Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 Oktober 2026

Isabella Swan adalah Problem

Jadi, Isabella Swan menikah dengan Edward Cullen. Siapa yang layak menangisinya? Manusia, para vampire, atau gerombolan serigala?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Rabu, 30 September 2026

Kepekaan

Ada yang bilang, beberapa orang dilahirkan dengan kepekaan yang keterlaluan. Sepertinya aku termasuk. #barusadar


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Di Telepon

Seseorang berkata di telepon, "Aku lagi nggak ingin nilpon!" 

Tapi dia ngobrol di telepon sampai berjam-jam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Selasa, 29 September 2026

Ngelinting Mbako, Memikirkan Hidup

Saban tahun, harga rokok terus naik karena cukai terus naik. Alasan cukai terus naik karena pemerintah “ingin menurunkan prevalensi merokok, menyejahterakan petani tembakau, meningkatkan penerimaan negara”, dan hal-hal yang terdengar seperti omong kosong lainnya. Intinya, gara-gara cukai terus [di]naik[kan], harga rokok kian mahal. 

Sebenarnya, yang tertekan akibat cukai terus naik bukan hanya perokok atau pembeli rokok, tapi juga produsen rokok. Di sebuah video, saya pernah melihat seorang bos perusahaan rokok mengatakan, kira-kira seperti ini, “Untuk bisa mendapat keuntungan dari bisnis rokok, jumlah yang terjual harus miliaran batang. Kalau yang terjual cuma jutaan apalagi cuma ribuan batang, kita sulit untung, karena modal sudah habis untuk membayar cukai.” 

Dan hal semacam itu akan terus berlangsung tahun demi tahun. Artinya, ketika cukai dinaikkan, perusahaan rokok akan terus berusaha meningkatkan penjualan, agar mereka tetap mendapat keuntungan, dan begitu seterusnya, mungkin sampai kiamat. Kenaikan cukai dan jumlah perokok [atau tingginya penjualan rokok] jadi seperti lingkaran setan.

Saya tidak tahu bagaimana hitung-hitungan bisnis perusahaan rokok, karena saya sebatas penikmat rokok. Dan sebagai perokok, saya mengamati suatu pola yang selalu sama, dari tahun ke tahun. Ketika cukai naik, harga rokok dengan merek terkenal akan naik. Merek terkenal yang saya maksud adalah merek-merek rokok yang sudah dikenal masyarakat luas selama bertahun-tahun. Misalnya Djarum, Dji Sam Soe, Marlboro, dan semacamnya. Harga rokok dengan merek-merek itu biasanya terus naik saban tahun akibat cukai yang terus naik.

Ketika harga rokok dengan merek-merek terkenal itu naik, dan artinya jadi lebih mahal dari harga sebelumnya, selalu muncul rokok-rokok baru dengan merek-merek “aneh”, dengan harga yang jauh lebih murah; bisa setengah dari harga rokok dengan merek terkenal. 

Sekadar cerita. Dulu ada rokok dengan kemasan mirip Dji Sam Soe, namanya Syamsu Bersinar. Harganya seperempat dari harga Dji Sam Soe. Entah sekarang masih ada atau tidak, saya tidak tahu. Lalu ada rokok dengan kemasan seperti Djarum 76, dan lain-lain. Rokok-rokok yang tampaknya sengaja dibuat mirip itu menggunakan merek-merek “aneh”, dan harganya jauh lebih murah. Ketika harga rokok dengan merek-merek terkenal naik dan jadi mahal, rokok dengan merek-merek aneh kerap kali jadi pilihan, hingga laris di pasar.

Seperti yang disebut tadi, saya mengamati pola yang sama setiap kali harga rokok naik. Mula-mula, rokok dengan merek-merek aneh akan membanjiri pasar, dan kompetisi akan terjadi. Seiring waktu, sebagian rokok baru itu akan menghilang, mungkin karena tidak laku atau karena sebab lain, hingga tersisa segelintir merek rokok baru di pasar. Perlahan-lahan, rokok baru itu akan dikenal dan diandalkan sebagian perokok, karena harganya relatif murah. Tapi rokok yang murah itu juga kena cukai, sehingga harganya juga akan naik seiring kenaikan cukai. Akibatnya, rokok-rokok itu pun akan dianggap mahal oleh sebagian perokok.

