Selasa, 23 November 2010

Belajar atau Mati (4)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Orang-orang yang malas belajar biasanya sinis menanggapi ajakan untuk giat belajar. Mereka biasanya berujar dengan pongah, “Buat apa sih, belajar? Toh kita dapat terus hidup, bekerja, mencari uang, santai, tanpa harus repot-repot belajar. Belajar hanya buang-buang waktu saja!”

Saya jadi teringat pada sebuah anekdot yang diceritakan Ustadz Zainuddin MZ (almarhum). Dalam satu ceramahnya, Zainuddin MZ menceritakan tentang seorang bocah penyemir sepatu yang tiap hari bekerja di stasiun. Setiap sore, bocah ini pulang dengan membawa sejumlah uang hasil bekerja sehari sebagai tukang semir sepatu.

Nah, suatu hari, bocah ini disamperin oleh tetangganya, “Eh, lu kalau kerja nyemir seharian dapat berapa?”

“Goceng!” jawab si bocah penyemir sepatu.

“Lu sembahyang nggak?”

“Kagak!”

Lalu si tetangga menasihati, “Sembahyang, dong. Kalau lu sembahyang, rejeki lu bakal berlimpah.”

Si bocah tukang semir tertarik dengan nasihat itu, dan besoknya dia pun sembahyang—dengan harapan rezekinya dapat bertambah, sesuai yang dibilang tetangganya. Nah, sore keesokan harinya, si tetangga kembali nyamperin si bocah tukang semir.

“Gimana?” sapa si tetangga.

Dan si bocah tukang semir menjawab, “Wah, gua kapok sembahyang!”

“Kenapa?”

“Kemarin gua kagak sembahyang bisa dapet goceng. Sekarang, gua sembahyang, malah dapet gocap!”

Saya tertawa ngakak mendengar anekdot itu. Tentu saja yang dimaksud Zainuddin MZ dalam kisah di atas adalah bahwa sembahyang—ibadah—bukanlah sarana yang dapat mendatangkan sesuatu secara instan. Orang beribadah tidak untuk tujuan jangka pendek yang hasilnya dapat langsung diperoleh atau dirasakan.

Nah, begitu pula dengan belajar. Belajar bukanlah sarana untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat instan, bukan upaya untuk mendapatkan sesuatu yang bisa langsung diperoleh atau dirasakan. Belajar bukanlah sesuatu yang manfaatnya dapat dilihat dalam jangka pendek, ia lebih tepat jika disebut investasi untuk jangka panjang.

Kalau kita rajin belajar hari ini, mungkin hidup kita tetap sama besok pagi. Sekilas memang tidak ada yang berubah, tetapi memang pembelajaran tidak mengubah apa pun yang ada di luar kita. Belajar—dan proses pembelajaran—lebih mengubah sesuatu yang ada di dalam diri kita. Dan ketika hal semacam itu mulai terjadi—ada yang telah berubah di dalam diri kita—maka kita pun akan mulai dapat mengubah hidup kita.

Jadi inilah titik kuncinya. Kita tidak akan bisa mengubah hidup dan kehidupan kita, selama diri kita sendiri belum berubah. Dan satu-satunya cara untuk dapat mengubah diri kita hanyalah dengan melalui proses pembelajaran. Tanpa belajar, orang mungkin masih tetap hidup—tetapi ia hanya hidup sebatas hidup. Dan, di zaman ini, ‘sebatas hidup’ saja tak pernah cukup.

Masih ingat catatan sebelumnya (Belajar: Bukti Adaptasi Manusia)? Dalam catatan itu, dengan jelas terlihat bahwa orang-orang yang tak bisa menambah nilai dirinya akan segera tersingkir atau disingkirkan dari arena kehidupan.

Para pekerja, karyawan, pegawai, atau bahkan profesional dalam bidang apa pun akan tersingkir dari arena ketika dia tidak mau belajar dan memperbaiki diri. Para karyawan yang tidak belajar akan segera menemui pemecatan, para pegawai yang tidak mau belajar akan tersingkir oleh batas surat kontrak, para pekerja dan profesional yang tak mau belajar pun akan segera tersingkir oleh kompetisi dan kemajuan.

Belajar, belajar, belajar—itulah kunci pentingnya. Inilah kunci untuk tetap menggenggam dan mempertahankan apa yang telah kita miliki, sekaligus kunci untuk meraih apa pun yang kita inginkan.

Jika statemen ini masih terdengar ‘muluk-muluk’, lihatlah ponsel kita. Beberapa tahun yang lalu, mungkin ponsel kita adalah ponsel paling hebat di muka bumi. Tapi sekarang…? Bisa jadi ponsel yang pernah kita banggakan itu sekarang sudah ketinggalan zaman. Kalau sekarang kita masih menggenggam ponsel yang tergolong ‘hebat di masa kini’, hampir bisa dipastikan tak lama lagi ponsel itu pun akan ikut ketinggalan zaman.

Sekali lagi, ingatlah Nokia 8310. Betapa ponsel yang pernah berjaya dan dielu-elukan sebagai piranti seluler paling cerdas dan paling hebat itu, sekarang sudah menjadi ponsel ‘jadul’ karena keberadaannya telah disingkirkan oleh ponsel-ponsel lain yang terus berkembang, makin hebat, dan makin pintar. Tanpa ugrading dan updating, benda atau manusia sehebat apa pun akan tumbang digilas kemajuan zaman.

Omong-omong, kalau melihat dunia blog sendiri, misalnya, updating juga merupakan elan vital yang menentukan keberlangsungan hidup sebuah blog. Tak peduli sebagus apa pun desainnya, tak peduli sebanyak apa pun pengunjungnya, tak peduli setenar apa pun namanya, blog itu juga akan ditinggalkan orang jika pemiliknya tidak melakukan updating terhadap isi (content)-nya.

Update, update, update—inilah kunci penting kehidupan blog. Dan dalam kehidupan manusia, kunci pentingnya adalah belajar, belajar, belajar.

Belajar tidak berarti harus duduk di bangku sekolah atau di kelas-kelas kuliah. Belajar tidak harus berarti menekuri tumpukan buku pelajaran atau makalah-makalah tebal. Belajar juga tidak berarti harus memiliki titel dan gelar yang macam-macam. Belajar bisa ditempuh di luar semuanya itu, belajar bisa dilakukan di luar semuanya itu—selama kita memang mau.

Belajar tidak pernah dibatasi oleh ruang dan waktu—kapan pun dan dimana pun manusia ingin belajar, saat itu pun ia dapat melakukannya. Belilah buku-buku yang bagus, bacalah majalah-majalah yang mendidik, kunjungilah situs dan blog-blog yang baik, tontonlah film-film yang tidak hanya menghibur tapi juga inspiratif, dapatkan apa pun yang sekiranya menambah pengetahuan, wawasan, pengalaman, dan kekayaan batin serta pikiran.

Seperti yang dinyatakan pepatah abadi, “Kapan murid siap, guru akan muncul”. Jadi yang penting adalah kesiapan kita untuk belajar. Kapan pun kita siap untuk menerima pelajaran, hidup ini akan memberikan pelajaran-pelajarannya. Kita semua adalah murid kehidupan. Siapa yang tak mau lagi belajar, tak mau lagi menjadi murid, maka sang guru bernama kehidupan akan segera meninggalkannya.

Belajar atau Mati (3)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Kalau contoh Nokia dianggap terlalu spesifik, lihatlah BlackBerry. Pada awal kemunculannya dulu, BB diakui sebagai ponsel paling hebat sekaligus paling dahsyat—dan kita pun rasanya menjadi orang paling keren di muka bumi kalau sudah dolanan BlackBerry. Tapi sekarang…? BlackBerry ‘biasa-biasa saja’. Mengapa? Jawabannya mutlak—karena sudah ada yang lebih hebat darinya!

Dalam ‘kultur’ BlackBerry sendiri, BB versi pertama selalu ‘dikalahkan’ versi kedua, lalu versi kedua ‘dikalahkan’ lagi oleh versi ketiga—dan begitu seterusnya. BlackBerry sendiri pun terus berubah, terus memperbarui diri. Karena mereka menyadari benar, bahwa jika mereka tak berubah, tak mau memperbarui diri, maka mereka akan segera punah.

Tak peduli Nokia, tak peduli BlackBerry, tak peduli manusia—semuanya akan punah tanpa adanya adaptasi terhadap zamannya. Seperti laju perkembangan ponsel yang durasinya amat cepat, begitu pula laju perkembangan kita, manusia. Diterima atau diingkari, kita sedang berpacu dengan kemajuan zaman yang cepatnya bukan alang kepalang. Durasi zaman ini bergerak seratus kali lebih cepat dibanding zaman dulu.

Karenanya, siapa pun yang ingin terus menjadi bagian dari zamannya, dia harus terus dapat beradaptasi. Dan bentuk adaptasi yang paling penting sekaligus paling beradab dalam hidup manusia, adalah tidak berhenti belajar. Siapa yang terus belajar, dia akan hidup. Siapa yang berhenti belajar, dia akan mati.

Oh, ini tidak bermaksud menakut-nakuti. Manusia memang akan terus bernapas (sebagai bukti bahwa ia masih hidup) meski mungkin tak pernah belajar. Tetapi orang semacam itu sudah tak bisa lagi dianggap hidup dalam skala nilai universal—ia hanya hidup secara fisikal, tetapi kemajuan zaman sudah menganggapnya ‘ketinggalan’. Dan, apakah hidup memang hanya sebatas dan sekadar itu—bernapas, makan, minum, dan semacamnya?

Jauh-jauh hari sebelum saya menulis catatan ini, Kahlil Gibran yang agung sudah menulis sebaris kalimat dalam bukunya yang paling menggelisahkan, The Madman. Di dalam buku itu, Gibran menulis, “Mereka sesungguhnya sudah mati, hanya saja belum menemukan orang yang menguburkannya.”

Pemikiran Gibran mendahului zamannya. Pada waktu kalimat itu tertulis pertama kali, orang-orang belum memahami apa maksudnya. Tetapi, sekarang, di zaman ini, kita tahu betul apa yang dimaksud Gibran dalam kalimat itu. Yakni mereka yang tidak pernah belajar (beradaptasi dengan zamannya) sesungguhnya sudah mati, hanya saja belum menemukan orang yang menguburkannya (karena masih tampak hidup dan bernapas).

Lanjut ke sini.

Belajar atau Mati (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Penemuan dan penciptaan fitur terakhir, yakni 3G, hari ini telah dianggap sebagai penciptaan paling dahsyat yang ada di dalam pikiran manusia. Orang sekarang dapat berkomunikasi secara face to face, tak peduli jarak mereka terpisah sejauh berkilo-kilo meter. Sesuatu yang dulu dianggap hanya ada di dalam film-film fiksi ilmiah sekarang telah dapat diwujudkan di dunia nyata.

Tetapi baru saja kita terbuai dengan 3G, tak lama lagi kita akan dikenalkan dengan sesuatu yang jauh lebih hebat dan lebih canggih dari 3G—sesuatu yang disebut sebagai Flash-OFDM (Flash-Orthogonal Frequency Division Multiplexing). Sebagian kalangan di AS menyebut Flash-OFDM sebagai 4G (Generasi ke-4 setelah 3G). Jika Flash-OFDM telah bisa kompatibel dengan berbagai ponsel yang sekarang beredar, maka 3G yang hebat dan luar biasa itu pun akan segera tergusur.

Saya tidak bisa membayangkan penemuan apa lagi yang akan terus melengkapi kecanggihan ponsel-ponsel kita. Namun catatan ini memang bukan untuk meramalkan hal itu. Tujuan saya memaparkan hal ini adalah untuk memberikan ilustrasi betapa kemajuan selalu mengucapkan ‘selamat tinggal’ kepada apa pun atau siapa pun yang ketinggalan zaman.

Sebuah ponsel yang semahal apa pun, lambat laun harganya akan terus turun dan semakin jatuh. Mengapa? Jawabannya, mengacu pada pemaparan di atas, adalah karena selalu muncul ponsel-ponsel terbaru yang lebih canggih, dengan fitur yang lebih lengkap. Ponsel tidak dinilai dari bentuk wujudnya semata-mata—ia lebih dinilai pada kapasitas dan fitur serta kecanggihan yang ada di dalamnya.

Manusia juga tak jauh beda dengan itu. Manusia tidak semata-mata dinilai berdasarkan wujud fisiknya, namun lebih dari itu ia dinilai dan dihargai sekaligus dihormati karena sesuatu yang ada di balik fisiknya. Untuk memperoleh ‘daya jual’ dan ‘harga’ yang tinggi dalam kehidupan ini, kita tidak bisa hanya memoles wujud luar kita saja, namun yang lebih penting dari itu adalah melengkapi ‘fitur-fitur’ yang ada di dalam diri kita.

Di sinilah perlunya kita melakukan upgrading dan updating.

Nah, apa bentuk upgrading sekaligus updating yang dapat kita lakukan untuk terus meningkatkan (atau setidaknya mempertahankan) ‘harga’ dan ‘daya jual’ kita? Jawabannya begitu jelas sekaligus mutlak; yakni tidak berhenti belajar!

Kita tidak bisa berhenti meningkatkan dan memperbarui diri. Kita tidak bisa merasa sudah cukup sempurna atau merasa sudah lengkap sehingga menghentikan proses pembelajaran, karena kehidupan yang kita jalani terus-menerus menunjukkan dan membuktikan bahwa siapa pun yang tak mau meng-update dan meng-upgrade dirinya sendiri akan tersingkir.

Belajar adalah bukti adaptasi manusia terhadap perubahan kehidupan. Hidup ini memberlakukan hukum yang mutlak sekaligus brutal; beradaptasi atau punah.

