November, tepatnya 15 November 2009, saya menulis catatan pertama di blog ini. Saya masih ingat suasana itu, zaman internet di kota saya masih barang mewah, hingga saya menulis catatan itu di warnet. Suara CPU yang bedengung, kipas angin di dinding yang kadang mengeluarkan suara aneh, asap rokok yang memenuhi warnet, argo yang terus berjalan di pojok monitor, dan saya mengetik di keyboard yang terasa keras di jemari.
Tahu-tahu sudah 17 tahun. Berarti saya sudah menulis di blog ini selama tujuh belas tahun. Agak takjub menyadari hal itu. Karena rasanya seperti baru kemarin. Dari 2009 ke 2026. Lompatan waktu yang panjang. Dalam ingatan, itu terasa seperti musim yang berlalu begitu saja.
Dulu, zaman masih menulis diary, saya suka membaca tulisan-tulisan di dalamnya untuk mengenang hari-hari yang telah berlalu. Catatan-catatan iseng, pikiran-pikiran remeh, kisah-kisah sederhana, semuanya tertulis di diary, dan saya senang saat membaca-bacanya kembali. Rasanya seperti punya mesin waktu, dan saya bisa kembali ke masa lalu.
Hal sama terjadi ketika saya berpindah ke blog. Di waktu-waktu tertentu, saya kadang membuka-buka blog ini, membaca-baca tulisan saya sendiri, mengingat kenapa saya menulisnya, lalu manggut-manggut, atau tersenyum, atau malah cekikikan sendiri. Tulisan-tulisan yang bertumpuk di blog ini bukan hanya merekam ingatan saya dari waktu ke waktu, tapi juga memperlihatkan bahwa saya telah melewati banyak perubahan. Khususnya dalam pikiran.
Catatan yang saya tulis sepuluh tahun lalu, misalnya, adalah hasil pemikiran saya sepuluh tahun yang lalu, berdasarkan konteks peristiwa atau kehidupan yang saya jalani sepuluh tahun yang lalu. Apakah catatan itu masih relevan untuk diri saya yang sekarang? Belum tentu. Karena kehidupan terus berubah, diri saya terus berubah, pikiran saya juga terus mengalami perkembangan dan pembaruan. Hal-hal yang dulu terasa relevan kini bisa terasa usang. Meski banyak pula hal-hal yang dari dulu sampai sekarang tetap relevan.
Sepuluh tahun lalu, misalnya, kalau ditanya apa buku terbaik yang pernah saya baca, saya akan menyebut “The Magic of Thinking Big”. Karena buku itu relavan dengan kehidupan saya sepuluh tahun lalu ke belakang. Tetapi kalau sekarang diberi pertanyaan sama, jawaban saya sudah berubah. Bukan karena saya tidak konsisten, tapi karena perjalanan hidup telah meluaskan bacaan saya, pengalaman hidup ikut memperdalam jiwa dan pikiran saya.
Hal serupa terjadi pada banyak hal lain. Film terbaik yang pernah kita tonton. Musik terbaik yang pernah kita nikmati. Pemikiran terbaik yang pernah kita temukan. Semuanya pasti berubah. Bukan karena kita tidak konsisten. Tapi karena kehidupan kita telah berubah, pengalaman kita terus bertambah, dan karena diri kita sendiri juga tumbuh.
Zaman anak-anak dulu, saya suka nonton serial Unyil di televisi. Nontonnya di rumah tetangga, bersama anak-anak lain. Waktu itu, kalau ditanya apa acara televisi favorit, saya akan menjawab Serial Si Unyil. Tapi kalau sekarang saya diberi pertanyaan yang sama, apa iya jawabannya masih sama? Justru aneh kalau jawaban saya masih sama, karena artinya saya tidak berkembang!
