Rabu, 28 Agustus 2019

Hak untuk Hening

Magrib yang hening sepertinya kini tinggal sejarah,
karena usai magrib kini menjadi saat-saat yang bising.
@noffret


Jika membicarakan pro-kontra siaran televisi, kita sering harus membicarakan frekuensi publik. Karena hak frekuensi publik itu pula, televisi (seharusnya) tidak seenaknya menyiarkan acara-acara tidak bermutu, yang tidak memiliki manfaat jelas untuk kemaslahatan publik. Karena frekuensi yang digunakan televisi untuk penyiaran adalah milik publik. Dalam hal itu, televisi “meminjam” frekuensi yang dimiliki publik.

Frekuensi publik bisa menjadi analogi yang bagus untuk sesuatu yang juga menjadi hak milik kita, yaitu hak untuk hening.

Setiap orang, setiap kita, punya hak untuk menikmati dan menjalani kehidupan dengan hening, tanpa terganggu suara-suara bising. Masyarakat—kita semua—punya hak untuk menjalani kehidupan dengan tenang, tanpa terganggu suara-suara yang tak sepantasnya.

Karena adanya hak untuk hening itu pula, kita pun mengembangkan adab terkait suara. Misal, di rumah kita ada hajatan pernikahan, yang diramaikan suara musik. Dalam hajatan semacam itu, suara musik biasanya terus terdengar, dari pagi sampai siang, sampai malam. Tetapi, ketika malam mulai larut, kita pun sadar diri untuk mematikan suara. Tujuannya agar tidak menganggu orang lain yang akan tidur dan beristirahat.

Adanya kesadaran semacam itu, sebenarnya, bukan semata karena etika, melainkan juga karena kesadaran bahwa kita “meminjam” keheningan orang lain untuk kita isi dengan kebisingan, akibat adanya hajatan. Karena meminjam, kita pun tidak akan terus menerus memakainya. Begitu hajatan selesai, kebisingan pun hilang, dan kita “mengembalikan” keheningan milik orang lain, sebagaimana sebelumnya.

Tanpa kesadaran semacam itu, kita akan seenaknya memutar musik keras-keras sampai larut malam, setiap hari, tak peduli ada hajatan atau tidak. Tanpa adanya etika dan kesadaran, kita bisa saja berpikir, “Bodo amat, aku menyetel musik di rumahku sendiri. Kalau mereka merasa terganggu, itu bukan urusanku!”

Sebaliknya, tetangga-tetangga kita juga akan memaklumi kalau sewaktu-waktu kita menyetel musik dengan volume keras, pas ada hajatan. Mereka memaklumi, karena berpikir, “Yeah, namanya juga sedang hajatan. Wajar kalau ada suara musik sampai keras.”

Jadi, meski mereka mungkin terganggu karena suara musik yang memekakkan telinga, mereka tidak marah. Mereka berpikir, “Toh nanti, kalau hajatannya selesai, musiknya juga akan berhenti.”

Tetapi, kalau di rumah kita tidak ada hajatan atau acara apa pun, lalu kita memutar musik sangat keras sampai terdengar hingga radius puluhan meter, dan hal itu kita lakukan setiap hari, tetangga-tetangga kita bisa ngamuk.

Mereka marah, karena merasa terganggu, terusik, dan tidak bisa menjalani kehidupan dengan tenang. Mereka punya hak untuk hening, untuk menikmati ketenangan, dan kita memperkosa hak mereka dengan menyetel musik sangat keras. Tanpa etika dan kesadaran, orang sebaiknya tinggal di hutan.

Etika dan kesadaran, itulah nilai yang membedakan manusia dengan hewan. Etika untuk tidak memperkosa hak orang lain—termasuk hak untuk hening—serta kesadaran untuk tidak mengganggu kehidupan dan ketenteraman orang lain.

Ketika ada acara hajatan, kita menyetel musik dengan keras. Tetapi, ketika malam mulai larut, kita mematikan suara musik. Itu menunjukkan bahwa kita punya etika. Karena kita punya etika, orang lain pun tidak marah, karena mereka menyadari adanya suara-suara keras sebab ada hajatan.

Tetapi, jika kita tidak menggunakan etika, orang lain juga akan kehilangan kesabaran. Sudah larut malam, tapi musik masih terus berdentam-dentam keras. Orang lain juga akan marah dan melabrakmu, karena merasa haknya diinjak-injak seenaknya. Hak untuk tenang, hak untuk tidur, hak untuk istirahat, hak untuk hening.

Urusan seperti ini sebenarnya “pelajaran dasar” yang mestinya telah kita ketahui bersama, sejak puber. Karena etika dan kesadaran adalah dua hal yang mestinya sudah “default” dengan kemanusiaan kita. Karena itu pula, meski mungkin tidak ada yang mengajari, kita bisa paham sendiri.

Sedari kecil sampai dewasa, mungkin, tidak pernah ada orang yang memberitahu, “Kalau sudah larut malam, matikan musik, agar tidak menganggu orang lain.” Tetapi, meski tidak ada yang memberitahu, kita bisa tahu, dan paham untuk mematikan musik saat malam mulai larut, agar tidak mengganggu orang lain. Karena etika dan kesadaran memang pelajaran dasar yang (mestinya) sudah menancap secara default dengan setiap manusia.

Meski begitu, kadang ada masalah, karena orang tanpa etika dan tak punya kesadaran bisa muncul di mana saja. Misal, ada orang yang merasa dirinya kaya-raya. Ketika punya hajatan di rumahnya, seminggu penuh, dia menyetel musik dari pagi sampai pagi lagi, tanpa henti, dengan volume yang terus memekakkan telinga. Dia mungkin berpikir, “Aku orang paling kaya di sini, yang saban tahun membagi zakat bagi setiap orang yang bernapas di sekelilingku. Kalau ada yang tidak terima, silakan temui aku.”

Mungkin para tetangga memang tidak ada yang berani menegur. Bisa karena segan atau pekewuh, bisa pula karena berpikir, “Aku bisa mati kalau berani menegurnya.”

Jadi, meski mungkin terganggu akibat kebisingan tanpa henti, masyarakat pun memilih diam, karena segan atau takut. Memang tidak ada keributan, karena tidak ada orang yang menegur, tidak ada orang yang marah-marah, pendeknya suasana tampak damai seperti biasa.

Tetapi, ada hal penting yang terjadi di sini, yaitu hilangnya etika dan kesadaran, khususnya etika dan kesadaran si pelaku kebisingan.

Jika dia punya etika dan kesadaran, dia akan mematikan atau setidaknya melirihkan suara musik saat malam mulai larut, tak peduli sekaya apa pun dirinya. Persetan, memangnya sekaya apa manusia yang merasa berhak mengganggu ketenangan hidup orang lain?

Bahkan, kalau saja dia mau menjaga etika dan memelihara kesadarannya—tak peduli sekaya apa pun dia—orang-orang akan lebih menghormati. Masyarakat akan berpikir, “Dia orang kaya yang rendah hati, mau tepo sliro dengan masyarakatnya. Meski kaya-raya, dia tidak seenaknya.”

Sebaliknya, jika karena merasa kaya lalu berbuat seenaknya, masyarakat pun berpikir, “Dia mungkin merasa bebas seenaknya, karena merasa kaya. Dasar bangsat! Semoga cepat mati keparat itu!”

Jika kita menghilangkan etika dari diri kita, orang lain pun sama. Jika kita melepas kesadaran dari hidup kita, orang lain pun sama.

Sama seperti televisi yang menayangkan siarannya dengan meminjam frekuensi publik, kita menayangkan kebisingan dengan meminjam frekuensi milik masyarakat sekitar. Mereka—masing-masing orang di sekitar kita—punya hak untuk hening, hak untuk merasa tenang, hak untuk tidak terganggu, hak untuk tenteram dalam keheningan. Karenanya, kita tidak bisa seenaknya menguarkan kebisingan.

Karenanya pula, saya sering prihatin dengan masjid atau musala yang terkesan “seenaknya” dalam mengumbar kebisingan TOA. Masyarakat sekitar tentu memaklumi kalau masjid atau musala mengumandangkan azan, lima kali sehari.

