terlihat, saya penasaran ingin mencoba yang tadi ia lakukan. Jadi, saya pun keluar dari kegelapan, mendekati tambak, lalu berkata seperti bocah tadi, “Hei tambak, tambak udang, asu kabeh sak ndunyo!”

Setelah itu, bocah pemilik tambak ikut melakukan.

Entah kenapa, kami merasa senang.

Bahkan Pun

Oh... bahkan pun.

Rabu, 11 Desember 2019

Urusan Menantu dan Mertua

"Mapan" untuk menikah itu relatif. Tidak harus kaya-raya.
Intinya adalah bisa menghidupi keluarga secara layak
dan tidak berkekurangan, serta tidak merepotkan orang lain
(orangtua, saudara, mertua, dan seterusnya).
@noffret


Salah satu “humor dewasa” yang populer di Amerika adalah tentang Nabi Adam. Humor itu sederhana, dan bunyinya cuma seperti ini, “Pria paling beruntung di dunia adalah Nabi Adam, karena dia tidak punya mertua.”

Dulu, pertama kali mendengar humor itu, saya sama sekali tidak paham maksudnya. Boro-boro paham maksudnya, saya bahkan tidak paham di mana lucunya. Kenyataannya, itu “humor untuk orang dewasa”, dalam arti hanya dapat dimengerti orang yang benar-benar telah dewasa. Lebih spesifik, orang dewasa yang telah menikah.

Karena saya belum menikah, saya pun tidak terlalu mengerti bagaimana hubungan antara menantu dan mertua. Namun, gara-gara terpicu oleh “humor” tersebut, saya pun tertarik untuk mengetahui lebih mendalam urusan menantu dan mertua. Karena banyak teman saya yang telah menikah, saya pun banyak belajar dari mereka, dan perlahan-lahan saya memahami kenapa Nabi Adam adalah pria paling beruntung di dunia.

Urusan menantu-mertua adalah urusan rumit, kata teman-teman saya yang telah menikah. Tingkat “kerumitan” yang terjadi bahkan kadang lebih rumit dibanding teori relativitas atau Big Bang. Teori relativitas atau Big Bang setidaknya bisa diuraikan dengan cukup mudah. Tapi urusan menantu dengan mertua tidak sesederhana itu.

Yang disebut “menantu” bisa pria dan bisa wanita, karena ada orangtua yang punya menantu pria, dan ada pula orangtua yang punya menantu wanita. Begitu pula istilah “mertua” bisa merujuk pada orangtua pihak suami maupun orangtua pihak istri. Yang aneh, banyak orang—pria maupun wanita—tidak cocok dengan mertuanya. Padahal mereka menikah dengan anak mertua. Kalau sama anaknya cocok, kenapa sama orangtuanya tidak cocok?

Dari pembelajaran selama ini, saya mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak saya pahami. Hal-hal semacam ini jarang—bahkan nyaris tidak pernah—ditulis dengan gamblang di buku mana pun. Karenanya, saya mempelajari hal ini melalui kehidupan langsung yang saya amati, yang saya dengar, yang saya perhatikan.

Hampir semua orangtua sangat membanggakan anaknya, pria maupun wanita. Orangtua mana pun senang membangga-banggakan putra atau putri mereka, terlepas apakah anak-anak yang mereka banggakan itu memang layak dibanggakan. Yang menjadi masalah, orangtua sering kali terjebak pada ilusinya sendiri. Hal itu mulai tampak jelas, ketika sang anak akan menikah.

Ketika seorang anak akan menikah dengan orang yang dipilihnya, orangtua akan memastikan bahwa calon menantunya benar-benar layak. Tentu saja itu perlu dilakukan, karena bagaimana pun mereka ingin anaknya mendapat pasangan yang tepat. Yang menjadi masalah, orangtua kadang menetapkan tingkat “kelayakan” yang tak masuk akal untuk calon menantu, akibat terjebak ilusinya sendiri terhadap anaknya.

