Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Senin, 31 Agustus 2026

Urusan Hamil, Melahirkan, dan Pilihan

Sambil nunggu ngantuk, barusan aku baca ini. Artikel yang penuh typo—salah satu kebiasaan buruk VICE. Tapi yang membuatku nyeri bukan typo-nya, melainkan isinya. Perempuan (khususnya yang belum hamil) sepertinya perlu baca, agar lebih siap dan hati-hati.


Judul yang mungkin terdengar tidak environmental itu mengungkap fakta-fakta kehamilan secara ngablak, tanpa tedeng aling-aling. Bahkan sebagai laki-laki, aku merasa nyeri.

Artikel itu berisi wawancara VICE dengan Batya Grundland, dokter kandungan dan pakar perawatan kehamilan. Jadi isinya bisa dipercaya.

Yang menarik dari artikel tersebut adalah pengungkapan bahwa "masa kehamilan tidak (selalu) seindah yang digembar-gemborkan banyak orang".

Di akhir wawancara, VICE bertanya, kenapa tidak semua orang mau mengungkapkan bahwa masa kehamilan sebenarnya sama sekali tidak indah?

Dr. Grundland menjawab, "Mungkin karena kita tidak mau membuat perempuan merasa takut hamil."

Kedengarannya seperti "tipuan" yang familier, eh?

Orang-orang "menipu" kita bahwa menikah sungguh indah dan melancarkan rezeki, meski sebenarnya tidak selalu begitu. 

Setelah kita menikah, mereka "menipu" lagi bahwa masa kehamilan sungguh indah, meski sebenarnya tidak selalu begitu.

Demi tujuan evolusi, manusia terus ngapusi.

Dan sekarang aku (makin) memahami kenapa sebagian perempuan ada yang memilih untuk tidak hamil dan melahirkan anak, karena nyatanya urusan itu memang "mengerikan". Kalau boleh ngomong kasar, hasilnya belum tentu sepadan dengan proses pengorbanan yang dilakukan.

Urusan hamil dan melahirkan anak tidak seremeh yang mungkin dibayangkan sebagian orang. Dari sisi perempuan, dia harus kepayahan selama hamil dan pascakehamilan. Sementara dari sisi anak, belum tentu ia akan senang telah dilahirkan. Bisa jadi dia malah menyesal saat telah dewasa.

Hal terbesar yang menggerakkan manusia untuk menikah, lalu hamil dan melahirkan anak, adalah doktrinasi! Yang jadi masalah, doktrin ini (ternyata) bermasalah! Realitas yang terjadi sering kali seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang didoktrinkan. Mau sampai kapan?

Pada akhirnya, menikah memang pilihan, bukan kewajiban. Sebagaimana hamil dan punya anak juga hanya pilihan, bukan kewajiban.

Kalau mau ngemeng agama, bahkan agama pun sebenarnya tidak mewajibkan orang menikah dan punya anak, selain hanya mengimbau. Intinya tetap pilihan.

"Kalau kita tidak mau hamil dan punya anak, lalu buat apa kita diberi rahim?"

Itu bukan jawaban! Rahim di tubuhmu adalah peranti. Kalau kau diberi suatu peranti, kau punya hak untuk menggunakan, juga punya hak untuk tidak menggunakan. Kau yang bertanggung jawab atas pilihanmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 April 2019.

Some People

Some people... ah, sudahlah! Ngapain juga aku niru-niru orang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Juli 2012.

Pilih Mana?

Ada tweet buruk yang membuat tersenyum. Ada tweet bagus yang membuat tercenung. Pilih mana?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Agustus 2012.

Musim Dingin

Aku ingin meringkuk seperti anak kecil, tak terbangun, melewatkan musim dingin yang gigil.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Nggak Mau Ngelepasin

Ini sebenarnya aku yang nggak mau ngelepasin hape, atau hape yang nggak mau ngelepasin aku ya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2012.

Sama-sama Terlalu

Terlalu banyak atau terlalu sedikit punya kesamaan. Sama-sama terlalu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Nemu Hal Penting

PSG, GPS, SPG, GSP, kok semuanya punya arti ya? *merasa nemu hal penting*


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Minggu, 30 Agustus 2026

Tulang Rusuk

"Lagi ngapain, Mas?" | "Ini, lagi nyari..." | "Nyari apa?" | "Uh, nyari... tulang rusuk."