Tetapi, jika di luar azan itu terus menerus ada kebisingan, masyarakat bisa terganggu. Suara keras yang selalu terdengar lima kali setiap hari, sepertinya sudah cukup. Tidak perlu ditambahi lagi dengan aneka suara lain yang terus menerus dikeraskan TOA. Karena berbau agama atau tidak berbau agama, kebisingan tetap kebisingan. Mau pengajian atau pasar malam, suara keras yang terus menerus bisa mengganggu kehidupan.

Jika selama ini masyarakat sekitar hanya diam dan tampak tidak terganggu, belum tentu kenyataannya memang begitu. Bisa jadi, mereka sebenarnya terganggu, tapi memilih diam. Ini mirip kasus orang kaya-raya yang menyetel musik keras seenaknya, dan para tetangga merasa segan saat ingin menegur.

Mereka pun diam, tapi bukan berarti mereka senang. Selalu ada kemungkinan orang-orang yang berpikir, “Bagaimana pun, mereka mayoritas, dan mungkin merasa bisa berperilaku seenaknya.”

Jadi, daripada menimbulkan keributan, mereka memilih mengutuk dalam diam.

Agama dan Perkawinan

Agama sebenarnya baik, dan mengajarkan banyak hal baik. Yang menyebalkan adalah orang-orang “mabuk agama”, yang memaksakan kehendaknya dengan dalih agama. Merekalah yang menjadikan citra agama justru rusak.

Tak jauh beda dengan perkawinan. Sebenarnya, perkawinan adalah konsep yang baik. Tapi konsep yang baik itu dirusak oleh orang-orang yang doyan membual tentang angin sorga demi menyuruh-nyuruh siapa pun cepat menikah. Akibatnya, citra perkawinan justru tampak tidak baik.

Aku percaya agama mampu memperbaiki akhlak manusia, tapi agama yang introspektif, bukan agama yang dikoar-koarkan pada orang lain. Aku juga percaya perkawinan bisa mematangkan pikiran manusia, tapi perkawinan yang dilakukan dengan kesadaran, bukan perkawinan bermodal omong kosong.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2019.

Berlomba Dalam Kebisingan

Sejujurnya aku gak heran kalau ada orang nonmuslim merasa gak nyaman berdampingan dengan muslim. Wong yang sesama muslim aja kadang juga merasakan hal yang sama. Ini memang realitas pahit yang mestinya jadi bahan introspeksi orang muslim, untuk lebih bisa menerima perbedaan.

Aku pernah menemani teman nyari perumahan, dan kami mendatangi kompleks perumahan baru. Tapi temanku seketika kehilangan selera waktu tahu itu "perumahan islami".

Dia bilang blak-blakan, "Tempatku yang gak islami aja segitu bisingnya, apalagi ini yang jelas perumahan islami?"

Temanku ini muslim, bahkan tergolong alim. Tapi dia tipe orang yang beragama untuk diri sendiri, bukan orang yang menjadikan agama sebagai ajang pameran atau untuk "gagah-gagahan". Dia muak dengan lingkungannya yang "sok agamis" dengan toa yang terus membahana dan bising.

Di tempat tinggalku saat ini sudah sulit menemukan lingkungan yang tenang, dengan kebisingan yang minim. Karena semua tempat nyaris dikuasai toa yang tanpa henti. Fastabiqul khairat (berlomba melakukan kebaikan) tampaknya telah berubah menjadi berlomba dalam unjuk kebisingan.

Boleh percaya boleh tidak, lokasi-lokasi di tempat tinggalku yang paling hening hanya ada di perumahan-perumahan elit (yang penduduknya heterogen), yang harga rumahnya mencapai miliaran. Bagiku, ini ironis. Betapa untuk menikmati keheningan saja, kita harus membayar mahal.

Di suatu pertigaan yang ramai, aku mendapati baliho raksasa berisi tulisan, "MARI SHOLAT BERJAMAAH KE MASJID". Sejak pertama kali melihat baliho itu, aku merasakan "sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana". Dan aku gelisah sampai lama.

Setelah beberapa bulan melakukan investigasi (dan ini investigasi yang sangat sulit, karena semua orang memilih bungkam, atau tidak bisa memahami kegelisahanku), akhirnya aku menemukan orang yang tahu dan mau membuka mulut untuk menjelaskan "apa yang sebenarnya terjadi".

Dan apa yang sebenarnya terjadi? Jawabannya mengejutkan—bahkan di luar perkiraanku. Kapan-kapan, mungkin, akan kutulis di blog, agar kalimatku lebih tertata. Intinya, semua yang terjadi saat ini, termasuk kebisingan di mana-mana, tidak terjadi begitu saja. Itu memang disengaja.

"Sesuatu telah mengeksploitasimu," kata bocah zaman kuno di keheningan, "dan tugasmu seumur hidup adalah berusaha melepaskan eksploitasi itu dari kebodohanmu."

Yang menggelisahkan adalah... bagaimana jika sesuatu yang mengeksploitasimu itu begitu kauyakini sebagai "kebenaran"?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Mei 2019.

Kamis, 22 Agustus 2019

Pengantin Sunyi

Kenapa di acara resepsi perkawinan selalu ada musik
yang keras memekakkan telinga?
@noffret


Selain tidak tertarik pada perkawinan, hal lain yang membuat saya makin tidak berminat menikah adalah... karena urusan perkawinan identik dengan keramaian dan kebisingan!

Di Indonesia, setidaknya di lingkungan saya, acara perkawinan selalu diadakan dengan gegap gempita. Dari urusan pertunangan sampai resepsi perkawinan, sampai hal-hal ikutannya. Semuanya ramai, melibatkan banyak orang, dan—saat resepsi perkawinan—kebisingan terdengar nyaris tanpa henti.

Saya kurang tahu bagaimana adat atau budaya perkawinan di tempat-tempat lain. Namun, karena saya tinggal di lingkungan Jawa, seperti inilah kira-kira adat perkawinan di tempat tinggal saya. Agar uraian ini tidak bertele-tele—karena sebenarnya urusan ini memang sangat bertele-tele—kita skip saja pada bagian terpenting, yaitu akad dan resepsi perkawinan.

Setelah masing-masing pihak—keluarga mempelai pria dan keluarga mempelai wanita—menentukan hari H perkawinan, masing-masing rumah mempelai akan menggelar keramaian. Pagi hari, biasanya, di rumah mempelai pria maupun wanita menggelar acara sendiri-sendiri (biasa disebut walimah nikah).

Setelah acara walimah nikah di rumah mempelai pria selesai, maka mempelai pria—beserta rombongan—datang ke rumah mempelai wanita. Di rumah mempelai wanita, acara yang sama (walimah nikah) sedang berlangsung. Dan di rumah mempelai wanita itulah akad nikah dilakukan, dengan saksi dan penghulu dari Kantor Urusan Agama.

(Saat ini, sebagian mempelai ada pula yang melakukan akad nikah di KUA langsung—untuk memangkas biaya. Jika opsi ini yang dipilih, biasanya mempelai pria tetap akan datang ke rumah mempelai wanita, lalu menjemput mempelai wanita untuk pergi ke KUA).

Setelah itu, dua pasang anak manusia pun sah dan resmi menjadi pasangan suami istri. Tapi urusan ini belum selesai.

Siang hari, atau malam harinya, digelar resepsi. Urusan resepsi ini biasanya diadakan di tempat mempelai wanita, atau di gedung tertentu. Resepsi itu dihadiri banyak orang, tentu saja—dari tetangga kanan kiri, saudara dan famili, handai taulan, teman-teman, rekan kerja, dan lain-lain—dari pihak mempelai pria maupun dari pihak mempelai wanita. Jadi, biasanya, ada banyak sekali orang yang tumplek blek di acara resepsi.

Usai resepsi, mempelai pria biasanya tinggal dulu di rumah mempelai wanita. Tiga hari atau seminggu kemudian, si pria akan memboyong mempelai wanita yang kini menjadi istrinya, ke rumahnya sendiri... atau ke rumah orang tuanya. Dalam urusan itu, terjadi keramaian lagi.