Yang punya anak laki-laki, menginginkan dapat menantu cantik, pintar masak, pintar dandan, dan sebagainya, dan sebagainya, dan lain-lain, dan lain-lain. Yang punya anak perempuan, menginginkan dapat menantu ganteng, kaya, dapat dibanggakan, dan sebagainya, dan sebagainya, dan lain-lain, dan lain-lain. Jika sang menantu ternyata tidak seperti itu, mereka akan mengharapkan menantunya seperti itu.

Itulah, pikir saya, akar dan awal mula hubungan tidak sehat antara mertua dan menantu.

Bisa jadi, sang menantu adalah wanita baik budi, yang sangat menghormati suami, yang penuh kasih pada sesama, seorang mbakyu yang dirindukan pria mana pun. Tetapi, jika sang menantu tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan si mertua, tetap saja sang menantu dianggap “tidak cukup layak”. Alasannya bisa macam-macam, dari tidak bisa berdandan sampai tidak bisa memasak. Kalau mertua mau mencari kekuranganmu, itu sangat mudah bagi mereka.

Atau, bisa jadi, sang menantu adalah pria baik budi, yang sangat menyayangi istri, dan memiliki kepribadian mulia serta bijaksana. Tetapi, jika sang menantu tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan si mertua, tetap saja sang menantu dianggap “tidak cukup layak”. Alasannya pun bisa macam-macam, dari belum punya rumah, tidak punya mobil, penghasilan kurang memadai, sebut apa pun. Kalau mertua mau mencari kelemahanmu, itu sangat gampang bagi mereka.

Ada cerita teman saya, sebut saja Adrian, yang layak diceritakan. Dia punya kakak perempuan, sebut saja Dewi. Dewi menikah dengan seorang pria baik, sebut saja Diki. Adrian menghormati Diki sebagai kakak ipar, juga karena kepribadian Diki yang memang baik. Adrian bahkan bersyukur kakak perempuannya menikah dengan pria seperti Diki. Tetapi, rupanya, ibu Adrian tidak berpikir seperti itu.

Ketika menikah, Diki belum punya rumah. Dewi tidak mempersoalkan hal itu, toh nyatanya Diki waktu itu sedang berusaha mendapatkan rumah yang cocok. Setelah menikah, Dewi mengikuti Diki ke luar kota, di tempat kerja Diki, dan hidup di sebuah rumah kontrakan. Mereka pasangan bahagia, yang saling mencintai.

Sesekali, Dewi pulang ke rumah orangtuanya, bersama Diki sang suami, kalau pas Diki libur kerja karena tanggal merah. Berdasarkan cerita Adrian yang dituturkan ke saya, orangtuanya (yang artinya juga mertua Diki) kerap menyindir soal rumah setiap kali anak dan menantunya datang. Biasanya, Diki atau Dewi akan menjawab, kalau mereka sedang berusaha mencari rumah yang lokasinya cocok, dekat dengan tempat kerja.

Lalu, suatu hari, pasangan itu memperoleh rumah yang diinginkan, sehingga tidak mengontrak seperti sebelumnya. Apakah masalah kemudian selesai? Terkait dengan mertua, urusannya belum selesai!

Setiap kali lebaran, Dewi pulang ke rumah orangtuanya, bersama Diki sang suami. Biasanya, Diki membawa mobil kantor, dan dengan mobil itu ia mengantarkan keluarga istrinya bersilaturrahmi ke tempat para famili (dalam hal ini famili dari pihak istri). Adrian juga ikut bergabung menumpang mobil yang dibawa Diki, dan dia bersyukur Diki mau melakukan hal itu—meminjam mobil kantor, demi memudahkan urusan keluarga Adrian bersilaturrahmi. Tetapi, rupanya, bagi ibu Adrian (yang artinya mertua Diki), itu belum cukup.

