Minggu, 01 November 2026

17 Tahun Menulis Blog: Ikhtiar Mengarsipkan Pikiran

November, tepatnya 15 November 2009, saya menulis catatan pertama di blog ini. Saya masih ingat suasana itu, zaman internet di kota saya masih barang mewah, hingga saya menulis catatan itu di warnet. Suara CPU yang bedengung, kipas angin di dinding yang kadang mengeluarkan suara aneh, asap rokok yang memenuhi warnet, argo yang terus berjalan di pojok monitor, dan saya mengetik di keyboard yang terasa keras di jemari. 

Tahu-tahu sudah 17 tahun. Berarti saya sudah menulis di blog ini selama tujuh belas tahun. Agak takjub menyadari hal itu. Karena rasanya seperti baru kemarin. Dari 2009 ke 2026. Lompatan waktu yang panjang. Dalam ingatan, itu terasa seperti musim yang berlalu begitu saja.

Dulu, zaman masih menulis diary, saya suka membaca tulisan-tulisan di dalamnya untuk mengenang hari-hari yang telah berlalu. Catatan-catatan iseng, pikiran-pikiran remeh, kisah-kisah sederhana, semuanya tertulis di diary, dan saya senang saat membaca-bacanya kembali. Rasanya seperti punya mesin waktu, dan saya bisa kembali ke masa lalu.

Hal sama terjadi ketika saya berpindah ke blog. Di waktu-waktu tertentu, saya kadang membuka-buka blog ini, membaca-baca tulisan saya sendiri, mengingat kenapa saya menulisnya, lalu manggut-manggut, atau tersenyum, atau malah cekikikan sendiri. Tulisan-tulisan yang bertumpuk di blog ini bukan hanya merekam ingatan saya dari waktu ke waktu, tapi juga memperlihatkan bahwa saya telah melewati banyak perubahan. Khususnya dalam pikiran.

Catatan yang saya tulis sepuluh tahun lalu, misalnya, adalah hasil pemikiran saya sepuluh tahun yang lalu, berdasarkan konteks peristiwa atau kehidupan yang saya jalani sepuluh tahun yang lalu. Apakah catatan itu masih relevan untuk diri saya yang sekarang? Belum tentu. Karena kehidupan terus berubah, diri saya terus berubah, pikiran saya juga terus mengalami perkembangan dan pembaruan. Hal-hal yang dulu terasa relevan kini bisa terasa usang. Meski banyak pula hal-hal yang dari dulu sampai sekarang tetap relevan.

Sepuluh tahun lalu, misalnya, kalau ditanya apa buku terbaik yang pernah saya baca, saya akan menyebut “The Magic of Thinking Big”. Karena buku itu relavan dengan kehidupan saya sepuluh tahun lalu ke belakang. Tetapi kalau sekarang diberi pertanyaan sama, jawaban saya sudah berubah. Bukan karena saya tidak konsisten, tapi karena perjalanan hidup telah meluaskan bacaan saya, pengalaman hidup ikut memperdalam jiwa dan pikiran saya. 

Hal serupa terjadi pada banyak hal lain. Film terbaik yang pernah kita tonton. Musik terbaik yang pernah kita nikmati. Pemikiran terbaik yang pernah kita temukan. Semuanya pasti berubah. Bukan karena kita tidak konsisten. Tapi karena kehidupan kita telah berubah, pengalaman kita terus bertambah, dan karena diri kita sendiri juga tumbuh. 

Zaman anak-anak dulu, saya suka nonton serial Unyil di televisi. Nontonnya di rumah tetangga, bersama anak-anak lain. Waktu itu, kalau ditanya apa acara televisi favorit, saya akan menjawab Serial Si Unyil. Tapi kalau sekarang saya diberi pertanyaan yang sama, apa iya jawabannya masih sama? Justru aneh kalau jawaban saya masih sama, karena artinya saya tidak berkembang!

Perubahan semacam itu sebenarnya juga terjadi pada cara kita berpikir. Pola pikir kita zaman SD pasti beda dengan pola pikir kita zaman SMA. Ketika kuliah, pola pikir kita berubah lagi. Selepas kuliah dan mulai kerja dan menghadapi kerasnya kehidupan, cara berpikir kita juga pasti berubah lagi. Bukan karena kita tidak konsisten, tapi karena kehidupan memang berubah, pengalaman berubah, jalan hidup berubah, dan dunia memang terus berubah. Malah konyol kalau kita hidup di zaman sekarang—dengan usia yang sudah dewasa—tapi cara berpikirnya masih sama seperti anak-anak ketika masih SD.