Ingat dinosaurus? Kita tahu binatang ini luar biasa besar, bahkan merupakan penguasa dunia pada zamannya. Tetapi sosok yang luar biasa besar ini hancur dan punah karena tak dapat beradaptasi dengan perubahan alam dan iklim kehidupannya. Begitu pula dengan kita. Sehebat apa pun, secerdas apa pun, setinggi apa pun jenjang pendidikan yang telah kita peroleh, kita akan tersingkir dari kehidupan jika tidak mau beradaptasi dengan perubahan zaman yang sangat cepat ini.

Dinosaurus hebat pada zamannya, tapi kemudian punah karena ‘ketinggalan zaman’. Padahal, di masa sekarang, yang disebut ‘zaman’ ini durasinya singkat sekali. Lamanya tidak lagi bertahun-tahun, tapi kadang hanya beberapa bulan, beberapa minggu, atau bahkan hanya beberapa hari. Yang hebat dan luar biasa hari ini, bisa jadi sudah ‘ketinggalan zaman’ besok pagi.

Sekali lagi, lihatlah Nokia 8310. Oh, saya tidak bermaksud mendiskreditkan Nokia, karena saya pun salah satu pengguna Nokia, dan dulu juga menggunakan seri 8310. Dulu, saya rela mengeluarkan uang sampai empat juta untuk mendapatkan ponsel itu. Sekarang, uang empat juta dapat digunakan untuk memperoleh ponsel yang kualitasnya seratus kali lebih hebat dibanding Nokia 8310. Apa artinya itu? Jawabannya kembali pada updating—adaptasi pada kemajuan zaman.

Lanjut ke sini.

Belajar atau Mati (1)

Saat kau berhenti belajar, saat kau berhenti bertanya dan mencari
pengetahuan baru, maka ini adalah saat untuk mati.
Lillian Smith


Pada tahun 2000, vendor ponsel Finlandia, Nokia, memproduksi sebuah ponsel generasi baru yang kemudian menyulut revolusi dalam dunia seluler, sekaligus cikal bakal ponsel multimedia.

Pada waktu itu, mereka meluncurkan ponsel yang diklaim sebagai ponsel paling canggih dengan fitur paling lengkap, dengan ukuran paling kecil, dan dengan bentuk paling ringan, plus dilengkapi kapasitas memori yang besar—konon itulah pertama kalinya memori ponsel diperhitungkan sebagai sesuatu yang penting. Inilah ponsel yang kemudian menciptakan slogan “Begitu Kecil, Begitu Cerdas” yang legendaris itu. Ponsel apakah kira-kira yang begitu hebat itu?

Nokia seri 8310.

‘Kehebatan’ yang dimiliki Nokia 8310 bukan hanya pada bentuknya yang mungil dan adanya media penyimpanan (memori) di dalamnya, tetapi juga dapat digunakan untuk mendengarkan radio. Inilah pertama kalinya ada ponsel yang dilengkapi dengan fitur radio!

Pada masa sekarang, Nokia 8310 memang sudah tak diproduksi lagi. Karenanya, siapa pun yang ingin memilikinya harus membeli yang versi second. Terakhir saya lihat di suatu tabloid, harga ponsel ini hanya Rp. 200.000 (dua ratus ribu rupiah). Nah, berapa kira-kira harga ponsel ini pada waktu pertama kali diluncurkan? Mungkin terdengar fantastis, tetapi dulu harga ponsel ini sebesar Rp. 4.200.000,- (empat juta dua ratus ribu rupiah).

Selisih harga yang gila-gilaan, kan…?

Pertanyaannya, mengapa kenyataan semacam itu bisa terjadi? Mengapa ponsel yang pada waktu pertama kali muncul memiliki harga yang luar biasa mahal, tapi kemudian harganya turun sampai sebegitu rendah?

Ada dua jawaban untuk hal itu. Jawaban pertama tidak penting, tetapi jawaban yang kedua amat sangat penting.

Jawaban yang pertama; harga mahal untuk ponsel-ponsel itu adalah harga yang sengaja dipasang untuk dapat segera ‘mengembalikan’ biaya penelitian dan penciptaan yang telah dikeluarkan untuk ponsel bersangkutan. Harga yang mahal itu adalah ongkos untuk sebuah penelitian teknologi, dan para konsumen awalnya adalah para ‘penebus’ biaya penelitian itu. Setelah biaya penelitian tertutup dari hasil penjualan awal, maka harga pun mulai diturunkan untuk terus dapat menjaring konsumen, dan mulai memetik keuntungan.

Nah, jawaban kedua—dan yang penting—adalah karena laju perkembangan teknologi yang semakin cepat, dan persaingan antar vendor yang semakin ketat. Coba lihat ponsel milik kita. Ponsel-ponsel sekarang ini begitu hebat dan luar biasa canggih, sehingga fungsinya tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi telah jauh melampaui hal itu.

Dulu, ponsel hanya dapat digunakan untuk komunikasi suara, tetapi kemudian muncul SMS (komunikasi melalui tulisan—pesan singkat). SMS dikembangkan, dan kemudian lahir EMS. EMS dirasa belum hebat, maka diciptakanlah MMS. Hari ini, ponsel bahkan sudah dapat digunakan untuk chatting dan berkirim e-mail.

Dulu, ponsel yang baru dilengkapi radio saja sudah dianggap sebagai ponsel paling cerdas (kasus Nokia 8310). Tetapi hari ini, ponsel tidak saja dilengkapi dengan radio, tetapi juga telah dilengkapi dengan MP3, MP4, game interaktif, video, kamera, bahkan moviemaker, hingga... 3G (third generation / infrastruktur seluler generasi ketiga).

Lanjut ke sini.

Learning is Easy

Siapa yang berpikir dirinya masih hijau, dia akan tumbuh.
Namun siapa yang berpikir dirinya telah matang,
maka—sebagaimana halnya buah—dia akan segera membusuk.
Tak ada kata ber
henti,
tak ada kata akhir dan selesai untuk belajar.




Bagi para pelajar dan mahasiswa, “belajar” adalah pekerjaan wajib, karena untuk tujuan itulah mereka bersekolah atau kuliah. Tetapi, karena “diwajibkan”, aktivitas belajar pun sering kali jadi membosankan. Jarang sekali ada keasyikan dalam sesuatu yang “diwajibkan”—begitu pula kewajiban belajar. Karenanya, hari paling menyenangkan bagi pelajar dan mahasiswa adalah hari libur!

Hayoo, bukankah itu lucu…?

Kita sekolah atau kuliah dengan tujuan untuk belajar. Tetapi, di dalam aktivitas itu, waktu yang paling kita rindukan adalah waktu liburan, di mana kita bisa berhenti dari aktivitas belajar. Sekali lagi, bukankah itu lucu? Yang lebih penting dari itu, mengapa “hal lucu” semacam itu bisa terjadi? Mengapa belajar yang seharusnya menyenangkan bisa berubah menjadi semacam beban memberatkan?

Nah, buku ini ditulis dengan tujuan untuk membantu siapa pun yang ingin selalu asyik dan bergairah dalam belajar. Buku ini akan mengubah anggapan “belajar itu membosankan” menjadi “belajar itu mengasyikkan”. Ditulis dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, buku ini ditujukan untuk para pelajar—SMP, SMA, dan sederajat—juga untuk para mahasiswa. Bagi para guru dan pengajar, buku ini juga bisa dijadikan alat bantu untuk menumbuhkan motivasi belajar para siswa.

Apa sih, isi buku ini…?

Banyak sekali! Segudang tip, kiat, saran, dan panduan praktis untuk banyak hal seputar aktivitas belajar. Dari menumbuhkan semangat dan motivasi belajar, kiat-kiat belajar secara asyik dan efektif, cara memiliki konsentrasi tinggi dalam belajar, cara mudah dan asyik belajar bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, tip dan panduan jika ingin belajar secara online, kiat-kiat seputar menghadapi ujian, dan banyak lainnya.

Selain itu, buku ini juga memaparkan kiat-kiat menumbuhkan semangat dan minat membaca, serta memberikan panduan dan cara mendapatkan aneka bahan bacaan (buku, majalah, CD pembelajaran, dan lain-lain) secara gratis dari seluruh dunia. Oh ya, buku ini juga dilengkapi lebih dari 200 alamat lembaga internasional yang menyediakan aneka bahan bacaan secara gratis, sehingga siapa pun bisa menimbun bahan bacaan sebanyak apa pun, tanpa mengeluarkan uang serupiah pun!

Jadi, tunggu apa lagi? Ayo jadikan saat-saat belajar menjadi saat-saat yang paling menyenangkan dan mengasyikkan!


BUKU INI BISA DIDAPATKAN DI TOKO-TOKO BUKU
DI SELURUH INDONESIA,
ATAU DI TOKO BUKU ONLINE DI INTERNET

Pertanyaan Paling Berbahaya di Dunia



Mengapa.


Ikrar



Hari ini aku akan membawa kesehatan, kebahagiaan, dan kemakmuran kepada setiap orang yang kutemui.

Hari ini aku akan membuat semua temanku merasakan bahwa mereka penting.

Hari ini aku akan melihat ke sisi terang segala hal, dan membuat optimismeku menjadi kenyataan.

Hari ini aku akan memikirkan hanya yang terbaik, bekerja untuk yang terbaik, dan mengharapkan hanya yang terbaik.

Hari ini aku akan melupakan kesalahan dari masa lalu, dan mengejar keberhasilan yang lebih besar di masa mendatang.

Hari ini aku akan memperlihatkan wajah yang gembira sepanjang waktu, dan memberikan senyumanku kepada semua makhluk hidup yang kutemui.

Hari ini aku akan memberikan banyak waktu kepada peningkatan diri sendiri, sehingga aku tidak punya waktu untuk mengkritik orang lain.

Hari ini aku akan terlalu besar sehingga tidak khawatir, terlalu mulia sehingga tidak marah, terlalu kuat sehingga tidak takut, dan terlalu bahagia sehingga tidak memperbolehkan kedatangan kesulitan.


Melodiku



Melodi laguku tak hilang dalam arah
namun tak pasti
Melodi napasku satu-satu
tapi kupacu
Kuciptakan nada-nada
Kulukis rangkaian irama
Kuhiasi tembang-tembang cinta

Melodi hidupku pahit dan getir
namun kutelan
Melodi cintaku tak kunjung datang
tapi kutunggu

Kuayun langkah kepastian
Kutanam akar kesetiaan
Kuukir tembang kedamaian


Sabtu, 20 November 2010

Hati yang Memilih

Dedicated to Ayu Utami


Pada sisik-sisik bintang, cerlang
Sinarnya jatuh di wajah tanah
Tetapi serbuk yang benderang
Dan serbuk bintang memeluk kekal

—Hoeda Manis, The Divine Melody


Pada malam-malam tak terhitung, orang-orang menunggu bintang jatuh—dan Neil Gaiman menggambarkan bintang jatuh adalah sesosok putri. Desa Tembok, kata Neil Gaiman, adalah tempat di mana batas khayal dan nyata menjadi kabur, karena seseorang dapat memasuki desa di balik dinding, dan kemudian memasuki dunia yang sama sekali baru. Yang khayal di dunia nyata menjadi faktual di sana.

Yang mungkin tidak diketahui banyak orang adalah fakta bahwa khayal dan faktual hanyalah soal pilihan—ia menjadi milik siapa pun yang menginginkannya, yang memilihnya. Seperti dalam “Stardust” yang diceritakan Neil Gaiman, seseorang dapat pergi meninggalkan tempat tinggalnya untuk memasuki desa asing di balik dinding, kemudian menjalani khayal-yang-dianggap-banyak-orang.

Desa Tembok—itulah sebutannya. Dan karena tertutup tembok, serta dijaga orang-orang bersenjata, tidak setiap orang berani masuk ke sana. Lebih dari itu, tidak setiap orang mau pergi ke sana.

Tetapi di balik Tembok itulah kehidupan yang luar biasa terhampar—tempat keajaiban terjadi, pelangi bernyanyi, dan bintang jatuh ke tanah. Di sana, sesuatu yang telah dimustahilkan menjadi kenyataan sehari-hari, dan khayal-impian adalah kebenaran yang terjadi. Orang-orang di luar Tembok tidak tahu orang-orang di dalam Tembok hidup dengan keajaiban.

Dan Tembok itu, seperti juga ada di sana, juga serupa yang ada di sini. Tembok itu dibangun oleh manusia yang tidak menginginkan seorang pun dari desa ini masuk ke sana. Berbahaya, kata Neil Gaiman. Tetapi dia bercanda. Kebenaran sesungguhnya adalah karena manusia ketakutan menyaksikan keajaiban, terlalu kerdil untuk melangkah di atas serbuk bintang.

Manusia membangun Tembok—dan Tembok itu berdiri kukuh dengan angkuh, menghalangi siapa pun yang ingin menerobosnya. Mereka menuliskan setumpuk aturan mengenai Tembok itu dan segala macam larangan untuk tidak menembusnya. Tetapi, kata Kahlil Gibran, “Hanya orang idiot dan para genius yang melanggar aturan manusia. Dan hanya merekalah yang paling dekat ke Hati Tuhan.”

Intinya adalah hati—tetapi Tembok itu tidak dibangun dengan hati, melainkan dengan nafsu yang naif, kebutaan yang daif. Mereka ketakutan jika siapa pun memasuki tempat-di-balik-Tembok, dan kemudian menjaga Tembok itu dengan para penjaga bersenjata—penjaga yang sama naif dan buta. Yang mereka lakukan hanya menjaga, berdiri seolah penguasa, kemudian memutuskan vonis atas siapa pun yang masuk ke sana.