Adrian kadang-kadang mendapati ibunya menyindir Diki agar punya mobil sendiri, agar setiap lebaran tidak perlu meminjam mobil kantor, dan sebagainya, dan sebagainya. Sindiran itu memang sangat halus, kata Adrian, tapi ia tahu itu sindiran, dan bisa jadi membuat Diki tertekan.

Adrian mengatakan kepada saya, “Terus terang, aku sangat tidak nyaman dengan sikap ibuku terhadap Diki. Mungkin Diki bukan lelaki kaya-raya, tapi setidaknya dia telah membuktikan sebagai orang baik, bertanggung jawab, dan menyayangi keluarga. Saat lebaran, dia meminjam mobil kantornya, membantu mengantarkan kami ke mana-mana, bagiku itu sudah cukup. Tidak semua menantu mau melakukan hal itu untuk keluarga istrinya. Tidak seharusnya ibuku membebani Diki dengan sindiran-sindiran semacam itu.”

Sebenarnya, Adrian ingin menegur ibunya, tapi dia juga bingung bagaimana caranya. Kenyataannya Adrian belum menikah, hingga tidak yakin bagaimana menangani urusan semacam itu dengan baik.

Selain kisah Adrian, saya juga pernah mendapatkan kisah yang terkait dengan urusan semacam itu. Kali ini tentang seorang teman lelaki, sebut saja Gani.

Dulu, Gani pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan, sebut saja Irma. Sesekali, Irma menemui Gani di rumah, dan artinya bertemu dengan ibu Gani. Sebenarnya, menurut Gani, Irma adalah perempuan yang baik, dan sangat mengasihinya. Orangtua Irma juga sangat menyayangi Gani. Fakta bahwa Gani jatuh cinta kepada Irma, karena mengetahui kalau Irma adalah pilihan yang tepat. Tapi ternyata tidak begitu bagi ibu Gani.

Meski tidak menunjukkan sikap terang-terangan, Gani tahu ibunya tidak menyukai sosok Irma. Apa penyebabnya? Tidak jelas, tidak pernah jelas. Setiap kali membahas Irma, ibu Gani kadang mengatakan kepada Gani bahwa Irma begini, bahwa Irma begitu, dan seterusnya, dan lain-lain, yang intinya dia tidak suka kepada Irma.

Sampai kemudian, Gani dan Irma putus.

Sampai bertahun-tahun setelah itu, Gani belum juga mendapatkan pengganti Irma. Kenyataannya dia memang belum menemukan perempuan lain yang bisa membuatnya jatuh cinta. Jadi, meski sering ditanya “kapan kawin” oleh lingkungannya, Gani tetap bergeming, karena kenyataannya dia memang belum menemukan pasangan yang tepat.

Suatu hari, Gani bertemu seorang perempuan yang membuatnya jatuh cinta—sosok sederhana yang bisa dibilang berbeda dengan Irma. Jika Irma suka berpakaian terbuka, perempuan yang ini berbusana tertutup. Jika Irma senang bicara, perempuan yang ini tampak kalem. Jika Irma terlihat lincah, perempuan yang ini terkesan pemalu. Bagi Gani, dia perempuan yang tepat.

Tapi rupanya ibu Gani masih belum sepakat dengan pilihan anaknya. Dia tetap menunjukkan sikap tidak suka pada perempuan itu, meski alasannya juga tidak jelas; seperti dulu dia tidak menyukai Irma. Intinya, ibu Gani tidak suka!

Gani berkata kepada saya, “Mungkin ibuku terlalu tinggi menilaiku, sehingga dia menginginkan menantu yang istimewa, yang ia pikir benar-benar tepat untukku yang ia anggap istimewa. Yang tidak pernah dilakukan ibuku adalah mempertanyakan pada dirinya sendiri; apakah aku benar-benar istimewa, ataukah hanya istimewa dalam bayangannya?”