Ketika si pria memboyong pasangan wanitanya, orang-orang (dari pihak si wanita) akan ikut mengantarkan. Mereka terdiri dari tetangga, saudara, famili, dan orang-orang terdekat.

Sementara itu, di rumah mempelai pria, sudah disiapkan keramaian untuk menyambut hal tersebut. Ada yang sambutan ala kadarnya, ada pula yang berupa gelaran resepsi tersendiri. Kali ini, karena yang menggelar resepsi pihak orang tua si pria, tamu-tamu yang diundang pun kebanyakan berasal dari kenalan dan rekanan orang tua si pria.

Baru, setelah itu, keramaian surut perlahan-lahan. Saya sebut “surut perlahan-lahan”, karena memang tidak mudah menghilangkan “keramaian” usai acara pernikahan.

Setelah sepasang pria-wanita resmi menikah, tamu-tamu biasanya masih berdatangan, meski acara resepsi dan keramaian sudah usai. Tamu-tamu yang datang bisa saudara, famili, teman-teman, atau orang-orang yang dulu belum sempat datang waktu resepsi. Dalam istilah Jawa, hal semacam itu biasa disebut “tilik manten” (menjenguk pengantin.)

Sekitar satu bulan kemudian, biasanya, kedua mempelai baru bisa menjalani kehidupan tenang, tanpa ribut-ribut lagi. (Kali ini, bisa jadi, mereka akan ribut sendiri.)

Nah, selama urusan-urusan yang saya uraikan di atas dilangsungkan—dari akad nikah, resepsi, sampai si pria memboyong istrinya—kebisingan akan melanda bumi.

Suara musik—atau suara tetek bengek lain—akan dikeraskan loudspeaker-loudspeaker besar, dan selama itu pula para tetangga harus bersiap menahan kebisingan yang berlangsung tanpa henti. Dari pagi sampai nyaris pagi lagi, selama berhari-hari. Dari sebelum akad nikah, sampai sesudah akad nikah. Dari sebelum resepsi, sampai sesudah resepsi. Teruuuuuuus bising.

Kenapa acara demi acara itu harus dihiasi kebisingan? Karena orang-orang biasanya menganggap memang seperti itulah seharusnya acara perkawinan. Harus ada suara-suara keras—dari musik dan segala macam—sehingga orang-orang tahu bahwa di sana sedang ada acara (dalam hal ini perkawinan). Masyarakat akan menganggap aneh kalau kau menikah dan menggelar acara perkawinan, tapi di rumahmu tidak terdengar kebisingan.

Itulah yang menjadikan saya makin tidak berminat menikah. Satu, karena saya memang tidak tertarik menikah. Dua, karena urusan menikah terkait dengan kebisingan—sesuatu yang sangat saya benci. Jadi, saya benar-benar tidak minat menikah blas! Di mata saya, acara itu tidak ada menarik-menariknya! Wong ramai dan bising tanpa henti, di mana menariknya?

Selama ini, biasanya, orang menilai “keasyikan” acara perkawinan dari kemeriahannya. Semakin meriah, semakin bagus. Yang jadi masalah, kemeriahan identik dengan keramaian dan kebisingan. Akibatnya, saya makin “ngeri”.

Itulah kenapa, di Twitter saya pernah menulis, urusan perkawinan di Indonesia—khususnya di lingkungan saya—benar-benar ribet. Sebelum menikah, urusannya ribet luar biasa. Ketika pernikahan dilangsungkan, urusannya makin ribet. Bahkan setelah acara pernikahan usai, keribetan belum selesai. Padahal, saya benci hal-hal ribet! Saya mencintai hal-hal sederhana, yang jauh dari keribetan.

Terkait perkawinan, mungkin “resepsi perkawinan” terbaik yang saya tahu adalah perkawinan Mark Zuckerberg dengan Priscilla Chan. Ketika menikah, Zuckerberg sudah jadi miliuner. Tapi dia bocah sederhana yang menyukai hal-hal sederhana, termasuk dalam urusan perkawinan.

Kalau mau, Zuckerberg tentu bisa menggelar resepsi perkawinan besar-besaran, luar biasa meriah, di gedung luas nan mahal, dihadiri ribuan orang, dengan tamu yang mirip daftar Who’s Who, dan segenap tetek-bengek kemewahan lain.

Tapi bukan hal-hal semacam itu yang dilakukan Zuckerberg. Alih-alih menggelar resepsi perkawinan di gedung megah, dia menggelar acara perkawinan di halaman belakang rumahnya. Yang diundang juga hanya teman-teman dekat, serta keluarga dari kedua mempelai.

(Bahkan, ketika mengabari teman-teman dekat dan kerabat mereka untuk datang, Zuckerberg maupun Priscilla tidak menyatakan itu acara perkawinan. Yang mereka katakan, acara itu “syukuran atas lulusnya Priscilla dari Perguruan Tinggi”.)

Di halaman belakang rumah Zuckerberg, acara digelar sederhana. Orang-orang menikmati makanan, menyesap minuman, sambil bercakap-cakap dengan suara biasa. Tidak ada kebisingan apa pun. Itu hanya seperti pertemuan keluarga dan teman-teman dekat, yang ikut gembira karena Zuckerberg dan Priscilla Chan kini sudah menikah. Sudah, hanya itu. Tidak ada ribut-ribut, tidak ada tetek-bengek yang ribet.

Acara perkawinan seperti itulah, sebenarnya, yang juga saya inginkan... jika kelak saya ternyata menikah. Sederhana, tidak macam-macam. Tanpa suara atau musik yang dikeraskan loudspeaker mengguncang langit, tanpa kebisingan yang merusak hening bumi.

Perkawinan yang hening. Saya pikir, apa yang lebih khidmat dari itu?

Tetapi, jika acara perkawinan semacam itu yang saya inginkan, kemungkinan saya akan menghadapi masalah. Saya maupun calon istri mungkin bisa bersepakat untuk melangsungkan acara perkawinan dengan hening, tanpa ribut-ribut.

Tapi bagaimana dengan keluarga saya maupun keluarga calon istri? Kemungkinan besar, orang tua kami ingin acara perkawinan digelar meriah, ramai, plus kebisingan, seperti umumnya orang-orang. Oh, well, seperti umumnya orang-orang! Membayangkan kalimat itu saja, bayangan saya langsung buyar.

Jadi, hal-hal semacam itulah yang membuat saya makin tidak berminat pada pernikahan. Satu, karena saya memang tidak tertarik menikah. Dan dua, karena acara serta urusan perkawinan identik dengan keribetan serta kebisingan, padahal saya menyukai hal-hal sederhana, dan mencintai keheningan!

Hidup adalah soal pilihan, begitu pula pernikahan. Seharusnya, setiap orang bisa memilih menikah atau tidak, dan—jika memilih menikah—mereka juga berhak memilih untuk menggelar perkawinan dalam bising atau dalam hening. Tetapi, seperti biasa, “umumnya orang-orang” tidak menyadari bahwa hidup adalah soal pilihan. Karena memang, begitulah umumnya orang-orang.

Mau Kawin Ribet, Sudah Kawin Ribut

Lagi mikir. Orang-orang yang dapat jodoh dari luar pulau itu apa tidak ribet, ya? Wong berjodoh dengan orang dari luar kota saja sudah ribet, apalagi dari luar pulau? (Ditinjau dari sudut pandang pikiranku yang tidak suka hal-hal ribet).

Soalnya kultur di (sebagian) Indonesia suka hal-hal ribet, khususnya terkait perkawinan. Ada lamaran, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya, sampai tiba di pelaminan, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Itu sangat... sangat ribet.

Anak familiku akan menikah dalam minggu ini, dan urusannya tampak sangat ribet. Aku yang sekadar bantu-bantu saja sudah pusing. Padahal itu cuma pernikahan antarkota. Apalagi antarpulau...?

Udah kawinannya ribet, hasilnya malah kek gini » http://bit.ly/2s7PufX


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Januari 2018.