Perubahan cara berpikir bukan tanda bahwa seseorang tidak konsisten. Justru ia tanda bahwa seseorang berkembang.

Hal semcam itu—perubahan cara berpikir—mungkin tidak terasa atau tidak terlalu tampak bagi kebanyakan orang, karena rata-rata orang memang tidak menuliskan cara berpikir mereka dari waktu ke waktu. Hal berbeda terjadi pada orang-orang yang suka menulis diary. Atau blog. Karena ada dokumentasi, orang bisa melihat dirinya sendiri lewat catatan-catatan yang pernah ditulisnya.

Ketika membaca tulisan-tulisan saya sendiri di blog, saya sering menyadari hal itu. Saat membaca catatan tertentu, kadang saya mikir, “Kok dulu aku bisa mikir gitu, ya?” Di catatan lain, saya senyum-senyum sendiri karena menyadari betapa naifnya saya ketika menulis catatan itu. Di catatan lain lagi, saya menemukan hal-hal yang membuat saya introspeksi. 

Karena ada dokumentasi, saya bisa melihatnya kembali. Dan dari dokumentasi itu, saya melihat bahwa diri saya yang sekarang telah jauh berubah dari diri saya belasan tahun lalu. Blog membantu saya mempelajari masa lalu, sekaligus lebih mengenali diri sendiri.

Jadi kalau ditanya apa manfaat ngeblog, bagi saya itu manfaatnya. Yaitu memungkinkan saya memiliki semacam “mesin waktu” untuk melihat kehidupan dan pikiran-pikiran saya di masa lalu, untuk saya ambil sebagai pelajaran dalam menjalani kehidupan sekarang. Pelajaran yang paling tidak terasa seperti pelajaran adalah pelajaran yang disampaikan diri sendiri kepada diri sendiri. Tidak ada penolakan, tidak ada bantahan, tidak ada perdebatan. Karena pelajaran itu berasal dari diri sendiri.

Memiliki dokumentasi pemikiran juga memungkinkan saya untuk lebih memahami orang lain yang juga mengalami perubahan pikiran. 

Ada orang, misalnya, yang dulu sangat menentang X. Belakangan, orang itu malah jadi pendukung X. Bagi orang-orang lain, perubahan itu adalah inkonsistensi. Bagi saya, bisa jadi itu perubahan perspektif. Perubahan paling drastis bisa terjadi pada siapa saja, dan latar belakangnya belum tentu inkonsistensi. Dalam hal itu, saya lebih memilih berpikir bahwa itu perubahan perspektif—tanpa menafikan kemungkinan lain. Karena perspektif memang selalu bisa berubah.

Dulu, saya sama sekali tidak percaya keberadaan UFO. Jika ditanya, “Apakah kamu percaya UFO?” Saya akan menjawab yakin, “Tidak!” 

Tapi sekarang, saya meragukan jawaban itu. Saya belum sampai pada tahap “percaya keberadaan UFO”, tapi saya juga tidak yakin bahwa UFO tidak ada. Sekarang, kalau ditanya, “Apakah kamu percaya UFO?” mungkin saya akan menjawab, “Aku tidak tahu UFO ada atau tidak, tapi aku tidak—atau belum—bisa mengatakan apakah aku percaya atau tidak.”

Perubahan atau pergeseran pikiran semacam itu bukan bentuk inkonsistensi, tapi bagian dari proses pembelajaran. Semakin banyak hal yang kita pelajari, semakin luas pengetahuan kita, semakin banyak pula perspektif yang kita miliki. 

Ada teman saya yang sangat mengagumi Christopher Columbus, karena buku-buku sejarah menulis kisahnya dengan begitu hebat, bahkan mengglorifikasi. Dari SD sampai kuliah, dia menjadikan Columbus sebagai tokoh idola—sosok pahlawan, petualang laut yang gagah berani, penemu Amerika, pengubah dunia. Tanpa Columbus, pikirnya, dunia yang kita kenal sekarang pasti akan berbeda.

Belakangan, dia mendapati sesuatu yang mencengangkan. Buku-buku sejarah ternyata berbohong. Kisah Columbus ternyata dipoles habis-habisan hingga berbeda jauh dari aslinya. 

Karena terguncang oleh kenyataan itu, dia lalu meriset sejarah Columbus dengan sangat tekun untuk menemukan kebenarannya. Dan kebenarannya adalah sosok yang ia sangka pahlawan ternyata bajingan. Columbus bukan tokoh hebat sebagaimana yang ditulis buku-buku sejarah. Dia penjajah keji yang merusak kehidupan jutaan manusia. Itu fakta sejarah yang sekarang terbuka, terang benderang, yang selama puluhan tahun sebelumnya tertutup oleh glorifikasi.