Ketika sampai di titik itu, banyak perokok yang akhirnya memilih alternatif terakhir; bikin rokok sendiri, alias melinting tembakau!

Ada banyak toko yang menyediakan tembakau aneka rasa, lengkap dengan papir (kertas khusus untuk melinting tembakau), juga lem dan alat melinting. Banyak perokok yang memilih alternatif itu karena dinilai lebih murah, meski juga lebih repot, karena harus melinting tembakau sendiri. 

Aktivitas melinting tembakau itu pula yang saya dapati ketika dolan ke tempat Ardi, tempo hari. Siang itu cukup panas, tapi halaman rumah Ardi selalu adem seperti biasa, dengan silir-silir angin dari pohon besar di halaman. Ardi sedang duduk bersama Ripin di teras rumah, dan mereka lagi asyik ngelinting mbako (melinting tembakau) sambil leyeh-leyeh.

Sambil tersenyum, saya melangkah ke tempat mereka, dan berkata, “Kalian kayak bocah-bocah miliuner kripto yang nggak perlu kerja, cukup leyeh-leyeh sambil ngelinting mbako, karena udah kebanyakan duit!”

Ardi dan Ripin tertawa ngakak. 

“Andai benar kayak gitu, ya,” sahut Ardi kemudian.

Saya duduk bersama mereka di teras rumah, dan Ardi menyodorkan wadah tembakau. “Ini mbako rasa Dji Sam Soe,” kata Ardi.

Saya pun mengambil papir, melinting tembakau, menyulutnya, lalu mulai mengisapnya dengan penuh penghayatan. Setelah itu nyengir, “Nggak ada rasa Dji Sam Soe-nya!”

Ardi dan Ripin ngikik. 

Ripin berkata, “Kalau bener rasanya kayak Dji Sam Soe asli, pabrik rokok itu bakal bangkrut!”

Tembakau yang dijual di toko-toko tembakau memang menyediakan aneka rasa. Ada tembakau rasa rokok Djarum, Dji Sam Soe, Surya, dan lain-lain. Tapi tentu saja rasanya tidak sama seperti rokok-rokok yang ditiru. Meski begitu, para penikmat tembakau tidak peduli, karena intinya mereka tetap dapat menikmati udud dengan biaya murah. Seperti Ardi dan Ripin, misalnya.

Ardi dan Ripin sudah cukup lama berpindah dari rokok bungkusan ke rokok lintingan. Karenanya, sambil menikmati udud, mereka biasanya juga asyik ngelinting mbako. 

Saat duduk bersama mereka, saya tanpa sengaja mendapati lembaran brosur mirip undangan. Waktu saya baca, isinya undangan workshop tentang usaha tenun, dan diadakan di Pemalang. Waktu acaranya adalah hari itu.

“Kalian nggak ikut acara ini?” tanya saya pada Ardi dan Ripin.

“Nggak ada duitnya,” jawab Ardi.

Ripin menyahut, “Kami nggak butuh wokshop kayak gitu, sih. Yang kami butuhkan kerja jelas, dengan bayaran jelas. Lagian acara itu di Pemalang, butuh bensin untuk ke sana. Belum lagi biaya workshop-nya lumayan mahal.”

Saya mengangguk. Saat orang tidak punya pekerjaan, yang mereka butuhkan memang kerja yang memberi penghasilan. Sementara acara workshop seperti di brosur itu mungkin lebih tepat untuk orang yang sudah punya pekerjaan tetap, sehingga ada biaya untuk mengikuti workshop. Tanpa penghasilan, bisa dibilang orang akan stuck, tidak bisa ke mana-mana, karena tidak ada biaya.

Orang mungkin bisa mengatakan, “Ikut workshop bisa membangun network. Dengan adanya network, terbuka kemungkinan peluang, dan dari situ bisa mendapat pekerjaan.”

Pernyataan itu memang benar. Secara teoritis, mengikuti workshop—atau acara-acara semacamnya—memang memungkinkan membangun network dengan banyak orang. Dari adanya network, akan terbuka kemungkinan peluang, termasuk peluang pekerjaan. Masalahnya, bagaimana kalau kamu sama sekali tidak punya uang untuk sekadar membayar biaya workshop? 