"Pokoknya kita bubaran!" seru si cewek. | "Uh, tapi kenapa?" tanya si cowok. "Kasih alasan, dong!" | "Tulang rusukmu gak sesuai."

Ada apa sebenarnya dengan tulang rusuk? Dan kenapa namanya kok tulang rusuk? Kayak nggak ada nama lain yang lebih keren aja!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2012.

Baru Bangun Tidur

Laki-laki macam apa jam segini baru bangun tidur? *nguap* *masih ngantuk*


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 18 Juli 2012.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Menjemput Mbakyu

Saya baru keluar dari warung, usai makan siang, ketika sebuah motor melaju pelan, lalu berhenti di depan saya berdiri.

Ternyata Fa’ad.

“Kebetulan ketemu kamu di sini,” ujar Fa’ad. “Aku dititipi undangan buat kamu.”

Fa’ad membuka jok motor matiknya, mengambil setumpuk undangan, memilah-milahnya sesaat, lalu mengambil selembar, dan menyerahkannya pada saya.

Saya menerima undangan itu, dan langsung tahu siapa yang akan menikah. Saya pun mengucapkan terima kasih.

Fa’ad kembali menaiki motor, bersiap melanjutkan perjalanan.

Saya bertanya, “Kamu dari mana atau mau ke mana, Ad?”

“Aku mau menjemput mbakyuku,” jawab Fa’ad.

Fa’ad berlalu.

Tapi kalimatnya masih tertinggal.

Menjemput mbakyu. Indah sekali kata-kata itu.

Jumat, 31 Juli 2026

Ingin Kaya tapi Belum Tentu Ingin Bekerja

Jack Ma mengusulkan agar para karyawannya bekerja 12 jam setiap hari. Seperti yang sudah diduga banyak orang, usul itu langsung diprotes bahkan ditolak mentah-mentah. Karena kebanyakan orang memang ingin kaya, tapi belum tentu ingin kerja.

Kalau kau mencari cowok gaul yang suka nongkrong, eksis di Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, dan bertingkah sok kaya, aku mundur.

Tapi kalau kau mencari cowok biasa yang rajin belajar dan giat bekerja, dan menjalani hidup bersahaja tanpa peduli apa kata dunia, aku maju.

Rata-rata lowongan kerja ngasih syarat "penampilan rapi", "bisa berkomunikasi dengan baik", dan semacamnya. Tapi sepertinya belum ada yang mensyaratkan "mampu bekerja 12 jam setiap hari".

Kalau ada yang begitu, mungkin aku akan tergoda melamar, siapa tahu gajinya memang besar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 April 2019.

Efeknya Seperti Gempa

Bencana adalah ketika kau mendonlut something sebesar empat giga, tapi terhapus dan hilang tanpa sengaja. Percayalah, efeknya seperti gempa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Agustus 2012.

Kamis, 30 Juli 2026

Tujuan Hidup

Barusan baca artikel di Vice tentang “resep tidur nyenyak”. Cara tidur nyenyak, menurut artikel itu—mengutip suatu penelitian—adalah “memiliki tujuan hidup”. 

Tautan artikelnya tidak perlu kumasukkan di sini, karena artikelnya (atau adaptasi/terjemahan Indonesianya) awut-awutan.

Jadi, merujuk artikel itu, kita perlu punya tujuan hidup untuk bisa tidur nyenyak. Aku punya tujuan hidup, tapi sulit tidur nyenyak. Boro-boro tidur nyenyak, yang ada malah gelisah terus, karena terbayang tujuan hidup. Karena punya tujuan hidup, aku justru tidak ingin tidur!

Mungkin ada yang ingin bertanya, "Emang, tujuan hidupmu apa?"

Tujuan hidupku sederhana: Meruntuhkan peradaban, dan mengakhiri semua omong kosong ini.

*Pantes gak bisa tidur.*

Dan setelah itu, mengutip ungkapan Thanos dalam Infinity War, “Akhirnya aku bisa beristirahat, sambil menyaksikan matahari terbit di Alam Semesta. Untuk kemudian terlelap di pangkuan Mbakyu."