Perubahan semacam itu sebenarnya juga terjadi pada cara kita berpikir. Pola pikir kita zaman SD pasti beda dengan pola pikir kita zaman SMA. Ketika kuliah, pola pikir kita berubah lagi. Selepas kuliah dan mulai kerja dan menghadapi kerasnya kehidupan, cara berpikir kita juga pasti berubah lagi. Bukan karena kita tidak konsisten, tapi karena kehidupan memang berubah, pengalaman berubah, jalan hidup berubah, dan dunia memang terus berubah. Malah konyol kalau kita hidup di zaman sekarang—dengan usia yang sudah dewasa—tapi cara berpikirnya masih sama seperti anak-anak ketika masih SD.
Perubahan cara berpikir bukan tanda bahwa seseorang tidak konsisten. Justru ia tanda bahwa seseorang berkembang.
Hal semcam itu—perubahan cara berpikir—mungkin tidak terasa atau tidak terlalu tampak bagi kebanyakan orang, karena rata-rata orang memang tidak menuliskan cara berpikir mereka dari waktu ke waktu. Hal berbeda terjadi pada orang-orang yang suka menulis diary. Atau blog. Karena ada dokumentasi, orang bisa melihat dirinya sendiri lewat catatan-catatan yang pernah ditulisnya.
Ketika membaca tulisan-tulisan saya sendiri di blog, saya sering menyadari hal itu. Saat membaca catatan tertentu, kadang saya mikir, “Kok dulu aku bisa mikir gitu, ya?” Di catatan lain, saya senyum-senyum sendiri karena menyadari betapa naifnya saya ketika menulis catatan itu. Di catatan lain lagi, saya menemukan hal-hal yang membuat saya introspeksi.
Karena ada dokumentasi, saya bisa melihatnya kembali. Dan dari dokumentasi itu, saya melihat bahwa diri saya yang sekarang telah jauh berubah dari diri saya belasan tahun lalu. Blog membantu saya mempelajari masa lalu, sekaligus lebih mengenali diri sendiri.
Jadi kalau ditanya apa manfaat ngeblog, bagi saya itu manfaatnya. Yaitu memungkinkan saya memiliki semacam “mesin waktu” untuk melihat kehidupan dan pikiran-pikiran saya di masa lalu, untuk saya ambil sebagai pelajaran dalam menjalani kehidupan sekarang. Pelajaran yang paling tidak terasa seperti pelajaran adalah pelajaran yang disampaikan diri sendiri kepada diri sendiri. Tidak ada penolakan, tidak ada bantahan, tidak ada perdebatan. Karena pelajaran itu berasal dari diri sendiri.
Memiliki dokumentasi pemikiran juga memungkinkan saya untuk lebih memahami orang lain yang juga mengalami perubahan pikiran.
Ada orang, misalnya, yang dulu sangat menentang X. Belakangan, orang itu malah jadi pendukung X. Bagi orang-orang lain, perubahan itu adalah inkonsistensi. Bagi saya, bisa jadi itu perubahan perspektif. Perubahan paling drastis bisa terjadi pada siapa saja, dan latar belakangnya belum tentu inkonsistensi. Dalam hal itu, saya lebih memilih berpikir bahwa itu perubahan perspektif—tanpa menafikan kemungkinan lain. Karena perspektif memang selalu bisa berubah.
Dulu, saya sama sekali tidak percaya keberadaan UFO. Jika ditanya, “Apakah kamu percaya UFO?” Saya akan menjawab yakin, “Tidak!”
Tapi sekarang, saya meragukan jawaban itu. Saya belum sampai pada tahap “percaya keberadaan UFO”, tapi saya juga tidak yakin bahwa UFO tidak ada. Sekarang, kalau ditanya, “Apakah kamu percaya UFO?” mungkin saya akan menjawab, “Aku tidak tahu UFO ada atau tidak, tapi aku tidak—atau belum—bisa mengatakan apakah aku percaya atau tidak.”
Perubahan atau pergeseran pikiran semacam itu bukan bentuk inkonsistensi, tapi bagian dari proses pembelajaran. Semakin banyak hal yang kita pelajari, semakin luas pengetahuan kita, semakin banyak pula perspektif yang kita miliki.