Noffret’s Note: Dagang Jiwa

Film-film pendek yang merekam peristiwa kerusuhan Mei '98 dan kisah penculikan aktivis itu bagus disebarkan, untuk mendidik mereka yang tidak tahu/tak mengalami. Tapi jika tujuannya cuma untuk menjatuhkan lawan politik, itu sama saja berdagang jiwa... dan, maaf, itu menjijikkan.

Film-film itu rata-rata disebarkan para pendukung Jokowi, dan di dalamnya tersirat tuduhan kepada Prabowo sebagai pelaku penculikan. Fine! Tetapi KALAU MEMANG BEGITU KENYATAANNYA, kenapa selama ini pemerintahan Jokowi terkesan mendiamkan dan cuek pada kasus penculikan/HAM itu?

Selama lima tahun berkuasa, pemerintahan Jokowi sama sekali tidak mengutik kasus itu, bahkan tampak tidak ada itikad untuk mengusutnya. Kini, giliran bersaing dengan Prabowo dalam perebutan pilpres, video (dan tuduhan) itu disebarkan untuk keperluan kampanye. Miris sekali...

Sebenarnya aku malas ngomong ginian, karena nanti bisa dituduh mendukung salah satu capres. In fact, aku tidak peduli urusan pilpres, dan aku sudah memilih golput. Tapi memanfaatkan penderitaan korban atau keluarga korban penculikan untuk tujuan kampanye itu sungguh tak bermoral.

Penyebaran video-video itu mungkin dimaksudkan untuk menjatuhkan integritas Prabowo. Tetapi, di mataku, penyebaran video itu justru menjatuhkan integritas Jokowi sendiri, karena seolah Jokowi menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan lawan, termasuk dengan memperdagangkan jiwa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 April 2019.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Mata Hati

Jika Tuhan tidak ingin kita menggunakan pikiran,
mengapa Ia memberikannya kepada kita?
Galileo


Bayangkan saya punya tiga anak. Sebut saja, tiga anak saya bernama A, B, dan C. Ketika mereka beranjak dewasa, saya memberi uang untuk mereka, masing-masing 10 juta rupiah. Tidak banyak, tapi cukup untuk melakukan sesuatu.

Ketika memberikan uang tersebut, saya berkata pada tiga anak saya, “Uang ini kuberikan kepada kalian, dan menjadi hak kalian sepenuhnya. Tetapi, aku berpesan, sebaiknya jangan menggunakannya. Karena, ketika kalian menggunakan uang tersebut, aku mengkhawatirkan bahaya yang mungkin datang.”

Si A, anak pertama saya, tergolong anak yang sangat berbakti pada orang tua, dan sangat mematuhi apa pun yang dikatakan ayahnya. Jadi, ketika saya mengatakan agar jangan menggunakan uang tersebut, dia mematuhi, tanpa ribut-ribut. Dia percaya pada saya sepenuhnya, dan tidak meragukan apa pun yang saya katakan.

Ketika menerima uang yang saya berikan, dia berkata dalam hati, “Aku mencintai ayahku, dan aku percaya kepadanya sepenuhnya. Apa pun yang ia katakan, aku akan mematuhi dengan segenap kemampuanku.” Dan dia benar-benar tidak pernah menggunakan uang yang saya berikan.

Si B, anak kedua, adalah tipe pemikir yang suka merenungkan banyak hal, seperti filsuf. Ketika saya menyerahkan sejumlah uang kepadanya, dan memintanya agar tidak menggunakan uang tersebut, Si B berpikir, “Apa sebenarnya maksud ayahku? Dia memberiku sejumlah uang, tapi tidak boleh menggunakannya. Kupikir, ini aneh. Tapi dia telah berpesan begitu, dan aku merasa berkewajiban mematuhi.”

Jadi, Si B terus berpikir dan merenungkan uang yang saya berikan—yang kini telah menjadi miliknya—namun dia tidak pernah menggunakan uang tersebut, sebagai bentuk penghormatan kepada saya. Dalam pikiran si B yang bijaksana, dia tahu uang itu telah menjadi haknya, sehingga bebas untuk digunakan. Namun, dengan kebijaksanaannya pula, dia memilih untuk tidak menggunakan, karena saya berpesan begitu.

Si C, anak ketiga, tipe pemberontak yang suka melawan kemapanan. Ketika mendapatkan sejumlah uang yang saya berikan, dia diam, tapi berpikir keras, “Ayah memberiku sejumlah uang, tapi dia berpesan agar aku tidak menggunakan. Aturan apa itu? Kalau dia memang ingin aku tidak menggunakan uang pemberiannya, mestinya dia tidak usah memberikan. Dan ayah mengkhawatirkan datangnya bahaya, kalau aku menggunakan uang ini. Aturan kacau apa pula itu?”

Dalam pikiran Si C, uang yang saya berikan kepadanya telah menjadi haknya. Karena uang itu telah menjadi haknya yang sah, maka dia bebas menggunakan, terlepas bahwa saya berpesan agar dia tidak menggunakan. Jadi, Si C kemudian berpikir lebih jauh, “Aku akan menggunakan uang ini, dan mari kita lihat. Apakah benar bahaya akan datang sebagaimana yang dihawatirkan ayahku, atau tidak?” 

....
....

Tiga anak saya terus tumbuh dewasa, dan mereka hidup sesuai pikiran, hati, dan keyakinan masing-masing.

Si A, anak pertama yang sangat patuh, terus menyimpan uangnya, dan tidak pernah menggunakan sedikit pun. Meski kadang mendapati hal-hal tertentu yang membutuhkan uang, dan dia terdesak keadaan, Si A tetap teguh dalam mematuhi pesan saya, dan tidak pernah menggunakan uang yang saya berikan. Intinya, dia lebih memilih mati daripada melawan atau melanggar pesan saya.

Ada masa-masa ketika Si A sampai kelaparan, karena tak punya makanan yang bisa dimakan. Dalam kondisi semacam itu, dia bisa saja mengambil uang yang telah saya berikan, untuk ia belikan makanan. Tapi Si A tidak melakukannya, karena terikat kepatuhannya pada saya. Dia benar-benar anak yang sangat patuh pada orang tua, dengan tingkat kepatuhan yang dapat mencucurkan air mata bidadari.

Si B, anak kedua yang senang berpikir mendalam, juga masih menyimpan uangnya secara utuh, dan dia selalu menjaga diri agar tidak pernah menggunakan, sebagaimana pesan saya.

Tahun demi tahun, seiring dia terus tumbuh, Si B masih terus memikirkan uang yang saya berikan, dan masih terus bertanya-tanya mengapa saya memberikan uang kepadanya, namun melarangnya menggunakan. Dia tidak juga paham. Meski begitu, dia memilih patuh kepada saya, dan hanya menyimpan uangnya dalam peti.

Kadang-kadang, Si B didatangi tetangga atau saudara, yang ingin meminjam uang karena terdesak kebutuhan sehari-hari. Dengan pikirannya yang bijaksana, Si B meminjamkan uangnya pada mereka, menggunakan uang yang saya berikan. Dan ketika orang-orang itu mengembalikan uang yang ia pinjamkan, Si B mengembalikan uang tersebut ke dalam peti, sehingga uang pemberian saya tetap utuh.

Dalam hal itu, Si B tetap patuh pada pesan saya untuk tidak menggunakan uang tersebut, namun seiring dengan itu dia juga bisa memberi manfaat bagi orang-orang lain yang kebetulan terdesak kebutuhan.

Si C, anak ketiga yang pemberontak dan tidak suka berpikir mapan, terang-terangan melanggar pesan saya. Dia menggunakan uang pemberian saya sesuai keinginannya sendiri. Meski saya berpesan agar tidak menggunakan uang tersebut, Si C tetap menggunakan.

Dia menggunakannya untuk membeli sejumlah bebek, serta membangun kandang bagi mereka. Sejak itu, Si C asyik dengan bebek-bebeknya. Setiap hari, ia keluarkan bebek-bebek miliknya untuk ia gembalakan, dan dia menikmati hari dengan riang.

Semula, bebek yang dimiliki Si C hanya sedikit. Namun yang sedikit itu lalu berkembang. Bebek-bebek itu bertelur, dan telurnya menetas menjadi bebek baru. Jumlah bebek Si C terus berkembang, dan jumlahnya makin banyak.