Di dalam kebutaan serta kenaifan itulah hati dimakamkan. Ia menjadi musuh siapa pun yang membangun dan memihak Tembok itu—bongkah berhala yang seharusnya telah dimusnahkan demi kesadaran dan pencerahan. Tetapi tidak, para pembangunnya sama angkuhnya dengan Tembok yang telah dibangunnya. Begitu pun para pemujanya.

Manusia membangun Tembok—dinding pembatas antara “sini” dan “sana”, antara hitam dan putih, antara benar dan salah, antara “kita” dan “mereka”.

Yang ada di sini benar, dan yang masuk ke sana salah. Tetapi nilai siapakah yang digunakan dalam menakar keabsahannya? Nilai yang ada di sini, ataukah nilai yang ada di sana? Siapakah yang berhak menyatakan di sini benar dan di sana salah, padahal Tembok itu dibangun manusia yang tak pernah lepas dari kemungkinan bersalah…?

Bertanyalah kepada hati, kata Susanna Tamaro. Va dove ti porta il coure. Tetapi apakah Tembok itu dibangun dengan hati? Atau dengan logika? Atau bahkan jika Tembok itu dibangun dengan hati dan logika, mengapa harus dijaga dengan sebegitu kukuh agar manusia tak bisa memasukinya? Dan jika manusia tak boleh masuk ke sana, lalu apa atau siapakah manusia?

Di bilik-bilik keangkuhan yang buta itulah manusia bersembunyi, dengan bibir yang menyanyi tetapi hati tak pernah pasti. Mereka memilih, tapi tidak—bukan mereka yang memilih. Para pembangun Tembok itulah yang memberikan pilihan untuk mereka pilih, dan kemudian orang-orang berusaha percaya bahwa itulah pilihan mereka.

Dan di saat-saat hening… ketika sebagian kecil dari mereka memberi kesempatan kepada hati untuk berbicara, mereka kadang menemukan, dan tahu, bahwa jalan yang telah mereka pilih adalah kebohongan yang dipaksakan ke dalam diri. Tetapi mereka telah terpenjara di dalamnya, terikat oleh belenggu mayoritas dan suara teriakan massa. Mereka yang malang itu kemudian terpaksa menerima, dan menyadari bahwa ada sesuatu di balik Tembok… tetapi mereka tahu tidak akan dapat memasukinya hingga ajal tiba.

“Kita semua adalah korban, Anselmo,” tulis H.L. Dietrich dalam ‘A Final Destiny’, “Nasib kita ditentukan oleh bergulirnya dadu jagat raya, pengaruh rasi bintang, dan arah angin keberuntungan, yang diembuskan dari kincir angin para dewa.”

Dan di sini, kita semua adalah korban—makhluk-makhluk fana yang terus dijauhkan dari pencerahan untuk dapat memahami dirinya—bukan oleh Tuhan, tetapi oleh makhluk yang sama fananya. Di luar Tembok inilah kita hidup, bersama undang-undang yang dibuat oleh tangan-tangan manusia, setumpuk daftar aturan untuk vonis, “yang diembuskan dari kincir angin para dewa”.

Intinya adalah hati, tetapi undang-undang dan peraturan tak pernah ditulis dengan hati—ia ditulis dengan tinta kemungkinan dan aksara kewajaran.

Tetapi mungkin bagi siapa, dan wajar untuk siapa? Yang mungkin di sana tidak mungkin di sini, sebagaimana yang wajar di sini belum tentu wajar di sana. Bintang jatuh, kata Neil Gaiman, adalah seorang putri. Tetapi siapa yang tahu kenyataan itu jika para pembuat undang-undang selamanya hidup di sini? Siapa yang menyadari bahwa kita semua dapat menyentuh serbuk bintang, jika Tembok besar dibangun sebagai penghalang?

Di sini, orang-orang menunggu bintang jatuh—setiap malam. Di sana, orang-orang melangkah bersama bintang jatuh—setiap malam. Di bawah langit yang sama, ada dua tempat yang berbeda, visi dan hati yang berbeda, tetapi Tembok dibangun untuk membutakan semua mata kita—dan mereka akan mencungkil mata siapa pun yang mencoba terbuka.

Jadi benarlah solilokui Rumi saat ia menari, bahwa “kita terlahir dalam keadaan tidur, kita hidup dalam mimpi, dan kita mati sebelum sempat terbangun.” Orang-orang di luar Tembok adalah mata yang tertidur, atau bermimpi—dan orang-orang yang melangkah ke dalam Tembok mulai terbangun, tetapi dihadang wajah-wajah keangkuhan, sederet janji dan ancaman.

Intinya adalah hati. Terpujilah hati yang memilih.

Terpujilah hati yang memilih—meski pilihan itu bertentangan dengan suara mayoritas, menembus Tembok keangkuhan, mendendangkan kesendirian…

Oh, terberkatilah hati. Terberkatilah hati yang memilih.


Selamat ulang tahun, Aunt Ayu Utami.
Semoga selalu dalam limpahan kasih Tuhan,
semoga selalu diberkati ketetapan hati.

Dengan hormat dan kasih,
Hoeda Manis

Sound of Silent

Kalau kita memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu, tetapi kemudian tidak melakukannya, dan kita memiliki alasan mengapa tidak melakukannya, dan alasan-alasan itu sepanjang sejak hari kelahiran sampai saat kematian kita, maka kesimpulannya hanya satu: Kita tidak melakukannya!

Sejarah tidak pernah mencatat alasan kita, dan sungguh tidak peduli apa pun alasan kita. Sejarah hanya mencatat apa yang telah kita lakukan. Kalau kita tidak melakukannya, maka artinya hanya satu: Kita memang tidak melakukannya!

Jadi, diam dan mulailah kerjakan apa yang memang ingin kita lakukan. Alam semesta menjadi saksi yang kita lakukan, meski kita melakukannya dalam diam.

Minggu, 14 November 2010

Satu Tahun Blog Ini



Dunia maya telah memperkenalkan kemungkinan lahirnya kehidupan yang lebih menarik; kehidupan di mana individu ternyata bisa menjalankan kebebasan, tapi pada saat yang sama memilih untuk berbagi.
—Goenawan Mohamad


Tidak terasa, satu tahun sudah terlewati. Ketika pertama kali membuat blog ini dan menulis post pertama, saya merasa itu baru kemarin. Yeah, setidaknya seperti baru sebulan yang lalu. Tapi ternyata sudah satu tahun yang lalu. Di side bar, tumpukan daftar bulan sudah menunjukkan bahwa blog ini—yeah, blog ini!—telah lahir di dunia maya selama satu tahun. Oh, rasanya sulit dipercaya—satu tahun!

Selama satu tahun ini kita telah belajar bersama, berpikir dan merenung dan tertawa dan tersenyum bersama, dan bulan-bulan yang kita lewati ini sungguh menyenangkan bagi saya. Sebegitu menyenangkannya, hingga saya tidak merasa kalau waktu satu tahun telah terlewati. Saat menengok deretan judul post yang ada di sini, saya benar-benar takjub, “Wow, aku nggak ngira udah nulis sebanyak ini!”

Hari ini, satu tahun yang lalu, saya menulis post pertama, dan berpikir, “Aku telah melangkah. Kemana aku akan melangkah, aku belum tahu—tapi yang jelas aku telah mulai melangkah.”

Dan kalian kemudian datang, menemani langkah saya—langkah demi langkah. Kalian menggandeng tangan saya, menjadi kawan-kawan belajar saya, dan tak pernah bosan memberikan masukan, saran, serta menepuk lembut bahu saya, hingga membuat saya terus semangat dan semakin asyik belajar bersama kalian. Tumpukan post di blog ini, kawan-kawan, adalah bukti nyata bahwa kita telah melewati waktu-waktu belajar yang menyenangkan.

Beratus-ratus email kalian pernah menghangatkan malam-malam saya, pernah menemani kesepian saya, selalu mampu menciptakan senyum di bibir saya, juga selalu memotivasi saya agar terus belajar, agar dapat memberikan yang terbaik dari diri saya untuk kalian—dan lebih baik lagi.

Jika ada ucapan yang lebih baik dan lebih manusiawi dibanding “Terima Kasih”, saya ingin menyatakannya kepada kalian. Tak terhitung banyaknya rasa syukur saya karena memiliki kawan-kawan belajar seperti kalian. Semoga perjalanan satu tahun ini merupakan awal yang menyenangkan—untuk terus melangkah menuju perjalanan yang lebih menyenangkan.

Selama satu tahun ini, saya berharap telah cukup memenuhi banyak permintaan kalian di blog ini, meski masih buanyak permintaan lain yang belum sempat saya penuhi. Tapi percayalah, selama saya masih bisa menulis, saya akan berupaya menuliskannya untuk kalian.

Dan karena ini post istimewa—yeah, namanya juga posting edisi ulang tahun—saya ingin menyuguhkan yang teristimewa untuk kalian. Berikut ini saya tampilkan beberapa email dari kalian, yang saya anggap mewakili isi email teman-teman yang lain. Setiap bulan saya menerima banyak sekali email, jadi mohon dimaklumi kalau saya tidak bisa memposting email kalian semuanya.

So, kalau kebetulan emailmu muncul di bawah ini, silakan tepuk tangan. Kalau tidak, yakinlah bahwa emailmu tetap berarti bagi saya, dan tetaplah tepuk tangan. *Maksa*.

Plok-plok-plok….


Saya salah satu pembaca blogmu yang benar-benar jatuh cinta dengan catatan-catatanmu. Kamu menulis banyak hal, dan selalu mampu membuat saya penasaran dan menebak-nebak apa lagi yang akan kamu tulis selanjutnya. Catatan-catatanmu telah memberikan banyak ilmu serta manfaat bagi para pembacamu. Mencerahkan, sekaligus memberikan banyak pengetahuan dan wawasan baru.

Kalau saya boleh meminta, tolong dong jangan hanya satu post per hari, karena saya masih merasa kurang jika hanya membaca 30 post per bulan. Mungkin akan lebih baik kalau kamu membuat 3 posting per hari, jadi saya dan para pembaca yang lain akan lebih “marem” membacanya.

Alfian Muhammad, via Gmail


Halo Alfian, hoho, satu posting per hari masih kurang ya? Hebat!

Saya tentu ingin memenuhi permintaan ini—kalau saja bisa. Yeah, mungkin akan lebih baik kalau per hari ada tiga sampai lima posting, atau seratus posting setiap bulan. Tapi kalau saya membuat seratus post setiap bulan, waktu saya bakal habis untuk blog ini, dan saya jadi tidak bisa melakukan hal lain. Nah, kalau sudah begitu, terus siapa yang akan kasih nafkah buat anak istri saya?

(Halah! Emang kamu udah punya anak istri, pal?)

Ya, ya, saya belum punya anak istri. Tapi sepertinya sulit bagi saya untuk memenuhi permintaan ini. Mungkin kalau saya punya kemampuan melipatgandakan diri menjadi tiga atau lima orang (semacam bajingan mutan dalam film X-Men), saya baru bisa memenuhi permintaan ini.

Andaikan saya bisa melipatgandakan diri menjadi lima orang, saya akan membagi tugas seperti ini: Tiga orang diri saya akan bertugas menulis post untuk blog ini (agar permintaan kalian bisa saya penuhi), satu orang lagi akan bekerja nyari duit, satu orang lainnya lagi kelayapan nyari pacar! Itu pasti kondisi yang sangat ideal. Tapi, haduh, ini baru “andai-andai”…!

Jadi, untuk sementara, cukup satu post dulu per hari, ya. Nanti, kapan-kapan kalau saya ketemu Magneto di jalan, dan dia berkenan mengubah saya menjadi mutan, saya akan memenuhi permintaan kalian. :P

***

Saya benar-benar tak habis pikir dengan posting-postingmu. Kalau membaca catatan-catatanmu di blog, kadang saya tidak paham dengan maksud catatanmu. Saya bahkan kadang-kadang tidak paham sama sekali dengan apa yang kamu maksudkan dalam catatan itu—khususnya yang ada dalam label Soliloquy.

Tetapi, anehnya, saya bisa asyik membaca catatan itu, menikmati kata-kata yang kamu tulis, meski saya tetap saja tidak paham dengan apa yang saya baca. Lebih parah lagi, saya seperti kecanduan dengan blogmu, hingga terus datang dan datang lagi untuk membaca tulisan-tulisanmu, meski tetap saja kadang saya tidak bisa paham dengan isinya.

Hayooo, kenapa keadaan semacam ini bisa terjadi? Apa jangan-jangan kamu pakai pelet di blogmu ya…??? :)

Riana Damayanti, via Yahoo!


Oh, Riana, saya bahkan tak pernah berpikir sejauh itu. Kalau memang saya bisa menggunakan pelet, maka kamu yang akan saya pelet pertama kali. Hehe…

Ehm, post-post yang ada dalam label Soliloquy memang tidak semuanya ditulis dengan gamblang, dalam arti ada cukup banyak puisi atau prosa liris/naratif yang saya tulis tidak dengan maksud agar dipahami oleh pembaca, namun sekadar untuk menuangkan uneg-uneg saya. Jadi kalau kebetulan ada post dalam label itu yang tidak kamu pahami, itu sungguh wajar. Para pembaca yang lain juga kadang begitu, kok.

Terus, kenapa kamu bisa kecanduan? Nah, ini yang agak merisaukan saya, karena beberapa pembaca yang lain juga merasakan hal yang sama. Saya risau dan khawatir, karena kalau semakin banyak orang yang kecanduan seperti kamu, nanti pemerintah akan memasang tagline di blog ini yang berbunyi, “Blog ini dapat menyebabkan kanker, serangan jantung dan gangguan kehamilan…” Lebih parah lagi kalau MUI sampai tahu, bisa-bisa mereka akan mengeluarkan fatwa pengharaman atas blog ini.

