Kamis, 01 Oktober 2026

Pertanyaan Sederhana

Ada pertanyaan yang kesannya sederhana, tapi jawabannya tidak sederhana. Misal, “Kamu suka pedas?”

Pertanyaan singkat. Bagi penanya, pertanyaan itu hanya butuh jawaban “ya” atau “tidak”. Bagi yang ditanya, bisa jadi urusannya tidak semudah itu.

Jika saya ditanya “kamu suka pedas?”, saya juga tidak bisa menjawab “ya” atau “tidak”. Saya perlu menjelaskan sesuatu.

Pada dasarnya, saya tidak suka pedas. Kalau makan bakso, saya tidak pakai sambal. Makan mi ayam, tidak pakai sambal. Makan batagor atau siomay, tidak pakai sambal. Makan soto, tidak pakai sambal. Kalau saya masuk warung untuk makan siang, lalu penjualnya menawari pakai sambal, saya akan bilang, “Jangan pakai sambal.” Kalau makan di warung Lamongan, dan ditanya sambalnya pedas atau tidak, saya menjawab, “Sedang saja.” Ukuran “sedang saja” bagi rata-rata warung Lamongan adalah “tidak pedas”.

Contoh-contoh itu sudah cukup membuktikan kalau saya tidak suka pedas, kan? Karena nyatanya saya memang tidak suka pedas. Dan tidak suka pedas itu telah berlangsung sejak saya kecil sampai dewasa sekarang. Bertahun-tahun tidak makan pedas sepertinya cukup meyakinkan untuk mengatakan kalau saya tidak suka pedas.

Tetapi, kalau makan gorengan, saya suka pakai cabai rawit. Dan cabai rawit pedas. Dan saya suka. Rasanya nikmat sekali makan tempe goreng yang masih panas dengan cabai rawit. Kok bisa? Saya tidak tahu. Padahal saya tidak suka pedas.

Saya pernah melakukan eksperimen terkait diri sendiri, untuk tahu secara pasti apakah sebenarnya saya suka pedas atau tidak. Saya berpikir, kalau saya suka makan gorengan dengan cabai rawit, kenapa saya menjauhi pedas ketika menikmati makanan lain?

Suatu waktu, saya makan bakso, dan menambahkan sedikit sambal. Hasilnya? Bagi saya, tidak enak. Saya lebih suka bakso yang tidak pedas daripada bakso yang pedas. Begitu pula saat makan mi ayam. Bagi saya lebih enak tidak pedas. Ketika saya menambahkan sedikit sambal ke mi ayam, rasanya beda. Saya mencoba ke batagor, siomay, soto, dan hasilnya sama. Saya lebih suka makanan-makanan itu tidak pedas daripada pedas.

Sampai di situ, saya merasa bisa menyimpulkan kalau saya tidak suka pedas. Gorengan berbanding bakso, mi ayam, soto, batagor, siomay, dan lain-lain. Statistiknya mendukung kalau saya sebenarnya tidak suka pedas.

Lalu saya menemukan warung yang menyediakan pecel lele dengan sambal terasi hitam yang nikmatnya luar biasa. Sambal terasi itu pedas. Tapi entah kenapa rasanya juga nikmat. Biasanya, saya makan dalam porsi sedikit. Tapi di warung itu saya sampai nambah nasi, saking nikmat dengan sambal terasinya. 

Pedas. Bahkan, untuk ukuran saya, sambal terasi itu sangat pedas. Tapi saya suka. Kenapa? Saya tidak tahu!

Yang saya tahu, saya suka sambal terasi yang pedas itu, bahkan sering datang ke warung tersebut—meski tempatnya sangat jauh—karena saya merasakan nikmat luar biasa setiap kali makan di sana.

Setelah pengalaman itu, apakah kemudian selera saya terkait makanan pedas berubah? Tidak! Meski bisa menikmati pecel lele dengan sambal terasi yang pedas, dan saya mengakui itu sangat nikmat, saya tetap tidak suka pedas untuk makanan-makanan lain. Saat makan bakso atau soto, saya tetap tidak pakai sambal. Makan mi ayam, saya menjauhi sambal. Makan di warung lain dan ditawari sambal, saya tetap menggeleng. Tapi di lain waktu, saya tetap bisa menikmati pecel lele dengan sambal terasi yang pedas!

Jadi, kalau ditanya, “Kamu suka pedas?” Sejujurnya saya bingung bagaimana menjawabnya. Saya punya cukup banyak bukti bahwa saya tidak suka pedas. Tapi saya juga punya bukti bahwa saya bisa menikmati makanan pedas. 

Saya tidak bisa sekadar menjawab “ya” atau “tidak” untuk pertanyaan sederhana itu. Karena faktanya jawaban untuk pertanyaan itu cukup rumit.