Seperti umumnya para pemilik bebek, Si C kadang menjual bebeknya pada para pemilik restoran yang menyediakan daging bebek, juga menjual telur bebek untuk para pembuat telur asin. Dan usaha Si C terus berkembang membesar.

....
....

Bertahun-tahun kemudian, tiga anak saya mengalami perbedaan hidup, dan menjalani kehidupan yang sangat jauh berbeda.

Si A, yang sangat patuh dan berbakti pada orang tua, menjadi pribadi yang salih, dengan keteguhan hati dan pikiran tak tergoyahkan apa pun. Dia masih menyimpan uang yang saya berikan dalam jumlah utuh, tidak pernah ia gunakan sedikit pun, tak peduli seberat apa pun kehidupan yang harus dijalani.

“Karena ayahku berpesan agar aku tidak menggunakan,” ia berpikir, “sampai mati pun aku tidak akan pernah menggunakan.”

Sejarah telah mengenal Si A, para martir yang rela mati demi keyakinan.

Si B, yang senang berpikir mendalam dan bijaksana, menjadi sosok yang dihormati orang-orang sekelilingnya. Orang-orang mengenal Si B sebagai orang baik yang menjalani kehidupan bersahaja, namun ringan tangan dalam membantu sesama. Saat ada tetangga butuh berutang, Si B memberikan, meski mewanti-wanti agar pinjaman itu dikembalikan. “Karena uang yang kupinjamkan kepadamu sebenarnya titipan ayahku, bukan milikku sepenuhnya.”

Selain dalam urusan uang, Si B juga ringan tangan dalam membantu hal-hal lain, seputar mengatasi aneka masalah yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Si B adalah pemikir bijaksana, yang dapat melihat banyak hal dalam cakrawala lebih luas, dan orang-orang senang meminta nasihat Si B. Mereka percaya Si B bukan hanya orang baik, tapi juga bijaksana.

Sejarah telah mengenal Si B, para filsuf agung yang ajarannya terus abadi.

Si C, yang suka memberontak dan melawan kemapanan berpikir, telah berubah jauh dari kehidupannya semula. Berbeda dengan saudara-saudaranya yang menjalani kehidupan sederhana, Si C menjalani kehidupan kaya-raya. Uang 10 juta yang saya berikan kepadanya telah berubah dan berkembang jutaan kali lipat. Usaha bebeknya, yang dimulai dari sangat sedikit, telah tumbuh menjadi bisnis berskala raksasa. Si C dikenal masyarakatnya sebagai angon bebek yang miliuner.

Dia sadar telah melawan pesan saya, karena dia menggunakan uang yang saya berikan. Namun, seiring dengan itu, dia juga berusaha membuktikan bahwa kekhawatiran saya tak terjadi. Meski dia menggunakan uang yang saya berikan, dia berupaya agar uang itu terus tumbuh dengan benar, sehingga tidak mendatangkan masalah.

Jadi, Si C tetap berusaha menjalani kehidupan lurus, meski uangnya berlimpah. Dan ia menggunakan kekayaannya untuk membantu orang-orang lain, membiayai pendidikan anak-anak miskin, menyantuni yatim piatu, memberi nafkah orang-orang fakir, dan lain-lain, yang ia pikir baik untuk kemanusiaan... demi dunia yang lebih baik.

Pelajaran Ngewe di Twitter

Pelajaran yang bisa kuambil dari urusan ngewe yang sedang heboh di Twitter: Enaknya gak seberapa, ribet dan ributnya luar biasa.

"Aku mau ketemu, tapi kamu harus begini, harus begitu..."

WONG TIDAK KETEMU KAMU JUGA TIDAK MASALAH, KOK. KENAPA KAMU BERPIKIR AKU MAU DIPERSULIT DAN DIBIKIN RIBET HANYA UNTUK KETEMU?

Satu hal yang paling kubenci di muka bumi adalah masalah, dan hal-hal mudah yang dibikin sulit. Hidup ini sudah susah, bahkan tanpa harus dibikin susah.

Bahkan umpama aku jatuh cinta setengah mati pada seseorang, dan dia mencoba mempersulitku, aku akan bilang persetan dengannya, dan dia boleh pergi ke neraka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 April 2019.

Percakapan di Warung Mi Ayam

Dilema antara ingin makan nasi uduk atau mi ayam.

....
....

Di warung mi ayam ketemu teman yang juga penggemar mi ayam, dan dia cerita tentang temannya yang sama-sama penggemar mi ayam.

"Sebelum nikah, dia makan mi ayam pakai sumpit," dia menceritakan temannya. "Tapi setelah nikah, dia makan mi pakai garpu."

Aku penasaran. "Alasannya?"

Temanku menceritakan, bahwa temannya menceritakan kepadanya, "Kata istriku, makan mi pakai sumpit itu berdosa, karenanya aku sekarang makan mi pakai garpu."

Lalu temanku bertanya kepadaku, "Bagaimana menurutmu?"

"Sangat inspiratif," aku menjawab, "meski tidak environmental!"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Maret 2019.

Jumat, 09 Agustus 2019

KFC, Eskalator, dan Rumitnya Otak Manusia

Kejahatan terburuk yang pernah kuperbuat adalah
berpura-pura pada semua orang bahwa aku orang yang bahagia.
Kurt Cobain


Siapa pun yang biasa makan di Kentucky Fried Chicken (KFC) pasti melihat siluet wajah seorang pria di kemasan KFC—misal di gelas mereka. Kita tahu, itu siluet Harland Sanders, si penemu resep KFC. Jika kita perhatikan, siluet tersebut menampilkan wajah Harland Sanders seutuhnya, dan di bawah wajah atau kepala Harland Sanders terdapat dasi berbentuk silang.

Siluet itu sebenarnya dengan jelas mengilustrasikan wajah dan dasi, dan orang pun paham bahwa itu wajah dan dasi. Karenanya, setiap kali kita melihat siluet wajah Harland Sanders di gelas atau kemasan KFC, otak kita pun seketika membayangkan wajah Harland Sanders dan dasinya.

Lalu, suatu hari, seseorang di Twitter menampilkan gambar siluet wajah Harland Sanders plus dasi tersebut, dengan tambahan tweet, “Kenapa wajah bapak ini lebih besar dari ukuran tubuhnya?”

Jadi, rupanya, dia mengira dasi yang menyilang di bawah wajah Harland Sanders sebagai miniatur tubuh—dua tangan dan kaki!

Tweet itu viral, dan seketika ditanggapi banyak orang, yang—anehnya—ikut melihat “tubuh” Harland Sanders!

Banyak orang yang memberi komentar, kira-kira seperti ini, “Dari dulu saya sudah tahu kalau itu wajah dan dasi. Tapi sekarang saya jadi melihat bahwa itu sebenarnya wajah dan tubuh.”

Komentar lain, “Sekarang saya kesulitan untuk melihat bahwa itu wajah dan dasi. Yang saya lihat sekarang adalah wajah dan tubuh. Tolong kembalikan penglihatan saya!”

Komentar lain lagi, “Tweet ini (maksudnya tweet awal yang mempertanyakan kenapa wajah Harland Sanders lebih besar dari tubuhnya) telah meng-hack pikiran saya. Sekarang yang saya lihat adalah wajah dan tubuh!”

Sebegitu ramai tweet tersebut, sampai pihak KFC (diwakili akun Twitter resmi mereka) memberi respons dengan menyatakan, “Itu dasi, Mas!”

Bahkan meski KFC telah menegaskan bahwa “itu dasi”, orang-orang yang telah membaca tweet awal tadi telanjur mengalami “kekacauan otak”. Meski sejak awal mereka tahu dan sadar bahwa itu dasi, sekarang mereka melihat objek lain, bahwa “bisa jadi yang menyilang di bawah wajah Harland Sanders adalah tubuh—tangan dan kaki”.

Kisah ini adalah salah satu contoh nyata yang menunjukkan rumitnya otak manusia. Betapa otak—sumber pikiran kita—ternyata bisa “dibelokkan” dengan sangat mudah, dan kita benar-benar “berbelok”.