Jadi, kalau kamu merasa kecanduan, sebaiknya jangan kecanduan blog ini. Tapi kecanduanlah pada pemiliknya. Lho…???

***

Di antara semua postingmu di blog, aku paling sukaaaaa banget dengan post-post yang ada di label Studitainment. Menurutku, itu sesuatu yang orisinal. Kamu menulis tentang artis dan selebritis, namun dengan cara yang cerdas dan memberikan inspirasi bagi pembacanya. Pokoknya top banget!

Kalau bisa, banyak-banyakin dong, post di Studitainment! Kalau bisa juga nih, aku request post tentang Lady Gaga dan Melly Goeslaw, ya. Soalnya aku ngefans banget sama mereka. Aku yakin, kamu pasti bisa menulis tentang mereka dengan inspiratif seperti kamu menulis artis-artis lainnya. Ditunggu, lho…

Nur Aini, via Yahoo!


Oke, nanti sambil jalan saya akan terus memperbanyak post di label itu, seperti yang kamu inginkan.

Soal request…? Hoho, rasanya kok jadi kayak stasiun radio ya? (Mbak, request lagu anu dong!).

Tapi, Nur Aini, yang request di Studitainment itu bukan hanya kamu, lho. Saya juga mendapatkan banyak “request” dari pembaca lain, dan daftar nama artis yang di-request sudah menumpuk nunggu giliran dibahas. Sekadar bocoran, berikut ini adalah nama-nama artis dan selebritis yang akan segera kita obrolkan di Studitainment, berdasarkan request teman-teman: Madonna, Mozart, David Beckham, Marilyn Monroe, Britney Spears (lagi!), Ahmad Dhani, Nike Ardila, Within Temptation, Steve Emanuel, dan sekitar 40-an nama lainnya.

Jadi kamu tunggu saja, ya. Giliran artis kesayanganmu bakal muncul, deh. Atau, mungkin akan lebih bagus kalau saya menulis tentang kamu saja? Hehe…

***

Halo, Hoeda Manis, salam kenal ya. Saya mahasiswa semester lima, dan saya kuliah di kampus tempatmu dulu kuliah. Saya mengenal namamu dari kakak-kakak angkatan di kampus. Saya juga sempat membaca beberapa edisi majalah yang dulu kamu terbitkan di kampus, yang kemudian dibredel pihak rektorat. Hehe, top banget majalahmu itu!

Waktu membaca tulisan-tulisanmu di majalah itu, saya langsung cinta mati! Gaya menulismu di majalah itu sangat gahar sekaligus radikal, lain dari yang lain. Waktu membacanya, saya seperti menikmati lagu-lagunya Metallica. Hehehe…

Saya juga selalu mengikuti tulisan-tulisanmu di blog, dari awal sampai sekarang. Tapi kenapa kamu tidak menulis dengan gaya seperti di majalah itu? Saya ingin kamu menulis seperti dulu di majalah itu, dan saya yakin para pembaca blogmu akan berpesta pora menyambutnya.

M. Ridlwan, via Yahoo!


Halo, Ridlwan, salam kenal juga ya. Senang kalau kamu menyukai yang saya tulis. Dan mengenai majalah-majalah di kampus itu… hehe, memangnya masih ada mahasiswa yang mengoleksinya, ya? (Halo, bocah-bocah di kampus saya dulu, apa kabar…?).

Mengenai usulmu agar saya menulis dengan gaya radikal seperti yang kamu baca di majalah, haduh, sepertinya saya sulit memenuhinya. Saya sih oke-oke saja menulis dengan gaya semacam itu. Tapi bagaimana kalau kemudian Google dan Blogger bersepakat membredel blog ini? Lha piye…???

***

Hei, Hoeda Manis, kalau kamu diminta menyebutkan tiga kata untuk mendeskripsikan dirimu, apa tiga kata itu?

Ika Novianti, via Gmail


Aku sayang kamu—pas tiga kata, kan? Sini, duduk dekatku.

***

Katanya, para kutubuku bisa betah membaca sampai berjam-jam tanpa henti karena merasakan kenikmatan saat membaca. Sejujurnya, saya tidak paham apa maksudnya, karena saya bukan kutubuku. Tetapi, saat membaca tulisan-tulisanmu, saya seperti mulai paham “kenikmatan” yang dimaksud.

Tulisan-tulisanmu tidak hanya memberikan wawasan dan pengetahuan baru, tetapi juga memberikan kenikmatan tersendiri saat membacanya. Saya sering harus membuka kamus bahasa ilmiah saat membaca tulisan-tulisanmu. Tetapi kerepotan itu sebanding dengan kenikmatan yang saya dapatkan. Terima kasih untuk semua yang telah kamu tulis.

Ryanni Djangkaru, via Gmail


Saya jadi pengin nangis karena terharu waktu membaca email ini. Apa sampai segitunya, ya…? Terima kasih juga, Ryanni, karena sudah mau repot saat membaca tulisan-tulisan saya.

Tapi, omong-omong, ini Ryanni Djangkaru yang ‘itu’ apa bukan? Kalau benar ini Ryanni Djangkaru yang sering muncul di teve itu, haduh, saya bakalan nangis betulan!

***

Halo, Hoeda, salam kenal. Saya Erik, dan saya kuliah di fakultas filsafat di Yogya. Saya menemukan blogmu, karena kesasar waktu nyari quotes seputar Descartes. Begitu “mengobrak-abrik” isi blogmu, saya langsung merasa cocok. Blogmu benar-benar lengkap, sekaligus asyik! Kamu membahas hal-hal berat dengan gaya santai dan mudah dipahami. Tokoh-tokoh yang kamu tulis di blog banyak sekali memberi manfaat, khususnya buat saya.

Kalau boleh usul, perbanyak studi tokohnya dong, khususnya tokoh-tokoh filsafat. Saya senang sekali waktu membaca tulisanmu mengenai Oscar Wilde dan filsafat Eksistensialis itu. Caramu menjelaskan topik itu sangat asyik, hingga pembaca bahkan tidak sadar kalau sedang diajak mempelajari topik yang sangat berat. Salut!

Sterik744, via Yahoo!


Hei, Erik, salam kenal balik. Senang kalau tulisan saya bisa memberikan manfaat. Mengenai tokoh-tokoh lain, akan saya usahakan sambil jalan. Tidak selalu harus tokoh filsafat, kan? Soalnya, pembaca blog ini juga ada yang ngefans film bokep, jadi sekali-sekali saya mungkin juga perlu membahas tokoh bokep. Hehehe…

Well, jawaban ini juga ditujukan untuk teman-teman lain yang telah mengirim email serupa. Uh, bukan soal bokep—tapi soal tokoh-tokoh itu tadi. Pokoknya ditunggu saja! Saya tahu kok, apa yang kalian inginkan—Milan Kundera, benar? Juga Nietcszhe, Hegel, Karl Marx, Descartes, Jean Paul-Sartre, Immanuel Kant, Aldous Huxley, Maria Ozawa, Sena Ayanami, Asia Carrera… (Halah!!!)

***

Dear Hoeda Manis.

Namaku Icha. Aku salah satu pembaca buku-buku karyamu, sekaligus fans berat blogmu. Aku sukaaa banget dengan tulisan-tulisanmu yang romantis abis! Banyak-banyak nulis yang romantis kaya gitu, dunk! Kalau boleh nanya, tulisan-tulisan yang romantis itu, pengalaman pribadi ya?

Aku baru membaca empat bukumu (1 fiksi dan 3 nonfiksi). Tapi kenapa kamu nggak menulis buku yang romantis seperti dalam blogmu? Nulis buku yang romantis juga, dunk!

PS:
Semanis apa sih, kamu? :P

Laurel Icha, via Gmail


Hei, Icha, tulisan-tulisan yang romantis itu bukan pengalaman pribadi, kok. Itu pengalaman tetanggaku. Jadi dia cerita sama aku, terus aku menuliskannya di blog. Hehe… *ngasal*. Iya deh, ntar aku usahakan untuk sering-sering nulis yang romantis.

Soal buku, kira-kira nulis apa ya, yang romantis? Pengin juga sih, nulis buku yang romantis abis, biar pembaca yang cewek mendekapnya saat tidur. Hehe. Kapan-kapan deh, kalau sudah menemukan ide yang pas.

PS:
Semanis yang ada di hatimu, dear.

***

Halo, Hoeda, masih ingat saya? Mungkin nggak, ya. Saya Nailal Fahmi. Dulu pernah mengenal tulisan-tulisanmu waktu di kampus. Saya mencari tulisan-tulisanmu di internet mungkin sejak setahun yang lalu, tapi entah kenapa baru ketemu sekarang.

Nailal Fahmi, via Gmail


Teman-teman, perkenalkan, si Nailal Fahmi ini dulu adik angkatan saya di kampus. Dia merupakan “penggemar” saya yang paling fanatik. Buktinya, waktu saya drop out dari kampus, dia juga ikutan drop out. Hehehe...

Sekarang dia juga sudah menulis buku, lho. Buku pertamanya, ‘Badung Kesarung’, diterbitkan oleh penerbit Bukune.

Dan, omong-omong, Fahmi, sepertinya kamu perlu mengirimkan bukumu buat saya. Pertama, karena saya masih ingat kamu. Dan kedua, karena saya telah mempromosikan bukumu di sini. Hehe...

***

Da’, kamu tuh kalau bikin posting seenaknya sendiri ya. Masak posting kok isinya cuma satu kalimat, atau malah cuma satu kata? Pas lebaran kemarin lebih parah lagi, postingmu hanya berupa judul tanpa isi sama sekali.

Haloooo, kamu bisa jelaskan ini secara akademis? Hayyoo!

Nindya Paramitha, via Gmail


Huahahahahahaaaaaa…!!! *ketawa setan*

Saya selalu tak bisa menahan senyum kalau menerima email seperti ini. Well, ini jawaban akademisnya. Saya memang suka ‘menabrak’ hal-hal yang lazim—termasuk dalam kelaziman posting di blog. Selama ini, mungkin orang beranggapan bahwa posting tuh harus beberapa paragraf, beberapa alinea, pendeknya harus berupa sebuah tulisan yang utuh.

Saya sengaja menerobos kelaziman seperti itu. Kalau ingin menulis post yang panjang, saya tak peduli sepanjang apa post itu. Begitu pun, kalau post itu hanya memerlukan sebaris kalimat atau sebuah kata saja, saya pun akan menulisnya sesingkat itu—hanya satu kalimat atau satu kata saja. Bahkan umpama post itu sama sekali tidak membutuhkan kalimat atau kata apa pun, saya akan dengan ‘lugu’ mempostingnya seperti itu (hanya judul—tanpa satu kata pun sebagai isi).

Tetapi, meski begitu, selama ini post-post di blog ini cukup variatif, kan? Kadang sangat panjang, kadang sangat pendek, kadang pula sedang-sedang saja.

Jadi, Mitha, begitu ya, jawaban akademisnya. Semoga kamu puas. Kalau pun kamu belum puas, yeah… saya kan bukan lelaki pemuas! :D

***

Hai, Hoeda Manis. Kamu penulis kesayanganku! Pokoknya, apa saja yang kamu tulis, aku pasti membacanya. Aku juga penasaran sekali denganmu, hehe…

Kalau bisa, sering-sering menulis tentang dirimu di blog, dong, biar para pembacamu makin bisa mengenalmu. Kalau kamu murah hati membagikan ilmu, kamu juga tidak boleh pelit membagikan cerita tentang dirimu. Ditunggu, lho…

Queen Mumtaz, via Gmail


Hei, Queen Mumtaz, namamu cantik sekali! Thanks ya, sudah menyukai tulisan-tulisan saya.

Sebenarnya kan saya sudah cukup sering menulis kisah tentang diri saya di blog ini? Apa masih kurang, ya? Coba deh, buka-buka lagi isi blog ini, pasti kamu akan menemukan cukup banyak catatan atau kisah mengenai diri saya.

Tapi, kalau pun itu ternyata masih dianggap kurang, ya ntar deh, sambil jalan nanti saya akan memenuhi permintaanmu. Ditunggu saja, ya.

***

Halo, Mas Hoeda, salam kenal ya. Saya Taufik Ismail. Bukan, bukan penyair terkenal itu kok. Saya baru kuliah semester awal. Hanya nama saya yang mirip penyair terkenal itu. Hehe…

Saya cuma mau ngasih tahu, blog punya Mas benar-benar top! Penuh wawasan sekaligus inspiratif. Saya jadi termotivasi untuk makin rajin belajar setelah membaca tulisan-tulisan Mas di blog. Saya ingin sekali bisa menulis banyak hal seperti Mas. Menurut saya, tulisan-tulisan Mas tuh sangar tapi asyik! Terus menulis, Mas!

Taufik Ismail, via Gmail


Sangar tapi asyik! Sepertinya, itu pujian paling hebat yang pernah saya dengar.

Salam kenal juga, Taufik. Semoga kamu bisa sehebat Taufik Ismail yang penyair itu ya. Terus rajin belajar!

***

Dari tema-tema berat yang bikin kepala puyeng, sampai catatan-catatan sinting yang membuat pembaca ngakak di depan kompie, dari Al-Hallaj sampai Bung Hatta, dari Habil-Qabil sampai Britney Spears, dari post-post yang garang sampai puisi-puisi yang romantis. Hanya satu komentar untuk blogmu: Top Banget!