Kalimat terakhir tambahan dariku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Maret 2019.

Asal Punya Duit

Bangun tidur, keluar rumah, banjiran, menuju warung Bu Solehah untuk menikmati sego megono dan teh anget.

Subhanallah... bahagia itu sederhana—asal punya duit.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

Selera Humor yang Aneh

Sebagian orang stres karena ingin kurus, sebagian lagi stres karena ingin gemuk. Hidup tampaknya punya selera humor yang aneh, dan, kadang-kadang, menjengkelkan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2019.

Pantas Kurus Terus

Bocah ini sering baru merasa kelaparan setelah berhadapan dengan makanan. Pantas kurus terus.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Tweet Jadul Zaman DVD-ROM

Yang menjengkelkan dari DVD-ROM keluaran baru: Terlalu selektif. Cakram tergores dikit aja nggak mau muter! Sok jual mahal banget!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Februari 2012.

Gegara Harddisk Rusak

Kehilangan ratusan halaman di Word gegara harddisk rusak tuh rasanya seperti patah hati sewaktu sakit parah, lalu mendengar vonis amputasi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Februari 2012.

Lelah Pikiran

Lelah pikiran sepertinya lebih menguras tenaga daripada lelah fisik. Sudah istirahat lama pun tetap terasa lelah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Februari 2012.

Rabu, 01 Juli 2026

Ilusi Nasi Uduk

Catatan ini lanjutan catatan sebelumnya (Catatan dari Tahun Baru). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya baca catatan sebelumnya terlebih dulu. 

Tyo bertanya pada Arta, “Dari mana, Ta’?”

“Nyari nasi uduk,” jawab Arta.

“Ketemu?”

“Nggak.” Arta lalu curhat, “Di Jakarta, nyari nasi uduk gampang banget. Cuma jalan kaki beberapa meter, udah nemu warung nasi uduk. Di sini, nasi uduk kayak barang langka.”

Arta bertetangga dengan Tyo, kampung mereka bersebelahan. Namun, sekitar delapan tahun terakhir Arta tinggal di Jakarta, membantu kakaknya yang punya usaha di sana. Hal itu pula yang menjadikan kami—khususnya Arta dan saya—sangat lama sekali tidak ketemu. 

“Di Jakarta,” lanjut Arta, “saban malam aku makan nasi uduk. Cuma jalan kaki dari rumah, beberapa meter udah nemu warung. Kalaupun tutup, jalan kaki lagi udah nemu warung lagi yang jualan nasi uduk. Pas balik ke sini, aku sering kangen nasi uduk, tapi kayaknya nggak ada yang jual.”

Saya jadi penasaran, “Emang kamu udah berapa lama balik ke sini?”

“Udah cukup lama, sih,” jawab Arta, “sekitar lima bulanan ini.”

Sambil menahan senyum, Tyo lalu berkata pada Arta, “Di dekat tempat kita sebenarnya ada warung nasi uduk. Tapi nasi uduk KW.”

“Di daerah mana?” tanya Arta antusias—dia sepertinya tidak menangkap istilah aneh yang disebut Tyo.

Tyo lalu menjelaskan lokasi yang dia maksud, dan Arta langsung paham. Mereka sama-sama mengenal daerahnya. 

“Warung itu dulu ramai banget,” ujar Tyo. “Orang-orang yang suka nasi uduk, termasuk aku, datang ke sana. Tapi belakangan ketahuan kalau nasi uduk di sana ternyata bukan nasi uduk.”

“Maksudnya gimana?” Arta bingung. “Kok, nasi uduk tapi bukan nasi uduk?”

Tyo seperti menahan tawa, lalu mulai menjelaskan. 

Berdasarkan penjelasan Tyo, sekian tahun lalu—sekitar dua tahun setelah Arta tinggal di Jakarta—ada warung makan yang muncul di pinggir jalan. Warung itu mirip warung Lamongan. Ada spanduk besar bergambar lele, ayam, bebek, ikan. Warung itu buka sekitar pukul 17.00 sampai cukup larut malam.