Ada teman saya yang sangat mengagumi Christopher Columbus, karena buku-buku sejarah menulis kisahnya dengan begitu hebat, bahkan mengglorifikasi. Dari SD sampai kuliah, dia menjadikan Columbus sebagai tokoh idola—sosok pahlawan, petualang laut yang gagah berani, penemu Amerika, pengubah dunia. Tanpa Columbus, pikirnya, dunia yang kita kenal sekarang pasti akan berbeda.
Belakangan, dia mendapati sesuatu yang mencengangkan. Buku-buku sejarah ternyata berbohong. Kisah Columbus ternyata dipoles habis-habisan hingga berbeda jauh dari aslinya.
Karena terguncang oleh kenyataan itu, dia lalu meriset sejarah Columbus dengan sangat tekun untuk menemukan kebenarannya. Dan kebenarannya adalah sosok yang ia sangka pahlawan ternyata bajingan. Columbus bukan tokoh hebat sebagaimana yang ditulis buku-buku sejarah. Dia penjajah keji yang merusak kehidupan jutaan manusia. Itu fakta sejarah yang sekarang terbuka, terang benderang, yang selama puluhan tahun sebelumnya tertutup oleh glorifikasi.
Sejak menyadari kenyataan itu, dia berubah. Jika sebelumnya sangat mengagumi dan mengidolakan Columbus, sekarang tidak lagi. Dia bahkan malu pada diri sendiri karena pernah mengidolakan sosok yang salah.
Apakah perubahan itu adalah bukti bahwa ia tidak konsisten? Tidak! Itu adalah bukti perubahan perspektif. Masalahnya bukan konsistensi. Masalahnya adalah perspektif. Ketika fakta berubah, perspektif akan berubah, dan cara berpikir juga berubah.
Saya bisa memahami perubahan semacam itu tanpa harus buru-buru menghakimi. Karena saya memiliki dokumentasi pemikiran saya sendiri yang bisa saya gunakan untuk introspeksi. Bahwa perubahan perspektif adalah hal biasa, bahkan alami, dalam kehidupan manusia. Ketika usia bertambah dan pengalaman hidup berubah, perspektif pasti akan berubah. Ketika perspektif berubah, pilihan-pilihan kita kadang juga berubah. Dan itu belum tentu inkonsistensi. Dalam banyak kasus, itu justru tanda perkembangan cara berpikir dan kedewasaan intelektual.
Menulis di blog memandu saya memahami hal-hal semacam itu. Ketika membaca tulisan-tulisan di masa lalu, saya seperti sedang melakukan analisis forensik atas pikiran saya sendiri. Sebagian pemikiran yang saya tulis di masa lalu memang masih relevan dengan diri saya yang sekarang. Tapi sebagian lain sudah tidak relevan. Dan itu sesuatu yang wajar, alami, manusiawi.
Yang menarik, bisa jadi ada semacam “persimpangan pikiran” terkait blog ini. Satu catatan yang saya tulis sepuluh tahun lalu mungkin sekarang sudah tidak relevan bagi saya. Tapi bisa jadi ada orang yang membaca catatan itu sekarang dan mendapati isi catatan itu relevan dengannya. Itu juga sesuatu yang manusiawi. Karena kehidupan orang per orang berbeda, dan perbedaan kehidupan yang dijalani pasti akan mempengaruhi cara berpikir. Yang sudah selesai bagi saya mungkin belum selesai bagi orang lain. Atau sebaliknya.
Terlepas dari hal-hal semacam itu, tujuan saya ngeblog tetap konsisten, yaitu ikhtiar mendokumentasikan pikiran dari waktu ke waktu. Bahwa setelah 17 tahun, blog ini pada akhirnya bukan lagi sekadar kumpulan catatan di internet, tetapi juga rumah bagi jiwa yang terus bertumbuh.