Baru kali ini aku nemu blog yang komplit, asyik, sekaligus inspiratif seperti ini. Semoga sepuluh tahun yang akan datang, blog ini tetap eksis dan makin banyak dibaca!

Qomarudin Hidayat, via Gmail


Semoga sepuluh tahun yang akan datang, blog ini tetap eksis dan makin banyak dibaca! Amiin…


Catatan Harian itu…

Aku menulis untuk masa setelah aku tiada di dunia ini.
Anne de Noailles


Nederland, Belanda, 1929.

Perang Dunia II sedang berkecamuk dengan dahsyat. Saat itu Belanda tengah dikuasai oleh Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler yang kejam. Tentara Nazi yang menduduki Belanda tersebut melakukan gerakan penangkapan besar-besaran terhadap warga keturunan Yahudi untuk dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. Gerakan ini kelak akan dicatat oleh sejarah sebagai peristiwa Holocaust (pembasmian orang Yahudi oleh tentara Nazi).

Tepat pada tanggal 12 Juni 1929, lahir seorang anak perempuan yang kemudian diberi nama Anne Frank, buah cinta dari pasangan Belanda, Otto Frank dan Edith Frank-Hollander. Bayi perempuan ini lahir di tengah kecamuk perang dunia dan dalam ancaman maut pasukan Nazi.

Tiga belas tahun kemudian, 1942, bayi perempuan itu telah merayakan hari ulang tahunnya yang ke-13 tahun. Di hari ultahnya itu dia mendapatkan hadiah sebuah buku harian. Saat itu, dia sama sekali tidak menyadari bahwa kelak namanya akan dikenang abadi berkat buku harian itu.

Sementara Perang Dunia II belum juga reda. Dan karena terdesak oleh politik akibat kebijakan anti-semitisme yang diterapkan Adolf Hitler beserta Nazi-nya, maka pada tanggal 6 Juli 1942 Anne Frank sekeluarga bersembunyi di Achterhuis, Rumah Belakang, dan terisolasi dari dunia luar.

Selama dua tahun lebih mereka hidup dalam ketakutan, ketegangan, dan kebosanan, sementara mereka tak berani sedikit pun meninggalkan tempat persembunyian yang terisolasi itu. Karena sedikit saja keberadaan mereka tercium oleh tentara Nazi, nyawa mereka sekeluarga akan segera melayang.

Dan selama dalam persembunyian itu pula, Anne menulis apa saja yang ia pikirkan, ia rasakan, dan yang ia alami. Semuanya ia tulis dalam buku harian yang ia dapatkan sebagai hadiah ulang tahunnya itu.

Yang terutama membuatku cemas, lebih dari yang bisa aku katakan, adalah kenyataan bahwa kami tak boleh keluar. Aku selalu takut tempat persembunyian kami ditemukan dan kami ditembak. Semua itu sungguh bayangan yang tidak menyenangkan.

Hebatnya, dalam keadaan seperti itu pun, Anne tidak cuma mengeluh dan memikirkan dirinya sendiri. Dia juga teringat teman-temannya di luar sana. Jangankan bersembunyi di tempat yang ‘nyaman’ seperti dirinya, makan pun mereka sangat kesulitan.

Jika di Nederland saja sudah sebegini buruk, bagaimana pula kehidupan orang-orang yang diangkut ke daerah-daerah lain yang jauh dan masih terbelakang? Kami menduga sebagian besar mereka dibunuh. Radio Inggris menyiarkan, mereka dibunuh di kamar gas. Mungkin itu cara membunuh yang paling cepat. Aku benar-benar ngeri…

Karena itulah, Anne juga menulis protes keras di buku hariannya.

Mengapa setiap hari jutaan uang dikeluarkan untuk biaya perang, tapi tidak satu sen pun untuk ilmu kedokteran, untuk seniman, dan untuk orang-orang miskin? Kenapa orang harus mati kelaparan, padahal di bagian lain dunia ini makanan berlimpah hingga membusuk? O, mengapa manusia sedemikian gila?

Pada tanggal 1 Agustus 1944, Anne menulis untuk kali terakhir di buku harian kesayangannya itu. Karena tiga hari kemudian, 4 Agustus 1944, dia beserta seluruh keluarganya yang bersembunyi di Rumah Belakang ditangkap. Entah, siapa yang telah mengkhianati mereka.

Anne, ibu, dan kakaknya (Margot Frank) akhirnya tewas di kamp konsentrasi Nazi. Sementara Otto Frank, ayah Anne, yang dibuang secara terpisah, ‘terselamatkan’ oleh keadaan yang semakin berkembang menjadi lebih baik, yaitu meredanya Perang Dunia. Ia kemudian dibebaskan oleh tentara Rusia pada akhir Januari 1945. Ayah Anne inilah yang kemudian berusaha keras dan berhasil menerbitkan buku harian Anne pada tahun 1947. Bahkan kemudian buku itu disandiwarakan dan difilmkan.

Padahal, meski kemudian akhirnya mencita-citakan, pada awalnya Anne Frank tak pernah membayangkan, apalagi menduga, bahwa kelak jutaan orang di dunia akan membaca dan menikmati catatan-catatannya. Sebagaimana yang ia tulis di buku hariannya,

Bagi orang sepertiku, menulis catatan dalam buku harian merupakan suatu pengalaman tersendiri. Bukan hanya karena aku belum pernah menulis sesuatu, melainkan juga ada kekhawatiran pada suatu hari nanti, aku atau orang lain sama sekali tidak tertarik membaca tulisan seorang gadis berusia tiga belas tahun.

Tapi begitulah, Anne benar-benar salah duga. Sejak diterbitkan, buku itu seperti menjadi ‘bacaan wajib’ bagi siapa pun yang peduli pada nasib anak-anak dan masa depan manusia di tengah-tengah ‘permusuhan yang sering kali tidak masuk akal’—saling bunuh hanya karena perbedaan warna kulit, etnis, atau karena haluan politik.

Buku harian yang ditulis Anne Frank tersebut kini telah diterjemahkan oleh hampir seluruh bahasa di dunia, dan telah memberi kontribusi besar bagi perdamaian umat manusia. Buku itu semacam jeritan polos anak manusia yang tidak mampu memahami ‘kesibukan’ dan ‘kebodohan’ orang-orang dewasa.


*) Kata-kata yang dicetak miring diambil dan diterjemahkan dari buku harian Anne Frank (The Diary of a Young Girl: The Definitive Edition, terbitan Anchor Book Doubleday, 1995).

Spiderman, X-Men, dan Buku

You are… amazing!
—Mary Jane Watson kepada Spiderman,
di suatu malam di bawah gerimis

Just… don’t move!
—Charles Xavier kepada Logan Wolverine,
saat berada di dalam Cerebro


Ini post soal buku. Email berikut ini membahas Spiderman dan X-Men—suatu tema yang juga terdapat dalam beberapa email yang telah dikirim teman-teman lain. Karena email berikut ini paling panjang dan paling lengkap, saya sengaja hanya memposting email ini, dengan harapan isinya dapat mewakili isi email teman-teman lain yang membahas tema serupa. Email berikut ini dikirim oleh Edwin Yanuar.

***

Sekitar dua tahun yang lalu, saya membaca sebuah buku mengenai Spiderman yang ditulis seorang penulis Indonesia. Saya membeli buku itu karena saya menyukai Spiderman. Tetapi, saya benar-benar kecewa ketika membaca isinya, dan mendapati buku itu ternyata berisi “caci-maki” dan ajakan untuk membenci Spiderman—dengan dasar-dasar yang diajukan si penulis (yang menurut saya hanya interpretasi yang terlalu dangkal dan berlebihan, dilandasi kebencian yang kekanak-kanakan).

Sampai kemudian saya menemukan salah satu post di blogmu, berjudul Huruf “S” di Dada Superman. Saya takjub saat membaca post itu, karena kamu menulisnya dengan semangat belajar, bukan berdasar kebencian. Saya juga pernah mendapatimu meng-quote ucapan Magneto dalam film X-Men, yang menurut saya sangat inspiratif. Di halaman profilmu, saya mendapati kamu juga menjadikan Spiderman sebagai film favoritmu.

Nah, saya jadi tertarik, bagaimana kalau kamu menulis buku yang secara khusus membahas Spiderman atau X-Men, dengan cara seperti kamu membahas Superman dalam postingmu. Melalui buku, kamu pasti akan memiliki ruang yang sangat luas untuk mengeksplore hal-hal seputar mereka, yang pastinya akan menarik untuk dibaca dan dipelajari. Saya yakin kamu bisa melakukannya. Saya bahkan yakin kamu pasti memiliki alasan tertentu hingga menjadikan Spiderman dan X-Men sebagai film favoritmu.

Kalau kamu menulis buku yang secara khusus membahas Spiderman—dengan semangat belajar atau pencarian pengetahuan—bukumu akan bisa dijadikan sebagai “pengobat” sakit hati yang telah dialami ribuan pecinta Spiderman di negeri ini, gara-gara buku Spiderman yang saya ceritakan di atas. Selain itu, buku yang membahas Spiderman (dengan kajian yang berkualitas) belum ada di Indonesia, sehingga saya yakin bukumu akan diterima dengan sukacita oleh ribuan pecinta Spiderman.

Oh ya, lebih bagus lagi kalau kamu juga menulis tentang X-Men, karena saya menyukai kedua-duanya, sama sepertimu.


Halo, Edwin. Terima kasih untuk emailmu. Sebelumnya mohon maaf jika respon ini agak terlambat—emailmu sudah ngendon lama di inbox saya, dan baru sekarang saya bisa membahasnya. Jawaban berikut ini juga saya tujukan buat teman-teman lain yang mengajukan usul serupa.

Mengenai buku Spiderman yang diceritakan di atas, kebetulan saya juga membacanya—dan kebetulan juga saya ikut menyayangkan. Saya menyayangkan isi buku itu, bukan semata-mata karena saya mengagumi Spiderman, tetapi karena isi buku itu lebih berupa ajakan kebencian yang—meminjam istilah Edwin di atas—merupakan hasil interpretasi yang dangkal, serta antipati yang kekanak-kanakan.

Oh ya, buku itu juga sempat dibahas di berbagai milis pecinta Spiderman. Dan karena isi buku itu berupa caci-maki dan kebencian, maka para pecinta Spiderman pun mencaci-maki serta membenci buku itu.

Soal usul teman-teman mengenai penulisan buku yang secara khusus membahas Spiderman dan X-Men, saya sangat appreciate. Sebagai pecinta Spiderman dan X-Men, saya juga sangat menginginkan adanya buku yang berisi pembelajaran atas mereka. Saya sendiri menjadikan trilogi Spiderman dan trilogi X-Men sebagai film favorit, karena film-film itu menyimpan pelajaran-pelajaran penting yang luar biasa.

Yang ada dalam benak saya sekarang, kira-kira seperti ini; saya ingin membahas Spiderman dengan perspektif akademisi—dalam arti semacam pembedahan karakter Spiderman beserta cerita yang dilaluinya, dialog dan percakapannya, serta muatan-muatan tersembunyi yang ada dalam banyak kejadian kisahnya. Untuk contoh nyatanya, coba lihat buku “The Magical Worlds of Harry Potter” yang ditulis David Colbert. Di Indonesia, edisi terjemahan buku ini diterbitkan Gramedia.

Di buku itu, David Colbert membedah dan mengupas segala hal menyangkut Harry Potter dengan kedalaman dan wawasan yang menakjubkan. Nah, saya ingin menulis tentang Spiderman dengan cara semacam itu—penuh wawasan, kedalaman, serta memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi pembacanya.

Kemudian mengenai X-Men. Boleh percaya boleh tidak, saya sebenarnya sudah menyiapkan setumpuk catatan mengenai X-Men beserta seluruh karakter yang ada di dalamnya, dan pelajaran-pelajaran tersembunyi dalam film ini. Saya terpesona sejak pertama kali menyaksikan X-Men, karena rangkaian film ini adalah sebuah pelajaran penting tentang psikologi manusia, serta rahasia-rahasia menakjubkan tentang filsafat.

Karenanya, saya akan menulis seputar X-Men dengan perspektif semacam itu—memadukan psikologi dan filsafat, dengan mendasarkan kajian pada masing-masing karakter dalam X-Men, baik yang protagonis maupun antagonis, juga jalan cerita yang ada di dalamnya.

Hanya saja, untuk menjadikan semua hal di atas dalam sebuah buku, saya masih ragu. Karenanya, saya akan menuliskannya terlebih dulu dalam bentuk posting (mungkin akan berupa rangkaian serial posting yang panjang) di blog ini. Nanti kalian yang akan menilai, apakah rangkaian posting itu layak dibukukan atau tidak. Kalau memang kalian menganggap layak dibukukan, saya akan membawanya ke penerbit. Namun jika tidak, anggap saja rangkaian posting itu sebagai kesempatan belajar yang mengasyikkan—khususnya bagi pecinta Spiderman dan X-Men.

Jadi, mana dulu nih, yang akan dibahas? Spiderman dulu, atau X-Men dulu? Kalau pilihannya diserahkan ke saya, maka kemungkinan besar X-Men dulu yang akan kita pelajari—karena saya sudah ngebet ingin menulis soal ini. Setelah X-Men selesai kita kupas tuntas, barulah kita masuk pada pelajaran baru mengenai Spiderman.

Tetapi—nah, ini kabar buruknya—posting mengenai kedua tema di atas itu mungkin masih harus menunggu cukup lama, karena saat ini saja “pe-er” saya masih sangat banyak menyangkut blog ini. Masih ada setumpuk permintaan lain dari teman-teman yang sudah menunggu diposting di blog ini, dan saya juga merasa perlu menuliskannya.