Ketika pertama kali datang ke warung itu, Tyo mengira warung Lamongan seperti biasa. Dia pesan nasi dan pecel lele di sana. Dia sama sekali tidak kepikiran nasi uduk. Tetapi, ketika mendapati nasi di piring, Tyo berpikir itu nasi uduk. Alasannya sederhana: nasi itu ditaburi bawang goreng!

“Sumpah,” ujar Tyo sambil tertawa, “aku mengira itu nasi uduk!”

Waktu pertama kali makan di warung itu, Tyo merasa puas. Pecel lelenya enak, dan nasinya masih hangat. Ketika membayar, Tyo mendapati harga makanan di warung itu sama seperti di warung-warung Lamongan umumnya. Jadi, sejak itu pula, Tyo sering ke sana, untuk menikmati nasi uduk yang nikmat!

Belakangan, Aldi juga ikut terseret ke warung itu. Aldi ini juga teman nyangkruk kami. Sejak pertama kali diajak Tyo ke warung “nasi uduk” tersebut, Aldi juga merasa cocok. Jadi dia pun sering makan di warung itu—kadang sendirian, kadang bersama Tyo. Dan keduanya sama-sama berhalusinasi bahwa selama itu mereka makan nasi uduk!

Ternyata, yang mengalami hal semacam itu bukan cuma Tyo dan Aldi. Ada orang-orang lain yang datang ke sana karena sama-sama mengira warung itu menyediakan nasi uduk. Ketika sedang makan malam di sana, Tyo kadang ketemu orang yang ia kenal yang juga tinggal di daerah itu, dan mereka sama-sama mengira sedang makan nasi uduk. Keberadaan bawang goreng di atas nasi yang hangat ternyata mampu menciptakan ilusi. 

Yang “menakjubkan” dari kisah ini adalah fakta bahwa orang-orang yang makan di warung itu benar-benar percaya sedang makan nasi uduk, padahal di spanduk warung tidak ada keterangan bahwa itu warung nasi uduk. Orang-orang hanya tahu bahwa nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng. Dan karena nasi di warung itu ditaburi bawang goreng, mereka pun menyimpulkan itu nasi uduk.

Saya perlu ngasih catatan di sini. Di kota saya maupun di daerah-daerah sekitarnya, nasi putih biasa (bukan nasi uduk) memang tidak ditaburi bawang goreng. Di warung mana pun saya makan, saya tidak pernah mendapati bawang goreng di atas nasi. Bawang goreng hanya ada pada nasi uduk. 

Ada alasan yang agak ilmiah terkait hal itu. Nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng untuk meningkatkan aroma, memberi tekstur renyah, dan menambah kedalaman rasa gurih. Nasi uduk ditanak dengan santan yang membuat nasi jadi lebih lembut. Bawang goreng ditaburkan untuk menciptakan kontras tekstur.

Hal berbeda terjadi pada nasi biasa (bukan nasi uduk). Nasi biasa, idealnya, agak akas, dan dapat dimakan dengan lauk apa pun, termasuk dengan sayur berkuah. Karenanya, secara umum, nasi biasa tidak membutuhkan bawang goreng. 

Kembali ke cerita Tyo.

Sampai cukup lama, Tyo percaya pada ilusi bahwa warung yang sering ia datangi memang warung nasi uduk. Tidak pernah sedetik pun ia meragukan keyakinannya. Karena nyatanya makan di warung itu terasa nikmat baginya. Sambal pecel lelenya enak. Nasinya hangat, dan ada taburan bawang goreng di atasnya. Dan Tyo bukan Chef Juna, juga bukan Chef Arnold, atau chef-chef lainnya. Lidahnya awam. Taburan bawang goreng pada nasi sudah cukup menciptakan halusinasi.

Sampai suatu malam, waktu lagi makan di warung itu, Tyo ditelepon ibunya, yang memintanya datang ke rumah. Tyo lalu terpikir membawakan nasi uduk plus ayam goreng buat ibu serta adik perempuannya.

Ibu serta adik Tyo senang dengan nasi yang dibawakan Tyo, khususnya karena disebut “nasi uduk”. Tetapi baru beberapa suap, ibu Tyo murka. 