Sebelum tweet awal tadi muncul, orang-orang sudah tahu dan memahami bahwa siluet di kemasan KFC adalah wajah Harland Sanders dan dasi. Mereka tidak membayangkan dasi menyilang di bawah wajah Sanders sebagai miniatur tubuh. Tapi begitu membaca tweet itu, otak mereka seperti digiring untuk melihat “sesuatu yang sebelumnya tak terlihat”. Bahwa bisa jadi itu sebenarnya bukan dasi, melainkan tubuh dalam ukuran kecil.

Pikiran manusia adalah sesuatu yang kuat sekaligus rapuh. Ia kuat, karena bisa mewujudkan sesuatu yang tidak/belum ada menjadi ada. Tapi juga rapuh, karena ia rentan dimanipulasi, atau mudah dipengaruhi—meski dalam kadar berbeda.

Di mal atau swalayan, kita biasa menjumpai eskalator, yang memungkinkan kita naik dan turun dengan mudah. Setidaknya ada dua macam eskalator, yaitu eskalator yang berundak (mirip tangga), dan eskalator yang rata (tidak berundak). Saat menggunakan eskalator itu, entah naik atau turun, saya pikir kalian tidak punya pikiran macam-macam, selain hanya berdiri dan membiarkan eskalator membawa ke atas atau ke bawah.

Dulu, saya juga tidak punya pikiran apa pun, setiap kali menggunakan eskalator di mal atau swalayan, entah eskalator berundak atau datar. Tetapi, sejak menyaksikan serial Final Destination, saya punya “kekhawatiran” setiap kali menggunakan eskalator datar. (Kalian yang sudah menonton Final Destination dan masih ingat adegan-adegan di dalamnya, pasti paham yang saya maksud.)

Ketika menggunakan eskalator berundak, saya tidak punya perasaan atau kekhawatiran apa pun. Tapi ketika menggunakan eskalator datar, saya sering diliputi kekhawatiran. Entah kenapa, saya selalu berpikir, “Jangan-jangan eskalator ini runtuh saat orang-orang masih di tengah jalan... dan sebagainya, dan sebagainya.” (Ya meski kekhawatiran saya tidak pernah terbukti, dan semoga tidak akan pernah terjadi!)

Karena adanya kekhawatiran itu pula, saat menggunakan eskalator datar, indra-indra di tubuh saya jadi sangat sensitif. Telapak kaki saya (meski memakai sepatu) seperti bisa merasakan ganjalan yang paling halus sekalipun, mata saya bisa melihat apakah permukaan eskalator benar-benar rata atau memiliki sedikit gundukan, sementara telinga saya seperti bisa mendengar dengung lembut mesin yang menggerakkan eskalator. Ini insting alami ketika manusia merasa khawatir.

Kenyataannya, eskalator yang saya gunakan baik-baik saja, hanya saya yang mungkin terlalu khawatir, gara-gara teringat adegan dalam Final Destination.

Sekali lagi, ilustrasi ini menunjukkan bagaimana rumitnya otak manusia, dan bagaimana otak kita mencerna informasi yang pernah kita terima. Orang-orang yang semula sudah tahu bahwa siluet di kemasan KFC adalah wajah dan dasi, bisa berubah melihat wajah dan tubuh, ketika pikiran mereka diberi informasi tentang itu. Saya yang sebelumnya nyaman tiap kali menggunakan eskalator di swalayan, bisa berubah khawatir, setelah pikiran saya mendapat informasi menyeramkan dari adegan film.

Kenyataannya, sering kali—entah sadar atau tidak—kita menghadapi dan menilai sesuatu berdasarkan informasi (pengetahuan, pengalaman) yang pernah kita terima sebelumnya. Dalam hal ini, tentu saja, masing-masing orang bisa berbeda, karena pengetahuan dan pengalaman tiap orang juga berbeda, atau bahkan subjektif.

Kalian yang pernah menonton Final Destination, dari seri satu sampai seri terakhir, bisa jadi tidak mengalami kekhawatiran yang saya alami saat naik eskalator. Begitu pula, ada orang-orang yang tak terpengaruh ketika mereka diberitahu bahwa siluet di kemasan KFC adalah wajah dan tubuh. Di mata mereka, siluet itu tetap menunjukkan wajah dan dasi. Karena cara pikiran kita merespons sesuatu memang tidak bisa disamaratakan.

Tapi urusan siluet KFC atau eskalator sebenarnya tidak penting-penting amat, karena itu bukan bagian besar dalam kehidupan banyak manusia. Ada hal lain yang lebih penting untuk kita perhatikan, terkait cara pikiran kita merespons dan memproses sesuatu, khususnya dalam kehidupan sebagai manusia.

Dalam contoh mudah, ada orang-orang yang sangat peka, sehingga masalah yang mungkin ringan bisa jadi berat dalam pikiran mereka. Sebaliknya, ada orang-orang yang sangat santai, sehingga masalah yang mungkin besar bisa jadi terasa ringan bagi mereka. Bahkan menghadapi satu masalah yang sama pun, respons masing-masing orang bisa berbeda.

Orang bisa gelisah dan sulit tidur semalaman, misalnya, karena punya utang seratus ribu, dan besok sudah jatuh tempo. Ia gelisah, dan menganggap masalah yang dialaminya sangat berat, dan dia stres, tak bisa tidur, memikirkan hal itu terus menerus. Dia sudah janji untuk membayar utang itu besok pagi, dan dia harus menemukan cara agar bisa memenuhi janjinya.

Sebaliknya, ada orang yang bisa tidur pulas meski punya utang sejuta, dan besok juga sudah jatuh tempo, padahal ia juga tidak/belum punya uang untuk membayarnya. Dalam pikirannya, bisa jadi dia berpikir bahwa itu bukan masalah yang perlu membuatnya stres, karena tinggal ngomong saja belum ada uang, dan habis perkara. Jatuh tempo bisa diundur beberapa hari ke depan!

Itu contoh ekstrem terkait bagaimana cara kita memproses suatu masalah, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan semacam itu bisa jadi karena faktor gen, tapi pengalaman yang kita serap dalam kehidupan tentu juga punya pengaruh dalam membentuk cara kita berpikir dan merespons segala sesuatu. Dengan kata lain, cara orang dalam memandang sesuatu tidak bisa disamaratakan.

Ada kalanya, kita mendengar teman curhat mengenai masalah yang ia hadapi, dan tampak khawatir dengan masalah tersebut. Sementara, bagi kita, masalah yang ia hadapi sebenarnya hal ringan yang tidak perlu membuatnya khawatir. Jika kita ceroboh, bisa jadi kita akan menggampangkan masalah yang ia hadapi, dan mengatakan, “Ah, masalah gitu aja, tak perlu dipikirkan!”

Respons semacam itu—menggampangkan masalah orang lain—bisa jadi respons umum yang biasa kita tunjukkan. Padahal, ada sesuatu yang sangat penting terjadi di sini. Tidak semua orang bisa digeneralisasi!

Teman kita khawatir dengan masalahnya—kenapa? Jawabannya sangat jelas dan gamblang, karena dialah yang menghadapi masalah itu! Dia yang menghadapi masalah itu, bukan kita. Dia yang punya masalah itu, bukan kita. Karena masalah itu tidak terkait dengan kita, maka kita pun bisa menilai secara objektif—bahwa masalah itu tidak berat—atau malah menggampangkannya.

Kemudian, balik lagi ke uraian panjang lebar tadi, bahwa cara kita merespons dan memproses suatu masalah bisa berbeda. Ada orang yang memang dasarnya sangat peka—atau kita bisa menyebutnya melankolis—sehingga masalah yang mungkin sepele pun bisa terasa berat baginya. Sebaliknya, ada orang yang santai—atau bahkan terlalu santai—sehingga masalah yang mungkin besar pun bisa terasa ringan baginya.

Karenanya, menggeneralisasi cara berpikir manusia adalah tindakan yang tidak bijaksana, sama halnya dengan menggeneralisasi manusia. Wong manusia sudah jelas berbeda, apalagi cara berpikirnya.