Yang mengalami hal semacam itu tentu bukan cuma saya. Di antara kalian juga mungkin mengalami hal serupa, meski dengan makanan berbeda. Saat makan bakso, misalnya, kamu tidak pakai sambal. Tapi saat makan siomay, kamu suka pakai sambal. Saat makan batagor, kamu tidak suka pedas. Tapi saat makan mi ayam, kamu lebih suka pedas. Variasinya bisa berbeda, tapi kemungkinannya sama. Kalau kamu mengalami hal semacam itu, kamu juga bingung saat dihadapkan pertanyaan, “Kamu suka pedas?”

Kamu tidak bisa langsung menjawab “ya” atau “tidak”, karena jawabannya tidak sesederhana itu.

Memang ada, dan banyak, orang yang benar-benar suka pedas. Mereka makan apa pun harus pedas. Makan bakso, sambalnya banyak. Begitu pula saat makan mi ayam. Makan batagor dan siomay, harus pakai sambal. Makan gorengan, cabai rawitnya banyak sekali. Saat di warung Lamongan dan ditanya, “sambalnya pedas?” langsung mengangguk pasti. Pokoknya makan apa pun, harus pedas. Karena nyatanya suka pedas.

Di sisi lain, ada orang yang benar-benar tidak suka pedas. Makan apa pun harus steril dari rasa pedas. Bakso, mi ayam, batagor, siomay, atau saat makan di warung, harus jauh-jauh dari sambal. Bahkan makan gorengan pun tidak pakai cabai rawit. 

Dua jenis orang itu—yang benar-benar suka pedas dan yang benar-benar tidak suka pedas—sepertinya lebih mudah menjawab pertanyaan tadi. “Kamu suka pedas?” Mereka tinggal menjawab “ya” atau “tidak”. Selesai. Dan jika dilakukan verifikasi, jawaban mereka akan dianggap konsisten. Yang satu, makan apa pun harus pedas. Satunya lagi, makan apa pun tidak boleh pedas. Terverifikasi dengan mudah.

Beda dengan saya, atau orang-orang lain, yang kadang suka pedas dan kadang pula tidak suka pedas. Kalau saya ditanya “kamu suka pedas?” dan saya menjawab “ya”, jawaban itu akan bermasalah. Karena saat makan bakso, mi ayam, batagor, siomay, dan banyak makanan lain, saya menjauhi pedas. Sebaliknya, kalau saya menjawab “tidak” untuk pertanyaan tadi, jawaban saya akan tetap bermasalah. Karena saat makan gorengan, saya pakai cabai rawit. Saat makan pecel lele dengan sambal terasi, pedasnya luar biasa. Tidak ada satu jawaban yang benar.

Apakah itu bermasalah? Sebenarnya tidak, wong cuma soal makanan. Orang sesekali makan pedas, dan lain waktu menjauhi pedas, itu bukan masalah. Tidak ada yang dirugikan. Tidak ada pelanggaran hukum. Tidak bertentangan dengan Pancasila.

Masalahnya baru muncul ketika orang menganggap suatu pertanyaan sebagai “pertanyaan sederhana”, lalu menuntut jawaban sesederhana “ya” atau “tidak”. Padahal pertanyaan yang sekilas terdengar sederhana kadang membutuhkan jawaban yang tidak sederhana.

Dalam contoh ini, pertanyaannya sederhana, “Kamu suka pedas?”

Sederhana! Bagi penanya, pertanyaan itu bisa dijawab “ya” atau “tidak”. Tidak perlu membuka buku, tidak perlu membaca jurnal ilmiah, tidak perlu rumus-rumus, tidak perlu mengutip ayat, tidak perlu kontemplasi. Wong itu pertanyaan sederhana, kok!

Tetapi, faktanya, jawaban untuk pertanyaan itu bisa tidak sesederhana “ya” dan “tidak”. Karena ada konteks tertentu, ada penjelasan panjang, ada deviasi, ada anomali. 

Saya tidak suka makan pedas, dan itu fakta yang saya tidak bisa membantahnya. Tapi ketika makan gorengan, saya pakai cabai rawit. Itu anomali.

Saya tidak suka makan pedas, dan warung-warung langganan saya sudah hafal kebiasaan itu. Tapi ketika makan pecel lele dengan sambal terasi yang pedas, saya justru ketagihan. Itu deviasi.

Jika saya ditanya “kamu suka pedas?” dan saya menjawab dengan singkat tanpa mengikutsertakan anomali serta deviasi yang saya alami, jawaban saya tidak lengkap dan bisa menimbulkan masalah.

Seseorang bertanya, “Kamu suka pedas?”

Saya menjawab, “Tidak.”

Lalu dia melihat saya makan gorengan pakai cabai rawit, atau makan pecel lele dengan sambal terasi yang pedas. Dia bisa mengira saya berbohong, “Katanya kamu tidak suka pedas?”

Masalah.

Seseorang bertanya, “Kamu suka pedas?”

Saya menjawab, “Ya.”

Lalu dia melihat saya menjauhi sambal ketika makan bakso, soto, mi ayam, batagor, dan siomay. Dia bisa menuduh saya berdusta, “Katanya kamu suka pedas?”

Masalah lagi.

Pertanyaannya sederhana. Jawabannya tidak.

 
;