“Nasi uduk apaan?” tanya ibu Tyo. “Ini nasi biasa!” 

Tyo kaget. Dia menyatakan itu nasi uduk, buktinya ada bawang goreng di atasnya. 

Adik Tyo mengonfirmasi pernyataan ibu mereka, bahwa itu nasi biasa—bukan nasi uduk. Tyo makin bingung.

Besok malamnya, saat kembali makan di warung langganan, Tyo memberanikan diri bertanya langsung pada penjualnya, “Mbak, sebenarnya ini nasi uduk apa nasi biasa?”

Mbak-mbak penjual warung, entah kenapa, menjawab dengan wajah agak lelah. “Nasi biasa, Mas. Di spanduk, kan, nggak ada tulisan nasi uduk.” 

Penjelasan itu seperti palu yang menghantam kesadaran Tyo. Ilusinya runtuh. Ketika ibu serta adiknya mengatakan itu nasi biasa, Tyo masih cukup pede dengan keyakinannya. Tapi ketika si penjualnya sendiri yang menyatakan itu nasi biasa, Tyo tidak punya sandaran lagi untuk ilusinya.

Tyo merasa tertipu, meski ia tidak bisa menuduh si pemilik warung menipunya. Faktanya, di warung itu memang sama sekali tidak ada tulisan atau keterangan bahwa mereka menjual nasi uduk. Spanduknya hanya berisi gambar lele, ayam, bebek, dan ikan. Tidak ada tulisan “nasi uduk” atau semacamnya. Dia sendiri yang menyimpulkan nasi di warung itu nasi uduk. Dan kesimpulan itu muncul gara-gara taburan bawang goreng di atas nasi.

Ketika Tyo menyampaikan kebenaran itu ke Aldi, mereka ketawa-tawa seperti orang gila. Pengalaman “makan nasi uduk yang ternyata bukan nasi uduk” sepertinya cukup mengguncang pikiran mereka.

Sambil tertawa, Tyo mengatakan pada saya dan Arta, “Sekarang, kalau ditanya kenapa nasi uduk dikasih bawang goreng tapi nasi biasa nggak dikasih bawang goreng, aku tahu jawabannya. Buat identifikasi!” 

Kami tertawa, dan memahami itu kebenaran yang lucu.

“Tapi warung itu nggak salah, kan?” ujar Arta kemudian. “Nyatanya mereka nggak pernah mengatakan itu nasi uduk.”

“Memang,” sahut Tyo. “Masalahnya, kenapa mereka ngasih bawang goreng di atas nasi, kalau itu sebenarnya nasi biasa?”

Sambil menahan tawa, saya mengatakan, “Ya suka-suka mereka, lah. Kalau nggak suka, kamu tinggal bilang jangan kasih bawang goreng.”

“Masalahnya bukan di situ,” jawab Tyo. “Masalahnya, bawang goreng itu menciptakan ilusi kalau itu nasi uduk!”

Kami bertiga lalu tertawa-tawa, menyadari betapa absurdnya kasus itu.  

Ponsel Tyo berbunyi. Dia merogoh saku celananya, dan mendapati Aldi di layar ponsel. “Panjang umur, nih, bocah,” ujarnya. 

Tyo lalu bercakap-cakap dengan Aldi lewat video call. Di tengah percakapan, Tyo berkata, “Al, coba tebak aku lagi sama siapa.”

“Pacar barumu?” sahut Aldi di ponsel.

Tyo mengarahkan layar ponselnya ke saya dan Arta.

“Anjrit!” seru Aldi setelah melihat kami bertiga. “Kalian tahun baruan, kenapa nggak ngajak aku?”

Kami pun lalu nimbrung ke percakapan di ponsel itu, dan Aldi mengatakan, “Di rumahku masih ada setengah karung jagung sisa semalam. Kenapa kalian nggak ke sini aja, buat bakar-bakar jagung? Mumpung tahun baru!”

Tyo menatap saya dan Arta, meminta pendapat.

Saya berkata, “Tahun baru atau bukan tahun baru, jagung bakar adalah favorit.”

Kami bertiga lalu bangkit, bersiap ke rumah Aldi.

 
;