Jadi, apa yang mestinya kita lakukan saat menghadapi teman atau orang lain yang terlalu melankolis, atau terlalu santai, dalam menghadapi masalahnya?

Jika teman kita curhat mengenai masalah yang membuatnya khawatir, dan kita ingin memberi respons, jangan katakan agar dia tidak usah memikirkannya! Dia sudah memikirkannya, dan itu tidak bisa diubah dengan mudah! Ingat kembali kasus siluet KFC, atau bayangan saya terkait eskalator!

Daripada menggampangkan masalah teman kita, dengan mengatakan agar dia tidak usah memikirkannya, jauh lebih baik jika kita mengajaknya untuk melihat dan mempelajari masalah itu bersama-sama, secara objektif.

Misal, dengan mengatakan, “Tentu kamu menganggap masalah ini berat, karena bagaimana pun kamulah yang menghadapi, dan kamu punya tanggung jawab di dalamnya. Sementara aku berada di luar masalahmu, sehingga tidak merasakan yang mungkin kamu rasakan. Jadi, mari kita pelajari masalah yang kamu hadapi secara objektif dari sudut pandangku, sebagai pihak yang berada di luar masalah.” Lalu sampaikan pikiran kita terkait masalahnya, dan kalau bisa sampaikan pula solusi yang mungkin bisa ia ambil.

Itu jauh lebih baik dan lebih bijak—sekaligus lebih menenangkan teman kita—daripada menggampangkan masalahnya dengan mengatakan, “Ah, gitu aja, tidak usah dipikir!”

Hujan yang turun di pagi hari tentu bukan masalah, apalagi kalau memang musim penghujan. Karena kita bisa menggunakan payung, jika memang ingin keluar rumah. Jika ada orang yang menganggapnya masalah, itu jelas salahnya sendiri!

Tapi jika ada orang yang anaknya masuk rumah sakit dan harus menjalani operasi, misalnya, lalu dia stres dan khawatir serta menganggapnya masalah, tentu saja itu wajar! Justru tidak wajar kalau ada orang bisa santai, sementara anaknya sekarat di rumah sakit! Pak edan opo piye?

Masing-masing orang menghadapi masalahnya sendiri, berat maupun ringan, dan cara mereka merespons serta menghadapi masalah tidak bisa digeneralisasi. Karenanya, jika kita memang tidak bisa membantu meringankan, jangan menggampangkan. Jika kita tidak bisa meringankan masalah yang ada, setidaknya jangan menambah berat pikiran mereka.

Memilih Sendirian

"Setiap kali kau berurusan dengan manusia," kata Ali bin Abi Thalib, "setiap kali pula kau harus siap kecewa."

Kenyataannya memang benar. Karena itulah, aku lebih suka melakukan semuanya sendirian. Lelah, tapi menjauhkanku dari kekecewaan.

Aku lebih suka lelah karena bekerja, daripada lelah karena kecewa. Lelah karena bekerja bisa hilang setelah istirahat sejenak. Tapi lelah akibat dikecewakan butuh waktu sangat lama untuk hilang. Aku kadang butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa pulih dari kekecewaan.

Beberapa orang memilih sendirian, menutup hidupnya, dan orang-orang menuduhnya antisosial. Padahal, bisa jadi, mereka yang memilih sendirian karena terlalu takut dikecewakan, karena terlalu sibuk menyembuhkan hatinya, karena terlalu berat menanggung luka » https://bit.ly/2VfXTcl


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Februari 2019.

Sesuatu yang Bersifat Ubroyah

Oooh, sesuatu yang bersifat ubroyah.

Kamis, 01 Agustus 2019

Puncak Tertinggi

Para pendaki tidak mencintai puncak.
Mereka mencintai proses pendakiannya.
Begitu pun para pencari.
@noffret


Junko Tabei, asal Jepang, adalah wanita pertama yang mampu mencapai puncak Everest, gunung tertinggi di dunia. Peristiwa penting itu terjadi pada 16 Mei 1975, dan membuat dunia terkesima.

Yang membuat dunia terkesima bukan hanya karena Junko Tabei seorang wanita, tapi juga fakta bahwa dia memiliki tubuh mungil yang ringkih. Artinya, dia bukan wanita bertubuh besar yang kuat perkasa. Ketika wanita itu menyatakan ingin menaklukkan puncak Everest, dunia pun menertawakannya. Ada banyak laki-laki kuat dan perkasa yang pernah memiliki impian serupa, dan mereka semua gagal.

Karenanya, ketika Junko Tabei berhasil membuktikan diri bahwa dia mampu mencapai puncak tertinggi, dunia pun bertepuk tangan untuknya. Seorang manusia telah mengalahkan kemustahilan!

Kecintaan Junko Tabei pada aktivitas pendakian dimulai sejak SD. Di sekolah, dia tergolong anak perempuan yang lemah, selain tubuhnya juga mungil. Dibanding teman-teman sebaya, Tabei tampak paling rapuh. Suatu hari, guru di sekolah mengajak murid-murid untuk mendaki Gunung Asahi dan Gunung Chausu, yang pemandangannya terkenal indah.

Pengalaman itu meninggalkan kesan abadi dalam benak Junko Tabei, dan sejak itu pula ia tertarik pada pendakian gunung. Setelah lulus dari Universitas Showa, ia membentuk klub pencinta alam dan pendaki gunung wanita (Ladies Climbing Club Japan) pada 1969. Setelah menikah, ia dan suaminya tetap melanjutkan hobi memanjat gunung, antara lain Gunung Fuji di Jepang hingga Gunung Matterhorn di Pegunungan Alpen, Swiss.

Lalu impian besar yang mustahil itu menghampirinya. Pada 1970-an, Junko Tabei punya impian menaklukkan puncak gunung tertinggi di muka bumi, Everest. Seketika, dunia mencibir dan menertawakannya. Sebelumnya, Edmund Hillary dan Tenzing Norgay memang tercatat sebagai dua orang yang telah berhasil menaklukkan puncak Everest. Tapi mereka dua pria perkasa, yang tidak bisa ditandingi sembarang orang, apalagi oleh seorang wanita rapuh!

Ketika Junko Tabei mulai mencari sponsor untuk membiayai pendakian ke Everest, pihak-pihak yang dihubunginya menolak. Itu, sebenarnya, “pendakian” sulit pertama yang harus dialami Junko Tabei sebelum melakukan pendakian sesungguhnya ke Everest. Ditepis dan ditolak banyak pihak yang ia harapkan membantu—sekaligus dicibir dan ditertawakan dunia—adalah hantaman mental yang tidak setiap orang mampu menahannya.

Tapi Junko Tabei tampaknya memiliki kekuatan di balik tubuh mungilnya yang terlihat rapuh. Ia terus mencoba, menemui satu per satu perusahaan yang sekiranya tertarik menjadi sponsor bagi pendakiannya. Usaha itu akhirnya berhasil. Surat kabar Jepang, Yomiuri Shimbun, dan stasiun televisi Nihon Television bersedia mendukung ekspedisinya ke Everest.

Perjalanan menaklukkan kemustahilan pun dimulai.

Ekspedisi itu dimulai pada 1975, dan Junko Tabei telah mempersiapkan fisik serta mentalnya hingga maksimal. Ia berangkat ke Kathmandu. Dari sana, ia dituntun oleh pemandu lokal, untuk menyusuri jalur yang pernah dipakai oleh Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay—dua pendaki puncak Everest sebelumnya—pada 1953.

Sejak awal, Junko Tabei menyadari perjalanannya tidak akan mudah. Sebelumnya, sudah ada banyak orang yang telah mencoba menempuh perjalanan yang sekarang ia lakukan, dan mereka semua gagal. Di sepanjang perjalanan, Tabei juga menyaksikan mayat-mayat tergeletak, terbekukan oleh dingin Everest—mayat-mayat yang semula punya impian sama seperti dirinya.

Karenanya, ketika akhirnya berbagai halangan berdatangan di sepanjang perjalanan, Junko Tabei menghadapinya dengan tabah dan gigih. Dia tidak ditakdirkan untuk menempuh perjalanan itu, dia sendiri yang memilih takdirnya untuk menempuh perjalanan itu.