Boro-boro mikir workshop yang biayanya relatif mahal, wong mikir hidup sehari-hari saja sudah susah! Makanya tadi saya bilang, workshop semacam itu mungkin lebih tepat untuk orang yang sudah punya penghasilan tetap, dan ingin mendapat peluang baru. Artinya, mereka sudah punya modal, khususnya modal untuk membayar biaya workshop! 

Orang yang terbiasa sibuk kerja sering kali tidak ingat bahwa di dunia ini ada banyak orang lain yang masih menganggur, yang satu-satunya harapan mereka adalah mendapat pekerjaan. Dan orang yang tak pernah kehabisan uang sering kali tidak tahu kalau di dunia ini banyak orang lain yang kerap tidak punya uang sama sekali, sehingga, boro-boro mikir workshop, bahkan untuk makan saja mereka bingung!

Saya mengisap rokok, lalu berkata, “Tadi, dalam perjalanan ke sini, aku sempat kejebak macet. Kirain ada kecelakaan, ternyata ada pencuri ketangkap. Dia mencuri sekantong beras di warung, dan ketahuan. Orangnya mungkin seumuran kita. Katanya dia perlu ngasih makan anak-anaknya di rumah.”

“Kasus kayak gitu tuh bikin kita serbasalah, ya,” ujar Ardi. “Kita benci aksi pencurian yang dia lakukan, tapi juga kasihan karena dia mencuri akibat butuh makan.”

Saya mengangguk.

“Kita yang nggak punya istri dan anak aja bingung kalau nggak ada duit,” sahut Ripin, “apalagi yang punya istri dan anak-anak.”

Ardi menyulut rokok yang baru ia linting, lalu berkata, “Aku jadi ingat kasus yang menimpa sepupuku, namanya Gufron. Suatu hari ada teman lama yang datang, dan Gufron menyambut dengan baik—namanya juga teman. Si teman itu datang dengan jalan kaki, katanya motornya lagi di bengkel karena mogok di jalan. Mereka pun ngobrol sampai lama, dan teman Gufron tadi kemudian pinjam motor Gufron, katanya buat ngecek motornya yang di bengkel. Karena percaya, Gufron meminjamkan motornya, dan sejak itu si teman nggak kembali.”

“Lhah, terus gimana?” tanya saya.

“Besoknya, Gufron mendatangi rumah si teman yang bawa motornya itu,” jawab Ardi. “Gebleknya, ternyata motor Gufron udah digadaikan ke orang lain.” 

“Waduh!” seru Ripin.

Ardi melanjutkan, “Temannya Gufron itu bilang kalau dia udah lama nggak kerja, dan butuh biaya buat ngasih makan keluarganya. Barang-barang di rumahnya udah habis buat makan. Dia terpaksa menggadaikan motor Gufron karena butuh uang. Di sisi lain, Gufron juga butuh motor itu buat kerja. Kalau nggak ada motor, dia nggak bisa kerja.” [Gufron bekerja sebagai sales yang memasok barang-barang kebutuhan sehari-hari di warung-warung perkampungan.]

Ardi mengisap rokoknya, lalu meneruskan, “Gufron butuh motornya buat kerja, tapi motor itu digadaikan temannya. Dia bisa aja lapor polisi, tapi menurutnya akan bikin dia makin repot. Gufron menuntut temannya buat mengembalikan motor, tapi temannya udah pasrah. Si teman ini bahkan bilang terang-terangan kalau sebagian uang hasil gadai motor udah ia gunakan buat beli beras dan aneka kebutuhan, dan cuma sisa beberapa ratus ribu. Akhirnya Gufron meminta sisa uang itu, karena dia juga butuh ngasih makan keluarganya.”

Saya dan Ripin terdiam mendengar cerita itu.

Sesaat kemudian, Ripin berkata, “Omong-omong soal keluarga, kita sering dengar kalau menikah akan melancarkan rezeki. Tapi kok orang-orang yang kita kenal malah mengalami kebalikannya, ya? Sampai ada yang maling beras di warung, ada yang bawa motor temannya buat digadaikan, ada juga yang ngutang nggak bayar-bayar, dan alasannya karena butuh menghidupi keluarga. Lhah, katanya menikah melancarkan rezeki?”

“Mungkin ‘rezeki’ yang dimaksud itu nggak mesti dalam bentuk uang, Pin,” ujar saya sambil tersenyum, “punya istri dan anak, kan, termasuk rezeki.”