Mungkin, paling cepat saya bisa mulai menulis soal Spiderman dan X-Men pada pertengahan 2011 nanti. Doakan saja semoga saya selalu sehat dan panjang umur, agar punya waktu dan kesempatan untuk mempelajari tema itu bersama kalian.

Silent Soliloquy II



kesadaran adalah matahari
kesabaran adalah bumi
keberanian adalah cakrawala
perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

WS. Rendra, Paman Doblang


Aku tidak bisa mendengarkan orang yang mengatakan bahwa orang miskin adalah kekasih Tuhan, tetapi orang yang mengatakannya bergelimang harta dan kemewahan. Aku tidak bisa mendengarkan orang yang menyatakan bahwa kehidupan adalah ujian, tetapi orang yang menyatakannya menjalani hidup seperti dalam liburan. Aku tidak bisa mendengarkan orang yang berfatwa bahwa tugas manusia adalah tunduk kepada Tuhan, tetapi dia sendiri mendewakan keangkuhan.

Aku tidak bisa mendengarkan nasihat orang yang menyatakan bahwa beramal adalah kebajikan, tetapi si pemberi nasihat menutup matanya sendiri dari kekurangan dan penderitaan sesamanya. Aku tidak bisa mendengarkan petuah orang yang menganjurkan kasih sayang, tetapi di saat yang sama juga membangun kedengkian, egoisme, dan kebencian. Aku tidak bisa mematuhi perintah orang yang menudingkan jarinya ke muka orang lain, tetapi si penuding tak mau memeriksa diri sendiri.

Aku tidak tersentuh dengan tangismu, atau suara ratapanmu, jika tangis dan ratapan itu hanya kautunjukkan di hadapan orang lain—tetapi di belakang mereka kau menjalani hidup dengan tawa riang dan kegembiraan penuh kelimpahan. Aku tidak bisa mengikuti orang yang melantunkan litani di dalam keramaian, tetapi kemudian asyik menyanyi di saat sendirian.

Aku tidak bisa memahami suara kebenaran apa pun yang kauteriakkan, selama kau sendiri belum menundukkan egomu terhadap kebenaran itu. Aku tidak bisa menjadi murid kebenaranmu, jika kau sendiri tidak bisa bersujud di hadapan kebenaran yang kauteriakkan kepadaku. Aku tidak bisa mengikuti orang yang berteriak untuk melakukan sesuatu, tetapi memaksa orang lain untuk melakukannya terlebih dulu.

Tolong, tolong jangan berteriak kepadaku, jika kau menutup telingamu sendiri karena tak mampu mendengarkan suara teriakanmu. Jangan katakan nasihat apa pun kepadaku, selama kau menjalani hidup yang jauh dari semburan nasihatmu. Jangan janjikan surga atau ancaman neraka kepadaku, selama kau sendiri masih menjadikan dunia sebagai cinta pertamamu. Jangan menakut-nakuti orang lain dengan kematian, kalau kau sendiri masih sangat ketakutan.

Bumi mendengar apa yang kaukatakan, dan langit bahkan tahu apa yang tidak kauucapkan. Jika kau ingin jujur kepada orang lain, mulailah jujur kepada diri sendiri.

Kalau kau menyukai kekayaan, jangan ajarkan kemiskinan sebagai kebaikan. Kalau kau mengejar hidup berkelimpahan, jangan khutbahkan bahwa kekurangan adalah cermin kekasih Tuhan. Kalau kau takut kematian, jangan ajarkan orang lain untuk mengutuk kehidupan. Kalau kau membenci kejahatan, jangan ajari orang lain untuk membangun dendam dan kebencian.

Apa yang tidak bisa kauajarkan pada diri sendiri, jangan ajarkan pada orang lain. Apa yang tidak bisa kaulakukan, jangan paksa orang lain melakukannya.

Tolong, tolong keluarkan suaramu dari rumahku.

….
….

Tuhan bersahabat dengan diam. Kembang tumbuh tanpa kata, dan bulan bergerak tanpa berisik.


Rabu, 10 November 2010

Adolf Hitler Perlu Membaca ‘Kambing Jantan’

Selama bertahun-tahun, Mein Kampf mewakili bukti kebutaan dan kecongkakan dunia. Karena dalam setiap halaman, Hitler mengumumkan—jauh sebelum dia memegang kekuasaan—sebuah program berdarah dan teror dalam sebuah pengungkapan diri yang sangat terus terang, sehingga ia mampu meyakinkan banyak pembaca untuk mempercayainya.
—Konrad Heiden, dalam Pengantar Mein Kampf

Buku ini lahir dari kegiatan iseng-iseng gw nulis jurnal harian yang gw tulis di internet, atau yang sekarang bahasa gaulnya: blog. Pertama, tujuannya hanya sebagai tempat cerita tentang kehidupan gw yang kayaknya kok gak ada normal-normalnya… Eh, lama kelamaan kok banyak yang suka baca kisah idup gw yang aneh bin aneh saibun, banyak yang bilang lucu…
—Raditya Dika, dalam Pengantar Kambing Jantan


Di Indonesia, ada seorang cowok bernama Raditya Dika, yang menulis buku berjudul Kambing Jantan. Di Jerman, ada seorang cowok bernama Adolf Hitler, yang menulis buku berjudul Mein Kampf.

Apa hubungannya…?

Sabar, biar saya jelaskan pelan-pelan.

Raditya Dika dulu. Cowok ini pada mulanya menuliskan catatan-catatan hariannya di blog, yang kemudian dikumpulkan dan dibukukan menjadi blook (buku adaptasi blog) yang diberi judul Kambing Jantan. Seperti yang kita tahu, buku ini menciptakan tawa dan kegembiraan bagi banyak orang. Para pembaca Kambing Jantan mendapatkan hiburan yang segar, sekaligus orisinal. Eloknya, Raditya Dika menciptakan tawa kegembiraan bagi banyak orang itu dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan humornya.

Nah, sekarang tentang Adolf Hitler. Cowok ini menuliskan draf bukunya selama berada di penjara, yang kemudian menjadi sebuah buku yang luar biasa tebal, berjudul Mein Kampf. Seperti yang juga kita tahu, buku inilah yang kemudian menjadi ‘kitab terkutuk’ yang menciptakan bencana di dunia, dan menciptakan badai kematian berjuta manusia. Bejatnya, Adolf Hitler menciptakan banjir darah yang luar biasa besar di muka bumi ini hanya karena keangkuhannya.

Jika Raditya Dika menulis bukunya dengan semangat menertawakan diri sendiri, Adolf Hitler menulis bukunya dengan semangat keangkuhan karena terlalu serius menilai diri sendiri.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan Adolf Hitler? Hitler, dalam perspektif psikologi, adalah pengidap megalomaniac—sebentuk keangkuhan, suatu perasaan menganggap diri maha penting, dan menilai orang lainnya sampah tak berguna. Adolf Hitler adalah tipe orang yang terlalu serius menilai dirinya sendiri.

Dia menilai dirinya sedemikian tinggi, sebegitu tingginya hingga orang lain di matanya tak bernilai apa-apa. Bagi Hitler, yang paling penting di dunia ini adalah dirinya… dan persetan dengan orang lain! Dalam bahasa yang kasar, Hitler adalah orang yang ingin selalu menjadi ‘Yang Terpenting’, meski untuk itu dia harus menginjak dan merendahkan orang lain. Terlalu serius menilai dirinya sendiri—itulah Hitler.

Pada suatu hari, Hitler membutuhkan sopir baru, karena sopirnya yang biasa sedang sakit dalam waktu yang lama. Nah, untuk memperoleh sopir baru ini, Hitler sampai mewawancarai tiga puluh orang calon. Kemudian, dia memilih satu di antara mereka—bukan yang paling pintar, tetapi yang paling pendek. Sebegitu pendeknya sopir baru ini, sampai-sampai dia harus meletakkan bantalan khusus di bawah jok tempat duduknya, agar tangannya bisa menggapai setir.

See…? Hitler memilih orang ini, semata-mata dengan tujuan agar dia tampak lebih menonjol, terlihat lebih hebat, dibanding sopirnya! Ia ingin kelihatan lebih besar dan lebih baik, meski untuk itu dia harus merendahkan orang lain. Hitler terlalu terobsesi dengan dirinya sendiri—dia terlalu serius menilai dirinya sendiri.

Terlalu serius menilai diri sendiri—inilah awal mula segala macam persoalan di muka bumi ini. Tidak di Barat tidak di Timur, segala bentuk perselisihan antarkawan sampai peperangan antarnegara, semuanya dipicu karena perasaan itu—karena orang terlalu serius menilai dirinya sendiri. Dan Perang Dunia pun pecah serta menciptakan banjir darah, salah satunya karena Adolf Hitler terlalu serius menilai dirinya sendiri.

Jika ada pelajaran penting di dunia ini namun nyaris tak pernah diajarkan di kampus mana pun, maka itu adalah “pelajaran untuk tidak terlalu serius menilai diri sendiri”. Kemampuan untuk dapat menertawakan diri sendiri adalah suatu kemampuan yang langka, sekaligus pelajaran yang penting. Ketika orang terlalu serius menilai dirinya sendiri, maka tinggal selangkah lagi ia menuju mutasi menjadi iblis.

Bukalah buku-buku sejarah, dan pelajari biografi para diktator atau para penjahat kemanusiaan. Semua diktator dan para bajingan besar yang pernah berdiri dengan angkuh di atas bumi ini adalah orang-orang yang terlalu serius menilai dirinya sendiri—sejak Napoleon, sampai Pol Pot, sampai Stalin, Hitler, Baby Doc Duvalier, Idi Amin, Manuel Noriega, Shah Iran—sebut yang lainnya. Mereka semua, tanpa kecuali, adalah orang-orang yang terlalu serius menilai dirinya sendiri.

Dan orang-orang seperti mereka tidak pernah mati. Di dunia ini, ada banyak orang yang terlalu serius menilai dirinya sendiri, tidak mampu menertawakan diri sendiri, sehingga keberadaan mereka selalu saja menciptakan masalah bagi orang lainnya. Para teroris—dari kelas kampungan sampai teroris internasional—juga terdiri dari orang-orang yang terlalu serius menilai dirinya sendiri. Bagi mereka, yang paling benar dan paling suci adalah diri sendiri, sedang orang lain sampah kotor semua.

Terlalu serius menilai diri sendiri—inilah penyakit paling berbahaya di dunia ini.

Berabad-abad yang lalu, sebelum saya menulis catatan ini, ada seorang filsuf di Romawi, bernama Marcus Aurelius. Orang ini adalah filsuf terbesar dan paling hebat dalam sejarah kekaisaran Romawi, yang kehebatannya mungkin hanya dapat ditandingi Socrates di Yunani.

Karena reputasi kehebatannya yang luar biasa, Marcus Aurelius selalu menjadi pusat perhatian orang di mana pun. Kemana saja Marcus Aurelius melangkah, selalu ada orang-orang yang membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan.

Nah, sebijak dan searif apa pun, Marcus Aurelius menyadari bahwa dia manusia biasa. Karenanya, dia pun menyadari bahwa jika terus-menerus mendapatkan penghormatan semacam itu, lama-lama dia pun akan angkuh dan takabur.

Karena kesadaran itu pula, Marcus Aurelius kemudian menyewa seseorang yang ia minta untuk selalu mendampinginya kemana pun ia pergi. Jadi, semenjak itu, kemana pun Marcus Aurelius melangkah, ada seorang lelaki yang selalu menjajari langkahnya. Fungsinya bukan sebagai pengawal. Tetapi, sesuai intruksi Marcus Aurelius sendiri, orang itu dimintanya untuk selalu berbisik, “Kau bukan siapa-siapa, Marcus… Kau bukan siapa-siapa…”

Bayangkan, hanya untuk tetap menjaga dirinya agar selalu rendah hati, Marcus Aurelius sampai membayar orang, agar selalu mengingatkan dirinya bahwa “dia bukan siapa-siapa”. Sosok bijak ini tidak ingin dirinya sampai terlalu serius menilai diri sendiri. Dia ingin tetap menjadi “bukan siapa-siapa”.

Pelajaran tentang rendah hati itu penting. Tetapi sama pentingnya adalah pelajaran untuk tidak terlalu serius menilai diri sendiri. Ini adalah tentang kesadaran bahwa kita manusia biasa—sama biasanya dengan manusia lain. Karena manusia biasa, sesekali kita pun bisa salah, bisa keliru, bisa khilaf, bisa kalah, juga bisa melakukan hal-hal bodoh dan konyol yang bisa kita tertawakan.

Ketika orang mampu menilai diri sendiri dengan tidak terlalu serius, maka dia akan dapat melihat kekonyolan, bahkan kebodohannya, yang dapat ia tertawakan sendiri. Dan ketika orang dapat menertawakan diri sendiri, maka dia pun akan menyadari bahwa dia tidak berbeda dengan orang lainnya, sebagaimana orang lain pun tak berbeda dengan dirinya. Pada akhirnya, dia pun akan lebih sibuk memperbaiki diri, dan bukannya sibuk mengurusi kekurangan orang lain.

Adolf Hitler tidak memiliki hal itu. Begitu pula para bajingan dan diktator lainnya. Mereka terlalu serius menilai dirinya sendiri, terlalu tinggi dan terlalu angkuh menilai dirinya sendiri, sehingga cenderung menganggap dirinya manusia setengah dewa, sekaligus menilai orang lainnya tak berharga.

Karenanya, Adolf Hitler—atau siapa pun yang mirip dengannya—seharusnya membaca Kambing Jantan, agar mereka belajar untuk dapat rendah hati, untuk dapat menertawakan diri sendiri, dan tidak terlalu serius lagi menilai diri sendiri. Pelajaran untuk dapat menertawakan diri sendiri adalah pelajaran penting yang seharusnya dipelajari semua orang, sebelum dia mampu menertawakan orang lain.