Sejak menyadari kenyataan itu, dia berubah. Jika sebelumnya sangat mengagumi dan mengidolakan Columbus, sekarang tidak lagi. Dia bahkan malu pada diri sendiri karena pernah mengidolakan sosok yang salah. 

Apakah perubahan itu adalah bukti bahwa ia tidak konsisten? Tidak! Itu adalah bukti perubahan perspektif. Masalahnya bukan konsistensi. Masalahnya adalah perspektif. Ketika fakta berubah, perspektif akan berubah, dan cara berpikir juga berubah. 

Saya bisa memahami perubahan semacam itu tanpa harus buru-buru menghakimi. Karena saya memiliki dokumentasi pemikiran saya sendiri yang bisa saya gunakan untuk introspeksi. Bahwa perubahan perspektif adalah hal biasa, bahkan alami, dalam kehidupan manusia. Ketika usia bertambah dan pengalaman hidup berubah, perspektif pasti akan berubah. Ketika perspektif berubah, pilihan-pilihan kita kadang juga berubah. Dan itu belum tentu inkonsistensi. Dalam banyak kasus, itu justru tanda perkembangan cara berpikir dan kedewasaan intelektual.

Menulis di blog memandu saya memahami hal-hal semacam itu. Ketika membaca tulisan-tulisan di masa lalu, saya seperti sedang melakukan analisis forensik atas pikiran saya sendiri. Sebagian pemikiran yang saya tulis di masa lalu memang masih relevan dengan diri saya yang sekarang. Tapi sebagian lain sudah tidak relevan. Dan itu sesuatu yang wajar, alami, manusiawi. 

Yang menarik, bisa jadi ada semacam “persimpangan pikiran” terkait blog ini. Satu catatan yang saya tulis sepuluh tahun lalu mungkin sekarang sudah tidak relevan bagi saya. Tapi bisa jadi ada orang yang membaca catatan itu sekarang dan mendapati isi catatan itu relevan dengannya. Itu juga sesuatu yang manusiawi. Karena kehidupan orang per orang berbeda, dan perbedaan kehidupan yang dijalani pasti akan mempengaruhi cara berpikir. Yang sudah selesai bagi saya mungkin belum selesai bagi orang lain. Atau sebaliknya. 

Terlepas dari hal-hal semacam itu, tujuan saya ngeblog tetap konsisten, yaitu ikhtiar mendokumentasikan pikiran dari waktu ke waktu. Bahwa setelah 17 tahun, blog ini pada akhirnya bukan lagi sekadar kumpulan catatan di internet, tetapi juga rumah bagi jiwa yang terus bertumbuh.

Jiwa yang Melihat Cahaya

Setiap jiwa yang telah melihat cahaya tidak ingin kembali pada kegelapan.

Perubahan dan Kebiasaan

Beberapa perubahan gagal bukan pada hari terakhir, tetapi pada hari pertama. Saat itu semuanya tampak meyakinkan. Jadwal baru sudah dibuat. Semangat sedang tinggi. Target dipasang setinggi mungkin karena muncul keyakinan bahwa perubahan besar harus dimulai dengan langkah yang besar pula. Anehnya, beberapa minggu kemudian yang hilang bukan hanya semangatnya. Perubahannya sendiri ikut lenyap.

Harapan kita terhadap perubahan sering bergerak lebih cepat daripada kemampuan diri untuk mengikutinya. Tubuh, kebiasaan, bahkan cara berpikir, mempunyai ritme yang jauh lebih lambat daripada keinginan kita. Keinginan dapat berubah dalam satu sore. Kebiasaan memerlukan pengulangan yang panjang sebelum benar-benar menjadi sesuatu dari kehidupan sehari-hari.

Kita ingin tubuh lebih sehat, lalu langsung membuat aturan makan yang hampir mustahil dipertahankan. Kita ingin lebih produktif, lalu menyusun jadwal yang memenuhi setiap jam dalam sehari. Kita ingin menjadi pribadi yang disiplin, lalu berharap seluruh kebiasaan lama berubah dalam satu pekan. Perubahan yang drastis memberi rasa puas sejak awal karena tampak seperti bukti kesungguhan. Padahal sering kali yang sedang kita nikmati hanyalah sensasi memulai, bukan kemampuan untuk bertahan.