Dan takdir di Everest benar-benar brutal. Pada awal Mei 1975, saat Junko Tabei dan pemandunya berkemah di ketinggian 6.300 meter, menahan dingin yang luar biasa, tiba-tiba longsoran salju menimbun tenda mereka. Tabei tertindih longsoran salju, tubuhnya membeku, kesulitan bernapas, dan dia bahkan kehilangan kesadaran hingga enam menit... sampai pemandu menyelamatkannya.

Terlepas dari maut, Junko Tabei merasakan tubuhnya begitu lemah, sementara dingin Everest menggigit tulang. Ia mendapati tubuhnya juga penuh luka dan memar, dan merasa tak sanggup berdiri. Bayangan mayat-mayat yang ia saksikan di sepanjang perjalanan seolah meneror angannya, dan dia sempat membayangkan akan berakhir seperti mereka—tergeletak di daratan es, tak bernyawa, satu lagi impian anak manusia ditikam takdir yang dingin.

“Kau mampu berdiri?” tanya pemandunya.

Junko Tabei menggeleng. Ia merasakan kakinya begitu lemah, tak sanggup lagi menopang tubuhnya.

Itu sebenarnya “fenomena umum” yang terjadi di Everest setiap waktu, kapan pun ada orang nekad datang ke sana. Kalau kau tak sanggup berdiri, artinya kau akan mati. Everest tidak menyediakan hotel hangat dengan perapian untuk mengangatkan tubuh, tidak ada pula kedai yang menyediakan kopi panas. Kalau tubuhmu sudah kedinginan, tulang-tulangmu telah terbekukan, dan kau tak sanggup berdiri, bersiaplah untuk mati.

Junko Tabei mencoba menggerakkan kakinya. Ia mampu bergerak, tapi tak sanggup berdiri. Akhirnya, karena menyadari tak mampu berdiri, Junko Tabei memutuskan untuk meneruskan pendakiannya dengan merangkak! Wanita mungil yang rapuh itu merayap di atas es beku Everest, seinci demi seinci, bersama gigil dan butir-butir es berjatuhan ke tubuhnya.

Pendakian dengan merangkak dan merayap itu jelas perjalanan yang sangat berat, tapi Junko Tabei tak bisa dihentikan. Dia terus merangkak dan merayap, menggerakkan setiap atom kesadarannya untuk tetap konsisten pada perjalanan yang ditempuh, tak mempedulikan luka dan memar, gigil dan kedinginan.

Setelah merangkak dan merayap selama sebelas hari, Junko Tabei akhirnya mencapai puncak Everest, dan menjadi wanita pertama yang mampu menaklukkan puncak tertinggi di dunia.

Setelah impian mustahil itu tercapai, Junko Tabei mempersiapkan impian besar lainnya. Ia ingin mendaki gunung di seluruh negara di dunia. Satu per satu ia wujudkan impian itu, hingga pada 1992—saat usianya 53 tahun—ia telah mendaki 69 gunung di berbagai negara. Junko Tabei juga tercatat sebagai wanita pertama yang mencapai Seven Summit, tujuh puncak tertinggi di dunia.

Bagaimana bisa seorang wanita mungil bertubuh ringkih mampu melakukan hal mustahil semacam itu, sementara banyak orang lainnya—yang jauh lebih kuat—justru gagal di tengah jalan?

Junko Tabei menyatakan, mendaki bukan olah raga kompetisi. Mendaki juga bukan semacam pacuan atau persaingan, baik dengan manusia, waktu, maupun alam. Mendaki, baginya, adalah sebuah perjalanan. Karena sebuah perjalanan, Junko Tabei menikmatinya, dan ia berjalan selangkah demi selangkah berdasarkan kemampuannya.

Dalam perjalanan, kita tidak bersaing dengan siapa pun, selain hanya menikmati perjalanan yang kita lakukan, dan menghayati pemandangan yang kita temukan sepanjang perjalanan. 

Tampaknya, itulah yang membedakan Junko Tabei dan orang-orang lain yang pernah melakukan upaya serupa. Mereka ingin menaklukkan puncak tertinggi sebagai upaya membuktikan pada dunia, sementara Junko Tabei menaklukkan puncak tertinggi sebagai kesenangan, karena melakukan sesuatu yang memang ia cintai. Junko Tabei tidak ingin membuktikan apa pun, selain hanya melakukan sesuatu yang memang ingin ia lakukan.

Kalau seorang manusia melakukan sesuatu karena memang ingin melakukannya, dan ia bertekad untuk melakukan... bahkan iblis di neraka pun tak bisa menghentikan.

Di usia tuanya, Junko Tabei melanjutkan kecintaannya pada alam dan gunung, dengan aktif di Himalayan Adventure Trust of Japan, sebuah organisasi global untuk kelestarian lingkungan alam di gunung-gunung. Dia telah menikmati perjalanan hidup dengan melakukan sesuatu yang dicintainya, yang bahkan dicatat oleh sejarah. Apa yang lebih menyenangkan dari itu?

Hujan dan Kenangan

Masalah beberapa hari ini: Mau keluar tapi hujan.

Hujan deras sedang turun di tempatku, dan aku bersyukur tak jadi keluar. Secangkir kopi dan udud di rumah jauh lebih baik, daripada terjebak macet dan kebingungan di bawah hujan.

Tak ada tempat sehangat rumah.

Setelah hujan deras mengguyur, air meluap menjadi banjir. Kini hujan telah reda, tapi genangannya masih ada, dan lama surut. Kupikir, begitu pula hubungan yang pernah kita miliki dengan seseorang. Mungkin hubungan itu telah selesai, tapi kenangannya tertinggal, tak juga pergi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Januari 2019.

Standar Calon Pasangan

Omong-omong soal 30 juta sebulan—yang sekarang berseliweran di timeline—aku jadi gatel ingin ikut ngoceh.

Sepertinya kita memang sensitif dengan standar atau kriteria orang lain, hingga merasa “tidak nyaman”. Kalau ada perempuan bikin standar untuk calon pasangannya (misal punya gaji 30 juta per bulan), ya tidak apa-apa, wong itu haknya. Kenapa kita yang pusing?

Orang toh punya hak untuk menetapkan standar sendiri-sendiri untuk hidupnya. Wong mereka yang menjalani. Kalau kebetulan standar mereka berbeda dengan standar kita, ya tidak apa-apa. Mosok semua orang harus punya standar yang sama dengan kita?

Lagi pula, banyak laki-laki yang punya penghasilan 30 juta per bulan, bahkan lebih. Cuma, mereka yang punya gaji segitu biasanya juga punya standar sendiri, yang—bisa jadi—tidak bisa dipenuhi oleh perempuan yang menetapkan standar tersebut. Jadi ya piye?

JP Morgan, ahli keuangan Wall Street yang juga miliuner, pernah mengatakan bahwa dia—dan rata-rata pria miliuner lain—justru jaga jarak dengan perempuan-perempuan yang jelas tampak mengincar kekayaan mereka. Karena hasilnya “besar pasak daripada tiang”.

Jadi kalau ada orang—laki-laki atau perempuan—bikin standar terkait (calon) pasangan mereka, ya biarkan saja. Wong itu hidup dan pilihan mereka sendiri, kok. Soal mereka kemudian mendapatkan yang sesuai standar atau tidak, ya mereka sendiri yang menghadapi. Tidak usah sewot.

Biasanya—ini biasanya, lho—orang terlalu sensitif dengan standar orang lain, karena kebetulan tidak memenuhi standar tersebut. Gak usah sampai 30 juta sebulan. Kita bikin standar “bisa masak” untuk calon pasangan saja, bisa membuat orang sewot. Ya karena mereka tidak bisa masak.

Jadi, omong-omong soal fucking-standar, masalahnya di mana? Masalahnya bukan pada standar atau pada orang yang bikin standar. Masalahnya ada pada diri kita sendiri, dan masalahnya sangat sepele, “apakah kita memenuhi standar itu atau tidak”. Kalau memenuhi, yo kalem wae.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Januari 2019.

 
;