Ripin ngikik. “Jadi, maksudmu, mereka dapat rezeki berupa istri dan anak, lalu pusing mencari rezeki berbentuk uang untuk menghidupi istri dan anaknya, gitu?”

Entah kenapa saya ikut ngikik, karena bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu. 

Ardi lalu berkata, “Rezeki juga bisa berbentuk ketenangan hati, karena punya istri dan anak-anak...”

Sekarang Ripin tertawa. “Yang bener aja, Ar! Kalau kamu punya istri dan anak-anak, dan kamu nggak ada uang buat menghidupi mereka, ketenangan kayak apa yang kamu rasakan? Wong kita yang lajang aja pusing, apalagi mereka yang punya tanggungan istri dan anak-anak?”

Ardi ikut tertawa, mungkin juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan Ripin.

“Sepusing-pusingnya kita,” kata saya akhirnya, “setidaknya kita masih bisa ngelinting mbako sambil menikmati silir angin di sini, dan nggak ada istri yang marah-marah, juga nggak ada anak-anak yang perutnya kelaparan.”

Banyak yang Libur

Sepertinya hari ini banyak yang libur. Termasuk aku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Membahas Nama PT

Sekelompok bocah berencana mendirikan PT (Perseroan Terbatas), dan sedang memikirkan nama yang tepat untuk PT mereka.

“Enaknya mau dinamain PT apa, nih?” tanya salah satunya.

Seorang bocah usul, “Gimana kalau PT CMDS?”

Bocah lain menyahut, “CMDS itu singkatan apa?”

“Aku nggak tahu,” jawab bocah pengusul tadi. “Aku hanya berpikir CMDS terdengar keren aja.”

Lalu PT CMDS pun lahir. 

Sampai sekarang tidak ada yang tahu apa arti singkatan nama PT itu. 

Tidak Enak Badan

Tidak enak badan adalah alasan bagus untuk menjadi anak manis. Tidur sore-sore.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Februari 2012.

Footnote Gemes

Keyakinan itu beda dengan pengetahuan, Mbak. Itulah kenapa perlu membuka pikiran dan terus belajar, bukan ngotot mengajukan keyakinan yang telah terbukti salah.

Footnote Gemes

Footgem*:

Sayang sekali, padahal memancarkan aura mbakyu.

*Footnote gemes. Apeu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 September 2024.

Merasa Menemukan

Tiap kali mendengar Amy Lee menyanyikan "Untitled", aku merasa menemukan yang ingin kutemukan, meski tak tahu apa yang sebenarnya kutemukan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Juli 2012.

Akhir Pekan

Akhir pekan, dan tak punya pacar. Aku bersyukur, karena bisa menggunakan akhir pekan untuk hal-hal yang lebih baik dan lebih bermanfaat.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 November 2017.

Senin, 31 Agustus 2026

Urusan Hamil, Melahirkan, dan Pilihan

Sambil nunggu ngantuk, barusan aku baca ini. Artikel yang penuh typo—salah satu kebiasaan buruk VICE. Tapi yang membuatku nyeri bukan typo-nya, melainkan isinya. Perempuan (khususnya yang belum hamil) sepertinya perlu baca, agar lebih siap dan hati-hati.


Judul yang mungkin terdengar tidak environmental itu mengungkap fakta-fakta kehamilan secara ngablak, tanpa tedeng aling-aling. Bahkan sebagai laki-laki, aku merasa nyeri.

Artikel itu berisi wawancara VICE dengan Batya Grundland, dokter kandungan dan pakar perawatan kehamilan. Jadi isinya bisa dipercaya.

Yang menarik dari artikel tersebut adalah pengungkapan bahwa "masa kehamilan tidak (selalu) seindah yang digembar-gemborkan banyak orang".

Di akhir wawancara, VICE bertanya, kenapa tidak semua orang mau mengungkapkan bahwa masa kehamilan sebenarnya sama sekali tidak indah?

Dr. Grundland menjawab, "Mungkin karena kita tidak mau membuat perempuan merasa takut hamil."

Kedengarannya seperti "tipuan" yang familier, eh?

Orang-orang "menipu" kita bahwa menikah sungguh indah dan melancarkan rezeki, meski sebenarnya tidak selalu begitu. 

Setelah kita menikah, mereka "menipu" lagi bahwa masa kehamilan sungguh indah, meski sebenarnya tidak selalu begitu.