Kecepatan memang menghasilkan kepuasan yang cepat. Setiap lompatan besar membuat kita merasa sudah sangat jauh melangkah. Namun perubahan yang bertahan tidak diukur dari besarnya langkah pertama. Ia ditentukan oleh apakah tubuh, pikiran, dan kebiasaan sempat menyesuaikan diri dengan ritme baru yang sedang dibangun. Adaptasi itu berlangsung diam-diam. Tidak spektakuler. Bahkan sering terasa membosankan karena yang dilakukan hanyalah pengulangan kecil yang sama setiap hari.

Justru pengulangan yang membosankan itulah yang perlahan mengubah sesuatu yang semula terasa berat menjadi kebiasaan yang tidak lagi membutuhkan banyak tenaga. Energi mental yang pada awalnya dipakai untuk memaksa diri, sedikit demi sedikit tidak lagi diperlukan. Perubahan tidak lagi bergantung pada semangat sesaat, lalu mulai ditopang oleh struktur yang lebih stabil. Pada tahap itu, kemajuan memang tampak lambat. Namun yang sedang tumbuh bukan lagi sekadar hasil di permukaan, tetapi kemampuan untuk mempertahankan hasil tersebut ketika semangat sedang tidak tinggi.

Kesabaran rupanya bukan sekadar kemampuan menunggu. Ia adalah kesediaan menghormati waktu yang dibutuhkan sebuah proses untuk membangun fondasinya sendiri. Setelah fondasi itu benar-benar mengeras, perubahan tidak lagi bergantung pada ledakan motivasi. Ia tetap berjalan, bahkan pada hari-hari yang terasa biasa saja.

Suara Tak Tergantikan

Sangat berduka cita atas meninggalnya Saleem Iklim. Suaranya yang tak tergantikan telah menjadi bagian tak terkatakan di hidupku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Oktober 2019.

Sistem yang Rumit

Sebuah sistem sering gagal bukan ketika pertama kali dipakai, tetapi ketika hidup kembali sibuk. Hari-hari yang tenang memberi ruang untuk mengikuti setiap langkah dengan teliti. Ketika pekerjaan datang bersamaan, tubuh mulai lelah, dan perhatian terpecah ke banyak arah, sistem yang rumit akan mudah ditinggalkan.

Keinginan membuat sistem yang semakin lengkap sering muncul dari tempat yang tidak kita sadari. Kerumitan memberi kesan bahwa kita sedang mengendalikan lebih banyak hal. Semakin banyak kategori, tahapan, dan pengaturan, semakin besar pula perasaan bahwa masalah telah dipahami secara menyeluruh. Otak menikmati proses merancang itu karena ia terasa seperti kemajuan. Padahal kemajuan baru benar-benar terjadi ketika sebuah sistem masih dapat dijalankan pada hari terburuk, bukan hanya pada hari ketika semangat sedang penuh.

Beban terbesar dari sebuah sistem yang rumit bukan terletak pada saat ia dibuat, tetapi pada biaya perawatannya. 

Kesederhanaan sering dipandang sebagai tanda bahwa sebuah solusi belum dipikirkan dengan serius. Padahal kesederhanaan justru lahir ketika seseorang bersedia membuang segala sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan. Ia tidak berusaha membuat manusia bekerja lebih keras. Ia menghormati kenyataan bahwa perhatian, tenaga, dan kemauan, selalu memiliki batas.

Ketahanan sebuah sistem akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa banyak hal yang mampu ditampungnya. Yang lebih menentukan adalah seberapa sedikit tenaga yang dimintanya agar tetap hidup pada hari-hari biasa.

Kemarau dan Hujan

Ini sebenarnya masuk musim kemarau atau musim hujan, ya? Kok puanasnya luar biasa, tapi kadang muncul gerimis. Atau jangan-jangan musim kemarau dan musim hujan sudah tidak musim?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Oktober 2019.

Energi dan Waktu

Jam dinding hampir selalu mendapat terlalu banyak penghormatan. Kita menatapnya ketika merasa terlambat, menyusun agenda berdasarkan angkanya, lalu menganggap hidup sedang tertata hanya karena setiap kotak di kalender sudah terisi. Tubuh yang akan menjalani semua jadwal itu jarang diperiksa dengan kesungguhan yang sama.