“Aku mengakui, aku memiliki banyak kekurangan,” lanjut Gani. “Karena kesadaran itu pula yang menjadikanku tidak berharap macam-macam mengenai calon pasanganku. Selama aku jatuh cinta kepadanya, dan dia mau hidup bersamaku, dalam suka maupun dalam duka, bagiku sudah cukup. Tapi ternyata ibuku tidak berpikir seperti itu. Mungkin dia menginginkan menantu yang bisa dibanggakan, tanpa menyadari apakah anaknya sendiri memang layak dibanggakan.”

Saya terdiam lama mendengar penuturan jujur itu.

Sebagai lajang, Gani memang tergolong mapan. Dia sudah punya rumah sendiri, dan pekerjaannya pun memberi penghasilan yang mencukupi. Dengan penghasilannya pula, Gani membiayai urusan rumahtangga ibunya, dari bayar listrik sampai tetek bengek lainnya. Mungkin, karena hal itu, ibu Gani terlalu tinggi menilai anaknya sendiri, sehingga terjebak dalam ilusi yang ia ciptakan sendiri.

Sampai sekarang, Gani belum menikah. Untuk hal itu, dia mengatakan, “Jika aku menikah dengan perempuan yang tidak disukai ibuku, aku khawatir istriku akan terbebani dengan hal itu. Memang aku telah punya rumah sendiri, dan kami bisa hidup sendiri tanpa bersentuhan langsung dengan ibuku. Tapi siapa yang bisa menjamin kalau kelak ibuku tidak akan mencampuri urusan rumah tangga kami?”

....
....

Dua cerita di atas hanya sebagian kecil dari yang pernah saya dengar dan ketahui mengenai urusan menantu dan mertua. Di luar dua kisah itu, ada banyak cerita lain, yang juga dituturkan langsung para pelakunya, namun saya terlalu risih untuk menuliskannya di sini. Yang jelas, terkait dengan hal ini, ada seorang teman yang telah menikah, dan dia memberi nasihat yang mungkin layak kita dengar.

Berikut ini nasihatnya, “Kalau kau menikah, usahakan untuk hidup terpisah dari orangtua. Jangan hidup seatap dengan mereka. Bahkan, kalau bisa, hiduplah di tempat yang relatif jauh dari orangtuamu maupun orangtua pasanganmu. Bangunlah rumah tangga sendiri dengan pasanganmu.

“Jika rumah tanggamu menyenangkan, ceritakan dan tunjukkan pada orangtua kalian, agar mereka ikut senang. Tetapi jika sebaliknya, diam saja, dan jangan ceritakan apa pun pada mereka. Urusan rumah tanggamu adalah urusanmu dengan pasanganmu, bukan dengan orangtuamu atau orangtua pasanganmu. Fakta bahkan kalian menikah, artinya kalian memang telah siap menanggung apa pun yang terjadi dalam pernikahan, dan itu urusanmu dengan pasanganmu.”

....
....

Memang, tidak semua mertua pasti “jahat” pada menantunya, sebagaimana tidak semua menantu “tidak cocok” dengan mertua. Tetapi bahwa hal-hal semacam itu ada, itu fakta. Sebagaimana perkawinan. Bahwa ada pasangan yang bahagia dalam perkawinan, itu jelas. Tetapi bahwa ada pula pasangan yang menderita dalam perkawinan, itu juga fakta.

Ada mertua-mertua yang sangat baik pada menantu mereka. Sebegitu baik, hingga kasih sayang mereka bisa dibilang seperti kepada anak kandung sendiri. Beruntunglah orang-orang yang memiliki mertua seperti itu, karena artinya mereka memiliki dua orangtua, dua ayah, dan dua ibu.

Karenanya, mungkin, orang paling beruntung di dunia bukan Nabi Adam, melainkan orang yang dicintai pasangannya setengah mati, dan disayangi mertua sepenuh hati.

Catatan-Catatan Seputar Lagu Malaysia

Beberapa waktu terakhir, ada orang yang terus menerus membuka catatan-catatan yang membahas kisah/lagu Malaysia, di blog ini. Agak konyol, sebenarnya. Mencari-cari masalah, tapi jadi kebingungan ketika masalah benar-benar datang.