“Kalau kau suka mengolok-olok orang,” kata para filsuf, “jadikanlah dirimu sebagai bahan olok-oloknya.”

Tepat seperti itulah yang dilakukan Raditya Dika dalam Kambing Jantan. Dia tidak menjadikan orang lain sebagai korbannya, tetapi menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan humornya. Dibutuhkan tidak saja kerendahan hati untuk dapat melakukan hal semacam itu, tetapi juga sebentuk kearifan untuk tidak terlalu serius menilai diri sendiri.

Karenanya pula, Raditya Dika mungkin tidak perlu membaca Mein Kampf, tetapi Adolf Hitler—atau siapa pun yang mirip dengannya—perlu membaca Kambing Jantan.

Metallica di Lebak Bulus (3)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Secara manusiawi, orang akan memberi maaf jika mendengar ucapan tulus, “Aku salah, maafkan aku.” Karenanya, dalam maaf, yang lebih penting adalah meminta maaf daripada memberi maaf. Orang pasti akan memberi maaf jika diminta secara tulus. Tetapi untuk meminta maaf secara tulus itulah kita sering kali terlalu angkuh dan lebih menuhankan ego kita sendiri. Maaf mungkin sulit untuk dimulai dari memberi. Tetapi ia akan lebih sulit lagi jika tidak dimulai dari meminta.

Kalau saja Metallica meminta maaf kepada masyarakat Indonesia atas insiden Lebak Bulus, terlepas apa pun kesalahan mereka, maka masyarakat Indonesia pun pasti akan legawa memaafkannya. Tetapi, tidak, Metallica terlalu angkuh—sama angkuhnya dengan kebanyakan manusia dalam hal meminta maaf. Sekali lagi, maaf mungkin sulit untuk dimulai dari memberi. Tetapi ia akan lebih sulit lagi jika tidak dimulai dari meminta.

Jika ada persoalan besar umat manusia di zaman ini, maka persoalan ‘maaf’ adalah salah satunya.

Lihatlah sekeliling kita. Lihatlah saudara-saudara kita, sahabat, dan kawan-kawan kita. Atau, lebih baik lagi, lihatlah diri kita sendiri. Masih mampukah kita untuk rendah hati, mengakui kesalahan sendiri, dan kemudian mengulurkan tangan untuk minta dimaafkan—tanpa harus menunggu lebaran? Masih mampukah kita untuk berbesar hati, memaklumi khilaf manusiawi, dan kemudian tersenyum untuk memaafkan—tanpa harus menunggu lebaran?

Inilah persoalan besar manusia, di zaman ini. Hanya untuk menyatakan satu kata ‘maaf’, kita membutuhkan waktu sampai satu tahun. Akibatnya, ‘maaf’ hanya sekadar menjadi tradisi—tidak kurang, tidak lebih. Ia hanya pemanis bibir di saat pertemuan lebaran, sekadar kata-kata tanpa hati, dan kemudian kita menganggap semuanya telah selesai.

Urusan maaf adalah urusan hati—ia berhubungan dengan ketulusan hati. Jika maaf hanya bernilai tradisi, yang pengungkapan dan pemberiannya menunggu waktu setahun sekali, ia tak lebih dari sekadar tawa haha-hihi. Tidak, maaf seharusnya tidak sekadar itu, tidak hanya sebatas itu.

Ada perbedaan mendasar antara permintaan maaf normatif, dan permintaan maaf personal. Permintaan dan pemberian maaf yang bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu (semisal lebaran) adalah maaf normatif—suatu permintaan maaf yang hanya ‘sekadar’ etika antar manusia. Ini adalah jenis maaf yang diminta dan diberikan bukan karena adanya suatu kesalahan tertentu, melainkan karena etika kemanusiaan.

Misalnya, permintaan dan pemberian maaf antara blogger dengan pembacanya, antara koran dengan pelanggannya, antara suatu lembaga dengan para kliennya, atau semacamnya. Ini jenis-jenis permintaan maaf normatif, yang dapat dilakukan pada waktu-waktu tertentu, semisal lebaran.

Tetapi ada jenis maaf yang tidak dapat diminta dan diberikan seenaknya sendiri seperti itu—tidak juga pada waktu lebaran—yakni permintaan maaf yang bersifat personal. Kalau kita menusuk perut seseorang dengan pisau, dan kemudian menyadari bahwa kita bersalah, kita tidak bisa menunggu lebaran hanya untuk meminta maaf kepadanya. Karena ini bukan urusan maaf yang normatif. Ini urusan maaf yang personal—secara pribadi antara kita dan orang itu.

Begitu pula dengan bentuk tusukan lain—semisal ucapan, atau kata-kata yang mungkin menyakitkan. Jika seseorang sakit hati atas ucapan kita, atau perbuatan kita, kita tidak bisa menunggu datangnya lebaran untuk meminta maaf kepadanya. Begitu kita menyadari kesalahan itu, atau begitu kita diingatkan atas kesalahan itu, di waktu itu pulalah kita seharusnya merendahkan hati untuk dapat berkata, “Aku telah bersalah kepadamu. Maafkan aku.”

Lebaran memang waktu yang ideal untuk meminta maaf—tetapi hanya maaf yang normatif. Jika kita sama-sama tidak tahu apa kesalahan kita, maka kita dapat bermaaf-maafan di hari lebaran.

Tetapi jika kita nyata-nyata telah bersalah, atau nyata-nyata orang lain telah sakit hati atas perbuatan kita, maka maaf pada waktu lebaran saja tidak cukup. Maaf personal juga membutuhkan waktu yang lebih personal. Kita telah dhalim jika berbuat salah pada seseorang, tetapi menunggu lebaran hanya untuk meminta maafnya.

Kata Roberto Assagioli, “Tanpa maaf, dunia akan dikuasai oleh lingkaran setan, dendam, dan kebencian.” Karenanya, maaf adalah urusan besar manusia, karena ialah yang menyelenggarakan kehidupan manusia sebagaimana nilainya. Manusia disebut manusia karena ia hidup dengan cara manusia. Dan salah satu cara hidup manusia adalah kerendahan hati untuk meminta maaf ketika bersalah, tanpa harus menunggu waktu apa pun.

Biarkan lebaran datang dan pergi. Tetapi jangan gantungkan maaf kita pada waktu yang hanya datang sesekali. Marilah kita saling meminta dan memberi maaf di waktu lebaran, tetapi marilah kita juga saling meminta dan memberi maaf kapan pun, di mana pun, pada siapa pun, tanpa harus tergantung pada lebaran. Karena maaf adalah urusan hati—dan bukan sekadar tradisi setahun sekali.

Maafkanlah saya. Setulusnya.

Metallica di Lebak Bulus (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Karena insiden itu, masyarakat Indonesia—melalui media massa—meminta Metallica untuk meminta maaf akibat kerusuhan yang telah ditimbulkan konsernya. Tetapi, hingga hari ini, hingga saya menuliskan kisah ini, Metallica tidak pernah memenuhi permintaan itu—mereka tidak pernah meminta maaf.

Sekarang, sambil menulis kisah ini, saya bertanya-tanya dalam hati, salahkah masyarakat Indonesia meminta Metallica untuk minta maaf? Dan, salahkah Metallica jika mereka tetap kukuh tidak mau meminta maaf?

Dari sudut pandang masyarakat Indonesia, Metallica telah menjadi biang kerusuhan, karena konser mereka di Lebak Bulus mengakibatkan kerugian massal yang diderita orang-orang tak bersalah, dan karena itu mereka menuntut agar Metallica meminta maaf.

Tetapi, dari sudut pandang Metallica, tentunya mereka bisa dengan kukuh bertanya, “Apa salah saya?”

Secara objektif—sekali lagi, secara objektif—Metallica memang sulit disalahkan. Mereka datang ke Jakarta karena diundang, dan tugas mereka hanya sebatas konser di atas panggung, sebagai bagian kerja profesional mereka sebagai group musik rock. Manajemen mereka, sehebat apa pun, tentunya tidak bisa menjamin bahwa acara konser itu akan bebas dari kemungkinan kerusuhan. Jika akhirnya kerusuhan timbul karena dipicu kurangnya persediaan tiket dan kapasitas stadion, maka tentu itu bukan salah Metallica.

Maaf—dan permintaan maaf—inilah yang menjadi inti masalah dari kerusuhan yang terjadi pada waktu konser Metallica di Lebak Bulus. Ketika akhirnya manajemen Metallica mengumumkan bahwa mereka tidak akan meminta maaf atas hal itu, masyarakat Indonesia pun geram, dan mengutuk Metallica. Karena maaf—karena mereka tak mau meminta maaf.

Dan, lebih dari itu, karena masyarakat Indonesia sendiri juga tidak mau memaafkan Metallica.

Di dalam hidup manusia, ucapan dan kata maaf sesungguhnya diciptakan sebagai semacam handyplast—ia menambal, menutup, sekaligus mengobati luka kecil yang terasa sakit. Ketika kulit tergores sesuatu dan mengeluarkan darah sehingga menimbulkan perih, handyplast berfungsi mengurangi sakit serta mengobatinya—meski perlahan. Bahkan maaf, sesungguhnya, lebih murah sekaligus mudah, dibanding handyplast. Ia tidak membutuhkan harga, tidak memerlukan biaya.

Tetapi tidak setiap orang dapat memaafkan, tidak setiap orang dapat mengucapkan kata maaf, atau meminta maaf. Tidak setiap orang dapat dengan mudah menyatakan, “Aku salah, maafkan aku.” Dan karena sulitnya meminta serta memberi maaf itu pulalah yang menjadikan manusia semakin tidak tampak seperti manusia. Mereka tidak lagi menyerupai makhluk yang dianugerahi hati, melainkan sosok angkuh, bertubuh batu, menuhankan diri.

Maaf sudah menjadi barang langka pada zaman ini. Sebegitu langkanya, sampai-sampai manusia membutuhkan waktu tertentu hanya untuk meminta maaf. Mereka menunggu sampai setahun, menanti datangnya lebaran, dan kemudian melakukan sesuatu yang seharusnya telah mereka lakukan pada waktu-waktu sebelumnya—meminta maaf. Hanya untuk berkata, “Maafkan aku, lahir dan batin,” kita menunggu sampai satu tahun!

Betapa mahalnya harga maaf. Dan, lebih menyedihkan lagi, betapa angkuhnya kemanusiaan kita.

Lanjut ke sini.

Selasa, 09 November 2010

Metallica di Lebak Bulus (1)

Memaafkan adalah kunci untuk tindakan dan kebebasan.
Hannah Arendt


Pada bulan April 1993, Metallica diundang konser ke Indonesia, dan sebuah panggung raksasa pun dibangun di stadion Lebak Bulus, Jakarta. Pada hari H acaranya, beribu-ribu orang berduyun-duyun ke sana, ingin menyaksikan secara langsung legenda musik rock dunia itu, dan di hari itulah tragedi yang tak terbayangkan terjadi.

Siang itu lengas. Jalanan di sekitar Lebak Bulus telah dipenuhi ribuan penggemar Metallica, dan mereka semua berharap dapat masuk untuk ikut berjingkrak dengan James Hetfield. Tetapi rupanya panitia acara itu ‘salah perhitungan’. Jumlah orang yang ingin menyaksikan konser itu jauh lebih banyak dibanding yang mereka perkirakan. Tiket yang disediakan berjumlah terbatas, kapasitas stadion terbatas, sementara jumlah orang yang datang di luar batas.

Jadi itulah yang kemudian terjadi. Ketika panitia mengumumkan bahwa tiket telah habis dan stadion mulai ditutup, ribuan orang yang tak bisa masuk karena kehabisan tiket mulai ‘gerah’. Udara panas menyengat, dan orang-orang di luar stadion itu pun semakin kepanasan. Sementara itu, dari dalam stadion yang telah ditutup, terdengar raungan James Hetfield, ditingkahi gebukan drum penuh energi Lars Ulrich. Detik-detik itu, Jakarta seperti ada di titik ledak sumbu petasan.

Dan kemudian, ketika sumbu itu sampai pada batas akhirnya, ribuan orang yang kehabisan tiket itu mulai ‘hilang akal’. Mereka memaksa masuk ke stadion, tetapi panitia bergeming—pintu tak terbuka sedikit pun. Didorong amarah, kekecewaan, udara yang panas, serta ‘diprovokasi’ hingar-bingar musik rock yang terdengar menggelegar, ribuan orang itu pun mulai mengamuk.

Mereka mengamuk—benar-benar mengamuk.

Seperti dikomando, ribuan orang itu tiba-tiba melampiaskan amarah dan kekecewaan serta kejengkelan mereka dengan cara yang amat mengerikan. Mereka memunguti batu-batu, besar dan kecil, dan menggunakannya untuk menghancurkan apa saja yang dapat diraih. Pada mulanya mereka melempari stadion, tetapi dinding stadion terlalu angkuh. Maka mereka pun mengarahkan serangannya pada sasaran yang lebih ‘empuk’.

Ratusan mobil yang diparkir berderet-deret di sekitar lokasi itu menjadi sasaran kemarahan mereka. Bunyi kaca pecah diiringi hamburan serpihan logam berdesing di sana-sini, dan orang-orang itu seperti makin kesetanan. Polisi-polisi yang berjaga di sana tidak mampu berbuat apa-apa menyaksikan amukan yang mengerikan itu, dan jumlah mereka pun jauh lebih sedikit dibanding massa yang marah.