Tubuh yang kehabisan energi tidak sekadar bergerak lebih lambat. Cara tubuh membaca dunia ikut berubah. Perhatian jadi sempit. Kesalahan yang biasanya langsung tertangkap, lewat begitu saja. Kesabaran memendek. Pikiran lebih mudah memilih jalan tercepat daripada jalan terbaik. Pada keadaan seperti itu, seseorang memang tetap hadir di tempat kerja, tetap duduk di depan komputer, tetap berbicara dengan keluarganya. Secara fisik ia berada di sana. Fungsi-fungsi yang membuat kehadiran itu bernilai justru sedang mengalami kemerosotan.

Kita hidup dengan keyakinan bahwa waktu adalah mata uang utama kehidupan. Hampir semua nasihat produktivitas berangkat dari sana. Atur jadwal. Susun prioritas. Gunakan setiap menit sebaik mungkin. Cara berpikir itu terdengar masuk akal karena waktu dapat dihitung, sementara energi jauh lebih sulit diukur. Akibatnya, kita sibuk mengelola sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menghasilkan apa pun sendirian.

Waktu tidak pernah menyelesaikan pekerjaan. Waktu tidak pernah melahirkan ide yang jernih, mendengarkan dengan sabar, mengambil keputusan yang tepat, atau menikmati makan malam dengan tenang. Semua itu dikerjakan oleh energi biologis dan mental yang kita bawa memasuki setiap jam. Dua orang dapat memiliki enam puluh menit yang sama, tetapi menghasilkan kualitas hidup yang sama sekali berbeda, karena energi yang mereka bawa ke dalam enam puluh menit itu tidak sama.

Pandangan ini mengubah cara melihat hari yang terasa gagal. Mungkin masalahnya bukan karena jadwal terlalu penuh. Bisa jadi jadwal itu sebenarnya masih masuk akal, tetapi kita memaksa tubuh membayar lebih banyak daripada cadangan energinya. Utangnya kemudian muncul dalam bentuk yang tidak pernah kita hubungkan dengan kelelahan: keputusan yang ceroboh, percakapan yang kasar, pekerjaan yang harus diulang, dan kesalahan-kesalahan kecil yang menghabiskan waktu jauh lebih banyak daripada waktu yang kita kira bisa dihemat.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari jam tambahan, sementara tubuh diam-diam sedang meminta sesuatu yang jauh lebih sederhana: tenaga yang cukup untuk benar-benar hadir di dalam jam yang sudah kita miliki.

Alasan Nonton Film

Ada beragam alasan orang menonton film. Salah satunya untuk melihat seseorang yang mirip dirinya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Desember 2018.

Pintu Masuk Pengetahuan

Begitu seseorang yakin bahwa ia sudah mengerti, pikirannya berhenti mencari kemungkinan lain. Semua petunjuk baru mulai dinilai berdasarkan keyakinan lama, bukan sebaliknya. Bukan karena informasi baru sulit diterima, tetapi karena informasi itu mengganggu bangunan yang sudah telanjur terasa nyaman.

Manusia tidak terlalu takut pada ketidaktahuan. Yang lebih ditakuti adalah saat ketidaktahuan itu terlihat oleh diri sendiri. Mengucapkan "saya belum tahu" berarti mengakui bahwa pengetahuan di kepala ternyata tidak seluas yang dibayangkan. Mengucapkan "tolong beri tahu saya" berarti menyerahkan sebagian kendali kepada orang lain. Ego menafsirkan keadaan itu sebagai kekalahan kecil, padahal kenyataan sedang menawarkan jalan keluar.

Pola semacam itu muncul dalam bentuk yang lebih halus di hampir setiap bidang kehidupan. Pengalaman yang panjang sering berubah menjadi tembok yang menghalangi pengalaman baru. Keahlian yang dulu membawa keberhasilan mulai dipertahankan seperti identitas. Setiap pengetahuan baru terasa mengganggu, bukan karena buruk, tetapi karena mengingatkan bahwa pengetahuan lama memiliki batas.

Di usia tertentu, pertumbuhan sering melambat bukan karena otak kehilangan kemampuan belajar. Pertumbuhan melambat karena rasa ingin tahu mulai dianggap mengganggu citra diri. Orang yang terus bertanya terlihat kurang meyakinkan. Orang yang selalu punya jawaban tampak lebih berwibawa. Dunia memberi hadiah sosial kepada kepastian, padahal perubahan hampir selalu dimulai dari keberanian mengoreksi kepastian itu.

Rasa ingin tahu tidak membuat seseorang tampak lebih pintar. Sering kali justru sebaliknya. Ia membuat kita terlihat belum tahu. Anehnya, hanya melalui keadaan itulah pengetahuan benar-benar punya tempat untuk masuk.

 
;