So, untuk membantunya, berikut ini adalah daftar catatan yang bisa ia buka-buka dengan mudah. Tolong dibantu ya guys, bantu buka halaman-halaman ini.

Oh, ya, dan catatan ini juga: Kenikmatan Menulis di Blog yang Tidak Bisa Didapatkan di Tempat Lain

Kangen Keponakan

Zaman keponakan saya masih kecil dulu, dia tidak bisa mengatakan hal-hal dengan jelas karena masih cadel. Kalau ketemu, kami bermain-main dengan gembira. Saat saya sedang berbaring, misalnya, dia kadang menjatuhkan badannya ke tubuh saya. Biasanya, saya akan mendekapnya dengan erat, dan dia akan tertawa-tawa.

Karena saya mendekapnya erat, dia pun meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Saat tidak juga bisa lepas, dia akan berteriak-teriak meminta tolong. Karena masih cadel, dia tidak bisa mengatakan “Tolong.” Saat bermaksud meminta tolong—agar bisa lepas dari dekapan saya—yang dia katakan, “Payuuung!”

Saya sering tertawa sendiri setiap kali teringat hal itu.

Kini keponakan saya sudah besar, dan bisa berbicara dengan jelas. Kalau ketemu, kami masih suka bermain-main seperti dulu. Dan saya sering kangen dengan masa-masa cadelnya dulu, saat dia berteriak “payung” ketika dalam dekapan saya.

Noffret’s Note: No Hijab Day

#NoHijabDay mendadak viral dan membuat geger publik. Aksi ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap aturan-aturan yang memaksa perempuan untuk mengenakan hijab. Bagaimana menurutmu? http://bit.ly/2C2ta8U

—@kumparan, 6 Februari 2018

Baru tahu ada gerakan NoHijabDay. Tentu bukan hal baik. Tapi paksaan dan tekanan tanpa empati memang kerap melahirkan pelawanan dan pemberontakan. Termasuk, tentu saja, paksaan untuk menikah, dan tekanan untuk beranak-pinak.

Karena bahkan semut pun menggigitmu, jika ia terinjak.

—@noffret, 6 Februari 2018


Baca: Joko Sutarto, Penjahat/Psikopat Dunia Maya

Tutupnya

Oh... tutupnya.

Rabu, 04 Desember 2019

Di Balik Kelambu Pernikahan

PRIA:
Ya = Ya
Tidak = Tidak
Terserah = Terserah

WANITA:
YA = Bisa ya, bisa tidak
Tidak = Bisa tidak, bisa ya
Terserah = Hanya Tuhan yang tahu artinya

PRIA:
Mari ubah hal-hal sulit agar lebih mudah.

WANITA:
Mari ubah hal-hal mudah agar lebih sulit.

Begitu terus sampai kiamat.

Fakta yang tak bisa dibantah siapa pun: Pria dan wanita adalah makhluk berbeda, baik dalam fisik maupun cara berpikir. Ketika dua makhluk berbeda itu disatukan di bawah satu atap bernama pernikahan, sejuta kemungkinan bisa dan pasti terjadi.

Tidak ada rumus pasti mengenai kemungkinan yang terjadi dalam pernikahan. Keduanya (suami-istri) bisa jadi saling mendominasi, atau bisa saling berkompromi, atau salah satunya yang mendominasi. Faktor inilah, salah satunya, yang lalu melahirkan sistem patriarki.

Ribuan tahun lalu, ada orang yang cukup pintar untuk memahami "reaksi" yang terjadi jika pria dan wanita disatukan. Dia paham, ketika pria dan wanita disatukan, sejuta kemungkinan bisa dan pasti terjadi. Karenanya, dia lalu merancang konsep yang sekarang kita sebut patriarki.

Cara berpikir yang melatari konsep patriarki sebenarnya primitif: Manusia adalah serigala bagi manusia lain, remember? "Jadi, sebelum mereka (wanita) menindas, kita (pria) harus terlebih dulu menindas mereka." Konsep itu lalu diadopsi dan dilembagakan dari generasi ke generasi.