Seiring suara konser dari dalam stadion, orang-orang yang marah itu pun menggelar ‘konsernya’ sendiri di luar stadion, dengan merusak apa saja yang dapat mereka rusak. Ketika akhirnya pasukan dalmas datang, aksi perusakan itu dapat dihentikan, tetapi kerugian yang telah terjadi mencapai milyaran. Orang-orang berhamburan melarikan diri, sebagian ada yang ditangkap—sementara di dalam stadion, konser terus berlangsung.

Lanjut ke sini.

Selasa, 02 November 2010

Ditolak Dua Belas kali

Post ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah  post sebelumnya terlebih dulu.

***

Ketika naskah itu selesai saya tulis, saya pun mengirimkannya ke sebuah penerbit. Empat minggu setelah dikirim, naskah itu dikembalikan. Penerbit itu menolak.

Saya kirim naskah itu ke penerbit lain. Ditolak lagi. Saya kirim ke penerbit lain lagi. Ditolak lagi. Ketika mengalami tiga kali penolakan, saya nyaris patah semangat. Tetapi kemudian saya berpikir, isi naskah yang saya tulis itu adalah dorongan kepada pembaca agar tidak patah semangat dalam menggapai cita-cita, dalam mengejar impian. Jika saya patah semangat karena ditolak dalam upaya mengejar impian, saya jadi merasa ironis sekaligus konyol.

Maka saya pun membangun tekad lagi. Saya kirimkan naskah itu ke penerbit lain lagi. Yeah, ditolak lagi. Peduli amat, pikir saya. Kembali saya kirimkan ke penerbit lain—ditolak lagi. Kirim lagi—ditolak lagi.

Alasan-alasan penolakan yang saya terima itu beragam. Ada penerbit yang menolak dengan alasan, “Naskah Anda tidak sejalan dengan tren buku yang sekarang beredar,” atau, “Gaya penulisan Anda sangat tidak lazim,” atau, “Anda menujukan naskah ini untuk remaja, tetapi materinya tergolong berat.” Bahkan ada penerbit yang menyatakan, “Isi naskah serta gaya menulis Anda aneh sekali!”

Ketika mencapai tujuh kali penolakan, saya mulai pesimis. Jangan-jangan saya yang salah, pikir saya waktu itu.

Saya pun mempelajari kembali isi naskah itu, berulang-ulang kali, dan dengan sepenuh objektivitas serta kerendahan hati, saya menyadari bahwa isi naskah saya cukup layak untuk bersaing dengan buku-buku remaja lain yang waktu itu beredar. Jika isi atau materi yang saya tulis berbeda, atau cara penyampaian yang saya gunakan berbeda, itu memang saya sengaja.

Well, pikir saya kemudian, masalahnya mungkin bukan pada naskah saya, tetapi pada penerbitnya. Mereka mungkin tidak paham dengan kelebihan naskah yang saya tulis, sehingga mereka menolaknya. Oke, ini mungkin pikiran yang nakal dan kurang ajar, serta terkesan arogan. Tetapi berdasarkan pemikiran itu pulalah kemudian saya nekat mengirimkan lagi naskah itu ke penerbit lain lagi.

Dear God, naskah itu ditolak lagi!

Oke, saya menyabar-nyabarkan hati saya yang mulai hancur. Saya berkata pada diri sendiri, “Kita akan kirimkan naskah ini satu kali lagi, dan coba lihat apa yang akan terjadi.”

Maka saya pun mengirimkannya lagi. Ditolak lagi. Saya kembali berkata pada diri sendiri, “Satu kali lagi.”

Dan satu penolakan lagi. Saya sudah siap nangis.

“Satu kali lagi.”

Dan ditolak lagi. Saya sudah siap mimisan sambil garuk-garuk aspal.

“Satu kali lagi.”

Ditolak lagi—sebelas kali ditolak! Diperlukan semangat yang berdarah-darah untuk menerima sebelas penolakan itu. Saya pikir sudah saatnya berhenti. Jika kau ditolak lebih dari sepuluh kali, mungkin kau memang goblok, pikir saya waktu itu.

Tetapi saya terlalu angkuh. Tekad yang tertanam di dalam diri saya berkata, “Kau sudah menerima penolakan berkali-kali, kenapa harus takut menerima penolakan lagi? Kau tidak mati hanya karena ditolak, dan kau sangat ingin naskah itu diterbitkan. Jadi apa salahnya mencoba lagi?”

Maka saya pun mencoba lagi.

Dan ditolak lagi. Dua belas kali penolakan.

Saya sudah siap untuk berhenti. Lihat, kata saya pada diri sendiri, kita sudah mencoba lagi dan kenyataannya naskah ini ditolak lagi. Jika saya menyerah sekarang, dunia pasti akan memaklumi. Ditolak dua belas kali terlalu berat untuk seorang bocah remaja seperti saya—dan rasanya tak berlebihan jika saya berpikir dunia ini benar-benar kejam.

Tetapi, sekali lagi, saya terlalu angkuh menghadapi penolakan. Sisi lain dalam diri saya berkata, “Jadi, kau mau menyerah kalah pada penolakan ini? Tidak apa-apa, tapi hidupmu berhenti sampai di sini. Kalau kau menyerah, dunia tidak akan menyalahkanmu. Tetapi buat apa memiliki impian, jika menyerah kalah pada penolakan ini?!”

Maka saya pun bangkit lagi. Dan dengan segala kenekatan serta semangat yang coba dibangun kembali, saya mengirimkan naskah itu lagi. Kali ini naskah ini terkirim ke Penerbit Dahara Prize.

Tiga minggu setelah naskah itu terkirim, sesuatu yang mengubah hidup saya terjadi. Waktu itu tahun 2001, dan saya masih semester awal di kampus. Siang itu saya masih duduk di kelas mendengarkan dosen mengajar, ketika ponsel di saku celana bergetar. Saya keluar dari kelas, dan menerima panggilan telepon itu. Nomor asing—dan saya tidak punya firasat apa-apa.

“Dengan Mas Hoeda…?” sapa suara di seberang sana.

“Yeah, dengan siapa ini?”

“Saya dari Penerbit Dahara Prize. Kami sudah menerima dan mempelajari naskah Anda, dan…”

Dan selanjutnya adalah sejarah.

Naskah berjudul “Gapailah Impianmu” itu akhirnya terbit, dan… bum! Beribu-ribu orang membaca serta menikmati buku ini, beribu-ribu orang terinspirasi oleh isinya, koran dan majalah yang prestisius membahas buku ini dengan penuh penghargaan, dan tingkat penjualan buku ini melampaui perkiraan saya atau pun penerbitnya!

Bagi sebagian besar pembaca saya, buku “Gapailah Impianmu” adalah salah satu masterpiece yang pernah saya lahirkan. Buku ini memang tidak menciptakan histeria massa yang gegap gempita, tetapi buku ini terus dicetak ulang hingga hari ini, dan terus terjual meski cetakan pertamanya sudah sepuluh tahun yang lalu! Kalau boleh blak-blakan, sangat sedikit buku Indonesia yang mampu bertahan di toko-toko buku dalam kurun waktu sepuluh tahun!

Yang membuat saya bangga bukan hanya fakta bahwa akhirnya impian saya tercapai, bukan hanya karena buku itu disukai para pembacanya, tetapi juga karena kenyataan yang bahkan sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Meski saya menulis buku itu untuk remaja, tetapi ternyata buku itu juga dibaca orang-orang dewasa, bahkan orang tua. Yang lebih menakjubkan lagi, buku itu juga dijadikan referensi dalam puluhan skripsi, tesis, serta dirujuk oleh berpuluh-puluh buku lain yang terbit di Indonesia.

Yang terbaru, ketika Dr. Nanang Qosim Yusuf menulis buku “The Heart of 7 Awareness” yang dipuji banyak pakar itu, beliau juga menjadikan buku “Gapailah Impianmu” sebagai salah satu rujukannya. Bayangkan, seorang doktor merujuk buku yang ditulis seorang bocah!

Karenanya, di hari-hari ini, setiap kali saya menerima penolakan dari penerbit atas naskah yang saya kirimkan, saya tidak punya alasan untuk patah hati. Saya telah belajar dari sekian banyak penolakan yang pernah saya alami, bahwa penolakan bukan berarti saya harus menyerah, atau bahwa saya sudah kalah. Penolakan hanyalah kesempatan yang memberi kita jalan untuk menemukan tempat yang paling tepat.

Hoho, Saya juga Sering Ditolak, lho…

Tulis! Jangan dengarkan siapa pun yang mencoba
menahanmu. Tulis! Jangan berkecil hati oleh penolakan,
karena akan ada banyak penolakan.
Caprice Crane


Catatan ini berhubungan dengan penjelasan saya mengenai pengiriman naskah ke penerbit, dan perihal penolakan penerbit atas suatu naskah. Banyak teman yang berkirim email dan menanyakan apakah naskah saya juga pernah ditolak penerbit.

Hoho, saya juga sering mengalami penolakan, kok. Saya katakan “sering”, karena penolakan yang pernah saya terima bukan hanya satu dua kali, tapi puluhan kali.

Oh, mungkin kalian tidak percaya—tapi biar saya ceritakan faktanya.

Melihat jumlah buku saya yang sudah terbit sekarang ini, mungkin kalian berpikir kalau jalan saya mulus tanpa hambatan, benar? Jangankan para pembaca, bahkan teman-teman sesama penulis pun mengaku “iri” dengan jumlah buku saya yang telah terbit. Ada lebih dari 20 buku saya yang telah terbit, dan mereka bilang sungguh sulit untuk dapat mencapai jumlah itu.

Nah, sekarang saya mau mengaku, penolakan yang pernah saya terima jumlahnya dua kali lipat dari buku saya yang telah terbit!

Kalau dihitung-hitung, saya sudah menerima lebih dari 40 kali penolakan. Memang ada kalanya satu naskah langsung mulus—dalam arti langsung diterima untuk diterbitkan. Tetapi banyak naskah lain yang harus mengalami penolakan berkali-kali terlebih dulu untuk kemudian sampai di penerbit yang tepat—hingga kemudian berhasil terbit.

Karena banyaknya penolakan yang pernah saya alami, lama-lama saya pun jadi “kebal” dengan penolakan. Hoho, dulu, waktu masih belajar menulis dan baru beberapa kali mengirim naskah ke penerbit, saya bisa garuk-garuk aspal kalau naskah saya ditolak. Tetapi, sekarang, jika saya mengirimkan naskah dan kemudian ditolak penerbit, saya bisa enjoy menertawakannya!

Jadi, kalau kalian bertanya apakah saya pernah ditolak penerbit, maka jawabannya bukan pernah lagi, tapi sering! Dan saya pikir itu bukan aib, jadi saya akan menceritakannya kepada kalian.

Semoga cerita ini dapat memotivasi teman-teman yang ingin mengirimkan naskah ke penerbit tapi takut ditolak, juga dapat menumbuhkan semangat kembali teman-teman yang terlanjur “patah hati” karena telah mengalami penolakan atas naskahnya.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, penolakan yang pernah saya terima jumlahnya banyak sekali, jadi akan sangat bertele-tele jika saya harus menceritakannya satu per satu. Karenanya, sekarang saya hanya akan menceritakan satu penolakan paling “spektakuler” yang pernah saya alami. Ini adalah kisah penolakan yang kelak akan memberikan pelajaran kepada saya, bahwa satu-satunya cara paling tepat menghadapi penolakan adalah menertawakannya!

Waktu itu tahun 2000, dan saya masih remaja. Saya punya ide menulis sebuah buku remaja yang cerdas, lain dari yang lain, sekaligus tidak terikat tren. Ide ini muncul karena saya tidak puas dengan buku-buku remaja yang waktu itu telah ada di pasaran. Saya pikir, jika saya yang remaja merasa tidak puas dengan kebanyakan buku remaja masa itu, maka tentunya ada sekian banyak remaja lain yang juga tidak puas seperti saya.

Dari situlah kemudian saya mulai merumuskan bentuk buku yang saya impikan. Berbeda dengan kebanyakan buku remaja waktu itu, saya membahas persoalan-persoalan yang cukup berat dalam kehidupan remaja, khususnya dalam bidang pengembangan diri. Dan agar materi dalam buku ini benar-benar unik, saya pun menulisnya dengan menggunakan analogi.

Saya percaya bahwa analogi adalah bentuk atau cara penyampaian yang paling efektif dalam pembahasan persoalan-persoalan yang berat atau rumit. Jika model teori konvensional sulit menjelaskan sesuatu, analogi akan mampu memberikan pemahaman yang lebih langsung sekaligus lebih menancap dalam benak pembaca. Dan agar buku itu tidak membosankan saat dibaca dan dipelajari, saya pun memecah-mecah materi buku itu dalam bab-bab yang pendek.

Selama enam bulan saya mengerjakan naskah buku itu, dan hasilnya adalah sebuah naskah dengan 54 bab yang sebagian besarnya berupa analogi. Lima puluh empat bab itu membahas persoalan-persoalan dunia remaja—dari soal sekolah, pergaulan, cita-cita, masalah cinta, sampai tuntunan menjalani hidup. Intinya adalah pengembangan diri.

Sampai di sini mungkin kalian sudah menduga buku apa yang saya maksud.

Benar, naskah yang saya ceritakan ini adalah cikal-bakal sebuah buku yang kelak akan berjudul “Gapailah Impianmu”. Kalau kau sudah membaca buku ini, maka sekarang saya ingin menyatakan kepadamu bahwa naskah buku itu telah mengalami penolakan sebanyak 12 kali sebelum kemudian menjadi buku dan sampai di tanganmu. Tapi karena post ini sudah cukup panjang, saya akan menceritakannya di post selanjutnya.

Lanjut ke sini.

 
;