Demi tujuan evolusi, manusia terus ngapusi.

Dan sekarang aku (makin) memahami kenapa sebagian perempuan ada yang memilih untuk tidak hamil dan melahirkan anak, karena nyatanya urusan itu memang "mengerikan". Kalau boleh ngomong kasar, hasilnya belum tentu sepadan dengan proses pengorbanan yang dilakukan.

Urusan hamil dan melahirkan anak tidak seremeh yang mungkin dibayangkan sebagian orang. Dari sisi perempuan, dia harus kepayahan selama hamil dan pascakehamilan. Sementara dari sisi anak, belum tentu ia akan senang telah dilahirkan. Bisa jadi dia malah menyesal saat telah dewasa.

Hal terbesar yang menggerakkan manusia untuk menikah, lalu hamil dan melahirkan anak, adalah doktrinasi! Yang jadi masalah, doktrin ini (ternyata) bermasalah! Realitas yang terjadi sering kali seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang didoktrinkan. Mau sampai kapan?

Pada akhirnya, menikah memang pilihan, bukan kewajiban. Sebagaimana hamil dan punya anak juga hanya pilihan, bukan kewajiban.

Kalau mau ngemeng agama, bahkan agama pun sebenarnya tidak mewajibkan orang menikah dan punya anak, selain hanya mengimbau. Intinya tetap pilihan.

"Kalau kita tidak mau hamil dan punya anak, lalu buat apa kita diberi rahim?"

Itu bukan jawaban! Rahim di tubuhmu adalah peranti. Kalau kau diberi suatu peranti, kau punya hak untuk menggunakan, juga punya hak untuk tidak menggunakan. Kau yang bertanggung jawab atas pilihanmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 April 2019.

Some People

Some people... ah, sudahlah! Ngapain juga aku niru-niru orang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Juli 2012.

Pilih Mana?

Ada tweet buruk yang membuat tersenyum. Ada tweet bagus yang membuat tercenung. Pilih mana?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Agustus 2012.

Musim Dingin

Aku ingin meringkuk seperti anak kecil, tak terbangun, melewatkan musim dingin yang gigil.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Nggak Mau Ngelepasin

Ini sebenarnya aku yang nggak mau ngelepasin hape, atau hape yang nggak mau ngelepasin aku ya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2012.

Sama-sama Terlalu

Terlalu banyak atau terlalu sedikit punya kesamaan. Sama-sama terlalu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Nemu Hal Penting

PSG, GPS, SPG, GSP, kok semuanya punya arti ya? *merasa nemu hal penting*


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Minggu, 30 Agustus 2026

Tulang Rusuk

"Lagi ngapain, Mas?" | "Ini, lagi nyari..." | "Nyari apa?" | "Uh, nyari... tulang rusuk."

"Pokoknya kita bubaran!" seru si cewek. | "Uh, tapi kenapa?" tanya si cowok. "Kasih alasan, dong!" | "Tulang rusukmu gak sesuai."

Ada apa sebenarnya dengan tulang rusuk? Dan kenapa namanya kok tulang rusuk? Kayak nggak ada nama lain yang lebih keren aja!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2012.

Baru Bangun Tidur

Laki-laki macam apa jam segini baru bangun tidur? *nguap* *masih ngantuk*


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Juli 2012.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Menjemput Mbakyu

Saya baru keluar dari warung, usai makan siang, ketika sebuah motor melaju pelan, lalu berhenti di depan saya berdiri.

Ternyata Fa’ad.

“Kebetulan ketemu kamu di sini,” ujar Fa’ad. “Aku dititipi undangan buat kamu.”

Fa’ad membuka jok motor matiknya, mengambil setumpuk undangan, memilah-milahnya sesaat, lalu mengambil selembar, dan menyerahkannya pada saya.

Saya menerima undangan itu, dan langsung tahu siapa yang akan menikah. Saya pun mengucapkan terima kasih.

Fa’ad kembali menaiki motor, bersiap melanjutkan perjalanan.

Saya bertanya, “Kamu dari mana atau mau ke mana, Ad?”

“Aku mau menjemput mbakyuku,” jawab Fa’ad.

Fa’ad berlalu.

Tapi kalimatnya masih tertinggal.

Menjemput mbakyu. Indah sekali kata-kata itu.

 
;