Konsep patriarki telah ada jauh-jauh hari sebelum manusia menyebutnya "patriarki". Istilah atau sebutan "patriarki" muncul di zaman modern, sementara konsepnya berasal dari zaman purba. Dan manusia mulai mengenal konsep itu, seiring mereka mulai mengenal konsep pernikahan!

Ketika pria dan wanita bertemu dan berkumpul sewaktu-waktu, masalah belum muncul. Kalau pun muncul, masalahnya mudah diatasi. Tapi ketika pria dan wanita disatukan untuk hidup bersama sampai bertahun-tahun, masalah pasti muncul! Homo sapiens sudah paham hal ini sejak zaman purba!

Karenanya, ketika mereka mulai mengenal konsep hidup bersama (pernikahan), mereka pun melengkapinya dengan instrumen yang memungkinkan masalah (dalam pernikahan) bisa diminimalkan. Dengan latar kehidupan mereka di zaman purba, konsep patriarki menjawab kebutuhan mereka.

Jadi, sejak awal, manusia sudah memahami bahwa setiap pernikahan berpotensi memunculkan masalah! Di masa lalu, ketika sistem patriarki mengakar kuat, masalah dalam pernikahan bisa ditutupi dengan mudah, karena istri selalu kalah dan mengalah. Itulah sebenarnya tujuan patriarki!

Sistem patriarki memungkinkan pernikahan di zaman purba (atau kuno) untuk terlihat baik-baik saja, dan masyarakat bisa hidup dengan tenteram.

Belakangan, zaman berubah, dan sebagian wanita mulai sadar kalau selama ini mereka diam-diam ditindas, dan perlahan-lahan mereka bangkit.

Kesadaran dan kebangkitan para wanita tidak hanya memunculkan istilah "patriarki" yang lalu dikenal sebagai konsep dalam relasi pria-wanita, tapi juga menguak tabir mengerikan di balik kelambu pernikahan. Bahwa ternyata, selama ini, keindahan pernikahan hanya ngapusi.

Perlahan tapi pasti, orang-orang mulai memahami bahwa pernikahan tidak seindah yang terlihat di permukaan. Para pelaku pernikahan mulai berani buka suara, mengungkapkan apa sesungguhnya yang terjadi dalam pernikahan mereka, dan kesadaran yang mengerikan mulai terbuka.

Sebagian manusia kalang kabut. Sistem peradaban (khususnya perkawinan) yang mereka bangun mulai runtuh dan tercabik-cabik. Kebohongan yang disembunyikan di balik tirai perkawinan telah mulai terbuka, dan mereka harus menemukan cara agar manusia tetap percaya pada perkawinan.

Maka lahirlah aksi ngibul paling legendaris sepanjang masa, yang menandai dimulainya Abad Dusta. Aksi ngibul itu biasanya berbunyi, "Menikah akan membuatmu bahagia," atau, "Menikah akan melancarkan rezeki," serta doktrin-doktrin dusta lainnya yang terdengar seperti angin sorga.

Doktrin-doktrin itu jelas dusta, bahkan sudah cacat sejak awal. Karena, bahkan ribuan tahun yang lalu, manusia purba sudah paham. Bahwa ketika pria dan wanita disatukan di bawah satu atap bernama perkawinan, masalah pasti akan terjadi! Masalah keparat apa yang membuatmu bahagia?

Ingat kembali fakta tak terbantah ini: Pria dan wanita adalah makhluk berbeda. Dan ketika dua makhluk yang jelas berbeda disatukan di bawah satu atap selama bertahun-tahun, masalah pasti akan terjadi! Omong kosong kalau perkawinan PASTI bahagia. Bahagia hanya satu kemungkinan.

Bahkan, dalam pikiranku, kebahagiaan perkawinan itu "kecelakaan" (accident). Jika menggunakan perspektif biologi, psikologi, fisiologi, filsafat dan matematika digabung jadi satu, orang lebih mungkin tertekan dalam perkawinan daripada bahagia. Kemungkinannya satu banding sejuta!

Karena latar belakang itulah, aku berani menulis catatan berisi tantangan ini, dan selama bertahun-tahun, meski telah dibaca ribuan orang, tidak ada satu orang pun yang berani menjawab tantanganku: Ikrar Suci » http://bit.ly/1UKSzWq


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Maret 2019.

What The Hell...

Terus terang aku iri sama cowok yang rela mengumpulkan ribuan RT di Twitter demi bisa ketemuan dengan cewek. Aku tidak punya kesabaran semacam itu. Aku hanya menerima jawaban Ya atau Tidak. Jelas, padat, ringkas, tanpa bertele-tele, dan tanpa banyak drama yang buang-buang waktu.

Cewek katanya tidak suka cowok yang bertele-tele. Tapi nyatanya cewek senang bertele-tele dengan banyak drama yang cuma buang waktu. Kabar buruknya, tidak semua cowok punya waktu untuk dibuang-buang. Lebih baik menggunakan waktu untuk kerja daripada ngurusin drama tidak jelas.

Cewek mungkin khawatir akan dianggap "gampangan" kalau mempermudah urusan. Biar kuberitahu, gampangan atau tidak bukan tergantung pada bagaimana sikapmu, tapi pada bagaimana dirimu. Kalau nyatanya kamu memang gampangan, mau dipersulit seperti apa pun kamu tetap gampangan.

Cowok, khususnya yang sudah dewasa, tidak setolol yang mungkin kamu kira. Kami bisa membedakan mana sikap ramah dan sikap murahan. Sejujurnya, aku justru menghargai cewek yang menunjukkan sikap proaktif—kamu paham maksudnya—dan tidak sedetik pun aku menganggap mereka gampangan.

Jangankan pakai syarat ribuan RT, bahkan membalas chat sengaja lama-lama saja sudah membuatku kehilangan selera. Kalau cewek membalas chat 1 jam kemudian, aku akan membalasnya lagi 1 tahun kemudian. Kalau dia menganggapku tidak penting, aku juga akan menganggapnya tidak penting.

Sebagai cowok, aku sering mikir, "Kalau untuk ketemu saja sudah dibikin menjengkelkan, siapa yang bisa menjamin pertemuan yang akan terjadi bisa menyenangkan?"

Kalau kita sama-sama ingin ketemu, tapi kamu mempersulitku, silakan pergi ke neraka. Aku tidak sudi membuang waktu!

Agar tidak terjadi kesalahpahaman, aku perlu ngasih tambahan.

Aku tidak punya keinginan bertemu siapa pun di dunia maya. Tapi kalau 2 ORANG sama-sama ingin ketemu, maka itu membutuhkan usaha DUA ORANG. So, tidak perlu khawatir (dan tidak perlu ngarep) aku akan mengejar-ngejarmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 April 2018.

Percakapan Tidak Ilmiah Soal Gerobak

Saya duduk bersama seorang bocah, dan tak jauh dari tempat kami ada sebuah gerobak—entah gerobak apa.

Bocah di samping saya berkata, “Gerobak itu adalah gerobak petuah.”

“Gerobak petuah?” tanya saya. “Kenapa itu gerobak petuah?”

“Karena orang-orang mengatakannya begitu.”

“Dan kau setuju?”

Dia tersenyum. “Entahlah. Tapi menurutku, gerobak itu hanyalah gerobak.”

Kegagalan Resolusi

Kegagalan resolusi kadang tidak hanya disebabkan oleh diri kita, tapi juga oleh hal-hal di luar kita.

Awal Januari lalu, aku menulis resolusi yang sederhana. Namun, sampai jelang akhir tahun, tetap belum mampu mewujudkannya.

Resolusi untuk 2018 » https://bit.ly/2KI975x


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 November 2018.

Itu

Oh... itu.

 
;